Previously ...
"ARGH~" dan Jimin semakin mengerang hebat ketika bayangan dari tiga orang asing yang muncul di memori otaknya semakin lama semakin memudar dan berubah menjadi warna hitam seluruhnya. Jimin meremat rambutnya saat ia merasa kepalanya yang terasa amat terangat sakit yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya.
Tanpa sadar, tangan kanan yang Jimin gunakan untuk memegang miniatur itu hampir terlepas dari genggamannya jika saja tidak ada seorang yang tiba-tiba menahan tubuhnya dari belakang. Jimin seketika tersadar bersamaan dengan rasa sakit di kepalanya serta bayangan-bayangan asing itu hilang begitu saja. Jimin menoleh dan mendapati seseorang yang familiar tengah berdiri di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Doojoon sunbae?" lirih Jimin tak menyangka. Pemuda yang merupakan senior Jimin itu pun hanya tersenyum dan melepas tangannya dari tubuh Jimin. Doojoon memundarkan langkahnya, menjaga jarak dan tersenyum tampan kearah pemuda manis yang tak sengaja ia temui di toko serba guna.
Dan tanpa mereka sadari terutama untuk Jimin sendiri, ada seorang pria yang sedari tadi mengawasi Jimin di balik kaca mobilnya yang terparkir di seberang toko yang Jimin kunjungi. Pria itu menyeringai, tepatnya kearah Jimin yang tampaknya sedang berbincang dengan pemuda yang berdiri di depannya.
"Kita akan bertemu lagi, Park Jimin! Dan, saat itu datang—kami pastikan jika kau tidak akan selamat untuk yang kedua kalinya!"
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau tidak apa?" tanya Doojoon entah kenapa mimik wajahnya terlihat cemas. Jimin tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak, sunbaenim. Aku tidak apa, oh—apa yang sunbaenim lakukan disini?" tanya Jimin basa-basi. Doojoon tersenyum kecil.
"Hari ini, aku bertugas untuk membeli beberapa keperluan untuk studio kita dan beberapa perlengkapan untuk persiapan festival nanti. Sebenarnya aku hanya melihat-lihat saja." Jimin mengangguk paham. "Lalu, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya mampir." jawab Jimin singkat bersamaan dengan Doojoon yang melirik kearah tangan kanan Jimin yang masih memegang miniatur teleskop di tangannya. "Kalau begitu, saya permisi dulu sunbaenim!" pamit Jimin sebelum tangan Doojoon bergerak untuk menahan tangannya secara tiba-tiba. Jimin menoleh dengan tatapan terkejutnya kearah Doojoon.
"Apa kau mau kembali ke sekolah?" tanya Doojoon. Jimin menggeleng jujur.
"ani, aku hendak mampir ke suatu tempat." jawab Jimin. Doojoon berfikir sejenak.
"Bolehkah aku menemanimu?" tanya Doojoon akhirnya.
"nde?" balas Jimin tampak terkejut.
"ehm—maksudku, aku merasa bosan di sekolah. Jadi, aku pikir karena aku sedang berada diluar, kenapa tidak jalan-jalan sebentar? Aku juga sudah lama tidak keluar seperti ini." terang Doojoon mencari alasan. Jimin mengulum senyum.
"nde, tentu saja. Kenapa tidak? Tapi, ijinkan aku untuk membayar miniatur ini terlebih dahulu!" ijin Jimin. Doojoon mengangguk dan membiarkan Jimin untuk membayar barang yang akan dibelinya. Dan dalam hati, Doojoon bersorak senang hanya karena ia memiliki waktu bersama dengan Jimin. Entah apa yang terjadi padanya, tapi ia merasa girang ketika Jimin mengijinkannya untuk menemaninya sore ini.
Setelah Jimin membayar miniaturnya dan setelah kedua senior-junior di sekolah itu keluar dari toko serba guna, disinilah mereka berjalan beriringan dalam diam menyusuri setiap trotoar yang mereka pijaki.
"Aku dengar, kau ikut festival mendatang nanti." ujar Doojoon membuka pembicaraan. Jimin hanya berdehem.
"nde!" jawab Jimin sekenanya. "Lee ssaem, meminta ijin pada Kim ssaem agar aku bisa ikut latihan pada masa skorsing-ku!" lanjut Jimin. Doojoon terdiam.
"Sebenarnya, aku ingin minta maaf padamu." lirih Doojoon, membuat Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Kenapa sunbaenim ingin meminta maaf padaku?" tanya Jimin.
"Sebenarnya, aku juga memukul Minhyuk waktu itu. Seharusnya, aku juga ikut dihukum. Tapi, saat aku mengatakannya pada Kim ssaem, dia tidak mau mendengarkanku." Jimin tersenyum manis dan seketika membuat Doojoon terpesona hanya karena melihat senyum Jimin yang jarang ia tunjukan pada siapapun.
"Posisiku dan posisimu berbeda, sunbaenim. Kim ssaem, bukannya tidak mendengarkanmu—tapi, dia tahu siapa yang salah dan siapa yang tidak. Itulah kenapa Jeon Jungkook tidak ikut disertakan!" balas Jimin menoleh kearah Doojoon sekilas. "Disini, Jeon Jungkook adalah korbannya dan Minhyuk sunbae adalah tersangkanya dan aku—adalah pokok permasalahannya. Sedangkan, kau—kau hanya berperan sebagai penengah sekaligus untuk melindungi si korban. Tentu saja, Kim ssaem tidak akan menghukummu!"
"Tapi, kau tidak ada sangkut pautnya dengan perkelahian mereka. Bahkan, kau tidak ada disana, justru kau-lah yang menolong Jeon Jungkook." Jimin terkekeh yang membuat Doojoon semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran juniornya.
"wah, melihatmu sekarang aku jadi meragukan kemampuan dari ketua dewan siswa RC!" canda Jimin masih dengan senyuman hangatnya yang membuat Doojoon merasa tak tersinggung dengan perkataannya melainkan membalasnya dengan senyum tampan di bibir pemuda itu. "Memang rasanya tidak adil untukku karena aku tidak ada di tempat kejadian. Tapi, aku adalah penyebab dari kenapa mereka bisa berkelahi. Dan, jujur saja aku merasa bersalah karena telah membuat Jeon Jungkook terluka!" Doojoon mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jimin tak percaya. Jimin tersenyum kecil.
"Apa ada suatu tempat yang ingin kau kunjungi, sunbaenim?" tanya Jimin mengalihkan pembicaraan. Doojoon berfikir sejenak.
"Aku sudah lama tidak keluar, jadi aku juga tidak tahu mau pergi kemana." Jimin kembali terkekeh. "Tadi, kau bilang ingin pergi ke suatu tempat. Kenapa kita tidak kesana bersama saja?" tawar Doojoon kemudian.
"Baiklah, sunbaenim. Dan kebetulan, tempat itu sudah ada di seberang sana!" Jimin menunjuk kearah sebuah truk yang menjual sundae dimana tempat yang selalu ia kunjungi jika ia pergi keluar seperti saat ini. "Biasanya aku selalu mampir untuk memakan sundae buatan haraboji. Sunbaenim, pasti pernah mencobanya 'kan?" tanya Jimin. Doojoon terdiam dan menatap kearah truk yang sepi pengunjungnya itu dengan kedua matanya yang tak berkedip. "Jangan bilang, ini pertama kalinya untukmu?" Doojoon mengangguk kecil. Jimin pun tertawa manis.
