in ampulla pendere

(ii: love is a rebellious bird.)

disclaimer: mobile legends: bang bang (c) moonton.

warning(s): ooc. au. reincarnation/fantasy elements. terminal illness. super-duper implied attempted necromancy. animal slaughter. murder, mutilation, flaying. character(s) death. nonlinear narrative. nyerempet m buat gore.

sinopsis: ii. alucard tahu bersekutu dengan iblis adalah ide buruk—tapi untuk orang yang ia sayangi, ia berani melakukan apapun.

note: judul chapter diambil dari "l'amour est un oiseau rebelle"—love is a rebellious bird, atau: habanera, aria dari opera carmen, georges bizet.

note2: karena saya ga cantumin tanggal/tahun yang spesifik, saya jelasin disini: angka romawi terjadi di masa lalu.

note3: apa yang saya tau tentang demon dan lain-lain cuma berasal dari supernatural (hiks for me)

.


.

Menurutnya lucu, dari sekian banyak orang di dunia ini, Alucard akan jatuh cinta pada orang dengan problema paling rumit yang pernah ia dengar. Bukan, bukan pelarian dari perjodohan. Bukan juga buronan pedofil—karena jujur, itu lebih ringan bebannya dibanding komplikasi pada jantung; kondisi terminal—kemungkinan satu tahun untuk hidup, bila beruntung. Bila tidak pensiun dini dari hidup ini. Seandainya Alucard tahu ini lebih cepat—mungkin ia tak akan melompat ke jurang untuk kemudian mencintai bajingan ini, menghancurkan diri sendiri dalam prosesnya.

Ia merutuki semuanya. Batu itu, gereja ini—petak kuburan ibunya yang masih kosong meskipun ibunya sudah menghilang bertahun-tahun lamanya tanpa ada kabar. Baguslah. Semua-semuanya itu—semoga Alucard bisa memaafkan ini semua.

Untuk saat ini ia terlalu marah—emosinya meletup-letup. Ia meninggalkan Zilong dengan catatan yang buruk. Ia tahu ia harus meminta maaf, tapi untuk saat ini ia tidak mampu memaafkannya—ia tak mampu menatap wajah bajingan yang ia cintai empat tahun belakangan ini tanpa mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti pria itu. Mungkin saat ia merasa lebih tenang. Ia mendatangi Miya. Kawan lamanya yang ia bantu untuk menopang dirinya kembali setelah keluarganya mengasingkannya.

Ia mengapus air matanya—Miya mungkin tak perlu mengetahui ini. Wanita itu sudah cukup bersusah hati. Alucard berjalan melalui satu-satunya jalan yang dapat mengantarnya ke kediaman wanita itu—yang tinggal seorang diri dalam pengasingan, masih mengemban dengan berat hati kematian saudara laki-lakinya yang dituduhkan kepadanya.

Alucard melalui rumah yang ia kenal betul—rumah tempat pemiliknya menyelenggarakan pesta tahun baru. Pintu rumah dibuka untuk semua orang di kota setiap malam tahun baru. Tempat dimana ia bertemu dengan Zilong—Alucard masih ingat, saat orang itu bersandar pada dinding, seorang diri. Dengan tangannya yang dilipat di depan dadanya.

Ia ingat mencium pria itu selama yang ia mampu—membawanya naik ke kamar tidur utama dalam kondisi terlalu mabuk, mungkin, dan suasananya sepertinya tepat. Ia mencium seorang laki-laki, seperti dirinya—dan ia tidak merasa bersalah. Semuanya terasa tepat saat mata mereka bertemu. Zilong menatapnya dengan sendu, "Kita tidak seharusnya melakukan ini." katanya. Alucard tahu ia mau lagi—ia tahu ia mau lagi.

Tangannya masih beristirahat pada pinggang Alucard. "Tidak ada yang akan melihat apapun." Ia meyakinkan pria itu. Setelah menunggunya untuk menimbang keputusannya, Alucard menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat Zilong menghela napas, tanda ia menyerah, dan ia mendekati wajah pria lainnya untuk mendapatkan ciuman itu.

Itu terjadi lima tahun lalu—dan kini, kini rumah itu memiliki papan bertuliskan DIJUAL di halamannya.

"Alu—aku hanya… aku tidak pernah mengira kau akan bertahan bersamaku selama ini." katanya. "Aku tidak mau kau memutuskan untuk bersamaku karena kau merasa itu adalah kewajibanmu; aku juga tidak ingin kau meninggalkanku karena ini, jadi kupikir—"

Lebih baik tak mengatakan apapun.

Dan empat tahun kemudian, saat semua gejalanya sudah tak dapat ia sembunyikan lagi, Alucard harus menerima penderitaan Zilong selama empat tahun, diaduk semuanya dan ditumpahkan kepadanya sekaligus. Terkutuklah kau, bajingan.

Rumah wanita itu berada agak jauh ke dalam perumahan, rumah yang berdiri sendirian di tengah tanah lapang tanpa adanya tetangga lain. Alucard mengetuk pintunya, satu kali, dua kali. Tak lama kemudian, wanita yang ia kenal dekat membuka rumahnya, wajahnya muram—ia tidak pernah menyukai orang luar. Apalagi orang yang mengetuk pintu rumahnya.

"Alu?" ia bertanya, setengah terkejut, tapi pikirnya—lebih baik Alucard daripada orang yang tak ia kenal. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Boleh aku masuk…?"

