Beloved Enemy
.
.
.
06
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Flashback On
"SHIRREO!" pekik Baekhyun dengan suara nyaring. Matanya berkilat marah menatap Chanyeol yang duduk dihadapannya.
"Baekhyunie dengarkan ahjussi baik-baik!"
Baekhyun menggeleng kuat sambil menutup kedua telinganya dengan tangannya. Dia tak ingin mendengar apapun. Dalam hatinya, dia benar-benar merasa Chanyeol sengaja membuangnya.
"Apa aku bukan anak yang baik? Kenapa ahjussi melakukan ini padaku? Bukankah selama ini aku selalu medengarkan ahjussi? Aku juga tak pernah membantah ahjussi. Tapi kenapa ahjussi ingin membuangku?" wajah putih bak pualam itu kini memerah menahan tangis. Baekhyun terus bertanya dalam hatinya, apa salahnya? Kenapa ahjussinya itu ingin mengirimnya ke Perancis?
Chanyeol tersenyum tipis, lalu dia menarik tubuh kecil Baekhyun dan memangkunya.
"Kau anak yang baik sayang, sangat baik. Ahjussi tidak membuangmu, itu yang harus kau ingat dan catat hal itu dalam otak kecilmu ini." Chanyeol mencium lembut kening Baekhyun. "Ahjussi hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik, lingkungan yang baik, teman yang baik pula. Nanti kalau kau tinggal di Perancis, kau akan merayakan ulangtahunmu dengan banyak teman. Bukankah kau ingin seperti itu?"
"Tapi ahjussi tidak ada disana. Aku akan tinggal sendirian disana, tidak ada ahjussi yang memelukku saat tidur, aku pasti lebih kesepian."
Kenapa Chanyeol merasa sangat sedih medengar hal itu?
Chanyeol mengusap lembut kepala Baekhyun.
"Ahjussi akan lebih sering mengunjungimu, asal Baekhyunie selalu menjadi anak yang baik, manis dan jujur."
"Ahjussi janji?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan polosnya.
"Janji." Chanyeol melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking Baekhyun.
.
.
.
"Bagaimana?" tanya Chanyeol pada Jongdae yang baru masuk ke ruang kerjanya.
"Kita belum bisa membawa agashi ke Perancis lusa Tuan muda."
"Wae?"
"Agashi... dia warga negara Amerika. Surat-surat yang lain masih diurus ke kedutaan Amerika dan mungkin baru bisa beres tiga hari dari sekarang."
Chanyeol menunduk dalam. Pikirannya tiba-tiba teringat akan Heechul. Pantas saja pamannya sangat mencintai wanita itu, Heechul orang yang cerdas. Orang lain mungkin tak pernah berpikir seperti Heechul kalau dia dihadapan pada persoalan yang sama.
Heechul menikah dengan orang lain setelah meninggalkan pamannya. Perempuan itu pasti tahu betapa berbahayanya seorang Tan Hankyung, dia tahu ancaman datang padanya. Makanya ketika dia tahu hamil, dia sudah merencanakan untuk melahirkan anaknya di luar Korea.
Amerika dipilihnya karena di negara itu, informasi pribadi tak bisa dengan mudah di akses. Heechul menyamarkan kelahiran Baekhyun, menyembunyikannya agar Hankyung tak tahu kalau dia memiliki seorang anak.
Lalu ketika tragedi itu terjadi, Heechul memilihnya untuk melindungi Baekhyun, karena Heechul tahu dan sangat mengerti sebuah ungkapan, tempat aman untuk bersembunyi adalah di tempat musuh.
Bisa saja Chanyeol menolak hal itu, tapi hati kecilnya berseru lain. Dia harus melindungi Baekhyun. Heechul rupanya cukup paham akan kelemahan hatinya. Baekhyun saat itu belum menjadi kelemahannya, tapi ucapan Heechul tentang kebaikan ibunya yang sudah pasti menurun padanya, membuat hatinya melunak dan pada akhirnya mengiyakan keinginan perempuan itu.
"Dia cukup pintar untuk membuat Baekhyun aman, Jongdae-ah." Lirih Chanyeol. "Hhhh... baiklah! Siapkan saja semuanya. Aku sudah bicara dengan Baekhyunie dan dia bisa menerima kepindahannya dengan sangat baik."
Jongdae mengangguk mengerti. Setelah itu dia keluar dari ruang kerja Chanyeol.
Chanyeol berdiri dari duduknya, lalu melangkah ke jendela. Setelah itu, dia melempar pandangannya keluar mansionnya.
Gelap!
Seperti itu hidup Chanyeol sebelum kehadiran Baekhyun. Dia tak bisa membayangkan kalau Baekhyun benar-benar harus pergi, sepi yang melandanya beberapa tahun terakhir ini, pasti akan terulang lagi.
Andai pamannya tidak egois, andai pria yang membesarkannya itu dapat dengan lapang dada menerima semua takdirnya, dia pasti tak dihadapkan dengan kesulitan ini.
Hah!
"Hadirmu, membuat semua yang ada di sekitarku berubah Baekhyunie, kau dengan semua tingkahmu... aku mencintaimu baby."
.
Flashback off
.
.
.
"JANGAN MENYENTUHKU!"
Chanyeol terhenyak, Baekhyun menjerit kasar dan menghadiahinya dengan tatapan tajam yang seakan siap mengulitinya. Hal itu baru pertama kali dilakukan Baekhyun padanya, jelas dia terkejut. Baekhyun, semarah atau sekesal apapun padanya, tak pernah seperti ini. Tapi sekarang?
Tiba-tiba rasa takut yang begitu besar menyerang Chanyeol.
