Beloved Enemy
.
.
.
03
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Chanyeol masuk ke dalam kamarnya dengan tergesa, tak dia biarkan satu orang pun mengikutinya kecuali Jongdae.
Dia lalu membaringkan tubuh kecil Baekhyun diatas ranjangnya.
"Tuan muda!" lirih Jongdae setelah melihat Chanyeol membaringkan Baekhyun.
"Besok pagi, sebelum matahari terbit, ganti semua orang yang ada di rumah ini. Juga pastikan orang-orang yang ikut operasi kita malam ini menutup mulutnya atas keberadaan Baekhyun. Kau paham Jongdae-ah!"
"Nde."
"Besok aku juga ingin bertemu dengan Hyukjae ahjussi. Aturkan jadwal untukku menemuinya, pagi sebelum dia terbangun." Mata Chanyeol melirik Baekhyun yang terlihat pulas dalam tidurnya.
Jongdae mengerutkan keningnya, ada apa? Bertemunya Chanyeol dengan Hyukjae, apakah ada hubungannya dengan Baekhyun?
Chanyeol membuang nafasnya perlahan. Tiba-tiba ada rasa sesal yang menggantung di hatinya ketika melihat Baekhyun.
"Seharusnya aku tak mengiyakan keinginan ibunya untuk melindunginya dari ancaman Han Ahjussi, Jongdae-ah." Chanyeol menundukkan kepalanya.
"Tuan muda! Itulah yang membuat saya cukup merasa heran. Biasanya anda tak mudah terpengaruh oleh apapun tapi ketika anda mengatakan rencana anda kemarin pada saya, saya cukup terkejut. Saya ingin membantah tapi tak berani karena apapun yang sudah anda putuskan biasanya akan sulit untuk diubah."
Terdengar Chanyeol membuang nafasnya perlahan. Pria itu berbalik, matanya jatuh pada Baekhyun yang terlihat pulas. Gadis kecil itu tak tahu apa yang tengah terjadi.
"Sekarang banyak yang harus aku rencanakan untuk masa depannya yang jauh lebih baik." Chanyeol melangkah mendekati ranjang, tangan besarnya mengusak pelan kepala gadis kecil itu.
Melihat Baekhyun, perasaan sayangnya pada gadis itu tumbuh dengan begitu cepat. Dia ingin melindungi gadis itu, meski penyesalan kini muncul dihatinya.
"Maaf Tuan muda, kalau boleh saya tahu, kenapa anda ingin menemui Profesor Lee?"
Chanyeol menatap Jongdae sesaat, dia kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju jendela kaca besar di sisi sebelah kanan ruangan itu. Tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya. Dia masih memikirkan apa yang tadi sempat terlintas didalam pikirannya saat dalam perjalan membawa Baekhyun pulang ke Mansionnya.
"Saat dia bangun besok, hal yang akan ditanyakannya adalah dimana ayah dan ibunya." Chanyeol berbalik, matanya menatap Baekhyun dengan tatapan kasihan. "Aku tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu Jongdae-ah. Satu-satunya cara yang terlintas dalam pikiranku tadi adalah bagaimana membuat ingatannya berhenti di hari ini. Makanya aku membutuhkan bantuan Hyukjae ahjussi."
"Tuan muda! Maksud anda, anda ingin membuat dia kehilangan ingatannya?"
"Ya. Lalu kemudian aku akan memberikannya kenangan dari ceritaku tentang orangtuanya."
Jongdae tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri. Dia selalu percaya Chanyeol lebih baik daripada Hankyung, terbukti dengan dia bersedia menolong orang yang jelas-jelas musuh dari pamannya sendiri, tapi saat ini, mendengar Chanyeol mengatakan hal itu, kepercayaannya akan sikap baik Chanyeol perlahan memudar. Kalau boleh berpendapat, Chanyeol kejam bila benar-benar melakukan hal itu. Baekhyun masih terlalu kecil untuk menerima tindakan itu.
"Itu cara terbaik yang bisa ku pikirkan saat ini Jongdae-ah."
Jongdae kembali menatap Chanyeol.
"Tahukah anda kalau hal itu bukan tanpa resiko? Kalau menurut saya, lebih baik dia tahu kebenarannya saat ini daripada anda menyimpannya lalu kemudian dia akan tahu. Katakan dia mungkin akan marah saat ini, dia menangis dan atau apapun itu tapi dia masih kecil untuk melawan. Kalau setelah anda merawatnya, membesarkannya dengan kebohongan yang anda rangkai, lalu kemudian dia mengetahui kebenarannya, itu jauh lebih menyakitkan untuknya dan mungkin juga untuk anda jadi..."
Chanyeol mengangkat tangannya, menandakan kalau dia ingin Jongdae diam.
"Aku sudah memikirkannya Jongdae-ah. Dia tak aman dengan identitasnya saat ini. Han ahjussi tak akan berhenti memburunya kalau dia sampai tahu anak dari musuhnya masih hidup. Hal itu yang terbaik yang bisa kulakukan, setidaknya saat ada orang bertanya dia tak langsung menyebut nama Byun Youngwoon dan Kim Heechul sebagai nama orangtuanya."
"Tuan muda!"
"Tugasmu, hapus data tentang dia, jangan ada yang terlewat. Lalu buat data baru, masukkan dia sebagai bagian dari keluargaku, namanya mulai saat ini adalah Park Baekhyun. Jangan sampai Han ahjussi tahu semua ini Jongdae-ah. Dan hal ini hanya aku, kau dan Hyukjae ahjussi yang tahu.
Jongdae tak kuasa menolak. Meski hal itu bertentangan dengan hatinya, dia bisa apa kalau Chanyeol sudah memutuskannya. Sama seperti halnya ketika Chanyeol mengiyakan permintaan Heechul, firasatnya sudah tak baik. Baekhyun akan mendatangkan kesulitan untuk Chanyeol, itu yang dia yakini.
.
.
.
Baekhyun menggeliat perlahan dibawah selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Tangannya terangkat keatas sebelum matanya terbuka.
Gadis berambut panjang itu terlihat bingung, semalam dia merasa dipeluk Chanyeol tapi pria itu tak disisinya saat ini.
Dengan sedikit malas, Baekhyun meraih ponselnya demi memastikan pukul berapa saat ini.
06.15 am
Pada akhirnya, Baekhyun mendudukkan dirinya. Setelah mengumpulkan kesadarannya yang berlangsung tak sampai lima menit, Baekhyun turun dari ranjangnya dan langsung keluar dari kamar itu.
Langkah kakinya di ayun sedikit lebih cepat ketika menuruni anak tangga.
Begitu kakinya mencapai lantai bawah, dia langsung menuju halaman belakang dimana biasanya Chanyeol menghabiskan paginya untuk berlatih taekwondo. Tapi raut wajah cantik itu terlihat sedikit kecewa saat tak menemukan sosok yang dicarinya.
