Hari ini adalah hari pertama ujian, itu artinya hari ini adalah kembalinya Park Jimin setelah melalui skors menyiksa meskipun sedikit menyenangkan selama dua minggu yang lalu. yah, meskipun Jimin dirugikan karena ia tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasa selama satu minggu tapi, jauh dari itu ia sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi ujian. Dan, yang perlu ia fokuskan adalah mempertahankan peringkat pertamanya dan beasiswanya.

Jimin melangkah ringan memasuki gedung utama, mengabaikan semua tatapan mata yang seolah menyambut kedatangannya di pagi hari itu dan segala bisikan yang seolah seperti nyanyian di pagi pertamanya dengan seragam sekolah setelah dua minggu lamanya. Dengan bermodalkan headset yang menyumpal di kedua telinganya, turut menemaninya melangkah menuju loker pribadinya.

Sesampai di depan lokernya, Jimin membuka loker yang sudah terbengkalai selama dua minggu ini. Jimin memekik dalam diam, ketika ia melihat banyaknya surat yang ada di dalam lokernya. heol, seluruh penghuni sekolah tahu, jika ia di skors selama dua minggu dan kenapa masih ada yang mengiriminya surat? Jimin mengumpulkan surat-surat itu menjadi satu dan menatanya di bagian samping dinding lokernya. Baiklah, ia akan membacanya setelah ujian nanti.

Brak!

Jimin menutup pintu lokernya setelah urusannya meletakkan tasnya dan menata barang-barang yang ada di dalam lokernya selesai. Jimin berbalik badan dan—

"omo!" pekik Jimin tepat saat ia berbalik badan dan mendapati seniornya, Lee Minhyuk yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

"oh~ Jiminie—aku sangat merindukanmu!" serunya yang langsung berhambur memeluk Jimin yang masih menunjukkan wajah shock-nya.

"s-sunbaenim~" gumam Jimin mencoba untuk melepas pelukan Minhyuk yang terlampau erat. Dan dengan terpaksa Minhyuk melepas pelukannya dan menangkup wajah manis Jimin dengan kedua tangannya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Minhyuk. Jimin hanya mengangguk kecil.

"Memangnya aku kenapa?" Jimin balik bertanya dan mengeryit bingung.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri," Jimin mendengar was-was. "—bahwa aku akan selalu bersamamu sehingga tidak ada orang yang berani mengusikmu. Bagaimana?" seketika Jimin menatap Minhyuk horor. Yang benar saja, tidakkah Minhyuk juga merasa bahwa keberadaannya juga menjadi salah satu ketidaknyaman untuk Jimin sendiri?

"sunbaenim, kau tahu ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah skorsing, jadi bisakah aku meminta bantuanmu?"

"Tentu saja Jiminie!" jawab Minhyuk cepat dan antusias. Jimin tersenyum miring dan menatap Minhyuk intens.

"Kalau begitu, bisakah sunbaenim memberiku ruang tenang hari ini agar aku bisa mengikuti ujian dengan lancar?" pinta Jimin penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan, Minhyuk mengerjapkan kedua matanya.

"ten-tentu, tap-tapi—"

"Terima kasih atas perhatiannya, Minhyuk sunbaenim—dan sampai jumpa!" Jimin tersenyum manis kearah Minhyuk yang membuat Minhyuk semakin terlihat bodoh hanya karena Jimin yang tak sengaja memberikan senyum manisnya di pagi hari.

'Oh, aku akan janji akan menjadi anak baik dan rajin ke gereja jika Jiminie membalas cintaku!'

.

.

.

.

.

Suasana Restad College hari ini, benar-benar terasa sunyi dan tegang. Para guru-guru yang menjaga ketat di setiap ruang kelas untuk mengawasi para muridnya yang sedang melaksanakan ujian mereka.

Kriing~

Dan akhirnya, setelah 90 menit lamanya, ujian pertama mereka hari ini selesai, satu persatu para siswa mengumpulkan kertas ujian mereka pada guru yang menjadi pengawas di kelas mereka masing-masing.

Setelah mengumpulkan lembar jawab ujian mereka, para siswa pun langsung berhambur keluar kelas dan kebanyakan dari mereka memilih untuk pergi ke cafetaria untuk menyegarkan otak mereka yang baru saja berfikir keras. Salah satunya, si perusuh sekolah yang baru saja memasuki hari pertamanya setelah masa skorsing-nya berlangsung. hm, siapa lagi jika bukan si manis Park Jimin?

Setelah keluar dari kelasnya, bukan cafetaria yang Jimin tuju setelah itu. Karena ia pasti tahu bagaimana penuhnya tempat yang menjadi favorit seluruh penghuni sekolah. Jimin melangkah menuju lokernya untuk mengambil beberapa buku yang akan ia pelajari untuk ujian selanjutnya yang akan diadakan setelah makan siang nanti.

Jimin menghela nafas saat ia membuka lokernya dan mengambil bukunya terlebih ketika sepasang matanya yang tak sengaja menangkap tumpukan surat yang belum ia baca yang entah siapa pengirimnya. Dengan terpaksa Jimin meraih surat-surat itu dan menyelipkannya ke dalam buku tebalnya.

Brak!

Jimin menutup lokernya dan melangkah menuju tempat dimana biasa ia habiskan seorang diri. Terkadang, ia merindukan masa-masa pertamanya di RC, saat hanya ia dan buku. Ia selalu menghabiskan waktunya dengan belajar, belajar dan belajar. Di semua tempat ia belajar, mulai dari loteng gedung utama, loteng gedung asrama, balkon kamarnya, di taman sekolah hingga di belakang kandang kuda. Konyol memang, tapi Jimin hanya mencari tempat dimana hanya ada dirinya, tak ada orang lain. Sebenarnya, tidak hanya belajar yang ia lakukan. Ia juga melakukan berbagai tugas dari kegiatannya menjadi anggota dewan siswa. yah, meskipun ia jarang berkumpul dengan para anggotanya tapi setidaknya Jimin tetap bersedia untuk mengemban tugas yang diberikan sekolah padanya.

Kali ini, Jimin lebih memilih untuk duduk di bawah pohon apel di taman sekolah. Setelah menyamankan posisinya, Jimin membuka buku tebal yang ia bawa tepat di halaman dimana setumpukan surat ia letakkan. Jimin melihat surat itu satu persatu, dan mulai membuka dari surat beramplop ungu yang tertata paling atas.

Jika pun kau mengalami hal sulit, aku akan tetap mendukungmu. Aku tahu, kau tidak bersalah dan kau tidak pantas mendapatkan hukuman itu.

