"Omo, mereka tampan sekali!"

"Kau lihat rambut mereka?"

"Wah, kenapa mereka keren sekali!"

"Kau tahu, aku satu kelas dengan Kim Namjoon!"

"Ah, aku iri!"

"Aku ingin sekelas dengan mereka!"

"Apakah aku sudah cantik?"

"Kau tidak cantik! Aku yang cantik!"

"Yak, kalian itu tidak lebih cantik dariku!"

"Ya ampun, apa kau baik-baik saja? Kau mimisan!"

Taehyung dan Namjoon tersenyum simpul mendengar segala bisikan yang masuk di kedua telinga mereka saat mereka bertiga berjalan di koridor sekolah pagi harinya, sementara Yoongi masih memasang wajah datarnya yang justru membuat banyak orang semakin terpesona pada wajah dingin dan tegas itu.

Namun, tiba-tiba Yoongi yang berjalan memimpin harus menghentikan langkahnya secara tiba-tiba diikuti Taehyung dan Namjoon yang menatap heran pada lima siswi yang mencegat jalan mereka. Taehyung dan Namjoon saling berpadangan sementara Yoongi masih menatap malas pada kelima siswi itu.

"Maaf, nona-nona bisakah kalian tidak menghalangi jalan kami?" pinta Taehyung sopan. Kelima siswi itu tersenyum murahan.

"Maaf, Taehyung sunbaenim—jika kami telah mengganggu jalan kalian. Tapi, kami hanya ingin membantu kalian dan memperkenalkan diri!" ujar seorang siswi bermata bulat seraya mengedipkan sebelah matanya pada Taehyung, Park Jihyo siswi kelas 1-IIC. Taehyung tersentak, kemudian ia terkekeh tak menyangka jika di sekolah elit seperti ini masih ada siswi murahan seperti mereka.

"Sebelumnya kami ucapkan selamat datang kepada kalian bertiga, kalian tahu kami adalah primadona di sekolah ini. Jadi, jika kalian mengalami kesulitan, kalian bisa meminta bantuan pada kami—kami akan dengan senang hati membantu kalian!" tawar siswi yang berdiri tepat di depan Yoongi, Bae Joohyun siswi kelas 3-IR. Namjoon, Taehyung dan Yoongi tersenyum kecil. Perlu diketahui sebenarnya kelima siswi yang baru saja mengaku sebagai primadona sekolah itu hanyalah sekumpulan siswi yang menebar pesona mereka pada para siswa dengan kecentilan mereka. Mereka terdiri dari Bae Joohyun, si ketua genk, kemudian Kang Seulgi dan Kim Youngsun yang sudah duduk di bangku kelas 3. Lalu, ada Park Sooyoung siswi kelas 2 dan maknae mereka, Park Jihyo, siswi kelas 1.

"Kami tersentuh primadona cantik seperti kalian menawarkan bantuan pada kami!" sahut Namjoon. kelima siswi itu tersenyum sombong.

"Tentu saja, kami adalah siswi tercantik di RC!" sahut siswi yang berdiri di belakang Joohyun, Kim Youngsun membanggakan dirinya dan keempat temannya.

"Kalau begitu, apakah bisa jika kami meminta bantuan pertama kami pada kalian?" pinta Yoongi menatap Joohyun. Joohyun melipat kedua tangannya dan menatap Yoongi nakal.

"Tentu saja, Yoongi-ssi. Dengan senang hati, kami akan membantumu!" balas Joohyun, Yoongi menyeringai.

"Kalau begitu, bisakah kalian menyingkir dari hadapan kami—hari ini dan seterusnya?" pinta Yoongi dingin diiringi tawa ejek dari Namjoon dan Taehyung bahkan beberapa siswa-siswi yang sedari tadi menyaksikan para primadona menghampiri para pangeran sekolah turut menahan tawa bersamaan dengan kelima primadona itu yang kini mencoba untuk menahan malu dan amarah.

"Kalian dengar 'kan, hyung kami meminta bantuan pada kalian. Jadi, sesuai dengan apa yang kalian katakan baru saja—kalian juga harus membantu kami!" sambung Taehyung jenaka.

"Terima kasih atas bantuannya, dan kami harap kalian tidak menampakkan wajah kalian dihadapan kami lagi. Kalian tahu siapa kami bukan?" tanya Namjoon tersenyum miring. Yoongi menggelengkan kepala seraya mendecih. Kemudian, ia kembali melangkahkan kakinya melewati kelima gadis yang secara spontan memberinya jalan. Taehyung mengekori Yoongi seraya bersiul dan Namjoon yang memasukkan satu tangannya ke dalam sakunya seraya menyeka rambut ungunya.

"Ahh~ mereka tampan sekali!"

"Min Yoongi!"

"Kim Namjoon!"

"Kim Taehyung!"

Dan teriakan-teriakan itu terus berulang dan turut mengantar ketiga pangeran sekolah hingga mereka sampai di kelas mereka masing-masing.

.

.

.

.

.

"Ahh~ mereka tampan sekali!"

"Min Yoongi!"

"Kim Namjoon!"

"Kim Taehyung!"

"Ck! Mereka seperti tidak punya kerjaan di pagi hari!" cibir Minho menatap bagaimana para siswi hingga siswa yang mengekori tiga siswa baru di lantai dasar melalui balkon di lantai kelas 3 bersama dengan keempat temannya, Doojoon, Daehyun, Myungsoo, dan Jinyoung.

"Kau hanya iri karena kedatangan mereka akan membuat fans-mu menurun 'kan?" tebak Myungsoo masuk akal membuat Daehyun dan Jinyoung turut terkekeh sementara Minho menatap Myungsoo horor.

"mworagoyo? Aku tidak peduli dengan fans-ku!" cibir Minho.

"Munafik!" desis Myungsoo.

