in ampulla pendere
(5: the sweet sound.)
disclaimer: mobile legends: bang bang (c) moonton.
warning(s): ooc. au. reincarnation/fantasy elements. ambiguous, non-linear narrative. insanity. implied chateracter death. implied self harm. drug abuse. implicit.
sinopsis: 5: zilong menemukan surat dalam rak di basemen rumah—pengakuan dosa; katanya, dibungkus manis dalam amplop cokelat besar. katanya: tuhan di surga, maafkan aku atas dosa yang akan kuperbuat.
note: judul chapter diambil dari "il dolce suono"—the sweet sound, aria dari opera lucia di lammermoor, gaetano donizetti.
note2: terima kasih dah baca, review, fav/follow etcetc—saya nerima kritik dan pertanyaan (balik kesini kalo ada pertanyaan untuk dijawab) maaf kalau ga sesuai ekspektasi, ngebingungin, ini itu gajelas—percayalah, idenya sebenernya bagus di kepala saya, tapi abal setelah saya tuangin (as per usual i guess). makasih untuk semuanya!
.
.
Ia selalu marah.
Sejak ia kecil, ayahnya selalu bilang kalau ia memiliki amarah yang meledak-ledak di hatinya. Ayahnya bercanda dan mengatakan mungkin sesuatu terjadi padanya di kehidupan sebelumnya, yang membuat amarahnya selalu membakar hatinya hingga ia tak mau membiarkan orang lain masuk untuk melihat seberapa parah api yang senantiasa melalap habis kesabarannya.
Hingga anak sialan itu datang.
Dengan bola mata biru cerah—terlalu, sangat cerah—hingga Zilong percaya kalau sesuatu dengan binar seperti itu bukan manusia. Zilong selalu merasakan jantungnya berdebar kencang saat anak itu meraih tangannya, tidak ingin ditinggalkan seorang diri dari konseling kelompok yang rutin mereka hadiri di rumah sakit, menunggu orang tuanya datang menjemput.
Orang dewasa bilang, ia memiliki masalah emosional yang membuatnya tidak dapat mengendalikan amarahnya. Zilong tidak peduli. Ia tidak tahu mengapa ia selalu merasa semuanya tidak penting. Ia memukuli anak kelasnya bila melihat ia menjahati anak pendiam di kelasnya. Ia mengeluarkan umpatan yang ia dengar dari orang dewasa di televisi, menghinanya hingga ia menangis lalu mengendus pergi setelah memastikan anak itu baik-baik saja.
Ia tidak peduli, tapi ia masih bertindak sesuai dengan impulsnya.
Ia seharusnya tidak peduli.
Entah mengapa—ia merasa ia seharusnya tidak peduli.
Hingga hari itu—ia berhenti tidak peduli. Pertama kalinya setelah sekian lama, menyaksikan anak itu bersimbah darah di rumahnya sendiri, dengan pisau yang jelas-jelas di tangannya. Ia melakukannya—Zilong, dengan instingnya tahu ia melakukannya—tetapi ia tak memiliki impuls untuk melarikan diri. Anak sialan yang seharusnya tak ia pedulikan—hanya satu lagi individu yang mampir dalam hidupnya; persona yang tidak penting dan akan segera berlalu—
Zilong tak melepaskannya.
Anak itu—Alucard, yang namanya sangat karib dan fasih ia ucapkan dengan lidahnya—menangis dan memeluknya. Zilong tidak peduli pada jaket favoritnya dan jins barunya—ia hanya peduli pada anak itu. "Alu, Alu… jangan khawatir." Ia mengeratkan dekapannya, bau amis menyapa hidungnya—pikirannya mulai berpikir tentang bagaimana caranya untuk menyembunyikan kebenarannya. "Apakah Martis yang membuatmu melakukan ini?"
Karena—siapa lagi? Alucard menceritakan tentang temannya di konseling kelompok mereka—Zilong mendengarkan tentang Maris, Metis, Marhits sialan itu. Zilong tahu semua orang dewasa ingin memonopoli segala hal; impuls yang kuat untuk mendominasi seluruh hal yang mereka temukan—tetapi teman Alucard seketika menjadi nomor satu untuk orang dewasa yang tak Zilong sukai.
Zilong membencinya.
Terlebih setelah Alucard disakiti di hadapannya, dan ia tak berdaya untuk menghentikannya.
"Alu… tenang—aku… kau akan baik-baik saja. Aku disini." ia berpikir untuk menyembunyikan Alucard ke rumahnya. Pakaian dan senjatanya dapat dengan mudah ia sembunyikan dan ia musnahkan dari permukaan bumi. Ia bisa melakukannya. Ia harus bisa melakukannya.
Ini hal mudah—ini untuk Alucard.
Mengapa ia sangat, sangat peduli pada anak yang baru ia kenal sejak lima hari lalu, mungkin? Mungkin ia harus menghubungi polisi—tetapi ia tidak mau orang dewasa memonopoli Alucard darinya. Ia tidak ingin Alucard pergi dari hidupnya seperti konselor pertama, dan keduanya, lalu ketiga, dan keempat—seperti temannya saat ia berada di prasekolah—seperti tetangganya jauh sebelum ia masuk sekolah—seperti… seperti ibunya.
"Ja-jangan pergi…." Ia berbisik, lirih—membuat Zilong merasakan hatinya pecah berkeping-keping. Isakannya membuat hati Zilong semakin mantap untuk membantunya. Zilong mengangguk lemah, larut dalam pikirannya. Tangannya yang lain menyentuh punggung Alucard, menepuknya lembut agar anak itu merasakan kehadirannya.
"Aku disini, Alu…." ia berusaha untuk tersenyum, "Aku tidak akan meninggalkanmu…."
.
.
Ia menghubungi polisi—melaporkan adanya upaya perampokan. Mereka tak menemukan senjatanya—mereka menganalisis pelaku lebih dari satu orang. Alucard beruntung selamat.
Selanjutnya, ia pikir ia bisa bersama Alucard—bila ayahnya mau menerima Alucard untuk tinggal bersamanya. Menjaganya dari pikirannya yang ingin menyakitinya.
Tapi Alucard kemudian dibawa pergi, dikembalikan pada kerabatnya hingga ia tiba pada usia dewasa untuk mengklaim warisannya. Zilong menggeram—ia menendang dan memukul semua orang dewasa yang berusaha menjauhinya dari Alucard—temannya pun ikut menangis, tangannya meraih Zilong—ia menarik Alucard pergi dari komite dan membawanya bersembunyi pada tempat yang ia sukai untuk sendirian.
Ini adalah ruang amannya—alam terbuka, hutan. Tak ada siapapun.
Alucard memandangnya dengan takut—mengapa ia takut? "A-aku… tidak ingin pergi." Katanya. Zilong mendekatkan tubuhnya pada Alucard yang sekujur tubuhnya gemetar. Zilong pikir hawa dingin, tapi bola matanya merefleksikan sesuatu yang lain—ia tak mempertemukan matanya dengan Zilong. Jari-jarinya menari kikuk di atas pahanya. "Zilong… aku… aku tidak mau pergi."
"Tidak usah pergi, kalau begitu." Balasnya. "Tinggal disini. Bersama-sama denganku—kita berdua." Ia tersenyum, "Kurasa kita bisa menjadi tim yang baik."
