Previously ...

"Tapi, setidaknya kita harus mencari tahu apakah itu Choi Seunghyun yang sama atau hanya persamaan nama!" tutur Namjoon.

"Pertama, kita harus mencari tahu apa hubungan Park Chanyeol dengan Jimin terlebih dahulu." usul Doojoon.

"hm, dan kita hanya bisa mengetahuinya dari Park Jimin sendiri!" balas Yoongi, hari ini entah kenapa hatinya bergerumuh penuh murka ketika ingatannya tak bisa melupakan kejadian Chanyeol yang memeluk Jimin hingga Jimin sendiri yang menarik dan menggenggam tangan siswa baru itu untuk pergi dari penyambutan siang tadi.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jiminie!" panggil Chanyeol saat ia dan Jimin sudah sampai di area gedung asrama. Sebelumnya, keduanya sudah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk berkeliling di seluruh gedung sekolah, meskipun mereka paling lama menghabiskan di cafetaria.

"nde?" balas Jimin menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol yang menatapnya intens.

"Bolehkah, aku minta tolong padamu?" pinta Chanyeol, Jimin hanya mengangguk. "Mau kah kau berjanji padaku untuk selalu bersamaku mulai hari ini?" lanjut Chanyeol. Jimin menatap Chanyeol datar.

"Aku akan selalu bersamamu, tapi—aku tidak bisa berjanji, hyung."

"waeyo?" Jimin terdiam sejenak, kemudian ia menarik nafas.

"Karena aku tidak pernah berjanji pada orang lain sebelumnya."

"Tapi aku adalah—"

"Karena kau adalah orang terdekatku, hyung!" potong Jimin. "Karena itulah aku tidak bisa berjanji padamu. Bukan karena aku tidak akan menepatinya tapi aku rasa kata 'janji' hanyalah sebuah omong kosong bagiku." Chanyeol menatap Jimin lamat. Ia tahu, sejak ia pertama kali bertemu Jimin di panti asuhan. Jimin memang adalah sosok yang dingin serta tak pernah sekalipun mengatakan apa yang ia pendam di hatinya pada orang lain. Karena itulah, terkadang Chanyeol tidak mengerti apa yang ada di jalan pikiran sosok yang sudah dicintainya sejak Jimin berada di tahun kedua di panti asuhan.

"Jimin-ah!" panggil Chanyeol lagi. Jimin hanya berdehem. "Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?"

"Tentu!" jawab Jimin singkat.

"Apa arti diriku bagimu?" Jimin tersenyum manis dan menatap Chanyeol lembut.

"Kau adalah sosok kakak yang tak pernah kumiliki sebelumnya, hyung. Kau adalah satu-satunya keluarga yang ku punya setelah eommonim." jawab Jimin tegas yang tak menyadari sorot mata Chanyeol berubah.

"Hanya kakak?" tanya Chanyeol nyalang. Jimin mengangguk.

"Bukankah kita sudah seperti kakak-adik sejak dulu?" tanya Jimin. Chanyeol kemudian tersenyum dan mengangguk kecil.

"nde, aku adalah hyung-mu. Dan, selalu seperti itu bukan?" Jimin tersenyum senang.

"Kau tahu, hyung? Aku sangat beruntung bertemu denganmu. Dan, kau adalah orang yang sangat berarti bagiku."

"Sebagai kakak?" tanya Chanyeol memancing. Jimin mengangguk polos.

"nde, sebagai kakak." Chanyeol tersenyum miring seraya membawa Jimin kedalam pelukannya.

'Jika aku hanya menjadi kakakmu, dan kau malah menjadi milik orang lain. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkanmu menjadi milik siapapun jika itu bukan diriku! Karena kau memang harus menjadi milikku, Park Jimin! Hanya milikku!'

.

.

.

.

.

Jimin kembali ke kamarnya setelah mengantar Chanyeol ke kamarnya yang berada di lantai empat. Kamarnya masih sepi, dan entah kenapa ia merasa kesepian. Terlebih sejak ia demam dua hari yang lalu, ia mendapat banyak perhatian dari Seokjin, Jungkook, Taehyung, Hoseok, Namjoon bahkan Yoongi. Bahkan mereka berenam juga bersedia bergilir menjaganya hingga sembuh sekarang ini. Dan entah kenapa Jimin merasa bersalah ketika tak sengaja ia berpapasan dengan mereka di lobby gedung utama ketika penyambutan Chanyeol tanpa sepatah katapun untuk menyapa mereka atau sekedar untuk mengucapkan terima kasih.

Jimin mendudukkan dirinya diatas ranjang. Ia terdiam sejenak. Ingatannya kembali memutar kejadian yang membuatnya berakhir jatuh sakit dua hari yang lalu dan merepotkan banyak orang. Lama ia terdiam, tiba-tiba saja ia beranjak dari tempatnya ketika ia teringat sesuatu. Dengan gerakan cepat, Jimin pun memeriksa laci-laci nakas yang berada di samping tempat tidur dan mengobrak-abrik seluruh isinya, membawanya keluar satu persatu dengan tergesa.

Jimin memijat pelipisnya resah saat apa yang dia cari tidak ia temukan di seluruh tempat di penjuru bilik kamarnya.

"Dimana kotak itu?" tanya Jimin pada dirinya sendiri. "Kenapa aku bisa melupakannya?" gumam Jimin. "Sial! Itu satu-satunya petunjuk tentang masa laluku. Siapa yang mengambilnya?!"

Jimin menggeram kesal. Ia berdiri diam di sisi ranjangnya. Ia menatap ranjangnya sejenak dan detik berikutnya ia langsung membungkuk dan mengintip ke dalam kolong ranjangnya. Jimin mengerjapkan kedua matanya ketika sepasang mata sipitnya mendapati sebuah alat perekam yang tersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya. Jimin pun merangkak memasuki kolong tempat tidurnya dengan hati-hati untuk mengambil alat perekam yang tampaknya sedikit mengalami kerusakan karena bantingannya yang tak sengaja tempo hari.

"Jimin?"

Dug!

"aw!" pekik Jimin tepat kepalanya yang terantuk ranjang ketika tiba-tiba saja ia mendengar seseorang memanggilnya.

"Jimin-ssi, kau tak apa?" tanya seseorang yang tak Jimin ketahui siapa orangnya meskipun sebenarnya Jimin sudah sangat hafal suara dingin yang sangat khas itu.

"nde nde nde, aku baik!" ujar Jimin dan ia segera keluar dengan tangannya yang langsung menyaut alat perekam dan menyembunyikannya di saku hoodie yang ternyata masih ia kenakan.

"Apa yang kau lakukan di bawah tempat tidurmu?" tanya senior Jimin yang tak lain adalah Min Yoongi itu. Jimin menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan melupakan sejenak rasa sakit di kepalanya yang tak sengaja terbentur beberapa saat yang lalu.

"Aku—ada kecoa tadi." jawab Jimin asal yang membuat Yoongi mengangkat sebelah alisnya tak percaya.

"ah, begitu?" Jimin mengangguk kecil.

"nde! Oh, apa yang sunbaenim lakukan disini?" tanya Jimin. Yoongi tersenyum miring.

"Aku ingin menagih sesuatu padamu." Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.

"Maksud sunbaenim?"

"Kau tahu, jika bukan karena mereka adalah temanku sejak kecil, dan kau bukanlah guru privat Taehyungie, aku tidak akan repot-repot ikut merawatmu." Jimin membulatkan kedua matanya horor.

"mwo?"

"Maka dari itu, aku ingin meminta bayaran padamu!" Jimin menggeram tertahan.

"yak sunbaenim! Jika kau tidak mau, jangan gunakan mereka sebagai alasan. Aku juga tidak membutuhkan bantuanmu dan aku juga tidak memintamu untuk merawatku!" tolak Jimin kesal.

"Aku tidak mau tahu, kau harus membayarnya!"

"Bagaimana jika aku tidak mau?" tantang Jimin menatap kedua mata Yoongi. Yoongi tersenyum tipis dan dengan gerakan cepat ia memojokkan tubuh Jimin ke dinding kaca yang menjadi penyekat antara bilik milik Jungkook dan Jimin. Jimin mengerjapkan kedua matanya terkejut kala wajah Yoongi yang terlampau dekat dengannya. Jimin menahan nafas, entah kenapa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat untuk pertama kalinya ketika Yoongi menatapi wajahnya intens. Jimin menunduk, berniat untuk menghindar dari tatapan Yoongi yang seakan memenjaranya.

"Jiminie~" Jimin mengangkat wajahnya spontan. Ini adalah kali pertama, ia merasa berdebar dan ia merasa senang ada seseorang yang memanggil nama kecilnya. Dan, Jimin benar-benar tidak tahu dengan perasaan aneh yang meletup-letup di hatinya saat ini. Dan, jujur Jimin menyukainya.

"Aku hanya ingin kau menemaniku keluar hari ini. Kau mau?" tanya Yoongi. Jimin terdiam sejenak.

"Bersama siapa saja?" tanya Jimin was-was. Yoongi tersenyum tampan sebelum menjawab pertanyaan Jimin yang mampu membuat Jimin kembali berdebar.

