Seorang pemuda tampan bersurai blonde menarik kopernya keluar dari bandara tanpa menghiraukan banyak pasang mata yang menatap memuja pada pemuda itu. Pemuda itu berjalan dengan cool-nya melewati semua orang dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya menambah kesan betapa kerennya pemuda itu. Sesekali ia juga memberikan sedikit senyumnya pada beberapa gadis yang berani bersapa 'hy' padanya bahkan pada beberapa pria yang melambaikan tangan sok kenal padanya.

Di waktu yang sama, dan di tempat yang sama pula seorang pemuda dengan surai berwarna hitam legam baru saja keluar dari pesawat pribadinya. Ia berjalan seraya mengenakan kacamata hitam yang ia pegang sedari tadi. Tatapan datarnya dan angkuhnya yang membuat beberapa orang yang ia lewati sedikit terkesima dengan pesonanya. Pemuda itu melangkah cepat keluar dari bandara dengan koper yang ia tarik di tangan kanannya.

Masih pada situasi yang sama. Pemuda dengan rambutnya yang berwarna ungu mencolok membuat penampilannya menjadi pusat perhatian dengan gayanya yang cool dan menawan, bagaimana saat ia berjalan dengan tangan kirinya yang ia masukkan ke dalam sakunya dan tangan kananya yang tengah menarik koper yang ia bawa. Oh, jangan lupa kacamata hitam yang juga bertengger di hidung mancungnya.

Ketiga pemuda itu menghentikan langkah mereka secara bersamaan saat ketiganya sampai di daerah pintu keluar. Saling memandang lewat kacamata hitam mereka masing-masing dan mengabaikan pekikan kagum dari orang-orang yang mengerumuni mereka ataupun yang tak sengaja melewati mereka meskipun hanya bergumam dalam hati. Si blonde tersenyum kotak, si hitam berdecak malas, dan si ungu tersenyum miring. Reuni yang menyenangkan.

.

.

"Selamat datang kembali, tuan muda!" sapa tiga pemuda berpakaian formal diikuti beberapa bodyguard yang berdiri mengelilingi tiga mobil mewah yang terparkir elok di depan pintu keluar bandara.

"Huft, sudah tiga tahun aku tidak merasakan suasana seperti ini. Akhirnya aku bisa kembali!" ujar si blonde tanpa membalas sapaan dari orang yang menyapanya. "Dan juga bisa bertemu dengan kalian, hyung-nim!" lanjutnya tersenyum konyol.

"Hah! Tak perlu sok akrab Taehyung-ssi! Kau si bungsu yang menyebalkan!" sahut si ungu yang akhirnya melepas kacamatanya. "Buka pintunya! Aku ingin menemui appa sekarang!" titahnya yang langsung dituruti oleh bodyguard yang berdiri tegap di depannya.

"Oh, mungkin aku juga harus menemui appa! Bagaimana rupanya sekarang? Apa dia bertambah tua?" tanya si blonde yang sebelumnya dipanggil si ungu dengan nama Taehyung. Pemuda tampan itu memilih untuk membuka pintu mobilnya sendiri dan membiarkan para bodyguardnya untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi.

"Apa tuan muda tidak ingin pergi sekarang? Tuan besar pasti sudah menunggu kedatangan tuan muda!" ujar salah seorang pria yang bediri di dekat si rambut hitam.

"Masukkan koperku!" titahnya yang kemudian segera melesat memasuki mobil mewah yang satu-satunya tersisa.

Setelah memasukkan semua barang-barang tuan muda mereka. Ketiga mobil hitam metalik itu melaju berbaris rapi meninggalkan bandara dan menuju ke tempat yang menjadi tujuan mereka bersama.

Hampir sekitar 30 menit perjalanan. Ketiga mobil itu berhenti tepat di depan sebuah hotel berbintang tujuh. Pintu mobil belakang mereka terbuka secara bersamaan dan muncullah para pemuda tampan yang sedari tadi dinantikan kedatangannya. Ketiga pemuda itu berjalan memasuki lobby hotel melewati para karyawan yang berjajar rapi seraya membungkuk menyambut mereka. Di belakang mereka juga terdapat tiga pemuda berjas yang tadi menyambut mereka di bandara.

"Selamat datang tuan muda!" sapa seorang pria paruh baya kepada ketiga pemuda tampan itu. Namun, sayang tak ada satupun dari ketiganya yang menjawab sapaan ramah dari sang pria.