"Ta-tapi—"
"Tidak ada yang perlu melihat kita, Alu—hanya kita berdua." Ia setengah memohon—ia membutuhkan Alucard. Hanya Alucard yang ia percayakan hatinya. Ia meletakkan hatinya pada telapak tangan anak itu—dan ia tak mau melepaskan gandengan tangan mereka. "Kita bisa menyembunyikan diri kita dari semua orang, dan menjadi diri kita sendiri, bersama-sama, di suatu tempat."
Itu membuat Alucard tersenyum—hingga matanya mendelik, dan ia meringkuk dalam posisi duduknya. "Apa yang—"
Alucard menjerit, kesakitan. Zilong mengamatinya, berusaha memahami apa yang terjadi. Napasnya memburu dan keringat mulai mengucur dari dahinya. "Alu…?"
Anak itu menjerit, wajahnya memerah kala ia tersedak salivanya sendiri. Sepatah-dua patah kata keluar dari mulutnya dengan sulit, "Martis—aku—sakit… henti—"
Zilong menarik Alucard untuk berdiri dan kembali duduk—tapi anak itu terus memeluk perutnya, tubuhnya meringkuk kesakitan. Ia ingin sekali mengapus kesakitan itu dari Alucard—tetapi ia tak berdaya melawan imajinasi Alucard yang semakin hari semakin menjadi. Ia tak membantu Alucard untuk mengambil posisi duduk.
Ia ikut bertelut di samping Alucard, mengusap punggungnya hingga anak itu merasa baikan.
Alucard seharusnya merasa baikan—tapi ia tidak. Hingga rintihannya tak terdengar lagi, dan napasnya yang melemah menciptakan lampu merah pada Zilong, yang sigap membalikkan tubuhnya. Matanya melebar seperti bulan purnama melihat pakaian kawannya yang tercabik seperti baru saja diterkam oleh binatang buas—darah bersumber dari segala penjuru, membuat Zilong semakin panik.
Ia menggendong anak itu untuk kembali ke peradaban—memohon untuk bantuan dari orang dewasa yang harusnya bisa menolong Alucard.
Mereka menolong Alucard.
Zilong tak pernah bertemu dengannya lagi—kabar pun tak ada.
Alucard seolah menghilang ditelan bumi.
.
.
Setiap hari, ia berjalan melalui rumah itu—rumah yang terbengkalai termakan usia, tanpa penghuni. Sejak ia bersekolah hingga ia bekerja pun, ia memilih untuk berjalan kaki untuk melewati rumah itu, menangkap kehadirannya dalam periferal. Entah mengapa ia merasa seperti ia kembali pada apa yang seharusnya menjadi rumahnya, dengan bayangan seseorang yang mengisi kehampaannya.
Kadang-kadang ia merasa kalau ia melihat bayangan dua orang menari di dalam sana—mendengar suara parau seseorang yang memanggil namanya dan lantunan melodi musik lawas yang ayahnya amat sukai. Ia pikir ia gila—Zilong tahu ia gila. Ia memilih untuk tak membaginya pada siapapun, kecuali seseorang.
Seseorang yang saat ini berdiri di depan pagar rumah itu.
Mulutnya terbuka ketika melihat wajahnya—pucat, seperti hantu yang menghantuinya selama yang ia ingat. Bola matanya kusam seolah seseorang telah lama menenggelamkannya pada lumpur sehabis hujan. Rambutnya yang kusut—tetapi Zilong selalu mengenalinya dimanapun. Karena hanya ia yang ada dalam pikirannya selama bertahun-tahun lamanya. Ia ingin memanggilnya—Alucard, tanpa tanda tanya untuk meminta konfirmasi karena Zilong tahu pria itu adalah Alucard—tetapi mulutnya tak mengeluarkan suara, dan dadanya terasa sesak.
Pria dengan bola mata biru kusam itu menoleh—dan melihat Zilong. Matanya berkilat mengenali, tapi ia segera membuang muka, berpura-pura tak mengenal. Zilong merasa diabaikan—ia merasa tersakiti. Geram, ia berlari mendatangi pria itu, yang segera melangkah dengan cepat memasuki rumahnya. Zilong menariknya. "Alucard."
"Zi-Zilong?" ia balas bertanya—bukan, bukan balas bertanya, Zilong tidak bertanya. "Ma-maaf—aku… aku tidak boleh—denganmu—" matanya membulat, takut-takut melirik ke belakang tubuh Zilong yang mengintimidasinya—tubuhnya kecil, mungkin karena stress. Ia terlihat tak terurus dan tirus. "Bi-bisa kau lepas… aku…?"
Ia nampak tidak baik-baik saja—ia terdengar tidak baik-baik saja. Zilong berusaha tersenyum, tetapi melihat Alucard dalam kondisi dan situasi yang tidak baik-baik saja membuatnya ingin memeluknya, sama seperti hari itu. "Alu—aku merindukanmu."
"Aku… aku jug—ugh—maaf." ia terdengar tidak baik-baik saja—Alucard yang dulu ia kenal tidak pernah kesulitan berbicara. Gaya bicaranya sekarang terseret dan ia selalu tersandung karena beberapa suku kata yang seharusnya mudah dilafalkan. "Akuharuspergi—"
"Aku pernah berjanji untuk tak meninggalkanmu—"
"ITU JANJI MASA LALU, OKE?!"
Zilong melepaskannya—itu tidak ia duga. Alucard mengatur napasnya yang memburu. Zilong mengamati wajahnya yang nampak dilanda masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Alucard selalu meletakkan hatinya di tempat agar orang lain dapat melihatnya. "Maaf—kau bisa… melupakanku… aku… aku harus pergi—ia bilang aku tidak boleh—"
"Siapa dia?" mungkin bukan Martis—tidak mungkin Martis. Itu hanya teman imajinasi—semua konselor bilang teman imajinasi akan menghilang saat ia sudah dewasa. Zilong yakin usia mereka hanya terpaut dua-tiga tahun—tidak mungkin sejauh itu.
"Ti-tidak penting—selamat malam, Zilong—"
Ia menarik tangannya—lengan panjangnya ia gulung ke atas dan melihat luka panjang seperti sayatan di sekitar pergelangan tangannya, yang lainnya sudah tertutup dengan baik namun beberapa ada yang membiru dan terlihat masih segar. Hal itu membuat Zilong merasa hatinya turut tersayat. "Alu… kumohon—aku… aku merindukanmu. Kau bisa… kau bisa ceritakan apapun padaku."
"Tidak ada… yang bisa kukatakan padamu, Zilong." Ia membuang muka—isi kepalanya adalah pengulangan kalimat yang sama, bohong, bohong, bohong—membuat Zilong menariknya ke dalam pelukan. Alucard terkesiap—bukan karena terkejut, Zilong merasa tubuhnya semakin gemetar ketakutan. "Alu… kau bisa… percaya padaku… kumohon."
Sesaat kemudian Zilong merasa Alucard balas memeluknya—diselingi dengan isak tangis dan keluhan kesakitan yang berulang-ulang. "Aku butuh bantuan," katanya, memohon, putus asa—dan Zilong, untuk pertama kalinya, merasa ia mampu memberikan apa yang Alucard perlukan. Ia akan memberikan Alucard semuanya. "Aku tidak gila, Zilong..."