"woah~ kau mengingkanku pada ahjussi tempo hari!" gumam Jimin dan refleks ia menarik tangan Doojoon untuk menyebrang dan berjalan kearah truk yang menjual sundae langganannya. "jja, kau harus mencobanya sunbaenim!" ujar Jimin ketika keduanya sampai di depan truk itu.
"annyeongasseo haraboji!" sapa Jimin sopan.
"ah, Jiminie kau datang lagi?" balas sang kakek ramah yang membuat Doojoon menatap Jimin dan kakek penjual sundae bergantian.
'woah, kenapa aku seperti melihat sisi lain dari Park Jimin? Sikapnya sangat berbeda dengan Jimin biasanya ketika berada di sekolah.'
"nde, haraboji!" jawab Jimin riang.
"aigoo~ kau membawa teman lagi, hm?" Jimin tersenyum manis.
"nde, dia adalah seniorku di sekolah. Sunbaenim, beri salam padanya!" Doojoon membulatkan kedua matanya terkejut namun kemudian ia membungkukkan badannya di hadapan sang kakek.
"a-annyeongasseo!" sapanya kaku.
"wah~ kau pemuda yang tampan. Duduklah, aku akan menyiapkan sundae untuk kalian berdua!" titah sang kakek yang diangguki antusias oleh Jimin.
Kini, Jimin dan Doojoon duduk saling berhadapan dalam keheningan untuk menunggu datangnya sundae di meja mereka.
"Kau tampak akrab dengan kakek penjual sundae ini." Doojoon kembali membuka pembicaraan.
"nde, aku memang cukup akrab dengan sundae haraboji."
"sundae haraboji?" Jimin mengangguk.
"nde, begitu beliau menyebutnya ketika aku bertanya siapa namanya."
"Apa kau sering kesini?"
"Setiap hari."
"Setiap hari?"
"hm, sejak aku di skors aku kemari setiap hari. Tapi jika tidak, aku datang setiap hari minggu!"
"Apa kau sangat menyukai sundae?"
"Bukan sundae yang aku sukai." jawab Jimin jujur.
"Lalu, kenapa kau sampai sering datang kemari?" tanya Doojoon ingin tahu.
"Aku juga tidak tahu. Kenapa aku selalu datang kemari. Entah kenapa aku merasa tempat ini tidak asing bagiku!" jawab Jimin yang membuat Doojoon menatap Jimin dengan tatapan sulit diartikan. Selanjutnya, Doojoon hanya diam hingga hidangan yang mereka pesan diambil oleh Jimin ketika sang kakek memanggilnya. Doojoon menatap Jimin tak berkedip, entah kenapa ia merasa ada yang janggal dari juniornya itu.
.
.
.
.
.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Henry memasuki studio musik dan mendapati para siswanya duduk berjauhan. Ada yang duduk di kursi di depan piano, di sofa studio, di karpet, dan di kursi lainnya yang berada di setiap sisi dekat dengan instrumen-instrumen musik yang ada di studio itu.
"Henry ssaem, apa anda memang tidak memanggil anggota club musik yang lain?" tanya Wonshik. Henry menggeleng dan berdiri berhadapan dengan keenam siswanya.
"Nope! Karena, untuk festival kali ini hanya kalian bertujuh yang akan tampil!" jawab Henry.
"Tapi, bukankah ini terlalu sedikit ssaem?" tanya Jiho. Henry kembali menggeleng.
"Justru, ini sudah lebih dari cukup—" Henry menghentikan ucapannya ketika ia mengabsen siswa kebanggaannya satu persatu. "oh, aku rasa ada yang kurang—dimana Min Yoongi?" tanya Henry. Enam siswa yang sudah ada di studio musik itu saling berpandangan.
"Maaf ssaem, kami juga tidak tahu!" sesal Junhyung. Henry menarik nafas dan kembali menatap keenam siswanya.
"Henry ssaem, bolehkah kami menanyakan sesuatu padamu?" tanya Jinyoung. Henry hanya mengangguk.
"Bertanyalah!" balas Henry.
"Kenapa anda meminta Min Yoongi untuk bergabung?" tanya Jinyoung. Henry tersenyum kecil.
"Kalian pasti sudah mendengar jika Kim Taehyung ikut bergabung di club vocal, 'kan?" Henry balik bertanya.
"Jadi, apa anda melakukannya karena ingin menarik perhatian seluruh penghuni sekolah?" tebak Jihoon. Henry tersenyum kecil.
"aniyo! Ini hanya kebetulan saja, para anak pemilik sekolah itu memiliki talent yang luar biasa sebenarnya. Tapi, meskipun begitu mereka tidak pernah menunjukkannya."
"Benarkah?" pekik mereka terkejut.
"hm, dan berkaitan dengan musik, Min Yoongi bahkan sudah menganggap jika musik adalah sebagian dari hidupnya."
"Tapi, bagaimana ssaem bisa mengetahuinya?" tanya Hanbin heran.
"Secara kebetulan, beberapa guru disini adalah teman dari ketiga asisten mereka saat kami sekolah dulu. Dan, secara tidak langsung mereka meminta seluruh guru untuk mengawasi tuan muda mereka itu. Karena kalian tahu? Sudah sekitar tiga tahun mereka hampir melupakan tanah kelahiran mereka dan hidup di negeri orang." keenam siswa itu mengangguk mengerti. "Jadi, aku harap kalian bisa bekerja sama dengannya!"
"hah~ aku harap dia tidak bersikap seenaknya seperti kedua temannya! Yang satu, suka bermain-main di studio penyiaran dan yang satu suka membuat ramai dengan fans dadakannya!" gumam Jinyoung memelankan suaranya agar Henry tak mendengarnya, sementara Junhyung, Jihoon dan Jiho yang kebetulan duduk di sofa bersama Jinyoung hanya mengangguk menyetujui.
Cklek!
Keenam siswa dan seorang guru yang ada di dalam studio musik seketika menoleh saat mendengar pintu studio mereka terbuka tanpa diketuk dan muncullah sosok yang kedatangannya sedang mereka tunggu.
"ah~ Yoongi-ssi, kau sudah datang?" sapa Henry beranjak dari duduknya untuk menyambut anggota baru di club yang ia bimbing. Yoongi membungkukkan badannya di hadapan Henry.
"Maaf, saya datang terlambat ssaem." lirih Yoongi.
"gwenchanayo, kami juga belum mulai. Duduklah!" Henry mempersilahkan dan Yoongi segera duduk di kursi dari grand piano yang kebetulan ada di dekatnya. "Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul—langsung saja, kita membahas konsep yang akan kita tampilkan nanti." Henry mulai membicarakan tentang rencananya di hadapan ketujuh siswanya yang duduk menyebar dan menatap fokus kearahnya.
