Hati tidak bisa berbohong

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Hurt Comfort, Romance

Hati tidak bisa berbohong by WitWula

Pairing SasuSaku

Rated : T

.

.

.

Don't Like, Don't Read

SUMMARY

Mencintai orang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Hampir sama seperti mengisi teka-teki yang pertanyaannya membuat dahi berkerut bingung.

Chapter 1

Pagi yang sangat melelahkan bagi gadis bermanik emerald, kini gadis itu tengah berhenti sejenak di depan rumah majikannya. Rumah mewah yang berdiri kokoh di jalanan pusat distrik Konoha. Halaman rumahnya yang luas dan ditumbuhi berbagai macam bunga sakura dan pohon pinus dan dibatasi pagar-pagar mewah yang menjulang tinggi. Rumah mewah itu begitu megah apabila dilihat dari kejauhan.

Gadis bermanik jambrud itu berhenti sejenak guna mengumpulkan tenaganya yang terkuras karena pekerjaannya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Sudah hampir satu tahun ini ia bekerja di rumah kediaman Uchiha Corp.

Dan ia terus saja menguap, matanya yang biasanya selalu bersinar terlihat lelah dan letih, seluruh tubuhnya hampir mau remuk. Tangannya pegal karena harus berkutat dengan piring-piring kotor, dan kakinya kram karena ia terus saja bolak-balik kesana-kemari guna mengambil atau sekedar membawa sesuatu yang berhubungan dengan peralatan pesta.

Hari ini gadis itu sama sekali tidak bergairah untuk pergi ke sekolah. Semalam pekerjaannya begitu banyak karena majikannya mengadakan pesta yang sangat meriah, pesta ulang tahun anak bungsunya yang bertetapan pada tanggal 23 juli adalah pesta sweet seventeen si bungsu Uchiha. Pesta ke-17 tahun yang sangat meriah sekali, tak ayal banyak orang-orang yang berdatangan pada pesta perayaan itu.

"Apa kau akan terus berdiri disana?" Tanya seseorang dengan nada bicara yang terkesan cuek dan dingin.

"Ehhh." Sakura menoleh ke belakangnya, ia melihat seseorang yang tengah berdiri tepat di belakangnya,

"Uchiha-san"

"Minggirlah, aku mau lewat." Sakura cepat-cepat menepi ke pinggir jalan, dan pemuda yang seumurannya itu melewatinya tanpa sepatah kata. Sakura tersenyum simpul kearah pemuda raven itu dan ia sedikit membungkukan badannya karena pemuda bermata onyx itu adalah anak dari majikannya. Itu berarti ia juga harus memberi hormat sama seperti ia menghormati kedua orang tuanya.

Pemuda bermarga Uchiha itu sekilas melihat Sakura yang tengah membungkukkan badan untuk menghormatinya. Sebenarnya, ia sedikit risih dengan sikap Sakura.

"Berhentilah bersikap seperti itu ketika kita ada diluar." Perintah Sang bungsu Uchiha. Perintah mutlak yang tidak boleh ia langgar.

"Baik, aku mengerti."

Sebenarnya mereka akan pergi ke tempat yang sama yaitu sekolah, namun bagi Sakura sendiri tentu saja akan sangat tidak sopan ketika dengan luwesnya mengatakan "Sasuke-kun, ayo kita ke sekolah bareng." Sakura menggeleng-gelengkan kepala memikirkannya. "Tidak boleh seperti itu."

Sasuke berjalan di depannya sedangkan Sakura membuntuti pemuda raven itu dari belakang. Tidak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan selama di perjalanan menuju stasiun kereta, sunyi senyap yang mereka rasakan, yang terdengar hanyalah deru langkah orang-orang yang tengah menyebrangi zebra cross, suara kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, semua itu hanya menjadi latar suara yang menyelimuti keadaan keduannya.

Angin pagi berhembus di musim panas dan pohon-pohon hijau tumbuh dengan rindang.

Sampai pada akhirnya mereka berdua tiba di sebuah stasiun kereta api yang terletak di kota Konoha, mereka menunggu kereta. Hirup-pikuk para penumpang begitu memadati daerah stasiun.

Tidak lama kemudian kereta berhenti tepat dihadapan mereka. Segera saja para penumpang itu berbondong-bondong menaiki kereta dengan terburu-buru karena pintu kereta tersebut tertutup secara otomatis. Kereta melaju dengan kecepatan 100 km/jam, Sakura harus rela berdesak-desakan dalam posisi berdiri bersama dengan para penumpang lainnya, keadaannya sangat berbeda dengan Sasuke, anak bungsu dari keturunan klan Uchiha itu dengan tenangnya duduk di bangku penumpang karena kebetulan ada satu kursi yang kosong. Sebenarnya, itu bukanlah keberuntungan Sasuke, tapi itu adalah keberuntungan bagi Sakura, karena gadis itu yang pertama kali menemukan kursi itu. Akan tetapi, karena Sasuke memelototinya dengan tatapan dingin, mau tidak mau akhirnya ia mengalah dan memberikan kursi itu pada si bungsu Uchiha.

Inilah salah satu perjuangannya menjadi pembantu rumah tangga di kediaman Uchiha. Meskipun ia tidak sedang di rumah majikannya, tapi ia juga harus tetap melayani salah satu majikannya ini. Sungguh ironi.

Selama 15 menit kereta melaju pada relnya dengan kecepatan sedang dan kini kereta itu pun akan berhenti pada salah satu stasiun berikutnya. Mereka berdua turun di stasiun ini karena sekolah tempat keduanya menuntut ilmu terletak tidak jauh dari sana.

