Previously ...

"Kau mau kemana Park Jimin?!" Jimin pun segera berbalik badan dan mendapati guru kesiswaan yang berdiri tak jauh darinya yang juga membuat seluruh siswa menjadi was-was.

"Lee Minhyuk, dan kau Park Jimin. Ikut keruanganku! Yoon Doojoon, bawa Jeon Jungkook ke ruang kesehatan! Dan kalian semua! BUBAR!" titah guru itu tegas. Jimin memandang sang guru kosong. Ia menarik nafas, baiklah ia hanya perlu menjalani semuanya dengan baik meskipun ia tahu—ini sangat rumit.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku sangat kecewa padamu, Minhyuk-ssi. Kau membawa sertakan seluruh junior dan teman seangkatanmu untuk menggertak Jeon Jungkook, lagi. Apa lagi masalahnya?" tanya guru kesiswaan, Kim Jaejoong setelah membawa Minhyuk dan Jimin ke ruang sidang yang bersebelahan dengan ruang guru.

"Maafkan saya songsaenim, saya salah!" sang guru memijat pelipisnya dan menatap kedua murid nakal-nya bergantian yang kini berdiri di depan mejanya.

"Baiklah, aku tahu kau tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku." ujar guru Kim mengangguk paham untuk tidak membuat muridnya tertekan. "Aku akan memanggil kedua orang tuamu besok, sekarang pergilah! Aku ingin bicara berdua dengan Park Jimin,"

"Tapi, ssaem—" guru Kim memandang Minhyuk tajam.

"Pergi, atau aku akan mengurangi poinmu!" ancamnya. Minhyuk menarik nafas dan menatap Jimin yang masih memandang lurus dan enggan menatapnya.

"Baiklah, selamat sore ssaem." pamit Minhyuk lemas. Ia berbalik badan meskipun sebelum pergi menyempatkan untuk kembali menoleh ke arah Jimin, rautnya menyesal dan merasa bersalah, tidak menyangka bahwa Jimin akan berakhir seperti ini karena dirinya. Dan dengan setengah hati, Minhyuk akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruang sidang meninggalkan Jimin bersama dengan guru Kim.

Sepergian Minhyuk, guru Kim menarik nafas dan menatap Jimin yang terlihat kosong.

"Aku tidak tahu, ada apa denganmu Park Jimin!" guru Kim memulai pembicaraannya. Jimin hanya diam mendengarkan. "Banyak sekali laporan buruk yang masuk tentang dirimu sejak kemarin. Mulai dari kau meninggalkan tugas dalam upacara penyambutan, bermasalah dengan siswa baru, masalah semalam, hingga absennya kau tadi pagi. Kau tahu, sudah berapa poin yang kau langgar? Ditambah lagi, kau juga memukul Minhyuk." tanya guru Kim. Jimin menunduk.

"Maafkan saya songsaenim," lirih Jimin. Guru Kim menghela nafas malas.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar kau jera. Apa kau sengaja melakukannya?" tanya guru Kim curiga.

"Tidak kah ssaem tahu? Sebenarnya lebih dari 80% manusia melakukan tindakannya secara sengaja," jawab Jimin yang membuat guru Kim diam-diam tersenyum kecil membenarkan.

"Lalu?" tanya guru Kim. Jimin menarik nafas.

"Seharusnya saya cukup bersyukur jika selama ini Doojoon sunbae yang selalu memberiku hukuman, bukan anda atau guru-guru lainnya,"

"Kenapa bisa begitu?" tanya guru Kim penasaran. Jimin menatap guru Kim datar.

"Karena—kalian pasti menanyakan soal orang tua." jawab Jimin dan guru Kim yakin kedua mata Jimin sudah berkaca dan menahan air mata. "Maafkan semua kesalahanku. Aku tahu, aku sebenarnya tidak pantas di sekolah ini, dan aku bersyukur mendapat beasiswa disini bahkan masih dipertahankan hingga saat ini. Tapi, bagaimanapun juga aku dan mereka berbeda. Aku dididik di panti asuhan, bukan kedua orang tua kandungku. Maaf jika aku tidak bisa berperilaku baik. Hanya saja, bukankah sangat memalukan saat akhirnya anda mengatakan akan memanggil orang tuaku sementara aku sendiri tidak bisa mengingat wajah mereka? Maafkan aku songsaenim, aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan." guru Kim memandang wajah manis Jimin iba. Di balik wajah datar yang selalu Jimin pasang, guru Kim yakin ada sebersit luka dalam yang tak akan bisa disembuhkan siapapun.

Dan, tanpa mereka sadari ada beberapa pasang telinga yang mendengar percakapan Jimin dan guru Kim. Satu orang yang mendengarnya lewat balik pintu sidang, si ketua dewan siswa yang berniat untuk menjelaskan kronologi kejadian kepada guru kesiswaan. Serta di ruang guru yang bersebelahan dengan ruang sidang, ada tiga siswa yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Jimin dan guru Kim. Ketiga siswa itu saling berpandangan, khususnya seorang siswa tampan berambut hitam memandang penyekat di depannya membuat kedua siswa tampan lainnya ikut menunduk iba karena merasa tidak pantas mendengar apa yang seharusnya tidak mereka dengar.

.

.

.

.

.

Jimin menutup pintu ruang sidang setelah urusannya dengan guru Kim selesai. Dengan malas ia berjalan melangkah menjauhi ruang sidang dan entah akan pergi kemana. Rasanya, pikirannya penuh dengan berbagai kejanggalan yang semakin hari semakin menyesakkan menurutnya.

Tap!

Jimin menghentikan langkahnya saat ia tanpa sadar berada di depan pintu cafetaria. Jimin memandang siswa-siswi yang asik bercengkerama dan bercanda satu sama lain, dan jujur saja membuat Jimin iri melihatnya.

