Previously ...

"Datanglah ke studio dewan siswa dalam tiga puluh menit ke depan bersama kedua temanmu. Aku tunggu!" bisiknya yang kemudian menghempaskan tangan Yoongi kasar dan berlalu begitu saja diikuti Minho, Jinyoung, Daehyun, dan Myungsoo yang turut mengekor. Yoongi menatap kepergian kelima orang itu.

"Apa yang dikatakannya, hyung?" tanya Taehyung. Yoongi membenarkan kemejanya yang sedikit kusut akibat ulah Doojoon

"Kita diundang ke tempat peristirahatan terakhirnya." Taehyung dan Namjoon terhenyak dan sontak menoleh kearah Yoongi bingung. Yoongi tertawa kecil. "aish, sudahlah—nanti kalian juga tahu!" lanjut Yoongi tak ingin ambil pusing.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari kedua festival ...

"Semuanya sudah siap 'kan?" tanya Doojoon pada ketiga ketua club dari club vocal, musik, dan dance yang dijadwalkan akan tampil di hari kedua. Doojoon menatap Kyungsoo, Junhyung dan Hoseok menunggu jawaban dari mereka bertiga.

"Semua persiapan club vocal sudah selesai!" jawab Kyungsoo tenang. Doojoon mengangguk dan beralik menatap Junhyung dan Hoseok.

"Club musik juga sudah siap." sahut Junhyung.

"Club dance lebih dari siap."

"Baiklah kalau begitu, lakukan yang terbaik. Aku harap, penampilan untuk festival hari ini lebih meriah dari pada kemarin," harap Doojoon yang hanya diangguki oleh ketiga ketua itu.

"Kalau begitu, aku pergi dulu Doojoon-ssi, ada sesuatu yang harus aku urus." pamit Kyungsoo yang hanya diangguki oleh Doojoon.

"Aku rasa aku juga harus pergi. Sampai jumpa Doojoon-ssi, Hoseok-ssi." lanjut Junhyung ikut pamit pergi setelah Kyungsoo sudah berjalan menjauh meninggalkan mereka. Doojoon mengangguk dan membiarkan Junhyung untuk pergi begitu saja.

"Hoseok-ssi!" panggil Doojoon setelah kepergian Kyungsoo dan Junhyung, ia beralih menatap Hoseok intens.

"Ada apa?" tanya Hoseok merasa jika ada yang menganggu pikiran si ketua dewan siswa-nya ini.

"Kau sekamar dengan Park Jimin 'kan?" Doojoon balik bertanya yang hanya dibalas anggukan dari Hoseok. "Apa dia sering sakit kepala?" Hoseok membulatkan kedua matanya menatap Doojoon terkejut.

"Maksudmu?"

"Aku tidak tahu harusnya aku bertanya padamu atau tidak. Tapi, karena kau satu kamar dengannya mungkin kau juga pernah melihat Jimin dalam keadaan tidak baik." terang Doojoon, Hoseok menunggu kelanjutan ucapan Doojoon dengan sabar. "Aku pernah tidak sengaja bertemu dengannya di toko serba guna, saat itu ia terlihat sangat kesakitan. Apa Jimin sedang sakit?" Hoseok terdiam, lebih tepatnya ia terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang baru saja Doojoon tanyakan.

"Sakit?" Doojoon mengangguk.

"Dia terlihat sangat pucat waktu itu. Keadaannya benar-benar buruk. Bahkan, ketika aku memegang tangannya, tangannya bergetar dan penuh keringat." Hoseok terdiam sejenak.

"Apa kau tahu, apa yang sedang Jimin lakukan saat itu?" tanya Hoseok. Doojoon tampak mengingat.

"Dia sedang memilih miniatur dan jika tidak salah ingat aku melihatnya ia sedang memegang miniatur teleskop. Tapi, tidak ada hubungannya 'kan?" Hoseok tersenyum dan ia pun mengangguk.

"nde aku hanya bertanya, mungkin saja ia terjatuh atau semacamnya. Tapi, sejak aku satu kamar dengan Jimin dia tampak baik-baik saja."

"Benarkah?" Hoseok mengangguk.

"Mungkin saja waktu itu dia sedang tidak enak badan." Doojoon mengangguk percaya. "Kalau begitu, aku pergi dulu Doojoon-ssi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan."

"nde, arraseo!" balas Doojoon yang kemudian hanya membiarkan Hoseok pergi begitu saja.

Doojoon berbalik badan dan berniat untuk mengecek persiapan festival lainnya sebelum langkahnya kembali terhenti ketika ia mendengar suara Minho, teman sekelasnya, sekaligus temannya sejak kecil memanggil namanya dengan lantang dan terdengar terburu.

"Ada apa?" tanya Doojoon melihat Minho yang tampak terengah. Minho menarik nafas sebentar sebelum akhirnya menatap Doojoon serius.

"Kau tahu, kakakmu ada disini?"

"Mwo?!" pekik Doojoon terkejut.

"Kau tidak tahu?" tebak Minho setelah melihat ekspresi Doojoon. Doojoon menggeleng polos.

"Dia—sudah keluar dari penjara?" gumam Doojoon tak percaya. "Tapi, apa yang dia lakukan disini? Dia bersama siapa?"

"Mollayo, aku tidak sengaja berpapasan dengannya di halaman gedung utama. Apa ibumu dan ayah tirimu juga datang?" tanya Minho, Doojoon terdiam. "Yoon Doojoon!" panggilnya dan membuat Doojoon tersentak.

"Aku rasa, aku harus menemuinya. Terima kasih, Minho-ya!" Doojoon menepuk pundak Minho dan melesat pergi meninggalkan temannya begitu saja.

Doojoon terengah setelah ia berlari dari lapangan utama outdoor sekolah sampai di halaman gedung utama. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru halaman gedung utama, mencari sosok yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah ia temui.

"Mencariku?" tanya seseorang berasal dari belakang Doojoon yang membuat Doojoon langsung berbalik badan.

"Apa yang kau lakukan disini, hyung?!" tanya Doojoon terlihat tak suka. Pria yang Doojoon cari yang tak lain adalah kakak kandungnya itu pun menyeringai dan menatap Doojoon tajam.

"Seharusnya kau bertanya 'apa kabar hyung?' bukan 'apa yang kau lakukan disini, hyung?'. Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai kakakmu lagi?" Doojoon menarik nafas, menahan amarah.

"Jika kau mencari eomma dia tidak datang kemari!"

"Aku tidak sudi bertemu dengan wanita jalang itu!"

"HYUNG!" seru Doojoon tak terima ketika kakaknya menghina ibunya. Pria itu menyeringai.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni anak mama sepertimu!" desisnya masih menatap Doojoon tajam.

"Pergilah, hyung! Apapun rencanamu kemari, aku mohon jangan membuat masalah!" pria itu tertawa keras.

"Pergi? Aku akan pergi setelah urusanku selesai. Tapi, kau tenang saja. Aku tidak akan membuat onar di sekolah mewahmu ini hanya karena aku seorang mantan narapidana!" Doojoon mengepalkan kedua tangannya.

"hyung, kau tidak berniat untuk menemui anak dari kedua orang tuanya yang sudah kau bunuh 'kan?" tebak Doojoon, pria itu tertawa kesetanan.

"Jika aku gurumu, aku akan memberimu nilai seratus—anak pintar!"

"Jadi, benar—anak itu berada disini?" tanya Doojoon lagi. Pria itu semakin menyeringai lebar. "hyung, apa kau tidak merasa bersalah karena telah membunuh kedua orang tuanya dengan sengaja dan sekarang? Apa yang akan kau lakukan padanya?"

"Jangan ikut campur urusanku, Yoon Doojoon! Aku tidak akan berhenti, jika anak itu belum mati ditanganku!"

"HYUNG! Sadarlah! Apa yang kau lakukan ini tidak benar! Apa tidak cukup kau sebelumnya sudah menghancurkan hidupnya dengan membunuh kedua orang tuanya, dan sekarang? Apa yang kau dapat jika kau berhasil membunuhnya?!" pria itu menatap Doojoon dengan kedua matanya berkilat menyeramkan.

"Jangan menghalangiku Yoon Doojoon, atau aku—tidak segan-segan untuk membunuhnya di sekolah ini!" ancam pria itu yang kemudian meninggalkan Doojoon begitu saja. Doojoon terdiam di tempatnya berdiri.

'Sebenarnya siapa? Siapa orang yang dia cari?' batin Doojoon dan berinisiatif untuk mengikuti pria itu diam-diam.

