Kasus 2 : Yang mana? (Hari-hari Normal)
.
.
.
~Sebelumnya, di chapter 4 Danganronpa : The Ultimate Crossover~
.
.
.
Sang SHSL Scientist telah di eksekusi tepat dihadapan semua teman-temannya, termasuk aku.
"TIDAK!" Teriak seseorang yang tak kuduga. Yaitu Halilintar...
Ia mencengkeram erat pembatas besi yang menjadi penghalang antara kami dan tempat eksekusi.
Dari banyaknya orang, suara itu berasal dari Halilintar. Pemuda yang dingin, kasar, dan kadang-kadang tidak berperasaan.
Seseorang sepertinya... menangisi seorang Taufan...
Thorn juga ikut menangis, ia takut akan kematian yang ada didepannya. Dia itu polos. Pasti sangat mengerikan baginya,melihat salah satu temannya harus tewas didepan matanya.
Eksekusipun berakhir...
Kami semua berjalan keluar dari ruang pengadilan dengan perasaan takut dan bersalah (Meskipun hanya beberapa dari kami) ...
Aku melihat Halilintar, dia terdiam. Topi merahnya menutupi kedua matanya, sementara tangannya mengepal erat.
Semua orang kembali ke ruangannya masing-masing secara diam-diam.
Aku mengikuti Halilintar hingga ke kamarnya.
"...Apa yang kau mau, Gem?" Tanyanya pelan.
Moodnya benar-benar kacau...
"Aku khawatir... apa kau baik-baik saja?" Tanyaku jujur, khawatir pada Halilintar. Kalau-kalau dia akan melakukan hal buruk.
...tapi dia tak menjawabnya.
Ia mempersilahkanku untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang kau pikirkan, Gempa? Kau baru saja membunuh teman kita."
"Aku tidak membunuhnya... aku hanya-"
"Hanya apa? Jelas-jelas kau yang meyakinkan semua orang untuk memilihnya sebagai tersangka" Ujar Halilintar dengan dingin, ia menundukkan kepalanya.
"...Jika aku tidak melakukannya.. semua orang akan mati"
"Apakah semua orang disini lebih penting dibandingkan temanmu sendiri? Kau bahkan belum mengenal mereka dengan baik!" seru Halilintar.
"Jika aku sangat ingin dia mati, lalu kenapa aku tidak memilihnya sebagai tersangka tadi!?"
"..."
"...Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku ingin membunuhnya...?" Ujarku pelan, Aku membiarkan air mataku jatuh.
Sial... kenapa harus ada pertengkaran setelah kejadian buruk, sih.
Halilintar terdiam beberapa saat, lalu menatapku.
"...Maafkan aku, Gem. Aku.. aku hanya tidak bisa percaya bahwa aku baru saja kehilangan Taufan." Ujarnya.
"kau sangat mencintainya, huh?"
"...Aku bukan gay, atau semacamnya." Sahut Halilintar dengan pipi yang memerah. "Dia satu-satunya temanku ketika kau pergi, dan dia adalah alasanku juga kenapa aku ada disini..."
"Apa maksudmu?"
"Karena dia, aku mendapatkan gelar seorang SHSL Martial Arts." Ujarnya. "Ketika kau pergi, Taufan sempat dibully."
"Kau serius!?"
"Ya. Beberapa orang membencinya, aku tidak tau kenapa tapi aku tidak suka hal itu. Suatu hari ia hampir saja terbunuh oleh salah seorang yang membulinya, dan untungnya aku datang tepat waktu. Aku menghajar, memukul, menendang, dan mematahkan sebagian besar tulang mereka. Hanya untuk menyelamatkannya." Kata Halilintar, menceritakan semuanya padaku.
"Aku dikeluarkan dari sekolah lama kita. Tapi kemudian Taufan juga pindah, hanya untuk menemaniku." Kenangnya.
"Sejak saat itu aku mulai belajar beberapa ilmu bela diri yang ada dari seluruh dunia, hanya untuk melindunginya. Seseorang yang selalu menjadi temanku... dan sekarang.."