Chanyeol diberitahu Jongdae kalau Baekhyun menghilang. Terakhir gadis itu terlihat sedang menuju arah selatan Seoul. Chanyeol langsung berpikir tentang Mansion Byun, ada seseorang yang menggiring Baekhyun untuk mendatangi tempat itu.
Dan benar saja, saat dia sampai tempat itu, Baekhyun sudah tergeletak di jalan setapak dengan seorang pria tinggi lain yang berusaha menyadarkannya. Tak banyak bicara, Chanyeol langsung mengangkat tubuh Baekhyun dan membawa gadis itu kembali ke Mansionnya.
Yang paling Chanyeol takutkan, bisa jadi Baekhyun mengingat semuanya. Dan ketakutannya itu seolah menjelma menjadi kenyataan ketika Baekhyun meneriakinya untuk tak menyentuh gadis itu.
Apakah Baekhyun mengingat semuanya?
Inikah akhir dari semuanya?
"Sayang dengarkan aku." Chanyeol berusaha menguasai dirinya.
"Tidak! Kau yang harus mendengarkan aku!" Baekhyun beranjak dari ranjang lalu mendekati Chanyeol. Matanya masih menyiratkan kemarahan.
"Wae? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku? Apa yang membuatmu melakukan semua itu? Aku salah apa padamu hingga kau begitu jahat padaku?!"
Gyuuuttttt
Untuk beberapa saat Chanyeol merasakan kepalanya pening. Dia harus lebih pandai mengontrol dirinya. Sepertinya sudah waktunya dia menjelaskan semuanya pada Baekhyun. Dia siap apapun resiko yang akan dihadapinya nanti.
"Baek-ah! Deng..."
"Kenapa kau bohong padaku?!" Baekhyun kembali menjerit kasar. Dada Chanyeol seperti dihantam palu besar, berdenyut sakit. Baekhyun sudah mengingat semunya, hal itu yang ada dipikirannya saat ini. Dan kalau benar Baekhyun sudah mengingat semuanya, tak ada pilihan lain bagi Chanyeol selain menerima kemarahan Baekhyun.
Dia yang salah disini.
"Duduklah! Aku ak..."
"Tidak perlu! Biar aku yang meluruskan semuanya!" sela Baekhyun kasar.
"Kau tak mengerti sayang. Aku yang akan menjelaskan semuanya. Duduklah!" pinta Chanyeol sambil memegang kedua bahu Baekhyun, namun pegangan itu ditepis dengan kasar oleh Baekhyun.
"Aku katakan sekali lagi, aku yang akan meluruskan semuanya!"
"Ok!" Chanyeol tak memiliki pilihan lain selain menunggu apa yang ingin dikatakan Baekhyun.
"Kau bohong padaku, kau mengatakan sejak kecil aku tinggal disini, tapi kau bohong! Aku melihat kenangan kecilku di tempat itu, kau bohong mengatakan aku tinggal disini sejak lahir. KAU BOHONG PARK CHANYEOL-SSI!" mata Baekhyun semakin terlihat marah menatap Chanyeol.
"Kau selalu berpesan padaku untuk jujur, selama ini aku selalu melakukannya. Bahkan ketika aku melukai temanku sendiri pun aku tak berusaha menyembunyikannya dari Celline, tapi kau... kau yang mengajarkan aku untuk jujur, ternyata PEMBOHONG!" teriak Baekhyun lagi.
Chanyeol memejamkan matanya sesaat.
"Maaf Baekhyunie."
"Maaf! Kau meminta maaf? Kau mengakui kebohonganmu? Wae? Kenapa kau melakukannya?"
"Mansion itu memang milik kedua orangtuamu, kalian tinggal disana. Tapi... sebelum mereka meninggal, mereka menitipkanmu padaku. Aku yang membawamu keluar dari mansion itu."
Baekhyun membulatkan matanya dan pandangannya berubah. Bukan hanya kemarahan, tapi juga rasa kecewa.
"Kau tak pernah cerita padaku tentang hal itu."
"Aku tak ingin kau terluka."
"Terluka? Lalu yang sekarang terjadi tak membuatku terluka? Menurutmu seperti itu?"
"Baek-ah!"
Bhuk...bhuk...bhuk...
Baekhyun memukul pelan dada Chanyeol. Airmatanya leleh perlahan mambasahi kedua pipinya.
"Bagian mana dari ceritamu yang harus ku percayai. Kau pernah mengatakan aku tinggal disini sejak aku lahir, lalu sekarang kau mengatakan mansion itu milik kedua orangtuaku dan kau membawaku dari sana setelah mereka meninggal. Bagian mana yang harus ku percayai?"
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku tahu tak seharusnya aku menyembunyikan hal ini, tapi..."
"Kau tahu! Selama ini aku merasa hatiku kosong, aku tak memiliki gambaran seperti apa kehidupan masa kecilku. Aku tak memiliki kenangan apapun tentang mereka dan tadi aku melihatnya, aku melihat appa dan eomma. Semua hanya bayangan dan semua begitu menyakitkan. Kau tahu, selama ini aku sering iri dengan teman-temanku, mereka bisa menceritakan kedua orangtuanya, membanggakan keduanya meski mungkin sudah tak ada di dunia ini, tapi aku... apa yang aku miliki tentang mereka." racau Baekhyun dalam tangisnya.
"Hatiku sakit ahjussi. Selama ini aku percaya semua yang kau katakan, tentang mereka yang orang baik, tentang kau yang tak bisa menunjukkan dimana makam mereka, aku masih percaya dan berusaha mengerti. Kau mungkin tak ingin melihatku larut dalam sedih, tapi... tapi kenapa kau bohong, kenapa kau tak mengatakan padaku bukan ditempat ini aku melewati masa kecilku?"
