Beloved Enemy
.
.
.
05
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Flashback On
.
"Bagaimana?" Tanya Chanyeol begitu Jongdae masuk ke ruang kerjanya.
"Tidak ada hasil. Pihak rumah sakit tak mau menyebutkan siapa yang membawa jasad keduanya atas permintaan si pembawa." Jelas Jongdae yang di tanggapi Chanyeol dengan sebuah desahan.
Pria itu memejamkan matanya sejenak. "Perusahaan itu, kau sudah membelinya atas nama Im Yoona?"
"Sudah. Pemegang saham yang lain tak keberatan. Mulai besok, Nona Im akan berkantor disana."
"Kau sudah memberitahu Yoona Nunna, apa saja yang harus dilakukannya?"
"Sudah. Saya menempatkan Minseok-ssi di sisi Nona Im."
Chanyeol mendesah lega.
"Tuan Muda!" panggil Jongdae pelan.
"Ahjussi sudah kembali ke China. Untuk saat ini, kita aman. Yang perlu kita pikirkan, bagaimana menyembunyikan Baekhyun. Aku tak mungkin membiarkan dia tumbuh besar disini. Semakin banyak orang yang tahu dia, masa depannya akan semakin terancam."
"Lalu apa yang akan anda lakukan?"
"Hah! Itu yang sejak tadi aku pikirkan."
"Bagaimana dengan mengirimnya ke luar negeri."
"Hmm. Tapi aku belum menemu... aaaaahh...Celline!" desis Chanyeol ketika mengingat nama seseorang. Tak lama kemudian senyumnya mengembang dengan lebar.
"Perancis. Aku akan mengirimnya ke Perancis. Kau urus semua keperluannya, nanti aku akan bicara dengannya mengenai kepindahannya ke negara itu."
"Nde."
.
.
.
Chanyeol keluar dari mobilnya dan dengan tergesa masuk ke dalam Mansion mewahnya. Suasana tampak lengang, tak ada suara Baekhyun yang sudah enam bulan ini tinggal dengannya.
Kemana perginya gadis kecil itu?
"Baekhyunie!" serunya.
Yang dia harapkan keluar adalah gadis kecilnya, tapi yang terjadi tak sesuai harapannya. Yang keluar dari arah dapur justru Kwon ahjumma, wanita yang bekerja untuknya menggantikan asisten rumah tangga yang sebelumnya.
"Baekhyunie eodi?"
"Sejak tadi mengunci dirinya dikamar Tuan."
"Wae? Ada hal penting yang terjadi disini selama aku pergi?"
"Tidak. Saya juga tak tahu, tapi seharian ini dia terlihat murung."
"Baiklah. Aku akan melihatnya." Sahut Chanyeol sambil menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua.
Di depan pintu berwarna pink bergambar hello kitty, Chanyeol berdiri sambil mengetuk lembut pintu itu.
"Baekhyunie!" panggil Chanyeol. Tak ada sahutan dari dalam kamar.
Sekali lagi Chanyeol mengetuk pintu itu, namun hasilnya tetap sama.
Pada akhirnya, Chanyeol memutar handle pintu itu dan mendorongnya. Ternyata pintu itu tak terkunci.
Chanyeol melihat gulungan selimut teronggok di atas ranjang berukuran sedang itu. Bibirnya tertarik kesamping, pasti Baekhyun yang ada di dalam gulungan selimut itu.
Enam bulan tinggal bersama, membuatnya hafal bagaimana Baekhyun ketika dia tengah kesal. Seperti yang saat ini terlihat, gadis kecil itu akan bergulung di dalam selimutnya sampai dia datang untuk menghibur.
Chanyeol melangkah pelang menuju ranjang. Lalu naik keatas ranjang itu demi menjajari Baekhyun.
"Peri kecil ahjussi kenapa?" tanya Chanyeol lembut. Sungguh sangat berbeda dengan Chanyeol yang biasa terlihat dingin. Di depan Baekhyun, Chanyeol bisa berubah menjadi begitu manis.
Tak ada jawaban, hanya ada sebuah gerakan kecil dari dalam selimut itu.
"Kau marah pada ahjussi?"
Sekali lagi pertanyaan Chanyeol hanya dibalas gerakan kecil dari dalam selimut tebal.
"Lalu kenapa kau memilih menghabiskan waktu di kamar?"
Setelah beberapa saat, Baekhyun akhirnya menyingkap selimutnya. Mata kecilnya menatap Chanyeol dengan penuh kesedihan.
"Hei! Apakah ada yang menyakitimu sayang?"
"Ahjussi!" Baekhyun bergerak mendekati Chanyeol yang terbaring miring di sampingnya. Lengan kecilnya merangkul leher pria itu dan kepalanya dia sembunyikan di dada sang ahjussi tampan itu.
"Wae?"
"Kapan aku ulangtahun?"
"Eh." Chanyeol cukup terkejut dengan pertanyaan itu.
