.

.

.

Kasus 2 : Yang Mana? – White Lilies (Hari-hari Abnormal)

.

.

.

...

? : Hei! Fbyne !

? : Ya? Apa itu Qnex?

? : Um... ini! *Memberikan Fbyne beberapa bunga Lili putih*

? : Untukku?

...

.

.

.

"Jadi, aku akan memberi tahu kalian tentang peraturan dalam Class Tri-"

"Kami sudah tau peraturannya! Dasar bajingan!" Seru Sand kesal, ia menyela Monokuma.

"Oke mari kita mulai dari senjata." Ujarku. "Menurut kalian, apa senjatanya?"

Semuanya terlihat berpikir.

"Letak dapur cukup jauh dari ruang seni, jadi pisau bukanlah pilihan." Kata Halilintar, melipat tangannya di atas dada seperti biasa.

"Kira-kira senjata apa yang bisa kita temukan di ruang seni...?" Tanya Magnet.

"Ung.. Kuas Cat?" Tebak Blaze.

Fang memutar matanya, "Berpikirlah dengan logika, kawan."

"Sebuah patung?" Tambah Thorn.

"Sudah kubilang berpikirlah dengan logis" Ujar Fang sekali lagi dengan nada kesal.

"Bagaimana dengan alat pencampur cat?" Tanya Lily.

"Bisa saja. Meskipun benda itu tidak tajam, tapi jika si pelaku menusuknya dengan cukup kuat maka alat itu bisa digunakan sebagai senjata." Jawabku.

"Bagaimana cara si pelaku menyembunyikannya?" Tanya Solar.

"Bagaimana jika..." Ujar Ice, "Si pelaku menusuknya terlalu keras... sehingga beberapa organ didalam tubuhnya itu hancur jadi si pelaku menyembunyikannya di sana."

"Ugh... hentikan Ice!" Blaze memegang perutnya sendiri. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

"Itu hanya kemungkinan, kau tahu." Jawab Ice santai.

"Ugh! Siapa pelakunya!" Ujar Thorn, "Aku akan membuat ia menyesal karena telah membunuh Dark dan membuat Solar menangis!" Serunya.

"Terimakasih, Strawberry..." Kata Solar sembari tersenyum.

"Ah..."

"Apakah kau pelakunya, Thorn?" Tanya Lily.

"Huh...? Apa maksudmu?"

"Maksudnya, kau itu terlalu mencurigakan.." Ujar Rra. "Kau tidak mengijinkan kami untuk membuka topeng milik Dark atau membiarkan Solar menyentuh mayatnya.."

"Jadi, bukankah kau pelakunya...?"

"Oh... Kau cari masalah denganku" Ujar Thorn dengan wajah datar.

Rra menaikkan sebelah alisnya,

"Baiklah, akan kuladeni" Tambah pemuda itu.

"Thorn...?" Tanya Solar kebingungan. Thorn tidak seperti biasanya...

"Ayo mulai! Sebuah Rebuttal Showdown antara Rra dan Thorn!" Seru Monokuma, ia terlihat sangat senang.

~Rebuttal Showdown Begin!~

"Jika kau bukanlah pelakunya," Kata Rra lagi. "Saat penyelidikan tadi, bagaimana kau bisa tahu kita ada di ruang seni?"

"Dan kenapa kau sangat peduli pada topeng miliknya?"

"Apa hubungannya denganmu?"

Thorn mendengus mendengar begitu banyak pertanyaan dari gadis itu, "Biar ku sela ucapanmu" Ujarnya dingin.

"Apa kau tahu masa laluku?" Tanya Thorn dengan dingin.

"Aku pernah tinggal di hutan, lalu di adopsi oleh Solar dan Dark." Lanjutnya. "Itu hubungannya untukmu, idiot."

"Thorn, kenapa kau bicara begitu?" Solar sedikit kaget.

"Dia.. si Nona sok tahu ini, menuduhku begitu saja tanpa tahu apapun." Jawab Thorn, pemuda itu melirik Rra dengan malas. "Wow Kerja bagus Nona SHSL Secret Agent." Sindirnya.

Rra mengepalkan tangannya dan menunduk, "A-aku... ugh.."

"Terimakasih, sialan."

Tegang sekali..

