My love begins with unlucky

Disclaimer: Furudate Haruichi

By: Step129807

Warning: Ooc, Ic, Typo

Explanation:

Flashback: ...

Falshback end: ...

Chapter 9

...

"Jika kau jalan menunduk begitu kau tidak akan melihat bintang loh..." sebuah suara seperti anak kecil namun lembut membuat ku terkejut. Aku berbalik dan melihat kau berada tidak jauh dibelakang ku.

"Sejak kapan kau disitu?"

"Apakah kau sangat frustasi hanya karena kalah?" bukannya menjawab kau malah balik bertanya pertanyaan yang membuat ku kesal. Aku tidak mau menjawab dan memilih kembali berjalan, ku lihat kau sedikit berlari untuk menyamakan langkah mu bersama ku. Aku pun memelankan jalan ku menyesuaikan dengan langkah pendek mu.

"Apa kau selalu seperti ini? Pulang terlalu malam itu tidak baik..." ujar ku namun kau sepertinya enggan menjawab.

"Bukankah tim bola voli putri pulang jam lima tadi... Tidak baik seorang perempuan pulang malam begini, Boge." entah mengapa saat bersama mu aku dapat berbicara panjang seperti ini, mungkin karena aku sangat nyaman bersama mu dan kita juga telah berteman dari kecil.

"Hanya kali ini aku pulang malam, untuk menghibur mu yang kalah dari senpai tampan mu itu."

Perkataannya membuatku kesal... Bukan, bukan karena kau mengatakan aku kalah.. Namun karena kau bilang Iwazumi-san tampan. Aku pun menatap langit dan terkagum-kagum melihat langit malam ini, aku pun menghentikan langkah ku untuk lebih lama menatap langit yang bertaburan bintang-bintang seolah-olah ikut menyemangati ku...

"Benarkan, kalau kau berjalan menunduk kau tidak akan melihat bintang..." aku pun menatap wajah mu yang sedang tersenyum lebar sehingga matamu menyipit.

Bagiku kau lah yang terindah...

.

.

.

.

.

Hari itu aku melihatmu menangis di dekat gedung gym tempat kami berlatih. Aku langsung medekati mu dan membawanmu kedalam pelukkanku.

"Kenapa kau menangis?" tanya ku, tapi kau hanya menggeleng, kau memakai baju ku untuk mengelap ingusmu.

"Jorok boge!"

"Kageyama..." suara mu yang serak karena menangis membuat ku merasa ikut sedih juga, dalam hati aku bertanya-tanya siapa yang berani membuat mu seperti ini namun aku akan menunggu mu sampai kau benar-benar berhenti menangis.

"Jadi, kenapa kau menangis seperti ini?" tanya ku saat kau sudah berhenti menangis.

"Aku..." melihat mu yang ragu-ragu aku pun berinisiatif membelai rambut orange mu, kau meremas kuat jaket hitam ku.

"Aku... Aku terancam tidak dapat uang jajan karena nilai ku jelek semua dan sebentar lagi ulangan tengah semester." teriak mu sambil menangis yang membuat ku speechless. Aku menaruh tangan ku diatas kepala mu dan langsung meremas sayang kepala orange mu.

"Sakit! Apa yang kau lakukan Bakayama!" aku mengabaikan teriakan mu dan terus meremas gemas kepala mu, siapa tau kau menjadi jenius karena remasan sayang ku.

"Apa yang kau lakukan Kageyama!" teriak Suga-san yang tiba-tiba saja berdiri tidak jauh dibelakang ku, mungkin ia hendak masuk ke gym dan melihat aku yang memberikan mu terapi kepala. Suga-san langsung bergegas berjalan ke arah kita berdua dan memukul tangan ku dan menatap ku seperti ibu-ibu yang memergoki anaknya tengah di bully.

"Hinata, apakah kepala mu masih sakit?" tanya Suga-san sambil membelai-belai kepalamu dan kau mengeleng-gelengkan kepala mu sambil meringkuk kedalam pelukan Suga-san kalian benar-benar terlihat bagai ibu dan anak.

"Suga-san, apa yang harus aku lakukan?"

