Sejauh mata memandang yang nampak hanya lautan pasir membuat Shikamaru menghela nafas. Misi kali ini menurutnya merepotkan yang menyita waktunya untuk bermalas malasan di rumah. Jika bukan karena perintah rahasia Godaine Hokage dia lebih memilih melimpahkan ke tim lain di saat yang sama Kakashi mengirimnya ke Sunagakure berkaitan dengan informasi soal kriminal yang membuat resah desa desa yang ada.

Memikirkan hal itu membuat Shikamaru menunjukkan wajah malasnya yg berhasil membuat rekan satu timnya gadis bersurai pirang pucat dengan poni yang menutupi mata kanannya mendelikkan mata biru lautnya ke arah Shikamaru.

Ino membulatkan mata melihat Shikamaru hanya menguap sebelum melangkah menyusuri lautan pasir. Dqlam hatinya Ino masih bimbang tentang keputusannya ikut misi ini. Sejak berangkat Ino merasakan sesuatu akan terjadi dan berdampak pada dirinya apalagi Ino melihat raut muka serius Shikamaru saat pemaparan misi oleh Kakashi. Ino hanya bisa berharap semuanya baik baik saja mengingat janjinya kepada Sakura sebelum Sakura berangkat ke Nami no Kuni.

Setelah beberapa waktu berjakan akhirnya tim 10 tiba di Suna dan di sambut oleh Gaara.

"Selamat datang shinobi Konoha Shikamaru Ino dan Chouji. Ku harap kedatangan kalian membawa kabar baik."

"Terima kasih Kazekage-sama. Kedatatangan kami membawa pesan dari Hokage-sama." Shikamaru memberikan sebuah gulungan kepada Gaara.

"Baiklah Shikamaru. Nah lebih baik sekarang kalian beristirahat sebelum kembali ke Konoha setelah aku mempelajari dan memberi balasan gulungan ini. Temari akan mengantarkan kalian ke penginapan."

Temari yang sedari tadi memandang intens Shikamaru terperanjat ketika mendengar Gaara menyuruh mengantar tim 10.

Shikamaru menggaruk belakang kepalanya mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Hatinya berdebar keras menyadari dia akan memiliki kesempatan untuk menjelaskan sesuatu kepada Temari.

Berjalan di jalanan desa Suna dalam keheningan membuat berbagai pikiran berkecamuk dalam pikiran Ino. Teringat kembali kenangan bersama Shikamaru yang ironisnya justru saat ini yqng dipikirkan sedang bersikap agak aneh di samping Temari. Ino merasa seakan akan kedekatannya selama ini dengan Shikamaru hanya fatamorgana.

Semburat jingga menghiasi langit Suna menambah cantik pemandangan yang di lihat Ino sebelum dua siluet tertangkap sudut matanya. Ino menatap heran ke arah pemiliknya dan mendapati Shikamaru berjalan di samping Temari meninggalkan penginapan mereka.

Ada keganjilan dalam sikap mereka yang membuat Ino membulatkan tekad untuk mengikuti mereka dan mencari tahu apa yang terjadi.

"Ah Shika-kun lebih baik kita berbicara di sini saja. Ini tempat kesukaanku." Ketika tiba di sebuah lokasi yang agak tinggi dari wilayah pemukiman penduduk Suna.

Shikamaru menyenderkan badannya di pagar pembatas sambil menatap Temari yang menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Bagaimana kabarmu?" Shikamaru mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Temari berakhir buruk.

"Baik rusa pemalas." Temari menatap Shikamaru dengan sekilas sebelum menatap ke arah lain.

"Kamu masih marah?"

"Apa yang membuatmu berpikir aku marah?" Temari menatap Shikamaru dengan keheranan walau dia sedikit mengerti arah pembicaraan ini.

"Yah kamu tahu sendiri kamu pergi meninggalkan Konoha tanpa pamit dan pertemuan kita sebelum kepergianmu berakhir buruk." Shikamaru menggaruk belakang kepalanya.