"...Dia pergi." Ujarnya sedikit tertawa.
Aku merasa kasihan... dan bersalah padanya.
"Maaf karena telah meninggalkanmu waktu itu." Kataku seraya memeluknya.
Aku terkejut, ia membalas pelukanku. Halilintar menyandarkan kepalanya pada bahuku lalu menangis.
"Aku rasa... aku tidak punya alasan untuk hidup lagi... aku... tidak punya siapapun lagi untuk ku lindungi..."
Aku menepuk punggungnya pelan..
"Keluarkan semuanya, Hali."
Air mataku masih mengalir.
Jadi... inikah rasa pedih yang dirasakan Sand ketika harus kehilangan Cloud selamanya..
TING TONG TING TONG~
"Hallo para Survivors... malam telah tiba... pada malam hari, pelayanan kamar mandi, kantin, dan laundry akan di non aktifkan. Selamat berimpi indah!" Ujar Monokuma dari sebuah layar raksasa.
"Beristirahatlah, Hali." Ujarku.
Ia mengangguk, "Ya.. terimakasih, Gem. Selamat malam." Ucap Halilintar seraya membuka pintu kamarnya untukku.'
"...Malam." Sahutku seraya keluar kamar.
.
.
.
Aku berjalan menuju ruanganku, hingga tiba-tiba aku melihat Sand tengah berdiri di depan pintu kamar.
"Sand?"
"A-ah? Gempa? Um... Halo.."
"Halo"
...situasi yang sangat canggung.
"Um.. a-aku.." Ia bergumam pelan.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih..."
"Untuk apa?"
"Terimakasih untuk u-um.. ka-karena telah menemukan pembunuh Cloud... aku sangat menghargai itu... walaupun pembunuhnya adalah temanmu sendiri.. jadi... terimakasih banyak!" Ujarnya sambil membungkuk dihadapanku.
"E-eh! Tolong berdirilah! Kau tidak harus membungkuk!"
Ia lalu berdiri dengan pipi yang masih setelah kedua matanya terpaut dengan mataku...
"Gempa..."
Ia menyentuh pipiku dan membelainya dengan lembut.
"Apa kau baru saja... menangis?" Tanyanya.
"Ahaha..ya, begitulah." Ujarku seraya tertawa canggung.
Ia mengerutkan keningnya
"Rasanya sakit...ya?" Tanya gadis itu lagi.
Aku mengangguk, membiarkan air mataku kembali jatuh.
"Aku benar-benar cengeng, ya"
Ia menggeleng, "Itu Normal..." Sand sedikit berjinjit untuk memelukku. "Ini bukan salahmu atau salah Taufan. Ini semua adalah salah Monokuma.."
Aku balas memeluk tubuh mungilnya..
Tak lama kemudian mata kami bertatapan.
Yah... aku tidak pernah tahu kalau matanya begitu indah..
Dan yang kutahu, aku sempat membeci gadis ini..
Jarak antara wajah kami semakin terkikis,
...Semakin dekat.
Dan dekat..
Ia menutup matanya...
...
"Apakah... aku mengganggu kalian?" Tanya seorang perempuan yang terdengar dari jauh, ternyata Rra.
"E-eh!" Kami melepaskan pelukan, lalu melihat ke arah lain, mencoba untuk menghindari kontak mata dengan pipi yang memerah.
Ia terkekeh pelan, "well, Gempa didn't you put yourself into such cute harem.."
"Apa maksudmu, sialan?" Tanya Sand galak.
Wow..dia sangat.. blak-blakan..
"Kau mahir bahasa inggris ya?" Tanyaku.
Ia mengangguk, "Yah, begitulah. Aku seorang SHSL Secret Agent, jadi aku harus bisa menguasainya"
"Tch.." Sand terlihat kesal.
"Kau lihat, dari pengamatanku, ada beberapa gadis yang kelihatannya tertarik denganmu, Gem." Ujar Rra sambil tersenyum, mengabaikan Sand.
"Siapa?"