"Apa dia bercanda, sebenarnya siapa pengirim surat ini?" gumam Jimin meremat surat pertama dan membuka amplop kedua yang berwarna biru.

Aku melihatmu keluar sekolah, apa kau baik?

Jimin meremat lagi dan membuka surat selanjutnya.

Jimin-ssi, aku tahu aku adalah pengecut di matamu. Jujur saja, aku ingin sekedar dekat denganmu, tapi aku juga takut kau tidak menyukaiku. Maafkan aku,

Jimin mendecih, lama-lama ia muak dengan surat-surat itu. Kemudian, Jimin pun kembali membuka surat selanjutnya.

Aku senang kau bisa ikut berpartisipasi untuk festival nanti. Dan, aku janji akan memberi suara untuk club-mu! Fighting, Park Jimin!

Jimin mengangkat sebelah alisnya ketika ia membaca surat yang keempat.

"Memberi suara untuk club-ku?" gumam Jimin. "Dia pasti tidak mengikuti club dance. Tapi, siapa dia?" Jimin berfikir sejenak. Apa ada orang yang selama ini diam-diam mengintainya? Bahkan, ia tidak tahu gender dari si pengirim surat. heol, sebenarnya ia tidak begitu peduli. Tapi sungguh, ini sangat mengganggunya.

"Aku harus mencari tahu!" tekad Jimin dan untuk kesekian kalinya ia meremat surat itu bersama surat sisanya yang belum ia baca.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Tok tok tok!

"Masuk!" sahut seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai Ketua Detektif Kepolisian Negara sekaligus seorang CEO dari perusahaan otomotif yang ia dirikan sebagai bisnis sampingannya. "Hyunwoo-ah, masuklah!" titahnya setelah melihat orang kepercayaannya sekaligus asisten putra semata wayangnya datang ke kantor dimana pekerjaan utamanya sebagai seorang ketua detektif.

"Apa saya mengganggu anda tuan Min?" tanya Hyunwoo pada atasannya, Min Seonwoong yang juga adalah ayah dari Min Yoongi.

"aniyo, duduklah! Apa yang membawamu kemari?" tanya Seonwoong untuk sementara mengabaikan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.

"Saya datang kemari untuk memberikan informasi tentang Park Jimin. Pemuda yang menolong anda sepuluh hari yang lalu." jawab Hyunwoo. Seonwoong mengangguk paham.

"Jadi, apa dia benar bersekolah di RC?" tanya Seonwoong antusias. Hyunwoo mengangguk membenarkan.

"Dia siswa penerima beasiswa." lanjut Hyunwoo, Seonwoong tampak terkejut.

"Beasiswa? Bagaimana riwayat sekolahnya?"

"Park Jimin termasuk siswa berprestasi yang selalu mendapat peringkat pertama diangkatannya. Ia juga salah satu anggota dewan siswa dan anggota club dance, tahun lalu ia memenangkan kompetisi club dance bersama rekan seangkatannya."

"Lalu?" Hyunwoo tampak diam sejenak.

"Dan—meskipun dia anak yang berprestasi tapi di sekolah dia terkenal sebagai anak yang pemberontak dan sering di hukum oleh ketua dewan siswa, bahkan terakhir kali ia di skors oleh guru kesiswaan karena memukul seniornya yang sedang memukul juniornya." Seonwoong mengangkat sebelah alisnya.

"Dia dihukum karena memukul seniornya yang sedang memukul juniornya?" Hyunwoo mengangguk membenarkan. "Tapi, bukankah itu artinya dia menyelamatkan juniornya itu?" Hyunwoo tersenyum.

"Secara tidak langsung, perkelahian itu terjadi karenanya." jawab Hyunwoo. "Sang senior tidak menyukai jika ada yang mengusik Park Jimin!"

"ah~ jadi senior itu menyukai Jimin?" tanya Seonwoong mengulum senyum begitu pula dengan Hyunwoo. "Pantas jika dia disukai, dia memang anak yang unik. Lalu, bagaimana dengan keluarganya? Pekerjaan orang tuanya? Dia pasti berasal dari keluarga tidak mampu." Hyunwoo tampak terdiam.

"Sebenarnya, Park Jimin hidup di panti asuhan sejak berumur 11 tahun!" Seonwoong menatap Hyunwoo tak berkedip.

"Jadi, dia yatim piatu?"

"nde."

"Apa kau juga mencari tahu hingga ke panti asuhannya?" Hyunwoo mengangguk.

"nde, meskipun anda hanya meminta saya untuk mencari tahu di RC—tapi, informasi di RC tentang dirinya tidak selengkap siswa lain. Tidak ada sedikitpun informasi tentang keluarganya. Maka dari itu, saya pergi ke panti asuhan tempatnya dibesarkan. Berjaga-jaga jika anda juga ingin mengetahuinya." Seonwoong tampak terdiam, berfikir sejenak.

"Apa di pantinya juga ada informasi tentang keluarganya?" tanya Seonwoong kemudian.

"nde, kedua orang tua Jimin sudah meninggal akibat kecelakaan maut. Maka dari itu, pihak kepolisian membawa Jimin ke panti asuhan."

"Apa dia tidak memiliki wali?"

"Pihak panti tidak mengetahui alasan jelasnya." jawab Hyunwoo.

"Baiklah, kau boleh pergi sekarang!" titah Seonwoong tapi Hyunwoo tetap duduk di tempatnya membuat Seonwoong menatapnya tak mengerti. "Ada apa? Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"

"Tuan Min—" panggil Hyunwoo entah kenapa suaranya kali ini terdengar tercekat di kerongkongannya. "—apa~ anda tahu, siapa nama orang tua Park Jimin?" Seonwoong mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.

"Darimana aku tahu jika tidak darimu? Tapi, aku merasa seperti ada sesuatu dari anak itu." pikir Seonwoong heran. Hyunwoo terdiam sejenak dan menatap Seonwoong intens.

"Anda benar!" balas Hyunwoo tegas. "Memang ada sesuatu dari anak itu." lanjutnya. "Ketika saya bertanya pada pihak panti apa mereka mengetahui nama kedua orang tua Jimin, mereka memberikannya kepada saya. Dan namanya adalah—" Hyunwoo menarik nafas dan dengan suara seraknya ia menyebut, "—Park Seojoon dan Park Jiwon."

Seonwoong membulatkan kedua matanya dan menatap Hyunwoo terkejut. Seolah seperti waktu berhenti, kedua pria berbeda umur itu saling bertatapan dalam diam.