Temari kembali mengingat ketika dia tanpa sengaja bertemu Shikamaru dan Ino jalan berdua sambil bercanda gurau layaknya seorang kekasih. Seketika itu emosi menguasai dirinya dan merusak rencananya untuk menghabiskan hari bersama Shikamaru. Tanpa tertahankan emosinya benar benar meledak ketika Shikamaru menemuinya di penginapan tanpa merasa bersalah dan pertengkaranpun tak terhindarkan.

"Entahlah." Memalingkan mukanya, Temari mencoba memancing reaksi Shikamaru.

"Mendokusai." Shikamaru menghela nafasnya. "Ku rasa kali ini kamu bisa berbicara baik baik tentang masalah itu."

"Aku masih belum menerimanya."

"Baiklah kali ini percayalah padaku. Aku dan Ino saat itu hanya bersama dari rumah Tsunade-sama bertemu cucunya."

"Eh! Cucu! Setahuku Tsunade-sama tidak pernah menikah." Temari terkejut mendengar informasi ini.

"Yah kamu juga sudah kenal kok sama cucu Tsunade-sama. Aku dan Ino tidak ada hubungan special, aku menganggap dia sahabatku."

Shikamaru menatap intens wajah Temari tanpa menyadari ada seekor burung elang yang bertengger di dekatnya dan Temari menunjukkan gerakan aneh. Burung elang itu tampak menundukkan kepalanya seolah sedang bersedih.

"Aku dan Ino memang dekat sebagai rekan tim. Semenjak kematian guru Asuma aku merasa bertanggung jawab untuk menjaganya dengan baik. Aku tidak bisa berbohong kalau aku mencintai dia karena ada seseorang yang lebih dulu mencuri hatiku."

Temari menoleh ke arah Shikamaru yang sedang gelagapan setelah berkata seperti itu.

"Oh. Pasti gadis itu sangat istimewa sehingga berhasil memikat rusa pemalas sepertimu." Nada sinis terdengar dari mulut gadis Suna itu.

Ah perempuan memang merepotkan apalagi yang ada di depanku. Bodohnya aku bisa mencintainya dan ingin memilikinya. Shikamaru hanya mampu menggaruk belakang kepala sambil salah tingkah.

Keheningan mendadak tercipta ketika dua insan itu tiba tiba berkutat dengan pikirannya sendiri sendiri. Burung elang yang ada di dekat mereka semakin menunjukkan hawa suram yang kental.

"Aku mencintaimu Temari dan aku ingin memilikimu selamanya." Mendadak suara Shikamaru membuat bola mata Temari membulat dan sekelebat bayangan burung elang menunjukkan kepalanya dari tempat persembunyiannya.

"Aku..aku..aku.. aku juga Shika-kun."

"Terima kasih Temari. Aku harap ini mengakhiri permasalahan kita." Jemari Shikamaru terulur menggenggam jemari Temari menarik sosok gadis Suna itu dalam pelukannya.

"Kamu tahu Shika-kun, semenjak pertemuan kita setelah invansi Suna yang di dalangi Orochimaru ke Konoha aku mulai menyukaimu."

"Aku lebih mengingat ketika melawanmu di ujian kenaikan chunin."

"Baka..!! Kamu tahu saat itu aku benar benar merasa di remehkan."

"Maaf, tapi aku tidak bisa melawan perempuan apalagi dia sekarang menjelma menjadi gadis cantik."

Temari merona mendengar Shikamaru memujinya cantik.

"Yah kamu memang cantik Temari tapi juga tsundere."

Tak ayal perkataan pemimpin baru klan Nara itu berbuah kibasan kipas kamaitachi yang membuat Shikamaru babak belur.

Ino terduduk di ranjangnya sambil meremas sprei kasurnya sembari membiarkan sungai air mata tercetak di pipi halusnya. Ino begitu tertekan dengan kenyataan yang ada, harapan yang selalu dia pupuk dan jaga selama ini hanya sia sia belaka. Air mata yang tertumpah tak mampu menenangkan hatinya yang serasa remuk redam.

