"Kau serius?" pekik Seokjin menoleh kearah Jungkook tak percaya, sementara Hoseok hanya diam saking terkejutnya, kini ketiganya tengah berada di bilik Jungkook. Seokjin yang duduk berhadapan dengan Jungkook di atas kasurnya sementara Hoseok yang berdiri bersandar di dinding kaca penyekat antara kamar Jungkook dengan kamar Jimin. Jungkook mengangguk seraya menatap kedua hyung-nya bergantian.
"Aku serius hyung. Surat-surat yang Jimin hyung terima selama ini adalah kiriman dari Seulgi sunbae!" ulang Jungkook lagi. hm, bukannya ia ingkar janji pada Seulgi tapi ia juga tidak bisa merahasiakan hal apapun tentang Jimin hyung-nya dari kedua hyung-nya ini.
"Tapi, apa yang sedang kita bicarakan ini adalah Kang Seulgi yang sama?" tanya Hoseok. Jungkook mengangguk tegas.
"Kang Seulgi yang sama hyung. Kang Seulgi, sepupunya Bae Joohyun. Kang Seulgi dari siswi kelas 3-IIIC. Kang Seulgi yang satu kelas dengan Seokjin hyung." jelas Jungkook lebih lengkap.
"woah~ daebak—benar-benar Seulgi yang itu?" tanya Seokjin tak percaya.
"Iya, hyung. Bahkan, katanya lagi Yoon Doojoon dan Min Yoongi juga menyukainya."
"Menyukai siapa? Kang Seulgi?" tanya Hoseok. Jungkook berdecak keras.
"Kita ini sedang membicarakan Jimin hyung, bukan Kang Seulgi!"
"mwo?!" pekik Seokjin dan Hoseok bersamaan. Seketika, Jungkook mengerjapkan kedua mata polosnya saat melihat ekspresi kedua hyung-nya yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Apa aku salah bicara?" tanya Jungkook.
"Apa kau baru saja mengatakan jika Yoon Doojoon dan Min Yoongi menyukai Park Jimin?" Jungkook mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Hoseok. Seokjin dan Hoseok pun saling berpandangan dan kemudian keduanya kembali menatap Jungkook.
"Memangnya kenapa hyung?" tanya Jungkook tak mengerti.
"Jujur saja, aku tidak percaya jika Yoon Doojoon menyukai Park Jimin. Kau tahu bukan, dia itu kaku dan tidak pernah memikirkan hal-hal semacam itu. Jadi, aneh rasanya saat mendengar bahwa Yoon Doojoon menyukai Park Jimin. Apalagi, Park Jimin yang terkenal berbuat onar di sekolah yang selalu membuat kepala Doojoon pecah setiap saat. eyy—itu tidak mungkin!" sahut Seokjin yang diikuti anggukan oleh Hoseok.
"Lalu, bagaimana dengan Min Yoongi?" tanya Jungkook.
"Aku rasa, Yoongi juga hanya main-main dengan Jimin. Kau ingat 'kan pertemuan pertama mereka di futsal saat hari pertama Yoongi dan kedua temannya?" Hoseok mengingatkan. Jungkook pun mengangguk membenarkan.
"Jadi, apa itu artinya Kang Seulgi membohongiku?" Hoseok dan Seokjin terkekeh.
"aigoo, lihatlah bagaimana polosnya Kookie kita ini~" gemas Seokjin seraya mencubit kedua pipi Jungkook.
"hyung~ appo~" rengek Jungkook meminta agar Seokjin tak menganiaya pipinya.
"mian—"
Cklek!
Ketiga orang itu menoleh setelah mendengar suara pintu kamar mereka terbuka.
"Jimin sudah pulang!" bisik Hoseok ketika dirinya menoleh sekilas kearah pintu masuk dan melihat Jimin yang tengah mengganti sandal rumahan yang ada di kamarnya.
Jimin melangkah dalam diam menuju meja makan yang berukuran kecil yang ada di dalam dapur mini di kamar mereka. Ia meletakkan dua plastik berwarna putih berukuran besar diatas meja. Jimin berbalik badan hendak menuju bilik kamarnya namun ketika ia sampai di depan pintu bilik kamar milik Jungkook, Jimin menghentikan langkahnya dan menatap ketiga roomate-nya yang kebetulan juga sedang menatap kearahnya. Jimin tersenyum tipis, saking tipisnya bahkan nyaris tak menyerupai sebuah senyuman.
"Aku membawakan banyak sundae di meja makan untuk kalian, jika terlalu banyak kalian bisa membaginya dengan siswa lain. Selamat malam!" ujar Jimin yang detik berikutnya ia langsung masuk ke dalam biliknya dan menarik tirainya.
Seokjin, Hoseok, dan Jungkook saling berpandangan dan kemudian tersenyum senang.
"Secara tidak langsung, aku yakin Jiminie pasti tidak merasa asing dengan sundae." bisik Seokjin yang diangguki setuju oleh Hoseok dan Jungkook.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau bercanda?!" seru Taehyung menatap Jungkook horor. Bahkan, pekikannya itu membuat beberapa siswa-siswi lainnya yang ada di studio club vocal menatap mereka sebentar dan kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.
"Untuk apa aku membuang-buang waktu untuk bercanda padamu, sunbaenim? Besok adalah hari club kita untuk tampil, tentu saja aku serius!"
"woah~ Jungkook-ssi, kau benar-benar sulit ditebak. Aku tidak mau memakai baju ini!" Taehyung membuang baju kerlap-kerlip yang sempat ia pegang kearah Jungkook. Jungkook mendesis tertahan dan ditatapnya tajam kearah Taehyung.
"Kim Taehyung sunbaenim, jangan membuang-buang waktu untuk bersikap kekanakan. Aku sudah mengatakan sebelumnya padamu dan aku juga sudah mendiskusikannya padamu sebelum aku mengatakannya pada Kyungsoo sunbaenim. Jikalaupun kau tidak suka, setidaknya bersikapnya profesional dan tidak mementingkan image-mu sendiri!" balas Jungkook menatap marah kearah Taehyung, kemudian ia pun melengos pergi begitu saja meninggalkan studio club vocal. Taehyung yang melihat kepergian Jungkook pun entah kenapa muncul sebersit rasa bersalah ketika ia melihat wajah marah sekaligus kecewa yang terpatri di wajah Jungkook. Taehyung menarik nafas, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Maaf Taehyung-ssi, jika Jungkook bersikap tak sopan padamu." sesal Baekhyun seraya menepuk pundak Taehyung pelan. Taehyung tersenyum dan ia menggeleng.
"Aku rasa apa yang dikatakan Jungkook itu benar sunbaenim, aku yang seharusnya minta maaf padanya." Baekhyun mengangkat sebelah alisnya terkejut.
"Jadi, apa kau setuju?" tanya Baekhyun. Taehyung mengangguk ringan.
"nde, aku akan mengejar Jungkook dan meminta maaf padanya. Aku tahu, apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan club kita." Baekhyun mengangguk dan Taehyung pun mengulas senyum sebelum memutuskan untuk berlari dan mengejar Jungkook.
