A/n : Haloo semuanya, ini Author! ^^

Author mau minta maaf kepada reader sekalian karena update ceritanya lama, di versi Bahasa Inggris ataupun Bahasa Indonesia karena beberapa hal. Kami selaku Author dan Translator ingin minta maaf yang sebesar-besarnya. Terimakasih karena sudah mengikuti cerita Danganronpa: The Ultimate Crossover sampai sejauh ini!

Enjoy the story!


Kasus 2 : Yang Mana? (Hari-hari Intens)

.

.

.

Surat misterius itu menuntunku pada kematian tragis salah satu temanku...

"D-Dark...?" Ujarku pelan.

Benarkah... Benarkah itu Dark...? Tubuhku mematung dan suaraku tercekat, menatap tubuh yang sudah tak bernyawa itu.

DING DONG DING DONG~

"Selamat pagi para b*jingan! Mari kita awali hari ini dengan pembunuhan baru yang menyenangkan!" Kata Monokuma dari sebuah layar TV raksasa.

"...Aku harus beritahu yang lainnya..."

Aku berlari secepat yang kubisa ke kantin

.

.

.

"PAGI GEMPA!" Seru Thorn menyapaku. Tentu saja aku tidak sempat untuk menjawab basa-basinya disaat genting seperti ini.

"...Gempa?" Tanya Fang, raut wajahnya sedikit kebingungan melihat tingkahku yang tidak seperti biasanya.

"Semuanya..." Ujarku. "Kalian harus melihat ini..."

Aku melempar tatapan serius kepada semua teman-temanku, lalu berlari keluar dan menuntun mereka menuju ruang seni.

"Apa-apaan..."

"Oh tidak..."

"Da-Dark...?" Ujar Solar dengan gemetar, kedua matanya langsung berkaca-kaca. Ia baru saja akan berlari mendekati mayat itu, tapi Thorn menahannya.

"Jangan Solar! Kau tidak bisa menyentuh tubuh orang mati begitu saja! Jiwanya bisa marah!" Serunya.

"Lepaskan! Lepaskan aku Thorn!" Gadis itu menangis, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Thorn. Tapi tubuhnya terlalu lemah karena Syok.

DING DONG DING DONG~

"Sebuah mayat sudah ditemukan! Setelah sekian lama, akhirnya nanti akan diadakan Class Trial!" Ujar Monokuma dari sebuah layar TV raksasa.

"Kurasa.. ini waktunya untuk penyelidikan lagi" Gumam Rra.

"Hiks... Hiks..." Kami mendengar suara isakan.

"Solar tolonglah..." Ujar Thorn seraya memeluknya. "Dark tidak akan senang jika dia melihatmu seperti ini"

"Itu benar" Tambah Magnet. "Jangan sedih..."

"Kita bisa menyelidiki kasus ini bersama-sama!" Kata Sand mencoba untuk menenangkannya.

"Mungkin dengan menemukan pelakunya, kau bisa membalaskan kematian Dark.." Ujar Emerald.

Hatiku terasa sakit ketika mendengar mereka berkata seperti itu.

Apa ini yang mereka sebut sebagai empati?

"Siapa si br*ngsek yang memulai game sialan ini lagi!?" Teriak Halilintar marah, "Pertama Taufan yang mati! Dan Sekarang Dark!" Makinya. Ia membuka topi dan mengacak rambutnya dengan kesal "Apa yang sebenarnya kau pikirkan, PEMBUNUH SIALAN!"

Aku tau dia tidak gila, ataupun menuduh seseorang. Halilintar hanya kesal.

Dan marah.

"Ah, Ada lukisan bergambar Dark..." Ujar Magnet seraya menunjuk kanvas berukuran sedang yang berada tak jauh dari mayat pemuda itu. "Apa ada SHSL Artist disini?"

Emerald menggeleng, "Sepertinya tidak ada"

"Ah... kupikir ada.." Ujarnya sedikit kecewa.

Lily menepuk bahunya pelan, "Jangan sedih Magnet." Hiburnya.

"Ayo kita mulai penyelidikannya" Kata Rra.

Aku lantas berjalan mengelilingi ruangan seni yang cukup luas itu. Banyak kanvas putih beraneka ukuran, lukisan dan bahkan patung, juga peralatan seni lainnya.

"Apa kau menemukan sesuatu, Lily?" Tanyaku padanya. Ia tengah melihat-lihat sebuah lemari yang penuh dengan peralatan seni.

"Belum," Sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari benda-benda itu. "Bagaimana denganmu?"

"Sama." Jawabku. "Kalau begitu aku akan mencari petunjuk di tempat lain, oke?"

Ia mengangguk, "Tentu." Jawabnya.

Kemudian aku keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Lily disana. Kudengar Magnet dan Sand bekerjasama untuk beberapa alasan, mereka juga mengajak Rra bergabung. Sedangkan Emerald dan yang lainnya sedang berada di kantin untuk menenangkan Solar.