"Baekhyunie!" desah Chanyeol. Dia tak mampu menjawab apapun yang terlontar dari bibir Baekhyun, perasaan bersalahnya jauh lebih besar dari rasa inginnya untuk memberitahu Baekhyun tentang kebenaran kisah hidupnya. Melihat Baekhyun yang menangis, membuat hatinya semakin sakit.
"Aku akan menjelaskan semuanya, jadi..."
Baekhyun kembali menepis tangan Chanyeol.
"Aku tak ingin bicara padamu." Baekhyun mundur dari hadapan Chanyeol. Dengan kedua mata yang masih mengalirkan air, dia keluar dari kamar Chanyeol.
Dengan sedikit berlari Baekhyun menuruni anak tangga. Begitu kakinya sampai di lantai bawah, Jongdae berdiri menyambutnya disana.
Sama halnya seperti pada Chanyeol, pada Jongdae dia juga memberikan tatapan kecewanya.
"Aku benci kalian." Lirih Baekhyun sebelum lari ke halaman belakang Masion.
Guk... guk...!
Guk... guk...!
Larry yang sepertinya bisa merasakan kesedihan Baekhyun, terus menyalak sambil mengikuti langkah Baekhyun.
Begitu Baekhyun berhenti, Larry juga ikut menghentikan langkahnya. Dia kembali menyalak keras dengan kepala mendongak pada Baekhyun.
Gadis bertubuh mungil itu menjatuhkan dirinya di tanah berumput.
"Larry-ah!" lirihnya sambil merangkul anjing berwarna putih abu kesayangannya itu. Baekhyun menumpahkan tangisnya di punggung Larry. Anjing jinak itu hanya mengerung, seakan ingin menghibur majikannya itu.
Tak semua orang memahami Baekhyun. Dengan segala sikap dan sifatnya yang kadang kelewat manja. Hanya Chanyeol, dia beranggapan hanya Chanyeol yang mengerti dia. Apapun bisa dia ceritakan pada Chanyeol tanpa merasakan beban, tapi...
Untuk satu hal yang cukup penting dalam hidupnya, kenapa Chanyeol berbohong.
Adakah yang coba Chanyeol sembunyikan darinya?
Sementara itu...
Chanyeol turun dari lantai dua mansionnya dengan keadaan yang tak jauh beda dengan Baekhyun. Berantakan.
"Tuan muda!" panggil Jongdae.
"Dia belum ingat semuanya, hanya sebuah ingatan kecil tentang kedua orangtuanya."
Bolehkah Jongdae jujur, dia bisa bernafas lega setelah mendengar hal itu. Entahlah! Hanya saja ada yang dia syukuri setelah mendengar hal itu.
Sebenarnya, jauh di dasar hati pria itu, ada semacam rasa sayang yang tumbuh untuk Baekhyun. Bukan, perasaan Jongdae pada Baekhyun bukanlah perasaan sayang antara pria pada wanita, tapi lebih pada sebuah perasaan sayang sebagai seorang saudara.
Ya. Jongdae menyayangi Baekhyun layaknya seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Tak jauh berbeda dengan Chanyeol, dia pun tak siap bila Baekhyun tahu segalanya. Kalau pun Baekhyun tahu segalanya, seharusnya Baekhyun tahu hal itu dari Chanyeol. Bukan dari ingatannya sendiri atau mungkin dari cerita orang lain. Karena baik Baekhyun sendiri ataupun orang lain, tak tahu apa yang benar-benar terjadi.
Chanyeol tak bersalah, tapi kalau Baekhyun tahu cerita hidupnya dari orang lain atau dari sepenggal ingatannya tentang malam itu, sudah pasti dia menyalahkan Chanyeol atas insiden yang menimpa kedua orangtuanya, karena bagaimanapun juga, Chanyeol berdiri di pihak musuhnya saat itu.
Dan setelah hari ini, sepertinya perlahan tapi pasti, kekhawatirannya akan segera terjadi.
"Cari waktu yang tepat untuk mengatakan semua padanya Tuan."
Chanyeol menatap Jongdae sesaat, lalu dia mengangguk.
"Bagaimana dengan anak itu?"
"Minho sedang menginterograsinya. Tapi sepertinya akan butuh waktu lama untuk membuat anak itu buka suara. Dia masih tetap diam meski sudah dicecar banyak pertanyaan."
"Cari saja kelemahannya, beri sedikit ancaman, lalu bereskan dia."
Jongdae menatap Chanyeol sebentar, lalu mengangguk kecil. Arti kata bereskan yang keluar dari mulut Chanyeol, bukan berarti mereka diijinkan untuk melenyapkan nyawa orang lain. Disini yang dimaksud Chanyeol dengan kata itu adalah agar Jongdae beserta anak buahnya yang lain mengasingkan orang itu entah kemana saja. Mungkin lebih tepat di sebut membuang.
Sepanjang perjalanan karirnya baik di bisnis hitam atau bisnis putih, Chanyeol tak pernah mengotori tangannya dengan darah orang lain, demikian halnya dengan seluruh anak buahnya. Dengan musuhnya, Chanyeol akan melakukan pendekatan, lalu penekanan yang pada akhirnya membuat musuhnya menyerah tanpa syarat.
Untuk melakukan hal itu, sepertinya hanya Chanyeol yang bisa.
"Jackson dan Joo Hyun, masing-masing sudah diberi sanksi Tuan."
"Tidak. Mereka harus tetap berada disini. Aku tak ingin dia semakin marah kalau tahu kedua orang yang sudah dianggap teman oleh dia itu tiba-tiba pergi dari sini."
