Previously...
"Mianhae~" lirihnya yang membuat Jimin seketika membuka kedua matanya dan kembali terperangkap pada kedua mata sipit itu mengabaikan semua pasang mata yang seolah tengah menonton drama televisi yang tersuguhkan di hadapan mereka. Dan, Jimin—ia hanya bisa merutuki detak jantungnya yang semakin berdebar keras layaknya suara tabuhan drum. Oh tidak, bagaimana jika Min Yoongi mendengar detak jantungnya? Jimin mohon, kembalilah normal jantung sialan!
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin mengerjapkan kedua matanya gugup. Tangan besar Yoongi yang masih berada di pipinya membuat jantungnya semakin berdebar menggila. uh, Jimin ingin sekali menyingkirkan tangan dingin itu, tapi—kenapa ia merasa enggan dan tetap ingin tangan Yoongi berada di pipinya. oh, dia pasti sudah gila.
"Bagaimana—bagaimana sunbaenim bisa menemukanku?" tanya Jimin pelan. Yoongi tersenyum dengan tangannya yang masih mengelus lembut pipi Jimin yang melebam karena dirinya.
"Aku akan selalu tahu dimanapun kau berada." Jimin tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya dari Yoongi. oh tidak, kenapa ia merasa kedua pipinya terasa panas?
"ah~ apa sunbaenim tidak mengenakan penutup mata dengan benar?" tuduh Jimin kemudian yang kali ini direspon tawa lepas dari Yoongi, yang membuat pemuda itu semakin terlihat tampan berkali-kali lipat.
"Jika aku menutup kedua mataku berapa kali pun, bahkan aku sampai tidak bisa melihat pun, langkah kakiku akan selalu tertuju padamu." Jimin mengulum senyum senang. Ah, iya yakin, kedua pipinya merah merona saat ini. "Jadi, apa kau memaafkanku?" Jimin tampak terdiam.
"aku—akan memaafkanmu jika kau bisa memenangkan hadiah itu untukku." Yoongi tersenyum senang dan tanpa sadar mengecup pipi kanan Jimin dengan lembut yang hal itu menimbulkan banyak sorakan heboh dari orang-orang yang memperhatikan mereka.
"Tentu saja, apapun yang kau mau." Jimin menunduk. Oh, ia merasakan pipinya terbakar. Dan, apa yang baru saja Yoongi lakukan? Benarkah pemuda itu baru saja mencium pipinya? Benarkah? Oh, mimpi apa ia semalam?
"Jimin, kau baik-baik saja?" tanya Yoongi membuyarkan lamunan Jimin. Jimin gelagapan namun sedetik kemudian ia mengangguk cepat.
"nde, nde, nde. Aku baik sunbaenim."
"jja, anak-anak bagi kalian yang sudah berhasil menemukan salah satu anggota kelompok kalian, cepat kemari dan sisanya yang gagal kembali ke tempat kalian semula!" seru guru Kim.
Ternyata, tak banyak yang berhasil. Hanya ada enam belas orang yang itu berarti ada delapan pasang yang berhasil menemukan anggota kelompok mereka masing-masing. Termasuk juga Yoongi yang berhasil menemukan Jimin dan juga Seokjin dan Namjoon yang juga mengetahui satu sama lain di waktu yang tepat.
"okay.. salah satu dari kalian masukkan tangan kalian ke dalam kotak dan ambil masing-masing satu kertas." titah guru Kim yang tentu langsung dituruti oleh mereka. "Sudah dapat?" tanya guru Kim memastikan yang hanya dibalas anggukan atau seruan 'nde' dari beberapa muridnya. "Jadi, bukalah—apa yang kalian dapat." lanjut guru Kim.
Yoongi yang mengambil kertas di dalam kotak membuka kertas itu dan tertulislah kata 'koala' di dalamnya. Jimin mengeryitkan keningnya setelah membaca tulisan itu, apa maksudnya?
"jja, anak-anak kalian tentu sudah membuka isi dari kertas yang kalian ambil. Begini cara mainnya, nantinya salah satu dari pasangan kalian akan menjawab setiap pertanyaan yang akan Park ssaem ajukan, bahkan jika masih ada waktu para siswa sekalian juga mendapat kesempatan khusus untuk mengajukan pertanyaan kepada kalian nanti. Dan, terkait dengan kertas yang kalian pegang, itu adalah misi dimana kalian harus menggendong dengan gaya sesuai dengan kertas yang kalian ambil dengan partner kalian masing-masing. Dan yang menjawab pertanyaannya nanti adalah kalian yang digendong sementara yang menggendong boleh membantu tapi hanya sebatas bisikan satu sama lain." Jimin tergelak dan menatap guru Kim horor, namun kemudian ia menyempatkan untuk mengintip ke kertas-kertas saingannya dimana rata-rata tertulis bridal style dan gendongan di punggung. Sementara dirinya dan Yoongi? Oh tidak masalah jika Jimin digendong Yoongi di punggung tegapnya karena Jimin pernah merasakannya, tapi ini? Bahkan gendongan bridal lebih baik daripada gendongan koala? Oh ayolah, bukankah itu terlihat seperti—
"sunbaenim, kenapa kau mengambil kertas yang isinya seperti itu?" seru Jimin kesal. Yoongi mengerutkan keningnya.
"waeyo? Bukankah bagus?" Jimin terkejut, tentu saja.
"Apanya yang bagus?!" tanya Jimin tanpa sadar menaikkan nada suaranya. Yoongi tersenyum kecil dan mendekatkan bibirnya pada telinga Jimin.
"Tentu saja itu bagus karena aku bisa melihat wajah manismu." Jimin yakin, wajahnya pasti memerah lagi. oh sial, kenapa Min Yoongi menjadi penggombal ulung seperti ini? Dan, kenapa ia merasakan kupu-kupu bertebaran di perutnya? Ini menyebalkan, tapi ia juga menyukainya.
"Aku tidak mau!" tolak Jimin. Yoongi menyeringai.
"Kau malu kan, melihat wajah tampanku dari dekat?"
Bugh!
Jimin memukul bahu Yoongi keras yang justru membuat Yoongi tertawa keras.
"Aku tidak mau digendong olehmu dengan gaya koala atau apalah itu. Kalau kau masih mau, gendong saja orang lain." Yoongi tersenyum tampan.
"Menggendong orang lain? hm, kau benar... semua orang pasti akan mengantri untuk bisa kugendong tapi sayang aku hanya mau menggendong satu orang dan orang itu hanya dirimu." balas Yoongi tenang. Jimin menarik nafas lebih tepatnya menenangkan debaran jantungnya.
"jja, anak-anak bersiaplah mulai sekarang. Kalian harus menjawab pertanyaan yang entah itu tentang ilmu pengetahuan umum atau lainnya dengan cepat dan tepat. Dan yang digendong harus siap untuk mengangkat tangannya serta meneriakan nama orang yang menggendong kalian sebelum menjawab pertanyaan dari Park ssaem. Mengerti?" seru guru Kim kembali memberikan instruksi untuk kegiatan malam ini. Para siswa yang sebelumnya berhasil dengan misi sebelumnya pun langsung menggendong partner mereka masing-masing termasuk Namjoon yang menggendong bridal Seokjin yang jaraknya hanya satu pasang dari tempat Yoongi dan Jimin berada.
Seokjin mencuri-curi pandang kearah Namjoon yang juga sedang menunduk untuk menatapnya, membuat Seokjin entah kenapa merasa gugup karena ditatap sebegitu intensnya.
"Aku tidak yakin bisa menjawab pertanyaannya dengan benar. Jadi, jangan mengharapkan banyak dariku." lirih Seokjin memutus kontak mata pada Namjoon. Namjoon tersenyum kecil dan mengeratkan tangannya pada tubuh Seokjin yang hampir merosot digendongannya.
"Tenang saja, hyung. Aku akan membisikkan jawabannya padamu. Kau percaya padaku kan?" Seokjin hanya mengangguk. Ya, bagaimanapun juga ia mengandalkan Namjoon disini karena mengingat Namjoon yang baru saja menggeser tempat Doojoon sebelumnya membuatnya yakin bahwa tingkat kecerdasan Namjoon pasti berada di atas Doojoon.
"hm, jika tidak kau. Siapa yang akan aku percaya? Aku satu kelompok denganmu." balas Seokjin. Namjoon mengangguk percaya. Kemudian Seokjin sedikit melirik kearah Jimin dan Yoongi yang masih berdiri berhadapan dan tampaknya sedang berseteru satu sama lain.
"Menurutmu, apakah Jimin benar-benar membenci kita?" tanya Seokjin yang setelah itu mengalihkan pandangannya kembali pada Namjoon yang juga tengah menatapnya.
"Aku tidak tahu, hyung." jawab Namjoon pelan. Seokjin menarik nafas.
"Apa yang harus kita lakukan jika Jimin sudah mengingat semuanya?" tanya Seokjin kemudian. Namjoon tampak berfikir sejenak. "Bukankah tingkat kebencian Jimin akan semakin meningkat jika dia sudah ingat semuanya? Entah kenapa aku merasa cemas hanya dengan memikirkannya."