"Aku tahu, Alu." ia perlahan menurunkan tubuh mereka hingga ia bersandar pada pintu, Alucard dalam dekapannya, masih menguraikan air matanya sesuai yang hatinya inginkan. "Kau akan baik-baik saja—aku… aku akan menemanimu. Satu langkah kecil."
Zilong bisa melakukan ini.
Ia harus bisa melakukan ini.
.
.
Alucard tertidur di ranjang yang berlokasi di kamar yang seharusnya kamar orang tuanya. Ia tak mau kembali pada kamarnya sendiri—katanya baunya seperti kematian seseorang yang tak benar-benar dibersihkan sepenuhnya dari kesadarannya. Zilong mengirimkan pesan singkat pada saudarinya—yang tidak membalas dengan sarkasmu dan respon pintar seperti biasa. Ia membalas singkat, "Ok," dengan hawa yang menandakan kalau ia mengetahui cerita dibalik motif Zilong yang bermalam di rumah teman lamanya.
Ia mengetuk pintu kamarnya—dari dalam, ia mendengar Alucard menangis. Pelan-pelan pintunya dibuka. Alucard meringkuk di atas ranjang, ketakutan. Paranoia melahap habis fungsi kesadarannya hingga ia hanya mampu merasa ketakutan yang tak rasional. "Alu, hei? Kau membutuhkanku?"
"Pergi, Zilong—kumohon." Nada bicaranya netral—tidak seperti biasa. Zilong merasa kalau ia menyembunyikan sesuatu. Ia menyibakkan selimut yang menutupi Alucard, dan meraih lengan kawannya untuk memberi guncangan pelan. "Ja-jangan menyentuhku—ia… ia tidak menyukainya."
"Ia siapa, Alu?"
Suaranya tertahan. Zilong mendengarnya tersedak sebelum patah-patah mengeluarkan jawabannya; "Martis."
"Alu…." Zilong tersenyum simpatik—mungkin ia masih trauma. Trauma masa kecilnya yang tak cukup mahir merasionalkan kematian orang tuanya. Atau mungkin ia hanya takut pikirannya yang dulu kembali mengambil alih dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada orang tuanya. Mungkin ia dianggap bersih di mata hukum, tapi tangannya tak bersih dan selalu tahu apa yang telah ia perbuat. "Alu… aku tidak akan membiarkannya memaksamu melakukan apa yang tak kau inginkan."
"Aku tidak bisa mencegahnya—ba-bagaimana kau bisa—? Ia aku, Zilong—kau… kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri—kumohon, tinggalkan aku. Aku ingin mati—maaf. Aku ingin sendirian." Ia menunduk, menarik diri dan menyelimuti dirinya dengan ketakutan. "Biarkan aku sendirian."
"Aku tidak akan meninggalkanmu—aku sudah berjanji." Ia berusaha untuk tersenyum meyakinkannya, "Tidak bisa ditarik."
"Zilong… kumohon. Aku tidak ingin ia menyakitimu." Alucard mendesis, seperti merasa kesakitan, "Aku tidak ingin aku menyakitimu."
"Kau tidak akan." Ia memeluk Alucard, mengusap kepalanya berulang-ulang dan mendengarnya menangis hingga mengering. "Alu… kau sudah cukup menyakitiku—"
"Ka-kalau begitu lepaskan aku—"
"Tidak, bukan begitu—aku… kau harus mengerti kalau ada orang lain yang juga peduli padamu." Zilong menarik napas, ia melihat lukanya. Panjang, lebar—menyisakan bekas keunguan pada lingkar leher Alucard seperti seseorang rutin mencekiknya—tidak heran Alucard selalu terlihat seperti ia membutuhkan seluruh oksigen yang bisa diberikan padanya. "Alu… kau tidak perlu membawa bebanmu sendirian, aku—"
"Miya mati. Salahku. Salahku. Sa-salahku. Karena ia berusaha untuk menolongku—aku tidak mau kau juga—"
"Alu—dengar, aku tidak peduli pada kemungkinan konsekuensinya; aku hanya peduli padamu." Ia berusaha mengabaikan semuanya; luka pada lehernya yang semakin menggores naik, tangannya yang gemetar dan matanya yang tak bisa diam untuk menatap Zilong dengan semestinya. "Aku tidak mau kau menghilang lagi dariku—jangan tinggalkan aku."
Ia menangis meraung-raung hingga Zilong merasakan hatinya kelelahan terkuras habis mendengarnya. Emosinya terlalu banyak ia korbankan untuk Alucard. Tetapi hanya itu yang bisa ia lakukan hingga ia kembali pada fase dimana ia kembali merasa seperti sampah yang tak berdaya menghadapi apapun yang Alucard hadapi. Ia memeluk Alucard, erat, sebelum mendengar temannya bergumam—tak begitu koheren—"Aku… rasa aku… mencintaimu,"
.
.
Ia tidak tahu bagaimana mereka sampai ke situasi ini.
Tubuhnya terluka—baru dan lama, terobati dan tidak—Zilong mengeksplor semuanya dengan hati-hati seperti Alucard adalah sesuatu yang tak ternilai, saat Alucard merangkak naik ke pangkuannya. Tangannya memiliki warna kebiruan dan bekas jarum suntuk di beberapa bagian seperti huruf braille dan bintang di langit. Kadang-kadang matanya melirik ke lain tempat—kadang-kadang ia menahan pekikannya bahkan sebelum Zilong sempat melakukan apapun. Luka di sekujur tubuhnya terlihat seperti sayatan mata pisau dan cakaran sesuatu yang liar, juga bekas-bekas gigitan yang berkasnya masih terbenam di atas permukaan kulitnya.
Alucard mendekap Zilong erat saat ia mulai mendesah—dan Zilong, tiba-tiba merasa ketakutan saat punggung Alucard terkoyak karena udara. Luka panjang seperti seseorang mencakarnya tercipta, pelan-pelan turun dan kembali naik ke atas, berulang-ulang. Alucard mengaduh tapi ia tak berhenti menggerakkan tubuhnya diluar irama—Zilong memintanya untuk berhenti, tapi ia tak peduli. Ia terus menikmati apa yang seharusnya mereka lakukan, mengabaikan perasaan perih lukanya yang terbuka dan mengalirkan darah.
Zilong mengobatinya setelah itu—ia tak terlelap, menolak untuk terlelap. Berusaha sebaik mungkin untuk tak menyentuh Alucard. Ia bertanya-tanya—apa yang telah Alucard lakukan hingga sesuatu seperti ini dapat terjadi?
"Ma-maaf." ia memulai, merasa bersalah karena Zilong harus mengurusi lukanya usai mereka beraktivitas. "Martis… ia tidak… suka melihatku—dengan orang lain…."
"Kalau begitu kita tidak akan melakukannya lagi." ia berjanji—walau rasanya salah. Ia merasa momen itu adalah puncak hubungannya dengan Alucard—Zilong merasa familiar dengan perasaan yang Alucard berikan padanya. "Alu, kau bisa memintaku berhenti bila ia mulai menyakitimu karena aku melakukan sesuatu yang tak ia sukai."
