My love begins with unlucky
Disclaimer: Furudate Haruichi
By: Step129807
Warning: Ooc, Ic, Typo
Chapter 12
"Atsamu, apakah masih lama Osamu sampainya?" tanya seorang pria setengah baya, berumur sekitar 56 tahun. Namun beliau tetap terlihat sangat tampan.
"Dari Urayasu ke Hyogo itu 6 jam, Papah... Belum lagi kalau mereka harus berhenti dulu, mungkin besok baru datang." ujar Atsumu sambil memakan cemilan asli buatan tangan Papahnya.
"Tak apa kan Biskuit didalam toples ini aku habiskan?"
"Tidak apa-apa, masih banyak kok dibelakang."
Ternyata Papah si kembar ini pintar memasak, sekarang kita tau dari mana bakat Osamu dan Atsumu berasal.
"Papah, si Samu bawa pacarnya loh..."
"Lalu kamu kapan bawa cewe juga, hmm?"
"Aku belum punya Pah..."
"Pasti kamu kebanyakan mikir, kan Papah pernah bilang kalau ada cewek yang disuka langsung aj-"
"Iya, iya aku tau Pah..."
"Pah, nanti saat Chibi-chan datang... Jangan ngomong yang aneh-aneh yah."
"Chibi? Pacar Osamu... Namanya aneh yah."
"Tidak, itu hanya... Seperti gelaran aja. Namanya Hinata Shouyou."
"Hmm..."
"Jangan ngomong yang aneh-aneh yah..."
"Aneh?"
"Iya."
"Siapa?"
"Papah, pokoknya jangan ngomong aneh-aneh..."
"Siapa yang aneh?"
"Papah lah..."
"Papah nggak aneh..."
"Maksudku Papah jangan ngomong yang engga perlu, bukan Papah yang aneh."
"Lah tadi kamu bilang Papah aneh..."
Atsamu tersenyum sambil menahan kesal. Papahnya minta di tabok, dari dulu Papahnya emang suka gitu... Apalagi dengan mimik wajah datar dan senyuman usil. Kalau mau bayangin sikapnya bagaimana, Papahnya si Miya kembar ini campuran antara Atsamu dan Osamu sikapnya.
Dengan wajah dingin yang terlihat mengantuk dan juga seringai yang seperti rubah, yah bisa dibilang beliau itu Kakek kakek ganteng.
Atsamu kembali melanjutkan ngemilnya, sambil menyusun rencana untuk mengusili Papahnya ini, sebelum dia diusili duluan.
.
.
.
.
.
Shouyou terbangun dari tidur dengan keadaan bingung, 'Ini kemana?' ia menatap Osamu yang sedang fokus menyetir mobil mewah miliknya.
"Kita kemana, Osamu-kun? Ini bukan arah Tokyo..."
"Kita akan ke Hyogo."
"Eh, kenapa tiba-tiba. Aku tidak membawa baju ganti."
"Nanti kita beli."
Setelah 2 jam mengemudi Osamu telah sampai di pusat kota Shizuoka. Osamu menghentikan mobilnya disebuah toko yang terlihat menjual baju baju casual.
"Kita beli baju mu dan aku disini, untuk baju dalamnya kita cari di Supermarket diseberang sana saja." Osamu menunjuk Supermarket dibelakang Shouyou.
Mereka memasuki toko baju itu dan Osamu berkata kepada pelayan disana dia mencari kaos berwarna biru, abu-abu dan hitam ia juga mencari jaket bomber dan sebuah sweeter berwarna hitam, sedangkan Shouyou dia hanya mengambil kaos berwarna putih, merah dan kuning, lalu mengambil sweeter berwarna biru tua juga satu skinny jeans. Namun Osamu bilang mereka di Hyogo akan bermalam, lalu lelaki bersurai abu-abu dan hitam itu mengambil lebih banyak kaos, sweeter dan skinny jeans untuk Shouyou.
Mereka juga membeli sepatu Fila degan model sama berwarna merah.
Lalu mereka menyeberang jalan untuk pergi ke supermarket dan membeli pakaian dalam.
