Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit akhirnya Kagura pun sudah bisa beraktifitas seperti biasa dia sudah sembuh dengan sedia kala, mungkin karena darah yatonya yang membuatnya cepat pulih daripada orang biasa.

"Tsukkii~~ kapan Gin-chan bangun aru?" Tanyanya pelan disamping Tsukuyo yang setia merawat Gintoki.

Tsukuyo menoleh dan menggenggam tangan Kagura "dia akan bangun Kagura, pasti!!" Jawabnya meyakinkannya.

Tsukuyo sedikit lebih baik sekarang semenjak orang-orang di sekelilingnya selalu menyemangatinya dan meyakinkannya, Gintoki tidak sepi pengunjung, pria Sakata itu memiliki magnet sendiri kepada orang lain walaupun tingkah idiot dan kepribadiannya yang cenderung konyol terkadang membuat kesal orang lain tapi kebaikannya selalu tertanam di setiap hati teman-temannya, bahkan teman berisiknya, Sakamoto Tatsuma yang jauh-jauh dari luar angkasa rela datang berupaya untuk membuatnya sadar dan Katsura Kotarou yang juga menyamar sebagai bajak laut ikut mengunjunginya.

Selagi dia bernafas pasti ada harapan kan? cepat atau lambat Tsukuyo yakin shiroyasha akan bangkit dari tidur lamanya, hanya itu yang ia yakini sekarang.

Sambil mengelap wajah dan tubuh atletis Gintoki yang tidak di bungkus perban dengan kain basah Tsukuyo bertanya "kagura, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?"

Kagura terdiam sebentar sebelum menjawab "kami bertempur melawan para naraku untuk melindungi shogun, naraku memiliki kekuatan yang sangat hebat aru, mereka banyak sekali...saat itu aku melawan bakaaniki! Gin-chan bertarung dengan teman seperjuangannya dulu di perang Joui aru,"

Wanita pirang itu mengernyitkan keningnya ia memang pernah mendengar seorang teman lama Gintoki selain Sakamoto dan Katsura, mungkinkah...

"Aku pernah mendengar sedikit tentang dia saat Kamui menyerang Yoshiwara dulu, namanya Takasugi Shinsuke kan?"

Kagura mengangguk " aku tidak menyangka aru... Gin-chan akan seperti ini, mereka bertarung mati-matian" kagura mengambil jeda sebelum melanjutkan "pria bernama Takasugi itu juga terluka parah seperti Gin-chan saat para naraku datang"

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran teman Gin-chan itu aru, aku dengar jalan samurai yang ia tempuh sangat berbeda dengan Gin-chan dan yang lainnya." tukas Kagura lagi.

Tsukuyo tidak pernah bertemu lamgsung dengan pria yang disebutkan oleh Kagura, dia adalah seorang pemimpin Kihetai, tapi yang bisa dia simpulkan adalah pria itu sangat berbahaya, Gintoki seorang shiroyasha yang sejak kecil tangannya sudah berlumuran darah sekarang terbaring lemah setelah bertarung dengannya.

"Selamat siang Tsukuyo-san, Kagura-chan " sapa Shinpachi yang masuk dengan beberapa bekal di tangannya diikuti dengan Hinowa dan Seita yang mendorong kursi rodanya.

"Hinowa kau ada disini?" Ucap Tsukuyo sedikit kaget karena melihat keberadaan Hinowa.

"Apa maksudmu Tsukuyo? Aku disini untuk menjenguk Gin-san" jawabnya lembut sembari menatap Gintoki yang masih berbaring.

"Ne Tsukuyo-nee bagaimana keadaan Gin-san? " ucap Seita ikut khawatir.

"Seperti yang kau lihat Seita, belum ada kemajuan sudah 3 hari dia tidur.." Balas Tsukuyo tidak semangat, mengingat Gintoki belum bangun Tsukuyo kembali merasa rapuh.

Hinowa mengusap pelan punggung Tsukuyo.

"Percayalah dengannya Tsukuyo, dia seorang shiroyasha dan our saviour dia tidak akan semudah itu meninggalkan kita"

Tsukuyo hanya membalas menggenggam tangan Hinowa.

"Aku membawakanmu baju ganti dan beberapa makanan, sebaiknya kau juga istirahat kau terlihat lusuh Tsukuyo" sarannya sambil menyerahkan barang-barang keperluan dari tangan Seita.

"Aku baik-baik saja Hinowa, jangan cemaskan aku" tolaknya halus saat Seita menyerahkan beberapa kotak makanan.

