Beloved Enemy

.

.

.

07

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Flashback on

.

Baekhyun terlihat memberengut dengan kedua tangan terlipat di dada dan matanya menatap tajam sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Hatinya dongkol, sangat dongkol.

"Apa aku mengajarimu untuk bersikap kurang ajar seperti itu Baek-ah?" tanya Chanyeol dengan nada datar dan rendah.

Ya! Pria itu adalah Chanyeol, yang ekspresi wajahnya kali ini tak berbeda jauh dengan Baekhyun, terlihat marah dan kesal.

"Aku mengajakmu ke acara itu bukan untuk membuat onar, tapi kau mengacaukan semuanya. Apa maumu sebenarnya?"

Chanyeol semakin menatap kesal gadis kecilnya yang sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang begitu cantik.

Di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, Baekhyun tumbuh menjadi sosok yang begitu cantik dan selalu berhasil membuat Chanyeol sangat khawatir setiap kali gadis itu bepergian dengan teman-temannya di Perancis ini.

Semakin tumbuh besar, rasa kepemilikan Chanyeol terhadap gadis itu juga semakin besar. Tak berbeda jauh dengan Baekhyun, dia pun merasa Chanyeol miliknya dan hanya dia yang berhak mengamit lengan Chanyeol, hanya dia yang berhak menatap Chanyeol penuh cinta dan hanya dia yang berhak bermanja-manja dengan ahjussinya itu.

Yang membuat Baekhyun kesal hari ini adalah ketika dia diajak Chanyeol ke jamuan makan malam dengan kolega bisnis Chanyeol dari beberapa negara di benua biru ini, tak hanya dia ternyata, Chanyeol juga membawa seorang perempuan dewasa dari Korea, yang nyatanya mampu membuat Baekhyun cemburu.

Sikap perempuan itu terhadap Chanyeol, membuat Baekhyun marah, hingga akhirnya gadis itu nekad membuat keributan sehingga acara jamuan itu harus Chanyeol tinggalkan.

"Kau tak punya mulut untuk menjawab?" tanya Chanyeol masih dengan mata berkilat marah.

Baekhyun berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Chanyeol. Dan begitu sampai di hadapan pria itu, dengan penuh penekanan, Baekhyun mengatakan sesuatu yang membuat Chanyeol terhenyak.

"Aku benci ahjussi!"

Baekhyun berbalik dan langsung menaiki tangga.

Kejadian itu begitu cepat berlangsung, namun Chanyeol masih sempat melihat mata gadis itu yang sudah mengeluarkan airmatanya.

Rasa bersalah itu menyergapnya. Ada apa dengan Baekhyun?

Tak ingin rasa bersalahnya menghantuinya, Chanyeol menyusul Baekhyun ke lantai dua mansion mewah itu. Rasa kesal dan amarahnya meluap begitu saja melihat Baekhyun seperti itu.

Begitu tiba di depan kamar Baekhyun, pria itu langsung membuka pintu. Hatinya tercubit dan sakit melihat Baekhyun menelungkupkan dirinya di ranjang. Bahunya naik turun dan isakan kecil terdengar pilu. Sial! Dia salah besar.

Pria tinggi itu kemudian menghampiri Baekhyun, dia duduk di sisi ranjang sembari mengusap kepala gadis itu.

"Baek-ah!" panggilnya lirih.

"Ahjussi tak perlu kesini, hiks. Pergi saja dengan wanita itu, ahjussi lebih menyukainya bukan? Karena dia tak mungkin membuat malu ahjussi."

Chanyeol mengerutkan keningnya perlahan. Namun sejurus kemudian dia sepertinya memahami apa yang sudah terjadi. Baekhyun cemburu, iya, gadis kecil itu cemburu pada wanita yang dibawanya dari Korea. Chanyeol mengulum senyum tipis.

"Yoona nunna maksudmu?"

"Molla. Aku tak peduli namanya."

"Yoona nunna hanya membantuku di perusahaan Baek-ah. Dia memegang salah satu perusahaanku yang berada di Busan. Aku tak memiliki perasaan apa-apa padanya, jadi kau tak perlu merasa cemburu padanya."

Baekhyun bangun dari tidurnya, duduk menghadap Chanyeol dengan pipi basahnya.

"Kau memperlakukan dia dengan sangat manis, bahkan tadi kau membentakku."

"Karena kau salah Baek-ah. Kita di jamuan resmi, yang datang ke tempat itu semua rekan bisnisku, tapi kau berbuat ulah dengan sengaja menumpahkan minumanmu ke bajunya, apa aku harus diam saja melihatmu seperti itu? Orang lain berpikir aku tak becus mendidikmu."

Baekhyun menatap Chanyeol, masih dengan isakan kecilnya dan bibir terpout sempurna.

"Ahjussi tak perlu membentakku." Gadis itu menunduk lemah. Hal itu membuat Chanyeol semakin merasa bersalah. Apakah sikapnya sudah keterlaluan terhadap gadis itu?

