Delapan tahun yang lalu
.
.
.
Kriiing~
Seluruh siswa sekolah dasar berbondong-bondong keluar dari kelas mereka masing-masing dan berlari menuju parkiran sekolah mereka untuk menghampiri para orang tua atau sekedar suruhan orang tua mereka untuk menjemput anak mereka.
"APPA!" seru seorang bocah berperawakan mungil dengan dua gigi kelinci yang menambah keimutan bocah laki-laki itu, sebenarnya ia tak berlari seorang diri, ada tiga bocah yang sudah ia anggap sebagai hyung-nya sendiri yang juga turut berjalan di belakangnya.
"Annyeongasseo samchon!" sapa bocah laki-laki yang paling tua diantara mereka pada pria paruh baya yang saat itu bertugas menjemput keempat pangeran kecilnya.
"Annyeong Seokjinie, Hosiki, Jiminie!" balasnya seraya menggendong bocah yang tadi memanggilnya 'appa'.
"Appa, apa kita langsung pulang?" tanya sang bocah yang berada di dalam gendongannya yang tak lain adalah anak laki-lakinya, Jeon Jungkook.
"aniyo, kita akan makan siang dengan orang tua kalian. Kalian senang?" tanyanya. Ketiga bocah itu mengangguk dan menyahut, "nde!" dengan kompak.
"Jja, kalau begitu kita berangkat sekarang!" ajak ayah Jungkook, satu tangannya merangkul tubuh Jungkook dan satu tangannya menggandeng tangan bocah yang bernama Park Jimin.
.
.
.
.
.
Kling~
Ayah Jungkook membuka pintu di sebuah restoran mewah dimana tempat para orang tua dari anak-anak yang ia jemput berada.
"Oh, itu orang tua kalian!" serunya menunjuk kearah sebuah meja besar dimana orang tua mereka berkumpul.
"Appa / Eomma!" seru dari ketiga bocah itu dan langsung berhambur ke dalam pelukan kedua orang tua mereka masing-masing.
"Jiminie!" seru seorang pria memeluk dan langsung menggendong putra kecilnya, ia pun dengan segera membawa sang putra ikut berkumpul di meja besar yang sudah mereka pesan.
"Eomma~" panggil Jimin tersenyum manis, ia mencium kedua pipi sang ibu ketika sang ayah mendudukkannya di samping kanan-kiri kedua orang tuanya.
"Bagaimana sekolahmu, sayang?" tanya sang ibu seraya mengusak rambut cokelat Jimin.
"Hari ini, aku mendapat nilai seratus di tes matematika-ku, eomma!" ujarnya ceria yang membuat semua orang yang berada di meja besar itu tersenyum melihat kepolosan Jimin.
"Aigoo~ pangeran eomma memang yang terbaik!"
"Tentu eomma! Aku harus menjadi yang terbaik untuk menjaga adik bayi. Apa adik bayi baik-baik saja?" tanya Jimin kedua matanya berbinar menyelami kedua mata cantik sang ibu.
"Sapa dia nak. Dia pasti senang!" titah sang ibu yang membuat Jimin segera mengelus perut ibunya dan sedikit berbincang dengan kandungan ibunya yang baru menginjak tiga bulan.
"Appa, apa Jiminie hyung, akan melupakan kita jika adik bayi lahir?" tanya Jungkook pada sang ayah yang tengah memangkunya. Jimin yang mendengar itu pun sontak mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Jungkook dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.
"Adik bayi juga akan menjadi adikmu Jungkookie, kau juga akan menjadi seorang kakak, iya kan eomma?" tanya Jimin kedua matanya menyipit ceria.
"Tentu saja nak!" balas sang ibu yang membuat Jungkook tersenyum dan menunjukkan kedua gigi kelincinya.
"Eomma, appa—siapa mereka?" tanya Hoseok ketika sepasang matanya melihat tiga pria asing dan tiga bocah laki-laki yang sedari tadi hanya diam dan ikut tersenyum mematai bagaimana interaksi Jimin dan sang ibu.
"Ah, kami sampai lupa. perkenalkan anak-anak mereka bertiga adalah teman kami saat di sekolah dulu. Sapa mereka!" jawab ayah Jimin.
"Annyeongasseo ahjussi!" sapa keempat bocah itu yang dibalas senyum yang muncul dari masing-masing bibir ketiga pria itu.
"Annyeong!" balas mereka kompak.
"Ah, perkenalkan. Nama ahjussi adalah Kim Seungwon dan ini anak ahjussi, Kim Namjoon! Namjoon, beri salam!" titah ayah Namjoon. Namjoon mengangguk, ia tersenyum dan menundukkan kepalanya sekilas sebagai tanda salam.
"Annyeongasseo, Kim Namjoon imnida!" sapanya.
"Dan, sekarang giliran ahjussi untuk memperkenalkan diri, nama ahjussi Kim Wonjoong dan ini anak ahjussi, Kim Taehyung!" lanjut ayah Taehyung, melirik kearah sang anak yang kini tengah tersenyum kotak.
"Nde, annyeong—Kim Taehyung imnida, umurku baru 10 tahun. Aku—"
"woah~ kau seumuran dengan Jiminie hyung!" pekik Jungkook yang membuat Taehyung dan Jimin saling berpandangan. Jimin lebih dulu tersenyum dan Taehyung pun ikut membalas senyuman manis Jimin.
"Benarkah?" tanya Taehyung senang. Jimin dan Jungkook mengangguk bersamaan.
"Baiklah, sekarang bolehkah paman mengenalkan diri, Taehyungie?" tanya seorang pria yang duduk di samping Taehyung. Taehyung terkekeh dan mengangguk mempersilahkan.
"Ini anak ahjussi, Min Yoongi dan nama ahjussi, Min Seonwoong. Yoongi, beri salam!" titah ayah Yoongi. Yoongi menarik nafas, dan tersenyum sekenanya yang membuat para orang tua dan para bocah menatap seolah menunggu untuk Yoongi mengatakan sesuatu. "Maafkan aku, Yoongi ini anak yang sedikit pendiam!" lanjut ayah Yoongi yang langsung direspon anggukan oleh mereka semua.
"Jja, anak-anak kenapa kalian tidak bermain bersama, agar kalian dekat?" usul ayah Jungkook. Ketujuh bocah itu saling berpandangan kemudian beberapa dari mereka tersenyum. "Bermainlah, tapi—jangan pergi kemana-mana, arraseo?" pesan ayah Jungkook yang hanya diangguki oleh enam bocah itu. Kemudian satu persatu, mereka turun dari kursi mereka masing-masing dan berlari berhambur menuju tempat khusus bermain untuk anak-anak yang disediakan oleh pihak restoran.
"Jiminie, kau tidak ingin bermain?" tanya ibu Jimin yang melihat putranya tidak bergerak sedikitpun dari kursi tempatnya duduk. Bahkan, baru mereka sadari jika sepergian keenam bocah lainnya, wajah Jimin tak seceria biasanya. Dan, untuk kali pertama bagi para orang tua itu melihat wajah Jimin tanpa senyum dan hanya ada tatapan dingin yang ditunjukkannya saat ini. Jimin menatap kedua orang tuanya bergantian kemudian pandangannya teralih kearah enam bocah yang sedang asik bermain di tempat bermain.