"Tadi aku melihat di TV, mereka yang ulangtahun akan diberi kesempatan meniup lilin. Banyak balon, banyak teman. Aku kapan ulangtahunnya?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol dengan polos.
Chanyeol tersenyum gemas. Dia lalu menarik Baekhyun, memindahkan posisi gadis itu untuk duduk diatas perutnya.
"Baekhyunie ingin merayakan ulangtahun?"
Gadis kecil itu mengangguk semangat.
Chanyeol meraih tangan kecil Baekhyun, lalu mengecupnya dengan begitu lembut.
"Tapi hanya ada kue, lilin, balon dan kami. Kau belum memiliki banyak teman sayang."
"Gwaenchana." Sahut Baekhyun dengan tak kalah semangat. Mata kecil yang tadi memancarkan kesedihan itu berubah menjadi sinar kebahagiaan. Senyum polosnya diumbar dengan lebar.
Hah!
Bagaimana Chanyeol bisa membenci gadis semanis ini?
Dia tak pernah membayangkan, kalau Heechul tak memintanya untuk membawa Baekhyun, mungkin nasib gadis itu saat ini akan sama seperti kedua orangtuanya. Tak adil rasanya, si kecil yang tak tahu apa-apa, harus ikut dilibatkan dalam masalah itu.
"Baiklah! Kita siapkan sekarang."
"Jinjja ahjussi?! Apakah hari ini ulangtahunku?"
"Ehm. Tidak, ulang tahunmu sudah sekitar seminggu yang lalu. Tak apa-apa bukan kalau kita merayakannya sekarang."
"Ehm." Baekhyun melonjak senang diatas perut Chanyeol.
Pria itu, hatinya terasa begitu hangat melihat raut bahagia di wajah Baekhyun. Satu rasa yang tak pernah dia rasakan setelah kepergiaan ibunya enam belas tahun silam.
"Kita turun?" ajak Chanyeol.
"Gendong." Rengek Baekhyun manja.
"Aigo!" Chanyeol menuruti apa yang diinginkan Baekhyun. Pria itu bangkit dari ranjang, lalu mengangkat Baekhyun dalam gendongannya. "Nanti kalau kau sudah besar, apa kau akan tetap seperti ini pada ahjussi?"
"Ehm."
"Bahkan ketika kau sudah menikah dengan orang lain?"
Baekhyun menatap Chanyeol, lalu tangan kecilnya menangkup wajah pria itu.
"Aku tidak mau menikah dengan orang lain. Nanti aku akan menikah dengan ahjussi."
"Oooo... saat kau dewasa dan mengenal lebih banyak orang, kau pasti memiliki pilihan lebih dari satu. Banyak pria diluar sana yang akan menyukaimu dan mungkin kau juga menyukainya."
"Shirreo! Aku hanya akan menyukai ahjussi."
"Jeongmal."
"Ehm."
"Baiklah." Chanyeol membawa Baekhyun turun ke bawah.
Sekitar satu jam kemudian. Semua sudah siap. Baekhyun ditemani Chanyeol, Jongdae, Kwon ahjumma dan beberapa guard yang berjaga di rumah itu kini berada di halaman belakang yang sudah di sulap menjadi lebih meriah. Ada balon, ada kue ulangtahun dan beberapa makan yang tersedia juga tak lupa tumpukan kado.
Rona bahagia semakin terpancar di wajah Baekhyun. Gadis kecil itu kini sudah duduk di depan kuenya, menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Kau bisa menyampaikan keinginanmu sayang." Ujar Chanyeol lembut.
Baekhyun menatap Chanyeol, lalu mengangguk. Tak berapa lama kemudian matanya terpejam. Setelah sekitar satu menit matanya kembali terbuka, lalu lilin berjumlah sembilan itu di tiupnya pelan.
"Selamat ulang tahun Baekhyunie." Bisik Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol dengan senyum bahagianya.
.
Flashback off
.
.
.
"Saengil chukkae hamnida nae sarang."
Baekhyun membuka matanya perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah Chanyeol yang membawa kue kecil dengan lilin diatasnya. Baekhyun tersenyum kecil, lalu bangun dari tidurnya.
"Make a wish!" Baekhyun mematuhi perintah Chanyeol, dia memejamkan matanya lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Setelah satu menit, dia membuka matanya kembali dan meniup lilin diatas kue itu.
"Gomawo ahjussi." Baekhyun menatap Chanyeol.
Chanyeol tersenyum tipis, lalu menarik lembut kepalanya Baekhyun. Di kecupnya pelan pucuk kepala gadis yang sangat dicintainya itu, lalu berpindah ke dahi, kedua pipi, hidung dan berakhir di bibir tipis kekasihnya itu.
"Semoga kau selalu bahagia sayang."
Baekhyun meraih lengan Chanyeol dan menempatkannya di lehernya.
"Aku selalu bahagia, walau hanya dengan ahjussi. Harapan dan doaku setiap tahun di hari ulangtahunku juga tak pernah berubah."
Chanyeol mengusap lembut pipi Baekhyun.