Chanyeol mendekatkan dirinya pada Baekhyun, dengan dua jarinya dia menjepit dagu gadis itu hingga kelapa si mungil ikut terangkat seiring dengan gerakan kedua jarinya.

"Mianhae." Ujarnya penuh penyesalan. Dengan lembut, dia mengusap pipi basah Baekhyun. "Jangan menangis lagi. Ehm?" Baekhyun mengangguk kecil.

Gerakan tangan Chanyeol di wajah Baekhyun tak hanya berhenti di pipi, ibu jarinya dengan cukup nakal mengusap lembut bibir tipis gadis itu. Dan perubahan airmuka Baekhyun membuat jantung Chanyeol berdetak lebih cepat. Baekhyun sangat menggoda dengan bibir sedikit terbuka dan mata bulan sabit yang menatapnya intens itu.

Iblis di hati Chanyeol mendorong pria itu untuk melakukan sesuatu yang nantinya membuatnya ketagihan akan bibir tipis itu.

Chanyeol mencondongkan kepalanya, lalu dengan lembut dia menempelkan bibirnya diatas bibir Baekhyun. Di jarak yang begitu dekat, Chanyeol dapat melihat dengan jelas tatapan kebingungan dari Baekhyun, tapi hal itu tak berlangsung lama, karena beberapa detik kemudian Baekhyun mulai memejamkan matanya. Gadis itu tak menolaknya.

Merasa tak ada penolakan, Chanyeol melanjutkan aksinya, pria itu kemudian dengan lembut menggerakkan bibirnya. Sangat pelan dia menikmati bibir tipis itu.

"Euuummhhh!" satu desahan kecil lolos dari sela ciuman itu, seakan mengirim sinyal pada Chanyeol untuk berhenti sekarang.

Chanyeol melakukannya, pria itu menghentikan lumatan lembutnya pada bibir Baekhyun dengan enggan. Begitu tautan bibirnya lepas, pria itu kembali menyapu bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.

Perlahan mata Baekhyun terbuka dan keduanya saling menatap lembut.

"Aku... selalu ingin melakukan ini, karena yang mereka katakan, ciuman itu enak."

"Hmm."

"Mereka benar, ciuman itu enak."

Chanyeol tersenyum kecil mendengar kepolosan Baekhyun. "Kau menyukainya?"

"Ehm. Asal itu ahjussi yang melakukannya."

.

.

Flashback off

.

.

Ciiiiiiiiiitttttt!

Suara ban yang bergesekan dengan paving terdengar nyaring. Chanyeol keluar dari dalam mobil itu setelah memarkirnya sembarangan di depan sebuah mansion yang tak kalah mewah dari mansionnya.

Chanyeol melangkah lebar masuk ke dalam mansion itu tanpa memperdulikan tatapan penuh tanya dari anak buah Hankyung.

Benar, Chanyeol berada di mansion Hankyung saat ini. Setelah berhasil membujuk Baekhyun kemarin, dia harus menyelesaikan urusannya dengan Hankyung, pamannya sendiri.

Hankyung tahu siapa Baekhyun yang sebenarnya dan itu merupakan ancaman besar untuknya. Pikirannnya tak tenang sebelum masalah ini selesai.

"Tuan muda!" Yesung terlihat cukup terkejut dengan kedatangan Chanyeol yang mendadak ke Mansion majikannya itu.

"Mana ahjussi?" tanya Chanyeol dengan kilat kemarahan di kedua matanya.

Yesung cukup paham apa yang terjadi saat ini. Secara tak langsung, Hankyung sudah mengibarkan bendera perangnya. Dan untuk hal itu, sepertinya Chanyeol sudah mulai kebakaran jenggot, karena kejutan yang diberikan Hankyung tempo hari.

"Dia menunggu anda di ruang kerjanya."

Chanyeol tak menjawab, dia langsung melangkah ke ruang kerja pamannya. Dengan kasar Chanyeol membuka pintu ruang kerja pamannya itu.

Di ujung ruangan itu, Chanyeol menangkap sosok sang paman sedang melempar pandangannya ke luar jendela.

Chanyeol kemudian melangkah masuk.

"Akhirnya kau datang juga." Hankyung membuka pembicaraan dengan nada suara datar. Tak berapa lama kemudian dia berbalik dan tatapannya tajam menusuk tertuju pada keponakannya itu.

"Ada yang ingin kau sampaikan, nae joka?"

Chanyeol mendengus sebal. Betapa kesalnya dia dengan senyum miring Hankyung. Karena dia tahu arti dari senyum itu. Bagi Hankyung, dia sudah kalah. Paling tidak kalah dalam satu langkah.

"Jangan ganggu Baekhyun." suara Chanyeol tak berbeda jauh dengan Hankyung. Dingin, datar dan tak bersahabat.

