Previously ...

"Sekarang kau mendengar cerita berbeda dari setiap orang yang mengenalmu sejak dulu. Dan, diantara mereka—siapa yang akan kau percaya?" tanya Yoongi tenang dan Jimin diam mendengarkan. "Orang yang mengaku adalah orang terdekatmu dan mengatakan semua ceritanya padamu atau orang yang tak pernah kau akui kehadirannya tetapi juga mengetahui kebenarannya? Mana yang akan kau pilih?" tanya Yoongi. "Jika aku mengatakan apa yang kau ketahui adalah kebenarannya sementara mereka, berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya apa kau akan mempercayai mereka?"

Dan barulah Seokjin, Taehyung, Hoseok, Jungkook, dan Namjoon paham kenapa Yoongi sedari tadi hanya mengatakan bahwa apa yang Jimin katakan adalah kebenarannya. Sementara Jimin, ia merasa semua orang tengah mengelabuinya yang membuatnya semakin tidak ingin mempercayai siapapun.

"Kau benar! Aku pasti akan mempercayai orang yang lebih dulu mengatakan ini semua kepadaku dibandingkan mempercayai semua omongan kalian. Dan mendengarku mengatakan ini semua, membuatku yakin—bahwa kalian sama saja dengan mereka!" desis Jimin sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan keenam orang itu yang menatapnya diam seperti orang bodoh.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

BRAK!

PRANG!

"ARGHHH!" seru Jimin pilu seraya membanting semua barang-barang yang ada di dalam bilik kamarnya. Ia terus mengerang penuh emosi dan membuat biliknya kembali berantakan persis seperti beberapa hari yang lalu.

"ARGHHH!" seru Jimin semakin menyedihkan karena terus berteriak dan mengacak rambutnya.

BRUK!

"hiks~" isak Jimin tepat ia menjatuhkan tubuhnya di lantai bilik kamarnya yang terasa dingin dan sepi. Kepala Jimin tertunduk, tubuhnya bergetar dan kedua matanya yang penuh air mata. Jimin mememjamkan kedua matanya dan mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar. Kejadian hari ini, benar-benar menguras hati dan pikirannya. Bukan karena ia bingung akan mempercayai perkataan siapa atau siapa. Tapi, bukankah ini terlalu banyak untuk ia terima sekaligus?

"Kenapa? Kenapa ini semua terjadi padaku? Tidakkah mereka memberiku kesempatan untuk tenang sehari saja?!" gumam Jimin lelah. Ia lelah tentu saja. Ia sudah lelah sejak ia tidak bisa mengingat apapun dan ia mungkin akan semakin lelah ketika ia sudah mengingat semuanya.

Cklek!

Jimin tak mengindahkan suara pintu kamarnya yang terbuka. Ia tetap menangis dalam diam. Melampiaskan rasa amarah yang meletup-letup pada dirinya sendiri.

"yaampun, Jiminie—apa yang terjadi padamu?" dan Jimin seketika mendongak ketika sosok yang sudah ia anggap sebagai kakak pelindungnya datang di waktu yang tepat.

"Chanyeol hyung~" lirih Jimin menatap Chanyeol dengan kedua matanya yang berkaca. Hal itu pun, membuat Chanyeol tidak tega dan segera memeluk seseorang yang sangat ia cintai.

"Siapa yang membuatmu jadi seperti ini?" tanya Chanyeol sementara Jimin menyamankan pelukan Chanyeol padanya. Chanyeol mengelus punggung Jimin lembut.

"hiks~ hyung..." isak Jimin. Chanyeol menarik nafas.

"Tenanglah, Jiminie. Hyungie, disini—kau tak perlu khawatir, hm?" bisik Chanyeol menenangkan Jimin yang mengangguk dalam pelukannya.

Dan ketika kedua orang yang sedang berpelukan di dalam bilik kamar Jimin, dengan Chanyeol yang terus menenangkan sosok manis itu. Maka, disinilah Yoongi berdiri di balik pintu kamar mengintip interaksi keduanya. Tatapannya nanar, dan penuh luka. Luka yang teramat menyakitkan menyaksikan bahwa orang yang dikasihinya lebih nyaman di pelukan pria lain sementara dirinya hanya bisa berdiri menonton dan tak bisa berbuat apa-apa. Yoongi memejamkan kedua matanya, menikmati rasa sesak yang begitu menyiksanya. Kemudian, ia menarik ujung bibir membentuk senyuman paksa yang amat ketara.

'Mungkin, untuk sekarang aku tidak bisa berada di sampingmu. Tapi, aku berjanji Jiminie. Aku akan memastikan, kau tidak akan mengalami penderitaan lagi karena siapapun—dan hanya akan ada kebahagiaan dalam hidupmu. Meskipun—itu bukan bersamaku!'

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi-pagi buta seluruh siswa-siswi RC berangkat menuju Jeongseon, tempat dimana kemah musim panas tahun ini diadakan. Setelah melakukan perjalanan selama hampir lima jam dari Seoul, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Satu persatu para siswa pun menuruni bis yang mereka tumpangi untuk melihat kesekeliling hutan Jeongseon yang benar-benar sangat indah.

"jja, anak-anak berkumpullah sebentar!" seru guru Kim Jaejoong, guru kesiswaan meminta perhatian seluruh siswa-siswanya. "Yang pertama kalian lakukan setelah datang kemari adalah mendirikan tenda sesuai dengan kelas kalian masing-masing. Setelah selesai, ada interupsi selanjutnya terkait dengan tim yang kemarin sudah diumumkan. Kalian paham?" seluruh siswa pun bersorak 'nde' dengan kompak.

Selepas arahan pertama dari guru Kim, para siswa pun langsung melesat menuju sebuah lapang yang berada di pinggir hutan, yang digunakan sebagai tempat mendirikan tenda. Dan diantara seluruh siswa yang sedang sibuk mendirikan tenda, yang paling kontras adalah bagian kelas 3-IIIR, tepatnya di tenda yang akan dihuni oleh Min Yoongi, Yoon Doojoon, Choi Minho, dan Park Chanyeol. Karena, di saat semua orang bergotong royong utnuk mendirikan tenda, maka tenda yang akan dihuni keempatnya hanya didirikan oleh Minho sendiri.

"yak! Bisakah kalian membantuku!" seru Minho benar-benar kesal melihat ketiga teman sekelasnya dan duduk-duduk dengan wajah malas yang sangat ketara.

"Aku sudah bilang sebelumnya, aku tidak mau satu tenda dengan mereka!" seru Yoongi menunjuk Doojoon dan Chanyeol.

"yak! Apa kau pikir aku juga mau satu tenda denganmu?!" seru Doojoon tidak terima.

"aigoo~ kalian membuatku cepat tua!" gumam Minho frustasi. "yak! Jika kalian tidak ingin satu tenda protes saja pada Kim Sunggyu, jangan protes padaku!"

"Lagipula kau dewan siswa 'kan? Lakukan sesuatu! Aku muak melihat wajahmu setiap hari!" desis Yoongi memancing amarah Doojoon.

"Apa kau pikir aku juga tidak muak melihat wajahmu?!" balas Doojoon tak kalah tajam dan Yoongi terus mencibir tanpa henti. Chanyeol yang melihat pertengkaran tak penting antara Yoongi dan Doojoon pun, akhirnya memutuskan untuk membantu Minho mendirikan tenda sementara Yoongi dan Doojoon masih saja beradu mulut dan mengatakan segala hal yang sungguh membuat Minho benar-benar ingin menenggelamkan kedua orang itu.

"oh tuhan, kenapa aku ditakdirkan bersama dengan orang-orang yang menyukai orang yang sama? Bahkan, siswa baru sekalipun tampakanya sama saja dengan mereka jika sudah mengenal sejak lama." gumam Minho tak habis pikir. Chanyeol yang mendengarnya pun mengeryitkan keningnya tak mengerti.

"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol. Minho terkekeh dan menggelengkan kepalanya heran.

"Mengingat ketika kau datang siang itu, aku yakin kau pasti orang spesial bagi Park Jimin, 'kan?" tebak Minho. "Aku hanya heran kenapa aku bisa berada bersama orang-orang yang sangat menyukai Park Jimin?" Chanyeol tampak tak suka.

"Apa maksudmu, mereka berdua menyukai Park Jimin?" Minho mengangguk.

"Mereka adalah rival sejati kau tahu itu?" balas Minho yang membuat Chanyeol menggeram tertahan. Dalam hati ia tak terima, jika miliknya mendapat perhatian dari orang lain. Apalagi, salah satunya adalah seseorang yang berasal dari masa lalu orang yang sangat ia kasihi.

Disisi lain, tepatnya di tenda dimana Jimin berada. Tenda yang akan menjadi tempat berlindung sementara bagi dirinya dan ketiga teman sekelasnya, sudah selesai didirikan lima menit yang lalu. Hal itu membuat beberapa dari mereka langsung merebahkan tubuh mereka di dalam tenda dengan nyaman dan setelah menata barang-barang mereka berada di dalam tenda. Tapi, tidak dengan Jimin. Ia masih berada di luar dan berkutat dengan barangnya. Lebih tepatnya, mencari sesuatu.

"oh sial! Aku ingat, aku sudah memasukkannya ke dalam koperku!" gumam Jimin terus mengobrak-abrik isi kopernya. Wajah Jimin terlihat cemas, ia memeriksa dengan teliti setiap barang bawaannya termasuk tas ransel yang juga ia bawa.

"Kenapa tidak ada?" risau Jimin yang sempat berniat untuk menumpahkan seluruh isi koper dan ranselnya, tapi ia urungkan karena tidak ingin menarik perhatian dari siswa lain. Jimin menggigit bibir bawahnya dan mengingat sejenak apakah barang yang sedang ia cari turut ia bawa atau tidak.

