Tap tap tap...
Jimin melangkah ringan memasuki area halaman gedung utama setelah ia melewati pagar sekolahnya. Dengan tangan kanannya yang ia masukkan ke dalam saku hoodie-nya dan tangan kirinya yang menenteng paper bag yang berisi buku-buku yang sempat ia beli saat ia keluar tadi. Jimin berjalan dengan kepala tertunduk, tak menyadari jika ada seorang pria paruh baya yang berdiri tak jauh darinya dan mematainya. Pria itu tersenyum kecil melihat tubuh mungil Jimin membuatnya refleks berjalan mendekatinya.
"Park Jimin?" panggilnya membuat Jimin mendongak dan mendapati salah satu gurunya berdiri di depannya.
"annyeongasseo Lee ssaem." sapa Jimin membungkukkan badannya menyapa sang guru yang sekaligus merangkap sebagai pembina di club dance yang ia ikuti, Lee Seungri.
"nde annyeong. Jika boleh tahu, kau darimana saja?" tanya guru Lee ingin tahu. Jimin mengulum bibir sebelum menjawab pertanyaan dari guru yang memiliki selera humor yang tinggi.
"Mencari beberapa buku, ssaem." Jawab Jimin jujur. Guru Lee mengangguk percaya.
"Kenapa lama sekali?"
"nde?" guru Lee terkekeh melihat respon Jimin yang kedua matanya membulat polos.
"Aku sudah menunggumu tiga jam disini."
"Benarkah? Maafkan saya ssaem." sesal Jimin tak percaya sekaligus tak enak hati. "Tapi, ada apa Lee ssaem menungguku disini?" tanya Jimin sopan. Guru Lee tersenyum tampan dan menatap Jimin lamat.
"Aku dengar, kau menolak untuk ikut partisipasi festival mendatang." ujarnya yang membuat Jimin membulatkan kedua matanya terkejut. Hey, kapan ia mengatakan penolakan?
"Tidak, ssaem. Saya tidak menolak sama sekali."
"Benarkah?" ulang guru Lee tak yakin.
"Apa Hoseok sunbae mengatakan sesuatu pada anda?" tanya Jimin curiga. Guru Lee pun seketika tertawa keras melihat wajah Jimin yang terlihat was-was. Guru Lee mengangguk kecil.
"hm, Hoseok sedang frustasi sekarang! Bahkan, tidak hanya Hoseok. Seluruh anggota club juga sedang frustasi karena dirimu."
"Tapi, sunbaenim. Kenapa mereka membutuhkanku? Bahkan, festival tahun lalu aku tidak ikut berpartisipasi."
"Karena, mereka mengangkat tema yang jauh berbeda dari tahun kemarin atau tahun-tahun sebelumnya." Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Dan mereka sangat membutuhkanmu, mengingat kau adalah yang terbaik dalam tema yang mereka usung untuk festival nanti. Apalagi mengingat bagaimana penampilanmu saat di kompetisi tahun lalu." Jimin terdiam dan menatap canggung ke arah guru Lee.
"Tapi, ssaem. Anda tahu bukan, aku sedang dalam masa skors. Aku tidak pernah menolak tapi, mengingat kemungkinan bahkan hampir tidak mungkin untukku ikut berpartisipasi."
"Bagaimana jika aku mendapat ijin dari sekolah agar kau bisa ikut serta dalam festival nanti?"
"nde?" Jimin mengerjapkan kedua matanya tak percaya.
"Kim ssaem yang memberimu hukuman bukan?" Jimin mengangguk. "Sebelum bertemu denganmu, aku sudah membicarakan hal ini padanya. Dan dia, dengan senang hati langsung mengijinkanmu untuk ikut."
"Benarkah? Ssaem tidak sedang bercanda 'kan?"
"Tentu saja tidak, Jimin-ssi. Ini waktunya untuk serius, bahkan Kim ssaem juga memberikan surat pernyataan resmi untuk mengikut-sertakan dirimu dalam festival mendatang." Jimin menahan senyum senang membuat guru Lee yang melihatnya diam-diam ikut tersenyum. "Kau tahu, apa hadiah yang ditawarkan sekolah untuk pemenang festival tahun ini?" tanya guru Lee merendahkan suaranya. Jimin menggeleng. Guru Lee pun mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk memastikan jika tidak ada orang yang mematai guru dan siswa itu. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, guru Lee pun membisikkan sesuatu di telinga Jimin yang langsung mendapat respon tak percaya sekaligus mimik takjub yang tergambar secara berlebihan di wajah Jimin.
"Benarkah ssaem?" tanya Jimin memastikan. Guru Lee mengangguk yakin.
"Dan kau adalah siswa pertama yang mengetahuinya." Jimin menatap guru Lee takjub. "Bang ssaem, merencanakan untuk memberitahu pada siswa di hari pengumuman pemenang." Jimin mengerjapkan kedua matanya tak percaya.
"Tapi, ssaem. Kapan festival ini diadakan?" tanya Jimin. Guru Lee menatap Jimin dengan dengan senyum sumringah.
"Festival ini diadakan selama dua hari berturut-turut. Tepatnya, dua hari setelah ujian selesai." Jimin mendesah lega, setidaknya festival sekolah tidak diadakan sebelum ujian seperti tahun lalu. "Jadi, bagaimana—kau bersedia untuk ikut 'kan?" tanya guru Lee memastikan. Jimin tersenyum dan mengangguk menyanggupi.
.
.
.
.
.
Jimin menggerutu kesal ketika ia sampai di kamarnya dan mendapati almamater asing yang terlipat rapi di sisi ranjangnya. Dan dengan amat terpaksa membuat Jimin kembali keluar dari kamarnya untuk mengembalikan almamater itu kepada pemiliknya.
Dan, disinilah Jimin berdiri di depan gedung utama tepat di jam selesainya pelajaran bagi seluruh siswa hari ini. Jimin memasang wajah datar dan dinginnya ketika satu persatu siswa-siswi keluar dan tak sengaja berpapasan dengan dirinya, membuatnya harus kembali mendapat tatapan benci atau tatapan terkejut dari mereka. Dan, untuk yang kesekian kalinya Jimin kembali mengabaikan segala bisikan yang masuk ke kedua telinganya ketika suara-suara para siswa yang mulai membicarakannya.
