Previously ...
"Yoongi hyung, benar-benar sudah berubah!" gumam Namjoon, ia duduk paling belakang dari barisan tempat duduk para penonton. Namjoon tersenyum kecil kearah Yoongi yang malam itu terlihat tampan dengan hanbok yang ia kenakan. Bahkan, sedari menonton penampilan Yoongi dari awal, Namjoon tak pernah berhenti tersenyum saat jawaban Yoongi teringang di otaknya ketika ia bertanya alasan apa Yoongi mau bersusah-susah untuk mengikuti semua kegiatan festival ini.
"Aku ingin menarik perhatian seseorang. Entah dia melihatku atau tidak—tapi, aku akan membuatnya berfikir bahwa aku bukan orang yang dingin dan tak bisa berbuat apa-apa."
Namjoon kembali terkekeh kemudian dengan sengaja ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari sosok yang ingin Yoongi hyung-nya tarik perhatiannya. Setelah jauh-jauh mencari pandang di barisan depan hingga tengah, Namjoon akhirnya menoleh kearah kanannya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok pemuda manis yang duduk di barisan yang sama dengannya, tepatnya duduk di kursi paling ujung yang tampaknya tengah menikmati irama tenang dari musik yang sedang ketujuh siswa itu mainkan. Bahkan, Namjoon bisa melihat senyum manis yang terpatri di bibir tebal pemuda itu, yang pasti jarang ia tunjukan pada siapapun.
'Sepertinya, rencanamu berhasil hyung.'
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jimin sunbaenim!" panggil seseorang yang membuat Jimin seketika menoleh dan mendapati salah satu juniornya yang juga anggota club dance menghampirinya dan berdiri di samping tempatnya duduk.
"eoh, ada apa?" tanya Jimin datar.
"Hoseok sunbaenim mencarimu. Sepertinya, kita harus bersiap sekarang." ujarnya memberitahu. Jimin mengangguk paham.
"arraseo, aku akan kesana sekarang. Pergilah lebih dulu." titah Jimin yang hanya diangguki oleh juniornya.
Kemudian, Jimin kembali mengalihkan pandangannya kearah panggung club musik. Diam-diam ia tersenyum dengan kedua mata sipitnya yang hanya terfokus pada seseorang yang tengah memainkan gayageum. Dan, tak lama kemudian, Jimin berdiri dari duduknya dan melangkah menuju backstage club dance untuk bersiap dengan penampilan dari clubnya setelah ini.
"oh, Jimin-ssi—kau sudah disini?" sapa Hakyeon. Jimin hanya mengangguk sekilas.
"Kau terlihat tenang sekali," sahut Jongin yang membuat Jimin hanya tersenyum sekenanya.
"Mungkin karena aku tampil paling akhir sunbaenim. Semangatlah, kau dan Seulgi sunbae yang paling banyak muncul nanti!" balas Jimin. Jongin menghela nafas lelah.
"hm, kau berhasil membuatku frustasi."
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Hoseok yang entah muncul darimana, ia mengisyaratkan agar seluruh dari anggota club dance yang ia ikutkan seluruh anggotanya untuk berkumpul mengelilinginya. "Tentunya, kalian sudah melihat performance dari club vocal dan musik. Jangan merasa minder, okay? Fokuskan, tidak menang yang kita ingin 'kan. Kita ubah persepsi kita dari tahun-tahun sebelumnya yang terlalu terobsesi untuk menang tapi tak pernah berakhir dengan hasil yang memuaskan. Kalian hanya perlu fokus dengan gerakan serta irama sama seperti ketika kita latihan sebelumnya. Relax—jangan tegang dan jangan alihkan pandangan kalian pada yang lain, jika tidak ingin fokus awal kalian buyar begitu saja dan semuanya berakhir kacau. Arraseo? Kita disini, bukan hanya untuk mencari kemenangan tapi juga untuk membuktikan bahwa club kita sudah berkembang. Setuju?!"
"NDE!" seru seluruh anggota kompak dan bersemangat.
"Bagus! Kalian boleh bubar dan bersiap di posisi masing-masing!"
"nde sunbaenim!" seru para junior Hoseok yang kemudian langsung berhambur untuk bersiap karena tinggal hitungan menit penampilan club musik selesai. Hoseok mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang akan menjadi rekan perform-nya malam ini.
"Jimin-ssi!" panggilnya ketika ia melihat Jimin yang tengah berbincang memberikan pengarahan kepada juniornya yang tampil sebagai pembuka. Jimin menoleh sekilas dengan tatapan matanya yang bertanya 'ada apa?' pada Hoseok. Kemudian, kembali mengalihkannya pada para juniornya sebentar.
"Jangan tegang, okay." pesan Jimin sebelum akhirnya meminta para juniornya untuk bersiap. "Ada apa sunbaenim?" tanya Jimin ketika kini hanya ada dirinya dan Hoseok di pojok backstage.
"Kau baik?" tanya Hoseok terlihat cemas. Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti kemudian mengangguk asal.
"Aku baik." jawab Jimin sekenanya. Hoseok menarik nafas lega.
"Syukurlah." balas Hoseok yang membuat Jimin memincingkan matanya dan memandang Hoseok penuh curiga.
"Kau baru saja mengatakan pada semuanya untuk tidak perlu tegang tapi, kenapa kau sendiri yang tampak tegang, sunbaenim?" tanya Jimin yang membuat Hoseok terdiam dan hanya menatap kearah Jimin penuh kekhawatiran yang berusaha ia tutupi.
'Aku tidak tegang karena perform nanti. Tapi, aku tegang karena mengingat ucapan Doojoon tadi, Jiminie~'
"Aku tidak apa." Jimin mengangguk percaya.
"Aku harap, semuanya berjalan lancar untuk malam ini," harap Jimin yang tampaknya dianggap angin lalu oleh Hoseok yang masih saja memandanginya diam-diam dengan sorot mata penuh kecemasan.
.
.
.
.
.
"appa!" panggil Jungkook berjalan mendekati bangku dimana ayahya duduk bersama dengan orang tua Seokjin dan orang tua Hoseok. Bahkan, Seokjin sendiri masih duduk di samping ayahnya. "Selamat malam, samchon, imo!" sapa Jungkook pada kedua orang tua Seokjin dan Hoseok.
"nde annyeong Jungkookie," balas Yoona, ibu Seokjin ramah. Jungkook pun beralih duduk di samping kanan ayahnya.
"Apa ini sudah mulai club Hoseok untuk tampil?" tanya Jihyo, ibu Hoseok tampak bersemangat. Jungkook dan Seokjin mengangguk bersamaan.
"nde, Jimin hyung juga ikut tampil kali ini." jawab Jungkook.
"Jiminie?" pekik kelima orang tua itu. Jungkook mengangguk.
"ngomong-ngomong soal Jimin, kami belum melihatnya sejak tadi." lanjut Chilhyun. Jungkook dan Seokjin terdiam.
"Jika di tempat keramaian seperti ini atau jika sekolah ada kegiatan, Jimin jarang ikut hadir, appa. Bahkan, meskipun dewan siswa ikut andil tapi ia hampir tidak pernah ikut berpartisipasi." jelas Seokjin yang hanya diangguki oleh Jungkook.
"Setelah acara ini selesai, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Datanglah ke lantai sembilan di gedung utama dan juga jangan lupa katakan pada Hoseok, arraseo?" pesan Jaeduck, ayah Hoseok yang membuat Jungkook dan Seokjin saling berpandangan.
