in ampulla pendere

(3: when i go my way.)

disclaimer: mobile legends: bang bang (c) moonton.

warning(s): ooc. modern au. reincarnation/fantasy elements. imaginary friend martis; (technically kinda) pedophilia (martis/alu; implied child grooming/child molestation, possessive behavior. manipulation. murder. borderline insanity. nonlinear narrative.

sinopsis: 3: api pada matanya menemukan ketenangan yang ia rindukan pada alucard.

note: judul chapter diambil dari "quando m'en vo'"—when i go my way, atau: musseta's waltz, aria dari opera la bohéme—also i made a huge mistake on the title lmaooo saya salah baca note di hp oke sowwy rabun dikit—i fixed it (im sorry n_n)

note2: smol angery baby zilong is here. ini chapter paling alus, btw (4k fluff)—but u know in this fic, something will happen.

note3: happy sugar life is a very good anime 8.2/10

.


.

"Halo, manis."

Alucard menoleh, ia meletakkan krayon merahnya, berhenti mencoret-coret dinding rumahnya dan memandang sosok itu. Sosok pria itu tinggi, kulitnya berwarna gelap—ungu? Atau biru?—matanya berpendar dengan sangar, tapi Alucard tak mengetahui bahaya yang dimiliki dalam pendaran mata yang jelas menunjukkan keinginan untuk memilikinya. Pria itu bertelut di depannya, tangannya terulur. Alucard memandang tangan yang terbuka itu dengan mata yang lebar.

"Aku tidak akan menyakitimu."

"Siapa kakak?" ia bertanya, takut-takut. Pria itu tersenyum padanya, gigi-giginya seperti taring ganas dalam sangkar yang adalah mulutnya. Alucard merasa takut, tapi ia merasa seperti ia mengenal pria itu; merasa seperti ia pernah berhutang pada pria itu. "Um… mama belum pulang… kakak… mungkin mau bertemu dengan Estes? Ia… ia di dapur."

Estes adalah pengasuhnya, selama ibunya bekerja—jadi mungkin orang ini ini temannya. Alucard kembali berbalik, ingin melanjutkan gambarnya. Tetapi pria itu membalikkan tubuhnya, tangannya mendarat pada pipi Alucard, dan ia mengelus Alucard dengan tatapan yang perlahan mengalus. Ujung jarinya yang membeku, ditambah dengan kuku seperti cakar yang berwarna amat gelap membuat Alucard menautkan alisnya, tubuhnya gemetar.

Tetapi sosok itu tersenyum, lembut. Seperti… ramah.

"Tenang, tenang. Tidakkah kau mengenalku?" ia bertanya. Alucard menatapnya, lama—berusaha mengingat-ingat. Ibunya tidak pernah memperkenalkannya pada orang ini, demikian pula ayahnya. Ia menggeleng, takut-takut dengan mata yang ia pejamkan. Pria itu mengangkat dagunya, mempertemukan mata mereka. "Aku Martis, kau ingat? Yang pernah membantumu."

Alucard menggeleng—ia sama sekali tidak ingat orang ini. "Aku tidak… tahu kakak."

Kata-katanya membuat pria itu berhenti menyentuhnya. Ia terdiam, lalu berpikir cukup lama. "Belum, kalau begitu." Ia berbisik, terdengar oleh Alucard—tetap tak masuk akal. Ia mengulurkan tangannya, ingin menjawab tangan mungil Alucard yang masih meremas krayonnya kuat-kuat. "Halo, manis, namaku Martis." ia tersenyum saat melihat Alucard meraih tangannya dengan tangan kiri. "Aku adalah temanmu."

.


.

Alucard tak pernah menyukai rumah sakit.

(Ia pernah bermimpi, rumah sakit, berlari di koridor panjang itu mengejar brankar yang membaringkan seseorang dengan wajah yang tak ia kenali, namun ia merasa dadanya sesak, matanya mengabur menangisi sosok itu—tangannya gemetaran dan ia tak bisa bangun dari mimpi itu. Ia tidak pernah bisa terbangun dari mimpi itu, sampai suster dengan pakaian abu-abu mendatanginya, dan mengatakan, "Kondisinya kritis, ia tidak boleh dikunjungi untuk sementara waktu, tuan."—saat itulah ia terbangun, usai merasakan kepalanya berputar.)

Ini salahnya.

Sebentar lagi, ibunya akan keluar dari ruangan Miya dan memarahinya karena apa yang telah ia lakukan. Ia mengelus punggung tangannya yang mendorong wanita itu, masih merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan beberapa hari lalu, walaupun ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri.

Tetapi ibunya keluar dengan wajah yang biasa-biasa saja—ia memanggil Alucard yang segera berlari kepadanya. Ibunya mengusap puncak kepalanya, tersenyum bangga. "Miya bilang kamu berusaha untuk meraih tangannya saat ia terpeleset—Alu, mama sangat bangga padamu." Ia memeluk Alucard, yang memiringkan kepalanya keheranan. "Katanya Miya ingin bicara denganmu sebentar; jangan usil, ya?"

Ia dipersilakan masuk ke sebuah ruangan, dan di ranjang rumah sakit itu terdapat Miya, yang terlihat biasa-biasa saja, sebenarnya. Tidak ada luka fatal. Alucard bernapas lega. Tetapi masih takut-takut mengampiri wanita di atas ranjang itu, yang tersenyum padanya seolah ia tidak tahu apa yang telah Alucard lakukan padanya. Saat ia berdiri di sisi ranjang, wanita itu membuka mulutnya, "Mengapa kau mendorongku, Alu?"

Napasnya mendadak berhenti—ia memandang wanita itu dengan bola mata yang melebar, tetapi wanita itu masih tersenyum, biasa-biasa saja. "Apakah temanmu yang memintamu?"

Alucard menggelengkan kepalanya, malu-malu.

"Kau melakukannya karena kau ingin mendorongku?"

Ia juga menggeleng.

"Lalu?"