Taehyung mengedarkan pandangannya ke setiap koridor lantai delapan yang terlihat ramai dengan banyak siswa-siswi yang berlalu lalang dan sibuk menyiapkan segala keperluan mereka, terutama bagi para anggota club yang ikut serta dalam festival yang diadakan hari ini dan besok.
Taehyung menuruni tangga tergesa untuk mencari sosok yang sempat beradu mulut dengannya beberapa menit yang lalu hingga ia sampai di koridor lantai lima dimana letak kelas tiga berada.
Bruk!
Taehyung langsung menoleh ke arah kanannya saat tak sengaja sepasang telinganya mendengar suara nyaring yang beradu tembok di ujung koridor, secara refleks kedua kakinya melangkah mendekati dinding koridor yang tampaknya ada beberapa orang di balik dinding itu. Taehyung menyipitkan kedua matanya, untuk memastikan bahwa tidak terjadi perkelahian atau apa. Tapi, yang tertangkap kedua netranya adalah—
"Jeon Jungkook?" lirih Taehyung membulatkan kedua matanya terkejut ketika melihat Jungkook yang tengah dipojokkan oleh siswa yang sama yang pernah menarik kasar tangan Jungkook di hari latihan pertama mereka di kolam renang. Siswa itu mencekeram kedua bahu Jungkook dan menatapnya penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan Kim Mingyu?!"
"Kenapa sulit sekali untukmu menerimaku?"
"Menerimamu? Aku sudah mengatakan berulang kali aku tidak mau berhubungan dengan orang sepertimu, yang suka memainkan perasaan orang lain. Bahkan, aku heran kenapa Wonwoo sunbaenim sampai bisa sangat tergila-gila padamu?"
"Jeon Jungkook, dengarkan aku—aku sudah berulang kali mengatakan padamu. Aku dan Wonwoo sunbae tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa kau tidak percaya?"
"Apa yang harus aku percaya jika aku memiliki buktinya sendiri? Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak menggangguku ataupun memaksaku untuk menjadi kekasihmu jika kau tidak ingin rahasiamu dan Wonwoo sunbae menyebar di seluruh sekolah!"
"Jeon Jungkook, beraninya kau mengancamku!"
"Apa kau pikir, hanya kau yang bisa menggertakku? Bahkan, jika aku mau aku bisa membuatmu keluar dari sekolah ini sekarang juga!"
"Kau membuat kesabaranku semakin habis!"
"Kim Mingyu, apa yang argh—"
Taehyung membulatkan kedua matanya saat melihat siswa yang bernama Kim Mingyu itu mencekeram bahu Jungkook seraya menggigit leher Jungkook. Sementara, Jungkook terus meronta dan merintih kesakitan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Mingyu namun segala amarah dan nafsu yang telah menguasai Mingyu seakan dibutakan untuk menyakiti Jungkook lebih jauh.
Tanpa sadar, Taehyung mengepalkan kedua tangannya ketika ia melihat Mingyu hendak mencium bibir Jungkook penuh nafsu. Kemudian, tanpa membuang waktu lebih lama lagi Taehyung pun segera bergegas menuju kedua juniornya dan—
BUGH!
Dengan kekuatan penuhnya, Taehyung memukul wajah tampan Mingyu hingga pemuda itu tersungkur tepat di bawah kakinya. Taehyung pun segera berdiri di depan Jungkook, menamengi juniornya. Bahkan entah bisikan darimana, Taehyung menautkan jemari tangannya kepada jemari tangan Jungkook yang membuat Jungkook mendongak dan mendapati punggung tegap Taehyung yang tengah melindunginya.
"Taehyung sunbaenim?" lirih Jungkook terkejut.
"wah, aku tidak tahu jika sekolah ini menampung bajingan sepertimu!" desis Taehyung menyeramkan bersamaan dengan Mingyu yang berdiri dari posisinya dan membuat kedua siswa berbeda kelas itu berhadapan. Mingyu mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Ia mendecih dan menatap Taehyung geram.
"Aku tidak memiliki urusan denganmu, sunbaenim!" geram Mingyu, Taehyung menyeringai.
"Tapi, aku memiliki urusan denganmu!"
"sunbaenim!" baru saja Taehyung akan kembali melayangkan bogem mentahnya kearah Mingyu namun Jungkook lebih dulu menahannya. "Aku mohon jangan berkelahi disini, jika guru kesiswaan tahu kau akan mendapat masalah!" pinta Jungkook. Taehyung mendecih ia menghempas tangan Jungkook kasar.
"Dengar Kim Mingyu-ssi, jika aku melihatmu mengganggu Jungkook lagi, aku pastikan kau tidak hanya keluar dari sekolah ini tapi aku juga akan membuatmu menyesal untuk dilahirkan di dunia ini!" ancam Taehyung menyeramkan kemudian dengan kasar ia menarik tangan Jungkook dan meninggalkan Mingyu yang menatap kepergian mereka dengan kedua tangannya yang terkepal marah.
.
.
.
.
.
"sunbaenim, Taehyung sunbaenim!" seru Jungkook mencoba untuk menghentikan langkah besar Taehyung yang akan membawanya entah kemana. Taehyung menghentikan langkahnya dan menatap Jungkook murka. Sementara Jungkook? Ia hanya mengeryitkan keningnya bingung. Kenapa, Taehyung terlihat sangat marah padanya?
Keduanya saling berpandangan dalam diam, entah apa yang mereka sampaikan melalui kedua mata mereka yang saling menatap lamat hingga tangan Taehyung yang terjulur menyentuh bekas gigitan Mingyu di leher Jungkook yang sedikit mengeluarkan darah.
"argh~" pekik Jungkook terkejut dengan keberadaan tangan besar Taehyung di lehernya.
"Apa dia vampire?" gumam Taehyung yang hanya dibalas senyum simpul dari Jungkook. "Kau baik?" tanya Taehyung. Jungkook hanya mengangguk. "Apa dia sering mengganggumu?" Jungkook menarik nafas dan mengangguk kecil. "Kenapa dia mengganggumu?" tanya Taehyung. Jungkook tersenyum kecil.
"Dan, kenapa kau selalu bertanya?"
"Karena aku ingin tahu!" jawab Taehyung jujur dan terdengar tak ingin dibantah.
"Dan, kenapa kau ingin tahu?" Jungkook bertanya lagi. Taehyung terdiam dan kembali menatap kedua mata Jungkook, mencoba untuk mencari jawaban dari sana.
"Karena aku tidak ingin ada yang mengganggumu selain aku!" Jungkook tertegun dengan penuturan yang baru saja Taehyung katakan dengan jelas dan lantang. Sontak hal itu, membuat jantung Jungkook berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.
"m-maksud sunbaenim?" Taehyung melangkah mendekati Jungkook yang membuat Jungkook refleks mundur untuk menghindari hal yang tidak-tidak—begitu pikirnya.
Taehyung yang melihat Jungkook yang terus berjalan mundur membuatnya tak memiliki pilihan lain untuk meletakkan kedua tangannya pada lingkar pinggang Jungkook yang tentu saja hal itu membuat Jungkook terkejut bukan main. Taehyung tersenyum tipis dan dengan secepat kilat—
Cup!