"Hanya kau dan aku!" jawab Yoongi yang entah kenapa membuat Jimin menganggukkan kepalanya dengan spontan sebagai jawaban atas ajakan Yoongi padanya.

.

.

.

.

.

"Kau ingin kemana?" tanya Yoongi. Kini, ia dan Jimin sedang berjalan diatas trotoar yang masih berada di kompleks RC.

"Kemana? Kau yang mengajakku keluar, jadi aku tidak tahu kita harus pergi kemana, sunbaenim!"

"hyung!"

"huh?" Jimin menoleh tak mengerti saat Yoongi yang berseru tiba-tiba.

"Kita sedang tidak berada di lingkungan sekolah. Jadi, panggil aku hyung!" Jimin mengeryitkan keningnya.

"Haruskah?"

"Tentu saja!" Jimin menghela nafas.

"arra hyung!" balas Jimin penuh penekanan dan Yoongi yang tertawa puas.

"Apa kau mau makan es krim?" tawar Yoongi. Jimin tampak terkejut.

"Es krim?" Yoongi mengangguk. "Kau mengajakku memakan es krim?"

"nde, waeyo? Apa kau tidak suka es krim."

"aniyo, hanya saja—aku kira orang angkuh sepertimu tidak mengenal yang namanya es krim!" Yoongi menatap Jimin horor.

"yak! Apa kau pikir aku ini bukan manusia?!" Jimin tertawa mengejek.

"Bukankah kau ini memang makhluk astral?"

"Yak! Park Jimin!" seru Yoongi kesal dan Jimin menjulurkan lidahnya kemudian berlari meninggalkan Yoongi seorang diri. "aish, anak itu benar-benar!" desis Yoongi yang kemudian berlari mengejar Jimin yang sepertinya sudah menemukan kedai es krim di dekat mereka.

"Aku pesan—satu es krim rasa cokelat, pisang, vanilla dan strawberry dan juga satu cheese cake. Aku tunggu, di meja itu-nde?" pesan Jimin menunjuk meja yang berada di dekat jendela kedai es krim.

"Baik, tuan. Tunggu sebentar-nde?" Jimin mengangguk antusias.

"nde arraseo!" balas Jimin yang kemudian dengan langkah ringannya menuju meja yang sebelumnya ia tunjuk oleh pelayan kedai. Jimin bersyukur kedai yang ia kunjungi sedang sepi pengunjung meskipun di hari yang panas seperti ini.

"Kau tidak memesan sesuatu untukku?" tanya Yoongi yang baru saja datang dan duduk di depan Jimin. Jimin mencibir tak suka.

"Pesan saja sendiri. Lagi pula, aku tidak tahu apa rasa favoritmu 'kan?" balas Jimin dingin. Yoongi menarik nafas dan dengan terpaksa ia melambaikan tangannya pada salah satu pelayan untuk memanggilnya agar datang menghampirinya.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?"

"nde, aku pesan es krim rasa cokelat, pisang, vanilla dan strawberry dan juga satu cheese cake." pesan Yoongi yang membuat sang pelayan serta Jimin menatap Yoongi terkejut.

"waeyo?" tanya Yoongi yang merasa tatapan Jimin memincing curiga padanya.

"Kenapa kau bisa memesan rasa yang sama denganku? Dan, kenapa kau juga memesan cheese cake?"

"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh?" tanya Yoongi kesal. "Aku biasa makan es krim bersama cheese cake. Apa kau juga begitu?" Jimin berdecak sinis dan Yoongi tersenyum tampan. "Aku rasa kita berjodoh!"

"yak!" pekik Jimin yang mengundang tawa dari pelayan yang masih berdiri di dekat mereka.

"Kalau begitu, tunggu sebentar pesanan anda tuan." pamit pelayan itu yang kemudian pergi meninggalkan Yoongi dan Jimin.

Yoongi menatap Jimin lamat, sementara Jimin yang sedang membaca salah satu buku yang disediakan di kedai itu tak begitu memperhatikan kedua sorot mata Yoongi yang memandanginya penuh rindu.

'Mungkin kau amnesia. Tapi sikapmu tidak pernah berubah sejak kecil. Jika saja kau ingat, kau yang membuatku menyukai es krim dan cheese cake.'

Tanpa sadar Yoongi tertawa kecil dan sama sekali tak menyadari jika Jimin menatapnya dengan raut wajah aneh.

"yak, sunbaenim! Tidak baik tertawa tanpa alasan." tutur Jimin memandangi Yoongi polos. Yoongi terhenyak, ia mengerjapkan kedua matanya dan kembali bersikap tenang. "Kau benar-benar mengerikan. Aku jadi menyesal menuruti ajakanmu." Yoongi tertawa sinis.

"Kau bisa mengatakan menyesal kali ini, tapi aku yakin hari ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah kau lupakan." Jimin menatap Yoongi horor.

"Aku rasa semua hari itu sama saja."

"aniyo!" tolak Yoongi yakin. "Harimu, tidak akan sama lagi sejak ada aku!"

Jimin terdiam, memikirkan ucapan Yoongi padanya. Jika dipikir-pikir, Yoongi memang benar. Jimin merasa hidupnya sedikit berbeda semenjak ia mengenal Yoongi. Ia merasa sedikit lebih hidup dan selalu merasakan debaran aneh di jantungnya ketika ia hanya bersama dengan Min Yoongi. Debaran, yang tidak ia ketahui apa makna dibaliknya.

.

.

.

.

.

Setelah menghabiskan waktu di kedai es krim. Yoongi dan Jimin kembali berjalan beriringan dalam diam. Yoongi yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya serta Jimin yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie yang ia kenakan. Keduanya kalut dalam pikiran mereka masing-masing.

'Kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Yoongi memecah kecanggungan. Jimin terkejut namun ia hanya diam dan menyembunyikan keterkejutannya.

"Tidak!" jawab Jimin akhirnya. "Jika tidak ada tempat yang kau tuju, aku rasa kita harus kembali sekarang sebelum langit semakin gelap!" lanjut Jimin, dan Yoongi tentu saja tidak akan rela menghabiskan waktu bersama Jimin hanya untuk memakan es krim.

"Ada tempat yang ingin aku tuju. Kau mau kesana?" tawar Yoongi kemudian. Jimin hanya mengangguk sekilas. Yoongi tersenyum dan tanpa canggung, ia menarik tangan Jimin untuk mengikutinya.

Akhirnya, keduanya pun sampai di depan sebuah taman bermain setelah berjalan hampir 15 menit dengan tangan Yoongi yang masih menggenggam tangan Jimin. Suasana taman itu sepi pengunjung, entah karena langit senja atau karena taman bermain yang terlihat tak terawat. Daun-daun kering yang berterbangan bersama angin sepoi serta deritan dari ayunan.

Jimin menatap taman bermain itu. Dan lagi, ada perasaan aneh yang muncul di hatinya. Ada perasaan seolah ia merindukan tempat itu. Ada perasaan bahwa ia sebelumnya pernah menghabiskan waktu di tempat dimana ia berdiri saat ini. Kemudian, tanpa Yoongi sadari, Jimin menarik sudut bibirnya membentu senyuman kecil. Senyuman yang mengartikan hal lain tentang keberadaannya di taman ini.

Yoongi yang melihat Jimin hanya diam dengan pandangannya yang meneliti kearah sekeliling taman bermain, perlahan ia tersenyum kecil. Ia sengaja membawa Jimin ke tempat ini, tempat dimana dulu sebagai tempat bermain antara ia, Jimin, Seokjin, Jungkook, Hoseok, Namjoon, dan Taehyung. Dan, Yoongi yakin Jimin pasti merasa tidak asing dengan taman ini.

"Kau mau naik ayunan itu?" tanya Yoongi menunjuk dua ayunan yang tak jauh dari mereka. Jimin menoleh kearah Yoongi yang membuat Yoongi tak sabar dan kembali menarik tangan Jimin yang ternyata masih berada digenggamannya.

Yoongi mendudukkan Jimin di salah satu kursi ayunan secara paksa. Jimin menggerutu kesal namun ia tetap menurut semua perilaku Yoongi padanya.

"oh hyung!" pekik Jimin terkejut ketika Yoongi yang tiba-tiba mendorong ayunannya membuat kedua tangan Jimin refleks berada di kedua tiang ayunan yang ia tumpangi.

"Tenang saja, aku akan menjagamu. Bukankah ini menyenangkan?" tanya Yoongi senang melihat Jimin yang mulai tertawa lepas.

"hyung, jangan tinggi-tinggi!" seru Jimin yang juga mulai membiasakan diri untuk memanggil Yoongi dengan sebutan 'hyung'. Yoongi ikut tersenyum dan terus mendorong ayunan Jimin yang diiringi tawa lepas dari pemuda manis itu.

"Sudah hyung, sudah!" pinta Jimin lelah tertawa. "Duduklah disini hyung!" titah Jimin meminta Yoongi untuk duduk di kursi ayunan di sampingnya. Yoongi menurut dengan kedua matanya yang masih menatap kearah Jimin.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Yoongi setelah hanya ada keheningan diantara mereka. Jimin berdehem.

