Previously ...

"Bagaimana?" tanya suara seberang. Jiyoung tersenyum miring.

"Beres hyung, kita tinggal menunggu bom itu meledak setelah berada di tangannya!" jawab Jiyoung yakin.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Jimin melangkah memasuki gerbang sekolahnya. Ia cukup lelah hari ini, karena menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak di panti asuhan tempatnya dibesarkan juga bersama dengan Park Chanyeol. Sosok kakak yang dulu selalu berada di sisinya dan melindunginya.

"Park Jimin-ssi?" panggil seseorang membuat Jimin menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Jimin mengeryitkan keningnya ketika mendapati salah satu petugas keamanan sekolah menghampirinya seraya membawa sebuah kotak berwarna cokelat.

"nde ada apa, paman?" tanya Jimin.

"Ada paket untukmu." ujarnya menyerahkan kotak yang ia bawa kepada Jimin. Jimin menatap kotak itu sebentar.

"Paket? Untukku? Dari siapa?" tanyanya.

"Ada seorang pria bernama Kwon Jiyoung, dia datang kemari dan menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu. Dia bilang ini peninggalan kedua orang tuamu." Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Peninggalan kedua orang tuaku?" pria itu mengangguk. "Tapi, kenapa baru sekarang dia memberikannya padaku?"

"oya, dia juga bilang karena ayahmu sempat mengatakan untuk memberikan padamu ketika kau berumur 18 tahun." Jimin menatap pria di depannya curiga. Ia merasa dari kalimat yang dikatakan petugas keamanan sekolah ada yang janggal menurutnya.

"Baiklah, terima kasih paman!" balas Jimin akhirnya menerima kotak itu. "Kalau begitu, aku masuk dulu. Terima kasih sudah memberikannya padaku."

"nde, sama-sama Jimin-ssi." tutur petugas keamanan bersamaan dengan Jimin yang membungkukkan badannya dan segera bergegas pergi.

Jimin menatap kotak berwarna cokelat itu. Namun, sedetik kemudian ia mengedikkan bahunya tak peduli dan tak sabar untuk membuka paket yang katanya adalah peninggalan dari kedua orang tuanya.

.

.

.

.

.

"Kenapa hanya kelas tiga?" tanya Namjoon terlihat jengah menatap kearah si ketua dewan siswa yang kebetulan juga tengah duduk bersama keempat temannya dan berkumpul bersama Hoseok, Seokjin, Jungkook, Yoongi, dan Taehyung di cafetaria sekolah yang kebetulan sore itu tak begitu ramai dan hanya ada mereka bersebelas.

"Karena ini adalah kegiatan yang sudah menjadi rutinitas bagi siswa kelas tiga setiap tahun untuk bersiap mengikuti ujian." jawab Jinyoung.

"Tapi, ujiannya masih lama. Kita juga belum bersiap untuk kemah minggu depan. Kenapa diadakan lebih cepat dari tahun lalu?" sahut Seokjin yang diangguki oleh Hoseok.

"Entahlah, itu sudah menjadi keputusan pihak sekolah!" jawab Minho.

"Memangnya apa itu malam perenungan?" tanya Taehyung masih tak mengerti. Para siswa lama di RC, menarik nafas sabar.

"Kegiatan itu hanya dilakukan oleh seluruh siswa kelas tiga setiap tahun yang dilakukan di gymnasium. Prosesnya adalah nanti siswa kelas tiga akan duduk di sebuah kotak kayu yang memiliki sisi yang sama, serta diputarkan lagu klasik semalam suntuk. Kalian harus bisa menahan rasa kantuk. Tidak boleh tidur, jika kalian tidur kalian harus mengulangnya lagi malam selanjutnya." terang Minho. Namjoon, Taehyung, Yoongi, bahkan Jungkook menatap horor kearah Minho. Oh ayolah, mereka yakin siapapun pasti akan langsung mengantuk jika diputarkan lagu klasik tengah malam.

"Apa itu kegiatan wajib, sunbaenim?" tanya Jungkook.

"hm, itu wajib untuk kelas tiga. Nantinya, selama kegiatan itu berlangsung, kalian tidak boleh berbincang satu sama lain dengan teman yang duduk di sebelah kalian." jawab Daehyun.

"Tapi, apa gunanya kegiatan semacam itu?" tanya Taehyung tak habis pikir.

"Sepanjang malam, kalian harus memikirkan apa yang harus kalian lakukan di masa depan. Selain itu, kegiatan ini juga untuk melatih sejauh mana kalian bisa mengenali diri kalian sendiri dan kalian juga bisa menahan godaan paling besar di dunia, kalian tahu apa itu?" tanya Myungsoo. Jungkook dan Taehyung menggeleng. "mengantuk!" jawab Myungsoo diikuti kekehan dari Minho, Jiyoung, Daehyun, Hoseok, dan Seokjin.

"Aku yakin, Yoongi hyung pasti harus melakukannya setiap hari." canda Taehyung dengan senyum kotaknya.

"Memangnya kenapa, hyung?" tanya Jungkook. Taehyung tersenyum dan melirik kearah Yoongi yang menatapnya tajam.

"Karena Yoongi hyung itu tukang tidur!"

Plak!

"yak! Hyung!" pekik Taehyung ketika dengan acuhnya, Yoongi memukul kepala Taehyung keras yang membuat beberapa orang yang duduk di sekitarnya menertawakan tingkah mereka berdua. "aishjinjja, kau ini benar-benar!" umpat Taehyung tertahan.

"omong-omong seharian ini, aku belum melihat Park Jimin," tanya Daehyun mengalihkan pembicaraan yang membuat orang-orang yang ada di sekitarnya diam tak tahu harus merespon apa.

"Apa dia sudah tidak ada sejak sarapan tadi pagi?" tanya Jiyoung akhirnya menatap kearah para roomate Jimin yang duduk di depannya.

"Selesai sarapan, bilik kamarnya sudah rapi dan tasnya juga tidak ada. Entah dia pergi kemana." balas Seokjin cemas. "Sebentar lagi, sudah mulai petang—bagaimana jika dia belum pulang?"

"Jika sampai matahari terbenam dia belum pulang, bukankah kita harus mencarinya?" tanya Taehyung.

"Tapi, setahuku jika dia keluar, Park Jimin tidak pernah lupa waktu! Pasti, dia akan kembali sebentar lagi." balas Doojoon yang sedari tadi hanya diam. Hal itu pun sontak membuat beberapa orang di depannya tersenyum menggoda sementara Yoongi yang memutar kedua bola matanya jengah.

"Jangan cemburu, hyung!" bisik Taehyung. Yoongi berdecak dan tak segan untuk memukul kepala Taehyung lagi. "hyung, jangan pukul kepalaku terus! Aku bisa bodoh nanti!"

"Kau memang sudah bodoh, Tae!" sarkas Yoongi kesal yang bukannya membuat orang-orang disekitarnya merasa takut tapi tertawa karena mereka yakin pasti Yoongi merasa cemburu karena Doojoon lebih mengetahui tentang Jimin dibandingkan dirinya.

"oya, soal Jimin bagaimana sekarang? Apa ada kabar tentang kakakmu itu?" tanya Hoseok kemudian. Doojoon menggeleng menyesal.

"mianhae, orang yang ku kirim untuk menyelidiki kakakku belum memberikan kabar apa-apa padaku." jawab Doojoon.

"Aku harap, kakakmu tidak bertindak kelewat batas pada Jimin!" sinis Yoongi menatap Doojoon tajam. Doojoon tersenyum miring, dan seketika suasana di cafetaria berubah kelam hanya karena kedua pemuda tampan itu saling bertatapan saat ini.

"Aku juga tidak akan membiarkan kakakku untuk menyentuh apalagi menyakiti Park Jimin satu jari pun!" balas Doojoon tak kalah tajam.

.

.

.

.

.

Bruk!

Jimin menjatuhkan tubuhnya diatar kasurnya. Setelah melepas jaket kesayangannya, dengan tak sabar Jimin meraih kotak yang diberikan petugas keamanan tadi. Ia menatap kotak itu teliti.

"Siapa itu Kwon Jiyoung? Apa dia temannya appa?" gumam Jimin, ia kembali mengedikkan bahunya dan membuka penutup dari kotak cokelat itu.