"Menurutku, pindahnya tiga siswa baru itu mungkin akan menambah pekerjaan kita!" ujar Daehyun kedua matanya ikut serta menatap kemana ketiga siswa baru itu berjalan yang masih diikuti fans dadakan mereka.

"hm, apalagi kau tahu, siswa baru yang bernama Min Yoongi itu, dia meminta informasi tentang Park Jimin!" sahut Jinyoung yang membuat keempat pemuda itu seketika menoleh kearahnya.

"Kenapa dia meminta informasi tentang Jimin?" tanya Doojoon akhirnya membuka suara, Jinyoung tampak berfikir.

"Mungkin karena kejadian waktu di lapangan kemarin!" jawab Jinyoung, yang setelahnya hanya ada keheningan diantara kelimanya.

"Ngomong-ngomong soal Jimin, aku jadi teringat dengan kejadian semalam." ujar Daehyun tiba-tiba.

"hm, jika dia sedang marah dengan Jungkook—bukankah tidak seharusnya dia mengatakan tidak ingin berteman dengan siapapun di sekolah ini?" tanya Myungsoo angkat bicara.

"hm, mungkin Jimin memang keterlaluan tapi—entah kenapa aku merasa kasihan padanya," sambung Minho yang seketika membuat Doojoon, Jinyoung, Daehyun dan Myungsoo menoleh kearahnya.

"Kenapa kau kasihan padanya?" tanya Doojoon.

"Entahlah, dia terlihat seperti tertekan mungkin," jawab Minho asal. "Tapi, menurutku bukankah Jimin anak yang tidak terlalu nakal?" lanjut Minho. "Maksudku, dia siswa berprestasi di angkatannya, entah akademik maupun non-akademik. Kalian pernah mendengar guru-guru memuji kemahirannya 'kan?" keempatnya terdiam membuat Minho ikut terdiam dan memandang ke lantai bawah dimana seluruh mata keempat temannya tertuju. Dan, tepat saat itu kelima pasang mata itu mendapati sosok yang baru saja mereka bicarakan tengah berjalan menuju ruang kelasnya di lantai empat dengan wajah datar khasnya. Diam-diam kelimat siswa senior itu mematai adik kelas mereka dan tanpa sadar tersenyum kecil.

"Sebenarnya dia pemuda yang manis,"

"Akan lebih baik jika siswa berprestasi sepertinya memiliki sikap yang baik!"

"Aku jadi sedikit penasaran tentang sosok Park Jimin yang sebenarnya,"

"Aku yakin, meskipun ia nakal pasti diam-diam ada yang tertarik padanya."

"Sial! Hanya melihat wajahnya dari atas sini saja, sudah membuat jantungku ingin berlarian. Tidak, aku tidak boleh membiarkan semua ini terjadi!"

.

.

.

.

.

Jimin memasuki kelasnya dan berjalan menuju bangkunya yang berada di barisan paling belakang dekat dengan jendela. Ia berjalan santai mengabaikan seluruh tatapan teman sekelasnya yang menatap tak suka kearahnya.

Sret!

Jimin menarik kursinya dan duduk tenang, tetap mengabaikan seluruh teman sekelasnya yang kini beralih berbisik-bisik padanya. Jimin mendengus, sebenarnya ia merasa tak nyaman dengan tatapan siswa-siswi yang sangat mengganggunya. Karena, senakal-nakalnya Park Jimin, ia tetap tidak suka menjadi pusat perhatian apalagi sampai-sampai jika mereka itu lebih memilih berbicara di belakang Jimin dibandingkan langsung mengatakan langsung apa permasalahan mereka padanya.

"Yak, Park Jimin!" dan akhirnya si ketua kelas menghampiri Jimin dan berdiri di sisi bangku pemuda manis itu. Jimin mendecih dan melirik sekilas kearah si ketua kelas yang bername tag Kang Seungyoon. "Apa kau tidak punya malu masih berada di sekolah ini?!" serunya membuat Jimin tersenyum miring sebelum memutuskan untuk berdiri berhadapan dengan Seungyoon dan meladeni ketua kelasnya.

"mworagoyo?" Jimin balik bertanya. "Apa aku berbuat salah padamu?" Seungyoon menatap Jimin horor.

"Berbuat salah padaku? Kau yang berbuat salah pada kelas ini!" balasnya. Jimin terkekeh mengejek.

"Berbuat salah pada kelas ini? Bahkan, aku tidak pernah membuat masalah dengan siswa di kelas ini!" dan memang benar sebenarnya, senakalnya Jimin ia tidak pernah membuat masalah terlebih dahulu jika tidak ada yang memulai atau ada yang berani mengusiknya. Dan selama ia berada di kelasnya, tidak ada satupun teman-teman kelasnya yang berani mengusiknya. Hm, setidaknya mereka harus mengingat dengan baik siapa Jimin dan apa peran Jimin.

"daebak! Tapi, kau membuat kami malu karena kelakuanmu!" balas Seungyoon lagi. Jimin menggeleng tak percaya.

"Jangan ikut campur urusan orang, man~" pinta Jimin membuat Seungyoon mengepalkan kedua tangannya.

"mwo?! Kau sudah mencoreng nama baik kelas kita, Jimin-ssi!"

"Kita? Bahkan, aku tidak ingat siapa saja nama siswa yang ada di kelas ini!"

"heol~" desis para siswa merasa tertohok dengan penuturan Jimin. Jimin menyeringai.

"Ck, kau membuat mood belajarku berantakan!" decak Jimin kesal.

"Yak! Bajingan! Kenapa kau tak enyah saja dari sekolah ini!" bentak Seungyoon kelepasan yang membuat Jimin mengepalkan kedua tangannya dan selangkah maju mendekati Seungyoon, menatap pemuda itu tajam dengan kedua mata sipitnya.