"Kenapa? Bukankah dia bukan siapa-siapa selain gadis yang beruntung karena kau mau merawatnya."

"Ahjussi pasti sudah tahu siapa dia bukan."

Hankyung duduk di kursi kerjanya, kedua tangannya terangkat ke atas sedang punggungnya bersandar santai di kursi itu. Jangan lupakan matanya yang tak pernah lepas dari Chanyeol.

"Ehm. Dan karena aku tahu, aku jadi begitu ingin segera menghabisinya."

Kedua tangan Chanyeol terkepal erat di samping tubuhnya mendengar hal itu.

"Aku tak main-main saat mengatakan, Aku akan meratakan dengan tanah bisnis kita kalau sampai ahjussi menyentuhnya seujung kuku sekalipun."

"Lalu apa kau pikir aku takut? Kau tidak mengenalku dengan baik Chanyeol-ah."

"Ahjussi meragukanku? Ingat, semua bisnis ahjussi di negara ini berada dalam kendaliku. Akan sangat mudah bagiku menghancurkan semuanya."

Hankyung terkekeh pelan. "Kau membuatku merinding. Tapi sayangnya aku tak pernah takut sama sekali. Kau mau menghancurkannya? Hancurkan saja! Karena saat itu terjadi, kau juga akan hancur keponakanku sayang."

Chanyeol terlihat berpikir.

"Kau bingung?" Hankyung berdiri dari duduknya, lalu dengan kedua tangan menumpu pada meja, dia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku menggengam rahasia Baekhyun, Chanyeol-ah. Rahasia yang sudah kau sembunyikan selama ini. Bagiku, sangat mudah membalik keadaan kita saat ini. Aku bisa memposisikan diriku di tempatmu saat ini, dan kalau hal itu terjadi. Kau akan kehilangan semuanya."

"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi."

Hankyung mengangguk-angguk, dia lalu melangkah mendekati Chanyeol. "Apa yang akan kau lakukan? Kau pikir Baekhyun akan memaafkanmu setelah tahu semuanya?"

Chanyeol menatap pamannya dengan tatapan dinginnya, lalu tak lama kemudian dia tersenyum tipis.

Hal itu membuat Hankyung mengerutkan keningnya.

"Ahjussi tahu, saat aku melangkah masuk ke ruangan ini, satu perusahaan ahjussi yang berada di China sudah ku hancurkan." Lirihnya dingin.

Hankyung mendelik menatap Chanyeol. "Apa maksudmu?"

"Semudah ahjussi memonopoli keadaan, aku juga dengan mudah melakukannya karena aku berguru pada orang yang tepat." Chanyeol memamerkan senyum kemenangannya.

Hankyung menjadi sangat ambisius terhadap kekayaannya setelah hinaan yang diterimanya dari kakek Baekhyun. Dia sibuk mengumpulkan pundi-pundi hartanya demi tak di pandang rendah lagi oleh orang lain. Jadi bohong kalau dia akan bersikap biasa saja saat Chanyeol mengancam akan menghancurkan semua miliknya.

Hankyung kembali ke mejanya, lalu memeriksa komputernya. Yang dikatakan Chanyeol tak main-main. Satu perusahaannya di China mengalami penurunan nilai jual drastis padahal tadi dia masih melihat saham milik perusahaannya itu menguat.

"PARK CHANYEOL!" seru Hankyung marah.

"Kenapa? Kau sangat percaya diri tadi ahjussi."

"Jangan main-main denganku Chanyeol-ah! Atau kau sendiri yang akan menyesali semuanya!"

"Ijinkan aku mengatakan hal yang sama padamu ahjussi, jangan main-main denganku. Semudah kau memerintahkan orang-orangmu menghancurkanku, akan semudah itu pula bagiku menghancurkan ahjussi."

Gigi Hankyung gemerutuk, menahan amarah yang mulai merayapi batinnya.

"Kau tahu perusahaan itu penting bagi kelangsungan bisnis kita Chanyeol-ah!"

"Tahu. Dan karena aku tahu, makanya aku memilih perusahaan itu untuk ku hancurkan lebih dulu."

"Bregsek!" seru Hankyung marah.

Chanyeol bergeming di tempatnya, pria itu masih dengan tatapan datarnya menatap sang paman yang mulai kehilangan kendali dirinya. Pria beruban itu terlihat sibuk dengan ponselnya, sepertinya sedang memberikan beberapa perintah pada anak buahnya.

"Chanyeol-ah!" pekiknya kesal.

"Jangan mendekati Baekhyun, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan ahjussi."

"Kau tak bisa membandingkan dia dengan perusahaan yang ku rintis dari nol Chanyeol-ah!"

"Tentu saja seperti itu, karena bagiku dia lebih berharga dari apapun."

Hankyung kembali mendekati Chanyeol.

"Kau tak tahu apa-apa, jadi jangan coba ikut campur dalam masalah ini."