Jimin berdecak. Dalam hati, ia mengutuk seniornya yang membuatnya harus berdiri dan menunggunya untuk mengembalikan almamater yang ia masukkan ke dalam paper bag. Jimin mendengus, melongokkan kepalanya ke arah lobby gedung utama untuk mencari sosok yang ditunggunya. Dan, akhirnya tak lama kemudian penantiannya membuahkan hasil ketika si pemilik almamater akhirnya keluar dengan sebuah headset yang bertengger di kedua telinganya serta kamera di tangannya, dengan acuh ia berjalan keluar seorang diri.
"Yoongi sunbae." Panggil Jimin lirih yang membuat si pemilik nama seketika menghentikan langkahnya tepat di depan Jimin berdiri. Min Yoongi, sosok yang Jimin tunggu seketika tersenyum miring saat mendengar dengan jelas Jimin memanggil namanya.
"oh, Jiminie?" balas Yoongi sok akrab yang membuat Jimin mengeryitkan keningnya terkejut. Apa yang baru saja Yoongi katakan padanya?
"Jiminie?" ulang Jimin menirukan cara Yoongi memanggil namanya. "Aku rasa kita tidak sedekat itu, sunbaenim!" lanjut Jimin, Yoongi terkekeh tak peduli.
"Ada apa kau mencariku? Merindukanku, hm? Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Yoongi perhatian, mengabaikan tatapan iri dari beberapa siswa dan siswi yang melihat kedua mata Yoongi berbinar hanya karena berbicara dengan Jimin, si perusuh sekolah.
Dengan kasar, Jimin menyerahkan paper bag yang ia bawa dihadapan Yoongi. Yoongi mengangkat sebelah alisnya dan tak kunjung menerima paper bag yang Jimin serahkan padanya.
"Apa itu?" tanyanya seraya melirik kearah paper bag yang diserahkan Jimin. Jimin berdecak kesal.
"Kau meninggalkan almamatermu di loteng kemarin!" jawab Jimin yang direspon suara 'ah~' dari belah bibir Yoongi. Yoongi tersenyum dan menerima paper bag itu.
"gomapta!" ujarnya. Jimin mendengus dan berniat untuk berlalu dari hadapan Yoongi sebelum tangan kekar Yoongi dengan sigap meraih tangannya dan menahannya pergi membuat beberapa pekikan dari bibir para siswa yang masih menyaksikan mereka berdua.
"Ada apa lagi?" tanya Jimin ketus. Yoongi tersenyum miring dan menatap kedua mata sipit Jimin.
"Apa kau lupa tentang kejadian kemarin?" tanya Yoongi. Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Kemarin?" tanya Jimin mencoba mengingat. Yoongi menarik nafas dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin membuat Jimin secara spontan memundurkan wajahnya dari wajah tampan pemuda itu.
"Kau tidur dipahaku dan—tidak! Itu terlalu memalukan untuk dikatakan!" gumam Yoongi, Jimin membulatkan kedua matanya terkejut dan mengingat dengan keras apa yang sudah terjadi padanya ketika ia tidur di atap sekolah kemarin. Tidur? Ya ampun, ia memang ketiduran di rooftop kemarin, kenapa ia bisa lupa? Jimin menatap Yoongi horor.
"yak yak yak! Memangnya aku melakukan apa? Kau yang tidur di pahaku, kenapa kau—"
"ssstt~" Yoongi menempelkan jarinya di bibir Jimin dan mengisyaratkan pada Jimin untuk diam. "Aku tidak akan memberitahumu. Karena—itu cukup memalukan untukku dan untukmu!"
"YAK!"
"ekhm!" Yoongi berdehem dan melangkah mundur, menjaga jarak dari Jimin. "Kau harus mengingatnya atau aku—" Yoongi mengangkat kamera yang ada di tangannya dan melambaikannya di depan wajah Jimin. "—atau aku, akan menyebarkannya pada seluruh penghuni sekolah! Karena, kau tahu—itu sesuatu yang—kau tahu maksudku 'kan?" ancam Yoongi yang kemudian berlalu begitu saja.
Jimin menggeram marah seraya menghentakkan kakinya menatap kepergian Yoongi yang tertawa puas karena berhasil mengerjainya.
"YAK! Min Yoongi!" dan dengan beraninya, Jimin berseru tak sopan membuat Yoongi seketika menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Menatap Jimin dan menyeringai seraya melambaikan kameranya, mengejek.
Jimin meremat rambutnya kesal dan kembali merutuki Yoongi untuk yang kesekian kalinya. Dan, tanpa ia sadari banyak pasang mata yang menatap tak suka ketika melihat interaksi Jimin dan Yoongi yang terlihat dekat satu sama lain. Si ketua dewan siswa, di ketua club Taekwondo, hingga si ketua genk primadona yang mengepalkan kedua tangannya kesal.
'Lihat saja, Park Jimin. Aku, akan memberi perhitungan padamu karena berani mendekati milikku!'
.
.
.
.
.
Dug!
Jungkook menjatuhkan kepalanya di atas meja yang ada di dalam studio club paduan suara. Jungkook menarik nafas berat dan memejamkan kedua matanya. Percakapan antara ayahnya dan dirinya beberapa jam yang lalu sukses mengganggu pikirannya dan perasaannya yang semakin tak tenang.
Cklek!
Jungkook mengangkat kepalanya ketika mendengar suara pintu studio terbuka dan menampilkan dua seniornya sekaligus roomate-nya yang datang menghampirinya dan menutup pintu dengan terburu-buru.
"Jungkook-ah, ada apa?" tanya Seokjin duduk di kursi kosong di samping Jungkook disusul Hoseok yang memilih untuk duduk di depannya.
"hyung~" rengek Jungkook terlihat cemas.
"Ada apa? Kau membuat kami cemas!" tanya Hoseok. Jungkook memejamkan kedua matanya, menarik nafas dan menenangkan diri.
"Aku baru saja bertemu dengan appa." Jungkook memberitahu.
"Lalu?" tanya Seokjin was-was. Jungkook mengigit bibir bawahnya.
"Ayahmu baik-baik saja 'kan?" tanya Hoseok. Jungkook segera mengangguk.
"Jadi, kenapa?" Seokjin bertanya tak sabar.
"hyung!" panggil Jungkook lagi.