"Aku ingin selamanya denganmu, dalam keadaan apapun. Kita akan melewati bersama-sama 'kan ahjussi?"
"Ehm. Tahun ini kau minta hadiah apa?"
"Sama seperti tahun kemarin. Aku selalu berharap ahjussi memiliki lebih banyak waktu denganku."
Chanyeol kembali merasakan hatinya tercubit. Pria itu meletakkan kuenya di atas nakas tak jauh dari ranjang. Kemudian dengan lembut diusapnya pipi Baekhyun.
"Mianhae sayang. Saat kau tinggal di Perancis, jarak dan pekerjaan yang kujadikan alasan ketika kau menuntutku untuk selalu ada disampingmu. Dan saat kau berada disini, hal yang tak jauh berbeda terjadi. Aku masih sibuk dengan pekerjaanku dan..."
"Aku lebih suka tinggal disini. Meski waktu yang ahjussi miliki untukku tak banyak, setidaknya setiap malam aku masih bisa menikmati dekap hangatmu. Meski tak setiap hari, aku senang bisa menikmati sarapanku denganmu."
Hah!
Betapa Chanyeol sangat mencintai gadis dihadapannya itu. Baekhyun-nya, meski kadang bersikap layaknya anak kecil, tapi dia cukup dewasa menanggapi keadaan yang mereka alami saat ini.
"Bagaimana aku bisa mengabaikan rasa cintaku padamu, kalau setiap hari kau selalu membuatku jatuh cinta dengan semua sikapmu sayang."
"Kau berniat meninggalkanku? Awas kalau hal itu kau lakukan. Aku tak akan mengampuni ahjussi!" Baekhyun mendelik tajam. Hal itu tak membuat Chanyeol takut, dia justri gemas melihat ekspresi Baekhyun.
Chanyeol menurunkan kepalanya perlahan, lalu kemudian dia raupnya bibir tipis kekasihnya itu. Dilumatnya dengan lembut tempat favoritnya itu.
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu, kalau sehari tak melihatmu saja membuatku sesak nafas."
"Pembual."
"Kau tak percaya padaku?"
"Percaya." Bisik Baekhyun seraya mengecup pelan pipi Chanyeol. Pria itu melirik Baekhyun sambil tersenyum lebar. Hal-hal kecil yang dilakukan Baekhyun, selalu berhasil membuat hatinya bergetar.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
"Aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu."
"No.. no... cintaku pasti lebih besar kalau diukur."
Baekhyun melepaskan genggaman tangan Chanyeol, dia lalu mengalungkan lengannya di leher pria tampan itu.
"Aku percaya itu." bisik Baekhyun dengan suara lembutnya. "Ahjussi!"
"Ehm."
"Aku ingin di atas."
Chanyeol menatap Baekhyun dengan kerutan jelas di dahinya. Tak berselang lama, senyumnya terukir lebar.
Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun hingga kembali berbaring diatas ranjang. Lalu tak lama dia menyusul dengan berada diatas Baekhyun tentunya.
Kedua saling menatap penuh cinta.
Chanyeol kemudian memutar tubuhnya dengan membawa tubuh Baekhyun juga. Sekarang posisi keduanya, Baekhyun duduk diatas perut Chanyeol.
"Aku suka melihat ahjussi dari sini."
"Wae?"
"Sama halnya dengan perasaan cinta, rasa suka juga tak memerlukan alasan bukan. Pokoknya aku suka." Bisik Baekhyun seraya membuka perlahan kancing baju Chanyeol.
"Ehm. Aku juga suka melihatmu dari sini. Karena kau semakin terlihat sexy."
"Jinjja?!" Baekhyun tersenyum menggoda, tangannya mengelus dengan lembut dada telanjang kekasihnya itu.
"Ehm. Sangat sexy dan menggoda." Hal yang sama juga dilakukan Chanyeol. Dengan tangannya yang tak bisa dikatakan kecil, Chanyeol menangkup dan meremas lembut dada Baekhyun.
"Eeemmhhhh." Desah Baekhyun lirih.
Kegiatan mereka berlanjut, tak hanya saling membelai dan meremas, tapi juga saling melumat, berbagi saliva dan desahan nikmat.
Baekhyun terlihat begitu menikmati saat bergerak perlahan diatas tubuh Chanyeol. Kedua tangannya menumpu dada bidang pria itu, bibirnya menggulirkan desahan-desahan lirih.
"Aaaaahhhhh!"
.
.
.
"Kenapa kita kesini?" tanya Chanyeol begitu kakinya menginjak tanah yang sama dengan pamannya.
Saat ini, mereka berdua dengan diikuti asisten pribadi masing-masing tengah berada di sebuah area bangunan kosong. Sama halnya dengan Hankyung, Chanyeol tengah menatap bangunan yang hampir roboh itu.
"Bukankah dua belas tahun yang lalu kau pernah ke tempat ini Chanyeol-ah?"
Chanyeol mengerutkan dahinya. Hankyung tersenyum miring saat mendapati ekspresi tak biasa dari keponakannya itu.