"Dimana appa?" tanya si hitam datar pada pria yang setia berdiri di belakangnya.

"Semua tuan besar sedang berkumpul di hall room, tepatnya di lantai 21 tuan muda!" jawabnya seraya membungkuk sopan.

"Kami ingin kesana sekarang!" ujar si ungu yang langsung diekori oleh ketiga orang yang masih setia di belakang mereka.

Keenam pemuda itu segera bergegas menaiki lift dan menuju ke lantai 21 menemui sosok yang paling dihormati oleh semua orang bahkan seantero Korea yang mengenal nama mereka.

Ting!

Lima belas menit mereka menunggu mematung, akhirnya mereka sampai di lantai yang mereka tuju. Keenam pemuda itu segera bergegas menuju pintu yang dijaga dua orang bodyguard yang satu-satunya ada di lantai tersebut.

"Selamat datang tuan muda!" sapa kedua bodyguard yang menjaga pintu itu membungkukkan badan mereka dihadapan ketiga pemuda tampan dan langsung membukakan pintu hall room untuk mereka.

Keenamnya melangkah memasuki ruang hall room untuk menemui tiga pria paruh baya yang memang sudah menunggu kedatangan ketiga pemuda yang tak lain adalah putra mereka sendiri.

"Lihatlah, siapa yang datang!" seru salah seorang pria paruh baya menyambut mereka seraya merentangkan tangannya dan memeluk anaknya, si blonde. Selang beberapa detik, muncullah dua pria lainnnya yang juga berada di ruangan yang sama. "Taehyung-ie... bagaimana kabarmu?" tanyanya pada si blonde yang baru saja dipeluknya.

"Aku baik appa. Appa sendiri? Aku kira appa bertambah tua karena sudah tiga tahun tidak bertemu tapi, ternyata masih sama! Appa tetap tampan!" puji si blonde, Kim Taehyung pada ayahnya, Kim Hyung Seok.

"Duduklah! Ada yang ingin kami bicarakan kepada kalian bertiga!" ujar seorang pria paruh baya yang lain yang sebelumnya sempat merangkul anaknya si ungu yang bernama Kim Namjoon dan ayahnya, Kim Yoon Wook. Sementara, satu pria paruh baya lagi hanya menatap anaknya, si hitam yang bernama Min Yoongi dengan tatapan datar begitu pula dengan anaknya yang seolah tidak mengenal siapa-siapa.

Ketiga pemuda itu duduk berjajar di depan meja makan berbentuk persegi panjang yang diseberang mereka terdapat pula ayah mereka masing-masing yang duduk di hadapan mereka. Tak lupa juga tiga orang pemuda yang berdiri di belakang ketiga pemuda tampan yang tak lain adalah asisten pribadi mereka.

Asisten Kim Namjoon bernama Park Se Hyuk, jarak tautan umur mereka hanya berkisar tiga tahun maka dari itu Namjoon kadang memanggilnya dengan sebutan Hyung. Sama seperti Namjoon, asisten Taehyung bernama Kim Joon Myeon yang seumuran dengan Park Se Hyuk. Sedangkan Min Yoongi, memiliki asisten yang bernama Son Hyun Woo yang merupakan magnae diantara ketiga asisten tampan itu.

Silsilah ketiga keluarga ini sebenarnya tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi, persahabatan ketiga keluarga ini sudah terjalin sejak kakek-nenek mereka masing-masing dan masih terjalin sampai dengan mereka saat ini. Keluarga mereka sudah saling mengenal sejak mereka lahir bahkan mereka membangun perumahan khusus yang hanya terdiri dari tiga mansion atas nama mereka masing-masing. Mereka menjalin bisnis bersama meskipun di bidang yang berbeda. Mereka selalu mengutamakan rasa persahabatan dan kekeluargaan mereka yang teramat kental dan saling memahami satu sama lain. Saling membantu jika salah satu dari mereka mengalami masalah dan sewaktu-waktu mereka juga menyempatkan untuk berlibur bersama. Tapi, sayangnya ada satu kekurangan di dalam keluarga besar ini, bahwa fakta jika ibu mereka sudah meninggalkan mereka selama-lamanya sejak ketiga pemuda itu masih kanak.

"Ada apa appa dan ahjussi memanggil kami kemari saat kami baru saja tiba?" tanya Namjoon memecah keheningan diantara mereka yang berlangsung selama beberapa menit yang lalu.

