Tiga mobil mewah berhenti tepat di depan sebuah mansion mewah dan berbentuk aneh. Dengan sigap para sopir segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk majikan mereka secara bersamaan.
Tiga pemuda tampan keluar dari mobil mereka masing-masing masih dengan kacamata yang sama mereka pakai saat keluar dari bandara beberapa jam yang lalu. Tak lupa juga diikuti asisten mereka masing-masing dengan setelan jas hitam formal.
"Ini rumahnya?" tanya Namjoon menatap ke sekeliling lingkungan rumah barunya.
"Nde, tuan mud—" Sehyuk seketika menghentikan ucapannya saat Namjoon menatapnya tajam. Oh, ia lupa peraturan itu.
"Hyung, kau sendiri yang memberitahu peraturan konyol itu, tapi kenapa kau tetap tak terbiasa dan berucap formal?" tanya Namjoon. Sehyuk hanya tersenyum.
"Mianhae Namjoon-ie," balas Sehyuk. Namjoon tersenyum puas.
"Ah, begitu lebih baik."
"Jadi, kenapa aku baru tahu jika para appa mempunyai rumah ini?" tanya Taehyung kembali ke topik awal.
"Sebenarnya rumah ini di bangun sejak kalian pergi Tae-hyung-ssi," Taehyung terkekeh bahkan Namjoon dan Yoongi tersenyum geli saat Joon Myeon menyebut nama Taehyung dengan ejaan kaku.
"Aigoo, hyung~kau sama saja dengan Sehyuk hyung! Biasakan jangan berucap formal, hyung?" seru Taehyung tersenyum sementara Joon Myeon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, canggung.
"Hm, begitu? Sejak kami pergi?" gumam Namjoon meneliti seluruh mansion tempat tinggalnya.
"Dan, baru saja selesai satu bulan yang lalu." lanjut Hyun Woo. Diantara kedua asisten itu, yang bisa langsung terbiasa dengan berucap non formal adalah asisten Yoongi, Son Hyun Woo. Dikarenakan, dia sudah mengenal keluarga Yoongi sejak kecil tepatnya sejak kedua orang tuanya sudah bekerja bersama keluarga Min sebelum Yoongi lahir bahkan hingga saat ini. Dan, sejak kecil sebenarnya Yoongi dan Hyun Woo memang sudah berteman. Hyun Woo sangat menyayangi Yoongi dan menganggap Yoongi adalah adiknya sendiri, meskipun Yoongi jarang menunjukkan kasih sayangnya. Dan, itulah sebabnya Hyun Woo merasa harus melindungi Yoongi apapun yang terjadi sesuai dengan apa yang ayah Yoongi amanatkan padanya.
"Apa? Mansion ini di bangun selama tiga tahun? Kenapa para appa sekarang ini sangat berlebihan? Apa karena mereka kaya? Ini pemborosan namanya!" dengus Taehyung yang langsung mendapat jitakan dari Namjoon.
"Kau tak perlu sok-sokan mengatai mereka boros! Lihatlah dirimu sendiri yang justru lebih boros dari para appa!" sahut Namjoon.
"Yak hyung, sekarang kau meniruku? Menyebut mereka para appa?" Taehyung tersenyum jahil.
"Konyol!" gumam Namjoon sebal. Sementara, Yoongi hanya menatap malas kedua pemuda yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Mansion ini memiliki luas sekitar 9.999 hektar. Dengan memiliki bangunan sebanyak kurang lebih ada sembilan rumah. Satu rumah utama yang nantinya kalian semua tinggali. Di rumah utama itu sendiri ada enam kamar khusus dan tiga kamar tamu, satu dapur, satu ruang makan, satu ruang tengah, satu ruang tamu yang di belakangnya terdapat kolam renang. Kemudian ada pula rumah khusus fitnes, rumah gudang, satu garasi di samping kanan rumah utama, dua rumah untuk para pelayan, serta tiga rumah kosong yang boleh kalian isi sesuai dengan keinginan kalian, selain itu juga ada taman yang mengelilingi rumah utama yang memang sengaja di bangun di pusat tanah ini" jelas Hyun Woo.
"Rumah ini bisa menjadi sekolah!" gumam Namjoon.
"Bahkan, rumah ini lebih besar dari rumah para pejabat negara!" sahut Taehyung.
"Dan, rumah ini sangat membosankan!" komentar Yoongi.
"Dan, kau hyung! Kau menjelaskan rumah ini sudah seperti pemandu wisata!" sembur Taehyung. Hyun Woo tersenyum sekilas.
"Bagaimanapun juga, itu adalah pekerjaanku!" jawab Hyun Woo.
"Ah, bisakah kita masuk sekarang? Aku ingin tidur!" seru Yoongi merentangkan tangannya.
"Aigoo, hyung! Kebiasaanmu itu memang tidak pernah berubah! Dasar pemalas!" cibir Taehyung yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yoongi membuat nyali Taehyung menciut karenanya. "Aku bercanda hyung, hehe~" cengirnya. Yoongi tersenyum miring.
"Baiklah, lebih baik kita semua masuk sekarang." ajak Joon Myeon. Ketiga asisten itu berjalan mendahului tuan muda mereka persis seperti layaknya seorang pemandu wisata.