"Kau lupa? Atau mungkin karena kau tak pernah berada di tempat ini dua belas tahun yang lalu makanya kau tak ingat kalau tempat ini pernah ada?"
Chanyeol semakin mengerutkan dahinya. Hmm... tempat ini, sauna tempatnya melarikan diri dari kejadian itu. Tempat dia bersembunyi sebelum menyelinap keluar dari pintu rahasia dibalik salah satu bilik sauna.
Hankyung memiliki maksud tersembunyi dengan mengajaknya ke tempat ini. Apakah pamannya itu mencurigai sesuatu?
"Banyak hal yang berubah setelah dua belas tahun, termasuk tempat ini. Kalau aku lupa, bukankah hal yang wajar ahjussi?"
Hankyung tersenyum tipis, namun Chanyeol tahu, dibalik senyum itu, ada sesuatu yang berusaha Hankyung cari darinya.
"Ehm. Wajar saja itu terjadi. Hhhh! Aku berniat membeli tanah ini lalu kembali membangun sebuah sauna disini. Bagaimana menurutmu?"
Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kakinya melangkah ke depan, matanya menatap kesekililing tempat itu.
"Bisnis seperti itu tak terlalu banyak menguntungkan kita. Bagaimana kalau sebuah club?" ujar Chanyeol sambil membalik menolehkan kepalanya pada Hankyung.
"Club malam. Ehm... sepertinya bagus. Aku akan meminta Yesung untuk mengurus semuanya. Kau yang harus megurus tempat ini nantinya. Kau mengerti Chanyeol-ah?"
"Ehm." Chanyeol mengangguk.
"Oh ya. Bagaimana kabar Baekhyun?"
Chanyeol merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar pamannya menyebut nama Baekhyun. Semenakutkan ini ternyata, berbicara tentang Baekhyun dengan seseorang yang memiliki kepentingan jahat terhadap gadis itu.
"Baik."
"Sekali waktu, kau bisa mengajaknya mampir ke Mansionku Chanyeol-ah."
"Dia tak suka bermain ke tempat yang tak dikenalnya."
"Jangan terlalu mengekangnya. Dia perlu tahu dunia luar seperti apa."
Chanyeol berbalik dan melangkah mendekati Hankyung. Mata bulatnya menatap dalam mata pamannya.
"Aku tak pernah mengekangnya."
Hankyung tersenyum tipis.
"Menyuruhnya kuliah di universitas milikmu sendiri, menempatkan dua pengawal disampingnya, membatasi ruang geraknya, apa itu di sebut tidak mengekang?"
"Apa urusan ahjussi dengan hal itu?"
"Bagaimana pun juga dia calon istri keponakanku, apa salah kalau aku memperhatikannya juga?"
Chanyeol menunduk lalu tersenyum kecil. "Ahjussi tahu aku sangat pencemburu. Untuk sesuatu yang sudah menjadi hak milikku, aku akan sangat melindunginya dengan caraku tentunya. Kalau ahjussi lupa, akan kuingatkan satu hal. Aku pernah melukai seseorang yang kuanggap teman karena dia sudah mengusik milikku dan hal itu juga berlaku untuk ahjussi. Apa yang akan ku katakan masih sama, kalau ahjussi mengusiknya, aku akan menghancurkan semua yang kita miliki."
"Dengan kau mengatakan hal ini, bukankah sangat jelas terlihat kalau memang ada sesuatu yang coba kau sembunyikan tentang Baekhyun? Ehm... apakah dia anak Heechul, Chanyeol-ah?"
Chanyeol mengembangkan senyumnya, lalu tawanya pecah. Hanya sesaat, setelah itu dia memberikan tatapan datar pada pamannya, yang sudah banyak mengajarkan padanya tentang berbagai hal tentang bisnis.
"Aku tak memiliki kepentingan dengan dendammu, jadi untuk apa aku mengenal Heechul dan keluarganya yang sudah kau hancurkan. Aku tak peduli dia memiliki anak atau tidak, bagiku dia bukan siapa-siapa kecuali seorang perempuan yang ahjussi gilai. Jangan membuatku ikut gila karena pemikiran ahjussi." Sahut Chanyeol sarkatis.
Hankyung terhenyak untuk beberapa lama, Chanyeol sudah banyak berubah. Tekanan yang diberikannya untuk keponakannya bisa dengan mudah dibalikkan oleh anak kakak sepupunya itu.
"Aku belajar dari orang yang tepat untuk menjadi jahat. Jangan buang waktu ahjussi untuk mencari kebenaran dari sesuatu yang sebenarnya tidak ahjussi yakini."
Chanyeol maju satu langkah, mensejajarkan berdirinya dengan pamannya. Lalu dia berbisik perlahan.
"Aku pergi dulu. Kalau sudah selesai kepenguruan tempat ini, serahkan semua padaku."
Chanyeol melangkah dengan angkuh meninggalkan Hankyung. Dia masuk ke dalam mobilnya yang tak berapa lama kemudian disusul oleh Jongdae.