Osamu menyuruh Shouyou berganti baju di Toilet yang tersedia di Supermarket dan Osamu pun melakukan hal yang sama.
"Boleh aku tau kenapa kita ke Hyogo?" tanya Shouyou saat Osamu kembali melaju Mobilnya dijalan sepi Shizuoka.
"Nanti kau juga tau sendiri, Sayang..."
Shouyou menatap Osamu curiga. 'Nih, Om Om mau ngapain-ngapain aku yah...' seperti bisa membaca apa yang dipikirkan Shouyou, Osamu tersenyum.
"Aku tidak akan ngapain-ngapain, Sayang."
'Bagaimana aku bisa percaya kepada seorang Om om, yang telah melakukan anu padaku di hari pertama ketemu.'
Osamu tertawa kecil melihat mimik wajah kekasihnya, sangat mudah dibaca dan dimengerti.
"Sebegitu inginnya dirimu ku apa-apain, hmm.. Ok-"
"Tidak-tidak!" teriak Shouyou dan membuat Osamu tertawa semakin kencang. Okey sekarang dia terlihat seperti Atsamu yang sifat usilnya kambuh.
.
.
.
.
.
"Atsamu, menurut mu Osamu suka yang mana?" tanya sang Papah yang membuat Atsumu yang tengah santai nonton tv bisa kena Stroke mendadak.
"Papah ngapain menyiapkan kan itu untuk Osamu!" tanya Atsamu heboh, sambil menunjuk sesuatu yang dipegang Papahnya.
"Siapa tau Osamu butuh..."
"Jadi menurut mu, Osamu suka yang strawberry, mint, atau Coklat."
"Tidak semua Papah! Singkirkan benda itu."
"Ehhh, jadi Osamu mau menghami-"
"Tidak! Tidak!"
"Kau ini bagaimana, kalau tidak mau hamil duluan ya pakai ini..." ujar Papah si kembar ini menunjukkan tiga buah kotak EhemKONDOMehem berbagai rasa itu. "Apa lagi mereka akan tidur satu kamar."
"Tidak ada yang satu kamar! Samu akan tidur dengan ku dan Chibi-chan akan tidur sendirian..." ujar Atsumu tegas.
"Eeeeh, Tsamu nggak seru... Padahal Papah ingin cepat-cepat punya cucu." ujarnya sambil berlalu membawa alat kontrasepsi itu.
Atsamu hanya bisa menghela nafas saat berhasil menggagalkan rencana Papanya, ia pun melanjutkan memakan mochi buatan Papahnya.
"Pedas! Papah kenapa kau memasukkan saus tabasco kedalam mochi!"
.
.
.
.
.
"Papah tidak tidur?" tanya Atsamu, matanya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam sembilan malam. "Samu mungkin agak terlambat datangnya, Papah istirahat saja dulu."
Lelaki itu pun berjalan mendekati Papahnya yang sedang menatap album fotonya. Beliau menatap seorang perempuan muda yang tengah memeluk dua anak kembar berambut hitam dengan pandangan sarat akan kerinduan, Atsamu menatap Papahnya sendu, ia menduduki dirinya disamping Papahnya dan ikut menatap album foto itu.
"Tidak terasa sudah sembilan tahun." ujarnya.
"Sembilan tahun, dua bulan, tujuh belas hari..."
Atsamu hanya bisa tersenyum kecil. Dia bangga dengan cinta Papahnya kepada Mamahnya.
"Mamah tidak pergi Tsamu, dia selalu ada di hati ku, kau dan Osamu. Dia selalu hidup disetiap aliran darah ku, denyut jantung ku dan helaan nafas ku."
"Papah benar..." Atsamu mengelus sebuah foto dengan lembut, senyuman lembut terbentuk dibibirnya. Ia menatap foto perempuan yang berwajah sangat mirip dengannya dan juga Osamu.
"Besok jam delapan pagi kita berangkat yah..." Atsamu pun mengaguk ia pun berjalan ke dalam kamar dan mengambil selimut, lalu ia kembali kesamping Papahnya dan menyelimuti Papahnya dan juga dirinya.