'Dan bagaimana jika tidak hanya Jimin yang ingat semuanya tapi kalian semua juga mengetahui apa yang telah aku lakukan di belakang kalian selama ini?'
"Namjoon?" panggil Seokjin membuyarkan lamunan Namjoon. Namjoon tersentak dan tersenyum tampan.
"Tak ada yang perlu kau cemaskan, hyung. Semuanya pasti baik-baik saja. Entah Jimin akan ingat semuanya atau tidak, cepat atau lambat ia pasti juga akan mengetahui kebenarannya." balas Namjoon yang membuat Seokjin tersenyum dan mengangguk kecil.
'Dan itu juga berlaku untukku, cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui semuanya. Dan, disaat waktu itu datang.. aku siap menerima segala bentuk kebencian yang akan kalian berikan padaku. Tapi, kenapa aku merasa tak rela jika terutama kau yang beralih membenciku, hyung? Aish, ada apa denganku?'
"Namjoonie, kau baik?" Namjoon gelagapan dan mengangguk gugup.
"nde, aku baik hyung."
"Apa aku berat?" tanya Seokjin. Namjoon terkekeh.
"Kau sangaaat berat!" canda Namjoon
Bug!
"Aku akan menghajarmu jika kau mengataiku berat sekali lagi." Namjoon tertawa keras dan menatap Seokjin lamat setelah Seokjin dengan sengaja memukul bahunya.
"hyung, kita harus memenangkan hadiahnya." Seokjin mengangguk.
"hm, tapi kau harus ingat saingan yang perlu kita pertimbangkan disini adalah Park Jimin dan Min Yoongi, jika ini seputar pengetahuan umum, Jimin mungkin bisa saja mengunggulimu." Namjoon tersenyum tampan.
"hm, kita akan bersaing dengan mereka sebagai pasangan."
'huh?!" Seokjin memekik ketika mendengar kata janggal dari ucapan Namjoon barusan. "Kau bilang apa?" Namjoon mengeryit tak mengerti.
"Memangnya aku bilang apa, hyung?" Seokjin mengerjapkan kedua matanya kemudian menggeleng cepat.
"ani ani.. aku rasa aku salah dengar. Ya, pasti aku salah dengar." balas Seokjin yang meskipun masih memikirkan ucapan Namjoon padanya yang mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan. Dan, entah kenapa Seokjin yang mendengar hal itu merasakan kesenangan tersendiri di dalam hatinya. Rasa senang yang tidak ia ketahui apa artinya.
Sementara, Namjoon dan Seokjin yang terlihat akur, berbeda pula dengan Yoongi dan Jimin yang masih saling berhadapan setelah para peserta lainnya sudah berada di posisi mereka masing-masing.
"Kenapa kau masih diam saja?" tanya Yoongi melihat Jimin yang masih bergeming. Jimin menarik nafas.
"Aku tetap tidak mau!" balas Jimin enggan. Yoongi menarik nafas dan dengan terpaksa ia membawa Jimin dan langsung menggendongnya ala koala serta memeluk tubuhnya erat. Jimin yang mendapat perilaku mengejutkan dari Yoongi pun dengan spontan memeluk leher Yoongi serta melingkarkan kakinya di pinggang pemuda tampan itu. Dan tanpa sengaja Jimin menatap kedua mata yang juga sedang menatapnya. Oh tidak, ini terlalu dekat.
Yoongi tersenyum tipis, sejenak ia mengagumi bagaimana garis wajah Jimin yang sangat sempurna di matanya meskipun terdapat lebam sialan itu di pipinya.
"Kau manis, dan kau cantik." bisik Yoongi yang membuat Jimin menunduk malu.
"ekhm! Hyung, ingatlah tempat!" seru Namjoon menyindir diiringi kekehan dari Seokjin. Jimin mengalihkan wajahnya sementara Yoongi yang masih menatap wajah manis Jimin tanpa merasa bosan.
"Aku harus berterima kasih pada Kim ssaem." ujar Yoongi. Jimin berdecak.
"Ini—hanya kebetulan, sunbaenim."
"Kebetulan yang sangat indah."
"sunb—"
"jja, anak-anak aku rasa kalian semua sudah siap. Jadi, bersiaplah untuk mendengarkan pertanyaan pertama dengan saksama, ingat! Angkat tangan sebelum menjawab dan serukan nama orang yang menggendong kalian, mengerti? Silahkan, Park ssaem." ujar guru Kim pada guru Park yang hanya mengangguk sekilas sebagai jawaban.
"Pertanyaan pertama seputar tentang Astronomi, dengarkan baik-baik, nde?" saran guru Park yang membuat turut para siswa yang hanya menonton terdiam dan mendengar saksama pertanyaan pertama yang akan guru Park lontarkan. "okay, yang pertama.. pada zaman Renaisans, Copernicus menyusun model Tata Surya heliosentris, model yang kemudian dibela dari kontroversi, dikembangkan, dan dikoreksi oleh ..." pertanyaan pertama dari guru Park menimbulkan ketegangan dari beberapa pihak sebelum—
"KIM NAMJOON!" suara Seokjin yang begitu menggelegar bahkan mengejutkan beberapa orang. Namjoon yang namanya disebut tiba-tiba oleh Seokjin pun ikut terkejut dan bingung, pasalnya ia belum mencerna dengan benar pertanyaan dari guru Park.
"Kenapa kau meneriakkan namaku?" bisik Namjoon.
"Apa jawabannya bodoh?" balas Seokjin tak sabar. Namjoon tergelak dan berfikir cepat.
"Sebentar.."
"Cepat, aku tidak butuh sebentar." sambung Seokjin.
"Ya, Kim Seokjin-ssi.. apa jawabannya?" tanya guru Park sabar.
"Apa—"
"Galileo,..." bisik Namjoon.
"GALILEO!" seru Seokjin langsung.
"Ya, dan?" tanya guru Park.
"ya dan? Apa ada dua?" tanya Seokjin polos yang membuat Namjoon harus menahan tawanya dengan tingkah Seokjin yang menurutnya sangat menggemaskan.
"oh, aku ingat—dan Kepler!" lanjut Namjoon.
"DAN KEPLER!" seru Seokjin antusias bahkan sampai melonjakkan tubuhnya yang membuat Namjoon hampir kewalahan.
"hyung, tenanglah kau seperti mendapat jackpot saja!" ujar Namjoon, Seokjin langsung tenang.
"yap. Itu benar! Satu poin untuk Kim Namjoon-ssi dan Kim Seokjin-ssi. Langsung saja, pertanyaan kedua!" lanjut guru Park. "Masih seputar tentang astronomi. Dengarkan baik-baik. Siapa kosmonaut atau antariksawan pertama yang berasal dari Uni Soviet atau Rusia?" tanya guru Park selanjutnya yang kembali timbul keheningan dari para siswanya hingga salah satu siswanya yang berada di kelas tiga yang bernama Lee Seyeon yang berpasangan dengan Soo Yi Jeong mengangkat tangannya dengan ragu setelah menyerukan nama Soo Yi Jeong sebelumnya.
"Ya, Lee Seyeon-ssi?" balas guru Park. Lee Seyeon tampak berfikir sejenak.
"Igor Fedrov?" jawab Lee Seyeon ragu. Guru Park tersenyum dan menggeleng, mengartikan bahwa jawaban yang dilontarkan oleh Seyeon adalah salah.
"Maaf, Seyeon-ssi itu bukan jawabannya. Siapa yang bisa—"
"Min Yoongi!" seru Jimin memotong ucapan guru Park dengan pelan namun bisa di dengar cukup jelas oleh guru Park. Yoongi yang merasa tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap Jimin penuh tanya yang tentu saja diabaikan oleh Jimin yang sedang menoleh kearah guru Park.
"Yuri Gagarin." jawab Jimin tenang yang tentu saja menghasilkan ulasan senyum puas di bibir guru Park.
"yap, itu benar! Satu poin untuk Min Yoongi-ssi dan Park Jimin-ssi." seru guru Park yang kemudian langsung beralih pada pertanyaan ketiga.
"Bagaimana kau bisa tahu jawabannya?" tanya Yoongi takjub. Jimin tersenyum kecil.
"Aku ingat pernah membacanya di sebuah buku." Yoongi mengangguk paham, ia menatap Jimin lamat begitu pula dengan Jimin yang membalas tatapan Yoongi padanya hingga kedua orang itu tidak terlalu memfokuskan pertanyaan yang diajukan oleh guru Park, dan melewatkannya begitu saja.
Jimin yang meletakkan kedua tangannya di bahu Yoongi dan kedua tangan Yoongi yang menahan sempurna tubuh Jimin agar tetap berada di gendongannya. Entah apa yang mereka katakan lewat tatapan yang cukup lama itu, yang pasti tatapan yang membuat keduanya bisa merasakan detak jantung masing-masing.
"Kau dengar?" tanya Yoongi berbisik. Jimin masih terdiam, tak berniat untuk membalas apapun dan lebih menikmati untuk memandangi wajah tampan Yoongi.