"Ada alasan kenapa semua ini terasa berbeda. Bahkan, aku tidak tahu kenapa aku bisa berakhir berada di tempat ini. Aku iri pada mereka yang hidup seperti diri mereka sendiri, tapi aku? Aku bahkan tidak bisa mengenali siapa aku,"

Jimin menarik nafas, ia kembali melangkah meninggalkan cafetaria dan kini beralih ke ruang kesehatan. Jimin mengintip dibalik jendela bagaimana banyaknya siswa-siswa yang menemani Jungkook dan mengkhawatirkannya. Tidak sepertinya, yang hanya berdiri dengan kedua kakinya seorang diri.

"Ada kalanya aku mencari alasan, kenapa Tuhan masih memberiku kesempatan hidup di saat orang-orang tidak menginginkan kehadiranku. Aku bertanya darimana asal aku dilahirkan. Dan, aku mencoba mengingat tentang masa kecilku, tapi kenapa? Yang aku rasakan justru hanya ada rasa marah dan sesak?"

Jimin memejamkan kedua matanya, dan tanpa sadar kedua matanya mengeluarkan air mata. Air mata kelemahan yang tidak pernah ia tunjukan pada siapapun. Jimin menunduk, terisak dalam diam sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi berlari dari koridor unit kesehatan menuju tempat sepi yang ada hanya dirinya sendiri, tanpa adanya orang lain.

Dan lagi tanpa Jimin sadari, sedari ia keluar dari ruang sidang, banyak pasang mata yang mengawasinya dan melihat bagaimana lemah dan menyedihkannya Park Jimin yang sebenarnya. Para tiga siswa tampan yang baru saja keluar dari ruang guru hingga si ketua dewan siswa yang ditemani oleh keempat temannya. Bahkan, si ketua club taekwondo yang juga diam-diam mematangi Jimin hingga punggung Jimin menghilang dari pandangannya.

.

.

.

.

.

Bruk!

Yoongi menjatuhkan tubuhnya diatas ranjangnya bersamaan dengan Namjoon yang duduk di sofa yang ada di kamar mereka, dan Taehyung yang juga baru datang dan merebahkan tubuhnya di samping Yoongi.

"Ah~ kenapa kita harus mendengar hal semacam ini?" rengek Taehyung menenggelamkan wajahnya di tumpukan bantal di ranjang Yoongi. "hyung!" panggil Taehyung entah pada siapa kata 'hyung' ia tujukan, tapi melihat Taehyung menoleh kearah Yoongi pastilah Yoongi yang ia panggil 'hyung' barusan.

"hyung, kau tidak akan mem-bully JM-Park 'kan?" tanya Taehyung yang entah kenapa terlihat cemas. Yoongi seketika membuka kedua matanya yang terpejam dan menatap Taehyung tak mengerti.

"Memangnya kenapa?" tanya Yoongi berpura-pura tak paham meskipun jauh di lubuk hatinya ia paham maksud dari pertanyaan Taehyung.

"aigoo, hyung—hidupnya itu sudah sulit tidakkah kau memiliki belas kasihan padanya?" sahut Namjoon. Yoongi diam sejenak.

"Memangnya siapa yang akan mem-bully-nya?" tanya Yoongi, Namjoon dan Taehyung tergelak.

"Yak hyung! Di hari pertama kau menggertak JM-Park bahwa kau akan mem-bully-nya!" balas Taehyung tak habis pikir, Yoongi justru terkekeh.

"hm, aku memang menggertaknya. Tapi, aku tidak pernah berniat untuk membully-nya atau bahkan menyakitinya. Kalian tenang saja!" balas Yoongi, berbalik badan dan membelakangi Namjoon dan Taehyung. "Karena entah kenapa, aku berniat untuk menjaganya,"

.

.

.

.

.

"eung~" erang Jungkook akhirnya membuka kedua matanya perlahan dan menangkap beberapa wajah familiar yang tertangkap kedua matanya yang sedikit membengkak, mulai dari Jaehyun, Yugyeom, Seokjin, Hoseok, Doojoon, Jinyoung, dan Minho.

"Kook, kau sudah sadar?" tanya Jaehyun cemas. Samar-samar Jungkook mengangguk.

"Bagaimana, apa yang kau rasakan?" tanya Seokjin lega melihat Jungkook yang akhirnya membuka kedua matanya.

"Tubuhku remuk semua, hyung." jawab Jungkook jujur yang membuat ketujuh orang itu seketika terdiam yang justru membuat Jungkook seolah teringat sesuatu. "em, sunbaenim—apa tadi, Jimin—maksudku Jimin sunbae benar-benar datang dan menghajar Minhyuk sunbae?" tanya Jungkook memastikan ingatan terakhirnya sebelum ia pingsan bukanlah halusinasi semata. Ketujuh orang itu terdiam sebelum akhirnya Jinyoung mengangguk sebagai respon pertanyaan Jungkook.

"Jimin? Benar-benar Park Jimin?" tanya Jungkook takjub. Dan, tidak hanya Jinyoung yang mengangguk, Minho, Yugyeom, dan Seokjin juga ikut mengangguk membenarkan. "Tapi, dimana dia sekarang?" tanya Jungkook raut wajahnya berubah menjadi cemas. "Guru kesiswaan tidak menangkapnya 'kan?" tanya Jungkook yang tetap di balas diam oleh ketujuh orang itu. "Doojoon sunbae!" panggil Jungkook menuntut jawaban dan menatap Doojoon memaksa. Doojoon menarik nafas dan dengan terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Jungkook.

"Pihak sekolah memanggil orang tua Minhyuk untuk datang besok dan Jimin—Kim songsaenim, memutuskan untuk menskors Jimin selama dua minggu!" jawab Doojoon akhirnya.

"mwo?!" pekik Jungkook terkejut. Doojoon menatap Jungkook menyesal.