"Ayo, menunggu Samu dan Chibi-chan bersama-sama sambil melihat album foto."
"Iya, liat kau dan Osamu... Kalian lucu sekali waktu kecil."
"Sekarang kami tampan."
Atsamu menatap setia sudut rumah milik Papahnya. "Papah ikut tinggal dengan Aku dan Samu di Tokyo yah..."
"Tidak mau, kalau Papah tinggal disini... Mudah bagi Papah untuk mengunjungi makam Mamah mu setiap hari."
Pria yang umurnya tidak muda itu lagi mengelus kepala anaknya itu lembut, ia mengeluarkan senyuman lembut.
"Tsamu, Papah nggak apa-apa sendirian disini... Papah akan terus disini menunggu kalian menjenguk Papah."
"Papah yakin?"
"Tentu saja yakin, Papah sudah bosan hidup di kota. Sejak Papah menikah dengan Mamah mu, Papah pindah kesini. Tempat ini memiliki begitu banyak kenangan. nanti kalau kau dan Osamu sudah punya anak... Kalian harus lebih sering lagi mengunjungi Papah."
"Iya, aku janji..."
"Yakin nih, Osamu engga butuh pengaman untuk malam ini?"
"Papah!"
.
.
.
.
.
"Osamu-kun, ini rumah siapa?" Shouyou menatap rumah sederhana tapi sangat indah yang bercat warna biru langit, pekarangan yang ditumbuhi bunga bunga Anyelir berwarna pink. Sekilas Shouyou teringat akan rumahnya di Miyagi.
"Ayo..." Osamu menggenggam tangan mungil Shouyou dan menariknya lembut membawanya kedepan pintu utama rumah itu dan mengetoknya.
"Iya sebentar..."
Tak lama kemudian pintu terbuka, Shouyou langsung disambut pelukan maut dari pria berumur 56 tahun dan tinggi badan 180 cm. Shouyou langsung sesak nafas, badan kecilnya tidak bisa bergerak. 'Ini kenapa?! Kenapa Bapak ini langsung main peluk saja?!'
"Papah, kau membuatnya tidak bisa bernafas..." Shouyou mendengar suara Atsamu dan Bapak tadi melepaskan pelukannya.
'Tunggu! Papah?!'
Shouyou menatap pria yang usianya sudah setengah abad itu dengan horror. 'Jadi ini, kenapa Osamu-kun tidak mau memberi tahukan ku kemana kita pergi!'
"Haloo, aku Ayahnya Osamu dan Atsumu... Panggil aku Papah yah, kan kamu sebentar lagi mau jadi anak ku juga.
"A-Ano..."
"Namamu Hinata Shouyou kan, Papah sudah tau dari Atsamu... Badan mu kecil sekali, kau juga terlihat sangat muda."
"A-Ano..."
"Biar ku tebak, umur mu baru tujuh belas tahun kan."
"Ano..."
"Kau manis sekali... Apakah kau suka biskuit dan permen?"
"Ano!" teriak Shouyou yang membuat Papah si kembar itu terkejut dan terdiam. Shouyou dengan keberanian yang dipaksakan dan juga mata yang berkaca-kaca menatap Papah si kembar itu.
"Boleh saya numpang Toiletnya? Saya mau Huee-"
"Uaaa! Gawat-gawat... Cepat kesini Chibi-chan." Atsamu pun menarik Shouyou menuju Toilet sebelum air bah keluar.
"Kenapa dia, hamil?" tanya sang Papah, Osamu pun menatap Papahnya malas. "Sayangnya itu cuma mabuk darat."
Papahnya si kembar Miya itu pun mengambil sesuatu dari kantong celananya dan langsung menyerahkannya ketangan Osamu. Beliau mengedipkan matanya dan masuk kedalam rumah meninggalkan Osamu yang tercengang dengan benda yang diberikan Papahnya.
"Mint,Strawberry, dan Coklat..."
.
.
.
.
.
"Chibi-chan, kau baik-baik saja?" tanya Atsamu, lelaki tinggi berambut kuning hasil salon Aran itu berdiri didepan pintu Toilet. "Nanti kalau pingsan, panggil aku yaa..."
