Jimin menarik nafas lelah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi tak juga membuatnya bergegas pergi tidur dan meringkuk nyaman di atas tempat tidurnya. Justru, Jimin lebih memilih menikmati angin tengah malam yang menyengat di balkon kamarnya, seorang diri.

"aish, kenapa dia membuatku sulit seperti ini." rengek Jimin kesal. "Dia pasti sengaja meninggalkan jasnya. wah~ tidak mungkin 'kan aku tidak mengembalikannya. Tapi—ah~ aku benar-benar malas melihat wajahnya."

Jimin mendongak dan menatap langit-langit malam yang kebetulan pada saat itu bertabur banyak bintang.

"wah~ sudah lama aku tidak duduk tengah malam seperti ini." gumam Jimin tersenyum hangat. Jimin menarik kakinya dan kemudian memeluk kedua lututnya.

"Apakah diantara bintang itu, ada yang bisa memberitahuku tentang masa laluku? Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun." gumam Jimin bertanya pada bintang di langit. "Bisakah, kalian mengirimkan pesan pada orang yang sudah membuatku lahir di dunia ini? Katakan padanya, aku kesepian dan kedinginan. Aku tidak berterima kasih padanya karena sudah melahirkanku. Karena aku lelah sendirian." Jimin menghela nafas. "Aku ingin keluar." gumamnya kemudian menunduk dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.

Dan tanpa Jimin sadari, ada tiga orang yang sedari tadi mendengar curahan Jimin pada bintang. Tiga orang yang merupakan roomate Jimin yang selalu Jimin hindari meskipun mereka bersitatap sengaja atau pun tidak. Ketiganya saling berpandangan.

"Kapan kita mengatakan semuanya padanya, hyung?" tanya Jungkook.

"Kau ingat 'kan apa kata dokter tentang kondisinya?" tanya Seokjin. Jungkook terdiam.

"Kita menceritakannya atau tidak. Itu tetap akan membahayakan dirinya." sambung Hoseok.

"Akan lebih baik, perlahan-lahan kita mendekatinya sebagai teman. Bukan sebagai junior, senior, atau pun seorang rival. Dengan begitu, dia tidak akan terkejut jika sewaktu-waktu dia ingat semuanya atau pada saat kita sendiri yang menceritakannya." saran Seokjin bijak yang hanya bisa diangguki oleh Jungkook.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Ckiiiiiiiit!

BRAK!

BOOOM!

Jimin sontak terduduk dari tidurnya ketika sebuah mimpi buruk yang selalu datang ketika ia memejamkan kedua matanya. Jimin terengah, keringat mengucur di seluruh wajah manisnya.

"Mimpi buruk?" tanya seseorang yang membuat Jimin seketika mendongak dan mendapati seniornya yang berdiri di depan pintu kaca yang menjadi penyekat antara ranjang-ranjang dengan penghuni kamar yang lain. Oh, Jimin baru ingat karena terlalu mengantuk ia lupa menutup tirai biliknya. Jimin hanya terdiam, saat seniornya hanya menatapnya dari luar. Kemudian, ia berlalu dari bilik Jimin begitu saja.

Klik!

Jimin tersentak ketika sang senior yang memasuki biliknya seraya membawakan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap tipis.

"jja, minumlah." titahnya memberikan secangkir teh hangat yang ia bawa kepada Jimin. Jimin menerimanya tanpa penolakan dan setelah menyesap sedikit, spontan sang senior yang tak lain adalah Kim Seokjin itu mengambil cangkir teh dari tangan Jimin.

"Sudah lebih baik?" tanya Seokjin memastikan. Jimin hanya mengangguk sekilas dan menatap Seokjin datar.

"Kenapa sunbae belum tidur?" tanya Jimin. Seokjin menghela nafas.

"oh, biasa insomnia." jawab Seokjin sekenanya. Setelahnya, hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Jimin yang merasa tak begitu dekat dengan sang senior dan Seokjin yang bingung harus membicarakan tentang apa lagi.

"em.. apa kau mau melanjutkan tidurmu?" tanya Seokjin kemudian. Jimin diam sejenak.

"Entahlah, sunbaenim. Mungkin, aku akan tidur jika aku mengantuk." jawab Jimin. Seokjin mengangguk dan tersenyum.

"Sekarang jam tiga pagi, apa kau mau jalan-jalan keluar?" tawar Seokjin, Jimin menatap Seokjin menimang, kiranya menerima tawaran Seokjin atau tidak.

"Bagaimana, kau mau?" tanya Seokjin memastikan pada Jimin yang hanya diam saja. Jimin menarik nafas sebelum akhirnya mengangguk menyetujui tawaran Seokjin.

.

.

.

.

.

Setelah menerima tawaran Seokjin untuk menikmati udara pagi atau hanya sekedar jalan-jalan meski dalam keadaan canggung, tapi setidaknya Jimin sedikit menikmati udara sejuk yang cukup menenangkan hatinya.

Jimin dan Seokjin berjalan beriringan melewati lapangan panahan. Jimin yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie yang ia kenakan sementara Seokjin yang menyatukan kedua tangannya berfikir bagaimana caranya agar ia bisa berbicara akrab dengan salah satu roomate-nya itu.

"Apa sunbae selalu pergi keluar jika tidak bisa tidur?" tanya Jimin memecah keheningan. Sungguh, sebenarnya ia tidak begitu ingin mengetahui kebiasaan orang lain. Tapi, mengingat ia sedang tidak sendiri saat ini, bukankah alangkah baiknya jika ia menganggap keberadaan orang lain suka maupun tidak? Lagi pula, sebelumnya ia sudah bersedia untuk berjalan keluar bersama Seokjin. Jadi, Jimin merasa tak enak hati jika ia hanya diam saja karena ia tahu Seokjin pasti merasa canggung berada di dekatnya.