"Jika ada, apa yang bisa kau lakukan untukku?" Jimin balik bertanya yang hal itu membuat Yoongi semakin tertantang.

"Aku akan melakukan apapun agar kau tidak merasa terusik ataupun merasa terganggu." jawab Yoongi yakin.

"waeyo? Kenapa kau sangat peduli padaku?" tanya Jimin ingin tahu. Yoongi terdiam, ia tidak tahu kenapa ia tidak bisa menjawab pertanyaan Jimin kali ini.

"Aku—"

"Apa karena aku adalah guru privat dari teman kecilmu?" potong Jimin. Yoongi semakin terdiam karena ia terjebak dengan ucapannya sendiri. "Jika kuperhatikan sikapmu padaku—itu terlalu berlebihan." lanjut Jimin yang kesekian kalinya ucapannya menohok tepat di hati Yoongi. "Kenapa kau bersikap berbeda padaku? Apa aku adalah orang spesial bagimu?" tanya Jimin berani dan menatap kedua mata Yoongi. "atau—karena ayahmu?" tanya Jimin kemudian dan kali ini Yoongi tampak mengeryit tak suka.

"Dan, kenapa harus karena ayahku?" tanya Yoongi sinis.

"Entahlah, kau mengatakannya pada malam itu!"

"Jimin—"

"Aku tak sengaja menolong ayahmu, dan aku tak sengaja bertemu dengannya di hari kedua festival. Mungkin ayahmu mengatakan sesuatu padamu tentangku, dan kau benar—itu memang bukan urusanmu!" Yoongi menarik nafas lelah. Kenapa menjadi seperti ini? Kenapa kesalah-pahaman ini semakin panjang?

"Sikapku padamu, tidak ada hubungannya dengan ayahku." tutur Yoongi tegas.

"Lalu?" tanya Jimin ingin tahu.

"Apa setiap orang yang bersikap berbeda padamu, harus memiliki alasan kenapa mereka mendekatimu?" tanya Yoongi. Jimin berdehem dan menatap lamat kedua mata Yoongi. "Apa kau membutuhkan alasan itu?"

"aniyo, aku rasa itu tidak perlu!" jawab Jimin berubah pikiran. Ia mengalihkan pandangannya dari Yoongi dan menatap langit senja yang terlihat sangat indah. "Terkadang suatu hubungan entah itu berbentuk pertemanan atau lebih, memang tidak membutuhkan alasan. Hanya saja, aku merasa ada yang janggal dari setiap orang-orang yang ada di sekitarku." Yoongi terdiam. Ia memaklumi segala kekhawatiran Jimin yang tak bisa mengingat apapun terlebih ia dikelilingi orang-orang yang berhubungan dengan masa lalunya.

"Apa sampai saat ini tidak ada orang yang kau percayai?" tanya Yoongi. Jimin terdiam, namun kemudian ia tersenyum penuh arti.

"Ada. Ada satu orang yang sangat kupercaya. Aku benar-benar sangat mempercayainya." Yoongi menahan nafas, ia rasa ia tahu siapa orang yang dimaksud Jimin dan saat itulah hatinya menjerit sesak dengan penuturan Jimin yang merujuk pada orang lain.

"Apa kau sangat mempercayai orang itu."

"Aku sangat mempercayainya lebih dari diriku sendiri." Yoongi mengerjapkan kedua matanya tak percaya. "ah~ langit senja benar-benar sangat indah. Aku jadi ingin minum soju." gumam Jimin. "Kau mau menemaniku, hyungnim?" tawar Jimin kemudian.

"mwo?" Jimin tersenyum tenang.

"Tidak apa bukan, jika malam ini kita minum soju? Bagaimana?"

"Kau yakin?" Jimin mengangguk yakin.

"Itu jika kau mau."

"call! Lagi pula, kita sedang berada di luar area sekolah. Jadi, kenapa tidak?" Jimin tersenyum senang.

"Kalau begitu, kajja!" ajak Jimin yang kali ini, ia yang menarik tangan Yoongi dan menggenggam tangan dingin itu untuk pertama kalinya.

Yoongi menahan nafas. Entah kenapa ia merasa gugup ketika Jimin sendiri yang menautkan jemari tangannya. Dan hanya sebatas itu saja, sudah membuat Yoongi merasakan jantungnya yang melonjak diluar batas dan tak terkontrol. tidak-tidak-tidak, Yoongi tidak mau sakit jantung tapi kenapa sakit di jantungnya ini terasa sangat menyenangkan? Sungguh, Yoongi akui dia memang gila, tapi—ini adalah penyakit jantung yang sangat ia sukai.

'Oh tidak! Aku benar-benar bisa gila jika berada di dekat Park Jimin. Eomma~ bagaimana jika aku kelepasan, dan bersikap posesif padanya?'

.

.

.

.

.

Yoongi mengerjapkan kedua matanya kala Jimin mengajaknya ke suatu tempat yang sangat ia kenali.

"Kau ingin minum soju disini?" tanya Yoongi. Jimin mengangguk.

"nde. Kita juga bisa menikmati sundae buatan haraboji. Apa kau pernah makan sundae sebelumnya, hyungnim?" tanya Jimin dalam hati ia menebak bahwa Yoongi pasti akan menolak diajak ke tempat jajanan di pinggir jalan dan pasti mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu tentang jajanan yang baru saja Jimin sebut namanya.

"Tentu saja aku pernah. Hanya orang yang tidak pernah menikmati hidup, yang tidak pernah makan sundae." dan Jimin terkejut bukan main. Ia pernah tak sengaja mengajak Yoon Doojoon dan ayah Yoongi sendiri, tapi Yoongi? Dia bahkan mengatakan hal demikian untuk orang yang tidak pernah mencicipi sundae?

"jinjjayo?" tanya Jimin tak percaya. "Tapi, ayahmu tidak pernah." dan kali ini, Yoongi yang terkejut.

"Ayahku? Tentu saja dia tidak pernah. Mana mau dia mampir di tempat kecil seperti ini. Justru, dia ingin sekali menghancurkan tempat-tempat kecil yang menurutnya merusak pemandangan jalan!"

"Tapi, saat aku mengajak ayahmu dia bersedia, hyung." Yoongi menatap Jimin tak percaya.

"Sudahlah, jangan membahas ayahku sekarang. Kajja, kita harus menikmati malam ini!" ajak Yoongi yang kali ini tanpa sungkan menarik tangan Jimin mendekati truk sundae haraboji yang sering Jimin kunjungi selama ini.

"annyeongasseo!" sapa Jimin tersenyum manis.

"nde annyeong. Oh Jiminie? Aigoo, sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Kenapa tidak pernah kemari?" tanya sang kakek menyambut Jimin dengan senang hati.

"nde, mianhae haraboji. Ada banyak kegiatan di sekolah." sang kakek mengangguk maklum yang kemudian ia melirik kearah Yoongi.

"ah, bukankah kau—Min Yoongi?" tanya sang kakek ragu. Yoongi tersenyum senang, ia membungkukkan badannya di hadapan sang kakek sementara Jimin menatap Yoongi dan kakek bergantian.

"nde haraboji." jawab Yoongi ramah mengabaikan tatapan penuh tanya dari Jimin.

"haraboji mengenal Yoongi hyung?" tanya Jimin penasaran. Sang kakek tersenyum kecil.

"eyy, tentu saja aku mengenalnya. Yoongi ini sudah banyak membantuku selama ini." jawab sang kakek.

"ah, tidak haraboji. Aku hanya sedikit membantumu." jawab Yoongi malu-malu.

"Sedikit bagaimana? Kau menghajar semua preman yang akan menghancurkan trukku tiga bulan yang lalu. Itu bantuan yang sangat besar, nak." balas kakek yang membuat Jimin semakin mengeryit tak mengerti.

"Jadi, Yoongi hyung ini adalah orang yang haraboji maksud saat haraboji menceritakan padaku dulu?" tanya Jimin ingat-ingat lupa. "Tentang, preman-preman yang akan menghancurkan dagangan haraboji?"

"nde!" balas sang kakek antusias. "Jja, kalian pasti ingin makan sundae 'kan? Aku akan buatkan spesial dan gratis untuk kalian!" ujar sang kakek antusias begitu pula dengan Jimin dan Yoongi.

"nde kamsahamnida haraboji." balas Yoongi sopan.

"Duduklah, duduklah!" titah sang kakek dan kembali ke dalam truknya untuk menyiapkan sundae bagi kedua orang yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri. Jimin dan Yoongi pun duduk berhadapan di kursi yang ada di dekat mereka.

"Kau tunggulah disini hyungnim. Aku akan membeli soju." ujar Jimin, namun sebelum ia beranjak pergi, tangan Yoongi sudah menahan tangannya yang membuatnya kembali terduduk.

"Aku saja yang membelinya, kau tunggu disini!" titah Yoongi yang hanya diangguki oleh Jimin dan membiarkan Yoongi meninggalkannya sebentar.

Tak lama kemudian, Yoongi pun kembali dengan satu plastik hitam berukuran sedang di tangannya. Yoongi meletakkan plastik yang berisi beberapa botol soju diatas meja dihadapan Jimin.