"Aku tidak Apa-apa Atsumu-san..." terdengar Shouyou dari dalam Toilet, Atsamu pun menjauh dan mendekati Papah dan kembarannya yang tengah asik memakan biskuit.
"Kamu yakin Chibi-chan baik-baik saja, dia cukup lama loh di Toiletnya." ujar Atsumu yang sedang berusaha merebut biskuit dari dalam toples yang dikuasai Osamu.
"Tidak apa, dia hanya gugup."
"Apakah Sho-chan belum keluar dari Toilet?" tanya sang Papah sambil membawa empat susu coklat hangat.
"Maaf membuat kalian khawatir..." ujar Shouyou yang baru saja kembali dari belakang.
"Sho-chan, duduk sini... Aku sudah membuatkan mu biskuit dan susu hangat."
"Terimakasih..." ujar Shouyou, ia mengambil biskuit coklat itu dan memakannya, matanya langsung bersinar terang menatap calon mertua.
"Wah, silau..." ujar Papah dengan nada datar.
"Enak sekali Papah."
"Benarkah, ku pikir menambahkan itu akan membuat rasanya berubah..."
Osamu dan Atsumu menatap Papahnya dengan pandangan bertanya, paham maksud anak-anaknya beliau pun menyeringai tipis seperti rubah.
"Aku menambahkan suplemen penyubur kandungan."
Shouyou, Osamu dan Atsumu langsung menyemburkan semua biskuit yang telah mereka kunyah dari mulut mereka.
"Iih, jorok..."
"Papah!" teriak Atsumu yang bisa saja membuat tetangga terbangun.
'Papah memang keren...' batin Osamu.
"Kenapa kau malah berpikir Papah keren, Samu sialan!"
"Jangan asal membaca pikiranku!"
"Aku tidak bermaksud membacanya! Karena kita kembar aku langsung tau apa saja yang kau pikirkan!"
Dan suplemen kesuburan terlupakan karena pertengkaran si kembar Miya.
.
.
.
.
.
"Ini kamarmu, Sayang..."
"Tidur yang nyenyak Chibi-chan."
"Jangan lupa besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali."
"Iya, Oyasumi..."
"Oyasumi..."
Setelah Shouyou menutup pintunya. Osamu dan Atsumu langsung saling menatap satu sama lain.
'Lu ngapain ikuti gua ngantar Shouyou?!'
'Gua tau lu pingin mesum! Makanya gua ikutin.'
Pernah denger kan kalau anak kembar itu bisa berkominikasi dengan bahasanya sendiri dan bisa berkominikasi dari batin? Inilah yang sedang dilakukan Osamu dan Atsumu, mereka sedang melakukan komunikasi dari batin yang sebelum hanya mereka pakai untuk mengusili orang saja.
'Nuduh orang jangan sembarangan! Tega sekali kau...'
'Aku tau apa yang kau pikirkan! Andai aku tidak mengikutimu pasti kau berakhir diranjang Chibi-chan.'
Osamu hanya diam tidak mampu menjawab, ia menatap Atsamu datar dan pergi dari hadapannya.
"Apa maksud mu mengatai aku si protektif gila huh?!" teriak Atsamu.
"Berisik, jangan baca pikiran orang lain sembarangan!"
"Jangan teriak-teriak bodoh! Papah bisa marah!"
"Kau yang mulai teriak-teriak duluan!"
"Kau yang mulai!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu mereka berdua dari belakang, mereka pun langsung keringat dingin dan memutar kepala mereka pelan pelan.
"Jangan teriak-teriak kelian membuat calon menantuku terganggu."
"Ha-Ha'i"
.
.
.
.
.
"Selamat pagi, Papah..." ucap Shouyou dengan terbata-bata, ia masih cukup canggung berdekatan dengan Papahnya Osamu.
"Selamat pagi, Sho-chan." pria paru baya itu terlihat sedang menyiapkan sarapan, merasa tidak enak, Shouyou pun berinisiatif membantu.