—ia mencium bekas gigitan Mingyu di leher Jungkook. Jungkook membeku, tubuhnya terasa kaku ketika ia merasakan sensasi menggelikan merasuki dirinya untuk pertama kali ketika bibir Taehyung dengan lembut mengecup lehernya, bahkan rasa perih yang ia rasakan sebelumnya sudah hilang bersamaan dengan kecupan yang tiba-tiba membuat Jungkook merasa bahwa ia mengidap penyakit jantung. Ah ia pasti sudah gila.
"Sudah tidak sakit 'kan?"
"nde?" Jungkook menatap Taehyung dengan ekspresi terkejutnya yang menurut Taehyung itu terlihat sangat menggemaskan. Taehyung terkekeh.
"Mulai sekarang, kau harus memanggilku 'hyung' dan aku akan menjagamu mulai saat ini!" Jungkook mengerjapkan kedua matanya tak percaya. wah, mimpi apa ia semalam hingga orang yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya tiba-tiba saja mengatakan sesuatu diluar dugaannya. Jika ini mimpi, Jungkook mohon—jangan bangunkan Jungkook sekarang.
.
.
.
.
.
Suara riuh dan penuh tepukan tangan begitu mendominasi malam pertama diadakannya festival tahunan RC yang diadakan di lapangan terbuka yang terletak di depan gedung kedua. Tata panggung yang telah disiapkan oleh dewan siswa sedemikian rupa sesuai dengan konsep dari club Taekwondo dan club Teater malam itu, menambah kesan meriahnya festival yang pasti memanjakan mata mereka serta decakan kagum dari setiap orang yang hadir untuk menyaksikan kedua club yang tampil secara bergilir.
Seluruh siswa, guru, komite sekolah hingga para orang tua murid yang datang tampak menikmati penampilan dari kedua club di lapangan yang terlampau luas itu. Tapi, tampaknya tidak semua siswa yang datang dan menyaksikan langsung festival malam ini dan lebih memilih untuk berdiri diam di rooftop gedung asramanya dengan sekaleng cola di tangannya yang menjadi temannya malam itu.
Jangan tanyakan siapa dia, karena tanpa bertanya pun hampir seratus persen orang-orang akan menjawab jika itu adalah Park Jimin. hm, tidak ada orang yang memilih untuk menghabiskan waktu di loteng gedung asrama yang terlampau tinggi di bawah langit gelap terlebih ketika di bawah sana banyak orang yang begitu menikmati acara yang diadakan sekolah secara besar-besaran.
Jimin menegak colanya dengan kedua matanya yang memandang lurus ke bawah lapangan dimana semua orang berkumpul. Sedikit memperhatikan pertunjukan dari club teater yang sepertinya mengusung cerita tentang kehidupan sosial, tapi entahlah Jimin tidak memperhatikan jalan ceritanya dari awal. Sebenarnya ia hanya melihat reaksi dari para penonton yang sesekali berteriak riuh hanya karena beberapa adegan yang diperankan oleh para anggota club.
"Ternyata, dilihat dari atas sini lebih jelas dari pada harus berdesakan di bawah sana!" ujar seseorang yang membuat Jimin seketika menoleh dan mendapati seniornya yang sudah Jimin hafal betul kebiasaannya yang suka berada di loteng di setiap gedung RC selain dirinya, siapa lagi jika bukan Min Yoongi? Tapi, jangan samakan Jimin dengan Yoongi karena kebiasaan mereka yang suka berada di atap gedung sekolah. Karena, Jimin hanya berkunjung di rooftop gedung utama dan gedung asrama untuk membaca buku, mendengarkan musik atau sekedar berdiri diam dan menikmati udara segar. Berbeda dengan Min Yoongi yang hampir setiap hari menghabiskan waktunya untuk tidur di atap gedung utama, kedua, hingga gedung asrama. Itulah, alasannya mereka sering bertemu.
"Kenapa kau tidak ke bawah? Aku dengar, seluruh dewan siswa sedang sibuknya bekerja di bawah sana," tanya Yoongi yang dibalas kekehan dari Jimin.
"Doojoon sunbae tidak menyuruhku untuk bekerja."
"Benarkah?" Jimin mengangguk. "Tapi, kenapa?"
"Karena, dia tahu aku pasti tidak akan mau bekerja di keramaian." jawab Jimin yang entah kenapa menghasilkan kerutan tak suka di dahi Yoongi.
"Tampaknya, dia benar-benar sangat hafal bagaimana dirimu!" gumam Yoongi asal. Jimin tersenyum kecil.
"Jujur saja aku tidak tertarik dengan organisasi semacam ini."
"Lalu, kenapa kau masuk?"
"Karena pihak sekolah yang memilihku dan selain itu hanya aku yang satu-satunya menjadi dewan siswa di kelasku. Aku tidak punya pilihan lain selain menurut 'kan?" tanya Jimin. Yoongi hanya mengangguk asal, ia menumpukkan kedua tangannya pada pagar pembatas dengan tangan kanannya yang juga memegang cola.
Setelahnya, hanya ada keheningan diantara mereka. Jimin yang tanpa henti meminum cola-nya dan Yoongi yang tampaknya menikmati pertunjukan teater di bawah sana. Jimin menengadahkan kepalanya ke arah langit malam yang kebetulan saat itu bertabur banyak bintang. oh, malam yang cerah.
Jimin pun kembali menunduk kali ini bukan untuk menatap keramaian lapangan di bawah sana, melainkan tak sengaja kedua matanya yang beralih menoleh kearah area parkir sekolah yang ada di depan gedung utama. Sekilas, parkir itu tampak sepi dan hanya ada beberapa siswa yang berlalu lalang atau sekedar menjemput orang tua mereka yang baru datang. Hingga tak sengaja Jimin melihat seorang pria berjas hitam yang sepertinya tengah menatap kearahnya.
Jimin tersentak ketika menyadari pria tua itu menatapnya begitu intens dengan kedua mata tajamnya. Jimin mencoba untuk membalas menatap lamat wajah pria yang menurutnya tak asing baginya terutama cara ketika mata itu bertatapan dengannya meskipun jarak mereka yang bermil-mil jauhnya. Dapat Jimin lihat, pria itu yang menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai menakutkan dan sungguh Jimin merasa ia pernah melihat seringai itu sebelumnya tapi disisi lain ia juga yakin jika ia tidak pernah bertemu ataupun mengenal pria itu.
Jimin menunduk, mencoba untuk mengingat meskipun berakhir dengan rasa sakit di kepalanya yang akhir-akhir ini semakin sering ia rasakan. Mengabaikan rasa sakitnya Jimin kembali mendongak dan mencari sosok pria tua yang ternyata sudah menghilang dari tempat dimana pria itu berdiri.
Jimin mengerutkan keningnya ketika ia merasa kepalanya yang semakin sakit hanya karena ia memaksa dimana kiranya ia pernah melihat pria tua itu. Refleks, Jimin menjatuhkan kaleng cola yang ada di tangannya hingga jatuh ke lantai dasar. Jimin memegang sebelah kepalanya dengan tangan kanannya. Jimin memundurkan langkahnya, ia berusaha keras untuk tidak bersuara dan menarik perhatian Yoongi yang masih asik pada dunianya sendiri.
Jimin mengigit bibir bawahnya mencoba untuk menahan sakit yang justru semakin membuatnya ingin berteriak marah dan mengutarakan bagaimana rasa sakit yang tengah ia rasakan.
