Warning: ooc, trs krn kekurangan ane jd ane kurang bisa mendramatisir keadaan hahaa
Maaf klo feelnya kurang bgt, ane hanya nulis amatiran
"Uh..." Rintih Gintoki dengan berat membuka matanya.
Kesadarannya belum benar-benar kembali seutuhnya, samar-samar ia melihat beberapa orang disekitarnya dan merasakan dirinya yang terbaring diranjang.
"Gin-chan!!!!" Pekik Kagura terharu.
"Syukurlah kau sudah siuman Gin-san!" Sahut Shinpachi lega pada pemimpin yorozuya itu.
" uh" erangnya ketika menggerakkan tubuhnya yang masih terasa nyeri.
Ia memijit pelan pelipisnya, ia merasa pusing ketika menoleh ke arah suara yang baru saja ia dengar.
Ia mengerutkan keningnya "aku dimana?" Tanyanya bingung masih blank dengan situasi sekarang, ia masih belum bisa mencerna semua kejadian yang dia alami.
Melihat kedua rekannya didepannya, raut wajahnya berubah menjadi lega "Kagura? Shinpachi? Kalian baik-baik saja kan?"
Kagura mengangguk cepat senang.
"Kami baik-baik saja Gin-san! " ucap Shinpachi yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
Gintoki terdiam sejenak. Mengamati disekitar ruangan itu dan sedikit mengingat apa yang baru saja ia alami entah itu mimpi atau nyata dia pun tidak tau.
"Tsukuyo? ...Dimana dia?" nada Suaranya terdengar cemas.
Senyum yang terpatri di wajah Kagura berubah sedikit sedih.
Dia mengisyaratkan Gintoki dengan menggunakan dagunya menunjuk ke arah pria itu sendiri.
Gintoki mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang baru ia sadari ternyata dia berada di Rumah Sakit.
Matanya menangkap sosok Tsukuyo yang berada disamping ranjangnya merebahkan kepalanya.
Gintoki tercekat, ia menggerakkan tangan kanannya tapi saat itu juga ia merasa tangannya digenggam erat oleh tangan Tsukuyo.
Mata ikan matinya berubah sendu menatap Tsukuyo, perempuan yang selama ini menjadi sumber kekuatannya dan menjadi salah satu alasan kenapa ia berjuang untuk hidup sampai sekarang. Hanya perempuan ini selain anggota Yorozuya dan baba yang bisa mengerti luka dan beban yang shiroyasha rasakan.
Ia membelai pucuk kepala Tsukuyo lembut dengan tangan kirinya dan memanggil namanya pelan.
"Tsukuyo..." Ucapnya sambil menggoyang bahu Tsukki pelan.
Merasa tidak ada respon Gintoki menggoyang bahunya lebih keras.
"Oiiii... Tsukuyo bangun!" Panggilnya panik karena Tsukuyo tidak menjawab panggilannya dari tadi.
Ia menepuk-nepuk pelan pipi lembut perempuan itu berharap ia segera bangun.
"Ooiii Pattsuan cepat panggil dokter, sekarang!!!!" Suruhnya.
Tidak berapa lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Tsukuyo yang sudah berbaring di sebelah ranjang Gintoki.
Dokter itu mendesah pelan "dia kelelahan, berikan waktu dia untuk istirahat.."
Gintoki mendengus lega.
"Ngomong-ngomong Sakata-san ini adalah sebuah keajaiban kau bisa siuman secepat ini, istirahatlah secukupnya supaya kondisimu normal kembali" saran dokter itu menepuk bahu Gintoki.
"Yeah.. Yeah" jawab Gintoki malas dengan asik mengorek-ngorek hidungnya.
"Oiiii tennen pamma syukurlah kau sudah sadar, akhirnya aku bisa menagih uang sewa darimu, cepat bayar sebelum kau ku usir!oh satu lagi kau juga harus bayar dua kali lipat ditotal dengan biaya kau di Rumah Sakit" Kata Otose ketus yang tiba-tiba saja datang setelah mendengar Gintoki siuman.
"Si idiot sudah siuman rupanya, tidak sia-sia perempuan pirang cantik itu selalu ada disampingnya" dengus Chaterine mencibir.
Dengan mata ikan malasnya Gintoki menatap kedua perempuan itu sambil melempar upilnya.
"Sheesshhh... oiiiii old hag tak bisakah kau menagih hutangku di lain hari, kau tidak lihat tubuhku masih terluka!! paling tidak kau lega aku masih hidup sekarang" ocehnya.