Ino tak menyangka perasaannya akan bertepuk sebelah tangan. Kali ini dia begitu menginginkan sahabat jidat lebarnya ada di sampingnya melewati semua ini. Keputusan mengikuti Shikamaru berbuah pahit dan Ino belum bisa menerima kenyataan yang ada. Meringkukkan diri dalam tutupan selimut di atas ranjang sambil terus menangis mengingat berbagai kenangan indah bersama Shikamaru membuat Ino tanpa sadar terlelap ketika lelah menghampirinya.

Perjalanan pulang ke Konoha terasa hambar ketika Ino terlihat jelas menjaga jarak dengan Shikamaru yang membuat Shikamaru dan Chouji menatapnya keheranan. Mereka belum pernah melihat seorang Ino bersikap sedingin ini sebelumnya. Bahkan kali ini selalu menghindari segala bentuk komunikasi dengan mereka. Ino bahkan mengurangi waktu istirahatnya agar segera tiba di Konoha.

Duet penjaga gerbang Konoha menaikkan sebelah alisnya keheranan melihat wajah suram seorang Ino Yamanaka mengisi buku laporan kedatangan tanpa di sertai rekan timnya padahal ketika berangkat tim 10 berangkat bersama sama. Setelah beberapa jam Ino meninggalkan gerbang muncullah Shikamaru dan Chouji yang kelihatan kebingungan.

"Kamu terlihat kacau Shikamaru? Apa misimu kali ini gagal?" Kotetsu memberikan pandangan heran ke arah Shikamaru.

"Misi sukses hanya..."

"Kelihatannya tim kalian ada masalah ya? Ku lihat Ino masuk desa dengan aura suram dan wajah kusut." Izumo memotong ucapan Shikamaru.

"Hah.. mendokusai. Syukurlah kalau dia sudah kembali. Aku pikir dia menghilang di sergap musuh."

"Entahlah sejak sore sebelum esoknya kami pulang Ino sudah seperti itu." Chouji menatap Shikamaru sambil terus mengunyah snacknya.

Deg

Sore sebelum pulang ke Konoha. Apa jangan jangan Ino tahu. Tapi bukankah waktu itu dia ada di penginapan jadi tidak mungkin Shikamaru menggelengkan kepalanya sambil mencari tahu perubahan sikap Ino.

Karena waktu untuk melaporkan misi sudah menunggunya maka Shikamaru mencoba untuk tidak memikirkan lebih lanjut soal itu. Dia hanya menganggap Ino sedang mengalami periode bulanan bagi seorang perempuan sehingga moodnya naik turun.

Pergerakan yang di lakukan Shin Uchiha benar benar membuat mood Sasuke memburuk karena beberapa rencananya gagal. Sasuke tak ingin kloningan yang dia persiapkan hancur berantakan apalagi saat ini dia di pusingkan dengan perginya Naruto dari desa. Seharusnya Sasuke senang tapi mengingat bagaimana Naruto membuat was was menguasainya.

Di saat pendekatannya dengan Hinata mulai membuahkan titik terang dimana Hinata terlihat nyaman dengannya namun saat bersamaan Karin juga menghilang bagai di telan bumi. Di markas Anbu ne Sasuke sedang menunggu Sai Shimura yang sedang menengok Ino Yamanaka.

Kegelisahan meliputi hati Sasuke, dia tak ingin rencananya gagal untuk itu kini dia ingin mengatur ulang langkahnya. Beberapa saat menunggu dengan menahan kesal, sosok Sai datang dengan senyum palsunya.

"Hai Sasuke."

"Kemana saja kamu mayat hidup." Nada kesal tak mampu di sembunyikan dari ucapan Sasuke.

"Aku sedang melihatnya ketika kamu mengirim Anbu. Tampaknya saat ini kamu begitu kesal Sasuke?"

"Gadis Yamanaka itu? Dan nampaknya kamu sendiri sedang senang?"

"Hei kamu tidak menjawab pertanyaanku."

"Ya sekarang aku sedang kesal. Kita harus segera menyiapkan strategi ulang dan bergerak. Shin bodoh itu bergerak sembarangan lagi."