"Aku ingin bersama eomma!" pinta Jimin enggan yang membuat ayah Jimin menatap tak enak hati pada seluruh sahabatnya.
"Jiminie, bermainlah sebentar dengan mereka. Nanti eomma menyusul!" Jimin menatap sang eomma, entah kenapa ia merasa jika ia pergi ia tidak bisa lagi melihat wajah cantik ibunya. Tanpa sadar, kedua mata Jimin berlinang air mata yang membuat ibu Jimin langsung memeluknya dan memangkunya. "Jiminie, kau kenapa nak?" tanyanya panik.
"Aku mau bersama eomma!" Jimin mengeratkan pelukan sang ibu sementara ibu Jimin menatap menyesal pada seluruh sahabatnya. "Kalian bicara saja tanpaku, aku akan menemani Jimin sebentar!" ijinnya, mereka semua mengangguk paham.
"Jiminie, kau mau makan es krim?" tanya sang ibu. Jimin mendongak dan mengangguk.
"Jika dengan eomma, aku mau!" sang ibu terkekeh dan mengecup bibir putra kecilnya.
"Jja, kita beli es krim, okay?" Jimin mengangguk, ia turun dari pangkuan ibunya namun kali ini ia juga menarik tangan sang ayah.
"Juga dengan appa!" pinta Jimin yang membuat mereka semua terkejut dengan perubahan raut wajah Jimin yang semakin jelas terlihat ketakutan berbeda ketika Jimin bersama dengan anak mereka masing-masing.
"Appa tidak bisa nak. Beli-lah bersama dengan ibumu, arraseo? Appa, akan menyusul nanti." Jimin menggeleng, ia pun kembali duduk di kursinya dengan kepala tertunduk dan kedua matanya yang penuh air mata.
"Aku akan tetap disini, kalau begitu!" ujar Jimin dingin.
"Jiminie, bagaimana jika membeli es krimnya dengan eomma dan imo?" tawar ibu Seokjin. Jimin mendongak dan menggeleng cepat.
"Aku mau dengan appa dan eomma!" pinta Jimin kekeuh.
"Jimin sayang, ada apa denganmu, nak?!" tanya sang ibu mengelus rambut Jimin dengan lembut.
"Ayo kita pulang, eomma, appa!" pinta Jimin lirih yang tentu saja direspon dengan ekspresi terkejut dari mereka semua.
"Jimin sayang, kenapa kau ingin pulang? Kau tidak ingin bermain dengan Seokjin hyung, Hobi hyung dan Jungkookie? Bahkan, kalian juga mendapat teman baru." lanjut ibu Hoseok, ikut membujuk. Jimin menggeleng keras.
"Ayo, eomma! Ayoo, appa! Kita pulang!" Jimin semakin berteriak histeris dan terus menarik tangan kedua orang tuanya.
"Nak, kau ini kenapa?" tanya sang ayah. Jimin mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata ayahnya marah.
"Aku tidak mau appa bertemu dengan orang yang tidak mempercayai appa!"
DEG!
Kesepuluh orang yang berada di meja besar itu terdiam ketika mendengar seruan Jimin. Mereka tidak menyangka jika bocah yang baru sepuluh tahun mengerti situasi yang sedang orang dewasa alami.
Ibu Jimin berjongkok untuk menyetarakan tinggi badan sang putra kecilnya.
"Jiminie, apa yang kau bicarakan? Siapa yang tidak mempercayai appa nak?" tanya ibu Jimin, kedua matanya menahan air mata.
"Aku percaya pada appa, tapi orang-orang tidak ada yang percaya padanya. Appa Jimin bukan orang jahat. Eomma~ aku mendengar semuanya malam itu!" isak Jimin berhambur memeluk sang ibu. "Aku mau pulang eomma!" lirih Jimin dengan kedua matanya yang terpejam untuk menghindari tatapan dari keenam bocah yang memang sedari tadi sedang menunggunya dan kini menatap kearahnya.
"Sayang~" bisik sang ibu mengelus punggung Jimin. Melihat anaknya yang terus menangis dan meminta pulang, terlebih bagaimana istri tercintanya yang hampir meneteskan air mata, membuat ayah Jimin bangkit dari duduknya.
"Maafkan aku hyung, aku tidak bisa membicarakan hal ini disini. Yang jelas, aku tidak ingin membuat anakku ketakutan!" ujarnya tegas, ia membungkuk dan mengambil Jimin dari pelukan ibunya ke gendongannya. Masih dengan sesenggukan Jimin mengeratkan pelukannya ke leher sang ayah.
"Sampai jumpa besok hyung! Kita bicara lagi di kantor!" pamit ayah Jimin seraya menggandeng tangan sang istri. Keluarga Park itu pun, melangkah meninggalkan meja mereka, bersamaan dengan keenam bocah yang berlari menuju meja besar dimana orang tua mereka berada.
"Appa, kenapa Jimin hyung menangis?" tanya Jungkook pada sang ayah. Sang ayah tersenyum tipis, ia berjongkok dan mengelus surai putra manisnya.
"Jiminie hyung sedang sakit." jawab ayah Jungkook berbohong.
"Jiminie appo?" tanya Seokjin dengan kedua matanya yang berkedip lucu.
"Nde, dan kalian mau menjaganya agar cepat sembuh 'kan?" tanya ayah Jungkook yang dibalas dari keenam bocah yang hanya asal mengangguk tanpa tahu apa yang tengah ayah Jungkook katakan pada mereka. Ayah Jungkook memandang wajah dari orang tua keenam bocah itu masing-masing, beberapa dari mereka menghela nafas dan memasang raut wajah menyesal.
.
.
.
.
.
Cklek!
Jiwon, ibu Jimin membuka pintu kamar putra kecilnya. Kedua matanya sendu setelah mengetahui kamar putranya dalam keadaan gelap dan hanya ada cahaya remang dari lampu tidur. Jiwon melangkah pelan mendekati ranjang sang putra dimana putranya yang tengah meringkuk memeluk guling dan seluruh tubuhnya yang tertutup selimut.
"Jiminie~" panggil sang ibu seraya mengelus surai Jimin lembut. Jimin menggeliat kecil, ia membuka kedua matanya dan segera menoleh.
"Eomma," lirihnya serak. Jiwon tersenyum kecil.
"Apa eomma, mengganggu tidurmu?" tanya Jiwon. Jimin tersenyum dan menggeleng. Kemudian, ia bangkit dari tidurnya dan memeluk sang ibu erat.
"Apa adik bayi baik-baik saja eomma?" tanya Jimin.
"Adik bayi baik-baik saja sayang. Dia bertanya, apa kakaknya yang tampan dan manis ini baik-baik saja?"
"Aku baik, eomma!" lirih Jimin masih memeluk sang ibu. "eomma, maafkan aku untuk hari ini!" lanjut Jimin. Sementara, Jiwon tanpa henti terus mengelus punggung kecil putranya.
"Tidak apa nak. Tapi, kau tidak boleh berucap kasar pada orang yang lebih tua." pesan Jiwon. Jimin hanya diam, lalu ia menarik diri dari pelukan sang ibu dan menatap sang ibu lamat.
"eomma, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku. Berjanjilah eomma, jika eomma, appa, dan adik bayi akan selalu bersamaku."