Jimin mengangkat sebelah alisnya ketika melihat barang-barang di dalam kotak itu. Beberapa figura, dan sebuah album foto. Tangan Jimin terulur meraih sebuah figura keluarga yang terletak paling atas.

"Apa ini ayah dan ibuku?" gumam Jimin ketika ia melihat dirinya yang masih kecil di foto itu terlihat tertawa bersama dua orang dewasa. Jimin mencoba tampak mengingat. "Aku harap, aku bisa mengingat sesuatu." harap Jimin mencoba agar memori otaknya bekerja kali ini.

Jimin meletakkan figura keluarganya di sampingnya dan meraih figura berikutnya. Ia mengambil dua figura sekaligus. Figura yang berisi tujuh bocah kecil serta figura yang berisi banyak orang di dalamnya, entah itu orang dewasa atau anak-anak.

"Siapa mereka?" Jimin menatap teliti kearah figura yang berisi banyak orang. Ia menatap wajah itu satu persatu. "oh, b-bukankah ini dokter Jung? Kenapa dia ada di dalam foto ini?" gumam Jimin tak percaya. "Dan, ini—bukankah ini Seonwoong ahjussi? k-kenapa—" Jimin benar-benar tak habis pikir melihat kumpulan keluarga yang berfoto bersama dan terlihat bahagia.

Jimin memejamkan kedua matanya, mencoba untuk mengenyahkan rasa sakit yang kembali datang di kepalanya. Ia tidak ingin kalah kali ini. Selanjutnya, ia meraih sebuah album foto dan membuka album itu.

"huh?" pekik Jimin saat secarik kertas sobekan melesat keluar dari album foto tepat ketika ia membuka covernya. Jimin membungkuk dan meraih kertas yang sepertinya adalah bekas robekan koran.

Jimin semakin membulatkan kedua matanya ketika ia membaca isi dari potongan koran serta menampilkan sebuah gambar kecelakaan mobil yang terlihat sangat mengenaskan.

Keluarga Calon Perdana Menteri Park Seojoon Alami Kecelakaan Maut

Jantung Jimin berdetak cepat, entah kenapa tubuhnya bergetar. Keringat dingin mulai mengucur di seluruh wajah manisnya. Nafas Jimin memburu, tapi ia masih mencoba untuk menahannya. Jimin menarik nafas menenangkan diri dari rasa takut yang ia rasakan seolah ia pernah mengalami hal mengenaskan yang ada di gambar potongan koran ditangannya. Hingga, sepasang matanya mendapati sebuah alat perekam yang tersisa di dalam kotak itu. Dengan tangan gemetar, Jimin meraih benda persegi panjang itu dan menekan tombol play.

"Park Seojoon ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi serta otak di balik bisnis illegal terbesar yang menyebar luas di Korea Selatan, Hongkong, Jepang, hingga China. Menurut, Ketua Detektif Seoul, Min Seonwoong dan Ketua Badan Intelijen Negara, Jeon Seungho serta atas keputusan dari Jaksa Agung, Kim Seungwon, akan ada penyelidikan lebih lanjut terkait dengan bisnis illegal yang tengah Park Seojoon geluti diam-diam. Selain itu, Perdana Menteri Nam Goong Won mengusulkan untuk dicabutnya promosi Menteri Park Seojoon sebagai calon Perdana Menteri yang akan menggantikan masa jabatannya terkait kasus yang sedang mereka selidiki. Sementara itu, Perdana Menteri Nam Goong Won tidak menyangka perbuatan Menteri Park Seojoon terkait atas kriminilitas yang ia sembunyikan selama ini telah merugikan banyak pihak terutama seluruh masyarakat serta penyalah-gunaan jabatan Menteri Park untuk menyembunyikan segala perbuatannya."

BRUK!

Tanpa sadar, Jimin menjatuhkan alat perekam di tangannya yang membuat alat perekam itu sedikit pecah karena terantuk lantai di bilik kamar Jimin.

Jimin terdiam, kedua matanya kosong. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Dan, entah kenapa Jimin terengah. Jimin mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit di kepalanya yang sudah ia tahan sedari ia melihat figura yang ada di dalam kotak itu. Jimin menunduk dan memejamkan kedua matanya, menikmati bagaimana rasa sakit yang bisa membunuhnya kapan saja.

"Appa / Eomma!"

"Jiminie!"

"Hari ini, aku mendapat nilai seratus di tes matematika-ku, eomma!"

"Aigoo~ pangeran eomma memang yang terbaik!"

"Tentu eomma! Aku harus menjadi yang terbaik untuk menjaga adik bayi. Apa adik bayi baik-baik saja?"

"Jiminie, bermainlah sebentar dengan mereka. Nanti eomma menyusul!"

"Aku mau bersama eomma!"

"Aku tidak mau appa bertemu dengan orang yang tidak mempercayai appa!"

"Jiminie, apa yang kau bicarakan? Siapa yang tidak mempercayai appa nak?"

"Aku percaya pada appa, tapi orang-orang tidak ada yang percaya padanya. Appa Jimin bukan orang jahat. Eomma~ aku mendengar semuanya malam itu!"

"Aku sudah peringatkan padamu, Park Seojoon-ssi—untuk tidak bermain-main denganku!"

"Saya tidak pernah bermain-main dengan anda, Perdana Menteri Nam! Saya hanya melakukan apa yang seharusnya menjadi tugasku!"

"Cih! Beraninya kau melawanku!"

"Maafkan saya tuan Nam. Tapi, apa yang anda lakukan selama masa jabatan anda itu sangat buruk dampaknya bagi masyarakat."

"PARK SEOJOON! BERANINYA KAU—"

"Maafkan saya, tapi saya memiliki bukti atas tindakan korupsi anda selama ini dan beberapa kasus lainnya. Jadi, saya sangat mengharapkan kepada anda untuk mempertanggungjawabkan semuanya!"

"Dengar Park Seojoon! Jangan anggap kau menang kali ini, jika aku sampai tertangkap dan bukti itu sampai tersebar di depan publik. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghancurkanmu hingga ke akar-akarnya!"

"Lakukan, apa yang ingin anda lakukan Perdana Menteri Nam. Saya pun tetap akan melakukan apa yang ingin saya lakukan!"

"Baiklah, jangan menyesal karena telah menantangku!"

"Bahkan, aku bisa membuat kau berada di situasi dimana kau yang menjadi diriku dan aku menjadi dirimu. Kau punya banyak pelindung yang sudah kau anggap sebagai kakakmu sendiri. Tapi, bagaimana jika mereka tidak berpihak padamu, Park Seojoon? Bukankah itu menyakitkan? Ah, tidak hanya itu—bagaimana jika kau kehilangan anak dan istrimu?"

"Kau mengancamku?"

"Kita sudah lama saling mengenal Park Seojoon dan aku sangat menyukaimu dibandingkan hyung-mu yang lain. Kau disiplin, tegas dan jujur dalam bekerja tapi kau adalah sosok suami sekaligus ayah yang lembut dan menjadi pelindung bukan? Tentu saja, kau harus menjadi pelindung mereka!"

"Jangan pernah mengusik keluargaku, tuan Nam!"

"Aku tidak akan mengusikmu jika kau tidak mengusikku, Park Seojoon-ssi!"

"Kalau begitu, hancurkan saja hidupku—jangan keluargaku!"

"No no no! Aku tidak tahu kau manusia macam apa tapi—kau orang yang sulit dihancurkan. Tapi, bukankah setiap orang pasti memiliki kelemahan? Dan, aku tahu kelemahanmu!"

"Nam Goong Won!"

"Lihatlah, anak dari penjahat itu!"

"Sekarang dia sudah hampir berlutut dihadapan kita semua!"

"Yak! Park Jimin, ayahmu itu seharusnya di penjara! Dan, kau tidak pantas sekolah disini!"

"Ayahku bukan penjahat!"

"PEMBOHONG!"

"Kau pembunuh! Kau hampir melukaiku!"

"Ternyata, anak dan ayah sama saja. Sama-sama mengerikan. Bagaimana bisa umurmu masih sekecil ini tapi sudah berbuat kasar? Apa kau tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu? Mereka benar-benar sangat buruk! Cih! Aku berdoa, agar ayahmu mendapat hukuman mati seumur hidup!"