"Uh," wanita itu berdehem. Rambutnya yang terurai panjang dikibaskan ke belakang tubuhnya—Alucard mengintip sedikit ke dalam rumahnya, melihat penerangan yang bersumber dari lilin, api yang membakar sumbunya berwarna hijau, menerangi ruangan yang temaram. "Lain waktu?"

Ia memohon—dengan sangat. Ia benar-benar merasa kebingungan harus melakukan apa. Kebingungan harus merasakan apa—ia tidak tahu apakah ia bisa kembali pada Zilong karena ia tidak memercayai dirinya sendiri untuk mencintai pria itu saat ini. "Kumohon."

Mendengar suaranya yang parau, benar-benar menginginkan untuk masuk, Miya melirik ke dalam rumahnya. Ia menggigiti bibirnya, matanya berkilat khawatir. "Tu-tunggu sebentar, oke?"

Kemudian pintu ditutup—dibanting, kasar. Alucard menunggu hingga wanita itu kembali.

Pintu dibuka dengan lebar—Alucard dapat mencium bau busuk dan aroma arang mengisi paru-parunya. Ia ingin bertanya, tapi sebelum sempat membuka mulutnya, Miya mengusirnya ke ruang tamu. Ia duduk. Tanpa sempat benar-benar menanyakan, wanita itu menyela, "Apa yang terjadi padamu?" suaranya mengalus. Matanya memandang Alucard dengan tepat—ia ingin menyembunyikan ini dari wanita itu.

"Tidak, ha-hanya ingin bertamu."

"Alu." ia nampak tak menyukai responnya. "Aku bisa membacamu seperti buku—kau… dalam masalah. Sesuatu terjadi." ucapnya. Senyumnya terkembang, pelan-pelan meyakinkan Alucard untuk membuka diri. "Kau bisa ceritakan apapun padaku; kita teman, kan?"

"Miya… sungguh. Tidak ada apapun yang kusembunyikan."

Ia terdiam. Kakinya disilangkan, dan, "Haruskah aku bertanya pada Zilong?"

Mendengar namanya membuat Alucard terlonjak, dan ia segera menolak mati-matian ide itu—ia tidak perlu mendengar itu dari orangnya langsung, kan? "Tidak."

Wanita itu tersenyum pada Alucard, senyum yang dapat diartikan kalau ia telah mengetahui sesuatu. "Terjadi sesuatu. Dengan Zilong? Salahmu?" Alucard membuang pandangannya, tak ingin menatap kawannya—wanita ini selalu dapat dengan mudah membacanya. Kebanyakan hari ia akan merasa senang, karena perasaannya yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata dapat dipahami oleh wanita itu. Tetapi untuk hari ini tidak demikian.

"Alu, aku sudah bilang—"

"Bukan salahku." Ia menggertak. "Ini salahnya, Miya. Salahnya." Napasnya menjadi cepat; ia berusaha untuk menahan air matanya karena—tadi pagi, mengingat Zilong yang terbangun dengan linglung dan menanyakan padanya, "Siapa kau?" dengan tatapan hangat yang seperti biasa (mengapa ia tega melakukan ini?), telepon dari klinik yang menanyakan mengapa ia tidak hadir untuk mengambil resep dan kontrol kesehatan yang—

Ia berusaha menceritakan semuanya pada Miya, yang mendengarkannya—entah apa yang keluar dari mulutnya, semuanya berantakan. Wanita itu berusaha untuk menenangkannya, seberapa histeris dirinya saat menceritakan apa yang telah terjadi—tentang bagaimana Zilong menipunya selama lima tahun belakangan, tepat di hadapan wajahnya, dengan sangat mudah.

"Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membantunya, Miya!" ia menjerit, frustrasi, akhirnya. Wanita itu masih memandangnya dengan simpatik. Wajahnya yang bersedih, masih tak percaya pada apa yang diceritakan Alucard, tiba-tiba merona; idenya terpancar pada kilatan matanya.

"Ada—Alu, kau bisa melakukan sesuatu untuk membantunya." Katanya. Mendengar kata-kata wanita itu membuat Alucard mengangkat kepalanya, setengah tidak percaya pda pernyataan temannya.

"Apa yang bisa kulakukan, Miya? Ia tidak memiliki banyak waktu!"

"Aku beritahu, tapi kau tak akan bertanya, dan kau tak mendengar ini dariku." Seusai berkata demikian—dan memaksa Alucard untuk berjanji padanya—wanita itu pergi meninggalkan Alucard. Ruangan yang diremangi cahaya lilin mendadak berpendar agak hijau; Alucard merasakan suhu ruangan turun beberapa derajat.

Miya kembali, dengan sebuah buku besar, sampulnya memiliki bau busuk dan tulisan di dalamnya memiliki samar-samar bau anyir seperti darah. Alucard merasa jilidan buku itu bergerigi kala ia meraba luarannya.

"Ini… apa, Miya?" ia bertanya. "Ini tak mungkin bisa membantuku—"

"…buku itu bisa membantumu, Alu. Baca isinya—tetapi ingat, keinginan yang dikabulkan membutuhkan bayaran yang setimpal."

Alucard memandang wanita itu dengan skeptis.

.


.

Katanya, mereka seperti tuhan.