"Sayang, kami akan selalu bersamamu. Kau tak perlu takut, hm?" balas Jiwon. Jimin tersenyum kecil dan mengangguk. Kemudian, Jiwon pun kembali menarik tubuh Jimin ke dalam pelukan hangatnya. Ia tidak tahu, apa yang Jimin takutkan, bahkan dia tidak tahu apa yang Jimin ketahui hingga Jimin bersikap dingin dan menangis seperti tadi siang. Dan, sungguh itu adalah kali pertama bagi Jiwon dan Seojoon, ayah Jimin melihat perubahan sikap Jimin di depan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepuluh hari yang lalu ...
.
.
.
Jimin kecil melangkah ringan menaiki tangga di rumah mewahnya, sesekali bersenandung riang. Bocah 10 tahun itu, berniat untuk mengejutkan sang ayah yang sedang berada di ruang kerjanya. Ia merasa kesepian, jika ibunya sedang berjaga di rumah sakit dan hanya bermain seorang diri di rumah sebesar ini. Jika dipikir-pikir sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktu bersama sang ayah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ah, kalau begini ia menjadi tidak sabar untuk menunggu kelahiran sang adik. Apalagi, diantara hyung dan dongsaengnya, dia akan menjadi orang pertama yang punya adik. Hanya memikirkannya saja, sudah membuat Jimin tersenyum bahagia.
Jimin menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu kerja sang ayah yang tertutup rapat. Jimin mengulum senyum dan tangannya yang mulai meraih kenop pintu. Ia memutar kenop itu perlahan, namun kemudian ia terdiam ketika mendengar ayahnya tengah berbincang dengan seseorang, Jimin mengintip sedikit dan dapat ia lihat pria paruh baya yang lebih tua dari ayahnya dengan sorot mata yang kelewat tajam. Jimin tampak mengingat apakah ia mengenal pria itu atau tidak, tapi setelah berfikir keras Jimin menyadari jika ini adalah kali pertama ia melihat pria itu di hadapannya.
"Aku sudah peringatkan padamu, Park Seojoon-ssi—untuk tidak bermain-main denganku!"
Jimin mengangkat sebelah alisnya tak suka saat mendengar nada tinggi yang pria tua itu tujukan pada ayahnya.
"Saya tidak pernah bermain-main dengan anda, Perdana Menteri Nam! Saya hanya melakukan apa yang seharusnya menjadi tugasku!"
"Cih! Beraninya kau melawanku!"
"Maafkan saya tuan Nam. Tapi, apa yang anda lakukan selama masa jabatan anda itu sangat buruk dampaknya bagi masyarakat."
Jimin menatap kagum kearah ayahnya yang tetap bersikap tenang dan sopan di depan pria tua itu.
"Sombong! Dimana sopan-santunmu sebagai bawahan dan beraninya kau memateriku? Dengar Park Seojoon, bukan berarti kau sedang dipromosikan untuk menggantikanku dan kau bisa seenaknya mengajariku!"
"Maafkan saya tuan Nam. Hanya saja, apa yang sudah anda lakukan harus anda pertanggung jawabkan!"
Jimin menatap was-was sekaligus takut pada pria yang kini tengah menggeram marah dan mengepalkan kedua tangannya di hadapan ayahnya. Jimin mengigit bibir bawahnya berharap agar tidak terjadi sesuatu pada ayahnya.
"PARK SEOJOON! BERANINYA KAU—"
"Maafkan saya, tapi saya memiliki bukti atas tindakan korupsi anda selama ini dan beberapa kasus lainnya. Jadi, saya sangat mengharapkan kepada anda untuk mempertanggungjawabkan semuanya!"
"Dengar Park Seojoon! Jangan anggap kau menang kali ini, jika aku sampai tertangkap dan bukti itu sampai tersebar di depan publik. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghancurkanmu hingga ke akar-akarnya!"
"Lakukan, apa yang ingin anda lakukan Perdana Menteri Nam. Saya pun tetap akan melakukan apa yang ingin saya lakukan!"
"Baiklah, jangan menyesal karena telah menantangku!"
Jimin tersentak ketakutan ketika pria tua itu melangkahkan kakinya keluar ruang kerja ayahnya. Namun, baru dua langkah pria itu menghentikan langkah dan berbalik badan, kembali menatap ayahnya.
"Kau memiliki putra yang sangat tampan dan manis. Oh, bahkan aku juga mendengar istrimu sedang mengandung anak kedua kalian. Kau memiliki keluarga kecil yang bahagia, Seojoon-ssi!"
Jimin dapat melihat raut wajah ayahnya yang berubah pucat pasi ketika pria tua itu membawa-bawa ibu dan dirinya.
"Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan keluarga kecilmu bisa berlangsung lebih lama atau akan berakhir tinggal hitungan hari."
Jantung Jimin berdetak cepat, sungguh sebenarnya ia tidak paham apa yang pria itu bicarakan pada ayahnya. Tapi, ia yakin pasti apa yang dikatakan oleh pria itu bukanlah sesuatu yang baik.
"Bahkan, aku bisa membuat kau berada di situasi dimana kau yang menjadi diriku dan aku menjadi dirimu. Kau punya banyak pelindung yang sudah kau anggap sebagai kakakmu sendiri. Tapi, bagaimana jika mereka tidak berpihak padamu, Park Seojoon? Bukankah itu menyakitkan? Ah, tidak hanya itu—bagaimana jika kau kehilangan anak dan istrimu?"
"Kau mengancamku?"
"Kita sudah lama saling mengenal Park Seojoon dan aku sangat menyukaimu dibandingkan hyung-mu yang lain. Kau disiplin, tegas dan jujur dalam bekerja tapi kau adalah sosok suami sekaligus ayah yang lembut dan menjadi pelindung bukan? Tentu saja, kau harus menjadi pelindung mereka!"
"Jangan pernah mengusik keluargaku, tuan Nam!"
"Aku tidak akan mengusikmu jika kau tidak mengusikku, Park Seojoon-ssi!"
"Kalau begitu, hancurkan saja hidupku—jangan keluargaku!"
"No no no! Aku tidak tahu kau manusia macam apa tapi—kau orang yang sulit dihancurkan. Tapi, bukankah setiap orang pasti memiliki kelemahan? Dan, aku tahu kelemahanmu!"
"Nam Goong Won!"
"Woah~ kau bahkan sudah berani menyebut namaku dengan lantang, Park Seojoon!"
"Aku akan melakukan apapun yang kau mau, asalkan kau tidak menyakiti keluargaku."
"Benarkah?"
Jimin memundurkan langkahnya terkejut ketika tak sengaja saat ia mengintip dan sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata tajam pria asing itu. Jantung Jimin berdetak dua kali lebih cepat, keringat dingin mulai mengucur. Tubuhnya bergetar hebat, ia takut jika pria itu mengetahui keberadaannya yang tak sengaja menguping.
"Kau memiliki putra yang sangat cerdas!"
"Apa maksudmu?"
"Awalnya, mungkin aku akan mengemis padamu. Tapi sekarang, kau-lah yang akan mengemis padaku!"
