Halo kawan-kawan! Ini aku Rra, ini chapter pertama dari fanfic ini, semoga kalian suka! Aku harus memperingati kalian, kemungkinan ada kesalahan penulisan, ketidak sesuaian dengan EYD, dan beberapa adengan yang mungkin tidak disukai nantinya, terima kasih! ^^

Boboiboy © Animonsta, beberapa OC dan cerita milikku.


.

.

.

Kasus 1 : Dalang di balik permainan (Hari-hari Normal)

.

.

.

Aku membuka mataku perlahan, dan memperhatikan sekeliling kamar. Ternyata sudah pagi..

Yah, kita sudah memutuskan untuk berkumpul di kafetaria setiap pagi untuk memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang mati.

"Pagi, Gem!" Sapa sebuah suara yang Familiar, itu Taufan!

"Pagi," Ujar Halilintar sambil tersenyum.

"Untunglah kalian berdua tidak mati." Ujarku.

"Jadi kau berharap agar kita berdua mati atau semacamnya?" seru Taufan. "Tidak, bukan itu maksudku-"

"Diam kau baj*ngan sialan!"Teriak Sand dari kejauhan.

"Sand, tenanglah.." kata Magnet mencoba untuk menenangkannya. "Ya, kau terlihat lebih cantik jika kau bersabar.."puji Cloud.

Sand memalingkan wajahnya yang memerah. "A-aku tidak cantik kok."

"Ahahahaha~ semua orang terlihat sangat ceria hari ini! Aku sangat senang!" Seru Thorn seraya tersenyum. "Tidak, Kaulah yang imut dan ceria bunga matahari kecilku~" Ucap Solar sambil mencubit pipi bulat Thorn dengan gemas.

"Nyaaaahhhh... daaaa...rrrr..kkk...tolon...gg...aaaa...kkk...uuuhh (Dark tolong aku)" Seru Thorn tidak jelas.

"Berhentilah mencubit pipinya, Sunshine.." Kata Dark.

"Pagi kawan-kawan..." ujar Fang yang tengah berjalan menuju kafetaria bersama dengan Rra dan Lily.

"Pagi!"

"Apa semuanya hadir disini?" tanya Taufan.

"Baiklah, mari kita lihat...hm, semuanya ada kecuali Blaze dan Ice." Jawab Rra.

"Ayo kita cek mereka, kita harus memastikan kalau mereka tidak mati." Saran Dark.

Kemudian kami pun pergi menuju kamar Ice dan Blaze..

"Hei! Blaze tidak ada di dalam kamarnya!" seru Taufan panik, dengan segera kami langsung bergegas menuju kamar Ice dan membuka pintu ruangan itu.

Ternyata disana ada Blaze yang tengah membangunkan si pemalas Ice.

"Bangun! Dasar pemalas!" Ujar Blaze seraya mengguncang tubuh temannya yang bersembunyi di balik selimut tebal itu. "Gak mau... malas...pengen tidur... jangan berisik...pergi sana..." Balas Ice.

"Oh untunglah kalian berdua masih hidup..." Ujarku sangat lega.

"Apa kau ingin kita berdua mati atau semacamnya?" seru Blaze.

"Ironi sekali..." Ujar Halilintar dan Taufan bersamaan.

TING TONG TING TONG...

"Semua murid di harapkan berkumpul di ruangan A/V secepatnya" Ucap Monokuma dari sebuah Televisi raksasa yang ada di dalam ruangan.

"Kita harus pergi sekarang..." Ujar Dark. "Mungkin kita bisa menemukan jalan keluar"

Kami pun sampai di ruangan A/V, kami di berikan sebuah CD oleh Monokuma, jadi kami menontonnya.

Dan... aku melihat Atok dan Ochobot telah terbunuh di Video itu...

"A-apa... ini?"

"KYAAAAAAH"

Suara itu berasal dari Cloud, dia menangis...

"Tenanglah sayang... semuanya akan baik-baik saja.. Video itu palsu.." Ujar Solar mencoba untuk membuatnya tenang. Gadis itu menangis di pelukan Solar. Cloud yang malang...

"Kawan-kawan! Kita tidak boleh percaya pada video yang tidak masuk akal itu! Ayolah! Kita harus berani!" Ujarku, mencoba sebisa mungkin menguatkan mereka.

"Diam kau b*jingan! Apa kau tau betapa sedih dan takutnya kami!?" Seru Sand jengkel.