"Aku ikut campur karena dia bagian dari hidupku."

"Kau akan menyesal karena melakukan semua ini."

"Aku akan lebih menyesal lagi kalau aku tak bisa melindunginya dengan baik. Aku mencintainya ahjussi, itulah sebabnya aku akan melindungi dia apapun yang terjadi. Aku tak akan membiarkan kau atau orang-orangmu menyentuhnya, sedikitpun!"

Hankyung menatap Chanyeol sesaat sebelum tersenyum miring.

"Kau tak tahu apa-apa tentang cinta Chanyeol-ah."

Chanyeol membalas tatapan pamannya itu, sama halnya dengan Hankyung, dia juga mengembangkan senyum miringnya.

"Kita sama-sama tahu apa itu cinta ahjussi. Hanya cara kita yang berbeda dalam memaknai perasaan itu. Bagimu, tak bisa memilikinya maka orang lain tak boleh memilikinya juga, sedangkan aku selalu memastikan dia bahagia dengan apa yang dia pilih. Kalau satu hari nanti dia tahu tentang kita dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku, aku akan terima."

Hankyung kembali tersenyum, kali ini senyum miris penuh kesakitan.

"Aku mencintai Chullie, aku bisa melakukan apa saja untuknya. Semua yang dia lakukan bisa ku terima. Hanya satu yang tak bisa ku terima, penghinaan dari orangtuanya. Aku miskin saat itu Chanyeol-ah, lalu apa aku salah kalau aku mencintainya?"

"Tidak. Tapi cara ahjussi untuk balas dendam itu yang salah. Apa tujuan ahjussi melakukan hal itu? Apa kau bahagia dengan membunuhnya? Apa kau bahagia dengan menghabisi semua keturunannya?"

"Aku bahagia. Penderitaan yang kurasakan, mereka harus ikut merasakannya juga, termasuk tikus kecil itu."

Chanyeol menajamkan pandangannya pada sang paman. Dia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Sebelum Hankyung menyentuh Baekhyun, dia harus memastikan pamannya itu tak berkutik dengan gertakannya. Dia tak main-main, sungguh.

"Seujung kuku saja kau menyentuhnya, jangan salahkan aku kalau semua yang kau bangun akan hancur begitu saja. Ini bukan hanya ancaman atau peringatan, karena aku akan benar-benar melakukannya kalau kau menyentuhnya ahjussi."

Chanyeol tak menunggu jawaban pamannya, dia berbalik dan keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Baekhyun menuruni anak tangga mansion mewah Chanyeol dengan senyum merekah indah. Dibelakangnya, anjig kesayangannya mengikuti sambil menyalak keras.

"Larry-ya... palli... palli!" pekiknya.

Tak ada yang lebih baik di rumah ini selain suara nyaring Baekhyun dan juga senyum lebar gadis cantik itu. Karena apa? Karena senyum lebar Baekhyun itu yang akan membawa semuanya jauh lebih baik. Suasana dirumah ini juga berubah, seiring dengan senyuman Baekhyun. Jadi siapapun itu, yang tinggal di mansion ini, akan selalu mensyukuri senyum Baekhyun.

"Ahjumma! Ahjussi eodi?"

"Tuan muda pergi bekerja nona."

Baekhyun terdiam sejenak, kemudian dia duduk di ruang makan. "Dia tak menungguku bangun. Huh! Menyebalkan!" gumamnya kesal.

"Anda sarapan sekarang?"

"Hmm... aku mau roti dan susu."

"Baik, saya siapkan."

"Ahjumma! Jackson dan Joo Hyun eodi?" tanya Baekhyun sambil memendarkan matanya ke segala arah, mencari pengawal pribadinya.

"Mereka menunggu anda di depan."

"Mereka tidak sarapan?"

"Sudah, sebelum anda bangun."

"Owh. Ahjumma! Bisakah ahjumma menyiapkan roti dan susu itu untuk bekal saja? Aku harus ke kampus sekarang." Baekhyun beranjak dari duduknya sambil menenteng tasnya, dia bersiap pergi dari ruang makan itu.

"Nde." Perempuan paruhbaya itu dengan cekatan menyiapkan bekal yang di minta Baekhyun. Setelah semuanya beres, dia menyusul Baekhyun yang sudah berdiri di teras mansion.

"Pagi ini, ahjussi tidak usah mengantar saya. Saya pergi dengan mereka saja." Ujar Baekhyun menunjuk Jackson dan Joo Hyun yang sudah siap di teras mansion mewah itu.

"Tapi Aghasi." Pria beruban yang biasanya mennyupiri Baekhyun kemana pun gadis itu pergi, ingin memprotes tapi Baekhyun mengisyaratkan padanya untuk tak membantah.