"Aku hanya keluar jika aku ingin. Tapi, saat aku melihat kau sedang mimpi buruk—mungkin, kau mau menghirup udara segar. Udara pagi, sangat cocok untuk paru-paru kita." balas Seokjin. Jimin menunduk diam. "Jika boleh tahu, apa yang kau mimpi-kan? Kau terlihat sangat ketakutan." Jimin tak kunjung menjawab, hal itu membuat Seokjin merasa bersalah karena merasa membuat Jimin tak nyaman. "Maaf aku tidak bermaksud unt—"

"Aku selalu memimpikan hal yang sama sejak aku berumur 11 tahun. Mimpi—yang seolah pernah aku alami sebelumnya, itu membuatku merasa seperti deja vu." potong Jimin akhirnya. Seokjin terdiam, dan refleks ia menghentikan langkahnya begitu pula dengan Jimin yang kini menatap Seokjin tak mengerti.

"Jadi, apa kau sering mengalami hal seperti tadi?" tanya Seokjin. Jimin mengangguk kecil.

"Tapi, ini adalah kali pertama ada orang yang melihatku terbangun akibat mimpi burukku."

"Kau bisa cerita padaku jika kau ingin."

"Apa yang harus aku ceritakan?" tanya Jimin menohok membuat Seokjin salah tingkah. Jimin tersenyum kecil. "Aku tidak pernah menceritakan apapun kepada orang lain. Meskipun, orang itu adalah teman sekamarku. Ada batasan yang tidak harus semua orang ketahui. Dan, maaf sunbaenim. Aku hanyalah juniormu, aku rasa kau paham maksudku!" Seokjin mengangguk mengerti.

"mianhae, aku—"

"Jiminie?" kedua orang itu menoleh ketika sebuah suara serak memanggil nama Jimin dengan akrab. Mendengar namanya dipanggil dengan suara yang ia kenal, Jimin pun tersenyum senang dan langsung membungkukkan badannya, menyapa.

"Selamat pagi, paman!" sapa Jimin ramah. Berbeda dengan Jimin berbeda pula dengan Seokjin yang tak mengenal siapa pria paruh baya yang memanggil Jimin dengan nama kecilnya yang terdengar sangat akrab. Seokjin menatap Jimin dan pria itu bergantian.

"annyeongasseo..." sapa pria itu membungkukkan badannya dihadapan Seokjin membuat Seokjin tersadar dan membalas membungkuk untuk menyapa.

"Apa yang paman lakukan pagi-pagi seperti ini?" tanya Jimin membuat sang pria paruh baya yang semula menatap Seokjin teliti kini beralih menatap Jimin yang tersenyum ramah dan manis padanya. Dan, sungguh—ini adalah kali pertama Seokjin melihat wajah Jimin yang ramah, bersahabat dan senyumnya yang sangat manis jauh berbeda dengan wajah datar dan dingin yang selama ini Jimin tunjukkan setiap harinya.

"Seharusnya, paman yang bertanya padamu, nak. Apa yang kau lakukan pagi-pagi disini?' tanya pria itu. Jimin tersenyum manis.

"Hanya menghirup udara segar, paman." jawab Jimin sekenanya.

"aigoo, Jiminie—kau bisa sakit jika keluar pagi-pagi buta seperti ini." pria itu mengelus surai Jimin lembut yang langsung dibalas gelengan pelan dari Jimin.

"Bahkan, paman ini terlihat begitu dekat dengan Jimin. Tapi, kenapa sulit sekali bagi kami untuk mendekatinya?"

Seokjin menatap pria paruh baya itu dengan tatapan iri. Kemudian, ia menarik nafas dan kembali menatap Jimin yang masih menunjukkan senyum manisnya yang terus muncul saat ia berbicara dan bergurau dengan pria yang Jimin panggil dengan sebutan 'paman' itu.

"Melihatnya tersenyum setelah sekian lama, aku jadi merindukan Jimin kecil. Oh Tuhan, kenapa kau membuat semua ini bertambah rumit?"

"sunbaenim, apa kau mau ikut ke kandang kuda?" tanya Jimin, Seokjin membulatkan kedua matanya terkejut.

"mwoya?" pekik Seokjin tanpa sadar membuat pria paruh baya itu terkekeh dan Jimin yang mengulas senyum kecil.

"Jika tidak, sunbaenim bisa kembali lebih dulu ke kamar. Aku ingin membantu paman Kang untuk menyiapkan makanan kuda." Seokjin mengerjapkan kedua matanya menatap Jimin tak mengerti. Menyiapkan makanan kuda? Jadi, paman yang menyapa Jimin adalah pria yang bekerja untuk merawat kuda-kuda sekolah.

"ah, Jiminie—kau tidak perlu repot-repot begitu. Kau sudah banyak membantuku selama ini." tolak paman Kang tak enak hati. Jimin menggeleng.

"Tidak paman. Aku senang membantu paman."

"Tapi Jiminie—"

"sunbae ikut atau tidak?" Jimin mengabaikan paman Kang yang menolak bantuannya dan memilih untuk memastikan Seokjin yang kini tengah berfikir keras. Seokjin menahan nafas sebelum akhirnya mengangguk kaku.

"hm, baiklah. Aku ikut," putusnya. Jimin mengangguk dan kembali menoleh kearah paman Kang.

"Paman Kang, dengar? Ada yang membantu kali ini," Jimin melirik kearah Seokjin sekilas yang justru membuat paman Kang semakin merasa tak enak hati. Terlebih saat tanpa sengaja paman Kang yang melihat Seokjin mengigit bibirnya dan memejamkan kedua matanya serta menunjukkan raut terpaksa. Oh tidak, ia tahu tanda-tanda wajah itu.

.

.

.

.

.

Seokjin menutup hidungnya seraya berlari keluar kandang kuda. Ia benar-benar tidak tahan dengan bau kotoran kuda yang menusuk hidung. Wajah Seokjin memerah, ia bahkan mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Seokjin menoleh ke dalam kandang kuda dan mematai Jimin yang dengan senang hati memberikan makanan kuda tanpa merasa terganggu dengan bau kotoran kuda yang belum sempat dibersihkan. Seokjin mengeryitkan dahinya dan bergidik ngeri. Ia heran, bagaimana bisa Jimin terlihat tenang-tenang seperti itu dan tidak merasa jijik sama sekali?