"Ingat, jangan minum terlalu banyak!" pesan Yoongi. Jimin tersenyum sinis.

"Asal kau tahu saja, hyungnim. Aku ini sangat kuat minum!" balas Jimin yang hanya diangguki Yoongi, mengalah.

Setelah Sundae haraboji memberikan dua mangkok sundae dihadapan mereka, pesta soju kecil-kecilan antara Yoongi dan Jimin pun dimulai. Sesekali Yoongi yng melayani Jimin untuk menuangkan soju ke dalam gelas kecil, begitu juga sebaliknya. Hingga hampir dua jam mereka habiskan untuk minum dan Yoongi yang masih minum dengan tenang meskipun ia sudah minum hampir dua botol soju. Sementara, Jimin yang mulai sempoyongan padahal baru minum satu botol lebih.

"ah~ kenapa aku merasa ada kupu-kupu di kepalaku?" gumam Jimin merasa apa yang ada disekitarnya berputar-putar. Yoongi tersenyum kecil.

"Siapa yang mengajak dan siapa yang mabuk. Kau bilang, kau kuat minum—tapi, baru minum satu botol saja kau sudah meracau!" Yoongi menggelengkan kepalanya menatap Jimin yang sekarang sudah menyandarkan kepalanya pada meja dan Yoongi kembali menuangkan soju ke dalam gelas miliknya dan menegaknya dengan tenang.

"Kau tahu, aku tidak suka kau berdekatan dengan siapapun. Tapi, aku sadar. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak mau membuatmu membenciku dan berakhir dengan aku kehilanganmu." gumam Yoongi pandangannya melembut kearah Jimin yang ternyata sudah memejamkan kedua matanya. Yoongi menarik nafas dan mengulurkan tangannya untuk mengelus surai Jimin lembut.

"Aku benar-benar sangat mengkhawatirkanmu Jiminie. Aku sangat berharap kau bisa membagi rasa sakitmu, keluh-kesahmu, semua yang kau rasakan kepadaku. Aku ingin kau bergantung padaku. Bisakah?" tanya Yoongi yang tentu saja tidak dijawab oleh Jimin yang sudah sibuk mendengkur. Yoongi menarik nafas, ia beranjak dari duduknya dan bersiap untuk menggendong Jimin ke dalam punggung tegapnya.

.

.

.

.

.

Angin malam berhembus begitu tenang. Setiap pijakan yang Yoongi lewati dengan Jimin yang masih menyender nyaman di balik punggung kokohnya. Tangannya yang melingkar di leher Yoongi dan kedua matanya yang masih memejam damai.

Yoongi menarik nafas, menghirup udara malam yang begitu menenangkan hatinya, mengubur dalam-dalam rasa resah serta emosi yang terus meluap-luap di hari ini. Hari yang sungguh berat menurutnya.

"hyungnim~" panggil Jimin tiba-tiba. Suaranya serak dan Yoongi hanya berdehem, tak terlihat terkejut sama sekali dengan panggilan Jimin padanya.

"Kau sudah bangun?" tanya Yoongi sekedar basa-basi. Jimin terdiam sejenak masih dengan setengah kesadarannya.

"Aku—belum berterima kasih dan meminta maaf padamu dan yang lainnya." Yoongi masih tetap melanjutkan langkahnya dan Jimin yang menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Yoongi yang terasa nyaman untuknya.

"Untuk apa?" tanya Yoongi akhirnya.

"Kalian sangat menkhawatirkanku saat aku sakit. gomapta."

"Katakan terima kasih pada mereka. Jangan hanya padaku."

"nde!" jawab Jimin singkat dan kembali memejamkan kedua matanya.

"Jiminie?" panggil Yoongi setelah hanya ada keheningan selama lima menit diantara mereka. Jimin hanya berdehem dan tak berniat untuk membuka kedua matanya. "Siapa Park Chanyeol itu?" dan seketika Jimin langsung membuka kedua matanya setelah mendengar pertanyaan Yoongi.

"Chanyeol hyung, adalah sosok kakak bagiku. Ketika aku berada di panti asuhan, dia selalu menjagaku dan melindungiku. Tapi, kami harus berpisah karena ia diadopsi ketika ia berumur 15 tahun." racau Jimin.

"Apa kau sangat menyayanginya?"

"Aku menganggapnya sebagai kakakku. Maka ya, aku sangat menyayanginya."

"Apakah dia juga orang yang kau percaya?" Jimin terdiam sejenak yang membuat Yoongi berasumsi bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah—

"aniyo!" Yoongi menghentikan langkahnya spontan. Ia kira, orang yang Jimin percaya adalah Park Chanyeol. Lalu, jika bukan Chanyeol? Siapa? Siapa orang yang Jimin percaya.

"Bukan Park Chanyeol orangnya?" Jimin menggeleng meskipun Yoongi tak melihatnya.

"Aku sudah tidak bertemu dengannya selama lima tahun. Dan, apa yang harus aku percayakan padanya?" tanya Jimin sekaligus jawaban dari semua pertanyaan Yoongi. Yoongi masih terdiam dan Jimin menyandarkan kepalanya pada ceruk leher Yoongi.

"hyungnim," panggil Jimin tiba-tiba dan Yoongi hanya berdehem karena terlalu kalut dengan pikirannya sendiri. "Aku melihat foto ayahmu dan ayahnya Hoseok sunbae di figura yang sama dengan kedua orang tuaku. Apa, kita pernah saling mengenal sebelumnya?" tanya Jimin yang membuat tubuh Yoongi melemas. Yoongi terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Ia yakin, Jimin pasti menanyakan perihal figura-figura yang ditemukan Jungkook ketika tengah membersihkan bilik Jimin tempo hari.

"aku—" Yoongi bimbang antara ingin mengatakan jujur atau sebaliknya. Ia ingin mengatakan semuanya, tapi ia juga takut jika kondisi Jimin semakin memburuk. Dan disisi lain, ia juga ingin berbohong tapi—bagaimana jika nantinya Jimin bisa mengingat semuanya dan menjadi marah padanya karena tidak mengatakan jujur sejak awal? Yoongi benar-benar merasa tersudut saat ini. Ia tidak tahu, kenapa harus ia yang mengalami hal demikian.

"Sebenarnya—" ujar Yoongi akhirnya. Yoongi memejamkan kedua matanya dan menarik nafas. "sebenarnya, aku adalah bocah kecil yang dulu memberi plester kumamon di lututmu, di halte depan sekolahmu. Kau benar, ayahku, ayahnya Hoseok bahkan seluruh orang-orang yang ada di figura itu adalah orang-orang yang mengenalmu sejak kecil. Jiminie, maafkan kami karena—" Yoongi menghentikan ucapannya ketika ia mendengar suara dengkuran halus dari sosok mungil yang berada di balik punggungnya. Yoongi tersenyum kecil.

"Apa kau baru saja mengigau?" gumam Yoongi. "hah~ ini sama saja aku bicara dengan orang mabuk!" lanjut Yoongi dan melanjutkan langkahnya menelusuri trotoar untuk kembali ke sekolah mereka tanpa menyadari jika sebenarnya Jimin mendengar semua penuturan Yoongi padanya. Jimin membuka kedua matanya dan menahan nafas agar Yoongi mengira bahwa ia masih tertidur di balik punggungnya.

'Aku merindukanmu, hyung. Aku merindukan pangeran kecilku!'

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

"Benar-benar menyebalkan!" desis beberapa siswa yang tengah berkerumun di depan papan pengumuman di lobby gedung utama. Pagi itu, seluruh siswa berkumpul untuk melihat pembagian tim untuk kemah musim panas yang akan dilakukan tiga hari lagi.

Dan, disinilah Jimin berdiri tepat di depan papan pengumuman menatap malas sembilan nama yang menjadi satu tim bersamanya. Jimin menghela nafas kesal, benar-benar kesal. Bahkan, rasanya Jimin ingin melampiaskan seluruh rasa kesalnya pada orang-orang tak bersalah yang berdiri di dekatnya. Jimin masih berdiri, tak berniat untuk beranjak sedikitpun. Rasanya ia ingin protes pada guru kesiswaan yang membuat daftar nama yang ia yakin, pasti akan membuat harinya penuh kesialan.

Jimin memutar kedua bola matanya malas, sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempatnya berdiri dan menjauhi kerumunan. Dan tepat, ketika ia beranjak pergi tak sengaja ia berpapasan dengan Yoongi, Namjoon, Taehyung, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook. Jimin melengos mencoba untuk mengabaikan keenamnya. Begitu pula dengan keenamnya yang menahan diri untuk tidak mengganggu Jimin hari ini. Apalagi, setelah mereka melihat raut tak mengenakkan di wajah Jimin.

"Kenapa dia terlihat kesal?" tanya Taehyung yang membuat Jungkook yang berdiri di sampingnya mengedikkan bahunya tak tahu.

"mollayo, mungkin karena—"

"Karena daftar nama timnya!" sahut seseorang yang membuat keenam orang itu menoleh ke kanan mereka dan mendapati Yook Sungjae yang mereka ketahui adalah teman sekelas Jimin, berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.

"mworago?" pekik Seokjin tak mengerti.