"Ada apa? Apakah Kageyama melakukan sesuatu kepadamu?" tanya Suga-san sambil membuat gerakan meremas sesuatu dengan kedua tangan. Hey kau baru saja berpikiran mesumkan Suga-san?!

"Nilai ku jelek semua dan sebentar lagi ujian tengah semester, apa yang harus aku lakukan Suga-san?!" teriak mu sambil kembali memeluk Ibum- maksudku Suga-san. Suga-san, dia mengelap ingusnya dibaju mu! Kenapa kau tidak mempersalahkannya. Oi Suga-san ingusnya tambah banyak di bajumu!

"Kalau kau belajar sungguh-sungguh kau pasti bisa..." aku menatap wajah kosong mu yang diberikan senyuman malaikat oleh Suga-san.

"Tapi aku tidak pernah mendapatkan nilai dua angka selama ini..."

"Eh?"

"Eh?"

Kau terkejut dengan tanggapan Suga-san, yah itu memang parah sih... Aku bersyukur aku masih dapat dua angka pada nilai ku walau tetap harus mendapatkan kelas tambahan.

"Hmm! Jangan sombong raja, nilai mu juga jelek." nih orang kenapa tiba-tiba disini dan kenapa dia tau apa yang aku pikirkan? Dasar kacamata sialan.

"Diam saja kau mata em-"

"Tsukishima!" teriak mu yang langsung memeluk Tsukishima, dan itu membuat ku cukup cemburu tapi aku tidak dapat melarang karena ia juga teman kita dari kecil.

"-san... Tolong bantu aku belajar!"

"Tidak mau."

"Uaaaa! Pelitshima! Saltyshima! Kejamshima! Pelitshima!"

Kenapa kau mengatakan itu Tsukishima sialan! Sekarang ia tambah berisik bahkan ia mengataimu Pelitshima dua kali.
Kacamata sialan ini tiba-tiba menatap ku, ia pun mengeluarkan senyuman minta sleding kepada ku. "Boleh saja, tapi si raja ini juga harus memohon."

"Kenapa jadi aku?!"

Tangan Suga-san tiba-tiba saja menepuk bahuku, ia menatap ku tersenyum tapi aura yang dikeluarkan nya itu sangat tidak nyaman.

"Lakukan saja Kageyama, demi Hinata..."

Kau anak tirikan aku Suga-san!

"Mohon bantuannya..." Aku pun bersuara sangat kecil, aku tidak akan membiarkan ia besar kepala dengan permohonan ku.

"Huh? Tidak kedengaran..."

"Ayo yang benar minta tolongnya Kageyama." Aku menatap Suga-san seperti anak yang ngambek karena dipaksa meminta maaf kepada musuhnya. Kenapa aku jadi di bully begini sih...

Karena kesal aku mengambil nafas dalam dalam sebelum berteriak, "Mohon bantuanyaaaa, sialan!"

"Uaaa!" teriak Hinata dan Tsukishima.

"Kenapa kau teriak!"

"Kalian berisik banget sih, cepat latihan sebentar lagi dimulai!" teriak Pelatih Ukai dari dalam gym.

"Kenapa kau teriak!"

"Kalian berisik banget sih. Cepat kesini, latihan sebentar lagi dimulai!" teriak Pelatih Ukai dari dalam gym.

.

.

.

.

.

Tsukishima pun membantu Hinata belajar, bukan hanya Hinata... Ia juga membantu ku karena dipaksa Suga-san. Suga-san bilang kalau aku tidak belajar sungguh-sungguh, aku dipastikan tidak dapat mengikuti latihan tanding di Tokyo karena harus mengikuti ulangan tambahan, aku sangat senang saat melihat wajah dongkol Kacamata sialan ini waktu dipaksa Suga-san membantu aku belajar tapi aku sedikit kagum -meskipun aku tidak menunjukan rasa kagum ku pada kacamata sialan ini- walaupun ia terpaksa ia tetap mengajari aku dengan sungguh-sungguh, mungkin karena aku sudah berteman dengannya dari kecil.

Suga-san juga mengajak Hinata ke Tokyo kalau dia berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan saat ulangan nanti, dan untuk ijin ke Tokyo, aku tidak tau bagaimana ia mendapatkan ijin dari pelatih Ukai, Takeda-sensei, dan Daichi-san... Itu masih sebuah misteri.