Yah.. kurasa kasus ini sedikit aneh.

Ruang seni adalah tempat dimana si pelaku membunuh Dark, dan masuk akal jika ia membunuhnya menggunakan peralatan seni. Tapi darimana ia mendapatkan tali...?

"Gempa!"

Dua suara yang familiar memanggilku dari belakang. Aku lantas menoleh, "Blaze! Ice!"

"Kami datang untuk melapor!" Ujar mereka bersamaan sambil memberi hormat.

Imutnya...

"Salah satu tali dari kebun belakang sekolah hilang" Ujar Ice.

(Petunjuk pertama : Sebuah Tali Menghilang)

"Hm... seperti yang kuduga." Gumamku. "Seberapa jauh jarak kebun sekolah dari sini?" Tanyaku pada mereka.

"Tidak terlalu jauh, belok kanan dari sini dan disudut kiri sana kau akan menemukan kebun."

.

.

.

(Lily Pov)

.

.

.

Aku menggosok lukisan mayat Dark, dan mengernyit ketika menemukan sebuah keanehan dari benda itu.

"Teksturnya..." Gumamku.

Rra yang baru saja kembali pun mendekat, "Itu tidak seperti cat, bukan?" Tanyanya.

"Ya... ini berbeda..."

(Petunjuk Kedua : Tekstur Cat Yang Aneh)

"Hei, bagaimana jika aku melepas talinya?" Tanya Rra.

Aku mengangguk. "Tentu, lakukan saja."

Rra lalu melepas tali yang melilit tubuh mayat itu dengan hati-hati, dan darah mulai mengucur dari sana.

"Apakah... ada benda tajam lainnya di sekitar ruangan ini?" Tanyanya. "Kurasa si pembunuh tidak punya cukup waktu untuk menggunakan pisau." Jelas Rra. "Sepertinya pembunuhan ini tidak direncanakan."

"Ya, tapi apa senjata yang digunakan si pelaku? Dan apa motifnya..." Gumamku.

Rra lalu membuka Tab miliknya.

"Kelihatannya Dark terbunuh karena luka tusuk..." Katanya.

Aku mendekati mayat itu, mengecek tubuhnya, dan membuka maskernya perlahan..

"Tidak, jangan."

Aku dan Rra lantas menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu Thorn.

"Thorn..?"

"Masker itu sangat penting bagi Dark, kau tidak boleh membukanya." Ujarnya.

"Baiklah.."

Kemudian aku membuka jaket dan kaosnya, terdapat luka tusuk yang cukup dalam disana.

Aku menyentuh luka itu.

"Lukanya masih basah..." Gumamku. "Kurasa pembunuhannya terjadi saat malam tadi."

(Petunjuk Ketiga : Luka Yang Masih Basah)

"Benda tajam yang ada di ruang seni... adalah alat pencampur cat." Kata Rra.

(Petunjuk Keempat : Sebuah Mixer cat)

"Hm.. biar kubantu." Ujar Thorn. "Akan kutanya tiap orang, tentang siapa yang terakhir kali melihat Dark kemarin."

"Aku akan membantunya." Ujar Rra pada Lily. "Semoga berhasil, Ly. Akan kuberitahu hasilnya nanti. Ayo, Thorn"

Akhirnya mereka keluar dari ruangan.

Aku masih penasaran pada mayat ini, tapi aku tidak bisa membuka maskernya.

Lalu tiba-tiba..

Tring!

"Ah!"

Oh tidak...

Tanpa sengaja aku menjatuhkan gelas berisikan air yang ada di sebelahku.

Aku harus mengelap airnya..

...Tapi,

"Ah..." Gumamku

"...Bingo"

.

.

.

(Lily Pov Selesai)

.

.

.

Aku berjalan mengelilingi kebun untuk mencari petunjuk lain.

"..Hiks...hiks"

Tapi kemudian terdengar isakan tangis seseorang, dan aku mendekat ke arah suara.

"...Solar..." Bisik suara lainnya.

"Sudah, jangan menangis terus Solar..." Ujar Emerald, ia mengusap punggung gadis itu dengan pelan.

Well... sangat tidak biasa..

"Aku seharusnya tidak membiarkannya melakukan itu.. hiks" Isaknya pelan.

Ia lalu memeluknya.

"Tak apa, jangan menangis lagi.. semuanya sudah terjadi, kan?" Ujar Emerald, mencoba untuk menenangkannya.

Betapa baiknya dia.. tapi ada yang aneh.

Sejak kapan Emerald begitu dekat dengan Solar?

Tapi kurasa itu tidak masalah, ia hanya sedang menenangkan Solar.

Tak lama kemudian, Rra datang bersama Thorn dari pintu masuk.