Doojoon berjalan mengendap dengan jarak yang cukup jauh dari pria yang ia awasi, yang kini berada di pinggir lapangan outdoor tepatnya berada di belakang tenda backstage club dance. Ia menatap intens kearah pria itu yang sepertinya tengah mematai keberadaan seseorang. Kedua matanya yang berkilat tajam serta aura membunuh yang menguar di sekelilingnya membuat Doojoon was-was melihatnya. Apalagi, setelah kedua mata itu menangkap objek yang sudah ia cari sejak kedatangannya ke RC.

Doojoon menatap teliti dengan segala gerak-geriknya dan kemudian ikut melihat kearah pandang pria itu. Doojoon mengeryitkan keningnya ketika ia melihat bahwa tidak ada siapa-siapa di belakang tenda itu, sebelum akhirnya kedua matanya menangkap seseorang yang baru saja meneggakkan tubuhny, kemudian berbalik badan dan masuk ke dalam backstage.

"Park Jimin?" gumamnya terkejut bukan main. Kemudian, Doojoon mengalihkan pandangannya pada sang pria yang sudah menghilang bersamaan dengan seseorang yang memang adalah Jimin, masuk ke dalam backstage clubnya.

"Tidak mungkin~" gumam Doojoon, detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. "Apa itu artinya, sepasang suami-istri yang Yunho hyung bunuh adalah—orang tua Jimin?"

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek!

Yoongi beserta Namjoon dan Taehyung memasuki studio dewan siswa tanpa mengetuk pintu. Setelah masuk, ketiganya pun disambut oleh Yoon Doojoon serta keempat temannya yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.

"Kau datang, tiga puluh menit lebih cepat dari dugaanku. Waeyo? Apa karena ini menyangkut tentang Park Jimin, Yoongi-ssi?" tanya Doojoon tersenyum miring. Yoongi berdecak dan melangkah mendekati Doojoon berdiri.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu Yoon Doojoon, jadi katakan apa maksud dari ucapanmu tadi!" pinta Yoongi tanpa basa-basi. Doojoon menatap Yoongi lunak, tak setajam seperti sebelumnya. Ia menarik nafas.

"Apa kau mengenal Jung Yunho?" tanya Doojoon tiba-tiba yang seketika membuat ketiga pemuda itu membulatkan kedua mata mereka terkejut. Tentu saja mereka tidak akan melupakan nama dari salah satu pembunuh kedua orang tua Jimin sejak para appa mereka menceritakan semua tentang masa kecil mereka malam itu.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya?" tanya Yoongi berusaha agar suaranya terdengar normal.

"Dia mantan narapidana bukan?" Doojoon balik bertanya yang membuat Yoongi semakin tak paham dengan maksud pertanyaan Doojoon padanya.

"Langsung to the point saja, Doojoon-ssi. Katakan apa yang ingin kau katakan!" pinta Yoongi tak sabar. Doojoon terdiam dan menatap Yoongi tak berkedip, dilihat dari kedua matanya Doojoon terlihat seperti orang bingung bahkan tidak menyangka jika kakaknya adalah pembunuh kedua orang tua dari seseorang yang disukainya.

"Dia adalah kakakku!"

"MWO?!" pekik Yoongi, Namjoon, dan Taehyung tak percaya.

"Kau bercanda 'kan?" seru Namjoon terkejut bukan main.

"Tapi, bagaimana bisa, sunbaenim? Marga kalian berbeda!" tanya Taehyung sama tak percayanya dengan Yoongi dan Namjoon. Doojoon menarik nafas.

"Orang tua kami bercerai ketika aku berumur sembilan tahun, aku ikut ibuku dan kakakku ikut ayahku. Margaku sudah berubah setelah enam bulan perceraian ibuku karena beliau menikahi seorang pengusaha. Sebenarnya, karena itulah kedua orang tuaku bercerai—karena ibuku menyelingkuhi ayahku." jelas Doojoon singkat. Yoongi, Namjoon, dan Taehyung menatap Doojoon tak percaya. "Dan aku tahu jika sebelumnya kakakku dipenjara karena telah merencanakan pembunuhan sebuah keluarga. Tapi, aku baru tahu—jika orang yang dia bunuh adalah keluarga Park Jimin."

"Apa kakakmu mengatakannya padamu?" tanya Yoongi. Doojoon menatap Yoongi datar.

"aniyo, sebenarnya aku tidak begitu dekat dengannya! Aku hanya pernah mendengar anak dari orang tua yang dia bunuh bersekolah disini. Maka dari itulah, setelah bebas dari penjara dia datang kemari."

"Mwo?!" pekik Namjoon dan Taehyung lagi.

"Dia datang kemari?" tanya Namjoon. "Kapan?"

"Hari kedua festival. Aku tidak akan tahu dia datang jika Minho tidak mengatakannya padaku. Karena itu, aku mengikutinya diam-diam dan setelah itu aku tahu jika dia sedang mencari dan mengawasi Park Jimin diam-diam. Kemudian, aku meminta tolong pada salah satu orang kepercayaan ayah tiriku untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga Jimin, dan dari itulah aku tahu jika keluarga kalian bertiga serta Kim Seokjin, Jung Hoseok, dan Jeon Jungkook, memiliki hubungan dengan Jimin sejak kalian kecil." Yoongi memejamkan kedua matanya dan menarik nafas berat, kedua matanya nanar tak percaya.

"Jadi, pembunuh itu adalah kakakmu?" tanya Yoongi kedua matanya berkilat marah sementara Doojoon hanya tersenyum miring.

"Apa bedanya dengan dirimu? Ayahmu, bahkan tidak mempercayai ayah Jimin. Jika ayah kalian mempercayainya, mungkin Jimin tidak akan kehilangan keluarganya!"

BUGH!

"HYUNG! / Yoon Doojoon!" pekik Namjoon, Taehyung serta Minho, Jinyoung, Daehyun, dan Myungsoo ketika Yoongi memukul wajah tampan Doojoon. Yoongi mencekeram kerah baju Doojoon dan menatapnya dengan kedua matanya yang memerah marah.

"Kau dan aku sama! Sama-sama menjadi sumber penderitaannya! Jadi, aku harap—jangan menambah hal menyakitkan lagi dalam hidupnya!"

"Diamlah, jika kau tidak tahu masalah keluargaku!" geram Yoongi nyalang. "Aku tidak pernah berniat untuk menyakitinya. Sama sekali tidak pernah!"

"Lalu, apa kau pikir ucapannya itu tidak menyakiti hatinya!"

"Aku bilang diam jika kau tidak tahu masalah yang sebenarnya!"

"Kalau begitu katakan, Min Yoongi! Katakan jika kau memang tidak pernah berniat untuk menyakitinya atau aku akan membunuhmu di tempat ini sekarang juga!"

"Jika aku tidak mengatakannya, maka ayahku hanya akan diam saja dan tidak akan bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya!" jawab Yoongi yang membuat Doojoon membulatkan kedua matanya tak percaya. "Jika aku menuruti permintaan mereka dan mengatakan 'ya' dengan jelas untuk menjaga Jimin maka mereka tidak akan bergerak untuk menangkap para bajingan itu! Dengan kata lain, mereka akan merasa gusar karena bebasnya ketiga pembunuh itu dari penjara! Kau tahu apa artinya? Itu artinya, cepat atau lambat mereka pasti akan melakukan sesuatu karena satu pun dari kami tidak ada yang berada di dekat Park Jimin untuk menjaganya ataupun mengawasinya!" Yoongi menghempaskan tubuh Doojoon dan menarik nafas, menenangkan diri.

"Apa sunbaenim, benar-benar menyukai Jiminie?" tanya Taehyung setelah merasa bahwa Yoongi dan Doojoon mulai tenang.

"Dia sangat menyukainya, kau tahu?" seru Minho yang menjawab pertanyaan Taehyung.

"YAK!" seru Doojoon salah tingkah yang membuat Minho serta ketiga temannya bahkan Namjoon dan Taehyung menahan tawa mereka sementara Yoongi berdecak tak suka.

"hyung, sainganmu bertambah!" goda Taehyung pada Yoongi.

"Diam kau!" desis Yoongi galak. Kemudian, ia kembali menatap Doojoon. "Apa kau tahu jika Jimin mengalami hilang ingatan?" tanya Yoongi kemudian yang sukses membuat Doojoon serta keempat temannya membulatkan kedua mata mereka tak percaya.

"Jimin hilang ingatan?" tanya Jinyoung tak percaya yang kemudian hanya ada keheningan diantara kedelapan pemuda di studio dewan siswa itu.