Bruk!
"ARGH!"
"Jimin!" dan tepat ketika Jimin terjatuh dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, Yoongi pun sontak berlari mendekati Jimin yang terus menjambak rambutnya erat.
"Argh!" rintih Jimin terlihat amat sangat kesakitan apalagi saat memori otaknya memutar bayangan hitam seorang anak kecil yang berdiri di luar pintu serta bayangan dua orang pria berbeda umur yang tengah berbincang serius, yang tidak ia ketahui apa yang ssedang mereka bicarakan dan siapa kedua pria itu bahkan ia tidak tahu siapa bocah laki-laki yang berada di luar pintu.
"Jimin, apa yang terjadi padamu? Jimin—" Yoongi mencoba untuk meraih kedua tangan Jimin agar Jimin tidak menyakiti dirinya sendiri.
"Jimin, sadarlah. Kau kenapa?" tanya Yoongi panik bukan main. Setelah ia berhasil menurunkan tangan Jimin, ia dengan berani menangkup wajah Jimin dengan kedua tangannya hingga kini keduanya saling bertatapan dengan wajah Jimin yang sudah memerah dan peluh mulai membanjiri wajah manisnya.
"Kau baik?" tanya Yoongi saat Jimin mulai terlihat tenang. Jimin terengah, ia terlihat seperti baru saja menyelesaikan lomba maraton. Seluruh tubuhnya menggigil dan basah penuh keringat membuat Yoongi benar-benar cemas melihatnya. Jimin mengangguk, sorot matanya terlihat linglung. Namun, kemudian ia tersadar jika seharusnya ia tidak dalam keadaan buruk seperti ini di hadapan Yoongi.
"Maafkan aku sunbaenim!" lirih Jimin yang kemudian langsung melesat pergi meninggalkan Yoongi yang masih menatapnya terkejut. Yoongi menatap kedua tangannya kosong dan bertanya pada dirinya sendiri.
'Apa yang sebenarnya terjadi padanya?'
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
"Semuanya sudah siap 'kan?" tanya Doojoon pada ketiga ketua club dari club vocal, musik, dan dance yang dijadwalkan akan tampil di hari kedua. Doojoon menatap Kyungsoo, Junhyung dan Hoseok menunggu jawaban dari mereka bertiga.
"Semua persiapan club vocal sudah selesai!" jawab Kyungsoo tenang. Doojoon mengangguk dan beralih menatap Junhyung dan Hoseok.
"Club musik juga sudah siap." sahut Junhyung.
"Club dance lebih dari siap."
"Baiklah kalau begitu, lakukan yang terbaik. Aku harap, penampilan untuk festival hari ini lebih meriah dari pada kemarin," harap Doojoon yang hanya diangguki oleh ketiga ketua itu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu Doojoon-ssi, ada sesuatu yang harus aku urus." pamit Kyungsoo yang hanya diangguki oleh Doojoon.
"Aku rasa aku juga harus pergi. Sampai jumpa Doojoon-ssi, Hoseok-ssi." lanjut Junhyung ikut pamit pergi setelah Kyungsoo sudah berjalan menjauh meninggalkan mereka. Doojoon mengangguk dan membiarkan Junhyung untuk pergi begitu saja.
"Hoseok-ssi!" panggil Doojoon setelah kepergian Kyungsoo dan Junhyung, ia beralih menatap Hoseok intens.
"Ada apa?" tanya Hoseok merasa jika ada yang menganggu pikiran si ketua dewan siswa-nya ini.
"Kau sekamar dengan Park Jimin 'kan?" Doojoon balik bertanya yang hanya dibalas anggukan dari Hoseok. "Apa dia sering sakit kepala?" Hoseok membulatkan kedua matanya menatap Doojoon terkejut.
"Maksudmu?"
"Aku tidak tahu harusnya aku bertanya padamu atau tidak. Tapi, karena kau satu kamar dengannya mungkin kau juga pernah melihat Jimin dalam keadaan tidak baik." terang Doojoon, Hoseok menunggu kelanjutan ucapan Doojoon dengan sabar. "Aku pernah tidak sengaja bertemu dengannya di toko serba guna, saat itu ia terlihat sangat kesakitan. Apa Jimin sedang sakit?" Hoseok terdiam, lebih tepatnya ia terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang baru saja Doojoon tanyakan.
"Sakit?" Doojoon mengangguk.
"Dia terlihat sangat pucat waktu itu. Keadaannya benar-benar buruk. Bahkan, ketika aku memegang tangannya, tangannya bergetar dan penuh keringat." Hoseok terdiam sejenak.
'Aku tidak pernah melihat Jimin dalam keadaan seperti itu jika dia berada di kamar selama ini.'
"Apa kau tahu, apa yang sedang Jimin lakukan saat itu?" tanya Hoseok. Doojoon tampak mengingat.
"Dia sedang memilih miniatur dan jika tidak salah ingat aku melihatnya ia sedang memegang miniatur teleskop. Tapi, tidak ada hubungannya 'kan?" Hoseok tersenyum dan ia pun mengangguk.
"nde aku hanya bertanya, mungkin saja ia terjatuh atau semacamnya. Tapi, sejak aku satu kamar dengan Jimin dia tampak baik-baik saja."
"Benarkah?" Hoseok mengangguk.
"Mungkin saja waktu itu dia sedang tidak enak badan." Doojoon mengangguk percaya. "Kalau begitu, aku pergi dulu Doojoon-ssi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
"nde, arraseo!" balas Doojoon yang kemudian hanya membiarkan Hoseok pergi begitu saja. Hoseok melangkah dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Pikirannya kalut dengan segala ucapan yang baru saja Doojoon katakan padanya.
'Teleskop? Bukankah, itu benda kesayangan Jimin sejak kecil?'
.
.
.
.
.
"Jimin-ssi!" seru Taehyung membuntuti Jimin yang sedari ia panggil tak bergeming sama sekali. Jimin berdecak kesal, ia berbalik badan dan menatap tak suka ke arah Taehyung.
"Ada apa lagi?!" tanya Jimin memutar kedua bola matanya malas dan dengan terpaksa meladeni Taehyung.
"Jimin-ssi, ayolah aku mohon. Kau harus mengajariku~" pinta Taehyung memohon. Jimin berdecak.
"Tidak! Tidak! Dan tidak!" tolak Jimin keras. Taehyung menarik nafas, memikirkan segala cara bagaimana agar si peringkat satu ini bersedia membantunya.
"Ayolah, Park Jimin~ kau tidak akan rugi jika kau mengajariku. Aku 'kan sudah bilang ini tidak gratis, aku membayarmu! Ayolah~" pinta Taehyung lagi. Jimin berdecak.
"Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu, cari saja orang lain. Bahkan, dengan dirimu yang sebagai anak dari pemilik sekolah ini bukankah lebih baik kau membayar salah satu guru disini? Dan juga, aku tidak berminat dengan bayaran yang kau tawarkan padaku!" tolak Jimin, ia berbalik badan dan hendak meninggalkan Taehyung sebelum akhirnya Taehyung menahan tangannya lagi. Kali ini, batas kesabaran Jimin benar-benar sudah habis. Ia mencoba untuk menarik tangannya tapi Taehyung terlalu kuat menahannya dan membuatnya akhirnya menyerah dan hanya bisa menatap Taehyung dengan tatapan tajam nan dinginnya. "Lepaskan aku Kim Taehyung-ssi, aku tidak punya waktu untuk meladenimu!"
