Hati tidak bisa berbohong
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Hurt Comfort, Romance
Hati tidak bisa berbohong by WitWula
Pairing SasuSaku
Rated : T
.
.
.
Don't Like, Don't Read
Chapter 2
Sakura kembali termenung dalam diam, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau wali kelasnya sudah memasuki kelas. Semua murid langsung menuju bangku milik mereka masing-masing, sampai pada waktu yang sudah ditetapkan sekolah untuk memulai pelajaran. Dimana hari ini gadis musim semi itu tidak mendengarkan materi yang disampaikan Kakashi-sensei yang merupakan wali kelasnya tersebut.
"Yo Kau yang disana?" Seru Sensei berambut putih yang selalu mengenakan masker dimanapun.
Semua murid sontak mengikuti arah pandang gurunya yang mengarah pada gadis pink yang sekarang tengah merenung. Sedangkan Sakura belum menyadari apa yang sedang terjadi. Ia terlalu hanyut dalam renungannya sampai-sampai suara bisik-bisik teman sekelasnya mulai terdengar ricuh pun belum ia sadari.
"Haruno Sakura!" Kakashi sedikit meninggikan suaranya agar gadis pinky itu mendengar panggilannya.
Sakura terlonjak kaget. "Hai Sensei."
"Apa ada yang menganggumu?" Tanya Kakashi menatap muridnya.
Sakura kelabakan tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri tidak mengerti kenapa hari ini ia berperilaku aneh. Biasanya ia akan selalu mendengarkan guru yang tengah menerangkan materi pembelajaran dengan seksama. Tapi kali ini justru sebaliknya, yang tadi ia lakukan sungguh diluar kendalinya. Apa karena seorang Uchiha Sasuke?
"Ti..i..dak Sen..sei." Jawab Sakura lirih. Nada bicaranya semakin pelan.
"Apa kau yakin?" tanya Kakashi mencoba memastikan. Sakura mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu kali ini dengarkan baik-baik materi yang saya sampaikan Haruno-san."
"Hai Sensei, Sumimasen."
Kakashi hanya tersenyum sebagai jawaban. Kemudian sensei yang selalu menggunakan masker itu kembali menulis di whiteboard sambil menerangkan materinya.
Sakura menghembuskan nafas pelan. Meskipun gadis bermanik emerald itu terlihat tenang namun sebenarnya hatinya sudah bergemuruh seperti ombak yang terkena badai. Kali ini ia sangat beruntung karena biasanya Senseinya itu akan memberikan hukuman bagi murid yang melanggar aturan.
Sakura tidak menyadari jika ada seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam.
Tidak lama kemudian suara bel yang selalu dinanti-nantikan hampir semua murid itu berbunyi dengan nyaringnya, ditambah suara sorak-sorak para murid yang terdengar riuh semakin meramaikan suasana sekolah. Penantian yang berbuah dengan manis. Mungkin seperti itulah yang ada di benak hampir semua siswa maupun siswi.
"Ino ayo kita ke kantin." Shion langsung menarik tangan Ino begitu bel istirahat berbunyi.
Ino hanya meringis pelan karena tarikan sahabatnya itu sudah seperti alat penyedot debu yang dinyalakan berkekuatan maximum. "Ihh kamu ini, aku belum selesai merapikan alat tulisku."
Kakashi menghela nafas melihat kelakuan semua murid yang sudah tidak sabar di jam bebas tersebut.
"Yo Minna, kurasa sampai disini materi yang kita pelajari." Kakashi pun langsung bergegas pergi dari kelas asuhannya.
Begitu kedua gadis pirang itu melewati bangku jajaran Sakura. Dapat Sakura lihat Shion terlihat begitu antusias.
"Bagaimana kalau kita melewati kelas Sasuke-kun dulu." Ajak Shion, keantusiasannya ternyata memang berhubungan dengan Sasuke.
Sakura hanya bisa melihatnya dalam diam, ia sudah menduganya.