"Apa yang ku dengar?" Jimin balik bertanya dan Yoongi mengulas senyum tampan di bibir kecilnya.
"Apa yang ku dengar adalah apa yang kau dengar." jawab Yoongi tanpa memutus kontak mata dengan Jimin. Jimin tersenyum kecil.
"Baiklah, selanjutnya pertanyaan kelima!" seru guru Park. Jimin tergelak dan mengerjapkan kedua matanya lucu.
"Sudah pertanyaan kelima? Kita sudah ketinggalan berapa poin?" tanya Jimin yang justru dibalas kekehan dari Yoongi.
"Tenang saja, kita juga bisa menang." bisik Yoongi, Jimin mengedikkan bahunya tak peduli dan mendengar pertanyaan kelima dengan saksama.
"Siapakah kimiawan fisika yang salah satu karyanya berjudul 'The Chemical Kinetics of the Bacterian Cell'—"
"MIN YOONGI / KIM NAMJOON!" seru Jimin dan Seokjin bersamaan yang membuat kedua orang itu saling menoleh. Hal itu juga membuat guru Park bingung dengan siapa yang lebih dulu meneriakan nama partner mereka masing-masing.
"Kau tahu jawabannya 'kan?" bisik Seokjin pada Namjoon. Namjoon tampak terdiam, berfikir sejenak.
"Aku lupa, hyung. Sepertinya—" Namjoon melirik kearah Jimin, mencoba untuk mencari jawaban di balik mata sipit pemuda manis itu.
"Kau tahu tidak?" tanya Seokjin menuntut.
"Aku tidak yakin, hyung." Seokjin berdecak kesal.
"Aku sudah meneriakkan namamu, dan—"
"Siapa yang mau menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu?" tanya guru Park pada Seokjin dan Jimin.
"Saya, ssaem!" seru Jimin mengangkat tangannya dengan semangat.
"Baiklah, apa jawabannya Jimin-ssi?" tanya guru Park. Jimin tampak mengingat.
"Cyril—Hinshelwood." jawab Jimin agak ragu. Guru Park tersenyum dan bersorak dengan semangat.
"yap, Park Jimin dan Min Yoongi mendapat dua poin!" seru guru Park yang membuat Jimin refleks memeluk leher Yoongi membuat wajah keduanya terlampau dekat. Namun, tak berlangsung lama karena Jimin langsung melepas tangannya dari leher Yoongi dengan canggung dan kembali memegang kedua bahu Yoongi. Yoongi terkekeh.
"aku—"
"Kenapa kau lepaskan? Akan lebih baik kau memeluk leherku supaya tidak jatuh," saran Yoongi. Jimin menggulirkan kedua matanya menghindarkan tatapan Yoongi padanya.
"ti-tidak, a -aku—itu terlihat seperti... aish, sudahlah sunbae! Fokus saja pada permainannya!" seru Jimin menyembunyikan wajahnya yang memerah tanpa sebab.
.
.
.
.
.
"argh~" Taehyung meringis, dengan lemas ia keluar dari tenda kesehatan dan berniat untuk menghirup udara segar.
Taehyung mengedarkan pandangannya, tenda-tenda terlihat sepi tapi kobaran api unggun terlihat begitu jelas di depan matanya meskipun jaraknya cukup jauh dengan tempatnya berada saat ini. Taehyung tersenyum kecil ketika ia melihat Jimin-Yoongi serta Seokjin-Namjoon yang tampaknya turut serta dalam permainan entah apa yang tengah mereka mainkan membuat Taehyung mencebikkan bibirnya iri karena tak bisa ikut bergabung. Namun, kemudian kedua matanya kembali bergulir untuk mencari sosok manis yang setelah jam makan malam tadi sempat untuk menemaninya sebelum ikut bergabung dengan kegiatan malam itu.
'Syukurlah, dia baik-baik saja.' Taehyung membatin setelah sosok manis bergigi kelinci yang ia cari tengah tertawa dan tanpa berhenti bersorak untuk menyemangati Seokjin dan Namjoon yang notabene adalah satu kelompok dengannya.
"Kau disini?" sapa seseorang yang membuat Taehyung menoleh dan mendapati Kang Seulgi yang tiba-tiba saja muncul dan berdiri di sampingnya namun kedua matanya tertuju pada kerumunan di tengah lapang.
"Kenapa kau disini?" Taehyung balik bertanya. Seulgi menarik nafas.
"hm, aku bosan disana. Lagi pula, aku sedang tidak ingin berada di dekat Joohyun." jawab Seulgi. Taehyung mengedikkan bahunya tak peduli yang setelahnya hanya ada keheningan diantara mereka karena setelah ucapan tak penting Seulgi, Taehyung tak membalas apa-apa.
"Taehyung-ssi!" panggil Seulgi tiba-tiba. Taehyung hanya berdehem. "Aku dengar, kau sudah mengenal Jimin sejak kecil." Taehyung mengeryit dan menatap Seulgi terkejut.
"Darimana kau tahu?" tanyanya. Seulgi tampak terdiam. Dari wajahnya, ia terlihat ragu apakah benar untuk mengatakan sesuatu yang ia ketahui pada Taehyung, atau akan lebih baik untuk menyimpannya sendiri? Tapi—
"sunbaenim!" panggil Taehyung menuntut. Seulgi menarik nafas.
"Kau ingat bukan kejadian di cafetaria beberapa hari yang lalu? Ketika Jimin menanyakan tentang masa lalunya?" tanya Seulgi. Taehyung hanya mengangguk. "Sebenarnya—ia tahu dari Joohyun."
"mwo?!" pekik Taehyung terkejut bukan main. Seulgi menggigit bibir bawahnya gugup.
"Joohyun mengatakan semuanya pada Jimin. Ia mendengar pembicaraan kalian berenam ketika di ruang rehat di gedung asrama." lanjut Seulgi. Taehyung terdiam tanpa kata.
"Kau sedang tidak berbohong kan?" Seulgi tampak mengeryit tak suka.
"Untuk apa aku berbohong padamu? Apa kau lupa Joohyun adalah sepupuku? Jadi, bukankah aku dalam masalah sekarang karena mengatakan ini padamu karena telah menjatuhkannya?! Apa kau pikir aku mendapat keuntungan jika apa yang kukatakan adalah kebohongan?" Taehyung mengangguk percaya dan memandang Seulgi intens.
"Lalu, apalagi yang kau tahu?" tanya Taehyung tak sabar sementara Seulgi mengedarkan pandangannya untuk memastikan bahwa tidak ada orang disekitarnya selain dia dan Taehyung.
"Yang ku tahu, Joohyun mengatakan semuanya pada Jimin atas permintaan Park Chanyeol."
"Siapa?!" Taehyung membulatkan kedua matanya tak percaya. Seulgi mengangguk menyakinkan.
"Aku tahu, karena aku juga berada disana. Kau tahu, Joohyun tidak pernah menyembunyikan apapun dariku. Selain itu, dia tidak pernah berani pergi sendirian jika ada yang memintanya bertemu. Pasti ada salah satu dari kami berempat yang menemaninya dan kebetulan aku yang dia ajak waktu itu." terang Seulgi. Taehyung berfikir sejenak.
"Tapi, kenapa kau mengatakan semua ini padaku?" tanya Taehyung tak mengerti. Seulgi menarik nafas.
"Aku tahu, Joohyun adalah sepupuku. Tapi, apa yang telah dia lakukan itu tidak benar. Sebelumnya, dia sudah pernah menyelakai Park Jimin dan sekarang? Dia melakukannya lebih berkali lipat menyakitkan. Dan—bagaimanapun juga, aku tidak mau terjadi sesuatu pada Park Jimin." Taehyung tersenyum kecil.
"kamsahanida sunbaenim, kau sudah mengatakan semua ini padaku." Seulgi mengangguk.
"Tapi, bisakah aku meminta tolong padamu?" pinta Seulgi.
"Apapun."
"Jangan katakan jika kau mengetahuinya dariku. Bagaimanapun juga aku tidak mau terlibat dalam urusan kalian, dan selain untuk Jimin—aku juga melakukan ini untuk Joohyun, aku tidak ingin Joohyun ikut campur dengan urusan yang bukan urusannya." Taehyung mengangguk menyanggupi.
"Tenang saja, sunbaenim. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun jika aku mengetahui semua ini darimu. Terima kasih, aku berhutang padamu." Seulgi mengangguk.
"Sebenarnya, aku yang berhutang pada Jimin. Jadi sebisaku, aku ingin agar Joohyun tidak lagi menyakitinya." Taehyung tersenyum. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Cepat sembuh, Taehyung-ssi." Taehyung mengangguk dan membiarkan Seulgi berlalu meninggalkannya.
Sepergian Seulgi, wajah Taehyung berubah. Senyum yang tertera pada wajah tampannya sirna seketika dan tergantikan dengan wajah sendu yang terlihat menyedihkan. Tatapan sendunya menatap lurus kearah sosok yang sekarang ini tengah berada digendongan hyung-nya, yang tampak tersenyum manis. Entah apa yang ada dipikiran Taehyung, tapi—refleks kedua tangannya mengepal tanpa sebab. Sebab, yang mungkin hanya diketahui dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Kegiatan malam itu sudah usai satu jam yang lalu dengan kemenangan yang diraih oleh kelompok Namjoon dan Seokjin. Saat ini, para siswa pun sudah berhambur di tenda mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Tapi, mungkin tidak semua, ada beberapa yang ternyata masih diam-diam berkeliaran di luar area tenda.