Ia menarik napas—Miya… bisa dipercaya—ia harus percaya pada Miya. "Aku… aku melihat… seseorang… dalam mimpiku." Ia berhenti—berusaha untuk menggambarkan apa yang ia lihat pada Miya. Berusaha untuk menjelaskan apa yang menguasainya hingga ia kehilangan kendali dan melakukan apa yang tak ia inginkan. "Sepertimu… lalu… dalam mimpiku, aku—mendorongnya jatuh, dan ia—"

Alucard memandang Miya, panjang—pada wajahnya, tapi matanya tak terfokus pada bola mata keunguan yang seolah mati, memandang Alucard hampa. Ia menunduk, tangannya mengusap matanya untuk mencegah air matanya keluar. Ia tidak tahu harus mulai darimana. Ia menangis, akhirnya. "Maaf, aku… aku tidak tahu apa yang… terjadi—"

"Alu, oh, sayang, ssh." Miya menggesturkannya untuk duduk di sisi ranjangnya. Alucard memanjat naik. Wanita itu meraih pipinya, dan mengecup keningnya, ia memandang Alucard dengan lembut, berusaha untuk membuatnya tidak panik. "Aku tidak menyalahkanmu—ini bukan salahmu; aku juga tidak apa-apa, lihat kan?" Miya mengacak rambutnya, Alucard berhenti menangis untuk melihat keadaan wanita itu.

Ia tidak apa-apa.

Kecuali matanya yang hampa memandang lurus Alucard, bertanya mengapa

Tidak—Miya tidak apa-apa.

"Alu… aku benar-benar mengkhawatirkanmu." Katanya, "Aku hanya ingin mengetahui tentang temanmu, agar kita bisa mengetahui apa yang membuatmu melakukan apa yang kau lakukan—dan agar kau tidak melakukannya lagi."

Ia memandang Miya, bingung.

"Temanmu, yang… suka membantu dan melindungimu—mamamu bilang, ia pernah melindungimu dari anjing."

"O-oh! Um. Aku… ia tidak pernah datang lagi," Alucard ragu untuk melanjutkan—ia sudah tidak pernah lagi melihat Martis. Ia menyukainya; walaupun penampilannya mengerikan, ia adalah orang yang baik. Kadang-kadang Martis menceritakan dongeng sebelum ia tidur—ia sangat pandai bercerita. Ia memiliki cerita yang amat ia sukai dari Martis. "Ia tinggi dan mengerikan—ta-tapi… ia benar-benar baik padaku."

"Boleh kutahu namanya?"

"Namanya Martis!" ia memulai dengan antusias, dan Miya mendengarkannya dengan senyuman pada wajahnya. "Ia juga suka bercerita padaku sebelum aku tidur."

"Oh, ya? Cerita seperti apa yang ia ceritakan padamu, Alu?"

"Uhh…" ia menautkan alisnya, merengut. Lalu berpaling pada Miya yang masih memandangnya dengan senyuman yang nampak tak memalsukan apapun. Alucard memercayainya. "tentang seorang petani! Yang—yang… um, berusaha untuk menyelamatkan seseorang yang ditawan oleh monster… tetapi ia tidak bisa melakukannya, jadi ia meminta bantuan pada temannya, lalu… uh, akhirnya… ia menipu monster itu dengan menggunakan seekor domba agar ia bisa melepaskan orang itu dari kurungan monster jahat!"

Alucard melihat wajah wanita itu—dan ekspresinya yang perlahan berubah, hingga senyumannya tak ada lagi pada bibirnya. Tetapi saat Alucard menyentuh lengannya, wanita itu kembali tersenyum padanya, tersentak kaget dengan napas memburu. "A-ah, maaf. Ceritamu mengingatkanku pada sesuatu—aku yakin ia teman yang baik, kan, Alu? Tidak pernah memintamu untuk melakukan hal-hal buruk?"

"Um, ia pernah memintaku untuk tidak berbicara pada teman-temanku di sekolah—katanya ia tidak suka melihatku bersama orang lain. A-apa itu buruk?"

"Apa kau menuruti keinginannya, Alu?"

"Ia tidak pernah kembali setelah hari itu…" Alucard tersenyum, "Jadi kurasa aku tidak menurutinya… karena Freya dan yang lainnya adalah temanku juga!"

.


.

Ibunya membawanya ke gedung lain rumah sakit—katanya, permintaan Miya.

Mereka sampai pada gedung yang nampak berwarna-warni, dengan tempat bermain pada lobinya. Ibunya membawanya ke loket yang sepi, lalu ia berbincang dengan orang lain di dalam loket itu—dan menyerahkan kertas-kertas kesana. Alucard melihat seseklilingnya—ada anak-anak yang lebih kecil darinya, berlarian kesana-kemari, atau menari-nari di depan orang tuanya. Ada juga yang menangis.

Tetapi matanya tertuju pada seseorang yang duduk dengan tubuh yang bersandar pada dinding, tangannya dilipat di depan dadanya. Wajahnya mengerut, seperti seorang yang marah. Ia ingin mengampiri anak laki-laki itu—tapi baru satu langkah, ibunya lebih dulu menarik tangannya dengan lembut, dan menuntunnya ke kursi yang dekat dengan anak itu, dengan orang tua yang berada di antara mereka.

Kebetulan.

Alucard melirik pada anak laki-laki di sampingnya, surai cokelatnya menyentuh bahunya—Alucard pikir rambutnya terlalu panjang untuk seorang laki-laki. Ia memiringkan kepalanya—mungkin ia bukan laki-laki?

"Apa lihat-lihat?"

Ia tersentak mundur saat dibentak—suaranya seperti laki-laki. Anak itu—anak yang mungkin lebih tua darinya—mendecih, sedangkan orang tua di sampingnya tertawa. Ia meraih puncak kepala anak itu untuk mengacak rambutnya. Anak itu menepisnya sambil mendesis. "Jangan terlalu galak padanya, Zilong."

"Apa pedulimu?" ia membuang muka. "Kau juga bukan ayahku. Apa gunanya memedulikanku?"

"Zilong, kita sudah sering bicara tentang ini." ayahnya menghela napas.

Anak itu—Zilong, nama yang aneh, Alucard pikir—melirik Alucard dengan tajam, tapi ia tak mengatakan apapun. Tatapannya membuat Alucard merasa sangat lemas; ketakutan, mungkin—wajahnya memanas, tapi mungkin karena ia ingin menangis melihat anak itu yang tanpa berniat telah mengintimidasinya. Mungkin ia disini karena ia suka memukuli orang di sekolahnya—seperti orang itu di sekolah Alucard yang dulu. Alucard membencinya.

"Maafkan Zilong, nak." Orang tua itu memulai. Ia adalah seorang kakek—lebih tua dari ayahnya, pasti. Di sampingnya, Zilong membenamkan tubuhnya lebih turun dari kursinya. "Ia memang memiliki… isu. Makanya ia disini. Apa yang membuatmu kemari?"