"Kau harus makan Tsukuyo kau juga harus menjaga kesehatanmu untuk merawat Gintoki" suruhnya lagi yang sangat khawatir dengan kondisi tubuh Tsukuyo yang memang kelihatan kurus dari biasanya.

"Tsukuyo-san ikutilah saran Hinowa-san, kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri kalau Gin-san tahu dia akan sangat marah padaku dan Kagura kalau melihatmu begini" timpal Shinpachi.

"Maaf Shinpachi aku baik-baik saja, kau jangan cemaskan aku" sahut Tsukuyo tetap keras kepala.

"Apa maksudmu Tsukki!!! Apa kau ingin terlihat sangat tangguh dan kuat dihadapan Gin-san!?" Sebuah suara tiba-tiba saja menyela percakapan mereka.

"Sarutobi!!" Pekik Tsukuyo melotot kaget melihat Sacchan yang tiba-tiba muncul dari tempat yang tidak mereka duga.

"Apa yang kau lakukan disana!!!" Tegur Tsukuyo dengan nada sedikit kesal.

kepala Sacchan menyembul dibalik selimut bagian bawah Gintoki. Pipinya sedikit merona.

"Ini bukan saatnya untuk bercanda!" Lanjutnya lagi.

Sacchan hanya menyeringai "heh berakting sebagai kekasih yang cemburu kah? Heii Tsukki kalau kau masih dalam kondisi seperti itu jangan salahkan aku kalau Gin-san akan berpaling darimu!"

"Gin-saannn cepatlah bangun dan berpalinglah padaku, kau tidak mau kan dengan perempuan tua kurus seperti dia.." Ucap Sacchan kearah Gintoki yang masih nyenyak dengan tidurnya.

"Sarutobi!!" Potong Tsukuyo.

Sacchan melirik dari ujung matanya "aku tidak melakukan ini demi kau Tsukki! Aku hanya melakukan apapun demi Gin-san! Ingat kau masih my rival! Aku tidak peduli kau masih kekasihnya, aku bisa saja merebutnya" katanya dengan tajam sebelum dia histeris memeluk Gintoki.

"Sacchan hentikan!! kau bisa membuat Gin-chan tidak bisa bernafas kalau kau memeluknya erat seperti itu" tegur Kagura memukul kepala Sacchan dan menarik tubuh wanita berambut ungu itu dari tubuh Gintoki.

Sacchan memanyunkan mulutnya "kau tidak harus memukulku Kagura!!"

Setelah itu tidak lama Sacchan pun pergi dari tempat itu. Tsukuyo menghela nafas lega, dia tidak begitu mempermasalahkan apa yang diucapkan Sacchan karena dia sudah terbiasa dianggap sebagai rivalnya tentang Gintoki.

"Tsukuyo-san kau tidak perlu memikirkan apa yang Sacchan katakan dia hanya terbawa emosi saja" sahut Shinpachi mencoba menetralkan suasana yang sempat sedikit panas antara Tsukuyo dan Sacchan.

Wanita blonde itu menggelengkan kepalanya mengangkat sebelah tangannya "tenang saja Shinpachi"

"Ya sudah Tsukuyo sebaiknya kau istirahat, pulanglah biar aku dan yang lain menjaga Gin-san" Hinowa membuka suara.

"Aku menolak saranmu yang terakhir Hinowa, aku akan istirahat disini saja. Tolong mengertilah dengan posisiku aku tidak bisa meninggalkan Gintoki" akhirnya Tsukuyo memutuskan untuk menerima saran dari mereka, bagaimanapun juga dia tidak berniat sedetikpun meninggalkan Gintoki jauh dari jangkauan matanya.

Hinowa tersenyum hangat dan menyerahkan apa yang ia bawa "Tsukuyo aku senang kau akhirnya benar-benar terbuka dengan perasaanmu walaupun kau tidak menampakkannya tapi aku bisa melihatnya dari semua matamu, aku benar-benar berharap kau bahagia dengan Gintoki dan aku yakin dengan ketulusanmu Gintoki akan bangun"

"Tsuukkiiiii, aku senang kalau kau yang bersama pria idiot itu aru!! Walau aku masih tidak percaya kau memilih pria tidak berguna yang tidak bangun-bangun itu aru " Kagura mendengus melirik Gintoki seraya merentangkan tangannya memeluk tubuh montok wanita didepannya seperti biasa.

"Hi..Hinowa apa yang kau katakan aku hanya..." Mendengarkan apa yang diucapkan Hinowa wajah Tsukuyo otomatis memerah padam.