"Bagaimana sekolah kalian disana? Kim Taehyung?" tanya ayah Namjoon menatap Taehyung yang duduk di samping kanan Namjoon dan Yoongi yang duduk di samping kiri Namjoon.

"Aku? Aku baik-baik saja di New York! Bahkan aku sangat betah disana, lagi pula kenapa appa menyuruhku pulang?" rengek Taehyung.

"Baguslah kalau begitu! Bagaimana denganmu, Yoongi-ya?" tanya ayah Yoongi, Min Seo Jin.

"Aku baik di London, appa!" balas Yoongi singkat. Ayahnya itu hanya mengangguk.

"Lalu, kau Namjoon-ie?" tanya ayah Yoongi pada Namjoon.

"Aku baik-baik saja di Washington. Bahkan, aku sudah terbiasa dengan budaya di sana!" jawab Namjoon singkat.

"Kalian sudah terlalu lama jauh dari asal kalian. Bukankah, tiga tahun itu bukan waktu yang singkat?" tanya ayah Taehyung. Ketiga pemuda itu hanya diam. "Lagi pula kami juga tahu apa yang kalian lakukan disana yang sebenarnya!" lanjut ayah Taehyung penuh penekanan membuat ketiga pemuda itu membulatkan kedua mata mereka tanpa sadar.

"Kim Namjoon yang sering ber-DJ di klub. Kim Taehyung yang menjadi model majalah dan Min Yoongi yang bermain piano di cafe? Kalian ini, tidak tahu siapa kalian? Kalian habiskan waktu tiga tahun untuk hal tidak berguna seperti itu?"

"Appa! Menjadi model itu bisa berwawasan luas!" seru Taehyung tak terima. "Lagi pula, nilaiku juga selalu tinggi kan?" elak Taehyung, ayahnya hanya berdecak.

"Dan, kau Namjoon-ah! Ada apa dengan pergaulanmu? Kau ber-DJ di klub? Kau—?"

"Appa! Itu hobi-ku! Aku hanya melepas penat!" potong Namjoon.

"Dan, kau Min—"

"Aku pernah memecahkan kaca cafe, dan karena aku lupa membawa dompet maka aku membayarnya dengan main piano tapi aku tidak tahu jika hal itu menjadi kebiasaan!" potong Yoongi yang sudah tahu jika ayahnya akan bertanya padanya.

"Maka dari, itu kami langsung meminta kalian pulang secepatnya!" ujar ayah Taehyung.

"Sehyuk-ah! Bisa kau ambil berkasnya?" pinta ayah Namjoon pada Sehyuk yang setia berdiri di belakang Namjoon duduk. Sehyuk mengangguk dan segera bergegas mengambil berkas yang atasannya itu minta. Sehyuk kembali dan membawa tiga berkas yang ia bagi ke masing-masing tuan muda-nya.

"Apa ini?" tanya Taehyung saat melihat cover berkas yang menyerupai majalah di depannya. Ia hanya membaca judul majalah yang merupakan profil suatu tempat.

"Restad College?" gumam Namjoon.

"Ini proyek hotel baru?" tanya Taehyung tanpa berniat untuk membuka majalah itu.

"Itu bukan hotel, tapi itu adalah sekolah! Kami bertiga yang membangun sekolah itu tiga tahun yang lalu!"

"Apa? Sekolah? Sebagus ini?" pekik Taehyung kemudian membuka majalah itu dan membolak-baliknya membuat Namjoon ikut membaca setiap tulisan yang ada di dalam profil majalah sekolah itu. Sedangkan, Yoongi? Dia hanya menatap malas majalah yang ada di depannya.

"Aku sudah tahu sekolah ini! Sekolah termewah yang memiliki siswa pintar di dalamnya!" gumam Yoongi.

"Eoh, darimana kau tahu hyung?" tanya Taehyung. Yoongi hanya melirik ke belakang menandakan bahwa ia tahu dari seseorang yang berdiri di belakangnya. "Ah, Hyun Woo hyung? Lalu, kenapa appa dan ahjussi memberi profil baru sekolah ini?"

"Kalian akan pindah sekolah disana mulai besok!"

"Apa?" seru ketiga pemuda itu.

"Kalian sudah putus sekolah selama setahun kan? Jangan pikir kami tidak tahu!"

