Entah apa yang terjadi pada Akashi, setelah sebelumnya dia tiba-tiba mecium Kuroko yang berakhir dengan dia dipukul oleh Kagami walau akhirnya Kagami yang menderita setelah mendapatkan balasan dari Akashi, tapi anehnya Akashi tidak ingat sama sekali atas apa yang telah ia lakukan pada Kuroko. Dan setiap kali Akashi melakukan hal diluar dugaan tersebut mata kiri Akashi pasti akan berubah menjadi warna emas.

Aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Dan bukan hanya sekali atau dua kali hal itu terjadi, setiap ada yang menjahili Kuroko atau hanya mendekatinya Akashi pasti akan menghalangi nya dan melakukan hal yang diluar dugaan.

Seperti saat Kisedai tinggal di Mansion Akashi berserta dengan Ksatrsia Seirin, Akashi lebih sering menunjukan sifat anehnya. Seperti memeluk, mencium, dan semua hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Namun Kuroko yang menerima semua itu hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa, bukannya merasa rishi dengan sikap Akashi yang aneh Kuroko justru merasa aman setiap kali bersama Akashi, dan perasaan itu sama jika Kuroko sedang bersama tunangannya itu.

oOo oOo

Fallen Angel 07 – Keanehan Akashi part 2

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Pairing : AkaKuro

Rating : T

Genre : Drama, Romance, Friendship

Warning : Typo dimana-dimana XD

oOo oOo

Pagi hari, Mansion Akashi

Pagi hari yang cerah musim semi di Tokyo, terlihat seorang pemuda dengan surai yang sama seperi langit itu sedang menikmati suasana yang sejuk dan begitu tenang. Dia memang menyukai ketenangan dan itu selalu membuatnya nyaman. Entah kenapa Kuroko mulai menyukai hidup barunya sebagai seorang manusia walau hanya menyamar saja. Entah apa yang membuatnya berfikiran seperti itu. Sebagai seorang Malaikat terpilih, Kuroko tentu saja tidak boleh berharap untuk menjadi manusia karena kenikmatan sementara yang ada di dunia itu hanya akan mendatangkan bencana jika tidak dipergunakan dengan baik. Dan Kuroko tahu itu.

Tapi entah kenapa dia mulai menikmati hidupnya sebagai seorang manusia biasa. Mempunyai seorang teman yang tidak memandang statsunya, dapat memakan makanan kesukaannya tanpa ada larangan dan entah kenapa Kuroko mulai merasa nyaman dengan Akashi juga yang lainnya. Entah karena Akashi begitu mirip dengan tunangannya dan Kisedai yang mirip dengan Kisedai di dunia nya Kuroko sendiri tidak tahu. Tapi begitu dia berada di antara mereka rasa aman selalu muncul dan itu membuatnya tenang.

Setelah kejadian di rooftop sekolahnya saat sebuah baying hitam yang tidak ingin dia temui itu dating kembali ke hadapannya dan hampir mulukainya dia akhirnya bertemu dengan Ksatrianya. Entah harus merasa senang atau sedih, tapi yang jelas Kuroko bersyukur dapat melihat wajah-wajah mereka lagi.

"Sedang apa Tetsuya" sapa Akashi sambil memeluk Kuroko dari belakang.

"Akashi-kun?" binggung Kuroko.

"Panggil aku dengan namaku Tetsuya" balas Akashi sambil mencium leher Kuroko.

"Aku sudah memanggil namamu tadi" jawab Kuroko dengan tenang.

"Panggil aku Seijuurou, Tetsuya" balas Akashi sambil mempererat pelukannya.

"Akashi-kun bukan Sei-kun, jangan mengada-ada nama seperti itu" jawab Kuroko sambil melepaskan pelukan dari Akashi, dan begitu melihat kedua mana hetero milik Akashi, Kuroko hanya bisa terdiam.

Yang di hadapannya itu Akashi kapten club basket SMA Teiko kan? Kalau tidak salah kedua matanya berwarna mereh dan kenapa sekarang mata kirinya menjadi berwarna emas? Entah kenapa Akashi selalu menjadi aneh jika dekat-dekat dengan Kuroko. Dan Kuroko yang ada di hadapan Akashi hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa, sedih dan senang yang dia rasakan.

Namun sebelum mencoba bertanya terdengar suara ketukan pintu. Mencoba untuk mengabaikan Akashi yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan menelanjangi seperi Tunangannya Seijuurou, tetapi baru beberapa langkah dia berjalan Akashi tiba-tiba menarik Kuroko dan membaringkan tubuh Kuroko di atas kasur.

"A…apa yang kau lakukan Akashi-kun?!" panic melanda pikiran Kuroko, wajah Akashi yang ada di hadapannya sama seperti Seijuurou yang siap melahapnya saat itu juga.

"Kenapa kau tidak suka? Bukannya kau selalu ingin melakukan ini Tetsuya? Dan panggil aku dengan namaku" balas Akashi sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Kuroko yang sudah memerah.

