Previously ...
DUG!
"O-omo! Mati kau!" Jimin seketika mengatup mulutnya saat ternyata tendangannya mengenai kepala seseorang.
"Habislah kau Park!" desis Jungkook yang berdiri di samping Jimin. Jimin meneguk ludahnya gusar. Ia tidak akan berakhir dengan baik kali ini.
Huft, sekali perusuh tetaplah perusuh. Bahkan, bisa-bisanya kau membuat masalah pada anak baru, Park! Nikmati waktu terakhirmu di RC.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi memegang sebelah kepalanya yang terkena bola yang tanpa sengaja di lempar oleh Jimin. Ia menggeram rendah persis seperti anjing yang diganggu tidurnya. Ia menatap tajam kearah Jimin yang seketika langsung menciut saat kedua mata mereka saling bertemu. Yoongi berjalan mendekati Jimin seraya membawa bola yang baru saja menodai kepalanya.
Yoongi melempar bola itu kearah Jimin namun menggelinding tepat di samping Jungkook yang memang berdiri di depan Jimin. Jimin bergerak mendekati Jungkook dan bersembunyi di balik punggung pemuda yang lebih tinggi darinya. Bahkan, Jimin juga memilin ujung kaos olahraga yang Jungkook kenakan. Jungkook mendorong kepala Jimin yang semakin dekat dengan pinggangnya dengan kasar. Namun, bukan Jimin namanya jika tidak mempertahankan posisinya untuk melindungi dirinya sendiri.
"Kau 'kan yang melempar bola ini?!" suara datar Yoongi bagai menggema di gendang telinga Jimin.
Jimin yang merasa kini tengah menjadi pusat perhatian hanya bisa menelan ludahnya kasar. Bahkan, ia lebih memilih untuk membuat masalah di depan Doojoon dibandingkan siswa baru berwajah datar itu. Jungkook bergeser dan melepas tangan Jimin dari bajunya secara paksa membuat Jimin seketika tersungkur, jatuh tepat di kaki Yoongi. Ah, entah kenapa Jimin ingin menangis sekarang. Dan untuk pertama kalinya ia menyesal menjadi anak nakal.
"Aku tanya padamu! Apa kau tuli?!" bentak Yoongi. Jimin perlahan bangkit dari posisinya. Siapapun tolong Jimin sekarang. Dan—siapa yang akan menolongnya? Bahkan Jimin dapat melihat banyak pasang mata yang mengumpati dirinya termasuk dua anak baru sisanya yang masih berdiri di dekat Seokjin, menyeringai kearah pemuda Park itu. Oh tidak! Ia pasti akan menjadi siswa dengan agenda terburuk di sekolahnya.
"Bisa kau tidak bermonolog di dalam hatimu?! Kau pikir aku bisa mendengar apa yang kau katakan jika kau membatin, bodoh?!" lanjut Yoongi tak kalah pedas. Setidaknya Jimin masih bersyukur, ketua dewan siswa tidak dipegang oleh orang sepertinya, jika tidak? Bisa-bisa ia mati di dalam gulungan tisu kamar mandi, konyol!
"Nd-nde mi-mian sunbae-nim!" lirih Jimin menunduk. Tunggu, dimana naluringya yang selalu memberontak? Tidak, ini tidak benar! Jika ia lemah seperti ini, image-nya sebagai 'siswa teladan' di sekolahnya akan tercoreng. Yap, Jimin harus melawan meskipun itu adalah anak si pemilik sekolah.
"Nde, aku yang melemparnya!" ulang Jimin lebih tegas dan menatap wajah Yoongi dengan berani. "Mana aku tahu jika kau ada disana?! Jadi, itu bukan sepenuhnya salahku! Sudah tahu ini lapangan, kenapa kau dekat-dekat jika tidak ingin terkena bola?! Dan sekarang—kau menyalahkan aku lagi!"
Park Jimin! Jika kau ingin melawan bisa kau gunakan kata-kata yang lebih manusiawi? Kau tidak tahu 'kan apa yang akan terjadi detik berikutnya? Dan sudah pasti dapat ditebak bagaimana ekspresi semua siswa yang kini menatap Jimin horor. Termasuk Jungkook yang masih bediri di belakangnya. Jungkook tersenyum kecil, ia sungguh tidak menyangka dengan tingkat keberanian Jimin yang luar biasa. Sementara Yoongi, menatap Jimin tertarik. Baru kali ini ada orang yang berani menjawab bentakkannya dengan bentakkan.
