Tsukuyo berhenti didepan kedai snack Otose dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari menuju tempat itu dengan perasaan cemas, gelisah dan khawatir. Kakinya masuk perlahan berharap ia menemukan jawaban dengan sesuai apa yang dia inginkan tapi melihat muka khawatir Otose semuanya menjadi sirna.

Dengan pelan Tsukuyo bertanya "bagaimana? Adakah kabar darinya?"

Perempuan tua itu hanya menghembuskan asap rokoknya dengan keras. Ia hanya bisa menggeleng pelan didepan perempuan berambut blonde itu.

Tsukuyo menunduk kecewa, tenggorokannya terasa kering, harus berapa lama lagi ia memendam perasaan kalut, khawatir, cemas tidak karuan dengan keadaan seseorang yang sekarang belum ada kabar dari misi menyelamatkan shogun atau yang biasa mereka panggil Sho-chan.

Pria itu sudah satu minggu tidak kembali bersama dua 'anak'nya, Kagura dan Shinpachi. Dan sejak satu minggu itu pula Tsukuyo meluangkan waktunya dari berpatroli di Yoshiwara dengan mengunjungi Otose, ibu angkat Gintoki.

Otose bisa membaca kegelisahannya dari raut wajah Tsukuyo dan melambaikan tangannya supaya menyuruhnya mendekat.

"Jangan khawatir, si idiot itu pasti baik-baik saja, dia sudah berjanji padamu kan kalau dia pasti kembali" Otose mencoba menenagkannya.

Tsukuyo hanya mengangguk pelan, ia menahan air matanya agar tidak keluar dari matanya, sejak kapan ia begitu mengkhawatirkan pria kriting itu, padahal selama ini pria itu hanya membuatnya kesal dan selalu melempar kunai kedahinya karena candaan bodohnya. Dan kini ia begitu merasakan kehilangan dan begitu merindukannya.

"Percuma kau berkencan dengan si bodoh itu, kau hanya membuang-buang masa mudamu!!" sahut Chaterine asal, perempuan kucing itu mulutnya selalu pedas kalau berhubungan dengan Gintoki tapi sebenarnya dia juga ikut gelisah.

"Catherine-sama!!" tegur Tama yang khawatir dengan Tsukuyo.

Catherine terjerembab kedasar lantai karena tendangan dari Otose setelah mendengar ucapan tidak berguna darinya.

Tsukuyo berdiri dan beranjak dari kedai.

"Kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih Otose-san" ucapnya tidak semangat.

Otose hanya memandangnya hangat "besok datanglah lagi kesini, seperti biasa"

"Tsukuyo-sama jangan khawatir, Gintoki-sama pasti baik-baik saja dan akan segera kembali" hibur Tama menyusul Tsukuyo yang sudah berada diluar.

Tsukuyo hanya tersenyum penuh harap kepadanya dan pamit.

Otose mengepulkan asap rokok dari mulutnya dan berujar "aku tidak menyangka dia begitu mencintai pria idiot yang selalu menunggak bayaran sewa dan yang menghambur-hamburkan uang dipachinko ckck" Otose hanya menggeleng-gelengkan kepala, Catherine hanya mendengus acuh seperti biasa dan Tama hanya tersenyum.

"Gintoki ku harap kau segera kembali dan jangan lepaskan perempuan itu" gumamnya dalam hati.

Keesokan harinya seperti biasa setelah rutinitas patrolnya Tsukuyo kembali mengunjungi kedai Otose untuk mengetahui kabar dari Gintoki. Dengan langkah terburu-buru tidak sabar perempuan bertubuh tinggi itu sudah sampai didepan kedai Otose dan yang membuatnya terkejut kedai itu seolah-olah tidak ada penghuninya, Tsukuyo gelisah berulang kali ia menggedor pintu depan kedai itu yang terkunci rapat, tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang bahkan tanda 'tutup' didepan kedai pun tidak ada. Tsukuyo memandang ke lantai dua kedai kediaman Gintoki berharap menemukan jawaban. Ia menaiki tangga tanpa mempedulikan betapa lelahnya dia dari aktivitasnya di Yoshiwara. Ia menggedor-gedor pintu penasaran.

"Gintoki!!!?" teriaknya gelisah sambil menempelkan telinganya kepintu berharap ada seseorang yang menyadari keberadaannya.

Berulang kali ia mengetuk pintu tapi tetap hasilnya nihil, dadanya terasa sesak, putus asa, perasaannya campur aduk, hatinya terasa terhimpit dengan kekhawatiran yang begitu besar dengan ketidaktahuannya tentang keadaan Gintoki, Tsukuyo menyandarkan dahinya kepintu pasrah, perlahan ia meringsut kelantai, perasaan gelisah membunuh dirinya, tak terasa air matanya pecah mengaliri dipipinya yang mulus.