"Dengar—" Jimin melirik kearah tag name di ketua kelas. "—Kang Seungyoon, aku sudah katakan padamu untuk tidak mencampuri urusanku! Kau dengar! Dan, perlu kau ketahui! Aku bukan kau! Atau bukan mereka yang berada di kelas ini, aku tidak kaya dan tidak sedang berpura-pura hanya untuk menarik simpati guru atau temanmu bahkan seniormu! Jadi, aku peringatkan padamu, jangan mengusik orang yang tidak pernah mengusik hidupmu!" gertak Jimin yang seketika kelas menjadi hening. Jimin menyaut tasnya, ia berjalan menabrak bahu Seungyoon untuk meninggalkan kelas mereka dan berpapasan dengan seorang guru yang baru saja masuk untuk mengajar.

"Park Jimin, kau mau kemana?" tanya sang guru yang tentu saja Jimin abaikan. "Park Jimin! Aku akan mengurangi poin-mu jika kau membolos kelasku! Park Jimin, kau dengar!" tapi, bukan Jimin namanya jika menggubris peringatan gurunya. Persetan dengan poin atau saudaranya, toh Jimin juga akan tetap menjadi peringkat pertama.

.

.

.

.

.

"Jja, Min Yoongi-ssi perkenalkan dirimu pada teman barumu!" titah sang guru yang masuk bersama Yoongi ke kelas barunya. Yoongi berdecak dan menatap teman sekelasnya jengah.

"Dia pikir aku anak kecil? Tanpa aku harus mengenalkan diriku, mereka pasti tahu siapa aku!"

"Annyeong, Min Yoongi imnida!" sapa Yoongi datar.

"Apa ada yang ingin kau tambahkan?" tanya sang guru ramah. Yoongi menggeleng. "Tidak ada?" tanya sang guru memastikan.

"Sungguh, guru ini benar-benar cerewet. Apa dia ingin dipecat? Bagaimana pun juga aku anak pemilik sekolah ini!"

"ani!" jawab Yoongi singkat.

"Baiklah, kalau begitu kau bisa duduk di belakang Yoon Doojoon!" titah sang guru menunjuk kursi kosong di belakang Doojoon. Yoongi mendesis dan berjalan melas ke kursi yang berada di barisan paling belakang di dekat jendela.

"Jja, kita akan melanjutkan pelajaran kemarin tentang seni yang lahir pada Dinasti Tang," mendengar sang guru wanita yang mengenakan kacamata bulat dan berambut ikal sebahu, sudah membuat Yoongi menguap, terlebih tempat duduknya yang berada di dekat jendela dan angin semilir yang masuk saat ia membuka jendela kelasnya.

Yoongi menopang dagunya dengan tangan kanannya di atas meja, mengabaikan seruan sang guru yang entah menerangkan apa yang jelas guru wanita itu semakin lama menggunakan bahasa mandarin untuk menerangkan tentang pelajaran pagi itu. oh, sungguh ini sangat membosankan.

Kedua bola mata Yoongi pun bergulir keluar pemandangan diluar kelas. Perlu ia akui, bahwa bentuk sekolah ini memang cukup aneh dari luar maupun dalam. Dan ia cukup bersyukur letak kelas barunya berada di ujung lantai, belum lagi tempat duduknya yang sangat minimalis untuknya, membuat Yoongi tergoda untuk memejamkan kedua matanya dan menikmati semilir angin yang seolah menyuruhnya untuk tidur.

Wah, apa dia sedang berada di surga sekarang? Angin semilir, dan suara kecapi sebagai pengantar tidurnya belum lagi suara merdu yang tengah bernyanyi dalam bahasa mandarin. Ah, persetan dengan pelajaran itu karena yang terpenting bagi Yoongi, bisa menikmati waktu tidurnya adalah surga duniawi untuknya.

"Kau saja yang membangunkannya!"

"Kenapa harus aku?"

"Aku tidak dekat dengannya!"

"Kau pikir aku dekat dengannya!"

"Kau 'kan ketua dewan siswa!"

"Lalu, apa hubungannya jabatanku dengan membangunkannya?!"

Tapi, sepertinya surga duniawi yang ia rasakan tak berlangsung lama saat ia mendengar suara-suara asing yang masuk ke indera pendengarannya. Membuat, dengan amat sangat terpaksa Yoongi membuka kedua matanya dan mengangkat wajahnya.

"ah, Yoongi-ssi kau sudah bangun?" sapa seorang pemuda tampan yang Yoongi ingat-ingat-lupa siapa pemuda itu. Ah, dia ketua dewan siswa yang menyambutnya kemarin.

"waeyo?" tanya Yoongi tak merasa bersalah.

"Waeyo?" ulang pemuda tampan yang berdiri di samping si ketua dewan siswa, Yoon Doojoon sementara pemuda yang berdiri di sampingnya adalah Choi Minho. "Kau melewatkan pelajaran di kelas pertamamu!" lanjut Minho. Yoongi tersenyum miring seraya menguap.

"Apa itu penting?" tanya Yoongi tak peduli.

"mworagoyo?" tanya Minho. Yoongi pun beranjak dari duduknya dan menatap kedua pemuda itu bergantian.

"Apa ini sudah jam istirahat?" tanya Yoongi kemudian. "Aku rasa sudah!" lanjut Yoongi mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas yang tinggal beberapa siswa yang ada di kelasnya. "Wah, sudah berapa lama aku tidur?" Yoongi bergumam kagum. "Minggir! Aku harus menemui kedua temanku! Mereka pasti sudah menungguku!" Yoongi berjalan menyela Doojoon dan Minho dan mendorong kedua pemuda itu. Diam-diam Yoongi tersenyum miring dan berjalan angkuh keluar dari kelasnya dengan satu tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya.

"Wah, daebak! Dia benar-benar brengsek!" geram Minho kesal. "Doojoon-ssi, kenapa kau diam saja?!" seru Minho yang langsung dihadiahi tatapan horor dari ketua dewan siswanya.