"U-um.. ayo kita berdiskusi tentang tubuh mayatnya. Bisakah?" Tanyaku, mencoba untuk menenangkan suasana yang semakin memanas.

"Tubuhnya diikat" Jawab Lily. "Darimana si pelaku mendapatkan talinya?"

"kemungkinan dari kebun" Ujarku. "Ice dan Blaze yang melaporkannya." Aku tersenyum kepada mereka berdua.

"Kenapa Dark diikat?" Tanya Emerald.

"Ya.. Fang bilang bahwa-"

"-Fang bilang bahwa dia melihat Dark dan Solar kemarin." Ujar Thorn, menyela ucapan Rra. Gadis itu hanya bisa diam dan menunduk memandang lantai.

"Serra..." Gumam Blaze.

"Jadi, bagaimana Solar?" Tanya Lily.

Ia menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. "Malam tadi aku memang bersamanya, tapi kami mendengar suara seseorang yang tengah menelepon. Kami tidak tahu siapa..." Jelas Solar, "Aku terlalu takut untuk melihatnya, jadi Dark yang memeriksanya."

"Menelepon? Maksudmu menggunakan Handphone?" Tanya Halilintar, "Kupikir Handphone kita semua hilang dan tablet yang diberikan Monokuma tidak bisa digunakan sebagai alat komunikasi"

"Ya, itu benar.. Aku tidak tahu bagaimana laki-laki itu mendapatkan Telepon.." Kata Solar.

"Tunggu..." Ujar Sand.

"Solar..."

"Hm?"

"Apa tadi kau bilang... laki-laki?"

"Bagaimana bisa kau tahu bahwa si penelepon adalah laki-laki?" Tanya Rra.

"Diamlah! Mungkin dia mendengar suaranya saja jadi ia pikir si penelepon adalah laki-laki!" Seru Thorn, mencoba untuk melindungi Solar.

"Aku tidak mempercayaimu" Kata Lily kepada Thorn. "Jadi Solar, bisa kau jelaskan?"

Solar terdiam.

"Solar?" Panggilku.

"Ufufufufufufu..."

Hah...?

"Ufufufufufu...ahahaha...Ahahaha~!" Ia tertawa, "Kerja bagus semuanya~!"

"Kau melakukannya?! Kau yang membunuh Dark?!" Tanya Magnet kaget

"Huh? Siapa yang bilang begitu?" Ujar Solar, "Kerja bagus karena sudah menuduhku, tapi apakah kalian punya bukti untuk itu?"

"Bahkan jika aku membunuh Dark, kalian tidak tahu kapan aku membunuhnya atau apalah..." Tambahnya.

"Darah yang ada di lukanya masih basah.." Kata Fang. "Itu pasti karena kejadiannya tadi malam, saat dimana aku terakhir kali melihatmu."

"Kau ada benarnya. Tapi bagaimana caraku membunuhnya? Bagaimana bisa aku membunuhnya?" Tanya gadis itu balik.

"Kau mengikat dan membunuhnya, kemudian menggunakan darahnya untuk menggambar di atas kanvas agar seakan-akan pelakunya adalah seorang psikopat" Jawab Halilintar.

"Apa alasannya?" Tanya Solar.

"I-itu.."

Aku...

Aku tidak tahu..

Apa alasannya...!?

"Eheheh~ tanpa alasan yang valid kalian tidak bisa menuduhku" Ujar Solar.

"Mungkin kau tidak punya alasan untuk melakukannya" Jawab Lily.

"..."

"Huh? Maksudmu?" Tanya Sand.

"Ya, dia tidak punya alasan untuk membunuhnya." Jawabnya lagi.

"Ooh.. aku mengerti sekarang" Ujar Rra.

"Apa maksudmu, Lily?" Tanyaku bingung.

"Karena seseorang yang ia bunuh..." Ujar Lily, "Bukanlah Dark."

"Apa?!" Semua orang yang ada di dalam ruangan tercengang.

...Benarkah?

"Apa kau yakin?" Tanya Emerald memastikan, "Maksudku, mayatnya benar-benar terlihat seperti Dark.."

"Ya, bukankah begitu, Solar?" Tanya Lily. "Bakatmu..."

"Bakatmu adalah SHSL Entrepeneur, seseorang yang menguasai banyak bakat" Tambahnya.