" a-apa kau bilang?" tanya Seonwoong tak menyangka, suaranya terdengar bergetar. "Jimin adalah putra dari calon perdana menteri Park?" Hyunwoo mengangguk. "Jadi, diakah anak itu? Jadi, kecelakaan maut yang kau katakan tadi—adalah kecelakaan mau yang dialami keluarga Park?" Hyunwoo kembali mengangguk.

"Maafkan saya tuan Min!" sesal Hyunwoo.

"gwenchanayo, aku senang kau bisa mendapatkan informasi sedetail ini. Setidaknya, dia aman berada di RC. Tapi, siapa yang memasukkannya di RC dan menggunakan alibi bahwa dia mendapat beasiswa?" tanya Seonwoong tahu betul bagaimana peraturan sekolah yang ia buat bersama dengan kedua sahabat kecilnya, karena sebenarnya ketiga pemilik sekolah itu tidak pernah memberikan akses atau segala hal yang menyangkut tentang beasiswa di sekolahnya.

"Maafkan saya tuan Min, pihak sekolah tidak mengetahui informasi tentang bagaimana proses masuknya Jimin di RC. Tapi saya rasa, kepala sekolah pasti mengetahui jawabannya." Seonwoong tersenyum kecil.

"Kau benar! Setelah ujian, akan ada festival tahunan. Persiapkan segalanya dan jangan lupa katakan pada Seungwon hyung dan Wonjoong untuk datang!"

"nde, akan saya sampaikan tuan!"

"Oya, satu lagi—tolong jadwalkan pertemuanku dengan Seungwon hyung dan Wonjoong dalam waktu dekat ini, maksimal tiga hari ke depan!" pinta Seungwon kemudian, Hyunwoo mengangguk paham. "arraseo, kau boleh pergi!" Hyunwoo membungkukkan badannya dan segera keluar dari ruang kerja Seonwoong.

Sepergian Hyunwoo, Seonwoong menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam bersamaan dengan memori masa lalu yang berputar begitu saja. Masa lalu dan sebuah kesalahan yang mengakibatkan hancurnya hidup seseorang.

.

.

.

.

.

Dua hari kemudian ...

.

.

Seonwoong berjalan memasuki sebuah restoran mahal, dimana tempat pertemuannya dengan kedua sahabat kecilnya. Seonwoong tak seorang diri, ia datang ke restoran itu bersama dengan orang kepercayaannya, hm siapa lagi jika bukan Son Hyunwoo.

"Maaf aku datang terlambat," sesal Seonwoong bersamaan dengan Hyunwoo yang menarik kursi kosong di depan kedua sahabatnya untuk di duduki oleh atasannya. Hyunwoo berdiri di belakang Seonwoong, dan berhadapan dengan dua orang pria paruh baya yang sedang duduk, Kim Seungwon dan Kim Wonjoong serta dua orang pria yang satu tahun lebih tua darinya, Park Sehyuk dan Kim Joonmyeon yang juga berdiri di belakang masing-masing dari atasan mereka.

"Tidak apa, kami juga baru sampai!" balas Kim Seungwon yang tak lain adalah ayah dari Kim Namjoon. sekaligus seorang jaksa ternama yang disegani oleh semua orang. Sama seperti Seonwoong, Seungwon juga mempunyai sebuah perusahaan yang sudah dibangun oleh mendiang kakeknya, bedanya perusahaan Seungwon bergerak di bidang sandang.

"Tapi, hyung. Perihal apa yang ingin kau bicarakan pada kami? Tidak biasanya," tanya Wonjoong, ayah dari Kim Taehyung sekaligus pria termuda diantara ketiga pria paruh baya itu, hanya berbeda satu tahun sebenarnya. Dan, ayah dari Taehyung ini adalah seorang perdana menteri sekaligus pemilik hotel dan resort terbesar yang ada di Jeju.

Seonwoong terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan dari Wonjoong. Kedua matanya menatap bergilir kearah kedua orang itu.

"Apa kau ada masalah?" tanya Seungwon cemas. Seonwoong menggeleng.

"ani hyung, sebenarnya—" Seonwoong menarik nafas gugup. "—ini berkaitan dengan kecelakaan maut keluarga Park," lanjut Seonwoong. Seungwon dan Wonjoong saling berpandangan.

"Keluarga Park? Maksudmu, Park Seojoon?" tanya Seungwon terkejut. Ayah Min Yoongi itu mengangguk, raut wajahnya jelas bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"nde, aku tidak sengaja bertemu dengan anaknya." dan ketika Seonwoong mengatakan demikian, kedua bola mata Seungwon dan Wonjoong membola bersamaan.

"a-anaknya?" tanya Wonjoong terbata.

"hm, dia juga sekolah di RC,"

"mworagoyo?!" pekik Seungwon dan Wonjoong tak percaya. Seonwoong menghela nafas.

"Jika tidak salah ingat, bukankah dia seumuran dengan Taehyung?" tanya Wonjoong setelah hanya ada keheningan diantara mereka.

"Sejak kejadian na'as itu kita juga tidak pernah bertemu kabar dengan Seungho, Chilhyun, dan juga Jaeduck. Bahkan, kita menutup diri dari mereka." sambung Seungwon. "Tapi, bagaimana keadaannya apa dia baik-baik saja?"

"Saat aku bertemu dengannya dia tampak baik, sangat baik malah. Tapi, hyung—bagaimanapun juga kita sudah menghancurkan hidupnya. Kita tidak bisa terus lari dan menghindar. Setidaknya kita harus memastikan jika kehidupannya setelah kejadian itu, dia baik-baik saja." balas Seonwoong. Dan, kemudian hanya ada keheningan diantara ketiganya.

"Apa menurutmu, ini adalah saatnya kita bertemu dengan mereka bertiga?" tanya Seungwon tiba-tiba.

"Aku rasa, ini saat yang tepat." balas Seonwoong.

"arraseo, kalau begitu. Biarkan besok, aku menemui Jaeduck terlebih dahulu!" pinta Seungwon yang hanya dibalas anggukan dari kedua pria yang lebih muda darinya.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, ...

.

.

"Selamat siang dokter Jung!" sapa seorang perawat menundukkan kepalanya ketika dokter senior di rumah sakit tempatnya bekerja berjalan melewatinya. Dokter itu mengangguk dan tersenyum tampan.

"nde, selamat siang!" balasnya dan kembali berjalan menuju ruang rehatnya. Dokter senior spesialis bedah yang bername tag dokter Jung Jaeduck itu selalu tersenyum dan menyapa pada siapapun orang yang berjalan melewatinya entah itu rekan kerjanya atau pasiennya sekalipun.