"lihat, dia baru saja bangun dan mulutnya itu mengoceh tidak bisa diam" dengus Otose ke arah Gintoki sambil menghembuskan asap rokoknya.
"oii oii baba ini Rumah Sakit! Kenapa kau merokok!" protesnya mengibas-ngibaskan tangannya menghilangkan asap yang menerpanya.
"peraturan itu ada untuk dilanggar Gintoki!!" sahut Otose acuh.
Nenek tua itu mengalihkan pandangannya ke Tsukuyo yang berbaring di ranjang.
"oii Gintoki kau harus berterima kasih pada kekasih blonde mu itu.." ujarnya serius.
Catherine mendengus mendengar Otose mulai berbicara tentang itu, ia memutuskan untuk pergi keluar.
Gintoki hanya diam menunggu apa yang akan diucapkan Otose.
Otose yang memiliki nama asli Terada Ayano itu menghisap rokoknya "selama kau belum bangun dia siang malam merawat dan mengurusmu tanpa kenal lelah, paling tidak kalau kau tidak bisa membalas kebaikan dan ketulusannya kau harus berterima kasih padanya, dia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sementara sebagai leader Hyakka hanya untuk mengurusmu..."
"uh-huh kuso baba benar Gin-chan Tsukki sangat mengkhawatirkanmu aru!!" timpal Kagura.
"kau lihat Gin-san, Tsukuyo-san juga membelikanmu beberapa dus susu stroberi kesukaanmu dan beberapa komik jump supaya kau cepat bangun" tambah Shinpachi.
Gintoki mendengus "harusnya dia memberiku banyak uang supaya aku bisa main pachinko!!" balasnya dengan sambil mengupil.
Kagura dan Otose langsung memberikan pukulan tepat di kepalanya.
Pria itu mengusap kepalanya sambil mendecak "oiii aku kan hanya bercanda!!"
"ya sudah aku pergi dulu kasian Tama membuka kedai sendirian, cepatlah pulih kau bodoh supaya bisa melunasi hutangmu!!"ucap Otose sambil melenggang pergi mengangkat sebelah tangannya.
"Gin-chan aku juga pulang aru!! Mau memberi makan Sadaharuuuu!!" ucapnya senang.
"kalau perlu sesuatu atau ada apa-apa panggil kami saja Gin-san..." ucap Shinpachi menyusul Kagura.
Satu persatu mereka pamit meninggalkan Gintoki yang masih duduk di ranjangnya.
Mata crimsonnya menatap Tsukuyo yang masih terbaring lemah disampingnya.
"ck damn woman.."
Perlahan Gintoki turun dari kasurnya dan membawa serta infusnya berjalan tertatih ke samping Tsukuyo. Dan mengambil kursi mendudukkan pantatnya.
Ia memandang muka pucat Tsukuyo dan mendengus pelan.
"dasar wanita keras kepala!! Kenapa harus memaksakan diri untuk merawatku, apa gunanya suster dan dokter disini kalau mereka tidak melakukan pekerjaannya!!" Gintoki mendumel sendirian.
"oi woman!! Cepatlah bangun!" katanya mendesak seolah-olah dia bisa membangkitkan Tsukuyo yang masih tertidur.
ia meraih tangan halus wanita itu yang lemah disamping tubuhnya. Mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Berusaha melakukan sesuatu agar wanita itu cepat membuka matanya, Gintoki merasa khawatir meskipun ia tidak menampakkan lewat muka malasnya.
Gintoki membawa tangan Tsukuyo ke wajahnya dan mencium punggung tangannya.
"oii bangun...!" Gintoki terlihat ragu membuka mulutnya ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal "aku... Aku mengkhawatirkanmu bodoh!!" walaupun sudah menjadi sepasang kekasih Gintoki memang masih sedikit canggung karena mereka sama-sama tsundere, mereka tahu perasaan mereka masing-masing tanpa harus mengucapkan secara gamblang, tapi dalam situasi seperti ini meskipun masih kaku tapi Gintoki tidak bisa menahannya karena melihat betapa lemahnya shinigami tayuu didepannya sekarang.
Gintoki merasakan sedikit gerakan dari tangan Tsukuyo yang berada di genggamannya, ia melihat keringat dingin membanjiri wajah Tsukuyo yang terlihat gelisah, mata Tsukuyo yang terpejam terlihat bergerak-gerak, cengkraman ditangan Gintoki pun semakin erat. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat karena nafasnya yang tidak teratur.