"Mungkin, kau tidak tertarik dengan bayarannya tapi—aku akan melakukan apapun yang kau minta jika kau bersedia menjadi guru privatku!" Jimin menarik sebelah alisnya tertarik. Diam-diam ia menyeringai.
'Baiklah, aku akan membuatmu menyesal karena telah meminta bantuan padaku!'
"Apapun?" Taehyung mengangguk cepat, dan Jimin semakin menyeringai lebar. "Baiklah, kalau begitu aku setuju!"
"Benarkah? Kau setuju untuk menjadi guru privatku?" Jimin mengangguk.
"nde, asalkan—kau menuruti apapun yang aku mau!"
"woah~ tentu saja Jimin-ssi, aku akan menuruti apapun yang kau mau!" Taehyung tersenyum sumringah yang membuat Jimin ikut tersenyum kecil. Namun, senyuman itu tak berlangsung lama ketika di balik punggung Jimin muncullah beberapa orang yang terasa familiar baginya.
"Samchon?" panggil Taehyung pada pria paruh baya yang ia kenal, dan sontak panggilannya itu pun membuat beberapa orang yang kebetulan lewat di depannya menghentikan langkahnya. Jimin yang merasa Taehyung memanggil seseorang dan berjalan menghampiri orang yang berada di balik punggungnya pun berbalik badan dan melihat beberapa pria berjas formal yang tampaknya datang untuk menyaksikan festival hari ini.
"oh, Taehyungie?" balas pria paruh baya itu tersenyum kecil. Taehyung tersenyum dan membungkukkan badannya, menyapa.
"Samchon sudah datang?" pria paruh baya itu mengangguk, Taehyung melirik kearah belakang pria itu yang terdapat seorang pria lainnya yang berumur satu tahun lebih muda dari asisten pribadinya. "hi hyung!" sapanya ramah.
"oh, hi Tae!" balasnya.
"Apa kau sudah bertemu ayahmu?" tanyanya. Taehyung menggeleng.
"Apa appa juga sudah datang? Aku belum melihatnya. oya, samchon apa perlu aku panggilkan Yoongi hyung?"
"aniyo, nanti kita juga bertemu. Dia pasti sedang sibuk sekarang. Dan—" pria paruh baya itu menghentikan ucapannya ketika ia melihat di belakang Taehyung terdapat seorang siswa yang diam-diam keberadaanya sedang ia cari ketika ia sampai di RC. "Jiminie?" panggilnya yang membuat Jimin mengerjapkan kedua matanya terkejut begitu pula dengan Taehyung yang langsung menoleh kearah Jimin.
"Samchon mengenal Jimin?" tanya Taehyung. Sang paman pun hanya mengulas senyum.
"Kau tidak mengenaliku?" tanya pria paruh baya itu pada Jimin. Jimin menatap pria itu, tampak mengingat.
"ah, Seonwoong ahjussi?" gumam Jimin pelan, takut jika ia salah menyebut nama. Pria yang memang benar adalah Min Seonwoong itu hanya mengangguk dan tersenyum tampan.
"Kita bertemu lagi disini." sapanya. Jimin hanya mengangguk kecil dan membungkukkan badannya menyapa.
"Jadi, samchon mengenal Jimin?" tanya Taehyung penasaran. Seonwoong terkekeh dan mengangguk.
"Kami tak sengaja bertemu dan Jimin menolongku ketika ada yang mencoba untuk mencuri tas kerjaku." jawab Seonwoong. "Kalau begitu aku masuk dulu, nde. Sampai nanti Taehyungie, Jiminie!" pamit Seonwoong meninggalkan kedua siswa itu, diikuti pria-pria yang datang bersamanya yang tak lain adalah orang kepercayaannya dan bodyguard-nya.
Taehyung menatap Jimin curiga yang membuat Jimin risih melihatnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau tidak tahu, siapa Seonwoong samchon itu?" Jimin menggeleng polos. "Dia ayahnya Yoongi hyung."
"mworagoyo?" pekik Jimin terkejut. Taehyung hanya terkekeh melihat ekspresi terkejut Jimin.
'Jadi, orang yang aku ajak makan sundae itu—adalah pemilik sekolah ini? Omo! Apa dia akan mengeluarkanku karena aku sudah berbuat kurang ajar padanya?'
.
.
.
.
.
Hari kedua festival adalah hari terpadat dibandingkan hari pertama. Sejak pagi hari, hingga malam hari setiap sisi gedung RC dipadati oleh para siswa, guru, para orang tua atau wali murid yang datang hingga para tamu undangan. Bisa dikatakan jika hari kedua, adalah puncak dari festival tahunan di RC karena hampir sebagian siswa sangat menantikan dari tiga club yang akan tampil di hari kedua ini.
Siang menjelang sore, ketika para komite sekolah yang sudah datang serta para pemilik sekolah yang disambut meriah oleh penampilan gabungan dari ketiga club yang akan tampil di hari kedua, club vocal, musik dan dance. Tatanan dari panggung ketiga club pun bisa dikatakan tidak main-main dengan berbagai dekorasi mewah yang menjadi ciri khas tersendiri dari setiap club yang tentu saja ingin menarik perhatian dari setiap orang yang menonton.
Tempat duduk yang dikhususkan untuk para guru, orang tua, komite sekolah, para pemilik sekolah hingga tamu undangan yang di tata dengan menghadap kearah tiga panggung yang ada di depan mereka secara langsung. Letaknya yang berjajar memanjang memenuhi setiap sisi lapangan outdoor terluas di RC. Dan, jujur saja hal itu membuat lebih dari sebagian orang merasa nyaman dengan view dari festival yang diadakan di RC.
Dan sebelum petang, dimana saatnya acara pertama dari club vocal mulai sudah membuat para penonton antusias untuk menunggu bagaimana penampilan mereka. Apalagi, ketika para siswa mendengar kabar jika Kim Taehyung ikut berpartisipasi membuat para fans dadakan Taehyung bahkan harus repot-repot membuat banner untuk mendukung Taehyung.
Pembukaan dari club vocal dibuka dengan tampilan formal paduan suara dari seluruh anggota club, yang tentu saja akan menghasilkan suasana hening karena para penonton ikut mengkhayati suara merdu dari para penyanyi.
"Bagaimana?" tanya Taehyung pada Jungkook, kini keduanya tengah berada di backstage untuk mempersiapkan perform khusus yang akan mereka tampilkan di acara inti club mereka nanti.
"Kau tampan sunbaenim!" puji Jungkook tulus setelah melihat penampilan Taehyung yang tak jauh berbeda darinya. Setelan kemeja kotak-kotak dengan garis berwarna biru-merah yang saling menyinggung dan celana jeans hitam yang dibalut dengan jas berwarna kerlap-kerlip ungu terang serta kacamata berlensa pelangi berbingkai bulat yang entah kenapa menambah kesan tampan yang sangat kental pada diri Taehyung. Terlebih, bagaimana rambut di bawah telinga Taehyung yang berwarna abu-abu serta sebuah anting panjang yang bertengger di telinga kirinya.
