a BTS fanfiction . TaeJin . Namjin

[WARNING!]

Vampfic . DLDR . BL . Blood . Mature Content . OOC . Typo . kinda Smut

Semua karakter adalah milik pribadi masing-masing.

Tidak mengambil keuntungan apapun.

Alur cerita murni milik saya.

.

.

naomhaich;

to declare something divinely flawless

.

.

Kastil masih sama, sepi dan membosankan, Seokjin baru saja menyelesaikan rangkaian bunga lily-nya, menaruhnya pada vas bunga tinggi di sudut kamar luas miliknya.

Tak ada rencana lain setelah ini, mungkin, pergi tidur?

Ah, rasanya jangan dulu... ini sungguh membosan–

Seokjin mendengar derap langkah,

dua orang?

Melintasi lorong depan kamarnya. Hoseok dan Jungkook.

Mungkin mereka berdua bisa membantunya melewati malam yang membosankan.

Membawanya keluar, ikut berpatroli juga tidak apa-apa.

Mengingat dua orang itu punya akses mudah karena Namjoon.

.

.

Seokjin mengekori Hoseok dan Jungkook keluar dari gerbang selatan.

Hoseok baru membuka tralis garasi, ia bertanya apakah mereka berpatroli malam ini? Dan Hoseok terlihat keberatan memberikan jawabannya.

"Hanya keluar bersenang-senang."

Seokjin langsung melompat ke jok belakang Fastback biru milik Hoseok.

Hoseok rasa dirinya telah memberikan jawaban yang salah.

Hoseok komat-kamit semoga kepalanya masih selamat malam ini dari tangan Namjoon. Dan Jungkook hanya memasang wajah tegang.

Hoseok hanya tidak tega belakangan ini Seokjin dibatasi ruang geraknya, selalu berada dalam kastil. Mungkin tak apa membawanya keluar untuk sekedar memperlihatkannya kota Seoul dimalam hari.

"Tidak apa-apa jika dia hanya duduk dan diam."

Selama ia tidak mengeluarkan feromonnya, selama itu juga akan aman-aman saja.

.

.

.

Dan disinilah Seokjin mendudukkan dirinya di kursi kayu tinggi, aroma fermentasi anggur dan vape buah memenuhi udara bar di sudut Seoul ini.

Kenapa Hoseok dan Jungkook berhenti di bar? padahal wine di kastil jauh lebih lezat dibanding bir murah disini.

"Apa kau yakin kita kesini hanya untuk bersenang-senang? Aku mencium hal lain." Seokjin mendelik curiga, "ayolah, kita ini teman–ah bukan, kita sudah seperti saudara...beritahu aku apa yang sedang terjadi."

Seokjin membungkuk antusias siap mendengarkan cerita dari mulut kedua temannya, tapi kelihatannya Hoseok menolak berbagi.

Lalu Jungkook mengambil napas, dia siap meluncurkan suara yang diminta Seokjin, Hoseok melotot pada Jungkook memberikan gestur untuk yang muda diam saja.

"A– anu, Seokjin-ssi...kami menyelidiki kasus injection yang terjadi akhir-akhir ini di Seoul..." Jungkook berbisik. Tahu kalau topik dan sosok mereka bukanlah sosok 'normal' jika membawanya dengan suara lantang.

Hoseok menatap gelas miliknya, seharusnya malam ini yang tahu soal penyelidikan hanya tiga kepala saja, dirinya, Jungkook dan Tuannya; Namjoon. Namun Seokjin menolak untuk tidak ikut campur, Hoseok dalam lingkaran kekacauan lagi, ia tidak mau dihukum untuk tidur dipeti keras itu jika ia menempatkan Seokjin dalam bahaya, dia hanya ingin tidur nyenyak di ranjang beludrunya yang nyaman di Prada.