"Aku yakin, aku menatanya bersama dengan baju-bajuku. Tapi, kenapa sekarang tidak ada?" Jimin bertanya pada dirinya sendiri dan kembali mengabsen barang miliknya satu persatu. Jimin meremat rambutnya kesal. Ah, apa mungkin ia lupa memasukkan obat-obatnya?

'Aku rasa tidak masalah, jika aku tidak meminumnya selagi disini selagi aku baik-baik saja. Lagi pula, tidak mungkin aku terus bergantung pada obat itu ketika aku mengalami kejang setiap malam atau setiap sakit kepalaku mulai kambuh.'

Jimin menarik nafas dan dengan tenang ia kembali merapikan isi kopernya dan membawanya masuk ke dalam tenda bersama dengan koper-koper milik ketiga temannya.

"jja, anak-anak berkumpullah!" seru guru Kim tiba-tiba dan meminta perhatian dari seluruh siswanya. Dan satu persatu dari mereka pun langsung berkumpul di pusat lapang dimana guru Kim berdiri. "Saya rasa, kalian semua sudah mendirikan tenda kalian masing-masing. Kalau begitu langsung saja, untuk memulai kegiatan pertama kita hari ini—kalian ingat 'kan daftar tim yang kemarin diumumkan di papan pengumuman lobby gedung utama? Itu adalah tim tetap selama tiga hari kalian melakukan semua kegiatan kemah mulai hari ini hingga hari ketiga. Maka dari itu, untuk memperlancar kegiatan kemah kita kali ini, saya sangat menganjurkan pada setiap tim untuk menunjuk satu ketua yang akan bertanggung jawab penuh diantara mereka. Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat kalian rundingkan selama 15 menit dan setelah itu, para ketua tim segera menemuiku untuk mengambil jadwal kegiatan. Mengerti?" interupsi guru Kim yang dibalas sorakan 'nde' dari para siswa dengan kompak.

Dan setelahnya, para siswa pun langsung bergegas untuk berkumpul dengan anggota tim mereka masing-masing. Termasuk Park Jimin, yang dengan langkah enggannya turut bergabung bersama kumpulan orang-orang yang beberapa dari mereka sedang sangat ingin ia hindari. Jimin benar-benar merutuki kesialannya yang tergabung bersama beberapa orang yang selalu membuatnya naik darah, diantaranya adalah Lee Minhyuk, Bae Joohyun, Yoon Doojoon dan Min Yoongi. Tapi, setidaknya ia cukup bersyukur karena sisanya adalah orang-orang yang cukup bersikap hati-hati padanya, yaitu Kang Seulgi, Jung Jinyoung, Kwon Soonyoung, Jennie Kim, dan Jung Eunha.

"Jiminie!" Jimin terlonjak dan seketika ia langsung menatap Minhyuk horor yang dengan seenak jidatnya merangkulnya di depan kedelapan orang yang satu tim dengannya. Bahkan, entah kenapa Jimin merasa bulu kuduknya meremang merasakan hawa menakutkan yang ia yakin keluar dari seseorang yang bernama Min Yoongi.

"sunbaenim, apa yang kau lakukan?!" desis Jimin mencoba untuk melepaskan tangan Minhyuk yang bertengger di bahunya.

"aish, sudahlah Jiminie. Kau tahu, aku rasa kita ini berjodoh. Buktinya, aku satu tim denganmu!" ujar Minhyuk yang membuat Jimin harus menahan kekesalannya kali ini.

"yaampun sunbaenim, ini hanya kebetulan!" tutur Jimin terlihat jengah.

"yak, Minhyuk-ssi! Lepaskan Jimin sekarang!" seru Yoongi tak tahan yang membuat orang-orang yang satu tim dengannya mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang terlihat menyeramkan bahkan tak segan untuk menarik tubuh Jimin agar menjauh dari Minhyuk. Minhyuk berdecak dan menatap Yoongi menantang.

"yak, Yoongi-ssi! Siapa kau berani memerintahku?!" balas Minhyuk tak terima. Hal itu pun membuat Jimin memutar kedua bola matanya malas, dengan kasar ia menghempaskan tangan Yoongi yang merangkulnya secara tiba-tiba.

"Diamlah sunbaenim! Jangan bersikap kekanakan!" desis Jimin dingin, yang kemudian memilih untuk berdiri di samping Soonyoung. Yoongi menghela nafas dan Minhyuk masih mematai Yoongi dengan tatapan benci andalannya.

"Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar? Jadi, siapa yang akan menjadi ketua di tim ini?" tanya Jinyoung yang pasti akan direspon diam oleh kesembilan anggota timnya. "Aku tahu, ini pasti akan terjadi!" gumam Jinyoung kesal. "Kau saja yang menjadi ketuanya!" Jinyoung menunjuk Doojoon seenaknya yang hal itu membuat Doojoon menatap Jinyoung horor.

"Kenapa aku?" tanya Doojoon menunjuk dirinya sendiri.

"nde, kau saja sunbaenim." tutur Soonyoung ikut menyetujui.

"Jadi, bagaimana kalian setuju atau tidak?" tanya Jinyoung.

"Tentu saja, tidak ada yang lebih baik dari seorang Yoon Doojoon!" sarkas Joohyun dengan senyum miring andalannya.

"Aku juga setuju!" sahut Seulgi menambahi yang diikuti anggukan dari Jennie dan Eunha.

"Bagaimana denga kalian bertiga?" tanya Jinyoung pada Jimin, Yoongi dan Minhyuk.

"Aku tidak masalah siapapun itu!" balas Minhyuk sementara Jinyoung serta Doojoon masih menunggu jawaban dari Jimin dan Yoongi. Yoongi menarik nafas dan menatap Doojoon datar.

"Aku juga tidak punya pilihan lain selain setuju!" sahut Yoongi dan kini giliran Jimin yang belum memberikan suaranya.

"Anggap saja semua orang sudah setuju." kilah Jimin yang membuat Doojoon tanpa sadar tersenyum tipis kearahnya. Yoongi yang melihatnya pun dengan sengaja menginjak kaki Doojoon keras.

"YAK!" seru Doojoon menatap Yoongi kesal.

"wae? Kau baik?" tanya Yoongi dengan tampang tanpa merasa bersalahnya. Doojoon menggeleng heran dan mengurungkan niatnya untuk memarahi teman sekelasnya yang memiliki kadar keangkuhan yang sangat tinggi itu. "Tunggu apalagi? Pergi sana, ambil jadwalnya!" titah Yoongi yang membuat Doojoon menarik nafas dan segera pergi dengan cibiran yang ia tujukan pada Min Yoongi.

Selepas kepergian Doojoon untuk mengambil jadwal kegiatan mereka, beberapa dari mereka pun menyibukkan diri untuk berbincang dengan teman-teman mereka yang berada di tim yang lain. Kecuali Park Jimin, yang masih berdiam diri di tempatnya yang hal itu tidak akan Yoongi sia-siakan untuk mendekati junior manisnya itu.

"Jimin~" panggil Yoongi dingin yang hanya direspon lirikan sekilas dari Jimin yang kemudian kembali mengabaikan pemuda tampan di depannya. "Bisa kita bicara?"

"Kau sedang bicara sekarang ini!" tutur Jimin pedas. Yoongi tersenyum kecut, ternyata amarah Jimin belum juga mereda.

"mianhae~"

"for what?!" tanya Jimin ketus, kali ini ia mengalihkan pandangan kearah Yoongi dengan tatapan dinginnya. "Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan setelah pembicaraan kita waktu itu. Semuanya sudah jelas untukku, dan aku harap mulai sekarang—kau dan kelima temanmu sedikit menjaga jarak dariku karena aku benar-benar muak bertemu dengan orang yang menjadi penyebab kematian kedua orang tuaku!" sarkas Jimin yang setelah itu melengos meninggalkan Yoongi dengan segala rasa bersalahnya.

.

.

.

.

.

"Ini jadwal kita selama tiga hari!" ujar Doojoon membagikan lembar yang berisi jadwal pada setiap anggota timnya. "Dan, kalian sudah membaca kegiatan pertama kita hari ini 'kan?" tanya Doojoon yang hanya diangguki oleh beberapa dari mereka. "Kegiatan pertama kita adalah membagikan beberapa sembako, obat-obatan dan lain-lain yang dibutuhkan oleh penduduk yang tinggal di dekat hutan ini. Tapi, sebelumnya kita harus membagi sepuluh orang ini menjadi empat kelompok. Kelompok pertama berisi empat orang. Kedua, tiga orang. Ketiga, dua orang dan kelompok keempat hanya satu orang. Ada yang keberatan?"

"Kenapa harus dibagi lagi?" tanya Minhyuk.

"Aku juga tidak tahu, itu perintah dari Kim ssaem!" seru Doojoon kesal karena Minhyuk terlalu banyak bicara. "Kalau begitu, bagaimana jika kita membaginya dengan—"

"Aku sendiri!" sahut Jimin tiba-tiba yang membuat Yoongi, Doojoon, Minhyuk, bahkan Seulgi dan Jinyoung menoleh kearahnya. "Aku mau pergi sendiri!" ulang Jimin tegas.

"aniyo! Kau pergi bersamaku!" seru Minhyuk.

"ani, kau harus pergi bersamaku!" sahut Yoongi.

"Tidak-tidak, kau bersamaku saja!" dan ini adalah kali pertama Doojoon secara terang-terangan mengatakan ingin bersama Jimin.

"Yoongi-ya, kau harus pergi bersamaku. Doojoon-ssi, aku dan Yoongi berada di kelompok tiga!" ujar Joohyun dengan centilnya merangkul lengan Yoongi. Yoongi berdecak dan dengan kasar melepas rangkulan Joohyun padanya.