"Terimakasih nak..." ujar pria itu saat melihat Shouyou memotong tomat, sekilas melihat pun pria itu tau kalau Shouyou tidak bisa memasak tapi beliau tidak mempersalahkannya dan meminta tolong Shouyou untuk memotong mentimun. Sepertinya beliau ingin membuat sandwich.
Setelah sarapan, mereka berempat pergi kemakam Mamah Osamu dan Atsumu. Letak makam tidak jauh dari rumah dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki itulah yang menjadi alasan Papahnya Osamu dan Atsumu betah tinggal di sini. Osamu dan Atsumu masing masing membawa bunga Anyelir berwarna pink dan bunga Hydrangea yang merupakan bunga kesukaan Mamah mereka.
Shouyou terkejut, dia tidak tau kalau Mamah Osamu sudah pergi selamanya meninggallan anak-anaknya. Osamu dan Atsumu meletakkan bunga yang mereka bawa pada sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Mamah mereka, lalu Papah mereka menyiram batu nisan itu dengan air dari ember kayu yang dibawa Shouyou tadi, setelahnya mereka pun berdoa.
"Sayang," ujar Papahnya Osamu sambil membelai batu nisan istrinya.
"Anak-anak hari ini datang menjenguk, Osamu membawa pacarnya loh. Anaknya manis dan cantik... Nak Sho-chan mendekatlah."
Shouyou pun mendekat dan ikut duduk disamping Papahnya Osamu, Ayah dua anak itu menepuk pundak Shouyou.
"An-Ano, Hinata Shouyou desu..."
"Manis sekali bukan! Osamu pintar memilih calon Istri."
"Dan aku kasihan kepada Chibi-chan..."
Atsumu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Papah dan saudara kembarnya tapi Atsumu langsung menatap pohon besar yang melindungi makam Mamah nya, menghindari tatapan mereka.
Setelahnya mereka pun membersihkan makam Mamah si Miya kembar itu dari daun yang berguguran.
"Habis ini bagaimana kalau kita ke pemandian air panas. Kalian harus sangat bersantai hari ini sebelum pulang besok."
Dan dibalas anggukkan kepala dari ketiganya tanda setuju.
.
.
.
.
.
Mereka pun berangkat mengunakan mobil Mini Cooper Countryman punya sang Papah, karena jenis mobil Osamu dan Atsumu adalah sport jadi lebih nyaman memakai mobil yang ramah untuk keluarga seperti milik Papahnya.
Mereka pergi menuju ryokan Arima Onsen, pemandian air panas sekaligus tempat penginapan tradisional Jepang ini merupakan satu dari 3 pemandian air panas tertua di Jepang.
Mereka hanya menempuh waktu dua puluh dua menit saja.
Saat keluar dari mobil, mata Shouyou langsung disambut dengan pemandangan bebukitan disekitar Onsen.
"Guwaaa!" teriak Shouyou bersemangat. Mereka pun masuk kedalam Onsen yang bentuk bangunan nya masih sangat tradisional.
Mungkin karena ini adalah salah satu dari tiga Onsen tertua di Jepang bangunnya masih dipertahankan dari jaman dulu.
"Kau tahu Shouyou, ini adalah bangunan yang tua... Aku tidak terkejut kalau nanti ada penampakan samurai didalam kamar."
Shouyou langsung bereaksi dengan perkataan Osamu, ia langsung bergegas bersembunyi dibelakang Atsamu.
"Hm? Yang dikatakan Osamu itu benar loh Chibi-chan... Jadi kau tidak akan tidur sendiri karena kau ditemenin seorang Samurai." kali ini Atsamu yang mengatakannya, ia juga tertawa yang sama sekali tidak enak didengar.
"Hiiih!"
"Kalian jangan menakuti Sou-chan!"
"Tapi, Shouyou... Kalau kau takut tidur sendiri kau bisa tidur dengan ku..."
"Nice Idea!"
"Eh?"
"No no no! Samu akan tidur dengan ku dan Papah, Chibi-chan tetap tidur sendiri!"
"Bacotttttt~~~" ujar Osamu dan Papahnya dengan nada yang dipajang kan.