"Agashi!" panggil Kwon ahjumma dari arah belakang Baekhyun.
"Ahjussi eodiga?" tanya Baekhyun sambil berbalik dan melangkah mendekati Kwon ahjumma.
"Tuan muda sudah berangkat kerja."
"Sepagi ini?" Baekhyun terlihat tak terima dengan jawaban perempuan itu.
"Nde."
"Dia tak membangunkanku." Baekhyun mempoutkan bibirnya sembari menghempaskan pantatnya pada kursi tinggi yang terdapat di dekat meja dapur.
"Tuan muda tak ingin mengganggu anda, beliau juga berpesan untuk membiarkan anda tidur."
Baekhyun meletakkan kepalanya diatas meja dapur, raut wajahnya terlihat sedih.
Kemarin dia bertengkar dengan Chanyeol, lalu seharian dia menghabiskan waktunya tanpa bertatap muka dengan Chanyeol. Sekesal apapun dia pada pria itu, tetap saja dia merasakan rindu luar biasa kalau tak melihat wajah Chanyeol barang sebentar saja.
"Agashi ingin sarapan apa?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya perlahan. Dia belum ingin makan. Dia hanya ingin melihat Chanyeol saat ini.
Baekhyun tiba-tiba mengangkat kepalanya, lalu turun dari kursi dan berlari ke lantai dua mansion itu. Dia baru ingat ada aplikasi video call.
Dengan semangat Baekhyun menghubungi nomor Chanyeol. Gadis itu duduk tenang di bibir ranjang sambil menunggu panggilannya dijawab oleh pria favoritnya itu.
Tapi...
"Ahju..." raut wajah Baekhyun berubah tak senang saat yang menerima panggilannya bukan Chanyeol, melainkan Jongdae.
"Tuan muda sedang ada urusan. Nanti saya akan memberitahunya kalau anda menelpon."
Baekhyun tak menyahut karena setelah mengatakan hal itu, Jongdae sama sekali tak memberinya kesempatan untuk menjawab. Panggilan telponnya langsung diputus begitu saja.
"Kenapa kau sama menyebalkannya dengan ahjussi, Jongdae-ssi!" sungut Baekhyun. tak berapa lama, ponsel pintarnya sudah melayang dan terhempas diatas ranjang.
Gadis itu beranjak dari ranjang yang didudukinya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Baekhyun kembali menemui Kwon ahjumma di dapur dengan keadaan jauh lebih segar dari biasanya.
"Anda sudah siap sarapan?" tanya Kwon ahjumma diiringi dengan senyum keibuan yang selalu membuat hati Baekhyun hangat.
Baekhyun mengangguk. "Joo Hyun dan Jackson, apa mereka ikut ahjussi?"
"Tidak. Mereka sedang ke markas untuk berlatih."
Bibir Baekhyun membentuk huruf O besar dengan kepala yang mengangguk-angguk mengerti.
"Ahjumma!"
"Iya." Kwon ahjumma menolehkan kepalanya pada Baekhyun yang tengah menatapnya.
"Apakah ahjumma pernah melihat bagaimana rupa perempuan yang sudah melahirkanku?"
Kwon ahjumma meletakkan sayuran yang tadi dicucinya diatas wastafel, dia kemudian mendekati Baekhyun. Berdiri di depan gadis itu yang terhalangi oleh meja dapur.
"Saat saya dibawa kesini, anda sudah ada disini. Sedang sakit waktu itu."
"Ahjumma tidak bertemu eomma atau mungkin juga appa?"
"Tidak agashi. Saya hanya bertemu dengan Tuan muda dan Tuan Kim saja."
Baekhyun mendengus lirih. Kejadian kemarin sore masih mengganjal dihatinya. Siapa anak kecil itu? Apakah itu dirinya? Kalau iya, berarti perempuan yang suaranya terdengar lembut itu pasti ibunya.
"Kenapa anda menanyakan hal itu?"
Baekhyun menggeleng pelan.
Banyak hal yang tak dia ketahui tentang siapa dirinya. Dia bisa percaya dengan cerita Chanyeol tentang masa kecilnya, tapi akhir-akhir ini dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Seringkali dia bermimpi tentang sesosok anak kecil yang sering dipanggil dengan nama yang sama seperti namanya, namun semua samar.
Raut wajah laki-laki dan perempuan yang tampak sangat menyayangi anak kecil itu samar, anak kecil itu sendiri wajahnya tak nampak dengan jelas, semua hanya seperti sebuah bayangan yang terjadi beberapa detik lalu kemudian menghilang begitu saja.
"Agashi! Saya memang tak tahu banyak tentang anda dan juga Tuan muda, tapi yang selama ini saya lihat, betapa Tuan muda sangat menyayangi anda. Caranya memperlakukan anda mungkin sedikit keterlaluan, tapi ketahuilah semua yang dia lakukan adalah untuk kebaikan anda. Tuan muda selalu ingin memastikan anda baik-baik saja dalam keadaan apapun, dia selalu memastikan tak ada satu hal yang menyulitkan hidup anda. Cintanya pada anda sangat besar, bahkan lebih besar dari cintanya untuk dirinya sendiri. Jadi tolong anda lebih mengerti dia, lebih bisa memahami semua yang dia lakukan untuk anda."
"Ahjumma!"
"Apakah anda tahu agashi? Bibirnya akan tertarik kesamping membentuk sebuah senyuman kalau ada anda disisinya."
Kenapa Baekhyun ingin menangis mendengar apa yang dikatakan asisten rumah tangganya itu? Dadanya berdegup dengan begitu cepat lalu tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang menyakitkan, bayangan akan kehilangan sosok tinggi besar itu kembali mendatanginya.
Apakah dia sanggup bertahan hidup tanpa Chanyeol disisinya?
.
.
.
Chanyeol duduk dengan tenang di salah satu rumah yang letaknya sedikit masuk ke dalam dari jalanan utama Myeongdong. Dia disambut dengan begitu hangat oleh pemilik rumah. Wanita beruban yang saat ini duduk di depannya itu, menyiapkan satu mangkuk sup, satu mangkuk nasi hangat dan juga segelas teh hangat. Menu sederhana yang nyatanya mampu membuat hati Chanyeol bergetar haru.
"Dia kemarin mendatangiku, bertanya banyak hal padaku dan menunjukkan sebuah foto dari seorang gadis kecil yang dulu menjadi pelangganku." Wanita itu membuka suaranya, dengan nada yang terdengar lirih dan serak. Jari telunjuknya menunjuk Jongdae yang duduk tak jauh dari Chanyeol.
"Anda mengenal siapa orangtua gadis kecil itu?"
"Hanya sekedar tahu. Wanita cantik itu tak pernah memperkenalkan dirinya sebagai siapa, dia hanya menyebut dirinya sebagai Baekhyunie eomma."