"Aku tidak sudi, pergi bersama nenek sihir sepertimu!" sinis Yoongi dan berjalan menjauhi Joohyun. Jimin yang melihatnya pun entah kenapa hatinya merasa bergemuruh panas melihat bagaimana Joohyun yang dengan seenak jidatnya merangkul Yoongi di depannya. Tunggu, apa Jimin bilang?

"Kenapa kau mau pergi sendiri?" tanya Jinyoung pada Jimin. Jimin tersenyum miring.

"Aku tidak mau pergi dengan siapapun di kelompok ini!" jawab Jimin yang menimbulkan cibiran khas dari Joohyun.

"Dasar tidak tahu diri!" desis Joohyun.

"YAK!" seru Minhyuk mengancam kearah Joohyun karena berani mengatai Jimin. Jimin memutar kedua bola matanya malas, namun kemudian seringai muncul terpatri di bibir penuhnya.

"Karena aku sudah berada di kelompok empat, kenapa bukan Doojoon sunbae saja yang membagi sisanya, selaku ketua disini?" tawar Jimin. "Aku rasa kau bisa membagi dengan adil, sunbaenim!" Doojoon menarik nafas. Baiklah, untuk saat ini ia akan mengesampingkan egonya dan menunjukkan sisi wibawanya seperti biasa.

"Baiklah." setuju Doojoon. "Aku akan mulai dari kelompok ketiga," Doojoon berfikir sejenak dan menatap anggota timnya satu persatu. "Kelompok ketiga, Bae Joohyun dan Lee Minhyuk."

"Aku tidak mau dengan dia! Aku maunya dengan Jiminie!" seru Minhyuk protes.

"Kau pikir aku juga mau bersamamu?! Ganti makhluk ini dengan Min Yoongi!" seru Joohyun yang dibalas gelengan dari Doojoon.

"Keputusanku sudah bulat dan kalian tidak boleh membantah." balas Doojoon. "Kelompok kedua, aku, Jinyoung dan Yoongi. Itu artinya, kelompok pertama adalah Seulgi, Soonyoung, Jennie, dan Eunha." lanjut Doojoon yang membuat Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Kenapa aku harus satu kelompok denganmu? Jika tidak dengan Jimin, aku bisa pergi sendiri!" seru Yoongi lantang. Doojoon berdecak dan menarik baju belakang Yoongi serta berbisik di telinga Yoongi.

"Diam, dan menurut saja apa kataku!" bisik Doojoon yang dibalas cibiran dari Yoongi yang masih saja melayangkan protesnya.

"Jangan pergi terlalu jauh dan ini rutenya. Kembali sebelum petang, arraseo?" pesan Doojoon memberikan tujuh lembar rute kepada mereka sesuai dengan kelompok mereka masing-masing. "Dan, oh! Kalian bisa mengambil barang-barangnya di Park ssaem. Selamat bekerja!" lanjut Doojoon seraya mengepalkan kedua tangannya di udara, menyemangati. Kelompok pertama yang terdiri dari Seulgi, Soonyoung, Jennie, dan Eunha segera melakukan kegiatan pertama mereka dan berjalan menuju dimana guru Park berada tanpa banyak protes.

"Setelah ini selesai, aku akan memberi perhitungan padamu Yoon Doojoon!" ancam Joohyun masih kesal karena tidak bisa pergi bersama Min Yoongi. Doojoon mengibaskan tangannya untuk menyuruh Joohyun segera enyah dari hadapannya.

"hm, Jimin-ssi!" panggil Doojoon tepat Jimin yang hendak berbalik badan meninggalkan ketiga seniornya itu. "Apa kau tidak apa pergi sendiri?" tanya Doojoon terlihat cemas.

"Aku lebih baik pergi sendiri dibandingkan pergi bersama orang yang tidak aku inginkan!" sarkas Jimin dan berlalu begitu saja.

"yaampun, kenapa semakin hari Park Jimin semakin menyeramkan?" tanya Jinyoung tak habis pikir yang tentu saja tidak akan dijawab oleh kedua pemuda yang sama-sama menggilai Park Jimin.

"yak, Yoon Doojoon apa maksudmu dengan membuatku harus pergi bersamamu?!" tanya Yoongi, akhirnya ia bisa sesuka hati mengatai pemuda yang selamanya akan menjadi rival-nya terutama jika itu menyangkut tentang Jimin-nya. Doojoon menarik nafas mencoba untuk bersabar dengan sifat temperamen Yoongi apalagi jika itu menyangkut tentang Park Jimin.

"Dengar Min Yoongi yang terhormat. Kau dengar 'kan Jimin ingin pergi sendiri. Dan, apa kau akan membiarkannya pergi sendirian seperti itu? Tidak 'kan?" tanya Doojoon yang untuk kali ini disetujui oleh Yoongi. "Aku juga tahu kau akan mengawasinya diam-diam. Maka dari itu, biar Jinyoung yang pergi sendiri sementara kau dan aku yang mengawasi Jimin dari jauh. Bagaimana?" ide Doojoon yang tentu saja akan langsung Yoongi setujui sementara Jinyoung yang menjadi pihak yang tiba-tiba harus berkorban untuk kedua temannya yang sedang kasmaran membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Kenapa aku jadi dilibatkan?" tanya Jinyoung.

"Jika bukan kau siapa lagi?" tanya Yoongi.

"nde, kami ada tugas yang lebih penting dari pada membagikan barang-barang ini kepada penduduk. Jadi, anggap saja kau berada di kelompok empat dan Jimin berada di kelompok dua bersama kami. Lagi pula, sebenarnya aku memberikan rute kelompok dua pada Jimin." tutur Doojoon jujur.

"wah~ Doojoon-ssi, ini kali pertama aku melihatmu menggunakan jabatanmu untuk keinginanmu sendiri!" Doojoon tersenyum tampan dan terlihat bangga yang menurut Jinyoung maupun Yoongi terlihat sangat konyol di mata mereka.

"aish~ sudahlah, kali ini saja kau membantu kami! Dan ingat, jangan bocorkan pada siapapun, terutama Park Jimin, okay?" pinta Doojoon. Jinyoung menarik nafas dan berdecak kesal.

"arra, arra! Ck! Benar kata Minho, kalian berdua benar-benar seperti penguntit!"

"YAK!" seru Doojoon dan Yoongi kompak menatap tajam Jinyoung yang kini hanya menunjukkan cengiran khasnya sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan kedua orang yang entah sejak kapan terlihat dekat satu sama lain.

.

.

.

.

.

Sudah hampir lima rumah yang Jimin berikan bantuan yang diberikan sekolah kepada penduduk setempat. Jimin mengeratkan tas ransel yang turut menemaninya siang itu dan menghirup udara sejuk di sekitar pemukiman warga meskipun cuaca hari itu cukup terik. Jimin berjalan menuju pinggir sungai yang tak jauh darinya. Aliran sungai yang masuk menuju kearah hutan Jeongseon yang lebat dengan pepohonan yang besar dan tinggi.

Brak!

"huh?" pekik Jimin terkejut ketika mendengar suara seperti ranting pohon yang ambruk, dengan segera Jimin melangkah ke asal suara yang sepertinya tak jauh dari tempatnya berdiri.

Jimin terkejut saat melihat ada seorang nenek tua yang terlihat kesusahan membawa kayu-kayu bakar yang berserakan di sekitarnya. Dan dengan cekatan, Jimin segera berlari menghampiri sang nenek dan membantunya merapikan kayu-kayu itu menjadi satu.

"Nenek tidak apa?" tanya Jimin cemas dan memeriksa tubuh nenek yang terlihat terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.

"a-aigoo nak, a-aku tidak apa. gomapta, sudah membantuku." Jimin mengulas senyum senang.

"Dimana rumah nenek, aku akan mengantar nenek pulang." tanya Jimin seraya membawa seluruh kayu bakar milik nenek itu.

"Apa tidak apa, kau membawakan semua kayu itu nak?" tanya sang nenek. Jimin mengulas senyum manis.

"Akan lebih baik jika aku yang membawanya, nek. Nenek pasti lelah," tutur Jimin yang membuat kedua mata nenek itu berlinang air mata.

"kajja, kajja. Ikutlah nak." ajak sang nenek yang tentu saja akan Jimin ikuti dengan senang hati.

Tanpa Jimin sadari sedari tadi, ada dua orang pemuda yang membuntutinya dalam diam. Kedua pemuda yang memang adalah Min Yoongi dan Yoon Doojoon yang memandang kagum pada Jimin yang terlihat senang dan sesekali berbincang dengan nenek yang dia tolong.

"Aku memang tidak salah menyukainya." gumam Doojoon yang membuat Yoongi tak segan untuk memukul kepalanya.

"YAK!" pekik Doojoon kesal. Yoongi berdecak.

"Kau boleh menyukainya tapi tak boleh memilikinya. Park Jimin hanya milikku!" desis Yoongi dan kali ini Doojoon yang berdecak.

"Bukan siapa-siapa saja sudah berani mengklaim. Ingat, saat ini Park Jimin bukan milik siapapun, jadi aku juga memiliki kesempatan untuk memilikinya!" balas Doojoon tak kalah tajam. Yoongi mendengus keras.

"Lihat saja nanti, siapa yang akan Jimin pilih. Kau atau aku!" Doojoon tertawa keras.

"Dan, disaat kau mengatakan hal ini sekarang. Justru nantinya, Jimin memilih orang lain yang bukan diantara kita!" goda Doojoon yang membuat Yoongi benar-benar ingin memenggal kepala pemuda bermarga Yoon itu.