"GINTOOOKKKKIIIII...!!!!!!" Tsukuyo menjerit dan duduk terbangun.
"heiiii ... Ada apa? Aku disini..!!" sahut Gintoki panik dan memegang erat kedua tangan Tsukuyo menenangkannya.
Bola mata amethyst Tsukuyo melebar ia menatap Gintoki di depannya yang balik menatapnya, tangan kekarnya perlahan membelai surai pirangnya yang terurai.
"tenanglah.. Aku tidak akan meninggalkanmu Tsukuyo..." ucapnya meyakinkan wanita itu yang masih terdiam terpana menatap Gintoki.
Dengan spontan Tsukuyo memeluk Gintoki, ia tidak peduli dengan banyaknya perban melilit tubuh kekar pria itu, ia hanya ingin memeluk pria itu selama mungkin agar tidak pergi darinya lagi.
Awalnya Gintoki kaget tapi ia tersenyum di atas pundak Tsukuyo dan membelai punggung wanita itu. Ia merasakan basah di ceruk lehernya. Ia tahu wanita itu menangis terisak.
"kau bodoh...syukurlah kau sudah kembali Gintoki" rintihnya di leher pria itu "aku mencemaskanmu aku bermimpi kau... Kau pergi meninggalkanku bersama gurumu" lanjutnya lagi terisak.
Gintoki tertawa pelan "Gin-san tidak akan pergi sebelum 'menghajarmu'...Aww!!" erang Gintoki setelah dicubit Tsukuyo dilengannya.
"aku serius Gintoki!!!"
"aku juga..." guraunya.
Tsukuyo mengeratkan pelukannya dengan sengaja sehingga membuat iblis putih itu mengerang kesakitan.
"oiiii aku masih terluka terminator!!!" bisiknya di telinga Tsukuyo.
Mereka diam sesaat dengan posisi berpelukan saling membagi kehangatan, kerinduan dan kecemasan "aku susah bernafas Tsukuyo dadamu yang besar itu menghimpitku" keluhnya dengan suara datar membuat suasana yang intens itu menjadi buyar.
Tsukuyo yang mendengar gurauannya membuat mukanya merah karena malu ia merenggangkan pelukannya tapi tangan pria itu mencegahnya, Gintoki menyandarkan keningnya ke kening Tsukuyo. Jarak wajah mereka hanya beberapa inch saja, bahkan Tsukuyo bisa merasakan nafas hangat yang dihembuskan pria itu. Tubuhnya sedikit bergetar karena perlakuan Gintoki.
Gintoki memegang kedua sisi wajah Tsukuyo dan mata crimsonnya menatap lurus ke mata amethystnya.
"percayalah kau adalah orang yang juga yang harus aku lindungi lebih dari apapun, walaupun aku tidak ada disampingmu yakinlah kau akan selalu ada di hatiku Tsukuyo.." ucap Gintoki pelan.
Tsukuyo balas menatap lembut mata Gintoki, Kata-kata Gintoki seperti irama alunan lembut yang pernah didengarnya, air matanya mengalir di wajah cantiknya. Bahkan ia sendiri tidak percaya Gintoki bisa mengeluarkan kata-kata semanis itu.
Gintoki semakin mendekatkan wajahnya dan mencium airmata yang mengalir di pipi Tsukuyo, wanita itu memejamkan matanya membiarkan Gintoki bermain di wajahnya, ia mencium keningnya, turun ke kedua matanya, ibu jarinya menelusuri bekas luka diwajah Tsukuyo dengan hati-hati dan lembut seolah-olah wanita itu akan rapuh kalau disentuh , bibir pria itu mencium ujung hidungnya, ia terkesima dengan ulah pria itu, betapa sangat ia merindukan sentuhan pria itu selama ini, hanya dia yang bisa membuatnya bergetar dan menggoyahkan tekadnya sejak pertemuan awal pertama mereka... Pikiran Tsukuyo terhenti saat Gintoki mulai bermain di bibirnya, ia sedikit kaget saat bibirnya dilumat lembut olehnya, Tsukuyo hanya diam tidak berani membuka matanya karena wajahnya yang sangat dekat, Gintoki menggigit pelan bibir pink bagian bawah milik Tsukuyo menuntut supaya bisa mengecap rasa manis di dalam mulutnya, wanita itu mulai terbius dengan sensasi yang diberikan pria yang berambut perak itu di rongga mulutnya dan mulai membalasnya memperdalam permainannya. Tangannya mulai memagut leher Gintoki dan pria itu memeluk erat punggungnya. Cukup lama mereka bertukar saliva dan bermain lidah membuat keduanya kehabisan nafas, Tsukuyo melepas bibirnya dan menyandarkan keningnya ke pria itu menghirup nafas yang banyak berkurang dari ciuman panasnya dengan Gintoki.