Jungkook memilin zipper jaket kulitnya, lidahnya terpeleset, tapi ia tahu, cepat atau lambat seluruh kastil pasti akan tahu mengenai masalah ini. Ini bukan hal sepele yang mudah dilupakan seperti angin.

Ini tentang lycan.

Musuh besar kaum vampir.

Kaum mereka.

Memerangi lycan adalah tugas utama seorang Vampir, terutama untuk seorang ksatria seperti Hoseok dan Jungkook, injection seharusnya sudah dilarang sejak berabad lalu, lycan berbahaya bagi anak adam; manusia, mereka haus darah dan daging manusia, lebih dari apapun itu.

Seseorang telah melanggar protokol, ingin membuat kekacauan besar dengan menyuntikkan DNA lycan pada manusia.

Meski dengan berat hati dan ketidaksudian, kaum vampir akhirnya rela turun tangan, bukan dasar untuk melindungi kaum siapapun, memang dasarnya menumpas lycan sudah mendarah daging sampai bagian terdalam tulang kaum mereka.

"Kenapa sulit sekali mengatakannya padaku, Hoseok?" dirinya juga bagian dari anggota, kenapa semua orang memperlakukannya seperti bayi yang harus tetap diam dikeranjang? "Aku bisa membantu, dengan ferom–"

"Tidak. Terakhir kau ikut pertempuran membuatku hampir terpanggang di tungku pembakaran kastil, ini perintah dari Namjoon." melindungi Seokjin dari segala ancaman.

Bar pun mulai sepi, jam tutup.

Hoseok mengangkat bokongnya dari kehangatan kursi. "Masuk ke mobil, diam disana sampai kami kembali."

mengambil kunci mobilnya, Hoseok mengawal Seokjin masuk kedalam mobil.

Ia tidak bisa membiarkan Seokjin mengetahui lebih jauh lagi tentang kasus ini, dia sekarang sedang mengkhawatirkan posisi dan nyawanya sendiri jika dia tidak bisa melindungi Seokjin, ini tentang lycan, musuh utama mereka dan Seokjin bukanlah sosok sepele.

Seokjin mudah berempati, dia tidak cocok di lapangan, itu membahayakan.

Dan Hoseok melakukan hal benar dengan membawa jauh-jauh hal riskan ini dari Seokjin.

.

.

Seokjin kesal, tidak didalam kastil dan disini ia dikurung juga disuruh diam.

Halo, tujuan awal Hoseok 'kan menunjukkan hal menarik di Seoul, dan ini sama sekali bukan 'hal menarik' itu. Seokjin ditipu.

Dia melirik ke luar jendela mobil, Hoseok dari kejauhan tidak meninggalkan pandangannya sekalipun dari dirinya.

'Jangan sekalipun melangkahkan kakimu keluar dari mustang ku.'

Dia mulai membuka telepati?, bagus, Seokjin dianggap bayi sungguhan.

Seokjin memilih tidur sebentar.

Baru meletakkan kepalanya pada jok, seseorang mengetuk kaca mobil berkali-kali.

Seorang gadis kecil, dengan wajah penuh derai air mata.

"Tu-tuan- tolong ayahku, di-d-dia terluka..."

Lalu Seokjin lupa bagaimana perintah Hoseok beberapa menit yang lalu.

.

.

"Kau tahu, sebenarnya Namjoon tidak terlalu cerdas, dia terburu-buru dalam kasus ini."

"Apa maksudmu?" Hoseok menatap wanita berbalut pakaian ketat itu, Hyojung, vampir informan yang sengaja ia temui demi mendapatkan jawaban sebanyak mungkin tentang injection di Seoul.

Jungkook berdiri disisi pintu bar yang hanya menyisakan Hoseok, dirinya dan seorang wanita vampir informan yang sedari menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Tidak semudah itu, DNA lycan tidak sembarangan bisa disuntikkan pada manusia biasa." Hyojung menuang wine merah pada gelasnya. "aku tahu buatan pabrik adalah yang terlemah diantara yang lainnya, tapi seorang manusia biasa sekalipun tidak akan bisa semudah itu dirubah menjadi seekor lycan, sayang."

