Previously ...

"hyung, kau tidak apa? Kau terluka..."

"Aku tidak apa Jiminie. Kau—"

Grrr~

Anjing itu kembali menggeram, mendekati punggung Yoongi dan mencakar punggung yang pernah menjadi sandaran Jimin.

"ARGH!" seru Yoongi memeluk Jimin erat yang membuat Jimin tak bisa hanya berdiam diri dan melihat orang yang meminta kepercayaan darinya, orang yang menjadi penjaganya di masa kecil, orang yang sangat ia rindukan, bahkan orang yang sangat ia cintai—terluka di depan matanya. Tidak! Jimin tidak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup kedua orang tuanya yang meninggalkannya, ia tidak mau merasakan kehilangan lagi. Ia tidak akan sanggup terlebih orang itu adalah Min Yoongi—pangeran kecilnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Bugh!

Yoongi kembali memukul wajah anjing itu dengan tangannya yang mengakibatkan anjing liar itu tersungkur karena pukulan keras Yoongi. Yoongi terengah dan ia berusaha menyembunyikan rasa sakit dipunggungnnya di hadapan Jimin, tidak—ia tidak ingin Jimin mencemaskannya.

"Jiminie, dengar! Pergilah cari pertolongan, aku akan—"

"aniyo!" Jimin menggeleng keras. "Aku tidak mau meninggalkanmu. Seperti apa yang kau katakan sebelumnya. Kita hadapi ini bersama-sama."

"Tapi, kau bisa terluka dan aku tidak ingin kau terluka."

"Dan apa kau pikir aku mau kau terluka? Hyung, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Dan jika aku meninggalkanmu, ada kemungkinan aku tidak bisa melihat wajahmu lagi. Aku tidak mau, hyung!" Yoongi lebih tepatnya karena sang anjing yang kembali berlari dan menerjang tubuhnya membuat tubuh Yoongi yang awalnya menjadi tameng Jimin langsung tersingkir dari atas tubuh Jimin.

Jimin gelagapan melihat Yoongi yang menendang anjing itu karena anjing itu sempat menindihnya. Jimin mengedarkan pandangannya sampai kedua matanya mendapati sebuah kayu lumayan besar. Jimin mengambil kayu itu dan—

BUG!

Ia memukul kepala anjing yang hendak menjabik tubuh Yoongi dengan gigi taringnya. Jimin teriris ketika mendapati Yoongi yang sudah terkulai lemas dengan tubuhnya yang bersimbah darah. Tubuh Jimin bergetar melihat Yoongi yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri. Dan ini kesempatan Jimin untuk menjadi tameng Yoongi.

Grrr~

Anjing itu menggeram dan berjalan mendekati Jimin. Jimin mengeratkan pegangannya pada kayu yang ia ambil untuk memukul anjing itu. Dan tanpa perhitungan Jimin, anjing itu menerjang Jimin dan mencakar lengannya.

"argh~" ringis Jimin pada lengannya yang sobek. Kemudian tanpa menunggu waktu lagi Jimin langsung melayangkan kayu yang ia bawa pada kepala anjing. Jimin memejamkan kedua matanya dan—

Crooosh~

Jimin memalingkan wajahnya setelah ia berhasil membutakan mata anjing liar itu dengan kayu yang ia bawa membuat anjing itu berlari tunggang-langgang dan menabrak pohon-pohon yang ada di sekitarnya.

Dan kesempatan ini tidak Jimin sia-siakan. Ia berjalan mendekati tubuh Yoongi dan merobek kemeja yang ia kenakan. Jimin mengikat sobekan kemejanya pada lengan Yoongi yang terluka serta kaki Yoongi yang juga terluka.

"hyung, bertahanlah hyung. Aku mohon!" Jimin mulai terisak dan terlalu fokus pada keadaan Yoongi hingga ia tak menyadari jika anjing yang sudah ia butakan berlari menubruknya.

BRUK!

"ARGH!" seru Jimin meraung karena anjing itu tak sengaja mengigit bahunya dalam. Jimin menoleh dan memukul kepala anjing itu keras membuat anjing itu tersungkur. Jimin berdiri dengan tangannya yang memegang bahunya yang tergigit bersamaan dengan anjing itu yang tampaknya sekarang menggunakan pendengarannya untuk mencari dimana keberadaan Jimin.