Belum sempat Kuroko membalas perintah Akashi untuk menyebut namanya. Pintu kamar yang sedari tadi tertutup terbuka dengan paksa dan terdengar suara sapaan nyarring dari si surai kuning. Siapa lagi jika si tukang onar Kise.

"Kurokocchi! Ohayou-ssu!" sapanya tanpa menyadari ada Akashi di dalam kamar tersebut.

Kuroko yang mengacuhkan Kise yang tiba-tiba datang dengan wajah ceria yang seketika berubah menjadi wajah pucat itu memfokuskan pandangannya pada Akashi. Kaget itu yang dirasakan oleh Kuroko begitu melihat mata kiri Akashi yang tadi berwarna emas berubah menjadi merah. Dan saat mata Akashi sepenuhnya menjadi warna merah, pandangannya menjadi gelap dan tiba-tiba tidak sadarkan diri di atas tubuh Kuroko.

"Akashicchi?!" teriak Kise yang kaget melihat Akashi yang tiba-tiba tidak sadarkan diri itu. Berjalan mendekati Akashi dan Kuroko, Kise segera memindahkan tubuh Akashi agar berbaring di sebelah Kuroko yang entah terus memasang wajah kaget.

"Kurokocchi, tenang saja Akashicchi hanya tertidur" ucap Kise.

"Kise-kun, kau sudah bersama Akashi-kun sejak kapan?" Tanya Kuroko bangun dari posisinya.

"Sejak masuk club basket, memang kenapa Kurokocchi?" binggung Kise karena pertanyaan Kuroko.

"Apa saat itu mata Akashi-kun dapat berubah warna?" Tanya Kuroko lagi.

"Eh? Memang warna mata seseorang dapat berubah-ssu?" binggung Kise untuk kedua kalinya.

"Ah tidak lupakan saja, maaf membuatmu binggung Kise-kun. Jadi ada apa kemari?"

"Ah aku hanya ingin memberitau bahwa sarapan sudah siap, tapi sepertinya aku salah waktu" balasnya dengan senyum di paksakan.

"Iie, terima kasih Kise-kun sudah menyelamatkan ku, sebaiknya kita biarkan Akashi-kun tidur dia sepertinya lelah" usul Kuroko berdiri dari posisi duduknya dan segera menyelimuti tubuh Akashi.

"Ah Kise-kun boleh aku bertanya satu hal padamu?"

"Tentu-ssu yo Kurokocchi, kau mau bertanya apa?" balas Kise dengan semangat.

"Apa nama Akashi-kun itu Seijuurou? Midorima-kun Shintarou? Lalu Murasakibara-kun Atsushi, Aomine-kun itu Daiki dan Kise-kun itu Ryouta?" tanyanya dengan wajah serius.

"Sou-ssu yo, kenapa memang? Bukannya saat pertama kali bertemu kita sudah memperkenalkan nama kita padamu apa kau lupa?"

"Tidak, hanya saja nama kalian sama dengan nama Sei-kun dan pengawalnya" balas Kuroko sambil menatap Akashi.

'Hanya perasaanku saja, sebaiknya aku benar-benar harus merelakan dirimu pergi, Sei-kun' gumam Kuroko dalam hati dengan memasang wajah sedih dan berjalan menuju ruang makan bersama Kise meninggalkan Akashi yang masih tertidur.

oOo oOo

Membuka kelopak matanya yang sejak tadi tertutup dan saat dia membuka matanya pemandangan indah suatu kerajaan tersaji di hadapannya. Indah, tenang dan begitu damai Kerajaan yang ada di tersaji di hadapannya itu. Terpesona dengan segala keindahan dari sebuah Kerajaan yang dia ketahui itu. Saat dia sedang menikmati keindahan itu sebuah suara menginturpsi dirinya dan segera dia memalingkan pandangannya ke arah suara itu berasal.

Dan alangkah kagetnya dia saat melihat siapa orang yang ada dihadapannya itu. Siapa lagi jika bukan dirinya sendiri. Dan ya, yang ada di hadapannya itu adalah diri dia sendiri dengan mata hetero dan sebuah pakaian kerajaan yang melekat di tubuhnya.

"Kau suka dengan kota ini?" tanya dirinya yang lain dan di balas dengan sebuah anggukan pelan.

"Aku juga, bahkan aku sangat menyukai kota ini. Bahkan segala sesuatu yang ada di kota ini. Kota tercinta ku" ucap dirinya yang lain.

"Kau siapa?" tanya dirinya yang asli.

"Ah maaf aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Seijuurou, Pangeran dari Kerajaan Rakuzan" ucapnya. "Ahaha jangan kaget begitu Akashi-san, aku memang mempunyai nama yang sama denganmu tapi jangan khawatir kita ini berbeda. Aku adalah Malaikat dan kau hanya manusia".

"Apa ini kota mu?" tanya Akashi sambil memperhatikan kembali kota yang ada di hadapannya.