"Ada alasan kenapa aku memutuskan hanya menunjuk tujuh orang saja yang berpartisipasi dalam festival nanti karena jika kita mengikut-sertakan banyak orang yang ada di club bisa dipastikan latihan kita akan sangat ekstra mengingat festival ini diadakan dua hari setelah ujian." terang Henry. "Dan, aku berencana untuk membuat festival musik kita nanti bisa bernuansa seperti festival tahunan di Indio, California. Kalian pasti tahu 'kan Coachella Valley Music and Arts Festival?"
"ah, bukankah itu adalah event akbar festival yang selalu dihadiri artis papan atas Hollywood yang diadakan di lembah Colorado?" pekik Wonshik antusias.
"Tapi, ssaem bagaimana kita bisa mengadakan festival musik yang menyerupai salah satu festival terbesar di dunia jika hanya dengan tujuh orang?" tanya Junhyung. Henry tersenyum dan mematai ketujuh siswanya satu persatu.
"Kau benar Junhyung-ssi. Kita memang tidak bisa membuat festival musik kita sebesar festival terkenal itu tapi, kita bisa membuat suasana festival menyerupai festival disana. Dengan menunjukkan musik indie rock, EDM, hingga hiphop, aku yakin meskipun hanya sedikit orang yang andil tapi bisa memberikan suasana yang meriah!" terang Henry. "Apa kalian ada usul lain?" tanya Henry. Ketujuhnya terdiam dan berfikir sejenak.
"ssaem, jika kita hanya menampilkan intrumen saja seperti tahun-tahun lalu kenapa kita tidak mencoba untuk menampilkan penampilan yang lain sesuai dengan genre yang nanti akan kita bawakan?" usul Jiho. "Misalnya, seperti hiphop akan lebih menyenangkan jika nantinya ada yang melakukan rapping atau pertunjukan grafitti atau breakdance misalnya, disisi ada yang men-DJ disisi lain ada yang melakukan hal yang diluar dugaan mereka!"
"Aku rasa ide Jiho sunbaenim sangat bagus ssaem, kita tidak pernah melakukan sesuatu yang mengejutkan sebelumnya." sahut Hanbin ikut menyetujui.
"hm, kalian benar. Jika diingat-ingat penampilan kita dari tahun-tahun lalu selalu terlihat monoton dengan suara-suara intrumen saja. Dan, Junhyung-ssi ini gambaran konsep serta tata panggungnya nanti, kau bagikan tugas pada mereka secara adil dan tentang pertunjukan pengiringnya kau bisa koordinasikan dengan anggota dewan siswa yang ditugasi untuk mendampingi club kita!" Henry menyerahkan sebuah proposal pada si ketua club musik, Yong Junhyung.
"nde ssaem!" balas Junhyung setelah menerima proposal yang diberikan Henry padanya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Laporkan setiap perkembangannya padaku, arraseo?" pinta Henry ia berbalik badan dan segera bergegas meninggalkan studio club dance.
Junhyung kembali ke tempat duduknya semula dan membuka proposal bersama dengan Jihoon, Wonshik, dan Hanbin yang langsung mendekatinya.
"Apa isinya?" tanya Jiho.
"Hanya gambar dekorasi. Tapi, aku rasa maksud Henry ssaem memberikan ini pada kita adalah sebagai gambaran untuk perform kita nanti!" jawab Junhyung.
"Ya sudah tunggu apa lagi, kita langsung saja membagi tugasnya!" sahut Wonshik bersemangat.
"Bagaimana jika kita menampilkan tiga genre? Hiphop dan EDM, juga musik tradisional Korea?" usul Junhyung yang mendapat respon ekspresi terkejut dari siswa-siswa yang ada di studio itu, oh kecuali Yoongi tentu saja. Karena, sejak Henry ssaem menjelaskan segala gagasannya, jujur saja Yoongi tidak begitu mendengar apa penjelasan dari guru musik itu. Bahkan, ia sendiri bingung, kenapa ia repot-repot menerima tawaran untuk bergabung?
"Tradisional Korea? Tapi, tidak ada satupun dari kami yang pernah memainkannya." balas Jinyoung yang diangguki setuju oleh rekannya yang lain.
"Konsep festival yang diusung Henry ssaem adalah festival besar dan meriah, dan juga sangat kental dengan budaya di barat sana. Kita memang sudah bisa membuat meriah dengan adanya musik hiphop dan EDM, tapi tidakkah menurut kalian akan menambah nilai plus jika untuk pertama kalinya kita menampilkan musik tradisional di negara kita sendiri?" tanya Junhyung.
"ah~ memang uri leader selalu bisa diandalkan!" puji Wonshik.
"Aku rasa itu ide yang bagus. Kita bertujuh bisa membagi tugas untuk memainkan ketiga genre itu sesuai dengan alat musiknya. Dan, bagaimana dengan tampilan tambahannya?" tanya Jiho.
"Bagaimana dengan sisa anggota club musik yang lain, sunbaenim? Mereka pasti bisa membantu!" usul Jihoon yang sedari tadi hanya diam.
"Baiklah, aku akan mengumpulkan mereka semua besok. Jinyoung-ssi, bisa kau menemaniku untuk mengumpulkan mereka?" pinta Junhyung. Jinyoung mengangguk, namun kemudian ia mengisyaratkan mata pada Junhyung kearah Yoongi yang kini tengah berkeliling di pojok studio dimana berbagai macam alat musik ditata rapi.
"Yoongi-ssi!" panggil Junhyung yang membuat Yoongi hanya melirik sekilas kearahnya dan berdehem rendah. Masih dengan wajah dingin dan angkuhnya, Yoongi berjalan mendekati keenam orang yang seluruhnya tengah duduk di sofa yang ada di ruang studio ini.
"wae?!" balas Yoongi acuh.
"Apa kau setuju dengan semua ide Henry ssaem dan juga ide kami?" tanya Junhyung memastikan, yah walaupun Yoongi adalah anggota baru tapi tetap saja akan lebih baik jika ia ikut meminta persetujuan dari pemuda Min itu. Yoongi menarik nafas dan menatap keenam orang itu masa bodoh.
"Jika aku setuju ataupun tidak, apa itu berpengaruh untuk club ini?" tanya Yoongi sombong yang membuat beberapa dari mereka mengepalkan tangan mereka, menahan amarah. Yoongi tersenyum miring, tentu saja ia tahu jika siswa-siswa di depannya ini tengah menahan emosi mereka di depannya. "Tapi, aku rasa itu ide yang tidak buruk!" lanjut Yoongi yang membuat keenamnya sontak menatapnya terkejut.
"Jadi, kau setuju?" tanya Junhyung lagi.
"Jika kau mengansumsikan ucapanku sebelumnya sebagai bentuk persetujuan maka, ya—aku setuju!" jawab Yoongi. Keenam siswa itu tersenyum setelah mendengar jawaban dari Yoongi meskipun masih dengan suara angkuhnya. hm, sedingin apapun hati Yoongi, ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya terhadap musik terlebih dengan ide yang mereka dapatkan benar-benar menyentuh hatinya. Ia yakin, dengan ikut andilnya dirinya di club ini, ia pasti bisa menarik hati seseorang ketika ia menunjukkan kebolehannya dalam bermusik di depan banyak orang nantinya.