"appa mengatakan mereka sudah bebas dan akan kembali." ujar Jungkook yang membuat Seokjin dan Hoseok saling berpandangan tak mengerti.
"Maksudmu, siapa yang bebas dan kembali?" tanya Seokjin tak mengerti. Jungkook diam sejenak dan menunduk.
"mereka—" lirih Jungkook. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Seokjin dan Hoseok datar. "—para bajingan itu hyung!" lanjut Jungkook yang membuat Seokjin dan Hoseok membeku.
"Apa—maksudmu?" tanya Seokjin suaranya terdengar gemetar dan terbata. Jungkook menarik nafas dan menatap Seokjin dan Hoseok serius.
"Tiga orang itu. Tiga mata-mata yang sudah menghancurkan keluarga Jimin hyung. Tiga orang dibalik pembunuhan Seojoon samchon dan Jiwon imo." Lirih Jungkook kedua matanya berkilat marah. Seokjin dan Hoseok pun terdiam mendengar suara dingin Jungkook yang terdengar menyeramkan.
"Jadi, apa maksudmu mereka sudah bebas dan berkeliaran di luar sana?" tanya Hoseok. Jungkook mengangguk sekilas.
"Apa saja yang ayahmu katakan padamu?" tanya Seokjin kemudian. Jungkook menghela nafas dan menatap kedua hyung-nya frustasi.
"Tidak hanya appa yang tahu, kedua orang tua kalian juga sudah tahu tentang kabar ini. Cepat atau lambat mereka pasti akan menemukan keberadaan Jimin hyung meskipun kita sudah berada di dekatnya." balas Jungkook.
"Tapi, setidaknya Jimin aman disini!" sahut Seokjin. Jungkook menggeleng.
"Tidak kah hyungie juga merasa bahwa dimanapun Jimin berada, dia akan selalu dalam bahaya?" tanya Jungkook. Seokjin dan Hoseok mendengar dengan saksama. "Setelah aku mendengar semuanya dari appa. Aku sadar, hilang ingatannya Jimin hyung tidak ada pengaruhnya dengan semua ini. Justru semakin memperburuk keadaannya!" Jungkook menarik nafas.
"Maksudku, dia ingat atau tidak. Semuanya akan sama berbahayanya untuk dirinya sendiri. Bukankah hyung ingat apa kata dokter?" tanya Jungkook. "Jika ingatan masa lalunya tiba-tiba kembali begitu saja ada kemungkinan di waktu selanjutnya ia justru melupakan semua masa lalunya termasuk kedua orang tuanya. Dan, jika kita mengingatkannya maka saraf pusat di otak Jimin hyung yang akan menjadi taruhannya. Bagaimana ini, hyung? Aku takut jika mereka menemui Jimin hyung dan menyakitinya atau bahkan—membunuhnya~" Jungkook memelankan suaranya dan menunduk. Seokjin dan Hoseok saling bertatapan.
"Aku rasa ada satu cara agar Jimin tetap berada di dekat kita dan kita bisa mengawasi memori masa lalu Jimin." sahut Hoseok. Seketika, Jungkook mengangkat wajahnya dan menatap Hoseok tak paham. "Jika Jimin sendiri, kemungkinan besar mereka untuk menemui Jimin dan menyakitinya lagi akan lebih besar. Tapi, sebaliknya jika kita berada di dekatnya dan menjaganya seperti dulu. Aku yakin, kemungkinan kecil mereka akan menggapai Jimin akan lebih sulit!" Seokjin mengangguk menyetujui dan Jungkook tersenyum.
"jja, bukankah memang sudah saatnya persahabatan kecil kita kembali?" tanya Seokjin sumringah. "Mulai sekarang kita gunakan plan B untuk mendekati Jimin dan lupakan plan A. Kau mengerti Jungkookie?" Jungkook terkekeh dan mengangguk bersamaan dengan Seokjin yang memeluk Jungkook erat dan Hoseok yang tersenyum senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Bruk!
Seluruh siswa yang ada di studio club dance menjatuhkan tubuh mereka di atas ruang lantai practice room yang ada di studio mereka. Tubuh mereka banjir keringat dan deru nafas mereka yang keluar tak beraturan. Beberapa dari mereka yang merebahkan diri dan ada juga yang menyandarkan tubuh mereka di dinding-dinding ruangan. Termasuk Jung Hoseok, si ketua club dance yang tengah merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit practice room diatasnya.
Hoseok terkejut ketika mendapati sebuah tangan yang memberikan sebotol air mineral padanya. Dan tanpa berbasa-basi pun Hoseok mendudukkan dirinya, meraih botol itu dan menegaknya hingga setengah.
"ah~ akhirnya bisa merasakan free satu minggu sebelum ujian." desah Hoseok lega meskipun ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kelegaan sama sekali.
"Apa kau sudah bicara pada Park Jimin?" tanya siswa yang tadi memberikan sebotol air pada Hoseok, Kim Jongin. Hoseok pun menoleh dan menunjukkan raut kesalnya.
"YAK! Kau pikir bicara pada Park Jimin itu tidak perlu kesabaran? Coba saja kau yang bicara padanya!" seru Hoseok membuat seisi ruangan menatap kearahnya takut-takut.
"huft, apa kita sudah gagal sebelum tampil?" gumam Jongin ikut terdengar frustasi.
"hah~ setidaknya masih ada Hakyeon yang kemampuannya sama dengan Jimin." lirih Hoseok.
"Tapi, aku tidak bisa melakukannya sendiri Hoseok-ssi! Kau tahu bukan, bagaimana koreo-nya? Jimin adalah poin penting disini!" seru siswa yang bernama Cha Hakyeon. Hoseok berdecak.
"ah~ untuk pertama kalinya aku benar-benar ingin menghajar seseorang!" desis Hoseok kesal bukan main. "Bahkan aku sudah bicara pada Lee ssaem."
"Benarkah?" tanya beberapa siswa yang ada di ruangan itu bersamaan. Hoseok mengeryit, sejak kapan seluruh siswa sudah duduk dan menatap kearahnya yang kebetulan duduk di pusat ruangan?
"Kau sudah bicara pada Lee ssaem?" tanya Hakyeon ikut angkat bicara. Hoseok mengangguk kecil.