Pintu rumah utama terbuka saat keenamnya baru sampai tepat di depan pintu. Dan, dapat dilihat berjajar kanan-kiri para pelayan yang membungkuk menyambut kedatangan mereka.
"Ada lebih dari 40 pelayan disini. Jadi, jika kalian butuh sesuatu tinggal membunyikan bel yang ada di kamar kalian nantinya." ujar Sehyuk saat mereka memasuki lebih dalam rumah mewah itu.
"Bel di kamar? Apa ini juga bisa menjadi rumah sakit? Apa, para appa juga menyewa dokter untuk praktek disini? Hm, kenapa kita tidak sekolah disini saja ya?" balas Taehyung mengedarkan pandangannya ke arah ruang tamu setelah mereka melewati para pelayan yang tadi menyambut mereka.
Ruang tamu itu memiliki sepaket lengkap sofa berbentuk kotak yang berwarna soft abu-abu yang dikelililingi dengan dinding yang berhenti rak yang tingginya hingga menyentuh langit-langit dan diisi dengan berbagai buku.
"Siapa yang akan mengambil buku yang berada diatas itu?" tanya Namjoon mendongak. "Rumah ini benar-benar sangat berlebihan! Apa para appa ingin membuat sesuatu yang menjadi rekor dunia?"
"Maaf, tu—em, Namjoon-ie tapi rumah ini jauh dari keramaian dan tidak di publikasikan." jawab Sehyuk. Namjoon hanya mengangkat alis mengangguk.
Disamping ruang tamu yang berada di balik dinding rak itu, terdapat ruang tengah yang luasnya dua kali lipat dari ruang tamu. Ruang tengah itu sendiri terdapat berbagai peralatan santai seperti televisi, komputer, psp, beberapa kursi bantal, matras, dan lain sebagainya.
"Ini tempat kalian bersantai. Kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan disini!" Joon Myeon kembali menjelaskan.
Keenam pemuda tampan itu kembali berjalan mendekati sebuah ruangan yang hanya dibatasi dengan dinding kaca antara dapur dan ruang makan. Ruang makan itu sendiri terdapat meja yang berbentuk persegi panjang dengan kursi sebanyak sembilan kursi. Satu kursi di kepala meja dan sisanya berada di seberangnya masing-masing.
"Kenapa ada sembilan?" tanya Taehyung.
"Tentu saja jika sewaktu-waktu tuan besar ingin datang kemari!" jawab Joon Myeon. Taehyung hanya mengangguk.
"Jadi, dimana kamarnya?" tanya Yoongi yang sedari tadi tidak peduli dengan interior yang ada di rumah barunya.
"Kamar kalian ada di belakang ruang tamu. Kajja, aku tunjukkan!" ajak Hyun Woo. Mereka semua hanya mengangguk menurut.
Mereka kembali ke ruang tamu tapi kali ini mereka menuju ke pintu yang tiga kali lebih besar dari pintu utama. Sehyuk membuka pintu itu dan seketika mereka terperangah karena bukan kamar yang mereka lihat melainkan sebuah taman mini dengan air mancur di tengahnya, jangan lupakan bahwa taman itu tidak diberi atap sama sekali.
"Kamar tidur dibatasi oleh taman ini karena bagaimanapun juga kalian pasti membutuhkan privasi dari para pelayan." jelas Sehyuk.
Dapat mereka lihat jika ada enam pintu yang berjajar membentuk setengah lingkaran mengelilingi taman itu sehingga terlihat seperti dinding yang membatasi luas area taman.
"Lalu, dimana kamar tamunya?" tanya Namjoon.
"Kamar tamu berada di belakang enam kamar ini." jawab Joon Myeon.
"Jadi di dalam kamar ini ada dua pintu? Di depan dan di belakang?" tanya Taehyung yang diangguki ketiga asisten itu.
"Kamar tamu itu juga dibatasi taman bermain dengan enam kamar ini." sahut Hyun Woo.
"Taman bermain? Apa rumah ini juga bisa menjadi taman kanak-kanak?" tanya Taehyung jenaka.
"Wow! Rumah ini benar-benar serba guna!" decak Namjoon kagum.
"Jadi, dimana kamarku?" tanya Yoongi yang sedari tadi hanya menanyakan letak kamarnya.
"Aigoo hyung! Apa dipikiranmu itu hanya ada tidur, tidur, dan tidur?" sembur Taehyung. Yoongi berdecak malas.
"Ini kan rumah kita, jadi lama-lama juga akan terbiasa!" balas Yoongi tak mau banyak berfikir.
"Baiklah, kamar kalian sudah ada nama di depan pintu kalian masing-masing. Dari kiri ke kanan, itu kamar Sehyuk hyung, Joon Myeon hyung, aku lalu, kamar Yoongi, Namjoon, dan paling ujung Taehyung!" jelas Hyun Woo.
"Akhirnya aku bisa menikmati waktuku!" sahut Yoongi tak sabar.
"Dan, juga! Kamar kalian sudah di dekorasi sesuai dengan keinginan kalian semua, perlengkapannya sudah ada di dalam kamar kalian termasuk koper yang tadi kalian bawa." sambung Sehyuk.
"Baiklah! Aku ingin menikmati kamar baruku sekarang. Selamat siang!" pamit Yoongi segera bergegas menuju kamarnya terlebih dahulu.
"Aish, orang itu masih saja tidak berubah!" gumam Namjoon dan Taehyung sebal.