"Um..." ia menoleh pada ibunya, yang sedaritadi memainkan ponselnya. "Mama bilang Miya menyuruhku untuk kemari…."

Pak tua itu mengangguk. Mungkin ia mengerti—Alucard harap ia mengerti. Mereka tidak berbicara lagi. Alucard menghitung jari-jari yang ia letakkan di pahanya, berusaha untuk mengabaikan waktu yang seolah tak kunjung berlalu. Hingga ibunya meluruskan kakinya, lalu berdiri, "Alu, sayang, mama ke toilet sebentar ya? Kalau namamu dipanggil, naik saja." yang ia jawab dengan anggukan.

Ia menunduk, kembali mengitung jari-jarinya dengan bosan.

Hingga ia mendengar nama Zilong dipanggil dengan lantang—pemiliknya meringis mendengar namanya, lalu mengoreksi dengan gumaman jengkel. Ia berdiri, menuju tangga naik. Tak lama Alucard pun dipanggil—tapi ia tidak segera pergi ke atas, masih ragu untuk meninggalkan tempatnya. Pak tua di sampingnya tertawa, melihat Alucard yang menoleh bolak-balik dengan gelisah ke tangga dan pintu toilet perempuan.

"Pergi saja, aku nanti akan beritahu ibumu."

Alucard memberikan senyumannya pada kakek itu. "Te-terima kasih!" lalu ia bergegas untuk naik.

Lantai dua gedung ini juga merupakan ruang tunggu lain, kali ini lebih sepi dan nampak lebih teratur dibanding di bawah; tidak ada anak-anak yang menangis atau berlarian kesana-kemari. Seorang suster di pos perawat tersenyum saat ia melewatinya. "Halo, Alucard?" ia bertanya.

"Iya."

"Mana orang tuamu, manis?"

"Mama tadi ke toilet…."

Suster itu nampak menulis sesuatu pada papan dalam dekapannya. Alucard menunggu—ia sesekali melirik lorong ruang tunggu itu dan melihat anak laki-laki yang tadi—Zilong—masih duduk seorang diri dengan kaki yang terbuka dan tatapan tajam pada siapapun yang ingin duduk di sampingnya. Seorang gadis pun, merasa terlalu ketakutan hingga ia pergi duduk di deretan kursi lain yang letaknya agak jauh dari pintu masuk ruangan yang bertuliskan konseling pada papan penjelasnya.

"Ah, maaf—duduk saja dulu, kita masih harus menunggu yang lainnya." akhirnya suster itu bilang padanya. Alucard mengangguk. Ia melangkah kecil ke arah Zilong—yang segera memelototinya, bahkan sebelum ia sempat mengucapkan apapun. Alucard menatapnya, takut. Dengan Zilong, setidaknya ia mengetahui Zilong dibanding orang lain di tempat ini.

"Uh… bo-boleh aku duduk… di sebelahmu?" ia bertanya, pelan-pelan menunduk, merasakan mata itu menatapnya dengan tajam. Apa masalahnya? Zilong tak mempersilakannya, jadi ia berniat untuk pergi mencari kursi lain, tetapi anak itu menghela napas berat, membuat Alucard menghentikan langkahnya dan memandang, melihat Zilong memejamkan matanya.

"Boleh." Ia berucap, dengan nada paksaan yang amat terasa, tetapi Alucard tetap tersenyum senang. Zilong mendecih sebal saat Alucard mengambil posisi di sebelahnya. Ia tidak bicara—mereka tidak bicara. Alucard dapat merasakan ketidaksukaan Zilong padanya—membuatnya bertanya-tanya apa yang ia lakukan salah pada Zilong.

Ia menunduk, berusaha membuat dirinya tak mengganggu Zilong yang kini menyilangkan kakinya, wajahnya masih memiliki ekspresi kesal dan ia melemparkan tatapan tajam ke siapapun yang mendekat padanya.

Semua, kecuali, yah, Alucard—yang duduk di sebelahnya dengan bisu, tak berani mengatakan apapun karena takut mengganggu anak yang (sepertinya) lebih tua darinya. Alucard sesekali melirik pada Zilong—yang sepertinya ditangkap, membuat Zilong menghela napas berat, lagi. Ia menoleh, lalu, "Kau ada masalah denganku? Atau kau ingin menjadi masalah bagiku?"

Alucard mengubah posisi duduknya, pelan-pelan menjauh dari Zilong—ia benar-benar menakutkan. Jangan menangis, jangan menangis, jangan menangis. "Ti-tidak."

"Kalau begitu urus urusanmu sendiri!" bentaknya. "Aku akan menghajarmu bila kau—" ia berhenti, menyadari lawannya kini memiliki wajah yang semerah kepiting rebus—matanya berkaca lebar saat bertemu dengan milik Zilong. Anak itu segera membuang mukanya, membuat Alucard melakukan hal serupa.

Mereka kembali terdiam. Alucard terisak, ia mengapus air matanya yang mengalir karena bentakan Zilong—Alucard sudah siap untuk pergi dari sini, ia ingin pindah dari sini. Lain kali ia tidak akan mengganggu Zilong lagi. Ia menghela napas—sementara Zilong mengacak rambutnya, nampak frustrasi. Kala ia menoleh ke arah Alucard (membuat Alucard panik sedikit), pipinya bersemu, lalu dengan suara lembut berkata, "Maaf."

Ucapannya membuat Alucard ternganga tidak percaya.

"Um… oke?" ia membalas, gugup harus menjawab apa. Air matanya sudah berhenti—ia merasakan tubuhnya yang semula tegang menjadi rileks; Zilong tidak akan memukulnya, mungkin. Setidaknya ini lebih baik. Mungkin…

"Na-namaku Alucard!"

Zilong menghela napas, ia memejamkan matanya dan memijit keningnya, ketika melihat Alucard yang tersenyum lebar. "Namamu aneh."

Alucard berhenti tersenyum.

"Zilong."

"…namamu lebih aneh."

"Apa kau bilang?!" Zilong menoleh ke arahnya dengan kesal—Alucard menggumamkan 'maaf' dengan cepat sambil menutupi matanya. "Ugh." Ia bersungut-sungut; menyilangkan kakinya dan memosisikan tubuhnya agar lebih terarah pada Alucard. "Namaku spesial, tahu."