"Bukankah tadi kau bilang jika kakakmu pada hari kedua festival dia datang kemari?" tanya Namjoon tiba-tiba. Doojoon mengangguk sekilas. "Dia pasti tahu, Jimin ikut berpartisipasi dalam festival dan mungkin dia berniat untuk menampakkan diri dihadapan Jimin. hyung, Tae! Kalian ingat apa yang dikatakan Hoseok kemarin? Jika Jimin sempat menahan sakitnya padahal dia masih berada diatas panggung? Apa mungkin, itu karena Jimin tak sengaja melihat salah satu pembunuh itu?" Yoongi dan Taehyung mengangguk. "Itu artinya, mantan narapidana itu pasti pernah bertemu dengan Jimin sebelumnya."

"Itu benar, hyung! Apalagi, appa juga sempat mengatakan bahwa ada kemungkinan Jimin mengetahui siapa orang yang menyuruh ketiga pembunuh itu!" sahut Taehyung.

"mianhae, aku benar-benar tidak tahu jika—"

"Simpan maafmu dan berfikirlah bagaimana caranya agar mereka tidak mencoba untuk mendekati Park Jimin, terutama kakakmu!" potong Yoongi dengan segala pikiran yang berkecamuk di otaknya. Yoongi menarik nafas dan memijat pelipisnya pening.

.

.

.

.

.

Jimin menghentikan langkahnya ketika ia hampir sampai di koridor lokernya dan melihat pemandangan asing di depannya. Jimin mengeryitkan keningnya saat melihat salah seorang sunbae-nya tengah berdiri di depan baris lokernya. Tanpa merasa curiga sedikitpun, Jimin pun berjalan mendekati sang senior.

"Seulgi sunbae?" panggil Jimin yang membuat sang senior yang memang adalah Seulgi itu tersentak dan langsung berbalik badan.

"Jimin?"

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jimin datar. Seulgi mengerjapkan kedua matanya dan menolak untuk bertatapan dengan Jimin.

'Apa tadi, dia melihatku memasukkan surat ke dalam lokernya?'

"a-aku..." Seulgi mengigit bibirnya gugup. "a-aku hanya, ..." Jimin yang melihatnya pun sontak teringat dengan surat-surat yang terus dikirim kepadanya dan selalu diletakkan di loker miliknya. Jimin menatap Seulgi teliti dengan pandangan curiga, terlebih ia melihat Seulgi yang terlihat gugup dan menolak untuk bertatap muka dengannya.

"Apa kau orang yang mengirimiku surat selama ini?" curiga Jimin kemudian karena Seulgi tak segera menjawab pertanyaan. Seulgi menunduk dalam. "Jawab aku sunbaenim!" pinta Jimin tak sabar.

"Maafkan aku, Jimin-ssi."

"Jadi, kau orangnya?" tanya Jimin tak menyangka. "Jawab aku sunbaenim, ya atau tidak!" Seulgi mengangguk kecil dan Jimin memutar kedua bola matanya malas.

"Aku mohon Jimin-ssi, jangan membenciku~" pinta Seulgi akhirnya memberanikan diri untuk menatap Jimin. Jimin berfikir sejenak, kemudian ia menarik nafas berat.

"Baiklah, aku tidak akan membencimu tapi—bisakah kau berhenti mengirimku surat-surat itu. Aku merasa terganggu." pinta Jimin jujur yang membuat Seulgi menahan air matanya.

"arraseo, jika itu maumu—aku akan menurutinya." lirih Seulgi menunduk dan setelah itu, ia berjalan meninggalkan Jimin. Jimin terdiam sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berbalik badan dan berseru,

"Tunggu!" seru Jimin yang sontak membuat Seulgi menghentikan langkahnya. Seulgi pun berbalik badan dan menunggu Jimin yang berjalan mendekatinya. Jimin mengeluarkan tangan kanannya yang berada di dalam saku celananya. Ia membuka telapak tangannya yang terdapat sebuah kuncir rambut berwarna hitam dan menyerahkannya dihadapan Seulgi. "Untukmu! Tadinya, mau aku berikan pada salah satu adikku di panti, tapi aku rasa kau lebih membutuhkannya." lanjutnya yang membuat Seulgi menatap Jimin tak percaya.

"Kau suka menari, dan rambutmu panjang. Akan lebih baik jika kau mengikatnya." saran Jimin yang diangguki Seulgi dan menerima kuncir itu dengan senang hati. "Aku tidak membencimu karena surat-surat itu, hanya saja jika kau ingin mengatakan sesuatu padaku atau pada siapapun—terbiasalah untuk mengatakannya secara langsung. Karena, mungkin saja itu akan membuatmu lebih nyaman. Dan terus terang, apa yang kau lakukan ini justru bisa membuat orang-orang menjadi berfikiran yang tidak-tidak padamu bahkan menjadi tidak nyaman padamu, sunbaenim."

"nde, kau benar. Terima kasih, Jimin-ssi. Aku mulai tenang setelah mendengarnya, dan maafkan aku—karena telah membuatmu merasa terganggu selama ini." Jimin mengangguk kecil.

"gwenchanayo sunbaenim, aku sudah cukup lega menegetahui siapa orang yang selama ini mengirimku surat." jawab Jimin yang membuat Seulgi mengulas senyum tulus.

"arraseo, kalau begitu—aku pergi dulu. Sampai jumpa, Jimin-ssi!" pamit Seulgi pergi meninggalkan Jimin seorang diri. Jimin menatap kepergian Seulgi dalam diam yang kemudian memutuskan untuk berbalik badan dan mengambil beberapa barang yang berada di lokernya.

Untuk meluangkan waktunya hari ini, Jimin memutuskan untuk berkunjung ke panti asuhan, tempatnya dibesarkan. Tapi, sebelum itu ia berniat untuk mampir ke rumah sakit yang sebenarnya sudah diam-diam ia kunjungi selama enam bulan sekali. Setelah mengambil beberapa barang di lokernya serta meminta ijin pada guru kesiswaan. Jimin segera berjalan menuju halte yang ada di dekat sekolahnya. Menunggu sebentar kedatangan bis yang akan membawanya ke Seoul Hospital.

Jimin membuka tas yang ia bawa dan mengambil mp3 serta hedseat miliknya. Jimin menarik nafas, setelah memasang hedseat di kedua telinganya dan menyetel lagu favoritnya. Jimin menunduk memandangi kedua kakinya malas.

Ckiit!

Jimin pun segera mendongak ketika ia mendengar suara rem bis yang berhenti di depannya. Jimin berdiri dan langsung masuk ke dalam bis setelah pintu bis terbuka. Jimin bersyukur, kala itu bis dalam keadaan sepi. Jimin duduk di bangku dua dari belakang dan ia duduk di dekat jendela. Jimin menyandarkan kepalanya pada kaca bis, mengamati setiap jalan yang dilewati dari bis yang ia tumpangi.

Jimin menatap dirinya sendiri pada pantulan kaca jendela. Dan, disaat seperti ini entah kenapa Jimin merasa bahwa sebenarnya ia tidak bisa mengenali siapa dirinya sebelumnya. Siapa dirinya yang sebenarnya. Sudah bertahun-tahun lamanya tapi sedikitpun Jimin tidak bisa mengingat sedikitpun mengenai kecelakaan yang menimpa keluarganya.

Bis yang Jimin tumpangi berhenti karena lampu lalu lintas, Jimin melirik kearah mobil van yang yang berhenti di samping bis ini. Menatap iri pada sepasang orang tua serta kedua anaknya yang sepertinya akan pergi berlibur. Bibir Jimin mengukir senyum, seolah ia ikut merasakan bagaimana bahagianya berada di sebuah keluarga.

Keluarga ...

Kata umum yang tak pernah ia rasakan. Kata umum yang tak pernah ia alami secara langsung bahkan kata umum yang ia lupakan. Jimin memejamkan kedua matanya, mencoba dengan perlahan untuk mengingat masa lalu yang tak ia ingat sama sekali dan selalu berakhir dengan bayangan hitam serta rasa sakit di kepalanya. Jimin membenturkan kepalanya ke kaca jendela, pelan. Ia menyerah dengan rasa sakit setiap ia mencoba untuk mengingat masa lalunya, untuk mengingat keluarganya, atau bahkan untuk mengingat siapa dirinya.

.

.

.

.

.

"Benarkah?" tanya Seokjin menoleh kearah Namjoon yang kini tengah menyandarkan tubuhnya pada salah satu meja yang ada di club penyiaran. Kini, hanya ada mereka berdua di studio club itu. Dan, entah sejak kapan tak ada lagi pertengkaran sepele diantara mereka. Bahkan, Namjoon juga sudah mulai mengakrabkan diri dan memanggil Seokjin dengan sebutan 'hyung', seperti masa kecil mereka dulu.