Hinowa dan Seita tersenyum lebar melihat sikap Tsukuyo yang masih merasa malu kalau tentang berkaitan dengan Gintoki.

"Bagaimana dengan Yoshiwara Hinowa? Aku merasa tidak becus sebagai pemimpin mereka setelah meninggalkan mereka beberapa hari" nada bersalah disuaranya sangat terasa, disatu sisi Tsukuyo juga tidak bisa meninggalkan Gintoki, di sisi lain juga dia merasa bersalah karena membiarkan anak buahnya tanpa kabar.

"Jangan khawatir Tsukuyo-nee Yoshiwara baik-baik saja aman dan terkendali" sahut Seita mengacungkan jempolnya.

"Mereka tidak keberatan Tsukuyo mereka semua mengerti dengan keadaanmu jadi kau tak perlu memikirkannya.." Hinowa paham betul dengan sikap Tsukuyo yang selalu memikirkan Yoshiwara siang dan malam tanpa lelah. Lagipula semua anak buahnya juga sangat banyak dan kuat.

Tsukuyo merasa lega mendengarnya dan tiba-tiba saja Wanita pirang itu teringat sesuatu "Shinpachi bisakah aku meminta bantuan darimu?"

"Apa itu Tsukuyo-san?"

"Mmmm bagaimana aku mengatakannya ya?" Sahutnya agak ragu dihadapan pria muda berkacamata itu.

"Katakan saja Tsukuyo-san aku pasti akan membantumu"

"Begini aku memintamu untuk membelikan semua hal atau benda favorit Gintoki seperti susu stroberi dan beberapa volume jump terbaru, mungkin ini terdengar konyol tapi mungkin saja ini akan berhasil untuk membuat dia terbangun" jelasnya sedikit agak cengengesan.

Kagura menjentikkan jarinya dengan mata berbinar "kau benar aru! Pasti si idiot itu akan cepat bangun kalau ada susu stroberi disampingnya aru!"

Shinpachi mengangguk sebagai tanda setuju "baiklah Tsukuyo-san serahkan padaku!" Sahutnya semangat.

"Aku ikut megane!!" Seru Kagura sambil mendorong Shinpachi dan melambaikan tangannya.

Tsukuyo menghampiri pria perak yang berbaring itu dan mengusap pelan dahinya.

Melihat itu Hinowa menyentuh pelan Seita untuk beranjak pergi dari ruangan untuk memberi waktu buat Tsukuyo bersama Gintoki.

"Lihatlah Gintoki betapa mereka sangat mengharapkan kau untuk bangun... Hei Gintoki kau tidak merindukanku? Aku merindukan semua candaan bodohmu..." Tsukuyo berhenti sejenak masih betah dengan lembut membelai sisi wajah Gintoki " tahu tidak aku sudah lama tidak melemparkan kunai ke dahimu ini hihi" lanjutnya dengan tersenyum getir.

Tsukuyo memperhatikan irama nafas Gintoki dari dada bidangnya yang naik turun, wajahnya terlihat tampan dan menarik disaat ia tidur.

"Apa kau tidak berniat untuk bangun darling?" Tsukuyo tertawa lagi mengingat panggilan sayangnya saat mereka dulu masih dipengaruhi dupa misterius yang mana Gintoki memanggilnya dengan honey.

"Ingat Gintoki aku akan membencimu untuk selamanya kalau kau... hiks." Bahu Wanita bermata amethyst itu bergetar, ia terisak tidak sanggup untuk melanjutkan kata yang baginya itu tabu.

Air matanya pecah untuk ke sekian kalinya ia menangis disamping tubuh Gintoki seraya menyelipkan jemarinya erat di setiap sela jari si shiroyasha sang kekasih.

"Kau tau Gintoki... Ini pertama kalinya aku merasa serapuh ini... Ini pertama kalinya aku begitu merasa dicintai meskipun dengan cara bodohmu itu ..." Tsukuyo tersenyum seraya terisak "jadi tolong jangan tinggalkan aku.. Aku mohon bangunlah..."

Meskipun berulang kali Tsukuyo memohon, Gintoki tetap tidak bergeming, tidak ada gerakan. Alat monitor jantungnya tetap menunjukkan angka dan garis normal seperti awal ia dirawat.

Karena terlalu lama menangis tanpa ia sadari ia juga ikut tertidur disamping Gintoki.