"Benarkah?" tanya Taehyung memastikan. Jungkook mengangguk. Penampilannya sendiri, tak jauh berbeda dengan Taehyung, ia menggunakan setelan kemeja dan celana jeans yang serupa, jas kerlap-kerlipnya yang berwarna merah. Jungkook juga menggunakan kacamata hitam dan rambutnya yang klimis berwarna hitam kelam. Dan, sama dengan Taehyung, Jungkook juga menggunakan anting yang sama dan memasangnya di telinga kanannya.
"nde, kau benar-benar tampan sunbaenim!" ulang Jungkook yang membuat tingkat kepercayaan diri Taehyung meningkat. "Jika ada daftar pria tertampan di sekolah, aku yakin kau akan berada di urutan teratas!"
"Apa sekarang, kau sudah berubah menjadi fans-ku?" Jungkook terkekeh.
"Begini-begini, aku juga punya fans sendiri di luar sana sunbaenim!" Taehyung mengulas senyum dan ia kembali menatap Jungkook lamat.
"Tampaknya ada sesuatu yang kau lupakan."
"eoh? Aku rasa sudah semua. Memangnya, apa yang aku lupakan, sunbaenim?" Taehyung tersenyum kecil.
"Panggilanmu! Panggilanmu padaku, aku sudah mengatakan kemarin untuk memanggilku 'hyung' 'kan?" pinta Taehyung. Jungkook mengangguk paham.
"nde, hyung!" balas Jungkook penuh penekanan. Taehyung terkekeh dan dengan refleks ia mengacak surai Jungkook gemas. "ah hyung~ kau menghancurkan rambutku!" seru Jungkook meraih tangan Taehyung untuk berhenti mengjahilinya. Taehyung tertawa puas.
"kajja, kita harus bersiap. Kau dengar? Keempat main vocal itu sedang memberikan suasana tegang di panggung sekarang. Kita harus memecah suasana para penonton." Jungkook mempoutkan bibirnya kesal.
"Kemarin, siapa yang menolak untuk perform denganku?" sindir Jungkook. Taehyung menarik nafas kesal, dan tanpa canggung ia merangkul pinggang Jungkook.
"arraseo, arraseo—mianhae nde, Jungkookie?" Jungkook terkekeh dan dengan senang hati ia membalas rangkulan Taehyung.
.
.
.
.
.
Suara tepukan tangan mengiringi akhir penampilan yang indah yang disajikan oleh main vocal dari club vocal. Beberapa dari para penonton berdecak kagum dengan penampilan keempat anggota club vocal yang begitu mengesankan. Dan, mungkin penampilan selanjutnya tak kalah mengesankan dari penampilan sebelumnya.
Tepat saat para keempat main vocal itu turun panggung, lampu-lampu yang menghias panggung ikut padam bersamaan. Mengingat langit yang sudah mulai gelap, membuat para penonton bertanya-tanya mengapa lighting di club vocal tiba-tiba dimatikan.
Klik!
"woah~" dan tak lama kemudian, suasana tegang yang awalnya begitu mendominasi para penonton yang baru saja menyaksikan penampilan club vocal langsung berteriak histeris terutama para siswa-siswi saat lampu di panggung club vocal kembali dinyalakan dan muncullah dua orang familiar yang sudah mereka tunggu penampilannya.
"ARE YOU READY?" seru Taehyung suaranya menggema dan merubah suasana festival menjadi pesta sungguhan bersamaan dengan irama pembuka dari lagu yang akan mereka nyanyikan. Dan, sungguh melihat Taehyung yang terlihat antusias itu membuat Jungkook berusaha keras untuk menahan tawanya jika tidak ingin merusak perform-nya sendiri.
"WOAH~ Kim Taehyung!" seru para fans dadakan Taehyung seraya mengibarkan banner mereka agar Taehyung melihat kearah mereka. Taehyung mengedipkan sebelah matanya menggoda dan tersenyum tampan yang membuat banyak orang terpesona melihat penampilannya malam itu.
"Let's Party Tonight!" seru Taehyung, ia bersiap untuk menyanyi di part pertama dan Jungkook yang juga sudah memposisikan dirinya sesuai dengan latihan mereka sebelumnya.
(Taehyung)
Eodil chyeodaboneun geonyago
Soljikhi neo geurae neo saengpan
Cheoeum mannan neo
Wae neol chyeodaboneun geonyago
Gunggeumhaeseo seolleseo
Natseoleoseo
Uh dugeun dugeun dugeun woah~
Seluruh penonton berteriak heboh dan bertepuk tangan antusias ketika Taehyung mulai menyanyikan bagian pertamanya. Tak hanya para siswa yang terlihat senang dan terhibur bahkan tak sedikit dari para guru hingga orang tua yang ikut tertawa dengan penampilan Taehyung dan Jungkook yang menyanyi heboh bergantian. Salah satunya, adalah ayah Taehyung yang duduk di barisan paling depan bersama dengan kedua hyung-nya.
"Seketika, aku menyesal karena pernah mengatakan bahwa ia seperti anakku!" gumam Seonwoong yang diangguki setuju oleh Seungwon.
"Bahkan, aku merasa malu karena duduk di samping ayahnya!" lanjut Seungwon yang membuat Wonjoong menatap horor kedua hyung-nya.
"yak, hyung jangan menghina anakku. Dia sekeren ayahnya!" decak Wonjoong yang seketika langsung bertepuk tangan ketika bagian Taehyung dan Jungkook bernyanyi bersama dan mengabaikan segala candaan yang dilontarkan kedua hyung-nya untuk menggodanya atas penampilan keren anak semata wayangnya.
Disisi lain, tepatnya di deretan bangku dimana ayah Jungkook yang duduk bersama dengan kedua orang tua dari Seokjin dan juga kedua orang tua Hoseok tampak menikmati dan sesekali tertawa puas dengan beberapa aksi dari Jungkook dan Taehyung yang benar-benar menghibur.
"eomma, appa!" seru Seokjin yang datang entah darimana dan duduk di samping sang ayah yang kebetulan duduk di bangku paling kiri. "annyeongasseo samchon, imo!" sapa Seokjin pada ayah Jungkook dan kedua orang tua Hoseok yang tersenyum membalas sapaannya sementara Seokjin memeluk kedua orang tuanya bergantian.
"Dimana Hoseok, Seokjinie?" tanya Jihyo, ibu Hoseok.
"Hoseok sedang bersiap untuk penampilannya di club dance, imo." jawab Seokjin sumringah.
"Kapan club-nya akan tampil?" tanya Chilhyun, ayah Seokjin.
"Club dance akan tampil paling akhir, appa. Setelah penampilan Jungkook dan Taehyung selesai, club musik yang akan mulai tampil!" jawab Seokjin dan kembali memfokuskan pada penampilan panggung Jungkook dan Taehyung yang belum berakhir bahkan kini bertambah meriah dengan adanya para penari latar dan kedua senior-junior yang tanpa lelah menghibur seluruh penonton yang tampaknya begitu puas dengan penampilan mereka.