"Bukankah lantai sembilan adalah ruangan kepala sekolah?" tanya Seokjin. Kedua orang tuanya mengangguk.
"Memangnya apa yang akan kalian bicarakan pada kami?" tanya Jungkook. "Kenapa tidak sekarang saja?"
"Hosiki, sedang tidak ada disini, sayang. Kita bicara lagi setelah acara ini selesai, arraseo?" jawab Yoona yang hanya diangguki oleh Jungkook.
Penampilan club dance yang sekaligus menjadi penampil terakhir dari lima club yang ikut andil dalam festival tahun ini, benar-benar diluar dugaan banyak orang. Hampir lebih dari sebagian orang terutama para siswa hingga guru, mengira bahwa yang akan tampil hanya para anggota kelas dua, atau bisa dikatakan anggota club yang tahun lalu mengikuti kompetisi dan berhasil menduduki juara pertama mengalahkan sekolah-sekolah lain yang turut bersaing.
Karena, mulai dari club taekwondo dan teater yang tampil kemarin hanya mengajukan siswa-siswi yang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Begitu pula dengan club vocal apalagi club musik. Dan tentu saja, banyak para penonton yang merasa terkejut sekaligus tercengang dengan giliran club dance kali ini. Dimana, untuk kali pertama club dance mengikut-sertakan seluruh anggota untuk ikut andil yang jumlah anggotanya sekitar 40-an orang.
Sorak-sorai tepuk tangan dan seruan penyemangat dari para penonton serta decakan kagum melihat betapa indahnya gerakan pembuka dari sekitar tiga puluhan orang yang terlihat sinkron satu sama lain.
Bahkan, tak hanya sampai disitu. Para penonton kembali dibuat takjub ketika melihat formasi dari penampil pembuka untuk menampilkan pemain selanjutnya yang tergabung sebagai pemain inti, Kim Jongin dan Kang Seulgi dengan para penari pembuka tadi yang kini menjadi seperti penari latar bagi keduanya. Hingga berganti irama berganti pula formasi yang kali ini bertukar posisi dengan pemain inti pertama dan diganti dengan Soonyoung, Sowon, Hakyeon dan Sehun. Sowon yang satu-satunya menjadi pemain wanita di penampil kedua menjadi center dan pokok gerakan dari ketiga pemuda yang ikut tampil bersamanya.
Irama musik, semakin lama semakin berubah menjadi tegang terlebih ketika pemain tambahan ikut masuk dan bergabung seperti layaknya seorang rival yang ingin menjatuhkan rival-nya yang lain. Eunbi masuk dan langsung berhadapan dengan Sowon serta Yugyeom, Taeyong dan Mark Lee yang ikut bergabung bersama Soonyoung, Hakyeon dan Sehun. Kedelapannya pun menari dengan eloknya dengan masih para penari pembuka yang menjadi penari latar mereka.
Para penonton berdecak kagum dan dalam hati mereka menantikan penampilan si ketua club serta center dari kompetisi tahun lalu, Jung Hoseok dan Park Jimin yang masih belum muncul yang padahal penampilan di panggung sudah mencapai hampir klimaks.
"Kenapa Hoseok sunbaenim belum muncul?" bisik beberapa siswa yang masih menantikan munculnya si ketua club.
"Mungkin, dia muncul setelah ini." balas siswa lain yang juga tengah duduk di sampingnya.
"Aku kira club dance hanya meminta siswa kelas dua yang ikut kompetisi tahun lalu. Mereka benar-benar diluar dugaan."
"Oya, bukankah katanya Park Jimin ikut andil? Tapi, kenapa dia masih belum juga muncul di perform inti?"
"hm, justru yang tampil di inti adalah gabungan dari festival tahun lalu dan anggota yang ikut kompetisi kemarin."
"oh, mungkin mereka akan muncul sekarang ini. Lihatlah!" pekik siswa lain menunjuk kearah panggung yang satu-persatunya dari delapan orang itu bergerak mundur seolah akan menjemput seseorang. Dan, jika mereka kira itu adalah Hoseok dan Jimin, maka dugaan mereka pasti—
"woah, mereka benar-benar diluar dugaan." desah beberapa siswa yang mengaku takjub dengan dugaan mereka yang terus melesat karena bukannya Hoseok dan Jimin yang muncul, akan tetap Jongin dan Seulgi yang kini juga menari bersama dengan kedelapan rekannya yang lain serta juga bersama para penari yang tampil sebagai perform pembuka mereka.
"woah~ Lee ssaem, club dance sudah berkembang pesat sekarang!" puji guru Yang Yoseob yang juga sebagai pembina dari club vocal. Guru Lee terkekeh dan menatap bangga kearah panggung dimana anak didiknya tengah menampilkan penampilan klimaks.
"nde, dan kau percaya atau tidak guru Yang, aku hanya mengandalkan dua siswa untuk memberikan perform megah seperti ini." jawab guru Lee bangga. Yang membuat guru-guru yang duduk di samping kiri-kanannya menatap guru Lee penasaran. Guru Lee terkekeh. "Kalian akan melihat dua siswa yang kumaksud di acara penutup setelah ini. Dua siswa yang menjadi peran besar dalam festival untuk club dance tahun ini." ucap guru Lee tak sabar dan masih dengan senyum jenaka penuh teka-teki di wajahnya yang membuat beberapa guru menerka-nerka siapa kiranya dua siswa yang memiliki peran besar untuk mengatur penampilan yang mengikut-sertakan banyak orang di dalamnya.
Suara musik yang mengiringi penampilan yang memakan banyak orang itu terhenti bersamaan dengan para siswa-siswi yang saling melangkah menuruni panggung mereka dengan langkah berlawanan dan jika seandainya tidak menjadi bagian dari penampilan mungkin langkah mereka satu sama lain akan bertabrakan. Namun, dengan rapinya meskipun terlihat tidak teratur para penari satu persatu menuruni panggung hingga menyisakan dua orang yang berada di bagian belakang panggung dengan mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Hal itu, mengundang banyak bisikan para penonton yang bertanya-tanya siapa dua orang yang tidak turun panggung dan masih bersembunyi di balik jubah hitam mereka.
Kedua orang itu melangkah menuju pusat panggung dengan langkah yang sama dan jarak mereka yang tak terlalu jauh, tak juga terlalu dekat hanya berjarak sekitar lima kaki dari masing-masing tempat mereka berdiri saat ini. Terlihat, keduanya saling menundukkan kepala menunggu dengan kedua telinga mereka dentuman musik yang akan menjadi pengiring mereka. Karena, hingga saat itu suasana panggung masih terlihat hening dan kedua orang berjubah hitam itu yang masih setia berdiam diri.
Dan, bersamaan dengan intro dari sebuah musik bergenre EDM-Hip Hop. Kedua orang itu pun dengan kasar membuka jubah hitam mereka yang sontak membuat seluruh penonton bertepuk tangan ringuh dan tercengang dengan penampilan dari dua orang yang sudah mereka tunggu penampilannya sedari tadi.
"woah, aku kira Hoseok hyung dan Jimin hyung tampil sebagai penari inti." kagum Jungkook, kini ia dan Seokjin sudah berpindah tempat duduk berada di barisan dua dari belakang. Seokjin mengangguk setuju.
"hm, aku rasa untuk festival tahun ini pemenangnya benar-benar tidak bisa ditebak."