"Tuan Nam—"
"Tunggu tanggal mainnya, Park Seojoon! Nikmati, buah hasil dari kerja kerasmu dan aku akan menyambutmu sebagai Perdana Menteri yang baru. Dan, bahkan jika bisa aku berharap kau menjengukku di penjara setiap hari. Itu pun, jika kau bisa memenangkan pertarunganmu denganku. Ingat Park Seojoon! Kau tidak memiliki 'sekutu' saat ini, bahkan orang-orang yang kau anggap sebagai kakakmu sendiri—mereka-lah yang akan membawa kehancuran dalam hidupmu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin melangkahkan kakinya keluar area sekolah dengan cepat. Ia tidak mau bertemu dengan Jinnie hyung, Hobi hyung, dan juga Jungkookie. Sejak kejadian di restoran tiga hari yang lalu, sejak itu pula Jimin tanpa alasan menghindari mereka. Apalagi, tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya dan ketiga sahabat kecilnya, Jimin selalu mendapat bully-an dari teman-teman sekelasnya karena berita tentang ayahnya yang sudah beredar. Berita yang membuat Jimin berubah 180° berbeda dengan Jimin yang ceria, ramah dan penuh senyum dan kasih sayang. Yang ada, hanya Jimin yang diam, mudah menangis, dan berucap kasar.
Dug!
Jimin meringis saat ia tersandung seutas tali tambang yang entah sejak kapan ada di dekat gerbang sekolahnya. Kedua lututnya terluka, dan ia ingin sekali menangis terlebih ketika teman-teman sekelasnya datang dan mengerubunginya.
"Lihatlah, anak dari penjahat itu!" seru seorang siswa laki-laki menunjuk wajah Jimin dengan jarinya. "Sekarang dia sudah hampir berlutut dihadapan kita semua!" Jimin meneteskan air matanya saat sepasang telinganya mendengar suara tawa dari siswa-siswi yang masih berdiri mengerubunginya.
"Yak! Park Jimin, ayahmu itu seharusnya di penjara! Dan, kau tidak pantas sekolah disini!" seru siswa lainnya. Jimin mengepalkan kedua tangannya dan menunduk dalam.
"Itu benar, ayahmu itu penjahat!"
"Ayahmu manusia mengerikan!"
"Penjahat itu tidak seharusnya hidup!"
BUGH!
Jimin tak bisa lagi menahan amarahnya mendengar seorang siswa yang tanpa sengaja menginginkan kematian ayahnya. Maka, dengan segala kekuatannya Jimin mendorong siswa itu hingga siswa itu jatuh tersungkur di depannya.
"Ayahku bukan penjahat!" seru Jimin, ia sudah berdiri dan menahan luka di kedua lututnya yang terus mengeluarkan darah. "Ayahku hanya di fitnah!"
"PEMBOHONG!" seru siswa yang Jimin dorong. Ia meringis akibat kedua sikunya yang sedikit tergores kecil.
"Kau pembunuh! Kau hampir melukaiku!" serunya yang diiringi desisan marah dari teman-teman sekelasnya.
"Aku tidak melukaimu, kau yang melukaiku!" Jimin membela diri.
"Kau pantas mendapatkannya!" seru siswa itu penuh amarah.
"Ya ampun, kau kenapa sayang?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba datang dan menghampiri anaknya yang sempat bersitegang dengan Jimin bersamaan dengan Jimin yang tadinya mau membalas ucapan dari teman sekelasnya.
"Eomma! Lihat, dia melukaiku! Anak penjahat yang ada di tv itu mau melukaiku!" serunya mengadu yang membuat wanita paruh baya itu sontak menatap marah kearah Jimin.
"Ternyata, anak dan ayah sama saja. Sama-sama mengerikan. Bagaimana bisa umurmu masih sekecil ini tapi sudah berbuat kasar? Apa kau tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu? Mereka benar-benar sangat buruk! Cih! Aku berdoa, agar ayahmu mendapat hukuman mati seumur hidup!"
"Jangan menghina ayahku!" seru Jimin tak terima, dengan berani ia menatap kedua mata wanita itu penuh air mata dan ketakutan secara bersamaan. "Jangan mengatakan yang tidak-tidak jika kau tidak tahu tentang ayahku!"
"Cih! Aku kasihan pada masa depanmu, akan menjadi apa kau besar nanti jika masih kecil saja kau tidak segan-segan melukai anakku dan berucap kasar pada orang yang lebih tua!" sarkas wanita itu. Jimin terisak hebat, kemudian ia berlari dan menabrak kumpulan siswa-siswa yang ternyata menyaksikan pertengkarannya tadi.
Mengabaikan rasa sakit dan perih dari kedua lututnya yang terluka, Jimin berlari sekuat tenaga menjauh dari keramaian orang hingga ia sampai di sebuah halte bis yang kebetulan tak banyak orang di tempat pemberhentian kendaraan umum tersebut.
"Eomma—hiks! appo! Jiminie appo~ hiks!" isak Jimin ia duduk di kursi tunggu halte dan menundukkan kepalanya. Ia ingin pulang, tapi tidak dengan keadaan lututnya yang terluka seperti ini. Ia tidak mau membuat ibunya menangis diam-diam dan ayahnya yang semakin mengkhawatirkannya. Dan, di saat seperti ini—ia membutuhkan ketiga sahabat kecilnya. Meskipun, itu tidak mungkin karena ketiga sahabatnya pasti sudah pulang dijemput oleh orang kepercayaan ayah mereka masing-masing.
"Jimin?" Jimin seketika mendongak dan mendapati bocah laki-laki yang tak ia kenal berdiri di depannya.
"Kau tahu namaku?" tanya Jimin bingung. Bocah tampan berkulit putih pucat dan bermata sipit itu tersenyum kecil.
"Kau lupa padaku? Kita bertemu di restoran tiga hari yang lalu!" jawabnya. Jimin tampak mengingat.
"Ah, kau Min Yoongi?" tebak Jimin hati-hati. Bocah pucat itu tersenyum dan mengangguk.
"hyung!"
"nde?" pekik Jimin tak mengerti.
"Jika kau seumuran dengan Taetae, panggil aku 'hyung'!"
"Taetae? Siapa Taetae?" tanya Jimin.
"Kim Taehyung! Kau ingat, dia juga ada di restoran kemarin!" Jimin mengangguk.
"nde, mianhae hyung!" sesal Jimin mencoba untuk tersenyum dan setelahnya ada hanya keheningan diantara mereka.
Yoongi melepas tas ransel kumamonnya, dan membukanya. Ia mengeluarkan dua buah plester yang juga bergambar kumamon. Ia berjongkok di depan lutut Jimin dan meniup-niupnya membuat Jimin meringis seketika.
"Aku akan mengobatimu, jadi jangan menangis, arraseo?" pinta Yoongi tanpa menatap Jimin. Setelah beberapa menit meniup kedua lutut Jimin bergantian, dengan hati-hati Yoongi menempelkan plester kumamonnya pada lutut Jimin yang terluka. Setelah selesai, Yoongi berdiri dan tangannya yang terulur untuk menghapus jejak-jejak air mata Jimin.
"Kau jelek jika menangis," ujarnya meski dengan ekspresi datar. Jimin mengedipkan kedua matanya bersamaan dengan Yoongi yang beralih duduk di samping Jimin.
"Apa yang hyungie lakukan disini?" tanya Jimin.