Tapi Namjoon sudah menyelediki ini dari pertama kasus ini muncul, mayat mereka, mereka dari manusia biasa, tapi–

"Tidak ada laporan kehilangan, tidak ada keluarga yang kehilangan anggota nya selama kurun kasus ini berjalan" Hyojung berkicau lagi.

Tidak ada 'manusia biasa' yang dilibatkan.

"DNA lycan tidak sesederhana DNA kita, yang dengan mudahnya bisa merubah manusia menjadi vampir, lycan bertransformasi, kita tidak."

Hyojung memberikan map coklat yang ia letakkan dibawah deretan wine "Hanya satu bukti dan Namjoon langsung mengirim ksatria terbaiknya untuk penyeledikan?" wanita itu mendecih. Membuka segel mapnya, menampilkan foto mayat lycan, Hoseok sudah melihat foto itu sebelumnya,"Tidak ada laporan kehilangan, dan kau tahu? Tak ada data yang cocok untuk orang ini di Seoul, dikota ini."

Wanita itu menatap Hoseok lalu memberikan senyuman berhias taring yang muncul dibalik bibir berpulasnya. "Dia sudah disiapkan, seseorang yang mampu berubah menjadi lycan. Seseorang yang siap menerima suntikan serumnya, Tuan Jung."

Ini bukan sekedar kejahatan supranatural, tercium konspirasi disini.

"Namjoon hanya mengambil satu sisi dari semua sisi yang ada. Pemimpin sumbu pendek, hm? Dengan mudah memakan umpan."

Hoseok tidak setuju, Namjoon tidak seperti itu, mana bisa vampir rendahan seperti wanita didepannya menilai sosok Namjoon.

"Ambillah kesimpulannya, Nona, dan uangnya akan segera kau terima."

"Namjoon takut akan masa lalunya, dan itu sudah mulai dekat..."

Masa-masa itu.

"...yang dimulai dengan kekacauan ini, bilang pada bosmu itu, kencangkan sabuk tahtanya."

Mata wanita itu beralih pada Jungkook "...dan bilang pada Namjoon untuk berhati-hati pada orang luar. Yang bukan kaum vampir." Jungkook membalas tatapan Hyojung dengan sengit. Sial, feromonnya begitu pekat.

Hoseok membasahi bibirnya, ya, ini sudah cukup, sebentar lagi fajar, mereka sudah cukup lama disini.

"Kasus ini hanya peringatan... Peringatan untuk Namjoon."

Hoseok belum mendapatkan rasa lega dengan jawaban yang diberikan Hyojung, dia...entahlah, cemas?

Hoseok menyerahkan tunai sesuai perjanjian awal, akhirnya Jungkook bisa keluar dari feromon wanita itu.

Jungkook mengendus udara, ada yang aneh.

Bukan feromon Hyojung, tapi...

Aroma Seokjin memudar.

"Hyung-nim... Seokjin-ssi." Jungkook menatap Hoseok dengan horor.

Mereka berdua langsung melesat, melewati pintu ganda bar.

Jalanan aspal masih licin akibat hujan rintik, Mustangnya kosong tanpa penghuni.

Seokjin menghilang.

'Sial, Namjoon benar-benar akan membakarku hidup-hidup kali ini.'

Hoseok mencoba mencari sisa feromon Seokjin, namun nol.

Dia sudah lengah.

"Kita akan terlambat, Kook. aku butuh wujud yokaimu, temukan Seokjin secepatnya."

Jungkook mengangguk, kabut menyelimuti tubuhnya, Serigala bermata kuning muncul, itu Jungkook.

"Aku akan mencarinya ke Selatan, kau sisir daerah timur."

Hoseok melesat secepat angin, begitupun Jungkook. Mereka berharap Seokjin baik-baik saja.