"Seragam Jimin juga sudah ditahan, ia tidak boleh menggunakan fasilitas sekolah dan tidak diperbolehkan mengikuti semua kegiatan sekolah akademik maupun non-akademik selama dua minggu. Yah, meskipun ia masih tetap harus menjalankan hukumannya!" lanjut Jinyoung, Jungkook menunduk merasa bersalah.

"Tapi, dua minggu lagi kita sudah ujian. Ini semua salahku selalu memancing amarahnya." sesal Jungkook.

"Jangan pikirkan apa-apa, Kook! Sembuhkan dulu lukamu, jika kau ingin bicara dengan Jimin." Saran Doojoon sebelum akhirnya keluar dari bilik di ruang kesehatan diikuti Jinyoung dan Minho yang mengerling kearah Jungkook yang hanya bisa mengangguk pasrah. Jungkook terdiam, diatas ranjangnya. Bukan lagi sakit akibat lebam yang ia rasakan tapi—rasa bersalah yang lebih besar dibandingkan rasa sakitnya.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

Jimin bergelut dibawah selimut kesayangannya. Sedikit membuka matanya perlahan untuk sekedar melirik kearah jam beker yang ada diatas meja nakas di samping ranjang tidurnya. Ini adalah hari ketiga ia menjalani skors menyebalkan yang membuatnya bingung harus melakukan apa jika ia selesai melakukan hukumannya.

Jimin menyibakkan selimutnya, ketiga roomate-nya pasti sudah berangkat ke sekolah. Dan, jujur saja Jimin memang sengaja bangun siang untuk menghindari ketiga roomate-nya terutama Jeon Jungkook. Jimin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan bersiap untuk menuju kolam renang untuk melaksanakan hukumannya seorang diri. Ya, bolehkah Jimin mengumpat? Karena sejak kejadian Minhyuk menghajar Jungkook membuat pihak sekolah sedikit berbaik hati untuk mengurangi hukuman Jungkook, entah mengurangi atau menunda, Jimin tidak peduli.

Selesai mandi, Jimin mengenakan kaos berlengan panjang berwarna putih yang ia padukan dengan jeans berwarna hitam. Tak lupa juga hoodie kesayangannya yang selalu menghangatkannya setiap saat. Sebelum mengenakan hoodie-nya, Jimin mengeringkan rambut cokelat mudanya terlebih dahulu dengan handuk miliknya. Tak sampai kering, Jimin membiarkan rambut setengah basahnya menutupi dahi hingga matanya, mengingat ia lupa memotong rambut.

Jimin menyaut hoodie-nya, mengenakannya seraya membuka pintu kamarnya. Jimin berjalan dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya menuju gedung kedua dimana kolam renang berada. Seolah seperti rutinitas, Jimin merasa bahwa membersihkan kolam renang adalah pekerjaan tetapnya. Ia sudah mulai terbiasa mengerjakan semuanya seorang diri. Tapi, setidaknya ada satu hal yang membuatnya bersyukur karena dua minggu lagi ujian maka dipastikan tidak ada kelas renang bagi semua kelas.

Ngomong-ngomong soal ujian. Jimin harus melakukan sesuatu, karena ia tidak bisa masuk kelas dan ikut pelajaran. Setidaknya, ia harus mempertahankan prestasinya agar pihak sekolah tidak berniat untuk mencabut beasiswanya. Oh ayolah, senakal-nakalnya Jimin, ia masih sangat memikirkan bagaimana nantinya jika pihak sekolah mengeluarkannya. Karena, bisa dipastikan Jimin adalah orang yang beruntung bisa bersekolah di tempat elit seperti ini.

Dengan susah payah, Jimin tetap membersihkan sedikit kotoran yang ada di kolam renang dengan alat pembersih yang sudah disediakan. Biasanya jika dikerjakan bersama Jungkook, hanya memakan waktu tidak sampai dua jam. Tapi, sejak ia mengerjakannya seorang diri membuat Jimin kelelahan sekaligus kesusahan karena waktu yang ia habiskan untuk membersihkan kolam renang memakan waktu lebih lama.

"Butuh bantuan?" tanya seseorang yang membuat Jimin seketika menoleh dan mendapati seniornya yang menjabat sebagai wakil ketua dewan siswa, Jung Jinyoung.

"Jinyoung sunbaenim?" gumam Jimin tak percaya. Jinyoung tersenyum dan meraih alat pembersih lainnya yang biasa digunakan Jungkook.

"Sudah lama tidak melihatmu." ujarnya seraya ikut membantu Jimin membersihkan kolam renang. Jimin hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya.

"Kenapa, sunbae bisa ada disini?" tanya Jimin. Jinyoung mengulum senyum namun tak menoleh kearah Jimin.

"Anggap saja kau sedang beruntung karena malaikat datang menolongmu," dan untuk kali pertamanya Jinyoung melihat Jimin tertawa lepas hingga tanpa sadar menggumamkan kata 'manis' yang keluar dari belah bibirnya begitu saja, beruntung Jimin tidak mendengarnya.

"Jangan mengatakan hal konyol sunbaenim!"

"Aku serius," balas Jinyoung yang dihadiahi tatapan tajam seperti Jimin yang ia kenal selama ini.

"Ya ampun, cepat sekali dia berubah."

"arraseo-arraseo, tidak perlu menatapku seperti itu! Aku sedang malas mengikuti pelajaran Siwon ssaem, kau tahu guru narsis itu 'kan? Dia menyebalkan jika sedang di detik-detik ujian mendekat." Jimin mengangguk membenarkan. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Jinyoung tiba-tiba yang menghasilkan kerutan di dahi Jimin.

"Maksud sunbae?" tanya Jimin tak mengerti.

"Sebentar lagi ujian, kau baik-baik saja?" Jimin terkekeh.