"Sekolahku di dekat sini!" jawab Yoongi sekenanya. "Aku sedang menunggu Hyunwoo hyung untuk menjemputku, dia belum pulang dari sekolahnya. Kau sendiri?" Yoongi balik bertanya. "Kenapa kau hanya sendiri?" Jimin hanya diam, ia kembali menunduk. "Kau ingin menangis?" tanya Yoongi dan dengan polosnya, Jimin mengangguk membuat Yoongi secara naluriah menarik Jimin kecil ke dalam pelukannya. Ia mengelus surai Jimin lembut dan sesekali menepuk-nepuk kepala bocah kecil itu pelan.
"Kau boleh menangis sepuasnya, tidak ada yang tahu!" ujar Yoongi yang kemudian ia mendengar suara isakan dari Jimin.
"Appa-ku—bukan—hiks! Appa tidak bersalah!" racau Jimin yang membuat Yoongi diam-diam tersenyum iba. Bohong, jika ia tidak tahu dan bohong jika keberadaannya disini bukan karena ketidak-sengajaan. Yoongi menoleh kearah kanannya dan mendapati lima orang bocah serta tiga pria dewasa yang tengah mematainya dan Jimin yang berada di pelukannya. Yoongi menarik nafas, beberapa menit yang lalu, ia, bersama dengan kedua sahabat kecilnya, Taehyung dan Namjoon berniat untuk mengunjungi Jimin dan ketiga temannya dan tentu saja mereka menyaksikan bully-an yang diterima Jimin di gerbang sekolahnya.
"Kenapa tidak ada yang mempercayai appa?" tanya Jimin di dalam pelukan Yoongi. Yoongi terdiam dan kemudian ia menarik ujung bibirnya membentuk senyuman.
"Aku percaya pada ayahmu." ujarnya yang membuat Jimin langsung menarik diri dari pelukan Yoongi.
"Benarkah?" Yoongi mengangguk yakin. "Kau sedang berbohong 'kan?"
"aniyo!" Jimin seketika terdiam, ditatapnya Yoongi lamat dan kemudian Jimin tersenyum. Senyuman tulus yang membuat Yoongi tertegun dengan senyum manis milik Jimin. "Aku berjanji padamu—" Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "—aku akan mengembalikan senyummu jika kau tak lagi menunjukkan senyum manismu, Jiminie!" Jimin terkekeh kecil dan memeluk Yoongi erat.
"Gomawo hyung!" bisik Jimin dengan kedua matanya yang melirik kearah kedua lututnya yang tertempel plester bergambar kumamon dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
.
.
.
.
.
Breaking News!
Park Seojoon ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi serta otak di balik bisnis illegal terbesar yang menyebar luas di Korea Selatan, Hongkong, Jepang, hingga China. Menurut, Ketua Detektif Seoul, Min Seonwoong dan Ketua Badan Intelijen Negara, Jeon Seungho serta atas keputusan dari Jaksa Agung, Kim Seungwon, akan ada penyelidikan lebih lanjut terkait dengan bisnis illegal yang tengah Park Seojoon geluti diam-diam. Selain itu, Perdana Menteri Nam Goong Won mengusulkan untuk dicabutnya promosi Menteri Park Seojoon sebagai calon Perdana Menteri yang akan menggantikan masa jabatannya terkait kasus yang—
Pip!
Jiwon, ibu Jimin mematikan televisi yang tak sengaja ia tonton dan memberitakan tentang berita yang sedang melanda suaminya. Jiwon menunduk dan terisak dalam diam. Ia percaya pada suaminya jika suaminya tidak akan melakukan hal demikian, tapi ia tidak menyangka jika hampir semua teman suaminya ikut menuduh dan percaya jika hal sekeji itu adalah perbuatan ayah dari anaknya.
"Eomma!" panggil Jimin yang membuat Jiwon langsung menghapus air matanya dan menoleh dengan senyum untuk menutupi segala kesedihan yang tengah ia rasakan. "eomma, tidak apa?" tanya Jimin berdiri di depan tempat duduk sang ibu dengan tangan mungilnya yang terulur untuk menghapus air mata ibunya yang masih mengalir. Jiwon mengangguk dan dipeluknya sang pangeran kecilnya erat.
"eomma tidak apa, sayang! Selama ada Jiminie—eomma baik-baik saja!" Jimin tersenyum kecut dibalik pelukan sang ibu. Ia tahu, ibunya tengah menghibur dirinya agar Jimin ikut tak menangis jika mendengar tentang berita ayahnya dan paman-pamannya.
"eomma, kenapa samchon dan ahjussi jahat kepada appa?" tanya Jimin. Jiwon melepas pelukan sang putra dan menangkup wajah Jimin dengan kedua tangannya.
"Samchon dan ahjussi tidak jahat pada appa. Mereka akan melindungi appa."
"Sampai kapan eomma akan berbohong padaku? Mereka tidak mempercayai appa!"
"Sayang—"
"APPA PULANG!" seru Seojoon, ayah Jimin. Jimin yang mendengar suara ayahnya pun langsung berlari dan meminta ayahnya untuk menggendongnya.
"Appa!" serunya merentangkan tangannya. Seojoon terkekeh dan dengan senang hati ia menggendong putra kecilnya.
"Jagoan appa!" ujar Seojoon mencubit hidung Jimin gemas. Jimin tersenyum kecil.
"Apa, appa lelah?" tanya Jimin berusaha agar ia tidak memasang wajah sedih. Seojoon menggeleng dan tersenyum, ia mencium bibir sang putra sekilas.
"Lelah appa sudah hilang setelah melihat wajah tampan jagoan appa. Oya sayang, dimana eomma?" tanya Seojoon.
"Aku disini oppa!" sahut Jiwon berjalan mendekati dua orang terpenting dalam hidupnya. Jiwon memeluk Seojoon erat dan kembali terisak yang membuat Seojoon mengecup pucuk kepala sang istri lama.
"Sayang, kenapa kau menangis?" tanya Seojoon. Jiwon menarik diri dari pelukan sang suami, ia menghapus air matanya dan menggeleng.
"Oppa pasti lelah, bagaimana jika kita makan sekarang?" tawar Jiwon. Seojoon mengangguk, namun ia kembali menatap Jiwon dengan senyum tampan di wajahnya. Senyuman yang menjadi penguat bagi Jiwon dan Jimin tentu saja.
"Bagaimana jika kita makan diluar? Appa sudah menyiapkan makan malam romantis untuk kalian." tawar Seojoon.
"Tapi, oppa aku sudah memasak—"
"eomma, aku juga mau es krim. Kita makan diluar nde?" pinta Jimin yang diiringin tawa puas dari sang ayah ketika putra kecilnya mendukungnya.
"Tapi—"
"Ayolah, sayang. Sudah lama kita tidak makan diluar." ajak Seojoon.
"nde eomma. Eomma selalu sibuk di rumah sakit dan appa sibuk di kantor. Jiminie kesepian~" lirih Jimin, sesaat bocah sepuluh tahun itu melupakan masalah yang tengah melanda ayahnya dan kembali berperan sebagai bocah kecil yang membutuhkan perhatian kedua orang tuanya. Dan disinilah, peran Seojoon dan Jiwon yang mana mereka akan merasa bersalah karena sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama pangeran kecil mereka.
"Maafkan kami sayang~" balas Jiwon seraya mengecup pipi Jimin dengan air mata yang kembali menetes keluar dari ekor matanya.
.
.
.
.
.