Seringaian jelas terpampang diwajah Gintoki melihat wanitanya terlihat terkulai lemah dengan nafas terengah-engah kehabisan oksigen karena perbuatannya.
"sudah kuduga wanita Yoshiwara tidak ada duanya haha" candanya seraya merapikan rambut Tsukuyo yang menutupi wajahnya.
Wanita itu menampar pelan bahu Gintoki, sumringah.
"kau terlihat kucel seperti biasanya Tsukuyo..." celotehnya melihat penampilan Tsukuyo yang agak berantakan.
"kau juga seperti lapangan yang terbakar" balas Tsukuyo menyeringai mengejek.
"sheeesh jangan meledek rambutku...!!" sahutnya jengkel.
Wanita itu tertawa kecil dengan respon Gintoki, kalaupun Tsukuyo di beri pilihan, ia tetap memilih Gintoki dengan rambut ikalnya dan mata malas ikan matinya, ia mengacak rambut ikalnya gemas yang tentu saja sontak diprotes olehnya.
Mata ikan matinya mengamati tubuh Tsukuyo dari atas sampai bawah, sontak Tsukuyo menyilangkan tangannya ke bagian dadanya karena merasa sedikit risih.
Gintoki mendengus pelan "kenapa harus malu begitu aku bahkan sudah pernah memegangnya" ocehnya tanpa berpikir bahwa itu sesuatu yang sangat memalukan yang dilakukan seorang pria kepada wanita "tubuhmu tidak seseksi dulu, apa kau kurang gizi, huh!!?"
"diamlah!! ini gara-gara kau idiot!!!" ia menepuk pelan Gintoki lagi.
"berhentilah menamparku!! lukaku belum pulih, dasar terminator!!" protesnya.
Tsukuyo mengabaikan omelannya dan menatap sedih luka-luka di tubuh Gintoki yang semakin banyak tercetak. Ia menyentuh luka lama yang tertoreh di bahunya.
"kapan luka-luka ini berhenti bersarang di tubuhmu Gintoki?" tatapnya sedih masih menyentuh dan menelusuri setiap bekas luka akibat perang dan bertarung melawan musuh yang mengancam orang-orang terdekatnya.
Gintoki diam menikmati sentuhan wanita itu ditubuhnya "aku pun tidak tahu jawabannya Tsukuyo.." pria itu bisa membaca kekhawatiran yang tersirat jelas dari matanya.
Tsukuyo meraih tangan Gintoki dan bermain-main ditelapak tangannya mengurangi kegelisahannya setelah mendengar jawaban Gintoki.
"luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keselamatanmu dan yang lainnya, kau mengerti? Lewat luka ini juga aku bisa menghasilkan uang agar bisa menggaji dua bocah dan mengisi perut Kagura yang tidak pernah kenyang itu" dengusnya pelan sambil mengupil.
Tsukuyo mencibir "bukannya sering kau habiskan buat pachinko dan berjudi balapan kuda., huh!!?"
Gintoki tertawa dengan suara khasnya menutupi tuduhan yang ditujukan padanya walaupun itu memang benar.
Tsukuyo berdecak.
"tapi berjanjilah padaku untuk tidak membuatku khawatir lagi, kau tau aku selalu mengingat kata-kata nenek suzuran bahwa pria baik pasti akan menepati janjinya" lirih Tsukuyo yang sekarang tangannya digenggam kedua tangan besar Gintoki meskipun ia tidak bisa menepis rasa cemas dihatinya.
"aku sudah mengikat janjiku padamu, lihat?" ia menyentuh helaian pirang yang terikat dijari manis Gintoki "biasanya wanita dari Yoshiwara melakukan pertukaran janji cinta mereka dengan pelanggan 'cintaku hanya milikmu seorang, aku takkan pernah selingkuh darimu' dan seorang wanita akan mempersembahkan rambut, kuku dan darah sebagai bukti akan janjinya...aku tidak menganggapmu sebagai pelanggan Gintoki, kau orang yang sangat istimewa bagiku"
Gintoki menatap Tsukuyo dengan mata ikan matinya dan mengorek-ngorek hidungnya dengan jari kelingkingnya dengan wajah deadpannya.