"nde hyung. Semua club menampilkan penampilan yang luar biasa." Seokjin tersenyum dan ia menoleh kearah Jungkook.
"Kau akan memberi suara pada siapa?" tanya Seokjin.
"Jika aku bisa memberi suara pada club-ku, aku dengan senang hati akan memilih club vocal. Tapi, peraturan tetap peraturan 'kan hyung?" balas Jungkook. Seokjin terkekeh dan mengangguk paham.
"hm, dan aku harap setelah ini mereka berdua harus berterima kasih kepada kita!"
"nde hyung, apalagi dengan lapang dada aku membiarkanmu memberi suara untuk mereka."
"hey, kenapa ini tampak seperti sebuah konspirasi?" cibir Seokjin. Jungkook tertawa keras. "Lagi pula, mereka pantas mendapatkannya. Jika dipikir-pikir penampilan club dance ini yang benar-benar paling mengena selama aku sekolah disini." Jungkook mengangguk setuju.
"Aku setuju denganmu, hyung." balas Jungkook yang kemudian mereka habiskan untuk memberikan tepuk tangan kepada Hoseok dan Jimin yang memberikan penampilan akhir yang begitu keren.
Hoseok dan Jimin terengah ketika akhirnya keduanya menyelesaikan tarian akhir mereka dengan sempurna tanpa ada kesalahan apapun. Dengan kompak, keduanya membungkukkan badannya di hadapan para audiens yang masih memberikan tepuk tangan meriah dan berbagai sorakan pujian kepada mereka. Bahkan, para guru sampai berdiri dari tempat duduk mereka untuk menyampaikan rasa puas dan bangga mereka dengan penampilan dari club dance yang terhitung tidak pernah mereka tampilkan di tahun-tahun sebelumnya.
Jimin menegakkan tubuhnya begitu pula dengan Hoseok. Ia tersenyum manis kepada para audiens yang masih menyemangati mereka. Jimin menatap wajah para penonton satu-persatu hingga tatapannya bertemu dengan seorang pria berwajah tampan berahang tegas dan kedua matanya yang menyorot tajam kearahnya. Pria yang mengenakan topi hitam serta pakaian serba hitam itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah seringaian ke arah Jimin.
Jimin mengeryit dan tak berniat untuk mengalihkan perhatian dari pria itu terlebih ketika sepasang mata mereka saling bertemu. Dan lagi, di saat yang tidak tepat seperti ini rasa sakit di kepalanya, kembali ia rasakan. Dan kali ini, rasanya lebih hebat dan terasa teramat sakit. Jimin mencoba untuk menahannya dengan mengigit bibir bawahnya yang padahal ia harus menunggu lebih lama lagi di atas panggung untuk memberikan salam terima kasih kepada para penonton bersama dengan para anggota club-nya.
Sungguh, sebenarnya Jimin ingin mengalihkan pandangannya dari pria itu tapi apa daya jika matanya berkeinginan lain yang ingin terus menatap pria yang masih saja menatapnya tak berkedip. Tubuh Jimin bergetar, tubuhnya terasa lemas dan rasa sakit di kepalanya yang semakin berat. Jimin berusaha untuk mengontrol tubuhnya sekuat tenaga, ia tidak mau limbung di depan banyak orang dan merusak acara sekolah.
Dan, untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Jimin melihat pria itu menyeringai menyeramkan kearahnya. Dan, entah kenapa Jimin merasa seringaian itu sama artinya dengan seringai dari pria tua yang ia lihat semalam di atas rooftop gedung asrama. Jimin merasa apa yang ada di sekitarnya berputar, suara-suara bising dari tepukan para penonton tiba-tiba tidak bisa ia dengar dengan jelas dan tergantikan dengan suara nyaring seperti suara tabrakan hebat yang terdengar menakutkan untuknya.
"KAMSAHAMNIDA!"
Jimin seketika tersadar mendengar teriakan dari para anggota club yang kini tengah membungkukkan badannya. Bahkan, ia sendiri tidak sadar kapan ia ikut berbungkuk dengan tangan kanannya yang sudah menggenggam tangan Hoseok dan tangan kirinya yang menggenggam tangan Jongin.
Setelah mengungkapkan rasa terima kasih secara berkelompok, Jimin pun segera bergegas berlari keluar panggung. Tak peduli, jika ia menabrak rekan-rekan satu clubnya yang sontak hal itu membuat beberapa dari mereka menatap Jimin terkejut. Termasuk Hoseok yang merasa ketika ia menggenggam tangan Jimin, ia merasakan tangan Jimin yang gemetar dan keringat dingin mengucur. Membuatnya semakin cemas apalagi melihat Jimin yang tiba-tiba berlari dan menjauhi kerumunan.
"Hoseok-ssi!" panggil Jongin membuyarkan lamunan Hoseok. Hoseok menoleh dan mendapati Jongin yang berdiri di depannya. "Apa Jimin baik-baik saja? Aku merasa tangannya bergetar tadi."
"ah, mungkin dia nervous. Kau tahu bukan, dia yang paling banyak mengurus setiap bagian di semua perform kita kali ini." jawab Hoseok asal. Jongin mengangguk. "Tenang saja, kau tak perlu cemas. Aku satu kamar dengannya. Dia pasti baik-baik saja."
"arraseo, kalau begitu aku pergi dulu, nde?" pamit Jongin yang hanya diangguki oleh Hoseok.
Hoseok yang sudah berada di backstage pun mengedarkan pandangannya untuk mencari Jimin yang sudah hilang seperti ditelan bumi. Hoseok berdecak cemas.
"Anak itu cepat sekali hilangnya!"
"hyung!" panggil seseorang yang Hoseok hafal dengan jelas siapa satu-satunya orang yang memanggilnya hyung di sekolahnya ini. Hoseok menoleh dan mendapati Jungkook yang berjalan kearahnya bersama Seokjin.
"Kau dan Jimin hyung sangat keren, hyung!" puji Jungkook. Hoseok tersenyum senang.
"Kau juga keren Kookie-ya," Hoseok balas memuji.
"Dimana Jimin?" tanya Seokjin. Hoseok tersenyum sekilas.
"Aku tidak tahu, hyung." jawab Hoseok jujur.
"oya, hyung. Ayahmu, sedang menunggumu."
"appa?" Jungkook dan Seokjin mengangguk. "Apa eomma juga datang?" tanya Hoseok yang hanya diangguki oleh Jungkook maupun Seokjin.
"Mereka bilang, ingin membicarakan sesuatu dengan kita. Kita harus segera menemuinya. Mereka sudah menunggu di lantai sembilan!" Hoseok membulatkan kedua matanya terkejut.
"Lantai sembilan? Untuk apa?" tanyanya. Kedua sahabat kecilnya pun mengedikkan bahunya tak tahu.
"Kami tidak tahu. Kajja, hyung! Kita kesana saja, sebelum malam semakin larut!" ajak Jungkook yang hanya diangguki oleh Hoseok.
.
.
.
.
.
"Apa hyung?" pekik Taehyung tak percaya ketika ia yang juga bersama Yoongi dan Namjoon hendak melangkah menuju gedung asrama, tapi nampaknya mereka harus mengurungkan niat awal mereka ketika mendapati asisten Taehyung, Kim Joonmyeon menemui mereka tepat ketika mereka berada di halaman gedung asrama.
"para appa, ingin bertemu dengan kalian." ulang Joonmyeon lagi.