Rutinitas yang terjadi diantara keduanya selama 1 tahun ini tidak pernah berubah setiap mereka hendak pergi ke sekolah. Dan perlakuan cowok dingin yang sekarang berjalan mendahuluinya tidak pernah sekalipun bersikap ramah. Padahal, gadis musim semi itu sangat menginginkan hubungan antar keduanya bisa menjadi lebih hangat. Apalagi mereka berdua tinggal dalam satu atap yang sama. Setidaknya mereka bisa menjalin sebuah ikatan pertemanan, meskipun hubungan keduanya antara majikan dan pembantu. Hanya saja, kini ia mengerti kenapa selama ini ia tidak pernah mempunyai seorang teman baik di sekolah ataupun di rumah majikannya. Itu karena ia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang tidak memiliki kelebihan apapun. Tidak ada kecantikan yang memancar, tidak ada jiwa leadership, dan tidak memiliki aksesoris cantik yang tersemat di tangannya ataupun di jari tangannya. Ia hanya gadis biasa dengan penampilan yang sederhana. Bola mata berwarna seperti batu emerald yang dibingkai kacamata minus, rambut pink yang panjangnya sampai pada pantat yang selalu ia gelungkan dengan rapi, baju kedodoran yang sedikit lusuh karena setiap ia hendak berangkat ke sekolah gadis itu selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu.

Sakura berjalan ke sekolahnya di Konoha High School, langkahnya ia percepat agar bisa dengan cepat menuju kelas XI-1. Ia tidak sekelas dengan Sasuke, dan itu adalah sebuah keberuntungan.

Setelah tiba di kelasnya Sakura segera mendudukan dirinya di bangku yang paling belakang. Semua itu berdasarkan sistem pengocokan yang dilakukan oleh guru Kakashi. Wali kelasnya di kelas XI-1. Sakura tidak bisa membantah ataupun menolak permintaannya, selama ini ia selalu berpikir bahwa hidupnya ini hanya ia gunakan untuk menuruti perintah orang lain tanpa bisa membantahnya.

Gadis itu mendudukan dirinya di bangku tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pada siapapun, tidak ada kata sapaan yang menyapanya, ia sendiri memilih diam seperti kebanyakan teman sekelasnya yang memberlakukannya seperti itu, dan tidak ada pula kalimat candaan yang dilontarkan oleh teman-temannya, mereka semua terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Asik bercanda dengan sahabatnya tanpa mau mengajak ataupun sekedar menyapanya meskipun hanya sebentar, kehidupan SMA yang penuh kenangan pahit, akankah semuanya berjalan sesuai dengan harapannya. Ataukah alur kenangannya akan menjadi kenangan buruk yang senantiasa menari-nari di dalam benak tanpa ada niatan untuk melupakannya. Ah, entahlah semuanya sangat melelahkan untuk dijelaskan.

"Hei Shion. Kelihatannya kamu senang sekali, ada apa? Apa ada sesuatu yang menggelikan?" Tanya Ino kepada teman pirangnya, Shion tertawa kecil mendengarnya,

"Tidak ada ko. Hanya saja aku senang sekali hari ini?" Tawanya cekikikan.

"Memangnya ada apa?" Ino menatapnya bingung,

Gadis dengan rambut gaya ponytail itu pun tersenyum menggoda kearah sahabatnya.

"Kasih tahu dong, tega sekali kamu menyembunyikan rahasia dariku."

"Tadi aku bertemu dengan Sasuke-kun. Kyaaaa... dia tampan sekali. Pangeranku yang sangat keren." Seru Shion senang, Ino meringis mendengarnya.

Ternyata efek Uchiha Sasuke bagi Shion sangat besar pengaruhnya, ia sendiri terkadang sering memprihatinkan tentang keadaan gadis pirang ini karena Sasuke termasuk cowok yang jarang sekali memperdulikan perasaan gadis-gadis yang sangat tergila-gila padanya.

Sakura sekilas melihat kedua gadis yang sedang asik bercengkrama, ia sempat mencuri dengar bahwa teman sekelasnya ini tengah mengobrolkan Sasuke. Perasaannya sedikit hancur ketika mendengar bahwa salah satu teman sekelasnya yang berambut pirang ini menyukai cowok dingin itu. Sebenarnya, Sakura sudah 1 tahun ini juga ia menyukai Sasuke, lebih tepatnya mencintai. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia sendiri sadar bahwa ia tidaklah pantas untuk bersanding dengan bungsu Uchiha itu. Tapi, ia sangat mencintainya

Kenapa perasaan ini harus ada, karena aku tidaklah pantas memiliki perasaan ini. Tolonglah aku, kumohon hilangkanlah rasa cinta ini. Lenyaplah seperti bunga dandelion yang ku tiup bersama angin dan terbanglah dengan bebasnya.

Bersambung

Akhirnya bisa kelar juga fanfic ini. Yeeeyyy fanfic pertama SasuSaku. Seru juga ternyata nulis cerita ini, apalagi kedua tokohnya cukup mendukung sama jalan ceritanya.

By the way please review cerita ini, reviewnya bisa apa aja ko, mau kritik boleh, saran boleh, terus ada yang mau nambahin juga boleh ko. Aku terima semua review itu bagaimanapun isi dari review tersebut. Dan sampai bertemu lagi di chapter selanjutnya.