"Kau bilang apa?!" dan sekali lagi Jimin merutuki segala sikap percaya dirinya yang selalu berakhir mendapat masalah. Bahkan, ia bisa merasakan bulu kuduknya yang berdiri hanya karena suara dingin nan tatapan tajam yang diberikan oleh siswa baru itu padanya. Jimin menelan salivanya gusar. Ia berharap setelah ini ia dikeluarkan dari sekolah dan setelahnya Jimin akan menghilang jauh dari Korea Selatan. Ia sudah tidak memiliki muka saat ini.
"Kenapa hanya diam!"
"Bisa kah kau sabar sedikit?! Aku sedang merancang kata-kata pedas untuk melawanmu!" sarkas Jimin dengan ekspresi mimik seperti sedang berfikir yang entah kenapa dimata Yoongi terlihat sangat menggemaskan. Dan, tanpa sadar Yoongi tersenyum kecil melihat bibir Jimin yang mengerucut lucu.
"Aku hanya ingin kau minta maaf dan semua urusan selesai!"
"Tidak akan!" balas Jimin menatap Yoongi tajam meskipun gagal. "Itu akan melukai harga diriku!" dan ini adalah kali pertama Yoongi bertemu dengan sosok unik seperti Jimin yang sangat jujur bahkan dengan orang asing, membuat Yoongi semakin tertarik pada pemuda manis itu.
"Jika kau tidak minta maaf aku akan memaksa!" ancam Yoongi datar. Jimin menatapnya jijik.
"Kau mau mengadukkanku pada ayahmu? Komite sekolah? Guru? Atau dewan siswa? Adukan saja! Aku sudah biasa dihukum—bahkan, aku sedang menjalani hukuman sekarang ini! Mentang-mentang kau anak pemilik sekolah, kau pikir bisa berbuat seenaknya?! Mungkin, semua siswa disini akan langsung menurutimu—tapi tidak denganku! Kau tahu? Aku ini anak nakal dan bandel!" balas Jimin yang lagi-lagi membuat Yoongi tersenyum tampan membuat Namjoon dan Taehyung yang melihat gelagat Yoongi yang tak biasa hanya bisa mengeryit bingung. Nampaknya, ada yang aneh dengan hyung meraka ini.
"Baiklah aku memaafkanmu!"
"Mwo?!" bukan Jimin yang memekik melainkan Jungkook dan Seokjin bersamaan, tak menyangka bahwa pemuda yang terlihat dingin dan sadis itu langsung memaafkan Jimin bahkan tanpa mendapatkan permintaan maaf dari Jimin sekalipun.
"Dan aku tidak akan mengadukanmu pada siapapun—termasuk ayahku!" lanjut Yoongi masih tersenyum menatap Jimin. "Tapi—bukan berarti aku akan melepaskanmu. Dan jika biasanya siswa baru yang mendapat bullying dari siswa lama. Maka kami sebaliknya—siswa lama yang akan mendapat bullying dari siswa baru. Bukankah terdengar menyenangkan?" seringai Yoongi yang membuat semua orang bergidik ngeri. Yoongi menarik nafas dan melangkah maju mendekati Jimin, meniadakan jarak antara keduanya. "Dau kau—" Yoongi melirik kearah pen name yang tertulis kecil di baju olahraga Jimin "—JM-Park, bersiaplah untuk menjadi target pertama kami! Arraseo?" Yoongi menepuk pelan kepala Jimin sebelum berbalik badan dan berjalan menghampiri Namjoon dan Taehyung.
"Kajja~ kita pergi!" ajak Yoongi berjalan mendahului mereka. Taehyung tersenyum puas dan berjalan mengekori Yoongi dan Namjoon yang tersenyum miring menyusul kedua teman yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Jimin mengepalkan kedua tangannya menatap kepergina ketiga siswa baru itu.
"Lihat saja, kau yang akan menyesal berurusan denganku—tuan datar!"
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
BRAK!
Seluruh siswa yang berada di studio dewan siswa berjengit kaget saat Doojoon menggebrak meja tanda bahwa kesabarannya sudah habis kali ini. Kedua mata tajam Doojoon menatap kearah kedua hoobae-nya yang kini berdiri dihadapannya dengan kepala tertunduk.