"Yak, Yoon ssaem saja tidak berani menegurnya apa lagi aku?! Kau pikir kau siapa? Tegur saja dia jika kau berani!" bentak Doojoon kesal dan meninggalkan Minho seorang diri.

"yak-yak-yak! Tunggu aku Yoon Doojoon!" seru Minho dan segera melesat berlari menyusul Doojoon.

.

.

.

.

.

"Jeon Jungkook, aku menyukaimu. Terimalah cintaku."

Bagi Jungkook, tidak ada yang lebih memalukan dibandingkan seorang gadis yang kini berdiri dihadapannya membawakan sebuah kotak entah apa isinya dan menyatakan cintanya padanya. Oh tidak! Bahkan, Jungkook ingin sekali menguliti wajah gadis itu saat ini juga yang sudah membuatnya malu di depan seluruh siswa-siswi yang sedang menikmati istirahat pertama mereka di cafetaria sekolah.

Jungkook menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena menahan malu, ia melirik sekilas kesekitarnya dan mendapati beberap teman sekelasnya yang tertawa mengejek dan beberapa senior yang seperti tengah menunggu jawaban darinya. Jungkook menarik nafas, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekati teman seangkatannya yang bernama Lalisa, siswi kelas 1-IIIR.

"Lisa-ssi, mianhae. Aku bukannya tidak menyukaimu tapi kau tahu bukan? Aku baru saja bertemu denganmu hari ini. Maafkan aku, tapi—mungkin kita bisa menjadi teman." Jungkook mencoba untuk menolak pernyataan cinta dari penggemar-nya dengan lembut. Lalisa menunduk, menahan air matanya.

"Jadi, kau menolakku?"

"ani! Maafkan aku sudah melukai hatimu tapi—"

"gwenchana!" potong Lisa cepat. "Terima kasih kau tidak mempermalukanku dan memutuskan untuk menjadi temanku!" Jungkook mengangguk kaku. "Kalau begitu, terimalah hadiahku!" Lisa tetap menyodorkan sebuah kotak dihadapan Jungkook. Jungkook menerimanya dengan senyum paksa.

"nde kamsahamnida Lisa-ssi!" Lisa mengangguk sebelum akhirnya pergi dan berlari meninggalkan cafetaria.

"daebak! Dia adalah siswa ke 26 yang sudah menyatakan cinta padamu Jeon. Wah, bahkan jumlah yang kau tolak itu sudah melampaui satu kelas, kau bisa memecahkan rekor!" seru Jaehyun, teman sekelas Jungkook yang kini merangkul teman karibnya. Jungkook terkekeh dan melemar kotak yang diberikan Lisa kepada teman yang dulu sempat menjadi roomate-nya, Kim Yugyeom.

"Bolehku buka?" ijin Yugyeom. Jungkook mengangguk dan membiarkan Yugyeom membuka kotak itu bersama Jaehyun. Jungkook menghela nafas jengah, rasanya ia sudah bosan menolak banyak orang atau dikejar banyak orang, akuilah dia sombong, tapi—itulah memang kenyataan hidupnya.

Dan, disisi lain. Tiga penguasa sekolah atau tiga pangeran sekolah yang baru datang kemarin siapa lagi jika bukan Min Yoongi, Kim Namjoon dan si bungsi Kim Taehyung? Diam-diam mereka menyaksikan pernyataan cinta siswi kelas 1 kepada siswa kelas 1 lainnya.

"Bukankah, dia siswa yang ada di lapangan futsal kemarin?" tanya Namjoon seraya menyeruput cup kopi yang sebelumnya ia pesan.

"oh, kau benar hyung! Dia siswa yang kemarin bermain kasar dengan JM-Park itu 'kan?" sambung Taehyung. Namjoon hanya bergumam.

"hah, kenapa dihari pertama, kita harus menyaksikan drama sekolah?!" gumam Yoongi malas. Namjoon dan Taehyung terkekeh.

"oh, hyung—tadi, ketua kelasku mengingatkanku untuk ikut kegiatan non-akademik di sekolah. Kalian akan ikut kegiatan apa?" tanya Taehyung antusias. Namjoon berfikir sejenak dan Yoongi kembali menyeruput kopi yang sebenarnya milik Namjoon.

"Bagaimana menurutmu jika aku ikut club penyiaran? Bukankah itu ide bagus? Setidaknya, aku bisa sedikit memberi hiburan untuk sekolah ini. Kalian tahu bukan, bagaimana kakunya sekolah ini?" tanya Namjoon diikuti kekehan dari Taehyung.

"Kau itu memang jenius, hyung! Tapi, bagaimana denganku? Apa yang harus aku ikuti?" pikir Taehyung.

"Ikuti saja semua yang ingin kau ikuti!" saran Namjoon. Kedua mata Taehyung berbinar.

"Apa tak apa, jika aku mengikuti semuanya?" Namjoon mengangguk.

"hm, kita harus mengikuti semuanya dan mengambil alih sekolah ini. Bagaimanapun juga, para appa juga akan mewarisi sekolah ini pada kita!"

"Kau benar, hyung! bagaimana denganmu hyung?" tanya Taehyung beralih pada Yoongi. Yoongi memutar kedua bola matanya malas, namun kemudian ia diam-diam menyeringai.

"hm, kita memang harus menguasai sekolah ini!" ujar Yoongi dan kembali menyeruput kopi yang kini milik Taehyung. Yoongi mengedarkan pandangannya ke penjuru cafetaria hingga kedua mata sipit nan tajamnya menangkap siluet yang menjadi target kesenangannya untuk merayakan hari pertamanya di sekolah.

Sret!

Terlalu intens mematai targetnya hingga membuat Yoongi tak sadar jika ada sekumpulan siswi yang mengaku diri mereka sebagai primadona sekolah. Yoongi sontak menoleh kearah seorang siswi yang beralih duduk di kursi kosong di sampingnya, begitu pula Namjoon dan Taehyung yang nampak risih dengan kedatangan siswi itu.