"Sudahlah, omong kosongmu membuat kita kehilangan jejak Jiminie!" ujar Yoongi mencoba untuk bersabar dan ia berjalan untuk kembali mengikuti Park Jimin yang mengantar nenek yang ia bantu. Doojoon tersenyum menatap punggung Yoongi yang berjalan mendahuluinya.

'Aku rasa, kau orang yang tepat menjaga Park Jimin dibandingkan aku Yoongi-ssi. Lagi pula, aku juga bisa merasakan jika Park Jimin juga memiliki perasaan yang sama padamu. Dan aku—aku akan tetap senang melihat Jimin tersenyum meskipun itu bukan bersamaku!'

.

.

.

.

.

"Letakkan disini saja, nak!" titah sang nenek. Jimin menurut dan meletakkan kayu-kayu yang ia bawa di depan sebuah rumah kecil yang terlihat kumuh dan tak layak huni.

"Nenek tinggal disini?" tanya Jimin prihatin. Sang nenek mengangguk dan membuka pintu rumahnya.

"ya, beginilah tempat tinggal nenek, nak." Jimin tersenyum kecil dan sedikit mengintip keadaan rumah nenek yang ternyata penuh dengan jerami.

"Nenek tinggal sendiri?" tanya Jimin tepat sang nenek yang keluar dari rumahnya dan membawa ubi rebus di sebuah mangkok besi yang sudah usang. Nenek itu mengangguk dan mengajak Jimin untuk duduk di bangku yang ada di depan rumah sang nenek.

"Maaf nak. Nenek hanya memiliki ini." Jimin tersenyum manis.

"Ini sudah lebih dari cukup untukku nek. Terima kasih." balas Jimin sopan dan memakan ubi rebus yang nenek malang itu suguhkan padanya. "Jadi, nenek hanya sendiri disini?" tanya Jimin kembali ke topik awal. Nenek itu mengangguk.

"Suamiku meninggal dua tahun yang lalu dan aku tidak memiliki anak. Dan kami hanya tinggal di rumah ini sejak dulu." Jimin tersenyum sedih.

"Kenapa nenek tidak meninggalkan rumah ini? Rumah ini, sudah tidak layak pakai, nek." sang nenek tersenyum mengerti.

"nde, tapi suamiku meninggal di rumah ini. Aku juga ingin sepertinya. Meninggal di tempat yang kita habiskan bersama dalam waktu yang lama. Tempat ini, sangat berarti bagiku." Jimin menatap sang nenek haru yang kemudian ia teringat sesuatu.

"Oya, nek. Aku membawa sesuatu untuk nenek. Mungkin, bisa membantu nenek untuk hidup disini." ujar Jimin seraya membuka ranselnya dan mengeluarkan selimut, beberapa obat-obatan serta makanan yang akan ia berikan kepada nenek ini.

"Apa ini, nak?"

"Ini untuk nenek, tidak seberapa. Tapi, mungkin bisa sedikit membantu." sang nenek mengangguk dan menangis menerima pemberian Jimin.

"Terima kasih, nak. Terima kasih. Kau seperti malaikat untukku." Jimin tersenyum kecil.

"Nenek, aku hanya manusia biasa. Sama seperti nenek." balas Jimin rendah hati. Tangan nenek pun terulur untuk mengelus surai Jimin dengan lembut.

"Dan, tampaknya kau bukan penduduk sini. Apa kau baru pindah?" Jimin menggeleng.

"Tidak nek. Aku dari Seoul. Ada kegiatan kemah dari sekolah. Tempatnya, tidak jauh dari sini." sang nenek mengangguk paham.

"oya, siapa namamu, nak?" tanya sang nenek kemudian.

"Jimin, nek. Park Jimin." jawab Jimin.

"Nama yang sangat cocok untuk pemuda yang manis dan baik hati sepertimu, pasti banyak orang yang menyukaimu." Jimin tersenyum manis dan membiarkan sang nenek yang masih mengelus surainya. "Apa kau sedang merasa bimbang, nak?" tanya sang nenek yang membuat Jimin benar-benar terkejut.

"Bagaimana nenek bisa tahu?" nenek itu tersenyum dan menurunkan tangannya dari rambut Jimin untuk meraih tangan Jimin dan melihat telapak tangan pemuda manis itu. Ia kembali mengelus serta memberi sedikit pijatan yang membuat Jimin merasa lebih rileks daripada sebelumnya.

"Semuanya terlihat jelas dari kedua mata indahmu." jawab sang nenek. "Mata tidak bisa berbohong, nak." Jimin tersenyum manis.

"nde, ada banyak hal yang aku pikirkan nek." Jimin menundukkan kepalanya menatapnya tangannya yang masih berada di genggaman tangan rapuh sang nenek. "Aku merasa tidak bisa menemukan orang yang harus aku percaya." sang nenek tersenyum lembut.

"Pasti ada satu, nak." Jimin mengangkat wajahnya dan berfikir sejenak. "Tapi, kau hanya tidak mau mengakuinya." Jimin mengangguk kecil. Apa yang dikatakan nenek ini memang benar adanya. "Kau tahu? Hidup itu, seperti butiran air hujan. Ketika kau baru saja turun dari awan dan jatuh menuju celah kecil untuk berjalan menuju ke aliran yang lebih besar. Padahal kau tidak tahu, bagaimana bahayanya berjalan di aliran yang lebih besar itu." sang nenek menatap Jimin lamat.

"Kebimbangan pasti selalu dirasakan oleh setiap orang. Tapi kau, tidak boleh terlalu lama larut dalam kebimbangan itu."

"Tapi, nek—apa yang harus aku lakukan jika aku tidak bisa mengatasi semua kebimbangan ini?" tanya Jimin ingin tahu. Sang nenek tersenyum.

"Tanyai pada hatimu nak. Kenapa kau bisa merasa bimbang. Apa yang salah pada dirimu atau apa yang salah pada orang-orang di sekitarmu. Nenek yakin, kau pasti bisa mengatasi semuanya. Jika kau tidak bisa mempercayai orang lain yang ingin kau percaya. Setidaknya, percayalah pada hatimu. Apa yang hatimu inginkan, itulah yang juga kau inginkan selama ini." Jimin tersenyum lega.

"Aku bersyukur bisa bertemu dengan nenek hari ini." tutur Jimin yang membuat tangan nenek kembali terulur untuk mengelus surai Jimin lembut. "Aku belum pernah merasakan kasih sayang orang tua sebelumnya. Mereka meninggalkanku dan membuatku hidup penuh kebingungan."

"Mungkin mereka tidak ada, tapi—nenek yakin, mereka tidak akan pernah meninggalkanmu, nak. Mereka selalu ada disini." sang nenek menyentuh letak dimana hati Jimin dengan tangan ringkihnya. "Dan selamanya ada disini." Jimin mengangguk dan memeluk sang nenek yang tak sengaja ia temui serta mengatakan banyak hal yang mampu menenangkan hatinya.

"Terima kasih, nek. Terima kasih!" balas Jimin tulus.

.

.

.

.

.

"Jika ada waktu istirahat, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjungi nenek." ujar Jimin sebelum berpamitan pergi dari rumah nenek mengingat langit mulai petang.

"aigoo~ Jiminie ... kau tak perlu repot-repot, kau akan bertambah lelah nantinya." Jimin menggeleng.

"Tidak nek. Aku akan membantu nenek mencari kayu bakar di hutan yang nenek perlukan." sang nenek tertawa dan menepuk pundak Jimin semangat.

"Jika aku punya cucu perempuan, aku akan menjodohkannya denganmu." kini Jimin yang tertawa.

"Aku akan dengan senang hati menerima perjodohan ini nek," canda Jimin. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Hati-hati di rumah, nek." pamit Jimin seraya melambaikan tangannya yang dibalas pula oleh lambaian dari sang nenek.

"Hati-hati Jiminie..." Jimin tersenyum manis.

"Sampai jumpa!" seru Jimin melambaikan tangannya dengan penuh semangat sebelum akhirnya menghilang dari pandangan nenek yang tak sengaja Jimin temui.

Jimin menarik nafas. Ia berjalan melintasi semak-semak yang menjadi pembatas antara daratan dan sungai. Sebenarnya, jika langit belum petang, Jimin tergiur untuk turun ke sungai sebentar untuk sekedar merendam kakinya. Tapi ya, mungkin lain kali sajalah. Ia tidak mau membuat masalah atau memancing pertengkaran dengan siapapun karena ia datang terlambat.

Krak!

Jimin menghentikan langkahnya dan berbalik badan ketika ia mendengar suara patahan ranting pohon bahkan pijakan kaki seseorang. Ia mengeryitkan keningnya dan mencoba untuk mendekati asal suara yang ia yakin, pasti tak jauh dari tempatnya berada.

"Apa ada orang?" tanya Jimin was-was. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan menyipitkan kedua matanya saat ia melihat daun-daun semak yang bergoyang ribut. Jimin berjalan mendekat menuju semak yang secara ajaib sudah berhenti bergerak membuatnya yakin, pasti ada orang di balik semak itu.

Sret!

"oh?!" pekik Jimin mengerjapkan kedua matanya lucu setelah menarik paksa tangan-tangan yang terlihat di balik ranting-ranting yang sempat bergoyang dan mendapati kedua seniornya yang kini tengah menatapnya bodoh. yap, siapa lagi jika bukan Min Yoongi dan Yoon Doojoon.

"oh hy ... Jimin-ssi!" itu Doojoon yang menyapa. Jimin melepas tangannya dari dua tangan milik kedua senior menyebalkan itu.

"Kenapa kalian bisa disini?" tanya Jimin curiga. "Kalian mengikutiku ya?" Doojoon dan Yoongi menggeleng serempak.