"Apa tidak bisa satu hari saja kalian tidak membuat masalah?!" seru Doojoon membuat hawa studio itu terasa mencekam dan dingin. Doojoon memijat pelipisnya pening. Ia menarik nafas dan kemudian menatap seluruh anggota dewan siswa yang kini ikut menunduk dan terkena imbas akibat amukannya. "Kalian semua keluarlah—aku ingin bicara dengan perusuh ini!" titah Doojoon dengan suara dinginnya yang tentu saja langsung dituruti oleh seluruh anggota dewan siswa untuk meninggalkan Doojoon bersama Jungkook dan Jimin yang masih menunduk takut.
Doojoon mendaratkan pantatnya di kursi kesayangannya dan menatap Jungkook dan Jimin bergantian.
"Apa yang harus aku lakukan pada kalian agar merasa jera?" gumam Doojoon buntu. "Yak, Park Jimin—bisa-bisanya kau membuat masalah pada anak baru itu, apa kau tidak tahu siapa dia? Aku benar-benar tidak habis pikir padamu!"
"Tapi sunbae—itu sepenuhnya bukan salahku!" Jimin akhirnya membela diri. "Aku sungguh tidak tahu jika siswa baru itu berada di pinggir lapangan!" Doojoon menghela nafas dan kini beralih menatap Jungkook dan Jimin bergantian.
"Dan kalian berdua—bagaimana bisa kalian meninggalkan tanggung jawab kalian begitu saja? Memalukan!"
"Maafkan kami sunbaenim!" sesal Jungkook. Doojoon mendecih.
"Berikan aku alasan agar aku meringankan hukuman kalian!" pinta Doojoon. Jungkook berfikir sejenak sementara Jimin memutar kedua bola matanya kesal.
"Aku tidak akan memberi alasan karena aku melakukan apa yang aku suka tanpa alasan. Dan juga—aku tidak akan lari dari tanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Aku akan menerima hukuman apa yang akan kau berikan padaku!" balas Jimin tegas. Jungkook mengangkat wajahnya dan menatap Jimin takjub begitu pula dengan Doojoon.
"Aku sekarang tahu kenapa pihak sekolah masih ingin mempertahankanmu!" sarkas Doojoon yang hanya dibalas tatapan datar dari Jimin. "Apa kau tidak bosan dihukum?"
"Aku lebih bosan dengan peraturan di sekolah ini!" jawab Jimin jujur. "Aku bukan robot yang hanya belajar selama 13 jam dan sisanya hanya digunakan untuk tidur dan makan. Aku tidak mau menyesal saat tua nanti karena tidak menikmati masa mudaku!" lanjut Jimin yang membuat Jungkook entah kenapa tersenyum dengan penuturan datar yang baru saja Jimin lontarkan. Sementara, Doojoon menatap Jimin tertarik saat Jimin dengan berani membalas menatapnya. Doojoon tersenyum kecil, jujur saja sebenarnya ia sama sekali tidak membenci Jimin—justru sebaliknya, Doojoon sedikit kagum dengan Jimin yang selalu berfikir realistis, apa adanya, dan jujur.
"Kalau begitu, aku punya hukuman baru untuk kalian berdua!" balas Doojoon akhirnya. Jimin dan Jungkook menatap Doojoon dengan tatapan menunggu. "Selain membersihkan kolam renang kalian juga harus membantu bibi Kim untuk mengurus aula makan, membantunya setiap jam sarapan, makan siang dan makan malam. Mengerti?"
"Wah, itu cukup keterlaluan, sunbaenim!" sarkas Jungkook tak menyangka. Doojoon tersenyum puas.
"Kau ingin aku menambah hukuman lagi?"
"Aniyo!" jawab Jungkook cepat. "Itu sudah lebih dari cukup!"
"Kalau begitu kalian boleh keluar dan persiapkan diri kalian untuk membantu bibi Kim nanti malam. Arraseo?" Jungkook mengangguk dan Jimin hanya menatap Doojoon sekilas sebelum berbalik badan dan keluar dari ruang studio dewan siswa.
Jimin memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya setelah keluar dari studio dewan siswa. Jimin berjalan dengan kepala tertunduk, mengabaikan sayup-sayup langkah kaki yang berada dibelakang tak jauh darinya.
"Jimin hyung!" Jimin menghela nafas kasar saat seseorang menahan tangannya dan dengan terpaksa ia berbalik badan dan menatap si pelaku pemanggil nama.
"hyung? Aku bukan hyung-mu dan harus berapa kali harus aku ingatkan Jeon Jungkook? Aku adalah seniormu, bodoh!" balas Jimin yang justru membuat Jungkook terkekeh.