"gwenchana sunbaenim. Aku siswa paling pintar di seluruh angkatan kelas dua. Sunbae tahu itu 'kan?" Jinyoung menatap Jimin ragu.

"Begitukah?" balas Jinyoung. Jimin mengangguk menyakinkan. Namun, semenit kemudian Jimin mengangkat alat pembersih itu dan meletakkannya ke tempat semula.

"Sepertinya sudah bersih, kalau begitu aku pergi dulu sunbaenim!" pamit Jimin membungkukkan badannya dan bergegas pergi namun tak sampai selangkah ia pergi dengan sigap Jinyoung meraih tangannya dan menahannya. "Ada apa sunbaenim?" tanya Jimin yang sejujurnya merasa agak risih saat Jinyoung menahan pergelangan tangannya.

"Kau mau pergi kemana?" Jimin berfikir sejenak, kemudian ia tersenyum.

"Aku tidak boleh menggunakan fasilitas disini selama dua minggu, jadi—menurut sunbaenim aku harus pergi kemana?" Jimin balik bertanya. "Bagaimanapun juga aku harus menyiapkan diri untuk ujian sebelas hari ke depan. Terima kasih sunbaenim, kau sudah membantuku hari ini." dengan sopan Jimin melepaskan tangan Jinyoung dan melesat pergi begitu saja. Jinyoung menarik nafas, entah kenapa sejak kejadian Minhyuk yang menghajar Jungkook membuatnya terus memikirkan juniornya yang malang itu.

.

.

.

.

.

"Tapi, maaf sunbaenim, kau tidak bisa menggunakannya." tolak Jennie pada Namjoon yang kekeuh ingin menggunakan ruang penyiaran untuk kesenangannya pribadi. Namjoon berdecak dan menatap Jennie garang.

"Yak, kau tidak tahu siapa aku?" tanya Namjoon menggertak membuat Jennie menunduk takut. "Aku juga anggota di club penyiaran ini—ani!" pekik Namjoon tiba-tiba, "Aku juga anak pemilik sekolah ini, kau berani menentangku."

"Tapi, sunbaenim—"

"Tenang saja, jika ada yang memarahimu karena kebetulan kau yang berjaga hari ini. Aku—Kim Namjoon, akan melindungimu!" potong Namjoon, Jennie tampak tergiur. "Jadi, pergilah sekarang siswi penurut!" Namjoon mendorong tubuh Jennie hingga Jennie akhirnya berada di luar pintu ruang penyiaran.

Brak!

Dan dengan tidak berprikemanusiaan, Namjoon menutup pintu dengan keras di depan wajah Jennie yang tampak shock.

"oh tidak, bagaimana ini—Seokjin sunbae pasti akan membunuhku!" gumam Jennie menahan tangis.

Lupakan Jennie yang mungkin saja sedang bersembunyi di suatu tempat untuk berjaga jika ada orang yang mencarinya, kembali pada Namjoon yang kini tengah mengotak-atik mesin di ruang penyiaran. Namjoon menyeringai, kemudian ia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dan menyambungkannya dengan kabel speaker yang terhubung dengan seluruh speaker yang ada di sekolahan bahkan di seluruh tiga gedung di RC. Namjoon tersenyum senang, oh ia sangat merindukan hobi lamanya.

Dan, tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, Namjoon menghidupkan radio dan bersiap untuk menyetel lagu yang ada di daftar playlist-nya.

"Lagu pertama, akan dipersembahkan kepada seluruh siswa yang akan menghadapi ujian sebentar lagi. Lagu, yang akan menjadi kembalinya kalian saat liburan nanti," Namjoon terkekeh, oh tidak karena hobinya kembali ia menjadi gila.

Klik!

Namjoon menekan tombol dan mulailah musik yang akan berdentang di seluruh penjuru gedung, lagu dari sang legenda Seo Taiji yang telah di remake ulang oleh boygruop besar bernama BTS, Come Back Home.

Cuz I'm Comin Back Home!

Nan jigeum mueotseul chajeuryeogo aereul sseuneun geolkka

Nan jigeum eodiro swijianko heulleo ganeun-ga

Nan nae salmui kkeuteul bon jeogi ittseo

Nae gaseum sogeun gapgapaejeotsseo

Nae salmeul mageun geotseun

Naui naerie daehan duryeoum

Angry? Hungry? Yes I'm hangry

Maeiri doepuri, miraeun gaeppuri

Naneun eopseotsseo

Geurigo tto naeiljocha eopseotsseo

Dan, jika saat ini Namjoon tengah menikmati lagu yang ia putar sementara berbagai ekspresi para siswa, guru dan seluruh penghuni sekolah yang merasa asing dengan kejadian ini. Beberapa dari mereka menikmati dan beberapa lagi merasa sangat mengganggu. Dan, yang paling merasa mengganggu dan murka adalah si ketua club penyiaran yang sekarang tengah berjalan menuju ruangan darimana asal lagu yang dinyanyikan oleh sekumpulan orang mabuk, begitu menurutnya.

Brak!

"omo!" pekik Namjoon terkejut mendengar dobrakan pintu dan menampilakn si ketua club, Kim Seokjin yang menatapnya seperti pembunuh bayaran yang siap mencincang tubuhnya kapan saja. Dengan sigap Namjoon menutup studio radio dan menghadang jalan Seokjin. Ia tidak mau, lagu kesayangannya dimatikan oleh Seokjin sebelum selesai.

"Apa yang kau lakukan bodoh?!" amuk Seokjin tajam. Dan, untuk pertama kalinya nyali Namjoon menciut hanya karena mendengar bentakan dari Seokjin. Oh ayolah, dari kecil ia tidak pernah dibentak sekalipun, termasuk ayahnya sendiri. Dan Seokjin? Wah, dia pemecah rekor.

"Memangnya apa yang aku lakukan?" balas Namjoon berpura-pura bodoh. Seokjin menatap Namjoon horor.