"Jangan menghina ayahku!"

"Cih! Aku kasihan pada masa depanmu, akan menjadi apa kau besar nanti jika masih kecil saja kau tidak segan-segan melukai anakku dan berucap kasar pada orang yang lebih tua!"

"Jimin?"

"Kau lupa padaku? Kita bertemu di restoran tiga hari yang lalu!"

"Jika kau seumuran dengan Taetae, panggil aku 'hyung'!"

"Aku akan mengobatimu, jadi jangan menangis, arraseo?"

"Kau boleh menangis sepuasnya, tidak ada yang tahu!"

"Kenapa tidak ada yang mempercayai appa?"

"Aku percaya pada ayahmu."

"Aku berjanji padamu—aku akan mengembalikan senyummu jika kau tak lagi menunjukkan senyum manismu, Jiminie!"

Ckiiiiiiiit!

BRAK!

BOOOM!

"kajja, kita pergi!"

"ARGH!" erang Jimin seraya meremat rambutnya kasar.

Bruk!

Jimin menjatuhkan dirinya di atas lantai yang dingin serta tanpa henti terus meremat rambutnya bahkan kini ia juga memukul kepalanya yang terasa ingin meledak detik itu juga, terasa amat sangat menyakitkan. Jimin merintih kesakitan. Dalam hati ia berteriak pada siapa saja yang bisa menolongnya untuk tidak mengingat semua masa lalunya yang terus berputar secara random di memori otaknya dan menyakiti seluruh tubuhnya secara perlahan.

"hentikan~" racau Jimin sampai menitikkan air matanya.

"ARGH!"

Prang!

Jimin berteriak seraya membanting semua benda-benda yang ada di kamarnya tanpa sadar. Ia terus mengerang dan meracau tak jelas. Jimin merasa ia seperti dikendalikan oleh seseorang dengan ingatannya melayang kemana-mana.

Bruk!

Cklek!

Jimin menjatuhkan tubuhnya dan berlutut dengan tangannya yang masih mencekeram kepalanya erat, bersamaan dengan dua orang yang tiba-tiba datang dan membuka pintu kamarnya.

"yaampun, Jimin-ssi—apa yang terjadi padamu?" samar-samar Jimin mendengar suara asing di dekatnya tapi seketika suara itu tenggelam begitu saja digantikan dengan suara-suara serta bayangan dari orang asing yang terus bermunculan.

"hentikan~" racau Jimin lagi. "Aku mohon, hentikan!"

"huh? Jihoonie, cepat cari pertolongan!"

"nde-nde-nde, hyung! Kau tunggu disini. Aku akan segera kembali!"

.

.

.

.

.

"SUNBAENIM!" seru seorang siswa kelas satu berperawakan mungil yang bernama Park Jihoon, ia berlari terengah memasuki cafetaria yang kebetulan saat itu masih terdapat Doojoon dan keempat temannya serta Yoongi, Namjoon, Taehyung, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook.

"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Seokjin memperhatikan Jihoon yang terlihat panik.

"sunbaenim—" Jihoon terdiam sejenak, menetralkan nafasnya yang terengah. "sunbaenim,"

"ya, ada apa?!" tanya Minho meninggikan suaranya tak sabar.

"Jimin sunbae—"

DEG!

Kesebelas orang itu terdiam dan menatap Jihoon menuntut, dalam hati mereka berharap untuk tidak mendengar hal buruk yang akan disampaikan Jihoon.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Doojoon cepat.

"Jimin sunbae, dia tiba-tiba mengerang kesakitan dan—" belum selesai Jihoon menjelaskan masalah yang terjadi, Yoongi sudah melesat dan berlari kencang menuju gedung asrama.

"hyung!" pekik Taehyung, Jungkook, Namjoon, dan Hoseok yang kemudian melesat menyusul Yoongi yang berlari ke gedung asrama.

Yoongi berusaha untuk secepat mungkin sampai di kamar Jimin, entah apa yang terjadi pada junior manisnya itu. Jantung Yoongi berpacu lebih cepat dari biasanya, entah karena ia yang terus berlari atau karena terlalu mencemaskan Park Jimin. Yoongi sampai di depan lift gedung asrama. Ia menekan tombol lift tak sabar.

"Ck!" decaknya kesal dan memutuskan untuk menaiki tangga darurat karena pintu lift yang tak kunjung terbuka.

Yoongi terengah, ketika ia sampai di tangga lantai lima, ia membungkuk sebentar sebelum kembali berlari menuju tangga selanjutnya.

"Jimin!" seru Yoongi akhirnya memasuki kamar Jimin dan berlari menuju bilik junior kesayangannya.

"Yoongi-ssi!" panggil seorang siswa bernama Park Jinyoung menyambut Yoongi yang memasuki bilik Jimin tergesa.

Yoongi menghentikan langkahnya tepat di depan Jimin yang masih meracau dan menyiksa dirinya sendiri dengan menjambak rambutnya tanpa henti, hal itu membuat Yoongi teriris melihatnya.

"hentikan~ aku mohon hentikan!" lirih Jimin terisak.

Yoongi berjalan mendekati Jimin dan meraih kedua tangan Jimin lembut.

"Jiminie~" panggil Yoongi penuh sayang. Berharap, Jimin berhenti menyiksa dirinya sendiri. Bahkan, ia rela jika Jimin harus melampiaskan semua rasa sakitnya padanya. "Jiminie, aku disini. Tenanglah~" lirih Yoongi namun sepertinya dihiraukan oleh Jimin yang seluruh tubuhnya gemetar dan kepalanya yang tertunduk serta kedua matanya yang bercucuran air mata. "Jimin, sayang~" panggil Yoongi yang tak menyadari jika ia sampai meneteskan air matanya.

Jimin terdiam. Tak lagi terisak. Tapi, kedua matanya masih terpejam. Entah kenapa, Jimin merasa tenang meskipun rasa sakit masih ia rasakan dengan jelas. Dan, disaat itulah entah kenapa segala bayangan serta suara-suara yang muncul secara random di pikiran Jimin sejak tadi perlahan berhenti dan menjadi seperti potongan puzzle yang kini sudah kembali utuh secara perlahan. Bayangan dari masa lalu serta orang-orang yang selalu muncul di pikirannya dengan bayangan hitam-putih kini berubah menjadi penuh warna. Wajah-wajah asing yang sebelumnya merasa tak pernah ia kenali, tiba-tiba menjadi wajah-wajah yang begitu ia rindukan.

"Jiminie~" dan suara itu, sontak membuat Jimin membuka kedua matanya serta mengangkat wajahnya dan menatap wajah pucat yang menatapnya cemas dengan air mata di kedua mata sipitnya. "Jiminie, kau tak apa?" Jimin tersenyum kecil bersamaan dengan kedua matanya yang mulai memburam.

"Yoon-Yoongi hyung?" lirih Jimin sebelum akhirnya menutup kedua matanya dan tidak sadarkan diri di pelukan Yoongi.

.

.

.

.

.

"Bagaimana keadaannya dokter Kim?" tanya Seokjin pada dokter sekolah, Kim Heechul yang baru saja selesai memeriksa Jimin yang masih tak sadarkan diri. Sebenarnya, tak hanya Seokjin yang ada di kamarnya, ada juga Jungkook, Hoseok, Taehyung, Namjoon, Doojoon, dan keempat temannya serta Yoongi yang sedari tadi hanya menunduk dan berdiri diam.

"Jimin-ssi mengalami tegang dan stres, dan karena itu dia jadi demam tinggi." jawab dokter Kim.

"Demam tinggi?" gumam Taehyung terkejut. Dokter Kim mengangguk.

"Tapi, tenang saja dia akan segera membaik dua hari ke depan jika kalian menjaganya. Dan, juga beri dia bubur saat ia sadar nanti. Mungkin, ia akan sadar satu sampai dua jam lagi. Dan, jangan lupa untuk membeli obatnya di apotek, okay?" pesan dokter Kim yang hanya diangguki oleh beberapa dari mereka. "Aku akan datang lagi besok pagi untuk memeriksanya, selamat malam!" pamit dokter Kim yang hanya dibalas senyum sekilas dari orang-orang yang ada di kamar Jimin, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook.