"Dokter Jung!" seru seorang perawat berlari kearah dokter Jung dengan tergesa, refleks hal itu membuat dokter Jung menghentikan langkahnya dan menghampiri sang perawat.

"nde, ada apa perawat Lee? Kau tampak tergesa, kau baik?" tanyanya ramah. Perawat Lee menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

"Ada yang ingin bertemu denganmu dokter Jung." Dokter Jung menarik satu alisnya heran.

"Bertemu denganku?" tanya dokter Jung, ia berpikir sejenak, mengingat siapa kiranya yang datang dan menemuinya di jam kerja seperti ini. "Siapa yang menemuiku? Apa Seungho hyung? atau Chilhyun hyung? Tidak biasanya mereka datang ke rumah sakit," gumam dokter Jung heran.

"Apa kau tahu siapa nama orang yang datang menemuiku, perawat Lee?" tanya dokter Jung. Perawat Lee tampak mengingat.

"Saya tidak ingat namanya dokter Jung. Hanya saja, jika tidak salah ingat dia sempat mengatakan bahwa dia seorang jaksa." Dokter Jung membulatkan kedua matanya terkejut.

"Seorang jaksa?" tanyanya, entah kenapa suaranya terdengar lemas dan tak bersemangat seperti biasa. Perawat Lee hanya mengangguk. "Dimana dia?"

"Dia menunggu anda di cafetaria rumah sakit, dokter Jung." Dokter Jung mengangguk.

"Baiklah, terima kasih sudah memberitahuku perawat Lee!" dokter Jung tersenyum kecil dan ia berlalu begitu saja.

Sepanjang perjalanan, pikiran dokter Jung tak bisa tenang saat ia mendengar orang yang ingin menemuinya adalah seorang jaksa. Sejujurnya ia tidak memiliki kenalan seorang jaksa, kecuali dia. Kakak kelasnya, saat ia berada di bangku sekolah dulu. Tapi, setelah delapan tahun lamanya kenapa dia tiba-tiba ingin menemuinya?

Dokter Jung menghentikan langkahnya setelah ia sampai di depan pintu cafetaria rumah sakit. Pandangannya mengedar, mencari sosok yang mungkin dikenalinya atau tidak. Dan, kebetulan saat itu suasana cafe hanya ada tiga orang pengunjung, dua orang wanita dan seorang pria memakai jas kerja. Setelah sepasang matanya akhirnya menangkap punggung kokoh yang telah duduk memunggunginya di dekat jendela cafe, dengan langkah berat dokter Jung terpaksa untuk menghampirinya.

"Permisi," sapa dokter Jung pada pria yang mungkin sedang menunggunya datang. Pria itu sontak menoleh bersamaan dengan dokter Jung yang membulatkan kedua matanya terkejut. Tentu saja, dia tidak akan melupakan wajah itu.

"s-Seungwon hyung?" lirih dokter Jung tak percaya. Pria yang tak lain adalah Kim Seungwon itu tersenyum tipis.

"Bagaimana kabarmu, Jung Jaeduck? atau haruskah ku panggil dokter Jung disini?" tanya Seungwon. Jaeduck menggeleng dan tersenyum tipis nyaris seperti paksaan karena saking terkejutnya.

"Kau yang ingin bertemu denganku?" tanya Jaeduck, Seungwon mengangguk.

"Duduklah, aku harap tidak mengganggu waktu kerjamu!" sesal Seungwon.

"tidak—tidak apa!" jawab Jaeduck cepat dan beralih duduk di depan Seungwon dengan canggung.

Keduanya terdiam, tak saling berbicara. Bahkan, keduanya menolak untuk saling bertatapan.

"Apa yang membawamu kemari hyung?" tanya dokter Jung akhirnya. Seungwon mengangkat wajahnya dan menatap Jaedcuk intens.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Dokter Jung hanya berdehem mempersilahkan pada Seungwon untuk bertanya. "Apa kau tahu, mengenai anak dari Park Seojoon?" tanya Seungwon yang membuat dokter Jung mengeryit terkejut.

"Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu?"

"Tentu saja, karena bagaimana pun juga aku ikut bertanggung jawab atas kejadian itu!"

"Tidak hanya kau hyung. Tapi, kalian semua. Chilhyun hyung, Seungho hyung, Seonwoong hyung dan Wonjoong. Kalian sudah tidak mempercayainya dan membuat mimpi buruk itu semakin menakutkan untuk Jimin!" balas dokter Jung terlihat emosi. "Bermain politik itu memang menyeramkan. Saat seseorang yang berkata jujur tapi semua orang bersikeras untuk menyalahkannya atas apa yang tidak ia lakukan sama sekali! Aku tahu, itu pekerjaan kalian—tapi, tidakkah saat itu kalian bersikap rasional pada kebenarannya? Bukan karena atasan kalian atau bahkan presiden sekalipun yang memintanya. Lihatlah, siapa dampaknya sekarang."

"Kau pantas untuk menyalahkan kami!" Seungwon menunduk menyesal. "Sejauh apapun kami berlari sejak kejadian itu, tapi sejujurnya hidup kami tidak pernah baik-baik saja dari sudut manapun. Rasa bersalah itu terus menghantuiku selama ini."

"Tidak hanya kau yang merasakannya hyung. Seungho hyung dan Chilhyun hyung juga merasakan hal sama. Aku yakin, kalian bertiga juga demikian!" dokter Jung mengangguk paham. "Tapi, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Jimin setelah sekian lama?"

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Seungwon. Dokter Jung menatap Seungwon lamat dan kemudian menggeleng pelan.

"Dia tidak baik. Keadaannya sangat buruk!" lirih dokter Jung sedih. "Karena kecelakaan itu, Jimin mengalami amnesia retrograde hingga saat ini. Dia tidak ingat tentang segala hal tentang masa lalunya. Ayahnya, ibunya, calon adiknya hingga kita semua yang pernah hadir dalam hidupnya dulu. Dia tidak ingat sama sekali. Ketika bulan pertama di panti asuhan aku dan beberapa dokter disini mencoba untuk melakukan terapi fisik ataupun melalui obat tapi hasilnya masih sama justru semakin memburuk. Jika ingatan itu tiba-tiba memasuki memori otaknya, ada kemungkinan dia justru bisa melupakan tentang semua masa lalunya dan jika ada sesuatu yang membuatnya harus memaksa untuk mengingat masa lalunya, maka ada kemungkinan akan berdampak buruk untuk syaraf pusatnya." Seungwon menatap dokter Jung tak menyangka.

"Apakah separah itu?" tanyanya. Dokter Jung mengangguk.