"Apa anda baik-baik saja?" tanya paman Kang menghampiri Seokjin. Seokjin tersentak dan refleks menjaga jarak dari paman Kang dan mengangguk cepat. Namun, kemudian Seokjin mengeryit heran ketika untuk pertama kalinya menyadari cara bicara paman Kang pada Jimin dan dirinya jauh berbeda. Saat paman Kang bicara pada Jimin terlihat seperti keponakan dan pamannya sementara dirinya seperti antara tuan muda dan salah satu pekerja di rumah besarnya, benar-benar terlihat canggung dan segan.

"nde, saya baik-baik saja."

"Seharusnya, anda tidak perlu menerima tawaran Jimin untuk kemari."

"Tidak—tidak apa, paman. Aku tidak apa, sungguh!" paman Kang hanya mengangguk percaya.

"Apa anda teman dekat Jiminie?" tanya paman Kang setelah keheningan menyelimuti keduanya.

"nde?" sahut Seokjin agak terkejut dengan pertanyaan yang paman Kang lontarkan padanya secara tiba-tiba.

"Saya tidak pernah melihat Jimin bersama siswa-siswi di sekolah ini," lanjut paman Kang, membuat Seokjin kembali melirik Jimin yang kini tengah berjongkok entah untuk apa.

"Saya teman satu kamarnya." jawab Seokjin. Paman Kang mengangguk paham. "Apa Jimin sering kemari?" tanya Seokjin penasaran. Paman Kang mengulas senyum.

"Setiap hari."

"Setiap hari?" ulang Seokjin membulatkan kedua matanya.

"Jimin setiap hari membantuku dan seluruh pekerja di sekolah ini."

"Benarkah?" paman Kang mengangguk. Seokjin berfikir sejenak dari kata setiap hari yang baru saja paman Kang lontarkan.

"Tapi, bagaimana bisa Jimin setiap hari membantu mereka. Pihak sekolah 'kan tidak mengijinkan siswa untuk—"

Seokjin seketika menoleh kearah Jimin yang terlihat masih betah berlama-lama di dalam kandang kuda bahkan sesekali ia juga mengelus kepala kuda dan berbicara pada kuda-kuda yang sudah dijinakkan itu. Pandangan Seokjin berubah menjadi nanar, ketika ia melihat senyum Jimin yang mengembang tanpa beban hanya karena mengelus kepala kuda peliharaan sekolah.

"Tidak mungkin, dia melakukannya secara sengaja."

.

.

.

.

.

Klik!

Jimin keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kumalnya yang lupa ia cuci. Sesekali ia menguap seraya berjalan masuk ke dalam bilik ranjangnya. Dengan asal, ia melempar handuknya ke atas ranjang setelah dirasa rambutnya cukup kering. Kemudian, Jimin pun meraih kemeja biru-nya yang sudah ia siapkan sebelumnya. Pagi itu, kamarnya sudah sepi. Ia yakin, tiga roomate-nya pasti sudah berangkat ke gedung utama untuk menuntut ilmu mengingat jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.30.

Setelah mengenakan kemejanya dan menyaut hoodie kesayangannya, Jimin merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup tirai biliknya dan keluar dari bilik ranjang tempatnya tidur.

"Eh?!" pekik Jimin terkejut ketika ia menutup pintu kaca pada biliknya dan saat berbalik badan mendapati salah satu roomate-nya yang ternyata masih berada di kamar mereka meskipun ia sudah mengenakan seragam sekolahnya.

"Kau mau pergi?" tanyanya basa-basi. Jimin hanya mengangguk sekenanya.

"Apa ada yang ingin sunbae bicarakan padaku?" Jimin balik bertanya dan menatap Hoseok—roomate Jimin yang tiba-tiba muncul di hadapannya— yang terlihat diam dan menatap Jimin ragu sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan maksud dirinya yang sengaja menunggu Jimin sedari ia bangun.

"Itu—sebenarnya,..." Hoseok menarik nafas, dalam hati ia merutuki seluruh rekan club-nya yang dengan seenak jidat mereka menyuruhnya untuk berbicara dengan Jimin. Apalagi, saat mereka semua membawa-bawa wewenangnya sebagai ketua club dance dan juga mengatasnamakan sebagai roomate Jimin. Ingatkan Hoseok untuk menghukum seluruh rekan club-nya satu persatu, menyebalkan!

Hoseok berdehem, sementara Jimin masih sabar menunggu kelanjutan maksud ucapan Hoseok yang menggantung. Hoseok menarik nafas dan menatap Jimin tak enak hati.

"Kau tahu bukan, club kita telah disetujui sekolah untuk ikut festival mendatang?" tanya Hoseok. Jimin hanya mengangguk. "Dan, maka dari itu—kami sangat membutuhkan bantuanmu." lanjut Hoseok. Jimin mengerjapkan kedua matanya kemudian ia tertawa kecil.

"ah, festival itu—Jongin sunbae sudah memberitahuku beberapa hari yang lalu. Tapi, maaf sunbaenim sepertinya aku tidak bisa membantu apa-apa." tolak Jimin langsung, dan Hoseok tentu saja sudah menduga hal ini pasti terjadi. "sunbaenim, tentu tahu bukan aku sedang di skors. Aku tidak bisa ikut serta berpartisipasi apapun dalam kegiatan di sekolah. Maafkan aku!" Jimin membungkukkan badannya merasa bersalah.

"Tapi—kami semua—"

"sunbaenim." potong Jimin cepat. "Kau tahu bagaimana peraturan di sekolah 'kan? Aku tidak mungkin melanggarnya." lanjut Jimin, membuat Hoseok menatap Jimin aneh.

"Tidak mungkin melanggarnya? Apa dia sedang bercanda? Bukankah, dia sering melanggar peraturan sekolah?"

"Tapi, kami benar-benar membutuhkan bantuanmu," pinta Hoseok lagi. Jimin menarik nafas.