.
.
.
.
.
Suara alunan piano yang dimainkan oleh Baekhyun dan suara petikan gitar dari Woohyun yang mengiringi sebuah lagu yang tengah dinyanyikan oleh Jungkook yang berjudul We Don't Talk Anymore milik Charlie Puth. Saat ini, hanya mereka bertiga yang ada di studio club vocal.
. . . .
Don't wanna know
What kind of dress you're wearing tonight
If he's giving it to you just right
The way I did before
I overdosed
Should've knownyour love was a game
Now I can't get you out of my brain
Oh, it's such a shame
We don't talk anymore
We don't talk anymore
We don't talk anymore
Like we used to do
We don't love anymore
What was all of it for?
Oh, we don't talk anymore
Like we used to do
(We don't talk anymore)
Don't wanna know
What kind of dress you're wearing tonight (Oh)
If he's holding onto you so tight (Oh)
The way I did before
(We don't talk anymore)
I overdosed
Should've known your love was a game
Now I can't get you out of my brain
Oh, it's such a shame
That we don't talk anymore...
Nyanyian Jungkook selesai bersamaan dengan irama dari piano dan gitar yang turut mengiringnya.
"woah~ pelafalanmu sangat fasih, Jungkook-ssi." puji Baekhyun. Jungkook tersenyum senang.
"kamsahamnida, sunbaenim!" balas Jungkook tersipu malu.
"oh ya, apa kau sudah membaca daftar lagu yang aku berikan padamu kemarin?" tanya Woohyun.
"nde sunbaenim."
"Bagaimana, apa kau sudah memilih lagunya?" tanya Woohyun. Jungkook tampak berfikir.
"sunbaenim, apakah lucu jika aku memilih lagu milik PSY yang berjudul New Face?" tanya Jungkook. Baekhyun dan Woohyun saling bertatapan.
"waeyo? Kenapa kau memilih lagu itu?" tanya Baekhyun. Jungkook mengulum senyum.
"Begini sunbaenim, setelah aku melihat rekaman festival club kita tahun-tahun lalu dari Yang ssaem. Aku rasa, penampilannya selalu terkesan formal. Aku juga sudah membicarakannya pada Yang ssaem dan Kyungsoo sunbae, tapi—aku juga harus mengkoordinasikannya pada kalian berdua." terang Jungkook. "Penampilan awal kita adalah penampilan formal seperti biasanya dari seluruh anggota club sebagai pembuka, kemudian penampilan dari Kyungsoo sunbae, Kihyun sunbae dan kalian berdua. Sunbaenim, bukankah kalian juga merasa jika nantinya penampilan club kita hanya akan terlihat biasa saja? Bagaimanapun juga kita harus menampilkan sesuatu yang berbeda dan bisa menghebohkan para penonton nantinya!" lanjut Jungkook antusias yang membuat Baekhyun dan Woohyun mengangkat sebelah alisnya tertarik.
"Lalu?" tanya Woohyun.
"Lalu—sunbaenim, bukankah menurut kalian penampilan formal akan menimbulkan suasana tegang?" tanya Jungkook. Kedua senior Jungkook itu mengangguk. "Apalagi tidak hanya para guru atau komite sekolah yang hadir untuk menonton tapi juga seluruh penghuni sekolah akan ikut menikmatinya. Dan, festival ini diadakan bukankah untuk menghibur mereka? Akan sangat seru jika club kita bisa menyanyikan lagu yang tidak biasa!"
"Itu benar, selama bertahun-tahun club kita selalu tampil formal. Jika Kyungsoo dan Yang ssaem sudah setuju, aku dengan senang hati menyetujuinya!" ucap Baekhyun. "Bagaimana denganmu Woohyun-ssi?"
"Aku juga setuju, kita bisa menghebohkan seluruh warga sekolah. Tapi, apa kau akan perform seorang diri?" tanya Woohyun. Jungkook mengulas senyum dan menggeleng.
"Tidak, sunbaenim. Aku berencana untuk tampil bersama Taehyung sunbaenim!"
"mwo?!" pekik Baekhyun dan Woohyun bersamaan. Jungkook terkekeh.
"Anak pemilik sekolah itu?" tanya Woohyun.
"Yang kemarin baru saja bergabung dengan club kita?" sambung Baekhyun dan Jungkook kembali mengangguk. "Tapi, kenapa dia?" Jungkook mengulum senyum, senyuman yang sebenarnya berbentuk seringaian.
"sunbaenim, kalian tahu 'kan ketiga siswa baru yang merupakan anak dari pemilik sekolah itu sudah menjadi pusat perhatian sejak hari pertama mereka. Jadi, bisa kalian bayangkan ada sedikit keuntungan dengan Taehyung sunbaenim ikut dan menampilkan lagu ini bersamaku." ide Jungkook.
"woah~ kau benar-benar pencari kesempatan dalam kesempitan," sindir Woohyun, Jungkook hanya terkekeh.
"Ini demi kebaikan club kita sunbaenim."
"Tapi, apa Kyungsoo dan Yang ssaem tahu dengan ikutnya Kim Taehyung?" tanya Baekhyun. Jungkook mengangguk.
"Tentu saja mereka tahu, dan reaksinya juga sama seperti kalian."
"daebak! Dengan mendengar idemu aku sudah yakin kita bisa menjadi yang teratas." semangat Woohyun.
"nde, kita memang harus menjadi pemenangnya, sunbaenim!" balas Jungkook dengan kedua matanya berkilat penuh tekad dan semangat yang menguasai tubuhnya untuk melakukan yang terbaik dan menjadi pemenangnya.
.
.
.
.
.
"Apa kau bilang?" tanya Taehyung setelah kedatangan juniornya di depan kamarnya dan mengatakan sesuatu yang konyol menurutnya. Taehyung menatap sang junior horor. "Kenapa harus aku?" tanyanya terkejut.
"Karena sunbaenim adalah anggota baru, tentu saja!" jawabnya ringan.
"woah, tapi kau yang bersama JM-Park di futsal dulu, apa itu adalah alasan yang klise? Aku tidak mau!" tolak Taehyung. Si junior mengangkat sebelah alisnya dan menatap Taehyung terkejut.
"Kenapa kau tidak mau?" tanya Jungkook. "Dan aku punya nama, kenapa menyebutku dengan 'kau yang bersama JM-Park di futsal dulu'?"
"Aku tidak tahu namamu." jawab Taehyung polos.
"Kau bisa bertanya sunbaenim!" serunya menahan tawa. Taehyung mengerjapkan kedua matanya.
"Aku tidak mau bertanya."
"waeyo?" tanya sang junior yang memang Jeon Jungkook itu.
"Karena, aku memang tidak mau bertanya."
"Itu bukan jawaban! Dan—aku yakin, kau pasti sudah tahu namaku!"
"Kenapa kau percaya diri sekali?" tanya Taehyung entah kenapa ia merasa gugup ketika Jungkook mematainya intens. Jungkook menarik nafas.
"Bagaimanapun juga kau sudah bersedia untuk ikut sunbaenim."