"Oppa, apa kau baik-baik saja?" tanya Jiwon tanpa menatap sang suami yang tengah duduk di depannya dan kedua matanya hanya tertuju pada putra kecilnya yang tengah berlarian menangkap kunang-kunang. Kini, keluarga kecil itu tengah mengadakan piknik kecil di malam hari di sebuah taman yang sudah Seojoon sewa agar hanya ada keluarganya khusus malam itu.
"Aku baik sayang. Apa yang kau cemaskan hm?" tanya Seojoon.
"Jimin—" lirih Jiwon tak bisa lagi menahan isak tangisnya. "Jimin masih sangat kecil untuk mengetahui semua ini!"
"Maafkan aku. Aku tidak tahu, bagaimana Jimin bisa mengetahuinya. Bahkan, dia sampai menghindari Seokjin, Hoseok, dan Jungkook." sesal Seojoon. "Maafkan aku Jiwona, aku tidak tahu jika semuanya menjadi seperti ini—tapi aku janji tidak lama lagi, semuanya kembali seperti semula!" Jiwon menoleh dan menatap sang suami lembut.
"Oppa, aku rasa Jimin benar!" Seojoon mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Akan lebih baik kau tidak mempercayai orang yang tidak mempercayaimu lagi."
"Jiwona, mereka hanya melakukan tugas mereka!"
"Tapi, kau tidak bersalah! Kau mengerti posisi mereka tapi bagaimana denganku dan Jimin? Tidak! Jimin lebih tepatnya!" Jiwon berteriak emosi. "Apa kau tahu, oppa? Sejak berita itu, Jimin selalu mendapat bully-an dari teman-temannya bahkan hingga ia terluka. Kenapa kau terlihat bimbang oppa?" tanya Jiwon suaranya melembut.
"Karena dia mengancamku." jawab Seojoon akhirnya. "Nam Goong Won, dia mengatakan akan menyakitimu dan Jimin bahkan seluruh keluarga hyung-ku jika aku sampai menunjukkan semua bukti bahwa dialah dalang dari semua ini!"
"Dan kau mempertaruhkan dirimu? Kau tidak mengatakan apapun kepada hyung-hyungmu tentang hal ini?" tanya Jiwon tak habis pikir.
"Aku tidak bisa Jiwona. Aku tidak bisa!" lirih Seojoon, kini tatapannya beralih kearah Jimin yang masih sibuk di dunianya sendiri. "Lebih baik, aku mencoreng namaku sendiri daripada harus membuat kalian semua terluka."
"Tapi, tidak dengan hanya berdiam diri seperti ini oppa!"
"Jiwona!" panggil Seojoon lembut, ia kembali memandang sang istri lembut. "Tidak ada yang lebih penting bagiku selain kau, Jimin dan calon anak kita. Aku akan mempertaruhkan apapun untuk melindungi keluargaku dan tak membiarkan siapapun berani mengusik kalian, bahkan jika harus nyawaku sendiri taruhannya. Dan, aku berjanji padamu—aku akan menyelesaikan semua ini secepatnya. Kau percaya padaku, hm?"
"Tapi, oppa—"
BRUK!
"JIMIN!" seru Jiwon dan Seojoon bersamaan dan langsung berlari kearah Jimin yang terjatuh terpeleset di dekat tangga taman. Jimin menangis histeris membuat Jiwon dan Seojoon panik bukan main.
"eomma—appa~ hiks!" isaknya dan memeluk erat leher sang ayah yang sudah menggendongnya dan menenangkannya.
"Mana yang sakit sayang?" tanya Jiwon memeriksa tubuh Jimin dengan rinci.
"Ayo pulang, appa!" bisik Jimin, ia memejamkan matanya dan perlahan mulai terlelap di gendongan sang ayah.
"Aku rasa dia lelah dan mengantuk. Kajja, kita pulang sekarang!" ajak Seojoon menggandeng tangan sang istri.
Setelah menidurkan tubuh Jimin dan menyelimutinya dengan selimut yang selalu Jiwon bawa di kursi belakang, Seojoon melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sesekali ia juga menoleh kearah anaknya untuk berjaga jika mungkin saja Jimin tiba-tiba terbangun dan membutuhkan sesuatu. Seojoon melirik kearah istrinya yang hanya duduk diam dan menatap kosong jalan sepi yang mereka lalui.
"Sayang—"
"Oppa, tidakkah kau tahu jika aku sangat mencemaskanmu?" sela Jiwon. Seojoon hanya terdiam. "Oppa, bisakah sekali saja kau juga memikirkan dirimu?" tanya Jiwon lagi.
"Jiwona kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya."
"Aku ingin melindungimu tapi kau tak bisa kulindungi. Apa yang—"
"Park Jiwon, dengarkan aku!" Seojoon menghentikan laju mobilnya yang kebetulan saat lampu lalu lintas menyala berwarna merah. "Jangan mencoba untuk melindungiku karena aku yang akan melindungimu, Jimin dan calon anak kita. Ini sudah menjadi tugasku, Jiwona—aku hanya membutuhkan dukunganmu. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa menguatkanku. Aku mohon," Jiwon menatap sendu kearah Seojoon, ia menahan isak tangisnya. Tak ingin, jika suaranya mengganggu tidur pangeran kecilnya.
"Oppa, aku memang akan selalu mendukungmu. Selalu!" jawab Jiwon dengan senyum cantiknya. Seojoon tersenyum, ia menarik tengkuk istrinya dan mencium bibir istrinya lama.
"Terima kasih sayang, terima kasih!" balas Seojoon yang kemudian kembali melajukan mobilnya.
Seojoon menginjak pedal gas mobilnya perlahan dan menuju perempatan yang akan ia lalui. Malam itu, seluruh sudut perempatan terlihat sepi dan tak adanya kendaraan yang berlalu lalang membuat Seojoon langsung bergerak lurus tanpa memperhatikan jalan raya di sebelah kanan-kirinya.
Waktu seolah berjalan melambat, mobil yang dikendarai Seojoon tinggal beberapa meter lagi sudah mencapai jalan lurus yang akan ia tuju. Dan, entah kenapa Seojoon merasa jalan lurus di seberang sana terasa jauh jangkauannya atau karena ia terlalu lambat melajukan mobilnya? Entahlah, tapi firasat Seojoon mengatakan agar ia cepat-cepat menambah kecepatan mobilnya dan cepat sampai di rumah besar mereka.
Tapi, tampaknya takdir berkata lain. Tanpa Seojoon sadari ketika ban mobil depannya sudah mencapai jalan lurus itu ada sebuah truk kontainer yang melaju cepat dari arah kiri jalannya dan nampaknya dengan sengaja melajukannya kearah dimana mobil Seojoon saat itu.
Ckiiiiiiiit!
BRAK!
BOOOM!
Mobil yang Seojoon kendarai terseret hingga bermil-mil dengan truk kontainer itu yang terus mendorongnya. Truk itu berhenti, begitu pula dengan mobil Seojoon yang sudah tak berbentuk dan mengalami rusak parah bahkan hampir terlihat rata.
Blam!
Blam!
Pintu truk yang menabrak mobil Seojoon itu terbuka dan muncullah tiga orang pria yang kini tengah berjalan mendekati mobil ringsek milik Seojoon. Ketiga pria itu menyeringai ketika melihat keadaan na'as Seojoon, Jiwon, hingga Jimin yang berada di pelukan ayahnya dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya tapi, tidak dengan bagian kepalanya yang penuh darah. Satu pria diantara ketiganya kemudian menghubungi seseorang di seberang sana lewat sambungan dari ponselnya.