"Dia mulai bergerak ringan Jongdae-ah. Lakukan apa yang ku perintahkan kemarin."
"Nde. Saya sudah menempatkan mereka di tempat yang tak akan disadari agashi."
"Perintahkan juga pada Jackson dan Joo Hyun agar lebih waspada."
"Iya."
Chanyeol menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dia sempat melirik pada pamannya yang masih berdiri di tempat tadi sebelum mobil yang ditumpanginya berjalan pelan meninggalkan tempat itu.
Genderang perang sudah mulai bergema. Baik Chanyeol maupun Hankyung memiliki cara sendiri untuk berlindung dan juga menyerang.
Hankyung menarik nafasnya perlahan, kemudian menghembuskannya dengan tak kalah pelan.
"Kita beri sedikit kejutan untuk anak itu Yesung-ah. Aku ingin tahu bagaimana Chanyeol menanggapi kejutan itu. Ehm... gadis itu sudah tahu apa yang harus dilakukannya bukan?"
"Iya. Saya sudah memberitahu dia dan gadis itu cukup tanggap untuk menjalankan rencana kita."
Hankyung tersenyum miring.
"Kita lihat siapa yang akan menang Chanyeol-ah. Aku yang mengajarimu semuanya atau kau yang menjadi sangat pongah setelah tahu semuanya."
Hankyung tertawa ringan.
.
.
.
"Baekhyunie!" panggil Kyungsoo saat gadis itu duduk disamping Baekhyun setelah kelas sejarah usai.
Baekhyun yang sedang sibuk menyalin tulisan di papan mendongakkan kepalanya. Senyumnya mengembang lebar saat melihat Kyungsoo, gadis yang sudah menjadi temannya sejak dua minggu terakhir ini kini duduk disampingnya.
"Kau sibuk hari ini?" tanya Kyungsoo.
"Tidak. Setelah menyalin tulisan di papan itu, aku akan pulang. Wae?"
"Ehm. Bisakah kau menemaniku mencari buku? Aku juga harus mengunjungi ahjussiku yang sedang sakit di selatan Seoul."
"Tunggu sebentar ya, setelah ini aku akan menemanimu."
Kyungsoo tersenyum tipis. Senyum yang begitu tulus menurut Baekhyun.
Baekhyun kembali menekuri bukunya, dia menulis sedikit lebih cepat dari sebelumnya karena dia tak ingin membuat Kyungsoo terlalu lama menunggu.
"Joo Hyun dan Jackson eodi?"
"Ehm. Joo Hyun pamit ke toilet tadi, kalau Jackson sepertinya dia harus mengulang ujian minggu lalu."
Kyungsoo mengangguk-angguk mengerti. Wajah Kyungsoo terlihat biasa saja, tapi kalau diperhatikan dengan seksama, ada seulas senyum licik tersembunyi dibalik bibirnya.
"Kita berangkat sekarang!" Baekhyun berdiri dari duduknya.
"Bagaimana dengan Jackson dan Joo Hyun?"
"Mereka akan menyusul nanti. Kajja Kyungie-ya!" Baekhyun menggandeng tangan Kyungsoo. Keduanya kemudian melangkah meninggalkan kelas.
"Baekhyunie! Kita makan dulu bagaimana?"
"Good idea. Kajja!" Baekhyun menarik Kyungsoo lagi. Dengan sedikit berlari, mereka keluar dari area kampus untuk menuju ke halte terdekat.
"Apakah tak apa-apa kalau Joo Hyun dan Jackson tidak ikut?"
"Tak apa. Sesekali aku ingin pergi sendiri tanpa mereka."
"Memangnya mereka siapa? Bukankah mereka temanmu juga Baekhyunie."
Baekhyun menunduk di sela tawa kecilnya.
"Seseorang yang ku sebut ahjussi, mempekerjakan mereka untuk menjagaku dan selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Tapi kau tahu Kyungie-ya, aku terkadang bosan dengan keadaan ini. Makanya aku sering melarikan diri dari mereka." sahut Baekhyun dengan polosnya.
"Ahjussimu, dia tak akan marah kalau tahu kau pergi sendiri?"
"Tidak. Karena kemanapun aku pergi, dia pasti bisa menemukanku."
"Oooo... itu bisnya. Mari Baekhyunie!" Kyungsoo berdiri dari duduknya, diikuti Baekhyun.
Tak berapa lama, sebuah bis berhenti di depan mereka. Kyungsoo dan Baekhyun masuk ke dalam bis itu dan mengambil tempat duduk di bangku belakang. Canda tawa bahagia mengiringi perjalanan mereka meninggalkan kampus. Baekhyun, untuk sejenak dia bisa menghirup udara kebebasannya tanpa tahu bahaya apa yang akan terjadi padanya.
Sementara itu di lorong ruang kelas sejarah, Joo Hyun terlihat kebingungan mencari dimana keberadaan Baekhyun.