"Maka dari itu, kami bertiga memutuskan untuk memasukkan Jimin ke RC dengan mengatakan kepada pihak panti bahwa ia mendapat beasiswa disana."

"Jadi, kalian bertiga yang memasukkannya ke RC?" dokter Jung mengangguk. "Tapi, kenapa Jimin harus tinggal di panti asuhan?" tanya Seungwon kemudian.

"Lalu dimana hyung? Akan lebih berbahaya jika Jimin berada di dekat kita. Bukan karena polisi yang sudah menangkap tersangka dari penyebab kecelakaan itu. Ingatlah, penyuruh dari ketiga tersangka itu masih berkeliaran di luar sana! Orang yang menjadi penyebab kalian tidak mempercayai Seojoon! Orang yang menjadi penyebab dimana Seojoon harus disalahkan dengan apa yang tidak ia lakukan! Kau pikir kami tega membiarkan Jimin hidup seorang diri? Jimin tidak akan aman berada di sekitar kita. Jika dia dekat dengan hal yang berhubungan dengan masa lalunya, bukankah itu artinya kita memancing orang yang sudah memfitnah Seojoon untuk melukai Jimin?" seru dokter Jung, emosinya tak dapat lagi ia kontrol. "Ada alasan kenapa kami memasukkan Jimin ke RC." Dokter Jung menarik nafas.

"Hoseok juga sekolah disana, dia sudah kelas tiga satu angkatan dengan Seokjin. Dan karena itu, kami meminta mereka untuk menjaga Jimin." Seungwon terdiam begitu pula dengan dokter Jung. Keduanya kalut dengan pikiran mereka masing-masing.

"hyung!" panggil dokter Jung tiba-tiba. "Aku tidak ingin menyalahkan kalian berlima atas meninggalnya Seojoon, Jiwon dan calon anak kedua mereka. Tapi, jujur saja—bukankah kalian akan merasa takut sekaligus merasa bersalah jika kalian berhadapan dengan Jimin meskipun untuk saat ini dia tidak bisa mengingat apapun? Dan, bagaimana jika disaat itu juga Jimin bisa mengingat semuanya? Tentang apa yang terjadi pada kedua orang tuanya? Tentang masalah yang menimpa ayahnya? Kau tahu dengan jelas 'kan, hyung? Siapa orang pertama yang mengetahui masalah Seojoon waktu itu?" tanya dokter Jung. Seungwon masih terdiam. "Setidaknya, apapun yang terjadi di masa depan—kalian harus menerima konsekuensinya nanti!"

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Angin malam berhembus menyenyat dingin. Langit malam yang biasa berwarna gelap, malam ini cukup terang dengan adanya kerlap-kerlip bintang yang menyebar di seluruh langit serta cahaya bulan yang menjadi pusat induk mereka.

Jimin melipat tangannya diatas pembatas balkon dari atap gedung asramanya. Menikmati pemandangan kota di bawah sana yang terlihat begitu indah memanjakan kedua matanya. Jimin menarik nafas, menghirup udara malam yang menjadi penyegar pikirannya setelah cukup dibuat pusing dengan berbagai macam ujian yang sudah ia lewati selama lebih dari seminggu dan tinggal menunggu pengumuman hasilnya.

"Kau tidak dingin?" tanya sebuah suara yang mengalihkan atensi Jimin. Jimin segera menoleh dan mendapati senior tampannya yang tengah meminum sekaleng cola di tangannya.

"Apa yang sunbaenim, lakukan disini?" tanya Jimin suaranya terdengar dingin dan datar.

"Aku tidak mengganggumu 'kan?" ujarnya balik bertanya. Jimin menoleh sekilas dan menghela nafas.

"Jika aku mengatakan kau sangat mengganggu-pun, apa kau akan pergi?" tanya Jimin sarkas. Pemuda itu justru terkekeh.

"Aku memang tidak pandai berbasa-basi!" balasnya seraya kembali menegak kaleng cola yang masih di tangannya. Jimin menatap sang senior yang pernah tak sengaja meninggalkan almamaternya ketika mereka berada di atap gedung utama, yap dia memang Min Yoongi.

"Kenapa kau berada disini?" tanya Jimin. Yoongi berdehem dan memosisikan dirinya berdiri persis seperti Jimin. Tanpa menatap yang bertanya Yoongi menjawab,

"Aku selalu pergi ke tempat sepi. Aku benci keramaian."

"Baiklah, kalau begitu aku pergi!" Jimin hendak berbalik badan namun dengan cepat Yoongi menahan tangannya dan menatap ke dalam kedua manik sipit Jimin.

"Tetaplah disini, kau yang lebih dulu berada disini." pinta Yoongi, Jimin menurut dan kembali ke posisinya semula. "Kenapa malam-malam berdiri disini?" tanya Yoongi setelah hanya keheningan diantara mereka.

"Hanya menghirup udara segar!" jawab Jimin sekenanya. Tanpa sadar, Yoongi menatap wajah Jimin intens. Dalam hati, ia membayangkan bagaimana wajah Jimin jika penuh senyum dan tawa, pasti sangat manis.

"Apa kau tidak pernah tersenyum?" tanya Yoongi yang sontak membuat Jimin langsung menoleh kearahnya.

"Apa kau bilang?!" tanya Jimin galak. Kedua matanya menyipit yang membuat Yoongi harus menahan tawanya agar Jimin tidak merasa tersinggung.

"aniyo, hanya saja sejak aku sekolah disini. Aku jarang melihatmu tersenyum." Jimin berdecak.

"Dan, untuk apa aku harus tersenyum?!"

"Tentu saja untukku!" jawab Yoongi percaya diri dan Jimin mengerjapkan kedua matanya tak menyangka akan tingkat percaya diri dari Yoongi yang sangat tinggi itu.

"Dan, kenapa aku harus tersenyum untukmu?"

"Karena aku tampan!"

"mworagoyo?!" seru Jimin. Yoongi mengangguk dan memberikan senyum tampannya yang jarang ia tunjukkan pada siapapun. "konyol!" desis Jimin melengos bersamaan dengan Yoongi yang menyeringai kearahnya.

"Kau harus tersenyum ketika melihat orang tampan. Bukankah, melihat orang tampan itu menenangkan hatimu?" tanya Yoongi. Jimin terbelalak terkejut dan ia kembali menoleh kearah Yoongi, kali ini dengan senyum jenaka yang menghiasi wajah manisnya.

"Benarkah?" tanya Jimin tampak terkejut. Yoongi mengangguk polos. "Kalau begitu, untuk apa aku harus melihat orang tampan jika aku sudah tampan?"