The Power Mama Suga

Ini akan menjadi perjalanan keluar kota pertama ku bersama anggota club Karasuno dan ditambah Hinata, aku sungguh tidak sabar. Aku ingin sekali lagi melihat permainan setter Nekoma itu, bukan hanya itu aku juga tidak sabar bertanding dengan club voli dari sekolah Tokyo yang lain.

"Kageyama, apa kau mendengarkan ku! Bahasa Inggris mu payah banget..." suara Tsukishima yang terdengar kesal menghilangkan lamunan ku, ia memegang hasil ulangan harian bahasa inggris ku dan mengoyang-goyangkannya didepan wajah ku.

"Semua jawabannya ada semua dicerita ini, kenapa kau masih saja salah? Kau juga harus bisa mengingat beberapa kosa kata bahasa Inggris, dan juga penulisan bahasa Inggris mu salah! Yang benar itu 'The twilight sky' bukan The tewiligth sky!"

Aku pun membuang wajah tidak mau menatapnya.

"Kau pasti keburu-buru, kau harus mengerjakannya dengan tenang Kageyama-kun." ujar Hinata yang langsung aku tatap, ia terlihat terlonjak lalu pura-pura berani mengajak aku berantem.

"Kau juga sama Hinata, kau sama payahnya dengan Kageyama!" tegur Tsukishima yang langsung membuat gadis ini lemes seketika.

"Orang Japang tidak memerlukan bahasa Inggris!" ujar ku yang sepertinya membuat si kacamata ini kesal.

"Kalau begitu tidak usah ikut ke Tokyo!" balasnya.

"Kageyama..."

Aku langsung menatap Daichi-san yang menanggil ku dan melakukan hand signal dan bertanya kepadaku apa artinya.

"B Quick, A, C, serangan cepat setter, serangan kiri-belakang, D, sejajar, semi, right attack." aku tidak memperdulikan tatapan Hinata dan Tsukishima yang menatap ku aneh.

Daichi-san tersenyum mendengar jawabanmu.

"Berapa lama kau menghafal itu semua?"

"Kurang dari sehari..." jawab ku santai, namun tiba-tiba saja wajah dan aura Daichi-san sangat mengerikan sampai aku dibuat merinding dan ketakutan, "Itu berarti aku tidak akan membiarkan mu bilang kalau kau tidak bisa mengingat kosa kata bahasa Inggris itu." mendengar nada tegas Daichi-san semua orang diruang ganti itu terkejut dan takut.

"Ih! Aku tidak akan kalah dari Kageyama, aku juga mau ikut ke Tokyo!" teriak Hinata yang sepertinya rasa takut kepada Daichi-san sudah hilang.

Dan seharian itu aku dan Hinata hanya menghafalkan kosa kata bahasa Inggris yang sudah disusun Tsukishima.

.

.

.

.

.

Aku menatap langit senja yang sedang diguyur hujan, aku memegang payung berwarna biru ditangan kanan ku. Aku menunggu mu didepan pintu masuk sekolah sejak setengah jam yang lalu. Aku menunggu mu karena aku tau kau pasti tidak membawa payung dan menilih pulang hujan-hujanan, aku khawatir kau akan sakit dan mengganggu kegiatan mu nantinya apalagi sebentar lagi ulangan tengah semester.

Kau pasti sedang asik berbicara dengan teman setim mu hingga lupa waktu, seharusnya setengah jam yang lalu kegiatan latihan bola voli mu sudah selesai. Aku menguap bosan menunggu mu, harus berapa lama lagi aku menunggu mu. Namun saat ingat apa yang terjadi seminggu yang lalu saat kau menunggu ku pulang sampai larut malam membuat ku berhenti mengeluh dalam hati, pasti kau lebih bosan menunggu ku waktu itu.

"Eh, Kageyama?" suara mu membuat ku sadar dari lamunan ku.

"Lama sekali kau boge, ayo pulang... Aku antar kau sampai kerumah."

"Wah! Kageyama-kun kau tau saja aku tidak bawa payung..." kau memberikan aku senyuman yang dari dulu aku sukai, aku

rela melakukan apapun asal dapat melihat senyum itu...