"Kalian pasti belum melihat daftarnya 'kan?" tebak Sungjae yang diangguki oleh beberapa dari keenam orang itu.

"Lalu, kenapa Jimin kesal karena daftar nama itu?" tanya Namjoon. Sungjae menarik nafas lelah.

"Mungkin kalian tidak tahu karena kalian bukan teman dekatnya." ujar Sungjae menyombongkan diri sementara keenam orang itu memandang Sungjae horor. "Dia satu tim dengan Lee Minhyuk sunbaenim, kalian tahu bukan sunbae satu itu sangat tergila-gila pada Park Jimin?"

"Lalu?" tanya Taehyung.

"ya, tentu saja Jimin jengah melihatnya dan ada hal lain lagi yang lebih menakutkan." lanjut Sungjae berlebihan.

"Apa lagi?" kali ini Hoseok yang bersuara.

"Jimin satu kelompok dengan Joohyun sunbae."

"Memangnya apa yang menakutkan dari Jimin yang sekelompok dengan Bae Joohyun?" tanya Namjoon. Sungjae tampak terkejut dengan pertanyaan Namjoon.

"loh, kalian tidak tahu? Beberapa minggu yang lalu Joohyun sunbae melempar panci panas ke tangan Jimin dan mempermalukannya di depan semua orang dengan kata-kata kasar!"

"mwo?!" keenam orang itu membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Apa kau bilang?!" tanya Yoongi emosinya memuncak. Sungjae menelan salivanya susah. "Katakan sekali lagi!" tuntut Yoongi menatap Sungjae tajam.

"hyung, tahan dirimu!" bisik Namjoon menahan Yoongi untuk tidak bersikap berlebihan.

"ma-maaf sunbaenim. Tapi, semua siswa tahu kejadian itu. Aneh rasanya, jika kalian tidak tahu! Apalagi yang aku dengar itu menyangkut tentang kedekatanmu dengan Park Jimin." jelas Sungjae. "Sudah ya, aku pergi dulu. Aku ada urusan lain!" pamit Sungjae tak mau berlama-lama berhadapan dengan Yoongi yang terlihat menyeramkan.

"Sial! Gadis itu, benar-benar harus diberi pelajaran!" desis Yoongi kesal.

"hyung, tahan dirimu. Untuk sementara, jangan membuat masalah jika itu menyangkut tentang Jiminie, dan jangan terlalu bersikap posesif padanya." saran Namjoon yang hanya dianggap angin lalu oleh Yoongi.

"ah, jadi karena itu Jimin hyung mengobati tangannya sendiri di unit kesehatan waktu itu?" pekik Jungkook tiba-tiba setelah teringat kejadian dimana Jimin yang memekik kesal mengobati tangannya yang melepuh beberapa minggu yang lalu.

"Kau tahu?" tanya Seokjin.

"Aku tidak tahu kenapa tangannya bisa melepuh tapi waktu itu aku juga membantunya mengobati tangannya. Aku tidak bertanya kenapa, karena kau tahu 'kan hyung. Jimin hyung tidak akan dengan mudah mengatakan jawaban dari setiap pertanyaan yang kita tanyakan padanya?" jelas Jungkook.

"Tapi, dia tidak apa 'kan?" tanya Yoongi.

"Dia tidak apa—"

"HYUNG!" seru Taehyung yang entah sejak kapan sudah meninggalkan kelima teman kecilnya dan kini ia berlari riang kearah mereka.

"Sejak kapan kau disana?" tanya Hoseok heran. Taehyung hanya menunjukkan cengiran khasnya.

"Lupakan kekesalan Jimin! Kalian harus lihat daftar timnya!" seru Taehyung antusias dan mendorong kelimanya untuk menyeruak kerumunan yang tentu saja para siswa akan langsung mengalah dengan senang hati.

"hyungnim, kau satu kelompok dengan Jiminie!" bisik Taehyung pada Yoongi. Yoongi tersenyum senang meskipun senyum tampannya kembali luntur begitu saja.

"Tapi, kenapa aku selalu bertemu dengan orang ini?" gumam Yoongi menunjuk nama Yoon Doojoon yang juga berada satu tim dengannya.

"Sudahlah, hyung! Yang penting 'kan kau bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Jiminie dan kau bisa mengawasinya sepuasmu." Yoongi mengangguk.

"arraseo. Aku akan menerimanya dengan senang hati demi Park Jimin!"

"Itu harus hyung!"

"Dan, kenapa kau juga tampaknya begitu senang?" tanya Yoongi melihat Taehyung yang tak berhenti tersenyum sedari tadi. Kemudian, Yoongi pun mengalihkan pandangannya kearah tim yang terdapat nama Taehyung dan membaca nama-nama yang menjadi satu tim dengan pemuda pemilik senyum kotak itu.

"woah~ aku iri padamu!" gumam Yoongi setelah mengetahui bahwa Taehyung satu tim dengan Namjoon, Seokjin, Jungkook, dan Hoseok.

.

.

.

.

.

"Benar, kau tidak perlu ditemani?" tanya Im Sohye, sekretaris dewan siswa pada Jimin yang kebetulan mendapat tugas untuk membeli beberapa kekurangan untuk keperluan kemah tiga hari ke depan. Jimin menggeleng.

"Tidak perlu sunbaenim, aku bisa sendiri. Lagi pula, ini bukan pekerjaan yang sulit." jawab Jimin ringan.

"arraseo, kalau itu mau-mu. Cepat kembali sebelum makan siang, nde?" Jimin hanya mengangguk sekilas dan segera keluar dari studio dewan siswa.

Jimin berjalan seperti biasa dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku hoodie yang ia kenakan. Jimin melangkah dengan tenang hingga ia sudah sampai di luar gerbang area sekolahnya. Jimin menengok ke kanan-kiri untuk memastikan jalanan sudah cukup sepi dan bersiap untuk menyebrang jalan.

"Park Jimin?" panggil seseorang yang membuat Jimin mengurungkan niat awalnya. Jimin segera menoleh pada sosok pria asing dengan senyum tipis yang terpatri di wajah tampannya.

"Anda siapa?" tanya Jimin merasa bahwa ia tak mengenali pria itu sebelumnya. Pria itu tersenyum miring.

"Perkenalkan aku—Kwon Jiyoung!" ujarnya yang seketika membuat Jimin teringat jika nama itu adalah nama yang menitipkan kotak cokelat pada petugas keamanan sekolah untuk diberikan kepadanya. Jimin menahan nafas, ia menatap teliti pada pria di depannya dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin.

"oh! Apa anda yang mengirimkan kotak itu?" tanya Jimin yang diangguki oleh Jiyoung.

"nde. Kau benar? Apa kau ada waktu sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu!" Jimin tampak menimang tawaran dari orang asing ini sebelum ia kembali menambahkan ucapannya untuk menyakinkan Jimin agar bersedia ikut bersamanya. "Ini—menyangkut kedua orang tuamu." dan Jimin tentu saja tidak akan menolak jika itu menyangkut tentang masa lalunya, terutama tentang keluarganya.

Maka disinilah, Park Jimin duduk dihadapan Kwon Jiyoung di sebuah kedai yang sepi pengunjung yang jaraknya cukup jauh dari RC. Sebelumnya, Jiyoung membawa Jimin untuk masuk ke mobilnya terlebih dahulu dan membawanya ke kedai yang tampaknya sudah direncanakan Jiyoung sebelumnya.

"Jadi, ada apa tuan?" tanya Jimin memecah keheningan.

"Aku yakin, kau pasti tidak ingat siapa diriku. Apalagi, ketika aku mengirimkan paket itu untukmu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Jiyoung tampak memastikan. Jimin mengangguk ringan.

"nde, tentu saja. Aku baik." jawab Jimin singkat.

"Aku tidak bermaksud untuk mengatakan kebenarannya padamu. Tapi, bagaimanapun juga kau harus mengetahui tentang keluargamu, ayahmu, ibumu bahkan calon adikmu." Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.

"Calon adikku? Aku punya adik?" Jiyoung menatap Jimin iba.

"Hampir—jika saja, mereka tidak berniat untuk membunuh keluargamu." tubuh Jimin melemas dan membuatnya bersemangat untuk mendengar segala penuturan Jiyoung dengan saksama. "Park Jimin, kau tahu kecelakaan yang menimpa keluargamu itu, bukanlah kecelakaan biasa. Itu adalah kesengajaan. Ada seseorang yang sudah merencanakannya. Ada seseorang yang ingin melenyapkan kedua orang tuamu." Jimin semakin terdiam. Tepatnya mendengar segala ucapan Jiyoung yang terlalu tiba-tiba ini.

"Tapi, siapa anda?" tanya Jimin tak mengerti.

"Aku adalah orang yang sempat hidup bersamamu. Aku adalah anak dari orang kepercayaan orang tuamu. Dulu, kau selalu menganggapku sebagai hyung-mu."

"hyung-ku? Tapi, kenapa anda baru mengatakannya padaku sekarang?" tanya Jimin.