"nde hyung. Yoon Doojoon yang mengatakannya pada kami bertiga." jawab Namjoon mengulang kalimat yang sama setelah ia menceritakan kejadian di studio dewan siswa pada Seokjin. Seokjin berfikir sejenak.

"Tapi, kenapa dia mengatakannya pada kalian bertiga?" tanya Seokjin.

"Itu karena Yoon Doojoon mendengar ucapan Yoongi hyung malam itu, hyung. Dan, dia pikir Yoongi hyung berniat untuk menyakiti Park Jimin."

"ah~ begitu." Seokjin mengangguk paham. "Jadi, Yoon Doojoon benar-benar menyukai Park Jimin?" tanya Seokjin kemudian. Namjoon mengangguk.

"nde, Choi Minho sendiri yang mengatakannya di depan Doojoon. Dan, melihat dari tatapannya ketika membicarakan Jimin hingga mencemaskannya aku yakin dia benar-benar menyukai Park Jimin."

"Lalu, bagaimana dengan Yoongi? Apa dia menyukai Park Jimin?" Namjoon terdiam sejenak.

"Sebenarnya, Yoongi hyung orang yang sulit ditebak hyung. Dia juga sedikit tertutup dan pandai menyembunyikan perasaannya dari orang-orang. Jadi, aku tidak tahu pasti apa arti Jimin bagi Yoongi hyung." jawab Namjoon yang diangguki Seokjin.

"omong-omong soal Yoongi, kenapa dia terlihat seperti membenci ayahnya?" tanya Seokjin ketika ingatannya teringat pada malam itu, ia ingat dengan jelas bagaimana tatapan asing dari Yoongi pada sang ayah. Namjoon menarik nafas prihatin.

"Sebenarnya, bukannya Yoongi hyung membenci ayahnya. Tapi, hubungan ayah dan anak itu tidak seperti hubungan ayah dan anak pada umumnya. Sejak Yoongi hyung kecil, Seonwoong samchon jarang menghabiskan waktu bersama Yoongi hyung. Bisa dikatakan Yoongi hyung kekurangan kasih sayang orang tuanya, terutama sejak ibunya meninggal." jawab Namjoon yang hanya di balas diam oleh Seokjin.

Hening, tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Bahkan, atmosfer di studio penyiaran tiba-tiba berubah canggung entah karena apa.

"Tapi, aku masih tidak percaya salah satu pembunuh itu—adalah kakaknya Yoon Doojoon? Aku menjadi tidak simpatik padanya." sarkas Seokjin terlihat kesal sekaligus memecah keheningan diantaranya dan Namjoon. Namjoon tersenyum kecil.

"eyy, ... hyung, kau tidak boleh bersikap seperti itu. Yoon Doojoon sama sekali tidak tahu tentang apa yang dilakukan kakaknya. Meskipun pembunuh itu adalah kakaknya, tapi—bukan berarti Doojoon juga seorang pembunuh 'kan?" pesan Namjoon yang membuat Seokjin mengulas senyum cantik di bibirnya. Ia tak menyangka jika sosok yang biasanya suka berbuat seenaknya memiliki sisi bijaksana seperti ini.

"hm, kau benar. Jika, kita berpikiran seperti itu pada Yoon Doojoon, apa bedanya dengan kita. Iya 'kan?" Namjoon mengangguk.

"Dan, yang terpenting sekarang. Kita harus tetap mengawasi Jiminie diam-diam." Seokjin mengangguk setuju.

"nde, dan kita tidak boleh lengah kali ini!" balas Seokjin yang setelahnya kembali keheningan diantara mereka berdua. Namjoon yang masih berdiri seraya menatap Seokjin dan Seokjin yang masih duduk yang juga menatap Namjoon.

Cklek!

Seokjin memutus kontak mata pada Namjoon lebih dulu ketika ia mendengar suara pintu studio terbuka.

"Seokjin-ssi, kau disini. Aku mencarimu kemana-mana." seru salah satu anggota club penyiaran, Lee Junghwan atau biasa dipanggil Sandeul oleh teman-teman dekatnya.

"oh, Sandeul-ssi kau mencariku? Ada apa?" tanya Seokjin ramah dan mengabaikan Namjoon yang terlihat tak suka dengan kedatangan Sandeul.

"hm, aku... ada yang ingin aku bicarakan denganmu." jawab Sandeul terbata.

"Kalau begitu, bicaralah. Aku mendengarmu sekarang." ujar Seokjin mempersilahkan. Sandeul mengigit bibir bawahnya gugup.

"Maksudku, aku ingin bicara denganmu. Hanya kau dan aku." lanjut Sandeul yang membuat Seokjin mengerjapkan kedua matanya tak mengerti dan Namjoon yang mengangkat sebelah alisnya curiga.

"Aku tidak akan pergi!" sela Namjoon sebelum Seokjin membalas permintaan Sandeul. "Bicaralah, aku akan menjadi patung disini." lanjutnya yang membuat Sandeul menatap Namjoon tak suka sementara Seokjin yang tidak mengerti dengan situasi yang sedang ia hadapi sekarang ini.

"Kalau begitu, bisakah kau pergi keluar bersamaku sebentar?" pinta Sandeul tak habis akal. Seokjin mengangguk.

"Tentu!" balasnya dan berdiri dari duduknya sebelum tiba-tiba tangan Namjoon menahan pergelangan tangannya lembut. "Apa yang—"

"Bicaralah disini, aku yang akan pergi!" tahan Namjoon dan melangkah meninggalkan Sandeul dan Seokjin begitu saja. Dan, entah kenapa ketika Namjoon berjalan meninggalkan Seokjin bersama Sandeul ada perasaan tak rela serta debaran asing dijantungnya.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Seokjin setelah kepergian Namjoon dari studio penyiaran. Sandeul menunduk, ia menarik nafas dan menenangkan diri.

"Kim Seokjin!" panggil Sandeul, ia mendongak dan memberanikan diri untuk menatap kedua mata indah Seokjin. "s-sebenarnya, a-aku—aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang ini. Tapi, sebenarnya sudah sejak lama, aku—merasakan hal lain padamu, tepatnya sejak pertama kali kau dan aku tergabung di club ini. Awalnya, aku merasa hanya sebatas mengagumimu, kau adalah sosok yang sempurna dan kau—"

"Sandeul-ssi, bisa kau katakan poinnya langsung? Aku tidak mengerti dengan kata-kata berantakan yang kau ucapkan!" potong Seokjin tak sabar. Sandeul menarik nafas dan kembali menenangkan diri.

"Aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?" pinta Sandeul langsung. Seokjin membeku diam, ia mengerjapkan kedua matanya dan menatap Sandeul horor. Seokjin berdehem, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal akibat rasa canggung antara dirinya dan Sandeul. Sementara Sandeul memandang Seokjin penuh harap.

"Sandeul-ssi, maaf bukannya aku tidak menyukaimu. Tapi, aku tidak bisa menerimamu." tolak Seokjin secara halus yang hal itu membuat Sandeul menatap Seokjin tak mengerti.

"waeyo? Apa kau sudah memiliki kekasih? Atau, kau menyukai seseorang?" Seokjin menggeleng.

"aniyo, hanya saja. Aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku." Sandeul membulatkan kedua matanya kecewa. "Maafkan aku. Aku bukannya tidak menyukaimu, tapi aku tidak ingin melukaimu karena aku sudah dijodohkan." sesal Seokjin dan Sandeul mencoba untuk menahan air matanya.

"a-aku ... aku harap kau bahagia dengannya!" ujar Sandeul dan berlalu keluar dari studio penyiaran. Sandeul membanting pintu, hal itu membuat Seokjin semakin merasa tak enak hati.

"Maafkan aku, Sandeul-ah." gumam Seokjin tanpa menyadari jika ada seseorang yang mendengar pembicaraannya dengan Sandeul barusan. Seseorang yang sebelumnya memilih keluar dengan terpaksa, menyandarkan tubuhnya di balik dinding setelah melihat Sandeul keluar dengan ekspresi sedihnya. Entah kenapa, ia ikut merasakan sakit yang dialami Sandeul ketika ia mendengar bahwa Seokjin sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya.

'Ada apa denganku? Kenapa, aku merasa sedih dan kecewa mendengarnya sudah dijodohkan?'

.

.

.

.

.

"Park Jimin-ssi!" panggil seorang perawat pada Jimin yang sudah menunggu di kursi tunggu di depan salah satu poli yang ia tuju di Seoul Hospital. Jimin bangkit dari duduknya bersamaan sang perawat yang mempersilahkannya untuk masuk.