Jantung Jimin berpacu cepat, ia harus cepat menyelesaikan ini dan membawa Yoongi keperkemahan. Dan sesuai dengan dugaan Jimin, anjing itu menggunakan pendengarannya untuk menemukan mangsanya dan dengan tepat berjalan kearahnya. Jimin mencoba untuk mengecoh agar anjing itu tidak berada di dekat Yoongi. Kedua tangan Jimin menggenggam erat kayu yang masih ia bawa dan siap ia layangkan pada kepala anjing itu.

Grrr~

Anjing itu menggeram seolah tahu jika Jimin tengah mempersiapkan diri untuk memukul kepalanya. Jimin meneguk ludahnya susah, ia tidak tahu kapan anjing itu akan bergerak menyerangnya dan—

BRUK!

DUAGH!

Tanpa Jimin perhitungkan lagi anjing itu menerjangnya dengan cepat dan mencakarnya tepat mengenai dadanya. Dan setelah mendapat cakaran, Jimin dengan sekuat tenaga memukul kepala anjing itu membuat anjing itu tersungkur dan terbentur pohon besar. Tubuh Jimin bergetar, ia tidak tahu anjing itu sudah mati atau hanya pingsan yang jelas ia tidak akan menyianyiakan kesempatan ini untuk pergi dan menyelamatkan Yoongi tanpa memperdulikan jika ia juga terluka sama parahnya dengan sosok yang kini sudah ia papah perlahan.

Jimin berjalan membawa tubuh Yoongi yang sudah tidak sadarkan diri. Ia meringis, menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya yang terluka dan darahnya yang terus keluar dari lengannya bahkan dadanya.

Bruk!

Jimin tersandung, alhasil membuat tubuhnya dan tubuh Yoongi terjatuh. Ia ingin menangis karena rasa sakit dan cemas yang ia rasakan. Sakit karena lukanya dan cemas karena keadaan Yoongi.

"Bertahanlah, hyung. Aku mohon!" harap Jimin diiringi isakan dan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.

Jimin kembali memapah tubuh Yoongi, dan berkali-kali jatuh bersamaan tapi ia juga tak pernah menyerah dan ia terus berjalan meskipun kesulitan. Tanpa henti Jimin terus menggumamkan kata 'baik-baik saja' dan 'bertahanlah'. Karena, ia tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Yoongi, Yoongi-nya.

.

.

.

.

.

Langit sudah hampir petang. Seluruh siswa RC juga sudah kembali ke perkemahan setelah menyelesaikan kegiatan mereka hari ini, sekitar 2 jam yang lalu. Dan selama itu pula, Jimin dan Yoongi belum juga kembali, membuat hampir seluruh siswa dan guru menunggu cemas kedatangan kedua siswanya itu.

"Bagaimana?" tanya Seokjin pada Doojoon setelah Doojoon keluar dari tenda panitia.

"Jika dalam waktu 30 menit ke depan, Jimin dan Yoongi belum kembali. Seluruh anggota dewan siswa harus keluar untuk mencarinya." jawab Doojoon wajahnya tak kalah panik dengan Seokjin. Kedua matanya bergulir cemas dan menatap ke segala arah, bahkan ketika ia menjawab pertanyaan Seokjin, Doojoon sama sekali tak menoleh kearah pemuda cantik itu.

"gwenchanayo?" tanya Seokjin. Doojoon menggeleng cepat.

"aniyo, aku benar-benar sangat mencemaskan mereka." balas Doojoon tak tenang.

Semua orang gusar menunggu, berjalan kesana kemari dan selalu menatap kearah hutan. Berdoa dalam hati semoga dua orang yang mereka tunggu cepat datang dalam keadaan baik-baik saja.

"sunbaenim, tidakkah kita harus mencarinya sekarang saja?" tanya Jungkook entah muncul darimana dan bergabung dengan Seokjin dan Doojoon.

"Kami semua sudah sepakat jika—"

"Aku tahu. Kau sendiri cemas, sunbaenim! Sama halnya dengan kami. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka? Ini sudah terlalu lama!" amuk Jungkook tak sabar.

"Aku juga ingin mencari mereka sekarang juga tapi—"

"Itu mereka!" seru seorang siswa kelas satu menunjuk arah jalan ke dalam hutan dan nampaklah siluet dua orang yang jaraknya masih cukup jauh dari perkemahan. Dan meskipun jaraknya cukup jauh, mereka yakin jika kedua orang itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hal itu membuat Doojoon, Seokjin, Jungkook, Taehyung, Namjoon, Hoseok, Jinyoung, Minho, Myungsoo, Daehyun, Minhyuk, hingga Chanyeol berlari kearah dua orang yang kedatangannya sudah mereka tunggu.