"sunbaenim, jika aku bersedia pun apa yang harus aku lakukan? Sekolah tidak akan mengijinkanku untuk ikut." balas Jimin masuk akal. "Maafkan aku sunbaenim. Aku tidak bisa berpartisipasi untuk festival tahun ini," sesal Jimin, ia menunduk dan berlalu dari hadapan Hoseok. Hoseok berdiri diam, memutar otaknya dan tanpa perkiraannya ia segera berbalik badan dan berseru—

"Park Jimin!" memanggil Jimin yang sudah memegang kenop pintu kamar mereka dan refleks membuat Jimin tak langsung memutar kenop pintu itu. "Bagaimana jika aku mendapat ijin dari pihak sekolah untuk mengikutsertakan dirimu?" tanya Hoseok, Jimin berbalik dan menatap Hoseok menantang.

"Lakukan, jika kau bisa sunbaenim. Aku akan dengan senang hati menuruti apa yang kau mau. Tapi aku rasa itu mustahil untuk dilakukan!" remeh Jimin tersenyum miring, kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, Jimin memutar kenop pintu, keluar dari kamarnya dan meninggalkan Hoseok seorang diri.

Hoseok berdecak dan menghela nafas kesal. Sungguh, ia tidak habis dengan jalan pikiran Jimin. Sebentar ia menjadi anak nakal yang melanggar semua peraturan sekolah, sebentar ia menjadi siswa berprestasi hingga sebentar menjadi siswa yang penurut. Hoseok mempoutkan bibirnya tak mengerti. huft, baiklah—ia harus melakukan sesuatu.

.

.

.

.

.

"hyung, dimana almamatermu?" tanya Taehyung saat ia berjalan bersama kedua hyung-nya menuju gedung utama dan melihat Yoongi yang tak mengenakan almamater sekolah. Yoongi mengulum senyum membuat Taehyung dan Namjoon semakin penasaran dengan keberadaan almamater Yoongi yang hilang tiba-tiba.

"Kupinjamkan pada Jimin."

"mwo?!" pekik Taehyung dan Namjoon bersamaan dengan mereka yang menghentikan langkah mereka tiba-tiba.

"Memangnya kenapa kau meminjamkan almamatermu padanya?" tanya Namjoon tak mengerti. Yoongi memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan menatap Namjoon dan Taehyung bergantian.

"hm, entahlah. Panjang ceritanya."

"Apa kau baru saja menghabiskan waktu bersamanya?" tuding Taehyung, Yoongi tersenyum kecil membuat Namjoon dan Taehyung seketika mendelik curiga padanya.

"mungkin—" balas Yoongi sekenanya, kemudian ia berjalan masuk gedung utama mendahului Namjoon dan Taehyung yang masih melongo heran.

"daebak! Sepertinya Yoongi hyung jatuh cinta pada JM-Park itu!" tebak Namjoon menatap punggung Yoongi yang berjalan tak jauh dari mereka. Taehyung menggeleng tak setuju.

"Seperti yang Yoongi hyung katakan sebelumnya, menurutku dia hanya penasaran pada JM-Park." balas Taehyung. Namjoon berfikir sejenak, kemdian ia menyeringai.

"Mau taruhan?" tawar Namjoon. Taehyung membalas dengan seringaian dengan satu alisnya yang terangkat, tertarik.

"call!" setuju Taehyung. "Apa taruhannya kali ini, hyung?" tanya Taehyung kemudian, Namjoon tersenyum miring lali membisikkan sesuatu di telinga Taehyung yang langsung di respon tawa puas dari pemuda yang lebih muda darinya.

"Baiklah, hyung! bersiaplah kalah dariku!" lanjut Taehyung percaya diri. Namjoon mendecih dan memandang Taehyung remeh. Setelahnya, kedua pemuda itu segera bergegas menyusul langkah Yoongi yang sudah masuk melewati lobby dari gedung utama.

Sesampai di lobby, Namjoon dan Taehyung menghentikan langkahnya dan berdiri di sisi kanan-kiri Yoongi yang tengah berdiri mematung mematai kerumunan.

"Ada apa hyung?" tanya Taehyung penasaran. Yoongi menghela nafas.

"Hanya sampah perusak pemandangan!" balas Yoongi yang seketika membuat Namjoon dan Taehyung menyimak apa yang terjadi pada kerumunan yang ada di depan mereka.

Byur~

Dapat mereka lihat, seorang siswi yang mengaku sebagai primadona sekolah menyiram se-ember air kepada seorang siswi seangkatannya. Melihat siapa pelakunya, Taehyung berdecak. Oh, itu Park Sooyoung, teman sekelas Taehyung yang selalu menempeli Taehyung kemana-mana. hm, jangan lupakan juga jika Sooyoung tidak seorang diri, tentu saja ia bersama dengan keempat temannya.

"Beraninya kau berniat untuk menyatakan cinta pada Kim Taehyung. Kau fikir kau siapa?!" seru Sooyoung membuat Taehyung mengangkat sebelah alislnya bingung dan bersamaan dengan Namjoon dan Yoongi yang menoleh kearahnya, Taehyung pun spontan menggelengkan kepalanya tak mengerti. Kenapa mereka membawa-bawa namanya.

Yoongi, Taehyung dan Namjoon menatap iba pada siswi yang kini tengah terduduk dengan kepala tertunduk dikelilingi Sooyoung yang berdiri di depannya, serta Joohyun, Seulgi, Youngsun dan Jihyo yang melipat kedua tangan mereka di depan dada mengelilingi siswi malang itu.

"Apa kau tidak punya kaca di kamarmu?! Apa perlu aku membantumu berkaca agar kau tahu seberapa tidak pantasnya dirimu dengan Kim Taehyung?!" seru Sooyoung membuat Taehyung yang mendengarnya mendecih tak suka.

"shit! Seharusnya dia yang berkaca!" cibir Taehyung geram dan mengepalkan kedua tangannya.

"Berdiri!" titah Sooyoung seraya menyeret lengan siswi itu dan memaksanya berdiri. Dengan tubuh gemetar, akhirnya siswi itu berdiri masih dengan kepala tertunduk di hadapan Sooyoung.