"Kau bisa dengan mudah melakukan sesuatu untuk menutupi tubuh mayat, kan?" Tanya Lily lagi. "Atau lebih spesifiknya, "Mengecat?"

"Oh!" Akhirnya aku mengerti.

"Mengecat?" Tanya Blaze.

"Ya, kau tahu, saat aku tengah memeriksa luka di tubuh Dark, tanpa sengaja aku menumpahkan air ke tubuhnya. Dan tebak.." Ujar Lily.

"...warna kuitnya memudar" Tambahku.

"Itu benar" Kata gadis itu, "Aku tidak yakin juga apa yang ia gunakan..."

"Aku... aku juga menemukan sesuatu di kebun" Ujar Rra.

"Jangan berani-beraninya kau mengatakan itu" Kata Thorn dengan agresif.

"A-aku tidak takut padamu!" Sahut Rra, "Aku tidak peduli jika selama ini kau berpura-pura polos!"

"Thorn, apa yang kamu lakukan? Tanya Solar.

"Aku tidak akan membiarkanmu memilih Solar sebagai tersangka!" Seru Thorn.

"Jangan salah sangka, aku tidak menarget solar." Jawab Lily.

"Jadi?" Tanya Fang. "Apa yang kau temukan, Rra?"

"Aku menemukan lumpur dalam ember saat di kebun. Dilihat dari bekasnya, lumpur itu kelihatannya sudah digunakan seseorang.." Jawab Rra.

"Itulah kenapa aku bilang bahwa ia tidak mencoba untuk membunuh Dark.." Tambah Lily. "Tapi ia mencoba untuk melindunginya."

"Melindungi?"

"Pertama-tama ia menggunakan tali untuk mengikat korban yang sebenarnya, lalu membunuhnya menggunakan alat pencampur cat. Setelah itu ia menggunakan darahnya untuk melukis kanvas." Jelas Lily, "Kemudian dia mengambil sebuah ember yang penuh lumpur untuk mengecat tubuh mayatnya agar kulitnya menjadi lebih gelap.." Tambahnya.

"Dan pelaku pembunuhnya sedang menyamar, berada di antara kita." Kata Rra.

"Aku setuju, karena aku menemukan lumpurnya juga. Aku bersama Rra saat itu, ia tidak bohong." Ujarku.

"Dia ingin melindungi Dark, karena Dark yang kita kenal menggunakan bakatnya sebagai seorang SHSL Theater, seseorang yang sangat pandai dalam ber-acting.." Tambahku. "Bukankah itu benar, Emerald? Atau haruskah kupanggil.. Dark?"

Emerald terdiam.

"DIAMLAH! AKU YANG TELAH MEMBUNUH DARK! DARK SUDAH MATI! JANGAN MENUDUH SESEORANG TANPA BUKTI!" Seru Solar.

"Buktinya sudah ada! Hubunganmu yang tiba-tiba dekat dengan Emerald itu mencurigakan!" Sahut Rra tidak kalah.

"Kau menuduhnya karena hubungan kami?! Itu bukanlah bukti yang valid!" Jawab Solar tidak terima.

"Ya..." Gumamku.

"Keperibadian Dark bisa jadi buktinya."

"A-apa maksudmu?" Tanya Solar.

"Dia pernah bertanya padaku.. 'Apa kau percaya pada kami?' Dan aku menjawab bahwa aku mempercayai mereka. Aku juga masih mempercayainya sampai detik ini. Jadi.."

"Pertanyaan itu adalah bukti dari keperibadiannya." Lanjutku. "Ia adalah seseorang yang baik dan penuh kasih sayang. Aku yakin ia tidak akan mau membunuh seseorang, jika 'Motif barunya' melibatkan orang lain!"

"Bagaimana kau bisa tahu?! Kau tidak mengenal Dark sejak lama!" Seru Solar.

"...'Mungkin dengan menemukan pelakunya, kau bisa membalaskan kematian Dark..', 'Jangan menangis Solar...', Tak apa..jangan menangis lagi.. apa yang sudah terjadi biarlah berlalu'... Semua kata-kata itu, berarti ia sangat peduli kepada kita.. atau lebih tepatnya kepadamu!" Jelasku. "Itulah bagaimana caraku mengetahui keperibadiannya!Emerald tidak akan sebaik itu kepada siapapun. Bukankah begitu?"