"Baik."
Chanyeol melangkah gontai ke pintu yang menghubungkan dengan halaman belakang. Sorot matanya terlihat miris melihat Baekhyun yang meringkuk di temani Larry diatas rerumputan.
Tak mungkin baginya untuk mendekat, karena gadis itu sudah menolaknya tadi. Kalau dia mendekat, Baekhyun akan semakin marah dan bisa saja kemudian gadis itu memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Dia tak siap kalau harus kehilangan Baekhyun.
.
.
.
Awan gelap masih menyelimuti sekitar kediaman Chanyeol. Suasana mansion terlhat sepi padahal disana ada Baekhyun dan juga Chanyeol.
Beberapa menit yang lalu Baekhyun turun dari lantai dua dengan wajah ditekuk. Tak ada senyuman, tak ada pekikan gemas karena Larry yang mengekor di belakangnya ataupun tak ada rengekan manja. Baekhyun diam, benar-benar diam dan hanya mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kwon ahjumma.
Selebihnya, di ruang makan itu, Chanyeol maupun Jongdae dianggap tak ada.
Dengan cepat Baekhyun menghabiskan sarapannya. Setelah itu dia berdiri dari duduknya. Dan pergi dari tempat itu. Tanpa ciuman yang biasa dia layangkan diatas bibir Chanyeol setiap kali dia pamit.
"Jackson dan Joo Hyun eodi?" tanya Baekhyun pada Kwon ahjumma.
"Menunggu anda di depan."
"Aku pergi dulu ahjumma!" pamit Baekhyun. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti karena Kwon ahjumma mencekal pergelangan tangannya.
"Ada apa ahjumma?"
"Saya tak tahu ada apa dengan anda berdua, tapi kalau ada masalah bukankah seharusnya dibicarakan sampai dengan selesai agashi. Jangan menyimpannya karena hal itu akan semakin membebani hati anda."
"Semua sudah selesai semalam. Jangan khawatir ahjumma, kami baik-baik saja."
"Agashi! Saya pernah mengatakan pada anda, bagi Tuan muda, anda adalah sumber kebahagiaannya..."
"Ahjumma! Jangan membuatku berpikir bahwa ahjumma juga tahu segalanya dan berusaha menyembunyikannya dariku. Jangan membuatku mengatakan aku membenci ahjumma juga. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan ahjumma tak perlu ikut campur." Tegas Baekhyun sebelum keluar dari mansion itu.
Di ruang makan, Chanyeol bisa mendengar dengan jelas obrolan singkat dan kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Baekhyun. Tangannya yang sedang menggenggam gelas, terlihat bergetar. Seperti inikah yang akan dia hadapi nantinya? Saat Baekhyun tahu kebenaran dari perjalanan hidupnya.
Chanyeol tak pernah merasakan ketakutan seperti yang saat ini dia rasakan. Kehilangan Baekhyun, bayangan itu seakan perlahan menjelma menjadi nyata.
"Tuan muda!" desis Jongdae.
Chanyeol menarik nafasnya perlahan, berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sesak yang mendera dadanya.
Dia bangkit dari duduknya, lalu berdiri disisi Jongdae dengan berlawanan pandang, tangannya memegang pundak pria yang sudah lebih dari dua puluh tahun menemani perjalanan hidupnya itu.
"Aku sempat memiliki keyakinan kalau mengatakan semua padanya mungkin jalan yang terbaik. Tapi melihat dia seperti ini, mendengarnya mengatakan hal itu, membuatku ketakutan Jongdae-ah. Aku takut kehilangan dia."
.
.
.
Hari ini dilalui Baekhyun dengan perasaan tak menentu. Ada rasa marah, rasa sedih dan juga sesak yang tak bisa dia ungkapkan.
Marah, tentu dia sangat marah pada Chanyeol bahkan pada Jongdae. Dari semalam pertanyaan masih sama, kenapa kedua orang itu menyembunyikan kenyataan tentang hidupnya? Kenapa dia tak bisa mengingat sama sekali kenangan masa kecilnya? Yang dia ingat adalah hari itu, dia bangun di kamarnya di Mansion milik Chanyeol.
Selama kurang lebih dua belas tahun ini, dia selalu meyakini hal itu. Bahwa dia lahir dan tumbuh besar di mansion itu. Tapi potongan dari bayangan masa lalu yang dilihatnya kemarin sore, seakan membuka mata dan hatinya, bahwa mungkin masih banyak hal yang disembunyikan oleh Chanyeol maupun Jongdae padanya. Apa? Kenapa?
Lalu rasa sedih juga mengganjal di pikirannya, pada Chanyeol dia biasa menumpahkan segalanya. Pelukan Chanyeol selalu bisa membuatnya tenang, tapi semalam dia tak ingin melakukan hal itu, dia ingin sendiri, merenungi dan memikirkan semuanya sendiri.
Dan hal itu membuatnya sangat sesak. Betapa seorang Park Chanyeol selalu mampu membuatnya nyaman meski terkadang pria itu sangat menyebalkan.
"Agashi anda mau pesan sesuatu?" tanya Joo Hyun.
Saat ini mereka sedang ada di kantin. Baekhyun sedari tadi dia di pinggir jendela. Melempar pandangannya keluar jendela. Sedangkan Joo Hyun duduk disampingnya dan Jackson duduk di depannya.
"Ahjussi, apa dia menambah orangnya disini?"
"Heh!" Jackson mengikuti arah pandang Baekhyun. Di salah satu sudut lapangan, Jackson menangkap sosok berjas hitam dengan kacamata hitam juga. Jackson mengerutkan keningnya, dia tak mengenal sosok itu. Siapa orang itu?