"Tapi, bukan untuk menampilkan hal seperti itu. Aku ingin tampil dengan keren."
"Kau bisa keren dengan menampilkan hal seperti itu!" Taehyung mengangkat sebelah alisnya dan menatap ke dalam kedua mata Jungkook.
"Benarkah?" Jungkook mengangguk.
"Sesuatu yang keren tidak harus terlihat jantan dan sempurna. Tapi, sesuatu yang keren bisa dilakukan dengan membuat orang lain tertawa. Lagi pula, kau tidak melakukannya seorang diri. Aku juga ikut perform bersamamu."
"Bersamamu?" Taehyung membulatkan kedua matanya terkejut.
"nde! Bukankah kau ingat ketika kau masuk pertama kali ke club dan Kyungsoo sunbaenim bertanya apa kau bisa membantuku?" Taehyung mengangguk. "Itu berarti kita akan perform bersama!"
"ah begitu. Jadi, kapan kita latihan?" tanya Taehyung. Jungkook tersenyum manis.
"Sekarang." Taehyung kembali membulatkan kedua matanya.
"Sekarang?" ulangnya. Jungkook mengangguk.
"nde! Kita bisa mulai latihan sekarang juga!"
"Disini?" tanya Taehyung polos. Jungkook tertawa lepas.
"yak sunbaenim. Apa kau mau latihan di koridor asrama? Kau tidak malu?" sembur Jungkook, Taehyung menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu.
"mianhae."
"Kalau begitu, kajja—kita pergi sekarang!" ajak Jungkook. Taehyung mengangguk dan Jungkook berjalan mendahuluinya kemudian Taehyung tanpa membuang waktu mengekor di belakangnya.
Jungkook dan Taehyung berjalan keluar gedung asrama dalam keheningan. Taehyung yang masih setia mengikuti Jungkook yang entah akan mengajaknya kemana. Jungkook juga sesekali melirik ke belakangnya untuk memastikan jika Taehyung masih membuntutinya. Hingga kini keduanya sampai di depan pintu gedung kedua dari RC.
"Kenapa kau berhenti disini?" tanya Taehyung ketika tangan Jungkook membuka pintu gymnasium. Jungkook hanya diam dan Taehyung tetap membuntuti Jungkook yang kini melangkah menuju lantai dua dimana kolam renang berada.
"Kenapa kita berlatih di kolam renang?" tanya Taehyung setelah sampai di tempat tujuan Jungkook sebelumnya.
"Studio club sudah penuh dengan siswa-siswi yang sedang latihan. Dan disini adalah satu-satunya tempat yang tidak pernah para siswa kunjungi terlebih pada saat menjelang ujian. Jadi, kita bisa latihan sepuasnya disini."
"oh, baiklah kalau begitu."
"Kalian sudah datang?" sapa seseorang yang merupakan senior Jungkook dan Taehyung, muncul dari sudut kolam renang.
"annyeongasseo sunbaenim!" sapa Jungkook pada Kyungsoo, seniornya yang datang.
"Apa benar tidak apa, kalian latihan disini?" tanya Kyungsoo tak enak hati.
"Tidak apa sunbae. Lagi pula, perform kali ini harus sedikit ada kejutan!" Kyungsoo terkekeh dan mengangguk membenarkan.
"Baiklah, kalau begitu. Dan juga, aku, Baekhyun, Woohyun, dan Kihyun juga akan bergilir untuk mengawasi kalian berdua, dan juga Yang ssaem tentu saja. Dan, ini laptop-nya Jungkook-ssi!" Kyungsoo menyerahkan laptop yang ia bawa kepada Jungkook.
"nde kamsahamnida sunbaenim!"
"Woohyun sudah membagi part kalian berdua dan mungkin ia juga sedikit menambah catatan untuk pembenaran vokalnya. Mungkin, besok dia akan mengecek kalian. Dan juga, untuk yang menyangkut perform kalian nanti, apa lagi yang akan kalian butuhkan?" tanya Kyungsoo. Jungkook tampak berfikir.
"Aku akan memikirkannya sunbaenim!"
"arraseo, jika butuh apa-apa katakan saja padaku!" Jungkook mengangguk.
"nde kamsahamnida!"
"Semangat berlatih, okay!" Kyungsoo menyemangati sebelum akhirnya pergi meninggalkan Jungkook dan Taehyung.
Setelah kepergian Kyungsoo, Jungkook meletakkan laptop diatas kursi santai yang ada di kolam renang serta menyalakannya. Jungkook menoleh kearah Taehyung yang terlihat canggung, entah kenapa ketika ia melihat wajah Taehyung ingatannya tertuju saat ia melihat Taehyung membela siswi yang dibully Sooyoung dan teman-temannya beberapa hari yang lalu.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Taehyung. Jungkook langsung melengos dan menghindari tatapan Taehyung.
"Siapa yang menatapmu?" balas Jungkook berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Kau tentu saja!"
"aku tidak!" Taehyung tersenyum kecil dan entah kenapa untuk pertama kalinya, Jungkook merasa terpesona dengan senyum tampan Taehyung meskipun hanya muncul beberapa detik.
"Aku tahu, aku memang tampan." ucap Taehyung percaya diri. Jungkook bergidik ngeri meskipun jauh di dalam hatinya ia juga mengakui ketampanan Taehyung.
"Tampan darimananya?" gumam Jungkook berusaha untuk fokus pada laptopnya yang sepenuhnya sudah menyala.
"Jangan mencoba untuk berbohong jika tidak pernah berbohong." sindir Taehyung yang membuat Jungkook langsung menatapnya tajam.
"Semua orang pasti pernah berbohong!" balas Jungkook tak mau kalah. Taehyung tersenyum kecil.
"nde, tapi ada juga orang yang jarang berbohong." Jungkook menatap Taehyung, namun kemudian ia melengos tak mau membuat seniornya semakin ge-er jika ia terus menatapnya.
"Jadi, maksudmu aku sedang berbohong?" tanya Jungkook. Taehyung kembali tersenyum tampan.
"Mungkin orang tidak tahu apa yang ada di dalam hatimu ketika mulutmu mengatakan sesuatu yang bertolak belakang. Tapi, matamu pasti tidak berbohong!" seolah terhipnotis dengan kedua mata tajam Taehyung, Jungkook membalas tatapan pemuda itu yang kemudian muncul desiran aneh di hatinya yang tak pernah ia rasakan ketika ia bertatapan dengan siapapun.
"woah~ aku tidak menyangka pemeran utama si drama sekolah bisa terhipnotis padaku!" Jungkook merubah tatapannya menjadi tak suka ketika kalimat itu keluar begitu saja dari belah bibir Taehyung.
"Apa maksudmu?" Taehyung tersenyum simpul.
"Jadi, seberapa banyak orang yang sudah menyatakan cinta padamu di depan umum?" sindir Taehyung entah kenapa nadanya terdengar tak bersahabat. Jungkook melengos.
"Bukan urusanmu! Dan, kenapa kau ingin mengetahuinya?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin mengetahuinya!" Jungkook mendecih dan Taehyung tak bisa melepas pandangannya dari wajah manis Jungkook.