Dia hanya sebentar di toilet, tak sampai sepuluh menit, tapi Baekhyun sudah tak ada ketika dia kembali ke kelas. Entah sengaja atau apa, Baekhyun juga tak mengangkat panggilan telponnya.
Raut wajah Joo Hyun berubah panik. Hukuman berat sedang membayanginya karena dia tak becus menjaga Baekhyun.
"Joo Hyun-ah!" Jackson menghampiri Joo Hyun yang mulai terlihat bergetar.
"Aku tak menemukannya. Bagaimana ini?" ujarnya dengan nada paniknya.
"Kau mencari ke setiap kelas di lorong ini?"
"Ehm. Tapi tak ada, aku tanya pada beberapa orang, mereka melihat agashi keluar dari kampus dengan Kyungsoo-ssi."
"Kita cari diluar!" ajak Jackson.
Joo Hyun mengangguk, dia lalu ikut berlari keluar dari kampus.
Semua penjuru gedung itu mereka telusuri. Lapangan, kantin, fakultas lainnya dan beberapa tempat dimana biasanya banyak mahasiswa berkumpul, tapi hasilnya nihil.
"Hubungi dia sek..." ucapan Jackson menggantung saat suara dering ponselnya menjerit minta diangkat.
Jackson menatap Joo Hyun setelah melihat nama pemanggil yang tersimpan di ponselnya.
"Tuan Choi."
Joo Hyun merasakan bulu kuduknya meremang. Apakah Choi Minho yang menjadi atasan mereka tahu kalau Baekhyun menghilang?
"Nde Tuan Choi!" Jackson memberi isyarat pada Joo Hyun untuk tenang sementara dia bicara dengan Jongdae.
"Kalian dimana?"
Jackson menelan pelan ludahnya. Dia harus menjawab apa sekarang?
"Jackson-ssi! Tugas kalian menjaga agashi bukan? Kenapa bisa kalian di kampus sedangkan agashi bergerak ke arah selatan?"
"Jeosonghamnida Tuan Choi. Kami akan segera menyusul agashi."
"Tidak perlu. Aku sudah mengirimkan tim lain untuk menyusul agashi. Kalian berdua kembali ke markas!"
"Nde." Lirih Jackson meski Minho sudah mengakhiri panggilannya.
"Jackson-ssi eotte?"
"Kita kembali ke markas."
Joo Hyun memejamkan matanya sejenak sebelum mengangguk dan mengikuti langkah Jackson menuju ke lapangan parkir.
.
.
.
Baekhyun dan Kyungsoo tengah duduk di salah satu bangku di sebuah restoran. Mereka sudah selesai membeli buku, sekarang waktunya mengisi perut mereka, karena sejak turun dari bis tadi, Baekhyun sudah mengeluh kelaparan.
Baekhyun melirik jam di pergelangan tangannya, sudah sore tapi kenapa Jackson dan Joo Hyun tak menghubunginya.
"Kyungie-ya! Kau yakin Joo Hyun dan Jackson tahu tempat ini?" tanya Baekhyun.
Biar bagaimanapun juga, Baekhyun tetaplah Baekhyun yang terbiasa dengan pengawalan ketat dari orang-orang pilihan Chanyeol.
Meski tadi dia sempat mengatakan pada Kyungsoo dia ingin lari dari kawalan dua orang yang dia sebutkan namanya tadi, tetap saja dia merasa harusnya Joo Hyun dan Jackson sudah mengejarnya.
Sampai jarum jam menunjukkan pukul empat sore, kedua pengawal pribadinya itu tak menampakkan batang hidungnya.
"Kau sendiri yang mengatakn ingin pergi dari mereka, kenapa sekarang mencari mereka?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Benar dia mengatakan hal itu, tapi selama ini, dia tak pernah pergi jauh. Paling jauh kalau sedang melarikan diri, hanya sampai Itaewon. Kalau ke tempat seperti ini, dia belum pernah melakukannya.
Baekhyun kemudian meraih ponselnya. Aneh, kenapa tak ada satu pun telpon masuk ke ponselnya? Padahal biasanya Chanyeol akan menghubunginya di jam-jam seperti ini. Biasanya kalau tak bisa menemukannya, Joo Hyun ataupun Jackson akan menghubunginya, tapi kenapa sekarang tidak?
"Baekhyunie!" seru Kyungsoo saat Baekhyun hendak membuka ponselnya.
"Ehm." Baekhyun menatap Kyungsoo. Gadis itu kemudian menjulurkan tangannya dan menyentuh liontin kalung Baekhyun yang berbentuk snow flake dengan sebuah permata berwarna biru di tengahnya.
"Wae?" tanya Baekhyun heran.
"Dimana kau membelinya, aku juga ingin memilikinya." Kyungsoo mengelus lembut benda itu. Tanpa Baekhyun sadari, dibalik benda itu ada sebuah tombol mini yang sepertinya Kyungsoo tahu fungsinya sebagai apa. Gadis itu menekan tombol itu, setelah itu dia menjauhkan tangannya dari benda itu. Seringainya terukir tipis.