Yang Jackson tahu, Chanyeol memang menambah orangnya di kampus ini, tapi tentu tidak dengan penampilan yang mencolok. Chanyeol sangat tahu bagaimana Baekhyun, si mungil kesayangan Tuan mudanya itu tak pernah suka melihat pria-pria berpakaian serba hitam yang mengawalnya. Baekhyun lebih suka guardnya berpenampilan biasa saja, dengan pakaian selayaknya pakaian orang normal pada umumnya. Jadi... orang yang dia lihat dan mungkin juga di lihat Baekhyun itu, tentu bukan orang-orang Chanyeol.
"Anda tunggu disini dulu. Saya permisi sebentar!" Jackson beranjak dari duduknya dan melesat cepat keluar kantin.
"Agashi!"
Baekhyun menoleh pada Joo Hyun.
"Saya pesankan minum sebentar. Saya mohon jangan pergi kemana-mana."
Baekhyun mengangguk pelan. Jackson dan Joo Hyun, kemarin mungkin dua orang itu sudah mendapatkan peringatan keras dari Chanyeol, bahkan mungkin keduanya juga sudah menerima hukuman atas sesuatu yaang menimpanya. Tak adil memang, dia yang bersalah, dia yang pergi tanpa pamit pada keduanya, tapi justru kedua orang itu yang menerima hukuman atas tindakannya. Hhhh!
Beberapa saat berlalu, Joo Hyun kembali dengan segelas susu strawberry kesukaan Baekhyun dan juga sepotong roti.
"Kau tak membelinya untuk dirimu sendiri?" tanya Baekhyun.
"Saya masih kenyang."
Baekhyun menatap counter makanan yang tak jauh dari tempatnya duduk. Tak terlalu ramai. Dia berdiri dari duduknya lalu melangkah ke counter makanan. Baekhyun mengambil beberapa potong roti, lalu dua gelas jus, setelah membayar dia kembali ke tempat duduknya.
"Kalian juga harus makan." Ujarnya menyerahkan dua gelas jus yang dibawanya pada Joo Hyun dan Jackson.
Jackson sudah kembali ke tempat itu. "Gomawo agashi."
Baekhyun tersenyum tipis. Dia kemudian kembali duduk di tempatnya.
"Maaf membuat kalian terluka." Lirih Baekhyun setelah menggigit rotinya.
Joo Hyun dan Jackson terhenyak.
"Aku tahu, kejadian kemarin pasti membuat kalian mendapatkan masalah. Maaf."
"Agashi! Anda tak perlu meminta maaf. Yang terjadi semua bagian dari resiko pekerjaan. Kami lalai menjaga dan mengawasi anda." Joo Hyun membalas lirih.
"Apa hukuman yang kalian terima?"
Baik Joo Hyun maupun Jackson hanya diam, tak mungkin bagi mereka untuk mengatakan pada Baekhyun seperti apa hukuman yang mereka dapatkan. Yang jelas, hukuman itu sudah cukup membuat mereka jera dan berjanji tak akan mengulangi keteledorannya.
Bahkan menurut Minho, Chanyeol masih bermurah hati dengan mengijinkan mereka kembali ke mansion. Biasanya, anak buah Chanyeol yang sudah pernah melakukan kesalahan sekali saja, akan berakhir di pembuangan.
Baekhyun membuang nafasnya perlahan. "Apapun itu, aku tahu hal itu pasti menyakitkan untuk kalian. Sekali lagi, aku minta maaf." Baekhyun kembali melempar pandangannya keluar jendela, menikmati rotinya dalam diamnya.
"Kenapa kau menangis?"
Suara perempuan dari arah belakang mengusik Baekhyun, dia hanya melirik lalu kembali melihat keluar jendela.
"Dia bohong padaku! Aku membencinya."
"Bohong? Bohong tentang apa?"
"Dia tahu alasan Seunghyun meninggalkanku, tapi selama ini dia memilih untuk diam. Itu membuatku sakit."
Baekhyun tersenyum tipis. Ternyata bukan hanya dia yang dibohongi, ada orang lain dan mungkin hampir semua orang diluar sana juga pernah dibohongi.
"Luna-ya! Setiap orang berbohong itu memiliki alasan kenapa sampai melakukannya. Lepas dari berbohong itu sendiri bukan hal yang baik, tapi coba lihat alasan kenapa dia melakukannya. Bisa jadi dia melakukan hal itu karena tak ingin kau terluka."
"Tapi aku terluka sekarang."
"Aku tahu, tapi coba lihat sisi baiknya saat ini. Kalau dulu kau tahu kebenarannya, apa sekarang kau mampu berdiri tegak seperti saat ini? Jangan hanya kau tahu dia berbohong lalu kau membencinya dengan sangat mudah. Ingat semua perjuangannya untuk membahagiakanmu. Ingat betapa besar cinta yang dia limpahkan untukmu. Semuanya tak sebanding dengan yang sudah kau lakukan untuknya. Dia berjuang untukmu, berusaha memenangkan hatimu, apakah hal itu tak berarti untukmu?"
Baekhyun tertegun di tempatnya. Otaknya mencerna dengan baik perkataan perempuan yang duduk di belakangnya. Hanya karena dia tahu kebohongan Chanyeol, lalu dia memutuskan membenci pria itu dengan menutup mata pada kenyataan bahwa selama ini, Chanyeol yang berusaha membahagiakannya. Chanyeol yang selama ini selalu berusaha ada untuknya.