"Apa kalian sudah makan?" tanya Joohyun perhatian.

"Kami akan merekomendasikan makanan yang sehat dan terlezat di sekolah ini!" sambung teman Joohyun, Kim Youngsun.

"Wah, aku tidak menyangka kalian sangat perhatian pada kami!" gumam Taehyung kagum.

"Tentu saja kami harus perhatian pada kalian. Pangeran sekolah harus diperhatikan oleh primadona sekolah!" balas Sooyoung yang membuat Taehyung bosan melihat wajahnya mengingat dia dan Sooyoung kebetulan teman satu kelas.

"Apa kalian ingin melakukan sesuatu yang menarik?" tawar Yoongi, menatap Namjoon dan Taehyung bergantian dan mengabaikan kelima gadis yang sangat mengganggunya.

"Apa kau ada ide, hyung?" tanya Namjoon. Yoongi menyeringai, dan ia segera bangkit dari duduknya diikuti Namjoon dan Taehyung yang mengikut membuat kelima primadona itu merengut kesal.

"Yoongi-ssi, kau mau kemana?" tanya Joohyun kesal. Yoongi menghentikan langkahnya, tapi bukan untuk meladeni si primadona sekolah melainkan untuk—

"PARK JIMIN!" berseru memanggil seseorang yang sudah menjadi target pertamanya di sekolahnya. Dan, sontak saja seruannya itu membuat seluruh isi cafetaria hening seketika dan seluruh perhatian terpusat pada Park Jimin yang sedang duduk menikmati istirahat pertamanya seorang diri dan ketiga pangeran sekolah yang kini berjalan kearah tempatnya duduk.

Jimin mendesis, dan menghela nafas malas. Setidaknya, jika hari ini Jeon Jungkook tidak mencari masalah dengannya bisakah ia mendapat hari tenang sekali saja? Jimin sudah lelah dan sudah muak dengan semua orang yang ada di sekolah ini. Tapi, baiklah kita lihat apa yang diinginkan oleh anak si pemilik sekolah darinya.

Sret!

Tanpa meminta ijin, Yoongi menarik kursi di depan Jimin. Bahkan ia juga mengisyaratkan pada Namjoon dan Taehyung untuk ikut duduk di samping kanan-kirinya. Jadinya, mereka bertiga seperti sedang menyidang terdakwa yang kini menatap ketiganya datar tanpa minat. Yoongi menompang dagunya menatap wajah manis Jimin tanpa menghiraukan banyak pasang mata yang masih mematai mereka saat ini.

"Jika dilihat-lihat, wajahmu cukup manis juga."

Bruush~

Uhuk!

Setelah Namjoon terbatuk dan Taehyung yang menyemburkan minuman yang ia minum, mereka seketika menatap Yoongi tak menyangka, ini adalah kali pertama selama mereka tumbuh sejak kecil, mereka mendengar pujian menggelikan yang keluar dari mulut sadis Yoongi. Oh, bahkan Yoongi tidak pernah sekalipun memuji ayahnya sendiri.

Berbeda dengan Namjoon dan Taehyung yang bereaksi berlebihan maka berbeda pula dengan Jimin yang masih menatap Yoongi datar. Jimin kembali menarik nafas.

"Apa kau masih ingin memintaku untuk meminta maaf padamu?" tanya Jimin. Yoongi terkekeh meskipun Jimin yakin bahwa apa yang ia katakan sama sekali tidak lucu.

"Kau tenang saja, aku bahkan sudah melupakan kejadian kemarin." balas Yoongi masih mencoba untuk mempertahankan senyum bodohnya.

"Lalu, untuk apa sunbaenim masih berada disini?" tanya Jimin penuh penekanan. "ah, aku ingat sekarang—bukankah kemarin kau mengatakan akan membully-ku?" Yoongi lagi-lagi terkekeh.

"hm, aku rasa kau orang yang tidak pantas dibully!"

"hm, jika kau tahu enyahlah dari hadapanku sekarang!" usir Jimin seraya bangkit dari duduknya namun dengan segera Yoongi cegah dan membuatnya ikut berdiri dengan tangannya yang menahan tangan Jimin. Diam-diam seluruh siswa memandang takjub dan iri pada Jimin yang mendapat perlakuan berbeda dari Yoongi. "Ada apa lagi?" tanya Jimin yang langsung menghempaskan tangannya yang digenggam Yoongi.

"Pergilah, aku tidak akan melarangmu tapi—kau harus ingat aku selalu mengawasimu!"

"Terserah!" desis Jimin dan berlalu pergi begitu saja.

Sepergian Jimin, Yoongi duduk kembali di tempat duduknya seraya merapikan jas almamater yang ia gunakan.

"Kau suka padanya, hyung?" tanya Taehyung. Yoongi mengulum senyum.

"aniyo!" balas Yoongi cepat.

"Lalu? Ada apa denganmu?" Namjoon yang bertanya. Yoongi menyeringai.

"Aku hanya sedikit penasaran padanya!" jawab Yoongi yang membuat Namjoon dan Taehyung menggeleng heran dengan jalan pikiran Min Yoongi.

.

.

.

.

.

"Kau apa?!" tanya Seokjin pada si siswa baru yang mendatanginya dan meminta untuk bergabung di club penyiaran, mengingat Seokjin adalah ketua dari club tersebut.

"Aku rasa kau tidak tuli! Dan, aku dengar—aku harus meminta persetujuanmu untuk ikut di club ini!" Seokjin menatap si siswa baru yang ia ketahui berada di kelas 3-IR, Kim Namjoon horor.

"Tapi, kami sedang tidak mengadakan perekrutan!" tolak Seokjin. Namjoon menyeringai dan menatap Seokjin selidik membuat Seokjin was-was terlebih saat ini hanya ada mereka berdua di ruang penyiaran.

