Hati tidak bisa berbohong

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Hurt Comfort, Romance

Hati tidak bisa berbohong by WitWula

Pairing SasuSaku

Rated : T

.

.

.

Don't Like, Don't Read

Chapter 3

Sakura dan Gaara tiba di kantin, sedari tadi gadis bersurai seperti permen kapas itu tetap menundukkan wajahnya karena malu.

Gaara yang daritadi berjalan disamping Sakura merasa heran karena yang dilakukan gadis itu hanya menundukkan wajahnya seperti tidak berani menatap siapapun. Sampai-sampai semua murid sekolahnya menatap heran.

"Sakura-san bagaimana kalau kita duduk disitu." Gaara menunjuk salah satu meja makan yang memang belum ditempati yang terletak di sebelah pojok kantin.

Sakura mengangguk sebagai jawaban. Kemudian keduanya berjalan menuju meja yang dimaksud Gaara.

Mereka duduk di meja makan tersebut. Sakura hanya diam memperhatikan Gaara yang tengah berjalan ke salah satu kedai hendak memesan makanan.

Puk..

"Teme." Sasuke menoleh begitu Naruto menepuk pundaknya.

"Apa?" jawab Sasuke kesal. Karena tepukan yang dilakukan Naruto benar-benar membuat pundaknya kebas.

"Bukankah itu Sakura, gadis yang tinggal di rumahmu." Pemuda bersurai pirang itu menunjuk salah satu gadis yang tengah menatap ke bawah. Sesekali gadis itu membenarkan letak kacamatanya.

Sasuke mengikuti arah yang ditunjuk Naruto kearahnya. Tatapannya datar seperti biasa. "Bukan urusanku."

"Aku heran, tidak biasanya gadis itu pergi ke kantin." Celoteh Naruto mengutarakan kebingungannya. Sedangkan Sasuke daritadi sudah pergi menjauhi sahabat yang menurutnya bodoh.

"Apa kau tidak heran Teme?" tanya Naruto, karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari orang yang ia panggil Teme. Naruto melihat ke sekelilingnya yang ternyata sahabatnya itu sudah pergi menjauh dengan tenangnya.

"Kuso, awas kau Temeeeee!" tanpa pikir panjang Naruto berlari menyusul Sasuke dan dengan cerobohnya Brukk...

"Ittaiiii."

"Maaf aku tidak sengaja." Ucap Naruto merasa bersalah.

Gadis bersurai indigo itu berdiri dibantu oleh Naruto. "Kau tidak apa?" tanya Naruto.

"Aku tidak apa, maafkan aku karena sudah menghalangi jalanmu." Gadis itu membungkuk kearah Naruto sebagai permintaan maaf.

"Justru aku yang lari tidak memperhatikan jalan." Kekeh Naruto pelan.

"Maaf aku harus pergi." Naruto melambaikan tangannya kearah gadis indigo itu.

Gadis indigo itu mengangguk dan pemuda bermanik saphire itu tersenyum kearah si gadis Indigo.

.

.

.

Disisi lain Gaara yang sedang membawa makanan pesanannya bersama Sakura kembali ke tempat duduk mereka.

"Sakura-san, ini makanannya." Gaara menyerahkan semangkuk sup miso kepadanya.

Sakura menengadahkan kepalanya bingung. "Tapi aku tidak memesan?"

"Bukankah sudah kubilang aku akan mentraktirmu." Gaara tersenyum ramah.

"Tapi, maaf Sakura-san aku hanya memesan sup miso. Aku tidak tahu makanan kesukaanmu?" kekeh pemuda bermanik jade itu. "Dan ketika aku mau menanyakannya kepadamu, kau daritadi hanya diam. Jadi aku benar-benar bingung."

Sakura menggeleng, "Justru aku sudah membuatmu tidak nyaman Gaara-san. Maaf." Ucapnya lirih tapi masih bisa didengar oleh Gaara.

"Tidak apa, aku mengerti." Gaara tersenyum tulus. Entah kenapa perasaan Sakura sedikit menghangat dengan senyuman pemuda yang tengah duduk di depannya. Mungkin selama ini ia tidak pernah mendapatkan seorang teman yang sangat baik kepadanya.

'Arigatou Kami-sama,' batin Sakura.

"Sakura-san ini minumannya." Gaara menyerahkan segelas juice strawberry kearahnya.