"sunbaenim, aku rasa kalian juga harus pergi untuk bersiap di kegiatan malam ini." ujar Jungkook mengingatkan.

"hah~" desah Seokjin, Hoseok, dan Namjoon.

"Tapi, bagaimana dengan Jimin?" tanya Jinyoung.

"Kalian tenang saja, aku dan Tae hyung yang akan menjaganya. Pergilah, kalian pasti sudah terlambat." lanjut Jungkook.

"Baiklah, tapi jika ada apa-apa segera kabari kami!" balas Minho yang hanya diangguki oleh Jungkook. Kemudian, Minho, Jinyoung, Daehyun, dan Myungsoo keluar dari kamar Jimin. Sementara, Doojoon ia menarik nafas dan menatap kearah Jimin yang masih terlelap damai.

"Aku pergi!" pamit Doojoon menyusul keempat temannya.

"Apa tidak bisa jika kita tidak ikut kegiatan itu?" tanya Namjoon malas.

"hyung~" gumam Jungkook. Namjoon menarik nafas.

"Dan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Namjoon tak habis pikir ketika ia melihat bilik kamar Jimin yang masih berantakan.

"Kami, akan mencari tahu. Pergilah, hyung! Kali ini, kami yang akan menjaga Jiminie." balas Taehyung.

"arraseo, kami akan pergi." pamit Namjoon dengan terpaksa ia berjalan lebih dulu diikuti Hoseok yang memasang wajah sendunya tanpa berkata apa-apa.

"Kabari kami, jika terjadi apa-apa padanya." pesan Seokjin yang hanya diangguki oleh Jungkook dan Taehyung dan membiarkan Seokjin pergi menyusul Namjoon dan Hoseok.

Jungkook dan Taehyung saling berpandangan ketika melihat Yoongi yang masih tak bergeming di posisinya.

"hyung~" panggil Taehyung yang membuat Yoongi seketika mendongak dan menatap Taehyung sendu. "Kami akan menjaganya," Yoongi mengangguk sekenanya.

"Aku titip Jimin pada kalian." gumam Yoongi datar dan meninggalkan bilik kamar Jimin tanpa menunggu jawaban dari Taehyung ataupun Jungkook. Sepergian Yoongi, Taehyung dan Jungkook saling terdiam, menatap prihatin kearah Jimin yang masih setia memejamkan kedua matanya dengan damai.

"Aku akan membeli obat Jiminie di apotek terdekat, apa tidak apa aku meninggalkanmu sendiri?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk dan tersenyum.

"Tidak apa, hyung. Aku juga mau membereskan bilik Jimin hyung."

"arraseo, aku tidak akan lama!" lanjut Taehyung dan segera pergi untuk membeli obat yang sudah diresepkan dokter Kim untuk Jimin sebelumnya.

Jungkook menarik nafas, ia menatap kearah sekeliling bilik kamar yang Jimin tempati.

"Maafkan kami, hyung. Kami tidak ada saat kau kesakitan." sedih Jungkook seraya mulai untuk membereskan benda-benda Jimin yang mulai berserakan.

Jungkook memunguti buku-buku Jimin satu persatu dan mengumpulkannya di meja yang ada di dekat ranjang Jimin. Dengan telaten ia membereskan semuanya, hingga akhirnya Jungkook sampai pada sebuah tumpukan figura terbalik dengan kepingan kaca yang pecah dan berserakan di lantai. Jungkook memunguti figura itu dan membaliknya sekaligus. Dan, alangkah terkejutnya ketika ia melihat figura yang berisi foto-foto tak asing yang bahkan dia sendiri tidak memilikinya.

"Bagaimana—" lirih Jungkook terbata. "Bagaimana ini bisa ada disini?" tanya Jimin yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Jimin.

'Apa jangan-jangan Jimin hyung seperti ini karena melihat foto-foto ini?'

.

.

.

.

.

"argh~" erang Jimin pelan yang baru saja membuka kedua matanya tepat setelah dua jam dokter Kim memeriksanya. Jimin memegang kepalanya dan mendapati sebuah washlap yang ada di dahinya.

'Apa aku demam?'

Jimin mencoba untuk bangkit dari tidurnya bersamaan dengan seseorang yang datang dan langsung menahan pergerakannya.

"Kau sudah sadar, sunbaenim?" tanya Jungkook kembali menidurkan Jimin yang masih terlihat setengah sadar. Jimin mematai wajah Jungkook lamat, sementara Jungkook yang masih sibuk membenarkan letak selimut serta washlap di dahi Jimin.

"Apa—yang terjadi padaku?" tanya Jimin setelah Jungkook selesai dengan kegiatannya. Jungkook terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih, saat ini ia hanya seorang diri di kamar yang juga ia tempati bersama Jimin sementara Taehyung sedang meminta bibi Kim untuk memasakkan bubur untuk Jimin 20 menit yang lalu.

"Kau demam, sunbaenim." Jimin mengulas senyum dan mengangguk percaya dengan jawaban singkat Jungkook yang membutuhkan waktu lumayan lama hanya untuk menjawab dengan tiga kata itu.

"Tunggu sebentar. Aku akan mengambil bubur untukmu. Kau pasti lapar." pamit Jungkook yang hanya diangguki oleh Jimin dan membiarkan Jungkook pergi meninggalkannya.

Jimin terdiam, dan menatap langit-langit kamarnya. Jujur saja, hatinya mulai tenang setelah ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Rasa sakit yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya. Rasa sakit yang membuatnya seperti merasa ia sedang disiksa tanpa ampun. Jimin menarik nafasnya, ia memejamkan kedua matanya sebentar dan membukanya perlahan. Namun, ketika ia membuka kedua matanya, ada sorot berbeda yang terpancar dari dalamnya yang tak bisa dijelaskan oleh siapapun yang melihatnya. Tanpa sadar, Jimin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Tak berapa lama kemudian, pintu kamar Jimin terbuka dan masuklah Jungkook bersama dengan Taehyung. Taehyung menatap Jungkook setelah ia dan Jungkook memasuki bilik kamar Jimin dan mendapati Jimin yang sudah memejamkan kedua matanya.

"Apa tidak apa kita membangunkannya?" tanya Taehyung. Jungkook diam sejenak.

"Tapi, bagaimanapun juga Jimin hyung harus makan, hyung!" balas Jungkook berbisik pada Taehyung agar Jimin tidak merasa terusik dalam tidurnya. Taehyung mengangguk dan dengan terpaksa ia mendekati ranjang Jimin.

"Jimin-ssi~" panggil Taehyung pelan tanpa berniat untuk mengguncangkan tubuh Jimin. Jimin menggeliat kecil dan membuka matanya perlahan.

"Kau disini?" tanya Jimin dengan suara seraknya.

"Maaf kami harus membangunkanmu dan kau juga harus menunggu lama, bibi Kim baru saja selesai memasak bubur untukmu." jawab Taehyung. Jimin hanya mengangguk kecil. "jja, aku akan membantumu duduk." Taehyung membantu Jimin untuk bersandar pada kepala ranjangnya dan Jungkook yang berjalan mendekati Jimin dan Taehyung serta duduk dipinggir ranjang Jimin.

"Buka mulutmu, sunbaenim—aku akan menyuapimu," pinta Jungkook sudah menyodorkan satu sendok bubur di depan mulut Jimin. Jimin menatap Jungkook sejenak, hal itu membuat Jungkook merasa gugup seketika. "Apa—kau ingin makan sendiri?" tanya Jungkook. Jimin hanya diam tetapi ia menerima suapan Jungkook yang membuat Jungkook dan Taehyung tersenyum.

"Setelah menghabiskan bubur ini, kau harus minum obat. Dan kau boleh tidur lagi." terang Taehyung yang hanya di balas diam oleh Jimin.

Satu persatu suapan yang Jungkook berikan pada Jimin akhirnya sampai pada suapan terakhir.

"jja, sekarang saatnya kau minum obat, sunbaenim!" Jungkook menyodorkan beberapa pil kepada Jimin yang langsung Jimin tegak bersama dengan air di gelas yang juga Jungkook berikan padanya. "Tidurlah," ujar Jungkook setelah meletakkan gelas minum Jimin berkumpul bersama mangkok diatas nampan yang tadi ia bawa. Jungkook membantu Jimin merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh Jimin dengan telaten. Selanjutnya, Jimin kembali memejamkan kedua matanya dengan tenang.