Kalau yang Chanyeol katakan tentang kedua orangtuanya yang meninggal saat usianya masih sangat muda, bisa jadi dia tak seperti sekarang ini tanpa pria itu. Dia mungkin akan menjadi gelandangan atau bahkan mungkin dititipkan di dinas sosial, karena meski dia terlahir dari keluarga kaya, kalau tak ada yang bertanggungjawab atas dirinya saat itu, mungkin saat ini dia tak mengenyam hidup enak.
Baekhyun kembali mengingat pertengkarannya dengan Chanyeol semalam. Seharusnya hal itu tak perlu terjadi andai dia bisa bersikap lebih dewasa. Dan benar kata Kwon ahjumma, seharusnya masalah itu diselesaikan semalam, bukan malah menyimpannya menjadi dendam yang justru membuatnya semakin sesak.
Hah!
Kenapa tiba-tiba dia sangat merindukan Chanyeol?
Baekhyun hendak beranjak dari duduknya ketika keributan terjadi. Beberapa teriakan dari rekan-rekan mahasiswinya terdengar di telinganya.
"Ada apa?" tanyanya pada Joo Hyun. Tapi tentu saja hal itu salah, karena Joo Hyun pasti tak tahu. Mereka sejak tadi duduk disini, mana mungkin tahu yang terjadi di luar.
Baekhyun melangkah menuju pintu kantin, diikuti Joo Hyun dan Jackson tentunya. Saat hendak keluar, dia berpapasan dengan Sehun.
"Sunbae apa yang terjadi?" tanya Sehun.
"Si pemilik kampus datang, tapi tidak memakai pakaian resminya dan itu membuat perempuan-perempuan penuh halusinasi itu berteriak histeris."
Baekhyun membulatkan matanya. Chanyeol datang?
"Kenapa? Kau mau ikut-ikutan seperti mereka?" tanya Sehun yang melihat rona bahagia di wajah Baekhyun.
Baekhyun tak menjawab, dia langsung melesat keluar kantin dengan diikuti tak hanya Joo Hyun dan Jackson, tapi juga Sehun dan terpaksa Jongin juga.
Di halaman luar kampus, Chanyeol berdiri di dekat mobil sport warna merah miliknya dengan balutan jaket kulit yang didalamnya ada kemeja bergaris biru tua. Kaki panjangnya dibungkus celana jeans hitam yang terlihat robek dibagian lutut, dia juga memakai sneaker abu-abu. Yang membuatnya terlihat semakin tampan, rambutnya dibiarkan sedikit acak-acakan. Wajar saja, mahasiswa perempuan di kampus ini, yang memujanya, berteriak histeris.
Baekhyun sampai di halaman itu dengan senyum merekah lebar.
"Ahjussi!" pekiknya girang.
"Ya... ya... kau mau kemana Baekhyunie?" Sehun menahan lengan Baekhyun.
"Sunbae lepaskan aku!" Baekhyun menepis tangan Sehun kasar. Dengan cepat dia menuruni anak tangga dan menghambur di pelukan Chanyeol.
Chanyeol cukup terkejut dengan hal itu. Dia melakukan semua ini untuk Baekhyun, bayangannya Baekhyun masih marah padanya dan dengan cara ini mungkin gadisnya itu akan luluh. Tapi dia belum melakukan apa-apa dan Baekhyun sudah kembali dengan senyum cerianya.
"Ahjussi menjemputku?" tanyanya sambil melonggarkan pelukannya pada Chanyeol.
"Ehm. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Jinjja?"
"Ehm."
"Kajja!" senyum Baekhyun benar-benar lebar sekarang. Dia duduk di kursi penumpang setelah Chanyeol membukakan pintu untuknya. Tak lama kemudian Chanyeol sudah duduk di kursi kemudi.
"Siap?"
"Ehm. Lets go!" Baekhyun kembali memekik girang.
Sementara itu, wajah-wajah kecewa terlihat di kerumunan orang di tangga halaman kampus, tak terkecuali Sehun.
"Hah! Dia jujur ketika mengatakan pemilik kampus ini adalah calon suaminya."
"Sabar Sehun-ah."
.
.
.
Baekhyun terlihat menikmati perjalanan yang dilakukannya dengan Chanyeol. Di kursi penumpang, senyumnya tak lepas tersungging di bibirnya. Sesekali dia membuka kaca jendela, lalu mengeluarkan tangannya atau wajahnya untuk merasakan hembusan angin yang menerpa.
Sedangkan Chanyeol, sesekali dia melirik Baekhyun, lalu ada senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
Melihat Baekhyun yang seperti saat ini, membuat hatinya menghangat. Ketakutan yang tadi pagi dirasakannya, seakan sirna semuanya. Baekhyun telah kembali seperti sebelumnya. pun demikian, dia tetap harus waspada akan perubahan sikap Baekhyun nantinya.
Dia sangat memahami emosi Baekhyun yang terkadang meledak tanpa terkontrol. Hebatnya, gadis yang duduk disampingnya itu tak pernah gengsi untuk menyampaikan maafnya kalau dia memang merasa bersalah.
"Kau ingin kemana sayang?"
Baekhyun menolehkan kepalanya pada Chanyeol. "Kemana saja asal dengan ahjussi."
"Kau mau ke Busan?" tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul empat sore, ehm... ke Busan?
"Boleh." Sahut Baekhyun akhirnya.
Mereka saling diam kemudian. Untuk waktu yang lumayan lama. Hal yang jarang terjadi karena biasanya Baekhyun sangat cerewet saat hanya ada mereka berdua.
Rasa was-was kembali menggelayuti benak Chanyeol. Apakah Baekhyun masih marah padanya?