"Arigatou."

Setelah selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas. Sepanjang perjalanan ke kelasnya Gaara dan Sakura membicarakan banyak hal. Tapi tetap saja pemuda bersurai merah maroon itu lebih mendominasi pembicaraan. Entah itu candaan ataupun hal yang tidak penting sama sekali. Mereka berdua semakin akrab dan hal itu membuat seseorang yang tengah memperhatikan mereka menjadi kesal.

"Sakura-san, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita pergi keluar bersama?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Aku sangat sibuk Gaara-san." Sakura menunduk sedih, sebenarnya ia ingin sekali pergi jalan-jalan setelah pulang sekolah bersama dengan temannya. Keinginan sederhana yang ingin sekali ia lakukan. Tapi, kesibukaannya menjadi seorang pembantu membuatnya kesulitan mewujudkan impian kecilnya itu.

"Oh baiklah, lain kali aku akan mengajakmu pergi."

"Maaf Gaara-san." Ucap gadis bersurai pink itu lirih.

"Sepertinya tidak bisa." Sakura melanjutkan ucapannya.

"Baiklah."

"Bagaimana kalo kau memberikanku nomor handphonemu." Gaara merongoh saku celananya dan mengambil handphone miliknya.

"Aku tidak punya ponsel. Maaf."

"Tadinya aku ingin menghubungimu malam ini." Gaara terkekeh pelan.

"Aku sungguh minta maaf." Entah sudah berapa kali gadis itu meminta maaf pada teman barunya, gadis bermanik emerald itu merasa bahwa dirinya memang payah. Sampai-sampai hal dasar seperti bertukar nomor ponsel saja ia tidak bisa melakukannya.

"Tidak apa."

"Ayo, kita harus cepat." Ucap Gaara sedikit mempercepat langkahnya.

Sakura mengangguk sebagai jawaban.

Keduanya kembali ke kelas mereka, dan beberapa menit kemudian bel masuk pun berbunyi menandakan bahwa waktu bebas para murid sudah berakhir.

Tidak lama kemudian Yamato-Sensei guru mata pelajaran Fisika itu masuk ke kelasnya menandakan waktu belajar sudah dimulai.

.

.

.

Sepulang sekolah Sakura segera beranjak dari kursinya dan membereskan peralatan tulis ke dalam tas. Setelah selesai ia mengedarkan kedua bola matanya yang terbingkai kacamata ke segela penjuru kelas memastikan jika semua teman sekelasnya sudah pergi meninggalkan kelas. Saat hanya ada dirinya di dalam kelas, gadis emerald itu mulai beranjak dan berjalan kearah pintu kelas.

"Kau sudah mau pulang?" tanya Gaara dari balik pintu kelas, sakura sangat kaget dengan kemunculan Gaara yang muncul secara tiba-tiba.

Gadis pinky itu menggelengkan kepalanya. "Belum."

"Mau pulang bersama?" tanya Gaara tiba-tiba.

Sakura jadi bingung sendiri. 'Bagaimana dengan Sasuke-sama.' Batinnya.

"Ayo." Gaara menarik tangan Sakura.

"Permisi."

"Dia akan pulang bersamaku." Sasuke menarik tangan Sakura paksa.

"Itaii." Ucap Sakura lirih karena Sasuke menarik tangannya terlalu kencang.

"Ayo Sakura, kau harus pulang denganku."

"Maaf Gaara-san, aku harus pulang bersamanya."

Gaara mengangguk sebagai jawaban.

Sasuke dan Sakura berjalan menjauh. "Hey kau!" teriak Gaara.

"Perlakukan dia dengan baik, kau tadi menariknya terlalu kencang."

Sasuke berhenti sejenak, kemudian pemuda raven itu menoleh. "Bukan urusanmu."

.

.

.

.

Ketika berada di depan minimarket tiba-tiba Sakura berjalan kesana.

"Mau kemana?" tanya Sasuke.

"Aku harus belanja Sasuke-sama."

Sasuke berjalan mengikuti Sakura. "Kenapa Sasuke-sama mengikutiku?"

Bukannya menjawab pertanyaan, Sasuke langsung menyuruh Sakura untuk mempercepat proses belanjanya "Cepatlah."

"Ino kamu liat tadi?" tanya Shion ketika melihat Sakura dan Sasuke berjalan beriringan memasuki minimarket.