"Arra-arra. Aku hanya ingin mengingatkanmu—soal pertandingan tadi, belum ada yang menang diantara kita jadi bukankah kita harus melanjutkannya?" tawar Jungkook. Jimin tersenyum senang.
"Baiklah—tapi bukan futsal. Siswa baru itu sudah membuat mood-ku menjadi buruk!" Jimin berfikir sejenak kemudian menatap Jungkook menantang. "Memanah. Bagaimana dengan memanah?" Jungkook seketika membulatkan kedua matanya. Apa dia bilang memanah? Dan Jungkook sebenarnya cukup buruk dengan olahraga satu itu. Berbeda dengan Jimin yang merupakan salah satu hobinya.
"Baiklah aku terima tantanganmu!"
"Okay, kita bisa mulai minggu depan! Apa yang harus kita taruhkan kali ini?" tanya Jimin. Keduanya diam sejenak hingga satu senyum simpul muncul di bibir tebal Jimin. "Jika aku menang kau harus memanggilku 'sunbae' dan bersikap sopan padaku. Tapi, jika kau menang—kau bisa meminta apapun padaku!"
"Call!" setuju Jungkook cepat. "Kali ini aku akan menang darimu Park Jimin!"
"Hm, lihat saja nanti!" gumam Jimin menyeringai bersamaan dengan Jungkook yang berlari meninggalkannya seorang diri.
.
.
.
.
.
"MWO?!" pekik Seokjin kedua matanya membulat tak percaya dan menatap Jungkook horor. "Kau gila?" serunya
"Aku harus bagaimana lagi hyung?" balas Jungkook cemas seraya mengigit jarinya. "Kau tahu bukan, bagaimana mahirnya Park Jimin dalam memanah?" lanjut Jungkook.
"Tahu begitu, kenapa kau menerima tantangannya?" tanya Hoseok menatap Jungkook tak habis pikir. Ketiganya saat ini sedang berada di kamar mereka dan duduk di ranjang Jungkook.
"Bagaimana lagi hyung. Aku tidak akan bisa menolaknya untuk membuatnya kembali menjadi Jimin hyung kita yang dulu!" sahut Jungkook.
"Tapi, jika Jimin menang. Kau tidak akan bisa dekat lagi dengannya meskipun kita sudah satu kamar dengan Jimin!" balas Seokjin yang seketika setelah itu hanya ada keheningan diantara mereka bertiga.
"Kapan, kau dan Jimin bertanding?" tanya Hoseok tiba-tiba.
"Minggu depan!" jawab Jungkook cepat. Hoseok mengangguk mengerti.
"Bukankah kau butuh guru?" Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Bagaimana pun juga kau harus menang dari Jimin."
"Lalu?" tanya Jungkook masih tak paham. Hoseok berdecak.
"Yook Sungjae!"
"Memangnya kenapa dengan Yook Sungjae?" tanya Jungkook.
"Ah, aku mengerti!" sahut Seokjin sebelum Hoseok menjawab pertanyaan Jungkook. "Bukankah Yook Sungjae juga mahir memanah? Aku dengar, dia juga sering memenangkan segala olimpiade memanah!"
"Tapi, bukankah Yook Sungjae adalah teman sekelas Jimin?" tanya Jungkook, Hoseok dan Seokjin mengangguk. "Bagaimana bisa aku meminta bantuan padanya untuk mengajariku? Dia pasti menolak, hyung!" Hoseok dan Seokjin menyeringai.
"Kau tenang saja, serahkan saja pada kami!" balas Hoseok yang masih membuat Jungkook tak mengerti dengan apa yang akan direncanakan oleh kedua roomate-nya.
.
.
.
.
.
"Jimin-ssi!" panggil seseorang membuat Jimin seketika menoleh dan mendapati seorang pemuda berkulit tan yang menyapanya.
"Oh, annyeongasseo Jongin sunbae!" sapa Jimin datar dan membungkukkan badannya pada salah seorang senior yang menyapanya di perpustakaan sore ini. Kim Jongin, seniornya di kelas 3-IIC menarik kursi baca di samping Jimin.
"Apa aku menganggumu?" tanya Jongin basa-basi, Jimin menggeleng. "Oya, apa kau sudah tidak ikut club dance? Aku jarang melihatmu!" tanya Jongin. Jimin mengulas senyum.
"Maaf sunbae, akhir-akhir ini kelasku selalu mendapat kelas sore. Aku tidak ada waktu luang untuk datang!"