"aniyo, kau itu man—" Yoongi menghentikan ucapannya tepat saat Jimin yang tersenyum miring kearahnya.

"Kau mau mengatakan aku manis?" tebak Jimin. Yoongi tersenyum kikuk.

"aniyo maksudku begini, pria manis itu harus melihat pria tampan untuk menenangkan hatinya begitu pula sebaliknya!" jelas Yoongi tergagap. Jimin tersenyum kecil.

"Bilang saja, kau ingin agar aku melihatmu." ujar Jimin yang membuat Yoongi semakin salah tingkah, sungguh jika ia tidak tahu jika Jimin tipe orang yang peka dan tanggap seperti ini. Yoongi melengos, menghindari tatapan Jimin dan bersamaan dengan itu sepasang matanya menangkap sesuatu yang indah di langit yang sedang melayang melintasi mereka berdua.

"oh, bintang jatuh!" pekik Yoongi yang refleks membuat Jimin ikut menoleh dan mendapati pemandangan langka di hadapannya. Jimin dan Yoongi berdiri bersisihan dalam diam, menatap entah kemana perginya bintang itu yang hilang dalam satu kedipan mata.

"Kata orang, jika kau melihat bintang jatuh dan membuat permohonan, akan terkabulkan. Tapi, bukankah itu mitos?" tanya Jimin menoleh kearah Yoongi. Yoongi pun ikut menoleh dan membuat kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain.

"Kau tidak perlu percaya dari apa yang kau ragukan. Kau hanya perlu melakukan apa yang menurutmu benar entah itu fakta ataupun mitos. Karena apapun yang menyangkut tentang hidupmu bahkan masa depanmu tergantung apa yang pernah kita lakukan di masa kini. Hidup itu seperti timbal-balik." jawab Yoongi yang membuat Jimin tanpa sadar menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman, senyuman tulus yang untuk pertama kalinya ia perlihatkan di depan Yoongi.

"kamsahamnida sunbaenim!" balas Jimin dan dengan senang hati Yoongi mengangguk dan membalas senyum Jimin. Entah kenapa hatinya bergemuruh bahagia hanya karena melihat Jimin memberikan senyum simpul padanya. Senyuman yang benar-benar terlihat tulus. Serta senyuman yang entah kenapa membuat Yoongi teringat jika ia seperti pernah melihat senyuman itu sebelumnya.

.

.

.

.

.

Seokjin berdecak kesal ketika melihat sosok Namjoon yang berdiri di depannya dan terus menghalangi jalannya. Saat ia melangkah ke kanan, Namjoon melangkah ke kiri. Dan, saat ia melangkah ke kiri, Namjoon melangkah ke kanan. Begitu seterusnya hingga Seokjin ingin sekali menendang tulang kering pemuda itu lagi.

"Sebenarnya apa maumu?" tanya Seokjin garang. Namjoon tersenyum tampan.

"Jangan terlalu galak cantik—"

"Sudah berapa kali aku katakan padamu, aku tidak cantik!"

"Tapi, kau cantik di mataku!"

"YAK!" pekik Seokjin tak terima. Namjoon terkekeh.

"Aku ingin kau memberiku akses tanpa batas di studio penyiaran!" pinta Namjoon menatap Seokjin serius. Seokjin terdiam, ditatapnya Namjoon heran.

"Untuk apa?" tanya Seokjin. "wah, jangan-jangan kau mau menghancurkan studio penyiaran, iya 'kan?" tuduh Seokjin. Namjoon berdecak.

"Untuk apa aku repot-repot ijin jika aku ingin menghancurkannya? Bahkan, aku bisa menghancurkannya sekarang, jika aku mau!" Seokjin diam sejenak.

"Tidak! Aku tidak mengijinkanmu!" Namjoon memandang Seokjin tak suka. "Kau tahu, kau sudah menghancurkan berapa benda yang ada di studio sejak kau bergabung?!" tanya Seokjin.

"Aku sudah bilang, aku tidak sengaja. Lagi pula bukankah aku sudah menggantinya? Kenapa kau masih marah?"

"Dengar, Namjoon-ssi! Meskipun, kau adalah anak dari pemilik sekolah ini atau bahkan anak presiden sekalipun, aku tidak akan memberikan toleransi apapun kepadamu!" seru Seokjin, ia berjalan melewati Namjoon dengan menabrak bahu pemuda tampan itu. Namjoon menggeram tertahan. Dengan gerakan cepat ia menyusul langkah Seokjin, menarik tangannya dan—

Brak!

Dengan sekali gerakan ia membawa tubuh Seokjin merapat ke dinding koridor asrama di lantai dimana tempat kamar mereka berada. Namjoon menghimpit tubuh Seokjin hingga tak menyisakan jarak antara keduanya. Seokjin sontak menatap Namjoon dengan tatapan yang sama ketika ia tak sengaja jatuh menimpa tubuh Namjoon saat pertama kali Namjoon datang dan meminta untuk bergabung di club penyiaran.

"Tidak bisakah kau bersikap sedikit lembut?" pinta Namjoon, suaranya hampir terdengar bisikan. Seokjin mendorong dada Namjoon namun entah kemana tenaganya saat ia mendorong dada bidang itu? Sial, kenapa Namjoon kuat sekali?

"Namjoon-ssi, apa yang kau lakukan! Menyingkirlah dari hadapanku!" titah Seokjin tanpa henti terus mendorong tubuh Namjoon.

Bruk!

Dan dengan sekali hentakan kedua tangan kekar Namjoon memegang kedua bahu Seokjin. Ditatapnya, Seokjin lamat hingga Seokjin merasa tatapan itu tengah memenjaranya. Seokjin menolengkan kepalanya, menghindari tatapan tajam dari Namjoon.

"baiklah~ aku akan memberimu akses tanpa batas di studio. Sekarang, lepaskan aku!" lirih Seokjin tanpa menatap kearah Namjoon. Merasa Namjoon hanya diam dan masih mencekeram kedua bahunya membuat Seokjin kembali menatap wajah tampan itu.

"Kau dengar 'kan, aku sudah memberimu ijin. Sekarang—lepaskan aku!" pinta Seokjin lagi. Namjoon menarik nafas, dengan berat hati ia menyudahi memandang wajah cantik Seokjin. Ia melepas kedua bahu Seokjin dan melangkah mundur, menjaga jarak dari pemuda yang sudah mencuri perhatiannya sejak ia menjadi anggota di club penyiaran.

"Coba saja jika kau mengijinkannya dari tadi, kau pasti sudah menikmati kasur empukmu!" bisik Namjoon. Seokjin berdecak tak suka.