Bedanya, mereka tak memikirkan 'apa yang terbaik' untuk seseorang dan mengambil keputusan untuk orang itu—mereka mendengar apa yang menurut seseorang itu terbaik, dan mereka mengabulkannya. Harganya selalu ada, dan Alucard pikir mungkin Miya sudah gila untuk menyarankannya melakukan ini. Buku itu memberikannya detail tentang bagaimana caranya memanggil dan mengikat kontrak dengan perwujudan iblis yang dapat mengabulkan apapun itu.

"Kau tidak mendengar ini dariku, Alu." wanita itu mengusirnya keluar, ia tak membalas usai Alucard mengatakan padanya kalau apa yang ia sarankan benar-benar sesat. Ia memaksa Alucard untuk membawa pulang buku itu.

Alucard ingin membuang bukunya hingga ia tak lagi dapat melihat sampul depan buku itu di atas muka bumi. Tapi sebelum itu, ia perlu kembali pada Zilong—pria itu perlu tahu kalau Alucard tidak menyalahkan apa yang tak bisa ia cegah, ia hanya memerlukan Zilong untuk berterus terang padanya, sejak hari pertama—sejak ia mengetahui apa yang salah pada dirinya sendiri.

Seharusnya ia mengatakan sesuatu.

(Alucard terlalu mencintainya untuk tak memaafkannya.)

Bila ia mengatakan sesuatu, maka Alucard tidak perlu merasa seperti ini—ia merasa tidak berguna. Sisa-sisa waktu yang dimilikinya semakin berkurang, Alucard tahu, dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat kehidupan pria itu menjadi sempurna—untuk membuat hubungan mereka menjadi sempurna. Alucard tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat hari-hari Zilong yang tersisa menjadi berharga.

Ia mengetuk pintu kediaman pria itu—pintu kediaman mereka.

Tidak lama Zilong segera membuka, wajahnya nampak jauh lebih pucat dibanding terakhir kali Alucard melihat. "Alu?"

Ia menerobos masuk, dan menutup pintunya dengan tergesa-gesa. Saat pria itu masih terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa, Alucard mendekatkan wajahnya pada Zilong, dan mempersatukan bibir mereka—rasanya pahit, dan kering, rasa darah samar-samar mengenai permukaan lidahnya—tapi Alucard tidak peduli untuk berkomentar; ia hanya ingin mencium Zilong, menggoreskan lagi momen yang dapat ia simpan sebagai permata terindah dalam memorinya.

"Maaf." ia berucap, akhirnya. Tangannya beristirahat pada pundak Zilong, matanya memandang lurus ke wajah itu, mengingat-ingat. Tak ingin melepaskan. Selamanya ingin mengabadikan wajah pria yang ia cintai dalam ingatannya—persetan dengan dunia yang tak menyukai apa yang terjalin di antara mereka. "Zilong. Aku minta maaf—aku benar-benar tak bisa berpikir, saat mendengar apa yang terjadi, terjadi padamu, aku—"

"Alu, aku juga… minta maaf padamu." Zilong bergerak, mengubah posisi mereka. Punggungnya ia sandarkan pada pintu, tangannya dilingkari pada leher Alucard. "Aku seharusnya tak menyembunyikan ini darimu—kau seharusnya… tahu. Kau wajib untuk mengetahui ini. Tapi aku… aku tidak mau kau memutuskan untuk bersamaku karena kau merasa kasihan padaku. Aku ingin—aku ingin kau bersamaku karena kau benar-benar ingin bersamaku."

"Aku akan tetap bersamamu, Zilong, tahu atau tidak tentang ini." ia memberikan senyumnya pada pria itu. "Aku mencintaimu."

Wajah Zilong merona sedikit—Alucard ingin menciumnya lagi, lagi, dan lagi—hingga napas mereka habis.

"Aku sangat mencintaimu, Alu."

Ia meletakkan buku pemberian Miya di dalam kotak koran-koran bekas, perlahan terlupakan dan hanya ada di sana untuk mengumpulkan debu.

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membeli dan pindah ke rumah tempat pertama mereka bertemu—barulah Alucard kembali mengingat kehadiran buku itu.

Ia meninggalkan buku itu di basemen rumahnya, di rak-rak perkakas yang nampak sudah lama tak disentuh.

.


.

Ia senang.

Atau setidaknya, berusaha.

Ia melihat Zilong tersenyum, atau tertawa bersama teman-temannya—teman-teman mereka. Ia merasa senang bila Zilong merasa senang.

Tetapi semakin banyak waktu yang ia habiskan untuk membuat Zilong senang, untuk mengirimnya pergi dengan tenang dan senang, membuat pria yang paling ia cinta merasa paling beruntung telah hidup di dunia ini—Alucard tak bisa berhenti merasa kalau ia belum cukup membahagiakan pria itu. Ia masih merasakan kekurangannya merusak kebahagiaan ini; apa yang tak ia mampu lakukan untuk membuat Zilong senang.

Itu, atau karena senyuman itu membuatnya merasa tak rela untuk melepaskannya.

"Alu, maukah kau menemaniku besok?"

Zilong meliriknya, wajahnya semakin hari semakin kehilangan ronanya. Alucard berpura-pura perbedaan itu tak nampak, meskipun napasnya yang memburu setiap kali ia menciumnya terlalu lama adalah bukti yang tak dapat disanggah lagi; waktu mereka semakin sedikit, dan sekarang, sepertinya tinggal menunggu waktu hingga jantungnya menyerah di malam hari, atau—

Tidak, jangan sampai.