Hoseok berharap situasi tidak mengatakan sebaliknya.

.

.

"Se-seekor anjing besar menyerang a-ayah...a-aku tidak tahu lagi..."

Seokjin menggenggam tangan gadis itu "Baiklah...antar aku."

Seokjin mengikuti gadis itu, tubuh kecilnya gemetaran, kakinya melangkah terseok.

Seokjin mencium aroma yang begitu tipis,

hutan, darah dan... bulu?

Seperti aroma ... 'lycan?'

Seokjin meraih belatinya yang selalu ia bawa kemanapun.

Kaki gadis itu membawa mereka kearah gang sempit juga gelap, genangan air serta aroma yang tidak sedap menusuk penciumannya.

Penciumannya kacau.

Seokjin waspada,

"Di-disana..." gadis itu menunjuk kedalam gang gelap."ayahku..."

"Kau tetap disini...kau hubungi ambulans? Kau punya telpon seluler?" gadis itu menggeleng lemah.

Seokjin merogoh saku mantelnya, meraih ponselnya lalu menekan beberapa angka, 119. Mengatakan bahwa ada yang terluka di Seogang-dong.

Setelah mengakhiri telefon daruratnya, Seokjin melangkahkan kakinya masuk kedalam gang gelap itu, aroma darah semakin pekat, taringnya meruncing, tenggorokannya terasa kering.

Malam ini dia belum mengkonsumsi apapun. Seokjin sedikit lapar.

Ia bisa melihat pria paruh baya menderita disudut gang, pinggulnya robek, darah dimana-mana. Seokjin menahan napasnya, menolak aroma darah yang menggelitik taringnya.

"Bertahanlah, ambulans akan datang." Seokjin membawa lengan pria itu di pundaknya, memapahnya. Setidaknya ia akan membawanya pada putrinya, yang ketakutan karena ayahnya berdarah.

Namun aroma hutan dan bulu tadi datang lagi.

Seseorang dengan pakaian serba hitam muncul diujung gang, berjalan diatas udara. Seokjin tidak bisa melihat wajahnya, dia tidak lebih tinggi darinya. Jemarinya merangkai gerakan.

'Mantra mage. Seorang mage.'

Api biru mengitari tanah dimana Seokjin berpijak, pria yang ia papah hilang begitu saja, menyisakan pakaian kotor dan abu.

Api itu semakin berkobar, Seokjin kehilangan oksigen di dadanya.

Dia harus mencari pertolongan. Telepati.

'Hoseok...'

Dia tidak bisa menembus jalurnya, sialan, barier. Dia mage tingkat atas.

"Apa yang kau ingikan, mage?! Kau bekerja pada siapa?!!" Seokjin tidak bisa melihat dengan jelas sosok mage itu, dia hanya tercium seperti kulit kayu dan dedaunan, hutan.

Seokjin menyergap, menghunuskan belati dengan sisa tenaganya, menembus api biru itu, tidak membakar pakaian ataupun kulitnya namun begitu luar biasa panas.

Belati belum sampai mengenai sang mage, Seokjin diterkam sosok berbulu.

Seekor lycan.

Ini jebakan, dia dijebak.

.

.

Namjoon menghentikan goresan penanya, Yoongi yang berdiri disampingnya melihat lengan kiri Namjoon berdarah.

"Lenganmu." lengan kiri Namjoon yang dibalut kemeja putih, darah merembes dari sana.

Namjoon berdiri dari kursinya, tidak menghiraukan kertas-kertasnya yang ia geluti sejak awal fajar kemarin,

"Lord Archibald sudah sampai di Brașov, jangan membuat dia kesal, Namjoon."

Kaki panjang Namjoon yang berjarak hanya 5 inci dari pintu berhenti melangkah, memutar badannya pada Yoongi yang masih setia disamping meja pertemuan.