"Dasar pemaksa!" cibir Seokjin kesal bukan main. Namjoon hanya tersenyum kecil dan mengangkat sebelah alisnya. "Aku memang mengijinkanmu untuk menggunakan studio penyiaran sesuka jidatmu tapi, aku mohon dengan sangat jangan gunakan untuk hal yang bisa mengganggu siswa-siswi disini!" pinta Seokjin kemudian. Namjoon mengangguk.

"Tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang mengganggu mereka." Namjoon menengadahkan tangannya di hadapan Seokjin yang membuat Seokjin mengeryit tak mengerti.

"Kau minta apa?" tanya Seokjin. Namjoon menghela nafas sabar.

"Kunci, mana kuncinya!" pinta Namjoon tak sabar. Seokjin terkekeh dan merogoh saku celananya. "Kau membawanya kemanapun kau pergi?" tanya Namjoon heran. Seokjin tersenyum cantik.

"wae? Kau mau protes? Tentu saja aku membawanya kemanapun aku pergi, bagaimana jika nantinya ada makhluk astral yang mesum sepertimu diam-diam menyelinap ke kamarku dan mencuri kunci ini? Aku bisa disalahkan oleh satu penghuni sekolah!" ujar Seokjin berlebihan. Namjoon mengambil kunci itu dari tangan Seokjin dan tersenyum sekilas.

"Kau bilang aku makhluk astral yang mesum?" diam-diam Namjoon menyeringai, ia kembali mendekatkan tubuhnya merapat ke arah Seokjin. "Aku tidak akan mesum jika tidak ada yang menjadi penyebabnya!"

BRUK!

"YAK!" pekik Namjoon ketika ia memajukan wajahnya ke wajah Seokjin hingga kedua hidung mereka saling bersentuhan, di saat itu lah Seokjin tidak membuang-buang waktu untuk mendorong tubuh Namjoon hingga terjatuh tersungkur.

Bug!

"aww~" Namjoon meringis tertahan saat untuk kedua kalinya, Seokjin kembali menendang tulang keringnya.

"Jangan macam-macam denganku, tuan perusak!" kecam Seokjin sebelum ia berjalan meninggalkan Namjoon yang sedang memegang kaki kirinya, tepatnya di tulang keringnya yang baru saja Seokjin tendang.

'Sial, aku merasa dikalahkan lagi! Lihat saja nanti, Kim Seokjin. Kau yang akan kalah dan tergila-gila padaku!'

Namjoon menatap kepergian Seokjin dengan kedua matanya yang berkilat menahan sakit. Oh sial, rasa sakitnya tidak main-main.

.

.

.

.

.

"Aku bertaruh, nilaiku pasti turun untuk semester ini. Apalagi, aku harus latihan untuk festival dan juga belajar di waktu yang sama!" keluh Jongin ketika ia berada di studio dance.

"Tidak hanya kau yang mengalaminya, bodoh!" balas Hoseok ketus yang juga berada di studio dance. Sebenarnya, tidak hanya mereka berdua, studio dance pagi ini penuh dengan para siswa-siswi yang sedang melanjutkan latihan mereka, termasuk Park Jimin.

Jimin merenggangkan tubuhnya di depan kaca besar practice room, mengabaikan segala suara ribut yang rata-rata sedang mengkhawatirkan nilai mereka yang akan keluar sebentar lagi. Bohong namanya, jika Jimin tidak ikut cemas. Apalagi, mengingat ia baru saja dirugikan dengan tidak mengikuti pelajaran. Bagaimana jika peringkat satunya turun? Bagaimana jika ia mendapat nilai merah? Bagaimana jika—tidaktidak, Jimin tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.

Dia sudah belajar keras setiap malam dan menghabiskan waktunya di toko buku yang ada diluar sekolah, bahkan ia juga harus membagi waktunya dengan latihan dance untuk festival yang akan diadakan dua hari lagi. yap, sepertinya Tuhan masih memihaknya karena pihak sekolah sudah membagi jadwal pelaksanaan festival sekolah. Hari pertama yang akan diadakan esok hari, yang tampil adalah dari club taekwondo dan teater dan hari kedua, adalah club vocal, musik, dan dance.

"Aku tidak bisa fokus latihan untuk sekarang ini. eottokae? Bagaimana jika nilaiku lebih buruk dari semester kemarin? Apalagi, sekolah mengundang orang tua kita untuk datang di festival besok!" sahut Hakyeon ikut cemas.

"Benarkah, sunbaenim?" tanya Soonyoung tampak terkejut.

"Kau tidak tahu? Tanya saja pada si dewan siswa. Dia sendiri yang mengatakannya!" jawab Hakyeon menyindir Hoseok yang sedang berkutat pada laptopnya. Hoseok mencibir.

"yak, bukan hanya aku saja dewan siswa disini!" balas Hoseok tak terima, dan tanpa sengaja ucapannya menyindir Jimin, mengingat hanya mereka berdua yang menjadi anggota dewan siswa yang ikut di club dance.

"Aku yakin, hari ini seperti mimpi buruk!" gerutu Jongin yang tak pernah bisa tenang sedari tadi. Hoseok memijat pelipisnya lelah.

"Bukankah setiap harinya kau sudah mengalami mimpi buruk?" sindir Hoseok.

"yak, Jung Hoseok—"

BRAK!

"SUNBAENIM!" seru Yugyeom dan temannya, Mark Lee membuka pintu studio dance kasar dan berseru bersamaan, yang membuat seisi studio langsung menoleh kesal kearah mereka.

"Ada apa?" tanya Hoseok berjalan mendekati mereka.

"h-hasil ujiannya—sunbaenim, hasil ujiannya sudah keluar!" ujar Yugyeom cepat. Seisi studio terdiam mencerna ucapan Yugyeom dan tak sampai satu menit kemudian, seluruh seisi studio langsung berlari berbondong-bondong keluar dari studio menuju ke lobby gedung utama, dimana pengumuman hasil ujian di tampilkan di papan besar disana.

Jimin menatap seluruh kepergian rekan se-club dancenya. Ia masih berdiri santai di practice room. Untuk apa terburu-buru jika nantinya juga bisa melihat hasil ujiannya? Dan, sudah ia bayangkan bagaimana penuhnya lobby gudang utama. Jimin menarik nafas, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan santai menyusul para siswa-siswi itu.

.

.

.

.

.