"ah, Jimin-ssi—sudah lama tidak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?" tanya dokter spesialis syaraf yang bername tag Choi Tae Joon.

"nde, annyeongasseo dokter Choi." balas Jimin ramah setelah ia duduk di depan meja kerja dokter Choi.

"Bagaimana kabarmu, kau baik-baik saja? Apa ada keluhan?" tanya dokter Choi setelah membaca rekap medis Jimin dari enam bulan yang lalu.

"nde, dokter Choi aku merasa akhir-akhir ini rasa sakit di kepalaku semakin terasa menyakitkan."

"Apa kau meminum obat yang ku berikan secara teratur sebelumnya?" Jimin mengangguk.

"nde, tapi sudah hampir satu bulan ini. Efek dari obatnya tidak bekerja untukku. Aku merasa sakit kepalaku semakin bertambah parah."

"Apa kau merasakannya setiap hari?" Jimin menggeleng.

"Tidak dokter Choi, hanya saja aku merasa sakit kepala ketika ada sesuatu yang tidak asing bagiku. Antara aku pernah mengalaminya atau sesuatu yang tidak asing bagiku tapi kemudian aku merasa bahwa aku tidak tahu apa-apa."

"Itu pasti menyangkut tentang masa lalumu." jawab dokter Choi. "Tanpa kau ketahui, ada sesuatu disekitarmu yang membuatmu merasa familiar sekaligus asing di waktu bersamaan."

"Tapi, apakah ada peluang bagiku untuk mengingat semua masa laluku? Tentang diriku dan keluargaku, khususnya?" dokter Choi berfikir sejenak setelah membaca rekap medis Jimin kemudian ia menatap Jimin intens.

"Melihat kasus yang sedang kau alami ini, antara tidak mungkin dan mungkin bisa kau lakukan. Apalagi, setelah aku membaca diagnosa awal penyebab amnesia-mu ini ada kemungkinan besar kau bisa mengingat semuanya. Tapi sayangnya, ada efek samping dari semua itu." Jimin terdiam, mendengar dokter Choi dengan saksama. "Dan, untuk mewanti dari efek samping itu—kau harus melakukan terapi. Setidaknya, kau bisa mencegah berbagai kemungkinan buruk ketika kau ingin mengingat semua masa lalumu secara perlahan." terang dokter Choi. Jimin masih terdiam.

"Tapi, dokter Choi—bolehkan aku bertanya sesuatu?"

"Tentu saja Jimin-ssi."

"Apa yang harus aku lakukan jika tiba-tiba ada sesuatu yang membuat memori ingatanku perlahan muncul meskipun aku masih tidak bisa mengingatnya? Karena, hal itu sering terjadi padaku dan selalu berakhir dengan rasa sakit di kepalaku."

"Sebenarnya, ada satu hal yang bisa kau lakukan jika kau mengalami kondisi tiba-tiba seperti itu. Mungkin, kau bisa menahan rasa sakitmu tapi kau pasti tidak bisa menggapai ingatanmu yang muncul, aku benar?" Jimin mengangguk. "Karena itulah kau tidak bisa mengingat masa lalumu karena kau sibuk dengan rasa sakitmu. Rasa sakitmu muncul bersamaan dengan potongan-potongan masa lalumu yang hilang setelah delapan tahun lamanya. Tapi, bagaimana jika kau melakukan sebaliknya?" tanya dokter Choi, Jimin mengeryitkan keningnya tak mengerti. "Apa jadinya jika kau mengabaikan rasa sakitmu dan mencoba fokus pada memori yang muncul itu? Apa kau pernah mencobanya?" Jimin terdiam, mencoba mengingat.

"Aku tidak pernah mencobanya dokter Choi, hanya saja rasa sakit itu benar-benar luar biasa menyakitkan. Aku tidak pernah berusaha untuk menangkap memori itu. Karena, ketika aku merasakan rasa sakit itu memori masa laluku seperti lari menjauh dariku." dokter Choi mengangguk.

"Sebenarnya, jika kau melakukan apa yang aku katakan. Ketika kau mengalami situasi tersebut, kau akan merasakan rasa sakit dua kali lipat lebih sakit dari biasanya untuk menangkap semua memori yang muncul. Dan, itu artinya kondisimu akan semakin memburuk entah itu untuk fisikmu ataupun mentalmu. Terutama, bagi syaraf pusatmu." Jimin membeku diam.

"Tapi, apa jika aku melakukan terapi dan mencoba untuk mengingat semuanya secara perlahan apa itu akan berhasil untukku?" dokter Choi menatap Jimin menyesal.

"Terapi itu hanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalamu. Masalah kau bisa ingat atau tidak, itu tetap tergantung pada dirimu." Jimin menarik nafas, ia tersenyum kecil dan mengangguk mengerti.

"Aku mengerti sekarang dokter Choi." lirih Jimin menatap dokter Choi sendu. "Pada akhirnya, semua itu akan berakhir sama dengan memburuknya kondisiku. Entah, itu dengan terapi atau tidak." dokter Choi menatap Jimin tak enak hati.

"Jimin-ssi," panggilnya.

"nde?" balas Jimin cepat.

"Terkadang, apa yang dipercayai dalam ilmu medis ada kalanya hal itu tidak berpengaruh bagi seseorang. Itu tergantung pada diri kita sendiri, jika ada keajaiban aku yakin kau pasti bisa mengingat semuanya tanpa harus merasakan rasa sakit yang menyiksa." Jimin mengulas senyum kecil.

"nde dokter Choi, kau benar. Mungkin, aku membutuhkan keajaiban." lanjut Jimin setuju. "Keajaiban, setelah delapan tahun lamanya."

.

.

.

.

.

Selesai berkonsultasi dengan dokternya dan menembus obat di apotik rumah sakit, Jimin berjalan pelan keluar dari rumah sakit dengan kedua sorot matanya yang terlihat kosong. Suara-suara dari dokter Choi yang menjelaskan tentang kondisi baik dan buruknya terus terdengar di kedua gendang telinganya dengan jelas.

Jimin menghentikan langkahnya dan menarik nafas. Sebenarnya, jauh dilubuk hatinya ia belum siap dengan segala kemungkinan ketika tiba-tiba saja ingatan masa lalunya kembali begitu saja. Bahkan, entah kenapa akhir-akhir ini Jimin merasa bahwa orang-orang yang ada disekitarnya terasa tidak asing untuknya. Seolah, mereka adalah orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalunya.

Dan, disaat Jimin merasakan demikian. Maka selanjutnya, Jimin akan bertanya pada dirinya sendiri. Siapa dirinya? Darimana dia berasal? Siapa keluarganya? Dan dari pertanyaan itu, Jimin sadar bahwa ia tidak akan mendapat jawaban apapun dari segala pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.

"Park Jimin?" panggil seseorang tiba-tiba yang membuat Jimin tersentak. Jimin pun berbalik badan dan mendapati seorang dokter yang tersenyum ramah kearahnya. Jimin mengerjapkan kedua matanya bingung, pasalnya ia tak pernah bertemu dengan dokter yang memanggil namanya sekarang ini. "Kau benar Park Jimin, 'kan?" ulangnya memastikan dan kemudian, Jimin hanya bisa mengangguk kaku.

"Maaf, tapi—anda siapa?" tanya Jimin. Sang dokter tersenyum dan mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.

"Perkenalkan, aku dokter Jung Jaeduck, dokter spesialis bedah disini." Jimin menyambut tangan sang dokter canggung.

"Tapi, bagaimana bisa dokter Jung mengenal saya?" tanya Jimin masih bingung. Dokter Jung tersenyum.

"Aku melihatmu tampil di festival kemarin bersama anakku." Jimin mengerjapkan kedua matanya takjub yang hal itu membuat dokter Jung terkekeh gemas. "Aku—adalah ayahnya, Jung Hoseok."

"ah, nde annyeongasseo!" sapa Jimin membungkukkan badannya. Dokter Jung tersenyum senang dan menepuk pundak Jimin pelan.

"Penampilanmu kemarin sangat luar biasa." Jimin tersenyum manis. "Tapi, apa yang kau lakukan disini? Apa kau sakit?" Jimin menggeleng cepat.

"Tidak dokter Jung, aku hanya mengunjungi temanku yang kebetulan dirawat disini." jawab Jimin berbohong dan dokter Jung hanya mengangguk percaya.

"Teman? Teman satu kelasmu di RC?" Jimin menggeleng.

"Dia tidak sekolah di RC."