"konyol!" gumam Jungkook yang tengah entah melakukan apa pada laptopnya dan mengabaikan keberadaan Taehyung.
"Jeon Jungkook!" seru seseorang bersamaan dengan Taehyung yang hendak membalas ucapan Jungkook barusan. Jungkook dan Taehyung berdiri bersisihan dan menatap kedatangan seorang siswa yang seangkatan dengan Jungkook. Siswa itu berjalan cepat kearah Jungkook dan saat sampai tepat di depan Jungkook, dengan kasar ia menarik tangan Jungkook untuk pergi bersamanya.
"Kim Mingyu, apa yang kau lakukan?!" seru Jungkook terkejut dengan perlakuan siswa yang bernama Kim Mingyu, dan dengan kasar pula Jungkook menghempaskan tangan Mingyu yang seketika membuat Mingyu menatap marah kearahnya.
"Aku ingin bicara padamu!" balas Mingyu garang.
"Aku sudah katakan padamu sebelumnya, jangan menemuiku dan—tidak ada lagi yang harus kita bicarakan!"
"JEON JUNGKOOK!"
"wae?!" balas Jungkook terlihat santai meskipun kedua matanya terlihat ketakutan, dan Taehyung yang menyaksikan seruan keduanya membuatnya berdiri canggung di samping Jungkook.
"sunbaenim, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" pinta Mingyu pada Taehyung kemudian. Taehyung membulatkan kedua matanya, berani sekali bocah tengik sepertinya menitahnya? heol, apa dia lupa siapa Taehyung? Tapi, meskipun begitu Taehyung tetap tahu etika untuk tidak mencampuri urusan orang lain.
"ehm, baiklah—aku tunggu diluar!" Taehyung hendak melangkah meninggalkan Jungkook bersama Mingyu, namun sepertinya harus ia urungkan ketika tangan Jungkook yang tiba-tiba menahan tangannya untuk tidak pergi.
"Kau tidak perlu pergi. Dia yang harus pergi!" ujar Jungkook tegas dan dingin yang membuat Mingyu menggeram marah.
"Jeon Jungkook—"
"Aku sudah berulang kali katakan padamu Kim Mingyu, untuk tidak menggangguku lagi! Lagi pula, apa kau lupa jika aku tahu rahasiamu dengan Wonwoo sunbaenim!" potong Jungkook yang membuat kedua mata Mingyu membulat tak percaya. "Kau tahu, tidak hanya kau yang bisa menggertakku. Tapi, aku juga bisa menggertakmu bahkan jika aku mau, aku bisa langsung membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini, sekarang juga. Dan, aku—sudah berulang kali peringatkan padamu sebelumnya untuk tidak mengusikku lagi! Kau mengerti?!" Mingyu mengepalkan kedua tangannya.
"Aku akan memberi perhitungan padamu Jeon Jungkook!" ancam Mingyu yang kemudian melengos pergi begitu saja.
Sepergian Mingyu, Taehyung menoleh kearah Jungkook. Bisa ia rasakan, tangan Jungkook yang gemetar dan berkeringat dingin entah karena apa. Jungkook menoleh kearah Taehyung yang tengah menatapnya. Tersadar, dengan tangannya yang masih berada di pergelangan Taehyung membuatnya dengan canggung melepas tangannya.
"Maafkan aku sunbaenim, aku tidak bermaksud untuk membuatmu melihat semua ini!" sesal Jungkook. Taehyung tersenyum menenangkan.
"gwenchana, lagi pula aku senang kau menahanku!" Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Kenapa kau takut padanya?"
"ani, siapa yang takut?" elak Jungkook. Taehyung tersenyum simpul.
"Baiklah, kau tidak takut. Tapi, kenapa dia terlihat marah padamu?" tanya Taehyung. Jungkook tersenyum manis.
"hm, hanya masalah sepele." jawab Jungkook simpel, entah kenapa Taehyung terlihat tak suka.
"Sepele? Tapi, kenapa kau membawa-bawaku?" Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Maksudmu?" Taehyung tersenyum miring.
"Kau menahanku ketika dia menyuruhku pergi, kenapa?" tanya Taehyung. "Aku hanya orang asing, tapi kenapa kau membiarkan aku mendengar urusanmu dengannya?"
"Aku tidak bermaksud untuk membawamu dalam masalahku, sunbaenim. Aku hanya merasa dia tidak pantas untuk mengusirmu!" jawab Jungkook.
"ah begitu. Gomapta!" balas Taehyung tetap menatap Jungkook begitu pula dengan Jungkook yang juga membalas tatapannya. Keduanya terdiam dengan kedua mata mereka yang saling terkunci. Jujur saja, Jungkook memang terpesona dengan ketampanan Taehyung bagaimana dengan kulit tan, mata tajam, serta rahang tegasnya yang terlihat sempurna. Dan, untuk Taehyung sendiri—ini adalah kali pertamanya ia tertarik pada seorang pria.
.
.
.
.
.
Dentuman musik yang memenuhi studio club dance itu menggema di setiap sudut ruangan meskipun jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Tapi, tak juga membuat dua orang senior-junior yang tengah berlatih sekarang ini mengambil istirahat mereka sebentar saja, hingga mereka harus merelakan jam makan malam mereka untuk berlatih. Sebenarnya tidak hanya mereka berdua yang ada practice room, ada empat siswa yaitu Hakyeon, Jongin, Sehun dan Soonyoung serta tiga siswi, Seulgi, Sowon, dan Eunbi yang kini tengah duduk dan memperhatikan gerakan kedua rekan dance mereka yang entah kapan mereka buat, karena gerakan keduanya terlihat sama sesuai dengan tempo musik yang sedang dimainkan.
Bruk!
Dan, akhirnya kedua siswa berbeda umur itu menjatuhkan diri mereka tepat saat mereka melakukan gerakan terakhir sekaligus bagian penutup lagu yang mengiringi tarian mereka. Peluh membanjiri seluruh tubuh mereka. Nafas mereka tersengal, belum lagi rasa lapar dan dehidrasi yang hampir mengoyak seluruh perut mereka. Dan, secara bersamaan kedua orang itu berjalan menuju sofa yang terletak di sudut studio.
"Jja, kalian berdua—makanlah dulu!" ujar Hakyeon perhatian dan memberikan dua piring nasi lengkap dengan sayuran dan daging yang menjadi menu utama di makan malam mereka. "Bibi Kim dengan senang hati memberikan makanan ini pada kalian ketika kami mengatakan kalian berdua tidak sempat untuk turun ke aula makan. Apalagi, ketika ia tahu makanan ini untukmu, Jimin!" lanjutnya yang membuat siswa yang baru saja menari bersama seniornya, Park Jimin terkekeh mendengarnya.
"Jadi sunbaenim, membawa-bawa namaku?" tanya Jimin. Hakyeon menatap tak enak hati.
"aniyo, Bibi Kim yang bertanya untuk siapa makanan itu!" jawab Hakyeon takut jika Jimin tersinggung dan salah paham. Jimin tersenyum kecil ia menarik piring dihadapannya.