Ia masih berusaha untuk membersihkan darahnya ketika Alucard berbicara, suaranya lirih, "Aku… aku tidak gila, Zilong."
"Kau tidak gila, Alu."
"Apakah kau nyata disini? Kau mungkin hanya di pikiranku—aku… aku mungkin sedang bermimpi."
"Alu… aku selalu di sini."
"Aku hanya—ah aku… aku tidak tahu mana yang benar-benar ada lagi—Zilong…." Ia membenamkan kepalanya pada bantal, meredam isakannya agar Zilong tak mendengar—tapi ia mendengar. Ia berhenti mengobati, tak ingin membuat lukanya sakit lagi. "Mereka bilang… Martis tidak nyata… tapi—apa yang ia… lakukan padaku… lukanya selalu… sakit…."
Zilong kembali mengobatinya—membiarkan hening hinggap di antara mereka. Membiarkan Alucard tahu kalau apapun yang ia katakan akan didengar. Zilong tak pernah mempertanyakan Alucard dan teman imajinasinya—entah mengapa ia tahu kalau Alucard mengatakan kebenaran. Ia secara insting tahu Alucard tak berbohong, tak peduli seberapa absurd itu.
Zilong tak pernah bertemu dengannya—tapi ia sudah amat sangat membencinya. Amarah yang ia redam dan ia letakkan di dalam botol di hatinya seolah ingin pecah dan meledak untuk menyakiti siapapun Martis ini—tapi ia tak bisa. Martis tak ada. Tapi Martis ada. Alucard bersamanya di neraka yang adalah kepalanya sendiri—Zilong tak berdaya untuk menemaninya di dalam sana.
Ia tidak mahir berkata-kata—ia meraih puncak kepala Alucard—tetapi ia mengingat Martis. Ia mengurungkan niatnya. Apakah Martis akan menyakiti Alucard bila orang lain yang menginisiasikan sentuhan? "Alu, apapun yang terjadi, aku akan bersamamu."
Ia ingin memeluknya—tetapi mengetahui bajingan seperti Martis yang meracuni rasional kawannya dan senantiasa menumpahkan neraka pada Alucard… ia memilih untuk tidak melakukan apapun.
Tidak adakah yang bisa ia lakukan?
.
.
Zilong menciumnya tetapi Alucard meringis kesakitan. Ia tidak menyukainya—tapi Zilong menyukainya. Zilong tak keberatan—menyaksikan mata itu yang balas menatapnya sayu hanya untuk berubah menjadi ketakutan yang amat dan tubuhnya yang mendorong Zilong menjauh darinya. Ia menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Ia membisikkan sesuatu, terdengar pasrah—ia menahan jeritannya dan melangkah dengan kaki gemetar menjauh dari Zilong.
Zilong berbohong kalau ia bilang ia tidak mengendap-endap untuk mengikuti Alucard melangkah ke kamarnya, membuka tasnya dan mengeluarkan plastik dan botol tinggi berisi obat-obatan yang dikenalkan untuk meringankan halusinasinya. Resep dokter.
Alucard menuangkan semua isi botol itu ke tangannya—Zilong bereaksi sebelum Alucard berhasil menelan segalanya. Ia menahan tangan pria itu dan menepuknya, menumpahkan tablet itu ke segala penjuru kamar dan menyisakan banyak hal yang perlu dibereskan—tapi ia tidak begitu peduli. Ia berusaha untuk menenangkan Alucard yang menolak untuk disentuh olehnya—"Kumohonkumohonkumohon—"
Tubuhnya yang selalu dihiasi oleh luka baru selalu membuat Zilong khawatir—waspada, namun juga khawatir. Ia tak dapat membedakan mana luka yang terbuka karena ketidaksukaan Martis dan mana yang Alucard gores ke atas permukaan kulitnya sendiri—Zilong selalu menemukannya di waktu yang tepat untuk melindunginya dari mata pisau yang dengan tangan gemetaran berada pada genggamannya.
Ia menemukan ketenangan saat Alucard berada dalam pelukannya—meskipun teleponnya terus bergetar di saku celananya dan e-mail yang senantiasa menanyakan tentang absennya dari kantor terus berdatangan. Zilong menemaninya hingga ia tertidur. Kemudian membaringkan tubuhnya pada ranjangnya—dan mengamati permukaan kulitnya. Zilong kadang memgompres lukanya dengan air hangat—tetapi bekas berwarna kebiruan tak pernah meninggalkan kulitnya.
Ponselnya bersikeras untuk diperhatikan—dan ia mendapati 12 panggilan tak terjawab dari adik perempuannya. Ia memutuskan untuk menelepon balik; sudah satu minggu lebih mungkin ia tinggal bersama Alucard. Ia ingin pulang, tapi ia tak bisa melepaskan perasaan kalau ini adalah rumahnya. Dan Alucard disini—poin bonus, kan? Mungkin Chang'e mau bertamu.
"Halo?" Chang'e memulai, ia merasakan adik perempuannya menjauhi ponselnya dari telinganya untuk melihat penelepon dan terkesiap, "Zilong! Kupikir kau sudah melupakan keluargamu!"
Zilong mengangkat sebelah alisnya, "Kau pikir?"
"Aku juga berpikir kalau kau sudah memulai keluarga baru dengannya—"
"Haha, lucu—"
"—tapi akhirnya kau menghubungiku!" ia memekik senang. "Jadi?"
"Jadi… apa…?"
"Apakah ia baik-baik saja?" suaranya melembut—Chang'e selalu tahu tentang Alucard. Zilong tak pernah menyembunyikan apapun pada adik perempuannya. "Kuharap iya, omong-omong—ingatkah saat aku kecil, kau tak pernah berhenti berbicara tentangnya?" kekehannya manis dan pertanyaannya bukanlah sekedar formalitas; ia benar-benar ingin mengetahuinya. "Kau pernah bilang padaku kalau kau seperti sudah sangat mengenalnya, dan kau ingin berteman dengannya."
Karena kala itu… ia merasa benar-benar sudah mengetahui Alucard. Benar-benar mengenalnya seperti ia mengenal dirinya sendiri—dan itu terjadi di hari pertama mereka. Zilong selalu memiliki perasaan seperti ia sudah mengenal Alucard seumur hidupnya—tapi ia tak pernah mengatakan itu pada siapapun. Ia tidak gila. "Ini sudah… berapa? 15 tahun? Ah! Aku ingin bertemu dengannya!"
"Tidak, kau tidak boleh." Ia membalas, tegas. Tidak memberikan ruang untuk Chang'e membujuknya, ia menambahkan, "Tidak sampai ia sendiri yang mau bertemu denganmu."
"Ohh, ia mengenalku?!"
"Ia mungkin masih mengingat apa yang kukatakan padanya—"
"Kau menceritakanku padanya?!" Chang'e memekik—Zilong menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk sesaat hingga pekikan saudarinya reda. Ia menghela napas.
"Kita bicara lagi lain waktu, selamat malam, Chang'e."
"Ini masih siang, Zilong! Jangan memot—"
Menyebalkan.