Chanyeol mengangguk-angguk, dari jawaban itu dia cukup bisa memahami bagaimana Heechul sangat melindungi keluarganya. Dia tak membiarkan orang lain tahu jati dirinya.
"Namanya anda tak tahu."
Wanita itu menggeleng.
"Tentang gadis kecil yang dibawa wanita itu, anda hanya tahu namanya Baekhyunie?"
"Iya."
Bolehkah Chanyeol bernafas lega sekarang? Setidaknya, Heechul sangat membantunya dengan tak mengumbar tentang kehidupan pribadinya pada orang lain. Kalau sudah seperti ini, kekhawatirannya bisa sedikit berkurang.
"Ah ya! Kau terlalu pagi ke tempat ini, makanlah. Kalian pasti menyukainya, aku yakin itu."
Chanyeol dan Jongdae saling menatap.
"Maaf merepotkan anda pagi ini ahjumma."
Wanita itu tersenyum kecil. "Kalau kau bertemu dengan gadis itu, katakan padanya bahwa aku sangat merindukannya."
Chanyeol menatap wanita itu, lalu mengangguk kecil. Dia kemudian menyuapkan makanan yang disediakan wanita itu ke dalam mulutnya.
.
.
.
Sampai siang hari, tak ada kegiatan berarti yang dilakukan Baekhyun.
Setelah sarapan tadi hingga waktu menunjukkan pukul dua, Baekhyun hanya bermain-main dengan Larry. Gadis itu tampak senang berlarian di halaman samping Mansion, dengan Larry yang selalu membuntutinya. Kalau lelah, dia akan berhenti sambil mengusap-usap sayang punggung Larry.
"Larry-ya! Apa kau merasa rumah ini sangat sepi?" tanyanya yang dibalas nyalak keras Larry.
"Kau setuju denganku. Hah! Aku akan meminta ahjussi membawakan banyak teman untukmu." Lanjut Baekhyun masih sambil mengusap sayang punggung Larry.
Anjing yang ukurannya cukup besar itu seakan mengerti kalau dia sangat disayangi oleh Baekhyun. Dengan tingkah manjanya, Larry mengusak-usakkan kepalanya pada leher Baekhyun, hingga membuat gadis itu tergelak keras. Baekhyun bahkan sudah berguling di rerumputan bersama Larry yang ikut melakukan hal yang sama dengannya.
Sementara itu di dalam Mansion.
Hankyung masuk ke dalam Mansion setelah Kwon ahjumma membukakan pintu untuknya. Laki-laki yang masih terlihat gagah di usianya yang sudah tak muda lagi itu melangkah dengan gayanya yang angkuh.
Ketika dia melewati ruang tengah, yang berbatasan langsung dengan halaman samping, matanya menyipit mendapati sosok yang cukup asing baginya.
"Siapa dia?" tanya Hankyung dengan nada dingin.
Kwon ahjumma menelan ludahnya.
Saat pertama kali dia dipekerjakan di tempat ini, dia sudah diberitahu oleh Jongdae beberapa peraturan di Mansion ini. Cukup banyak tapi yang paling dia ingat adalah tak boleh ada yang mengungkit tentang asal usul Baekhyun, dia tak diberi hak untuk tahu lebih banyak tentang Baekhyun. Yang harus dia tahu, Baekhyun salah satu majikannya dan perintah Baekhyun sama mutlaknya dengan perintah Chanyeol. Peraturan lain yang diingatnya, apapun yang terjadi di dalam Mansion ini, orang luar tak boleh ada yang tahu. Dalam hal ini, Hankyung dianggap orang luar oleh Chanyeol, jadi yang ada dan terjadi di dalam Mansion ini, Hankyung tak boleh tahu.
"Kau tuli! Aku bertanya padamu!" bentak Hankyung yang membuat Kwon ahjumma berjengit kaget.
"Nde. Dia calon istri Tuan muda."
Hankyung menoleh dengan gerakan cepat, tatapannya dia lempar semakin tajam pada perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengannya itu.
"Sejak kapan Chanyeol memiliki calon istri? Dia tak pernah bercerita mengenai hal ini padaku."
"Sudah cukup lama. Agashi selama ini tinggal di Perancis. Baru tiba beberapa hari yang lalu."
"Dia tinggal disini?"
"Nde."
Hankyung mendekati halaman samping, dimana disana Baekhyun masih terlihat asyik bermain dengan Larry.
Cukup lama pria itu berdiri di teras samping, sampai beberapa menit kemudian Baekhyun menyadari kehadirannya. Gadis bertubuh mungil dengan panjang yangg hari ini di ikat tinggi ke atas itu terlihat mengerutkan dahinya.
Hankyung melambaikan tangannya pada Baekhyun, meminta gadis itu untuk mendekat padanya.
"Larry kajja!" ajak Baekhyun pada anjingnya, dia berlari kecil mendekati Hankyung.
Ketika mata mereka bertemu dijarak yang cukup dekat, Hankyung merasakan dirinya ditarik pada masa ketika dia baru pertama kali bertemu Heechul. Mata milik gadis dihadapannya itu, mengingatkannya pada mata Heechul, polos dan penuh binar kebahagiaan.
"Kau siapa?"
Baekhyun memperhatikan dengan seksama sosok Hankyung, dia tak merasa kenal pria dihadapannya itu, tapi kenapa pria itu bisa masuk bebas ke Mansion milik Chanyeol yang sangat terlarang untuk orang luar?
"Ahjussi sendiri siapa?" tanya Baekhyun balik.
"Aku yang bertanya lebih dulu, seharusnya kau menjawab pertanyaanku lebih dulu gadis kecil."
"Park Baekhyun imnida!" Baekhyun membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk sopan santun saat dia memperkenalkan dirinya pada orang lain. "Ahjussi siapa?"
"Tan Hankyung. Aku ahjussi dari Park Chanyeol."
Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Chanyeol memang tak pernah menceritakan seperti apa Hankyung padanya, tapi dari gambaran yang Chanyeol berikan padanya, sepertinya Hankyung orang jahat yang harus dijauhinya. Tapi setelah melihat Hankyung dengan mata kepalanya sendiri, Baekhyun tak yakin apa yang dikatakan Chanyeol semua benar.
Hankyung terlihat seperti orang baik. Senyumnya juga cukup hangat. Ehm...
"Chanyeol ahjussi pergi kerja pagi-pagi sekali. Jadi kalau Hankyung ahjussi bermaksud mencarinya, sebaiknya temui dia perusahaan saja."
"Aku kesini untuk melihatmu."
Baekhyun menatap Hankyung tak percaya. Tak lama kemudian gadis mungil itu tersenyum tipis, terkesan malu-malu.
Sekali lagi Hankyung merasakan ingatannya ditarik pada masa itu, saat Heechul tersenyum malu-malu dihadapannya.
Ada apa ini? batinnya bertanya.