"ah~ begitu." dokter Jung mengangguk paham. "Apa kau mau pulang?"

"nde," jawab Jimin singkat.

"Apa kau keberatan jika aku memintamu untuk menemani waktu istirahatku?" pinta dokter Jung tiba-tiba. Jimin membulatkan kedua matanya terkejut. "Itu pun jika kau tidak sibuk."

"nde, saya tidak sedang sibuk dokter Jung."

"Jadi, kau mau menemaniku?" Jimin berfikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangguk menyetujui. Dokter Jung tersenyum senang, senyuman yang mengartikan betapa bahagianya ia bisa menghabiskan waktu pada putra sahabatnya sejak kecil.

'Samchon, sangat merindukanmu, Jiminie~'

Setelah mendapat persetujuan dari Jimin, dokter Jung mengajak Jimin untuk menghabiskan waktu luang mereka di salah satu cafe yang ada di rumah sakit tempat ayah Hoseok bekerja. Maka disinilah, Jimin yang duduk di depan dokter Jung di dekat jendela cafe.

"Pesan apa tuan?" tanya salah seorang pelayan menghampiri mereka.

"Kau ingin makan sesuatu?" Jimin menggeleng. "Baiklah kalau begitu, aku pesan satu kopi hitam dan satu jus pir." pesan dokter Jung yang diangguki oleh sang pelayan sementara Jimin membulatkan kedua matanya terkejut pasalnya ia belum mengatakan ingin memesan apapun pada dokter Jung dan dokter Jung sudah memesankan minuman favoritnya.

"Bagaimana dokter Jung tahu, jika saya menyukai jus pir?" tanya Jimin.

"Kau menyukai jus pir?" dokter Jung balik bertanya. Jimin mengangguk. "Aku sudah menduganya. Pemuda yang manis dan pintar sepertimu pasti menyukai sesuatu yang asing." Jimin tertawa lepas.

"Itu tidak ada hubungannya dokter Jung."

"Oya, apa kau dekat dengan Hosiki?" tanya dokter Jung kemudian.

"Kami tidak begitu dekat, tapi selain kami satu club kami juga satu kamar."

"Benarkah?" dokter Jung berpura-pura terkejut dan Jimin mengangguk. "Apa dia menyebalkan?" tanya dokter Jung. Jimin terkekeh.

"Hoseok sunbae, tidak menyebalkan dokter Jung hanya saja dia kadang tidak bisa serius dan selalu bercanda."

"hm, dia memang seperti itu." dan selanjutnya hanya ada keheningan diantara mereka. Jimin yang begitu menikmati pemandangan jalan raya di depannya dan dokter Jung yang menatap Jimin rindu sampai akhirnya minuman yang mereka pesan sampai di meja mereka.

"Selamat menikmati." ujar pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Dokter Jung tersenyum dan Jimin yang hanya terdiam.

"Sebenarnya, kau mengingatkanku pada seseorang." ujar dokter Jung tiba-tiba. Jimin memberikan perhatiannya pada dokter Jung dan mendengar dengan saksama. "Kau mau mendengar ceritaku?" Jimin mengangguk.

"Melihatmu sekarang, entah kenapa aku menjadi teringat pada putra dari teman masa kecilku yang menikah dengan teman kuliahku yang sebenarnya dulu juga adalah seorang dokter di Seoul Hospital dan satu unit denganku. Mereka berdua dikarunia anak yang sangat pintar, manis, ceria, sopan, dan menyenangkan. Kami semua menyayanginya. Hanya melihat senyumnya saja, sudah membuat kami tersenyum. Aku jadi merindukannya."

"Lalu, dimana mereka dokter Jung?" dokter Jung menatap Jimin nanar.

'Mereka sudah tiada dan anaknya duduk di depanku saat ini,'

"Mereka sudah berada di tempat yang indah diluar sana."

"Kenapa anda tidak menemuinya saja jika anda merindukannya?"

"Aku ingin, tapi aku tidak bisa." dokter Jung menunduk sedih yang membuat Jimin entah kenapa ikut merasakan ruang kosong yang dokter Jung rasakan.

"Jika dokter Jung merindukan mereka—katakan dari hati dokter Jung bahwa anda sangat merindukan mereka. Aku yakin, mereka juga merasakannya." saran Jimin lembut. Dokter Jung tersenyum haru.

"Bolehkah, aku meminta satu permintaan padamu?" pinta dokter Jung. Jimin mengangguk. Dokter Jung menarik nafas, sorot matanya menatap Jimin penuh kerinduan. "Bolehkah aku memelukmu?" Jimin terkejut namun entah kenapa ia tidak bisa menolak. Maka dengan segenap hatinya, Jimin pun langsung bangkit menuju kursi dokter Jung dan memeluknya hangat yang hal itu membuat dokter Jung langsung menangis pecah.

"Jiminie~ Jiminie~" racau dokter Jung disela-sela isakannya yang membuat Jimin merasa bahwa ia pernah berada di situasi yang sama seperti saat ini. Bahwa ia merasa, jika sebelumnya ia pernah berada di dalam pelukan hangat yang tak membuatnya asing sama sekali.

"samchon~" gumam Jimin tanpa menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Sementara, dokter Jung yang mendengar samar panggilan rindu dari Jimin membuatnya semakin menangis pilu dan dalam hati mengucapkan maaf tanpa henti pada kedua sahabatnya karena belum bisa menjaga Jimin dengan baik.

.

.

.

.

.

"Jadi, seperti apa acara kemah musim panas itu?" tanya Taehyung pada Jungkook. Kini, keduanya tengah berada di cafetaria dan menghabiskan waktu berdua mereka. Jungkook terdiam sejenak, mengingat cerita dari kedua hyung-nya mengingat ini juga adalah tahun pertamanya di RC.

"hm, entahlah hyung—tapi, kata Jinnie hyung dan Hobi hyung, kemah musim panas di RC itu sangat seru karena katanya saat tengah malam, mereka juga akan mengadakan api unggun."

"Benarkah?" Jungkook mengangguk asal dan kembali menyeruput bubble tea yang ia pesan.

"oya, Jungkook-ah—apa kau ingat tentang masa kecil kita, maksudku tentang kau dan aku?" tanya Taehyung tiba-tiba. Jungkook mengeryitkan keningnya tak paham.

"Aku dan hyungie?" Taehyung mengangguk dan Jungkook mengulum senyum tak yakin. "Entahlah, sebenarnya aku tidak ingat kita pernah bertemu sebelumnya. Apalagi, dengan dirimu aku rasa itu mustahil."

"Kenapa mustahil, kau tidak percaya apa yang dikatakan para appa, malam itu?" Jungkook menghela nafas.

"Bukannya tidak percaya. Aku hanya tidak ingat kita pernah bermain bersama. Aku hanya ingat dulu ada seorang bocah laki-laki seumuran Jimin hyung, yang tak bisa diam, selalu jahil, bersikap aneh, sangat nakal, jelek, dan hitam!" sindir Jungkook yang membuat Taehyung menggeram marah.

"Jeon-Jung-Kook!" desisnya kesal dan Jungkook hanya terkekeh.

"Aku hanya bercanda hyung. Tapi, itu semua 'kan fakta."

"YAK!" pekik Taehyung tak terima yang dibalas tawa lepas dari Jungkook. Taehyung menggeleng, membiarkan Jungkook terus menertawai dan mengejeknya hingga akhirnya ia dan Jungkook mendengar beberapa bisikan siswa-siswi yang membicarakannya yang kebetulan berada di cafetaria.

"Aku yakin, mereka memiliki hubungan."

"Benarkah? Mungkin, mereka hanya dekat!"

"Tidak, lihatlah. Mereka seperti sepasang kekasih."

"Ah, aku iri pada Jungkook. Kenapa dia bisa mudah dekat dengan Kim Taehyung?"

"Jeon Jungkook, itu memang murahan. Apa dia tidak lelah, terus tebar pesona? Dan, kenapa Taehyung bisa bersikap biasa bahkan terlihat sangat dekat dengannya?"

"Sejak kejadian Lee Minhyuk menghajar Jeon Jungkook, dia tidak pernah berbuat onar pada Park Jimin tapi sekarang mencari perhatian pada Kim Taehyung."

"Dia mencari kesempatan setelah acara festival kemarin."

Taehyung mengepalkan kedua tangannya ketika ia mendengar komentar-komentar buruk mengenai kedekatannya dengan Jungkook. Dan, baru saja ia berniat untuk menegur siswa-siswi yang mengatakan demikian, tangannya sudah ditahan lebih dulu oleh Jungkook. Jungkook tersenyum dan menggeleng.