-

"Tsuukkiii~~" teriak Kagura semangat hendak memasuki ruangan tapi Hinowa langsung memberinya tanda untuk memelankan suaranya. Sontak Kagura menutup mulutnya melihat pemandangan didepannya sosok Tsukuyo yang tertidur nyenyak disamping Gintoki bertelungkup dengan posisi masih duduk.

Terlihat beberapa langkah dibelakang Shinpachi yang kerepotan membawa beberapa kotak berukuran sedang ditangannya.

"Kagura-chan jangan berlari-lari di lorong Rumah Sakit saat orang-orang lagi dirawat" tegur Shinpachi yang disambut wajah malas Kagura.

"Megane berhentilah mengeluh aru! Dasar pemalas"

Shinpachi hanya menghela nafas panjang meladeni teman yatonya ini.

"Bantu aku membawanya ke dalam" perintahnya.

Kagura mendengus terpaksa menyambut sebagian barang pesanan yang disuruh Tsukuyo dari tangan Shinpachi.

Ia berjalan berjinjit supaya tidak membuat Tsukuyo terbangun tapi terlambat Tsukuyo sudah menyadari keberadaan mereka karena keributan kecil sebelumnya.

Wanita itu mengucek-ngucek matanya "kalian sudah datang?"

Kagura mengangguk "uh-huh Shinpachi sangat lambat aru"

"Kagura-chan itu karena kau yang terlalu lama berkeliling mencari sokunbumu" omel Shinpachi "ah Tsukuyo-san maafkan kami yang sudah membuatmu terbangun"

Tsukuyo menggeleng dan menyuruhnya untuk mendekat mengambil semua yang ada ditangan Shinpachi.

"Apa cara ini akan berhasil aru?" Tanya Kagura cemas.

Tsukuyo terlihat sendu "kita harus mencobanya Kagura, paling tidak kita berusaha, biasanya dia tidak bisa menolak susu stroberi kan" jelasnya dengan meletakkan beberapa bungkus susu stroberi dan jump di lemari kecil disamping ranjang Gintoki.

"Gin-chan! Gin-chan! aku kemarin sengaja menginjak koleksi figure Ketsuno Anna milikmu hueheh" ucap Kagura menyeringai lebar ke arah Gintoki dan menatapnya lama menunggu reaksi Gintoki, hal itu biasanya berhasil membuat Pria itu marah besar kepada Kagura kalau koleksinya dirusak.

Shinpachi menggaruk rambutnya yang tidak gatal "aku mengambil uang pachinkomu untuk membeli album baru Otsu-chan, Gin-san"

Kagura menepuk kepalanya.

"Baka megane! Gin-chan tidak akan percaya dengan kebohongan seorang straight boy sepertimu Patsuan!"

"Oii berhenti memanggilku seperti itu" gerutu Shinpachi yang jengkel dengan Kagura.

Beep beep beep

Sontak semua yang ada diruangan itu kaget mendengar bunyi dari alat monitor jantung yang terhubung dengan Gintoki. Alat pemantau tanda vital itu menunjukkan jantung Gintoki dalam keadaan abnormal.

Tsukuyo memucat panik.

Gintoko terlihat terbujur kaku dari posisinya, Tsukuyo limbung, bunyi dari monitor itu semakin membuatnya tidak karuan, ia terkesiap tapi tidak berapa lama kemudian beberapa dokter dan suster datang setelah Kagura melesat pergi memanggil dokter.

Dengan berupaya keras dokter memeriksa tubuh Gintoki dan memeriksa detak jantungnya yang berdetak sangat cepat .

"Suster siapkan defibrilator cepat!!!!" Teriaknya panik ke salah seorang suster.

"Ti..tidak!!! Tidak GINTOKI..!!!" Tsukuyo memekik keras, air mata sudah membanjiri wajahnya yang pucat suaranya terdengar sangat menyedihkan dan frustasi.

Ia berusaha menggapai tangan Gintoki yang lemas.

"Nona mohon tunggu diluar" perintah seorang suster yang memperhatikan Tsukuyo masih berada disamping Gintoki.

Tsukuyo menggeleng berusaha melawan dorongan suster itu yang menyuruhnya untuk keluar dari ruangan. Ia menatap kosong Gintoki yang terlihat kritis dan untuk kesekian kalinya tidak bergeming sedikitpun.

Suster yang lain dengan tergesa mendorong defibrilator mendekat ke arah dokter.

Dokter itu bersiap untuk memberikan energi kejut listrik ke dada Gintoki dengan besaran tertentu pada satuan joule untuk memungkinkan kembali aktivitas jantung agar kembali berirama dengan teratur dan normal.