Hampir semua teman sekelasnya sudah pergi dari kelasnya, yang tersisa hanya dirinya dan seorang pemuda berambut merah yang mempunyai tato 'ai' di dahinya. Sakura membuka tasnya dan hendak mengambil sebuah buku novel peninggalan satu-satunya dari sang ibunda.
Begitu bukunya sudah ditangan sakura tersenyum simpul karena buku bersampul yang sudah lusuh itu pun berhasil ia temukan di antara buku-buku pelajaran.
"Haruno." Sakura menoleh kedepan begitu ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Kedua bola matanya menengadah mencoba melihat pemuda yang ternyata seseorang yang tadi tetap dikelas. Pemuda berambut merah dengan tato Ai di dahinya.
Sakura mengenalnya, sudah setengah tahun ini ia sekelas dengan pemuda bermanik jade tersebut. Kalau tidak salah namanya adalah Sabaku Gaara. Pemuda yang ia tahu merupakan murid pindahan dari Suna High School.
"Hai Sabaku-san." Sakura kembali menundukan kepalanya karena ia tidaklah pantas untuk mengangkat kepalanya di depan orang lain.
Gaara hanya tersenyum menanggapi. "Tidak perlu seformal itu."
Sakura tetap bergeming. "Kita belum berkenalan secara langsung. Namaku Sabaku Gaara, panggil saja Gaara." Gaara mengulurkan tangan kanannya kearah Sakura.
Sakura melihat uluran tangan pemuda bermanik jade itu mengarah kepadanya. Tangan mungilnya terangkat lamban hendak membalas uluran tangan pemuda bersurai merah maroon tersebut.
"Na..maku.. Haruno, Haruno Sakura." Balas Sakura pelan.
"Nada bicaramu sangat pelan, apa aku menyinggungmu?"
"Ti..dak." Jawab Sakura kelabakan.
Gaara tertawa mendengar jawaban lawan bicaranya. "Kau terlalu kaku. Aku harap kita bisa berteman Sakura-san."
Sakura mengangguk pelan, "Baiklah."
Mereka berdua melepaskan uluran tangan mereka masing-masing, "Bagaimana kalau kita pergi ke kantin."
Sakura menatapnya kaget, "Ta..ta...pi"
"Kenapa? Apa kau malu ke kantin bersamaku?" Gaara menatap gadis musim semi di depannya heran.
"Bu..kan begi...tu. justru kamu yang akan malu kalau ke kantin bersamaku. Aku hanya.."
"Jangan beranggapan kau lebih rendah dari orang lain." potong Gaara cepat.
"Aku tidak malu ke kantin bersamamu, untuk apa malu? Aku tidak peduli dengan semua omongan orang lain yang hanya bisa merendahkan."
Sakura hanya diam. Ia hanya berpikir jika dirinya memang tidak pantas.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Sakura-san."
"Sebagai tanda pertemanan kita. Aku akan mentraktirmu." Ajak Gaara, kemudian pemuda bersurai merah itu menarik tangan kanan Sakura.
"Tunggu, aku harus menyimpan bukuku." Gaara langsung melepaskan tarikan tangannya dari tangan kanan Sakura.
Sakura langsung menyimpan kembali buku novelnya kedalam tas.
"Ayo," mereka berdua berdua berjalan beriringan menuju kantin sekolah.
Begitu melewati lapangan basket, ada dua pasang mata yang terus memperhatikan kepergian mereka berdua. Tatapan tajam yang tersirat penuh makna.
Buuk, duk..duk..duk. ia melempar bola basket itu asal.
"Kau kenapa? Itu hampir mengenaiku tebayoo."
.
.
.
To Be Continue
Ketemu lagi sama saya, author amatiran yang ngilang entah kemana aja. Wkwk
By the way, aku memang sibuk sama UN dan segala macamnya. Maaf yang nunggu fanfic ini. (Pede banget ya saya).
Satu kata untuk fanfic ini. "Review" dan jika ada masukan ataupun keluhan kalian isi aja di kolom review ya. See youuu.. babayy