"Tidak, ini bukan kota ku. Ini kota Tetsuya dan lebih tepatnya kau sedang berada di Kerajaan Seirin"

"Kerajaan Seirin? Maksudmu kota kelahiran Tetsuya?" tanya Akashi merasa penasaran.

"Ya, dan pemandangan yang ada di hadapanmu itu adalah Kerajaan Seirin sebelum kehancuran melanda." Jawab Seijuurou dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sedih.

"Kehancuran karena para petinggi itu?" tanya Akashi meyakinkan.

"Kau benar, dan karena para petinggi itu Tetsuya harus melihat orang tua yang di sayangi nya mati di hadapannya" balasnya masih dengan raut wajah yang sama.

"Kenapa mereka melakukan itu? Jika memang karena pertunangan kalian apa harus Kerajaan yang menjadi bayarannya?" kesal Akashi.

"Mereka melakukan itu karena mereka yakin bahwa mereka tidak akan bisa mengalahkan Kerajaan Seirin. Walau kerajaan ini terlihat begitu damai tetapi, kekuatan para pendahulu yang mereka simpan begitu menyeramkan. Dan yang mewariskan kekuatan itu adalah Tetsuya" balasnya dengan tenang.

"Maksudmu?"

"Tetsuya dapat mengendalikan kekuatan dari Kristal Abadi dengan kekuatan penuh. Sebenarnya aku dan para pengawalku dapat menggunakannya tetapi tidak sebaik Tetsuya, karena inti jiwa Tetsuya adalah gabugan dari ini jiwa para leluruh. Dengan menggabungkan inti jiwaku dengan para pengawalku dapat membuat sebuah Kristal Abadi. Tapi Kristal Abadi yang ada pada dirimu tidak akan dapat mengeluarkan kekuatannya, dan yang bisa menggunakannya hanyalah Tetsuya. Oleh karena itu mereka menghancurkan kota dan seluruh warganya agar mereka dapat mengalahkan orangtua Tetsuya dan membawa Tetsuya untuk menjadi senjata mereka" jelas Seijuurou.

"Apa maksudmu dengan menjadi senjata mereka?" ucap Akashi meminta kejelasan lebih.

"Salah satu dari para petinggi ada yang melalukan kecurangan agar dia dapat menjadi pemimpin yang sangat kuat, jika saat penyerangan mereka tidak melakukan hal licik pasti aku dapat mengalahkan mereka, tapi sayang aku telah kalah dan meningglakan Tetsuya dengan kesedihan. Oleh karena itu, aku mohon padamu pinjamkan aku tubuhmu agar aku bisa melindungi Tetsuya" pintanya.

"Kenapa harus tubuhku?" tanya Akashi.

"Karena hanya tubuhmu yang dapat menerima kekuatanku" balasnya.

"Kenapa kau begitu yakin jika tubuhku dapat menerima kekuatannmu?"

"Ah soal itu, aku pernah menggunakan tubuhmu walau hanya sebentar" balasnya dengan muka tidak bersalah.

"Apa?! Jadi hal aneh yang selalu aku lakukan walau aku tidak ingat pernah melakukannya itu karna ulahmu?" kesal Akashi.

"Maaf, karena saat itu aku melihat Tetsuya yang hampir mengeluarkan kekuatannya untuk membunuh Kagami, dan aku juga tidak tahan melihat Tetsuya bersedih, maafkan aku"

"Hahhhh baiklah akan ku pinjamkan tubuhku tapi jangan lakukan hal aneh di hadapan yang lain" pinta Akashi.

"Baiklah dan terima kasih Akashi-san".

oOo oOo

"Kurokocchi" panggil Kise yang sedari tadi berada di sebelah Kuroko.

"Ada apa Kise-kun?" balas Kuroko tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku bacaannya.

"Apa yang Akashicchi lakukan padamu tadi-ssu?"

"Apa yang ku lakukan pada Tetsuya bukan urusanmu, Ryouta" sanggah seseorang dengan suara khasnya.

"A...Akashicchi" ucap Kise dengan gugup karena merasakan aura mencekam dari Akashi.

"Sudah puas tidur nya Akashi...kun..." ucap Tetsuya yang langsung terdiam begitu melihat mata Akashi yang berubah menjadi mata hetero.

"Ada apa Tetsuya?" tanya Akashi sambil berjalan mendekati Kuroko. Dan seketika Akashi kembali mencium Kuroko tepat di bibirnya. "Apa kau merindukanku?"

"A...Akashi-kun kau berubah" balas Kuroko dengan suara gugup. Sementara Kise hanya bisa terdiam melihat kelakuan Akashi yang menurtunya menjadi agak aneh.

"Aku tidak pernah berubah Tetsuya, mungkin hanya perasaanmu saja" ucap Akashi.

"Tidak kau siapa? Akashi-kun yang ku kenal tidak aneh seperti ini"

"Aku siapa? Tentu saja aku Akashi Seijuurou, Tetsuya"

TBC