"Jadi, kau tidak menerimaku?" tanya Namjoon. Seokjin menelan ludahnya susah. "Baiklah, aku akan memberimu pilihan—aku masuk atau kau yang keluar!"

"mworagoyo?" tanya Seokjin tak mengerti, Namjoon lagi-lagi menyeringai.

"Kau pilih, kau yang keluar dari club ini jika kau tidak mengijinkanku masuk atau kau mengijinkanku masuk dan kau tetap aman di posisimu!"

"daebak!" gumam Seokjin takjub. "Apa dia baru saja mengancamku karena dia anak pemilik sekolah ini?"

"Bagaimana?" Seokjin menarik nafas.

"ARRASEO! Aku akan memberi jadwalnya pada ketua kelasmu!" Namjoon tersenyum puas.

"good boy!" ujarnya seraya menepuk pundak Seokjin dan berlalu untuk pergi.

"sial!" umpat Seokjin kesal dan tanpa sadar menendang kursi dorong yang ada di dekatnya.

"Seokjin sunbae, kau baik-baik saja?" tanya junior Seokjin dari kelas 2-IC, Jennie Kim yang entah sejak kapan ada di dalam ruang penyiaran.

"Kau yang berjaga hari ini?" tanya Seokjin mengabaikan pertanyaan Jennie.

"nde sunbaenim!" Seokjin memijat pelipisnya pening.

"Jika nanti Sandeul datang, katakan padanya aku tidak masuk hari ini. Doojoon benar-benar membuatku sibuk!" gerutu Seokjin kesal. "oya, dan juga katakan padanya, jika anak baru dari kelas 3-IR yang namanya Kim Namjoon, resmi menjadi anggota club penyiaran. Sampaikan padanya untuk berbuat baik pada Kim Namjoon, arraseo?" Jennie mengangguk.

"nde sunbaenim!" balasnya lagi.

"arraseo, aku pergi dulu!" pamit Seokjin meninggalkan Jennie seorang diri di ruang penyiaran.

Sepanjang perjalanan menuju studio dewan siswa yang ia lakukan hanya menggerutu dan menggerutu, entah mulai dari tugas dari guru yang semakin menumpuk, tugasnya menjadi anggota dewan siswa, tugas non-akademiknya hingga masalah sepele yang selalu membuatnya ingin mengumpat di setiap waktu.

"Seokjin-ssi!" seru seseorang yang membuat langkah Seokjin terhenti, Seokjin menoleh dan mendapati Hoseok yang berjalan santai kearahnya. "Kau mau ke studio?" tanyanya dan kembali berjalan beriringan bersama Seokjin. Seokjin hanya mengangguk.

"Kau darimana?" tanya Seokjin ingin tahu.

"Club dance, aku sedikit kerepotan sejak Jimin tidak pernah masuk."

"Jimin? Park Jimin?" tanya Seokjin memastikan. Hoseok mengangguk.

"Dia adalah anggota inti. Hm, kau tidak tahu karena kau bukan anggota club dance!"

"YAK! Jangan mengejekku!" seru Seokjin tak terima. Hoseok terkekeh.

"oh, apa kau tahu kejadian di kantin tadi?" tanya Hoseok. Seokjin memincing dan menggeleng.

"Aku sedang disibukkan oleh ketua-mu yang menyebalkan itu! Dia gemar sekali merepotkanku!" Hoseok terkekeh. "Memangnya apa yang terjadi di kantin?"

"Aku hanya mendengar dari anak-anak dance tadi, kalau Min Yoongi—kau tahu Min Yoongi?" Seokjin mengangguk dan mendengar Hoseok dengan saksama. "Nampaknya dia sedikit tertarik dengan Park Jimin,"

"jinjjayo?" balas Seokjin tak percaya. "wah, apa karena kejadian kemarin?"

"Entahlah, tapi aku tidak melihat Yoongi marah sedikit pun."

"Tapi, kau tahu bukan perawakannya? Dia terlihat menyeramkan,"

"hm, kau benar hyung, ada baiknya kita jangan terlalu dekat dengan mereka dan membuat masalah di tahun terakhir kita disini!" Seokjin mengangguk setuju, namun kemudian ia teringat sesuatu.

"Apa aku baru saja mendengarmu memanggilku, 'hyung'?" tanya Seokjin. Hoseok nyengir.

"Maaf Seokjin-ssi, aku kelepasan!"

"Dasar, bagaimana jika ada yang dengar? Tidak ada yang tahu jika kita dekat, bodoh!"

"Yak, hyung kau juga jangan mengumpat!" kini Seokjin yang menunjukkan cengirannya.

"mian, aku kelepasan!"

"Aku kelepasan saja, kau langsung marah!" balas Hoseok kesal membuat Seokjin merangkul teman roomate-nya dan melanjutkan langkah mereka menuju studio dewan siswa.

.

.

.

.

.

"Aku menerima proposal dari beberapa ketua club yang akan mengadakan festival, dan beberapa sudah disetujui oleh pihak sekolahan. Maka dari itu, aku ingin kalian semua membentuk kepanitian dan menjadwal hari festival diadakan, juga jangan lupa untuk mendiskusikan isi acara dengan para ketua club!" jelas Doojoon pada seluruh anggota dewan siswa yang berkumpul di studio dewan siswa.

"Doojoon-ssi," panggil Sooyoo mengangkat tangannya untuk bertanya.

"Ada apa Sooyoo-ssi?" tanya Doojoon meladeni.

"Bolehkah kami tahu, club mana saja yang disetujui?" Doojoon berfikir sejenak tampak mengingat.

"Hanya ada lima club, dance, paduan suara, teater, musik, dan taekwondo. Apa ada yang ingin bertanya? Jika tidak—"

BRAK!