Alucard segera membalas, "Namaku juga spesial."

Hal itu membuat Zilong sedikit tersenyum, dan Alucard menahan keinginannya untuk bertanya, "Apa yang lucu?"

.


.

Zilong selalu marah.

Bahkan dalam kelompok konseling pun, ia tak segan membentak konselor mereka bila dirasa wanita itu terlalu ingin ikut campur urusan pribadinya. Ia tidak suka—semua orang dalam ruangan itu seolah mengusiknya hanya dengan bernapas. Saat mereka akhirnya dibubarkan—dengan peringatan kalau mereka harus berkumpul lagi minggu depan—Zilong adalah orang pertama yang keluar, ia berdiri dari kursinya sebelum konselor mereka selesai berbicara.

Zilong selalu marah, Alucard terdiam sembari mengamati anak yang (ternyata) sudah rutin kemari, atas bujukan ayahnya. Wajahnya selalu mengerut seperti ia sedang berusaha untuk menyocokkan sesuatu dan mengalami kesulitan yang tak dapat ia tuntaskan seorang diri. Alucard memiringkan kepalanya; entah mengapa ia merasa kalau ia ingin membantu Zilong.

"Zilong?"

Anak itu menoleh—ekspresinya yang keras melembut saat Alucard memandangnya. Ia segera meluruskan tangannya agar tak bersilang di depan dadanya, matanya memandang Alucard dengan serius. "Apa?"

"Um… kamu tidak pulang…?"

Ia tidak segera dijawab. Zilong tak memedulikan pertanyaannya, ia kembali menoleh ke sembarang arah selain Alucard. Tetapi Alucard menunggu jawabannya. Hanya tinggal mereka berdua di sini; semua anak sudah pergi dijemput orang tuanya. Mereka sudah menunggu nyaris satu jam—Alucard diberitahu kalau ibunya sedang menjemput ayahnya dari stasiun kereta, dan mungkin akan kembali sebentar lagi.

"Kau belum pulang." Ia bilang, seolah Alucard memahami motifnya hanya dengan kalimat itu.

"Mamaku belum ada."

"Yasudah." Ia membenamkan tubuhnya pada kursi, lalu menghela napas. "Aku pulang saat kau pulang."

"Tapi ayahmu menunggumu, kan? Aku—"

"Nah, aku pulang sendiri." ia melirik Alucard, wajahnya dihiasi senyum tipis, dan senyumannya membuat Alucard ikut tersenyum. Napasnya memburu—mengapa? "Ayahku harus mengurusi adik perempuanku di rumah—ia sangat rewel, tidak ada pengasuh yang betah terlalu lama bersamanya."

Matanya membulat. "Kamu… punya adik?"

Ia mendengus. "Ya. Namanya Chang'e—rewel, cengeng, berisik, usil—tapi ah, ia adikku." Zilong mengangkat bahunya, matanya menerawang ke depan, mengingat-ingat waktu-waktunya bersama adik perempuan yang sangat ia sayangi. "Mau bagaimana lagi."

"Chong—eh?"

Zilong mendecakkan lidahnya, tak menyukai cara Alucard mengucapkan namanya. "Ugh. Jangan temui adikku sampai kau bisa mengucapkan namanya dengan benar." Katanya. "Ia akan terus menangis sampai kau bisa mengucapkannya dengan benar."

Alucard mengangguk.

Kemudian mereka kembali keheningan—bukan seperti keheningan yang menegangkan dan membuat Alucard merasa tidak nyaman, hanya… diam. Tanpa kata. Rasanya tak buruk, malah Alucard menyukainya.

"Hei, kau, dengar—tentang temanmu yang mengerikan itu… apakah menurutmu ia akan marah kalau kita berteman?" Alucard menoleh—ia menatap heran Zilong, agak lama, hingga wajah lawannya memerah karena malu. "Ugh, kau menyebalkan—uh, kau… kau tidak menyebalkan. Maksudnya kau menyebalkan, tapi tidak semenyebalkan yang lain kau—argh begini, sialan! Aku—aku benar-benar ingin… bertemu denganmu lebih sering."

Zilong masih menghadapnya, tapi pandangannya terfokus ke objek lain. Alucard dapat dengan mudah mengetahui kalau ia kesulitan merangkai kata-kata yang ingin ia ucapkan, berkenaan dengan perasaannya sendiri. "Aku merasa seperti—kau tahu, dapat mengatakan apapun padamu." Alucard merasa senang. Ia memberikan Zilong senyuman agar temannya dapat melanjutkan apa yang ingin ia katakan. "Seperti… kau dapat kupercaya dengan apapun yang ingin kuberitahu padamu—kurasa kau… benar-benar mendengarkanku, tidak seperti yang lain."

"Aku memang mendengarmu, Zilong." Ia menautkan alisnya—membuat Zilong mendengus, lalu menepuk bahunya.

"Kau tidak mengerti maksudku, ya." Alucard menggeleng. "Jadi—menurutmu, apakah Maris itu akan marah kalau kita berteman?"

Alucard menyunggingkan senyum pada bibirnya. "Aku tidak tahu—ta-tapi aku mau berteman denganmu!"

Senyuman mereka semakin lebar. Zilong mengulurkan tangannya, dan Alucard menyambutnya dengan hati gembira. "Teman, kalau begitu." Katanya. Alucard menatapnya antusias, membuat Zilong merasa tidak nyaman—tapi ia menyukainya. Dipandang dengan bola mata birunya yang lebar penuh rasa ingin tahu….

Zilong selalu marah—tetapi amarahnya terasa berkurang, saat bersama Alucard.

.


.

Alucard berlari dan segera memeluk ayahnya yang keluar dari mobil. Ibunya terkekeh di sebelahnya. Tak jauh darinya, Zilong melambaikan tangannya dan bertolak ke arah lain—pulang, katanya rumahnya tak jauh dari sini.

"Teman barumu?" ayahnya menyeringai, Alucard membalas dengan tawanya seraya ia digendong masuk ke kursi penumpang mobil, sebelum mereka pulang.

"Namanya Zilong!"

"Aww… mama sangat bangga padamu."

Perjalanan pulang berlangsung seperti biasa, ayahnya menceritakan tentang perjalanannya, ibunya mengutak-atik radio berusaha untuk mencari siaran berita, dan Alucard akan bermain dengan ponsel ibunya di kursi belakang, bersama tas-tas ayahnya. Mereka mampir ke restoran cepat saji sebelum berkendara pulang ke rumah—ibunya membeli porsi lebih untuk sarapan besok karena ia merasa malas memasak.