"aniyo!" seru Doojoon. "Begini—" Doojoon berfikir sebentar untuk merangkai alasan yang masuk akal pada Jimin. "—aku tidak sengaja memberikan rute yang salah padamu."

"mwo?" pekik Jimin terkejut.

"Rute yang aku berikan padamu adalah rute kelompok dua. Maka dari itu, aku dan Yoongi mengikutimu!" Jimin membulatkan kedua matanya horor dan dengan kasar ia mengambil kertas yang berisi rute perjalanannya. Dan di kertas itu, tepatnya di bagian pojok kanan atas ada tulisan kecil-kecil berbunyi 'II' Route. Kenapa Jimin bisa tidak melihat ada tulisan itu? Jimin menarik nafas dan menatap Doojoon tak percaya.

"Kenapa kau bisa ceroboh begini, sunbaenim?!" tanya Jimin kesal.

"Maafkan aku, Jimin-ssi. Aku teledor." sesal Doojoon dalam hati ia menarik nafas lega karena Jimin percaya pada kata-katanya.

"Lalu, dimana Jinyoung sunbae?" tanya Jimin kemudian.

"ah, setelah kami bertiga tahu jika rute yang berada di tanganmu adalah rute kelompok kami, begitu juga sebaliknya. Jadi, Jinyoung menawarkan diri untuk dia saja yang pergi. Tadinya, aku saja—tapi, Jinyoung memaksa." bohong Doojoon yang kali ini disertai gelengan samar dari Yoongi yang tak menyangka jika seorang Yoon Doojoon sangat lihai dalam berbohong. Jimin menghela nafas.

"arraseo, kalau begitu. Lebih baik kita kembali sekarang!" tutur Jimin yang kemudian berjalan mendahului mereka berdua.

Plak!

"yak!" desis Doojoon menahan rintihannya ketika Yoongi memukul kepalanya dengan keras agar Jimin tidak mendengar dan kembali mencurigainya bahwa ia telah berbohong.

"Kau benar-benar pandai berbohong!" desis Yoongi yang dibalas kekehan ringan dari Doojoon.

"Kau seharusnya berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkanmu." Yoongi tertawa sisnis.

"Bukan aku, tepatnya kita berdua!" balas Yoongi yang kemudian berjalan menyusul Jimin, meninggalkan Doojoon yang menggelengkan kepalanya dan melangkah menyusul kedua orang itu.

.

.

.

.

.

"Tolong!"

Seketika, Jimin menghentikan langkahnya saat kedua telinganya mendengar dengan jelas suara teriakan yang ia yakini berasal tak jauh dari tempatnya berada. Jimin mengedarkan pandangannya dan berbalik badan menatap penuh tanya pada kedua seniornya yang ia tebak pasti juga mendengar apa yang baru saja ia dengar.

"Tolong!"

"Aku rasa suaranya berasal dari sana!" tunjuk Doojoon kearah kanannya.

"Aku seperti mengenali suara itu." gumam Yoongi tampak mengingat dan sedetika kemudian ia melebarkan kedua matanya ketika ia benar-benar mengingat siapa pemilik suara itu. "oh sial!" decaknya yang langsung berlari kearah yang telah ditunjuk Doojoon sebelumnya.

Jimin tampak terkejut namun, ia juga melesat menyusul Yoongi begitu juga dengan Doojoon. Mencari tahu darimana suara itu berasal.

"Jungkook?" panggil Yoongi akhirnya menemukan si pemilik suara yang ternyata memang berada tak jauh dari mereka. Yoongi membulatkan kedua matanya ketika melihat Taehyung yang mengerang kesakitan dipangkuan Jungkook dengan tangan Jungkook yang sudah dipenuhi darah karena berada di lengan Taehyung yang sepertinya terluka entah karena apa.

"Jeon Jungkook?" ini suara Doojoon yang juga tampak terkejut dengan keadaan Taehyung. Sementara Jimin, dapat dilihat sekilas sorot matanya yang memancarkan penuh kecemasan. "Apa yang terjadi pada Taehyung?" tanya Doojoon bersamaan dengan Yoongi yang berjongkok di samping kiri Taehyung sementara Jungkook yang sudah bercucuran air mata.

"Aku—hiks! Ada anjing hutan yang mengejar kami. Lalu—Tae hyung, melindungiku dan—hiks! Hyung, lakukan sesuatu!" pinta Jungkook terbata dan tak kuasa untuk menjelaskan lebih lengkap apa penyebab dari luka Taehyung.

"Taehyung, bertahanlah sebentar. Jungkook tetap memangkunya dan menahan pendarahannya." titah Yoongi yang hanya diangguki oleh Jungkook. Yoongi membongkar tas yang ia bawa. "Apa anjing itu mengigit Taehyung atau—"

"Aku hanya dicakar, hyung!" potong Taehyung meringis tertahan. Yoongi mengangguk paham. Kesal karena terlalu banyak barang di dalam tasnya, membuat Yoongi terpaksa menumpahkan seluruh isinya hanya untuk meraih sebuah kotak kecil yang ada lambang plus berwarna merah pada penutupnya.

"Air air, aku butuh air!" pinta Yoongi cepat entah pada siapa. Dan beruntung Jimin adalah orang yang cakap dan langsung mengambil air mineral yang ia bawa dari tasnya dan menyerahkannya pada Yoongi. "Jungkook, singkirkan tanganmu sebentar." titah Yoongi yang langsung dituruti oleh Jungkook.

"ARGH!" erang Taehyung ketika Yoongi menyiramkan air mineral milik Jimin ke luka di lengan Taehyung membuat darah itu mengalir membasahi baju Jungkook.

"hyung, tahanlah sebentar." pinta Jungkook cemas bukan main. "Aku berjanji padamu, kau akan baik-baik saja." bisik Jungkook kacau sementara Yoongi yang terlihat panik karena ia tak mendapati perban di kotak P3K yang selalu dibawanya untuk berjaga jika sesuatu terjadi padanya.

"sial! Aku tidak—"

"Cepat berikan dia alkohol, sunbaenim!" pinta Jimin yang mengejutkan Yoongi. Yoongi mengerjapkan kedua matanya ketika entah sejak kapan Jimin sudah ambil alih memegangi lengan Taehyung dan Jungkook yang tanpa henti mengelap keringat yang bercucuran di wajah tampan Taehyung. Yoongi mengangguk dan dengan lembut ia mengoleskan alkohol pada lengan Taehyung.

"Tapi, aku tidak punya perban." panik Yoongi yang membuat Jimin melepas jaketnya dan kemejanya, menyisakan kaos berlengan pendek berwarna putih yang ia pakai di dalamnya. Jimin merobek kemejanya dengan mudah yang hal itu membuat Yoongi tak menyangka jika Jimin akan bertindak demikian.

"Minumlah." titah Yoongi memberikan Taehyung sisa air mineral Jimin setelah selesai mengobati luka Taehyung serta memperban lengannya dengan kemeja Jimin.

Taehyung menyandarkan tubuhnya pada Jungkook. Nafasnya terengah dan kedua matanya yang terpejam merasakan nyeri yang berdenyut di lengan kirinya.

"Aku rasa, kita harus memapah Taehyung untuk kembali ke perkemahan." usul Doojoon yang disetujui oleh Yoongi.

"nde, kau bantu aku membawanya." pinta Yoongi pada Doojoon yang tentu saja akan Doojoon lakukan dengan senang hati. Yoongi dan Doojoon mengambil alih tubuh Taehyung dan merangkul juniornya yang terkulai lemas.

Jimin berdiri dari posisinya begitu pula dengan Jungkook. Kedua orang yang membawa Taehyung itu berjalan meninggalkan Jimin dan Jungkook tanpa mengatakan apa-apa. Setelah kepergian mereka, Jungkook ikut berdiri tepat di samping Jimin. Jimin melirik kemeja Jungkook yang berwarna aqua, membuat darah Taehyung sangat jelas tercetak di kemeja Jungkook. Hal itu membuatnya entah naluri darimana menyerahkan jaket miliknya dihadapan roomate-nya itu.

"Pakailah, kau pasti tidak nyaman memakai baju yang dipenuhi darah." ujar Jimin. Jungkook menatap Jimin dan jaket itu bergantian.

"Tapi, kau hanya memakai kaos berlengan pendek, sunbaenim." Jungkook mencoba menolak secara halus. Jimin menatap Jungkook berkedip sekali, kemudian ia berjalan mendekati Jungkook dan memakaikan jaketnya pada tubuh Jungkook dan berlalu begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.

Jungkook mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya memakai jaket Jimin dengan benar dan menyusul langkah tertinggalnya.

"sunbaenim!" panggil Jungkook berlari untuk berjalan beriringan dengan Jimin dan Jimin entah kenapa ia bersedia untuk menghentikan langkahnya dan menunggu Jungkook untuk berjalan menghampirinya.

"Terima kasih, tapi—bukankah kau masih marah pada kami?" tanya Jungkook memberanikan diri dan Jungkook yakin ia melihat senyum simpul di bibir penuh Jimin.

"Apa jika aku marah terlalu lama, aku akan menemukan setiap jawaban dari pertanyaanku?" tanya Jimin menoleh kearah Jungkook. Jimin tahu, jika Yoongi, Doojoon, dan Taehyung sudah melangkah jauh di depan mereka sementara, ia dan Jungkook justru masih berdiam diri dan saling berhadapan.

"Tapi, sunbaenim—"

"Jungkook, dengar!" potong Jimin tampak serius. "Aku harap kau tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu setelah ini." Jungkook mengeryit tak mengerti dan menunggu pertanyaan yang terlontar dari bibir Jimin.

"Apa kau yang membereskan kamarku waktu itu?" Jimin mulai bertanya.