"Tapi, kenapa harus sekolah ini?" tanya Taehyung.

"Sekolah ini terlihat—membosankan!" gerutu Yoongi.

"Dan, sekolah ini terlihat sangat berlebihan!" lanjut Namjoon. Yang membuat ketiga ayah mereka menghela nafas.

"Kalian tidak bisa menolaknya! Dan, juga satu hal lagi!" ayah Yoongi menarik nafas. "Kalian akan tinggal satu rumah jika tidak berada di asrama!"

"APA?" kali ini mereka bertiga memekik lebih keras.

"Kalian akan tinggal satu rumah juga dengan Sehyuk, Hyun Woo, dan Joon Myeon yang akan mengawasi setiap gerak-gerik kalian!"

"Aigoo, appa! Kita bukan anak kecil lagi! Kenapa harus diawasi seperti ini! Dan, apa? Asrama? Ini sekolah atau penjara?" rengek Taehyung.

"Tidak ada negosiasi dan tidak ada penolakan! Jika kalian tidak melakukannya sesuai dengan peraturan yang akan mereka sampaikan! Salah satu akibatnya adalah tidak ada lagi fasilitas yang kalian miliki saat ini sampai kalian menikah!" putus ayah Namjoon. Ketiga pemuda itu terkejut bukan main. "Aku rasa tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi dan aku harap, kalian menikmati sekolah baru kalian!" ujar ayah Namjoon sebelum ia dan kedua sahabatnya pergi keluar meninggalkan ketiga anak mereka masing-masing.

"Appa! Kenapa kau lakukan ini padaku? Aku janji tidak akan ber-model lagi! Appa!" seru Taehyung mempoutkan bibirnya sebal. Ia beralih dari duduknya dan menatap Joon Myeon yang masih setia berdiri di belakangnya. "Hyung~lakukan sesuatu! Aku tidak mau di asrama!" rengek Taehyung yang hanya ditanggapi tatapan datar dari asistennya itu. "Aish! Hyung-deul!" panggil Taehyung pada Namjoon dan Yoongi yang masih duduk di tempatnya. "Kenapa kalian diam saja? Kalian mau berada di asrama itu dan di kengkang?" tanya Taehyung. Namjoon dan Yoongi beranjak dari duduknya dan beralih duduk di kursi sofa di depan televisi.

"Jadi, seperti apa peraturannya?" tanya Namjoon saat ia dan Yoongi duduk bersisihan disusul Taehyung yang masih merengek.

"Aku akan membacakan peraturan untuk kalian bertiga!" ujar Hyun Woo meraih kertas yang berada di atas meja dan mulai membacanya keras-keras. "Peraturan pertama! Bagi ketiga tuan muda dilarang berperilaku seperti pada saat kehidupan kalian sebelumnya. Tidak boleh ber-DJ, tidak boleh ber-model, dan tidak boleh bermain piano!"

"Konyol!" sebal Namjoon kesal bukan main.

"Peraturan yang kedua—"

"Ada berapa peraturan?" potong Taehyung.

"Ada 13 tuan muda!" jawab Joon Myeon. Taehyung membulatkan matanya.

"Berapa? Kenapa banyak sekali. Baru mendengar satu peraturan saja aku sudah muak!" sahut Taehyung.

"Baiklah, akan saya lanjutkan!" Hyun Woo berdehem dan kembali membaca peraturan selanjutnya. "Kedua! Dilarang membolos saat jam pelajaran berlangsung. Ketiga! Dilarang menginap diluar asrama selama masa sekolah dan jika waktu libur kalian akan tinggal di rumah yang sudah disediakan bersama kami. Keempat! Dilarang menggunakan ponsel!"

"Mwoya? Kami tidak boleh menggunakan ponsel? Kalian pasti bercanda!" sahut Namjoon tidak terima.

"Itu sudah peraturan dari sekolah tuan muda!" balas Sehyuk. Namjoon berdecak. Dan, Hyun Woo kembali membaca peraturan selanjutnya.

"Kelima! Jika kalian mendapatkan waktu senggang selama sekolah, dilarang pergi seorang diri dan harus tetap bertiga!"

"Tidak masuk akal! Apa kami juga harus ke kamar mandi bertiga? Lagi pula, di asrama nanti kami akan berpisah kan?" tanya Yoongi.