"Alu?"

"Hm, y-ya?"

"Kau baik-baik saja? Kau nampak… buruk, tadi."

"Apa kau baik-baik saja, Zilong?" ia tertawa, berusaha menyembunyikan panik yang tercipta pada hatinya. Merasakan kalau ia tidak bisa memberikan yang terbaik—memberi apa yang sepantasnya Zilong terima. "Lucu kau bertanya begitu, mengingat kau yang…." Ia tidak mampu melanjutkannya, melihat Zilong yang menatapnya tajam—tak ingin diingatkan. Alucard juga tak ingin mengingat, tapi merasakan kehadiran kematian yang menghitung waktunya di atas ranjang ini, Alucard tidak bisa semata-mata mengabaikannya. "Maaf—kau ingin bilang apa?"

"Seben—tar, sesak—" ia bernapas melalui mulutnya, cukup lama. Alucard memberinya waktu—ia selalu memberi Zilong waktu hingga ia tak memiliki lagi waktu yang cukup untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan. "Aku ingin… mengunjungi makam… saudara perempuanku."

Alucard menoleh ke arahnya. "Kau punya saudara perempuan?"

"Teknisnya… begitu." Ia menghela napas, matanya dilekatkan pada Alucard, yang menunggu penjelasannya. "Ia… lahir mati."

"Oh."

Hening.

"Tentu, Zilong—aku… aku akan menemanimu." Karena ia telah bertekad untuk terus bersama-sama, di sisinya, sampai akhir. "Siang? Atau pagi?—aku… bisa kapanpun." Karena ia akan selalu memiliki waktu untuk Zilong.

"Mungkin siang." Balasnya. "Dan… kau harus tahu… besok adalah hari peringatannya—jadi… mungkin ayahku ada di sana." Ia membuang pandangannya ke hal lain selain Alucard yang menautkan alisnya, bingung. "Miya dan yang lainnya mungkin menerima kita, tapi ayahku—aku tidak tahu apa yang akan ia katakan tentang kita. Jadi… kuharap kau mengerti."

Alucard menelan salivanya—ia merasa tenggorokannya mengering. Seharusnya ini hal yang mudah; menyembunyikan hubungan mereka dari dunia yang tak menginginkan ini.

"Tentu. Kita hanya teman; mengerti."

Ia menautkan jarinya pada milik Zilong, dan mengecup punggung tangan kekasihnya dengan ringan meskipun hatinya terasa berat—mengapa mereka harus menyembunyikan ini?

.


.

Ini pertama kalinya Alucard bertemu dengan orang tua Zilong—jadi ia merasa gugup. Ia tahu ia tak mungkin dilirik dua kali untuk mencari-cari subteks yang ada dalam kunjungannya bersama Zilong dalam hal-hal yang lain selain teman dekat yang selalu khawatir pada kesehatan kawannya.

Saat melihat orang tuanya, Zilong segera lari ke pelukannya, dan memeluknya erat. Orang itu menepuk punggung Zilong dua kali sebelum melepaskan. Alucard melihat Zilong menuntun ayahnya dan menunjuk ke arahnya, "Ini Alu—dia temanku."

"Halo." Ia mengangkat tangannya. Pak tua itu membalas jabat tangannya dengan lemah. Matanya yang berwarna putih seperti susu memandang Alucard agak lama, ia memicingkan matanya untuk mendapat gambaran yang lebih baik tentang rupa kawan dari anak laki-lakinya. Akhirnya ia menyerah dan hanya tersenyum pada Alucard.

"Kau pasti teman yang sangat baik, Alu." ia berkata. Tangannya masih digenggam. "Zilong sangat beruntung memiliki teman sepertimu."

Ia berusaha untuk tak memedulikan itu—teman, teman, teman—tidak; mereka lebih. Ia berusaha untuk memendam kekesalan hatinya; memendam amarahnya yang selalu disulut tiap kali orang-orang yang tak tahu apapun berasumsi. Tiap kali orang-orang yang tak mengetahui apa yang ia dan Zilong miliki berpura-pura mengetahui apa yang mereka miliki. Dan mereka yang selalu tahu, tapi tak menanggapinya.

Alucard menarik napas. "Ya."

"Dimana kalian bertemu?"

"Kami bertemu di pesta—uh… taman. Ya, taman."

Pria itu mengangguk-angguk. "Dan… apa yang membuatmu ingin menjadi temannya? Karena selama yang kuingat, Zilong tak pernah memiliki teman dekat—kau adalah yang pertama." Tak ada jawaban, ia buru-buru menambahkan, "Itu hal yang bagus, hanya saja—aku ingin tahu."

Zilong menatapnya. Alucard mengerti arti tatapan pria itu—tatapan kekasihnya—yang memintanya untuk menahan dirinya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi—mungkin karena kita menyukai hal yang sama.."

Aku menciumnya, dan ia menyukainya.

"Syukurlah." Ucapnya. "Aku khawatir ia tak memiliki teman di sini, jadi terima kasih telah menjadi temannya, nak." Orang tua itu beralih pada Zilong, ia tertawa, lalu berucap dengan sedikit candaan, "Kau jaga temanmu ini baik-baik, kau paham?"