"nde!" jawab Jungkook mengangguk.

"Apa kau mengambil beberapa barangku yang seharusnya tidak kau ambil?" Jungkook terkejut, tentu saja. Jungkook menggigit bibir bawahnya gugup. "Jungkook, jawab aku—aku tidak akan marah." Jungkook menarik nafas.

"Maafkan aku, sunbaenim." Jimin sudah menebaknya.

"Dimana barang itu?"

"Aku memberikannya pada Yoongi hyung." Jimin terdiam sejenak.

"Aku tidak tahu harus mengatakannya padamu atau tidak. Tapi, aku mendapatkan barang itu dari seseorang yang bernama Kwon Jiyoung." kedua mata Jungkook melebar dan melihat respon wajah Jungkook, membuat Jimin yakin bahwa Jungkook mengenal seseorang yang bernama Kwon Jiyoung.

"Jika kau salah satu orang yang mengenal keluargaku. Apa kau juga mengenal Kwon Jiyoung?" Jungkook menggeleng.

"Aku tidak mengenalnya. Tapi, percayalah. Dia orang yang berbahaya." ujar Jungkook jujur. "Dia baru saja keluar dari penjara karena ..."

"Karena apa?" tanya Jimin tak sabar ketika Jungkook tak juga melanjutkan ucapannya.

"k-karena ..."

"Aku tahu, kau tahu sesuatu Jeon Jungkook. Aku mohon, katakan sesuatu padaku. Berikan sedikit saja jawaban atas kebingunganku selama ini. Jawaban yang sebenarnya." Jungkook tampak bimbang. Ia merasa ia bukan orang yang tepat untuk mengatakan semua ini kepada Jimin hyung-nya. "Jeon Jungkook—" panggil Jimin frustasi. Jimin memejamkan kedua matanya dan menatap Jungkook yakin. "Aku ingat, dulu kau adalah seseorang yang sudah aku anggap sebagai adikku." kedua mata Jungkook membulat sempurna.

"Kau mengingatku, hyung? Kau sungguh mengingatku?" tanya Jungkook histeris yang hal itu membuat Jimin gelagapan karena mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan secara dini, terlebih setelah ia menemukan banyak kejanggalan dan ketidak-pastian tentang masa lalunya, tentang keluarganya.

"h-hanya sepotong, selebihnya aku masih tidak ingat apapun. Jadi aku mohon, katakan padaku. Apa yang kau ketahui, tentang keluargaku." Jungkook kembali terdiam. "Aku mohon Jeon Jungkook, aku tidak ingin mempercayai orang yang salah." Jungkook menarik nafas dan menatap kedua mata Jimin lamat.

"Kwon Jiyoung adalah salah satu orang yang menyebabkan kecelakaan kedua orang tuamu, hyung." Jimin tersenyum kecil dan hal itu membuat kerutan di dahi Jungkook karena Jimin tak tampak terkejut sama sekali. "hyung, kau baik-baik saja." Jimin tersenyum manis dan mengangguk.

"Kau sudah berjanji padaku untuk tidak mengatakan pada siapapun jika aku sudah mengingatmu." Jungkook mengangguk paham. "Dan, aku harap kau bisa dipercayai Jeon Jungkook." Jungkook kembali mengangguk, namun kemudian sorot matanya berubah penuh kecemasan ketika bertemu tatap dengan kedua mata Jimin.

"a-apa kau juga sudah mengingat tentang ayahku?" tanya Jungkook lirih. Jimin memutus kontak mata dengan Jungkook dan menarik nafas. Ia tersenyum kecil, senyuman yang lama-lama membentuk sebuah seringai yang sungguh tak pernah dilihat Jungkook sebelumnya. Karena, seringai itu benar-benar terlihat menakutkan.

"Menurutmu?" tanya Jimin penuh teka-teki. "Apa aku harus berlama-lama melupakan orang-orang yang tidak mempercayai ayahku?" Jungkook membulatkan kedua matanya tak menyangka dan Jimin semakin menyeringai dalam. "Delapan tahun sudah cukup untuk melupakan mereka, bukan?" tanya Jimin yang membuat tubuh Jungkook menegang. "Ingat Jeon Jungkook, aku tidak akan pernah melepasmu jika kau sampai mengatakan hal ini pada kelima hyung-mu atau siapapun." Jimin memperingati. "Jadi, cukup jelas bukan. Siapapun orang yang mencoba untuk mempengaruhiku pada akhirnya tidak akan berhasil karena—hanya aku satu-satunya orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak hanya pada keluargaku tapi juga pada keluarga kalian semua." gertak Jimin yang sebenarnya agak terkejut dengan ancaman yang baru saja ia lontarkan pada Jungkook, pasalnya Jimin merasakan samar-samar suatu hal yang seharusnya sudah ia ingat tapi juga tidak bisa ia ingat dengan mudah. Jungkook tampak bingung dan Jimin yang langsung melengos pergi begitu saja. Jungkook menatap kepergian Jimin dengan pandangan tak percaya.

'Itu bukan sedikit. Kau sudah ingat semuanya!'

Jantung Jungkook berdebar cepat kala ia mengingat dengan jelas kalimat terakhir yang Jimin ucapkan padanya.

'Tidak hanya pada keluarganya? Apa yang terjadi pada keluargaku? Pada keluarga kami?'

Entah kenapa, dibandingkan Jimin yang sebelumnya mengalami amnesia. Jungkook sendiri merasa bahwa ia dan kelima hyungnya-lah yang telah mengalami hilang ingatan yang sebenarnya.

'Bagaimana aku bisa tidak mengatakan hal ini pada yang lain? Jika ini menyangkut tentang mereka? Jimin hyung, kenapa kau membuat semua ini bertambah rumit? Atau—bukan kau yang membuatnya rumit tapi kami sendirilah yang membuat semua ini menjadi rumit.'

.

.

.

.

.

"Jungkook!" seru Seokjin ketika melihat Jungkook kembali ke lapang perkemahan bersama Jimin yang berselang sekitar 15 menit dari kedatangan Yoongi dan Doojoon yang memapah Taehyung. Seokjin berhambur memeluk Jungkook yang entah kenapa terlihat shock, sementara Jimin mencoba untuk mengabaikan semua tatapan 'selamat datang' dari para siswa. Ia yakin mereka semua pasti sudah mengetahui kejadian na'as yang menimpa Taehyung dan Jungkook.

Grep!

"hyung~" isak tangis Jungkook pecah dan memeluk Seokjin erat. Seokjin yang merasa mengetahui penyebab tangisan Jungkook pun membalas pelukan Jungkook seraya mengelus punggung rapuh sang adik penuh kasih sayang.

"Tenanglah, Kookie-ya. Taehyungie, pasti tidak apa." bisik Seokjin yang tentu saja dibalas seruan tidak yang melengking begitu keras yang sayangnya hanya di serukan Jungkook di dalam hatinya.

'Tidak, tidak hyung. Ini lebih dari itu. Jiminie hyung sudah kembali. Jiminie kita sudah ingat semuanya, hyung~'

"Jungkook-ah, lebih baik kita temani Taehyung. Yang lain, sedang berada disana. Arraseo?" tawar Seokjin yang tentu saja akan dibalas anggukan lemah dari Jungkook.

Seokjin membawa Jungkook memasuki tenda besar berwarna hijau tua yang dikhususkan untuk keadaan darurat jika ada yang terluka ataupun sakit. Dan di dalam tenda itu, sudah ada Yoongi, Namjoon, Hoseok, Doojoon, dan Jinyoung yang turut menemani Taehyung bersama dokter Kim yang sedang melepas sobekan kemeja Jimin di lengan Taehyung untuk diganti dengan perban dan mengobati luka Taehyung lebih rinci.

"Dokter Kim!" panggil Jungkook tiba-tiba tepat ketika dokter Kim hendak membuang sobekan kemeja Jimin yang membuat kerutan di dahi dokter Kim, Seokjin, dan kelima orang yang menemani Taehyung lainnya.

"nde?" balas dokter Kim ramah.

"Jangan buang kain itu." pinta Jungkook pelan. "Bisa kau berikan padaku?" lanjutnya yang membuat dokter Kim tampak kebingungan sebelum suara Yoongi yang baru mengingat siapa pemilik kain itu.

"nde, dokter Kim. Bisakah kau memberikan kain itu pada kami?" sambung Yoongi sopan. Dokter Kim mengangguk dan memberikan kain itu pada Jungkook yang sudah berdiri di belakangnya.

"kamsahamnida!" balas Jungkook yang hanya dibalas senyuman serta anggukan singkat dari dokter Kim karena setelah itu ia kembali berkutat pada lengan Taehyung.

Setelah selesai memperban Taehyung dan memberikan suntikan obat tidur. Dokter Kim beranjak dari posisinya untuk menatap ketujuh orang yang sedari tadi menyaksikan proses pemerbanan di lengan Taehyung.

"Dia sedang tidur. Biarkan dia istirahat, dan aku rasa dia tidak perlu ikut kegiatan nanti malam." pesan dokter Kim. "Yoon Doojoon-ssi, bisa kau ijinkan Taehyung-ssi pada Kim ssaem?"

"Tentu saja, dokter Kim!" jawab Doojoon dengan senang hati.

"Aku akan memeriksanya jam delapan nanti. Dan, mungkin dia akan bangun satu atau dua jam ke depan. Jika terjadi apa-apa segera hubungi aku, arraseo? Aku pergi!" pamit dokter Kim keluar dari tenda dan meninggalkan ketujuh orang yang masih berada di sekeliling Taehyung.