"Tidak tuan muda! Kami sudah menyiapkan kamar untuk di tempati kalian bersama!" sambung Hyun Woo. Yoongi mendengus. "Keenam! Kalian hanya boleh mengikuti kegiatan tambahan yang ada di dalam sekolah dan tidak diperbolehkan kegiatan di luar sekolah. Ketujuh! Kalian tidak diperbolehkan berbuat kasar dan semena-mena kepada sesama siswa meskipun kalian adalah pewaris dari ayah kalian masing-masing. Kedelapan! Dilarang tebar pesona kepada para siswa!"

"Kau menyindirku hyung?" tanya Taehyung. Ketiga asisten tampan itu hanya tersenyum.

"Kesembilan! Dilarang menggunakan bahasa inggris terlalu berlebihan dan dilarang menggunakan pakaian yang tidak disediakan sekolah!"

"Yak! Kenapa masalah stylish-pun dipermasalahkan?" tanya Namjoon tidak terima namun tak juga ditanggapi oleh ketiga asisten itu.

"Kesepuluh! Dilarang bersikap angkuh dan dingin!" Yoongi membulatkan kedua matanya sementara kelima pemuda itu menahan tawa.

"Yak! Ini sudah sifatku sejak lahir!" ujar Yoongi tajam.

"Kesebelas! Berjanji untuk saling menjaga satu sama lain. Keduabelas—" Hyun Woo tiba-tiba menghentikan ucapannya saat membaca peraturan nomor 12 itu.

"Ada apa hyung?" tanya Namjoon yang melihat gelagat aneh dari Hyun Woo.

"Aku—maaf mungkin tuan besar salah menuliskan peraturan nomor 12!" balas Hyun Woo.

"Memangnya apa yang tertulis disana?" tanya Taehyung. Hyun Woo seketika melirik Sehyuk dan Joon Myeon bergantian.

"Peraturan ke-12 adalah bahwa kami tidak perlu lagi berucap formal pada kalian dan mengharuskan kami bertiga untuk memanggil nama kalian selayaknya—teman!" lirih Hyun Woo sesekali melirik Yoongi, selaku tuan muda-nya. Namjoon, Yoongi, dan Taehyung diam sejenak kemudian ketiganya tersenyum.

"Eoh? Kenapa ekspresi kalian begitu hyung? Kami juga sudah lama ingin bersikap non-formal pada kalian!" lanjut Namjoon.

"Nde! Jadi, mulai sekarang tak perlu canggung dengan kami-eoh?" tanya Taehyung. Ketiga asisten itu nampak terkejut.

"Tapi, tuan mud—"

"Aish, hyung! Sudahlah! Anggap saja kami juga temanmu okay?" potong Namjoon. Sehyuk dan Joon Myeon tersenyum senang. Sementara, Hyun Woo menatap Yoongi sekilas. Yoongi mengangguk dan tersenyum.

"Aish, hyung katakanlah sesuatu!" pinta Taehyung pada Yoongi yang hanya diam saja.

"Aku tidak masalah hyung!" balas Yoongi akhirnya dan Hyun Woo tersenyum lega.

"Apa peraturan terakhir?" tanya Namjoon membuat Hyun Woo kembali mengingat pekerjaannya yang sebelumnya tertunda.

"Ketiga belas! Kalian dilarang keras untuk berkencan dengan siswa yang ada disana!" sahut Hyun Woo.

"Dan, juga ada setiap hukuman jika kalian melanggar salah satu dari peraturan tersebut dan akan ada hadiah jika nanti kalian lulus tanpa membuat masalah!" lanjut Sehyuk. Namjoon, Yoongi, dan Taehyung hanya menatapnya dan menunggu apa yang akan Sehyuk katakan selanjutnya.

"Hukuman dari setiap poin peraturan itu diantaranya adalah pengurangannya uang yang ada di kredit kalian, raipnya fasilitas selama sebelum menikah, hingga perjodohan antar bisnis!" sambung Joon Myeon.

"Aku tidak masalah dengan uang dan fasilitas itu yang hilang, tapi apa? Dijodohkan? Kalian bercanda? Itu sangat kekanakan!" sembur Namjoon kesal.

"Mianhae, tapi itulah peraturannya!"

"Lupakan! Lalu, apa hadiahnya?" tanya Taehyung antusias dan tak begitu memusingkan pasal hukuman itu.

"Liburan di Abudhabi selama yang kalian mau!" jawab Hyun Woo. Ketiga orang itu tersenyum merekah.