"Untuk apa? Kenapa harus malam-malam seperti ini?" tanya Namjoon.
"Jika kalian ingin tahu, pergilah sekarang. Ada suatu hal penting yang harus mereka bicarakan kepada kalian bertiga." jawab Joonmyeon.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan acara festival 'kan?" tanya Taehyung was-was. Joonmyeon menggeleng.
"Tidak ada, tenang saja Tae!"
"Atau berkaitan dengan hasil pengumuman ujian!" tebak Taehyung mengedipkan kedua matanya takut. Sementara, Joonmyeon kembali menggeleng.
"Tidak Tae, tenang saja. Ini tidak menyangkut tentang sekolah."
"Benarkah?" tanya Taehyung tak percaya. Joonmyeon mengangguk menyakinkan. "Bagaimana hyung?" tanya Taehyung pada kedua hyung-nya. Yoongi menarik nafas dan Namjoon hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Apa boleh buat. Kajja, kita pergi sekarang!" balas Yoongi berjalan mendahului mereka dan melangkah menuju gedung utama, dimana tempat ayahnya dan kedua ayah sahabat kecilnya tengah menunggu mereka.
"Masuklah, kami akan menunggu disini!" ujar Joonmyeon saat ia sudah mengantar tuan mudanya bersama dengan kedua sahabatnya di sebuah ruangan di lantai sembilan di gedung utama. Dan, tidak hanya Joonmyeon yang berdiri di depan ruangan itu, ada Sehyuk dan juga Hyunwoo. Bahkan, ada tiga pria lainnya yang umurnya tampak tak jauh dari ketiga asisten Yoongi, Namjoon, dan Taehyung.
"hyung, siapa mereka?" bisik Taehyung melirik kearah tiga orang yang juga sebelumnya membungkukkan badan mereka tepat ia dan kedua hyung-nya datang.
"Sudah cepat masuk, jangan banyak bertanya! Mereka semua sudah menunggu kalian!" sela Sehyuk tak sabar. Taehyung mengerjapkan kedua matanya lucu.
"Mereka siapa hyung?" tanya Taehyung lagi yang membuat ketiga asisten itu berdecak tak sabar.
"Sudahlah, kalian masuk saja!" titah Joonmyeon tak sabar.
"arra, arra hyung! Tak perlu galak seperti itu!" cibir Taehyung kesal yang kemudian, ia meraih kenop pintu dan membukanya perlahan.
Taehyung memasuki ruangan diikuti Namjoon dan Yoongi, ketiganya mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan yang sepertinya biasa digunakan sebagai ruang rapat. Namun, ketiganya dengan kompak menghentikan langkah mereka ketika melihat tiga wajah asing serta tiga wajah yang familiar yang juga berada di ruangan itu.
"oh, kalian sudah datang!" sambut Wonjoong antusias. Kemudian, dengan langkah ragu Taehyung, Namjoon dan Yoongi pun melangkah duduk bersebelahan dengan ketiga pemuda yang sudah mereka kenali sebelumnya.
Hening, tak ada satupun dari mereka yang berbicara meskipun banyak pertanyaan yang muncul di pikiran mereka masing-masing.
"Jadi, ada apa?" dan akhirnya untuk pertama kalinya Yoongi yang memecah keheningan diantara kedua-belas orang itu. Yoongi yang berhadapan langsung dengan sang ayah hanya menatapnya datar bahkan tak menyempatkan untuk bersapa ataupun sekedar berbasa-basi untuk menanyakan kabar satu sama lain.
"Apa kalian semua tidak ingat jika kalian pernah bertemu saat kalian duduk di bangku sekolah dasar sebelumnya?" tanya Seungwon yang membuat keenam pemuda di depan mereka terdiam dan tampak mengingat.
"Pertama kali kalian bertemu saat itu—Jungkookie, masih berumur delapan tahun." lanjut Seungho, ayah Jungkook dan menatap kearah putra semata wayangnya yang duduk berseberangan dengannya. Yap, tiga pemuda yang Taehyung, Namjoon, dan Yoongi kenali itu tak lain dan tak bukan adalah Seokjin, Hoseok, dan Jungkook.
"Delapan tahun?" gumam Jungkook masih berusaha untuk mengingat.
"Restoran!" sahut Namjoon tiba-tiba yang membuat keenam pria paruh baya itu mengulas senyum puas. "Apa itu tempat pertama kali kita semua bertemu?" tanya Namjoon memastikan. Jika dipikir-pikir ini seperti tebak-tebakan yang harus mereka selesaikan untuk mendapat hadiah jika akhirnya mereka mendapat jawaban yang sesuai dengan apa yang pembuat soal inginkan.
"Sudah ingat?" tanya Chilhyun, ayah Seokjin yang masih mendapat jawaban diam dari keenam pemuda itu. "Setelah itu, kalian sempat bermain bersama selama kurang dari sepuluh bulan. Kalian bertujuh!"
"bertujuh?" pekik Taehyung dan Namjoon bersamaan. Karena, jika tidak salah hitung jumlah pemuda yang ada di ruangan itu hanya ada enam orang.
"Kalian lupa?" tanya Jaeduck. "Tentu saja, sepuluh bulan adalah waktu yang singkat untuk bersama. Kalian pasti dengan mudah melupakannya. Apalagi, waktu itu kalian masih kanak."
"Sebenarnya, aku mengingat semua waktu itu samchon. Tapi, aku benar-benar tidak tahu jika tiga bocah waktu itu, adalah mereka bertiga." sahut Seokjin.
"Tapi, ada apa? Kenapa kami dikumpulkan seperti ini?" tanya Taehyung bingung dan keenam pria paruh baya itu diam sejenak.
"Apa kalian ingat Seojoon ahjussi?" tanya Wonjoong pada Taehyung, Namjoon, dan Yoongi. Ketiganya terdiam sementara Seokjin, Hoseok, dan Jungkook hanya diam dan mendengar pembicaraan apa hingga melibatkan ketiganya, terlebih ketika keenam pria paruh baya itu yang nampaknya akan membawa-bawa sedikit kenangan masa kecil mereka.
"Siapa Seojoon ahjussi?" tanya Taehyung mengerjapkan kedua matanya polos.
"Kau tidak ingat? Seojoon ahjussi adalah—"
"Apa Seojoon ahjussi, adalah ahjussi yang pernah membelikan kami mobil mainan?" Namjoon memotong ucapan Wonjoong yang langsung diangguki oleh beberapa dari enam pria itu.
"Benarkah? Aku ingat kalau ahjussi yang membelikan kami mobil-mobilan karena dia-lah satu-satunya paman yang mau membelikan kami disaat para appa tidak mau membelikannya!" seru Taehyung penuh canda yang meskipun tidak ada reaksi dari siapapun atas candaan yang ia lontarkan.
"Dan, dimana beliau sekarang appa? Bagaimana kabarnya? Ah, aku ingat bukankah waktu itu bibi siapa namanya, sedang hamil? Dan, siapa anaknya yang manis itu? Bukankah dia seumuran dengan Taehyung?" tanya Namjoon semangat dan seolah ingatan masa kecilnya datang begitu saja.
"Jimin," sahut Seokjin pelan namun cukup di dengar dengan jelas oleh ketiga pemuda itu.