"Kalau begitu, kami rasa kami juga harus pergi. Kami harus bicara pada Kim ssaem tentang keadaan Taehyung, dan Jungkook-ssi!" panggil Doojoon mengalihkan perhatiannya pada Jungkook yang terlihat pucat. "Bersihkan dirimu dan temui Kim ssaem setelah kau merasa lebih baik. Arraseo?" Jungkook hanya mengangguk dan setelah itu Doojoon dan Jinyoung melangkah keluar meninggalkan Jungkook, Yoongi, Seokjin, Namjoon, dan Hoseok yang tetap berada di samping Taehyung.

"Jungkook-ah, kau baik?" tanya Hoseok melihat adiknya yang terlihat linglung. Jungkook mengangguk meskipun keringat dingin mulai mengucur di wajah manisnya dan mereka tidak cukup bodoh ketika kedua mata Jungkook bergulir untuk menghindari kotak mata dari keempat hyung-nya.

"Kau pasti shock, bagaimana jika kau membersihkan dirimu. Kemejamu juga penuh darah." Jungkook hanya mengangguk kaku dan berbalik badan mengabaikan tatapan heran dari keempat hyung-nya.

"Jungkook tidak se-shock itu ketika aku menemukannya bersama Taehyung." tutur Yoongi, ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada Jungkook ketika ia meninggalkan Jungkook bersama dengan—

"Bukankah, tadi Jungkook menggunakan jaket Jimin?" tanya Yoongi tersadar.

"oh, itu jaket yang biasa Jimin gunakan. Bahkan, aku juga baru ingat ketika berangkat tadi, Jungkook juga tidak menggunakan jaket." jawab Seokjin.

"Aku harus tanyakan ini pada Jimin!" tekad Yoongi berjalan keluar dengan tergesa diikuti Seokjin, Hoseok, dan Namjoon yang turut berjalan mengejarnya.

"Yoongi-ya, kau mau kemana?" cegah Seokjin menahan tangan Yoongi.

"Aku harus tanya pada Jimin apa yang sudah ia katakan pada Jungkook sehingga Jungkook menjadi pucat seperti itu. Aku yakin, Jimin pasti mengatakan sesuatu yang tidak baik pada Jungkook apa lagi setelah—" Yoongi tidak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk berjalan cepat menuju tenda Park Jimin.

"Park Jimin!" seru Yoongi tepat ketika Jimin yang baru saja kembali dari acara mandinya. Dan, bolehkah Yoongi memuji atas segala pesona Jimin terutama rambut basahnya itu? Wajah manisnya yang terlihat putih bersinar dan bibir penuhnya yang berwarna merah muda seakan berteriak untuk minta dicium. Shit! Bagaimana bisa, ia berfikiran mesum ketika suasana hatinya yang kurang baik?

Jimin mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Yoongi yang memanggilnya dengan nada tinggi.

"Apa yang kau katakan pada Jungkook?" Jimin mengeryit bingung dengan pertanyaan Yoongi yang seakan menuduhnya sudah melakukan sesuatu yang bersifat kriminal pada Jeon Jungkook.

"Apa maksudmu?" tanya Jimin tak mengerti.

"Aku yakin, ketika kau bersama Jungkook tadi—kau pasti mengatakan sesuatu padanya. Dia terlihat pucat dan linglung, bahkan lebih pucat ketika Taehyung tadi terluka." Jimin mendecih. Bukan karena ia menduga Jungkook sudah mengatakan apa yang ia katakan padanya tadi, melainkan sebegini cepatkah respon mereka dengan perubahan mimik Jungkook? Sebegini perhatiankah mereka pada Jeon Jungkook?

"woah~ aku salut padamu, sunbaenim. Kau sangat cakap mengenai Jeon Jungkook!" desis Jimin entah kenapa hatinya menjerit sakit ketika Yoongi yang terlihat begitu mencemaskan Jungkook. "Dan, apa yang akan kau lakukan jika aku benar mengatakan sesuatu padanya apalagi setelah kejadian itu?" balas Jimin dengan nada ancaman.

"Apa yang kau katakan padanya?" Jimin menyeringai.

"Menurutmu?! Apa yang pantas aku katakan pada salah satu orang yang berhubungan dengan orang-orang yang menjadi penyebab kematian kedua orang tuaku?!" seru Jimin pilu.

"PARK JIMIN!" itu bukan Yoongi yang berseru melainkan Kim Seokjin yang ternyata sudah berdiri di belakang Yoongi bersama Namjoon dan Hoseok bahkan kini, ia dan Yoongi sudah menjadi pusat perhatian dari seluruh siswa yang berbisik-bisik di belakangnya.

Yoongi mengepalkan kedua tangannya dan tanpa sadar dengan kasar ia mencekeram lengan kiri atas Jimin dengan erat yang membuat Jimin meringis seketika.

Sret!

Yoongi terkejut dengan tangannya yang dihentakkan dari lengan Jimin oleh seseorang yang kehadirannya sangat Yoongi benci, seseorang yang mendapat perhatian Jimin di hari pertamanya. Seseorang yang membuatnya harus menahan diri untuk tidak menghajar pemuda yang sedang berdiri di depannya dan menamengi Jimin, seolah bahwa ia adalah pahlawan bagi Park Jimin. Yoongi mendecih.

"Jangan berani-beraninya kau menyakiti Park Jimin, Yoongi-ssi!" desis pemuda yang sangat amat Yoongi benci karena keakrabannya dengan Jimin, yap! Siapa lagi jika bukan Park Chanyeol.

"Jangan ikut campur urusanku, Chanyeol-ssi!" balas Yoongi tak kalah tajam.

"Aku akan selalu ikut campur jika itu menyangkut tentang Jiminie, terutama jika itu berurusan dengan orang sepertimu dan teman-temanmu."

"Shit!" umpat Yoongi mengepalkan kedua tangannya dan dengan penuh emosi tanpa perhitungan, ia melayangkan bogem mentahnya kearah Chanyeol.

BUGH!

"wow!" desis beberapa siswa yang tampak menikmati pertengkaran Jimin dan Yoongi yang ditambah dengan kehadiran Chanyeol yang tiba-tiba. Bahkan, suasana tampak semakin memanas ketika Yoongi melayangkan pukulannya kearah Chanyeol tetapi ternyata bukan Chanyeol yang terkena pukulan Yoongi melainkan Jimin yang memilih untuk melindungi Chanyeol dan menjadi sasaran pukulan Yoongi.

Jimin yang tersungkur di tanah seraya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, sementara Yoongi, Namjoon, Seokjin, Hoseok, serta beberapa siswa yang merasa pertengkaran Jimin dan Yoongi bukanlah suatu drama yang layak di tonton bahkan hingga Chanyeol sendiri. Mereka diam mematung tak menyangka jika Min Yoongi baru saja memukul Park Jimin dan Park Jimin baru saja melindungi Park Chanyeol.

Jimin bangkit dari posisinya dan menatap Yoongi penuh dengan seringai yang membuat beberapa dari mereka yang melihatnya menyimpulkan bahwa Jimin, tampak seperti orang yang kejam.

"kamsahamnida, sunbaenim!" tutur Jimin yang tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut. Pasalnya, nada suara Jimin tak tampak seperti mengejek melainkan terdengar benar-benar tulus. Jimin menatap Yoongi sebentar, sebelum akhirnya melengos pergi meninggalkan para kerumunan yang sebentar lagi akan membuatnya menjadi bahan pembicaraan nomor satu oleh seluruh siswa-siswi RC selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Sementara Yoongi, ia menatap kedua tangannya tak percaya. Dan, kenapa Jimin mengucapkan terima kasih padanya? Apa maksudnya?

"YOONGI HYUNG!" seru Jungkook terlihat murka, ia berjalan menghampiri Yoongi mengabaikan tatapan heran dari ketiga hyung-nya dan dengan kasar ia menarik tangan Yoongi untuk ikut dengannya, mengjauhi semua kerumunan itu.

"hyung, apa kau sudah kehilangan akal?!" seru Jungkook setelah ia membawa Yoongi yang bodoh di tempat sepi yang ada hanya ia dan Yoongi. Yoongi mengerjapkan kedua matanya dan menatap Jungkook cemas.

"Aku baru saja memukul Jiminie, Kook-ah!" Jungkook mendesis kesal.

"ish, hyung! Kau membuat semuanya menjadi berantakan! Kau ini bodoh atau apa?! Jika Jimin hyung, mengatakan yang tidak-tidak padaku—kenapa dia memberikan jaketnya padaku? Kau ini—aish!" kesal Jungkook. Yoongi menarik nafas lelah.

"Kalau begitu, katakan! Kenapa wajahmu pucat seperti tadi? Bahkan, saat Taehyung terluka, wajahmu tidak sepucat itu."

Skak mat!

Bagaimana Jungkook akan menjelaskan semuanya pada Yoongi? Tidak mungkin 'kan ia mengikari janjinya dengan Jimin? Tidak, tidak! Ia tidak mau membuat Jimin membencinya karena mengatakan bahwa Jimin mereka sudah kembali. Ia tidak mau mengambil resiko.

"Aku hanya terkejut, Jimin hyung sangat perhatian padaku. Dia menenangkanku padahal, setelah kejadian beberapa hari yang lalu."

"Tapi, kenapa tadi dia mengatakan bahwa—"

"hyung!" sela Jungkook tak ingin Yoongi mengulang apa yang Jimin katakan yang tentu saja sudah ia dengar semuanya dari awal.

'Jimin hyung membuat image-nya buruk di depan semua orang untuk melindungi dirinya. Tapi, kenapa aku justru merasa dia tidak melindungi dirinya sendiri melainkan—melindungiku?'

"Jungkook, kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku 'kan?" tanya Yoongi. Jungkook menggeleng.