"Ahjussi tak perlu khawatir, saya akan baik-baik saja dengan mereka. kajja!" Baekhyun melangkah menuju mobil yang biasa dia gunakan ke kampusnya. Sesuai dengan permintaannya, kali ini dia hanya ingin berangkat dengan Jackson dan Joo Hyun.

"Jackson-ah! Palli!" seru Baekhyun dari dalam mobil.

Jackson dan Joo Hyun bergegas menghampiri mobil hitam itu, lalu masuk dari pintu depan.

"Aghasi! Terlalu beresiko bila saya yang membawa mobil ini."

"Kenapa? Kau tak bisa menyetir?"

"Bisa."

"Lalu apa masalahnya?"

"Tuan Park bisa marah kalau tahu anda berangkat tanpa sopir."

"Jangan khawatir, ahjussi itu urusanku. Kau jalankan saja mobilnya."

"Tapi..."

"Kau mau aku sendiri yang membawanya?"

"Tidak! Baiklah!" Jackson tak bisa menolak begitu saja permintaan dari Baekhyun. Dia mulai menjalankan mobil itu keluar dari halaman mansion mewah Chanyeol.

Sekitar sepuluh menit kemuadian, Baekhyun yang duduk di belakang mulai memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan.

"Apa kalian tahu kemana perginya Kyungsoo?"

Joo Hyun melirik Jackson, hal yang sama juga dilakukan Jackson.

"Kenapa menanyakan hal itu?"

"Aku tak melihatnya beberapa hari ini. Dia juga tak bisa ku hubungi."

Jackson dan Joo Hyun masih diam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa, karena kalau pun mereka tahu jawaban atas pertanyaan itu, mereka tak diberi hak untuk memberikan jawaban.

"Ahjussi menyingkirkannya 'kan?" nada suara Baekhyun terdengar sedih.

"Aghasi!"

"Kalian tahu jawaban pastinya, tapi kalian tak memberitahuku."

"Bukan hak kami untuk membicarakan masalah ini."

Baekhyun terdiam sesaat. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.

"Ehm." Gumam Baekhyun menjawab sapaan dari seberang. "Oppa menyingkirkan Kyungie kemana?"

"Maksud anda?"

"Jangan berpura-pura tak tahu, Jongdae oppa pasti tahu jawaban dari semua pertanyaanku ini 'kan?"

"Aghasi! Kalaupun saya tahu, saya tak harus menjawabnya bukan? Anda tak perlu khawatir, dia baik-baik saja."

Baekhyun hanya diam saja. Tapi demikian, matanya berkaca-kaca. Hubungannya membaik dengan Chanyeol, tapi ada yang mengganjal di hatinya saat dia tak menemukan Kyungsoo di kampus. Awalnya dia hanya menganggap Kyungsoo tak masuk karena sakit, tapi sudah lebih dari satu minggu temannya itu tak ada kabarnya, dia sebagai teman tentu saja merasa harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada temannya itu. Dan pemikirannya jatuh pada Chanyeol, cara Chanyeol melindunginya adalah dengan menyingkirkan orang-orang yang dianggap berbahaya untuknya.

Kejadian ini pernah terjadi sebelumnya, saat dia masih di Perancis. Saat itu ada temannya yang ternyata merangkap sebagai mata-mata dari musuh Chanyeol dalam bisnis, dan orang itu membahayakannya dengan hampir menabrakkan mobil yang mereka tumpangi. Baekhyun mengalami luka parah sampai harus istirahat di rumah sakit kurang lebih dua minggu. Saat dia keluar dari rumah sakit, dia mencari temannya itu, jawaban Chanyeol membuatnya tercengang.

"Aku tak akan membiarkan orang-orang yang bisa membahayakanmu, hidup tenang. Kau tak perlu lagi mencarinya, karena aku sudah menyingkirkannya."

Bukan hanya temannya itu yang mendapat hukuman, bahkan Celline dan anggota guardnya yang lain juga mendapat hukuman karena dianggap tak becus menjaganya. Persis yang dialami Jackson dan Joo Hyun tempo hari. Lalu, benarkan Kyungsoo membahayakannya? Apakah dia juga mata-mata?

Hhhhh!

.

.

.

Chanyeol tiba kembali di kantornya sekitar pukul sebelas siang. Dia langsung berjalan ke ruangannya tanpa memperdulikan sapaan dari beberapa bawahannya.

"Tuan!" Jongdae yang sejak tadi berada di ruangan Chanyeol, berdiri dari duduknya. Matanya menatap Chanyeol yang tampak sedang menahan gejolak amarahnya.

"Kau sudah menghubungi Celline?"

"Sudah. Dia memastikan semuanya aman."

Chanyeol bisa bernafas lega sekarang.

"Tuan!" panggil Jongdae saat melihat Chanyeol sudah duduk di kursinya.

"Ehm."

"Aghasi..."

"Ada apa dengannya?"

"Sepertinya dia penasaran dengan keberadaan temannya."