"Karena mereka terus mengawasiku." jawab Jiyoung merendahkan suaranya. "Dan, kau tahu. Mereka juga sedang mengawasimu. Selalu mengawasimu." Jimin mengeryitkan keningnya dan menajamkan kedua telinganya. "Setiap pergerakanku terbatas karena aku selalu diawasi. Aku takut, jika aku mendekatimu maka mereka akan kembali melukaimu. Karena itulah kau berada di panti asuhan. Tidak aman bagimu berada dimanapun karena mereka masih mengincar nyawamu." jelas Jiyoung.

"Tapi, kenapa mereka masih mengincar nyawaku setelah membunuh kedua orang tuaku dengan sengaja?" Jiyoung menarik nafas prihatin.

"Karena mereka tidak ingin kau mengingat semuanya."

"mwo?"

"Kau tahu kenapa?" Jimin menggeleng. "Karena kau adalah satu-satunya saksi mata dari masalah yang sedang menimpa ayahmu waktu itu."

"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri dan Jiyoung mengangguk yakin. "Tapi, siapa yang mengawasiku bahkan ingin membunuhku?" tanya Jimin tanpa sadar Jiyoung menarik sudut bibirnya membentuk seringai mengerikan.

"mereka—orang-orang yang ada di figura itu." Jimin mengerjapkan kedua matanya tak percaya.

"me-mereka?" Jiyoung mengangguk ringan.

"nde, mereka—yang menyuruh anak mereka untuk mengawasimu." Jimin terdiam. Namun beberapa menit setelahnya hanya ada keheningan diantara mereka, Jimin kembali mengalihkan pandangannya kepada Jiyoung. Pandangan, yang sulit diartikan.

"Apakah aku harus mempercayaimu?" tanya Jimin yang membuat Jiyoung mengeryitkan keningnya agak terkejut.

"Tentu saja kau harus percaya padaku."

"waeyo?" tanya Jimin dingin.

"karena aku adalah orang kepercayaan ayahmu." jawab Jiyoung yakin. Jimin terdiam sejenak. "Jika kau tidak percaya padaku, siapa orang yang akan kau percaya selain aku? Orang yang sangat ayahmu percaya." Jimin tersenyum kecil dan mengangguk polos.

"nde, aku memang harus mempercayai orang yang sangat dipercayai ayahku." balas Jimin yang membuat Jiyoung tersenyum puas kearah Jimin yang masih menunjukkan mata polosnya yang terlihat tak mengerti apapun dengan situasi yang sebenarnya.

.

.

.

.

.

"Ada apa?" tanya Yoongi menatap jengah kearah Doojoon yang memintanya untuk menemuinya di belakang gedung asrama. Hanya ia dan Doojoon. "Aku harap ini sesuatu yang penting."

"Aku sudah mendapatkannya." jawab Doojoon datar dengan sorot mata penuh kecemasan.

"Mendapatkan apa maksudmu?"

"Informasi yang kau inginkan tentang kakakku." Yoongi menatap balik Doojoon yang juga menatapnya penuh keseriusan.

"Katakan!" pinta Yoongi tak sabar. "Tapi tunggu, kenapa kau hanya mengatakannya padaku?"

"Akan lebih baik, jika sedikit orang yang tahu. Aku merasa sejak ada siswa baru itu, kita harus jarang-jarang bertemu. Bagaimana jika dia juga mengetahui tentang masa lalu Jimin? Apalagi kita juga belum memastikan kakak angkatnya itu benar orang yang bersangkutan atau tidak."

"arraseo, kalau begitu cepat katakan. Apa yang kau ketahui!" pinta Yoongi tak sabar. Doojoon menarik nafas.

"Ada kemungkinan jika kakakku dan kedua temannya setiap harinya mematai Park Jimin."

"Setiap hari?" Doojoon mengangguk yakin.

"nde! Setiap hari mereka memastikan keadaan Park Jimin. Aku juga yakin, mereka pasti mengetahui tentang kondisi Park Jimin sekarang ini."

"Lalu? Apa rencana mereka?" tanya Yoongi. Doojoon menggeleng prihatin.

"Ini benar-benar menyeramkan."

"Apa maksudmu?! Katakan langsung poinnya Yoon Doojoon!" seru Yoongi sebelum kesabarannya habis dan memaksa Doojoon untuk mengatakan semuanya padanya secara lengkap.

"Mereka berniat untuk membunuh Park Jimin!"

"mwo?" Doojoon mengusap wajahnya gusar.

"Tapi, kenapa? Apa yang mereka dapat dengan membunuh Park Jimin?"

"Aku masih belum mengetahuinya. Akses untuk mendapatkan informasi tentang mereka sangat terbatas. Mereka bahkan menutup segala konektivitas mereka kepada orang lain, bahkan keluarga mereka sendiri."

"Sial! Kenapa, semuanya semakin rumit? Sebenarnya, apa yang terjadi antara Park Jimin dan orang-orang itu di masa lalu? Bukankah, mereka hanya memiliki masalah pada Seojoon ahjussi? Dan kenapa sekarang harus membunuh Park Jimin?"

"Entahlah, aku hanya berniat untuk membantumu dan teman-temanmu. Hanya informasi ini yang aku terima."

"gwenchana. Ini, sudah cukup untukku. Gomapta, aku akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi serta semua penyebab dari kecelakaan keluarga Jimin." janji Yoongi pada dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

Tap tap tap

Seorang pemuda tampan yang mengenakan jaket hitam serta tudung hitam yang ia kenakan untuk menutupi kepalanya, memasuki sebuah rumah mewah bak istana. Dia berjalan melewati setiap maid yang membungkuk, memberi salam padanya yang tentu saja akan diabaikan oleh pemuda tampan itu.

Cklek!

Pemuda itu membuka salah satu ruangan tertutup yang berada di dekat tangga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Kau datang?" sapa seorang pria tua menyambut pemuda yang baru saja datang dan masuk ke dalam ruang kerjanya.

Pemuda itu tetap terdiam tak berniat untuk memberi salam atau membalas pertanyaan dari si tuan rumah.

"Apa yang membuatmu repot-repot datang kemari, anakku?" tanyanya. Pemuda itu menahan nafasnya.

"Jangan pernah menyebutku sebagai anakmu, tuan Nam! Karena aku, bukanlah anakmu!" desis pemuda itu yang membuat si tuan rumah tertawa lantang. Kemudian ia beranjak dari duduknya dengan bantuan dari sebuah tongkat yang membantunya untuk berjalan. Dengan langkah ringkihnya, pria tua itu berjalan mendekati pemuda yang kini tengah memandangnya tajam penuh kebencian.

"Aku prihatin dengan dirimu. Kau mementingkan kehidupan orang lain tapi tidak dengan hidupmu sendiri." pemuda itu mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah. "Dimana ibumu, nak?"

"Ibuku, juga adalah adikmu! Kau menyakitinya, itu berarti kau juga menyakiti dirimu. Jangan membodohi dirimu sendiri untuk terus mencari bukti itu tuan Nam. Bukti yang tidak pernah kau dapatkan selama delapan tahun lamanya!" pria tua itu menyeringai.

"Aku salut dengan didikan ayahmu. Kau benar-benar cerdas dan bisa diandalkan. Tapi, kenapa kau justru menuruti semua permintaanku setelah kau tahu semua kebenarannya?"

"Kau yang membuatku tidak memiliki pilihan selain menuruti pria iblis sepertimu. Kau yang membuatku untuk bersedia menjadi bonekamu pada akhirnya." pria itu menyeringai.

"Kau memang selalu menjadi bonekaku—Kim Namjoon!" bisik pria tua itu yang membuat pemuda itu melengos. Muak sudah ia bertatap muka dengan pria tua yang tak lain adalah kakak dari ibunya sendiri. "Dan aku ucapkan terima kasih atas e-mail yang kau kirim padaku dengan ID dewan siswa RC." lanjut pria tua itu yang membuat pemuda yang memang adalah Namjoon itu menahan rasa kesalnya. "Kau memberikan informasi yang sesuai dengan keinginanku."

"Aku bukan orang bodoh yang membocorkan informasi sekolah pada orang busuk sepertimu dengan menggunakan ID-ku!" sarkas Namjoon yang mengundang tawa dari pria tua itu.

"Kau benar! Jika mereka tahu, mereka pasti akan mencurigai dirimu!" Namjoon berdecak. "Terlebih aku salut pada Seunghyun yang mengirimkan data diri adik angkatnya padamu tepat waktu dan kau dengan mudah membodohi mereka semua."

"Aku kemari ingin menjenguk ibuku!" pinta Namjoon dingin dan mengabaikan segala pujian pria itu padanya. Pria tua itu menyeringai.

"Tentu saja aku akan mengijinkanmu, tapi tidak semudah itu!" jawab pria itu. Namjoon menggeram tertahan. "Katakan, bagaimana keadaan Park Jimin sekarang?" Namjoon menarik nafas, mencoba untuk bersabar.

"Dia baik dan segala alibi yang kau lakukan untuk merusak ingatannya sama sekali tak berhasil!" jawab Namjoon tegas.

"Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu, apa yang sudah aku lakukan padanya?" Namjoon mengepalkan kedua tangannya.