Zilong kembali ke kamar untuk mengecek kondisi Alucard—yang masih tertidur. Sebagian dari dirinya merasa lega melihat pria itu terlelap nyaman di atas ranjangnya. Ia mengampiri tasnya dan mengacak isinya—Zilong memisahkan berbagai obat-obatan dan botol-botol kosong dari dalam sana, ia menyisakan waktu untuk melarutkan semua obat-obat diluar resep dokter ke dalam air panas.
Uang ada dalam dompetnya—Zilong melihat beberapa kartu nama dan mengeluarkan ponsel Alucard. Seseorang dengan nama Natalia terus menerus meneleponnya. Bukan siapa-siapa, mungkin. Kemudian Natalia kembali menelepon, terus minta diperhatikan hingga akhirnya Zilong meletakkan bungkusan pil tidur dan yang lainnya ke meja terdekat, lalu menghubungkannya dengan Natalia. "Halo?"
"Kau bukan Alu." kata suara itu sesegera mungkin; skeptis. "Dia mati?"
"Siapa ini?" ia bertanya—bukan temannya. Pasti bukan temannya. Ia terdengar tidak begitu peduli. "Aku temannya."
"Temannya yang mana?"
"Zilong."
"Oh. Kau sungguhan ada?" suara itu bertanya, terdengar sedikit lega. "Bukannya aku peduli. Ia sering menceritakan tentang teman-temannya—kau yang paling sering. Dan Martis. Kupikir ia gila. Aku tahu ia gila; masalah di kepalanya terlalu banyak—aku tahu ia membunuh orang tuanya. Dimana dia sekarang?"
Zilong melirik Alucard yang berbaring di atas kasur, terlelap nyenyak—akhirnya mendapatkan istirahat dari penyiksaan yang ditimpakan atas dirinya karena pikirannya sendiri. "Tidur." lalu, "Maaf—kau siapa?"
"Natalia."
"Dan…?"
"Kau tak akan ember dan mengatakan pada siapapun?" Zilong tidak menjawab—ia mengangguk, yang pasti tak diketahui oleh lawan bicaranya. Wanita itu menghela napas. "Aku hanya temannya."
"Kau bukan temannya."
"Cerdas, Einstein." Natalia berdecak, ia mengembuskan napasnya lalu berkata, "Katakan padanya aku menelepon."
Teleponnya terputus (Zilong merasa kalau semuanya berlangsung terlalu cepat dan formal), dan Zilong segera menoleh pada Alucard yang masih tertidur. Ia memutuskan untuk tak mengatakan padanya—walau ia tahu Alucard akan tahu, cepat atau lambat. Zilong berdiri untuk pergi ke toilet; pil tidur dan berbagai obat-obatan yang kualifikasinya dipertanyakan ingin ia musnahkan. Ia mengisi wastafel dengan air hangat dan segera menuang seluruh isi obat-obatan itu ke dalam, menyaksikan objek padat itu melebur bersama air, berbuih.
Setelah selesai ia kembali ke kamar—mungkin ia harus tidur. Tidak banyak yang bisa dilakukan sekarang. Zilong sudah membersihkan rumah ini—berusaha untuk tidak mengingat-ingat apa yang terjadi di ruang tengah dan dapur. Ia menghela napas. Mungkin ia bisa tidur di sebelahnya.
Sebentar saja.
Ia bermimpi, tetapi rasanya lebih seperti sebuah ingatan.
.
.
Zilong terbangun dengan senyuman dan mata pisau yang mengarah pada lehernya.
Mimpinya terlalu menyenangkan untuk ia lewatkan—ia tidak ingat apa, tapi hatinya terasa seperti telah mendekap erat memori yang ia saksikan dalam mimpinya. Kalau bukan karena suara Alucard yang menjerit dan denting keras benda yang mengantam lantai, ia akan memilih untuk terus tidur. Ia memandang Alucard yang bersujud di sisi ranjang, tangan menutupi telinganya dan isakan terdengar kasar.
"Alu?" ia mengampirinya—tentu saja ia mengampirinya. Tapi Alucard bertolak dari sentuhannya. Zilong pikir mungkin Martis mengatakan sesuatu lagi. Ia tak meraihnya, tak juga mencoba untuk menenangkannya. "Alu—tenang, aku… aku disini."
Apa yang harus ia katakan?
Alucard tak membalas, cukup lama. Zilong berusaha untuk mengerti apa yang terjadi. Ia melihat pisau di bawah lantai—tapi ia tak sedikitpun merasa takut untuk turun dari kasurnya dan berdiri di hadapan Alucard. "Aku… aku disini… tidak apa."
"…bu-bukan salahku," ia berbisik.
"Bukan salahmu." Zilong membalas, yakin—walau tidak memahami apa.
"…Zilong… pergi."
Ia ingin pergi, tapi kakinya terpaku pada lantai tempatnya berpijak, matanya tak bisa melepaskan Alucard yang selalu menariknya kembali; ia tidak bisa meninggalkan Alucard. Ia tidak bisa merasakan amarahnya pada Alucard. Mudah, seharusnya—masalahnya ia tidak bisa. "Alu, aku tidak mungkin pergi; kau… kau akan menyakiti dirimu sendiri—aku tidak bisa tinggal diam dan sekedar menyaksikanmu."
Alucard menggumamkan litani—"diamdiamdiamdiam—"—lalu menelan salivanya, berkata, "Aku akan menyakitimu, Zilong—ia… aku akan membunuhmu—"
"Alu…."
"—seperti yang aku lakukan… pada mereka—"
"Dengar—"
"—dan pa-papa…." Alucard masih berbicara—menjanjikan kematian pada Zilong—mengatakan padanya kalau ia kemari ingin membunuhnya—"Alu, kau berhenti; kau tidak melakukannya."—Martis tak menyukainya; tak pernah menyukainya. Ia tahu Alucard mengatakan kebenarannya—cepat atau lambat, ia akan termakan ucapan Martis, lagi, dan kembali berusaha membunuhnya.
Tapi ia tak bisa pergi.
Ia mendekatkan dirinya pada Alucard untuk melingkari tangannya pada tubuh pria itu yang segera memeluknya juga—membenamkan kepalanya pada bahu Zilong yang bersedia. Seperti dulu.
Zilong tak menanggapi sesuatu transparan yang mencakar punggung pria itu, sekali lagi menyiksakan berkas panjang darah yang menyakitkan, merembes dari kaos yang ia kenakan.
.
.
Ia meminta cuti dari kantor—beruntung atasan divisinya saat ini adalah Freya, yang bersedia memberikannya waktu. Ia tak bertanya—tapi mungkin ia tahu. Chang'e pasti menceritakannya. Anak itu. Ia kembali ke rumahnya untuk mengambil pakaiannya beberapa hari silam dan memasukkan pakaian kotor mereka ke laundry.
Ia mengajak Alucard pergi keluar, yang segera dijawab dengan anggukan, matanya masih jera memandang Zilong. Ia mengajak Alucard untuk berbelanja. Semuanya baik-baik saja—Zilong mengambil bahan makanan yang diperlukan dengan Alucard yang mengekor di belakangnya, sesekali melepaskan diri untuk mengambil apapun itu yang ia inginkan. Ia selalu kembali.
Hingga tidak—dan Zilong berkeliling mencarinya.