"Apa yang membuatmu khawatir?"

"Naruto."

"Bukankah dia sedang ada misi dan itu menguntungkanmu untuk mendapatkan gadis Hyuuga itu?"

"Memang tapi kalau Naruto mengetahui pergerakan Shin pasti kloningan itu akan di burunya dan itu akan mengurangi kekuatan klan Uchiha merebut desa ini."

"Benar juga."

"Persiapkan Anbu ne dan rekrut banyak orang untuk bergabung dengan kita."

"Baiklah Sasuke. Dan setelah ini aku ingin libur."

"Untuk apa?"

"Ino."

Sasuke memahami maksud Sai yang ingin menghabiskan waktu untuk mendekati Ino. Sehabis perang dunia Shinobi kemari terlihat jelas di mata Sasuke jika Sai menyukai Ino.

"Kelihatannya kali ini kamu begitu yakin."

"Yah begitulah. Aku lihat antara dia dengan pemuda Nara itu sedang ada masalah dan ini kesempatanku mendekati Ino."

"Baiklah."

Menatap sekelompok anbu ne dan shinobi yang sedang berlatih membuat Sasuke menyeringai. Kali ini dia akan segera mencari cara memaksa Hiashi Hyuuga memberikan Hinata untuk menjadi istrinya yang utama sebelum mencari perempuan perempuan terbaik untuk membangkitkan klannya.

Naruto belum pernah sesenang ini semenjak meninggalkan desa untuk mencari informasi. Di depannya dua anbu Kiri menunjukkkan beberapa gulungan klan Uzumaki pemberian Mizukage.

"Terima kasih anbu-san sudah mengantarkan gulungan ini kepadaku."

"Sama-sama Naruto. Ini sudah tugas kami."

"Ah ya bisakah kalian menunggu sejenak. Aku ingin ke Kiri bersama kalian menemui Mizukage."

"Baiklah Naruto."

"Nah sementara kalian bisa beristirahat di rumah ini. Aku akan segera menyelesaikan urusanku setelah itu kita akan segera berangkat."

Naruto segera melesat ke desa untuk menemui Tazuna dan Tsunami untuk berpamitan agar mereka tidak khawatir dia pergi mendadak. Beberapa catatan tentang kasus di desa Nami no Kuni yang terjangkit kasus ini sudah Naruto copi untuk di pelajari bersama Mizukage.

Setelah beberapa urusan selesai akhirnya Naruto bisa menuju ke Kiri no Kuni bersama anbu Kiri. Sepanjang perjalanan Naruto mengamati peta peninggalan Klan Uzumaki.

"Ne anbu-san. Kalau tidak keberatan aku ingin singgah ke reruntuhan desa Uzushiogakure. Aku ingin melihat desa asal klan ku." Pandangan Naruto terlihat sendu mengingat cerita kehancuran desa klan Uzumaki di masa lalu.

"Baiklah Naruto."

Sedikit membelokkan jalur perjalanan kini tibalah Naruto di sebuah pulau besar yang merupakan wilayah Uzushiogakure. Memandang reruntuhan desa asal klannya setelah berjalan beberapa saat dari tepi pantai tanpa di sadari air mata Naruto jatuh. Dua anbu yang melihat Naruto menangis ikut merasakan kesedihan Naruto dan merasa bersalah atas tindakan barbar pendahulunya.

Menggenggam tanah dengan tangan kirinya, Naruto mendekatkan tanah itu ke dadanya seakan ingin meresapi tanah kelahiran Kushina Uzumaki. Hati Naruto mengingat pertemuan singkatnya dengan sang Ibu, hatinya terkoyak menyadari dirinya dan Karin adalah Uzumaki kental yang tersisa saat ini.

Berlutut ke arah reruntuhan desa, Naruto terlihat menyembahyangi leluhurnya yang di bunuh aliansi Iwagakure, Kumogakure dan Kirigakure.

Selesai sembahyang mendoakan leluhurnya, Naruto tergerak untuk tinggal sementara waktu di sini.