Sekitar beberapa jam kemudian, suasana di ruang tengah mansion mewah Chanyeol berubah menjadi lebih hangat.
Hankyung dan Baekhyun duduk bersisihan, mereka saling bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, hobi dan makanan yang mereka gemari.
Sesuatu yang aneh menurut Kwon ahjumma dan juga pengawal pribadi Hankyung yang melihat hal itu, karena seumur hidup mereka, selama mereka mengenal sosok Hankyung, pria itu jarang bahkan nyaris tak pernah tertawa selepas ini ketika bersama seseorang.
Kalau Kwon ahjumma hanya sekilas saja mengetahui Hankyung. Dari cerita Jongdae dan dari foto yang dipajang Chanyeol di ruang tengah ini, bukan foto ukuran besar, hanya sebuah foto yang diambil ketika Chanyeol masih kecil. Meski hanya melalui foto, Kwon ahjumma cukup bisa menyimpulkan kalau Hankyung memiliki sifat dingin dan arogan. Tapi melihat pria itu duduk bercanda dengan Baekhyun, rasanya yang dipikirkannya salah selama ini. Baekhyun mampu membuat suasana dingin di sekitar ruangan tengah itu menjadi hangat.
Sepertinya Baekhyun berbeda dari orang kebanyakan yang di kenal Hankyung. Biasanya beberapa orang segan bercengkrama dengan Hankyung karena tahu siapa dan bagaimana sifat pria itu. Tapi Baekhyun...
Beberapa kali Hankyung tampak tertawa lepas mendengar celotehan Baekhyun tentang kejadian beberapa waktu yang lalu saat dia menghajar seorang pencuri di Perancis. Juga tentang bagaimana gadis itu meloloskan diri dari pengawalan orang-orang suruhan Chanyeol.
"Ahjussi! Apa Chanyeol ahjussi waktu kecil nakal?"
"Ehm. Tidak. Dia anak penurut."
"Tapi kenapa sekarang nakal?"
"Maksudnya?"
"Dia suka mengigitku kalau gemas."
Sekali lagi ujung bibir Hankyung tertarik ke samping, membentuk segaris senyuman. Baekhyun ikut tersenyum.
"Apakah ada yang pernah mengatakan pada ahjussi, kalau ahjussi sangat tampan ketika tersenyum."
Deg
"Aku suka melihatmu tersenyum Hannie-ya, karena ketika kau tersenyum, kau semakin terlihat tampan."
"Aku ambil minuman lagi ya ahjussi." Baekhyun berdiri dari duduknya, pada saat itu, kerah kaos yang dipakainya merosot melewati bahu kirinya.
Hankyung sedikit memicingkan matanya saat menangkap ada sebuah tato kecil di bahu dalam Baekhyun.
"Itu tato?"
"Ehm. Tato bunga sakura." Baekhyun merasa bahunya. "Sebentar ya ahjussi." Lanjut gadis itu sambil melangkah ke dapur.
"Biar saya saja agashi." Kwon ahjumma mendekati Baekhyun.
"Gwaenchana ahjumma. Aku bisa melakukannya." Sahut Baekhyun sambil membuat minuman dari perasan jeruk segar. Hankyung yang meminta minuman seperti itu tadi.
"Tapi..."
"Ada apa ahjussi kemari?"
Baik Baekhyun maupun Kwon ahjumma menoleh pada sumber suara. Chanyeol berdiri di ruang tengah sambil menatap tajam Hankyung.
Baekhyun meletakkan jeruknya, dia lalu mendekati Chanyeol.
"Masuk ke kamar Baek-ah!" perintah Chanyeol.
"Ahjussi!"
"Jangan membantah!"
Baekhyun mempoutkan bibirnya, kesal dengan suara tinggi Chanyeol.
Dengan kaki dihentakkan keras, Baekhyun berbalik dan langsung berlari ke lantai dua. Bukan langsung pergi ke kamar, tapi berhenti di salah satu sudut tak terlihat. Mata kecilnya menatap kejadian di bawah.
"Apa salah seorang ahjussi mengunjungi kediaman keponakannya?"
"Tidak. Tapi aku tak menyukainya!" jawab Chanyeol tegas.
Hankyung berdiri dari duduknya, lalu mendekati Chanyeol.
"Apa karena aku bertemu dengannya, kau mengatakan hal itu?" Hankyung melempar pandangannya ke lantai atas. Menatap Baekhyun yang juga tengah menatapnya saat itu. tatapan Hankyung diikuti Chanyeol.
"Kau menyembunyikan dia dariku. Pasti ada sesuatu yang sedang kau tutupi dariku Chanyeol-ah. Siapa dia? Darimana dia?"
"Ahjussi tak perlu tahu. Keberadaan dia sini itu urusanku. Siapa dan darimana dia? Cukup aku yang tahu. Yang ada di dalam mansion ini bukan urusan ahjussi, jadi kalau ahjussi sudah tak ada kepentingan, silahkan pergi!"
Hankyung tersenyum miring.
"Dia gadis yang menyenangkan. Tapi... kau sangat tahu bagaimana aku. Rasa penasaran kadang membuatku sedikit nekad. Dan mendengar jawabanmu, aku semakin penasaran dengannya."
"Ahjussi! Aku bukan lagi Chanyeol yang dulu, yang mendengar hal seperti ini saja akan ketakutan. Kalau ahjussi bisa memberi ancaman untukku, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan mengusiknya kalau ahjussi masih ingin aku menjalankan semua kerajaan bisnis ahjussi. Karena jika satu helai rambutnya jatuh akibat perbuatan ahjussi, semua yang kita miliki, akan kubuat rata dengan tanah."
"Kau pikir aku takut dengan ancaman itu Chanyeol-ah?"
"Coba saja kalau ahjussi berani. Seperti yang ahjussi katakan, dibanding dengan orang-orang yang ahjussi percayai, orang-orangku jauh lebih loyal padaku. Jadi akan sangat mudah bagiku menghancurkan semuanya."
Hankyung menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu tak berapa lama dia merapikan dasi yang dipakai Chanyeol.
"Matamu penuh dengan ketakutan, hal itu justru membuatku semakin penasaran joka." Pria itu tersenyum miring sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Hankyung, Chanyeol baru bisa bernafas dengan lega.
"Tuan muda!"
"Katakan pada Celline untuk terus memantau orang itu. Yang kukhawatirkan sebentar lagi akan terjadi Jongdae-ah."
"Baik."
Jongdae pergi dari ruangan itu, dia masuk ke dalam ruangan lain yang hanya dia dan Chanyeol yang boleh masuk ke dalamnya.
"Tuan muda!" panggil Kwon ahjumma lirih. Ada rasa bersalah yang muncul dihatinya tiba-tiba. Seharusnya dia lebih bisa menjaga Baekhyun, seharusnya...
"Pergilah ke pavilliun belakang ahjumma!" perintah Chanyeol sambil berlalu dari ruangan itu. Dia menaiki anak tangga hingga sampai ke lantai dua.