"Dengar, Park Jieun!" gertak Sooyoung terdengar menyeramkan. "Aku peringatkan padamu untuk pertama dan terakhir kalinya untuk tidak mengganggu dan mengusik Kim Taehyung, karena kau tahu—kau tidak pantas untuknya!" lanjut Sooyoung membuat siswi yang bernama Park Jieun mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, dengan berani ia mendongakkan kepalanya dan menatap Sooyoung dengan kedua matanya yang bercucuran air mata.

"YAK! Berani sekali kau menatapku! Tundukkan kepalamu, sampah!" desis Sooyoung kesal, Jieun mengepalkan kedua tangannya dengan kedua matanya berkilat marah membuat Sooyoung tak segan untuk melayangkan tangannya dan hendak menampar wajah cantik Jieun untuk memberinya pelajaran. Namun, sepertinya apa yang ia rencanakan tak sesuai dengan rencananya.

Set!

Sooyoung menatap terkejut tangannya yang berada di udara kini sudah berada di genggaman Taehyung yang entah sejak kapan berdiri melindungi Jieun dan berhadapan langsung dengan Sooyoung. Bahkan, Yoongi dan Namjoon saja terlihat terkejut dengan keberadaan Taehyung yang tanpa mereka ketahui sudah berada di tengah-tengah kerumunan itu.

"Sejak kapan Taehyung berada disana?" tanya Yoongi, Namjoon menggeleng dengan tampang bodohnya.

"Entahlah, hyung. aku juga tidak tahu!" jawab Namjoon dan atensinya kembali teralih pada kerumunan dimana Taehyung berada saat ini.

"t-Taehyung-ssi~" balas Sooyoung menatap Taehyung takut yang kini menatap tajam kearahnya.

"Tidakkah seharusnya kau dan temanmu yang bercermin?" tanya Taehyung garang membuat Sooyoung gugup seketika. "Bercerminlah siapa dirimu dan apa posisimu disini. Dan—ya! Kau mengatakan kau adalah primadona di sekolah ini? Kau benar-benar tidak pernah mengaca sepertinya. Tidakkah kau tahu jika kau adalah sampah daur ulang?" lanjut Taehyung menyeringai dan membuat kelima siswi itu mengepalkan tangan mereka menahan amarah karena telah direndahkan Taehyung.

"Kau-lah sampah yang sebenarnya Sooyoung-ssi, bukan orang lain. Dan siapa kau—berani sekali mengatakan padanya untuk tidak mendekatiku? Apa kau ibuku?! Temanku?! Bahkan aku muak melihat wajahmu!" Taehyung berbalik badan masih dengan kedua mata tajamnya mematai Jieun yang basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Taehyung menarik nafas, kemudian ia melepas almamater yang ia gunakan dan memakaikannya pada tubuh Jieun.

"Pergilah! Jika kau tidak ingin dipermalukan lagi!" titah Taehyung dingin yang hanya diangguki singkat oleh Jieun. Dan tanpa menunggu waktu lagi, Jieun segera melesat pergi dari hadapan semua orang. Taehyung kembali berbalik badan bersamaan dengan Yoongi dan Namjoon yang juga datang menghampirinya.

"Aku peringatkan padamu untuk pertama dan terakhir kali, dan aku harap kau memasang telingamu baik-baik Park Sooyoung-ssi." Ancam Taehyung lagi. "Jangan pernah bersikap untuk mencuri perhatianku jika kau tidak ingin berakhir keluar dari sekolah ini dengan cara mengenaskan. mengerti?!" gertak Taehyung, ia menyeringai dan berlalu pergi begitu saja. Yoongi dan Namjoon yang masih tertinggal pun mendecih remeh.

"hm, aku rasa peringatan itu tidak hanya dari Taehyung yang hanya ditujukan padamu dan temanmu, Sooyoung-ssi." sambung Namjoon suaranya terdengar dingin dan menyeramkan. "Siapapun yang ada di sekolah ini, yang berani ikut campur urusan kami bertiga. Aku pastikan, hidup kalian setelah itu tidak semudah sebelum kami datang. Mengerti?" Namjoon mengingatkan, dan setelahnya ia berjalan menyusul Taehyung diikuti Yoongi yang juga menyeringai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Kelima siswi yang mengaku sebagai primadona sekolah itu mengepalkan kedua tangan mereka dan menatap kepergian Taehyung, Namjoon dan Yoongi dengan kedua mata mereka yang berkilat marah.

"Lihat saja, aku pastikan—kalian yang akan bertekuk lutut pada kami!" gumam mereka dengan suara rendah.

Dan, tanpa mereka sadari, seorang siswa kelas 1 yang sedari tadi diam-diam menyaksikan drama pagi di sekolahnya, tersenyum penuh arti dengan sikap Taehyung yang melindungi siswi bernama Park Jieun itu.

"Jungkook-ssi, kau disini?" panggil seseorang yang mengagetkan sosok yang sedari tadi hanya diam dan menatap punggung Taehyung yang sudah jauh dari pandangannya. Siswa yang tak lain adalah Jeon Jungkook itu tersentak terkejut dan berbalik badan.

"Mingyu-ssi, ada apa?" balasnya.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu." ujarnya. Jungkook mengangguk dan mengikuti siswa yang bername tag Kim Mingyu yang kini mengajaknya ke suatu tempat entah untuk membicarakan perihal apa.

.

.

.

.

.

Kling~

Jimin membuka pintu toko buku yang sengaja ia kunjungi. Setelah masuk dan mendapat sapaan dari pekerja toko, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rak-rak buku yang kebetulan pada saat itu sedang sepi pengunjung. Jimin bergumam pelan seraya mengingat buku-buku apa saja yang sedang ia butuhkan untuk mengikuti ujian nanti mengingat bahwa ia tidak bisa mengikuti semua pelajaran yang ada di sekolah.