"Anbu-san terima kasih sudah mengantarkanku kesini. Kalian bisa pulang ke kiri lebih dulu, aku ingin tinggal disini sementara waktu." Wajah Naruto terlihat sendu membuat dua anbu yang menemaninya tertegun.

"Tapi Naruto...!"

"Tak apa anbu-san. Aku ingin menenangkan diri sejenak di tanah leluhurku." Naruto memotong perkataan anbu.

Salah satu anbu memberikan kode untuk menuruti keinginan Naruto.

"Baiklan jika itu keinginanmu." Kedua anbu segera meninggalkan Naruto.

Setelah kepergian anbu Kiri, Naruto duduk bersila di pusat reruntuhan desa dan masuk ke alam bawah sadar. Di alam bawah sadar nampak kesembilan bijuu sudah berkumpul dengan senyum merekah.

"Halo minna." Naruto melambaikan tangan dan segera meloncat ke kepala Kyuubi dan menyamankan diri di sana.

"Kamu terlihat senang ne Naruto." Ichibi menatap Naruto yang tiduran di kepala Kyuubi.

"Yeah. Kembali ke tanah leluhurku membuatku merasa begitu gembira."

"Daerah yang menarik. Entah mengapa kamu terlihat sangat cocok di tempat ini." Ujar Gonbi.

"Aku setuju kalah kamu ingin membangun desa ini Naruto." Sanbi membuka matanya yang tertutup ketika Naruto.

"Naruto kami semua sudah mengambil keputusan untuk menyatukan setengah Chakra kami ke dalam tubuhmu begitu melihat perasaan yang tumbuh di hatimu ketika melihat reruntuhan desa Uzushiogakure." Kyuubi memberikan senyuman rubahnya di sambut anggukan delapan bijuu lainnya.

"Dengan begitu kamu bisa memakai semua kemampuan bijuu sesukamu unyuk melindungi anggota klanmu kelak." Nanabi terlihat begitu bersemangat.

"Tapi minna jika kalian melakukan itu maka..." Naruto mendadak menjadi sedih kembali.

"Baka. Itu tidak akan terjadi karena konsepnya seperti ketika aku terpisah menjadi Kyuubi yin dan Kyuubi yang." Kyuubi menyadari maksud partner sehatinya itu.

"Benar Naruto kami akan tetap ada di sini dan kamu bisa memanggil kami keluar seperti kamu memanggil Kurama di bulan." Kali ini Nibi meneguhkan niat para bijuu.

"Terima kasih minna."

"Sama sama Naruto. Ah apa kamu tidak ingin membangkitkan klanmu di sini saja Naruto. Tentu kami akan membantumu memperkuat desa ini." Sanbi terlihat bersemangat. Para bijuu pun terlihat bersemangat.

Memikirkan Naruto membangkitkan Uzushiogakure memastikan para bijuu memiliki kesempatan keluar dari tubuh Naruto sewaktu waktu dan berinteraksi dengan manusia. Di tempat yang sama dengan Naruto pasti para bijuu tidak akan di buru karena Naruto pasti mampu mengajarkan manusia lainnya untuk menghargai dan berteman dengan bijuu.

Naruto memejamkan mata memikirkan ucapan para bijuu soal Uzushiogakure.

"Entahlah minna, aku belum bisa mengambil keputusan soal itu. Ku rasa lebih baik sekarang aku berkeliling dan mencari tempat yang bagus untuk melatih kekuatan kalian."

"Baiklah Naruto." Kyuubi mewakili semua bijuu.

Perlahan mata Naruto terbuka dan setelah menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya Naruto segera bangkit memandang sekelilingnya.

Reruntuhan desa Uzushiogakure tidak menyisakan tempat yang layak untuk beristirahat membuat Naruto melangkahkan kaki ke arah perbukitan di sebelah barat. Langkah demi langkah menuntun Naruto mendekati sebuah gua yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan.

Naruto merasa heran bagaimana dia bisa menemukan gua itu namun ada perasaan yang semakin hangat dan nyaman ketika mendekati gua itu. Memandang sekeliling mulut gua itu Naruto memastikan bahwa semua aman sebelum dia memasuki gua.