"Apa katanya?" tanya Jongin tak sabar. Hoseok berdecak dan menatap seluruh teman angkatannya dan juniornya tanpa minat.
"Aku tidak bisa menjanjikan padamu, Hoseok-ssi. Jika Kim ssaem mengijinkan itu tidak masalah untuk membujuk Park Jimin. Tapi, jika tidak? Aku juga tak bisa berbuat apa-apa!" dengan fasihnya Hoseok menirukan cara bicara guru Lee yang membuat seluruh anggota club seketika terkekeh mendengarnya.
"Wah, kau benar-benar fasih meniruku Hoseok-ssi!" Hoseok tergelak dan seketika langsung berdiri ketika mendengar suara familiar yang baru saja ia tiru, begitu pula dengan seluruh siswa yang berdiri dan langsung membungkuk menyapa sang pembina yang entah untuk apa berkunjung di jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Annyeongasseo, Lee ssaem!" seru seluruh anggota club dance kompak. Guru Lee mengangguk dan menatap muridnya satu persatu.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya guru Lee, seluruh anggota club menggeleng kompak. "hm, bagaimana latihannya?" tanyanya lagi dan kini hanya menatap kearah Hoseok.
"Lancar, ssaem. Hanya saja—"
"Apa ada kendala?" tanya guru Lee ketika Hoseok menghentikan ucapannya tiba-tiba.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, ssaem." lirih Hoseok sopan. Guru Lee mengangguk paham.
"arraseo. Maksud kedatanganku kesini sebenarnya tidak hanya untuk mengecek kalian tapi karena aku ingin memberitahu kalian tentang sesuatu." Ujar guru Lee. "Lebih tepatnya tentang masalah yang sedang kalian hadapi untuk festival mendatang!" lanjut guru Lee yang menghasilkan kerutan di dahi para muridnya. "Bagaimanapun juga, meskipun club kita sudah mengikuti festival sekolah secara rutin setiap tahun. Tapi, tetap saja bukankah kita juga harus menikmati bagaimana rasanya menang? Lucu rasanya, kita ikut secara rutin tapi tidak pernah menang sekalipun. huft, aku iri pada club musik!" cibir guru Lee yang menghasilkan tundukan kepala dari para muridnya.
"Tapi, kalian tenang saja. Aku yakin, kalian pasti bisa menang tahun ini!" guru Lee mencoba untuk menyemangati muridnya. "Karena aku membawa sesuatu untuk kalian! Ah, bukan sesuatu—tepatnya, seseorang!" lanjut guru Lee tersenyum misterius yang membuat seluruh muridnya saling berpandangan. Guru Lee pun seketika menoleh ke arah pintu masuk dan berseru, "Masuklah!" pada seseorang yang berada diluar sana.
Seluruh siswa pun memperhatikan pintu masuk studio mereka dengan saksama dan menanti siapa kiranya sosok yang pembina mereka bawa, hingga muncullah seseorang yang menjadi sumber ke-frustasi-an mereka selama berhari-hari.
"annyeongasseo!" sapanya membungkukkan badannya meskipun wajahnya yang masih tetap datar dan dingin.
"Park Jimin~" gumam hampir seluruh siswa senang melihat kedatangan Jimin di studio mereka. Bahkan, Hoseok sendiri pun tak bisa untuk menahan senyum bahagianya ketika melihat wajah datar dari junior sekaligus roomate-nya itu.
"Aku sudah bicara pada Kim ssaem, ia mengijinkan Jimin untuk ikut latihan bersama kalian sebelum ujian nanti. Dan, setelah itu aku bicara pada Jimin dan tentu saja ia tidak akan menolak keinginan guru kesayangannya ini!" terang guru Lee yang membuat Jimin—sosok yang guru Lee bawa bersamanya—mengeryitkan keningnya tak menyangka jika sang guru benar-benar memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. "Dan juga—aku sudah membicarakan konsepnya pada Jimin. Mungkin, ia punya sedikit gagasan untuk menambah atau merubah konsep kita yagn sudah kita bahas beberapa hari yang lalu." lanjut guru Lee yang diangguki mengerti dari para siswanya. "Kalau begitu, aku tinggalkan kalian. Semangat berlatih, okay!" pamit guru Lee dan melesat pergi begitu saja.
Jimin menarik nafas dan berjalan mendekati Hoseok, mengabaikan seluruh tatapan mata siswa yang mengarah kearahnya.
"Aku senang, kau bisa ikut bergabung Jimin-ssi!" ujar Hoseok memecah kecanggungan antara mereka. Jimin mengangguk paham.
"nde, tentu saja kau harus senang sunbaenim. Tapi, maaf aku tidak bisa ikut latihan di pagi hingga sore hari." sesal Jimin yang membuat seluruh anggota club dance menatap bingung kearahnya. Jimin tersenyum kecil. "sunbaenim, tentu tahu jika aku harus melakukan hukumanku bukan?" tanya Jimin diam-diam ia menyeringai. "Sehari tiga kali, aku harus membantu bibi Kim untuk menyiapkan makanan. Siang hari, aku harus membersihkan kolam renang. Jadi, bisa kau bayangkan betapa padatnya jadwalku?" tanya Jimin lagi yang membuat seluruh siswa tercengang. "Jadi, bisa disimpulkan aku hanya punya waktu kosong setelah makan malam. Lebih tepatnya, jam sembilan malam. Sunbaenim, tidak keberatan 'kan?" tanya Jimin.
"Yak, bisa-bisanya kau—"
Sret!
Seluruh siswa terkejut ketika Jimin tiba-tiba saja mengangkat tangannya yang semula berada di balik punggungnya yang ternyata membawa sebuah proposal dan menunjukkannya di hadapan semua orang.
"Konsep yang selama ini kalian pikirkan sudah aku rubah bersama guru Lee. Jadi, aku mohon kerjasamanya!" pinta Jimin tersenyum manis dan ini adalah kali pertamanya mereka melihat senyum tulus yang mengembang di bibir Jimin membuat mereka ikut tersenyum kecil. Yah, sebaik-baiknya Park Jimin atau seburuk-buruknya Park Jimin, ia tetaplah menjadi Park Jimin yang seenaknya dan sulit ditebak.
.
.
.
.
.