Salah satunya pemuda tampan yang menapakkan kakinya menjauh dari area tenda, sesekali ia juga menengok kesana-kemari untuk memastikan jika tidak ada orang yang mengetahui gerak-geriknya. Pemuda itu menaikkan tudung jaketnya guna menyembunyikan wajah tampannya dan membiarkan tenggelam di gelapnya malam yang berbintang.
"Kau sudah disini?" sapanya ketika ia mendapati pemuda yang sengaja ia temui jauh dari area tenda. Pemuda itu tersenyum kecut dan menatap remeh kearah pemuda yang datang menemuinya.
"Mana obatnya?" tanyanya langsung.
"Apa kau pikir aku akan memberikan obat Jimin padamu begitu saja?" balas pemuda yang menunggu kedatangan pemuda yang sekarang ini menurunkan tudung jaketnya membuat wajah tampannya terlihat jelas di bawah sinar bulan. "Tidak semudah itu Chanyeol-ssi!" lanjut pemuda itu pada sosok yang memang adalah Park Chanyeol.
"Jadi, apa maumu?" tanya Chanyeol. Pemuda itu tersenyum miring.
"Mauku?" ulangnya. "Obat ini tetap berada ditanganku." Chanyeol mendecih.
"Apa kau berniat untuk memberikan padanya Namjoon-ssi?" tanya Chanyeol menyebut pemuda yang dari awal menunggu kedatangannya penuh penekanan, yap dia memang Kim Namjoon.
"Aku heran padamu, kau mencintainya—tapi, kau juga ingin membunuhnya?" remeh Namjoon. Chanyeol tertawa layaknya orang kesetanan.
"Jangan urusi urusanku, berikan obat itu padaku sesuai dengan apa yang tuan Nam katakan sebelumnya." Namjoon tampak terdiam, kedua tangannya masih berada di dalam saku hoodie yang ia kenakan di mana salah satu sakunya terdapat obat yang Chanyeol minta.
"Change's plan. Obat ini, tetap berada di tanganku sesuai dengan apa yang tuan Nam rencanakan." sambung Namjoon membalas. Chanyeol mendecih kesal.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan tuan Nam. Berikan obat itu padaku sekarang!" paksa Chanyeol. Namjoon menyeringai.
"Belum ada satu menit kau mengatakan sesuai dengan apa yang tuan Nam katakan, dan sekarang? Kau mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan tua bangka itu?" tanya Namjoon memancing. Chanyeol mengepalkan kedua tangannya. "Beri aku jawaban, antara kau berniat untuk membunuh Park Jimin atau ingin melindunginya." tanya Namjoon dengan nada yang menyerupai perintah. Chanyeol menahan amarah, namun kemudian ia menyeringai.
"Kalau begitu, kau juga beri aku jawaban—kau ingin membunuh Park Jimin atau ingin melindunginya?" Chanyeol bertanya dengan kalimat yang sama dengan yang Namjoon lontarkan padanya. Namjoon tampak diam, kedua matanya berkilat dingin, namun kemudian seringai tercetak di bibirnya.
"Mana yang kau pilih?" tanya Namjoon menahan diri untuk tidak terpancing. Chanyeol menarik nafas, menenangkan diri. "Kau tidak bisa memberikan jawabannya?" tanya Namjoon. Chanyeol mendecih.
"Kau sendiri? Bukankah kita berada di posisi yang sama? Harus membunuh orang yang tidak pantas dibunuh tetapi juga harus melindungi orang yang tidak pantas dilindungi." balas Chanyeol tak kalah tajam. Namjoon menggeram, menahan diri untuk tidak menghajar wajah tampan Chanyeol dan berakhir dengan menarik perhatian dari para siswa lain. Jika sebenarnya mereka berdua sudah saling mengenal satu sama lain, jauh sebelum Chanyeol menjadi siswa baru di RC.
"Pergilah. Jika kau pikir, aku dan kau sama!" usir Namjoon.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau berikan obat itu padaku." pinta Chanyeol lagi.
"Aku tidak akan memberikan benda ini—"
"Ada orang!" potong Chanyeol yang membuat Namjoon membulatkan kedua matanya terkejut bersamaan dengan Chanyeol yang melesat pergi begitu saja. Namjoon berbalik badan dan melihat ada cahaya senter yang berjalan tak jauh darinya.
"Namjoonie?" gumam si pemegang senter. Namjoon menajamkan kedua matanya untuk melihat siapa sosok yang memanggilnya dengan nada seramah itu.
"oh, Seokjin hyung." balas Namjoon setelah tahu siapa orang yang tak sengaja menyelamatkan dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Seokjin setelah berada tepat di depan Namjoon.
"Kau sendiri? Kenapa juga masih berkeliaran?" Namjoon balik bertanya.
"ah~ aku sedang berpatroli kau tahu—meskipun sedang berlibur tapi sebagai dewan siswa, beberapa dari kami harus tetap bekerja." tutur Seokjin terdengar jengah dari nada suaranya.
"Sendirian?" Seokjin mengangguk.
"Seperti yang kau lihat," jawab Seokjin penuh dengan senyum cantiknya yang membuat Namjoon ikut tersenyum melihatnya.
"Bagaimana jika kutemani?" tawar Namjoon. Seokjin tersenyum malu.
"Kau tidak lelah?" Namjoon menggeleng.
"Bahaya jika kau berpatroli sendirian." Seokjin menggigit bibir bawahnya dan mengangguk kecil.
"Baiklah jika kau tidak keberatan." setuju Seokjin yang hal itu membuat Namjoon tersenyum gemas dengan tingkah malu-malu yang Seokjin tunjukan saat ini.
.
.
.
.
.
Jimin menekuk kedua lututnya dan menatap langit penuh bintang diatasnya. Kini, ia tengah berada di pinggir bukit yang tak jauh dari tempat perkemahan. Jimin menarik nafas, menghirup udara malam yang selalu mampu menenangkannya meskipun hawa dingin yang cukup menusuk hingga ke tulang rusuknya. Namun, Jimin mencoba untuk mengabaikan angin dingin malam itu.
Sret!
Jimin terkejut ketika sebuah selimut tersampir di tubuhnya dan mendapati Jeon Jungkook yang datang dan duduk di sampingnya tiba-tiba. Jimin mengerjapkan kedua matanya dan menoleh kearah Jungkook heran.
"Aku harap, aku tidak mengganggumu sunbaenim," tutur Jungkook turut menoleh kearah Jimin. Jimin tersenyum kecil.
"Aku tidak melarangmu jika kau ingin berada disini." balas Jimin yang kemudian hanya ada keheningan diantara mereka.
"em.. sunbaenim," panggil Jungkook ragu yang hanya dibalas gumaman dari Jimin. "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Jimin tersenyum tipis.
"Tentang tadi siang?" tebak Jimin yang tentu saja benar.
"nde," balas Jungkook. Jimin menarik nafas.
"Bertanyalah sebanyak yang kau inginkan." ujar Jimin mempersilahkan. Awalnya, Jungkook tampak terkejut karena ia tak menyangka jika Jimin akan mempersilahkannya untuk bertanya tentang apapun, tapi Jungkook akan mencobanya.
"Apa benar, sunbaenim sudah ingat semuanya?" tanya Jungkook dengan suara lirihnya. Jimin tersenyum tipis, ia terdiam sejenak.
"Apa kau berniat untuk menggali tentangku?" Jungkook menggeleng cepat meskipun Jimin sedang tidak menatapnya.
"ani ani ani, aku hanya—"
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya." potong Jimin. "Aku ingat kau adalah seseorang yang dulu aku sayang dan aku jaga." lanjutnya masih enggan untuk menatap Jungkook yang membuat Jungkook menunduk sedih karena hatinya teriris ketika Jimin tak berniat sedikitpun untuk menoleh kearahnya dan masih berbicara dengan nada dingin khasnya.
"Apa kau membenciku?" tanya Jungkook sendu. Jimin menoleh dan tersenyum manis, kemudian ia menggeleng.
"Tidak sepantasnya aku membenci orang yang salah. Kau tidak tahu apa-apa, jadi tidak ada alasan bagiku untuk membencimu." jawab Jimin tenang.
"Tapi, aku adalah—"
"Anaknya Seungho samchon?" potong Jimin, Jungkook tertegun sudah lama ia tidak mendengar nada ramah dari Jimin hyung-nya. "Yang salah adalah ayahmu bukan dirimu,"
"Jadi, apa kau membenci ayahku?" tanya Jungkook ragu. Jimin langsung terdiam dan menatap Jungkook lamat.
"Aku tidak tahu." jawab Jimin akhirnya. "Aku tidak tahu, harus membenci siapa dan mempercayai siapa. Ini terlalu sulit untukku."