Senyuman bahagia mu yang sangat manis...

Sepanjang perjalanan menuju rumah mu, kau selalu menceritakan cerita yang sudah beberapa kali kau ceritakan kepada ku, namun aku tidak pernah bosan mendengar semua itu dari mu.

"Kageyama, kalau nanti nilai ulangan mu jelek jangan nangis yah." ujar mu dengan nada mengejek.

"Apa kata mu, Boge!" kau menutup mata mu saat aku meletakkan tangan ku diatas kepalamu. Kau sepertinya menduga aku akan meremas kepada mu.

"Kau juga... Jangan sampai nilai mu jelek. " ujar ku sambil mengelus kepala orange mu, aku memberi kan senyuman terbaik untukmu tapi kau menatap ku sambil mengerutkan wajah mu.

"Kau kenapa Kageyama-kun? Tiba-tiba senyum begitu, apa kau mencoba meniru Suga-san lagi? Mengerikan tau..."
Aku pun merubah elusan ku menjadi remasan dikepalamu, siapa tau kau menjadi lebih pintar.

.

.

.

.

.

Pengumuman nilai ujian sudah dimulai. Aku duduk dengan gugup menunggu Ono-sensei yang membagikan lembaran jawaban ulangan bahasa Inggris kami.

"Naruto."

"Sasuke."

"Shikamaru."

Semakin Ono-sensei memanggil teman kelas ku semakin aku merasa gugup.

"Gintoki."

"Hijikata."

"Sougo."

"Kondo."

"Karamatsu."

"Handa."

"Eren."

"Erwin."

"Levi."

Sebentar lagi nama ku akan dipanggil.

"Bakugou."

"Dan terakhir..."

Ono-sensei pun menatap ku, aku tidak tau apa maksud dari tatapannya itu. Apakah nilai ku bagus atau tidak? Raut wajah Ono-sensei tidak terbaca sama sekali.

"Kageyama..." Ono-sensei memanggil nama ku, aku berjalan kaku ketempatnya.

"Kageyama, aku tau selama seminggu ini kau berusaha untuk tidak tidur dikelas, aku juga tau kalau kau sebentar lagi ada latihan voli di luar kota." Ono-sensei menyerahkan selembar kertas ulangan ku.

"Selamat nilai mu bagus, kau tidak perlu mengikuti ulangan tambahan lagi."

Aku pun tersenyum bahagia yang membuat teman satu kelas ku terkejut. Mungkin mereka pikir aku hanya bisa membuat senyuman yang mengerikan.

"Kageyama!" aku mendengar suara Hinata yang memanggil ku. Aku berbalik untuk menatap si pemilik suara. Ia terlihat bahagia, mungkin nilainya juga bagus.

"Kageyama, ayo kita bertaruh nilai siapa yang paling tinggi!"

"Siapa takut..."

"Yang lebih rendah harus mentraktir bakpao daging! Hitungan ketiga ucapkan bersama-sama yah..."

"1."

"2."

"3."

"60/65."

Aku tersenyum melihat ekspresi wajah kesal mu.

Aku menunduk dan berbisik ditelinganya.

"Aku tunggu bayarannya saat pulang nanti."

.

.

.

.

.

"Apakah itu Tokyo Tower?!" suara Hinata yang kelewatan semangat membuat ku tertarik dengan objek yang sedang dilihatnya.

Wow itu Tokyo Tower yah?

"Itu hanya menara pemancar biasa." ujar Tsukishima dengan nada malasnya menjawab pertanyaan Hinata.

"Jadi itu bukan Tokyo tower..." gumam ku pelan.

Aku pun mengalihkan perhatian ku kepada Daichi-san yang sedang bertengkar kecil dengan Kuroo-san dan Suga-san yang terlihat malu, tidak lama kemudian Hinata terlihat mendatangi Kuroo-san seperti menanyakan sesuatu, itu kenapa Kuroo-san senyum sok ganteng banget didepan Hinata? Dan kenapa sekarang ia pundung sendiri? Pasti karena Kuroo-san dibully Suga-san dan Daichi-san. Samar-samar aku mendengar mereka mengejek Kuroo-san sok ganteng.