"astaga~" pekik Seokjin terkejut bukan main ketika melihat keadaan Yoongi yang sudah tidak sadarkan diri dan dipapah oleh Jimin sementara wajah Jimin yang pucat pasi dengan tubuhnya yang bersimbah darah. Dengan segera, Namjoon, Taehyung, Hoseok, Jinyoung dan Minho mengambil alih tubuh Yoongi dari Jimin.

BRUK!

"JIMIN!" tepat saat kelima orang itu membawa tubuh Yoongi bersamaan dengan itu pula, Jimin yang langsung jatuh pingsan tepat di pelukan Seokjin yang kebetulan berada di depannya.

.

.

.

Kling~

Jimin membuka kedua matanya ketika ia mendengar suara bel pintu yang tertangkap kedua telinganya. Jimin mengeryit bingung ketika mendapati dirinya berada di tempat asing yang tak ia kenali tapi terasa familiar untuknya. Jimin menunduk untuk melihat penampilan dirinya yang mengenakan setelan formal berwarna putih dan duduk di pojok sebuah restoran mewah seorang diri. Jimin mengerjapkan kedua matanya, mencoba untuk menyesuaikan. Kemudian, ia meraba-raba tubuhnya yang seingatnya ia tengah terluka dan bersimbah darah tapi sekarang? Bahkan ia tidak merasakan sakit apapun di seluruh bagian tubuhnya.

Jimin mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran dan dapat ia lihat beberapa pasang orang tua serta tujuh bocah laki-laki yang duduk melingkar di meja besar yang jaraknya cukup jauh darinya. Dan entah naluri darimana, Jimin bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja dimana orang-orang yang ia rasa sangat ia kenali berada.

Jimin menghentikan langkahnya tepat disisi ujung meja besar itu, tubuhnya bergetar saat ia melihat dua wajah yang tak bisa lagi ia lihat di dunia dan tanpa sadar, Jimin meneteskan air matanya penuh rindu.

"Eomma~ appa~" lirih Jimin ingin sekali memeluk mereka.

Jimin menatap lamat-lamat wajah kedua orang tuanya yang terlihat begitu menyayangi Jimin kecil yang berada di pangkuan sang ayah dengan tangannya yang terus mengelus perut buncit ibunya.

Jimin tersenyum miris, andai kata ia diberi satu kesempatan untuk bersama kedua orang tuanya bahkan memiliki kesempatan untuk menyaksikan kelahiran adiknya, meskipun hanya satu hari. Jimin benar-benar tidak akan menyianyiakan kesempatan itu.

Jimin mengalihkan pandangannya ke wajah-wajah yang duduk memutari meja bersama kedua orang tuanya, wajah-wajah yang sama persis dengan wajah-wajah yang berada di figura yang ia dapat. Jimin menatapi lamat wajah itu satu persatu, kemudian ia tersenyum kecil.

"Apakah kalian tahu, jika aku tidak pernah membenci kalian?" gumam Jimin. "Meskipun, kalian semua sempat tidak mempercayai ayahku tapi—aku mengerti kalian juga berada di posisi yang sulit." Jimin mengulas senyum, kini pandangannya tertuju pada Jungkook kecil yang kedua matanya berbinar lucu. Tanpa sadar, Jimin terkekeh. "hah! Aku tidak menyangka jika kau tumbuh menjadi anak nakal."

Setelah puas memandangi orang-orang itu, Jimin berjalan meninggalkan restoran. Jimin mengedarkan pandangannya di sepanjang jalan trotoar yang ia lewati. Ia merasa aneh dengan lingkungan di sekitarnya, dimana tempat-tempat yang dulu ia habiskan ketika kanak kini berada di sekelilingnya. Jimin memutar tubuhnya. Benar saja, tempat-tempat itu saling berjejeran dan berseberangan. Bahkan ia dapat melihat rumahnya termasuk rumah-rumah yang sering ia kunjungi saling berjajar tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Jiminie!" seru suara beberapa orang yang berasal dari belakangnya. Jimin segera berbalik badan dan melihat bocah manis yang berlari mendekati enam bocah yang tadi berseru memanggilnya.

Jimin mengulum senyum, merindukan moment-moment dimana ia menghabiskan waktu mainnya bersama keenam sahabat kecilnya di taman bermain ini. ah, taman bermain? Jimin mengedarkan pandangannya pada taman itu dan seketika ia teringat jika Yoongi pernah mengajaknya ke taman yang sama ketika pemuda tampan itu mengajaknya keluar.