Pagi ini, adalah pagi yang menyebalkan bagi Jimin. Mengingat bagaimana para siswa yang mendapat waktu bebas selama satu minggu sebelum ujian membuat dirinya ikut kerepotan untuk menyiapkan sarapan bersama bibi Kim di aula makan. Oh sungguh, sedari tadi ia hanya bisa merutuki para dewan siswa yang memberinya hukuman untuk membantu bibi Kim. Sungguh, ini benar-benar melelahkan. Terlebih, ia harus bekerja seorang diri sejak kejadian Jungkook beberapa hari yang lalu.
Jimin memasukkan lauk-lauk yang sudah dimasak bibi Kim ke dalam piring para siswa yang sudah mengantri meminta jatah mereka. Tanpa melihat wajah-wajah pembawa piring agak dengan kasar, Jimin meletakkan lauk-lauk itu tak peduli jika beberapa cibiran ditunjukan padanya karena sikapnya yang terbilang tak sopan.
Prang!
Jimin terlonjak dan menatap seorang siswi yang menjatuhkan piring di depannya entah sengaja atau pun tidak. Siswi itu mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jimin tajam.
"Bisa tidak kau memberi makanan pada kami dengan sopan, Jimin-ssi?" serunya menaikkan nada suaranya yang membuat seluruh siswa-siswi yang ada di aula makan mengalihkan perhatian mereka pada Jimin dan siswi itu. Jimin menghela nafas dan menatap seniornya datar.
"Maafkan aku Joohyun sunbaenim, kenapa kau jadi menyalahkanku? Kau sendiri yang tak becus membawa piringmu dengan benar!" sahut Jimin membuat warna muka siswi cantik bernama lengkap Bae Joohyun, si primadona sekolah yang sangat menggilai Min Yoongi berubah menjadi merah penuh amarah.
Prang!
Dan, dengan sengaja Joohyun membuang satu wadah besar yang berisi lauk makanan yang berada di depannya hingga mengenai tubuh Jimin mengingat kedua siswa-siswi itu saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh meja tempat wadah lauk diletakkan. Jimin meringis saat isi makanan itu tumpah dan mengenai tubuhnya mengingat makanan itu baru matang dan masih panas.
Jimin mengibaskan tangan kirinya yang ia yakini pasti akan melepuh sebentar lagi. Kemudian, ia menatap Joohyun kelewat tajam.
"Apa masalahmu?!" tanya Jimin berani dan mengesampingkan rasa sopan mengingat Joohyun adalah seniornya.
"Masalahku?" Joohyun menyeringai jahat. "Masalahku adalah keberadaanmu disini, sampah!" lanjut Joohyun. "Kau itu tidak pantas berada disini hanya karena kau siswa pintar! Kau tidak selevel dengan orang-orang yang ada disini! Seharusnya kau sadar diri, dimana tempatmu seharusnya!" seru Joohyun merendahkan Jimin. Jimin mendecih dan menatap Joohyun berani.
"Jika aku sampah, lalu kau apa? jalang?" sindir Jimin. "Gadis mana yang dengan tidak tahu dirinya menggoda siswa yang menurutnya populer di sekolah ini? oh, mungkin aku miskin tapi aku masih punya harga diri. Dari pada kau? Kau memang kaya dan cantik, tapi—harga dirimu benar-benar sangat rendah!" cibir Jimin membuat kedua tangan Joohyun terkepal dan untuk kedua kalinya Joohyun berniat untuk melempar wadah lauk di depan Jimin sebelum sebuah tangan menahan tangannya. Joohyun menoleh dan menatap tak suka pada temannya, Kang Seulgi yang entah untuk apa tiba-tiba menahannya dan menarik tangannya untuk segera pergi.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Joohyun kesal.
"Min Yoongi dan teman-temannya sudah di depan pintu!" bisik Seulgi diikuti anggukan takut dari ketiga temannya yang lain. "Kau ingat kejadian Sooyoung kemarin 'kan?" tanya Seulgi. Joohyun berdecak dan menatap Jimin tajam.
"Ingat Park Jimin, urusan kita belum selesai!" ancam Joohyun yang kemudian melengos pergi begitu saja diikuti Seulgi dan ketiga temannya yang lain.
Jimin menghela nafas, dengan berat hati ia berjongkok untuk membereskan kerusuhan yang dibuat Joohyun bersamaan dengan bibi Kim yang datang dan membantunya.
"aigoo, Jiminie~ kau tidak apa?" tanya bibi Kim cemas. Jimin tersenyum dan menggeleng.
"Aku tidak apa, bi. Bibi tidak perlu cemas." balas Jimin. Bibi Kim menatap Jimin iba.
"omo, tanganmu melepuh. Lebih baik, kau obati lukamu. Biar bibi yang membereskannya," Jimin menggeleng bermaksud untuk menolak.
"Tapi, bi—"
"gwenchana. Sembuhkan tanganmu, jika kau tidak ingin aku merutuki nenek sihir itu!" Jimin terkekeh dan akhirnya menuruti bibi Kim yang terus memaksanya.
"Baiklah, bi. Maafkan aku, sudah merepotkanmu."
"aigoo, ini bukan salahmu, nak. Tak apa-tak apa!" lanjut bibi Kim. Jimin mengangguk dan kemudian berdiri untuk membersihkan tangan kirinya yang memerah melepuh.
.
.
.
.
.
Jimin meringis pelan ketika mengoleskan salep pada tangan kirinya yang melepuh. Sesekali ia juga mengibaskan tangannya akibat rasa perih yang menjalar hingga ke ulu hatinya. Berlebihan memang, tapi percayalah Jimin ingin sekali berteriak marah karena rasa sakit yang ia rasakan. Oh, malang sekali telapak tangannya yang mulus yang menjadi korban penganiyayaan. Ck, berlebihan!
"ah sial! Aku benar-benar ingin mengutuk senior itu. Apa masalahnya denganku?!" gerutu Jimin kesal bukan main. Jimin menarik nafas dan mengigit bibirnya menahan sakit. Ia ingin sekali melempar salep yang ada di tangannya. Persetan dengan tangannya yang tidak kunjung sembuh, ia lelah mengobati tangannya seorang diri.
Set!