Ia menemukan Alucard bersama seorang perempuan—yang, oke, agak mengkhawatirkan. Zilong merasa… apa? Marah? Ia tidak bisa merasakan amarahnya tertuju pada Alucard. Perempuan itu memiliki kesan seperti ia memiliki rahasia yang sangat besar; wajahnya dibayangi oleh tudung yang menutupi dahinya dan surai merah pendek yang sesekali nampak keluar dari tudung putihnya. Zilong memerhatian, berusaha untuk tak ketahuan.
"—aku ingin meninggalkanmu, tapi kau saudaraku." Katanya. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu setelah apa yang kau lakukan padaku."
"A-aku berusaha membunuhmu—!"
"Bukan salahmu. Aku tahu tentang orang tuamu—aku tahu tentang Martis… Alu, itu semua bukan salahmu."
"Aku membunuh mereka—"
"Dan kau melakukannya karena kau tahu itu harus dilakukan." Wanita itu meraih pipinya—Zilong masih menyaksikan semuanya. Keduanya nampak sudah saling kenal, wanita itu mengenal Alucard jauh lebih baik dari Zilong. Ia merasa kesal. "Aku memiliki banyak kontak dan… dan kau bisa mengatakan padaku apa yang kau inginkan—aku bisa membuatmu tak merasakan kehadirannya dalam kepalamu; membuatmu merasa sedikit baikan—apakah kau meminumnya? Itu—"
"Ti-tidak… semuanya hilang dari tasku. Maaf…."
Wanita itu menatapnya. "Apakah temanmu bilang kalau aku meneleponmu beberapa hari lalu?"
"Siapa…?"
"Zilong."
Ia memutuskan untuk mengampiri mereka—mendorong keranjangnya mendekat. Alucard menoleh ke arahnya dengan bola mata lebar dan wanita itu melemparkannya tatapan sinis. "Alu, sudah selesai?" wanita itu mendecih, lalu memutar tubuhnya dan melangkah cepat menjauh dari mereka. "Kau baik-baik saja? Siapa itu barusan?"
"Kita harus pulang, Zilong." Ia tak membalas, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat cepat. Alucard menarik troli dengan tergesa-gesa ke meja kasir. Zilong tak melawannya.
.
.
Mungkin Alucard tidak gila.
Mungkin Martis benar-benar ada.
Zilong ingin dengan segenap hatinya percaya bahwa Martis bukan hanya sekedar fragmen imajinasi kawannya yang enggan minggat dari pikirannya sejak ia kecil. Mungkin monster. Atau sesuatu lain yang lebih sinis—karena tidak mungkin Alucard melakukan apa yang terjadi pada dirinya. Roh gentayangan, mungkin.
Alucard adalah anak yang relatif normal saat mereka pertama bertemu. Agak pemalu. Semuanya normal—hingga kejadian di depan ruang kepala sekolah. Dan Alucard di ruang konseling yang bersikeras bilang kalau Martis tak suka orang lain menyentuhnya—konselor mereka beranggapan Alucard tak suka saat orang asing menyentuhnya, jadi tak ada kontak fisik dengan Alucard.
Roh gentayangan, mungkin.
Zilong pergi ke dapur saat hari sudah larut—ia berusaha untuk membuka pintu yang berada di dapur, dengan enam macam kunci yang menjaga kehadiran orang lain dari dalam ruangan itu. Mungkin ada sesuatu di dalam sana—sejarah tentang rumah ini, harapan Zilong. Dan siapa yang menghantui rumah ini—mungkin… Zilong bisa menghentikan siksaan yang Alucard alami dalam kepalanya.
Mungkin Zilong bisa berhenti merasa tidak berdaya, untuk pertama kalinya.
Ia hendak mencari kunci—tetapi kemudian mendengar suara bisik-bisik dari ruang atas. Ia menautkan alisnya—Alucard seharusnya sudah tidur. Alucard biasanya sudah tidur. Obatnya bekerja cepat, seolah berkomplotan dengan Zilong yang kadang menyaksikan dengan intens wajah tenang Alucard dalam lelapnya. Alucard tanpa wajah yang berkerut karena paranoia selalu membuat Zilong merasa puas.
Kakinya melangkah naik; ia tak menyembunyikan kehadirannya—karena ia adalah penghuni rumah ini juga. Siapapun di atas sana yang berusaha untuk mengganggu Alucard bukan penghuni rumah. Zilong berhak melakukan apapun pada mereka.
Suaranya bersumber dari kamar Alucard—Zilong merasa familiar dengan situasi ini, beberapa hari yang lalu. Alucard terbangun di tengah malam, berbincang dengan bayangan yang seolah mengancamnya untuk melakukan sesuatu yang tak ia inginkan. Hanya saja suara dari dalam ruangan itu terdengar jelas berasal lebih dari satu orang.
Suara seorang wanita.
Zilong membuka pintunya dengan cepat. Ia melihat wanita itu mengguncang tubuh Alucard yang sudah benar-benar tertidur, jauh. Wanita itu membelalakkan matanya, yang segera terarah pada jendela dengan kuda-kuda yang siap untuk melarikan diri. Tapi Zilong menahannya. "Tunggu. Jangan pergi. Kau mengenalnya?"
"Bukan urusanmu." Ia mendesis.
"Kumohon—kau mengetahui Alucard. Aku… aku juga ingin mengetahui segala hal tentangnya."
Wanita itu menatapnya, hingga ia membiarkan tubuhnya lengah dan menjatuhkan segala pertahanannya dari Zilong. Matanya melirik Alucard yang masih terjaga, lalu ia menghela napas. "Aku tidak bisa janji segalanya." Katanya, ia tersenyum kecil. "Kau tidak seperti orang jahat, sih."
"Siapa kau?"
"Aku Natalia." Ia melangkah mendekati Zilong. Natalia—yang namanya pertama kali Zilong kenali melalui layar ponsel Alucard—berjalan melewatinya. Pintu ia buka dengan perlahan-lahan. Zilong tak lama mengikutinya, masih waspada. "Dengar. Kau harus pergi menjauh darinya selagi kau bisa."
"Kenapa?" walaupun ia mau pun, Zilong tahu ia tak akan bisa melakukannya.
"Kau mungkin teman masa kecilnya tapi kau tahu tidak mengetahuinya sepertiku." Natalia balas. "Aku tinggal di panti asuhan yang sama dengannya—kami semua seperti saudara. Satu hal yang tak bisa ia berhenti bicarakan semenjak ia tiba adalah seseorang bernama Martis." Natalia menduduki tubuhnya pada sofa di ruang tengah—Zilong tak membiarkan matanya terpaku pada lantai terlalu lama.
"Awalnya lucu, kau tahu? Hingga ia terus melukai dirinya sendiri dan menyalahkan seseorang bernama Martis yang tidak ada. Orang tua asuh kami tak menyukai itu—mereka tak segan memukul Alucard bila ia menanggapi kehadiran Martis. Aku… aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kemudian orang tua asuh kami tak hanya memukuli Alucard, mereka juga memukuli kita semua—dan aku tahu mereka menyukai itu.