Ia merasa sangat pahit saat mendengar kalau ia hanyalah teman baik Zilong di mata ayahnya. Tapi ia menahan dirinya, meskipun keinginannya saat ini adalah mengoreksi pak tua itu agar ia dapat tahu hubungan ini, yang ia miliki bersama Zilong selama bertahun-tahun lamanya.

Ia diam, meninggalkan Zilong dan ayahnya berkabung di depan makam tanpa nama.

Berusaha tak berpikir bahwa cepat atau lambat, Zilong akan berada di sana.

.


.

"Ibuku bilang, dulu ia ingin dinamai Chang'e—seperti nama seorang dewi dari tanah kelahirannya." Zilong tersenyum, mengingat-ingat hari itu. "Heh—ayahku benar-benar tak menyukai nama itu, katanya terlalu aneh di tempat ini. Takut ia akan diganggu dengan nama seperti itu. Sepertiku. Katanya aku tak punya teman karena namaku aneh."

Alucard mengangguk, tak membalas.

Perjalanan pulang memakan waktu dua jam. Alucard menyetir mobil dengan hati-hati, tidak ingin sesuatu terjadi—tidak ingin mengagetkan Zilong yang duduk di sebelahnya. Ia berusaha untuk tak memikirkan tangan Zilong yang ia genggam dengan kaku, merasakan tangannya yang terasa membeku dalam lingkupan tangannya yang hangat.

Sesekali ia melirik, melihat Zilong memejamkan matanya dengan senyuman tipis. Apa yang ada di pikirannya? Alucard tidak mau membangunkannya—ia nampak benar-benar tenang, dalam tidurnya. Melihat itu membuat Alucard tersenyum senang. Ini pertama kalinya Zilong tidur dalam mobil; biasanya pria itu akan memelototi jalan, kalau menyetir, kalau tidak pun, sebenarnya ia akan sama—sesekali mengeluarkan topik pembicaraan yang kemungkinan dapat mengusir kantuk Alucard yang menyetir.

Saat seperti ini… rasanya ia benar-benar merasa sepi, tanpa suara Zilong.

Ia terus memandang jalan yang lurus—dan sampai pada kesimpulan kalau ia tidak ingin Zilong meninggalkannya.

"Zilong, hei."

Ia memanggil—benar-benar ingin membuat pria lainnya bicara. Ia ingin pria itu bicara—apapun itu. Mengusir keheningan di mobil. Tangannya mengguncang tubuh kekasihnya, dan ia terbangun dengan sentakan.

"Maaf, Alu—"

"Tidak, bukan salahmu—aku… aku hanya ingin—"

Ia berhenti mengatakan apa yang ia inginkan saat mendengar Zilong terisak di sampingnya. "Zilong?"

"Aku—tidak. Ti-tidak apa-apa." tapi ia masih menangis, dan Alucard tidak bisa fokus pada jalan—ia ingin memeluknya, ingin menciuminya dan membisikkan padanya kalau apapun itu yang ia takutkan pada akhirnya akan baik-baik saja. Alucard menggigit bibirnya; ia melihat panel penunjuk jalan, tempat istirahat berada tak jauh dari sini. Kakinya menginjak gas.

"Zilong… kumohon—katakan padaku. Kau bisa katakan semuanya padaku, kau tahu itu, kan?"

"Aku benar-benar—merasa… bodoh, Alu—maaf."

"…kau tidak bodoh," ia mengambil lajur kanan, dan segera berbelok ke tempat istirahat. Mesin mobilnya segera ia matikan. Ia sengaja memilih untuk parkir di tempat dimana penerangan tak dapat meraih mereka. Agar tak ada yang melihat mereka. "Zilong."

Ia masih menangis—Alu memberikannya spasi yang cukup, tangannya meremas roda setir dengan gelisah. Ia menarik napas, Alucard menghitung sampai seratus. Tak ada suara, selain Zilong yang masih terisak dan tak mampu mengeluarkan kalimat yang koheren dari mulutnya.

Kemudian, "Aku tidak ingin mati, Alu—aku tidak ingin—"

Apa yang ia lihat benar-benar membuat hatinya remuk—ia meraih Zilong, kekasihnya dan mengusap punggungnya, membiarkan pria itu menangis hingga ia puas. "Aku tidak mau mati, Alu—"

"Aku tahu." ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, berusaha sebisa mungkin untuk tak ikut menangis. Tak menunjukkan dirinya yang lemah menyaksikan kekasihnya hancur berantakan di hadapannya. "Aku tahu, Zilong—aku tahu. Aku juga tidak ingin kau mati."

"Aku tak bisa bernapas—aku selalu tak bisa bernapas bersamamu," katanya. Alucard mendekapnya semakin erat, tetapi Zilong tertawa, deru napasnya menyentuh leher Alucard. Seolah baru saja mengeluarkan guyonan konyol. "Kupikir awalnya hanya jantungku—tapi bukan itu, Alu… kau selalu—dadaku sesak saat bersamamu, melihatmu bersama orang lain—aku pikir… aku akan mati—tapi…."

"Zilong, ber—berhenti."

"Maaf… kau harus melihatku… begini."

Alucard menelan salivanya, berusaha untuk mengatakan apa yang ia pikirkan—tapi ia tidak mengatakan apapun. Tidak sampai Zilong selesai mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Maaf aku hanya bisa… memberikanmu ini."