"Abudhabi? Benarkah?" Namjoon memastikan. Ketiga asisten itu mengangguk.

"Baiklah! Kita bertiga tidak akan melanggar peraturan-peraturan itu sampai akhir. Benarkan hyung-deul?" tanya Taehyung sumringah yang hanya dibalas anggukan antusias dari Namjoon dan senyum simpul dari Yoongi.

.

.

.

.

.

.

.

"Huft!" Jimin meniup poni rambutnya yang sudah panjang karena lupa ia potong. Hari ini ia bangun lebih pagi meskipun ia belum mandi karena mengingat jika hari ini ia masuk sore dan memilih untuk menatap keluar melalui jendela kamarnya yang berada di lantai tujuh. Ia duduk bersila diatas meja yang memang di letakkan di sudut kamar di bawah jendela.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jin Young menatap heran kearah Jimin yang sudah 30 menit diam menompang dagu di dekat jendela. Jimin menoleh dan seketika ia terkejut saat melihat Jin Young tengah mengemasi barang-barangnya.

"Eoh? Kau mau kemana sunbae? Kenapa kau mengemasi barang-barangmu?" tanya Jimin.

"Aku harus pindah asrama karena ada siswa baru!" balas Jin Young tanpa menoleh ke arah Jimin. Jimin memincingkan matanya.

"Lalu, aku?" tanya Jimin. Jin Young berdecak.

"Makanya, jangan langsung pergi setelah makan malam! Kau jadi tidak tahu pengumumannya kan?" sebal Jin Young menatap Jimin sinis. Jimin mengeryit.

"Memangnya apa pengumumannya?" tanya Jimin dan Jin Young berdecak lebih keras.

"Dengar baik-baik Park Jimin!" seru Jin Young menahan kekesalannya. "Anak pemilik sekolah ini akan pindah ke sekolah ini besok pagi. Kau, dewan siswa kan? Seharusnya kau juga harus menyiapkan penyambutan mereka!" Jimin berdecak seraya memeluk lututnya.

"Menjadi dewan siswa itu membosankan!" ujarnya. "Lagi pula, mereka kan sama-sama siswa kenapa harus ada penyambutan? Berlebihan!" lanjut Jimin. Jin Young hanya memutar kedua bola matanya malas. "Lalu, kenapa kau harus pindah sunbae?" tanya Jimin kembali ke topik awal.

"Kau tahu bukan, jika di lantai tujuh ini kebanyakan dihuni oleh dewan siswa? Jadi, para guru memindahkan siswa yang bukan dewan siswa ke lantai lain. Karena, kudengar siswa baru itu harus di dalam kamar yang sama dan akan ditempatkan di salah satu kamar di lantai ini!"

"Memangnya ada berapa siswa baru itu?"

"Tiga orang jika tidak salah! Katanya, mereka tadinya juga sekolah diluar negeri dan dipulangkan ke Seoul secara mendadak!"

"Lantas, apa aku akan disini sendiri?" tanya Jimin. Jin Young berdecak malas. Anak ini terlalu banyak bertanya.

"Kau tahu kan asrama di RC itu tidak dibuat lebih dari jumlah siswa? Jadi, pastinya kamar ini akan penuh dan kau pasti akan senang dengan roomate barumu!" Jimin mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Roomate baru? Siapa?" tanya Jimin. Jin Young tersenyum.

"Kau akan menyukainya. Kau tahu siapa saja roomate barumu itu?" tanya Jin Young berjalan mendekati Jimin. Jimin mengeryit dahi bingung. "Mereka adalah, Jung Hoseok, Kim Seokjin, dan Jeon Jungkook!"

"APA?!" Jimin berseru bahkan sampai langsung berdiri dari duduknya.

"Park Jimin! Bisa kau tidak berisik? Aku sudah sangat senang akhirnya bisa pindah dari kamar ini!"

"Aish, sunbae~jangan tinggalkan aku! Kau tahu betapa mengerikannya mereka?"

"Apa peduliku!" ujar Jin Young berbalik dan kembali ke bilik kamarnya. Jimin merengek membuntuti.

"Sunbae, kau tahu bukan? Hoseok sunbae itu hiperaktif sekali, aku saja tidak suka saat harus berbagi proyek dengannya. Dan lagi, Seokjin sunbae? Aku tidak mau ditendang olehnya. Apalagi siapa? Jungkook si tengik itu? Kau tahu kan, aku dan dia adalah rival?" rengek Jimin. Jin Young kembali menatap Jimin.