Dan saat Jimin tengah menyuarakan rasa kesalnya dalam hati, tiba-tiba ia harus dikejutkan dengan sebuah tangan yang mengambil obat salep dari tangannya. Jimin mendongak dan alangkah terkejutnya ketika sepasang mata indahnya mendapati juniornya yang sekaligus adalah roomate-nya. Hm, itu benar! Jeon Jungkook ada di depan Jimin dan duduk berhadapan dengannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jimin dingin.
"Kau terluka?" tanya Jungkook tak mengindahkan pertanyaan Jimin yang sebelumnya. Jimin melengos, enggan menatap Jungkook dan menyembunyikan tangannya yang melepuh. Jungkook tersenyum manis dan menarik tangan Jimin lembut membuat Jimin sontak terkejut dan menatap Jungkook tak mengerti. Awalnya, Jimin berniat untuk menarik tangannya dari genggaman Jungkook tapi ketika Jungkook dengan lembut mengoleskan salep pada tangannya seraya sesekali meniupnya membuat Jimin membiarkan Jungkook untuk mengobati tangannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Jimin menanyakan pertanyaan yang sama.
"Aku tidak sengaja melihatmu masuk kemari," jawab Jungkook jujur.
"Jadi, kau sengaja?" Jungkook mengangguk.
"Aku belum sempat mengatakan terima kasih padamu, sunbaenim." Jimin mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jungkook tak mengerti.
"Untuk?"
"Untuk kau yang bersedia datang dan menghentikan Minhyuk sunbaenim menghajarku tempo hari."
"ah, itu~ gwenchana, anggap saja kau beruntung waktu itu!" timpal Jimin sekenanya.
"Dan, aku juga ingin meminta maaf." Dan Jimin sungguh terkejut ketika enam kata itu terlontar dari bibir Jungkook begitu saja. Apa dia sedang berimajinasi?
"minta maaf?" tanya Jimin tak menyangka. Jungkook mengangguk.
"Aku sungguh minta maaf padamu, sunbaenim. Aku harap, kau mau memaafkanku dan mau menjadi temanku," Jimin tersenyum menang mendengar penuturan maaf dari Jungkook yang terdengar tulus. Tapi, tunggu kenapa kata terakhir itu seperti tengah menyadarkannya akan sesuatu?
'Teman? Omo, ini pasti jebakan! Dia memintaku berteman dengannya kemudian aku akan menepati omonganku waktu itu. No no no, aku tidak mungkin membiarkan harga diriku terinjak-injak karena ulahku sendiri. ani-ani!'
"sunbaenim, kau mau memaafkanku 'kan?" tanya Jungkook ketika melihat Jimin tak kunjung merespon. Jimin tersentak dari lamunannya dan menarik nafas.
"Aku memaafkanmu. Tapi, bukan berarti kita bisa memulai pertemanan!" balas Jimin datar dan Jungkook hanya bisa menatap Jimin merasa bersalah.
"Aku benar-benar meminta maaf padamu, sunbaenim. Maafkan aku jika selama ini aku selalu menyulitkanmu." Jimin mengulas senyum.
"gwenchana, itu bisa menjadi pelajaran untuk kita. Dan, sekarang kita sudah impas, hm?" tanya Jimin. Jungkook tersenyum manis dan mengangguk, kemudian Jimin pun segera bangkit dari duduknya membuat keryitan bingung di dahi Jungkook. "gomapta, sudah mengobatiku. Dan, belajar yang rajin, hm? Dan—sampai ketemu di festival nanti!" Jimin menepuk pundak Jungkook pelan dan berlalu begitu saja. Jungkook mengangkat sebelah alisnya berfikir sejenak.
"omo!" pekik Jungkook tanpa sadar menunjukkan raut cemasnya ketika ia baru mengerti apa maksud dari ucapan Jimin sebelum pergi dari unit kesehatan meninggalkan dirinya seorang diri.
.
.
.
.
.
"Kau sudah dengar, Park Jimin diijinkan untuk ikut festival."
"Benarkah?"
"Park Jimin benar-benar ikut andil?"
"Aku dengar begitu!"
"Kau dengar dari siapa?"
"Anak club dance, mereka ramai membicarakan tentang ikutnya Park Jimin!"
"hm, bahkan kata mereka, Jimin dan guru Lee yang membuat konsepnya!"
"Daebak! Apakah mereka akan menjadi kandidat kuat untuk menjadi pemenang?"
"Aku kira begitu, kau ingat bukan bagaimana penampilan Park Jimin tahun lalu? Jika dia tidak nakal dan menyebalkan aku akan menjadi fans-nya!"
Baru saja mereka memasuki cafetaria tapi telinga ketiga pemuda tertampan yang merangkap sebagai anak dari pemilik sekolah sudah mendapat wejangan berupa gosip pagi yang sepertinya menjadi hot topic hari ini.
Sret!
Ketiga pemuda itu pun duduk di tempat yang biasa mereka tempati jika mereka sudah berada di dalam cafetaria.
"Pesan apa, hyung? Aku mulai bosan dengan makanan yang sudah disediakan sekolah." tanya Taehyung.
"hm, aku ingin omelet pagi ini." gumam Namjoon setelah terdiam cukup lama. "Bagaimana denganmu, hyung?" Namjoon beralih bertanya pada Yoongi.
"Apa kalian melihat Jimin?" Namjoon dan Taehyung menatap Yoongi terkejut. "Sejak masuk tadi, aku tidak melihatnya memberikan makanan para siswa seperti biasa."
"woah, apa kau benar-benar tertarik padanya, hyung?" tanya Taehyung takjub. Yoongi tersenyum miring.
"Aku memang tertarik padanya." Jawab Yoongi jujur yang langsung direspon 'woah' dari Namjoon dan Taehyung secara kompak.
"Tertarik dalam hal apa, hyung?" Namjoon yang bertanya membuat Yoongi menatap kedua teman kecilnya bergantian.
"Jika aku perhatikan akhir-akhir ini, kenapa kalian tidak pernah berbaur?" tanya Yoongi. Namjoon dan Taehyung mengeryit heran ketika Yoongi mengatakan hal demikian. "Kalian menyuruhku untuk berbaur dan kalian—selalu membuntutiku kemana saja. Apa kalian tidak bosan sejak kalian berumur lima tahun terus bersama?"
"eyy aniyo hyung, aku bahkan merasa tidak bisa dipisahkan dengan kalian berdua!" sahut Taehyung bangga.