.
.
.
.
.
"Kenma-sama, apakah anda yakin akan melakukan ini."
Kenma menatap Yaku datar, sedatar meja kerjanya yang berisi data data penting perusahaan.
"Lakukan saja perintah ku."
"Tapi mendiam Kozume-sama tidak akan suka de-"
"Yang memimpin perusahaan sekarang adalah aku, kau hanya perlu mengikuti perintah atasan... Kau tenang saja, bila terjadi apa-apa aku lah yang tanggung jawab."
Yaku hanya bisa menatap sendu Kenma, sungguh wajah itu sangat mirip dengan mendiam Ayahnya, Yaku hanya bisa berharap Kenma bisa berubah dan menjadi bijaksana seperti Ayahnya.
"Saya mengerti Kenma-sama, saya Permisi dulu..."
"Ingat, hasilnya harus ada malam ini juga dan pastikan besok hari mereka sudah tidak memiliki apapun yang dapat mereka banggakan... Aku sudah bayar mahal untuk semua ini."
"Baik, Kenma-sama..." ujar Yaku dengan nada yang kentara sekali sedang sedih.
.
.
.
.
.
"Apa kau menyukai Kanzashi ini..."
Shouyou sedikit tersentak, ia menatap Osamu yang tiba-tiba saja berdiri disampingnya lengkap dengan dengan Yukata berwarna biru tua yang disediakan ryokan. Pria yang mengecat rambutnya menjadi abu-abu ini terlihat sangat tampan, Shouyou dapat merasakan tatapan gadis-gadis disekitar toko sovenir ini.
"Ini cantik Samu-kun... Ayo kita mencari dango setelah itu kita kembali ke penginapan dan makan malam bersama Papah dan Atsumu-san." Shouyou pun meletakkan kembali Kanzashi berwarna hitam dengan hiasan bunga mawar berwarna orange. Shouyou berjalan duluan dan tidak menyadari Osamu hanya diam ditempat sambil memandangi Kanzashi, sebelum tangannya mengambil dan menyerahkannya kepada penjual.
"Aku ambil yang ini..."
"Mau sekalian dibungkus layaknya kado tuan?" tawar penjual, Osamu tampak menimbang nimbang sebentar sebelum kepalanya mengangguk tanda mengiyakan.
Shouyou memutar kepalanya kekiri dan kekanan saat berjalan menyusuri toko-toko disekitar ryokan. Ia sedang mencari toko dango, dan baru menyadari Osamu tidak ada dibelakangnya.
"Are, dimana Osamu-kun?"
Tak lama kemudian ia melihat yang dicari tengah berjalan kelewatan cepat kearahnya.
"Kau kemana saja Osamu-kun?"
"Aku tadi sedang melihat topeng-topeng... Lihat keren kan Sayang?" ujar Osamu sambil menunjuk topeng rubahnya yang ia pasangan miring, ia pun mengambil sesuatu dibalik haori nya.
"Aku juga membelikan mu satu..." ia pun memasangkan topeng no face dikepala Shouyou dan menghadapkan topeng itu kesamping.
"Osamu-kun, kenapa kau membelikan aku topeng no face?" suara Shouyou terdengar sedang kesal tapi Osamu hanya tersenyum tipis sambil mengelus kepala berhias topeng itu.
"Kau terlihat manis..." Shouyou tetap menatap Osamu kesal, dan yang ditatap cuek saja, lelaki itu pun mengemgam tangan mungil Shouyou dan membawanya kesebuah toko dango terdekat.
.
.
.
.
.
"Kalian lama sekali, kemana saja kalian pergi?" protes Atsamu sambil memakan Karaage jatah Osamu, Osamu yang melihat itu langsung melepaskan Haori nya dan membuat pose siap menyerang.
"Beraninya kau mengambil jatah ku, Tsamu Babi!"
"Kau sendiri yang datang terlambat, dasar Samu sampah!"
"Kau tai kerbau!"
"Kau bahkan tidak pantas disebut kotoran karena melakukan kekerasan terhadap saudaranya hanya karena Karaage!"