Jungkook menunduk, sejujurnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Jimin tapi ia juga takut jika pertanyaan itu membuat hubungannya dengan Jimin semakin memburuk.
"Jungkook-ah!" panggil Jimin yang membuat Jungkook mengangkat wajahnya dan tertegun tak percaya dengan panggilan Jimin yang terdengar ramah seperti dulu ketika mereka masih kanak. Tangan Jimin terulur untuk mengelus surai Jungkook penuh sayang, kedua matanya terlihat berkaca tanpa sebab yang tidak Jungkook ketahui kenapa.
"Jangan mencoba untuk mencari tahu tentang masa lalu, dan jangan mencoba untuk mempercayai orang-orang disekitarmu meskipun mereka adalah orang terdekatmu sekalipun. Karena, jika kau mencari tahu dan mempercayai orang yang tidak tepat—kau sendiri yang akan terluka," saran Jimin. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." lanjutnya menatap Jungkook sebentar sebelum memutuskan untuk beranjak dan mengembalikan selimut Jungkook untuk melingkupi tubuh Jungkook.
Jungkook masih terdiam di tempatnya. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa maksud ucapan Jimin padanya? Namun sedetik kemudian Jungkook segera berdiri dan—
"Jimin hyung!" seru Jungkook tanpa sadar yang hal itu membuat Jimin langsung menghentikan langkahnya yang belum jauh dari tempat Jungkook berada. Jimin berbalik badan dan menatap Jungkook datar.
"Apa kau mencemaskanku?" tanya Jungkook kedua matanya terlihat berkaca. Jimin tampak bungkam namun setelah itu Jungkook dapat melihat seulas senyum tipis di bibir pemuda manis yang dirasa sudah tak sama lagi dengan orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya dulu.
"Aku rasa, aku tidak perlu mencemaskan anak dari orang yang tidak mempercayai ayahku. Aku hanya mengatakan apa yang terbaik untukmu. Lagi pula, apa kau pikir setelah aku ingat semuanya apa hubungan kita akan membaik?" jawab Jimin menohok. "Sama sekali tidak Jeon Jungkook, tetaplah bersikap sama seperti sebelumnya. Tetaplah menjadi rival-ku sampai kapanpun. Karena kau tahu? Sejak kecelakaan itu, Park Jimin yang kau kenal—Park Jimin yang mereka kenal, sudah tidak ada lagi!" lanjut Jimin sebelum meninggalkan Jungkook yang masih mematung ditempatnya.
"Dengar Park Jimin-ssi!" seru Jungkook yang lagi membuat Jimin menghentikan langkahnya namun kali ini ia tidak berbalik badan dan hanya menunggu seruan apa yang akan Jungkook katakan padanya.
"Entah kau Park Jimin yang sama atau tidak, aku tidak peduli. Yang jelas, aku akan tetap mencari tahu apa maksud dari ucapanmu yang mengatakan ini berkaitan dengan tidak hanya keluargamu tapi juga keluargaku bahkan keluarga mereka. Aku tidak peduli ancaman apapun yang kau tunjukan padaku. Yang jelas, aku juga bisa melakukan apapun yang ku mau seperti kau yang melakukan apapun yang kau mau!" lanjut Jungkook yang tak direspon apa-apa oleh Jimin karena setelah Jungkook selesai mengatakan demikian Jimin langsung melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
.
"Apa kau bercanda, hyung?" tanya Hoseok menatap Yoongi horor.
"ssst~ jangan keras-keras bodoh!" Yoongi membungkam mulut Hoseok dengan tangannya. Ia menoleh kesana kemari untuk memastikan jika tidak ada yang menguping pembicaraan mereka berdua yang sekarang ini berada di tempat yang sangat mencolok. Di depan api unggun yang masih menyala di tengah lapang perkemahan. Yoongi melepas tangannya dari mulut Hoseok.
"Kau sedang tidak bercanda 'kan?" Yoongi menggeleng.
"aniyo.. Jimin sendiri yang mengatakannya padaku. Ia bertanya padaku kenapa foto ayahku dan ayahmu ada di figura itu." Hoseok terdiam sejenak.
"Kapan dia mengatakannya?"
"Yang jelas itu sebelum kejadian di cafetaria waktu itu."
"Apa itu artinya Jimin pernah bertemu dengan ayahku?" tanya Hoseok tak percaya. Yoongi terdiam sejenak.
"Aku tidak tahu, Jimin mengatakannya saat ia mabuk."
"Mabuk?" Hoseok membulatkan kedua matanya terkejut. "Apa yang pernah kau lakukan padanya? Kenapa kau tidak pernah cerita pada kami?" Yoongi tertawa kecil.
"Apa yang harus aku ceritakan?"
"Tentang kedekatanmu dengan Jiminie tentu saja. Dan jika dilihat-lihat kau cukup dekat dengan Jiminie melebihi siapapun." Yoongi mengangkat bahunya acuh.
"Entahlah, aku hanya ingin tetap berada di jangkauannya. Kau tahu bukan? Kita melewatkan banyak hal tentang dirinya." Hoseok mengangguk setuju.
"Jika benar, Jimin bertemu dengan ayahku—kira-kira apa yang mereka bicarakan?" gumam Hoseok penasaran.
"yah, setidaknya ada kemungkinan jika kau dan kedua orang tuamu yang satu-satunya tidak Jimin benci." Hoseok tertawa lantang.
"Begitu? Hm, kau benar. Aku bersyukur ayahku seorang dokter dan ibuku hanya seorang model. Tidak ada kaitannya dengan politik. Ayahku dipihak netral begitu pula denganku," ujar Hoseok bangga sementara Yoongi hanya mencibir.
"em, Hobi-ya!" panggil Yoongi serius. Hoseok hanya bergumam karena ia tengah menunduk dengan tangannya yang memegang batu di dekatnya dan menggambar sembarang di tanah di dekat kakinya.
"Jika Jimin membenci semua orang yang berkaitan dengan kedua orang tuanya, apa kau bersedia untuk tetap berada disisinya?" tanya Yoongi terdengar cemas. Hoseok membuang batu yang ia pegang kearah api unggun dan menoleh kearah Yoongi lamat.
"Tanpa kau memintanya pun, aku akan dengan senang hati melakukannya, hyung. Jimin sudah seperti adikku sendiri. Apalagi jika dia sudah ingat semuanya, aku sangat berharap hubungan kita semua bisa membaik seperti ketika kita kanak dulu. Tapi, jika tidak dan hubungan kita justru akan semakin memarah, aku akan menjaga Jimin tidak hanya untukmu tapi juga untuk kita semua." Yoongi bergumam menyetujui.
"Aku berharap semuanya baik-baik saja." lirih Yoongi ia kembali terdiam dan terlarut dalam pikirannya sendiri.
"hyung!" panggil Hoseok memecah keheningan. Hoseok menoleh kesana-kemari dan mendekatkan dirinya pada Yoongi yang membuat Yoongi mengeryit keheranan.
"Ada apa?" tanya Yoongi untuk pertama kalinya melihat wajah Hoseok yang tampak serius.
"Entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini ada yang mematai kita." Yoongi mengangkat sebelah alisnya.
"Maksudmu?"
"Ketika—"
"Yoongi-ssi!" panggil seseorang yang mengalihkan atensi kedua orang itu dan langsung menoleh kearah Doojoon yang tiba-tiba muncul dengan raut wajahnya yang terlihat khawatir. "Bisa kita bicara?" pinta Doojoon dengan nada memaksa. Yoongi mengangguk.
"Maaf Hobi-ya, aku bicara dulu dengan Doojoon." Hoseok mengangguk paham dan berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu aku kembali ke tenda saja, hyung. Selamat malam!" pamit Hoseok meninggalkan Yoongi bersama Doojoon.
"Ikut aku!" ajak Doojoon setelah kepergian Hoseok dan ia berjalan tergesa menuju kegelapan hutan yang jauh dari perkemahan.
"Ada apa?" tanya Yoongi penasaran setelah ia dan Doojoon memastikan jika tidak ada orang yang mematai ataupun mengikuti mereka.
"Besok—apapun yang terjadi, kau harus tetap berada di dekat Park Jimin!" ujar Doojoon memberitahu.
"waeyo?" Doojoon menarik nafas dan mendekatkan bibirnya kearah telinga Yoongi. Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya setelah Doojoon menjauhkan bibirnya dari telinganya. Pemuda yang didapuk sebagai ketua dewan siswa itu menatap cemas pada Yoongi.
"darimana—darimana kau tahu?" tanya Yoongi tak ingin percaya.
"Percaya atau tidak, aku mendengarnya dia mengatakan rencana mengerikan itu dengan mulutnya sendiri pada nenek sihir itu!" sarkas Doojoon kesal. Yoongi terdiam sejenak.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Yoongi yang menghasilkan seringai dari bibir Doojoon.
"Kau tahu aku memiliki kekuasaan disini, selain ketua dewan siswa dan ketua kelompok, aku bisa memanfaatkan jabatan itu untuk membuatmu tetap berada di dekat Jimin dan menjauhkannya darinya." Yoongi mengangguk menyetujui.