Aku tidak mau dicurigai oleh Solar dan Emerald, jadi aku bergabung dengan mereka.

"Hei kalian," Sapaku.

"Halo, Gem" Sahut Thorn dan Rra.

"Ah, Solar! Emerald! Halo!" Sapa Thorn pada mereka.

"Halo Strawberry, Rra... dan Gempa" Sahut Solar seraya menghapus air matanya.

"Hei Guys..." Sapa Emerald balik.

"Wow, langka sekali melihat kalian bersama" Ujar Rra.

...Ternyata ia menyadarinya juga.

Pemuda itu mengangguk, "Aku hanya sedang berjalan-jalan disekitar sini dan melihat Solar tengah menangis sendirian." Jawabnya. "Sebagai seorang laki-laki, aku mencoba untuk menenangkannya." tambah Emerald polos.

"Oh iya, aku ingin bertanya pada kalian mengenai beberapa hal..." Kata Rra. "Kapan kalian berdua terakhir kali melihat Dark?" Tanya gadis itu.

Thorn mengangguk. "Kami sudah bertanya pada yang lain. Dan tidak ada yang melihatnya kecuali Fang." Ujarnya. "Ia bilang tadi malam melihat Solar dan Dark berdua."

Solar menunduk, kedua matanya meredup. "Ya... tadi malam aku memang bersamanya" Ujar gadis itu. "Ia cukup baik untuk mengantarkanku kembali ke kamar. Tapi kemudian, kami mendengar seseorang yang sedang menelepon." Terangnya.

"Menelepon...?" Tanya Rra. "Kukira tidak ada yang punya telepon genggam disini.."

Emerald mengangguk. "Kita juga di awasi. Dan lagi, Personal Tab yang kita miliki tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi."

"Kami mendengar panggilan telepon tanpa tahu siapa itu... Tapi kami mendengar tentang 'Motif Selanjutnya.'" Kata Solar.

"A-Apa..?"

"Itu pasti kaki tangan si dalang atau semacamnya." Tebak Emerald.

(Petunjuk Ke enam : Sebuah Panggilan Telepon Misterius)

"Apa-apaan!?"

"Suara siapa itu?" Tanya Rra.

"Monokuma." Jawabku. Suaranya tidak terlalu sulit untuk dikenali.

"Ada apa, Bear?"

"Kenapa kau jengkel, sih?" Tanya Thorn.

"Salah satu dari kalian sungguh membuat sebuah kekacauan yang luar biasa! YA TUHAN" Omel Monokuma.

Ada sebuah ember yang terisi oleh sisa-sisa seperti cairan , dan permukaan tanahnya kotor...?

Rra mendekati ember itu dan memeriksanya.

"Ini..."

(Petunjuk Ke Tujuh : Sebuah ember yang terdapat sedikit ... dan beberapa cairan yang membasahi tanah)

"Nah, liat waktunya" Ujar Monokuma, lalu menekan sebuah tombol dari remot yang entah ia dapatkan darimana.

Dan Tv raksasa itu lalu memperlihatkan tayangan dari Monokuma lainnya yang mengungumkan bahwa waktu penyelidikan telah selesai.

"Semoga berhasil para b*jingan~ CIAO!"

Ia lalu melompat masuk kedalam sebuah semak, dan menghilang.

"Jadi ini waktunya untuk Class trial, huh?" Tanya Solar.

Rra mengangguk. "Ya, sebaiknya kita pergi sekarang."
.

.

.

Kami semua berjalan menuju sebuah pintu raksasa berwarna merah.

"Ini dia..." Ujar Fang.

"Hah... aku mulai muak dengan semua ini" Kata Halilintar kesal.

"Tapi kurasa kita tidak punya pilihan lain," Tambah Magnet.

"Jangan putus asa, teman-teman. Kita harus mengungkap siapa yang membunuh Dark." Ujarku.

"Ya! Ayo! Kami akan membalaskannya untukmu Dark!" Seru Thorn.

Kami lalu berjalan menuju ruang sidang.

...Tidak ada gunanya.

.

.

.

Danganronpa.

Survivors,

12 Murid

.

.

.

Tidak terdefinisi

.

.

.

Tbc

.

.

.

*Keluar dari Goa* Um... Halo...? /Dikeroyok

Halo... balik lagi ama Translator ^^"

Um aku pribadi mau minta maaf karena baru bisa update sekarang, hehe. Dikarenakan rasa kemageran yang teramat sangat untuk menggarap cerita ini dan cerita milik translator, jadi cerita ini terlantar... Maafkanlah daku yang penuh dosa ini. Dan jangan ditiru yak /Plak

Oke segitu ajaa.. makasih untuk kalian yang sudah mau nyempetin baca dan review. Tiap Komentar dan saran dari kalian bener2 jadi semangat buat Author maupun Translator ^^

Mohon maaf jika ada kesalahan, dan jangan lupa Review!