"Karena itulah hyung, kami heran karena kau tidak pernah berbaur maka dari itu, kami mengawasimu!" sambung Namjoon. Yoongi berdecak.
"Kalian pikir aku anak kecil. Urusi urusan kalian sendiri!" balas Yoongi sarkas. Taehyung mempoutkan bibirnya dan Namjoon menarik nafas malas.
"hyung, apa kau jatuh cinta pada JM-Park?" tanya Taehyung was-was yang seketika membuat Yoongi menoleh kearahnya dengan kedua matanya yang membulat terkejut.
"Apa kau bilang?!"
"a-aniyo!" Taehyung menggeleng cepat. "Aku hanya meracau, iyakan Namjoon hyung?" Taehyung mengerjapkan kedua matanya kearah Namjoon meminta pertolongan. Namjoon tersenyum kecil dan menggeleng malas sementara Yoongi hanya terdiam memikirkan pertanyaan Taehyung padanya.
'Jatuh cinta? Aku rasa—'
"Min Yoongi-ssi?" panggil suara asing yang mengalihkan atensi mereka bertiga. Yoongi yang merasa namanya dipanggil pun segera menoleh ke samping kanannya dan mendapati ketua kelasnya, Kim Sunggyu.
"Ada apa?" tanya Yoongi dingin tanpa menatap kearah Sunggyu.
"Henry ssaem memanggilmu di kantornya." Ujarnya memberitahu. Yoongi mengangkat sebelah alisnya.
"Untuk apa?"
"Kau akan tahu jika kau sudah menemuinya!" jawab Sunggyu. Yoongi menarik nafas.
"Baiklah, aku akan kesana!" Yoongi mengibaskan tangannya menyuruh Sunggyu untuk segera pergi. Sunggyu memasang wajah datar dan menahan amarahnya.
"arraseo, kalau begitu aku pergi!" pamit Sunggyu dan akhirnya pergi meninggalkan mereka bertiga. Sepergian Sunggyu, Yoongi berdecak malas.
"Kau tidak membuat masalah kan hyung?" tanya Taehyung. Yoongi mendecih remeh.
"Jika aku membuat masalah pun berani apa mereka padaku?" Yoongi balik bertanya dengan senyum angkuh yang terpatri di bibir tipisnya. "Tenang saja, aku tidak membuat masalah apapun. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai nanti!" Yoongi beranjak dari duduknya meninggalkan Taehyung dan Namjoon yang masih mematainya hingga punggung Yoongi tak terlihat di balik pintu cafetaria.
.
.
.
.
.
Cklek!
Yoongi membuka pintu ruang salah satu pengajar yang katanya tengah menunggu kedatangannya.
"Yoongi-ssi, kau sudah datang." Sambut seorang pria bermata sipit dan berwajah campuran antara Hongkong-Kanada, Henry Lau yang tengah duduk di kursi kerja di ruangannya. Oh, jangan lupakan jika guru itu tidak sendiri di ruangannya, ia juga bersama dengan enam orang siswa yang tidak Yoongi ketahui siapa namanya.
Yoongi berjalan mendekati meja sang guru yang ia ketahui mengampu pelajaran seni musik dan sekaligus sebagai pembina dari club musik.
"nde, ada apa anda memanggil saya, ssaem?" tanya Yoongi mengabaikan keenam pemuda yang menatapnya dan berbisik di belakangnya.
"Aku yakin, dia tidak akan mau!" bisik seorang siswa pada siswa lainnya.
"hm, aku juga yakin seratus persen dia pasti akan menolak untuk bergabung!" balas siswa lain ikut menyetujui.
Yoongi menarik nafas, meskipun dengan suara lirih tapi ia tidak cukup tuli untuk tidak mendengar bisik-bisik yang ia yakini tengah membicarakannya.
"Kau tahu bukan, sekolah akan mengadakan festival tahunan?" tanya Henry. Yoongi hanya mengangguk dan tetap memasang wajah datarnya tanpa minat. "Dan, aku dengar kau belum bergabung dengan club manapun." Yoongi menarik nafas. Ia bukan Taehyung ataupun Namjoon yang mudah berbaur dengan banyak orang atau sekedar untuk bersosialiasi, dia bukan anti sosial tapi dia tidak suka berada di tempat keramaian apalagi bersama dengan banyak orang asing.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan club manapun?" dan sungguh, jika pria di depan ini bukan gurunya sudah dipastikan Yoongi pasti akan berteriak untuk mengatakan 'apa urusanmu?! Jangan urusi urusanku!'. Tapi, bagaimanapun juga ia memiliki etika dan harus menahan diri untuk tetap bersikap sopan kepada orang yang lebih tua. ya, setidaknya seperti itulah kiranya yang diajarkan ayahnya sejak kecil.
"nde, saya belum memutuskan untuk ikut kegiatan di sekolah ini." Henry mengangguk paham.
"Karena itulah aku memanggilmu kemari—untuk mengajakmu bergabung dengan club musik. Aku dengar, kau mahir bermain piano sejak kecil." Yoongi mengangkat sebelah alisnya. Darimana guru-nya ini tahu? Bahkan, guru-guru dan teman-teman di sekolahnya dulu sama sekali tidak mengetahui jika dirinya sangat menyukai segala hal yang berbau dengan musik.
"nde!" jawab Yoongi sikat.
"Apa kau bersedia bergabung?" tawar Henry. Yoongi diam sejenak.
'Dan untuk apa aku harus bergabung? Itu hanya membuang waktuku!'
Yoongi hendak menolak secara halus namun kemudian ia teringat sesuatu yang membuatnya langsung berubah pikiran.
"Kau sudah dengar, Park Jimin diijinkan untuk ikut festival."
"Kalian tahu, hyung—aku masuk club paduan suara dan ikut andil festival mendatang bersama anak kelas satu yang bersama JM-Park di lapangan futsal waktu itu."
"Baiklah, saya akan ikut bergabung!" putus Yoongi akhirnya yang membuat keenam siswa yang berdiri tak jauh darinya membulatkan kedua mata mereka terkejut termasuk juga Henry yang tak menyangka jika tak sesulit itu untuk mengajak seorang siswa baru yang terlihat angkuh dan suka menang sendiri.