(TaeKook)
Hey we want some new face
Hey we want some new face
Hey we want some new face
Hey we want some new face
Dugeun dugeun dugeun woah~
"Jungkookie, sudah tumbuh besar." gumam ibu Seokjin, Yoona menatap haru kearah Jungkook yang kini tertawa senang di panggung bersama Taehyung.
(TaeKook)
Natseon natseon yeojaui natseon hyanggie
Yes I want some new face
Natseon natseon yeojaui natseon hyanggie
Yes I want some new face
"nde, jika Jieun disini dan melihat Jungkook saat ini aku yakin, dia pasti senang dan bangga." sambung Seungho, ayah Jungkook menatap bangga kearah anak semata wayangnya yang tanpa henti tertawa dan masih bersemangat untuk menyelesaikan nyanyiannya bersama Taehyung diiringi begitu banyaknya penari latar yang berasal dari club mereka sendiri menambah ramenya penampilan mereka.
(TaeKook)
Yay yay yay yeah all right new face
Yay yay yay yeah all right new face
Dugeun dugeun dugeun woah!
New face
"THANK YOU!" seru Taehyung seraya memberikan kiss bye kearah para penonton yang bertepuk tangan riuh dan puas dengan penampilan yang ia tampilkan bersama Jungkook.
"Seketika, aku merasa menyesal karena sudah mengenalnya sejak bocah itu bayi!" gumam Namjoon yang melihat penampilan Taehyung bersama Yoongi di balik backstage club musik. Yoongi terkekeh.
"Aku lebih malu karena kita satu kamar dengannya!" jawab Yoongi yang membuat Namjoon seketika menoleh kearahnya dan tertawa bersama.
"Semangat hyung, aku akan menemui para appa!" Yoongi mengangguk dan membiarkan Namjoon meninggalkannya.
"Yoongi-ssi! Ayo, bersiap!" seru Jinyoung yang hanya diangguki oleh Yoongi. Yoongi menarik nafas kemudian ia tersenyum kecil mengingat bagaimana meriahnya penampilan Taehyung dan Jungkook yang pasti menyentuh para penonton yang hadir.
'Kau memang tidak pernah mengecewakan, Tae!'
.
.
.
.
.
Rasanya entah kenapa festival di malam kedua terasa seperti festival yang diadakan oleh tiga club yang digabung menjadi satu. Karena, setelah selesainya perform dari Taehyung dan Jungkook lalu dilanjutkan oleh perform dari club musik maka dengan segala segi keindahan dan kemewahan tata panggungnya yang mereka buat agar memiliki suasana yang sama dengan festival besar di California. Terlebih suasana yang begitu megah dengan dentuman musik yang mulai berirama pertama kali dari tabuhan drum yang dimainkan oleh Wonshik dan Jihoon secara bersamaan sebagai pembuka dasar untuk penampilan club mereka sebentar lagi.
Masih dengan dentuman drum dari Wonshik dan Jihoon, kemudian disusul dengan iringan synthesizer yang dimainkan oleh Jinyoung dengan irama musik hiphop yang sudah mereka buat sebelumnya dengan perangkat elektronik tersebut.
Dan tiba-tiba saja masuklah sekitar tujuh orang siswa yang berdiri di depan para audiens dan menarikan breakdance sesuai dengan irama musik yang dimainkan oleh Wonshik, Jihoon dan Jinyoung.
"woah, daebak! Aku baru tahu club musik bisa menampilkan hal semacam ini." decak kagum keluar dari Seokjin yang turut menikmati breakdance. Bahkan, tidak hanya breakdance yang sedang mereka tampilkan saat ini. Dengan tiba-tiba, dentuman drum dari Wonshik dan Jihoon berhenti dan muncullah Jiho dengan keahlian beatbox serta penampilan rapping bersama Hanbin.
Beberapa penonton bahkan sudah bertepuk tangan dengan penampilan mereka yang diluar dugaan dan terhitung ini adalah kali pertama mereka menampilkan perfoming tambahan seperti saat ini. Tak hanya itu, hampir seluruh siswa yang menonton mengaku antusias dengan beattle dari Jiho dan Hanbin yang kini tengah bersautan menampilan rapping mereka.
Selanjutnya, para penonton dibuat terperangah dengan lighting dari panggung club musik yang tiba-tiba dipadamkan bersamaan dengan berakhirnya penampilan dari Jiho dan Hanbin. Beberapa orang bertanya-tanya akan ada kejutan apa lagi, mengingat sebelumnya hal serupa pernah terjadi di club vocal sebagai pembuka penampilan Taehyung dan Jungkook. Terlebih suara bising penonton yang sepertinya sebagai intro penampilan selanjutnya, membuat suasana diantara para penonton menjadi hening untuk menanti penampilan kali ini. Suara nyaring dari mikrofon dan pijakan kaki seseorang yang menaiki panggung megah itu. Membuat beberapa penonton bertanya-tanya siapa kali ini yang sepertinya akan tampil seorang diri.
Amman bogo dallyeotji
Seketika, saat si penampil mengeluarkan suara satu lirik sontak hal itu membuat para penonton bergumam kagum terlebih ketika lighting panggung mulai kembali dinyalakan maka hampir seluruh para siswa yang menonton berteriak histeris melihat Min Yoongi yang saat ini tengah berdiri di panggung dan untuk pertama kalinya menampilkan rapping dengan lirik yang ia buat sendiri.
Juwirel dulleo bol teum eopsi
Eoneusae naneun gajogui jarangi dwaetgo
Eoneu jeongdo seonggongeul haetsseo
Sachun-gira malhaneun geujjeum
Saenggagi nane mundeuk
Geu dangsi naneun eoryeotgo museoul ge eopseotji
Myeos beonui jwajeol geugeon amu geotdo anyeo
Dallajin georagon geuttaee bihae jogeum keojin kiwa
Dong naidaee bihae jogeum seongsukaejin siya
Namsandongui jiha jageopsireseobuteo
Apgujeongkkaji kkara noeun nae beat cheongchunui chulcheo
Juwi modu malhaetji obeo haji ma
Eumak handapsigo kkapchimyeon jiban geodeollaenikka
Geuttaebuteo sin-gyeong an sseotji nuga mworadeunji
Geujeo nae kkollindaero nae sosindaero saragal ppun
Niga bogien jigeum nan eotteol geos gannya
Naega bogien eotteol geos gata?
Naega manghagil gidohaetdeon myeonmyeos nomege mureulge
Jiban geodeol naen geos gannya saekkya
I don't give a shit I don't give a fuck
"wah, hyung—anakmu itu selain berwajah dingin dan bermulut pedas ternyata dia juga sangat brutal!" komentar Wonjoong yang membuat Seonwoong bukannya tersinggung melain tersenyum penuh kebanggaan. Ketiga orang tua itu tak menyangka jika Min Yoongi yang mereka kenal sedikit anti dalam berpartisipasi dalam hal seperti ini dan merupakan sosok anak yang pemalas mau melakukan perform seorang diri dan terlihat begitu memukau.
"Aku kira dia hanya bisa bermain piano. Tapi, apa-apaan itu—apa dia berniat untuk mengumpati para orang tua disini!" cibir Seungwon yang lagi-lagi membuat Seonwoong terkekeh entah karena apa.