"Aku tak tahu dimana membelinya, Chanyeol ahjussi yang membelikannya untukku. Kau mau? Nanti aku akan mengatakan pada ahjussi untuk membelikanmu."
"Tidak perlu Baekhyunie."
"Tak apa-apa. Ahjussi orang baik, dia pasti membelikanmu nanti." Baekhyun tersenyum manis. Setiap kali menceritakan tentang Chanyeol, ada gurat kebahagiaan tergambar di wajah cantik itu.
"Kyungie-ya! Aku ke toilet sebentar!" ujar Baekhyun kemudian. Gadis itu berdiri dari duduknya, lalu meninggalkan Kyungsoo.
Kyungsoo hanya tersenyum kecil. Merasa tak ada yang mengawasinya, gadis yang postur tubuhnya tak jauh beda dengan Baekhyun itu menarik ponsel milik Baekhyun yang tergeletak diatas meja.
"Sebentar lagi kita akan memulai permainan kita Baekhyun-ah." Kyungsoo menyeringai jahat sembari menonaktifkan beberapa aplikasi dari ponsel Baekhyun. Yang jelas, setelah ini tak akan ada yang tahu kemana Baekhyun pergi.
Di tempat lain
"Kalian masih mau bekerja disini? Kalau kalian masih mau bekerja disini, kenapa kalian ceroboh meninggalkan agashi dengan orang yang belum lama kalian kenal!" seru Minho di hadapan Joo Hyun dan Jackson.
"Je-jeosonghamnida daeri-nim." Joo Hyun menunduk semakin dalam. Ingin rasanya menangis. Dia tak bermaksud meninggalkan Baekhyun tadi.
Dia salah, iya benar. Karena dia meninggalkan Baekhyun dengan orang yang sama sekali tak mereka kenal sebelumnya.
Kebodohannya dia rutuki hingga tanpa sadar airmatanya turun.
"Kau tahu bagaimana peraturan di perusahaan kita bukan. Agashi adalah satu-satunya orang yang membutuhkan pengawalan ekstra ketat. Demi apapun, dia baru kembali ke Korea. Belum banyak tempat yang dia tahu, kalau sampai terjadi sesuatu yang membahayakannya, semua yang ada disini akan habis. Kalian sadar apa yang sudah kalian sebabkan!?"
Baik Jackson maupun Joo Hyun bungkam. Mereka bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kalau sampai Chanyeol tahu Baekhyun hilang.
"DAERI-NIM!"
Minho menatap seseorang yang baru saja memekik keras.
"Ada apa?" Minho melotot tajam. Tak lama kemudian dia menghampiri pria yang memekikkan namanya itu.
"Agashi... pertama alat pelacak di liotin agashi dimatikan, sekarang alat pelacak di ponselnya juga dimatikan."
"Mwo!" Minho mendekati meja kerja pria itu, matanya menatap dengan seksama monitor di depannya. Biasanya akan ada titik berwarna merah sebagai tanda alat pelacak Baekhyun berfungsi tapi saat ini, tampilan monitor yang berisi peta wilayah Seoul itu tak menunjukkan apa-apa.
Tak hanya Minho, hampir semua orang yang berada di ruangan itu raut wajahnya berubah pias. Ini bukan berita baik. Bahkan ketika Baekhyun masih berada di Perancis mereka bisa memantau dari tempat ini, tapi sekarang...
"Hubungi orang yang mengikuti agashi. Yang jaraknya paling dekat dengan agashi. Minta padanya untuk menyisir semua wilayah itu. Temukan agashi sekarang dan bawa pulang. Ini perintah!" seru Minho. Pria itu pindah ke meja kerjanya, dengan serius dia mengutak-atik keyboard komputernya.
.
.
.
"Kyungie! Kita mau kemana lagi sekarang?" tanya Baekhyun yang terlihat takut.
"Aku ingin mengunjungi saudara eomma yang sedang sakit. Mansionnya di sekitar sini." Sahut Kyungsoo yang berjalan di depan.
Baekhyun diam, matanya menatap ke sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba hatinya berdegup nyaman, dia merasa mengenal tempat itu dengan baik. Baekhyun mengerutkan dahinya saat melihat satu pohon ek yang terdapat di pinggir jalan. Entah mendapat dorongan darimana, Baekhyun mendekati pohon itu. Dia memutari pohon itu, seakan sedang mencari sesuatu.
Dan benar saja, dia menemukan sebuah coretan namanya di pohon itu. Baekhyun meraba tulisan itu.
"Eomma! Bolehkan Baekhyunie menulis nama Baekhyunie disini?"
"Geurae. Kau bisa melakukannya sayang. Tapi sedikit lebih cepat ya, karena ini milik orang. Kalau sampai ketahuan pemiliknya, kita bisa dimarahi."
"Nde eomma."
Baekhyun mundur beberapa langkah. Matanya menatap pohon besar itu. Dia... anak kecil itu muncul lagi.