Tiba di rumah, Alucard diminta ibunya untuk mandi. Yang segera ia turuti karena ia sendiri pun merasa kotor—udara panas dan seharian berada di luar rumah membuatnya berkeringat, yang berarti kotoran. Alucard tidak bisa tidur kalau ia merasa kotor—ia harus mandi. Ayahnya pun sependapat.

Seusai itu ia segera mengganti pakaiannya, untuk tidur—hari ini melelahkan. Tapi ia merasa senang; Zilong membuatnya senang. Teman barunya. Ia melompat naik ke tempat tidur—namun berhenti saat melihat bayangan di ujung kamarnya. Bola matanya melebar saat mengenali siapa yang ada di sana.

"Martis!" ia memekik, senang, dan segera berhamburan turun untuk memeluk temannya itu. Martis pun, segera balas memeluknya, senyuman yang seperti seringai berbahaya tertempel pada rupanya. Ia digendong kembali ke kasurnya, tubuhnya ditutupi selimut dan temannya duduk di sisi ranjangnya. "Aku lama tidak melihatmu—kupikir… kupikir Martis tidak ingin jadi temanku lagi."

Kepalanya dibelai lembut, ia terkekeh—Alucard tersenyum padanya. Ia merasa sangat senang. "Aku tidak akan meninggalkanmu, manis." Ucapnya—terdengar seperti janji yang memiliki makna yang mengerikan. Tapi Alucard tidak peduli. "Aku hanya… sibuk…."

"Sibuk…?"

"Yaa, sibuk."

Alucard menendang selimutnya, lalu duduk di atas kasurnya dengan kaki bersila. "Sibuk seperti apa?!" Alucard pikir Martis mungkin pergi memberantas naga, seperti dalam cerita-cerita yang sering ia tuturkan pada Alucard—sebagai dongeng sebelum tidur.

"Hmm," ia meletakkan tangannya pada dagunya, berpikir. "kau tidak perlu tahu—tapi intinya, setelah ini, aku tidak akan meninggalkanmu lagi." katanya. Alucard memberinya tatapan heran. Ia tidak mengerti. Martis menyentuh puncak kepala Alucard, mengusapnya lembut. "Kau milikku sekarang, sayangku."

Alucard semakin keheranan, tapi ia tak mau menunjukkannya. Martis memang selalu tak mudah untuk dimengerti. "Um… aku tidak… mengerti."

"Tidurlah sekarang, Alu." Martis kembali menyelimutinya. Alucard memandangnya lekat-lekat—masih ragu untuk melepaskan pandangannya dari Martis. Ia tidak ingin Martis pergi lagi. "Aku ingin menciummu, Alu."

Ia tertawa—tetapi melihat Martis… Alucard mengangguk ragu, memperbolehkan. Jadi temannya mendekat, dan mengecupnya pada bibirnya—Alucard segera mendorongnya saat menyadari itu; menjijikkan. Ia mengelap bibirnya. "Aku tidak mau seperti itu!"

Martis menyentuh lengannya, "Kau mengangguk tadi."

"A—kupikir… bukan… seperti itu—"

"Hm… jadi… kau tidak mau?"

Ia mengangguk, wajahnya ia selimuti. Ia akan tidur sekarang.

"Kau tahu, dari tempatku berasal, untuk membuat janji kita harus berciuman." Alucard menyibakkan selimutnya, memandang Martis. Orang itu terkekeh, ia mengusap pipi Alucard, tatapannya lembut saat Alucard memandangnya balik. "Aku akan membuat janji untuk tak meninggalkanmu lagi, bagaimana?"

"Aku… tidak mau…." tidak mau apa? Tidak mau Martis meninggalkannya, atau tidak mau mencium temannya?

"Tidak mau? Tidakkah kau takut kalau aku meninggalkanmu saat kau terlelap?"

"…." Alucard menunduk. Tidak ada salahnya, kan? Hanya kecupan biasa. Ia menarik napas, lalu membuangnya. Mendongakkan kepalanya pada Martis—yang menyeringai semakin lebar, memperlihatkan taring-taringnya yang masih tak bisa Alucard tatap dengan berani. Ini hanya temannya, apa salahnya, kan? Ia menarik napas, lalu Martis mengunci bibir Alucard dengan miliknya, menyegel janjinya untuk tak meninggalkan Alucard lagi.

.


.

Ini hari pertamanya bersekolah.

Ia melihat Zilong, duduk di depan pintu kepala sekolah dengan tangan yang menyilang pada dada dan wajah yang babak belur. Saat ibunya meninggalkannya, ia mengampiri Zilong—tak peduli bahwa ia diminta untuk pergi langsung ke kelasnya. Zilong, saat melihatnya langsung tersenyum kecil, ia melambai, Alucard membalasnya. Seharusnya Alucard merasa senang, kalau bukan karena Martis—yang berjalan di sebelahnya, kini memiliki wajah masam saat ia melihat Zilong.

Bukan masam seperti saat ia melihat Alucard bermain dengan orang lain selain dirinya—wajahnya… benar-benar seperti sangat tidak menyukai Zilong. Alucard tidak bisa menjelaskannya.

"Aku tidak tahu kau bersekolah disini." Zilong bilang padanya, ia meringis sebelum akhirnya dapat mengeluarkan senyuman lebar yang ditujukan pada Alucard.

"Ini… ini hari pertamaku," Alucard membalas, ia langsung menunjuk wajah Zilong tanpa basa-basi. "Apa yang terjadi pada wajahmu?"

"Meh," ia menghela napas. "ada anak yang mengganggu seorang anak pendiam di kelasku. Aku… aku menghajarnya."

"Oh." Walaupun Alucard tahu menghajar seseorang karena hal sepele adalah perbuatan yang tidak baik, tapi Alucard sangat senang mendengar itu. "Sakit?"

"Ah, tidak juga. Aku sudah terbiasa."

Alucard mengangguk. Di sebelahnya, Martis mencibir—wajahnya kesal. Ia menarik lengan Alucard, tetapi Alucard mengabaikannya. "Apakah ini penting? Tidakkah kau harus ke kelas?"

"Terbiasa dihajar seseorang?" Alucard mulai khawatir. "Zilong… itu tidak boleh."