"Setidaknya mampirlah sebentar, banyak para junior yang ingin bertemu denganmu!" Jimin mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Kenapa mereka ingin bertemu denganku, sunbae?" Jongin terkekeh dan menatap Jimin antusias.
"Mereka terkesan dengan penampilanmu saat kompetisi tahunan kemarin. Mereka ingin belajar pada sunbae-nya ini!" Jimin tersenyum kecil.
"Aigoo sunbaenim. Aku mau saja datang, tapi kau tahu bukan jadwalku sudah dipadatkan oleh Doojoon sunbae!" Jongin lagi-lagi tekekeh.
"Jadi, kau tidak bisa datang? Padahal kami mengadakan festival Night Dance pekan depan!" Jimin mengangkat sebelah alisnya tertarik.
"Festival Night Dance?" Jongin mengangguk.
"Datanglah, kau akan menjadi tamu istimewa nanti. Lagi pula senakal-nakalnya dirimu, kau tetaplah dewan siswa yang disegani!" Jimin terkekeh.
"Baiklah, akan ku pertimbangkan sunbaenim!" Jongin mengangguk.
"Arraseo, kalau begitu aku keluar dulu-nde? Sampai jumpa, Jimin-ssi!" pamit Jongin beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jimin seorang diri.
Sepergian Jongin, Jimin menompang dagunya diatas meja baca perpustakaan. Mengabaikan buku yang sempat ia baca sebelum kedatangan Jongin tadi. Jimin menarik nafas, sebelum tangannya merogoh saku celananya dan meraih secarik kertas yang dikirim oleh seseorang selama setahun ini. Tepatnya sejak ia duduk di kelas dua. Kertas yang berisi tulisan konyol —menurutnya— yang tidak ia ketahui siapa pengirimnya dan selalu rutin meletakkannya di loker pribadinya selama tiga kali seminggu. Itu saja Jimin masih bersyukur si pengirim tidak mengirimnya setiap hari. Jimin membuka kertas itu dan membacanya untuk yang kedua kalinya.
Aku tahu kau mengalami hari sulit. Tapi, tetaplah semangat, okay...
Aku akan selalu mendukungmu di belakangmu!
Fighting!
Jimin tersenyum kecil, dirobeknya kertas tanpa asal usul itu dan membuangnya di tempat sampah yang kebetulan berada di dekatnya. Jimin beranjak dari duduknya seraya membawa buku yang akan ia pinjam. Dan, tanpa ia sadari—segala gerak-geriknya sedari tadi telah diperhatikan oleh seseorang yang ternyata sudah mematainya sejak Jimin masuk ke dalam perpustakaan.
Seseorang itu menatap punggung Jimin yang keluar dari perpustakaan dengan wajah sendu apalagi setelah melihat bagaimana Jimin merobek kertas yang tadi sempat Jimin baca untuk yang kedua kalinya.
"Aku tidak akan menyerah Park Jimin!" tekadnya sebelum ikut keluar dari perpustakaan sekolahnya.
.
.
.
.
.
"Ini kamar kalian bertiga!" ujar wakil dewan siswa, Jung Jinyoung—yang kini tengah mengantar Yoongi, Namjoon, dan Taehyung ke kamar kosong yang berada di lantai yang sama dengan seluruh anggota dewan siswa tinggal. Yoongi, Namjoon dan Taehyung baru sore harinya memasuki kamar mereka setelah bertemu dan sedikit membahas tentang sistem pembelajaran di RC dengan beberapa guru yang mengajar. "Dan, ini jadwal kalian bertiga!" lanjut Jinyoung menyerahkan tiga lembar kertas kepada masing-masing anak pemilik sekolah itu. Ketiganya pun menerima tanpa banyak bicara.
"Oh ya, aku lupa—ngomong-ngomong kami belum tahu tentang kelas baru kita nanti!" tanya Namjoon memberitahu. Jinyoung pun mengangguk paham dan untung saja, kepala sekolah RC sempat memberitahunya tentang penempatan kelas ketiga siswa baru itu.
"oh, aku juga akan memberitahu kalian. Kim Taehyung-ssi, kau berada di kelas 2-IIIC. Kim Namjoon-ssi, kau berada di kelas 3-IR. Dan, Min Yoongi-ssi, kau berada di kelas 3-IIIR!" jawab Jinyoung. Ketiganya masih terdiam sebelum Yoongi akhirnya menatap intens kearah Jinyoung. "Apa ada yang ingin kau tanyakan Yoongi-ssi?" tanya Jinyoung yang merasa sedari tadi Yoongi mematainya. Yoongi mengangguk jujur.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Yoongi jujur dan tak memperdulikan ucapannya yang berbicara informal dengan Jinyoung. Masa bodoh dengan peraturan itu, Yoongi yakin tidak akan ada yang berani membantahnya!