Seisi studio menoleh kearah siswa kelas satu yang bukan anggota dari dewan siswa yang tiba-tiba membuka pintu dengan tidak sopannya, membuat para seniornya kelas tiga menatap geram kearahnya.

"sunbaenim~" panggilnya terengah membuat Doojoon mau tidak mau menghampiri juniornya.

"Ada apa Yugyeom-ssi?" tanya Doojoon ramah.

"Jeon Jungkook—sunbaenim—" ujarnya terbata membuat Seokjin dan Hoseok menatap roomate lama Jungkook ketika siswa itu menyebut nama Jungkook membuat mereka harus mendengarnya dengan was-was.

"Ada apa dengan Jeon Jungkook?" tanya Doojoon penasaran sementara siswa yang bernama Yugyeom itu menjelaskan dengan bahasa isyarat saking paniknya.

"Bicaralah yang benar Yugyeom-ssi!" pinta Seokjin tak sabar.

"Jeon Jungkook—"

"Iya ada apa dengan Jeon Jungkook?" seru Seokjin kesal.

"Minhyuk sunbae tiba-tiba menghajarnya di lapangan basket!" ujar Yugyeom cepat.

"mwo?!" pekik Seokjin terkejut dan tanpa menunggu waktu lagi ia dan Hoseok diikuti Doojoon, Jinyoung, dan anggota dewan yang lain segera melesat menuju tempat kejadian.

.

.

.

.

.

Kau terlihat kacau hari ini, apa kau baik-baik saja?

Jimin meremat kertas yang berisi tulisan konyol yang lagi-lagi berada di dalam lokernya. Selanjutnya, ia pun melempar kertas itu kesembarang arah. Jimin menata lokernya yang sedikit berantakan dengan buku-buku catatan miliknya. Hari sudah mulai sore, tapi tak membuat suasana sekolah menjadi sepi. Justru, sore hari adalah waktu dimana sekolah menjadi ramai layaknya pasar tradisional. Dan, perlu diingat Jimin benci keramaian.

"Jimin sunbaenim!" panggil seseorang yang membuat Jimin menoleh sekilas namun tak menggubris orang yang memanggilnya dan tetap fokus menata buku-buku di lokernya. "Jimin sunbae~" panggilnya lagi yang membuat Jimin menarik nafas dan—

Brak!

Dengan kasar, Jimin menutup lokernya, menguncinya dan akhirnya meladeni orang yang mengganggunya.

'Wae?!" tanya Jimin datar.

"sunbaenim, aku mohon bantuanmu." pintanya takut-takut. Jimin mendengarkan. "Tolong selamatkan Jungkook."

"Dan, kenapa aku harus menyelamatkan Jungkook?" tanya Jimin terkesan tak peduli.

"Dia dihajar oleh Minhyuk sunbaenim di lapangan basket karena sudah membuatmu marah semalam. Aku mohon—selamatkan Jungkook, Jungkook bisa mati di depan seluruh siswa sekolah!" Jimin menarik nafas jengah.

"Aku tidak memiliki urusan dengan Minhyuk sunbaenim! Panggil saja Doojoon sunbaenim, dia sudah biasa mengurus orang seperti itu 'kan?" tanya Jimin tak peduli dan berlalu pergi meninggalkan juniornya yang tak lain adalah Jung Jaehyun, teman sekelas Jungkook. Tak menyerah, Jaehyun berlari mengejar Jimin dan menghadang jalannya.

"Tapi, Minhyuk sunbaenim hanya mendengarkanmu. Dia bahkan tidak takut pada Doojoon sunbaenim!" Jimin berfikir sejenak.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak minta tolong kepada tiga siswa baru itu? Bukankah mereka anak pemilik sekolah ini? Tidak ada yang berani pada mereka!"

"sunbaenim~tidakkah kau tahu bagaimana Minhyuk sunbaenim orangnya?" tanya Jaehyun melas. Jimin hanya diam. "Jungkook sedang babak belur sekarang sunbaenim. Aku mohon~" Jimin berdecak.

"Dengar siapapun namamu! Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada Jungkook, kau dengar—aku tidak peduli! Dia mati atau tidak! Itu bukan urusanku!" seru Jimin yang kemudian meninggalkan Jaehyun seorang diri. Jaehyun berbalik badan dengan kedua tangannya yang terkepal.

"Yak, sunbaenim! Apa kau tidak memiliki rasa prikemanusiaan?" seru Jaehyun yang membuat langkah Jimin terhenti seketika. "Kau memang tidak pernah akur dengan Jungkook. Tapi, aku tidak tahu ternyata kau bukan manusia! Pantas saja jika tidak ada yang menyukaimu disekolah ini. Bahkan, aku heran kenapa Minhyuk sunbaenim bisa suka padamu, bahkan sampai repot-repot mau membunuh Jeon Jungkook! Aku rasa kau sudah menyihirnya!" seru Jaehyun kesal, dan Jimin masih setia mendengarkan tanpa berniat untuk membalas. "Cepatlah, enyah dari sekolah ini Park Jimin!" seru Jaehyun kesal yang kemudian membuat Jimin melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Jaehyun di koridor sekolah yang baru ia sadari entah sudah sepi sejak kapan.

.

.

.

.

.

BUGH!

"Bangun Jeon Jungkook!" geram Minhyuk mencekeram kerah Jungkook dan memaksanya bangun padahal keadaan Jungkook yang sudah mengenaskan, wajahnya yang lebam dan darah yang keluar di sudut bibirnya. Perlu diketahui, Lee Minhyuk adalah siswa kelas 3-IIC sekaligus ketua club Taekwondo sekaligus seseorang yang sangat menggilai Park Jimin sejak Jimin berada di tahun pertamanya.

BUGH!

"LEE MINHYUK!" seru seseorang yang membuat Minhyuk menoleh dan mendapati Doojoon menatap marah kearah diikuti para anggota dewan siswa yang juga membuntuti si ketua dewan siswa.