"ah-ya, namanya Ji—" dan saat tanpa sadar Taehyung hendak menyebut sebuah nama dan bersamaan itu pula ia langsung menghentikan ucapannya dan menoleh kearah Seokjin, Jungkook, dan Hoseok begitu pula dengan Namjoon yang juga merasa familiar dengan nama yang baru saja Seokjin sebutkan. Sementara Yoongi? Dia hanya tetap diam tanpa memandang siapapun.
"Jimin?" gumam Taehyung tanpa sabar.
"Park Jimin!" ulang Seokjin lagi. "Namanya, Park Jimin."
"Aku seperti pernah mendengar namanya," gumam Taehyung tampak mengingat. "oh, bukankah JM-Park juga memiliki nama yang sama dengan anaknya Seojoon ahjussi?" lanjut Taehyung setelah berfikir keras.
"Dia memang orang yang sama!" balas Hoseok jengah.
"ah~ orang yang sam—mwo?!" seru Taehyung terkejut bukan main. "jinjjayo? Apa Park Jimin yang mendapat peringkat satu di angkatan kelas dua itu? Park Jimin yang ikut di club dance? Park Jimin yang—apa kita sedang membicarakan Park Jimin yang sama?" tanya Taehyung heboh.
"nde, itu Park Jimin yang sama!" jawab Seokjin singkat, padat, dan jelas.
"Tapi, jika Park Jimin yang sedang kita bicarakan adalah Park Jimin yang sama, bukankah Park Jimin yang ada di RC ini seorang penerima beasiswa? Bahkan, katanya di seorang yatim piatu." tanya Namjoon.
"Tidak ada program beasiswa di RC, Namjoonie." jawab Seungwon. Namjoon dan Taehyung saling berpandangan.
"Tapi, kata Jinyoung sunbaenim..."
"Seluruh siswa hingga guru di RC mengetahui jika Jimin masuk karena program beasiswa. Tapi, sebenarnya tidak. Jimin masuk karena kami bertiga!" jelas Seungho.
"ah begitu~" Taehyung mengangguk paham. "Lalu, jika Jimin masuk ke RC karena tiga ahjussi ini. Apa yang terjadi pada Seojoon ahjussi? Kenapa harus paman bertiga yang menyekolahkannya?"
"Sekitar delapan tahun yang lalu, keluarga Jimin mengalami kecelakaan maut. Dan, hanya Jimin yang selamat. Sayangnya, Seojoon dan Jiwon yang sedang hamil, meninggal di tempat." jawab Chilhyun. "Tapi, meskipun Jimin selamat, dia juga mengalami trauma yang hebat. Dia mengalami hilang ingatan hingga saat ini." Yoongi, Taehyung, dan Namjoon membulatkan kedua mata mereka tak percaya.
"Lalu, dimana Jimin tinggal setelah kecelakaan itu?" tanya Namjoon.
"Pihak kepolisian menyerahkannya ke panti asuhan." jawab Seungho.
"Apa Jimin tahu, jika keluarganya sudah meninggal?" tanya Taehyung.
"Dia tahu, ketika pihak panti mengatakan padanya bahwa kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan maut." lanjut Seungho.
"Apa para appa memanggil kami semua kemari untuk mengatakan semua ini?" tanya Taehyung kemudian. Keenam pria paruh baya itu saling bertatapan hingga akhirnya, Seungwon mulai berbicara untuk mewakili diantara para orang tua itu.
"Kecelakaan maut yang dialami keluarga Jimin bukanlah ketidak-sengajaan. Melainkan, kecelakaan yang sudah seseorang rencakan sebelumnya."
"Kalau begitu, tangkap pelakunya samchon. Tunggu apa lagi?" Taehyung menyela ucapan Seungwon.
"Pelakunya memang sudah tertangkap dan dipenjara. Tapi, beberapa minggu yang lalu kami mendapat kabar jika mereka sudah bebas."
"mwo?! Bagaimana bisa?" tanya Namjoon.
"Itu karena ada yang memberikan jaminan kepada mereka. Dan, kami yakin orang yang telah membebaskan mereka adalah orang yang dari awal sudah berniat untuk menghancurkan Seojoon bahkan keluarganya." jelas Chilhyun yang kemudian hanya ada keheningan diantara mereka.
"Lalu, apa tujuan kalian mengumpulkan kami semua disini?" dan entah kenapa Yoongi hanya berbicara ketika tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang berbicara.
"Kami ingin meminta bantuan kepada kalian. Untuk menjaga Jimin agar tidak ada yang berniat untuk menyakitinya terutama orang-orang yang sudah mengakibatkan kecelakaan maut yang menimpa keluarga Seojoon." pinta Seonwoong.
"Sebelumnya, Seokjin, Hoseok dan Jungkookie juga menjaga Jimin dan kami pikir jika kalian bertiga ikut menjaganya maka tingkat keamanan Jimin pasti lebih besar." lanjut Seungho.
"Tentu saja, kami akan menj—"
"Kenapa kami yang harus menjaganya?!" Yoongi menyela ucapan Taehyung cepat. Yoongi menatap keenam pria paruh baya itu satu persatu hingga tatapan matanya jatuh pada sang ayah. "Kenapa harus kami yang repot-repot untuk menanggung kesalahan kalian?"
"Min Yoongi!" seru Seokjin yang merasa Yoongi telah berucap kasar dihadapan keenam pria tua itu. Yoongi tersenyum miring.
"Kalian yang membuat Jimin kehilangan keluarganya. Dan, kenapa kami yang harus bertanggung jawab?!"
"MIN YOONGI!" seru Seonwoong tanpa sadar hingga bangkit dari duduknya dan Yoongi yang masih duduk tenang di kursinya. Yoongi tersenyum sinis.
"Kalian tidak mempercayai ayahnya, dan sekarang—kalian meminta kami untuk menjaga putranya?" Yoongi menyeringai bersamaan dengan wajah keenam pria yang mengeras dengan penuturan Yoongi barusan. "wae? Kalian terkejut karena aku mengetahuinya sebelum kalian menceritakannya?! Bukankah kematian keluarga Park adalah kesalahan kalian?"
"hyung!" seru Namjoon dan Taehyung. Yoongi bangkit dari duduknya hingga kini ia berhadapan langsung dengan wajah dingin sang ayah.
"Jika appa dan juga paman sekalian merasa bersalah pada Jimin. Cari dan bunuh orang yang sudah membunuh Seojoon ahjussi dan istrinya bukan hanya berdiri diam di samping Jimin menunggu sampai orang itu benar-benar menyentuh Park Jimin!" seru Yoongi. Kemudian, ia menatap ayahnya dengan kedua matanya yang entah kenapa terlihat penuh amarah di dalamnya. "Jangan terlalu lama bertindak pengecut, pa. Bersyukurlah, jika saat ini Jimin mengalami hilang ingatan hingga ia tidak mengingat apa yang terjadi di masa lalunya. Atau berdoa, jika Jimin melupakan seluruh masa lalunya—selamanya, sehingga kalian tidak perlu repot-repot untuk bertanggung jawab."
"MIN YOONGI!" seru Seonwoong menatap marah kepada putra semata wayangnya.
"wae? Apa appa pikir, aku lupa dari alasan utama kenapa kau memutuskan untuk memindahkanku ke Daegu setelah kecelakaan maut yang menimpa keluarga Seojoon ahjussi?" tanya Yoongi. "Aku masih mengingat semuanya appa! Berita buruk yang menimpa Seojoon ahjussi dan satu pun dari kalian tidak bisa melakukan apa-apa dan justru percaya dengan semua berita buruk itu, hingga akhirnya orang itu yang bergerak lebih dulu. Bahkan, orang itu juga yang sudah menguasai kalian sehingga kalian lebih memilih untuk Seojoon ahjussi menghadapinya seorang diri. Menangggung apa yang bukan kesalahannya! Dan, membiarkan orang itu untuk menyelakai keluarga Park Jimin!"