"yak, dia ini hanya ingin menghibur para penonton jadi jangan salahkan dia jika dia sedikit mengumpat!" bela Seonwoong yang membuat Seungwon dan Wonjoong menatapnya dengan keryitan di dahi terkejut.
"Sejak kapan kau membelanya, hyung?" tanya Wonjoong heran.
"yak! Dia itu anakku, sudah sepantasnya aku membelanya." Wonjoong tertawa keras.
"woah hyung, aku sampai lupa kapan terakhir kali kau berinteraksi dengan anakmu!" canda Wonjoong yang membuat Seonwoong mendesis kesal dan Seungwon yang hanya terkekeh melihat gurauan lama dari kedua sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Haru subaek beon ipbeoreutcheoreom malhaetdeon
'naegeseo sin-gyeong kkeo'
Silpaena jwajeol matbogo gogae sugyeodo dwae
Urineun ajik jeomgo eoryeo geokjeong butdeureo mae
Gureuji anneun doreneun
Pilsi kkigi maryeonigeodeun ikki
Doragal su eopdamyeon jikjin
Silsun ttawin modu da itgil
Never mind
Swipjin anchiman gaseume saegyeonwa
Buditil geos gateumyeon deo sege balba imma
Never mind, never mind
Geu eotteon gasibatgirirado ttwieoga
Never mind, never mind
Saesangen niga eojjeol su eomneun ildo manna
You better
Never mind, never mind
Buditil geos gateumyeon deo sege balba imma
Never mind, never mind
Pogihagien urin ajik jeomgo eoryeo imma
Buditil geos gateumyeon deo sege balba imma
Buditil geos gateumyeon deo sege balba imma
Never mind
"Min Yoongi! Min Yoongi! Min Yoongi!" seru para siswa merasa puas dengan penampilan Yoongi hingga akhir. Yoongi tersenyum miring dan tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan sang ayah yang juga tengah menatapnya. Seonwoong tersenyum tulus yang membuat Yoongi entah kenapa merasa bahwa senyuman sang ayah adalah bentuk dukungan untuknya. Maka sebelum ia turun dari panggung ia menyempatkan untuk membungkukkan badannya, menyapa sang ayah dan bergumam samar, "Terima kasih, pa!"
Penampilan selanjutnya pun tak kalah meriah dari penampilan sebelumnya. Berbagai antraksi yang disajikan oleh club musik yang membuat banyak orang yang hadir semakin berdecak kagum. Iringan musik hip-hop yang kini juga dikolaborasikan dengan musik EDM membuat suasana semakin meriah dan menyerupai suasana festival akbar di California, sesuai dengan tema yang mereka usung.
Berbagai kejutan dari para anggota club musik yang mengajak seluruh penonton untuk bersenang-senang bersama mereka, terus mereka lakukan. Mulai dari, Jinyoung yang berperan sebagai DJ. Junhyung dengan segala keahliannya dalam bermusik memainkan saxophone. Hingga Yoongi yang kembali tampil dengan melakukan freestyle dengan piano yang membuat para siswa semakin menggila dan tentu saja membuat mereka semakin histeris mengingat penampilan keren Yoongi sebelumnya. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang terus menyerukan nama Yoongi tanpa henti. Tampaknya, sebentar lagi Yoongi akan mempunyai fans dadakan sama seperti adiknya, Taehyung. Dan, tak hanya dari penampilan mereka bertiga, panggung club musik benar-benar ramai dengan adanya perform tambahan dari anggota club lainnya seperti pertunjukan skateboard, grafitti, breakdance, dan lain sebagainya.
Kling~
Dan setelah suasana meriah, tiba-tiba saja terdengar lonceng entah dari mana asalnya serta sebuah tirai yang bergerak menutup sekeliling panggung club musik. Suasana yang awalnya ramai layaknya seperti pesta besar kini kembali menjadi hening dengan semua pasang mata para penonton yang fokus kearah tirai yang menutupi panggung dari club musik.
Tak berapa lama mereka menunggu, tirai berwarna merah itu perlahan sedikit terbuka dan berhenti tepat setelah memunculkan sosok Jinyoung yang mengenakan pakaian hanbok dan tengah memainkan gayageum, yaitu kecapi yang memiliki 12 senar. Sontak hal itu pun langsung mengundang tepukan tangan dari para penonton. Jinyoung memainkan gayageum-nya dengan hati-hati bersamaan dengan tirai merah itu yang kembali bergerak membuka dan menunjukkan enam siswa lainnya yang juga menggunakan hanbok dan memainkan musik tradisional di depan mereka.
Yoongi yang juga mendapat tugas memainkan alat musik yang sama dengan Jinyoung. Lalu, Junhyung dan Hanbin yang memainkan taepyongso, yaitu jenis suling bernada tinggi yang dilengkapi kerucut. Kemudian, ada juga Wonshik yang memainkan kkwaenggwari/gong tangan, Jihoon yang memainkan janggu, genderang yang berbentuk jam pasir dan Jiho yang memainkan haegeum, sebuah rebab yang bersenar dua.
"woah~ mereka sangat keren!" pekik hampir seluruh siswa yang menatap kagum kearah ketujuh siswa yang sedang fokus dan khitmatnya memainkan musik yang sedang mereka mainkan.
"Yoongi hyung, benar-benar sudah berubah!" gumam Namjoon, ia duduk paling belakang dari barisan tempat duduk para penonton. Namjoon tersenyum kecil kearah Yoongi yang malam itu terlihat tampan dengan hanbok yang ia kenakan. Bahkan, sedari menonton penampilan Yoongi dari awal, Namjoon tak pernah berhenti tersenyum saat jawaban Yoongi teringang di otaknya ketika ia bertanya alasan apa Yoongi mau bersusah-susah untuk mengikuti semua kegiatan festival ini.
"Aku ingin menarik perhatian seseorang. Entah dia melihatku atau tidak—tapi, aku akan membuatnya berfikir bahwa aku bukan orang yang dingin, suka berbuat seenaknya atau bahkan seseorang yang tak bisa berbuat apa-apa."
Namjoon kembali terkekeh kemudian dengan sengaja ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari sosok yang ingin Yoongi hyung-nya tarik perhatiannya. Setelah jauh-jauh mencari pandang di barisan depan hingga tengah, Namjoon akhirnya menoleh kearah kanannya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok pemuda manis yang duduk di barisan yang sama dengannya, tepatnya duduk di kursi paling ujung yang tampaknya tengah menikmati irama tenang dari musik yang sedang ketujuh siswa itu mainkan. Bahkan, Namjoon bisa melihat senyum manis yang terpatri di bibir tebal pemuda itu, yang pasti jarang ia tunjukan pada siapapun.
'Sepertinya, rencanamu berhasil hyung.'
TBC
(-) I'm back ... kira-kira adakah yang nungguin updatean ff ini? Hehe, maap ya kalau typo-nya masih bertebaran.
(-) Sebenarnya, pas nulis chap ini rencana awal mau sampe pas Jimin-Hoseok, tapi karena word-nya bludak jadi aku potong sampe Yoongi, maaf kalau chapter ini gak seru dan garing...
(-) Dan, untuk chapter depan mungkin updatenya sekitar 3/4 hari ke depan, Selasa atau enggak rabu ya berarti ...
(-) Okay, ... see you in next chap
Kamsahamnida,