"A-aku..."

"Cukup, Solar.."

Kami semua menoleh ke arah sumber suara..

Suara itu adalah milik Emerald..

"Wow... aku benar-benar kagum " Ujarnya seraya tersenyum tipis. "Aku tidak mengira kalian bisa mengungkap kebenarannya.."

"...aku juga tidak menyangka kalau Thorn berpura-pura polos selama ini"

...

"Kalian semua benar. Aku adalah Dark." Ujarnya sembari melepas lensa kontak berwarna Toscanya itu lalu membuangnya.

...dan memperlihatkan mata violetnya.

"Dark! Topengmu!" Ujar Thorn

"Tak apa, Thorn." Sahutnya.

"Kenapa kau membunuh Emerald, Dark?" Tanya Blaze.

"Dia..."

"Dia adalah dalang dari Killing Game ini.." Jawab Dark.

"Dalang?!"

"Tapi bukankah permainan pembunuhan ini akan berakhir jika Dalangnya terbunuh?" Tanya Ice bingung.

"Aku juga berpikir begitu.. tapi kelihatannya dia adalah Salah satu dalangnya" Ujar Dark.

"Berarti masih ada lagi?!" Tanya Magnet kaget.

"Kupikir.. aku ingin mengakhiri permainan pembunuhan ini untuk semuanya.. jadi kita tidak perlu menderita lagi.." Kata Dark sembari tersenyum sedih. "Jadi aku dan Solar mengikatnya agar ia mau mengaku. Tapi kami tidak mendapatkan apapun.. aku juga terlalu marah, tidak bisa berpikir jernih. Aku menggambil alat pencampur cat dan menusuk perutnya. Setelah dia mati, aku menyembunyikan alat itu di dalam tubuhnya." Ujar Dark, mengaku.

"Aku benar kan, Blaze." Kata Ice.

"Diamlah." Jawabnya.

"Aku kaget, dan Solar... dia sangat panik. Jadi ia menyuruhku untuk bertukar pakaian dengan Emerald, ia mengambil kunci kamarnya, memintaku untuk bersih-bersih dan tidur disana." Ujar Dark. "Ia juga menyuruhku untuk berpura-pura menjadi Emerald."

Solar terdiam.

Dark memandang Solar dan tersenyum lembut, "Dia... benar-benar cerdas.. itulah kenapa aku sangat mengaguminya.."

"Aku... ugh... hisk.." Tangisnya pecah, air mata jatuh melewati pipinya.

"Aku akhirnya sadar bahwa Solar yang mengecat tubuh Emerald dan melukis kanvas.. Aku tertegun, ia melakukannya untuk menutupi kesalahanku.. untuk melindungiku.." Ujar Dark. "Dia adalah gadis yang luar biasa.. That s why she's my sunshine.."

"Apa motifnya, Dark?" Tanya Halilintar.

"Sayangnya, aku tidak tahu.. Maaf."

"Itu bukanlah salahmu.." Ujar Sand.

Dark tersenyum, "Bukankah ini waktunya untuk voting?"

"Ituuuuuu benaaaar! Waktunya untuk memilih~!" Seru Monokuma.

.

.

.

Setelah Voting...

"Ayo kita lihat hasilnya!" Ujar boneka monokrom itu.

"10 suara untuk Dark, dan 2 suara untuk Rra" Tambahnya. "Solar dan Thorn... teganya kalian... pu pu pu pu.."

"Kalian.. kenapa kalian memilihnya?!" Seru Dark.

"Dia... Karena dia! Karena dia kau ketahuan!" Sahut Solar

"Aku tidak ingin kau mati!" Tambah Thorn.

"Maafkan aku... aku seharusnya tidak mengatakan apapun..." Ujar Rra menyesal.

"Ya memang! Aku akan membunuhmu!" Seru Thorn.

"Itu bukan salahnya! Kau tidak boleh membunuhnya!" Sahut Dark.

Lagi-lagi Rra memandang lantai, tapi...

"Hisk..."

Kali ini dia menangis.

"Rra.." Panggil Dark, pemuda itu mendekat ke arahnya. "Maafkan aku, jika saja aku tidak membunuhnya, kau tidak akan merasa tersakiti seperti ini..."