"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Jinyoung mempersilahkan. Diam-diam Yoongi menyeringai.
"Siapa siswa yang bername tag JM-Park tadi?" tanya Yoongi tanpa basa-basi. Jinyoung mengangkat sebelah alisnya dan menatap ketiga pemuda tampan di depannya bergantian.
"Namanya Park Jimin, dia siswa kelas 2-IR. Dia salah satu penerima beasiswa disini, mengingat bahwa dia adalah seorang yatim piatu. Dia juga salah satu anggota dewan siswa yang ditunjuk langsung oleh sekolah!" Yoongi mengangguk paham.
"Tapi, aku lihat dia satu-satunya orang yang tidak berbicara formal disini!"
"Ya, kau benar Yoong-ssi! Dia adalah satu-satunya siswa yang menyalahi aturan sekolah!"
"Jinjjayo?"
"Daebak!"
Namjoon dan Taehyung menyahut bersamaan. Yoongi tersenyum miring.
"Bisa kau berikan informasi padaku, tentangnya?" pinta Yoongi, Jinyoung tampak terkejut.
"nde?"
"Semua yang menyangkut tentang Park Jimin itu~" Jinyoung menelan salivanya gugup.
"Tapi—"
"Tenang saja, aku akan membayarmu!" potong Yoongi memberikan penawaran. Jinyoung terdiam dan menatap Yoongi tak yakin sebelum akhirnya mengangguk menyetujui permintaan salah satu anak dari pemilik sekolah.
.
.
.
.
.
"Wah, apa sekarang selain menjadi office boy di sekolah kau juga menjadi pelayan kantin, Park Jimin?" ejek Sungjae pada Jimin yang tengah menuangkan sup di mangkoknya sebagai salah satu menu makan malam itu. jimin berdecak malas.
"Cepat pergi, masih banyak yang mengantri!" usir Jimin. Sungjae terkekeh dan melirik kearah Jungkook yang juga tengah menuangkan menu makanan lain pada siswa yang mengantri di belakangnya. "Kau memang selalu berjodoh dengan Jeon Jungkook!"
"YAK!" pekik Jimin kesal dan sontak seluruh pasang mata di aula makan terarah padanya. Sungjae menunduk menahan malu.
"Kau ini, selalu pandai menjadi pusat perhatian orang!" desis Sungjae kesal. Jimin berdecak.
"Jika tak ingin menjadi pusat perhatian, enyah dari hadapanku sekarang!" usir Jimin lagi. Sungjae menggeram kesal.
"Untung kau temanku!" desisnya membuat Jimin terkekeh dan selanjutnya Sungjae cepat-cepat pergi untuk mencari tempat duduk bersamaan dengan siswa lain yang meminta lauknya pada Jimin.
Jangan memaksa Jimin atau bahkan Jungkook untuk menyempatkan diri mereka beramah-tamah pada para siswa yang meminta jatah makan malam saat kedua perusuh itu dengan berat hati menuangkan berbagai lauk makanan ke dalam nampan yang meraka bawa. Karena, sejujurnya jika tidak diawasi oleh beberapa dewan siswa bahkan Doojoon sekalipun sungguh, Jimin maupun Jungkook pasti akan melarikan diri dan enggan untuk membantu bibi Kim yang sangat melelahkan dan menambah padatnya hari mereka.
"Sudah untung kalian tidak diberi hukuman untuk mencuci piring!" sembur salah seorang dewan siswa yang bertugas untuk mengawasi kedua perusuh itu. Jimin dan Jungkook menghela nafas sabar untuk tidak menjawab gerutuan dari sunbae-nya yang berasal dari kelas 3-IIC, Jung Daehyun.
"Ah, itu ide yang bagus untuk hukuman mereka selanjutnya!" sahut Kim Myungsoo, yang juga ikut serta menemani Daehyun untuk mematai kedua hoobae-nya.
"hm, kita bisa mengatakannya pada Doojoon nanti!" sahut Daehyun. Jungkook berdecak kemudian ia menyeringai.