"Semuanya semakin parah, setelah itu—untuk pertama kalinya, aku merasa seperti aku bisa melakukan sesuatu hingga tuntas. Aku merasa ingin dan mampu membunuh kedua orang itu. Aku tak bisa berhenti memikirkan kematian mereka selama berada di sekitar Alucard. Ku-kurasa… sesuatu yang tak baik mengikutinya. Seperti roh jahat."
"Kau membunuh mereka?"
"Ti-tidak… sempat. Alucard lebih dulu membunuh mereka—kami senang. Baguslah, akhirnya mereka mati. Pikir kami." Natalia membuang pandangannya, Zilong melihat perasaan khawatir terkembang pada wajahnya. "Aku tahu, tidak seharusnya kami bereaksi seperti itu—tapi tak satupun dari kami merasa bersalah."
"Apa yang terjadi selanjutnya…?" ia bertanya—toh, tak ada salahnya. Ia sudah memalsukan bukti dan mengganggu investigasi polisi saat usianya sepuluh. Satu lagi tindak kriminal yang pelakunya ia ketahui tak akan menyakiti rekam jejaknya.
"Kami berusaha untuk membantunya—membuat Martis menghilang dari pikirannya." Natalia menghela napas. "Tidak ada yang bekerja—malah Alucard menjadi lebih sering menyakiti dirinya sendiri. Beberapa menyerah—tapi aku tidak. Aku berusaha untuk memberikannya sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya dari halusinasinya."
Zilong tahu apa yang ia maksud—obat-obatan itu sudah ia buang; tak baik untuk Alucard. Ia masih meminum resep dokter, tapi kalau halusinasinya sudah kelewatan, Alucard akan berlari pada obat yang diberikan Natalia, tak peduli kalau pemberian Natalia justru menghancurkan persepsinya terhadap realita. Alucard hanya ingin mencari pelarian.
Zilong mengenali itu—ia tidak karib dengan perasaan itu. Tapi ia tahu rasanya. Alucard adalah pelariannya—saat pertama mereka bertemu.
Ia menghela napas. "Tidak adakah yang bisa kulakukan…?"
"Tinggallah bersamanya—mungkin… mungkin itu lebih dari cukup." Ia menaikkan tudungnya. "Ia sering menceritakan tentangmu. Kau menyukainya?"
Zilong mengingat mimpinya, memandang orang yang wajahnya tak familiar. Mengingatkannya pada Alucard seraya berkata, "Aku mencintaimu juga."
"Ia temanku." Balasnya. Ia ingin bilang sesuatu yang lain. "Natalia… kau mau membantuku?"
Matanya melirik Zilong tajam, ia mendengarkan.
.
.
Natalia tertidur di atas sofa.
Ada sebuah buku, sampul kulit yang mengkerut dan bau busuk seperti daging kedaluwarsa. Jilidannya bergerigi. Natalia membuka buku itu dan meraba jilidannya—ia bilang rasanya seperti tulang punggung. Buku itu ditulis dengan tinta kecokelatan dengan alfabet yang tak pernah Zilong ataupun Natalia lihat sebelumnya. Mungkin ini buku terkutuk.
Zilong berpikir untuk membakarnya—mungkin apapun itu yang mengganggu Alucard sumbernya dari buku ini. Buku terkutuk. Tapi ia tak jadi berpikir untuk melakukannya saat melihat beberapa lembaran kertas dengan ujung kecokelatan terselip keluar, beberapa menempel pada buku itu. Ia melihat huruf yang familiar. Tangannya segera mengambil kertas itu.
Kertas itu adalah terjemahan dari isi bukunya.
Ia tidak dapat menemukan seluruh terjemahan untuk isi buku itu. Beberapa ada—beberapa lainnya menghilang. Buku itu mendetailkan cara untuk memanggil dan mengikat kontrak dengan perwujudan iblis yang dapat mengabulkan apapun itu. Instruksi tidak jelas—Zilong skeptis menanggapi buku itu.
Tidak mungkin.
Ia seharusnya menertawakan buku itu—tetapi ia merasa amarahnya menggebu-gebu. Keinginan yang kuat untuk menghancurkan buku itu. Sebagian dari dirinya tak percaya, tapi ia merasa kalau ia perlu percaya pada buku itu. Keinginan untuk menghancurkan dan memercayai itu sebagai kebohongan belaka—tapi ia tidak bisa, disaat yang bersamaan ia merasa kalau buku itu mengatakan kebenaran.
Ia juga menemukan surat—pengakuan seorang tanpa nama. Ia mengikat kontrak dengan iblis, akunya. Tulisnya; ia membayar dengan nyawa seorang anak kecil untuk menghidupkan seseorang yang ia cintai—Zilong ingin merobek surat itu dan menjerit. Ia merasakan keinginan yang kuat untuk menangis dan menyumpah-serapahi sesuatu, apapun itu.
Tidak adil untuk anak itu, aku tahu.
Tapi aku terlalu mencintainya.
Zilong kembali melirik buku itu—tidak, tidak mungkin.
Ia berpikir cukup lama—hingga akhirnya, akhirnya ia berhenti membalikkan halaman, dan berhenti pada sebuah kertas terjemahan yang jauh lebih usang dibanding yang lainnya. Ia mengintip isi amplop cokelat itu, berharap menemukan sesuatu yang lain. Hasilnya tak ada—isi amplop cokelat besar itu hanya secarik kertas ini. Usang.
Seseorang melakukan ritual untuk mengikat kontrak dengan iblis—dan iblis itu menetap di kediaman ini, lalu mengganggu Alucard, hingga hari ini. Masuk akal—kalau bukan karena iblis tidak nyata. Siapapun yang menulis ini… mungkin mereka pikir mereka lucu.
Atau mungkin ini sungguhan.
Kepalanya sakit—sesuatu menekan kepalanya seperti ingin menerobos keluar dan memperlihatkannya sesuatu. Jantungnya berdebar seperti ingin melompat dari dadanya, rasanya sangat familiar—ia merasa sesak. Ia tidak pernah merasa seperti ini.
Ia melirik Natalia yang masih tertidur di atas sofa, lalu kembali pada buku itu.
Ia tidak gila.
Tidak mungkin ia melakukan ini—tidak mungkin ia berpikir untuk melakukan ini. Tetapi yang tertulis dalam surat itu—apapun itu dapat mengabulkan keinginannya, apapun itu.
Ia hanya ingin Alucard kembali normal—tertawa, bebas dari ketakutan, seperti dulu saat pertama kali mereka bertemu, dan tanpa Martis.
Seandainya ia tahu apa harganya—ia akan segera mencoba tanpa berkedip.
Lagipula—tidak ada salahnya, kan? Gagal atau hanya bualan pun, ini tidak mengubah apapun. Kalaupun berhasil… ia bisa mengembalikan Alucard seperti sedia kala. Martis tak akan mengganggunya lagi. Atau mungkin—ia bisa membawanya ke gereja dan meminta orang suci (atau siapapun itu istilahnya) di sana untuk mengusir roh jahat yang adalah Martis.
Iblis, Zilong pikir, benar-benar menyebalkan.
Ia memutuskan untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Iblis dan hal-hal seperti itu bukanlah perkara kecil.
.
.