"hyung, apa yang kau bicarakan?" tanya Taehyung. Yoongi tersenyum kecil, tatapannya masih tertuju pada sang ayah.
"Dulu, aku masih terlalu kecil, pa. Tapi—aku bukan bocah bodoh yang masih berumur sebelas tahun yang hanya bisa diam ketika mendengar semuanya dan tak mengerti apa yang sedang orang dewasa bicarakan. Dan, jangan kau pikir—aku akan melupakannya begitu saja." lirih Yoongi nyalang.
"Yoongi—"
"Jangan mengandalkan orang muda seperti kami, pa. Orang muda yang lebih banyak tidak dipercayai orang tua. Orang muda yang selalu dianggap gegabah. Jadi, jangan melimpahkan tugas yang tidak masuk akal kepada kami—kepadaku terutama! Karena aku, tidak mau ikut campur dalam urusan yang bukan urusanku!" putus Yoongi sebelum akhirnya melengos pergi meninggalkan ruangan yang suasananya semakin hampa.
"Jadi—apa appa juga membohongi kami?" tanya Jungkook setelah kepergian Yoongi. Jungkook menatap ayahnya kecewa. "Jadi, kalian-lah penyebab dari meninggalnya Seojoon samchon dan Jiwon imo?" tanya Jungkook tak percaya. "Sebenarnya, apa yang terjadi appa?!" seru Jungkook menatap ayahnya penuh tuntutan. Seungho menarik nafas dan ditatapnya kelima pemuda itu satu persatu sebelum akhirnya mengatakan dengan seujujurnya apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Jimin.
.
.
.
.
.
Yoongi duduk di salah satu bangku yang ada di lobby gedung utama. Wajahnya tertunduk dengan kedua tangannya yang mengepal. Kedua matanya terpejam ketika rasa bersalah yang sudah ia kubur sejak lama kembali muncul. Terlebih saat ia mengetahui bahwa seseorang yang diam-diam ia cari keberadaannya selama ini ternyata berada di dekatnya.
'Aku tidak bisa melupakan semuanya begitu saja. Karena, aku sudah berjanji padamu untuk mempercayai ayahmu dan menjaga senyummu—menjaga dirimu lebih tepatnya. Tapi—apa yang harus aku lakukan setelah ini? Setelah aku mengetahui jika kau ternyata berada di dekatku selama ini? Apa yang harus aku lakukan saat bertemu denganmu, Jiminie?'
"hyung~" Yoongi seketika mendongak dan mendapati Taehyung yang memanggilnya diikuti Namjoon, Seokjin, Jungkook, dan Hoseok yang entah sejak kapan berdiri di depannya.
"Kami—"
"para appa, sudah menceritakan semuanya?" potong Yoongi dengan tebakan asalnya hanya karena ia melihat wajah sendu dari kelima pemuda yang berdiri di depannya.
"hyung, bagaimanapun juga kami tidak bisa membiarkan Jimin sendiri untuk sekarang ini." lirih Namjoon. Yoongi menarik nafas, dengan berat hati ia bangkit dari duduknya dan menhadapi kelima orang yang berdiri di depannya.
"wae?!" tanya Yoongi galak.
"Karena kau tahu alasannya dengan jelas Yoongi sunbaenim!" balas Jungkook tak sabar.
"Lalu, kalian mau aku menuruti apa yang para appa perintahkan pada kalian, hm?!" tanya Yoongi.
"Jika kau sudah tahu, kenapa kau terlihat marah? Tidakkah kau merasa bersalah apalagi ketika kau mengetahui bahwa Park Jimin yang kau kenal adalah—"
"nde itulah kenapa aku marah!" potong Yoongi tak sabar. "Aku marah karena rasa bersalahku padanya. Dengar! Berfikirlah logis kali ini dan jangan dengarkan apa kata para orang tua itu." pinta Yoongi. "Kalian mengetahui dengan jelas penyebab kematian kedua orang tua Jimin. Dan, apa ketika kita hanya diam menjaganya apa semuanya bagi Jimin akan baik-baik saja?"
"hyung, sebenarnya ada apa denganmu bukankah selama ini kau dekat dengan Park Jimin? Kenapa kau terlihat keberatan?" tanya Taehyung. Yoongi menarik nafas lelah.
"Karena, ini bukan urusanku. Kenapa aku harus repot-repot untuk ikut campur dan menuruti permintaan appa?" jawab Yoongi yang membuat kelima orang itu menatap Yoongi tak mengerti.
"hyung, apa selama ini kau mendekati Park Jimin hanya main-main?" tanya Namjoon setelah hanya ada keheningan diantara mereka. Dan, tanpa berfikir panjang Yoongi pun menjawab pertanyaan Namjoon dengan ringan mengatakan,
"nde, aku hanya main-main dengannya!" jawab Yoongi, suaranya terdengar tegas yang membuat kelima orang yang berdiri di depan Yoongi menatap Yoongi tak percaya terlebih ketika kelimanya tak sengaja melihat sosok yang sedang mereka bicarakan berdiri tak jauh dari mereka berdiri dengan ditemani salah satu seniornya.
"Min Yoongi, hentikan ucapanmu!" pinta Seokjin mencoba memberi kode.
"wae, kalian tidak terima? Jika aku—"
"HYUNG!" seru Namjoon dan Taehyung kompak. Taehyung mengisyaratkan mata agar Yoongi menoleh ke samping kirinya. Yoongi mengangkat sebelah alisnya dan tanpa membuang waktu, ia segera menoleh dan mendapati Jimin yang berdiri tak jauh darinya bersama Doojoon yang juga berdiri di sampingnya.
Seketika, kedua mata sipit Yoongi bertemu dengan kedua mata sayu Jimin yang hanya memandangnya tanpa minat. Wajah manisnya yang sedikit pucat dan datar serta mimik yang sulit terbaca dari ekspresi yang sedang ia tunjukan saat ini.
"Kalian—masih disini?" sapa Doojoon memecah kecanggung diantara Jimin dan keenam orang yang sepertinya sedang membicarakan tentang Jimin.
"oh, annyeongasseo sunbaenim!" sapa Jungkook kaku. Doojoon hanya mengulas senyum.
"sunbaenim, aku ke unit kesehatan terlebih dahulu." pamit Jimin dan bergegas meninggalkan tempatnya berdiri, mengabaikan tatapan dari keenam orang yang menatapnya tak enak hati.
"tap—tapi, Jimin-ssi—" Doojoon mencoba untuk mencegah Jimin. Namun, tampaknya diabaikan oleh junior manisnya itu.
"Apa yang sunbaenim lakukan disini?" tanya Jungkook mencari tahu.
"ah, aku hanya mengantar Jimin-ssi mengambil persediaan obat. Kebetulan, persediaan obat di ruang santai sudah habis." jawab Doojoon yang membuat keenam pemuda itu saling berpandangan.
"Apa Jimin sakit?" tanya Seokjin kemudian. Doojoon diam sejenak.