"Kau mengirimkan paket kepada Park Jimin yang berisi seluruh foto tentang keluarganya dan orang-orang terdekatnya?! Siapa lagi yang akan repot-repot melakukan semua itu jika bukan orangmu?! Jeon Jungkook membereskan kamarnya dan menyerahkan kotak itu pada Min Yoongi dan membuatku harus berusaha keras untuk menyembunyikan kotak itu dari Park Jimin. Aku sudah peringatkan padamu, untuk bermain bersih dan jangan bermain kotor dengan menghancurkan isi otaknya!"

"Sebenarnya, kau berada di pihak siapa Kim Namjoon?" tanya pria tua itu mencoba untuk mempelajari raut wajah dari keponakannya. "Apa kau berpihak padaku, ayahmu, teman-temanmu, ibumu, atau pada Park Jimin?" Namjoon terdiam menatap tegas pada pria tua di depannya.

"Jawabanku akan selalu sama sampai kapanpun. Aku melakukan semua ini—hanya demi ibuku!"

.

.

.

.

.

Cklek!

Namjoon membuka pintu sebuah rumah kecil yang berada di belakang rumah mewah yang ia kunjungi. Kemudian, ia masuk lebih dalam setelah menutup rapat pintu rumah. Ia juga menutup seluruh tirai yang ada di rumah kecil itu. Setelahnya, Namjoon berjalan mendekati sebuah ranjang dimana seorang wanita tengah tidur cantik di balik selimut tebalnya.

Dengan lembut, tangan Namjoon terulur mengelus surai wanita rapuh yang sudah selama tiga bulan tidak ia kunjungi, yang tentu saja elusan tangannya membuat si wanita langsung membuka kedua matanya.

"Namjoonie?" panggilnya yang membuat Namjoon tersenyum dan wanita itu yang langsung berhambur memeluk putra semata wayangnya.

"eomma, bagaimana kabarmu?" tanya Namjoon yang akhirnya beralih duduk di atas ranjang di samping ibunya. Wanita cantik itu menarik nafas. "Apa mereka masih menyakitimu?" wanita itu menggeleng.

"Mereka tidak akan menyakiti wanita tua yang mereka anggap sudah kehilangan kewarasannya, Namjoonie." Namjoon tersenyum tipis.

"Maafkan aku, eomma. Aku tidak bisa mengeluarkanmu lebih cepat dari tempat ini." wanita itu menggeleng maklum dengan tangannya yang terulur untuk menyentuh pipi putra tampannya.

"Seharusnya, eomma yang minta maaf padamu. Karena eomma, kau mengalami hal sulit nak." Namjoon menggeleng dan merasakan tangan hangat ibunya yang berada di pipinya.

"Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhanmu, eomma. Aku akan melakukan apapun agar tidak ada yang menyakitimu. tidak lagi!" ibu Namjoon menatap putranya penuh haru. "Dan, eomma apa orang-orang disini masih tidak mengetahui bahwa kau sebenarnya sudah sembuh tiga bulan yang lalu?" tanya Namjoon. Sang ibu mengangguk.

"Tidak ada yang tahu. Siapapun yang datang kemari aku berusaha agar terlihat bahwa aku masih sakit. Aku tidak ingin, jika mereka terus memperalat putraku lebih lama. Cukup, selama tiga tahun ini mereka mempergunakanmu untuk menghancurkan musuh-musuhnya." Namjoon menunduk.

"appa, mengira bahwa selama tiga tahun sebelum ini aku hidup untuk melanjutkan pendidikanku di Washington, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi appa bahkan semua orang setelah mengetahui apa yang aku lakukan sebenarnya."

Grep!

"Maafkan eomma, nak~" isak ibu Namjoon memeluk putra tampannya erat. "Maafkan eomma!" Namjoon hanya terdiam dan menikmati pelukan rapuh dari ibunya.

"eomma, aku akan secepatnya mengeluarkanmu dari sini. Aku janji!" bisik Namjoon kedua sorot matanya berubah mengerikan bersamaan dengan dirinya yang membalas pelukan dari sang ibu.

.

.

.

.

.

"Park Jimin-ssi!" panggil seseorang dengan suara lantang dan remehan ketika melihat Jimin yang baru saja memasuki gerbang RC. Jimin menghentikan langkahnya, ia berbalik badan dan mendapati salah satu senior cantik yang berjalan menghampirinya.

"Kau tahu, aku sudah menunggumu selama tiga jam." ujarnya basa-basi. Jimin mendecih.

"Aku rasa, aku tidak memiliki urusan denganmu, Joohyun sunbaenim!" Joohyun—senior yang memanggil Jimin—mengangguk membenarkan.

"Baiklah, kau tidak memiliki urusan denganku tapi—aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ini sangat penting!" balas Joohyun penuh teka-teki dan Jimin hanya mengeryitkan keningnya tak mengerti.

"Hal penting apa sampai membuatmu repot-repot menungguku selama tiga jam?" Joohyun menyeringai.

"Ini—mengenai kejadian delapan tahun yang lalu. Mengenai keluargamu!" Jimin membulatkan kedua matanya terkejut ketika Joohyun mengucapkan kalimat itu dengan ringannya. Darimana dia tahu?

"mwo? Apa maksudmu?"

"Aku yakin kau akan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang akan kukatakan padamu." lanjut Joohyun penuh teka-teki yang membuat Jimin menggeram tak sabar.

"Katakan apa maksudmu, Joohyun sunbaenim?!" Joohyun terdiam menunjukkan seringai jahatnya.

"Aku rasa, mereka menyembunyikan dengan sangat baik darimu." Jimin mengepalkan kedua tangannya sementara joohyun masih menatapnya tenang. Joohyun menarik nafas, sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang mampu menghancurkan Jimin secara fisik maupun mental—menurutnya.

"Apa kau tahu, jika orang-orang yang menjadi penyebab kecelakaan maut yang menewaskan kedua orang tuamu—berada disini? Berada di tempat ini?" jantung Jimin berpacu dua kali lebih cepat daripada biasanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa hari ini banyak orang yang membahas sesuatu yang bahkan tidak ingin Jimin bahas sama sekali?

"m-maksudmu?"

"Mereka, berada sangat dekat denganmu!" lanjut Joohyun semakin bersemangat memanasi Park Jimin setelah melihat reaksi Jimin sekarang ini.

"Siapa yang kau maksud Bae Joohyun!"

"Tenang Park Jimin! Tenang." lirih Joohyun dengan senyum liciknya. "Kau akan mengetahuinya sebentar lagi—" Jimin menahan nafas dan menunggu dengan sabar ucapan Joohyun padanya, yang sebenarnya sudah ia ketahui tertuju pada siapa. "—orang yang kumaksud adalah, tiga orang yang menjadi roomate-mu dan tiga orang, anak dari pemilik sekolah ini." Jimin terdiam mendengar penuturan Joohyun, terlihat shock yang sangat ketara di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Jangan mengarang cerita, hanya karena kau membenci kedekatanku dengan Yoongi sunbae!" Joohyun tertawa mengejek.

"Aku memang tidak menyukai kedekatanmu dengan Min Yoongi tapi—setidaknya kau harus tahu siapa orang yang berada di dekatmu. Orang yang berpura-pura peduli padamu tapi sebenarnya hanya karena merasa bersalah. Kau tahu kenapa? Karena orang tua merekalah yang menjadi penyebab tewasnya kedua orang tuamu!" Jimin masih menggeleng tak percaya.

"Jangan mengatakan omong kosong dengan mengatas-namakan kedua orang tuaku. Aku tidak tahu, apa maksudmu mengatakan ini semua. Tapi, kau sudah gagal membuatku untuk mempercayai semua kebohonganmu!" Joohyun tersenyum miring dan menatap Jimin kesal.

"Aku berbohong?! Kau bisa membuktikannya sendiri dan menanyakan pada mereka. Karena, kau tahu—aku mendengarnya langsung dari mulut mereka jika orang tua merekalah yang membuatmu kehilangan kedua orang tuamu!" Jimin terdiam, menimang segala penjelasan Joohyun yang membuat kepalanya berdenyut sakit. Jimin memejamkan kedua matanya sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan meninggalkan Joohyun yang kini tersenyum penuh kemenangan.

Dan setelah kepergian Jimin, seorang pemuda berjalan menghampiri Joohyun yang masih mematai kepergian Park Jimin.

"Terima kasih, kau sudah mengatakan semuanya pada Jimin, Joohyun-ssi!" ujarnya yang membuat Joohyun berbalik badan. Gadis itu tersenyum miring.

"Itu bukan masalah besar untukku, Chanyeol-ssi. Apalagi, kau adalah orang terdekat Park Jimin, yang mengetahui semua tentang kehidupannya." pemuda yang memang adalah Chanyeol itu mengangguk dan tersenyum puas.

"Dan, aku tidak akan pernah melupakan jasamu yang menceritakan apa yang kau dengar dari mereka."

"Aku akan mengatakan semuanya padamu dengan senang hati, jika itu bisa menjauhkan Park Jimin dari Min Yoongi." Chanyeol hanya mengulas senyum singkat dengan kedua matanya yang ikut mengarah pada punggung Jimin yang jaraknya sangat jauh dari pandangannya.