"Tak apa, aku pantas menerimanya." Sahutnya pelan, lalu berjalan pergi menuju dekat pintu keluar. Menunggu disana.

Dark mendekati Solar.

"Sunny, apa kau masih ingat janji kita?" Tanyanya.

"Janji..."

.

.

.

Dark : "Apa kau tau arti dari bunga Lili putih, Solar?"

Solar : "Tidak. Apa itu?"

Dark : "Itu artinya Persahabatan dan Kemurnian!"

Solar : "Kenapa kau memberikan ini padaku?"

Dark : "Arti dari bunga ini sama seperti kita" *Dark tersenyum* Ketika aku sudah besar nanti dan punya banyak uang, Janji bunga Lili ini... akan berubah menjadi janji bunga Mawar. Apa kau tahu arti dari bunga Mawar?"

Solar : "Um.. tidak"

Dark : "Itu artinya Cinta ^^ Karena..."

.

.

.

"Karena aku mencintaimu, Solar.." Dark menggengam tangan gadis itu dan menatap matanya.

"Aku meminta Thorn untuk mencarikanku bunga Lili di sekolah ini" Ujarnya, ia memberikan Solar sebuah bunga Lili putih.

"Di kamarmu ada lebih banyak lagi, kau bisa memeriksanya nanti" Pemuda itu tesenyum. "Aku mencintaimu... maaf karena semuanya menjadi seperti ini.. Aku mengingkari janji kita"

"Janji.. Janji yang mana..?"

"Kau sudah lupa, ya?" Dark tertawa kecil. "Aku berjanji padamu.. bahwa aku akan menikahimu ketika aku sudah besar nanti.." Ia tersenyum pedih, "Tapi karena aku akan mati.. aku mengingkari janji itu"

"Ayo kita bersemangat untuk eksekusi terbaru ini!" Seru Monokuma.

Dark tersenyum sedih..

"Jangan sedih... aku tidak ingin melihatmu menangis, oke?" Ujar Dark.

"Tidak! Jangan lakukan ini padaku... kumohon..." Solar memeluk Dark untuk yang terakhir kalinya.

"Aku mencintaimu, Sunny."

"Waktunya untuk eksekusi!

.

.

.

#Dark terbukti bersalah, bersiap untuk eksekusi#

.

.

.

Dark berdiri di atas sana, mencoba agar bisa berperan sesuai dengan intruksi boneka monokrom itu sebelum kematiannya.

Wajahnya tersenyum, tapi kedua matanya tak bisa berbohong.

Ia menyembunyikan kesedihan, rasa bersalah dan ketakutannya disana.

Sedangkan Solar, gadis itu masih berdiri, melihat dari dekat detik-detik terakhirnya memandang wajah pemuda yang sangat dicintainya itu.

"Karena aku mencintaimu, Solar.."

"Aku mencintaimu... maaf karena semuanya menjadi seperti ini.. Aku mengingkari janji kita"

"Aku berjanji padamu.. bahwa aku akan menikahimu ketika aku sudah besar nanti.."

Tangisnya kembali pecah,

"Aku mencintaimu, Sunny."

"Hisk.. Kenapa..."

Krieeeet...

Sebuah besi penyangga panggung mulai dilepas,

"DARK! Tidak...!"

Ia mencoba untuk meraihnya, menyelamatkannya...

"S-Solar!? Jangan mendekat!"

Tapi..

'PRANG!"

Memang sudah seharusnya..

Janji bunga Lili putih,

...telah pergi.

.

.

.

Eksekusi berakhir.

.

.

.

Solar masih menangis di atas panggung, menggengam erat bunga Lili.

"Bagaimana bisa aku begitu bodoh... hisk.." Tangisnya semakin pecah. Melihatnya seperti itu, Thorn berlari ke atas panggung dan memeluknya. "Solar.."

"Salah satu teman kita.." Gumam Fang.

Lily tertunduk, "Dia mati demi kita..."

.

.

.

Kami lalu pergi ke ruangan masing-masing.

Solar membuka pintu kamarnya, di dalam sana ada sekuntum bunga mawar dan sebuah buket bunga mawar di atas tempat tidur. Juga sebuah surat.