"Sepertinya dia sedang tidak enak badan." jawab Doojoon sekenanya. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Cepatlah kembali ke asrama jika urusan kalian sudah selesai. Selamat malam!" pamit Doojoon yang kemudian menyusul Jimin yang sepertinya sudah berada di unit kesehatan.
Sepergian Doojoon, dengan kasar Hoseok mencekeram kerah baju Yoongi yang membuat kedua pemuda itu saling bertatapan tajam.
"Dengar Yoongi-ssi. Maksud dari menjaga Jimin disini adalah menjaga memori ingatannya!" ujar Hoseok. Yoongi hanya diam mendengar. "Kau tahu, bagaimana fatalnya jika ingatan masa lalu Jimin tiba-tiba datang? Atau secara diam-diam Jimin mencoba untuk memaksa agar ia mengingat semua masa lalunya?" tanya Hoseok. "Dengar, mungkin bagi orang tua kita mereka mencemaskan jika Jimin mengingat semuanya dan beralih membenci mereka bahkan bisa saja juga membenci kita terkait dengan kejadian yang pernah Jimin alami hingga menewaskan kedua orang tuanya. Tapi, kami lebih mencemaskan kondisinya!" terang Hoseok. Yoongi mengangkat sebelah alisnya tak paham.
"Menjaga bukan berarti hanya diam dan mengawasi Yoongi-ssi. Menjaga bisa berarti mencegah. Kita harus mencegah kemungkinan buruk yang terjadi jika Jimin merasakan sakit karena amnesia-nya. Maka dari itu, kita harus tetap berada di sampingnya!" lanjut Hoseok.
"Apa maksudmu?" tanya Yoongi tak paham. Hoseok melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Yoongi. Kemudian ia serta Seokjin, Jungkook, Namjoon dan Taehyung menatap Yoongi lamat sebelum akhirnya Hoseok memutuskan untuk mengatakan hal mengerikan bagi Yoongi.
"Ada kemungkinan Jimin bisa melupakan masa lalunya atau lebih parahnya lagi dia bisa mengalami gangguan pada syaraf pusatnya." jawab Hoseok. Yoongi terdiam, tubuhnya lemas dan kedua matanya tak fokus dan mengerjap kesana kemari. Mimik wajahnya seperti orang linglung. Yoongi mengeluarkan satu hembusan nafas berat. Ia memejamkan kedua matanya, berfikir keras langkah apa yang harus ia lakukan setelah semua fakta yang baru saja didengarnya.
.
.
.
.
.
"Karena, ini bukan urusanku. Kenapa aku harus repot-repot untuk ikut campur dan menuruti permintaan appa?"
"hyung, apa selama ini kau mendekati Park Jimin hanya main-main?"
"nde, aku hanya main-main dengannya!"
"Min Yoongi, hentikan ucapanmu!"
"wae, kalian tidak terima? Jika aku—"
"HYUNG!"
Jimin melamun dengan tangan mungilnya yang memilih obat-obatan yang ada di unit kesehatan. Kedua matanya kosong dan terlihat tak berminat sama sekali untuk mengambil obat yang sedang ia cari.
"nde, aku hanya main-main dengannya!"
"nde, aku hanya main-main dengannya!"
"nde, aku hanya main-main dengannya!"
Dan entah kenapa satu kalimat yang baru saja ia dengar terus berputar di otaknya. Jimin memejamkan kedua matanya dan menggeleng kasar. Kenapa ia merasa ada sebersit rasa kecewa dari hatinya hanya karena mendengar seniornya, Min Yoongi mengatakan hal itu tentangnya? Di belakangnya?
"Jimin-ssi?" panggil Doojoon membuyarkan lamunan Jimin. Jimin pun menoleh.
"nde?" sahut Jimin langsung.
"Apa kau baik?" tanya Doojoon terlihat cemas.
"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri. Doojoon mengangguk. "Baik tentu saja. Memangnya ada apa denganku sunbaenim?"
"Benar kau tidak apa?" tanya Doojoon memastikan. Jimin mengangguk yakin.
"nde."
"Dan, setelah apa yang dikatakan Min Yoongi tadi. Apa kau tidak merasa—"
"Apakah selama ini aku dan Yoongi sunbaenim terlihat dekat atau memiliki hubungan?" potong Jimin menatap Doojoon intens membuat Doojoon menjadi gugup entah karena apa.
"ani, hanya saja meskipun kalian tidak dekat tapi bukankah ucapannya sedikit menyakitkan?" Jimin tersenyum sekilas.
"Aku baik dan tidak peduli dengan ucapannya tentangku!" balas Jimin dingin. "Justru aku bersyukur karena bisa mendengarnya. Karena dengan begitu, aku menjadi sadar bahwa semua orang yang ada di sekolah ini hanya sekumpulan orang yang tidak berperasaan dan beberapa orang yang hanya bisa bertindak pengecut." lanjut Jimin yang membuat Doojoon terdiam membeku. "Terima kasih sudah mengantarku sunbaenim, aku pergi!" pamit Jimin dan melengos meninggalkan Doojoon begitu saja. Kedua mata Doojoon berkedip. Ucapan Jimin terus terngiang di pikirannya tanpa henti.
'Pengecut? Apa aku juga salah satu orang pengecut karena telah diam-diam tertarik padamu, Jiminie? Atau pengecut karena secara tidak langsung kau mengalami hal sulit selama ini karena aku?'
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari usai ujian serta hari usai festival adalah hari tenang bagi seluruh siswa-siswi di RC. Apalagi, mereka harus menunggu tiga hari untuk pengumuman pemenang festival kemarin. Beberapa dari mereka ada yang memilih untuk menghabiskan waktu di kamar asrama mereka, ada juga yang tengah berehat di taman sekolah, di cafetaria, menghabiskan waktu dengan bermain basket bersama teman-teman mereka atau ada juga yang bermain futsal, hingga ada juga yang menghabiskan waktu di studio club yang mereka ikuti. Atau bahkan mungkin ada juga yang menghabiskan waktu luang mereka di ruang santai yang ada di gedung asrama. Seperti saat ini, ruang santai yang kadang-kadang ramai kini tidak biasanya hanya dihuni oleh enam orang. hm, siapa lagi jika bukan Yoongi, Namjoon, Taehyung, Seokjin, Jungkook, dan juga Jung Hoseok?
Sebenarnya cukup aneh melihat mereka yang sebelumnya seperti tak pernah mengenal satu sama lain tapi bisa terlihat akrab seperti saat ini. Bagaimana Hoseok, Namjoon, dan Seokjin yang menghabiskan waktu mereka dengan bermain dart secara bergilir. Lalu, Jungkook dan Taehyung yang juga tengah sibuk dengan meja bilyard yang memang ada di ruang santai itu. Sementara Yoongi? Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan tidur di sofa dan mengabaikan segala pekikan ramai dari kelima orang yang benar-benar tidak bisa diam.
"Kau tahu, hyung? Sepertinya apa yang dikatakan Jungkookie itu benar." ujar Hoseok mulai berbincang serius. Namjoon yang mendapat gilir melempar panah dart-nya pun hanya mendengar apa yang akan Hoseok katakan pada Seokjin. Jungkook yang mendengar namanya disebut pun hanya sekilas menoleh kearah kedua hyung-nya kemudian kembali melanjutkan memainkan bilyardnya bersama Taehyung. Dan, Yoongi? Jangan tanyakan dia, dia masih terlelap dalam mimpinya meskipun sebenarnya ia masih mendengar setiap percakapan antara kelimanya.