"Ayo, keluar hyung." ajak Jungkook pada Taehyung. Taehyung mengangguk dan membuntuti Jungkook untuk keluar dari bilik kamar Jimin.

"Kau tidak kembali ke kamarmu, hyung?" tanya Jungkook setelah meletakkan bekas mangkok dan gelas Jimin ke wastafel yang ada di kamarnya. Taehyung menyandarkan tubuhnya pada dinding yang menjadi penyekat antara bilik-bilik kamar dengan dapur mini yang ada di kamar itu

"Bagaimana denganmu?" Taehyung balik bertanya yang membuat Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.

"Aku?" Jungkook menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya aku kenapa, hyung?" Taehyung tersenyum kecil.

"Aku akan disini menjagamu dan Jiminie, sekarang kau tidurlah!" Jungkook menggeleng.

"ani hyung, aku tahu kau lelah. Tidurlah, kita akan berganti jaga besok malam." bujuk Jungkook. Taehyung menatap Jungkook lamat.

"Kau juga lelah, Kookie-ya~" Jungkook menggeleng lagi.

"Kau yang lelah hyung," balas Jungkook lagi tak mau dibantah.

"Tapi—"

"hyung~" potong Jungkook dengan nada mengancam. Taehyung menarik nafasnya.

"Baiklah, tapi kau harus janji jika ada apa-apa—kau harus langsung mengabariku." Jungkook mengangguk mantap.

"nde, hyung. Aku janji kau adalah orang pertama yang akan kuberitahu!" Taehyung tersenyum.

"Kalau begitu aku pergi. Kau juga harus istirahat, arraseo?" pamit Taehyung yang hanya diangguki oleh Jungkook dan membiarkan Taehyung keluar dari kamarnya.

.

.

.

.

.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Jungkook yang tidur di atas ranjangnya menggeliat kecil dan berbalik badan kearah samping kanannya tepatnya, kearah yang membelakangi dinding kaca dari bilik Jimin.

Hwuek~

Hwuek~

Jungkook mengeryit dalam tidurnya ketika sepasang telinganya mendengar samar suara muntahan seseorang yang terdengar menyakitkan. Kemudian, Jungkook membuka kedua matanya perlahan dan menunggu sejenak untuk memulihkan kesadarannya.

"Jimin hyung?" gumam Jungkook tersadar dan ia langsung melesat turun dari ranjangnya dan menuju bilik kamar Jimin yang ada di sebelahnya.

Hwuek!

Hwuek!

"yaampun," Jungkook membekap mulutnya dengan tangan kanannya saat ia melihat Jimin yang terlihat tersiksa untuk mencoba mengeluarkan semua isi perutnya. Jungkook pun segera bergegas mengambil sebuah wadah besar yang ada di dapur. Ia mendekati Jimin yang menunduk kearah lantai dan mengarah wadah itu tepat di depan mulut Jimin. Refleks, Jungkook juga memijat pelan tengkuk Jimin dengan lembut.

Setelah hampir memuntahkan seluruh isi perutnya, Jimin terengah dan kembali berbaring di ranjangnya.

"Kenapa demammu semakin tinggi, hyung?" tanya Jungkook cemas, ia pun keluar lagi untuk mengambil washlap yang tadi ia keringkan dan kembali lagi ke kamar Jimin.

Dengan telaten, Jungkook menghapus bulir-bulir keringat di wajah Jimin dengan washlap di tangannya kemudian ia juga menempelkan washlap itu di dahi Jimin. Jungkook menatap wajah pucat Jimin dengan kedua matanya yang sudah terpejam damai.

"Cepat sembuh, hyung." gumam Jungkook yang setelahnya memutuskan untuk membersihkan lantai bilik Jimin dan terjaga di samping Jimin hingga menjelang pagi.

Jimin melenguh pelan dan membuka matanya perlahan, ia mengerjap dan kedua matanya langsung tertuju pada jam beker yang ada di meja nakas di samping tempat tidurnya.

'Sudah jam 9.'

Jimin memejamkan kedua matanya seraya tangannya yang memegang sebelah kepalanya secara refleks. Demam ini, benar-benar menyebalkan. Kemudian, Jimin kembali membuka kedua matanya saat ia menyadari bahwa ada seseorang yang tidur di dekat tangannya. Jimin menatap surai hitam yang tampaknya masih tertidur dengan nyaman. Dan entah naluri darimana, tangan Jimin terulur untuk mengelus surai hitam junior sekaligus roomate-nya itu.

Jungkook, yang merasa ada sebuah tangan yang mengelus rambutnya membuatnya terusik dalam tidurnya. Perlahan, ia membuka kedua matanya dan mengangkat wajahnya.

"Kau sudah bangun, sunbaenim?" tanya Jungkook seraya mengucek matanya. Jimin hanya terdiam dan menatap Jungkook intens.

"Apa kau tidur semalaman disini?"

"hm, maaf sunbaenim, aku ketiduran di kamarmu. Semalam kau muntah-muntah dan demammu semakin tinggi, jadi aku—"

"gomapta," potong Jimin tiba-tiba.

"huh?" Jungkook mengerjapkan kedua matanya tak mengerti. Jimin tersenyum kecil.

"Kau pasti begadang karena aku,"

"eyy, aniyo. Tidak apa, sunbaenim."

"Sekarang, kau pergilah. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Tapi—"

"Aku sudah lebih baik, percayalah. Aku tidak ingin berhutang budi padamu lebih banyak lagi." dan Jimin tetaplah Jimin yang dingin meskipun ia sedang sakit sekalipun dan seharusnya Jungkook tak melupakan fakta bagaimana sikap arogan Jimin yang sangat kental. Jungkook menarik nafas, ia tidak mau membuat Jimin emosi dan berakhir dengan demamnya yang bertambah parah.

"Baiklah, kalau begitu. Aku pergi, sunbaenim. Nanti, pukul 10 dokter Kim akan datang untuk memeriksa kondisimu." pesan Jungkook yang hanya dibalas anggukan singkat dari Jimin. Jungkook menatap Jimin dengan tatapan tak rela meninggalkan Jimin seorang diri, tapi—bagaimana lagi ia tahu Jimin adalah tipikal orang yang mandiri dan tak membutuhkan bantuan orang lain.

.

.

.

.

.

"Kau meninggalkan Jimin sendiri?" tanya Taehyung ketika ia dan Jungkook sudah berada di cafetaria untuk menikmati sarapan pagi mereka. Jungkook hanya mengangguk malas.

"nde hyung, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau membuat Jimin hyung marah saat dia sedang sakit."

"Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" tanya Taehyung cemas. Jungkook menarik nafas.

"hyung, Jimin hyung itu bukan orang bodoh, aku yakin dia pasti tidak ingin sakit terlalu lama." jawab Jungkook yang kemudian dibalas anggukan terpaksa dari Taehyung. "oya hyung, apa hyungdeul belum selesai dengan kegiatan mereka? Aku lihat, sebagian dari kelas tiga sudah kembali ke gedung asrama."

"Entahlah, mereka tidak sedang dihukum 'kan?"

"Kenapa mereka harus dihukum?" tanya Jungkook. Taehyung mengedikkan bahunya.

"Mungkin karena mereka tidak bisa menahan kantuk? Apalagi Yoongi hyung."

"hyung, apa kau memang selalu ingin menjatuhkan Yoongi hyung?"

"aniyo, kau tahu Yoongi hyung itu kaku, dia dingin dan pendiam. Jadi, sekali-kali dia harus merasakan bagaimana enaknya tertawa."

"Memangnya Yoongi hyung tidak pernah tertawa?"

"oh! Dia selalu tertawa jika aku atau Namjoon hyung ketimpa sial di depannya. Dia selalu tertawa jika aku dan Namjoon hyung bernasib buruk. Kau tahu? Sekali dia tertawa, dia itu seperti psikopat!" Jungkook terkekeh.

"Benarkah?" Taehyung mengangguk antusias tanpa tahu jika Jungkook saat ini tengah menahan tawa karena objek candaan Taehyung tengah berdiri di belakangnya.

"nde, itu ben—"

PLAK!