"Zilong… kau tak perlu meminta maaf—" ia berniat untuk mengatakan itu, tapi mungkin—ia tidak perlu mengatakan apapun saat ini. Ia hanya perlu mendengarkan apa yang Zilong ingin katakan padanya. Ia pendengar yang baik.

Ia menunggu hingga Zilong berhenti, mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya dengan uraian air mata yang tak kunjung berhenti—Alucard mengingatkannya untuk bernapas, tetapi ia sendiri kelupaan untuk bernapas.

Pikirannya kembali pada buku yang diberikan Miya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berkutat cukup lama dalam topiknya.

.


.

Ia membaca ulang buku itu, dalam keremangan malam, saat Zilong sudah tidur.

Buku itu memiliki sampul yang mengkerut pada bagian tengahnya, tanpa ada judul buku dan penjelasan apa isinya. Alucard masih mengingat aroma busuk dan tiap halaman yang ditempeli aroma samar darah, dan jilid bukunya yang bergerigi membuat jari-jarinya menelusuri jilidan dengan gelisah. Apa ia perlu melakukan ini?

Aku tidak mau mati, Alu.

—dan ia tidak ingin ditinggalkan Zilong.

Tujuan mereka sejalan.

Jadi ia membuka bukunya tanpa ragu; buku itu tertulis dalam bahasa yang tidak menggunakan huruf alfabet yang ia kenali, melainkan coret-coret tidak familiar. Tetapi ada kertas yang terselip di tiap halaman, bertindak sebagai penerjemah, lengkap dengan gambar-gambar simbol yang tak begitu Alucard pahami—sigilum, kertasnya menjelaskan padanya.

Tangannya tiba pada sebuah halaman yang membuat tubuhnya bergidik penuh antisipasi.

Judulnya dicoret—demikian pula kertas terjemahannya. Alucard mengenali kata yang merupakan 'kontrak' diantara tinta tebal yang menutupi entrinya.

Iblis.

Ia membutuhkan cawan emas, potongan kuku dan rambutnya, daun salam—dan bahan-bahan lainnya, sesuatu yang mudah didapatkan. Semuanya dimasukkan ke dalam cawan emas untuk dibakar dengan api menyala seperti sebuah persembahan.

Satu hal yang membuatnya perlu berpikir dua kali adalah pernyataan terakhirnya—tengkorak kambing hitam.

Yang, mungkin terdengar mudah—tetapi ia tidak bisa serta merta memasuki toko daging dan menanyakan pada penjual, "Mana kepala kambing hitam yang kau potong? Aku ingin beli satu." karena tentu saja pemilik toko tak akan tahu mana yang dulunya adalah kepala kambing dengan bulu hitam, malahan ia akan mencium sesuatu, dan Alucard tidak ingin melibatkan orang lain dalam ritual yang mungkin bisa membahayakan dirinya.

Tapi untuk Zilong, ia akan melakukan apapun.

Matanya memandang keluar, lalu pada jam beker rusak yang masih berdetak di rak—jam menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas.

Ia masih bisa pergi ke gereja, menumpahkan isi hatinya pada bilik pengakuan dosa, lalu mengambil cawan emas yang ada di altar. Lalu mungkin pergi ke peternakan, dan menanyakan kambing hitam yang bisa ia dapatkan. Ini akan mudah—tentu saja ini akan mudah. Ini untuk Zilong. Tidak ada yang dapat mengalanginya dari apa yang Zilong inginkan.

.


.

Ia membayar lebih agar pemilik peternakan membiarkannya untuk melakukan sesuatu di lumbung, selama beberapa jam. Tiga kali lipat agar ia dipinjamkan barang-barang yang ia perlukan untuk membunuh kambing itu dan mengulitinya. Ia hanya diminta untuk tidak berisik karena istrinya yang mengandung sedang beristirahat. Alucard meminta maaf padanya, sebelum ia mengotori seluruh lumbungnya.

Kala tangannya meraih pisau untuk memenggal lehernya, jantungnya berdebar cepat. Ia tidak bisa melakukan ini—ia mulai merasa bersalah, melihat binatang tak bersalah itu terbaring lemas di tanah seusai ia membiusnya, meminimalisir penderitaan kambing itu. Tapi ia harus melakukan ini—untuk Zilong.

Untuk Zilong.

Dan pisaunya menyayat dengan dalam dan tepat; efisien, agar binatang malang itu tak merasakan sakitnya—tetapi Alucard merasa hatinya tersayat usai membunuh, melihat kambing itu menggeliat dan darahnya mengalir membasahi tanah—beberapa tetes terlontar jauh. Alucard diam. Ia menunggu hingga tak ada lagi perlawanan. Setelah itu ia meraih tanduknya yang lain, dan mulai memisahkan kepala dari tubuhnya.

Ia meninggalkan sisa tubuhnya dalam lumbung itu, meletakkan uang lebih agar peternak tak mengatakan apapun. Ia tiba di rumah sama persis seperti saat ia pergi; mengendap-endap. Turun ke basemen, meletakkan cawan emas pada rak dan menggantung karung berisi kepala kambing pada salah satu tiang kayu yang memiliki paku. Besok hari, mungkin.

Alucard melirik jam—jam tiga.

Hari sudah mau pagi.