"Lihatlah, siapa yang datang untuk menyelamatkanmu, Jeon!" bisik Minhyuk ia membanting tubuh Jungkook yang terkulai lemas dan minim kesadaran yang langsung dijaga ketat oleh teman-teman Minhyuk. Minhyuk menyeringai dan bersiap untuk meladeni si ketua dewan siswa terlebih dahulu.

"Majulah Yoon Doojoon!" tantang Minhyuk. Doojoon hanya diam dan—

Set!

Dengan sigap Doojoon menangkis bogem Minhyuk dan menatap Minhyuk murka.

BUGH!

"Beraninya kau—" Doojoon seketika menghentikan aksinya memukul Minhyuk yang jatuh tersungkur karena pukulannya karena baru saja ia melihat beberapa anggota dewan siswa yang nyaris dipukul saat ia akan melayangkan bogem keduanya. Doojoon berdecak kagum, para anggota club Taekwondo benar-benar luar biasa—banyaknya.

"wae? Kau takut, aku menghancurkan wajah siswi-siswa pintar ini?" tanya Minhyuk remeh. Doojoon pun melepas cengkeramannya dan Minhyuk yang berdiri dan kembali mendekati Jungkook. "Jangan ikut campur urusanku dan pergilah! Aku harus membuat pelajaran pada junior ini untuk tidak membuat Jimin-ku marah seperti semalam!" dan ungkapan Minhyuk itu entah kenapa membuat para siswa yang menatap iba pada Jungkook menjadi berkali-kali lipat membenci Jimin yang selalu menjadi biang masalah di sekolah ini. Bahkan, jika beberapa dari mereka yang mengaku sangat membenci Jimin maka ada beberapa yang menggeram marah saat Minhyuk mengatakan bahwa Jimin adalah miliknya. Dan jauh dari itu, maka ada seorang yang baru saja mendeklarasikan sebagai pembenci Jimin karena telah menjadi penyebab teman karibnya babak belur adalah Jung Jaehyun yang baru saja kembali dan berdiri di samping Yugyeom.

"Bagaimana?" tanya Yugyeom cemas. Jaehyun menggeleng.

"Jangan mengharapkannya! Aku bahkan bertengkar dengannya!" jawab Jaehyun kesal bukan main.

"jinjjayo? Aku sudah menduganya! Dia pasti senang, Jungkook hampir mati seperti ini!" gumam Yugyeom cemas.

Kembali lagi pada Minhyuk yang kini seperti hobi untuk menghancurkan wajah tampan Jungkook dihadapan semua penghuni sekolah.

"Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, tapi kau memilih untuk bermain dengan Jimin lebih jauh. Kau lupa jika aku mengawasimu selama ini, hah?!" gertak Minhyuk tak peduli jika samar-samar Jungkook ingin sekali menutup kedua matanya, tubuh lemas tapi entah kenapa ia ingin bertahan meskipun ia tahu melawan saja tidak bisa.

"Aku tidak mau tahu, kau harus mengembalikan Jimin-ku seperti dulu atau kau—"

Set!

BUGH!

"Jimin?" pekik beberapa siswa memandang takjub pada si perusuh yang entah sejak kapan datang dan menarik tubuh Minhyuk dari Jungkook serta langsung menghantamnya dengan bogem mentahnya. Jimin menarik nafas, bahkan ia sudah mengenakan hoodie dan menutupi kepalanya dengan tudung hoodie tapi kenapa orang-orang tahu jika itu dirinya? Jimin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya memandang Jungkook dan Minhyuk bergantian.

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa terlibat dan lebih parahnya lagi kau selalu membawa-bawa namaku untuk memukul orang. Apa yang salah denganmu sunbaenim? Ayolah, kau jangan mempersulitku dan ikut campur urusanku! Aku tidak habis pikir dengan orang-orang di sekolah ini!" decak Jimin kesal. "Aku peringatkan sekali lagi Minhyuk sunbaenim. Aku tidak pernah merasa tersanjung dengan perlakuanmu. Kau tahu? Aku sama sekali tidak menyukaimu, jadi jangan berharap sikap pahlawanmu ini membuatku yang tadinya tidak suka beralih menjadi membencimu?" lanjut Jimin yang justru membuat Minhyuk terlihat bodoh melihat bagaimana cara bicara Jimin yang selalu membuatnya berdebar. Jimin menatap Minhyuk jijik.

"Kau benar-benar bodoh!" desis Jimin, ia berbalik badan meninggalkan lapangan basket sebelum sebuah suara mengiterupsi langkahnya.

"Kau mau kemana Park Jimin?!" Jimin pun segera berbalik badan dan mendapati guru kesiswaan yang berdiri tak jauh darinya yang juga membuat seluruh siswa menjadi was-was. "Lee Minhyuk, dan kau Park Jimin. Ikut keruanganku! Yoon Doojoon, bawa Jeon Jungkook ke ruang kesehatan! Dan kalian semua! BUBAR!" titah guru itu tegas. Jimin memandang sang guru kosong. Ia menarik nafas, baiklah ia hanya perlu menjalani semuanya dengan baik meskipun ia tahu—ini sangat rumit.

TBC


(-) Wah, Jimin menang banyak, dapet sepaket lengkap dari si kaya (Yoongi), si bijak (Doojoon), sampe si berandal (Minhyuk), kira-kira tambah lagi gak ya? Haha, tambah siapapun juga ntar Jimin jatuhnya sama Yoongi, doain aja ya mereka lambat laun cepet peka, kkkk

(-) Thanks yang ternyata masih pada suport ff ini, Kamsahamnida. Karena kebetulan aku lagi punya ide buat nerusin ff ini. Maap kalau typo masih bertabur bunga dimana-mana.

(-) Okey, udah cukup deh cuap-cuap pada ngantuk ntar, haha... Happy Weekend..

Kamsahamnida,