.

.

.

.

.

"Muntah! Muntah!" teriak Bokuto-san yang mengejutkan semua orang dalam gedung gym yang sedang kami pakai berlatih ini.
Kuroo-san mendatangi Bakuto-san yang masih teriak-teriak gaje didepan pintu.

"Oi ada apa?"

"Muntah! Karasuno muntah! Pingsan!"

"Tenangkan dirimu, tarik nafas dalam-dalam... Keluarkan." ujar Suga-san menenangkan.

"Jadi kenapa Karasuno muntah?" tanya Kuroo-san yang melihat Bokuto-san sudah membaik. Aku pun ikut mendekati Bakuto-san yang sedang digerumbungi oleh tim Nekoma dan Karasuno itu.

"Prempuan berambut orange baru saja memuntahi ku..." ujar Kenma yang kebetulan lewat sambil membawa kantongan plastik yang dapat dipastikan kalau itu baju yang dimuntahi Hinata, aku sih tidak terkejut karena dari dulu dia memang suka mabuk darat.

"Eh, lalu dimana Hinata? Oh, anak ku yang malang!"

"Ruang kesehata-" belum selesai Kenma menyelesaikan perkataannya Suga-san sudah terlebih dahulu berlari sangat cepat. Aku pun juga mengikuti dari belakang. Sejak kapan Suga-san berlari secepat ini? Insting seorang Ibu benar-benar luar biasa.

"Hinata!" teriak Suga-san saat sudah sampai ruang kesehatan dan membuat Akaashi-san yang menjaga Hinata terkejut.

"Sugawara-san, bisa kau pelankan suara mu... Gadis ini masih tidur."

"Terima kasih karena sudah menjaga Hinata, kau sudah bisa kembali berlatih Akaashi-san."

"Bukankah kalian sedang latihan dengan Nekoma, biar aku saja yang jaga Sugawara-san."

Tunggu ini ada apa? Kenapa mereka berdua seperti sedang memperebutkan Hinata? Ini bukan seperti lelaki memperebutkan perempuan, tapi lebih seperti Ibu kandung dan Ibu tiri memperebutkan hak asuh anak!

"Habis ini Fukurodani akan latihan loh..."

"Tidak... Masih lama, kau saja yang pergi karena kau masih latihan Sugawara-san."

Aku pun memutuskan pergi melanjutkan latihanku ketimbang melihat emak emak merebutkan anak, pada kemana sih suami mereka!

.

.

.

.

.

"Kenma, keren yah..." ujar mu dengan nada yang kentara akan kekaguman.

"Aku kemarin muntah dibajunya, mungkin setelah latihan nanti aku akan minta maaf kepadanya..." ujar mu dengan senyuman manis yang selama ini tidak pernah aku lihat selama menjadi teman mu.

Andai aku tahu itu adalah awal mula kau mulai menjauh dari ku dan mulai dekat dengan lelaki lain...

Aku tidak akan pernah membiarkan mu ikut kami ke Tokyo...

Tapi melihatmu tersenyum bahagia bagai musim semi membuat aku menyerah dan merasa puas dengan hanya melihat mu bahagia dengan orang lain.

Namun tidak dengan hari ini entah mendapatkan keberanian darimana dengan rambut yang aku tata dengan gaya Modern Slick Back hasil dari berguru dengan Satori-san, aku kembali memeriksa handphone ku dan membuka email mu yang mengajak ku, Tsukishima dan Yamaguchi untuk bermain salju disekolah.

Aku sudah berkeliling sekolah yang sepi ini karena sedang libur musim dingin, namun belum juga menemuinya...

"Kemana bocah itu pergi?"

Aku pun memutuskan pergi ke gym, saat berjalan aku melihat gadis berambut sebahu yang keriting sedang bermain main dengan salju. Gadis itu sedang membuat empat buah kelinci yang ditaruh berjejer.

Manisnya...

Aku pun tersenyum tipis lalu aku mengambil sejumput salju dan membentuknya menjadi bola.

Aku pun berjalan pelan supaya Hinata tidak menyadari kehadiranku. Aku pun membidik kepala orange itu dan melemparnya dengan tepat sasaran.