"Em, hyung? Kalau begitu kami juga ingin istirahat-nde?" ujar Taehyung ramah.
"Nde, jika kalian butuh sesuatu hubungi saja salah satu dari kami, arraseo?" balas Joon Myeon. Namjoon dan Taehyung mengangguk bersamaan dan berjalan menuju kamar mereka masing-masing.
.
.
.
Yoongi membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya dengan perlahan. Ia tersenyum tipis saat melihat bagaimana dekorasi kamarnya. Persis seperti kamarnya di rumah ayahnya yang sudah ia tinggalkan tiga tahun yang lalu. Bagaimana banyak ornamen kumamon yang tertata rapi diatas meja di dekat ranjangnya yang diletakkan secara vertikal bahkan beberapa ornamen musik hingga beberapa ornamen basket. Juga paduan warna netral, hitam dan putih di sekeliling kamarnya seperti apa yang dia suka.
"Appa melarangku memainkan musik tapi lihatlah, apa yang dia beli untuk memenuhi kamar ini?" gumam Yoongi berjalan mengelilingi kamarnya.
Ada sebuah televisi yang yang diletakkan jauh dihadapan ranjang tidurnya yang berada di tengah menyentuh dinding. Sementara di tengah-tengah ruang kamarnya diisi dua sofa panjang dan satu meja berwarna putih. Disudut kiri televisi ada sebuah pintu yang tak lain adalah kamar mandi. Sedangkan di sudut kanan televisi ada sebuah lemari pakaian berwarna putih yang tingginya menjulang keatas.
Dua pintu kamar Yoongi pun terletak saling berhadapan depan dan belakang yang sengaja di bangun di tengah-tengah jendela masing-masing. Yoongi mendekati lemari pakaiannya dimana ada sebuah koper yang tadi ia bawa di bandara. Yoongi membuka lemari berpintu tinggi itu dan betapa mengejutkannya ia karena lemari itu masih tak terisi banyak pakaian dan hanya tergantung beberapa seragam sekolah dengan secarik sticky note tertempel di depannya. Yoongi meraih kertas itu dan membacanya.
Besok hari pertamamu, ingat? Jangan bangun kesiangan!
Yoongi tersenyum miring. Ayahnya ini masih saja mengingat kebiasaan buruk anaknya sejak kecil.
.
.
.
Namjoon berdecak kagum dengan dekorasi kamar barunya yang berdinding hitam. Terlebih suasana kamarnya yang seperti suasana kamar lamanya yang berada di rumah ayahnya dulu. Ranjang tidurnya yang terletak 40 derajat berada di pusat ruangan dengan dibawahnya dilapisi sebuah karpet beludru berwarna hitam kelam. Telivisi dan komputer yang saling bersisihan di tengah kamar yang melekat pada dinding kamarnya. Kamar mandi yang berada di samping kiri televisi dan almari pakaian yang berada di samping kanan televisi.
Di samping kiri ranjangnya terdapat sebuah rak berwarna hitam yang diisi dengan berbagai pigura foto keluarganya bahkan kedua temannya, Yoongi dan Taehyung. Di samping kanan ranjang ada dua sofa panjang berwarna hitam dan satu meja. Oh, jangan lupakan berbagai perlatan DJ-nya yang berada di belakang ranjangnya untuk memenuhi kamar barunya itu.
"Appa, memang daebak!" pekik Namjoon puas.
Ia beralih berjalan menuju almari pakaiannya dan langsung membukanya, Namjoon memincingkan matanya saat melihat beberapa seragam sekolah yang tergantung apik di dalam lemari serta secarik sticky note yang tertempel di dekat saku seragam itu. Namjoon meraih kertas itu dan membacanya.
Besok hari pertamamu, jangan kacaukan apapun!
Namjoon berdecak dan meremat kertas itu dan melemparnya asal. Ia mengedikkan bahu tidak peduli meskipun di otaknya sudah membayangkan bagaimana hari esoknya.
.
.
.
Taehyung merebahkan tubuhnya diatas ranjang di kamar barunya. Ia sangat menyukai bagaimana dekorasi kamar barunya itu. Sama persis seperti kamar lamanya meskipun ada beberapa yang diubah. Pada umumnya, letak kamar mandi, televisi dan almari setiap kamar adalah sama. Yang membedakan adalah letak posisi ranjang. Ranjang Taehyung diletakkan dengan posisi horizontal yang sejalur dengan letak televisi.
Di belakang ranjangnya terdapat salah satu foto dirinya saat bermodel yang pajang besar-besar serta dihiasi lampu remang. Tak jauh dari ranjangnya, sedikit di samping kanan ranjangnya terdapat dua sofa panjang dan satu meja berwarna hijau. Sementara, di samping kiri ranjangnya terdapat berbagai alat komputer game ayng pastinya akan selalu menemani hari-hari kosongnya.
Taehyung beranjak dari rebahannya dan berjalan menuju letak kopernya yang diletakkan di dekat almari pakaian. Awalnya ia hendak membuka kopernya tapi ia urungkan dan lebih ingin membuka bagaimana isi almari berwarna putih itu.
"Ini seragam sekolahnya?" guman Taehyung saat melihat beberapa seragam sekolah yang tergantung apik. Tangannya terukur untuk mengambil sebuah sticky note yang berisi sebuah pesan untuknya.