"hm~ mungkin lebih baik aku membeli buku yang tidak ada penjelasannya dari buku yang kupunya." gumam Jimin, ia tersenyum manis saat mendapati sebuah buku yang tertangkap kedua netranya setelah sekilas membaca tulisan kecil-kecil yang ada di punggung buku tersebut.

"Berapa yang harus aku beli, ya? ah~ aku lupa harus membeli buku apa saja." gumam Jimin mengingat-ingat, sambil mengingat Jimin pun berbalik badan untuk meneliti rak-rak buku yang tadinya berada di belakangnya. Kedua bola matanya bergulir keatas, kebawah, kekanan hingga ke kiri. Jari telunjuknya tak luput juga ikut serta bekerja dengan mengetuk-etuk diatas dagunya.

Hingga hampir dua jam, Jimin menghabiskan mencari buku di toko buku yang ia kunjungi. Dan sudah ada sekitar lima buku yang kini berada dipelukannya. Dengan langkah ringan Jimin berjalan menuju meja kasir beserta buku-buku yang sudah ia pilih untuk ia beli.

"Berapa semuanya?" tanya Jimin pada karyawan toko yang sedang menghitung buku keempatnya dan kini beralih pada buku terakhirnya.

"Semuanya, 63000 won." jawab sang karyawan. Jimin mengangguk, ia mengeluarkan dompet hitamnya dan memberikan beberapa lembar won yang sesuai dengan angka yang tertera di mesin komputer.

Setelah karyawan itu membungkus buku-buku yang Jimin beli dan dimasukkan kedalam paper bag. Jimin pun bergegas pergi keluar dengan tangan kanannya yang menenteng paper bag yang berisi buku yang ia beli, sementara tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku hoodie yang ia gunakan. Jimin melangkah ringan di pinggir trotoar dengan pandangannya yang mengedar menikmati suasana di sekitar jalan yang ia lewati.

Tak berapa lama ia menikmati hawa cerah siang itu, tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada seorang pria yang berlari tak jauh kearahnya diikuti banyak segerombolan orang yang mengejar di belakang pria yang membawa sebuah tas hitam. Jimin menghentikan langkahnya dan berfikir sejenak. Ia bukan orang bodoh yang tak mengetahui situasi yang terjadi beberapa meter di depannya. Jimin menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil ketika pria itu tinggal sekitar enam langkah di depannya. Bahkan, Jimin sengaja melanjutkan langkahnya perlahan agar si pria tak curiga jika ia akan—

Bruk!

—menjegal kaki si pria dengan kakinya. Jimin mendongak dan menatap si pria yang kini jatuh tepat di bawah kakinya. Ia menyeringai bersamaan dengan si pria yang menatap marah padanya. Jimin bersiul dan mengambil tas hitam yang dibawa pria yang mengenakan pakaian serba hitam.

"yak, mau kemana kau?!" seru seorang pria berjas abu-abu yang langsung menarik kerah pakaian si pria yang hendak melarikan diri.

"Hyunwoo-ya, bawa pencuri itu ke kantor polisi!" titah pria paruh baya yang entah sejak kapan sudah berapa di depan Jimin.

"Baik, tuan!" balas pria yang dipanggil Hyunwoo seketika menyeret si pria pencuri ke kantor polisi terdekat bersamaan dengan orang-orang yang mengejar pencuri itu pergi dari hadapan Jimin segera.

"Apa ini milik, ahjussi?" tanya Jimin pada seorang pria paruh baya yang tersenyum tampan kearahnya.

"nde, terima kasih banyak nak. Kau sudah menolongku," ujarnya dan menerima tas yang Jimin berikan padanya. Jimin mengangguk singkat.

"Kalau begitu, saya pergi dulu ahjussi. Berhati-hatilah." pamit Jimin berlalu dari hadapan pria paruh baya itu.

"eyy—tunggu sebentar!" tahan pria itu menghentikan langkah Jimin dan spontan pemuda manis itu berbalik badan.

"nde? Ada apa ahjussi?" tanya Jimin dan pria paruh baya itu pun menghampiri Jimin, sebelumnya ia juga mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang won.

"Terimalah nak, tak banyak. Tapi, aku sungguh berterima kasih padamu." Jimin menggeleng.

"Tidak, ahjussi. Saya tidak bisa menerima uang."

"waeyo?" tanya pria itu terkejut. Jimin mengulas senyum manis.

"Itu bukan hakku." jawab Jimin jujur. "Tapi, jika ahjussi tidak keberatan dan ingin berterima kasih padaku. Aku terima tawaran ahjussi—jika ahjussi ingin mentraktirku." Pria paruh baya itu mengangguk paham.

"ah~apa kau lapar?" tanyanya. Jimin mengangguk jujur. "arraseo, pilihlah restoran manapun yang ingin kunjungi dan pesan semua makanan yang kau suka." Jimin tersenyum sumringah dan membungkukkan badannya dihadapan pria paruh baya itu.

"Kamsahamnida!"

.

.

.

.

.

Jimin tersenyum geli melihat ekspresi pria paruh baya yang tak sengaja ia tolong. Bagaimana ekspresi wajahnya yang menatap tempat makan yang Jimin pilih, yang ternyata diluar ekspektasinya. Pria paruh baya itu mengedipkan matanya berkali-kali dan menoleh kearah Jimin, menatapnya ragu.

"Kau ingin makan disini?" tanyanya. Jimin terkekeh.

"nde, sundae buatan haraboji, benar-benar terbaik di Seoul!" balas Jimin seraya mengacungkan dua jempolnya dihadapan sang pria paruh baya itu.

"Apa kau serius ingin makan disini?" ulang pria itu. Kedua mata Jimin mengerjap lucu dan menatap sang pria tak mengerti.

"Apa ahjussi, keberatan?" sang pria pun segera menggeleng.

"aniyo—hanya saja, makan di tempat seperti ini—" pria itu mengangkat sebelah alisnya jijik menatap sebuah truk yang menjual sundae yang sudah berada di depannya.