"sunbaenim, bukankah itu hukuman yang mainstream?" tanya Jungkook ikut menyahut. Daehyun dan Myungsoo yang berada tak jauh di samping Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Kalian harus menyiapkan hukuman yang bisa menjadi hot topic di sekolah!" usul Jungkook membuat Jimin diam-diam menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan pemikiran Jungkook yang ikut angkat bicara dan memberi usulan yang padahal hukuman itu untuk dirinya sendiri.
"yak, kerjakan saja tugasmu! Jangan ikut memberi pendapat untuk hukumanmu sendiri!" seru Myungsoo tajam. Jungkook tertawa kecil.
"Aku rasa aku tidak diberi keadilan disini!" ujar Jungkook tiba-tiba.
"mwo? Kenapa bisa begitu?" tanya Daehyun. Jungkook memasang wajah sedihnya.
"sunbae, aku masih berada di tahun pertama disini kenapa aku selalu diberi hukuman yang tidak aku lakukan?" tanya Jungkook membuat Jimin seketika menatap garang kearah sang hoobae dan siap untuk melampiaskan amarahnya.
"YAK! Jadi, kau mau mengatakan semua ini salahku?!" bentak Jimin tak terima. Jungkook menoleh kearah Jimin dengan tampang polosnya.
"sunbaenim, kenapa kau selalu memberikan contoh buruk padaku?" Jimin mengeryitkan keningnya terkejut. Ya ampun bocah ini benar-benar.
"AKU?" Jimin menunjuk dirinya sendiri.
"Bukankah Jimin sunbae sudah menjadi siswa yang lebih lama dariku?" tanya Jungkook.
"Lalu?" Jimin balik bertanya dan Jungkook tersenyum, senyuman yang mengartikan sebuah seringai didalamnya.
"Jadi, aku termakan perilaku Jimin sunbae ditahun pertamaku!" Jimin membelalak dan menatap Jungkook horor. Dengan keras ia membantung centong sayur di tangannya dan menatap Jungkook menantang.
"yak, Jeon Jungkook! Apa kau lupa siapa yang membuat masalah padaku di tahun pertamamu untuk pertama kalinya? Apa perlu aku mengingatkanmu pada kejadian masa orientasimu, hah?!" tanya Jimin tak terima membuat seluruh pasang mata yang ada di aula kini menatap keduanya bergantian, menyaksikan entah kesekian kali pertengkaran antara Jimin dan Jungkook di depan mata mereka. Jungkook menatap Jimin masih dengan kedua mata polosnya yang sungguh membuat Jimin muak melihatnya. "Jangan memutar balikkan fakta hanya karena kau tidak ingin mempertanggung-jawabkan kesalahanmu!" sembur Jimin kesal. Jungkook menunduk sebelum mengangkat wajahnya dan menatap Jimin intens.
"Mianhae sunbaenim!"
Deg!
Semua orang bergumam diam-diam saat mendengar untuk pertama kalinya seorang Jeon Jungkook mengucapkan kata maaf yang terdengar tulus yang ia tujukan kepada Jimin. Jimin tertegun sesaat, namun sedetik kemudian ia menyeringai.
"Wah, apa kau sedang ingin menarik perhatian seseorang?" tanya Jimin tersenyum miring. Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Jimin melangkah maju mendekati Jungkook dan Jungkook masih tetap berdiri di tempatnya tak menghindar saat kedua mata sipit Jimin semakin menatapnya tajam.
"Kau!" Jimin menujuk wajah Jungkook dengan dagunya. "Kau benar-benar ingin membuatku menjadi temanmu ya?" lanjut Jimin.
"Tapi sayang, Jeon Jungkook. Aku tidak pernah berniat untuk menjadi teman siapapun di sekolah ini!" sarkas Jimin kasar sebelum ia melengos pergi dari hadapan Jungkook dan hadapan semua orang yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dan tanpa Jimin sadari, beberapa pasang mata merasa kecewa dengan penuturan terakhir Jimin yang tidak menginginkan siapapun untuk berada di dekatnya. Dan, tanpa semua orang sadari, seseorang menyeringai merasa tertarik dengan pertunjukan yang baru saja ia saksikan bersama dengan kedua teman kecilnya.
.
.
.
.
.
Hah~
Jimin menarik nafas. Kini, ia tengah duduk diatas atap sekolah seorang diri. Menikmati angin malam yang begitu dingin menyengat tulang rusuknya. Dipandanginya bintang-bintang yang bertabur diatas mengelilingi bulan yang malam itu muncul dengan cahayanya yang terang.