"arraseo, kali ini kita harus benar-benar memastikan keselamatan Jimin lebih dari apapun." Doojoon mengangguk cepat sementara Yoongi yang memijat pelipisnya pening, dan tanpa keduanya sadari ada seseorang dengan matanya yang berkilat tajam mendengar semua pembicaraan antara Yoongi dan Doojoon yang sengaja ia ikuti diam-diam. Seseorang itu menyunggingkan seringai kejam di tengah-tengah gelapnya malam. Seringai yang tentu saja tak diketahui oleh kedua pemuda tampan itu jika mereka berdua sebenarnya sedang dijebak.
'Kalian berdua, tidaklah lebih pintar dariku. Jadi, rencanakanlah yang ingin kalian rencanakan sebelum aku menghancurkan rencana itu dengan sekali tepukan tangan.'
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jja, anak-anak berkumpullah!" seru guru Kim kembali memandu dan bersiap untuk memberikan interuksi tentang kegiatan yang akan mereka lakukan di hari kedua. "Jadi, kegiatan kita untuk hari ini adalah mencari jejak di hutan. Singkatnya, kalian akan diberikan rute untuk setiap kelompok, rute yang berbeda-beda. Rute itu juga sesuai dengan petunjuk jalan yang ada di dalam hutan nanti. Yang perlu kalian cari adalah setiap gulungan berwarna putih dan hitam yang harus kalian cari di setiap rute yang kalian lewati. Dan, yang paling banyak mendapat gulungan itu serta yang paling cepat datang di perkemahan ini, akan mendapatkan petunjuk selanjutnya. Tak ada yang perlu ditanyakan 'kan? Semuanya sudah jelas?" tanya guru Kim yang dibalas seruan 'nde' kompak dari para siswanya.
"Kalau begitu, ketua kelompok silahkan mengambil rutenya pada Lu ssaem dan mungkin ada beberapa instruksi selanjutnya yang akan diberitahukan beliau." lanjut guru Kim. Sementara para siswa mulai berkasak-kusuk dengan teman-teman mereka masing-masing.
Tak berapa lama para ketua kelompok kembali ke tempat anggota kelompok mereka masing-masing.
"Kita bisa berangkat sekarang." tutur Doojoon dengan rute yang berada di tangannya. "Oya, tadi Lu ssaem juga mengatakan peraturan tambahan, setiap kelompok harus ada dua orang yang pergi terakhir untuk mencari gulungan yang berwarna merah. Jadi, siapa yang mau menjadi relawan?" tanya Doojoon menatap kesembilan anggota kelompoknya yang tampak diam tak peduli. Doojoon menarik nafas, diam-diam ia menarik senyum simpul. Tepat seperti dugaannya. Seluruh anggota kelompoknya dalam keadaan mood yang buruk.
"Jika tidak ada yang mengajukan diri bagaimana jika Min Yoongi dan Park Jimin?" tanya Doojoon yang hal itu membuat Minhyuk dan Joohyun hendak menyerukan protes sebelum—
"Baiklah!" suara Jimin yang menyetujui dengan mudah. Tidak hanya Minhyuk dan Joohyun yang terkejut tapi Doojoon dan Yoongi juga sama terkejutnya. Apa ini? Jimin tidak membantah sama sekali? Doojoon berdehem dan melirik kearah Yoongi yang masih pada mode shock-nya.
"ah~ aku juga setuju jika Jimin setuju." Doojoon mengangguk.
"Ini rute untuk kalian berdua. Kalian bisa pergi setelah kami pergi." Doojoon menyerahkan kertas pada Yoongi yang dibalas anggukan singkat dari pemuda pucat itu. Yoongi menatap Doojoon yang mengangguk sekali padanya. Yoongi menarik nafas dan tampak mengedikkan bahunya tak peduli.
.
.
.
.
.
Sudah 30 menit Jimin dan Yoongi berjalan meninggalkan perkemahan dan selama itu pula keduanya hanya larut dalam keheningan masing-masing. Jimin yang terlalu fokus pada rute yang awalnya berada di tangan Yoongi dan ia minta setelah mereka meninggalkan perkemahan, sehingga jadilah ia yang memimpin perjalanan antara ia dan Yoongi. Sementara Yoongi, hanya berjalan mengekor di belakangnya.
Yoongi tanpa henti mematai punggung Jimin yang berjalan di depannya. Ada begitu banyak hal yang memenuhi kepalanya, yang tentu saja itu berkaitan dengan pemuda manis yang berjalan memimpinnya saat ini.
"Park Jimin!" panggil Yoongi tiba-tiba, Jimin menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Yoongi dengan wajah datar andalannya.
"Kau lelah? Jika kau lelah, kita bisa istirahat sebentar." saran Yoongi yang hanya didiami oleh Jimin. Jimin menatap Yoongi lamat, kemudian ia mengangguk kecil.
"Baiklah, kita istirahat sebentar," tutur Jimin menyetujui dan memilih untuk duduk di bawah pohon yang tak jauh darinya. Yoongi pun ikut duduk tapi tak disamping Jimin melainkan di seberang Jimin yang kebetulan juga ada pohon besar tepat tak jauh di depan Jimin duduk.
Kedunya saling bertatapan. Mengatakan segal hal melalui tatapan itu, hingga akhirnya Jimin yang memutuskan kontak mata dengan Yoongi.
"Kenapa kau tidak membantah ketika diminta Doojoon pergi bersamaku?" tanya Yoongi memecah keheningan. Jimin tak langsung menjawab justru ia lebih memilih untuk menggambar di tanah dengan ranting pohon di dekat kakinya.
"Aku malas berdebat!" jawab Jimin tanpa menatap kearah Yoongi.
"Kau malas berdebat atau—" Jimin segera mengangkat wajahnya dan seketika itu ia melihat senyum jenaka di wajah tampan Yoongi.
"ayolah, sunbaenim~ jangan kau pikir aku bersedia pergi hanya karena kau yang pergi." sinis Jimin yang dibalas senyuman simpul di bibir Yoongi.
"Baiklah, jika kau mengelak. Aku lebih tahu jawabannya dari kedua matamu." Jimin terdiam dan mematai Yoongi intens.
"Kenapa aku merasa kau sudah lama mengenalku? Ah~ bukankah kau memang sudah lama mengenalku?" tanya Jimin yang membuat Yoongi tergelak.
"em.. aku—" Jimin tersenyum tipis, saking tipisnya nyaris tak menyerupai senyuman.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" tanya Jimin. Yoongi mengedikkan bahunya mempersilahkan. "Tentang malam itu—ketika kau menggendongku dari tempat haraboji, aku mendengar semuanya."
"mwo?" Yoongi membulatkan kedua matanya terkejut. "apa—yang kau dengar?" Jimin menarik nafas dan menatap Yoongi dengan pandangan tak terbaca.
"tentang—aku yang menanyakan soal keberadaan ayahmu dan ayahnya Hoseok sunbae di figura itu." Yoongi tergelak, keringat dingin mulai membanjiri wajah tampannya.
"k-kau..."
"Aku sadar sepenuhnya ketika menanyakannya." lanjut Jimin yang tentu saja menghasilkan keterkejutan di wajah Yoongi. "Dan aku dengar dengan jelas jawabanmu malam itu."
"Kau tidak sedang mabuk?" Jimin tersenyum manis.
"Aku mabuk, tapi—aku bukan orang bodoh yang dapat dengan mudah kesadaranku dikuasai oleh sebotol soju."
"Jadi, sebelum di cafetaria itu kau sudah tahu tentang aku dan yang lainnya?" tanya Yoongi. Jimin mengangguk kecil. "Tapi, kenapa kau terlihat marah dan seperti tidak tahu apa-apa?"
"Aku harus melakukannya, karena kau juga tidak tahu jika aku mendengarkanmu malam itu." jawab Jimin santai. Bahkan, menurut Yoongi terlalu santai untuk membahas hal yang terbilang cukup sensitif. "Aku melakukannya karena—ada banyak mata yang mengawasi kita semua," Yoongi mengeryit tak mengerti. Seketika ungkapan Jimin membuatnya teringat dengan ucapan Hoseok semalam yang mengatakan bahwa ia merasa ada yang mematai mereka tapi harus terpotong karena kedatangan Doojoon.
"Ada seseorang yang ingin mengadu-dombamu dan teman-temanmu, dan karena itulah aku tidak bisa mempercayai siapapun untuk sekarang ini." Yoongi masih dalam mode terkejutnya. Dan, selanjutnya Yoongi menatap Jimin dengan kerutan di dahinya karena terlalu berfikir keras, hal itu mengundang tawa dari Jimin.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Yoongi agak tersinggung. Jimin menarik nafas.
"aigoo hyungnim, kenapa wajahmu serius sekali? Santai saja, lagi pula bukankah kau pernah bertanya siapa orang yang paling aku percayai sekarang ini?" tanya Jimin. Yoongi mengangguk cepat. Sungguh, ia benar-benar sangat penasaran meskipun ia cukup senang ketika Jimin sempat melontarkan candaan padanya.
"Aku akan memberitahumu."
"jinjja?" Jimin mengangguk yakin.