Chanyeol menatap Jongdae. "Dia menanyakan hal itu?"

"Iya."

Chanyeol menarik nafasnya berat. Pelipisnya dia pijat. "Apa jawaban yang kau berikan untuknya."

"Hal itu bukan urusannya, kalaupun dia harus tahu, dia seharusnya tahu dari anda."

"Ehm. Anak itu, dia tetap aman di tempatnya bukan. Pastikan dia tak berbuat ulah lagi."

"Ada lebih dari sepuluh orang yang berjaga ditempatnya saat ini."

"Ehm. Jongdae-ah!"

"Saya Tuan."

"Asisten rumah tangga Baekhyun saat itu, kau sudah menemukannya?"

"Tidak ada catatan tentang keberadaannya hingga saat ini. Bahkan ketika saya mencari tahu di kepolisian, tak ada pemilik nama itu yang pernah bekerja di rumah keluarga Byun."

"Kau yakin? Orang yang kita suruh untuk mengikutinya saat itu bagaimana?"

"Dia sudah meninggal."

Chanyeol berpikir keras. Sekarang ini, banyak hal yang dia khawatirkan, yang tentu saja masih berhubungan dengan masa lalu Baekhyun.

Baekhyun bukanlah gadis bodoh, yang akan langsung diam ketika dia mendapat jawaban atas rasa penasarannya. Dia akan terus mencari tahu, sampai dia menemukan apa yang membuat rasa penasarannya itu hilang.

Contohnya seperti yang dikatakan Jongdae tadi, dia sudah mencari keberadaan temannya itu. Iya, gadis yang dianggap teman oleh Baekhyun. Yang meski terlihat pendiam namun begitu mudah menancapkan duri untuk Baekhyun.

Baekhyun terlalu buta untuk hubungan dengan orang banyak, karena kekasih cantiknya itu selalu menganggap bahwa semua orang di dunia ini baik. Hingga terkadang dia harus terluka lebih dulu untuk tahu bahwa di dunia ini juga ada orang jahat.

Dan Chanyeol masuk dalam daftar orang jahat itu sepertinya. Karena suka atau tidak, bagaimanapun caranya nanti menjelaskan pada Baekhyun tentang kejadian beberapa tahun lalu, sudah dapat dipastikan kalau Baekhyun akan terluka. Mungkin gadis itu akan menganggap bahwa Chanyeol adalah orang yang paling jahat nantinya.

Hhhhhh!

Jongdae mengamati perubahan air muka Chanyeol setelah membuang nafasnya tadi. Betapa dia tahu beban yang saat ini Chanyeol rasakan. Andai saja malam itu Chanyeol tak mengiyakan keinginan ibu Baekhyun, mungkin saat ini hidupnya akan tenang. Tapi... mungkin ini takdir, kehadiran Baekhyun membuat Chanyeol menarik diri dunia hitam yang selama ini dia jalani. Jadi, entah keberuntungan atau kesialan sebenarnya, membiarkan Baekhyun hidup dan berada di sekitar atasannya itu.

.

.

.

Chanyeol kembali ke mansion sekitar pukul sembilan malam. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan orang lain. Dia ingin segera bertemu Baekhyun, karena meninggalkan gadis itu di pagi buta, ternyata memberikan efek tak baik baginya.

Pikirannya kacau saat ini dan yang dia butuhkan hanyalah gadis kecilnya.

"Ahjussi!" pekik Baekhyun dari anak tangga. Gadis itu tersenyum girang sambil berlari mendekati orang yang paling disayanginya itu.

Baekhyun melompat ke dalam gendongan Chanyeol.

Untung Chanyeol sigap, dia segera menangkap tubuh mungil yang semakin berisi itu.

"Aku merindukan ahjussi."

Ungkapan kerinduan Baekhyun terasa begitu menyejukkan hati Chanyeol. Lelahnya, pikiran kacaunya, semua hilang tak berbekas.

"Aku juga merindukanmu." Balas Chanyeol sambil membawa Baekhyun naik ke lantai atas.

"Apa kau sangat sibuk hari ini?"

"Ehm. Kenapa?"

"Kau pergi sangat pagi, dan pulang cukup larut. Kalau aku sudah tidur tadi, maka satu hari ini dapat dipastikan kita tidak bertemu."

"Kalau kau sudah tidur, aku akan membangunkanmu."

Chanyeol melayangkan ciuman di atas bibir Baekhyun saat mereka sudah masuk ke dalam kamar. Mereka saling berpagutan mesra, sampai kemudian Baekhyun direbahkan diatas ranjang dan Chanyeol tetap berada diatasnya.

"Kau mencari keberadaan temanmu itu?" tanya Chanyeol sambil membelai wajah gadis mungilnya itu.

"Jongdae oppa mengadu padamu?" Baekhyun balik bertanya sambil melonggarkan dasi yang dipakai Chanyeol.