"Sayang, kau harus pergi ke kelasmu. Tidakkah kau takut ketinggalan pelajaran?"

Alucard tak mengindahkan Martis. Ia masih memiliki senyum miring itu pada wajahnya, matanya terfokus pada Zilong dan alisnya bertaut karena takut, membayangkan seperti apa kesakitan yang Zilong rasakan dengan wajahnya yang babak belur. "Ya, ya—tidak boleh, heh, bukan berarti aku tidak akan melakukannya, kan?"

Ia merengut—Zilong terdiam. Menghela napas, lalu:

"Ugh, baiklah, oke—aku minta maaf."

"Alu, kau mulai membuatku kesal." Martis berbisik padanya. Abaikan, abaikan, abaikan. "Berhenti berbicara padanya."

Alucard melirik Martis, tapi ia lanjut berbicara pada Zilong. "Tapi apakah lukamu sudah dioba—AAAH!"

Martis mencengkeram lengannya—sakit, sakit. Kuku-kukunya yang tajam seperti menembus permukaan kulitnya; rasanya sangat menyakitkan. Ia terjatuh, napasnya tercekat karena panik. "Sa-sakit…."

"Hei, kau kenapa?" Zilong menyentuh punggungnya. Ia berusaha untuk memahami apa yang terjadi pada temannya—yang semula baik-baik saja, tiba-tiba langsung bertiarap di lantai. Zilong menyadari lengan pakaiannya yang warnanya berubah semakin gelap—merah, darah. "Kau… kau berdarah—"

"Alu, bukankah aku sudah bilang? Aku tidak suka melihatmu berbicara dengan orang lain."

Ia mendengar beberapa langkah kaki mendekatinya—dan Zilong diminta untuk mundur dan menjauh darinya. Alucard meringis saat seorang dewasa menyentuh lengannya—yang saat ini masih dicengkeram Martis. "Nak? Kau bisa berdiri?"

Alucard melirik Zilong, yang menatapnya dengan khawatir. Kilatan matanya tidak berbohong—ia benar-benar bingung, dan khawatir. Alucard terisak, merasakan darahnya semakin mengalir dari lukanya yang terus Martis cengkeram erat. Tiba-tiba Zilong seolah memahami sesuatu. "Ini… apakah ini perbuatan Martis…?"

Ia mengangguk—Martis segera melepaskannya, wajahnya berkilat marah—murka. orang dewasa di sana mengamati lukanya. Zilong berjongkok di sampingnya, tetapi salah satu orang dewasa itu tak menyukainya. "Alu…?"

"Zilong, kau sudah cukup menyakiti orang lain—"

"Kau tidak mengerti! Ia—ia…. Ugh! Ini bukan salahku!"

"Kau milikku, Alu. Aku tak menyukaimu berbicara dengan orang lain, terlebih dia."

Perih.

.


.

"Oh, Alu, sayangku." Ibunya memeluknya saat ia tiba. Ia dituntun kembali ke kursi ruang tunggu di depan ruang kepala sekolah, dan melihat Zilong duduk di sana, kakinya disilangkan—orang tuanya tepat di sebelah. Zilong mengangkat kepalanya saat melihat Alucard datang. "Ia yang menyakitimu?" ia bertanya, nada bicaranya tak senang.

"Bu-bukan…."

"Alu… kamu boleh jujur pada mama; dia yang menyakitimu, kan?"

Alucard menggeleng. Tetapi ibunya nampak tak percaya padanya. Mereka duduk bersebelahan, ibunya di antara ia dan Zilong. Zilong berusaha untuk menyapanya, tetapi ibunya mengentakkan kakinya ke lantai, membuat Zilong berhenti, menangkap ketidaksukaan ibu temannya pada dirinya. Zilong mendecih—ia tak memandang Alucard lagi.

"Ma… ini bukan salah Zilong…." Ia mengusap lengannya yang kini sudah dibalut perban, dengan bau tak sedap antiseptik yang menyertainya. Alucard tak menyukai ini; Zilong tidak salah apa-apa. Ia yang salah—ia mengabaikan Martis, padahal ia yang meminta Martis untuk tak meninggalkannya. "I-ini salahku…."

Zilong menyela. "Bukan salahmu, Alu—"

"Jangan bicara padanya." Ibunya mendesis pada Zilong, dingin, tajam—tanpa keramahan yang biasanya ia perlihatkan pada semua orang yang ia temui. Ia lalu berpaling ke Alucard, kembali tersenyum. "Alu, sayang, yang terjadi padamu bukan salahmu—"

"Tapi ini salahku!" ia memekik, ia merasa kalau apa yang ia sampaikan akan sampai pada ibunya bila ia menangis. Ibunya selalu mendengar kalau Alucard menangis. "Ka-kalau aku mendengarkan apa yang Martis katakan padaku… ia tidak akan…."

"Martis…?" ibunya nampak heran. Lalu ia seolah memahami sesuatu. "Oh—oh, sayang… berhenti melindungi orang yang menyakitimu, sayang…."

"Zilong tidak menyakitiku! Ia tidak melakukan ini padaku!"

"Lalu siapa yang menurutmu menyakitimu?"

"Martis!"

"Alu…." ibunya menghela napas. Ia mengusap pipi anaknya—mengangkat kepalanya dan memandangnya lurus pada bola matanya yang berkaca. "Martis tidak mungkin menyakitimu, ia… hanya ada di kepalamu—ia tidak nyata, sayang."

Mendengar pernyataan ibunya, ia tiba-tiba merasa sesak. Pandangannya mengabur; ia merasa kalau itu tidak masuk akal. Martis tidak mungkin tidak nyata—Alucard melihatnya. Alucard merasakan tangannya menyentuhnya, sebelum ia benar-benar tertidur. Merasakan napasnya yang hangat pada tengkuknya, merasakan tangannya melingkari pinggangnya saat ia tertidur—

Martis tidak mungkin tidak nyata.

"…kan…?"

"Alu… kita akan pergi menemui Miya, sekarang juga, ya?"

"Ta-tapi… Martis nyata… ia—ia ada, ma—" tangannya segera ditarik, ia segera menjerit—memanggil-manggil Zilong, yang ekspresinya sudah menunjukkan pasrah. Ia mengabaikan Alucard—tetapi Alucard berusaha untuk meraihnya, di antara bulir air matanya, ia kemudian melihat Zilong berlari dari kursinya. Tangannya yang lain ditahan oleh Zilong.