"hyung, kau harus minta maaf pada Jimin hyung. Kau sudah melukainya, tidak hanya fisik tapi juga hatinya." saran Jungkook yang membuat Yoongi terdiam. "hyung, aku mohon jangan membuat hubunganmu dengan Jimin hyung semakin rumit karena rasa cemburumu pada Park Chanyeol."

"Aku tidak cemburu!" elak Yoongi cepat. Jungkook terkekeh.

"ya, ya, ya! Tampaknya, kau perlu privat untuk menjadi pembohong profesional!" sindir Jungkook.

"YAK!" seru Yoongi tak terima yang hanya direspon kekehan dari Jungkook.

.

.

.

.

.

Langit semakin petang. Kini, seluruh siswa RC tengah berkumpul di lapangan untuk bersiap mengikuti kegiatan mereka selanjutnya. Mereka semua duduk melingkari api unggun dengan tatanan yang sesuai dengan kelompok mereka masing-masing.

"Dimana Park Jimin?" tanya Minhyuk nada suaranya meninggi tepat ketika Yoongi yang baru saja datang dan duduk bersama anggota satu kelompoknya. Doojoon yang mendengar nada sarkas dari Minhyuk pun hanya menghela nafas lelah.

"Adanya Park Jimin atau tidak, itu tidak berpengaruh bagi kelompok kita. Ketidak-adaannya dia, justru lebih baik untuk kelompok ini. Adanya Park Jimin hanyalah menambah kesialan!" desis Joohyun.

"Tutup mulutmu, Bae Joohyun!" Joohyun membulatkan kedua matanya ketika Yoongi mendahului Minhyuk untuk membalas ucapan kasar Joohyun tentang Jimin. "Kau bahkan lebih buruk dari pada dirinya. Jadi, jangan beraninya kau mengatakan hal buruk tentangnya. Mengerti?" gertak Yoongi yang dibalas geraman dari Joohyun.

"Jangan sok peduli pada Jiminie, kau bahkan baru saja memukulnya." sindir Minhyuk. Yoongi menarik nafas.

"Jangan ikut campur urusanku!" desis Yoongi yang membuat Minhyuk mengepalkan kedua tangannya dan seolah bersiap ingin melayangkan bogemnya kearah Yoongi sebelum—

"hey hey hey..." seruan Doojoon yang menengahi mereka. "Sudahlah, jangan membuat keributan lagi." lanjut Doojoon jengah. Minhyuk mencibir dan memutuskan untuk mengalah kali ini, ia berjalan menjauhi Yoongi dan duduk di samping Soonyoung yang berada paling ujung.

"okey... apa semuanya sudah berkumpul?" tanya guru Kim mengalihkan perhatian dengan toa yang membuat suaranya menjadi keras dan menggema. "jja, malam ini, sesuai dengan jadwal yang sudah kalian ketahui. Kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan, yang bernama 'find a partner'. Dimana, nantinya kalian harus menemukan satu orang yang satu kelompok dnegan kalian dengan benar." para siswa memekik 'woah' secara bersamaan. "Cara bermainnya adalah, kalian semua, maksudku setiap kelompok akan ditutup matanya dan kalian harus menemukan satu anggota kelompok masing-masing. Jika kalian menangkap orang yang benar, orang-orang yang benar itu harus mengambil kertas di dalam kotak ini dan melakukan sesuatu dengan anggota kelompok yang satu kelompok dengan kalian. Dan, siapapun yang berhasil—akan mendapatkan hadiahnya."

"hm~ apa kalian siap?" tanya guru Kim antusias yang dibalas dengan seruan kompak dari para siswanya. "okay, para ketua silahkan mengambil kain hitam di Han ssaem, sekarang! Ppali, ppali, ppali! Kita tidak punya banyak waktu!" titah guru Kim yang membuat semua ketua kelompok langsung berlari menuju guru Han yang memang sudah menunggu mereka.

Tak butuh waktu lama, untuk mengambil kain hitam sesuai dengan jumlah anggota mereka. Seluruh ketua tim, termasuk Yoon Doojoon sudah kembali ke anggota kelompok mereka masing-masing. Dan, bersamaan dengan Doojoon yang berjalan megnhampiri anggota kelompoknya bersamaan pula dengan Jimin yang baru saja muncul entah darimana.

"Park Jimin?" panggil Doojoon yang membuat Yoongi dan Minhyuk terutama, berbalik badan dan mendapati Park Jimin dengan pipi kirinya yang membengkak. Yoongi yang melihatnya hanya bisa meringis perih mengingat bahwa ia-lah orang yang memberi luka pada wajah Jimin, dan hal itu membuat Yoongi benar-benar ingin berbalik memukul dirinya sendiri.

"Maaf aku datang terlambat." sesal Jimin datar.

"nde, tak apa. Yang penting kau sudah datang. Apa kau baik-baik saja?" tanya Doojoon cemas. Jimin hanya mengangguk dan mengambil satu kain hitam dari tangan Doojoon.

"Aku baik!" balas Jimin singkat. Jimin melirik sekilas kearah Yoongi yang juga tengah menatapnya. Namun, secepat mungkin Jimin langsung melengos membuat Yoongi semakin merasa bersalah.

"jja, anak-anak. Cepat pakai kainnya dan tutup mata kalian. Kalian diberi waktu untuk memutuskan tempat berdiri selama lima detik, dan pada hitungan ketiga kalian baru boleh mencari rekan satu tim kalian. Tanpa bersuara, tanpa membuat gaduh dan kalian akan diberi waktu selama satu menit untuk mencari orang yang tepat. Kalian siap?" tanya guru Kim yang dibalas 'nde' kompak dari seluruh siswa yang sudah mengenakan kain hitam di kedua mata mereka.

"Lima detik dimulai dari ... sekarang!" seru guru Kim, "5, ... 4, ... 3, ... 2, ... 1! Stop! Kalian tidak boleh bergerak," lanjut guru Kim merasa lucu dengan tampang kebingungan dari para muridnya yang persis seperti anak TK. "okay, kalian siap? Hitungan mundur, 1 ... 2 ... 3!" dan tepat seperti intruksi guru Kim seluruh siswanya langsung berjalan kalang-kabut tak tentu arah hingga banyak dari mereka yang sampai bertabrakan.

Jimin, yang masih berdiam di tempatnya berdiri. Mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, ia ragu akan berjalan kearah mana. Terlebih, sepasang telinganya yang mendengar suara hiruk-pikuk membuatnya enggan untuk bergerak sama sekali. Toh, jika Jimin pikir-pikir apa yang sedang mereka semua lakukan saat ini adalah hal mustahil untuk mencari orang yang tepat. Huft, ini hanya membuang-buang waktunya.

Set!

"huh?" Jimin memekik pelan ketika ia merasa ada seseorang yang menggenggam tangannya. Seketika, tubuh Jimin terasa kaku karena ia merasakan seperti sengatan listrik dari sentuhan yang entah dari siapa. Jimin masih terdiam, dan tangan yang menggenggamnya terasa semakin erat. Sentuhan yang lembut membuat hati Jimin menghangat, dan bolehkan Jimin akui bahwa ia merasa nyaman dengan genggaman tangan ini? Tapi, kenapa ia juga merasa tidak asing dengan tangan yang menggenggamnya?

"okay, anak-anak waktu kalian tinggal 10 detik sebelum membuka penutup mata kalian." guru Kim mengingatkan, ia menghitung waktu mundur mulai dari detik ke 10 hingga sampai ke detik 4. "3 ... 2 ... 1! Buka penutup kalian!" seru guru Kim.

Jimin yang merasa tangan kanannya masih tergenggam, membuatnya terpaksa membuka kain hitam yang menutupi kedua matanya dengan tangan kirinya yang bebas. Begitu pula dengan sosok si pemilik tangan yang juga melakukan hal yang sama dengan Jimin.

Deg!

Jantung Jimin berdetak sangat cepat kala ia mengetahui siapa sosok yang telah menangkapnya dan menggenggam tangannya. Kedua mata sipit yang kini menatap dalam ke kedua mata indahnya dan seketika Jimin terhipnotis dengan kedua mata sipit itu. Jimin masih tediam dan sosok di depannya yang perlahan mengulurkan tangannya yang tak menggenggam tangan Jimin untuk menyentuh pipi Jimin yang masih lebam.

Jimin melirik ke tangan putih pucat yang terasa dingin ketika telapak tangan itu menyentuh pipinya. Bahkan, bolehkan Jimin mengakui bahwa ia menikmati sentuhan telapak tangannya yang berada di pipinya? Jimin memejamkan kedua matanya untuk lebih merasakan sentuhan yang mampu menghangatkannya itu. Sentuhan, dari seseorang menyebabkan lebam di pipi kirinya.

"Mianhae~" lirihnya yang membuat Jimin seketika membuka kedua matanya dan kembali terperangkap pada kedua mata sipit itu mengabaikan semua pasang mata yang seolah tengah menonton drama televisi yang tersuguhkan di hadapan mereka. Dan, Jimin—ia hanya bisa merutuki detak jantungnya yang semakin berdebar keras layaknya suara tabuhan drum. Oh tidak, bagaimana jika Min Yoongi mendengar detak jantungnya? Jimin mohon, kembalilah normal jantung sialan!

TBC


(-) Maap, aku baru comeback, dan wah~ aku ngerasa bersalah karena update-nya mulai slow .. Aku bener-bener lagi dikejar dateline yagn belum kelar-kelar, huft .. awal April yang menyebalkan (Maaf kalau malah jadi curhat, kkkk)

(-) I hope, para reader sekalian puas dengan lanjutannya. Dan mungkin ini endingnya enggak lama lagi, apalagi setelah Jimin bilang itu ke Jungkook, udah detik-detik dong ya ... hehe, see you in next chapter ...

Kamsahamnida...