"Dia hanya mengatakan apa yang perlu ku ketahui."

"Cih! Dasar pengadu." Omel Baekhyun sambil membuka satu persatu kancing kemeja Chanyeol.

"Aku dengar hari ini kau ke kampus tidak diantar supir."

"Ehm. Karena aku tahu, Joen ahjussi ada di pihakmu, jadi dia pasti akan mengatakan apapun yang dia dengar dariku."

"Pembicaraanmu tentang perempuan itu rahasia?"

"Ahjussi! Apa menurutmu Kyungie bersalah?"

"Ehm."

"Dimana letak kesalahannya."

"Dia tak bekerja untukku, dia membocorkan informasi tentangmu pada musuhku jadi tak salah kalau aku menyingkirkannya darimu bukan?"

Baekhyun memberengut, dia membuang nafasnya kesal. Matanya menatap Chanyeol dengan tatapan marah.

"Itulah sebabnya, aku enggan membawamu pulang ke Korea. Disini terlalu banyak musuh yang mengintai, dan mereka bisa melakukan segala hal untuk menjatuhkanku. Termasuk mencelakaimu."

"Tapi Kyungie tak melakukan apapun, dia hanya membawaku ke mansion keluargaku, apa itu salah?"

Chanyeol beranjak dari atas tubuh Baekhyun, dia berdiri menghadap cermin dan membuka bajunya. Memamerkan tubuh kekarnya yang selalu menjadi tempat favorit Baekhyun untuk bersandar.

"Aku sudah mengatakannya Baek-ah. Kesalahannya adalah dia tak bekerja padaku dan bagiku, caranya membawamu ke tempat itu membahayakanmu."

"Dia tak melukaiku ahjussi!" seru Baekhyun.

Chanyeol berbalik dan berkacak pinggang di depan Baekhyun. Matanya menyiratkan emosinya yang mulai terpancing.

"Kita sudah berjanji untuk melupakan kejadian ini Baek-ah. Kau tak perlu dia untuk tahu tentang dirimu yang dulu. Bukankah aku sudah menceritakan semuanya, kau ingin apalagi sekarang?"

Baekhyun tertunduk lesu. Dia tahu Chanyeol sudah mengatakan apa yang ingin ketahui tentang masa kecilnya dulu. Hanya saja dia masih merasa ada sesuatu yang mengganjal, ada sesuatu yang dia lupakan dari bagian perjalanan hidupnya. Dan itu sangat mengganggunya. Dia ingin tahu semuanya dan dia pikir mungkin Kyungsoo bisa membantunya. Tapi...

Chanyeol membuang nafasnya kasar. Kepalanya semakin pusing. Dia merasa menyesal pulang ke rumah malam ini.

Pria itu tak menunggu mood Baekhyun membaik, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan pancuran yang memancarkan air hangat.

Hhhh!

Chanyeol kembali mendesah pelan saat tetesan air mulai membasahi sekujur tubuhnya.

Haruskah segala hal yang dia simpan selama ini dia katakan pada Baekhyun? Batinnya masih bimbang, masih sibuk menimbang.

Kehilangan Baekhyun adalah resiko yang paling berat yang harus dia tanggung seandainya semua cerita tentang gadis itu di masa lalu dia ungkap. Tapi kalau bukan dia, siapa lagi? Chanyeol tak ingin Baekhyun tahu cerita malam itu dari oranglain, apalagi jika orang itu pamannya.

Grep!

Chanyeol merasakan sepasang tangan kecil melingkari pinggangnya.

"Jeosonghamnida ahjussi. Betapa tak tahu dirinya aku. Kau berusaha melindungiku tapi aku justru sibuk dengan rasa penasaranku." Lirih Baekhyun yang membuat dada Chanyeol seperti di hantam gada yang sangat besar.

Pria itu memejamkan matanya sesaat, sebelum berbalik dan menatap Baekhyun yang sudah sama dengannya, basah dan telanjang di bawah tetesan air.

"Baekhyunie!"

Baekhyun mendongakkan kepalanya.

"Malam itu, saat kedua orangtuamu pergi, mereka memberikan sebuah rangsel kecil untuk kau bawa. Kau mungkin bisa menemukan jawaban dari semua yang ingin kau ketahui di dalam tas itu. Kalau kau ingin, kau bisa mengambilnya di brankas yang ada di ruang kerjaku."

Baekhyun menggeleng kuat. "Aku hanya butuh ahjussi. Tak masalah kalau aku tak tahu bagaimana masalaluku, yang aku butuhkan hanya tetap berada di samping ahjussi."

Chanyeol menatap dalam gadis itu, yang terlihat semakin menggigil dalam guyuran air. Pria bertubuh tegap dan tinggi besar itu mengangkat tubuh kecil Baekhyun, lalu mencium pada bibir tipis gadis itu.