Para gadis? Tertarik padaku? Masa sih? Kenapa!?
"Yah mungkin karena kau berhasil menyentuh hati mereka, dan membuat mereka nyaman." Tambahnya.
"Bagaimana kau bisa-"
"Semuanya tergambar di wajahmu, kawan." Kata Rra. "Semoga berhasil Lover boy! Dahh!" Ia lalu pergi begitu saja.
Setelah gadis itu tidak terlihat lagi, aku memandang Sand, "... terimakasih karena sudah menyemangatiku.."
"Sama-sama" Sahutnya, ia tersenyum dan wajahnya terlihat masih memerah "Selamat malam!"
"Malam," Aku kembali tersenyum dan melambaikan tanganku padanya saat ia mulai berjalan.
Aku lalu pergi ke kamar dan menyentuh bibirku..
"Apa yang baru saja terjadi...?"
.
.
.
Hari berikutnya~~
.
.
.
Aku bangun seperti biasanya, mandi, lalu pergi ke kantin. Disana aku melihat orang-orang tengah berkumpul dan mengobrol.
"Selamat Pagi, Gem!" Sapa Thorn dengan ceria.
"Pagi.." Balasku dengan tersenyum.
Kami makan dalam diam.
"OI! SEMUANYA!" Seru seorang gadis, yaitu Sand. "Bagaimana jika kita mendinginkan kepala, jadi ayo pergi berenang di kolam renang indoor lantai dua!"
"Ide yang bagus, sayang!" Ujar Solar semangat. "Akhirnya aku bisa memamerkan baju renang KESAYANGANKU!"
"Ha? Kupikir semua perempuan mendapatkan baju renang yang sama?" Tanya Magnet.
"Aku memodifikasi sedikit baju renangku. Sebagai seorang usahawan aku harus menguasai banyak keterampilan, dan mendesain/memodifikasi pakaian termasuk didalamnya! Dan Monokuma sangat manis, ia memberikanku peralatan jahit!"
"Terimakasih, Mrs Sunshine!" Ujar Monokuma dari sebuah speaker.
"Sama-sama!"
...Yaampun -_-
Kami semua setuju lalu mengganti pakaian di ruang ganti. Kebanyakan laki-laki mengenakan celana renang yang sama, hanya saja berbeda warna.
Disampingku ada Halilintar, ia mulai membuka pakaiannya. Dan wow, sial tubuhnya sangat bagus, otot perutnya terbentuk dengan sempurna.
...Dan ngomong-ngomong aku bukan Gay, terimakasih.
"Kau rajin olahraga, ya Hali? Tubuhmu sangat atletis!" Pujiku.
"U-um.. ya.. kurasa.. terimakasih" Balasnya dengan pipi yang memerah.
... tak heran Taufan suka menggodanya '-'
Yah... aku tidak mau mengingatkannya tentang Taufan, jadi aku hanya diam.
"Wow, Halilintar! Otot perut yang bagus!" Ujar Blaze.
"Oh.. kuharap aku punya tubuh yang mengagumkan juga..." Keluh Thorn.
"Kau masih dalam tahap pertumbuhan, Thorn... kau akan mendapatkannya suatu hari nanti." Ujar Dark.
"Tapi tubuhmu juga Atletis seperti Hali, Dark! Kenapa teman-temanku seperti itu tapi aku tidak?" Ujar Thorn cemberut.
"Jangan khawatir Thorn." Kata Emerald Sweatdrop, "Tubuhku juga tidak Six Pack.."
Thorn semakin merana mendengarnya.
"A-ayolah, kita pergi sekarang" Ujar Halilintar.
Ia lalu membuka pintu yang berhadapan langsung dengan kolam renang, para gadis sudah ada disana.
"Ah akhirnya kalian keluar juga, apa yang membuat kalian sangat lama di dalam?" Tanya Sand.
"Lihat, Ice sudah lompat ke dalam kolam renang" Kata Lily.
JEBURRRRR!
Kami mendengar suara cipratan air saat Ice keluar dari dalam kolam.