"Kau masih bertanya apa yang kau lakukan?!" seru Seokjin lagi.

"hey relax—aku tidak menghancurkan studio ini!"

"Tapi, kau menghancurkan sekolah ini bodoh!"

"Aku tidak melakukan apa-apa!"

"Tidak melakukan apa-apa?!" sahut Seokjin kesal bukan main. "Matikan musiknya sekarang!" titah Seokjin penuh penekanan. Namjoon tersenyum miring.

"aniyo!"

"Kau tidak mau?!" Seokjin menatap kedua mata Namjoon menatang.

"Memangnya kenapa jika aku tidak mau mematikannya?" tanya Namjoon membalas Seokjin dan menatap kedua mata indah milik pemuda cantik di depannya.

"Kau mengganggu seluruh siswa yang sedang belajar!"

"oh, aku justru ingin menghibur mereka!" kilah Namjoon.

"Menghibur mereka? Kau justru membuat mereka tidak fokus bodoh!" Namjoon mendesis marah.

"Bisakah kau tidak mengataiku 'bodoh'?"

"Kau memang bodoh!"

"YAK!" seru Namjoon kesal.

"wae?! Kau mau apa? MINGGIR!" titah Seokjin mendorong Namjoon kasar tapi, dan sontak karena perlakuan tiba-tiba Seokjin yang mendorongnya membuat Namjoon dengan spontan menarik tangan Seokjin agar ia tidak terjatuh. Alhasil, justru membuat keduanya terjatuh bersamaan dengan posisi dimana Seokjin yang jatuh diatas tubuh Namjoon dan bersamaan dengan lagu yang awalnya Namjoon putar berganti dengan lagu yang lebih slow, lagu milik Jung Joon Il yang berjudul Hug Me.

Sesaat Seokjin dan Namjoon saling berpandangan, kedua mata mereka yang saling bertemu entah sedang mengatakan apa melalui tatapan intens keduanya. Diam-diam Namjoon menarik senyum tampan melihat bagaimana wajah merah Seokjin yang sangat menggemaskan di matanya. Namjoon terkekeh membuat Seokjin seketika tersadar.

"Apa kau sedang menikmati kesempatan dalam kesempitan?" goda Namjoon dan seketika Seokjin langsung beranjak dari tubuh Namjoon dan entah kenapa menjadi salah tingkah. "Ternyata kalau dilihat lebih dekat, wajahmu cantik juga!"

"YAK!" seru Seokjin, rasa kesalnya sudah kembali. "Aku pria sama sepertimu, jika kau lupa! Aku juga punya benda yang sama di balik celanamu!" Namjoon kembali menyeringai, masih gencar untuk menggoda Seokjin.

"Benarkah? Tapi, aku rasa milikmu tak sebesar milikku!"

"YAK!" pekik Seokjin lagi. Namjoon tertawa puas.

"Apa kau ingin melihatnya dan menyapanya?" tawar Namjoon, wajah Seokjin berubah menjadi semerah tomat.

"Dasar mesum!" Namjoon terkekeh dan dengan jahil ia memajukan wajahnya ke wajah Seokjin membuat Seokjin was-was. Dan, lagi-lagi seolah terkunci dengan tatapan tajam Namjoon, Seokjin tak menolak saat kedua mata mereka bertemu.

"Kau dengar sesuatu?" bisik Namjoon serius, Seokjin menajamkan telinganya.

"Dengar apa?" tanya Seokjin tak kalah serius, diam-diam Namjoon menyeringai.

"Aku mendengar debaran jantung seseorang," goda Namjoon yang sukses membuat wajah Seokjin semakin merah entah karena malu atau marah.

Bugh!

"YAK!" seru Namjoon saat Seokjin menendang tulang keringnya dan pergi begitu saja. Namjoon menatap kepergian Seokjin yang secepat kilat seraya mengelus kakinya yang menjadi sasaran kemarahan Seokjin. "aigoo, dia manis sekali~" gumam Namjoon gemas namun, kemudian ia meringis kesakitan. "Sial, tendangannya tidak main-main!" ringis Namjoon yang meskipun ia kesakitan tapi bukan wajah sakit yang ia tunjukan tapi seperti wajah remaja yang sedang kasmaran.

.

.

.

.

.

Taehyung berlari menelusuri sepanjang koridor lantai delapan untuk menghindari pengejaran gila dari para fans dadakannya. Dengan secepat kilat ia segera masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di ujung lantai karena keadaan mendesak.

Brak!

Cklek!

Taehyung menyandarkan tubuhnya di balik pintu, nafasnya terengah. Namun kemudian, ia sedikit mengintip untuk memastikan keadaan diluar sana. Bibir Taehyung mengerucut lucu, saat melihat segerombolan siswi yang berdecak kesal karena kehilangan jejaknya. Taehyung terkekeh tanpa sadar, namun ia segera membekap mulutnya, takut-takut jika fans dadakannya mendengar suara cicitnya yang kelewat pelan.

Sesaat kemudian, Taehyung mendesah lega setelah kedua matanya mendapati segerombolan siswi yang pergi dengan raut wajah kecewa. Awalnya, Taehyung berniat langsung pergi dari ruangan yang entah tidak ia ketahui ruangan yang entah digunakan untuk apa. Tangan Taehyung terulur meraih kenop pintu namun ia urungkan saat sepasang telinganya mendengar suara merdu yang masuk ke indera pendengarannya. Suara merdu yang melantunkan sebuah nyanyian yang baru ia sadari telah mengalun sejak ia masuk ke ruangan itu.

...