"Ketika kau mengajakku pergi waktu itu, kau sempat bertemu dengan orangnya."
"Benarkah?" Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya. Jimin mengangguk membenarkan. Kemudian, ia mengingat-ingat siapa saja orang yang ia temui ketika keluar bersama Jimin waktu itu. Mulai dari, si pemilik kedai es krim, ke taman bermain yang sama sekali tidak ada satu orang pun yang ia temui hingga Sundae haraboji.
"oh! Apa maksudmu, Sundae haraboji?" tanya Yoongi menebak. Jimin tersenyum manis membuat Yoongi yakin jika jawaban dari pertanyaannya adalah benar. "Tapi, bagaimana bisa?" Jimin berfikir sejenak, tampak mengingat.
"Karena Sundae haraboji adalah satu-satunya orang yang menceritakan padaku seperti apa sosok kedua orang tuaku," Jimin mulai bercerita dan Yoongi mendengar dengan saksama. "Aku tak sengaja bertemu dengan beliau ketika tahun pertamaku di RC tepat tak jauh dari rumahnya. Dan aku semakin terkejut ketika aku belum mengenalkan diriku pada beliau, dia langsung menyebut namaku seolah bahwa kami berdua saling mengenal. Dari situlah, Sundae haraboji mulai menceritakan bagaimana masa kecilku."
"Tapi darimana Sundae haraboji mengenal kedua orang tuamu?" tanya Yoongi.
"Sundae haraboji, tidak menjawab pertanyaanku ketika aku bertanya. Hanya saja, beliau berpesan untuk tidak mempercayai siapapun jika itu berkaitan dengan kedua orang tuaku dan memanfaatkanku yang sedang hilang ingatan. Karena entah kenapa haraboji merasa bahwa mungkin suatu saat nanti ada yang berniat—kau tahu maksudku, 'kan?" jawab Jimin. Yoongi terdiam dan memandang Jimin lamat yang hal itu entah kenapa menimbulkan kegugupan pada Jimin sendiri.
"a-ada apa?"
"Apakah bisa jika aku juga menjadi orang yang kau percaya?"
"huh?" Jimin mengerjapkan kedua matanya lucu dan Yoongi beranjak dari duduknya untuk berjalan mendekati Jimin. Jimin mendongak dan Yoongi menunduk hingga kedua mata mereka saling bertatapan. Yoongi berjongkok di depan Jimin dan menggenggam kedua tangannya lembut.
"Aku tidak perlu cemas jika orang yang kau percaya adalah Sundae haraboji, karena aku yakin beliau memang orang yang tepat untuk dipercaya. Tapi, bisakah kau juga mempercayaiku?" pinta Yoongi serius. Jimin terdiam dan hanya menatap kedua mata Yoongi yang entah kenapa Jimin bisa melihat kecemasan di balik manik hitam itu.
"Jimin—"
"Aku juga ingin seperti itu." jawab Jimin memotong ucapan Yoongi. "Aku ingin—aku juga ingin mempercayaimu tapi—"
"wae? Karena ayahku?" Jimin menggeleng. Ingin sekali ia berteriak dan mengatakan pada Yoongi jika ia sudah mengingat semuanya dan ingin menceritakan yang sebenarnya pada sosok tampan di depannya ini, yang juga berkaitan dengan dirinya tidak hanya Jimin sendiri.
"aniyo... hanya saja—" Jimin menghentikan ucapannya dan menatap Yoongi ragu. Yoongi tersenyum kecil ia tahu jawabannya di balik mata indah Jimin yang menyiratkan keraguan di dalamnya.
"gwenchana. Aku mengerti, pasti sulit untukmu mempercayai orang yang berasal dari masa lalumu. Aku hanya ingin kau bisa membagi semuanya padaku. Apa yang kau rasakan, kesakitanmu, kebingunganmu, keluh-kesahmu, dukamu, bahagiamu, semuanya. Aku ingin menjadi orang yang selalu bisa mengobatimu, menjagamu, dan selalu berada di sisimu. Aku ingin—"
Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya ketika Jimin yang tiba-tiba saja mencium bibirnya tepatnya hanya menempelkan bibir tebal Jimin diatas bibir Yoongi. Yoongi dapat melihat Jimin yang memejamkan kedua matanya dengan ekor matanya yang mengeluarkan bulir air matanya. Hal itu, turut membuat Yoongi memejamkan kedua matanya dan mengambil alih bibir Jimin menjadi ciuman dengan air mata Jimin yang turun hingga ke sela-sela bibir mereka. Yoongi melumat bibir Jimin lembut, kelewat lembut dan penuh kehati-hatian seolah bibir Jimin sangat rawan terluka. Hingga, ciuman yang berlangsung selama kurang lebih lima menit itu diputus sepihak oleh Jimin.
"Aku rasa—kita harus melanjutkan perjalanan kita, sunbaenim." ajak Jimin menolak untuk menatap mata Yoongi yang tengah menatapnya penuh luka. Jimin beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Yoongi yang masih termangu dengan kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan Jimin.
.
.
.
.
.
Jika kelompok yang diketuai oleh Yoon Doojoon terdapat Jimin dan Yoongi yang pergi untuk mencari gulungan merah, maka kelompok yang diketuai oleh Kim Namjoon sendiri, yang pergi untuk mencari gulungan merah adalah Kim Seokjin dan Jeon Jungkook. Bedanya, ini bukan seperti Doojoon yang harus menunjuk Jimin dan Yoongi terlebih dahulu, tapi Jungkook dan Seokjin sendirilah yang menawarkan diri. Tepatnya, Jungkook yang pertama kali mengatakan jika ia ingin pergi bersama Seokjin dan tentu saja Seokjin tidak akan keberatan jika Jungkook yang meminta.
"hyung!" panggil Jungkook setelah perjalanan satu jam mereka tanpa istirahat dan tanpa percakapan berarti. Seokjin hanya bergumam dan masih terfokus untuk mencari gulungan merah di sekitarnya. Jungkook menggigit bibir bawahnya gugup.
"Ada apa Kookie-ya?" tanya Seokjin akhirnya bersuara setelah Jungkook tak kunjung memberikan pertanyaan atau semacamnya setelah memanggilnya. Seokjin menatap Jungkook yang terlihat cemas tanpa sebab dan wajahnya yang memucat.
"waeyo? Apa kau sakit? Kau lapar? Kita bisa istirahat dulu." Jungkook menggeleng. Jungkook memejamkan kedua matanya dan menarik nafas, menenangkan diri.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi berjanjilah padaku untuk tidak mengatakannya pada siapapun termasuk Hobi hyung, bahkan kedua orang tuamu sekalipun." pinta Jungkook serius.
"Jangan membuatku takut Jungkook-ah." Jungkook kembali menggigit bibir bawahnya.
"Berjanjilah padaku hyung!" paksa Jungkook.
"arraseo arraseo! Katakan, ada apa denganmu." Jungkook kembali terdiam, ia menunduk.
"Kookie-ya~" panggil Seokjin yang membuat Jungkook langsung mengangkat wajahnya dan menatap Seokjin cemas.
"Jimin hyung sudah ingat semuanya."
"MWO?!" pekik Seokjin kelepasan.
"Jangan keras-keras, hyung!" seru Jungkook was-was jikalau ada yang mendengar percakapan ia dan Seokjin.
"Kau sedang tidak membohongiku 'kan?" Jungkook menggeleng cepat.
"aniyo! Jimin hyung sendiri yang mengatakannya padaku tepat setelah Yoongi hyung dan Doojoon sunbae membawa Tae hyung ketika ia terluka. Tepat setelah, Jimin hyung yang memberikan jaketnya padaku. Dia mengatakan semuanya padaku. Bahkan, dia juga mempertegas semua itu semalam!" terang Jungkook. Seokjin tak tahu harus merespon bagaimana, ia tak menyangka jika apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
"Dia memanggil ayahku dengan sebutan 'samchon'. Kau tahu hyung? Suaranya sama seperti Jimin hyung kita yang dulu. Bahkan dia mengatakan jika aku adalah orang yang dulu dia anggap sebagai adiknya. Seseorang yang dulu dia jaga, tapi aku sama sekali tidak bisa menjaganya sampai sekarang. Dan hyung—" suara Jungkook tercekat. "Dia bukan lagi orang yang sama."
"Apa maksudmu?!" seru Seokjin cemas melihat Jungkook yang sudah berlinang dengan air mata dan mimik wajahnya yang terlihat panik.
"Dia mengatakan bahwa Jimin yang sekarang bukanlah Jimin yang dulu. Aku melihat sorot matanya yang penuh kebencian dan penuh luka. Ada banyak penderitaan di mata itu. Dan, hyung tahu? Dia mengatakan bahwa hanya ia yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bahkan tidak hanya pada keluarganya tapi juga pada keluarga kita, hyung!" Seokjin tergelak. Jantungnya berdegup sangat cepat.
"Apa dengan kata lain—orang tuamu, orang tuaku, dan orang tua mereka semua.. masih menyembunyikan sesuatu dari kita?" tebak Seokjin. Jungkook terdiam. "Tapi, sejak kapan Jimin ingat semuanya?"