Begitu kakinya menginjak lantai dua, Baekhyun berdiri tak jauh darinya.
"Ahjussi!"
Chanyeol hanya melirik Baekhyun. Setelah itu dia berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Baekhyun mendesah kecil, dia memang suka mendebat apapun yang dikatakan Chanyeol yang tak sesuai dengan hatinya. Tapi kali ini, meski dia memiliki keyakinan yang berbeda dengan Chanyeol mengenai Hankyung, dia tak ingin mendebat pamannya itu.
Baekhyun menyusul langkah Chanyeol masuk ke dalam kamar.
.
.
.
Baekhyun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, menyusul Chanyeol yang sudah lebih dulu membasahi dirinya dibawah air yang keluar dari shower.
Sudah hampir satu jam dia duduk di sofa tadi, bermaksud hanya menunggu Chanyeol disana. Tapi kenyataannya pria itu tak kunjung keluar dari kamar mandi. Jadi Baekhyun memutuskan untuk masuk ke kamar mandi itu.
Grep
Baekhyun melingkarkan lengannya pada pinggang pria tinggi itu. Dengan pelan dia menyandarkan kepalanya di punggung lebar itu.
"Kau akan kebasahan disini Baek-ah."
"Aku merindukan ahjussi." Bisik Baekhyun sambil mengusap lembut punggung telanjang Chanyeol. Usapan tangannya berhenti tepat diatas bekas luka gigitan di bahu belakang pria itu.
"Apa ini masih terasa sakit?"
"Tidak lagi. Itu hanya bekasnya, jadi tak lagi terasa sakit."
Baekhyun tersenyum kecil, masih mengusap bekas luka itu.
"Kau terlihat banyak pikiran, tegang dan khawatir. Ingin membagi semua denganku?"
Chanyeol berbalik, mata bulat besarnya menatap Baekhyun yang sudah kuyup karena air yang mengucur deras dari lubang-lubang kecil diatas kepala mereka itu.
Tak lama kemudian, pria itu mendorong tubuh kecil Baekhyun hingga membentur dinding. Lalu...
"Eeummhhh!" Baekhyun mendesah tertahan saat bibir Chanyeol meraup kasar bibirnya. Pria itu juga tak lupa melucuti pakaian gadis mungil hingga keduanya kini sama-sama telanjang.
Sejak Baekhyun memutuskan kembali ke Korea, Chanyeol merasakan sesuatu yang besar akan segera terjadi. Setiap hari berganti, rasa takut dan rasa khawatirnya semakin bertambah. Kemarin dia dibuat khawatir dengan penuturan anak buahnya tentang Baekhyun yang tiba-tiba pingsan di Myeongdong. Lalu hari ini, setelah dibuat lega dengan keterangan pemilik kedai itu, Chanyeol kembali dibuat olahraga jantung dengan kehadiran pamannya di rumahnya.
Bukan hanya tentang kehadiran pamannya, tapi tentang kenyataan kalau pamannya sudah bertemu dengan Baekhyun.
Hah!
"Eeehhhmmmm!" Chanyeol mengangkat tubuh kecil Baekhyun. Dengan masih menautkan bibirnya pada bibir Baekhyun, dia membawa gadis itu keluar dari ruangan sempit itu dan mendudukkannya diatas wastafel.
"Aku mencintaimu Baekhyunie, kau harus tahu itu dan kau harus meyakini hal itu."
Baekhyun tertawa kecil, lalu menangkup wajah kekasih hatinya yang ketika basah justru terlihat semakin menggoda.
"Kalau aku tak mencintaimu, kita tak akan telanjang disini ahjussi tampanku. Aku juga mencintaimu, itu yang harus kau tahu dan itu yang harus kau yakini."
Keduanya kembali saling berciuman, kali ini jauh lebih kasar. Tak berhenti hanya disitu, tangan keduanya mulai bergerilya ke bagian lain dari tubuh masing-masing.
Tangan Chanyeol terlihat berada di dada Baekhyun, meremasnya lembut seiring gerakan lembut Chanyeol atas bibir gadis itu. Sedangkan Baekhyun, tangannya begitu nakal mengurut bagian selatan tubuh Chanyeol, membuat benda itu terasa semakin besar dan semakin menegang.
Chanyeol melepas tautan bibirnya, dengan tatapan berselimut nafsu dia mendorong bagian selatan tubuhnya untuk masuk ke dalam lubang favoritnya.
Hal itu disambut Baekhyun dengan suka cita, gadis itu terlihat begitu menikmati detik demi detik saat benda itu melesak masuk ke dalam organ intimnya.
"Eeemmmhhhh!" desahnya lembut sembari menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya. Kedua tangannya yang melingkari leher Chanyeol, meremat kuat punggung pria itu.
Yang terdengar berikutnya hanya desahan yang saling bersahutan dari bibir keduanya, dimana dari desahan itu dapat disimpulkan bahwa keduanya tengah berusaha memuaskan hasrat satu sama lain.
Tiga puluh menit kemudian
Baekhyun sudah bergelung manja dalam dekapan Chanyeol diatas ranjang. Terlihat jelas bagian atas tubuh Baekhyun tak memakai apa-apa. Bisa dipastikan bagian bawahnya juga tak jauh berbeda.
Chanyeol mengelus sayang punggung telanjang gadis itu.
"Apa yang kau bicarakan dengan Han ahjussi tadi?"
"Eh. Banyak hal, tentang kita dan juga tentang aku yang selama ini tinggal di Perancis. Ehm... dia juga bertanya tentang tato bunga Sakura di punggungku."
"Aku sudah sering mengatakan padamu, jangan suka memamerkan itu pada orang lain."
"Aku tak memamerkannya. Kebetulan tadi pakai kaos yang kerahnya lebar jadi jatuh melewati bahu dan terlihat."
"Bukankah sama saja, niatmu mungkin tak memamerkannya tapi kalau dilihat orang lain itu berarti kau memamerkannya Baekhyunie."
Baekhyun bangun dari tidurnya. Matanya menatap Chanyeol dengan tatapan kesal.
"Wae?" tanya Chanyeol polos.
"Aku belum pernah mengatakan padamu hal ini 'kan. Dari...ah!" pekik Baekhyun kaget karena Chanyeol tiba-tiba menyampirkan selimut ke depan dadanya.
"Kau ceroboh, kalau orang lain melihat ini, bukan tak mungkin kau akan langsung di perkosa. Cukup aku yang melihat semua yang ada padamu, kau paham itu nona kecil!" Chanyeol bangun dari tidurnya, mengambil posisi duduk sejajar dengan Baekhyun, lalu tanpa ragu dia menggesekkan hidung mancungnya diatas hidung lancip milik Baekhyun. Kemudian dengan gemas dia mencium pipi kekasihnya itu.
"Aish!" Baekhyun menghindar kesal.