"ah~ jangan bilang ahjussi belum pernah memakan sundae!" remeh Jimin. Pria itu pun menoleh dan mengangguk membenarkan. "aigoo~ benarkah? Jangan-jangan ahjussi bukan orang Korea?" tuduh Jimin.

"ani, aku orang Korea!"

"Tapi, kenapa ahjussi belum pernah memakan sundae? Semua orang Korea pasti sudah memakan sundae!" lanjut Jimin yang kemudian mematai sang ahjussi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelan jas formal berwarna abu-abu, rambut klimis naik, wajah tampan meskipun sudah berumur paruh baya. Ah, Jimin yakin pria yang ia tolong pasti orang kaya.

"ah~ aku mengerti sekarang," gumam Jimin paham. "ahjussi, orang kaya jadi tidak pernah memakan snack di jalanan." tutur Jimin yang membuat kedua bola mata pria paruh baya itu membesar. "ahjussi harus mencobanya, setidaknya untuk sekali saja."

"Tapi—" Jimin mengerjapkan kedua matanya memohon.

"ahjussi, ingin mentraktirku bukan?" serangan yang bagus Park Jimin. Pria paruh baya itu menghela nafas dan menatap Jimin ragu.

"arraseo, ahjussi akan menurutimu!" Jimin pun tersenyum kecil, dalam hati ia bersorak senang.

"Kamsahamnida, ahjussi!" balas Jimin sumringah. Awalnya, pria paruh baya itu dengan berat hati menuruti keinginan Jimin, namun ketika melihat senyum manis di wajah Jimin membuat pria paruh baya itu ikut tersenyum senang. Hm, menyenangkan bocah manis ini tidak ada salahnya 'kan? toh, pemuda yang belum ia ketahui namanya sudah berbaik hati menolongnya.

"annyeong, haraboji!" sapa Jimin menyapa si penjual sundae yang sebenarnya sudah ia kenal.

"Jiminie~ kau datang lagi?" sapa seorang kakek menyambut kedatangan Jimin senang. Jimin mengangguk dan memeluk sang kakek sekilas.

"haraboji, aku pesan dua sundae." pinta Jimin.

"arraseo arraseo, oh kau tidak datang sendiri?" tanya sang kakek melihat pria paruh baya berwajah tampan berahang tegas yang berdiri di samping Jimin. Jimin menggeleng. "Baiklah, kau duduklah. Tunggu sebentar-nde?" sang kakek pun memasuki truk untuk membuatkan pesanan Jimin.

"Silahkan duduk ahjussi." Jimin menarik satu kursi yang langsung di duduki pria paruh baya itu tanpa banyak komentar, sementara Jimin memilih untuk duduk di depan sang ahjussi.

"oya, siapa namamu?" tanya ahjussi itu teringat bahwa ia belum mengetahui nama Jimin. Jimin tersenyum.

"Jimin, namaku Park Jimin, ahjussi." jawab Jimin.

"Kau sepertinya masih muda," Jimin mengangguk membenarkan.

"nde, saya masih duduk di bangku kelas dua di senior high school."

"jinjjayo? Kau sekolah dimana?" tanya pria itu lagi. Jimin diam sejenak, sebelum kembali tersenyum dan menjawab pertanyaan dari pria paruh baya itu.

"RC High School, ahjussi." Pria itu tampak terkejut.

"RC? Restad College?" ulang pria itu, Jimin mengangguk membenarkan. "Kebetulan sekali, putraku juga sekolah disana."

"jeongmallyo? Siapa namanya, ahjussi? Mungkin aku mengenalnya."

"Namanya—"

"Tuan besar!" panggil seseorang yang membuat pria paruh baya itu menghentikan ucapannya dan menoleh kearah pria yang berlari kearahnya.

"oh, Hyunwoo-ya, kau datang." sambutnya. Pria yang baru saja datang itu terengah dan berdiri di samping tuan besar-nya.

"Apa yang tuan besar lakukan di tempat seperti ini?" tanyanya, dengan nada seperti tak membiarkan jika tuan besarnya berada di tempat kumuh di pinggir jalan yang sontak membuat wajah Jimin berubah tak suka.

"Ada apa?" pria paruh baya itu balik bertanya. Pria yang dipanggil Hyunwoo itu-pun mendekati sang tuan besar dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dan, melihat hal tersebut membuat Jimin tahu betul jika ada hal penting yang harus membuat ahjussi itu untuk segera pergi.

"jinjjayo, tapi—" pria paruh baya itu melirik kearah Jimin tak enak hati.

"gwenchana ahjussi. Aku tidak apa." balas Jimin yang membuat pria paruh baya itu menatap Jimin terkejut pasalnya ia belum mengatakan apa-apa pada Jimin.

"Kau tahu?" tanyanya ragu. Jimin hanya mengulum senyum maklum dan menatap pria yang dipanggil Hyunwoo dan pria paruh baya di depannya bergantian.

"Hanya melihat penampilan ahjussi saja, saya tahu—ahjussi adalah orang penting." balas Jimin. Pria paruh baya itu mendesah lega.

"Baiklah kalau begitu, aku akan membayar makanan yang sudah kau pesan terlebih dahulu." Jimin menggeleng, bermaksud untuk menolak.

"Tidak perlu, ahjussi. Ahjussi belum makan apapun, dan itu tidak pantas untuk dibayar."

"Tapi, kau sudah menolongku dan aku berjanji untuk mentraktirmu." Jimin mengangguk paham.

"Nde, mentraktir itu berarti ahjussi ikut makan bersamaku. Bukankah begitu?" tanya Jimin. "Jadi, maaf ahjussi aku tidak bisa menerima jika ahjussi membayar makanannya tanpa memakan sedikit pun." lanjut Jimin sopan. Pria paruh baya itu menatap Jimin lamat.

"arraseo, dan aku berjanji akan mentraktirmu disini—dipertemuan selanjutnya." Jimin terkekeh.

"nde, jika kita bertemu lagi, aku juga akan menagih ahjussi!" pria paruh baya itu terkekeh senang.