"kamsahamnida, sunbaenim!" ujar Jimin dengan senyum tulus yang membuat siswa-siswi yang ada di ruangan itu menatap takjub kearah Jimin karena ini adalah kali pertamanya mereka melihat senyum manis mengembang di wajah yang selalu menunjukkan wajah datar dan dingin. Hakyeon mengangkat sebelah alisnya takjub, kemudian ia mengangguk kaku.
"nde, gwenchanayo! Makanlah, Hoseok-ssi!" sambung Hakyeon pada Hoseok, senior yang baru saja menari bersama Jimin. Hoseok mengangguk dan menikmati makan malam mereka bersama Jimin dalam diam dan mengabaikan beberapa siswa-siswi yang masih berada di studio hanya untuk sekedar mempelajari gerakan tarian yang akan mereka tampilkan atau hanya sekedar bermalas-malasan.
"oh-ya, apa Yugyeom dan yang lainnya sudah menyelesaikan musiknya?" tanya Hoseok setelah makanan yang ada di piringnya tinggal tiga suap.
"Aku dengar dari Mark tinggal bagian penutup. Bagian pembuka hingga inti mereka sudah menyatukannya!" sahut Jongin yang tengah merenggangkan tubuhnya bersama dengan teman sekelasnya, Oh Sehun. Hoseok mengangguk dan ia menoleh kearah Jimin yang tengah meminum botol air.
"oh, Jimin-ssi. Bagaimana dengan bagian inti-nya yang sudah kita rundingkan kemarin, apa kau setuju?" tanya Hoseok. Jimin menurunkan botol air dari mulutnya, ia menatap Hoseok seraya berfikir sejenak.
"Aku setuju, sunbaenim. Tapi, bagaimana jika pada saat intro Seulgi sunbaenim dan Jongin sunbaenim yang masuk terlebih dahulu?" usul Jimin membuat keryitan bingung di dahi siswa-siswi yang ada di sana.
"Kenapa aku?" tanya Seulgi, yang merupakan satu-satunya si primadona sekolah yang mengikuti kegiatan tambahan di sekolah dan menjadi anggota club dance.
"nde, bukankah kau poin pentingnya disini?" lanjut Jongin ikut menambahi. Jimin hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kita bisa menampilkan dengan cara bergantian." jawab Jimin, bersamaan dengan satu persatu dari siswa-siswi yang tadinya duduk berjauhan kini berkumpul di depannya.
"Maksudmu?" tanya Hakyeon.
"hm~ setelah kupikir-pikir akan lebih seru dan menyenangkan jika main dancer di club ini tampil di bagian inti. Karena, jika hanya aku, Soonyoung, dan yang lainnya yang ikut kompetisi tahun kemarin, itu akan terkesan karena kami baru saja memenangkan kompetisi tahun lalu dan karena itu sebabnya-lah kami yang menjadi center, dan tidak hanya itu mereka pasti sudah menebak jika anggota club dance yang ikut kompetisi akhir tahun lalu yang akan menjadi center-nya. Setidaknya, kita harus membuat sedikit pembaruan." jawab Jimin yang membuat beberapa wajah dari seniornya yang menatap tak menyangka kearah Jimin.
"Jadi, begini. Sebelumnya kita sudah memutuskan pada pembukaan, jika kita akan melakukannya secara serempak yang dilakukan oleh seluruh anggota club. Dan saat pembukaan inilah kita nantinya membuat formasi untuk memunculkan Seulgi sunbaenim dan Jongin sunbaenim, setelah itu baru-lah masuk Soonyoung-ssi, Sowon-ssi, Hakyeon sunbaenim, dan Sehun sunbaenim, dan saat mereka berempat masuk Seulgi sunbaenim dan Jongin sunbaenim keluar dari area panggung. Setelah, timing yang sudah ditentukan, masuklah Eunbi-ssi, Yugyeom-ssi, Taeyong-ssi, dan Mark Lee menyusul gerakan dari pemain sebelumnya. Dan setelah mereka berdelapan mencapai bagian klimaks, kalian akan kembali membuat formasi untuk masuknya Seulgi sunbaenim dan Jongin sunbaenim!" terang Jimin.
"Lalu, bagaimana denganmu dan Hoseok? Kau, juga belum menyebutnya." tanya Hakyeon membuat Jimin menoleh kearah Hoseok.
"Kami akan tampil bagian penutup!" jawab Hoseok.
"Bagaimana, apa kalian semua setuju?" tanya Jimin. Mereka semua saling berpandangan dan kemudian senyum puas terpatri di bibir mereka masing-masing.
"Aku setuju, itu ide yang bagus!" sahut Hakyeon.
"Aku juga setuju!" beberapa siswa-siswi ikut juga menyahuti.
"Tapi, darimana kau tahu jika hampir seluruh penghuni sekolah mengetahui jika club kita akan mengajukan penampilan dari siswi angkatan kelas dua yang mengikuti kompetisi akhir tahun kemarin?" tanya Jongin. Jimin tersenyum.
"yah~ meskipun aku di skors, tapi setidaknya aku masih punya telinga sunbaenim!" sindir Jimin menyebalkan. Oh, karena ide cemerlang yang dituturkan Jimin membuat mereka lupa siapa Jimin sebenarnya.
"hah~ dia masih Jimin yang sama!" bisik para siswa-siswi satu sama lain. Jimin tersenyum tipis, oh ayolah ia tidak tuli untuk mendengar gerutan mereka tentang dirinya.
Setelah merundingkan segala hal, dan mengingat malam semakin larut, satu persatu siswa-siswi yang ada di studio club dance meninggalkan tempat latihan mereka dan segera bergegas menuju ke kamar asrama mereka masing-masing. hm, sebenarnya tidak semua, masih ada beberapa yang memutuskan untuk tetap tinggal. Termasuk, Park Jimin yang kini tengah melemparkan anak panah ke papan dart yang di tempel di dinding studio club dance.
"Kau masih disini?" sapa Hoseok yang ternyata masih berada di studio itu dan menghampiri Jimin. Jimin menoleh sekilas namun kemudian ia mengabaikan Hoseok dan melanjutkan melempar memainkan dart-nya. Hoseok menarik nafas, jika dipikir-pikir terkadang ia benar-benar dibuat terkejut dengan sikap ataupun sifat Park Jimin yang selalu berubah setiap waktu, terkadang menyebalkan, terkadang menggemaskan, terkadang membuat semua orang naik pitam jika sudah berurusan dengannya, bahkan terkadang bisa juga bersikap peduli dan sangat baik.
"ya~ yang seperti sunbaenim lihat." balas Jimin sekenanya.
"Kau ingin kembali ke asrama bersama?" tawar Hoseok. Jimin menghentikan melempar anak panah dan kembali menatap Hoseok.
"Tidak, terima kasih sunbaenim. Kau bisa pergi lebih dulu!" jawab Jimin. Hoseok mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu. Jangan terlalu malam disini dan—selamat malam, Jiminie!" pamit Hoseok dan meninggalkan Jimin bersama dart-nya. Sepergian Hoseok, Jimin tertegun dengan panggilan terakhir yang terdengar familiar di telinga Jimin. Seolah, Jimin sering mendengar suara riang itu memanggil namanya, tapi—siapa dan kapan? Siapa yang memanggilnya dengan nada seramah itu?