"Berbeda denganmu, setidaknya Gempa tidak akan menggambil "Ketakutan" dan "Kesedihan" itu ke dalam hatinya." Ujar Halilintar membelaku.

"Terimakasih Hali." Kataku berterimakasih padanya, dia mengangguk.

"Gempa benar, teman-teman! Kita harus kuat dan juga harus bisa bertahan! Kita akan mencari jalan keluar dari sekolah ini bersama-sama!" Seru Magnet dengan semangat.

"Suasana yang positif.." Ujar Lily.

"Aku suka ini." Kata Rra seraya tersenyum pada Lily.

"Tapi aku tidak suka!"

"Monokuma..." gumam Fang, ia mempertajam matanya.

"Aku ingin kalian merasa putus asa! Tidak ceria dan penuh harapan yang menjijikan ini!" Rengek Monokuma.

"Diam kau beruang k*mpret!" Seru Sand. (MAAF TwT)

"Bagaimana jika kita berkeliling sekolah?" Saran Emerald, beberapa dari kami mengangguk.

"Aku ingin tinggal di kamarku untuk tidur. Tidak terimakasih." Ujar Ice seraya menguap.

"Yeah aku juga." Kata Taufan dan beberapa pemuda lainnya.

.

.

.

Hari ke X, Pukul 02,00 Sore

Setelah beberapa hari kami belum menemukan adanya tanda-tanda akan terjadinya pembunuhan, itu berjalan keluar dan melihat Taufan yang menggunakan tank top dan celana pendek.

"Taufan? Kenapa kau menggunakan pakaian itu?" Tanyaku.

"Yah tubuhku merasa sedikit kelelahan dan kudengar kalau Halilintar bisa menyembuhkannya dengan kemampuan bela dirinya, dan juga ia memintaku untuk berlatih dengannya." Ujar Taufan.

"Oh baiklah, semoga beruntung!" Kataku. Dia berterimakasih dan kemudian pergi.

Selanjutnya aku mendekati Rra dan Lily yang tengah mengecek lantai kedua.

"Jadi, bagaimana dengan lantai kedua?" tanyaku pada mereka.

"Yah ada berita baik dan berita buruk. Di sini ada perpustakaan, ruangan game, beberapa ruang kelas, lab fisika dan sebuah kolam renang. Dan kabar buruknya adalah ... tidak ada jalan keluar." Ucap Rra.

"Baiklah kalau begitu, terimakasih untuk informasinya, apa kalian mau jalan-jalan?" tanyaku.

'Tentu, kenapa tidak?" Jawab Lily.

Jadi kami berjalan-jalan ke perpustakaan, membaca beberapa buku dan pergi ke kafe untuk mendapatkan beberapa gelas kopi. Disana ada Sand dan Emerald yang sedang mengobrol.

Lalu... pukul 02.30 Sore

"U-um .. S-Sand.. E-em.." Gumam Cloud yang baru saja datang.

"Ya? Ada masalah apa Cloud?" tanya Emerald khawatir.

"Woah, apa yang terjadi Cloud?" tambah Sand.

Kami memutuskan untuk tidak menguping percakapan mereka, dan berjalan keluar dari kafe.

Aku lalu bertemu Fang...

"Ah, Gempa" Sapa Fang.

"Hai Fang, ada apa?" Tanyaku pada gadis itu.

"Aku sedang mencari makanan hewan untuk teman-teman hewanku (Dia SHSL Animal Tamer), mereka kelaparan, bisakah kau mencarinya untukku?"

"Hm... aku-"

"Jika kau berfikir 'Bisakah kau mencari mereka sendiri', kau bisa melihatnya kan?" Ujar Fang yang tengah di peluk tanpa belas kasihan oleh binatang-binatang miliknya (Harimau, Beruang, Tikus, Elang, Banteng, Ular dan Monyet) #adareferensinyakokkhehe

"Yah.. aku... bisa melihatnya... maaf... hehehe..." Ucapku seraya menggaruk kepalaku yang tak gatal.

Aku menerima permintaanya dan mencari makanan hewandi sekitar sekolah, tapi aku tidak menemukan satupun..

"Dimana?" Tanyaku pada diri sendiri. "Dimana makanan hewan disimpan?"

"Itu ada di ruang penyimpanan" Ujar seseorang. Ketika aku berbalik, ternyata itu Monokuma.