Tsukuyo menghapus air matanya setelah beberapa lama mengeluarkan sedikit sesak dihatinya, surai perak yang terikat dijari manisnya mengalihkan perhatiannya, bibir mungilnya tersenyum teringat janji pria yang diberi julukan shiroyasha itu bahwa ia akan kembali. Tsukuyo bangkit dari duduknya, ia percaya karena pria itu pasti memegang janjinya, sebodoh-bodohnya pria parfait maniak itu pasti kembali.

Tsukuyo menuruni tangga berniat akan kembali lagi besok mungkin saja Otose dan yang lainnya sedang pergi ke suatu tempat, sebelum ia meninggalkan tempat itu ia melihat sosok Tama yang berlari ke arahnya dengan wajah yang tidak bisa Tsukuyo artikan. Meskipun ia robot tapi entah kenapa hati Tsukuyo merasakan hal yang berbeda dari biasanya dengan ekspresinya saat itu.

"Tsukuyo-sama!!" Tegurnya dengan ragu.

Wanita yang ditegur pun langsung menghampirinya "Tama-san kalian dari mana saja?"

Tama bingung harus memulai darimana "Tsukuyo-sama kau harus ikut aku sekarang!" Perintahnya yang membuat Tsukuyo mengerutkan keningnya.

"Ada apa Tama? Kita harus kemana? Ceritakan kepadaku ada apa!?" Desaknya melihat Tama yang gelisah dan cemas.

"Ikuti aku sekarang!!" Tanpa mempedulikan pertanyaan Tsukuyo, Tama menarik tangannya.

"Apa ada kabar dari Gintoki? Kau mau membawaku ketempat Gintoki kan???" Desaknya lagi mengikuti langkah Tama yang berlari.

Tama hanya diam tidak memggubris pertanyaan Tsukuyo untuk kesekian kalinya.

Melihat hal itu Tsukuyo hanya bingung dan memutuskan pasrah mengikuti Tama yang menariknya.

Sampailah mereka disebuah bangunan besar berwarna putih kental dengan bau obat-obatan dan orang yang sakit.

Tsukuyo terhenyak, perasaanya tidak enak, ia menolak apa yang pikirannya sekarang, rumah sakit? Bukankah itu tempat untuk orang yang sedang terluka parah. Ia tidak mau menerima kesimpulan dari dirinya sendiri, wanita itu merasakan firasat buruk dan perlahan melepas genggaman Tama yang sudah memasuki pintu depan rumah sakit.

"Tsukuyo-sama ..." Ucap Tama lirih.

"Apa maksudnya ini Tama? Kenapa kau membawaku kesini? Ja..jangan bilang Gin..toki"

Sadar, Tsukuyo sudah menyadari kenapa mereka sekarang berada diRumah Sakit Tama hanya mengangguk pelan.

Kaki Tsukuyo lemas, ia terguncang hebat, tubuhnya bergetar tak percaya, ia mencoba menstabilkan dirinya untuk mengikuti langkah Tama dengan kemampuannya yang tersisa. Dikepalanya hanya terlintas wajah bodoh tersenyum saat pria bermarga Sakata itu berjanji padanya, bahwa ia akan kembali dengan keadaan baik-baik saja untuk menenangkannya.

Diluar sebuah ruangan itu sudah berkumpul Shinpachi, Otae, Otose, Catherine, Kyubei dengan wajah menunduk sedih.

"Tsukuyo" ucap Otose.

Tsukuyo menatap lurus Shinpachi dan menghampiri Shinpachi yang duduk menunduk.

"Shin...shinpachi, katakan padaku dimana Gintoki? Kagura? Kenapa kalian semua berada disini" desisnya pelan kepada Shinpachi yang hanya diam.

"Tsukuyo-san maafkan aku..." desisnya sedih tetap menunduk.

"Gintoki!!! Gintoki dimana dia?!!" ucapnya menuntut jawaban dari Shinpachi, ia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.

Otae yang melihat Tsukuyo pun menyentuh pelan bahu perempuan yang masih terguncang itu untuk menenangkannya dan memeluknya erat.

"Tsukuyo-san, Gin-san masih diperiksa dokter didalam ruangan ini, percayalah dia akan baik-baik saja dia pasti akan bertahan untuk kita dia tidak mungkin semudah itu untuk meninggalkan kita" Otae menepuk-nepuk belakang Tsukuyo yang bergetar karena akhirnya pertahanan perempuan tangguh itu jebol dengan isakan air mata dipelukan Otae, kakak perempuan Shinpachi.

Tidak berapa lama kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan.

"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Shinpachi tidak sabar.

Pria tua itu menghela nafas "maafkan aku, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, aku tidak tau kapan dia akan bangun dan sadar Pria itu terlalu banyak menghabiskan darah dan bertarung melampaui batas dari kemampuannya, dia terlalu memaksakan dirinya, aku harap kalian keluarganya selalu berada disampingnya" ucapnya pelan dengan nada sedih.