"Memangnya apa yang Jungkook katakan?" tanya Seokjin penasaran.
"Soal Yoon Doojoon yang menyukai Jiminie." jawab Hoseok ringan yang mampu membuat Namjoon menghentikan melempar panah dart-nya, begitu pula dengan Jungkook dan Taehyung yang langsung menoleh kearah Hoseok. Sementara Yoongi, dia semakin menajamkan kedua telinganya ketika nama Jimin yang baru saja Hoseok sebut.
"Apa maksudmu, hyung? Kemarin kau mengatakan itu hal mustahil dan sekarang?" tanya Jungkook.
"Memangnya apa yang kau katakan sebelumnya?" tanya Taehyung ingin tahu.
"Itu hyung, beberapa hari yang lalu aku memergoki Seulgi sunbae memasukkan surat di dalam loker Jimin hyung." jawab Jungkook yang membuat Yoongi mengeryitkan keningnya meskipun masih dengan mata terpejam.
'Jadi, gadis itu masih mengirimi Jimin surat? Sial! Susah sekali memberitahunya!'
"Katanya Doojoon sunbae dan—huh?" Jungkook membulatkan kedua matanya tak mengerti ketika Seokjin melirik kearah Yoongi yang masih tertidur. Jungkook menggigit bibir bawahnya paham.
"Dan apa?" tanya Namjoon ikut penasaran.
"Dan katanya, Doojoon sunbae menyukai Jiminie hyung."
"MWO?!" itu pekikan Yoongi yang langsung bangun dari tidurnya dan menatap Jungkook tajam.
"Kau tidak tidur, hyung?" tanya Taehyung sempat terkejut.
"yak! Apa kau pikir aku bisa tidur dengan suara ribut seperti ini?" seru Yoongi terlihat kesal.
"Tapi, kenapa kau terlihat kesal seperti itu? Kau memang menyukai Jiminie, ya?" tebak Seokjin seraya tersenyum jahil.
"aniyo—aku hanya. Aish, sudahlah! Terserah kalian!" jengah Yoongi yang membuat kelima orang itu terkekeh.
"ah hyung, memangnya kenapa kau mengatakan jika Doojoon sunbae benar menyukai Jiminie hyung?" tanya Jungkook kembali ke topik awal.
"Dia terlihat cemas kemarin." jawab Hoseok berjalan menuju sofa kosong di depan Yoongi begitu pula dengan keempat lainnya yang juga ikut duduk dengan Taehyung yang duduk bersebelahan dengan Jungkook dan Yoongi. Seokjin yang duduk di samping Hoseok dan Namjoon yang duduk di sofa tunggal.
"Dia mengatakan padaku, ketika ia tak sengaja bertemu dengan Jimin di toko serba guna dan Jimin terlihat kesakitan dan memegang kepalanya. Apalagi, saat itu Jimin sedang memilih miniatur teleskop. Kalian ingat 'kan? Teleskop adalah benda kesukaan Jimin sejak kecil?" tanya Hoseok kemudian.
"Itu artinya, pasti Jimin merasa familiar dengan benda-benda kesukaannya sejak kecil dan maka dari itu mungkin ada beberapa ingatan yang masuk ke memori Jimin. Tidak hanya itu, waktu selesai festival kemarin aku merasa tubuhnya bergetar dan penuh keringat dingin, dan ketika aku memegang tangannya, dia seperti tidak sadar bahkan Jongin juga menyadarinya. Aku yakin, pada waktu itu ada sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu Jimin yang membuat Jimin harus menahan rasa sakitnya karena tanpa sengaja harus mengingatnya." terang Hoseok. Kelima orang itu terdiam.
"Sebenarnya aku pernah melihat Jimin dalam keadaan seperti itu." lirih Yoongi yang membuat kelima orang di depannya membulatkan kedua mata mereka terkejut.
"mwo?!" pekik mereka bersamaan.
"Kenapa kau tidak pernah cerita, hyung?" tanya Taehyung.
"Kejadiannya pada malam pertama festival. Tepatnya ketika sedang ada pertunjukan di club teater. Aku bersama Jimin di rooftop gedung asrama. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, dia tiba-tiba terjatuh dan meremat rambutnya bahkan dia tanpa hentinya berteriak mengerang kesakitan. Sungguh, aku benar-benar khawatir melihat kondisinya seperti itu." cerita Yoongi yang membuat kelima orang di depannya seketika mengulas senyum. Yoongi yang merasa kelima orang itu menatapnya dengan tatapan tak biasa pun menjadi salah tingkah. "wae, wae, wae? Apa aku salah?"
"Kau mengingatkanku pada Min Yoongi delapan tahun yang lalu." sahut Seokjin.
"Itu benar hyung, kau selalu ada untuk Jimin hyung. Tapi, kenapa kau mengatakan hal menyebalkan seperti kemarin?" tanya Jungkook tak mengerti. Yoongi tersenyum kecil.
"Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu?"
"aish, hyung—jawab saja apa susahnya?!" pinta Taehyung tak sabar.
"nde, kau bahkan sudah membuat peluang kami untuk mendekati Jimin hilang seketika karena ucapanmu itu!" lanjut Hoseok menuntut. Yoongi terkekeh yang membuat kelima orang itu semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Min Yoongi.
"Karena aku tidak ingin membuat orang tua kita menjadi hanya berdiri diam karena telah menyerahkan Jiminie pada kita semua." jawab Yoongi akhirnya.
"mwo?"
"Aku tidak pernah keberatan untuk menjaganya. Tapi, tidakkah menurut kalian memang harus orang tua kita yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua Jimin?" tanya Yoongi. Kelima orang itu terdiam. "Aku—ingin memberi sedikit pelajaran pada mereka."
"ya ampun, hyung! Kau jahat sekali!" desis Namjoon tak menyangka. Yoongi hanya tersenyum acuh.
"Tega sekali kau mengatakan hal itu pada para appa!" sahut Taehyung tak habis pikir.
"Lalu, bagaimana lagi? Jika tidak begitu, tragedi delapan tahun yang lalu akan kembali terulang. Jika tidak begitu, para appa tidak akan bertindak dengan cepat. Mereka memiliki kekuasaan politik setidaknya mereka bisa sedikit mengambil kesempatan dari jabatan mereka 'kan?" tanya Yoongi. Kelima orang itu tertawa.
"Tapi, aku rasa apa yang dikatakan Yoongi itu benar. Setidaknya, para appa juga bisa mengantisipasi jika tiga mata-mata itu atau penyuruhnya mulai mendekati Jimin." setuju Seokjin yang diangguki oleh mereka yang merasa apa yang dikatakan Yoongi memang ada benarnya. Namun, tanpa mereka sadari ada seorang yang tak sengaja mendengar seluruh pembicaraan mereka di balik dinding koridor menuju ruang santai. Seseorang itu menyeringai.
'oh lihat saja, sebentar lagi apa yang sedang kalian jaga akan hancur dalam hitungan detik!'
TBC
(-) Mulai chapter ini, bakal fokus ke masalah Jimin sama yang lain. Maaf kalau chapter kemarin enggak memuaskan, dan agak aneh kalian bacanya, karena bagaimana pun juga itu bagian dari cerita. Dan, semoga lanjutannya kali ini gak ngecewain.
(-) Thx yang udah review, dan yang pada nunggu update-nya ff ini.
Kamsahamnida,