"Sampai bertemu lagi—Jiminie!" Jimin mengangguk, ia berdiri dari duduknya dan membungkuk sopan ketika pria paruh baya itu berdiri dan hendak pergi.

"nde, sampai bertemu ahjussi." balas Jimin. Ahjussi itu mengangguk, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Jimin. Namun, saat langkah kelimanya, pria paruh baya itu berbalik badan yang menatap Jimin yang ternyata masih mematai kepergiannya.

"Ingat namaku, Jiminie!" seru pria itu tiba-tiba membuat Jimin mengeryit bingung. "Min Seonwoong. Panggil aku Seonwoong ahjussi dipertemuan selanjutnya!" pintanya. Jimin tersenyum manis dan mengangguk, menyetujui. Dan tanpa sadar, pria yang baru saja memperkenalkan diri pada Jimin itu tersenyum kecil melihat senyum Jimin yang terlihat manis membuat Hyunwoo takjub melihatnya. Pasalnya, ini adalah kali pertama ia melihat majikannya yang biasa berwajah dingin dan tegas terlihat tersenyum tulus hanya karena melihat senyum manis di wajah Jimin.

"Hyunwoo-ya!" panggil Seonwoong.

"nde, tuan besar!"

"Cari informasi tentang siswa yang bernama Park Jimin di RC. Selengkap-lengkapnya!" titahnya tegas. Hyunwoo mengangguk patuh.

"Baik, tuan besar!" balas Hyunwoo dan mempersilahkan Seonwoong untuk melangkah memasuki mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berada bersama Jimin sebelumnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Kling~

Jungkook mendorong pintu kafe yang berada tak jauh dari sekolahnya. Setelah masuk, Jungkook mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe untuk mencari seseorang yang sudah lama tidak ia temui semenjak ia masuk di sekolah barunya. Setelah menemukan orang yang ia cari, Jungkook tersenyum sumringah dan segera menghampiri seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas formal yang tengah duduk di pojok kafe ditemani secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tipis.

"appa!" panggil Jungkook berlari kecil menuju pria yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

"Kookie-ya~" balas sang ayah berdiri dan memeluk anak semata wayangnya. "Bagaimana kabarmu, nak?" tanya sang ayah perhatian. Jungkook tersenyum dalam pelukan sang ayah.

"Aku baik, appa!" balasnya. Jungkook menarik diri dari pelukan sang ayah dan menatap wajah tampan ayahnya yang tak mengalami penuaan. "Bagaimana dengan appa?" tanya Jungkook.

"Seperti yang kau lihat nak. Appa masih tampan." Jungkook terkekeh, ia pun menarik kursi di depan ayahnya begitu pula dengan sang ayah yang kembali duduk di tempatnya.

"Bagaimana sekolahmu, apa kau betah di RC?" tanya sang ayah. Jungkook mengangguk.

"nde, appa. Aku senang bisa satu sekolah dengan Seokjin hyung dan Hobi hyung juga Jimin hyung. Bahkan, kami sudah satu kamar."

"hm, aku sudah mendengarnya dari Donghae."

"Donghae hyung?" tanya Jungkook heran. "Wah, Donghae hyung masih saja seperti detektif." ayah Jungkook terkekeh. Namun, kemudian senyuman yang tersimpul di bibirnya berubah seketika saat kedua matanya menatap Jungkook serius.

"Bagaimana hubunganmu dengan Jimin?" tanya sang ayah. Jungkook menghela nafas.

"Semakin buruk. Appa tahu? Meskipun kami sudah satu kamar, tapi hubungan kami justru tak sedekat seperti saat aku awal masuk dulu."

"Bagaimana bisa?" Jungkook mengedikkan bahunya.

"Entahlah, appa. Mungkin sikapku kelewat batas dan membuatnya kesal. Apalagi, sejak ia di skors."

"Jimin di skors?" sang ayah membulatkan kedua matanya tak percaya. Jungkook mengangguk membenarkan.

"nde appa."

"Tapi, kenapa dia sampai di skors?" untuk yang kedua kalinya, Jungkook menghela nafas.

"Ada seorang sunbae yang menyukai Jimin hyung. Dari awal aku mulai menjahilinya, dia sudah memberitahuku untuk tidak mengganggu Jimin hyung lebih jauh atau dia—"

"Dia memukulmu?" potong sang ayah.

"Apa appa sudah tahu dari Donghae hyung?" tanya Jungkook. Sang ayah terkekeh.

"appa hanya menebak. Lagi pula, apa kau lupa kejadian bulan pertama kau masuk saat pihak sekolah memanggil appa?" kini Jungkook yang terkekeh.

"nde appa, mianhae." sesal Jungkook. "Tapi appa, tidak biasanya appa memintaku untuk bertemu berdua di kafe. Ada apa?" tanya Jungkook. Sang ayah terdiam sejenak dan menatap Jungkook lamat.

"mereka—" ucapan pria paruh baya itu menggantung membuat Jungkook was-was mendengar apa yang akan ayahnya katakan padanya. "—mereka sudah bebas dan kembali." Jungkook membulatkan kedua matanya menatap sang ayah tak percaya. Ia tidak cukup bodoh untuk memahami apa maksud dari pembicaraan dan pertemuannya dengan ayahnya yang terhitung sangat jarang terlebih sejak ia masuk di tahun pertamanya di RC. Jungkook meneguk salivanya susah, rasa pening tiba-tiba mendera kepalanya. Jungkook mengigit bibirnya gugup bahkan keringat dingin mulai membanjiri wajahnya. Diam-diam Jungkook mengepalkan kedua tangannya, sekelebat bayangan masa lalu mulai muncul satu persatu hingga kekhawatiran terbesar mulai menguasai dirinya. Jungkook memejamkan kedua matanya. Menenangkan diri, lebih tepatnya mempersiapkan dirinya sendiri jikalau mendengar sesuatu yang disampaikan ayahnya yang ternyata jauh dari praduganya selama ini.

TBC


(-) Maaf ya, kalau typo-nya masih bertabur bunga, see you in next chapter guys...

#GetWellSoonKimNamjoon

Kamsahamnida,