"Ah, Kageyama!" teriak Hinata sambil mengembungkan pipinya...

Ia cemberut, betapa manisnya...

"Headshot!"

"Asshole!" teriaknya yang membuat ku terkejut, dari mana dia mempelajari kata-kata itu.

"Dari mana kau mendapatkan umpatan itu?"

"Tsukishima." ujarnya dengan santai, Kacamata sialan! Jangan membuat Hinata memiliki mulut salty seperti mu.

"Jangan pernah mengikuti umpatan apapun dari mulutnya." ucapku tegas.
Aku pun ikut duduk disamping sang pujaan hatiku, aku juga ikut membentuk kelinci dari salju walaupun bentuknya tidak secantik buatan Hinata.

"Aku mencari mu kemana-mana, rupanya disini."

"Kenapa kau datang kesekolah padahal hari ini kita sedang libur."

"Hanya memastikan kau tidak terkubur salju."

"Cih, tapi baguslah aku jadi tidak main sendiri. Tadi aku email Tsukishima dan Yamaguchi tapi mereka berdua tidak bisa datang."

Aku merasakan jari lembut dan kecil Hinata menyentuh pelipis ku, hentikan Boge! Kau membuat wajah ku memanas.

"Tumben kau menata rambutmu? Mimpi apa kau tadi malam?"

Aku pun menggenggam tangan mungil itu.

"Hinata aku... "

Aku menuntun tangan mungil digenggamanku mendekati mulutku lalu aku kecup mersa satu satu jari-jari milik Hinata.

"Kageyama apa yang..."

"Dengarkan aku dulu..." ujar ku dengan lembut, aku pun menatap Hinata dengan sarat akan cinta...

"Aku hanya mengatakannya sekali saja, jadi dengarkan baik-baik..."

Aku melihatnya tersipu saat aku mendekatkan wajahku dengannya, hingga hidung kami bersentuhan. Aku mengesek lembut hidungku menjadi Eskimo kiss.

"Aku menyukaimu, dari dulu hingga sekarang."

Aku melihat Hinata tersentak."Be-Benarkah? Kau tidak sedang bercanda kan?"

"Tidak... "

"Kageyama, aku..."

Aku pun mengelus surai orange itu lembut dan memberikannya senyuman kecil yang tidak memiliki unsur menyeramkan seperti biasanya.

"Kau tidak harus menjawab sekarang, aku akan menunggu jawabanmu seberapa lama pun itu..." bisikku, aku pun mengecup jidat Hinata.

.

.

.

.

.

Seperti pagi biasanya, pagi ini juga aku akan lari pagi. Sudah setengah jam aku belari, kaki ku entah mengapa berlari menuju sebuah taman yang biasanya penuh dengan anak-anak, namun sekarang sedang kosong mungkin karena musim dingin dan saljunya sangat menumpuk disana.

Tidak...

Taman kecil itu tidak kosong, ada dua orang disana yang sangat kukenali.

Hati ku sakit, ini lebih menyakitkan dibandingkan kalah dalam pertandingan, saat aku melihat kedua orang yang sangat aku kenali itu sedang berciuman mesra ditaman yang kosong dan dipenuhi salju.

Kenma dan Hinata...

Mungkin Kalau orang lain yang melihat, mereka pasti akan bergumam betapa romantisnya pasangan itu...

Tapi aku...

Harusnya aku tau resiko yang aku terima saat aku mengungkapkan perasaan ku, tapi kenapa hati ku tetap merasakan sakit ini. Aku pun berbalik berlari pulang kerumah, sekarang aku hanya ingin mengurung diri di dalam kamar.

Mungkin besok adalah hari, aku ditolak oleh Hinata. Tak apa karena dari awal I set her free, walaupun hati ku sakit...
Aku juga akan bahagia melihatnya bahagia.

.

.

.

.

.

Tidak terasa aku sudah kelas tiga, itu berarti hanya tinggal satu tahun saja aku harus berada di kursi sekolah menengah atas dan sudah satu tahun kau menjalin hubungan dengan Kenma, aku dengar ia melanjutkan pendidikannya di universitas tokyo.
Kita berada dikelas yang sama, aku sangat bahagia bisa melihatmu lebih sering dari biasanya.