"Maaf tante," ia memulai, ketika merasakan tatapan tajam wanita itu padanya. "A-aku… ingin bicara dengan Alucard."

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menyakitinya lagi?"

"Untuk yang kesekian kalinya, baji—ta-tante… aku tidak menyakitinya." Zilong menarik napas, lalu membuangnya. Matanya melirik Alucard yang berhenti meronta pada genggaman tangan ibunya, lalu kembali pada wanita itu. "A-anda boleh lihat, sumpah, aku tidak akan—"

Tetapi ibunya tak mau.

Alucard meraih Zilong, yang berusaha untuk menariknya—tetapi wanita itu, yang menarik Alucard jauh lebih kuat dibandingkan dengan keinginan mereka berdua untuk bersama.

.


.

Ia tak berhenti menjerit dan menangis di mobil, dalam perjalanan untuk menemui Miya—ibunya menyetir dan memutuskan untuk membawa mereka pulang karena Alucard terlalu banyak tingkah—"Ini pasti pengaruh dari temanmu itu." Setibanya di rumah, Alucard segera membanting pintu mobil dan berlari naik ke kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya juga—sebagai bentuk protesnya—dan mengunci pintu—ibunya di bawah meneriakinya, "Alu! Jangan kunci pintu kamarmu!" tetapi ia tak mengampiri untuk mengecek.

Alucard menaiki kasurnya, lalu segera meraih bantal kepalanya, dan mendekapnya. Ia membenamkan wajahnya pada bantal, berusaha agar tangisannya tak bersuara. Lukanya masih terasa sakit, yang di telapak tangannya, dan juga yang masih segar pada lengannya.

Ia merasa benar-benar membenci ibunya saat ini. Ia menjeritkan frustrasinya pada bantal dalam dekapannya.

"Kau benar-benar membencinya, kan?"

Alucard menoleh dengan cepat saat mendengar suara orang yang tidak ingin ia dengar—tetapi tangan Martis dengan cepat menahan pergerakannya—Alucard dapat merasakan dada Martis menyentuh punggungnya, dan kakinya diapit oleh sepasang kaki milik Martis. Pipi temannya diusap pada puncak kepalanya—seperti binatang yang minta dimanja.

"Alu… kau membencinya, kan?"

Ia menelan salivanya, "Le-lepas…." Tetapi Martis semakin erat mendekapnya. Napasnya menggelitik Alucard, dan ia membisikkan sesuatu pada Alucard—tetapi Alucard terlalu sibuk untuk meronta minta dilepaskan, tidak mau Martis menyakitinya lagi. "Mar… tis aku… tidak menyukaimu…."

Ia takut.

Alucard menyadarinya—dirinya takut. Matanya sedaritadi gelisah melirik jari-jari temannya, yang berwarna hitam pekat, tak terasa melingkar pada perutnya. Tangannya yang kuat memerangkap Alucard seolah tak ingin melepaskannya.

"K-kau jahat…."

"Hm? Aku mungkin jahat, tapi… tidakkah kau pikir ia lebih jahat…?" katanya, ia meninggalkan kecupan pada tengkuk Alucard, membuat anak itu bergidik geli—dan takut. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan takut ini. Seperti ada sesuatu yang amat, sangat, tidak baik pada Martis. "Ia memisahkanmu dari temanmu yang sangat kau sukai itu—aku mulai cemburu sebenarnya, tapi tentu saja, kebahagiaanmu selalu nomor satu, kan, manis?"

Alucard menarik napas dengan gemetar. "Kau pasti sangat membenci wanita itu… lagipula… ia memisahkanmu dengan paksa dari Zilong—aku yakin…" Alucard menyentuh punggung tangan Martis, membuat Martis mengendus puncak kepalanya. Ia turun, sebelum kembali pada telinganya, membiarkan bibirnya menyentuh daun telinga Alucard secara samar. "…Zilong ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu, tadi… dan ibumu mengabaikannya…."

Ia menggeleng, tak sepenuhnya memercayai suaranya untuk merespon. "Kau pasti sangat marah padanya… seandainya ia tak ada tadi, mungkin kau masih bersama Zilong di sekolah, kan…? Bersama-sama." Alucard ingin menangis—mengingat wajah kawan barunya sebelum ibunya menariknya pergi dari sekolah. "Seandainya ia tak ada, mungkin kalian masih bersama—bukanlah menurutmu lebih baik bila ia tak ada, Alu?"

Seandainya ia tak ada.

"Ti-tidak…." Ia ingin membalas Martis, tetapi pintu kamarnya segera diketuk.

Martis mendecih.

Pintunya terbuka—masalahnya Alucard ingat betul ia menguncinya. Di luar sana, ibunya berdiri, bersama dengan ayahnya yang memiliki raut muka yang Alucard kenali sebagai khawatir—dahinya berkerut, walau tak selalu nampak, ia khawatir. Miya juga di sana, wanita itu masih tersenyum dengan tas jinjing besarnya. "Halo, manis."

"Um… Mi-Miya…." ia ingin mengatakan pada wanita itu—Miya bisa dipercaya—kalau Martis menahannya. Ia tidak bisa berlari untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

"Aku mendengar apa yang terjadi dari ibumu." Katanya—Alucard merasakan Martis membenamkan taringnya pada kulit lehernya. Sakit. Sakit. "Duduk manis di sana dan tunggu aku kembali, ya?"

Miya kemudian meninggalkannya, demikian pula ayahnya, dan ibunya. Pintunya ditutup rapat.

Martis masih menyentuhnya—hentikan, hentikan, hentikan, tetapi ia tak berhenti. Martis mengangkat Alucard naik ke pangkuannya—menuai protes yang tak berarti baginya. "Mereka tak menyukaimu, Alu…."

"Bohong." Ia bilang, mulai tak memercayai pembelaannya.

"Menurutmu, mengapa Miya kemari? Miya bekerja mengurusi anak-anak bermasalah sepertimu—kau mau tahu kenapa? Karena mereka tak mau mengurusmu." Ia menyeringai. "Lihat, kan? Mereka tak menginginkanmu, kau tak menginginkan mereka."

Martis perlahan melepaskan Alucard saat dirasa anak itu tak melakukan perlawanan lagi. Ia terdiam—Martis masih tersenyum kepadanya, tangannya beristirahat pada punggung kecil Alucard. "Mungkin kau tidak bisa menemui Zilong lagi, kau tahu? Ibumu tak menyukainya, lagipula."