Jul su inneunge I norae bakke eoptta

Gajin goeoragon I mokssori bakke eoptta

Ige neol utkke mandeul sun isseuljji moreujiman

Geuraedo bulleo bonda niga bada jugil barae bonda

I norae bakke eoptta

Jeongmall gajinge I mokssori bakke eoptta

Ige neol utkke mandeul sun isseuljji moreujiman

Geuraedo bulleo bonda

Niga bada jugil barae bonda

Niga bada jugil barae bonda

Plok! Plok! Plok!

Dan tanpa sadar, dengan konyolnya Taehyung bertepuk tangan dengan wajah takjub menatap si pemilik suara merdu yang kini juga menatapnya terkejut. Namun, sedetik kemudian bibir Taehyung kembali mengerucutkan bibirnya ketika merasa familiar dengan si pemilik suara merdu.

"oh—bukankah dia yang bersama JM-Park di lapangan futsal waktu itu?"

"Bukankah kau Kim Taehyung?" tanya seorang pemuda menyadarkan lamunan Taehyung yang masih menatap takjub pada pemuda yang memiliki suara semanis madu.

"ah nde, kau mengenalku?" dan pertanyaan bodoh Taehyung sontak membuat lima pemuda yang ada di ruangan itu terkekeh.

"Siapa yang tidak mengenal anak pemilik sekolah ini," sahut siswa lain seraya tersenyum miring, membuat Taehyung spontan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Tapi, apa yang kau lakukan disini?" tanya seorang siswa yang memiliki rambut yang hampir dipangkas habis.

"em—aku—" Taehyung berfikir sejenak, kiranya alasan apa yang pantas ia ucapkan hingga ia berakhir di tempat asing dalam keadaan canggung seperti ini. Tidak lucu 'kan jika ia mengatakan melarikan diri dari fans dadakannya? yah, meskipun harus Taehyung akui jika nanti fans-nya mungkin melebihi anggota boyband Korea. Ayolah, dia tampan dan kaya siapa yang tidak akan mengaguminya?

"Apa kau mau masuk club paduan suara?" tanya siswa yang berambut merah mencolok. Taehyung seketika menoleh kearahnya dan tersenyum senang.

"nde! Ketua kelasku, memintaku untuk mengikuti kegiatan non-akademik di sekolah ini." jawab Taehyung sumringah.

"Baguslah, kebetulan kami sedang mencari tambahan orang untuk festival mendatang!" sahut siswa yang bername tag Do Kyungsoo siswa kelas 3-IR, yang sekaligus ketua club paduan suara.

"Jadi, apa aku langsung diterima?" tanya Taehyung.

"aniyo, kami harus mengetesmu!" sahut siswa bername tag Nam Woohyun yang secara kebetulan satu kelas dengan Yoongi. Dahi Taehyung berkerut tak mengerti.

"Kau bisa menyanyi 'kan?" tanya siswa berambut merah, Byun Baekhyun yang juga siswa kelas tiga. Taehyung mengangguk asal.

"Jadi, tunggu apa lagi—cepat bernyanyi!" titah siswa bername tag Yoo Kihyun. Taehyung mengerjapkan kedua matanya menatap keempat siswa kelas tiga yang tengah mendesaknya.

"Sekarang?" tanya Taehyung memastikan.

"Nanti, setelah kau lulus!" balas Kyungsoo sarkas. "Tentu saja sekarang!" lanjut Kyungsoo kesal. Taehyung berdehem, ia belum menyiapkan apa-apa bahkan ia juga tidak tahu harus menyanyikan lagu apa di depan kelima siswa itu.

"Apa yang harus aku nyanyikan?" tanya Taehyung polos yang lagi-lagi membuat kelima siswa itu terkekeh.

"Kau belum menyiapkan lagu yang ingin kau nyanyikan tapi ingin masuk ke club ini?" tanya Kyungsoo.

"A-aku tidak tahu jika ada tes seperti ini!" kilah Taehyung.

"Nyanyikan saja, lagu Big Bang-If You!" sahut siswa yang membuat Taehyung seolah terhipnotis saat mendengar suaranya, satu-satunya siswa yang masih duduk di kelas satu yang berada di ruangan itu, Jeon Jungkook. Dan, tanpa menunggu waktu lagi, Taehyung langsung merespon dan menyanyikan lagu If You milik Big Bang hingga selesai.

"Wah, suaramu tidak begitu buruk." puji Woohyun.

"Tentu saja. Siapa yang akan meragukan kemampuan multitalent seorang Kim Taehyung?"

"hm, suara beratmu terdengar sangat seksi!" puji Baekhyun. Taehyung tersipun malu.

"Tentu saja. Bernyanyi atau tidak suaraku memang sudah seksi!"

"Bagaimana menurutmu, Kyung?" tanya Kihyun meminta pendapat pada si ketua club. Kyungsoo berfikir sejenak dan kemudian menoleh kearah Jungkook.

"Apa dia bisa membantumu?" tanya Kyungsoo. Jungkook tampak menimbang.

"nde sunbaenim. Aku rasa, dia memiliki suara yang aku cari!" jawab Jungkook. Kyungsoo mengangguk paham, dan Taehyung diam-diam bersorak girang mendengar Jungkook yang ternyata sedang mencari suara berat dan seksi sepertinya.

"Baiklah, mulai hari ini kau diterima sebagai anggota club paduan suara." putus Kyungsoo yang membuat kedua mata Taehyung berbinar. "Dan, juga kau bisa memulai hari ini bersama Jungkook!"

"nde?" Taehyung membulatkan kedua matanya. "Tapi, bukankah dia masih kelas satu?" tanya Taehyung, keempat siswa itu terkekeh.

'hm, dia memang masih kelas satu. Tapi, dia jauh berada diatasmu. Dan, maka dari itu Jungkook yang akan memberikan arahan untukmu apa yang harus kau lakukan pada festival mendatang. Kau memang pemula, tapi kau harus ikut."

"Tap-tapi, aku—"

"gwenchana, club kita akan menjadi pemenangnya jika kau ikut berpartisipasi dalam festival nanti." Sahut Woohyun.