"Buket bunga dengan 15 bunga mawar berarti 'Maaf' Dan sekuntum bunga mawar artinya "Aku mencintaimu.'"

Solar kembali menangis...

Rasanya sakit sekali.

Thorn masuk ke dalam ruangan, lalu memeluk dan menenangkannya..

"Maafkan aku.. acting-ku tidak cukup kuat untuk menutupi kau dan juga Dark..." Ujarnya.

"Kau terlalu biak, Strawberry.. terimakasih.."

.

.

.

Sementara Rra, ia tengah duduk di kursi kantin.

Tap.. tap.. tap..

"Siapa itu?" Tanyanya. "Jika kau ingin membunuhku, maka lakukanlah."

"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Dan ini aku, Blaze." Sahut suara itu.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya sekarang kau tidur?" Rra berbalik ke belakang, bertemu mata dengan iris ruby milik Blaze.

"Hey, harusnya aku yang bertanya." Ujar Blaze. "Sebagai seorang SHSL Entertainer, Sudah tugasku untuk membuat siapapun bahagia, bukan? Dan kau... kau membutuhkan itu." Ia tersenyum.

"Aku baik-baik saja, pergilah-"

Tep

...Blaze memeluknya.

"Kau tahu, rasa sakit itu akan pergi jika kau melepaskannya.."

"Ugh..." Rra mengepalkan tangannya dan mulai menangis. Ia menyenderkan kepalanya ke bahu pemuda itu.

..wangi tubuh Blaze membuatnya sedikit tenang.

"Sial... Thorn sangat kasar padamu, ya?"

"Dia bilang ia berpura-pura polos... Aku tidak berpikir begitu.." Kata Blaze, "Kupikir ia melakukannya untuk melindungi Solar"

Rra terdiam.

"Solar, Thorn, dan Dark.. mereka bertiga sangat dekat, huh?" Ujarnya, "Wajar jika Thorn berpura-pura seperti itu"

"..b-berpura-pura?"

"Itu terlalu jelas untukku. Aku kan entertainer jelas aku tahu."

"Dia itu memang polos.. mungkin karena situasi tadi, ia terpaksa harus bersikap kasar seperti itu."

Rra mengangguk. Kedua matanya sembab, tapi air matanya sudah berhenti mengalir.

"Nah sekarang kau harus tidur"

.

.

.

Blaze mengantar Rra ke kamarnya, sementara Ice sudah berdiri didepan pintu.

"Tidurlah, kau butuh istirahat. Tidur adalah obat termanjur!" Ujar Ice.

"Terimakasih, kalian.." Rra tersenyum, lalu masuk ke dalam kamarnya.

"Apa ia baik-baik saja sekarang?' Tanya Ice.

"Iya"

"Baguslah, kau kan seorang SHSL Entertainer" Ujar Ice seraya tertawa kecil.

"Hehe, terimakasih!" Blaze tersenyum.

Saat aku melihat mereka, aku merasa bahwa kita semakin dekat dan saling peduli satu sama lain..

.

.

.

Aku lalu kembali ke kamarku.

"Hey Taufan.. kuharap kau bahagia disana. Kami sedang mengalami masa-masa yang sulit, tapi kami masih tengah berjuang untuk keluar dari sini!" Aku tersenyum, dan berdoa untuknya.

"Kuharap kau beristirahat dengan tenang.."

.

.

.

Monokuma : "Ah akhirnya selesai ^^"

? : "Halo Tuan"

Monokuma : "BBB02_C apa kau siap?"

BBB02_C : "Ya, Tuan."

Monokuma : "Jadilah manusia sebisamu, oke. Mulai sekarang.."

"..namamu adalah Boboiboy Taufan, si Super Highschool Level Scientist"

Taufan : Dimengerti.

.

.

.

Chapter 2 : Yang mana?

.

.

.

Selesai.

.

.

.

Danganronpa.

Survivors,

11 Murid.

.

.

.

A/N :

Haloo ini authorr. Jika ada yang bingung tentang huruf random di atas sana (awal) itu adalah kode ROT13 Solar dan Dark. Terimakasih sudah membacaaa~

.

.

T/N : (Translator Notes)/Plak

Aku ingin minta maaf karena updatenya lamaaaaaaaaa X'D

Terimakasih karena sudah membaca dan jangan lupa review!