Chanyeol tersenyum lebar. Inilah kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan saat dia bersama orang lain, hanya Baekhyun dan hanya pada gadis itu Chanyeol tak pernah ragu mengumbar senyum lebarnya.
Sejak dia membawa Baekhyun ke mansion ini sekitar dua belas tahun yang lalu, arah hidupnya banyak berubah. Bisnis bawah tanah yang dulu sempat dipercayakan pamannya padanya, perlahan mulai dia tinggalkan. Bisnis itu tak membawanya pada kebaikan, terlalu banyak ancaman bila dia tetap bertahan disana.
Kalau dia seorang diri, tak jadi masalah. Tapi ada Baekhyun yang dia besarkan, dia tak mau mengambil resiko mencelakan gadis itu. Makanya, satu tahun setelah kejadian itu, Chanyeol memilih mengirim Baekhyun ke Perancis. Membiarkan gadis itu tumbuh di salah satu negara yang terdapat di benua biru itu.
Terlalu besar resiko yang harus dia terima seandainya membiarkan Baekhyun tetap berada di dekatnya yang kemudian diketahui musuh yang berkedok rekannya. Karena hal itu bisa menjadi ancaman besar untuknya dan untuk Baekhyun tentunya. Baekhyun adalah kelemahan terbesarnya dan hal itu tak boleh diketahui oleh siapapun.
"Aku belum selesai bicara tadi."
"Ehm. Aku akan mendengarmu."
"Di mansion ini, ada dua orang yang paling ku benci!" ujar Baekhyun berapi-api. Chanyeol mengangguk-angguk sambil turun dari ranjangnya. Dia membuka lemari pakaiannya, lalu mengambil celana dan memakainya.
"Aku bicara padamu Park Chanyeol-ssi!" pekik Baekhyun kesal karena merasa Chanyeol tak memperhatikannya dengan benar.
"Aku mendengarmu Park Baekhyun-ssi. Katakan saja!" sahut Chanyeol sambil memakai kaos.
Baekhyun diam sambil memperhatikan Chanyeol yang setelah memakai kaos masih terlihat sibuk di depan lemari pakaiannya.
Setelah dua menit berlalu, Chanyeol menolehkan kepalanya ke belakang, matanya menangkap tatapan Baekhyun yang terlihat begitu kesal padanya. Dia sering mendapati gadis itu menatapnya demikian, pertama kali dia mendapatkannya sekitar lima hari setelah kejadian malam naas itu. Baekhyun kecil ingin sekali bermain keluar saat itu, karena dia tak mengijinkannya, gadis itu menatapnya seperti saat ini. Awalnya dia merasa cukup terganggu dengan tatapan itu, tapi lama-lama dia menikmati setiap hal dilemparkan Baekhyun untuknya termasuk tatapan mata kesalnya.
Chanyeol membuang nafasnya perlahan. Dia kemudian menghampiri Baekhyun dengan membawa kaos besarnya.
Bagaimanapun juga, Baekhyun tetaplah anak kecil baginya. Yang ingin diperhatikan. Chanyeol memakaikan kaos itu pada Baekhyun. Masih sama, meski menuruti apa yang dilakukan Chanyeol padanya, si mungil tetap memberikan tatapan kesal itu pada ahjussi tampannya itu.
Setelah memakaikan kaos itu pada Baekhyun, Chanyeol menyelipkan lengannya di bawah ketiak Baekhyun, lalu sekali sentak gadis itu sudah berpindah dalam gendongannya.
"Jongdae sudah menceritakannya padaku. Tempo hari kau marah-marah padanya karena dia memaksamu pergi dari makam eomma bukan?"
"Ehm." Gumam Baekhyun mengiyakan.
"Aku tahu kau tak menyukaiku, aku juga tahu kau tak menyukai Jongdae."
"Tapi aku mencintai ahjussi." Lirih Baekhyun yang sudah menyadarkan kepalanya di bahu Chanyeol.
Chanyeol mengembangkan senyum tipisnya sepanjang langkahnya menuruni anak tangga.
Begitu sampai di dapur, dia mendudukkan Baekhyun di meja dapur. Lalu dengan kedua lengannya yang menumpu meja dapur, dia memenjara tubuh kecil gadis itu.
"Baekhyunie! Dengarkan aku baik-baik!" pintanya lembut. Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan yang sudah berbeda dari sebelumnya.
"Satu hari nanti, saat aku tak lagi bisa bersamamu, kau harus tetap meyakini bahwa semua perasaan sayang dan cinta yang kumiliki hanya untukmu. Perasaan ini tulus dari dasar hatiku. Jangan pernah dengarkan orang yang mengatakan aku mencintaimu hanya karena rasa bersalahku pada masalalumu."
"Ahjussi." Lirih Baekhyun, tangannya terulur meremat kaos yang dipakai Chanyeol.
Chanyeol membelai lembut wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Sekali lagi, kejadian beberapa jam yang lalu, mengusik ketenangannya. Kunjungan mendadak pamannya, membuat otaknya seakan berhenti bekerja.
Bertahun-tahun dia memiliki Mansion ini, pamannya tak pernah menginjakkan kakinya disini, tapi hari ini... Tuhan seolah menggiring pamannya untuk datang ke tempatnya, bertemu dengan orang yang selama dua belas tahun ini dicarinya.
Hankyung mungkin tak menyadari siapa Baekhyun, tapi Chanyeol yakin pamannya itu akan mencari tahu siapa Baekhyun. Jangankan Baekhyun, seluruh orang yang bekerja padanya, pamannya tahu asal usulnya, makanya kemarin pamannya itu sempat menyinggung tentang loyalitas bawahannya yang tak mudah tergiur bujuk uang pamannya.
Kalau pamannya sampai menemukan jati diri Baekhyun yang sesungguhnya, apa yang selama ini sedang dia siapkan untuk gadis itu bisa hancur dalam sekejap matanya karena jelas pamannya tak akan membiarkannya atau Baekhyun selamat.
Secara tak kasat mata, kekuatan yang dimiliki Chanyeol memang sudah sejajar dengan Hankyung, tapi tetap saja, melawan Hankyung bukan perkara yang mudah. Dia sudah mengibarkan bendera perangnya tadi, sudah memperjelas sesuatu yang tentu membuat pamannya semakin penasaran dengan diri Baekhyun.
Huft!
"Baekhyunie! Nanti ada masanya dimana kau akan tahu semuanya. Saat hal itu terjadi, kau mungkin akan sangat membenciku dan mungkin kau tak mau lagi mendengar penjelasanku. Yang harus kau ingat, semua yang kulakukan untukmu adalah hal terbaik yang bisa kuusahakan untuk melindungimu. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Kau harus ingat itu."
"Apa ahjussi akan pergi jauh? Cara bicara ahjussi aneh."
Chanyeol menggeleng pelan.