Cahaya yang remang remang memaksa Naruto harus berjalan sambil meraba dinding gua mengikuti tuntunan hatinya yang seakan berteriak ada sesuatu yang istimewa di gua itu. Terus meraba dalam suasana remang hingga ke ujung gua membuat Naruto lengah dan tanpa sengaja tangannya tergores batu tajam sehingga terluka dan meneteskan darah. Tetesan darah tersebut menetes di sebuah tanda segel yang tidak terlihat mata Naruto. Tiba tiba bagian dinding yang Naruto raba mulai bergeser dan memberi celah agar Naruto bisa masuk ke dalamnya. Tanpa berpikir panjang Naruto segera memasuki celah itu dan berjalan sepanjang celah di dinding gua itu.

Entah berapa jauh berjalan akhirnya Naruto menemukan sebuah pintu batu di ujung celah itu. Sembari meningkatkan kewaspadaan Naruto mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga karena berat. Usaha Naruto tidak sia sia setelah pintu bergeser dan nampak sebuah ruangan penuh dengan gulungan jutsu di rak rak sebelah kanan kiri ruangan sementara di ujung ruangan tepat di tengah antara barisan rak nampak meja kerja dan sebuah kursi yang menghadap berlawanan arah dengan pintu.

Mengabaikan ketakutannya pada hantu Naruto melangkahkan kaki mendekati meja dan kursi itu. Tangannya yang terluka tanpa sadar menyentuh meja itu dan membersihkannya dari debu. Tanpa di sadari Naruto kegiatannya itu membuat sebuah segel fuinjutsu terkena darahnya sehingga aktif.

Naruto berulang kali mengerdapkan matanya dan menggosoknya karena menyangka dia melihat hantu. Ketika bayangan manusia di depannya terbentuk utuh Naruto teringat kembali ketika dia membuka segel Kyuubi dan bertemu Kushina Uzumaki. Sosok itu menampilkan seorang kakek kakek berambut panjang berwarna putih dan berjanggut putih memakai pakaian zirah samurai berwarna merah dengan hitae ate Uzushiogakure.

Perlahan sosok yang ada di depannya menatap Naruto yang sedang berkeringat dingin. Sorot matanya terlihat begitu mencurigai Naruto dan seolah olah menelanjangi Naruto.

"Gomen Ojiisan jika mengganggu anda." Naruro masih berusaha menormalkan keadaannya.

"Siapa kamu? Seharusnya tidak ada seorangpun selain Uzumaki yang bisa masuk ke tempat ini." Tanya sosok itu.

"Naruto Uzumaki." Perkataan Naruto membuat sosok itu terkejut. "Saya hanya mengikuti insting saya ke tempat ini."

Masih ada Uzumaki yang selamat dari peristiwa itu dan kelihatannya pemuda ini memiliki sesuatu yang istimewa. Sosok itu memandang Naruto dengan intens.

"Namaku Arashi Uzumaki Sandaime Uzukage. Tak ku sangka masih ada yang selamat dari peristiwa itu padahal aku merasa aku yang terakhir hidup untuk menyelamatkan warisan Uzushiogakure ini."

"Apa maksud anda Uzukage-sama?"

"Peristiwa penghancuran Uzushiogakure oleh tiga negara besar."

Mata Naruto membulat menyadari bahwa sosok yang ada di depannya berasal dari masa perang dunia Shinobi ke dua.

"Tidak mungkin anda hidup selama itu!"

"Aku ini hanyalah chakra yang di tinggalkan untuk menjaga warisan ini."

Sekali lagi Naruto mengingat pertemuannya dengan Yondaime Hokage Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki yang berupa chakra yang di tanamkan orang tuanya menjelang kematian mereka.

"Bagaimana anda bisa muncul?"

"Pasti kamu tanpa sengaja mengaktifkan segel yang ada di meja ini. Baiklah sekarang waktuku sudah hampir habis maka aku akan memberikan semua warisan ini kepadamu Naruto Uzumaki selaku keturunan Uzumaki."