'Tinggalkan mereka, dan jangan tinggalkan jejak apapun. Kita hanya tinggal menunggu kabar kematiannya esok hari!' titah suara seberang terdengar puas dengan hasil kerja ketiga anak buahnya.
"Baik tuan Nam!" balas pria tampan berahang tegas yang baru saja menghubungi 'bos-nya'. Sang bos pun mematikan sambungannya secara sepihak dan pria itu menatap kedua rekannya bergantian.
"kajja, kita pergi!" ajaknya sebelum menyempatkan untuk melirik kearah mobil yang sudah ia hancurkan. Satu pria yang sempat menghubungi bosnya itu melirik kearah bocah sepuluh tahun yang berada di pelukan ayahnya. Kepalanya mengucur banyak darah tapi kedua kelopak matanya yang tertutup sempat bergerak samar dan memaksa untuk membuka perlahan.
'Dia masih hidup!' gumamnya namun tak mendapat rasa iba sedikitpun untuk menolong bocah yang mungkin di masa depan akan kembali ia hancurkan jika bocah itu benar-benar selamat dari kecelakaan maut yang telah menewaskan kedua orang tuanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
"JM-Park!" seru Taehyung, ia bergegas berlari mengejar sosok yang ia panggil JM-Park alias Park Jimin yang kini tengah berjalan masuk menuju gedung asrama. "yak! JM-Park!" seru Taehyung yang merasa Jimin tak menghentikan langkahnya hingga akhirnya Taehyung yang menyalip jalan Jimin, ia merentangkan tangannya dan berdiri tepat di depan Jimin.
"Kau memanggilku?" tanya Jimin menunjuk dirinya sendiri. Taehyung mengangguk konyol.
"Tentu saja aku memanggilmu!" jawab Taehyung.
"Tadi kau menyebutku apa?"
"JM-Park!" jawab Taehyung polos. Jimin mengangkat sebelah alisnya heran.
"JM-Park?" pekik Jimin aneh. "Apa kau tidak tahu namaku?" tanya Jimin. Taehyung hanya nyengir dan menunjukkan senyum kotaknya.
"Bukankah itu pen name yang tertulis di seragam olahragamu?" jawab Taehyung. Jimin menepuk jidatnya geram.
"Jika itu yang tertulis di pen name seragam olahragaku apa harus kau memanggilku 'JM-Park'?" tanya Jimin tak mengerti. Lagi-lagi, Taehyung hanya terkekeh.
"arraseo, arraseo... maafkan aku Jimin-ssi!" balas Taehyung santai. Jimin menarik nafas dan menatap Taehyung garang.
"Ada apa?" tanya Jimin kemudian.
"ah nde, aku ingin meminta sedikit bantuan padamu." pinta Taehyung. Jimin mengangkat sebelah alisnya.
"Bantuan?" Taehyung mengangguk.
"Kau tahu 'kan peringkatku—"
"Aku tidak tahu!" sela Jimin yang membuat Taehyung memasang wajah blank-nya. "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!" Jimin melangkahkan kakinya melewati Taehyung namun secepat kilat Taehyung kembali menahannya.
"Aku mohon Jimin-ssi, bantu aku—aku akan membayarmu berapa pun kau mau." pinta Taehyung melas. Jimin berfikir sejenak, tergiur.
"Baiklah, kau perlu bantuan apa dariku?" tanya Jimin akhirnya. Taehyung tersenyum senang bahkan hinga ia menepuk tangannya sekali.
"Jadilah guru privatku!"
"mwo?!"
"Ayolah, aku akan membayarmu berapapun kau mau!"
"Tidak, aku tidak mau! Cari saja orang lain, kenapa harus aku?"
"Karena kau peringkat satu di angkatan kita! Kau tahu 'kan aku ini siswa baru dan peringkatku itu benar-benar menjijikkan aku tidak mau membuat ayahku marah dan kecewa padaku!" Jimin berfikir sejenak.
"Memangnya berapa peringkatmu?" Taehyung kembali menunjukkan senyum kotaknya tanpa dosa.
"118."
"mwo?! Aku bahkan baru mendengar ada peringkat dengan tiga angka!"
"Jangan sombong! Masih ada yang lebih buruk dariku, aku bukan yang terakhir."
"Memangnya berapa peringkat terakhir?"
"120." Jimin menatap Taehyung horor. "Apa kau tidak tahu jumlah siswa di sekolah kita!"
"Aku bukan sensus!" sarkas Jimin.
"ya, tapi kau kan bisa melihat jumlah siswa di papan pengumuman tadi pagi!"
"Apa itu penting untukku?! Aku tidak punya waktu untuk melihat nilai yang bukan nilaiku!"
"ya ampun, kau galak sekali!" cibir Taehyung. Jimin hanya menarik nafas tak peduli.
"Aku tidak bisa membantumu. Cari saja orang lain, kau meminta tolong saja pada si peringkat dua kan tidak apa," saran Jimin. Taehyung hanya diam dan kali ini ia membiarkan Jimin melanjutkan langkahnya.
"Tidak bisakah kau saja?" seru Taehyung yang membuat Jimin menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Kenapa harus aku?"
"Aku bisa menjadi temanmu dan juga ini tidak gratis—aku akan membayarmu, berapapun!" Jimin terdiam, ditatapnya Taehyung lamat.
"Aku tidak butuh uang! Cari saja, orang yang bersedia kau bayar!" balas Jimin.
"Park Jimin!" panggil Taehyung ia berjalan menyusul Jimin dan berdiri di depan pemuda yang lebih pendek darinya. "Aku mohon~ kau mau ayahku marah padaku?"
"Aku tidak peduli!"
"Jiminie~"
Deg!
Tubuh Jimin terasa kaku ketika Taehyung memanggil nama kecilnya dengan akrab. Jimin menatap Taehyung lamat, ia seperti sering mendengar namanya disebut demikian tapi—ia juga merasa bahwa tidak ada orang di sekolah ini yang memanggilnya sebegitu akrabnya.
"Pergilah! Jangan ganggu aku!" usir Jimin.
"Park Jimin!" seru Taehyung yang kali ini hanya diabaikan oleh Jimin yang sudah masuk ke dalam lift, meninggalkan Taehyung seorang diri di lantai dasar gedung asrama sekolah mereka.
.
.
.
.
.
Jungkook melangkah riang menuju lokernya. Hari ini, setelah pengumuman hasil ujian, ia berniat untuk mengosongkan lokernya dan menggantinya dengan barang-barang baru. hm, ia akan meminta barang-barang mahal pada ayahnya nanti.
Jungkook berjalan dengan tangan kirinya yang ia masukkan ke dalam saku celananya seraya sesekali bersiul senang. Namun, hal itu tak berlangsung lama saat sepasang matanya menangkap sosok seorang siswi yang sepertinya tengah mengendap-ngendap mendekati loker dimana hanya digunakan khusus untuk loker siswa laki-laki.