"Entahlah hyung, awalnya ia hanya menanyakan tentang keberadaan figura itu. Ada kemungkinan, figura itulah yang membuat ingatan Jimin hyung kembali." Jungkook menebak yang diangguki oleh Seokjin.
"Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Seokjin cemas.
"hyung, bukankah kita juga harus mencari tahu semuanya? Ini bukan hanya menyangkut tentang Jimin hyung, tapi juga tentang kita semua." Seokjin mengangguk.
"nde, kau benar. Dan untuk sementara kita harus merahasiakan semua fakta mengerikan ini—terutama ingatan Jimin yang memulih,"
"nde hyung, dan aku harap. Kebenaran yang kita cari, bukanlah kebenaran yang mengerikan."
"Aku juga mengharapkan hal yang sama. Entah kenapa, firasatku buruk tentang ini." Jungkook mengeryitkan keningnya dan Seokjin yang merasa pening dengan semua fakta yang baru ia ketahui dari Jungkook. Sungguh, ini diluar dugaannya.
.
.
.
.
.
Jimin masih saja berjalan dalam diam di depan Yoongi dan Yoongi yang masih saja mengekori Jimin. Yoongi menarik nafas dan menggelengkan kepalanya kasar ketika ingatannya memutar saat Jimin menempelkan bibir Jimin ke bibirnya. Sungguh, ia tidak pernah membayangkan hal itu terjadi di situasi seperti ini. yah, meskipun ia akui—ia ingin merasakan lagi bibir manis itu. Bagaimana Yoongi harus menggambarkan rasa bibir Jimin itu? ukh! Berhenti otak mesum.
Tap!
Yoongi mengeryitkan keningnya dan menghentikan langkahnya ketika Jimin yang tiba-tiba saja berhenti melangkah di depannya. Dan tak merasa ada kejanggalan sedikitpun, Yoongi berjalan santai mendekati punggung Jimin dan sedetik itu juga ia membulatkan kedua matanya kala melihat seekor anjing liar yang jika ia tidak salah mengira panjangnya sekitar 99,99cm, okay ini Yoongi hanya mengarang karena sungguh ia tidak tahu itu anjing atau serigala? Taringnya, kuku panjangnya, air liurnya yang menetes di mulutnya yang menggeram hingga kedua matanya yang tengah mengarah pada Jimin seolah Jimin adalah hidangan makan malamnya. Oh shit, bahkan anjing liar pun tertarik pada yang manis-manis dan cantik-cantik.
"j-jangan bergerak hyung~" lirih Jimin ketakutan. Yoongi segera menoleh kearahnya.
"Tapi kau—"
"Diamlah, sunbae!" seru Jimin yang diiringi geraman lebih keras dari anjing liar itu. Yoongi jadi heran sendiri pada Jimin, pemuda manis itu kadang-kadang memanggilnya sunbae, dan kadang-kadang memanggilnya dengan sebutan hyung. Baiklah sesukanya saja asalkan pemuda manis itu tidak menyuruhnya untuk menjauhinya setelah—okay cukup! Ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal yang untuk sekarang sama sekali tidak penting, khususnya di situasi genting seperti ini.
"Jim—"
"hyung~" Yoongi bersumpah, ia mendengar suara Jimin bergetar ketakutan yang hal itu membuat Yoongi semakin gigih untuk melindungi pemilik hatinya, termasuk jika memang dirinya berakhir dengan luka. Apapun, asalkan Jimin-nya baik-baik saja.
"hyung pergilah!"
"Apa katamu?!" amuk Yoongi kesal.
"Tapi, jangan berlari. Dia akan mengejarmu nanti. Berjalanlah pelan, aku akan mengawasinya."
"Apa kau gila?! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Tapi, aku tidak mau kau terluka hyung!" seru Jimin menatap Yoongi dengan kedua matanya yang berkaca. Tangan Yoongi terangkat untuk menghapus air mata kekhawatiran yang mengalir di pipi Jimin-nya.
"Dengar, kita akan menghadapi ini bersama-sama. Aku akan melindungimu dan kupastikan kau baik-baik saja." Jimin menggeleng cepat.
"Aku mohon hyung, aku takut kau terluka. Aku sungguh ketakutan!" Yoongi membawa Jimin kepelukannya dan menenangkan pemuda manis itu. Tangannya tanpa henti mengelus surai Jimin sementara kedua matanya mematai gerak-gerik si anjing liar yang perlahan berjalan kearah mereka.
"Tenanglah, aku janji kau baik-baik saja. Aku disini, kau tidak sendiri." Yoongi terus membisikkan kata-kata penenang dan membawa Jimin berjalan mundur di pelukannya ketika anjing liar itu terus berjalan maju mendekati mereka.
'oh sial! Apa yang harus aku lakukan?!'
Yoongi panik bukan main, tidak apa jika ia sendiri. Tapi, ini? Ia bersama dengan Jimin dan tentu saja ia tidak mau terjadi sesuatu pada pemuda manis itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Jimin bagaimanapun keadaannya.
Yoongi berjalan mundur berusaha untuk tidak menimbulkan suara dengan Jimin yang masih berada di pelukannya dan memancing anjing liar itu untuk menyerangnya. Jantung Yoongi berdetak cepat, bukan karena Jimin berada di pelukannya tapi lebih karena kecemasannya jika Jimin terluka akibat kelalaiannya, terlebih ketika ia melihat anjing liar itu mempercepat keempat kakinya untuk berjalan mendekatinya dan Jimin, bahkan tanpa persiapan apapun Yoongi dibuat terkejut ketika anjing liar itu menerjang kearahnya dan Jimin, yang membuatnya spontan memutar tubuh Jimin yang berakibat anjing liar itu yang menubruk punggungnya.
Bruk!
Jimin dan Yoongi terjatuh dengan posisi Yoongi yang menindih diatas Jimin masih menamenginya dan dapat Jimin lihat Yoongi yang meringis tertahan, ia yakin punggungnya pasti terluka.
"hyungnim, gwenchana?" tanya Jimin cemas bukan main. Yoongi mengangguk.
"gwenchanayo!" balas Yoongi menunjukkan wajah baik-baik saja di depan Jimin.
"ta-tapi kau—"
"ssst~" Yoongi menggeleng. "Aku sungguh baik-baik saja, apa kau baik?" Jimin mengangguk cepat namun kemudian kedua matanya melebar ketika anjing liar itu kembali muncul dan seperti hendak mencabik-cabik punggung Yoongi.
"HYUNG!" seru Jimin yang membuat Yoongi tersadar jika akan ada bahaya yang datang, dan benar saja Yoongi merasakan tubuhnya tertimpa anjing liar yang ia tebak berat badannya mungkin sampai dua kali lipat lebih berat dari berat badannya. Sungguh, ini benar-benar berat.
Melihat bahaya mengancam, tangan kanan Yoongi dengan erat bertengger di pinggang Jimin, menjaga pemuda manisnya sementara tangan kirinya ia gunakan untuk memukul kepala anjing yang berada di atasnya dengan keras. Anjing liar itu terjatuh meskipun jaraknya masih cukup dekat dengan tempat Yoongi dan Jimin berada. Anjing itu kembali menggeram tanda bahwa ia sudah mengamuk dan langsung berlari kearah Yoongi yang masih mencoba untuk menjadi tameng Jimin.
"hyung, kau tidak apa? Kau terluka..."
"Aku tidak apa Jiminie. Kau—"
Grrr~
Anjing itu kembali menggeram, mendekati punggung Yoongi dan mencakar punggung yang pernah menjadi sandaran Jimin.
"ARGH!" seru Yoongi memeluk Jimin erat yang membuat Jimin tak bisa hanya berdiam diri dan melihat orang yang meminta kepercayaan darinya, orang yang menjadi penjaganya di masa kecil, orang yang sangat ia rindukan, bahkan orang yang sangat ia cintai—terluka di depan matanya. Tidak! Jimin tidak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup kedua orang tuanya yang meninggalkannya, ia tidak mau merasakan kehilangan lagi. Ia tidak akan sanggup terlebih orang itu adalah Min Yoongi—pangeran kecilnya.
TBC
(-) I'm back today! Adakah yang nungguin ff ini? Atau nungguin saya /Plak!/ Maaf ngaretnya kebangetan, hehe.. maklum lagi sibuk-sibuknya. Dan aku harap ini lanjutannya enggak mengecewakan ya.. Maap kalau typo-nya masih bertebaran.
(-) haha, jujur deh aku sendiri gemes sama peran Yoongi di ff ini, dia cuek ke orang lain tapi kalau sama Jimin, aduuuh... itu si swag pengen karungin dan pandang tiap hari dirumah. Buat nobatin kangen sama bangtan, kkkk /Maapkeun saya, efek lelah!/
(-) Okey cukup sekian deh, see you in next chapter. And, last.. terima kasih untuk para reader semua yang udah nyempetin buat baca, follow, fav bahkan sampai review... Bener2 terima kasih ya.. semua saran, masukan, pujian (?), perbaikan, semuanya... thx all, love you :*
Kamsahamnida,