"Aku sudah menahannya lebih dari setengah jam yang lalu, semua sakit, rasa terbakar ini, aku yakin Hoseok bisa diandalkan, tapi lihatlah dia sudah berdarah, Yoongi. Aku harus kembali ke Korea."

Namjoon tak sampai kedipan mata, menghilang, teleportasi.

Yoongi menghembuskan nafasnya.

"Sampai kapan Seokjin tidak mau diam."

.

.

Yang ia rasakan sekarang adalah lapar, tak punya cukup tenaga sekedar untuk menyayat kulit lycan ini. Tenggorokannya kering, taringnya menginginkan darah.

Lycan itu masih belum melepaskan tancapan gigi-gigi menjijikkan miliknya dari lengan Seokjin. Dia menggeram kesakitan.

Telapatinya tak bisa terbuka.

Sialan, seharusnya ia menyimpan bosannya tadi dan bukannya berakhir dengan lengannya yang akan hilang dimakan lycan.

Sial, sial, sial.

Seokjin mencoba lagi, menguatkan genggamannya pada belati, ada celah disana.

Mata kiri sang lycan.

Menusukkannya pada mata kiri lycan itu, berkali-kali, dalam dan tusukan melebar. Gigitannya mulai mengendur dan akhirnya terlepas.

Lycan itu mengonggong kesakitan, mata kirinya berhasil Seokjin lumpuhkan, sekarang lari.

Seokjin tidak tahu ini dimana, ini seperti taman kota, banyak pepohonan namun cukup terbuka, lycan masih mengejarnya sekitar beberapa puluh meter dibelakang, dan Seokjin tidak mampu melakukan teleportasi jauh-jauh, ia lemah dan lapar juga terluka.

Ia tersedak udara, tenaganya sudah diujung. Ia sudah tidak mampu untuk lari lagi.

Ia meringkuk diatas lapangan rumput luas.

Lycan itu sudah terlihat, dibalik pohon-pohon itu, matanya berkilat.

Baiklah, ini mungkin akan menyakitkan dari hari pertama ia lahir sebagai vampir, tapi darah Namjoon akan menolongnya...

...ya, tak apa-apa. Dia siap mati, lagi.

Sampai akhirnya ia merasakan lengan mendekapnya.

Bau sabun, segar dan ada sedikit bau lemon serta mint pada nafasnya.

Manusia.

Dada Seokjin membuncah, seolah perasaan rindu muncul dipermukaan.

"H-hei?!! Kau tak apa?!!"

Tanpa sadar, matanya berubah menjadi biru, feromonnya meningkat.

naomhaich

Seokjin mendorong dada Taehyung lemah, darahnya makin deras mengalir.

"Kau harus kerumah sakit, Tuan."

Namun ia terus meronta lemah. menggeleng dan limbung lagi.

"Pergilah...disini...berbahaya." nafasnya tersengal.

Belati terjatuh dari tangan Seokjin, ada bercak darah yang melekat disana.

Taehyung mendengar geraman itu lagi, dari balik punggungnya.

Dan benar saja, demi apapun yang Taehyung benci, tidak ada anjing seaneh dan sebesar itu dengan lendir yang membajiri mulut jeleknya.

'Apa-apaan itu?!'

Taehyung tak bisa menggerakkan sedikitpun sendi dalam tubuhnya,

Sialan.

Dia ketakutan.

Jemarinya meraih belati yang tergeletak. Tidak menyangka kematiannya akan terjadi sekarang, dia membayangkan suara deburan ombak Jeju dan rembulan yang akan menemani sisa hidupnya, tapi kenyataannya sudah di jungkir balik.

Dia ingin berlari sekencang-kencangnya, berharap hari esok masih mau menantinya, sial, sekarang dia takut mati, padahal tadi siang ia tenang-tenang saja saat bicara soal peti mati.

Melihat mata makhluk itu yang terlihat lapar, makin membuat lututnya lumer.

Ya, dia akan berlari sekencang mungkin bersembunyi dibalik gang-gang sempit, dia selamat dan selasai.