"Pemenang?" gumam Taehyung tak mengerti. Keempat siswa kelas tiga itu menggelengkan kepalanya setelah melihat bagaimana konyolnya seorang Kim Taehyung.

"Dia masih siswa baru, tampaknya kau harus menjelaskan banyak padanya, Kook!" sahut Baekhyun menepuk pundak Jungkook yang tersenyum manis.

"nde, serahkan saja padaku sunbaenim."

"arraseo, kalau begitu kami keluar dulu. Ada banyak hal yang harus kami urus! Kau harus giat latihan, okey?" pesan Kihyun. Jungkook mengangguk.

"oh sunbaenim!" panggil Jungkook sebelum keempat seniornya pergi meninggalkannya bersama Taehyung. "Aku belum memutuskan lagunya,"

"Tenang saja, nanti malam aku akan memberikan daftar lagu bagus yang harus kau pilih." jawab Woohyun, Jungkook kembali mengangguk dan akhirnya membiarkan keempat seniornya pergi meninggalkannya bersama Taehyung yang masih memajang wajah polosnya. Diam-diam Jungkook tersenyum manis, saat mengingat bagaimana respon Taehyung setelah ia selesai menyanyi tadi.

.

.

.

.

.

Yoongi duduk di bangku yang ada di atap sekolah dengan kedua matanya yang terpejam. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya sekaligus lagu-lagu yang masih terputar di seluruh penjuru gedung sekolah. Diam-diam, Yoongi tersenyum kecil. Tanpa mencari tahu-pun ia sudah tahu siapa yang menyetel lagu-lagu itu. yap, siapa lagi jika bukan Kim Namjoon, pria berotak cerdas dan seksi—itu sih, kata Namjoon sendiri

Krak!

Yoongi membuka kedua matanya saat mendengar pijakan yang entah darimana berasal Merasa bahwa ia tidak seorang diri berada di atap itu, Yoongi mengedarkan pandangannya dan berfikir sejenak. Siapa kiranya orang yang suka berada di tempat yang tinggi seperti ini. Yoongi pun beranjak dari duduknya, hanya karena penasaran hingga tiba-tiba ia harus menghentikan langkahnya saat melihat siluet seorang pemuda yang mengenak hoodie kebesaran yang melingkupi tubuh mungilnya.

Yoongi tersenyum senang, merasa tahu siapa si pemakai hoodie yang tengah duduk dengan kedua matanya yang terpejam damai. Sejenak, Yoongi menatap wajah manis itu sebelum memutuskan untuk menghampirinya dan duduk di sampingnya tanpa berniat untuk mengeluarkan sepatah kata pun yang mungkin saja bisa mengganggunya. Dan, baru saja Yoongi mendaratkan pantat seksinya si pemakai hoodie langsung membuka kedua matanya dan menatap terkejut dengan keberadaan Yoongi yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya terlihat panik. Yoongi terkekeh dan memberanikan diri untuk menatap kedua mata indahnya.

"Apa yang aku lakukan disini? Ini sekolahku, jadi bukankah itu pertanyaan konyol?" sarkas Yoongi. Pemuda yang sedang mengalami skorsing itu mendesah menahan amarah.

"arraseo, aku akan pergi!" mendengar pemuda manis itu hendak pergi, sontak membuat Yoongi berfikir cepat dan tanpa menunggu waktu lagi, ia tiba-tiba saja menjatuhkan kepalanya di pangkuan pemuda manis yang tak lain adalah Park Jimin. Jimin yang mendapati kepala Yoongi yang dengan seenak hatinya tidur di kedua pahanya seraya memejamkan kedua matanya tanpa merasa bersalah hanya bisa mendesis marah.

"Biarkah seperti ini, beberapa menit saja." pinta Yoongi dan setelah hanya dengkuran yang Jimin dengar. Jimin menghela nafas dan memandang wajah tampan Yoongi yang terpejam. Entah kenapa ia harus berurusan dengan siswa baru yang merangkap sebagai anak pemilik sekolah. Oh, ini sepertinya kutukan, bagaimana bisa ia selalu dikelilingi orang aneh meskipun ia sedang tidak masuk sekolah. Tapi, tunggu—bukankah ia masih berada di lingkup sekolah.

Hanya melihat Yoongi yang memejamkan matanya membuat Jimin bosan menunggu kapan kiranya anak si pemilik sekolah itu bangun dan enyah dari hadapannya. Dan tanpa harus Jimin tahan, rasa kantuk mulai menyerang terlebih angin semilir dan setelan lagu mellow yang seolah menjadi pengantar tidurnya.

Jimin menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya membuat jarak wajahnya dengan wajah Yoongi semakin dekat. Perlahan, Yoongi membuka kedua matanya saat merasa sinar matahari tak lagi membakar wajah tampannya. Yoongi tersenyum kecil, jika dilihat lebih dekat wajah Jimin berkali-kali lipat lebih manis dan cantik. Apalagi, bibirnya—oh, Yoongi ingin sekali mencicipinya. Dan perlu diketahui, ini adalah kali pertamanya Yoongi tertarik pada bibir seseorang.

Dengan lembut, Yoongi mencoba bangkit dari paha Jimin tanpa mengusik pemuda yang terlihat lelah itu. Yoongi tersenyum kecil dan membawa tubuh Jimin perlahan untuk berganti tidur di pangkuannya. Oh, jika dipikir-pikir bukankah Yoongi terlalu banyak tersenyum hanya karena berada di dekat pemuda Park itu? Entahlah, Yoongi juga tidak tahu pasti kenapa ia bisa mudah tersenyum hanya karena melihat wajah dingin Jimin yang hampir tidak pernah tersenyum saat bertemu dengannya.