"aku tidak mengerti..." sahutnya polos dengan wajah bingungnya.
Tsukuyo manyun mendengar jawaban Gintoki yang terlihat acuh dengan penjelasannya.
Dengan gerakan cepat Gintoki mencuri kesempatan mengecup pelan bibir Tsukuyo. Wanita itu sedikit kesal karena pria itu terlihat bermain-main dengannya.
"sudahlah yang penting aku sudah disini kan, tapi berkat ikatan janjimu aku berhasil kembali" sahutnya mengingat ia mengalami mimpi aneh selama ketidaksadarannya dan karena helaian pirang yang mengikat janjinya ia bisa kembali lagi.
Tsukuyo mengangguk dengan mata berkaca-kaca, ia menunduk memeluk erat tubuh Gintoki.
Pria itu membalas pelukannya dan mengusap-ngusap punggungnya.
"oi kenapa kau cengeng sekali hari ini?"
Gintoki menyeringai di balik punggung Tsukuyo.
"geez...ternyata kau sudah bertingkah seperti wanita sekarang.." godanya.
"oi oi..!" teriaknya setelah merasakan pukulan bertubi-tubi mendarat di punggung belakang yang tidak tertutup perban.
"berhenti menggodaku kau permhead!!" sahut Tsukuyo menutupi rasa malunya.
"buat aku seperti wanita Gintoki..." ucapnya pelan yang dia rasa pria itu tidak mendengarnya.
Gintoki tersenyum lebar "apa??? Aku tidak mendengar??" ucapnya berpura-pura dan mendekatkan telinganya.
Baru saja wanita di pelukannya membuka mulutnya saat itu juga ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"oh Tsukuyo-san kau sudah siuman.." sapa dokter yang sedikit kaget menatap canggung mereka berdua yang mendadak diam.
Dokter itu mendekat dan memeriksa kondisi mereka berdua.
"sebaiknya kalian berdua istirahat agar cepat pulih seperti sedia kala.." kata dokter itu.
Gintoki menggaruk-garuk kepalanya "yeah yeah baiklah.." balasnya berusaha bangkit dari duduknya dan kembali ke ranjangnya.
Pria berjas putih itu pun keluar setelah mengucapkan selamat malam.
Keheningan kembali mengisi ruangan mereka berdua, Gintoki memiringkan tubuhnya ke arah Tsukuyo di sebelahnya, ia menatap wanita itu yang terlihat gelisah terkadang menghadap ke kiri dan ke kanan.
"Tsukuyo...?" bisiknya.
"hmmmm...?" erangnya.
"kemarilah kau terminator..!"
Tsukuyo membuka matanya dan nampak bingung dengan ajakannya.
"Eh kau mau apa..??" tanyanya mengerutkan kening tapi menuruti perkataan Gintoki.
"Kemarilah, kau mau ku perlakukan sebagai wanita kan..?" jawabnya terkekeh.
Mendengar jawaban pria itu, Tsukuyo diam mematung mencerna kata-kata yang keluar dari mulut pria berumur 29 tahun itu.
Melihat Tsukuyo yang mematung Gintoki sedikit kesal ia menarik tangan wanita pemimpin Hyakka itu ke arahnya.
Wanita itu hanya terengah kaget, ia bingung harus berbuat apa posisi tubuhnya berada diatas tubuh pria itu. Wajahnya mulai memanas dengan apa yang dilakukan Gintoki berikutnya.
Gintoki tertawa kecil, ia memeluk tubuh berisi wanita itu dan membawanya ke dekapannya, ia meletakkan kakinya ke daerah kaki Tsukuyo, tangan kanannya berada di atas pinggang ramping wanitanya, tangan kirinya mengangkat dagu Tsukuyo pelan dan berbisik dengan suara beratnya.
"aku ingin tidur seperti ini dan memperlakukanmu seperti wanita.." lanjutnya menatap intens mata amethyst Tsukuyo.
"GINTOKKIIII..." pekiknya menahan malu.
The End
Note: jujur sebenernya mau dibikin Rated M ini endingnya tp ga jadi wkwk ...
maaf kalo ceritanya ga sesuai apalg dg keOOC annya haha ane kurang pinter mendeskripsikan suasana, merangkai kata-kata dalem, trus ga pinter nyusun kata2. ane modal nekat doang krn ane shipper garis keras Gintsu OMG ...
Btw klo ad yg baca makasih klo g jg gpp~~
Sannkyuuuu~~~~•
13-8-18