Besok hari pertamamu, bersiaplah untuk menjadi yang paling tampan!
Taehyung tersenyum.
"Appa membuat peraturan aku tidak boleh tebar pesona! Dan sekarang? Tapi, tunggu! Bukankah, aku memang sudah tampan sejak lahir?"
.
.
.
.
.
.
.
"Okay... apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Doojoon pada anggota dewan siswa yang berjumlah kurang lebih ada sekitar 40 orang berkumpul di ruang studio dewan siswa yang diberi nama Restad Student Council Room atau biasa disingkat dengan ReSCounc Room, bahkan beberapa dewan siswa juga memberi nama selain nama itu seperti RSRC Room, MS Room hingga Hell Room. Er, sebenarnya nama yang terakhir ini adalah nama yang diajukan oleh Jimin saat mereka berunding untuk memberi nama apa pada ruang rapat yang mereka sulap menjadi studio mereka ini. Tapi, tentu saja usul Jimin tidak akan diindahkan oleh mereka semua.
"Aku rasa semuanya sudah lengkap, sunbae." seru Hyo Sun Hee, siswi kelas 2-IIC.
"Ah, ani! Aku rasa ada yang kurang!" seru Hoseok, siswa kelas 3-IIC yang juga roomate baru Jimin. "Kenapa aku tidak melihat Jungkook dan Jimin, Doojoon-ssi?" sambung Hoseok membuat semua orang berdecak malas.
"Aigoo, anak itu lagi!" Doojoon memijat kedua pelipisnya lelah.
"Kenapa kau tidak mengeluarkan perusuh itu dari dewan siswa saja? Masih ada orang yang lebih pantas dari pada mereka berdua!" sembur Kim Soo Yoo, siswi kelas 3-IR. Kelas yang terkenal sombong dan angkuh.
"Nde, untuk apa mereka masih menjadi anggota dewan siswa jika tidak pernah ikut berkumpul dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan sekolah?" lanjut Shin Hyeon Seok, teman sekelas Soo Yoo.
"Tapi, apa yang dikatakan mereka berdua ada benarnya, sunbae. Kenapa sekolah menunjuk mereka secara langsung? Sementara kita semua saja masuk menjadi anggota dewan siswa melalui pemilihan umum!" kini giliran Kim Hanbin, siswa kelas 2-IIR yang mendukung pernyataan Soo Yoo dan Hyeon Seok.
"Aku perlu meralat ucapanmu, Kim Hanbin-ssi! Bahwa tidak hanya mereka berdua yang ditunjuk oleh sekolah secara langsung. Bahkan, ketua dewan kita saja ditunjuk secara khusus oleh sekolah. Maaf, Doojoon-ssi jika aku lancang!" seru Seokjin tidak terima.
"Tapi, apa yang dikatakan Hanbin-ssi itu juga ada benarnya Seokjin-ssi!" sahut Shin Jin Ho, siswa kelas 3-IC. "Seorang dewan siswa di RC, bukanlah seorang perusuh. Kita berhak mengajukan pengunduran diri untuk mereka jika mereka memang tidak mau berpartisipasi aktif. Bukankah begitu Doojoon-ssi?" tanya Jinho dengan senyum tampannya yang menyebalkan membuat Doojoon hanya diam berfikir. "Lagi pula aku tahu kenapa kau mengatakan itu Seokjin-ssi, karena kau juga ditunjuk oleh sekolah kan? Maka dari itu kau mendukung mereka," Seokjin mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
"Aku tidak mendukung siapapun Jinho-ssi! Dan seharusnya kau malu mengatakan itu padaku, karena kau tahu bukan bagaimana terhormatnya ditunjuk langsung oleh pihak sekolah, dibandingkan mengajukan dirimu sendiri? Karena, mengingat tidak banyak siswa yang bisa mendapatkan kehormatan itu. Apa perlu aku beritahu siapa saja siswa itu? Aku rasa itu tidak perlu karena kau pasti tahu dengan jelas!" tanya Seokjin menyeringai yang membuat Jinho berdecak sebal. Sementara, beberapa siswa disana ada yang tersenyum karena ucapan telak Seokjin namun ada yang kesal dengan diamnya Jinho.
"Aish, sudahlah kenapa kalian malah bertengkar?" lerai Choi Young Jae, siswa kelas 2-IIIR "Tunggu saja mereka berdua sunbae, mungkin beberapa menit lagi mereka juga datang."
Studio itu kembali diselimuti keheningan hingga hampir sepuluh menit mereka menunggu, pintu ruang mereka berkumpul itu terbuka dan muncullah satu siswa tinggi berbadan kekar bersama dua siswa yang berjalan dengan malasnya dan seketika saja mereka langsung menjadi pusat perhatian mereka semua.
"Bagaimana kau bisa bersama mereka, Minho-ssi?" tanya Doojoon pada teman sekelasnya, Choi Minho.
"Aku melihat Jungkook baru saja keluar ke kamar barunya dan Jimin? Dia baru saja keluar dari kelasnya!" jawab Minho tegas.
"Kau ada kelas sore?" tanya Hoseok menatap Jimin yang tengah mengulum bibir tidak sopan. Dan, tentu saja beberapa siswa disana sedikit terkejut saat Minho mengatakan bahwa Jimin baru keluar dari kelasnya karena di RC kelas sore hanya diadakan untuk kelas khusus.