"Lalu kenapa ahjussi mengatakan hal-hal aneh seperti itu? Apa ahjussi sudah bosan denganku? Ahjussi ingin mencari perempuan dewasa yang lebih bisa mengerti ahjussi?"
Chanyeol tersenyum tipis, dia kemudian mengecup ringan bibir Baekhyun.
"Bagiku hanya kau satu, tak ada yang lain. Kalaupun satu hari nanti cintaku padamu terbagi, itu hanya pada sosok lain yang akan kau lahirkan."
Wajah Baekhyun pias. Pipinya bersemu merah jambu.
"Ahjussi!"
"Ehm."
"Kemarin sore saat di Myeongdong, aku berhenti di salah satu kedai sup. Aku melihat sosok kecil jatuh di bawah kakiku, lalu aku mendengar suara seseorang memanggil namaku."
Chanyeol memperhatikan Baekhyun dengan seksama.
"Lalu?"
"Aku tak tahu, tapi aku merasa pernah mengalami kejadian yang sama." Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan menuntut jawaban atas apa yang dia rasakan. "Eomma, apa dia pernah membawaku kesana?"
"Ehm. Kau pernah kesana. Kau bahkan sangat menyukai sup buatan pemilik kedai itu."
"Jinjja?! Dengan eomma? Ahjussi tidak ikut?"
Chanyeol membelai lembut kepala Baekhyun.
"Aku pernah dan sering membayangkan kehilangan dirimu. Bahkan aku menyiapkan hatiku untuk hal itu, tapi semakin kesini, semakin dekat kau dengan ingatan masa lalumu, aku merasakan semakin berat beban yang kurasakan sayang. Baek-ah! Tahukah kau, pria yang saat ini berada di depanmu, yang terlihat kuat, ternyata sangat rapuh hanya dengan membayangkan kehilangan dirimu."
"Ahjussi!" panggil Baekhyun.
"Aku sering disibukkan dengan pekerjaanku, jadi saat kalian pergi aku tak pernah ikut." Bohong Chanyeol.
"Kau sudah bekerja dengan sangat keras sejak kau masih muda, apa kau tak lelah ahjussi?"
"Aigooo! Kau pikir aku bekerja dengan sangat keras untuk menyenangkan siapa?" Chanyeol menjepit gemas hidung lancip Baekhyun.
"Aku. Tentu saja aku." Baekhyun menunjuk dirinya dengan sangat bangga. Senyum Chanyeol terkembang dengan sangat lebar. Dengan segala hal yang dimilik Baekhyun, dia tak menemukan alasan untuk tak mencintai gadis itu. Baekhyun sangat menarik dengan segala yang ada padanya.
"Ok! Karena aku sangat lapar setelah bekerja dengan sangat keras tadi, bagaimana kalau kita masak lalu makan malam?"
"Ehm... bagaimana kalau ahjussi yang masak dan aku yang menunggu masakannya selesai disini."
"As your wish baby. But... give me one kiss!"
"Eodiga?"
"Ehm." Chanyeol menunjuk bibirnya.
Baekhyun menangkup wajah Chanyeol, kemudian memberikan kecupan pada dahi, kedua pipi pria itu, juga hidung dan tentu saja bibir pria tampan itu.
"Aku mencintai Ahjussi."
"Aku juga mencintaimu, sayang."
Keduanya saling tersenyum sebelum kemudian saling berpagut mesra.
.
.
.
"Bagaimana?" Hankyung menatap orang kepercayaannya yang baru masuk kedalam ruangannya dengan tatapan dinginnya.
"Tidak di temukan nama Park Baekhyun dengan ciri yang anda sebutkan di dinas kependudukan Korea. Banyak yang memiliki nama itu, tapi bukan yang anda maksud."
"Tidak mungkin. Kalau dilihat dari struktur wajahnya, dia seperti orang Korea kebanyakan, jadi tak mungkin kalau namanya dan keterangan lainnya tak tercatat disini."
"Tim kita sudah mencari data tentang dia, tapi tak menemukan apapun yang berhubungan dengannya kecuali kemarin dia mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Kalau diterima, dia akan kuliah di Exordium university."
Hankyung memukul pegangan kursi yang didudukinya keras, raut kesal tampak jelas di wajahnya.
"Brengsek! Dia sudah mulai bermain-main denganku. Park Chanyeol! Aaaaahhhh!" kaki Hankyung menendang kaki meja di depannya.
Untuk beberapa hal, kadang dia kalah dengan Chanyeol. Keponakan yang dia besarkan itu, yang dia ajari strategi dalam bisnis itu, ternyata jauh lebih pintar darinya.
"Kalau Chanyeol sangat melindungi data anak itu, berarti anak itu bukan orang sembarangan. Dia pasti memiliki sesuatu..." Hankyung tampak berpikir keras, tangannya terkepal semakin erat. Apa yang coba Chanyeol sembunyikan darinya? Siapa anak itu?
"Yesung-ah!"
"Nde."
"Cari seorang anak perempuan berusia dua puluh satu tahun."
"Heh!"
Hankyung melirik Yesung dengan mata tajamnya. "Aku curiga dengan cara Chanyeol menatap gadis itu. Pasti ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan dariku. Kau ikuti saja perintahku, nanti aku akan memberitahukan apa yang selanjutkan akan kita lakukan."
"Baik Tuan!" Yesung menyanggupi permintaan Hankyung, dia membungkukkan tubuhnya, lalu undur diri dari ruangan itu.
Hankyung masih berdiam diri di ruangannya. Dia terlihat berpikir keras, saat bicara dengan Baekhyun, dia merasa tengah berhadapan dengan Heechul. Tawa gadis itu, mengingatkannya akan sosok perempuan yang paling dicintainya itu. Mungkinkah ada hubungan antara keduanya?
Hankyung menggeleng pelan, rasanya tak mungkin. Chanyeol bukan orang yang mudah di perdaya oleh musuh-musuhnya. Jadi... tak mungkin Chanyeol membesarkan anak Heechul. Tapi... kalau hal itu benar-benar terjadi...
Hankyung beranjak dari duduknya, dia kemudian mendial sebuah nomor dari ponselnya.
"Kau sudah menemukannya?" tanyanya to the point begitu panggilannya dijawab oleh si penerima.
"Heechul-ssi memang memiliki seorang putri. Tapi dia tidak lahir disini, putrinya juga tak memiliki kewarganegaraan Korea. Heechul-ssi melahirkan putrinya di Amerika, putrinya warga negara Amerika."
"Siapa namanya?"
"Byun...tut... tut... tut..."
"Hallo! Hallo! Steve! Aaaahhhh!"
Prang!
Hankyung melempar begitu saja ponselnya.
"Brengsek!"
.
.
.
Chanyeol tersenyum puas di depan layar monitor besar di ruang khususnya. Di sampingnya, Jongdae tengah bekerja dengan wajah seriusnya.