Orang suci datang ke rumah ini dan melakukan ritual penyucian—Zilong berusaha untuk tidak mengganggu dan memercayai kalau sekedar cipratan air dapat mengusir roh jahat. Natalia menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau tahu, ini tidak akan bekerja—kami dibesarkan di panti gereja. Alucard rutin mengucapkan doa dan bersentuhan dengan objek suci—dan seandainya iblislah yang benar-benar mengganggunya, iblis itu sudah terbakar sejak ia dibaptis."
"Tidak ada salahnya mencoba."
"Tidak akan bekerja. Percaya padaku."
Dan memang. Tidak ada pengaruhnya—Alucard masih menjerit tengah malam. Masih berusaha membunuhnya. Seperti biasa.
.
.
Ia berbaring di samping Alucard malam itu—ada sekat yang lebar di antara mereka. Zilong tak ingin menyakitinya. Ia ingin menyentuh Alucard, tapi ia tidak mau. "Alu, aku menyayangimu."
Alucard meliriknya, tapi tidak membalas—tidak apa. Zilong tak keberatan jawabannya ia simpan—membalas hanya akan membuat Martis kesal. Zilong tahu apa yang dilakukan oleh iblis itu saat ia kesal, dan ia tidak ingin Alucard kesakitan lagi.
Matanya terpejam tak lama. Napasnya teratur, ada decitan tapi Zilong berpura-pura tak peduli.
Ia ikut memejamkan matanya—menghitung sampai sepuluh sebelum duduk di atas ranjangnya. Ia melangkah keluar dari kamar, turun ke ruang tengah tempat Natalia duduk dengan buku itu di pangkuannya. "Kau… kau yakin ingin melakukan ini?" ia bertanya. "Aku… aku tidak religius atau kenapa—hanya saja… kau mungkin hanya akan memperparah situasinya."
"Aku yakin—"
"Aku akan menyakitimu bila kau malah memperkeruh kondisinya." Ia menyerahkan sebuah buku lain dari dalam tasnya. Sebuah buku yang jauh lebih baik dibanding buku yang Zilong temukan di basemen rumahnya. "Seseorang menjual buku itu di lelang. Harganya tidak murah; katanya buku itu ditemukan di rumah seorang penyihir gila yang bersekutu dengan iblis."
.
.
"Semoga kau beruntung."
Zilong meletakkan ampul itu di bawah lantai, nyaris isinya penuh dengan bahan-bahan yang ditulis dalam ikhtisar itu. Ia menuangkan anggur merah ke dalam sana, lalu mengucapkan mantra yang sama, berulang-ulang—hingga ia merasakan kehadiran orang lain dalam basemen rumah ini. Ia tidak sendirian. Zilong menoleh ke belakang.
Ia bertemu pandang dengan seseorang; rupanya seorang wanita, berkulit pucat memantulkan sinar rembulan, matanya berkilat sedih. Rambutnya tersapu angin yang tidak ada dalam ruangan ini. Wajahnya menggambarkan duka yang mendalam, tetapi kemudian ia bertanya, "Adakah yang kau inginkan dariku?"
Zilong memandangnya. Masih tidak percaya.
Ini—ini sungguhan.
Iblis itu memandangnya dengan lelah, matanya terang menyala dengan hiasan kepala menyerupai tanduk. Ia tak nampak mengerikan. Ia jauh lebih… normal dibanding apa yang Zilong pikirkan. Ia menghela napas, "Apapun itu… cepatlah." Katanya, "Aku masih harus pergi. Ia menantiku."
Dengan ini… mungkin Zilong bisa berhenti merasa tidak berdaya untuk membantunya.
.
.
[end.]
note: ini akhirnya. terima kasih telah membaca. maaf gantung dan amat sangat rushed. ide awal fic ini (selain karena pengen nulis smol alu) ada di chapter 3—bagian miya nanya ke alu kenapa doi dorong dia jatuh dari tangga, dan saya selalu pengen cerita ini berakhir dengan zilong yang pergi mencari jawabannya. alu ama zilong rasanya cepet bgt, tapi gpp ya—ini kan reinkarnasi:(
chapter ini paralel sama chapter 2 dan 4 (fifty-fifty jadinya) dengan situasi yang dibalik. saya pengennya hubungan mereka di sini jadi kayak "nyelametin satu sama lain apapun resikonya"—dan siklus itu bakal berlanjut sampai ga ada dari mereka yang tersisa.
dan maaf, alu. awalnya saya pengen bikin alu cuma rada 'eeeeh' setelah ngebunuh orang tuanya. tapi mengingat dia juga dibully(?) ama martis, dan dia yang kurang paham sama metode buat nanganin 'kelainannya' (dia mungkin 7-8? orang dewasa yang dia percaya mungkin cuma orang tuanya dan martis—dan jadi hanya martis setelah dia ngebunuh orang tuanya, dan doi pun ga punya niat baik), mungkin cara paling 'sehat' buat dia nanganin itu semua adalah dengan mencari pelarian lain—dan natalia memperkenalkannya dengan senang hati.
apa lagi yak—oh, tentang judul. diambil dari satyricon, dan ini terjemahan kalimat lengkapnya—I once saw the Sibyl of Cumae in person. She was hanging in a bottle, and when the boys asked her, "Sibyl, what do you want?" she said, "I want to die." judul chapter ini diambil karena il dolce suono adalah mad scene untuk opera yang disebut diatas.
(hell yeah drug dealer nat in this fic, very resourceful) sekali lagi makasih telah membaca!
(EDIT: 1: cerita ini niat akhirnya mau jadi back to square one ATAU never ending cycle—like idk, ouroboros maybe. jadi ya, zilong bakal mati, atau sesuatu diminta dari dia. natalia ada disini sebagai paralel miya dari chapter 2. pengennya mereka jadi star-crossed lovers:)
(2: angka romawi terjadi di masa lalu dan ada cuma buat konteks yang ngejelasin kenapa alu ngeliat apa yang dia liat sih (karena tanpa itu, mungkin ga ada chapter 4 yang ngejelasin apa yang sebenernya terjadi dan detail kecil/paralel/estetik dll itu ga mungkin ada penjelasannya jadi mungkin: anak kecil bertanya orang dewasa menjawab; ch2,4 ada buat ngejawab pertanyaan yang ada di ch1,3. ch5 ga ada lanjutannya karena beberapa hal tak seharusnya terjawab, termaksud nasib zilong dan alu selanjutnya /g). untuk akhir, saya gamau nulisin (...mungkin)
(anyway, ada yang pernah baca jigoku sensei nube? di komiknya, dia pernah ngidupin orang mati dari rangka yang dia temuin di gua karena dia terjebak di gua itu (lupa chapter berapa). tapi kemudian orang mati itu tau kalo dia sebenernya "dah mati" dari surat wasiatnya sendiri, dan dia kehilangan motivasi buat hidup (cmiiw), akhirnya dia kembali mati. itu outcome favorit saya untuk ch4; zilong mati lagi karena dia ngerasa bersalah/marah/syedich setelah tau apa yang alu lakuin buat ngidupin dia lagi (dan emosinya kebawa sampe hidupannya yang selanjutnya). sekian. makasih dah nanya loh:))))
—Jakarta, 29 Agustus 2018, 02:09 PM.