"Sunbae tahu kan? Satu-satunya di kelasku yang mengikuti organisasi ini hanya aku? Jadi, jangan salahkan aku jika aku terlambat karena aku juga memiliki kelas sore!" balas Jimin tajam.
"Mianhae, Jimin-ssi kami telah salah sangka padamu! Dan, kau Jungkook-ssi kenapa kau terlambat?" tanya Doojoon melembut. Jungkook menghela nafas.
"Maaf sunbae, aku terpaksa terlambat karena aku harus membantu Yugyeom!" jawab Jungkook tanpa alasan yang jelas.
"Jadi, apa kau pikir temanmu lebih penting dibandingkan rapat ini?" tanya Soo Yoo. Jungkook seketika menatapanya dan tersenyum miring.
"Jika aku mengatakan ya, apa yang akan kau lakukan sunbae-nim?" tantang Jungkook yang membuat Soo Yoo kesal seketika.
"Doojoon-ssi! Kau bisa memulai rapat ini sekrang juga." ujar Minho, ia melangkah duduk di samping Seokjin sementara Jimin dan Jungkook berdiri menyandar tembok studio dengan tangan mereka yang berada di depan dada.
"Besok adalah upacara penyambutan anak dari pemilik yayasan. Mereka akan belajar bersama kita, dan tinggal bersama kita. Aku akan membagi tugas apa yang kiranya harus kalian lakukan!" ujar Doojoon, ia mulai membacakan tugas anggotanya masing-masing yang sudah ia tentukan apa yang harus dilakukan dalam upacara penyambutan itu. "Upacara penyambutan dilakukan di gymnasium besok pagi pukul 9am. Dan, aku harap malam ini semua segala persiapan harus sudah selesai, paham? Selain itu, tugas terakhir untuk Seokjin-ssi, Jimin-ssi, dan Jungkook-ssi kalian perwakilan dari kelas 1, 2, dan 3 untuk menemani mereka berkeliling sekolah, arra?" ucap Doojoon setelah banyak mengatakan setiap tugas yang harus dilakukan anggotanya. Seokjin mengangguk, Jimin berdecak, dan Jungkook menghela nafas. "Dan, ingat untuk kalian berdua!" tunjuk Doojoon pada Jimin dan Jungkook bergantian. "Aku ingin mengingatkan kalian jika hukuman kalian masih berlangsung. Jadi, jika kau mencoba untuk mencari masalah esok hari—jangan harap kalian bisa mendapat hukuman yang lebih ringan! Mengerti?!" tegas Doojoon yang mau tidak mau diangguki oleh Jimin dan Jungkook.
.
.
.
"Yak! Jeon Jungkook! Keparat kecil! Buka pintunya bodoh!" seru Jimin menggedor pintu kamarnya setelah kembali dari rapat yang menurutnya sama sekali membuang waktunya itu.
Jimin, Jungkook, dan Seokjin yang satu-satunya dewan siswa yang diberi tugas hanya menemani calon siswa baru maka mereka lebih memutuskan untuk merebahkan tubuh mereka di kamar barunya dan tidak ikut serta dalam menyiapkan acara upacara penyambutan besok. Itulah sebabnya, ketiganya berjalan bersama menuju kamar baru mereka dan berakhir dengan meninggalkan Jimin di luar kamar.
"Jeon Jungkook! Seokjin sunbae! Aish!" Jimin menendang pintu kamarnya dan seketika ia meringis keras. Sial, hari ini ia benar-benar sial. "Jeon Jungkook! Jika kau tidak membuka pintunya, kubunuh kau!"
"Yak, Park Jimin aku membuka pintunya atau tidak pun kau akan tetap membunuhku kan?" balas Jungkook dari dalam kamarnya. Jimin mengacak surainya kasar. Ia bisa botak jika harus berbaur dengan bocah itu, ia harus mencari akal. Seolah seperti ada bohlam kecil yang muncul dari otaknya, Jimin mendapatkan sebuah ide.
"Ah, Doojoon sunbae! Ada apa kau kemari?" tanya Jimin, suaranya dibuat seramah mungkin. "Kenapa kau berbicara bisik-bisik sunbae? Ah, kau ingin bertemu Jungkook? Jungkook-ssi ada di dalam!" lanjut Jimin yang bergerak mengetuk pintu. "Jungkook-ssi, buka pintunya Doojoon sunbae mencarimu!" seru Jimin.
Awalnya pintu itu tak kunjung terbuka, namun saat Jimin kembali mengetukkan pintu itu lagi tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan perlahan. Dan dengan gerakan cepat, Jimin segera mendorong pintu itu dan tak sengaja sampai mendorong tubuh Jungkook hingga keduanya bertubrukan di lantai kamar mereka.
"Yak, kau membohongiku Park Jimin!" seru Jungkook yang berada di bawah Jimin. Jimin menyeringai.
"Ternyata kau benar-benar bodoh dan mudah dikelabuhi!"
TUK!
Jungkook memukul kepala Jimin dengan keras hingga Jimin meringis karenanya.
"Kau~berani-beraninya memukulku bocah setan!" seru Jimin yang mencoba untuk membalas Jungkook. Namun, Jungkook dengan sigap menahan tangan kecil Jimin agar tidak kembali menganiaya dirinya.