Namun entah mengapa hari ini kau terlihat gelisah. Sejak awal istirahat hingga akhir istirahat kau selalu melihat handphone mu.

Hingga akhirnya kau menangis di pelukan ku, setelah tiga bulan lamanya kau tampak gelisah. Kau bilang Kenma menghilang dan tidak memberi kabar kepadamu, bukan hanya kepada mu namun juga teman dekatnya yang lain. Saat melihat mu sesedih ini hati ku lebih hancur dari pada kau memulai hubungan dengannya.

Ku mohon jangan menangis dan berhenti lah sedih...

Karena aku merasa lebih sakit ketimbang dirimu...

...

Aku menatap pemandangan kota tokyo dari kaca besar di apartemen besar milik Osamu-san, setelah selesai pesta kelulusan sekaligus acara melamar Kiyoko-san aku meminta bertemu dan berbicara empat mata dengan Osamu-san. Setelah ia mengantar Hinata pulang ia meminta ku bertemu di apartemen mewah miliknya.

"Kageyama-san, ini aku membuatkan teh untuk mu."

Aku pun mendudukan diriku disofa milik Osamu-san, aku sengaja duduk didepannya supaya bisa langsung menatap wajahnya.

"Osamu-san, aku sudah berteman dengan Hinata sejak kecil. Aku mengenalnya luar dan dalam... Bagiku ia bagaikan buku yang terbuka, sangat dengan mudah dibaca namun karena aku bodoh aku tidak dapat memahami isi buku itu. Aku tidak tau kapan ia akan sakit hati dan sedih seperti dulu, akibat orang itu..."

"Orang itu?"

Aku menatap langsung mata sayu itu tajam.

"Jadi ku mohon, jangan pernah sakiti dirinya dan meninggalkan Hinata seperti orang itu." aku pun berdiri dan menunduk memberi salam ingin berpamitan.

"Jika sampai ia menangis di pelukanku karena dirimu, maka aku tidak akan sungkan menghajarmu..." ujar ku di depan pintunya dan meninggalkannya yang sedang berpikir siapa orang itu.

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

.

CERITA TAMBAH HAIKYUU!

Warning! Cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan cerita diatas!

"Hey, Samu..." panggil Atsamu saat sang kembaran sedang berganti pakaian.

"Huh?" balas Osamu dengan pandangan jijik saat melihat Atsamu yang terlihat sekali kurang sehat, dengan kantong mata yang sangat gelap. Bisa dipastiakn kalau ia kecapean berkerja.

"Aku tidak enak badan..."

"Jangan dekat-dekat dengan ku..." ujar Osamu dingin, ia pun berjalan keluar kamar meninggalkan Atsamu yang cemberut.

Atsamu pun merebahkan badannya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

'Samu bodoh, Kau orang berengsek yang tidak memiliki perasaan! Apakah aku ini benar-benar saudara kembar yang kau cintai?!' omel Atsamu dalam hati.

"Ok, aku kembali..." Suara Osamu membuat Atsamu terkejut, dengan bahagia ia mendudukan dirinya.

"Samu! Aku tau ka-"

Perkataan Atsamu terpotong saat melihat penampilan Osamu yang masuk menggunakan perlalatan pengaman lengkap.

"Hey, aku bukan radioactive atau apapun yang berbahaya!"

"Diam kau, bakteri raksasa yang tidak tahu berterima kasih..." ujar Osamu dengan nada malas khasnya sambil menenteng tas P3K.

.

.

.

.

.

Author note:

Hashire sori yo~

Kaze no you ni~

Tsukimihara wo~

PADORU PADORU!~

Okey, ini adalah chapter tersulit dari semua chapter...

semoga nggak mengecewakan...

Aku langsung saja balas review yang not loging

-Nuning Hanger: Ini udah lanjut makasih yah...

-Guest: Wkwkwk, bang Osamu memang begitu orangnya...

makasih yoo udah review jangan lupa review lagi.

Nah itu balasan untuk yang non Loging

Sekali lagi makasih untuk yang udah Review sama baca Fic ini yah...

Jangan lupa untuk Review

.

.

.

.

.

Do not Forget to Review