"yak!" seru Taehyung, ia berbalik badan dan tak sengaja melototkan kedua matanya pada seseorang yang berdiri di depannya yang sekaligus pelaku penggeplakan pada kepala Taehyung.

"Yoon-Yoongi hyung?" gumam Taehyung takut.

"Kau tampak puas membicarakanku di belakangku, hm?" desis Yoongi.

"aniyo! Aku hanya ingin menghibur Jeon Jungkook." balas Taehyung membela diri. Yoongi berdecak ia menarik kursi kosong di samping Jungkook dan membiarkan Taehyung yang menatapnya takut karena merasakan aura tak mengenakan dari Yoongi. "hyung, kau tidak akan membunuhku hari ini 'kan?" tanya Taehyung was-was.

"Nanti, jika kau sudah mendapat calon istri, aku akan membunuhmu!"

"yak, hyung! Tega sekali kau pada calon istriku. Kau membiarkannya menjanda?" seru Taehyung. Yoongi menatap Taehyung datar.

"Jika kau kubunuh, dia bisa mencari pria yang lebih waras daripada dirimu karena aku yakin, dia memilihmu pasti adalah sebuah kecelakaan."

"HYUNG~" Jungkook dan Yoongi terkekeh melihat Taehyung yang kesal bukan main dengan candaan tak bermakna dari Yoongi.

"Dimana yang lain, hyung?" tanya Jungkook saat Yoongi menjatuhkan kepalanya diatas meja dan memejamkan kedua matanya.

"Baru aku dan Seokjin hyung yang keluar. Tapi, Seokjin masih dikamarnya katanya dokter Kim datang untuk memeriksa Jiminie. Sementara, Namjoon dan Hoseok, aku rasa mereka akan mengulang besok."

"mwo?" Taehyung dan Jungkook membulatkan kedua matanya yang membuat Yoongi dengan terpaksa membuka kedua matanya namun tak berniat untuk mengangkat kepalanya, ia menatap Jungkook dan Taehyung bergantian.

"Kalian tahu? Letak duduknya itu sesuai dengan peringkat, dan semalam itu tidak hanya tentang menahan kantuk tapi di tengah malam mereka juga memberikan beberapa pertanyaan secara mendadak."

"Pertanyaan seperti apa, hyung?" tanya Taehyung. Yoongi berdecak, ia mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung galak. "Tentang pelajaran kah?"

"Jika tentang pelajaran, Namjoon pasti tidak akan mengulang bodoh!"

"Jadi, tentang apa hyungnim?" tanya Jungkook dan tatapan Yoongi kali ini melembut.

"Tentang realita kehidupan. Tepatnya, tentang arti masa kecil hingga masa tua. Sebenarnya, semalam itu seru sekali. Semua orang berdebat, ada yang menurut pendapat mereka sendiri dan ada yang menurut buku yang pernah mereka baca. Ah, senangnya bisa mengalahkan banyak orang."

Sret!

"HYUNG!" seru Namjoon menarik kursi di samping Taehyung diikuti Hoseok yang duduk di samping Yoongi. "Kau benar-benar curang!" tuding Namjoon tiba-tiba yang membuat Taehyung dan Jungkook yang masih dalam mode terkejutnya menatap ketiga hyung mereka bergantian.

"Aku?" Yoongi menunjuk dirinya sendiri. "Apa yang aku lakukan?"

"Aku rasa, Han ssaem itu adalah penggemarmu!" cibir Hoseok juga kesal.

"jinjjayo?" pekik Taehyung dan Jungkook sementara Yoongi terkekeh.

"eyy, aniyo!"

"Dia memujimu sepanjang malam!" balas Namjoon benar-benar kesal diikuti anggukan dari Hoseok.

"wah~ hyungnim, aku benar-benar penasaran apa yang terjadi semalam suntuk." gumam Taehyung.

"Ini adalah kegiatan paling mengesalkan yang pernah aku ikuti. Kegiatan tak bermakna sama sekali!" desis Namjoon.

"aish, bilang saja kau kesal karena Han ssaem dan Xi ssaem, tidak menerima pendapatmu." balas Yoongi.

"Dan, hyung! Bagaimana bisa kau tidak mengantuk sama sekali?!"

PLAK!

Dengan tidak berperikemanusiaannya Yoongi memukul kepala Namjoon.

"Sekali lagi kau mengatakan seperti itu, kupenggal kepalamu!" ancam Yoongi menyeramkan.

"oya, bagaimana keadaan Jimin?" tanya Hoseok mengalihkan pembicaraan.

"Kau belum kembali ke kamar, hyung?" tanya Jungkook. Hoseok menggeleng.

"Semalam, dia muntah-muntah. Demamnya juga semakin tinggi."

"MWO?!" pekik empat orang itu.

"Kenapa kau tidak cerita tadi?" tanya Taehyung. Jungkook menarik nafas.

"Tadinya aku mau cerita, tapi kau terus curhat tentang Yoongi hyung." jawab Jungkook.

"Yoongi hyung, benar-benar menjadi topik pembicaraan dimanapun." ujar Hoseok antara kagum atau sindiran yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yoongi. "hehe, mian hyung, aku hanya bercanda." lanjut Hoseok menyelamatkan dirinya yang hanya dibalas gelengan maklum dari Yoongi.

"Tapi, sekarang Jiminie baik-baik saja 'kan?" tanya Yoongi terlihat cemas.

"Tadi pagi, dia terlihat baik hyung. Aku rasa demamnya juga sudah mulai turun." jawab Jungkook yang membuat keempat pemuda yang duduk di sekelilingnya menghela nafas lega.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ku dengar, hari ini ada murid baru lagi."

"Benarkah?"

"Nde, dia pindahan dari Jepang."

"Dia pindah ke kelas berapa?"

"Jika tidak salah, di kelas 3-IIIR."

. . . .

Seokjin menompang dagunya dengan tangan kanannya diatas meja. Jungkook yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sementara, Hoseok hanya memasang wajah lelah yang sangat ketara di wajah cerianya. Yoongi, Namjoon, dan Taehyung yang baru saja datang bergabung dengan kedua tangan mereka yang membawa nampan makan siang menatap penuh tanya pada ketiga teman kecilnya yang telihat menyedihkan.

"Ada apa dengan kalian?" tanya Taehyung. Hoseok memejamkan kedua matanya dan menarik nafas.

"Ini hari libur, kenapa kami harus bekerja?" rengek Hoseok berlebihan.

"huh?" pekik Taehyung tak mengerti sementara Namjoon dan Yoongi tetap tenang untuk menikmati makan siang mereka mengabaikan ekspresi menyedihkan dari ketiga orang di depan mereka.

Brak!

Seokjin menggebrak meja yang membuat Namjoon, Yoongi, dan Taehyung berjengit serta menatap horor kearahnya.

"Aku benar-benar ingin membunuh Yoon Doojoon!" desis Seokjin menyeramkan.

"Sebenarnya, ada apa dengan kalian?" tanya Namjoon sama sekali tak mengerti.

"hyung~" dan kali ini Jungkook yang merengek. "Akan ada siswa baru yang datang hari ini, dan kami harus menyambutnya. Bukankah itu sangat melelahkan? Ini hari libur, kenapa ada orang bodoh yang mau pindah ke asrama di saat hari libur?" tanya Jungkook geram menatap bergantian kearah Yoongi, Namjoon, dan Taehyung dengan pandangan kesal.

"Setidaknya, kita harus bersyukur karena tidak ada upacara penyambutan." tutur Hoseok.

"wah, jika akan ada upacara penyambutan aku benar-benar akan membunuh seluruh anggota dewan siswa! Dan, kenapa tidak Doojoon sendiri yang menyambutnya sebagai formalitas?" balas Seokjin kesal bukan main. "Aku masih ngantuk dan lelah karena kegiatan semalam suntuk kemarin malam. Dan sekarang? Ini liburan tapi serasa tak ada bedanya dengan sekolah!"

"yaampun, kalian benar-benar menyeramkan!" gumam Taehyung bergidik ngeri.

"Lagi pula, pindahan darimana siswa baru itu?" tanya Namjoon.

"Kata Doojoon, dia dari Jepang!" jawab Hoseok tanpa minat.

"Apa itu artinya, dia orang Jepang?" tanya Taehyung. Hoseok mengedikkan bahunya tak peduli.