"Kau benar-benar bersedia?" Henry bertanya memastikan. Yoongi hanya mengangguk. "Terima kasih, Yoongi-ssi. Dan, apa kau sibuk hari ini?" Yoongi menggeleng. "Bagus! Kita bisa membicarakan konsepnya hari ini. Kalian bertujuh berkumpullah di studio musik jam 5 sore nanti, arraseo?" titah Henry, dan ketujuh siswa itu hanya mengangguk menurut.
Selesai pertemuannya dengan sang guru musik, Yoongi pun segera bergegas pergi meninggalkan ruang Henry setelah berpamitan. Yoongi berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya sebelum suara asing memanggilnya dan membuatnya terpaksa harus menghentikan langkahnya.
"Yoongi-ssi!" panggil seseorang berlari menghampiri Yoongi. Yoongi berbalik dan mendapati seorang siswa dengan name tag Yoon Junhyung, kini berdiri di hadapannya. Yoongi hanya berdehem dan menatap malas kearah Junhyung yang kini mengulurkan tangannya di depannya.
"Perkenalkan, aku Yoon Junhyung dari kelas 3-IC dan juga ketua club musik ini." ujarnya memperkenalkan. Yoongi melirik kearah tangan Junhyung yang masih terulur di depannya, kemudian ia berdehem.
"hm, lalu kau mau apa?" tanya Yoongi, ia sudah muak bersikap sopan sedari tadi.
"Bagaimanapun juga aku harus mengucapkan selamat datang padamu atas bergabungnya di club kami!" Yoongi mengangguk paham dan bersamaan dengan Junhyung yang akhirnya menarik tangannya karena Yoongi tak kunjung membalas jabatan tangannya.
"hm, terima kasih. Apa sudah selesai?" tanya Yoongi menyebalkan yang membuat lima siswa yang berdiri tak jauh dari mereka dan tengah memperhatikan bagaimana menyebalkannya seorang Min Yoongi hanya bisa menahan amarah diam-diam. "Kalau begitu, bisakah aku pergi sekarang Yoon Junhyung-ssi?" ijin Yoongi. Junhyung menarik nafas dan mengangguk kecil. Yoongi tersenyum miring dan kemudian ia melengos pergi begitu saja.
"Kenapa Henry ssaem harus memasukkannya ke anggota inti?" tanya siswa yang bername tag Kim Wonshik menatap sebal kearah punggung Yoongi.
"nde, bahkan mudah sekali untuk membawanya masuk!" lanjut siswa yang bernama Woo Jiho.
"Sudahlah, aku yakin Henry ssaem melakukannya demi kebaikan club kita. Kita masih belum tahu 'kan bagaimana konsepnya kali ini?" balas Jung Jinyoung, anggota dewan siswa yang juga menjadi anggota club musik.
"Jinyoung sunbae benar. Apalagi, mengingat bagaimana kuatnya persaingan kita tahun ini." lanjut anggota club musik yang lain yang juga merupakan anggota dewan siswa dari kelas 2-IIC, Kim Hanbin diikuti teman sengangkatannya Lee Jihoon.
"Ya sudah, sampai bertemu nanti siang!" Junhyung berujar dan pergi lebih dulu meninggalkan teman satu club-nya diikuti sisanya yang juga ikut pergi dari koridor yang masih berada di area ruang kerja Henry.
.
.
.
.
.
Jimin mematai sederetan miniatur yang ada di toko serba guna yang kebetulan sedang ia kunjungi di sore ini. Jimin menahan pekikan kagumnya ketika ia melihat berbagai macam miniatur yang membuatnya semakin bingung untuk memilih mana kiranya yang harus ia beli. Hingga akhirnya tangan Jimin meraih sebuah miniatur teleskop berwarna hitam.
"Argh~" Jimin memekik seraya memegang kepalanya yang entah kenapa tiba-tiba terasa sakit. Jimin memejamkan kedua matanya pada saat sebuah bayangan berwarna hitam putih dengan dua orang dewasa berbeda kelamin berdiri di samping kiri-kanan seorang anak yang tengah bermain dengan teleskop besarnya.
"ARGH~" dan Jimin semakin mengerang hebat ketika bayangan dari tiga orang asing yang muncul di memori otaknya semakin lama semakin memudar dan berubah menjadi warna hitam seluruhnya. Jimin meremat rambutnya saat ia merasa kepalanya yang terasa amat terangat sakit yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya.
Tanpa sadar, tangan kanan yang Jimin gunakan untuk memegang miniatur itu hampir terlepas dari genggamannya jika saja tidak ada seorang yang tiba-tiba menahan tubuhnya dari belakang. Jimin seketika tersadar bersamaan dengan rasa sakit di kepalanya serta bayangan-bayangan asing itu hilang begitu saja. Jimin menoleh dan mendapati seseorang yang familiar tengah berdiri di belakangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Doojoon sunbae?" lirih Jimin tak menyangka. Pemuda yang merupakan senior Jimin itu pun hanya tersenyum dan melepas tangannya dari tubuh Jimin. Doojoon memundarkan langkahnya, menjaga jarak dan tersenyum tampan kearah pemuda manis yang tak sengaja ia temui di toko serba guna.
Dan tanpa mereka sadari terutama untuk Jimin sendiri, ada seorang pria yang sedari tadi mengawasi Jimin di balik kaca mobilnya yang terparkir di seberang toko yang Jimin kunjungi. Pria itu menyeringai, tepatnya kearah Jimin yang tampaknya sedang berbincang dengan pemuda yang berdiri di depannya.
"Kita akan bertemu lagi, Park Jimin! Dan, saat itu datang—kami pastikan jika kau tidak akan selamat untuk yang kedua kalinya!"
TBC
(-) Hay hay hay... update today,,,,
(-) Thx yang udah review di chapter sebelumnya, dan yang udah nyempetin baca dan semoga ini lanjutannya enggak mengecewakan ya, maap kalau masih ada typo...
(-) Rencana awal tadinya emang mau buat salah satu dari Seokjin, Hoseok, sama Jungkook itu saudaraan sama Jimin, tapi kalau dipikir2 agak gimana gitu jadi aku buat aja posisinya sama kaya Yoongi, Namjoon, sama Taehyung.
(-) Aku usahain update-nya mungkin bisa seminggu setelah diupdate atau lebih atau juga bisa kurang.
(-) See you in next chapter,.
Kamsahamnida,