Dan meninggalkan pemuda ini? Dimangsa makhluk jelek ini?

Mungkin ibu dan ayahnya sedang menunggunya dirumah, dia punya masa depa– tunggu, apakah dia sedang mengkhawatirkan nasib orang asing?

Masa bodoh!!!, setidaknya ia masih memiliki sisi kemanusiaan, berbuat baik sebelum mati ada untungnya, mungkin Taehyung bisa masuk surga nanti.

"A-aku tidak tahu kau ini makhluk apa... tapi memakan orang di Korea Selatan benar-benar sebuah kejahatan berat..." Taehyung tidak menyangkal bahwa kaki dan tangannya bergetar hebat. "...jadi pergilah sebelum...aku melukaimu?"

Dasar bodoh. Itu pernyataan konyol.

Taehyung memasang kuda-kuda, entahlah ia tidak pernah pintar beladiri tapi saat SMA ia pernah ikut kelas judo selama dua semester, setidaknya ia tahu dasar menyerang lawan.

Kedua lengannya sejajar kedepan, memegang belati "Mundur!" ia berteriak meskipun takut memakannya sampai ke tulang.

Dia menengok kebelakang, pria tadi masih tak berdaya.

Matanya masih berkilat biru, lebih basah,

'apakah dia menangis?'

Genggaman pada belatinya mengerat...

'Perasaan apa ini?'

"MUNDUR AKU BILANG!!"

Menggelegar memecah sepi malam, Taehyung juga sepertinya terkaget dengan suaranya sendiri.

Memang dasar suara Taehyung tadi atau hanya perasaannya saja makhluk itu perlahan mundur, menunduk seolah takut, lalu menghilang ditelan gelapnya bayangan pepohonan.

.

.

Dari balik barisan semak, sosok itu, sang mage berbaju serba hitam menonton adegan bak drama aksi romantis tadi, menurunkan tudungnya.

Lycan itu berjalan menghampirinya, bersimpuh disamping kaki sang mage.

"Maafkan aku, Taemin-ah. Aku membuatmu terluka."

Mage itu tersenyum tipis, "Aku akan mengobatimu, terimakasih sudah membantuku."

.

.

Seokjin mencium aroma itu lagi, lemon segar dan aroma sabun. Dan hangat, juga suara detak jantung, nadi yang berdetak.

Pemuda ditaman tadi?

Menggendongnya.

"Oh? Kau sudah sadar?"

Seokjin masih bingung,

"Aku akan membawamu ke klinik, kau terluka dan badanmu dingin sekali ya Tuhan..."

'Tidak kumohon jangan, identitasku akan terbongkar, dia akan repot.'

Seokjin mau meronta tapi seluruh badannya lemas bagaikan tak ada tulang yang tersisa, ia ingin...darah.

Pemuda ini, aroma darahnya...

Begitu pekat dan kental...begitu menggoda, tapi ada yang salah dengan kepalanya.

Taring Seokjin semakin meruncing, kerongkongannya sudah kering, namun logikanya menghentikan fungsi taringnya...

'Pria ini cukup baik sudah menolongku.'

Taringnya bisa menunggu nanti, ia harus tenang.

"Jangan..." jemari Seokjin mencengkeram lengan Taehyung. "...kumohon."

Taehyung berhenti berjalan.

.

.

Kaki-kaki berbulu Jungkook berhenti melesat, hidungnya mencium udara, menggeram.

"Kau menemukannya?"

Hoseok juga merasakan aroma Seokjin, darah Seokjin,

Seokjin terluka.

Ada aroma manusia juga?

Dia mendekati manusia lagi.

'Seharusnya ia tetap di kastil.'

Mereka berdua melesat kembali, mencari Seokjin, Hoseok sudah tidak bisa tenang lagi, Namjoon sudah kembali dari Brasov, terima kasih untuk Yoongi yang menghubunginya lewat telepati,

Hoseok ingin menangis saja.