"hyung, bagaimana jika kita bertiga membolos saja?" usul Jungkook yang dibalas dengan tatapan sinis dari Seokjin maupun Hoseok.

"Memangnya, kita dirimu yang selalu mangkir dari tugas!" Jungkook tertawa keras atas sindiran Seokjin.

"Kata-katamu sudah menyerupai pejabat saja, hyung!" balas Jungkook dan Seokjin hanya menghela nafas.

"Tapi, aku setuju pada Jungkook kali ini, lagi pula kita tidak pernah membolos sebelumnya. Anggap saja ini sebagai bonus plus dengan kerja keras kita selama ini." ujar Hoseok yang diangguki Jungkook antusias.

"nde hyung, kita juga bisa memberi alasan pada Doojoon sunbae bahwa kita menjaga Jimin hyung. Dia 'kan sedang kasmaran jadi tidak mungkin akan menghukum kita!" sambung Jungkook.

"Ide yang bagus. Bagaimana hyung?" tanya Hoseok. Seokjin diam sejenak.

"call! Aku setuju kali ini!" putus Seokjin yang akhirnya membuat Jungkook dan Hoseok bertos ria.

"wah, aku tidak menyangka kalian pintar membuat alasan seperti ini!" sindir Namjoon yang hanya dibalas decakan serta lirikan kesal dari Seokjin.

"Kau tidak tahu sih, hyung. Bagaimana lelahnya kita!" adu Jungkook berlebihan.

"Kenapa kalian tidak keluar saja?" tanya Taehyung.

"eyy, tidak bisa itu hak paten sampai kita lulus nanti!" jawab Hoseok yang dibalas anggukan dari Taehyung.

"oh, kenapa kalian masih disini?" tanya seseorang tiba-tiba muncul dan bergabung dengan keenam orang itu.

"Ada apa Choi Minho?" tanya Hoseok.

"Apa kalian lupa? Kita akan menyambut siswa baru!" jawab Minho yang membuat Seokjin, Hoseok, dan Jungkook saling berpandangan.

"Aku rasa, kami tidak bisa ikut, Minho-ssi." balas Seokjin.

"Kenapa kalian tidak bisa ikut?" tanya Minho ingin tahu. "Dan jangan mengatas-namakan Park Jimin sebagai alasan!"

"huh?" pekik ketiganya ketika Minho lebih dulu mengatakan alasan ketidak-sertaan mereka bertiga.

"aniyo, hanya saja—"

"ayolah! Semua orang sudah menunggu, kita pasti sudah terlambat!"

"Tapi—"

"Dan, kalian bertiga juga harus ikut!"

Uhuk!

Bruush~

Minho, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook menatap kearah Namjoon yang baru saja tersedak makanan, Taehyung yang menyemburkan minuman mereka serta Yoongi yang menatap penuh tanya kearah Minho.

"Kenapa kami harus ikut? Kami bukan anggota dewan siswa!" tanya Yoongi tak mengerti.

"Karena kalian bertiga adalah anak dari pemilik sekolah ini. Penting bagi kalian untuk ikut!" jawab Minho.

"hah! Tidak perlu, adanya kami atau tidak itu sama sekali tidak penting!" sahut Namjoon jengah.

"Tentu saja itu penting!" kekeuh Minho.

"Kenapa harus ada penyambutan pada setiap siswa baru? Bagaimana jika sekolah ini mendapat siswa baru setiap hari. Apa kalian juga bersedia untuk menyambutnya?!" tanya Yoongi sarkas yang dibalas tawa ejek dari kelima orang yang menunggu jawaban dari Minho.

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Dan yang kau tanyakan itu sama sekali hal yang mustahil. Jadi, jangan tanyakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi! Kajja, kita pergi!" ajak Minho dan dengan paksa ia menarik tangan Jungkook dan Taehyung yang duduk berhadapan di ujung meja di dekatnya berdiri.

"YAK!" seru Taehyung kesal karena Minho telah merusak acara makan siangnya.

.

.

.

.

.

Seokjin, Yoongi, Hoseok, Namjoon, Taehyung, dan Jungkook berdiri di barisan paling depan diantara anggota dewan siswa yang lain, itu artinya mereka berdiri sejajar dengan Yoon Doojoon sang ketua dewan siswa serta Jung Jinyoung, wakil ketua dewan siswa.

"Kenapa kita berdiri di barisan paling depan?" tanya Taehyung berbisik pada Jungkook yang berdiri di sampingnya.

"Karena untuk mencegah pelarian diri kalian dari penyambutan siang ini!" itu Minho yang menjawab yang berdiri tepat di belakang Taehyung. Taehyung memutar kedua bola matanya malas dan mencibir jawaban Minho. Sungguh, ia benar-benar membenci Choi Minho dibandingkan Hong ssaem yang notabene adalah guru terkiller di RC atau bahkan Kim ssaem sekalipun yang suka menghukum para siswa nakal.

"konyol!" desisnya kesal yang hanya dibalas senyum simpul dari Jungkook.

"oh, dia datang!" seru Jungkook menginterupsi kekesalan Taehyung dan menoleh kearah seorang pemuda yang berjalan menuju lobby di gedung utama dan menarik sebuah koper bawaannya.

"annyeongasseo!" sapanya ramah dan penuh senyum.

"nde annyeong. Jadi, kau yang bernama Park Chanyeol?" tanya Doojoon menyambut Park Chanyeol, siswa baru di RC. Chanyeol tersenyum dan mengangguk. "Perkenalkan aku Yoon Doojoon, ketua dewan siswa RC."

"nde, senang bertemu denganmu Yoon Doojoon-ssi!" tutur Chanyeol ramah.

"Sebagai ketua dewan siswa, aku ucapkan selamat datang padamu. Dan, maka dari itu dengan senang hati beberapa dari kami akan menemanimu untuk berkeliling dan mengenal bangunan di RC." ujar Doojoon. Chanyeol mengangguk paham.

"nde, terima kasih sudah menyambutku. Aku benar-benar merasa senang diterima dengan baik di sekolah ini. Aku mohon kerjasamanya, semoga kita bisa berteman baik satu sama lain." balas Chanyeol yang hanya diangguki oleh Doojoon. "Tapi, maaf sebelumnya—karena aku rasa kalian tidak perlu repot-repot untuk menemaniku." Doojoon serta para anggota dewan siswa mengangkat sebelah alis mereka tak mengerti. Pasalnya, ini pertama kalinya ada seorang siswa baru yang menolak untuk ditemani berkeliling ke tiga gedung RC yang benar-benar sangat luas.

"Jika boleh tahu, kenapa kau menolak?" tanya Jinyoung.

"Karena, sudah ada seseorang yang berjanji padaku untuk menemani hari pertamaku disini. Oh, dimana dia? Seharusnya, dia juga ada disini?" Chanyeol mengedarkan pandangannya dan menatap seluruh anggota dewan siswa satu persatu. Hingga akhirnya, kedua matanya menangkap sebuah siluet dari arah belakang para anggota dewan siswa berdiri yang tengah berlari kearah mereka. Sontak, Chanyeol melambaikan tangannya yang membuat seluruh anggota dewan siswa termasuk Yoongi, Namjoon, dan Taehyung berbalik badan.

"Park Jimin?" gumam beberapa orang tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Park Jimin yang mengabaikan semua orang disana, berlari kearah Chanyeol.

"Jiminie, aku sudah mencarimu sedari tadi." adu Chanyeol dan tanpa sungkan memeluk Jimin di depan semua orang yang membuat semua orang terutama Yoongi, dan kelima teman masa kecilnya membulatkan kedua matanya terkejut, juga termasuk Yoon Doojoon.

'Jiminie? Mereka saling kenal? Dan, kenapa Jimin terlihat diam saja ketika siswa baru itu memeluknya?'

"Maaf, hyung. Aku membuatmu menunggu lama." jawab Jimin melepas pelukannya pada Chanyeol.

Yoongi, Seokjin, Namjoon, Hoseok, Jungkook, dan Taehyung hingga Doojoon dan keempat temannya menatap Jimin tak percaya dengan panggilan Jimin kepada Chanyeol yang terdengar sangat akrab.

'hyung?!'

Jimin berbalik menatap Doojoon dengan tatapan dingin andalannya.