Yoongi mematai wajah manis Jimin yang terlelap di pangkuannya. Sesaat kemudian, Yoongi melepas jas almamater yang ia gunakan dan menyelimutinya ke tubuh Jimin. yah, entah kenapa menurut Yoongi meskipun Jimin menggunakan hoodie besar tapi Yoongi yakin bahwa tubuh Jimin tidak sebesar kelihatannya.

"jja, tidurlah. Aku menjagamu, kau tahu?" bisik Yoongi tak peduli jika Jimin mendengarnya atau tidak bersamaan dengan Jimin yang menggeliat kecil, mencari posisi nyaman dipaha Yoongi yang ia jadikan bantal.

.

.

.

.

.

"Jadi, apa maksud festival mendatang itu?" tanya Taehyung pada Jungkook yang entah sibuk menerjakan apa pada kertas-kertas di tangannya. Saat ini, keduanya masih berada di ruangan yang sama, Taehyung dan Jungkook yang saling duduk berhadapan dengan Jungkook yang sibuk menulis sesuatu dan Taehyung yang hanya mematainya atau mengganggunya dengan berbagai pertanyaan yang tidak ia ketahui tentang sekolah yang dibangun ayahnya.

"Itu adalah kegiatan tahunan yang diadakan sekolah, biasanya diadakan sebelum atau sesudah ujian kenaikan." jawab Jungkook tanpa menatap Taehyung.

"Tapi, apa maksudnya dari pemenang?" tanya Taehyung lagi. Jungkook menarik nafas sabar, ia meletakkan pena dan kali ini menatap Taehyung serius.

"Apa kau tidak pernah bertanya pada ayahmu?"

"yak, aku ini juga seniormu—kenapa kau tidak memanggilku 'sunbae' seperti senior yang lain?"

"Kau ingin aku memanggilmu 'sunbae'?" Taehyung mengangguk polos. Jungkook mendecih. "arraseo sunbaenim!" balas Jungkook penuh penekanan dan Taehyung tersenyum puas.

"Jadi? Kau belum menjawab pertanyaanku!" tuntut Taehyung lagi.

"Baiklah, bertanyalah sebanyak yang kau inginkan," Jungkook menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. "Jadi, festival itu diadakan oleh setiap club yang ada di RC. Tidak semua club yang bisa mengadakan festival. Hanya club yang disetujui oleh pihak sekolah yang bisa mengadakan festival ini."

"Memangnya apa keuntungannya?" Jungkook berfikir sejenak.

"Semisal, semua club yang ada di RC mengajukan proposal pada pihak sekolah untuk mendapat persetujuan dari mereka, dan club yang disetujui akan mendapat dana besar dari sekolah tahun ajaran baru nanti. Itu artinya club akan mengalami perkembangan kedepannya untuk mengasah bakat para anggota mereka."

"Lalu, jika tidak disetujui?"

"Ya, otomatis club itu harus bekerja keras secara manual." terang Jungkook. "Maksudnya begini, keuntungan dari festival ini adalah kita tidak perlu mencari dana karena pihak sekolah yang akan memberikannya kepada club itu dan sebaliknya, jika pihak sekolah tidak menyetujui proposal dari sang ketua club maka seluruh anggota club harus bekerja keras untuk mendapat dana dari club yang mereka ikuti, entah dari orang tua mereka atau dari siapapun." Taehyung mengangguk paham.

"Lalu, maksud dari pemenang?"

"Ah~ tahun ini, ada lima club yang ikut festival, yaitu club dance, musik, taekwondo, teater dan paduan suara. Kau tahu istilah dari pemenang bukan?" tanya Jungkook, Taehyung mengangguk.

"Jika kau menang, kau akan mendapat hadiah?" balas Taehyung ragu, Jungkook mengangguk membenarkan.

"Selain mendapat dana dari sekolah, jika nanti salah satu dari lima club ini dinyatakan mendapat poin tertinggi dan menjadi pemenang, sekolah akan memberikan hadiah luar biasa kepada seluruh anggota club-nya, entah itu fisik atau pun non-fisik." jawab Jungkook. "Tahun lalu, club taekwondo yang memenangi festival. Dan, aku dengar club mereka mendapatkan hadiah liburan di Hawai."

"Satu club?" Jungkook mengangguk.

"Seluruh anggota club. Mereka liburan kesana, secara gratis. Dan, setelah masuk ajaran baru club taekwondo langsung memiliki member terbanyak dari club lainnya. yah, itulah keuntungan dari pemenang."

"Lalu, menurutmu bagaimana dengan tahun ini?" Jungkook berfikir sejenak.

"Entahlah, pihak sekolah belum mengumumkan apa hadiah tahun ini. Aku harap lebih luar biasa dari tahun kemarin karena, semakin bergantinya hari, bulan bahkan tahun kemampuan seluruh siswa tidak bisa dianggap remeh. Tapi, ada dua club yang membuatku takjub." balas Jungkook membuat Taehyung mengeryitkan dahinya penasaran. "Club musik dan dance, mereka selalu ikut festival setiap tahun. Seolah seperti festival rutin mereka. Meskipun, kadang-kadang mereka bukan pemenanganya tapi kemampuan mereka selalu meningkat. Dan, aku sangat penasaran dengan konsep mereka tahun ini."

"Lalu, bagaimana club kita?" Jungkook menyeringai.

"Tenang saja, kita sudah menyiapkan perform yang luar biasa. Kau percaya itu?" tanya Jungkook penuh teka-teki yang hanya dibalas gelengan polos dari Taehyung.

TBC


(-) Maaf yak, karena baru bisa update hari ini. Dan, semoga lanjutannya memuaskan yak, maap kalau typo masih bertebaran.

(-) Dan maap belum ngasih moment VKook, maklum mereka lagi tahap perkenalan dulu, kkkk.

Udah ah, gak mau banyak cuap-cuap... See you in next chapter reader-nim.

Kamsahamnida,