Tak ingin melepaskan begitu saja tautan itu, Baekhyun membalas dengan tak kalah dalam setiap lumatan yang diberikan Chanyeol padanya. Gadis itu meremas kuat rambut belakang milik Chanyeol demi memperdalam ciumannya.

Acara mandi malam ini, menjadi acara mandi yang cukup lama, karena tak hanya ciuman yang terjadi di bawah guyuran air pancuran itu, tapi sebuah kegiatan panas yang selalu menjadi penutup hari mereka.

Baekhyun tak kuasa tak mendesah saat Chanyeol mendorongnya hingga membentur dinding, dan melesakkan benda tumpulnya di sela organ intim kekasihnya itu.

"Aaaaahhhh!"

.

.

.

Chanyeol tengah duduk diranjangnya dengan Baekhyun yang menyandarkan kepalanya di pahanya.

Apa yang mereka lakukan di waktu hampir dini hari ini?

Melihat siaran televisi setelah pertempuran yang tak hanya terjadi di kamar mandi tapi juga terjadi di atas ranjang yang saat ini mereka tempati. Bukan hanya satu gaya, tapi sudah beberapa gaya dan anehnya, bukannya mengantuk kelelahan, Baekhyun justru terlihat bugar.

"Ahjussi!"

"Ehm."

"Dua hari lagi aku harus ke Jeju."

Chanyeol menghentikan gerakannya diatas kepala Baekhyun. "Ada urusan apa kau kesana?"

"Study tour. Bagian dari tugas kampus."

"Haruskah kau ikut?"

Baekhyun bangun dari rebahannya, dia mendekatkan dirinya pada Chanyeol atau lebih tepatnya sekarang naik ke atas pangkuan pria itu.

"Ini sifatnya wajib. Mahasiswa tingkat pertama dan kedua diwajibkan untuk ikut."

"Jakson, Joo Hyun dan..."

"Jangan berikan guard yang banyak. Aku rasa Jackson dan Joo Hyun mampu menjagaku dengan baik."

"Berapa lama kau disana?"

"Dua hari."

Chanyeol merapikan rambut Baekhyun. "Ada dua orang lagi yang akan mengikuti kalian. Aku tak ingin bantahan atau aku akan meminta pihak kampus membatalkan acara itu."

Baekhyun mempoutkan bibirnya. Dia tak pernah menang dari Chanyeol untuk hal yang satu ini. "Ok! Hanya dua."

"Ehm."

Baekhyun menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol setelah itu. Jari-jari rampingnya bermain-main diatas dada bidang kekasihnya itu.

"Jangan main-main gadis kecilku." Chanyeol memperingatkan.

"Aku senang melakukannya." Lirih Baekhyun masih dengan jarinya yang bergerak lembut diatas permukaan dada bidang Chanyeol, yang kemudian turun semakin ke bawah dan dengan sengaja menyentuh kepala organ intim kekasihnya itu.

"Baek-ahh!" Chanyeol memejamkan matanya merasakan tangan kekasihnya itu membelai miliknya.

"Ahjussi! Kita belum pernah melakukannya dengan aku memunggungimu."

"Ck...sssshhhhh..."

Baekhyun tak perlu diajari lagi bagaimana cara memasukkan benda milik Chanyeol ke dalam miliknya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Chanyeol sambil tetap memegang dan membelai perlahan benda tumpul itu, setelah mencium singkat pucuk kepala benda itu, Baekhyun berbalik badan, memunggungi Chanyeol dan dengan usahanya sendiri, dia menurunkan dirinya tepat diatas benda tumpul itu.

Gadis itu memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya saat perlahan benda itu masuk ke dalam miliknya.

"Aaaaahhhh!"

"Nappeun yeoja." Bisik Chanyeol sambil memukul pelan pantat Baekhyun. Dia lalu bangun dan memeluk Baekhyun dari belakang.

"Hanya padamu, hanya pada ahjussi aku melakukan hal inihhhhhh!"

"Ehm. Saranghae Baekhyunie."

"Nadohhhhh."

.

.

.

TBC

NOTE : Terimakasih atas perhatian kalian terhadap cerita ini. Lega akhirnya bisa update disini, meski mungkin hasilnya tak sesusai harapan kalian. Masih harus kembali menyesuaikan dengan alur dari cerita ini. Semoga kalian bisa chap ini.

Maaf ya kalau cerita ini jadi terbengkalai setelah aku merasakan kenyamanan di WP. Bukan kenyamanan yang bagaimana ya, tapi lebih pada proses ngetiknya. Kalau ff ini aku ketik di Laptop, sedang yang di WP ngetiknya di hape, jadi bisa sambil ngapain aja di sempetin ngetik.

Kalau ngetik di laptop, niat awal ngetik tapi ntr endingnya justru kebablasan lihat drama.

Makasih untuk yang sudah mengingatkan saya untuk melanjutkan cerita ini, makasih atas kesabaran kalian menunggu.

#DEEPBOW

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^