Baekhyun kembali mengerutkan keningnya. Kenapa tempat ini cukup akrab diingatannya? Apakah sebelumnya dia pernah tinggal ditempat ini?
Baekhyun menatap jalanan di sampingnya, lalu bangunan di seberang pohon itu.
"Eomma! Siapa yang tinggal disana?"
"Eh. Eomma tak tahu sayang. Maaf ya."
Baekhyun memejamkan matanya sejenak. Bayangan anak kecil itu lagi. Siapa anak kecil itu? Apakah dia? Kalau memang dia, berarti Chanyeol bohong saat mengatakan selama ini dia tinggal di Mansion yang dia tinggali saat ini.
Baekhyun seperti mendapat dorongan untuk melanjutkan langkahnya. Bahkan dia seperti tak sadar, Kyungsoo diam menunggunya.
Melihat Baekhyun seperti it, Kyungsoo hanya diam sambil tersenyum jahat. Inilah tujuannya membawa Baekhyun ke tempat ini. Dari yang terjadi di tempat ini nanti, dia akan menemukan jawaban dari apa yang sedang di cari Hankyung.
"Carilah kebenaran hidupmu Baekhyunie. Aku hanya akan menjadi penikmat disini." Lirihnya jahat.
Baekhyun sampai di depan pintu gerbang sebuah Mansion. Tubuhnya terpaku disana dengan mata menatap mansion itu. Rindu yang sering dia sebut tak bertuan itu, kini seakan menemukan jawabannya. Mansion itu, kenapa dia merasa begitu merindukan tempat ini?
"Baekhyunie! Appa pulang!"
"Yeaaayyy! Appa! Mana oleh-oleh untukku?"
"Aigo! Anak appa ini, yang ditanyakan hanya oleh-oleh saja ehm."
"Eomma mengatakan kalau aku jadi anak baik, aku akan mendapatkan oleh-oleh yang banyak dari appa."
"Aaaaa... eomma yang mengatakan itu?"
"Ehm."
"Baiklah! Tapi... appa ingin menciummu terlebih dulu."
Baekhyun kecil tergelak senang dalam gendongan seorang pria yang dipanggilnya appa. Gadis itu tampak sangat bahagia. Sementara itu di sisi lain, si ibu menatap keduanya dengan tak kalah bahagianya.
"Baek-ah! Kemarilah!"
Baekhyun tersentak di tempatnya. Dia merasa suara itu begitu dekat dengan telinganya.
Tanpa menunggu lama, Baekhyun membuka gerbang itu. Kakinya melangkah pelan menyusuri jalan yang disusun dari kerikil dengan campuran semen.
"Jangan lari sayang! Kau akan jatuh kalau lari."
"Aku ingin cepat sampai di dalam eomma."
"Aigooo... tapi jangan berlari!"
Baekhyun melangkah pelan. Potongan ingatannya seakan menuntunnya untuk melangkah semakin masuk ke tempat itu.
"Baekhyunie sayang! Satu saat nanti, saat eomma tidak lagi disisimu, kau harus tetap tumbuh menjadi gadis yang baik. Kami melimpahimu dengan begitu banyak kasih sayang, agar kau juga bisa melimpahi orang-orang disekitarmu dengan kasih sayang yang sama."
"Eomma mau kemana? Eomma akan meninggalkan Baekkie disini sendirian?"
"Disini, dihatimu, eomma akan selalu hidup untukmu sayang."
"Eomma! Baekkie berjanji tidak akan nakal lagi. Jadi eomma tolong tarik kata-kata eomma. Baekkie tak mau kehilangan eomma dan appa."
"Kau tak akan kehilangan kami sayang, karena kami akan tetap hidup."
"Eomma."
Baekhyun menjatuhkan dirinya di jalan setapak itu. Dadanya berdenyut sakit. Kepalanya kembali terasa pening. Bumi yang dipijaknya seakan berputar dengan sangat cepat, hingga dia merasakan kepalanya semakin berat.
"Eomma." Lirihnya sebelum dia jatuh pingsan.
Disudut lain mansion itu, Kyungsoo menatap Baekhyun yang tersungkur di jalan setapak itu dengan seringai kecil.
Dia lalu menghubungi sebuah nomor.
"Benar. Park Baekhyun adalah orang yang anda cari selama ini Tuan."
.
.
.
TBC
Note : Terimakasih untuk semua cinta dan perhatian kalian pada cerita ini.
Maaf kalau masih banyak typo.
Mohon perhatiannya...
Untuk tulisan tercetak miring, kalau tidak untuk pengetikan bahasa asing, berarti untuk penanda kilas balik ya.
Oh ya...
Bagi kalian yang punya akun wp maupun tidak, sudikah kiranya mampir ke wpku, atas nama LordJoongie84
Aku ada post ff juga disana. Dan untuk ff yang di post disana, tidak akan di post disini, berlaku untuk sebaliknya juga.
Terimakasih sekali lagi untuk kalian semua.
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