"Woah..." Blaze terpesona melihat Ice, matanya berbinar kagum.
"Blaze? Blaze? Haloo? Kau dengar aku?" Tanya Magnet, ia mengayunkan tangannya di depan wajah pemuda itu.
"Ehem! Kelihatannya ada yang naksir Ice, nih" Ujar Solar, ia menyeringai jahil.
"Diam kau!" Ujar Blaze.
Dan Solar hanya tertawa, menikmati wajah Blaze yang memerah karena godaanya.
Tap..
"E-em Dark? Kenapa kau menutup mataku?" Tanya Thorn ketika tiba-tiba Dark menutup matanya dari belakang. 'Menyelamatkannya' dari pemandangan para gadis berbikini.
"Ini bahaya"
"Apa maksudmu?"
"Shhhh"
"Ayolah Solar, pakaian renangmu terlalu terbuka" Ujar Fang.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja! Dan ini bukan tentang kulitku, tapi tentang Fashion!"
"Apa kau yakin?" Tanya Sand seraya melirik... dadanya...?
Ayolah Gem! Jangan berpikir yang macam-macam!
"Ayolah Solar, jangan terlalu memamerkan tubuhmu.." Ujar Dark seraya menutupi tubuh gadis itu menggunakan handuk.
"Oh kau sangat manis, Dark. Tapi aku baik-baik saja" Jawabnya sambil menyunggingkan senyum.
"...Ramai sekali.." Gumam Rra.
"Ayo semuanya! Ayo kita masuk ke kolam!" Seru Emerald, kami lalu terjun ke dalam air. Kecuali Dark yang menyimpan handuknya lebih dulu.
"Segarnya!" Ujar Sand dari dalam kolam renang.
Sementara itu Halilintar hanya termenung di tepi kolam,"Kuharap... Taufan ada disini.. dia suka berenang juga.." Gumam Halilintar dengan senyum sedih.
...
Sand memandangku, lalu mengangguk. Seakan bertelepati, aku mengerti apa yang dia maksud, aku balas mengangguk. Ia lalu menyelam menuju Halilintar dan menggelitiknya dari dalam air. Sedangkan aku memegangi tubuhnya agar ia tidak bisa kabur.
"AHAHAHAHAHAH! LEPASSS! WOAHH *****! AHAHAHAHAH!" Ia tertawa terbahak-bahak hingga kata-kata 'mutiara' pun keluar dari mulutnya.
"AHAHAHAHAHA!" Blaze ikut tertawa, menikmati kesengsaraan temannya itu.
"Aku mau ikut!" Ujar Thorn.
"Tidak, jangan Thorn.. itu bahaya" Kata Dark overprotektif.
"Kau bertingkah seperti Bodyguard nya saja" Ujar Solar seraya terkekeh.
"Yah, dan kau seperti ibunya" Balas Dark, Cemberut.
Setelah puas menggelitik Halilintar, aku mendekatinya, "Taufan tidak akan bahagia kalau kau sedih seperti ini.. cobalah untuk menerima kenyataan, Hali. Dan jalani hidup bersama kami disini.." Ujarku.
Dia tersenyum
"Terimakasih, Gem..."
"Ucapanmu dalam sekali, Gem." Ujar Ice seraya tersenyum. "Aku harus mencatatnya"
Ya, dia memang seorang SHSL Writer.
"Bagaimana bisa kau menjadi seorang SHSL Writer?" Tanyaku.
"Um.. alasan pertama, karena menulis adalah hobiku.." Jawabnya. "Tapi kemudian, pada suatu hari aku melihat pembunuhan di depan mataku.. aku terlalu takut untuk memberitahu polisi atau memberitahu orang-orang secara langsung. Jadi aku membuat sebuah cerita, dan memberi para pembaca sebuah petujuk. 'Pelaku pembunuhan adalah seseorang yang ada di kehidupan nyata, aku menulis cerita ini untuk meminta bantuan kalian, para pembaca. Tolong bantu aku menemukan pelakunya dan masukkan dia ke penjara!' Dan setelah beberapa bulan kemudian, sang pelaku tertangkap. Aku lalu diberi gelar sebagai SHSL Writter." Ujar Ice menceritakannya pada kami.