"Untuk selanjutnya, orang ini tak akan bisa menghubungi Tuan besar lagi. Kita sudah memutus sambungan telponnya dan orang-orang kita sudah sampai di tempat itu untuk membereskannya." Jelas Jongdae.
"Ehm." Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang didudukinya.
"Tuan muda!" panggil Jongdae lirih.
"Aku merasakan ketakutan yang luar biasa saat ini Jongdae-ah. Bukan hanya takut kalau keberadaannya di ketahui Han ahjussi. Aku takut saat dia mengingat semuanya, maka tatapannya berubah padaku."
Jongdae melirik Chanyeol. Dari sudut mata orang yang sangat dihormatinya setelah orangtuanya itu, dia melihat air berkumpul.
"Bukankah Ny. Kim mengatakan dia yang akan menjelaskan semuanya pada Baekhyun-ssi nantinya?"
"Menurutmu orang yang sudah mati bisa menjelaskan semuanya?"
Benar apa yang dikatakan Chanyeol. Sama halnya seperti Chanyeol, Jongdae juga tak paham ketika Heechul mengatakan akan menjelaskan semuanya pada Baekhyun satu hari nanti saat gadis itu tahu segalanya. Sekarang Heechul sudah menjadi abu, sudah tak lagi dapat berbicara dengan putrinya, lalu dengan cara bagaimana perempun itu akan menjelaskan semuanya yang sudah terjadi?
"Tuan muda! Awalnya saya memang tak menyukai ide anda ini, menerima tawaran Ny. Kim untuk membesarkan putrinya bukanlah ide bagus. Banyak kekhawatiran yang saya rasakan. Termasuk salah satu apa yang sedang terjadi saat ini. Saya memang tak begitu menyukai kehadirannya, tapi... saya harus banyak berterimakasih padanya, karena dengan kehadirannya, anda lebih menjadi manusia. Senyum anda, tawa anda, binar kebahagiaan dimata anda, semua bersumber darinya."
Chanyeol tersenyum tipis, selain ibunya dulu, memang Baekhyun 'lah yang menjadi sumber kebahagiaannya saat ini.
"Bila satu hari nanti terjadi sesuatu denganku, berjanjilah kau akan menjaganya Jongdae-ah. Kau harus ada disampingnya, menjadi orangnya. Kau juga harus memastikan bahwa semua yang kusiapkan untuknya, benar-benar jatuh dalam genggamannya."
"Tuan muda!"
"Kita sangat tahu bagaimana tabiat Hankyung ahjussi. Dia tak akan tinggal diam ataupun menyerah ketika tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Pencariannya tak akan berakhir malam ini, dia akan terus mencari keberadaan Baekhyun dan kalau dia sampai menyadari Baekhyun adalah anak Heechul-ssi yang selama ini dia cari, bukan hanya dia yang akan dibinasakan, kita juga mungkin akan mengalami hal yang sama. Kalau hal itu terjadi, aku akan mengambil cara yang sama seperti yang dilakukan Heechul-ssi dua belas tahun yang lalu. Jika Hankyung ahjussi melakukan penyerangan disini dan kalau sampai sesuatu terjadi padaku. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah pergi dari sini. Cari Baekhyun dan bawa dia pergi dari negara ini. Setelah itu, pergilah ke Perancis, tanya Celline tentang brankas yang aku siapkan untuk Baekhyun. Disana aku menyimpan semua data perusahaan yang menjadi hak miliknya, juga seluruh tabungan atas namanya dan beberapa surat penting lainnya."
"Tuan muda!" Jongdae menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Seperti yang sudah kukatakan padamu. Untuk keselamatan Baekhyun, aku hanya bisa mempercayakannya padamu."
"Aku tak akan melakukannya."
"Jongdae-ah!"
"Dua belas tahun lalu, anda berani mengambil tanggungjawab kedua orangtuanya untuk menjaga dan membesarkannya. Tugas anda tak berhenti sampai disitu karena saat ini hubungan anda sudah lebih dari seseorang yang hanya dipercaya untuk menjaga, anda sudah melibatkan perasannya dan juga perasaan anda sendiri, dia bukan tanggungjawab saya. Dia adalah tanggungjawab anda. Kalaupun ada yang harus menyelamatkannya, anda sendiri yang harus melakukannya. Jangan jadi pengecut seperti Heechul-ssi, anda cukup kuat untuk memberikan perlawanan." Jongdae terdengar emosi, entah kenapa, mendengar apa yang dikatakan Chanyeol tadi, dia mengambil kesimpulan kalau pria itu memilih menyerah tanpa perlawanan terhadap sesuatu yang mungkin dilakukan Hankyung pada mereka nantinya.
Chanyeol melirik Jongdae sebentar, lalu senyumnya kembali mengembang tipis.
"Kau berpikir aku menyerah? Tidak Jongdae-ah. Aku tak akan menyerah apalagi bila yang terjadi menyangkut diri Baekhyun. Aku mengatakan hal ini hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi hal yang buruk denganku."
"Jawaban saya tetap sama. Saya tak akan melakukannya, karena saat penyerangan itu benar-benar terjadi, saya yang akan berdiri di depan anda." Sahut Jongdae tegas. "Untuk semua kebaikan yang sudah anda lakukan pada saya dan keluarga saya, rasanya apapun yang saya lakukan tak cukup untuk membalasnya. Saya memilih mengabdikan diri saya pada anda karena anda orang baik."
"Hah!" Chanyeol berdiri dari duduknya. Lalu dia menepuk pelan bahu Jongdae. "Pergilah tidur!" Chanyeol hendak keluar dari ruangan itu ketika Jongdae kembali mengajukan pertanyaan padanya.
"Kenapa anda tak menceritakan semua padanya?"
Chanyeol berbalik dan menatap Jongdae.
"Daripada dia tahu dari orang lain, bukankah lebih baik dia tahu dari anda?"
"Aku ingin melakukannya. Tapi aku tak bisa. Setiap kali melihat Baekhyun, hatiku menjadi sangat egois. Aku ingin dia, ingin bersamanya untuk waktu yang sangat lama."
"Tapi itu bukan cara terbaik. Satu hari nanti dia akan tahu semuanya, dia akan pergi dari anda dan..."
"Aku tahu. Aku sudah menyiapkan diri untuk semua itu."
"Anda yakin bisa melewati semuanya? Akan jauh lebih menyakitkan kalau dia sampai tahu tentang masalalunya dari orang lain Tuan muda. Resiko yang anda terima juga jauh lebih besar."
Chanyeol membuang nafasnya perlahan.
"Untuk saat ini, biarlah aku menjadi orang bodoh Jongdae-ah."
"Tuan muda!"
"Pergilah tidur!"
.
.
.
TBC
Note : Terimakasih atas perhatian dan cinta kalian pada cerita ini.
Semoga kalian bisa menikmati chap 3 ini.
mian untuk typo di chap sebelumnya dan di chap ini #bow
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