"Abaikan hyung."

"Tapi—" Jungkook menggeleng lagi.

"Itu bukan urusanmu."

"Tapi, kau yang—"

"Aku sudah biasa hyung!" sela Jungkook tersenyum manis. "Ini bukan pertama kalinya."

"Dan, kau diam saja?"

"Karena aku tidak melakukannya. Untuk apa aku harus menghiraukan omong kosong mereka? Mereka hanya mencari bahan pembicaraan pada teman mereka. Sudahlah, dengarkan saja sejauh mana mereka akan membicarakan kita." Jungkook menyeruput minumannya dengan santai.

"Kenapa kau tidak merasa marah?" tanya Taehyung heran.

"Marah? Itu hanya menandakan bahwa apa yang mereka katakan tentangku adalah benar."

"Tapi, jika kau diam saja. Mereka akan terus membicarakan yang tidak-tidak tentangmu." Jungkook tersenyum kecil.

"nde, itu benar. Tapi, aku lebih memilih untuk membiarkan mereka membicarakan apapun semau mereka tentangku daripada mereka mengusikku."

"Seperti Kim Mingyu?" Jungkook mengangguk kecil.

"Kejadian Kim Mingyu, bukanlah yang pertama kali bagiku. Sebenarnya, banyak siswa disini yang berperilaku buruk dan bahkan aku tidak tahu harus menggunakan kata apa untuk menggambarkan hal yang lebih buruk lagi."

"Benarkah?" Jungkook mengangguk.

"Hampir seluruh siswa-siswi di RC adalah keturunan dari orang tua berada. Dan rata-rata dari mereka pasti mengalami kurangnya kasih sayang orang tua hingga broken home. Membuat mereka kadang melakukan hal menjijikkan diluar sekolah."

"jinjjayo?" Jungkook mengangguk.

"Dan, hal itu terjadi pada siswa atau siswi dengan keadaan kedua orang tua mereka yang tidak lengkap atau mengalami broken home. Contohnya seperti Jimin hyung, Doojoon sunbae, Kyungsoo sunbae bahkan aku sendiri. Di setiap tahun pertama, siswa seperti kami selalu mengalaminya." Taehyung membulatkan kedua matanya terkejut. "Jimin hyung sudah terkenal siswa yatim piatu sejak tahun pertamanya bahkan hari pertamanya. Doojoon sunbae, kedua orang tuanya mengalami broken home begitu pula dengan Kyungsoo sunbae. Dan aku—ibuku meninggal sebelum aku bisa melihat senyumnya." Taehyung tertegun dan Jungkook tersenyum kecil.

"Aku hanya mencoba untuk menjadi setegar mereka. Karena kau tahu, hyung? Tidak mudah, hidup tanpa keluarga lengkap. Aku rasa, kau juga mengalami hal yang sama."

"aniyo!" tolak Taehyung tiba-tiba. "Aku masih bisa merasakan kasih sayang ibuku hingga saat ini. Beliau meninggal ketika aku berumur tujuh tahun. Jadi, aku beruntung memiliki kenangan bersamanya." Jungkook tersenyum iri.

"Aku iri padamu, hyung." Taehyung tersenyum tampan dan refleks mengusak rambut Jungkook gemas.

"Jangan sedih, hm? Kau tahu 'kan? Semua hyung-mu ada disini? Kami akan menjagamu dan melindungimu dengan senang hati." Jungkook mengangguk percaya.

"nde, terima kasih hyung!" balas Jungkook yang hanya diangguki Taehyung.

.

.

.

.

.

Jimin memandangi bangunan besar dan tua yang berdiri kokoh di depannya. Memandang penuh rindu sebelum memutuskan untuk memasuki halaman tempat dimana ia dibesarkan.

"annyeongasseo?" sapa Jimin ramah pada anak-anak yang sedang bermain di halaman panti asuhan.

"Jiminie hyung / oppa?!" pekik anak-anak kemudian berhambur memeluk Jimin. Jimin terkekeh dan dengan senang hati ia berjongkok dan memeluk anak-anak itu satu persatu.

"Bagaimana kabar kalian?" tanya Jimin.

"Baik hyung / oppa!" seru anak-anak kompak. Jimin tersenyum lega.

"Apa eommonim ada di dalam?" tanya Jimin pada anak-anak yang masih menunjukkan senyum ceria mereka. "Kalau begitu bermainlah. Aku akan menemui eommonim lebih dulu, arraseo?" ijin Jimin yang kemudian berdiri dari jongkoknya dan langsung memasuki ruang tamu panti asuhan.

"Jiminie?" panggil seseorang. Jimin terkejut namun kemudian ia tersenyum manis.

"Hyejin noona?" sahut Jimin senang bertemu dengan salah satu pengasuhnya di panti asuhan itu.

"Kau datang?"

"nde, aku ingin menemui eommonim."

"Kalau begitu, masuklah. Eommonim pasti sedang menunggumu." Jimin mengangguk.

"nde, kalau begitu aku temui eommonim dulu, noona!" pengasuh itu mengangguk dan mempersilahkan Jimin untuk menemui ibu panti yang sudah mereka anggap sebagai ibu mereka.

Jimin melangkah masuk lebih dalam ke tempat yang sudah menjadi rumahnya selama ini. Hingga, akhirnya ia sampai di ruang tengah dimana sosok wanita paruh baya yang dipanggil 'ibu' di panti itu, duduk bersama dengan dua orang pria yang duduk membelakanginya. Jimin tersenyum dan membungkukkan badannya.

"annyeongasseo, eommonim."

"Kau datang, nak?" sapa sang ibu yang membuat kedua pria yang sepertinya sedang bertamu menoleh.

"Jiminie?!" pekik salah satu dari dua pria itu. Ia berdiri dan tanpa basa-basi berhambur memeluk Jimin. "Ini benar kau Jiminie?" ujarnya senang bukan main dan menangkup wajah manis Jimin dengan kedua tangan besarnya. "Kau lupa padaku?" tanyanya ketika melihat sorot mata bingung dari Jimin.

"Chanyeol hyung?" gumam Jimin ingat.

"aigoo~ aku benar-benar merindukanmu!" ujarnya dan kembali memeluk Jimin erat. "Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik hyung. Kau, kapan kembali dari Jepang?" tanya Jimin ikut senang bertemu dengan sosok kakak yang dulu tumbuh bersamanya di panti asuhan ini, Park Chanyeol. Tapi, sayang mereka harus berpisah ketika Chanyeol berumur 15 tahun karena ada sebuah keluarga yang ingin mengadopsinya.

"Aku sudah dua minggu di Seoul dan baru menyempatkan untuk mampir ke panti. oya, Jiminie perkenalkan—ini kakak angkatku." Chanyeol memperkenalkan Jimin dengan pria tampan yang sedari tadi menatap intens kearah Jimin. "hyung, ini Jimin. Orang yang sering aku ceritakan padamu." pria itu tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya dihadapan Jimin.

"Choi Seunghyun." ujarnya memperkenalkan diri bersamaan dengan Jimin yang menerima uluran tangan dari pria yang bernama Choi Seunghyun.

"Park Jimin, imnida." balas Jimin yang kemudian melepas tautan tangannya dengan Seunghyun lebih dulu. Setelah itu, Jimin berjalan mendekati ibu panti dan memeluknya hangat.

"Bagaimana kabar eommonim?" tanya Jimin, ibu panti tersenyum dan mengelus surai Jimin lembut.

"Aku baik, nak. Aku senang bisa melihat kalian berdua." Jimin tersenyum senang dan menoleh kearah Chanyeol yang masih memasang senyum tampan di wajahnya. "Kalian berbincanglah dulu. Aku akan menyiapkan minuman untuk kalian."

"Tidak perlu repot, eommonim." sela Jimin.

"eyy~ aniyo aku tidak merasa repot sama sekali. Duduklah, Jiminie—tunggu sebentar, nde?" pamit sang ibu yang kemudian berjalan meninggalkan Jimin bersama Chanyeol dan Seunghyun.

Grep!

Jimin terlonjak ketika tiba-tiba Chanyeol merangkulnya dan membawanya untuk duduk di sampingnya sementara Seunghyun hanya diam dan mematai interaksi Jimin dan Chanyeol. Lebih tepatnya, sedari tadi ia hanya menatap kearah Jimin.

"Bagaimana kabarmu? Apa kau hidup dengan baik disini?" tanya Chanyeol. Jimin mengulas senyum singkat.

"Aku baik saja, hyung. Bagaimana Jepang?" Chanyeol mengerucutkan bibirnya kesal.