"Yak! Seharusnya kau yang tahu diri, kau itu yang seperti bocah sudah pendek, bantet, bulat, bodoh pula!"
TAK!
Jimin memukul kepala Jungkook tak kalah keras membuat Jungkook seketika membulatkan kedua matanya dan menatap tajam Jimin.
"Yak! Park Jimin!" seru Jungkook seraya menggigit pergelangan tangan kanan Jimin.
"Aaaaaaaa, Jungkook kau~"
DUG!
"Uh~" Jungkook melepas gigitannya saat Jimin dengan sengaja menendang bagian selatan Jungkook yang berada di bawah lututnya. Jungkook menatap horor Jimin sementara Jimin tertawa puas.
"Mati kau~~" ejek Jimin pada Jungkook yang sedang menahan sakit pada bagian selatannya.
"Park Brengsek Jim—"
BYUUUUR
Jimin dan Jungkook gelagapan. Kedua pemuda itu langsung berdiri dari posisi mereka dan menatap Seokjin yang dengan tidak prikemanusiaannya menyiram air dengan ember ke arah kedua pemuda itu.
"Sunbae, apa kau gila?" tanya Jimin.
TUK!
Dan, Seokjin melayangkan pukulan di kepala Jimin.
"Ya ampun, kepalaku sudah dilecehkan dua kali!" seru Jimin mengelus kepalanya sayang sementara Jungkook? Dia masih asik dengan dunianya untuk menenangkan si kecil Jeon yang sedang mengerang kesakitan.
"Jika kalian ingin bercinta jangan disini!" sahut Seokjin. Jimin dan Jungkook membulatkan kedua mata mereka.
"Kau bercanda, sunbae?" ujar Jungkook seraya sesekali masih meringis. Jimin meliriknya sekilas.
"Kenapa, Kook? Kau ingin merasakan lebih?" tanya Jimin yang masih ingin gencar untuk menjahili Jungkook, pemuda Jeon itu mendesis sebal.
"Cepat! Bereskan semua ini! Jika aku melihat kalian berdua ribut lagi? Akan aku pastikan hidup kalian berdua di kamar ini, tidaklah semudah yang kalian bayangkan, mengerti?" seru Seokjin berkacak pinggang dan berlalu menuju ke kamarnya.
"Aigoo, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali sunbae-sunbae yang butuh belaian?" gumam Jimin seraya menyisir rambutnya yang basah ke belakang.
"Hm, aku rasa mereka membutuhkan belaianmu, Park! Terutama Doojoon sunbae!" Jungkook terkekeh dan Jimin kembali memukul kepala Jungkook.
"Setan keparat!" umpat Jimin sebal yang justru hanya dikekehi oleh Jungkook.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga mobil mewah hitam metalik berhenti tepat di depan sebuah gedung utama RC. Dengan sigap asisten pribadi mereka masing-masing membukakan pintu bagi tuan mudanya dan segera bergegas memasuki lobby gedung utama. Ketiga pemuda itu berjalan dengan cool-nya memasuki lobby hingga terhenti tepat di depan para guru yang menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Min Yoongi-ssi, Kim Namjoon-ssi, dan Kim Taehyung-ssi. Suatu kehormatan bagi kami semua bisa menyambut kalian menjadi bagian baru dari RC!" sambut kepala sekolah RC, Bang Si Hyuk.
Yoongi, Namjoon, dan Taehyung hanya tersenyum sekilas dan mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling gedung utama.
Ini sekolah atau Taman rekreasi? batin Namjoon.
Daebak, bagaimana bisa para appa memikirkan untuk membuat sekolah semacam ini? batin Taehyung.
Sekolah ini terlihat sangat membosankan! batin Yoongi.
"Perkenalkan, saya Bang ssaem selaku kepala sekolah di sekolah ini serta beberapa guru dan staf yang mengampu beberapa pelajaran disini. Dan, juga mereka adalah para dewan siswa yang akan mengantar kalian semua menuju upacara penyambutan!" Bang ssaem menunjuk Doojoon dan kawan-kawan yang berdiri di samping kirinya.
Yoongi, Namjoon, dan Taehyung hanya menatap mereka sekilas.
"Baiklah, mari! Kalian semua saya antar ke gymnasium untuk mengikuti upacara penyambutan!" ajak Doojoon terlihat berwibawa.
Yoongi berjalan mendahului tanpa mengatakan sepatah kata apapun diikuti Namjoon yang hanya tersenyum sekilas dan Taehyung yang berjalan menyusul kedua kakaknya dengan satu tangannya yang ia masukkan ke dalam sakunya. Sementara, Doojoon? Ia merasa ditampar dengan keras karena perilaku sombong dari sang pemilik sekolah.
Persetan dengan peraturan itu! Bagaimanapun juga, aku adalah anak pemilik sekolah ini.
Ketiganya berjalan melewati koridor lantai santai dan hendak menuju ke gedung kedua. Mengabaikan banyak pasang mata yang mengintai mereka dari lantai atas. Lebih tepatnya bukan banyak tapi smeua pasang mata. Mereka hanya bergumam kagum dalam hati dan menahan diri untuk tidak berteriak histeris karena melihat bagaimana pesona ketiga siswa baru itu masing-masing.
Di lain sisi, Jimin yang berada di kelasnya sedikit melirik ketiga siswa baru itu. Kemudian ia berdecak.