Naruto membulatkan mata mendengar ucapan Arashi. Dirinya tidak menyangka akan mewarisi semua gulungan dan dokumen Uzushiogakure di ruangan ini. Naruto membayangkan banyak ilmu yang akan dia peroleh berhubung jumlah gulungan dan dokumen di ruangan ini jauh lebih banyak di bandingkan yang dia temui di rumah orang tuanya yang sekarang menjadi mansion Uzumaki.

Sosok Arashi mendekati Naruto dan memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepada Naruto. Kotak itu berukiran indah yang membuat Naruto merasa isinya adalah barang berharga.

"Sebagai keturunan Uzumaki yang masih hidup aku berharap kamu bisa menemukan kembali keturunan Uzumaki yang masih selamat dan mengumpulkan mereka."

"Gomen Arashi-sama. Hanya aku dan Karin Uzumaki yang masih hidup dari klan Uzumaki sepengetahuanku."

"Tidak masalah karena klan Uzumaki tidak benar benar musnah. Aku berharap kamu bisa membangkitkan kembali klan kita Naruto. Kamu dan Karin harus menikah dan aku harap masih ada beberapa gadis yang bisa kamu nikahi. Dan jika memang harus terjadi biarkan anak laki laki kalian menikahi anak perempuan karena klan Uzumaki memperbolehkan insect."

DUAR

Seakan tersambar petir yang dahsyat, tubub Naruto menegang dan pikirannya kacau mendengar ucapan Arashi. Sungguh hal yang tak pernah bisa di bayangkannya akan terjadi dalam hidupnya membuat Naruto speechless dan drop.

"Aku tahu ini mengejutkan Naruto namun demi klan kita aku harap kamu bisa mengerti. Dan satu lagi sebelum aku kembali menghilang, aku melantikmu menjadi Yondaime Uzukage. Dengan kata lain kamu sekarang pemimpin resmi klan Uzumaki. Memang sekarang itu belum berguna tapi suatu saat kamu akan memerlukannya. Nah apa yang ada di kotak itu adalah bukti resmi kamu adalah Yondaime Uzukage." Setelah mengatakan hal itu sosok Arashi menghilang karena chakra yang di segel sudah terkuras habis.

Naruto membuka kotak peninggalan Arashi dan mengambil jubah putih dengan akses api orange di bawahnya bertuliskan kanji Yondaime, sebuah rompi jounin Uzushiogakure dan sebuah hitae ate Uzushiogakure. Di dasar kotak tersebut nampak sebuah kertas yang memberitahukan letak perlengkapan shinobi Uzushiogakure yang terselamatkan di kotak besar yang ada di ruangan lain di dalam gua itu dan cara mencapai ruangan itu.

Naruto menatap semua peninggalan Arashi dengan air mata berlinang sebelum akhirnya menyimpan semua itu dalam fuin penyimpanan di lengan kirinya. Naruto menguatkan hati dan pikirannya bahwa dia akan sepenuhnya berusaha membangkitkan klannya walau harus meninggalkan reruntuhan Uzushiogakure.

Setelah mengambil beberapa gulungan dari ruangan itu dan menyimpannya di fuin penyimpanan Naruto meninggalkan gua itu dan meninggalkan sebuah segel hiraishin di mulut gua itu.

Karena tempat ini sangat penting dan rawan lebih baik aku mencari tempat lain untuk menyatukan chakra pemberian bijuu dan mengontrolnya agar aku bisa menggunakan. Aku rasa kagebunshin no jutsu dan latihan ala sannin mode bisa mempercepatnya. Yosh sekarang waktunya mencari tempat berlatih.

TBCGomen kalau lama update karena ada beberapa kesibukan yang menyita konsentrasi sehingga sempat mengabaikan fic. Di fic ini saya masih belum bisa memberikan jawaban apakan akan ntr atau cheating karena spoiler ga asik hehehehe. masih banyak kekurangan di sana sini karena masih proses belajar.