Itu—entah mengapa, membuatnya merasa sangat, sangat takut. Ia tidak bisa menemui Zilong lagi.

Karena ibunya.

(Seandainya ia tak ada.)

Napasnya tertahan. Ia… ia tidak bisa—ia merasa tidak bisa. Zilong—entah apa, emosinya selalu bereaksi dengan kuat bila nama itu disangkutkan dalam pembicaraan. Ia tidak ingin tidak bertemu Zilong lagi—imajinasinya ia biarkan bebas; ia membayangkan dirinya, kembali ke luar sana, melihat Zilong di taman, atau di konseling kelompok mereka—tetapi ia tak boleh menyapa atau menanggapinya.

Sesuatu dalam dirinya terpicu.

Ia tidak mau.

"Atau mungkin… ibumu memisahkanmu dari Zilong karena ia tidak peduli pada kebahagiaanmu." Martis tersenyum—sinis, predator; Alucard tidak mengenali keinginan itu—dan Alucard perlahan-lahan mulai menangis. Luka yang terbuka pada lehernya terasa ngilu. "Alu, tidakkah kau pikir kalau mereka menyebalkan? Mereka… selalu saja ingin mengatur hidupmu. Seolah mereka tahu apa yang kau inginkan."

Seandainya ia tak ada.

Seandainya ia tak ada.

Seandainya ia tak ada.

Martis tersenyum padanya. "Aku tahu yang kau inginkan—aku selalu tahu yang kau inginkan."

Pintu terbuka, dan Miya memasuki ruangan, ia duduk di sisi ranjang. Matanya lembut menatap Alucard, yang diharapkan memulai duluan percakapan mereka.

"Halo, Alu." ia menyapa, manis, seperti biasa. Tetapi Alucard mengingat ucapan Martis.

"Aku bisa membuat mereka semua menghilang, Alu." Martis berbisik padanya. "Tetapi kau yang harus melakukannya."

Alucard perlahan turun dari tempatnya. Ia pergi ke meja belajarnya, lalu membuka lacinya—di sana, dengan ujungnya yang berkilat sinis dan mata taringnya yang ditutupi oleh kain bernoda kecokelatan, ada sebilah pisau. Miya mengamati pergerakannya, tak mengetahui apapun.

Martis menyentuh tengkuknya, Alucard merasa tangan temannya melingkari bahunya, lalu ia menoleh ke arah Miya.

"Ada sesuatu yang ingin kau lakukan, manis?"

.


.

Alucard mendengar langkah kaki seseorang menyusup masuk ke kediamannya. Ia menjatuhkan pisau pada tangannya, lalu berbalik. Di sana, tak jauh dari pintu masuk, Zilong berdiri. Ketika melihat apa yang terjadi—dan Alucard di tengah-tengah, dengan tubuh ayahnya di bawah kakinya yang digengangi cairan kental seperti darah yang merembes keluar—Zilong segera berlari ke arah Alucard.

"Kau tidak apa?" ia mengecek kondisi temannya, yang segera memeluknya erat. Tubuhnya bersimbah darah—untuk sepersekian detik, Zilong pikir Alucard yang melakukan ini semua.

"Zilong… a-aku—"

Alucard yang melakukan ini semua.

Zilong ingin melepaskan pelukannya saat menyadari kemungkinan itu, tetapi pelukannya terasa amat sangat menyenangkan—ia merasa tenang, tak lagi memiliki amarah yang membakar hatinya. Ia merasa kalau Alucard adalah kunci yang dapat membuka slot hatinya yang terbakar selama ini.

"Alu…?"

"Ma-maaf…" ia menangis. Air matanya turun hingg Zilong merasakan bahunya basah—tetapi ia tidak keberatan. "Aku… aku tidak mau berpisah dari Zilong, jadi aku—"

"Alu, Alu… jangan khawatir." ia mendekapnya semakin erat. Alucard masih menangis. Zilong merasakan keinginan yang kuat untuk membantunya—membantunya. "Apakah Martis yang membuatmu melakukan ini…?"

Zilong tak melihatnya, tetapi Alucard mengangguk dengan kuat. Tangan anak itu mencengkeram pakaiannya, tangannya yang masih berlumuran darah. "Alu… tenang—aku… kau akan baik-baik saja. Aku disini."

Zilong terasa hangat.

Alucard memejamkan matanya, sesekali terisak—ia dapat merasakan tangan Zilong menahan posisinya agar ia tak terjatuh saat kakinya menyerah untuk menopangnya. Ia mengingat apa yang ia lakukan—mengingat tatapan kosong Miya yang seolah bertanya mengapa?—mengingat ibunya, menjerit pada dirinya. Ayahnya yang sorot matanya hangat dan kini mati, sama seperti Miya.

Ia mengingat semuanya. Dekapannya semakin dieratkan pada Zilong—ia tidak mau Zilong meninggalkannya.

"Ja-jangan pergi…." Bisiknya.

Temannya mengangguk lemah—tetapi tetap menjawab, tangannya menepuk punggung Alucard. "Aku disini, Alu…." katanya, lalu, "Aku tidak akan meninggalkanmu…."

Ia baik-baik saja.

Ada Zilong disini.

.


.

[to be continued.]


note: he-hewwo OwO

sebenernya martis disini rencananya mengambil rupa sepantaran alu—tapi saya ngerasa kurang sreg, karena kurang fun(tm). warning child grooming ada karena martis udah temenan sama alu sejak alu kecil. sesuai janji, semakin kemari semakin dark.

dan ah, saya bener-bener suka nulis dd jilong dan dd alu bermain bersama-sama:) seandainya ini fic normal fluff—saya gabisa berenti nulis mereka makanya interaksi mereka panjang dan kebanyakan ga penting disini huft untuk akhirnya, saya pengen nulis zilong dan alu kabur bareng, but u know, lets leave it at that.

walau rasanya ga penting, tapi miya sama martis niat awalnya selalu jadi semacem good/evil yang ngaruhin apa yang alu lakuin—well shes dead now (kenapa tiap ending chapter selalu miya yang terzalimi yalord maafkan saya)

uhhh ada lagi yang butuh penjelasan? ch4 bakal lama, mungkin. review? c:

—Jakarta, 22 Agustus 2018, 8:06 AM.