"sunbaenim, kali ini biar aku yang menemaninya berkeliling. Aku yakin, kalian pasti ingin menikmati liburan kalian. Selamat siang!" putus Jimin tanpa menunggu jawaban dari Doojoon, ia menarik tangan Chanyeol yang tentu saja disambut Chanyeol dengan senang hati.

Mungkin, hampir seluruh anggota dewan siswa bersorak senang bahkan berterima kasih pada Park Jimin. Tapi, tidak dengan Yoongi dan kelima teman kecilnya serta Yoon Doojoon sendiri. Terutama Min Yoongi, kedua mata tajamnya tak pernah lepas dari sosok Park Chanyeol yang tangannya masih digenggam Jimin di depan kedua matanya. Hatinya, terbakar karena amarah dan ia benar-benar membenci kenyataan bahwa ada orang lain yang bisa membuat Jimin lebih nyaman dibandingkan dengan dirinya. Orang yang Jimin sukai waktu kecil.

.

.

.

.

.

"Siapa Park Chanyeol itu?!" tanya Yoongi sudah dipenuh emosi. Kini ia bersama Namjoon, Seokjin, Hoseok, Taehyung seta Jungkook berada di studio dewan siswa bersama Doojoon dan keempat temannya.

"Aku juga tidak tahu, Yoongi-ssi!" balas Doojoon tak kalah tajam.

"Bahkan, saat kami bertiga datang waktu itu, dia sama sekali tidak mau menemani kita yang saat itu dia bertugas bersama Seokjin hyung! Dan sekarang? Ia menawarkan dirinya sendiri secara langsung." seru Namjoon tak habis pikir.

"Aku rasa, mereka sudah mengenal sejak lama!" sahut Seokjin.

"Kita juga sudah saling mengenal sejak kecil, hyung!" seru Yoongi tak terima. Seokjin berdecak.

"Yoongi-ya, ingatlah! Jimin hilang ingatan, dia tidak akan mengingat kita!" balas Seokjin. Yoongi menarik nafas.

"Entah siapa Park Chanyeol itu, tapi firasatku mengatakan dia bukan orang yang baik untuk Jimin." ujar Jinyoung tiba-tiba.

"Maksudmu?" tanya Hoseok.

"Entahlah, aku hanya melihatnya ketika dia bertatapan dengan Park Jimin." jawab Jinyoung asal. "Dia terlihat sosok yang ramah dan menyenangkan, tapi—siapa yang tahu jika dia orang yang berbahaya?" kesebelas orang yang ada di ruangan itu terdiam.

"Kita harus mencari tahu siapa Park Chanyeol itu, dan apa hubungannya dengan Park Jimin!" usul Doojoon yang hanya diangguki oleh beberapa orang yang ada di ruangan itu.

"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Minho, yang membuat kesebelas orang itu berfikir sejenak.

"Aku rasa kita bisa menggunakan komputer yang diberikan sekolah padaku." usul Namjoon. "Komputer-komputer itu hanya bisa diakses oleh si peringkat satu dan kepala sekolah. Aku yakin, pasti komputer itu juga terakses pada data-data siswa di sekolah ini."

"oh, aku rasa Namjoon benar. Kita bisa menggunakan komputermu." sahut Seokjin setuju.

"Kalau begitu, pakailah komputer disini dan gunakan ID-mu daripada harus kembali ke kamarmu. Komputer di studio dewan siswa juga pemberian sekolah, hanya saja kepala sekolah memberikan akses umum bukan akses khusus seperti punyamu." saran Jinyoung.

"arraseo, aku akan mencobanya!" balas Namjoon dan berjalan menuju meja komputer yang ada di pojok studio.

Namjoon menghidupkan komputer itu dan menunggu beberapa saat. Setelah benar-benar hidup, Namjoon pun langsung memasuki laman yang dibuat sekolah khusus untuknya dan para peringkat satu lainnya. Ia memasukkan ID rahasianya yang hanya diketahui oleh kepala sekolah dan dirinya. Namjoon menunggu dengan sabar mengingat hal ini membutuhkan proses yang cukup lama untuk sampai di laman khusus karyawan.

"Bagaimana?" tanya Hoseok.

"Sebentar, kau pikir ini mudah?!" seru Namjoon kesal karena teman-temannya bertanya tanpa mengetahui bagaimana berusahanya dirinya. "oh, apa aku harus mengetik daftar siswa baru?" tanya Namjoon.

"ya~ coba saja!" ujar Doojoon sekenanya.

"Ada namanya?" tanya Seokjin. Namjoon berdecak.

"Tentu saja ada. Tapi, tidak ada data dirinya!" jawab Namjoon. Orang-orang yang ada di studio dewan siswa itu terdiam.

"Mungkin, di kelas barunya. Dia masuk di kelas berapa?" tanya Namjoon tiba-tiba.

"3-IIIR!" jawab Jinyoung lantang yang membuat Doojoon sekaligus Yoongi menoleh kearahnya. "wae, wae, wae? Apa aku salah ucap?"

"Kenapa aku baru sadar jika dia masuk di kelasku!" tanya Doojoon.

"Kami sudah memberitahumu sejak tadi, bodoh!" cibir Minho. Doojoon maupun Yoongi berdecak sementara Namjoon masih terus berkutat di depan layar komputer.

"Dapat!" seru Namjoon girang yang langsung mengalihkan perhatian orang-orang yang sedari tadi menunggu hasil dari pencariannya. "Park Chanyeol adalah putra bungsu dari keluarga Choi Jang Min yang merupakan seorang dosen di salah satu universitas swasta di Seoul dan Choi Mina, yang juga seorang dosen. Dia memiliki dua kakak laki-laki, Choi Seunghyun dan Choi Lihyun."

"Dia dari keluarga Choi tapi, kenapa dia sendiri bermarga Park?" tanya Yoongi. Namjoon kembali membaca sampai habis.

"ah~ ternyata dia anak angkat." jawab Namjoon bergumam.

"Dia anak angkat? Jadi, dia bukan anak kandung?" tanya Doojoon, Namjoon mengangguk.

"nde, tapi tidak ada keterangan tentang seluk beluk kehidupannya, sebelum dia bergabung menjadi anggota keluarga Choi." jawab Namjoon. Kesepuluh orang itu terdiam.

"Aku merasa salah satu dari nama anggota keluarga Choi, tidak asing bagiku. Tapi, siapa?" tanya Seokjin berfikir sejenak.

"Choi Seunghyun!" gumam Yoongi, kedua matanya berkilat tajam. "Itu, salah satu nama yang tidak boleh kita lupakan dan sialnya—Jimin justru sangat dekat dengan adik angkatnya."

"Tapi, setidaknya kita harus mencari tahu apakah itu Choi Seunghyun yang sama atau hanya persamaan nama!" tutur Namjoon.

"Pertama, kita harus mencari tahu apa hubungan Park Chanyeol dengan Jimin terlebih dahulu." usul Doojoon.

"hm, dan kita hanya bisa mengetahuinya dari Park Jimin sendiri!" balas Yoongi, hari ini entah kenapa hatinya bergerumuh penuh murka ketika ingatannya tak bisa melupakan kejadian Chanyeol yang memeluk Jimin hingga Jimin sendiri yang menarik dan menggenggam tangan siswa baru itu untuk pergi dari penyambutan siang tadi.

TBC


(-) I'm back ... adakah yang nungguin ff ini? Maaf ya, saya baru sempet up setelah satu minggu update chap kemarin, karena saya lagi sibuk-sibuknya jadi aku harap kalian semua mengerti, kkkk. Tapi, aku usahain kok bakal fast up dan kemungkinan kalau gak bisa kaya biasanya 3/4 harinan, mungkin seminggu sekali.

(-) Ternyata, chapter kemarin agak berantakan ya .. maap ada beberapa kejadian yang belum aku ganti kaya percakapannya Chanyeol sama Seunghyun. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan, semoga di chapter ini ada sedikit kekurangan typo yang mengganggu.

(-) Spoiler buat next chap, yang nungguin moment YoonMin .. siap-siap ya mereka bakal jalan berdua, ciyeee. Dan, maaf saya gak bisa pastiin kapan buat update chapter 17, ada kemungkinan satu minggu lagi bisa kurang. See you, ...

Kamsahamnida,