Tsukuyo membeku melihat Gintoki yang terguncang karena alat kejut itu, hatinya terasa hancur dan teriris melihat orang yang disayanginya sedang berjuang hidup dan mati, matanya nanar, air matanya mengalir deras, suaranya pun tercekat ditenggorokannya meliat kondisi Gintoki sekarang.

Kagura ikut histeris disampingnya, Tsukuyo tidak peduli dengan suster yang sekarang masih berusaha untuk menyuruhnya keluar, dalam 'pergulatannya' dengan suster itu Tsukuyo berusaha menggapai tangan Gintoki.

"GINTOKIIII...!!!!" Teriaknya putus asa dengan tenaganya yang tersisa.

-

"Uh..."

Pria itu perlahan membuka matanya, iris crimsonnya terbuka, tangannya memijit pelipisnya yang terasa berkedut karena sedikit pusing.

Dengan wajah deadpan ciri khasnya dan tatapan ikan matinya ia mengamati sekelilingnya.

"Ouch ...!" Desisnya mengaduh saat mencoba mendudukkan tubuhnya.

"Aku dimana...?" Tanyanya bingung, ia celingukan memandang ke kiri dan ke kanan melihat keadaan sekitarnya yang terlihat gelap total.

Gintoki merasa asing di tempatnya sekarang.

"Urusai!! Tidur saja lagi" gumamnya acuh membaringkan tubuhnya.

Beberapa menit kemudian ia terbangun lagi sambil mengacak rambut ikalnya.

"Mendokusai! Aku tidak bisa tidur!! Tempat apa ini??" Keluhnya lagi.

Ia bangkit dari duduknya meskipun tidak tau mau melangkah kemana. Gintoki melangkahkan tungkainya tanpa tahu arah.

Tiba-tiba ia memicingkan matanya, sebuah sinar menyilaukan penglihatannya. Gintoki melangkah menuju cahaya tersebut.

Gintoki mengerutkan keningnya iris matanya menangkap sosok pria berambut panjang berwarna brown di depannya dengan senyum yang sangat tulus.

"Gintoki" ucapnya lembut dan tersenyum yang membuat matanya terpejam.

Gintoki terkesiap ditempatnya tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang.

Mulutnya terbuka mendesiskan sesuatu.

"Shou..Shouyou sensei...!" ucapnya tidak percaya dan terbata-bata.

Pria itu tersenyum lagi dan menjulurkan tangannya ke arah Gintoki. Sebuah ajakan...

To be continued

Note: maaf sebelumnya karena saya bukan anak kedokteran tp setelah browsing sebenarnya alat kejut jantung bukan ditujukan untuk membuat jantung yang berhenti berdetak (monitor ekg menunjukan gari datar) agar bisa kembali berdetak. Banyak orang salah sangka akan fungsi alat ini karena sering melihat gambaran yang salah di media film atau sinetron.

Merujuk ke nama aslinya "Defibrilator" berasal dari dua kata "De" yang berarti menghilangkan, dan "fibrilator" yang berarti getaran. Normalnya jantung manusia berdetak 60-90 kali per menit sehingga dapat memompa darah dengan adekuat jika beraktivitas bisa bertambah cepat hingga 150 kali per menit.

Nah kadang ada kondisi medis yang menyebabkan jantung berdetak sangat cepat, bisa lebih dari 200 kali per menit sehingga jantung tidak lagi memompa melainkan hanya bergetar saja (fibrilasi). Nah dalam keadaan inilah alat defibrilator akan digunakan dokter untuk me"reset" kelistrikan jantung sehingga diharapkan sehabis itu detak jantung kembali normal. Alat defibrilator tidak bisa digunakan pada jantung yang telah berhenti total (monitor ekg menunjukan garis datar) agar bisa kembali berdetak.

Source: http/kodomu.blogspot.co.id/2012/03/salah-kaprah-alat-kejut-jantung.html?m=1

Wkwk niat bgt saya browsing mohon maaf klo bnyak kekurangan haha niatnya mau bkin kya didrama2 gitu yg detak jantungnya terhenti haha..

Jd crita diatas fix saya ngarang seenaknya mohon dimaklumi

GIntoki: bilang aja lu bego thor, ga bsa bkin crita, modal nekat doang lu ini gw gmn mksdnya gw mati??? Gitu??

Me:

Arigatou yg udh bca, maaf klo g sesuai ekspektasi haha

maaf klo tulisannya kacau bahasa asing ga pke italic soalnya aku update di Wattpad dulu he :D