.

.

Taehyung membawa tubuh Seokjin ke atas Yo miliknya, menyalakan lampu kamarnya.

Seokjin seperti sudah hampir kehilangan napasnya Taehyung pikir, tubuhnya juga dingin sekali, hewan jelek menyerangnya tadi, juga kehilangan banyak darah. Namun seakan jantungnya dipaksa dikeluarkan dari dalam tubuhnya, pemuda di gendongannya mengatakan bahwa dia adalah seorang vampir. Taehyung kaget bukan main.

Taehyung mimpi apa kemarin, bisa-bisanya ia membawa seseorang –ah tidak –vampir kedalam apartemennya, bertemu dengan anjing besar ditaman, dia seolah dibawa kedalam film fiksi, semua seperti tidak nyata.

Sekarang Taehyung bingung bagaimana cara merawat seorang vampir yang terluka?!

Sungguh ia tidak punya referensi untuk itu.

Akhirnya ia mengambil air untuk membersihkan luka-luka milik pemuda itu, dan beberapa pain killer dalam kotak obat-obatan miliknya.

Ia tak punya apapun selain itu, ia bujang yang hidup sendirian ditengah Seoul, ia tak sempat memikirkan kelengkapan P3K dalam apartemennya.

"Apa aku harus ke klinik dan memanggil dokter Park? ah tidak– mungkin beliau akan terkejut juga." Taehyung bingung, apa yang diperlukan seorang vampir yang terluka?

Darah?

Taehyung menenggak ludah, bulu kuduknya merinding.

Apa dia harus menawarkan darahnya?

Suara dobrakan mengakhiri sesi melamunnya.

Taehyung berlari kesana, dan lagi-lagi ia jantungan untuk yang kebeberapa kalinya.

Ada banyak hal yang terjadi hari ini. Batin Taehyung.

Seekor anjing besar– entahlah, serigala mungkin– menggeram kearahnya dengan seorang pria asing berjaket kulit membopong pemuda yang ia tolong.

"H-hei, kalian– " anjing itu menggonggong kearahnya. Taehyung mundur.

Lalu kemudian mereka menghilang secepat cahaya.

"Sialan, mereka merusak jendelanya."

Bahkan ia belum tahu nama pemuda itu.

Si manis bermata biru.

To be continued...

Notes:

* Mustang : mobil sport coupe keluaran Ford :)

* Fastback: nah kalo ini serinya guys, Mustang Ford Fastback, gitu.

* Yo : kasur lantai, kayak futon.

* Brasov : salah satu distrik/kota di Transylvania :) kota yang terkenal akan legenda vampirnya.

-snap fingers 3x- guys gimana semakin ancur dan absurd bukan chap ke 2 ini, pilin jidat anjir, gue pen guling guling aja, ini uneg-uneg sebulan belakangan gengs, ungkapan kekesalan karena series Underworld ku ke reset :") benci banget gue.

Dan ini ada NAMJIN nya loh guys hehe :) NAMTAEJIN is my kink ;)

yang suka mana tereak wkwkwkwk.

Buat para readers sekalian yang belom paham lycan itu apa, ya googlinglah wkwkwkkw, ya pokonya itu werewolf versi underworld lebih mirip monster anjing sih ketimbang werewolfnya di Twilight, ya aku ambil penggambaran si lycan ver. underworld itu untuk cerita ku, oke. Sekian.

Hope u like it and mind to leave me some love and comments? :")

semakin kalian drop the komen semakin aku semangat gengs, jujur :")

DAN YAAMPUN TERIMA KASIH BANGET BUAT READER-NIM YANG BAIK YANG UDAH NGASIH BINTANG SERTA SWEET COMMENTNYA :) KALIAN BAHAN BAKAR AKU BANGET GENGS MUACH

Sampai ketemu lagi ya di chap selanjutnya, cmiww.

sincerly,

hopemang