"Jimin-ssi!" Jimin sontak menoleh kearah salah satu seniornya yang ternyata masih berada di studio ini bersamanya. Jimin mengedarkan pandangannya dan baru ia sadari jika di studio itu tinggal dirinya dan juga seniornya yang cantik, Kang Seulgi.
"oh, ada apa sunbaenim?" balas Jimin masih dengan nada datar dan dinginnya. Seulgi diam sejenak dan menatap Jimin menimang. "Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, lebih baik—"
"Terima kasih!"
"huh?" pekik Jimin ketika Seulgi memotong ucapannya dan mengatakan dua kata itu secepat kilat. "Untuk apa?" tanya Jimin kemudian. Seulgi menarik nafas.
"Terima kasih karena kau sudah menganggapku." balas Seulgi tulus dan Jimin masih dengan wajah diamnya yang terkesan dingin dan tak peduli dengan segala racauan Seulgi padanya, dan dengan acuh Jimin kembali melanjutkan melempar anak panah ke papan dart-nya. "Sudah satu tahun aku tidak tergabung di bagian inti dan kau sudah mengusulkanku untuk ikut andil. Terima kasih Jimin-ssi!" Jimin menghentikan memainkan dartnya namun jari-jarinya masih memegang sisa anak panah yang belum ia lemparkan.
"Kau tidak perlu berterima kasih sunbaenim, sudah sepantasnya club kita menunjuk orang yang terbaik untuk tampil. Bukankah begitu?" tanya Jimin. Seulgi terdiam dan menatap Jimin intens, dan kemudian kedua matanya tak sengaja tertuju pada tangan kiri Jimin yang masih diperban karena perlakuan Joohyun beberapa hari yang lalu.
"Apa tanganmu masih sakit?" tanya Seulgi mengalihkan pembicaraan. Jimin mengangkat tangan kirinya dan mengedikkan bahunya acuh.
"Sudah tidak apa!"
"Tapi, aku rasa kau perlu mengganti perbanmu." saran Seulgi, ketika ia melihat kain perban Jimin yang terlihat lusuh. Jimin menggeleng.
"Terima kasih, atas sarannya sunbaenim. Aku akan segera menggantinya!" balas Jimin dan kembali melanjutkan memainkan dart-nya. Seulgi berdiri canggung masih dengan menatap Jimin dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau—"
Dart!
Jimin menoleh kearah Seulgi bersamaan dengan lemparan terakhirnya yang tepat mengenai sasaran tengah papan dart.
"Seharusnya kau tidak perlu berterima kasih padaku, sunbaenim." ujar Jimin. "Ada kalanya kita harus mengakui kemampuan seseorang meskipun orang itu adalah orang yang kau benci. Dan, ada tidaknya orang yang menanggapmu ataupun orang yang membencimu, tapi tetaplah berusaha untuk menjadi dirimu sendiri dan bersikaplah—seprofesional mungkin!" sambung Jimin sebelum melengos pergi meninggalkan Seulgi seorang diri. Seulgi menatap punggung Jimin yang semakin jauh dari pandangannya. Diam-diam Seulgi tersenyum tipis setiap kali ia mengingat ucapan Jimin kepadanya, jauh di lubuk hatinya ia semakin kagum dengan segala hal yang ada pada diri juniornya itu. Karena, sebenarnya sejak tahun pertama junior-nya itu, Seulgi sudah diam-diam tertarik bahkan ia sampai repot-repot mengirim surat ke dalam loker Jimin.
'Aku yakin, cepat atau lambat—kau pasti bisa merasakan kehadiranku, Park Jimin!'
.
.
.
.
.
Brak!
Ketiga pria yang tengah duduk dengan botol alkohol di tangan mereka menoleh ketika mendapati seorang pria berjaket hitam yang tiba-tiba masuk ke rumah kumuh mereka yang jauh dari keramaian kota.
"Jadi, apa kau sudah mendapatkannya?" tanya seorang pria berahang tegas, kedua matanya yang tajam dan rambutnya yang berwarna hitam kelam, berjalan mendekati meja dimana orang suruhannya baru saja menjatuhkan sebuah dokumen.
"Ini rekam medis keadaan Park Jimin setelah kecelakaan itu!" ujarnya yang membuat pria itu tersenyum menyeringai dan membuka dokumen sesuai dengan apa yang ketiga pria itu cari. "Jiyoung-ah!" panggilnya yang membuat pria bernama Jiyoung langsung berjalan menghampiri pria yang memanggilnya serta membawa sebuah amplop berwarna cokelat yang berisi uang dengan jumlah yang cukup banyak di tangannya.
"Ini bayaranmu!" ujarnya memberikan amplop itu pada orang suruhannya. Orang itu menyeringai dan menerima amplop yang diberikan Jiyoung, Kwon Jiyoung lebih lengkapnya.
"Terima kasih!" balasnya setelah mengecek isi amplop itu sesuai dengan perjanjian sebelumnya.
"Kau boleh pergi!" lanjut si pria yang kini tengah membaca dokumen yang tengah ia baca tanpa menatap si pembawa dokumen yang langsung pergi begitu saja.
Membiarkan sang hyung, yang bernama lengkap Jung Yunho, untuk membaca dan mempelajari isi detail dari dokumen itu, maka Jiyoung lebih memilih untuk kembali duduk di samping hyung-nya yang lain, Choi Seunghyun.
Setelah selesai membaca, Yunho berbalik badan dan berjalan mendekati kedua adiknya yang tampaknya tengah menunggu penjelasannya tentang isi dokumen yang baru saja ia baca.
"Bagaimana hyung?" tanya Seunghyun. Yunho menyeringai.
"Jimin kecil kita, mengalami amnesia retrograde yang berkaitan tentang hilangnya ingatan masa lalunya. Dan untuk keadaannya sendiri, jika dia ingat tentang masa lalunya dengan cara apapun akan sama berdampak buruk untuknya nanti, entah secara fisik ataupun mental. Kalian tahu apa artinya?" tanya Yunho, senyumnya semakin terlihat menyeramkan. "Itu artinya, kita semakin mudah untuk menghancurkannya hingga ke akar-akarnya sekaligus!" Yunho menatap Jiyoung dan Seunghyun bergantian.
"Kau benar hyung, tapi—kapan kita bergerak?" tanya Seunghyun. Lagi-lagi, Yunho menyeringai.
"Kudengar RC akan menggelar festival tahunan setelah ujian mendatang. Kita bergerak setelah itu!" jawab Yunho dengan segala macam rencana yang sudah tersusun apik di dalam otaknya. Kedua tangannya terkepal, dengan mata tajamnya yang berkilat marah dengan smirk yang tercetak jelas di wajah tampannya.
TBC
(-) Maaf ya, karena baru bisa update hari ini dan maaf kalau lanjutannya ini ternyata enggak menarik sama sekali, hehe ... Aku harap, reader-nim sekalian masih belum bosen dan masih berminat untuk baca ff ini.
(-) Next update chap 10 : Selasa, 27 Feb 2018
(-) See you ...
Kamsahamnida,