"Sombong!" gumamnya.
"Hey, Park! Kau tidak ke gymnasium?" tanya Han Sang Hyuk, teman sekelas Jimin yang jarang sekali menggunakan bahasa formal kepada teman sekelasnya. Hyuk yang tiba-tiba saja datang dan beralih duduk di samping bangku Jimin yang kebetulan kosong.
"Malas!" jawabnya singkat.
"Aku tidak menyangka kita akan berbagi sekolah dengan mereka!" ujar Hyuk seraya memakan gingseng merah yang ia bawa dari kamarnya. "Mereka itu sudah kaya, tampan, pintar pula. Lengkap sudah hidup mereka!"
"Ck! Aku tidak yakin mereka akan mau berbaur dengan kita!" kini suara Yook Sungjae yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Jimin dan ikut menimbrung apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bayangkan saja, saat tadi mereka datang, mereka melewati Bang ssaem dan Doojoon begitu saja, man~" lanjut Sungjae. "Seharusnya kau bisa melihat bagaimana ekspresi orang yang ditakuti di RC!"
"Benarkah?" Jimin mengangkat sebelah alisnya tertarik. Sungjae mengangguk antusias.
"Sudahlah, lebih baik kita siap-siap untuk jam olahraga sekarang!" ajak Hyuk yang sudah bosan dengan acara 'mari menggosipi siswa baru'
"Hah, aku benci jam olahraga!" dengus Jimin.
"Kau benci karena bertemu dengan Jungkook kan? Entah kenapa aku berharap kalian benar-benar berteman," sahut Hyuk seraya merangkul Jimin. Jimin berdecak lebih keras.
"Oh, nde! Aku juga tidak sabar melihat mereka berdua akur dan akhirnya Jimin-ssi menggunakan hotpants dan high heels untuk lari keliling lapangan panahan!" lanjut Sungjae yang langsung mendapat jitakan keras dari Jimin.
"Jangan mengingatkanku bodoh! Aku tak kan sudi berteman dengannya!"
"Wow-wow-wow, hati-hati dengan ucapanmu Park! Seperti apa yang Seokjin sunbae bilang, kau tidak tahu seperti apa masa depanmu~" goda Hyuk yang membuat Jimin menahan nafasnya.
"Keparat kecil!" umpat Jimin dan berjalan mendahului kedua teman sekelasnya.
.
.
.
Upacara penyambutan berjalan sesuai dengan rencana. Semuanya lancar dan tidak ada satu masalah pun saat upacara itu berlangsung. Hingga sang ketua dewan siswa, Yoon Doojoon harus kembali merasa cemas karena tidak adanya anggota dewan siswa yang ia beri mandat untuk menemani ketiga siswa baru berkeliling sekolah.
"Seokjin-ssi!" panggil Doojoon menghampiri Seokjin yang tengah berdiri di dekat pintu. Seokjin menoleh dan hanya mengangkat sebelah alisnya, menunggu Doojoon tepat berada di hadapannya. "Dimana Jimin dan Jungkook?" tanya Doojoon. Seokjin mendengus.
"Aku benci mengenal mereka, aku benci berbagi kamar dengan mereka dan aku benci harus berbagi tugas dengan mereka. Kau tahu, mereka sekarang sedang bertanding futsal di lapangan futsal! Kenapa siswa baru itu masuk bersamaan dengan kedua bocah itu ada jadwal olahraga bersama? Kau tahu kan, betapa kacaunya mereka?" sembur Seokjin.
"Kalau begitu, kau saja yang menemani mereka," pinta Doojoon.
"Apa kau bilang Doojoon-ssi? Aku lebih baik ikut membersihkan sampah-sampah ini dibandingkan menemani mereka seorang diri!"
"Ayolah, Seokjin-ssi~kau satu-satunya yang bisa melakukannya—"
"Kau benar-benar membuatku kerepotan Doojoon-ssi!" ujar Seokjin ia menghentakkan kakinya dan berjalan menuju ketiga pemuda yang sedang berbincang-bincang dengan wali kelas mereka masing-masing.
"Maafkan aku, tapi—aku rasa kalian juga harus berkeliling sekolah ini sebentar sekaligus mencari letak kamar dan kelas kalian!" ujar Seokjin ramah yang membuat ketiga atensi pemuda itu beralih padanya.
"Ah, perkenalkan dia Kim Seokjin yang juga dewan siswa yang ditunjuk langsung oleh pihak sekolah, Dia siswa kelas 3-IIIC!" Lee ssaem, wali kelas 3-IR memperkenalkan Seokjin pada mereka. Seokjin hanya tersenyum sekilas. "Baiklah kalau begitu, kami sangat mengharapkan kalian betah di sekolah ini dan mendapat prestasi yang memuaskan." ujar Lee ssaem sebelum pergi bersama dua wali kelas lain meninggalkan keempat pemuda itu.
Dalam hati Seokjin merutuki nama Jimin dan Jungkook yang dengan tidak bertanggung jawabnya meninggalkannya di situasi yang super canggung ini. Seokjin mencoba untuk tenang meskipun wajahnya semakin memerah karena ditatap oleh ketiga pemuda tampan itu. Bisa kalian bayangkan? Betapa panas dan merah wajahnya yang ditatap dengan tatapan mata yang oh, bahkan Seokjin tidak mampu untuk menggambarkan bagaimana tatapan dari ketiga pemuda tampan itu. Apa bisa dia sebut ini sebagai keberuntungan? Tidak, menurutnya ini adalah kesialan sepanjang hidupnya.