Ia mengangkat bahunya, meraih kembali buku itu—dan mulai membaca lebih dalam, berusaha memahami apa yang akan ia hadapi.

Tetapi ia belum melakukan ritualnya.

Ia merasa janggal—perasaan yang tak mau minggat dari benaknya.

Ia mengingat Miya.

.


.

"Kau tidak ke kamar tadi malam." Zilong menatapnya khawatir—kekasihnya selalu khawatir. Alucard mengibaskan tangannya seraya ia meletakkan koran hari ini pada meja makan.

"Aku ketiduran di sofa, maaf."

Zilong memberikannya senyuman. "Dasar."

Kemudian pintu rumah mereka diketuk. Zilong ingin menyambut siapapun itu—tetapi Alucard memintanya untuk duduk, dan ia berlari ke pintu depan. Saat ia membuka pintu rumah, ia terkejut—melihat temannya, Miya. Berdiri dengan senyuman lebar dan wajah yang riang gembira. Miya meraihnya ke dalam pelukan. "Halo, Alu, lama tak bertemu, kurasa."

Ia terkekeh, walau perasaannya merasa tak enak, ia membalas pelukannya.

"Alu, aku mendengar suara Miya." pria itu terkesiap, wanita dengan surai perak itu melangkah masuk dan merentangkan tangannya untuk memeluk kawannya.

"Maaf baru mengunjungimu, Zilong." Ekspresinya berubah sendu kala ia menyadari perubahan pada Zilong, yang tetap tersenyum padanya dengan bibir yang memucat. Alucard berusaha untuk tidak fokus pada perubahannya. "Aku sebenarnya ingin bicara pada Alucard, tentang… buku yang kupinjamkan padanya."

Miya kemudian menyeretnya keluar, jauh dari Zilong. "Kau masih menyimpannya, kan?"

"Tentu saja aku masih menyimpannya." Ia mendesis.

"Bagus, bagus—kembalikan padaku." Ucapnya tegas. Ia tidak memberi ruang untuk argumen. Apapun itu yang diinginkan Miya dari buku itu pasti sangat penting. Tapi Alucard juga masih membutuhkan buku itu.

"Aku masih memerlukannya."

"Alu, kumohon, aku hanya perlu buku itu untuk beberapa saat—seusai itu kau boleh memilikinya."

"Aku tidak bisa, Miya."

"Alu, aku benar-benar memohon padamu." Wanita itu menatapnya dengan sedih. "Ini untuk Estes—aku… aku bisa mengembalikannya, aku hanya perlu buku itu—Karina bilang padaku, rahasianya ada pada buku itu—aku memerlukannya, Alu. Aku ingin memperbaiki keluargaku, mereka harus tahu aku tidak membunuhnya—"

Mereka dengan cepat menoleh ke dalam saat mendengar kegaduhan. Sesuai instingnya, Alucard berlari ke kamarnya, dan melihat Zilong tak sadarkan diri di lantai. Ia mengampirinya.

"Zilong? Hei…?"

Ia tak bernapas.

Wajahnya semakin pucat, nyaris keunguan, dan Alucard mencoba untuk memberikannya pernapasan buatan—tetapi Zilong tetap tak kunjung tersadar. Alucard membawa Zilong naik ke kasurnya—kasur mereka—dan ia merasa panik, lagi. Seperti hari-hari itu—saat ia pertama kali berusaha untuk tidak panik melihat Zilong yang kewalahan bernapas. Kali ini kekasihnya tak bernapas.

Alucard menangis, ia benar-benar menangis. Ia menekan dadanya, berusaha untuk memompa lagi darah yang berhenti. Memberikan suplai oksigen pada tubuh kekasihnya, tetapi hasilnya nihil. Saat ia menundukkan kepalanya, wanita itu datang mengampirinya.

Miya memandang Zilong yang terbujur di atas ranjangnya cukup lama, sebelum memfokuskan perhatiannya pada Alucard. Ia memeluknya, dan tak melepaskan. Mantra yang ia ucapkan terdengar seperti doa yang Alucard terlalu tidak peduli untuk ia rapalkan. Alucard meraih wanita itu untuk membalas pelukannya. Ia terisak.

Miya mengecup dahinya, setelah berdiri. "Aku… pergi sebentar, ya?" katanya. Alucard tak membalas, tetapi wanita itu beranjak. Mungkin untuk memanggil ambulans. Atau dokter.

Ia mengingat buku itu—ia tidak mampu berpikir rasional. Ia kehilangan Zilong, pikirannya menyuplai kalimat itu, membuat hatinya terasa melepuh. Ia sudah terlambat, kalau saja ia segera melakukannya—

Tiba-tiba sesuatu—suatu hal subtil—menjadi amat jelas bagi pikirannya yang tak dapat berpikir jernih, masih dihantui oleh penyesalan dan kegagalannya untuk Zilong.

Pelan-pelan ia berdiri, berusaha menahan isakan tangisnya dan tak membiarkan air matanya mengganggu pandangannya. Ia mengendap-endap di belakang wanita itu, dan dengan sedikit dorongan—

Wanita itu kehilangan pijakannya—ia tak sempat memahami apa yang terjadi dan siapa yang melakukan itu.

Alucard berkedip, ia mendengar bunyi tulang yang patah dan menyaksikan kejatuhan wanita itu hingga tempurung kepalanya mengantam lantai dengan debuman yang kuat, seperti palu hakim yang memvonisnya sebagai pendosa yang tak dapat diampuni. Alucard berlari menuruni tangga.