"oh! Bukankah itu lokernya Jimin hyung?" gumam Jungkook, hafal betul letak loker selain miliknya yaitu milik Jimin, Seokjin, dan Hoseok. "Amplop merah muda?" Jungkook memincingkan matanya tak menyangka ketika siswi itu menyelipkan amplop berwarna merah muda dan memasukkannya perlahan ke dalam loker Jimin.
Jungkook memejamkan kedua matanya tampak berfikir keras dan, ah—dia ingat! Sejak ia satu kamar dengan Jimin tak jarang ia melihat di tempat sampah kamarnya banyak amplop berwarna-warni dan robekan surat, ia pernah bertanya pada Hoseok dan Seokjin dan mereka mengatakan bahwa robekan itu bukan milik mereka dan sudah dipastikan itu milik Park Jimin.
"ah~ jadi, dia yang diam-diam mengirim surat untuk Jimin hyung." gumam Jungkook, ia pun menghampiri siswi yang masih berusaha memasukkan amplop suratnya ke dalam loker Jimin.
"Seulgi sunbae?" panggil Jungkook dengan senyum jenaka yang menghiasi wajahnya. Siswi yang merupakan senior Jungkook pun sontak menoleh dengan raut terkejutnya karena telah ketahuan diam-diam memasukkan surat ke dalam loker Jimin.
"Apa yang kau lakukan di depan loker Jimin sunbae?" tanya Jungkook berpura-pura tak terkejut.
"a-aku—a-aku, tidak melakukan apa-apa," jawab Seulgi tergagap. Jungkook tersenyum miring.
"Benarkah? Tapi, aku lihat kau memasukkan sebuah surat ke dalam lokernya!"
"Jungkook-ssi, aku mohon jangan katakan pada siapapun. Aku mohon~" pinta Seulgi memelas. Jungkook tersenyum manis.
"Jadi, apa kau menyukai Jimin sunbae?" tebak Jungkook. "wah, salah satu siswi yang katanya primadona di sekolah ini, menyukai Jimin sunbae. Ini pasti akan menjadi hot news nanti!"
"Jungkook-ssi, aku mohon rahasiakan ini dari semua orang. Terutama Park Jimin."
"Jadi, benar kau menyukai Jimin sunbae?"
"a-ani—dengar kau salah paham. Aku berhutang budi padanya karena dia mengusulkanku ikut dalam festival club dance dan memasukkanku ke dalam tim inti. Aku hanya mengucapkan terima kasih!"
"Terima kasih? Kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung, sunbaenim?" tanya Jungkook yang membuat Seulgi bungkam seketika.
"Kau tentu tahu, aku tidak bisa mengatakannya secara langsung karena Joohyun, dia pasti tidak mengijinkanku!" Jungkook mengangguk percaya.
"Benarkah? Aku ingat dengan jelas bagaimana isi dari surat-suratmu itu. Ini, bukan pertama kalinya 'kan, sunbaenim?" Seulgi semakin keringat dingin apalagi ketika Jungkook kembali melanjutkan ucapannya dengan mengatakan, "Apa kau lupa jika aku satu kamar dengan Jimin sunbae, tentu saja aku tahu tentang surat-surat itu! Dia sering membacanya keras-keras di kamar kami!" lanjut Jungkook semakin gencar untuk menggoda Seulgi.
"Jungkook-ssi, aku mohon jangan katakan pada siapapun. Aku mohon padamu~" pinta Seulgi seraya memegang lengan kiri Jungkook. Jungkook terdiam sesaat.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun di sekolah ini termasuk Jimin sunbae. Tapi, kau harus menjawab setiap pertanyaanku dengan jujur!"
"Baiklah, baiklah. Aku akan melakukan apapun yang kau mau asalkan kau mau menjaga rahasia ini." Jungkook tersenyum puas.
"Pertama, apa kau benar-benar menyukai Jimin sunbae?"
"nde, aku sangat menyukainya."
"Menyukainya dalam artian apa?"
"a-aku hanya kagum padanya. h-hanya sebatas itu, tidak lebih!"
"Sejak kapan?"
"s-sejak di tahun pertamanya."
"woah~ sampai sekarang?" Seulgi mengangguk. "Dan, kau terus mengiriminya surat?" Seulgi kembali mengangguk. "Kenapa?"
"Aku tidak mau Joohyun dan teman-temannya mengejekku, kau tahu betul bagaimana sifat mereka. Dan juga—aku tidak mau, Jimin membenciku!" Jungkook mengangguk paham.
"Apa aku orang pertama yang tahu?" Seulgi menggeleng dan ia menundukkan kepalanya.
"k-kau orang ketiga yang tahu."
"Siapa pertama dan kedua?"
"Yoon Doojoon dan Min Yoongi." Jungkook membulatkan kedua matanya tak percaya.
"mworagoyo?" Seulgi seketika mendongak.
"Kau tidak tahu mereka juga menyukai Park Jimin?" jujur saja, Seulgi harus mengatakannya untuk mengamankan posisinya bahwa tidak hanya dirinya yang bertingkah bodoh dan konyol hanya karena menyukai seseorang.
"jinjjayo?" Seulgi mengangguk.
"Bahkan, Min Yoongi sampai mengancamku!"
"woah~ lalu, Doojoon sunbae?"
"Dia hanya memintaku untuk berhenti mengirimi Jimin surat dan mengganggunya karena dia tahu aku adalah sepupu Joohyun."
"Dan kau tetap melakukannya?"
"Awalnya aku mau berhenti, tapi sejak kami bertemu setiap hari di studio club, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu padanya. Tapi, sungguh Jeon Jungkook sebelumnya aku benar-benar berniat untuk berhenti mengiriminya surat!" Jungkook berfikir sejenak.
"Apa—Doojoon sunbae dan Yoongi sunbae mengatakan dengan gamblang jika mereka menyukai Jimin sunbae?" Seulgi menggeleng.
"Tidakkah kau melihat tingkah laku mereka sangat berbeda saat bersama dengan Jimin?" Jungkook tampak mengingat. "Bahkan, Min Yoongi hanya berbincang dan berinteraksi bebas dengan Jimin tanpa berucap kasar selain dengan Kim Namjoon dan Kim Taehyung." Jungkook mengangguk setuju.
"Lalu, bagaimana dengan Doojoon sunbae?" Seulgi tersenyum.
"Mata itu tidak pernah berbohong, Jungkook-ssi!"
"Tapi, apakah dengan hanya seperti itu bisa disimpulkan bahwa mereka menyukai Jimin sunbae?" tanya Jungkook lagi, Seulgi berdecak kesal. Adik kelasnya ini benar-benar banyak bertanya.
"Kau akan merasakannya jika kau pernah menyukai seseorang meskipun hanya sekedar mengaguminya atau bahkan lebih dari menyukainya. Jika kau menyukai seseorang entah dia menyukaimu atau tidak, kau pasti sudah senang hanya karena melihat wajahnya, cara bicaranya, hingga senyumnya. Bahkan, bisa membuat jantungmu berdebar-debar. Kau belum pernah mengalaminya 'kan?" Jungkook terdiam, entah kenapa ketika seniornya mengatakan hal demikian membuatnya teringat pada seseorang. Seseorang, yang sebenarnya sedang ia dekati diam-diam. Dan, seseorang yang sudah menarik perhatiannya.
'Apa mungkin—aku menyukai Taehyung sunbae?'
TBC
(-) Next update chap 12 : Sabtu, 10 Maret 2018
Kamsahamnida,