"Bacot lu kutu pocong perawan!"
"Apa kau bilang, kutil badak!"
Dan mulai lah pertengkaran Miya bersaudara yang bukan hanya sekedar saling memukul dan menjambak, tapi juga sedang melontarkan kata-kata indah yang sedap didengar telinga.
"Anda sudah selesai makan, Papah?"
"Sudah, ini bagian mu nak... Tadi aku simpan dari jangkauan Atsamu."
"Terimakasih..."
Sepertinya Shouyou sudah terbiasa dengan pertengkaran Miya bersaudara itu, ia dan calon mertuanya mengabaikan pertengkaran keduanya yang semakin menjadi-jadi itu.
"Bisa kalian Hentikan? Demi tuhan umur kalian sudah 26 tahun, masih saja berpilaku kaya bocah kalau berantem." Sepertinya Papah mereka sudah lelah, dengan pertengkaran mereka. Bagaimana nggak lelah liatnya... Gara-gara mereka bertengkar Karaage bagian Shouyou jadi tumpah.
"Ayo saling meminta maaf dan minta maaf juga sama Sho-chan."
Dengan yukata yang tidak lagi rapi serta luka memar dan cakaran sana-sini, meski yang lebih parah adalah Atsamu.
Namun bukannya saling memaafkan keduanya malah saling tunjuk menunjuk.
"Tapi kan dia duluan yang memukul..." ujar Atsumu sambil sedikit menangis.
'Alah, airmata buaya...' batin Osamu dan Papahnya.
"Dia yang memulai perkelahian Pah, dia mengambil jatah makan ku." Kali ini Osamu yang membela diri.
Pria berusia 56 tahun itu memijat pangkal hidungnya, tidak habis pikir dengan anak-anaknya.
"Bodo ah, paling besok kalian udah baikan. Aku mau tidur duluan... Ngurusin kalian diusia begini membuatku tambah menua! Aku mau tidur sendiri, aku akan pesan satu kamar lagi."
Mereka pun ditinggal berdua dikamar.
"Samu, kau masih lapar?"
"Tentu saja, Tsamu boge!"
"Kalau begitu, ayo kita cari makan diluar..."
.
.
.
.
.
Osamu menatap Atsamu yang sedang tidur pulas disampingnya, suara ngorok Atsamu memenuhi kamar penginapan itu. Dengan futon yang tidak lagi rapi serta selimut yang entah pergi kemana, Atsamu tidak menyadari kalau kembarannya pergi keluar kamar secara diam-diam.
Shouyou tidak bisa tidur sekarang, beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya tapi yang muncul selalu bayangan seorang samurai transparan yang sedang memandanginya. Ini semua karena ulah Osamu dan Atsumu, sekarang dia tidak bisa tidur karena takut.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukkan di Shoji dan juga suara Osamu.
"Sayang, kau sudah tidur?"
Dengan secepat kilat Shouyou langsung menggeser Shoji itu.
"Dilihat dari wajahmu, pasti kau ketakutan tidur sendirikan?"
Dengan wajah imut bercampur manis menjadi satu, Shouyou menganggukkan kepalanya dengan cepat. Membuat Osamu gemes seketika.
"Hup!"
"Eh?" Osamu dengan mudahnya menggendong tubuh mungil Shouyou ala bridal style dan membaringkan gadis itu di atas futon.
"Aku akan menemani mu tidur..."
"Hm, arigatou Samu-kun..." Shouyou pun dengan cepat tertidur didalam dekapan Osamu, dan Osamu hanya bisa mengeha nafas berat.
'Maaf Papah, aku tidak dapat memakai pemberiaan mu yang beragam rasa itu malam ini...' batinnya Osamu, ia pun mengecup tiga kali bibir Shouyou sebelum terlelap.
.
.
.
.
.
END
Author note:
*Kanzashi= tusuk konde.
*Haori = Pakaian longgar, Seperti mantel, selutut garmen.
*ryokan= penginapan tradisional Jepang.
*Shoji= pintu geser tradisional Jepang.
.
.
.
.
.
Do not Forget to Review