Pikiran Chanyeol masih kalut sampai kemudian kaki Baekhyun diangkat keatas dan diletakkan di pangkuannya. Pria itu terlihat kebingungan dengan tingkah Baekhyun. Tak berhenti sampai disitu, Baekhyun kemudian meraih tangan kanan Chanyeol dan menggenggamnya dengan begitu erat.
"Mianhae ahjussi."
Chanyeol merasakan sudut hatinya dihantam gada saat mendengar hal itu. Sungguh, bukan Baekhyun yang harus meminta maaf padanya. Dalam hal ini dia yang bersalah, dia yang seharusnya meminta maaf atas semua yang terjadi, bukan malah sebaliknya.
"Kenapa kau mengatakan hal itu, ehm? Aku yang seharusnya meminta maaf padamu sayang." Sahut Chanyeol sambil meminggirkan mobilnya.
Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan.
"Apapun itu, kebohongan yang kau lakukan padaku, kau pasti memiliki alasan melakukannya. Kalau memang semua demi kebaikanku, tak masalah aku tak tahu kebenarannya ahjussi."
Chanyeol mengerutkan dahinya mendengar ucapan Baekhyun.
Apa ini?
Kenapa dia semakin merasa bersalah setelah mendengar hal itu? Hah! Betapa jahat dirinya, banyak hal yang dia sembunyikan dari Baekhyun, tapi gadis itu terlihat sangat pengertian. Bahkan pernyataan yang tak mengatakan tak perlu tahu kebenaran hidupnya, Chanyeol merasa hal itu salah. Baekhyun harus tahu, hanya saja untuk mengatakan semuanya, dia merasa tak sanggup.
Dilema besar dirasakan Chanyeol saat ini.
Ada kemungkinan Hankyung sudah tahu kebenaran tentang siapa Baekhyun. Kalau hal itu benar, berarti Baekhyun tidak aman. Dan dia harus sesegera mungkin memberitahu kebenaran kisah hidup Baekhyun pada gadis itu karena jika Baekhyun mendengar dari orang lain apalagi Hankyung, tentu hal itu jauh lebih berbahaya.
Hah!
Tuhan! Bantu aku menyelesaikan semuanya tanpa menyakiti dia, batin Chanyeol berdoa.
"Sulit untuk memulai semua cerita itu Baekhyunie, tapi aku berjanji, suatu saat kau akan tahu semuanya dariku. Ingat, selain yang keluar dari mulutku, kau tak boleh mempercayainya. Kau mengerti sayang."
Baekhyun mengangguk patuh. Dia mendekatkan wajahnya, dan satu kecupan dia dapatkan di atas bibirnya dari Chanyeol.
"Aku mencintai ahjussi."
"Nado."
Setelah berciuman sekali lagi, keduanya melanjutkan perjalanan mereka menuju Busan. Sesekali terdengar gelak tawa bahagia dari keduanya, sangat terlihat kalau keduanya saat ini sedang bahagia.
Sekitar pukul tujuh malam, mereka tiba di Busan.
Chanyeol membawa Baekhyun ke sebuah restoran. Mereka melewatkan makan malam dengan begitu romantis. Saling menatap dengan penuh cinta. Hari ini setelah badai berlalu, pelangi datang melengkapi kebahagiaan keduanya.
Satu jam kemudian mereka menyelesaikan makan malam itu. Keduanya berjalan keluar dari restoran dengan saling bergandengan.
"Ahjussi! Bisakah kita berjalan kaki saja? Aku ingin menikmati keindahan kota ini dengan setiap jengkal langkah kita."
Chanyeol menoel sayang hidung Baekhyun. "Apapun yang kau inginkan. Tapi kita pergi beli coat dulu, aku tak ingin melihatmu kedinginan."
"Aku merasa hangat. Ahjussi selalu menggenggam tanganku dan bisa 'kan kalau nanti ahjussi juga memelukku?"
Chanyeol tersenyum lebar. Dieratkannya genggaman tangannya pad tangan Baekhyun, lalu mereka memulai perjalanan dengan jalan kaki.
Keduanya masuk ke sebuah butik, Baekhyun memilih coat untuknya. Setelah itu mereka keluar dengan Baekhyun yang sudah melapisi tubuhnya dengan coat sebatas lutut yang baru dibelinya. Dengan black card dari Chanyeol tentunya.
Baekhyun benar-benar terlihat sangat menikmati waktu yang dia habiskan dengan Chanyeol saat ini. Memang tidak benar-benar berdua, tapi tak masalah. Setidaknya mereka yang sejak tadi mengikutinya dengan Chanyeol tak begitu terlihat mencolok.
"Ahjussi! Mereka yang mengikuti kita, orang-orang ahjussi juga?" tanya Baekhyun saat mereka masuk ke sebuah pasar malam.
"Ehm."
"Dari Seoul mereka mengikuti kita?"
"Hanya dua orang. Yang lainnya berasal dari sini."
"Aku mau naik itu!" Baekhyun menunjuk bianglala tinggi dihadapannya, tanpa memperdulikan penjelasan Chanyeol.
Chanyeol hanya mengangguk, mengikuti dan menuruti semua kemauan Baekhyun. Seperti itulah yang biasa dia lakukan.
Keduanya berada di dalam keranjang besar, tak lama kemudian permainan itu mulai berputar. Baekhyun sangat menikmati menaiki bianglala besar itu.
"Terimakasih sudah mengijinkan Joo Hyun dan Jackson untuk kembali ke mansion ahjussi."
Chanyeol melirik Baekhyun. "Kau tahu yang terjadi dengan mereka."
"Walau mereka tak menjawab saat ku tanya, tapi aku tahu konsekuensi yang harus mereka hadapi saat melalaikan tugas."