"Upupupupu~ halo Gempa.. untuk apa kau mencari makanan hewan? Kau tidak memakannya kan?" Tanya Monokuma.

"Tentu saja aku tidak memakannya, aku manusia!" Ujarku seraya pergi ke ruang penyimpanan. "Ini untuk Fang, dia harus memberi makan peliharaanya."

"Oh baiklah! Upupupu~ Kulihat kau sepertinya mempunyai perasaan terhadap Fang~~ benar kan, Gempa?" Tanya Monokuma sambil menyeringai.

"T-tidak... aku hanya membantunya mencari ... itu saja" kataku seraya melirik kembali beruang monokrom itu.

"Tapi rona di pipimu berkata lain~ upupupupu~" Monokuma tertawa seraya menunjuk pipiku. Aku baru sadar bahwa kedua pipiku menjadi lebih hangat, "Berhenti tertawa!" kataku sedikit kesal.

"Awh.. kau terlihat imut ketika sedang malu-malu~"

Ya sudahlah, Aku tidak perduli, ini membuang waktuku. Jadi aku pergi dari sana dan kembali menuju Fang untuk memberikannya ...

.

.

.

Jam 03.00 Sore

*Beep* *Beep* *Pssshhh*

Apa itu?

Kulihat itu adalah pembersih... udara...? kenapa alat itu ada di sini?

Tapi aku tidak perduli, jadi aku melanjutkan perjalananku menuju Fang.

"Terimakasih, aku sangat menghargainya." Ujar Fang setelah aku datang dan memberikan barang yang di butuhkannya.

"Jadi, kenapa kau bisa menjadi seorang SHSL Animal Tamer?" Tanyaku sambil membantunya memberi makan binatang-binatang miliknya.

"Hm.. kau sangat ingin tau hm?" tanya Fang. "Mungkin nanti aku akan memberitahumu, sekarang aku terlalu sibuk."

TING TONG TING TONG...

"Hallo semuanya, sekarang sudah malam. Pelayanan kamar mandi, kafe dan laundry akan di nonaktifkan. Kalian harus tidur, tapi aku tidak mewajibkannya~ upupupu... jangan lupa untuk mengunci pintu kamar untuk memastikan bahwa kalian tidak terbunuh~~" Kata Monokuma dari sebuah layar raksasa.

"Aku harus kembali sekarang, terimakasih untuk bantuannya, Gem." Kata Fang.

"Tidak masalah, kau bisa bergantung padaku." Jawabku seraya tersenyum padanya.

Dia mengangguk dan pergi kembali menuju kamarnya, begitupun aku.

Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur yang sangat nyaman, perlahan aku mulai tertidur.

.

.

.

...Hari

...Berikutnya...

.

.

.

Aku bangun dan mandi lalu pergi menuju kafeteria.

Kelihatannya semua orang ada di sini...

...kecuali...

"Teman-teman, apa kalian melihat Cloud?"

"Tidak." Ujar Thorn.

"Aku dengannya kemarin pada pukul 01.00 sore, setelah itu aku tidak tau.." Kata Blaze.

"Yeah, dia juga bertemu denganku dan mereka kemarin." Tambah Sand.

"Aku melihatnya berjalan menuju lantai dua, sepertinya tengah berkeliling" Ujar Magnet.

"Tapi tidak ada seorang pun yang melihatnya pagi ini?" tanyaku.

Dan semuanya menganggukan kepala mereka...

"..Kita harus mencarinya" Saran Dark.

"Aku punya firasat buruk tentang ini.." kata Lily.

"Kemana terakhir dia pergi, Magnet?" tanya Rra.

"Ke Lab Kimia." Jawabnya.

"Kita harus pergi ke sana sekarang!" Ujar Halilintar.

"Ada Lab kimia disini?" Tanya Taufan.

"Kawan, kau seorang SHSL Scientist, bagaimana bisa kau tidak tau?" Tanya Ice.

"Aku kan tidak berkelililng kemarin, jadi aku tidak tau." Jawab Taufan.

Kami pun pergi ke Lab Kimia..

Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!

Srak! Brak!

...

Kenapa jadi seperti ini?

Siapa yang memulainya..?

Kenapa mereka memulai ini !?

"Cloud!"

...

Kita menemukan si SHSL Doll Maker...

Sudah tidak bernyawa...

.

.

.

SURVIVOR

14 Murid