Semuanya hanya bisa tertegun, Otae, Tama dan Otose menutup mulutnya tidak percaya dan bergegas menyusul yang lainnya menghampiri tubuh diam Gintoki diatas ranjang.

Tsukuyo yang sedari tadi hanya diam mematung perlahan melangkahkan kakinya gontai dengan sedikit tenaganya menuju tempat Gintoki yang tubuhnya penuh dibalut perban.

Matanya nanar menatap Gintoki yang terbaring diam dengan nafas teratur.

Ia meraih tangan besar Gintoki dan menggenggamnya erat seolah-olah takut dia akan pergi lagi meninggalkannya.

"Gintoki kau... Kau berbohong padaku!" Ucapnya lirih pelan sambil mengusap pelan sisi wajah Gintoki.

"Kau memang kembali tapi..." Tsukuyo mengambil jeda karena dia terisak "tapi aku tidak menginginkan kau yang seperti ini" lanjutnya menangis menggenggam tangan Gintoki menunduk menyalurkan harapan besar melalui tangannya.

"Tsukkiiiiiii...!!" Seorang gadis bersurai vermillion menghampirinya dan memeluk tubuh Tsukuyo erat.

"Tsukkiiii hiks...maafkan aku aru.. Aku .. Aku tidak bisa melindungi Gin-chan huuaaaa" pekiknya menenggelamkan wajahnya didada perempuan yang bisa dia panggil Tsukki itu.

Tsukuyo tersenyum hangat dan menggeleng membelai rambut gadis bercepol dua "bagaimana denganmu? Kau terluka? Kau baik-baik saja kan?"

Kagura semakin terisak mendengar pertanyaan Tsukuyo, Tsukuyo memeluknya, menguatkannya yang ia tahu dia tidak hanya terluka fisik tapi juga hatinya karena sosok Gintoki sudah Kagura anggap sebagai 'ayah angkat'.

"Kagura-chan sebaiknya kau istirahat, kau juga harus menyembuhkan lukamu, biarkan kami disini yang menjaga Gin-san" sahut Shinpachi yang ikut cemas dengan keadaan Kagura yang juga terluka, beberapa bagian tubuhnya juga dibalut perban.

Tsukuyo menatap mata Kagura yang berair dan memegang bahunya "Shinpachi benar Kagura kau harus istirahat, percayalah padaku aku akan menjaga pria ubanan idiot itu juga untukmu" ucapnya meyakinkan Kagura dan mengusap lembut kepala gadis itu.

Kagura mengangguk pelan dan tersenyum kecil, Tsukuyo mengantarkannya keranjangnya yang bersebelahan dengan Gintoki dibatasi dengan tirai.

Sebelum beranjak pergi Tsukuyo memegang lembut tangan Kagura.

"Percayalah dia akan segera bangun maka dari itu kau juga harus cepat sembuh ya?" Walaupun Tsukuyo sendiri tidak yakin dengan ucapannya sendiri tapi ia tidak ingin membuat Kagura khawatir lebih jauh lagi.

"Tidurlah" perintahnya "panggil aku kalau kau memerlukan sesuatu"

Perlahan Tsukuyo beranjak pergi dan kembali ke tempat Gintoki.

"A..anu Tsukuyo-san kami mau pergi dulu, Shinpachi juga sudah kelelahan" Otae pamit pergi pulang bersama Shinpachi .

Otose melipat tangan didadanya "aku juga harus pulang aku tidak bisa meninggalkan rumah dan harus membuka kedai untuk mencari uang karena tennen pamma ini sudah menunggak uang sewa beberapa bulan" Otose mendengus memandang Gintoki yang terbaring.

Tsukuyo hanya mengangguk dan menatap Gintoki sedih.

Otose menghembuskan nafasnya cemas, nenek tua itu meraih Tsukuyo dan memeluknya erat.

"Tolong rawat pria idiot ubanan itu, aku menyerahkan dia padamu, selama ini yang bisa meringankan bebannya, mengerti keadaannya, membuatnya kembali seperti 'manusia' lagi hanya dirimu Tsukuyo, percayalah aku yakin selama kau berada disampingnya dia akan berjuang untuk kembali padamu dan yang lainnya" ujarnya sambil mengusap punggung perempuan blonde itu lembut.

Tsukuyo merenggangkan pelukannya dan menatap mata Otose terharu.

"Terima kasih Otose-san, aku berjanji padamu aku akan selalu disampingnya"

Otose pergi bersama dengan yang lainnya mengangkat tangannya tanpa menoleh lagi.

Sejak mereka pergi Tsukuyo kembali duduk menatap Gintoki. Tangannya menggapai pelan rambut ikal itu lembut.

"Berjanjilah padaku Gintoki kau akan bertahan untukku..aku merindukanmu" Lirihnya dengan tersenyum getir dan menggenggam erat tangan Gintoki.

TBC