"Maaf, maaf, maaf, maaf—"

Ia membutuhkan ini, untuk Zilong.

Ia membutuhkan tengkorang kambing hitam.

.


.

Alucard tidak ingin lihat—ia melakukan ini untuk Zilong.

Ia meyakinkan dirinya kalau ini adalah keputusan yang tepat.

Ia memotong lehernya; memisahkannya dari kepala—sama seperti kambing itu—dan memandang kepala wanita itu di atas meja seperti sebuah mahakarya yang belum sepenuhnya jadi. Rambutnya masih terurai panjang, dengan noda darahnya mengotori sinarnya. Alucard menutup bola matanya. Ia meraih gunting, lalu memotong habis rambutnya.

Ia berusaha untuk membuat wajah wanita itu tak ia kenali—tak ingin menambahkan sesalnya pada daftar yang semakin hari semakin panjang. Mengambil keluar matanya, memotong hidung dan telinganya lalu memasukkan sisanya ke dalam karung yang sama dengan kepala kambing yang kemarin.

Air matanya tak bisa berhenti mengalir kala ia mulai mengulitinya, mengeluarkan isi kepalanya melalui orbit dan memotong tulang lehernya—ini untuk Zilong, ia mengingatkan dirinya.

Ia bisa bekerja semalaman penuh untuk Zilong.

Untuk antisipasi ia juga membaca tentang cara memerangkap iblis, dan apa yang ia butuhkan adalah—darah seorang perawan, pada entri lain.

Alucard menatap tubuh Miya; tanpa kepala—obsesinya pada kematian saudara laki-lakinya mebuatnya tak punya kehidupan lain di luar apapun itu yang ia lakukan. Darahnya telah lama membeku dari lehernya. Ia mendekat, pisau pada tangannya gemetaran saat ia menyayat perutnya, dan darahnya mengalir deras. Alucard membenamkan tangannya ke dalam, untuk mengambil darahnya.

Lalu mulai menggambar pola yang sama persis seperti pada buku, pada entri yang baru ia baca tentang memerangkap iblis. Tangannya sesekali berhenti dan kembali pada Miya yang memberikannya tinta untuk menodai lantai ini dengan lingkaran yang ia anggap aneh, tapi ia menurut. Ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi, ia tidak perlu berkomentar tentang apa yang tidak ia ketahui.

Setelah selesai ia kembali ke kamarnya, untuk membereskan diri.

Ia menyentuh tangan Zilong yang terlipat di depan dadanya. "Tunggu sebentar lagi—aku… aku akan mengembalikanmu, Zi." lalu mengecup dahinya—entah sebagai salam perpisahan baginya, atau Zilong. Alucard harap ia dapat memiliki jiwanya, dan Zilong bersama dengannya. Tapi kata-kata Miya membuatnya meragukan hal itu.

Ia turun.

Cawannya ia ambil, memasukkan semua sesuai dengan yang diperlukan ritual ini. Lalu menyuarakan doanya dengan berlutut dan mata terpejam.

Ia menyulut api—apinya meninggi sebelum benar-benar menghilang dan berubah menjadi asap.

Pelan-pelan, ia membuka matanya, dan di hadapannya, seseorang berdiri dengan seringai lebar seperti seorang predator. Matanya yang menyala seperti api neraka membuat Alucard ketakutan. Tapi sosok itu—bukan pria, ini… ini iblis—tersenyum padanya.

"Kau memanggilku?"

Ia menelan salivanya.

.


.

[to be continued.]


note: *wipe tears* my boy is going to die and its all my fault

karina/miya cuma dimensyen brief banget. tapi kalo mau tau—miya juga nyoba buat bikin kontrak dalam upayanya buat bangkitin sodara laki-lakinya (aka estes), karena selama ini dia dituduh ama keluarganya ngebunuh estes. tapi karina gamau bikin kontrak ama dia karena dia gamau miya mati. ye, saya jelasin karena itu ga penting dan ga menarik juga buat ditulis sendiri. sisanya ada jawabannya, tapi di chapter depan.

(mungkin ada yang bisa nebak gimana ini berakhir? saya harap endingnya ga ketebak sih, tapi ya, coba aja tebak2;) saya lupa nyebut kalo di lore-lore eropa kebanyakan kambing diasosiasikan sama iblis (dan kambing hitam sendiri biasanya dianggap sebagai manifestasi buat satan dalam ritual satanis yang mirip-mirip misa (wikipedia, cmiiw).

percakapan antara zilong sama alu di mobil itu terjadi karena bahasa inggrisnya jantung itu heart—it should be something like, "im sorry i can only give u my broken heart," or smth (for the pun(tm))—tapi ga masuk ke bahasa indonesia hiks, jadi yah hhhh masih kzl tp pasrah sajalah

chapter depan lebih ramah tamah karena bakal ada adiq jilong dan adiq alu.

saya bener-bener enjoy nulis ini maaf ya sisanya terbengkalai hahah daripada idenya buyar sebenernya (padahal niatnya hari ini ke comifuro huhu)

makasih atas reviewnya! (dan juga yang menjawab kebingungan saya, thanks:D cookies for u)

—Jakarta, 18 Agustus 2018, 11:46 PM.