"Jadi, apa yang pertama ingin kalian lihat? Yoongi-ssi, Namjoon-ssi, dan Taehyung-ssi?" tanya Seokjin.
"Apa di sekolah ini harus berbicara dengan bahasa formal?" tanya Namjoon. Keempatnya sudah mulai keluar dari gymnasium mengabaikan semua tatapan mata yang tengah membereskan gymnasium yang terarah pada keempatnya.
"Kalian harus menghormati orang lain terutama guru dan kakak kelas kalian!" jawab Seokjin yang berjalan beriringan dengan Namjoon. Sedangkan, Yoongi dan Taehyung di belakangnya.
"Walaupun kita sudah mengenal sejak kecil? Apakah tetap harus berbicara formal?" tanya Taehyung.
"Berbicaralah non-formal jika kalian sedang berada di dalam kamar." jawab Seokjin.
Seokjin menghentikan langkahnya saat melewati lapangan futsal dimana kelas Jimin dan Jungkook berada. Kedua mata Seokjin dengan tajamnya menatap ke arah Jimin dan Jungkook yang sedang adu tanding bersama dengan teman-teman mereka.
Keparat kecil! Tunggu pembalasanku bocah!
"Hey, kau kenapa?" tanya Namjoon yang melihat perubahan ekspresi Seokjin saat keempatnya berhenti di tepi lapangan futsal.
"Ani! Ini lapangan futsal," entah apa yang dipikirkan Seokjin sehingga ia mengucapkan kalimat gamang yang tidak penting.
"Apa disana ada musuhmu?" tanya Taehyung. Seokjin seketika langsung menatapnya.
"Panggil aku sunbae! Kau anak kelas dua kan?" tanya Seokjin tajam. Taehyung mendesis.
"Nde, sunbae-nim!" balas Taehyung dengan nada sedikit mengejek.
"Wow! Pemainan mereka sedikit kasar!" komentar Namjoon saat atensinya teralih pada Jungkook dan Jimin yang sedang berseteru bola di tengah lapangan futsal membuat Taehyung, Yoongi dan Seokjin ikut memperhatikan kedua siswa yang selalu menjadi rival itu.
Dapat dilihat dengan jelas bagaimana Jungkook yang hendak mendorong Jimin yang sedang menguasai bola. Awalnya, Jimin masih bisa menyeimbangkan tubuhnya namun seketika Jungkook beralih sedikit mencekeram bahu Jimin yang membuat Jimin seketika menatap Jungkook sebal. Dengan gerakan cepat, Jimin segera berlari mengejar bola yang sekarang berada di kaki Jungkook. Jimin berlari lewat samping kanan Jungkook dan langsung menahan bola yang membuat Jungkook seketika tersandung dan jatuh tersungkur.
Jungkook menatap Jimin kesal bukan main. Ia segera beranjak dari posisinya dan kembali hendak merebut bola yang berada di kaki Jimin. Namun, Jimin segera menendang bola itu tepatnya bukan kearah gawang tapi—
DUG!
"O-omo! Mati kau!" Jimin seketika mengatup mulutnya saat ternyata tendangannya mengenai kepala seseorang.
"Habislah kau Park!" desis Jungkook yang berdiri di samping Jimin. Jimin meneguk ludahnya gusar. Ia tidak akan berakhir dengan baik kali ini.
Huft, sekali perusuh tetaplah perusuh. Bahkan, bisa-bisanya kau membuat masalah pada anak baru, Park! Nikmati waktu terakhirmu di RC.
TBC
Annyeong reader-deul...
Ini sudah di update aku harap enggak mengecewakan ya.
(-) Aku mau tanya nih, ff ini kepanjangan ya? Suasananya garing kah? Atau gak nyambung? Aku takut justru reader sekalian merasa ff ini monoton. Jadi, setiap ada saran atau masukan sangat saya harapkan.
(-) Juga, terima kasih sebelumnya yang udah kasih saran dan mencoba memperbaiki tulisanku. Aku memang punya banyak kebiasaan pas nulis cerita gini, dan setiap nada ucapan kaya imbuhan tanda baca kalau aku sendiri tergantung pengucapan dari kalimat itu sendiri.
(-) Tapi, aku seneng sama respon kalian sebelumnya soal ff ini. Terima Kasih banyak. Dan, kalau misalnya ff ini membosankan karena kepanjangan atau gak nyambung, akan aku usahakan untuk mempersingkatnya tapi kalau reader sekalian inginnya kaya gini aku it's okay aja.
(-) Oya, sebelumnya kemarin banyak yg ngira kalau Jimin bakal se-roomate sama Yoongi, Namjoon, Taehyung ya? Hehe, awalnya sih gitu tapi setelah aku fikir2 kok kasihan Jungkook sama Seokjin ntar keenakan Jimin dong ya? Hehe...
(-) Ada yang mau request untuk idol lain dimasukin ke ff ini? Atau pengen ada hal lain? Aku menerima setiap masukan dari kalian. Terima Kasih reader sekalian yang sudah bersedia review, fav, dan follow ff ini, terima kasih banyak dan sampai jumpa di chapter selanjutnya...