"Woahh! Siapa yang tahu kalau sebuah tulisan bisa menegakkan keadilan!" Ujar Blaze kagum, begitupun aku.
"Terimakasih.. setelah kita keluar dari sekolah ini, aku akan membuat buku tentang sekolah ini, kehidupan kita disini, tentang game pembunuhan... dan sebagainya" Ujar Ice. "Jadi para pembaca akan menyebarkannya ke jagat dunia maya dan sekolah inipun akan ditutup!"
"Rencana yang bagus!" Puji Magnet. "Jika nanti kau menerbitkan buku itu, aku akan jadi orang pertama yang membelinya!"
"Terimakasih" Ujar Ice lagi seraya tersenyum.
"Aku punya banyak Novel karya Ice, kau sangat layak mendapatkan gelar sebagai SHSL Writter" Puji Emerald. "Kuharap, aku punya bakat seperti kalian juga." Ujarnya tersenyum.
Kami lalu menghabiskan sisa waktu hari itu di kolam renang untuk bersenang-senang, berenang, bersantai, dan lain-lain.
Hingga akhirnya kami selesai mandi..
"Halo para b*jingan, sekarang sudah malam. Saat malam tiba, pelayanan di kamar mandi, kantin, dan laundry akan di nonaktifkan. Selamat bermimpi indah!" Ujar Monokuma dari sebuah layar raksasa.
"Kurasa sekarang waktunya kembali ke ruangan masing-masing." Kata Blaze.
"SELAMAT MALAM SEMUANYA!"Seru Sand.
"Malam!"
.
.
.
A : "Kau yakin tidak akan memberikan motif lain?"
? : "Ya, kita hanya perlu menunggu mereka bergerak."
B : "Huh..?" *Berpindah tempat lalu bersembunyi*
A : "Baiklah kalau begitu, tapi aku yang akan melakukannya jika tidak ada pembunuhan sampai lusa nanti"
B : "... Penghianat?" *Keluar dari tempat persembunyiannya*
A : "KAU!"
B : "Aku yang seharusnya berteriak! Kenapa kau mengkhianati kami!?"
A : "Apa maksudmu!?"
B : "...Sudah cukup! Aku sudah muak dengan game pembunuhan ini! *Mengambil senjata, lalu membunuh A*"
C : "...B?... Kenapa kau membunuhnya..?"
B : "...Karena dia adalah seorang pengkhianat.."
.
.
.
Di pagi hari, sebelum pengumuman Monokuma ...
Aku menemukan sebuah surat di ruanganku..
Aku lalu berjalan menuju lantai dua, ke sebuah ruang seni seperti yang di katakan dalam surat... dan...
...
D...Dark!?
.
.
.
TBC
Danganronpa
Survivors
12 Siswa
.
.
.
A/N : Halooo, penerjemah disini ^^ gak cocok sebenernya kalo di sebut Author Note yaa karena bukan aku authornya ^^" /Plak/
Salam kenal, aku Drazilla atau panggil aja Fy. Aku bisa dibilang asisten (ehem) author Danganronpa ini. Ada beberapa hal yang mau aku sampaikan, yang pertama terimakasih untuk semua reader tercinta karena sudah support ff ini. Maaf juga karena up nya lama TvT maaf karena banyaknya kegiatan, jadi proses penerjemahannya terhambat /halah alesan lu *Pundung di pojokan*
Elga : Ini udah lanjut yaa ^^
Green Emerald : Terimakasih ^^
Green Emerald : Iyaa Fang jadi cewek *Senggol Fang*
Fatih Cahya Adlu : Terimakasih! Tunggu terus yaa kelanjutannya
Princess Angell : Ini udah lanjut okayy ^^
Honey Sho : Makasih buat sarannya, nanti aku diskusikan dengan author :D Thx for RnR!
Terimakasih untuk para reader yang sudah meninggalkan jejak ^^
Byeee!