"Ya ya ya, itu katamu dan aku juga tidak peduli dengan rengekanmu itu, Park! Lagi pula, aku rasa Jungkook tidak akan menganggapmu sebagai rival sejak janjimu waktu di kolam renang itu!" Jin Young tersenyum miring. Sementara Jimin? Kembali mematung. Kenapa ia harus diingatkan lagi tentang kejadian itu? Bahkan, ia saja tidak tahu desas-desus perkataannya bisa menyebar dan menjadi trending topic di penjuru sekolah. Ayolah, ini tidak lucu dan—jangan tertawa! Jimin muak untuk mengingatnya.

"Kalau begitu, aku pergi dulu! Nikmati hari-harimu dengan roomate barumu, arra?" Jin Young menarik kopernya dan membuka pintu. Jimin mendengus. Ingin sekali ia menangis dan berteriak kencang atau perlu jika ia harus lompat dari jendela kamarnya. Ia tidak bisa membayangkan satu kamar bersama dengan para perusuh itu, bukankan itu berarti mereka akan setiap hari bertemu? Dan, apa dia bilang tadi? Para perusuh? Yak, Park kau juga seorang perusuh jika kau ingat fakta itu.

.

.

Jimin berdiri di depan pintu kamarnya, menghadang tiga pemuda yang akan menjadi calon roomate-nya.

"Yak, Park bantet! Apa yang kau lakukan? Minggir, mulai sekarang ini juga adalah kamarku!" ujar Jungkook kesal bukan main. Jimin menggeleng tegas.

"Aku tidak akan membagi kamar ini dengan kalian bertiga!" seru Jimin yang langsung menjadi pusat perhatian siswa-siswa yang juga tinggal di lantai tujuh.

TAK!

Jimin meringis saat Seokjin dengan tidak berprikemanusiaannya memukul kepala Jimin dengan keras.

"Sopanlah, pada dua sunbae-mu ini, Park!" ujar Seokjin. Jimin merengut.

"Pokoknya! Aku tidak akan membiarkan kalian satu kamar denganku! Kalian tahu kan jika aku adalah perusuh? Jadi, hidup kalian tidak akan tenang disini! Oh, kalian tahu cerita dua siswa yang tinggal disini bersamaku dan Jin Young sunbae? Dia keluar dari sekolah ini, kalian tahu kenapa? Karena mereka tak tahan melihatku!" Jimin beralasan yang justru mendapat kekehan dari beberapa siswa yang menyaksikan sikap konyolnya itu.

"Aigoo! Aku baru tahu, jika kau sangat menggemaskan!" ujar Hoseok seraya mencubit kedua pipi chubby Jimin, gemas. Jimin melongo dibuatnya.

"Sunbae satu roomate denganku adalah keputusan buruk!" Jimin masih berusaha untuk memberi alasan agar mereka tidak bersedia tinggal di kamar yang sudah ia tempati hampir dua tahun itu.

"Ah, kau takut kan jika aku dan kau jadi akur dan kau akhirnya lari keliling lapangan panahan menggunakan hotpants dan higheels?" sembur Jungkook.

TAK!

Jimin memukul kepala Jungkook keras.

"Aku takkan pernah berteman denganmu, Jeon! Ingat itu! Karena hal itu tidak ada di dalam kamusku! Jadi, lebih baik kalian pergi sekarang!"

"PARK JIMIN!" seru sebuah suara kelam yang Jimin kenal yang membuat Jimin seketika merutuki segala perbuatannya barusan. Oh tidak, ia baru saja membangunkan singa tidur.

"Masuklah, kalian! Aku dengan senang hati menjadi roomate kalian! Kalian tahu, kamarku ini adalah kamar ternyaman di seluruh gedung asrama. Jadi, kalian pasti tidak akan menyesal untuk tinggal di kamar ini!" Jimin tersenyum gugup karena sosok pemilik suara itu mendekatinya dengan aura kelam. Ia baru tahu jika kabar sekolah yang mengatakan jika dia adalah siswa paling menakutkan seantero sekolah adalah benar karena Jimin bisa merasakan hawa yang berbeda dari biasa yang ia rasakan. Jimin menoleh dan bersikap seolah tak ada apa-apa. "Oh, Doojoon sunbae! Ap-apa yang kau lakukan disini? Aku baru saja menyambut calon roomate-ku? Hm, apa kau juga akan ikut tinggal di kamarku?" tanya Jimin jenaka. Doojoon , pelaku pemanggil nama Jimin beralih menatap ketiga pemuda yang berdiri di depan Jimin itu.