Ino hanya mengendikkan bahunya tidak tahu.

"Itu tuhhh..." Shion menunjuk kearah Sakura dan Sasuke menuju.

"Oh, iya mereka masuk ke minimarket itu, kenapa?"

"Jangan pura-pura bodoh Ino, apa kau mendadak amnesia?"

"Maksudmu?"

"Tentu saja itu aneh Ino, mengingat pangeran sekolah mau sama upik abu di kelas kita."

Ino yang mendengarnya entah kenapa menjadi kesal, Shion memang sahabatnya. Tapi, ia tidak pernah menyangka bahwa sahabat pirangnya ini akan menjelek-jelekkan orang lain.

"Mungkin saja mereka pacaran." Ino menjawab asal.

"What the.."

"Tidak mungkin."

"Banyak hal yang tidak mungkin terjadi Shion."

"Ino, kenapa kamu tidak menghiburku sih?" Shion menjadi kesal dengan tingkah Ino yang seperti pro pada Sakura.

"Tapi bisa saja kan mereka pacaran."

"Ihhh Ino."

Shion pergi meninggalkan Ino dan pergi ke arah minimarket.

"Kamu mau kemana Shion?"

"Ngelabrak."

Ino yang mendengarnya langsung saja menyusul gadis pirang itu.

"Tunggu Shion."

Ino menahan pergelangan tangan Shion. "Kamu gila?"

"Iya, selamat sahabatmu jadi gila."

"Apa kamu mau Sasuke membencimu dengan tingkah kekanak-kanakanmu itu?"

"Tentu saja tidak mau."

"Berhentilah bersikap seperti anak kecil Shion."

"Tapi Sasuke pergi sama cewek gatel itu."

"Sebaiknya kita pulang Shion, besok kan kita bisa menanyakannya pada Sakura."

Ino langsung menarik tangan Shion menjauh dari minimarket.

.

.

.

"Sebaiknya Sasuke-sama pulang duluan."

"Kau mencoba memerintahku?" Sasuke berkata tidak suka.

Sakura gelagapan, "Bukan begitu, tapi saya bisa belanja sendiri."

"Cepat saja selesaikan belanjamu dan berhentilah bicara."

"Baik."

Setelah selesai berbelanja, mereka pergi menuju stasiun. Pada siang hari keadaan stasiun tidak seramai pagi tadi, itu artinya Sakura bisa duduk mengistirahatkan tubuhnya.

Kereta melaju dengan cepatnya dan tepat berhenti di depan mereka. Tiba-tiba dari arah belakang Sakura ada seseorang yang berjalan dengan cepatnya dan menabrak tubuhnya. "Auww."

Sakura mengaduh kesakitan, dan jepit untuk menggelung rambutnya terlepas entah kemana. "Jepitku." Seru Sakura.

Rambut Sakura otomatis menjadi tergerai indah. Rambut pinknya menyeruak mengeluarkan aroma shampo berbau strawberry.

Sasuke menoleh kearah Sakura. "Ada apa?"

"Jepit rambutku hilang."

.

.

.

.

.

Bersambung

Aku tidak tahu apakah masih ada yang menunggu fict ini atau tidak. Tapi akhirnya aku bisa update lagi, sebelumnya maaaffff banget updatenya lama. Banyak hal yang terjadi, salah satunya adalah ketika dilanda malas menulis. Wkwk sampai vakum nulis di dunia maya.

So inilah balasan review dari sayee.

rasty ( Sebetulnya itu belum tentu Sasuke loh. Wkwk...Makasih reviewnya rasty)

Guest ( Ini udah lanjut ka, tapi laaammmaa banget ya saya updatenya. Maaafff)

Ss ( Nggak ngemis-ngemis cinta ko, tenanglah..hehe)

Thaliamahsa (Ini udah update hehe)

Restuputri459 ( iya ini udah lanjut ka. He)

(Terima kasih ucapan semangatnya.)

Owon ( iya udah next ko hehe )

PantatAyam BerJidatLebar (Ini udah next ko)

Yoshimura Arai ( siapp )

Lumaera (Iya ka, penulisan kapitalnya masih banyak yang salah hehe. Makasih atas koreksinya. ^_^)

Makasih atas semua reviewnya. maaf banget lama updatenya sampai 1 tahun nggak publish. sebenarnya dulu notebooknya dijual jadi vakum nulis.