"Meski kau tak pernah mengatakan padaku, tapi aku tahu kau menyayangi mereka Baekhyunie. Aku tak sanggup melihatmu semakin membenciku kalau aku sampai memecat mereka."
"Terimakasih sudah menjadi orang yang begitu baik dan penuh kasih ahjussi." Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol.
"Kau yang mengajariku melakukan semuanya sayang."
Baekhyun mengeratkan genggamannya pada Chanyeol.
"Kemarin sore, aku menemukan potongan ingatanku tentang masa kecilku. Memang tak banyak, tapi aku senang, akhirnya aku tahu seperti apa wajah kedua orangtuaku."
Chanyeol berusaha menghalau degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ketakutan yang dia rasakan tadi pagi, muncul kembali. Dia takut setelah ini, setelah waktu beberapa jam yang mereka lalui dengan kebahagiaan, Baekhyun akan meninggalkannya.
"Baek-ah!"
"Kami, eomma dan aku tersenyum bahagia menyambut kedatangan appa. Ehm... nanti kalau kita memiliki anak, apa kita juga akan sebahagia itu ahjussi?"
"Ehm. Kita pasti akan jauh lebih bahagia."
Baekhyun semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Chanyeol.
"Aku merindukan ahjussi." Bisiknya.
.
.
.
Ungkapan rindu Baekhyun pada Chanyeol, membawa keduanya ke sebuah apartemen yang menurut pengakuan Chanyeol adalah miliknya.
Saat ini, keduanya tengah saling berusaha memuaskan hasrat masing-masing.
Chanyeol yang bergerak menusuk di bawah sana, beberapa kali menghujam keras hingga bibir tipis Baekhyun hanya mampu mengeluarkan desahan demi desahan nikmat.
Gadis mungil itu kini tampak bermandi peluh, dia sudah merasa lemas, tapi dia tetap berusaha mengimbangi permainan ahjussi kesayangannya itu.
"Aaaaahhhh!" tubuh Baekhyun terangkat ke atas, saat bagian bawah tubuhnya kini bagai diaduk-aduk oleh Chanyeol. Rasanya benar-benar luar biasany. Pria itu sangat paham kapan membuat dirinya terpuaskan.
Baekhyun menarik pelan wajah kekasihnya, lalu keduanya saling berpagut mesra. Saling melumat, saling menyelipkan lidah masing-masing ke dalam mulut pasangannya.
Setelah puas dengan pagutan mesra itu, Chanyeol sedikit menegakkan tubuhnya. Lalu kedua kaki Baekhyun diangkat dan di lipat di depan dada.
Chanyeol mencari posisi ternyaman baik untuknya maupun untuk Baekhyun, pria itu kembali menghujamkan miliknya ke dalam milik kekasihnya, lalu tubuh Baekhyun dimiringkan dan dia pun melakukan hal yang sama tanpa melepas tautan bawah mereka.
Kaki Baekhyun kini berada diantara tubuh telanjang itu, namun sama sekali tak menghalangi pria itu untuk tetap mencapai puncak dari surga dunianya.
Gerakan tubuh keduanya seirama, tatapan keduanya penuh cinta dengan tangan yang saling menggenggam mesra.
"Aku mencintaimu sayang." Bisik Chanyeol sambil menekan keras bagian bawah tubuhnya.
Sepersekian detik kemudian, cairan putih menyemprot dari dalam miliknya, menyembur membasahi organ intim kekasih hatinya itu. Tak hanya sekali, beberapa kali sampai Baekhyun tak bisa menahan diri untuk tidak mendesah nikmat.
"Eeehhhhmmmm... aku juga mencintaimuhhhhhh... aaaaaaahhhh!"
Chanyeol menyeka pelan peluh yang membasahi wajah Baekhyun, lalu tak lama kemudian mereka saling berciuman.
Dan sepertinya, kegiatan itu berlangsung tak hanya sekali. Setelah istirahat beberapa jam, keduanya kembali bergumul panas, menikmati malam di tengah musim semi di kota Busan. Bukan ide yang buruk sepertinya.
"Ahjussi aku lelah." Rintih Baekhyun setelah tiga kali Chanyeol menyemburkan lavanya.
"Ehm. Tidurlah!"
"Janji kau akan melepasnya setelah aku tidur." Rengeknya manja sambil melirik bagian bawah tubuhnya yang sepertinya enggan Chanyeol tinggalkan.
"Aku tak bisa menjanjikan hal itu."
"Aku lelah ahjussi."
Chup
"Kau tak harus melakukan sesuatu sayang. Cukup nikmati semua yang kuberikan sayang."
"Ck! Ambil saja semuanya. Setelah ini, satu minggu aku tak mau melayanimu di ranjang."
Chanyeol tersenyum lebar. "Kau yakin tak akan merindukan ini?"
Baekhyun kembali merintih saat Chanyeol menusukkan miliknya perlahan didalam dirinya.
Mata Baekhyun kembali menghadiahi tatapan kesal pada Chanyeol.
"Baik. Aku berhenti. Aku hanya akan diam sampai kau lelap."
"Setelah aku lelap?" Baekhyun kembali menguap lebar.
"Aku akan melepasnya."
"Janji?"
"Ehm. Biarkan aku memelukmu." Chanyeol menarik tubuh Baekhyun agar semakin dekat dengannya.
"Aku suka pelukan ahjussi. Hangat."
"Ehm. Jalja sayang."
"Jalja."
.
.
.
TBC
Note : Terimakasih atas cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Maaf telat updatenya.
Ini hanya kejutan kecil untuk Chanyeol, masih ada hal besar yang akan terjadi nanti. Ada saatnya nanti Baekhyun akan mengingat semuanya. Tunggu dengan sabar yach
Big love and big thanks for you guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