Jimin melangkah memasuki taman bermain itu dan mendekati dua ayunan yang saling berderit bersahutan. Tangan Jimin terulur untuk memegang tiang ayunan dan menatapi tiang itu dengan pandangan rindu. Jimin menunduk untuk melihat tempat duduk ayunan yang seolah-olah memanggilnya untuk ia duduki.

Maka disinilah Jimin, memilih untuk duduk dan menatap ayunan di sampingnya. Jimin tersenyum kecil saat melihat Jimin kecil yang terlihat begitu riang dan tertawa lepas sementara ayunannya di dorong oleh salah satu bocah yang tadi Jimin kecil panggil dengan sebutan 'hyung', tapi Jimin tidak ingat siapa bocah kecil yang sedang mendorong ayunan yang sedang Jimin kecil duduki.

"Uh?" Jimin mengerjapkan kedua matanya terkejut ketika ayunan di sampingnya tiba-tiba kosong dan tak mengayun sama sekali. Jimin mengedarkan pandangannya dan juga mendapati suasana taman yang sudah sepi menyisakan dirinya.

"Kau tidak boleh berada disini, Jimin sayang." Jimin menoleh saat mendengar suara lembut dan mendapati pria tampan yang duduk di samping ayunan yang ia duduki.

"Appa?" panggil Jimin terkejut. Pria tampan yang memang adalah ayah Jimin, Park Seojoon tersenyum tampan dan menatap wajah manis putra sulungnya. "Appa disini?"

"Kau harus kembali, nak." ujar sang ayah yang membuat Jimin mengeryit bingung.

"Kembali kemana appa? Appa ada disini, aku juga ingin bersama appa." sang ayah menggeleng dan tersenyum lembut.

"Disini, bukan tempatmu nak."

"Tapi, appa berada disini. Itu artinya, eomma juga berada disini. Aku ingin bersama kalian. Apa kalian tidak merindukanku?" tanya Jimin. Tangan sang ayah terulur untuk mengelus surai Jimin lembut.

"Kami sangat merindukanmu, nak. Kami sangat menyayangimu, tapi—apa kau tahu diluar sana banyak orang yang membutuhkanmu?"

"Tapi, apa yang mereka butuhkan dariku, appa?"

"Tanyai hatimu, nak. Kau sendirilah yang tahu jawabannya."

"Tapi appa—"

"Lihatlah, nak!" Seojoon menunjuk kearah seberang taman yang tampaknya sebuah sekolah dasar. Jimin menoleh kearah tunjuk sang ayah dan ia melihat seorang bocah tampan yang sedang berjongkok di depan bocah manis di halte di depan sekolah dasar itu.

"Ada banyak orang yang kehilangan, ada banyak orang yang menderita, dan ada banyak orang yang kesakitan. Jiminie, kau tahu—kenapa kau diberi kesempatan untuk hidup setelah mengalami hal yang mengerikan?" Jimin terdiam sejenak, mencerna ucapan sang ayah. "Itu karena masih banyak hal yang harus kau lakukan, nak. Banyak hal yang seharusnya kau bagi dengan orang lain, bukan kau sembunyikan. Ada banyak hal yang harus kau beritahukan pada orang-orang bahkan ada banyak hal yang seharusnya tidak kau simpan sendiri."

"Aku tahu apa yang appa maksudkan." tutur Jimin menatap sang ayah lamat. "Tapi, kenapa aku harus melakukannya? Disaat semua orang hanya menunjukan kepedulian palsu padaku?"

"Tidak semua, nak." balas Seojoon sabar. "Ada beberapa orang yang kau juga tahu bahwa diantara semua orang ada yang benar-benar tulus peduli padamu bahkan juga ada diantara mereka, ada yang kau percaya. Dan, kau tidak bisa mengelak semua itu." Jimin terdiam, ia hanya ingin menatap wajah tampan sang ayah sepuasnya. "Appa, yakin—jagoan appa ini bisa melewati semuanya dengan mudah." Jimin menarik nafas lega dan tersenyum manis.

"Nde appa benar. Aku harus kembali. Tapi—adakah waktu untukku untuk mengingat semua masa kecilku? Aku melewatkan banyak hal selama delapan tahun. Dan, setelah semuanya kembali, entah kenapa aku merasa terlahir kembali hanya saja aku tidak tahu harus memulainya darimana."

"Tentu saja, nak. Tidak ada yang melarangmu jika kau ingin mengingat masa kecilmu." Seojoon bangkit dari duduknya dan berjalan menjahui Jimin begitu saja. Dan entah kenapa Jimin yang melihat ayahnya pergi menjauhinya hanya bisa diam dan menatap kepergian ayahnya tanpa berniat untuk mencegah.