"daebak!" pekik hampir seluruh penghuni sekolah tak percaya setelah melihat hasil pengumuman hasil ujian mereka, benar-benar diluar dugaan mereka. Khususnya, diangkatan kelas tiga. Bagaimana yang biasanya peringkat satu di dapuk oleh Yoon Doojoon sekarang ini bergesar di peringkat dua dan muncullah nama asing yang tak pernah mereka duga bisa menyingkirkan Yoon Doojoon, si ketua dewan siswa yang selalu mendapat peringkat pertama sejak tahun pertamanya di RC.

"wah, hyung... bagaimana bisa kau mendapat peringkat pertama?" pekik Taehyung menatap kagum pada Namjoon yang kini tengah tersenyum puas. yap, peringkat satu di angkatan kelas tiga untuk semester ini di dapat oleh Kim Namjoon. "hyung, kau harus privat dengan Namjoon hyung!" bisik Taehyung pada Yoongi yang mendapat peringkat 43.

"Empat puluh tiga, itu sudah lumayan!"

"Lumayan?" Yoongi mengangguk dan menyeringai.

"Daripada kau, peringkat 118 dari 120 siswa." telak Yoongi diiringi kekehan dari Namjoon. "Kau yang seharusnya privat dengan Namjoon." Taehyung berdecak kesal.

"aniyo, aku akan privat dengan si peringkat satu di angkatanku!" gumam Taehyung menatap nama teratas yang jaraknya sangat jauh dengan namanya berada.

Dan, disisi lain si ketua club dance tersenyum puas setelah melihat peringkatnya yang ternyata naik lebih baik dibandingkan dari semester kemarin.

"woah, memang kerja keras itu tidak pernah mengkhianati hasil akhirnya!" gumam Hoseok, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok-sosok yang sudah hidup bersamanya sejak kecil. Hoseok tersenyum dan langsung menghampiri dua sosok yang sudah ia cari keberadaannya sejak tadi. "hyung, Jungkookie!" panggilnya yang membuat kedua orang yang dipanggilnya menoleh.

"oh, Hosiki! Bagaimana peringkatmu?" tanya Seokjin, yang memang sedang berdiri di samping Jungkook di belakang kerumunan para siswa. Hoseok tersenyum.

"20 hyung, lebih baik dari pada kemarin. Bagaimana denganmu, hyung?" tanya Hoseok. Seokjin menghela nafas.

"Masih sama. Aku sampai bosan dengan angkanya!" decak Seokjin. Hoseok terkekeh. Sebenarnya ia juga heran, sejak Seokjin berada di bangku kelas dua, Seokjin selalu mendapat peringkat 13, tidak pernah naik dan tidak pernah turun.

"Bagaimana denganmu, Jungkookie?" tanya Hoseok merangkul adik kecilnya. Jungkook tersenyum hingga memperlihatkan gigi kelincinya yang terlihat menggemaskan. "Ini semester pertamamu, 'kan?" lanjut Hoseok penasaran. Jungkook mengulum senyum dan mengangkat sepuluh jari tangannya di depan wajah Hoseok.

"100?"

Bug!

Jungkook memukul dada Hoseok kesal atas tebakannya yang meleset jauh.

"Sepuluh hyung, se-pu-luh! Kenapa kau suka sekali mengejekku?" seru Jungkook kesal. Hoseok terkekeh.

"wah, daebak! Jinjjayo, kami bangga padamu, Kookie-ya!" ujar Hoseok memeluk Jungkook sekilas. "oh, bagaimana dengan Jiminie?" tanya Hoseok.

"Kami juga belum melihatnya!" balas Seokjin dan ketiganya kembali mengalihkan pandangannya ke papan pengumuman yang sulit mereka baca karena jangkauannya yang lumayan jauh dengan tempat mereka berdiri saat ini.

Dan, disaat seluruh siswa-siswi sedang sibuk berdesakkan di lobby gedung utama. Maka disinilah, Jimin berdiri. Di lantai dua yang sepi dan mencari namanya dengan sabar. Dalam hati, Jimin bersyukur pihak sekolah yang membuat papan pengumuman yang terlampau tinggi sehingga ia bisa melihat cukup jelas di lantai dua.

Dan, baru saja Jimin membaca kalimat teratas yang merupakan judul untuk membedakan pengumuman kelas satu, dua, dan tiga. Jimin hampir berteriak girang ketika melihat namanya masih menempati tempat pertama. Jimin menahan senyum bahagianya dengan mengigit bibir bawahnya. woah, dia tidak menyangka kerja kerasnya tidak berakhir sia-sia meskipun ia sempat di skors oleh guru kesiswaan. Bahkan, meskipun ia berdiri di lantai dua ia bisa mendengar desisan kesal sekaligus decakan kagum dari banyak siswa yang ada di bawah sana, terutama siswa-siswi kelas dua.

"Wah, aku tidak menyangka peringkat pertamanya masih tetap Park Jimin!"

"Sial, aku pikir dengannya di skors selama dua minggu, aku bisa menyingkirkannya tapi—tetap saja sama!"

"Woah~ Park Jimin bukan saingan yang main-main!"

"Daebak! Bagaimana bisa dia tetap menjadi peringkat pertama?"

Jimin tersenyum manis, menahan rasa senang dan bangganya pada dirinya sendiri. Ia menarik nafas mengontrol rasa senangnya. Kemudian, ia berbalik badan meninggalkan lantai dua dan melangkah kembali menuju ke lantai delapan, dimana studio dance berada. Dan, tanpa Jimin sadari, keberadaannya yang tanpa henti tersenyum di lantai dua telah dimatai oleh beberapa orang. Mulai dari Seokjin, Hoseok dan Jungkook, lalu Yoongi, Namjoon, dan Taehyung, hingga Doojoon dan keempat temannya atau bahkan beberapa siswa-siswi yang diam-diam mencari keberadaannya. Dan, untuk Seokjin, Hoseok, dan Jungkook sendiri mereka tak bisa menutupi rasa bangga mereka pada Jimin.

'Kami bangga padamu, hyung / Jiminie!'

TBC


(-) I'm back today ...

(-) Maap ya kalau itu bingung sama nama bapaknya Yoongi sama Namjoon aku pinjem nama dari aktor Cha Seungwon sama nama aslinya Tablo Epik High, tapi ngrubah marga mereka sesuai sama cast-nya. Itu kayanya aja mirip tapi pengucapannya beda kok, kkkk

(-) Dan juga maaf kalau di chap ini enggak ada VKook-nya, hehe biar gantian sama NamJin.

(-) Kebanyakan nih, banyak yang tanya soal masa lalu Jimin. Huhuhu, next chap flashback-nya Jimin, ditunggu ya...

(-) Udah ah, aku gak mau kebanyakan omong. See you in next chap, ...

Kamsahamnida,