Jimin memejamkan kedua matanya, membiarkan angin malam menerpa wajah manisnya. Sejujurnya, jika diberi pilihan Jimin ingin keluar dari sekolah ini. Tapi, disisi lain ia tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat ia hanyalah seorang yatim piatu yang sudah hidup di panti asuhan sejak ia berumur 11 tahun. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan maut —begitu kata pihak panti ketika Jimin bertanya— dan yang lebih menyesakkan lagi adalah Jimin sama sekali tidak ingat bagaimana wajah kedua orang tuannya.
Jimin membuka kedua matanya. Entah kenapa, jika memikirkan tentang orang tuanya, kepalanya selalu berdenyut nyeri. Bahkan, ia merasa ada sesuatu yang hilang tapi ia tidak bisa menemukannya. Dan karena itulah, Jimin tidak pernah memikirkan mengenai siapa orang tuanya atau bagaimana rupa mereka.
"Kau butuh minum?" tawar seseorang yang membuat Jimin seketika menoleh dan mendapati sunbae-nya yang selalu memberi hukuman padanya datang dan memberikan sekaleng cola dingin padanya. Jimin menerima kaleng cola itu tanpa banyak bicara, ia buka penutupnya dan sedikit meminumnya hanya untuk sekedar mendinginkan tenggorokannya.
"Wah, aku tidak tahu jika pemandangan disini sangat indah!" ujarnya dan berdiri bersisihan dengan pemuda Park itu.
"Apa yang sunbae lakukan disini?" tanya Jimin akhirnya membuka suara. Yoon Doojoon, pemuda yang datang dan menawarkan kaleng cola itu mengedikkan bahunya tak tahu alasan keberadaannya berdiri di samping Jimin.
"Entahlah, setelah kau meninggalkan aula makan. Aku melihat banyak wajah yang kecewa akibat ucapanmu!" ujarnya. "Bahkan, aku juga tidak tahu kenapa aku juga merasa kecewa padamu!" sahutnya. Jimin tersenyum kecil, ditatapnya kaleng cola yang berada di tangannya tanpa minat.
"Apa aku tidak salah dengar? Seorang Yoon Doojoon, ketua dewan siswa berbicara informal pada adik kelasnya? Seumur-umur aku sekolah disini, aku baru mendengarnya!" Doojoon terkekeh.
"hm, ini pertama kalinya sejak tiga tahun aku sekolah disini!" Jimin tersenyum kecil. "Apa aku mengganggumu?" Jimin terdiam begitu pula dengan Doojoon. "Jimin-ah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Jimin hanya berdehem tanda mempersilahkan Doojoon untuk bertanya padanya. "Aku rasa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu—"
"Apa sunbae ingin bertanya apa yang mengganggu pikiranku?" potong Jimin, Doojoon tergelak kemudian ia terdiam dan mengabaikan kedua mata Jimin yang kini menatap kearahnya. "Sejak kapan sunbae peduli padaku?" tanya Jimin tertawa kecil seraya kembali meneguk kaleng cola ditangannya. Doojoon menghela nafas.
"Mungkin saja, kau butuh teman untuk mendengar ceritamu."
"Tidak terima kasih! Aku bisa mengurus diriku sendiri!" Doojoon pun terdiam, begitu pula dengan Jimin. Kecanggungan mulai mereka rasakan hingga akhirnya Jimin menegak terakhir cola-nya sebelum meremat kaleng itu dan melemparnya ke tempat sampah yang tak jauh darinya berdiri.
"Aku pergi dulu, sunbaenim! Terima kasih cola-nya!" pamit Jimin, ia berbalik badan meninggalkan Doojoon yang kini tengah menatap punggungnya seorang diri. Doojoon memegang dada kirinya yang entah kenapa, untuk pertama kalinya berdetak secara tidak wajar hanya karena ia berdiri bersisihan dengan Jimin.
"Oh tidak, ini buruk!"
TBC
Maap yak, saya baru kembali buat nerusin ff ini (*setelah berapa bulan ya). Awalnya mau aku descontinued, atau mungkin aku hapus tapi rasanya kok sayang. Terus rencananya mau aku remake, tapi males ngedit (*karena memang dasarnya aku yang pemalas, hehe). Dan, akhirnya aku lanjutin dan berharap semoga kalian enggak lupa sama cerita ini. So, aku juga masih mikir2 kira-kira mau di delete, discontinue, apa di lanjut aja ya?
Terima kasih atas perhatiannya...