"Apa dia sedang menyambut kalian?" tanya Doojoon kelam. Bahkan, Jungkook saja yang biasanya suka membantah menjadi ciut nyalinya.

"Oh, tentu saja Doojoon-ssi! Dia menyambut kami dengan begitu baik!" Seokjin menarik Jimin dan memeluk lehernya kuat-kuat. "Bukankah begitu Park Jimin?" wajah Jimin memerah sempurna karena Seokjin hampir mencekik lehernya karena terlalu kencang melingkarkan tangannya ke leher Jimin. Jimin mengangguk dan tersenyum kikuk.

"Nde, bahkan dia sempat menceritakan tentang roomate-nya sebelumnya!" sahut Hoseok.

"Oh, itu benar sunbae! Bahkan, dia juga mengatakan menjadi roomate-nya adalah keputusan yang paling tepat! Jadi,aku rasa aku mulai bisa berteman dengannya, bukan begitu Jimin sunbae-nim?" Jungkook tersenyum miring senang rasanya bisa membalas rivalnya hingga terlihat gugup seperti itu.

"Begitu? Baiklah! Ingat Park Jimin, kau dan Jungkook sedang diawasi jadi awas saja jika kau berulah lagi maka kau—akan mendapatkan hukuman yang membuatmu lebih memilih untuk memandikan para kuda!" ancam Doojoon. Jimin bergidik ngeri. "Dan, juga jangan lupa setelah jam pelajaran kalian usai! Jangan lupa untuk hadir rapat tanpa terkecuali! Mengerti?" ingat Doojoon sebelum benar-benar pergi meninggalkan kerumunan itu dan setelahnya para siswa kembali masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap sarapan pagi.

Seokjin melepas lingkaran tangannya pada leher Jimin. Kemudian ia tertawa senang saat Jimin seketika langsung batuk-batuk dengan wajahnya yang memerah.

"Kau harus berterima kasih kepada kami!" ujar Hoseok.

"Apa?" ulang Jimin terkejut yang hanya ditanggapi diam dari ketiganya karena langsung masuk ke kamar baru mereka. "Yak! Aish!" Jimin mendengus. Baiklah, ia kalah kali ini.

Jimin membanting pintu kamarnya dan menatap ketiga roomate barunya yang ternyata sudah memilih bilik mereka masing-masing. Namun, seketika Jimin kembali bersikap heboh saat Jungkook memilih untuk tidur di bilik yang berada di sampingnya.

"Yak, Jeon? Apa yang kau lakukan disitu? Enyah kau dari sana! Aku tak mau bersebelahan bilik denganmu!" seru Jimin memasuki bilik Jungkook diikuti Hoseok dan Seokjin yang kembali menyaksikan pertengkaran mereka. Jungkook tersenyum lebar seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua tangannya yang ia jadikan bantalnya.

"Ah, nyamannya!" ujar Jungkook tersenyum jahil pada Jimin. Jimin mengusak wajahnya kasar.

"Aigoo, apa dosaku di masa lalu sehingga kau membuatku harus merasakan tidur bersama dengan mereka!" Jimin menghentakkan kakinya dan pergi menuju biliknya. Mengunci pintu kaca dan menarik gordennya dengan keras.

Jungkook keluar dari biliknya diikuti Seokjin dan Hoseok, ketiganya menyeringai dan saling bertatap.

"Bagus, Jungkook-ah! Akhirnya kita sudah bisa berada di dekatnya! Dan, ingat! Kau harus bisa menepati janjimu! Arra?" ujar Seokjin. Jungkook mengangguk.

"Arraseo hyung-ie!" balas Jungkook mengucapkan panggilan akrab yang jarang ia sebutkan kepada kedua kakak kelasnya selama ini.

TBC

Annyeong aku kembali...

Aku cuman mau ngucapin terima kasih kepada yang sudah sempatin review, follow dan fav ff ini. Aku harap lanjutannya enggak ngecewain ya... Dan maaf kalau update-nya agak telat. Nantikan moment-moment yg akan hadir ke coouple kesayngan kita bersama...

See you in next chapter...