'Satu-satunya agar kau menjadi milikku adalah dengan membuatmu membenci orang yang berasal dari masa lalumu, Park Jimin!'

.

.

.

.

.

Jimin melangkah dengan sorot mata penuh luka serta amarah yang berkecamuk di hatinya. Bertanya dengan kasar pada setiap orang yang berpapasan dengannya apakah mereka melihat Min Yoongi dan teman-temannya atau tidak.

Maka disini-lah, Park Jimin berada. Seperti orang kerasukan berjalan tergesa memasuki cafetaria dan melangkah mendekati meja dimana orang-orang yang ia cari berada. Dan dengan segala amarah serta kecewa yang merasuki tubuhnya, Jimin mencoba untuk menahan diri ketika ia berdiri di dekat meja dari kelima orang yang kini juga menatapnya penuh tanya.

"Jimin-ssi, ada apa? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Taehyung yang kebetulan berjalan mendekati Jimin. Jimin masih terdiam dan memandang Taehyung yang berdiri di depannya, spontan ia mengepalkan kedua tangannya dan—

BUGH!

Jimin melayangkan bogem mentahnya pada rahang tegas Taehyung yang sontak membuat Jungkook, Seokjin, Hoseok, dan Yoongi langsung berdiri dari tempat duduk mereka dan berhadapan dengan Jimin. Bersamaan pula dengan Namjoon yang entah muncul dari mana dan berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri. Agaknya, mereka sedikit beryukur cafetaria sekolah saat itu sedang sepi pengunjung dan hanya ada ketujuh orang itu.

"sunbaenim! Apa yang kau lakukan?!" seru Jungkook tak terima. Jimin mendecih.

"Jimin-ssi, ada apa denganmu?!" tanya Seokjin ikut meninggikan suaranya. Jimin terengah entah karena apa, sorot mata dingin dan tajam itu berubah menjadi sorot mata penuh kekecewaan.

"apa—" lirih Jimin akhirnya membuka suara dengan susah payah. "—apa benar orang tua kalian penyebab dari kematian kedua orang tuaku!"

DEG!

Keenam orang itu membulatkan kedua mata mereka tak percaya sementara kedua mata Jimin yang sudah mulai berkaca. Jimin mencoba untuk menguasai dirinya sendiri dan menunjukkan kemarahan serta kekecewaan pada mereka.

"Apa semua itu benar?' tanya Jimin suaranya melemah tak sekeras seperti sebelumnya. Dapat mereka lihat dengan jelas sorot luka di kedua mata Jimin.

"Jiminie, apa yang—"

"JAWAB AKU!" seru Jimin penuh emosi, yang membuat Yoongi memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Jimin yang tampaknya penuh emosi yang tak terkontrol.

"nde, itu benar!" jawab Yoongi tegas. Jimin memejamkan kedua matanya, rasanya berbeda ketika Joohyun ataupun Jiyoung yang mengatakan padanya dengan Yoongi yang memperjelas pernyataan dari kedua orang asing itu. Jimin menarik nafas dan menahan rasa sakit yang kembali menyerang kepalanya serta bulir air mata yang keluar dari ekor mata indahnya. Jimin menghela nafas, menenangkan diri kemudian ia membuka kedua matanya dan menatap Yoongi nanar.

"Kalian benar-benar sudah berhasil menghancurkanku. Kalian mengawasiku diam-diam dan bersikap seolah peduli padaku. Seharusnya aku tahu, kalian bukan orang yang tepat untuk dipercaya."

"Park Jimin, apa yang kau bicarakan?" tanya Hoseok tak paham. Jimin tersenyum miring dan menghapus air matanya yang keluar percuma.

"Aku tidak mau bertemu apalagi mengenal orang-orang yang menjadi penyebab aku kehilangan kedua orang tuaku. Dan, aku tidak akan membiarkan kalian berhasil melakukan apa yang kalian rencanakan padaku selama ini!"

"Park Jimin, kau salah paham!" seru Seokjin entah kenapa ia merasa ada yang janggal dari ucapan Jimin barusan. Jimin mengangkat sebelah alisnya, menantang.

"Salah paham? Bagaimana aku bisa salah paham? Katakan, apa benar ayahmu dan ayah mereka-lah yang menjadi penyebab kecelakaan keluargaku? Dan katakan, apa mereka juga meminta kalian untuk mengawasiku? Mengawasiku untuk apa? Untuk memastikan jika sewaktu-waktu aku mengingat semuanya. Bukankah begitu?!" tanya Jimin menuntut yang membuat keenam orang itu tak percaya jika Jimin mengetahui semuanya entah dari siapa. "Katakan, itu benar atau tidak?" tanya Jimin lagi. "Itu benar 'kan?!" seru Jimin meminta mereka untuk menjawab semua pertanyaannya.

"nde, semua yang kau katakan itu memang benar!" dan akhirnya Yoongi lagi yang menjawab semua pertanyaan Jimin yang membuat Taehyung, Jungkook, Seokjin, Hoseok hingga Namjoon menatap kearah Yoongi tak percaya karena bukannya Yoongi mendinginkan suasana, pemuda pucat itu justru membuat suasana semakin memanas.

"Tidak! Itu tidak benar, kau salah paham, Park Jimin!" sela Seokjin yang membuat Jimin seketika menoleh kearahnya kemudian kembali beralih menatap Yoongi yang juga masih menatap intens kearahnya.

"Apa yang kau ketahui bukanlah cerita yang sebenarnya!" lanjut Seokjin.

"Jadi, katakan padaku bagaimana cerita yang sebenarnya?" tanya Jimin memojokkan Seokjin.

"Cerita yang sebenarnya sesuai dengan cerita yang kau ketahui sekarang ini!" sahut Yoongi.

"Tidak! Min Yoongi apa yang kau katakan?!" seru Seokjin kesal bukan main dengan sikap Yoongi yang tak mau diam sementara Yoongi bisa melihat mimik bingung di wajah Jimin. "Dengar Park Jimin, awal mulanya karena orang tua kami tidak mempercayai ayahmu. Tapi, sungguh kecelakaan itu bukan direncanakan oleh orang tua kami."

"Lalu oleh siapa?" tanya Jimin cepat. Seokjin gelagapan. "Katakan padaku siapa orangnya? Kenapa kalian hanya diam? Kalian hanya mengada-ada untuk melindungi orang tua kalian 'kan?"

"Park Jimin, tapi apa yang kau katakan pada kami—ini semua tidak benar! Bukan seperti itu ceritanya!" lanjut Hoseok yang diangguki oleh Seokjin yang masih menunjukkan raut cemasnya. Jimin menoleh kearah Yoongi.

"Dan, kau—apa yang ingin kau katakan?" tanya Jimin. "Kau mengatakan sebelumnya apa yang aku katakan adalah kebenarannya dan sekarang? Kenapa kau hanya diam dan tak menyela segala penjelasan mereka seperti sebelumnya?" Yoongi tersenyum kecil.

"Sekarang kau mendengar cerita berbeda dari setiap orang yang mengenalmu sejak dulu. Dan, diantara mereka—siapa yang akan kau percaya?" tanya Yoongi tenang dan Jimin diam mendengarkan. "Orang yang mengaku adalah orang terdekatmu dan mengatakan semua ceritanya padamu atau orang yang tak pernah kau akui kehadirannya tetapi juga mengetahui kebenarannya? Mana yang akan kau pilih?" tanya Yoongi. "Jika aku mengatakan apa yang kau ketahui adalah kebenarannya sementara mereka, berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya apa kau akan mempercayai mereka?"

Dan barulah Seokjin, Taehyung, Hoseok, Jungkook, dan Namjoon paham kenapa Yoongi sedari tadi hanya mengatakan bahwa apa yang Jimin katakan adalah kebenarannya. Sementara Jimin, ia merasa semua orang tengah mengelabuinya yang membuatnya semakin tidak ingin mempercayai siapapun.

"Kau benar! Aku pasti akan mempercayai orang yang lebih dulu mengatakan ini semua kepadaku dibandingkan mempercayai semua omongan kalian. Dan mendengarmu mengatakan ini semua, membuatku yakin—bahwa kalian sama saja dengan mereka!" desis Jimin sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan keenam orang itu yang menatapnya diam seperti orang bodoh.

TBC


(-) I'm back today .. Aku ini lanjutannya enggak mengecewakan ya, hehe

(-) Please, setelah baca chapter ini ini jangan ngatain Namjoon, Namjoon enggak salah apa-apa, ini hanya karena aku yang gatel pengen nistain salah satu dari mereka, kkkk. Karena, rencana awalnya sebenarnya enggak kaya gini, huhuhu

(-) Oh, makasih sebelumnya .. aku terharu sama kalian yang review yang selalu kasih saran dan benerin semua kalimat di ff ini mana yang bener mana yang salah. Dan entah kenapa pas aku edit berkali-kali pun selalu ada yang kelewatan.

(-) Yang nunggu ini, ending maaf ya belum end juga sampai chapter ini. Aku gak bisa pastiin terkahir berapa chapter yang jelas aku pengen dibawa santai aja dan rinci. Thx buat semuanya yang mampir. See you again ...

Kamsahamnida,