"Menyebalkan! Karena tidak ada dirimu!" bisik Chanyeol. Jimin tersenyum kecil. "Kau tahu, aku marah padamu karena sejak kau masuk SMA kau tidak pernah lagi mengirimku surat." Jimin tersenyum menyesal.

"Maaf hyung, kegiatan di sekolah benar-benar sibuk. Lagi pula, ada batasan untuk keluar sekolah. Maafkan aku." sesal Jimin. Chanyeol tersenyum tampan dan mengelus surai Jimin lembut.

"Tidak apa, Jiminie. Aku mengerti. oya, aku punya kabar baik untukmu," ujar Chanyeol masih merangkul pinggang Jimin dan Jimin yang menatap Chanyeol bingung.

"Kabar apa hyung?"

"Aku akan menetap di Seoul dan juga Seunghyun hyung sudah memindahkanku di sekolah elit di Seoul." Jimin berbinar senang.

"Benarkah, hyung? Dimana kau sekolah?" Chanyeol mengangguk antusias.

"Restad College." Jimin tersenyum senang.

"jinjjayo? Kau tidak bercanda 'kan, hyung? wah, daebak! Kita akan satu sekolah dan kau akan menjadi seniorku kalau begitu." pekik Jimin mengingat Chanyeol lebih tua darinya. Chanyeol kembali mengangguk.

"hm, aku juga senang kita bisa satu sekolah dan juga mulai sekarang kita tidak akan bisa dipisahkan lagi dan aku bisa kembali menjagamu. Dan kau tahu? Aku sudah boleh pindah asrama besok. Bahkan, pihak sekolah juga memperbolehkanku ikut kemah musim panas."

"wah, ini benar-benar kabar baik hyung. Aku benar-benar senang mendengarnya. Oya, kau ditempatkan di kelas berapa hyung?"

"3-IIIR. Aku sudah tidak sabar untuk pindah besok. Benarkan, hyung?" Chanyeol menoleh kearah Seunghyun. Seunghyun hanya mengangguk kecil.

"nde, kau sudah boleh pindah lusa nanti dan pembelajaranmu dimulai semester depan." jawab Seunghyun datar. Jimin menatap Seunghyun sekilas, begitu pula dengan Seunghyun yang masih menatapi Jimin intens.

"oya, Jiminie karena aku siswa baru di sekolahmu besok, kau mau 'kan selalu menemaniku? Bagaimana pun juga aku sudah terlanjur terbiasa dengan lingkungan di Jepang." ujar Chanyeol membuat Jimin memutus kontak dengan Seunghyun dan mengalihkan pandangannya pada pemuda jangkung yang duduk di sampingnya.

"Tentu saja hyung, aku akan menemanimu." Chanyeol tersenyum puas dan kembali mengeratkan tangannya pada pinggang Jimin.

"Dan kau harus janji, jangan jauh-jauh dariku." Jimin terkekeh.

"hyung, kenapa kau menjadi posesif seperti ini?" Chanyeol menatap Jimin lamat.

"Aku sangat merindukanmu kau tahu, sepanjang hari disana yang aku pikirkan hanya dirimu." Jimin duduk tergugup dengan penuturan Chanyeol yang tiba-tiba.

"ehkm! Aku seperti orang menumpang disini." dehem Seunghyun menatap curiga kearah Chanyeol dan Jimin. "Jika dipikir-pikir kalian berdua seperti sepasang kekasih yang sedang menjali hubungan jarak jauh." Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya sementara Chanyeol tertawa keras.

"Kita memang sepasang kekasih, iya 'kan Jiminie?" Jimin menatap Chanyeol horor.

"hyung, jangan mengada-ada!" seru Jimin memukul lengan Chanyeol pelan. Chanyeol tertawa puas setelah berhasil menggoda Jimin.

"arraseo, arraseo Jiminie aku hanya bercanda. Jangan marah lagi, heum?" Jimin mengangguk kecil, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah.

"hyung, kenapa eommonim lama sekali?" tanya Jimin. Chanyeol mengedikkan bahunya tak tahu.

"Entahlah, kenapa kau tidak menyusulnya dan membantunya?" Jimin mengangguk.

"nde hyung, kalau begitu aku ke dapur dulu-nde?" ijin Jimin yang hanya diangguki Chanyeol dan membiarkan Jimin beranjak meninggalkannya bersama kakak angkatnya.

Sepergian Jimin, wajah Chanyeol dan Seunghyun berubah. Terutama, Choi Seunghyun yang semakin menyeringai lebar kearah adik angkatnya.

"Tampaknya, kau benar-benar mencintainya." sarkas Seunghyun yang membuat Chanyeol menatap Seunghyun tajam.

"Maka dari itu, hyung—aku harap padamu kau dan kedua rekanmu untuk tidak lagi menyakitinya bahkan berniat untuk membunuhnya." Seunghyun menarik nafas dan mencoba untuk bernegosiasi pada adiknya.

"Baiklah, aku akan memastikan jika aku dan kedua rekanku tidak akan menyentuh Park Jimin lagi. Tapi, itupun jika kau bisa membuatnya menjadi milikmu!" Chanyeol menyeringai kejam.

"Dia memang harus menjadi milikku. Jikalaupun tidak, aku juga tidak akan membiarkan Park Jimin dimiliki oleh siapapun."

"Itu artinya kau tidak masalah bukan jika aku membunuh yang bukan menjadi milikmu?" Chanyeol tersenyum miring.

"Tentu saja, karena aku tidak ingin milikku menjadi milik orang lain." Seunghyun tersenyum puas dengan jawaban sang adik angkatnya.

'Menjadi milikmu atau bukan, waktu Park Jimin di dunia ini—tidak akan lama lagi!'

.

.

.

.

.

Ckiit!

Sebuah mobil audi berwarna biru berhenti tepat di depan gedung salah satu sekolah terelit di Seoul, Restad College.

Blam!

Si pemilik mobil keluar dari mobilnya seraya membawa sebuah kotak berukuran sedang berwarna cokelat di tangannya. Pria yang mengenakan mantel berwarna biru tua itu melangkahkan kakinya memasuki gerbang RC yang terbuka lebar.

"permisi~" sambut seorang pria berbadan kekar serta mengenakan pakaian serba hitam. "Maaf, siapa anda? Dan ada keperluan apa anda kemari?" tanyanya menghadang pria bermantel biru tua itu.

"Perkenalkan saya Kwon Jiyoung, saya kemari untuk mengantarkan hadiah pada salah satu siswa di sekolah ini." jawab pria yang bernama Kwon Jiyoung. Pria kekar yang menjadi salah satu penjaga keamanan sekolah, mematai Jiyoung dari ujung kaki hingga ujung rambut.

"Jika boleh tahu, untuk siapa hadiah yang anda bawa?" tanyanya. Jiyoung tersenyum kecil.

"Park Jimin, siswa kelas 2-IR. Sebenarnya, hadiah ini adalah hadiah dari kedua orang tuanya sebelum meninggal tapi, ayahnya ingin memberikan hadiah ini ketika Jimin berumur 18 tahun." balas Jiyoung. "hm~ bisakah saya menitipkan ini pada anda untuk diberikan pada Park Jimin? Isinya adalah benda penting peninggalan keluarganya." pria kekar itu mengangguk.

"Baiklah, saya akan memberikan ini padanya." Jiyoung tersenyum senang.

"oh, kamsahamnida!" girang Jiyoung menyerahkan kotak cokelat yang ia bawa kepada pria di depannya. "Kalau begitu, saya permisi." pamit Jiyoung, ia berbalik badan dan segera beranjak pergi dari sekolah itu.

Sampai di depan gerbang, Jiyoung kembali menghentikan langkahnya dan menatap gedung mewah di depannya. Senyum tampan yang awalnya terpatri di bibirnya terganti dengan seringai kejam yang terlihat menakutkan.

Drrt~

Masih dengan tatapannya yang menatap gedung utama RC, tangan Jiyoung terulur dalam saku mantelnya untuk meraih ponselnya yang bergetar. Tanpa melihat siapa orang yang menghubunginya, Jiyoung menggeser ikon jawab dari layar benda segi empat itu.

"Bagaimana?" tanya suara seberang. Jiyoung tersenyum miring.

"Beres hyung, kita tinggal menunggu bom itu meledak setelah berada di tangannya!" jawab Jiyoung yakin.

TBC


(-) Aloha, I'm back today... Maap kalau typo-typo masih mengganggu para pembaca sekalian meskipun udah dua kali aku edit, tapi pasti ada yang kelewatan.

(-) Thx yang udah review di chapter sebelumnya. And see you in next chapter guys, ...

Kamsahamnida,