Jimin menunduk. Menatap kedua kakinya yang memijak tanah. Namun, kemudian ia mengeryit saat melihat sebuah bola yang menggelinding di dekat kakinya. Sontak hal itu, membuat Jimin mendongak dan mendapati bocah tampan yang memiliki lesung pipit berdiri di depannya, lebih tepatnya untuk mengambil bola yang menggelinding di dekat kakinya.

"Tuan muda.." panggil seorang berpakaian formal berwarna hitam yang tiba-tiba saja berdiri menunduk di dekat bocah tampan yang mengambil bola di dekat kaki Jimin. Jimin ikut mematai pria itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wajahnya yang sendu dan menolak untuk menatap bocah yang ia panggil dengan 'tuan muda'

"Oh, paman? Ada apa? Kenapa kemari?" tanya bocah itu riang.

"Nyonya—"

"Eomma sudah pulang?" potong bocah itu antusias. Pria itu mengangkat wajahnya dan berjongkok dihadapan si tuan muda.

"Nyonya—"

"Apa eomma baik-baik saja?" tanya bocah tampan, nada suaranya tak seantusias sebelumnya yang hal itu membuat keenam temannya yang sedari tadi mematai, berjalan mendekati bocah berlesung pipit itu.

"Nyonya Kim—meninggal dunia."

Hening. Jimin merasakan tak ada pergerakan dari ketujuh bocah serta satu pria paruh baya itu. Mereka semua diam bagai patung di tempatnya. Bahkan, ketika Jimin sengaja untuk melihat reaksi si bocah tampan berlesung pipit yang ia lihat hanya wajah datar tak berekspresi sama sekali.

Jimin bangkit dari duduknya dan meninggalkan delapan manusia yang tidak juga bergerak dari tempatnya. Apa mereka hanya patung? Dan apa semua itu hanya halusinasi Jimin semata? Tapi jika hanya halusinasi kenapa terasa nyata?

Jimin keluar dari area taman dan sekarang ia berjalan di tepi jalan dengan pandangannya yang tertuju pada sebuah rumah besar dimana setiap sisi halaman rumah mewah itu terdapat banyak karangan bunga yang berisi kata turut berduka cita serta orang-orang yang masuk dengan mengenakan setelan formal hitam memasuki rumah itu.

Jimin berjalan menyebrangi jalan raya untuk mengunjungi rumah yang mungkin saat kanak menjadi salah satu rumah yang sering ia kunjungi. Jimin mengedarkan pandangannya pada sekeliling rumah yang dalam suasana duka hingga kedua mata sipitnya mendapati sosok Jimin kecil yang duduk seorang diri di ruang tengah.

"Dia mau kemana?" gumam Jimin ketika ia melihat Jimin kecil beranjak dari duduknya dan berjalan ke suatu tempat. Jimin pun berinisiatif untuk mengikuti Jimin kecil hingga Jimin kecil berada di taman belakang yang jauh dari keberadaan para tamu yang datang.

"Kenapa dia kemari?Apa yang dia lakukan disini?" Jimin berjalan mendekati Jimin kecil yang tampaknya sedang mematai seseorang.

Deg!

Jimin merasa jantungnya berhenti berdetak kala ia melihat dua orang pria yang tampaknya sedang bersitegang. Jimin melirik kearah Jimin kecil yang kedua matanya tertuju pada pria bermata tajam dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian, Jimin tampak mengingat siapa kira orang yang ditatap oleh Jimin kecil hingga sebegitu intensnya?

"Aku sudah menduga dari awal jika kau tidak pantas untuk adikku!" seru pria paruh baya yang bermata tajam pada pria yang tampak dari wajahnya sedang mengalami duka yang teramat dalam.

Jimin menarik nafas, kenapa ia tidak bisa mengingat pria itu? Padahal, ia yakin ia pernah melihat pria itu sebelumnya tapi dimana? Jimin tersentak ketika ia ingat bahwa pria itu adalah pria yang ia lihat di hari festival pertama dari atas loteng asrama. Pria tua yang berdiri di parkiran RC dengan kedua mata tajamnya yang menatap kearahnya tak peduli berapa jarak diantara mereka berdua tapi seolah pria itu menangkap dimanapun Jimin berada.

Jimin menunduk untuk melihat Jimin kecil yang masih berdiri di sampingnya. Ia terdiam sejenak. Apa saat kecil ia juga pernah bertemu dengan pria itu? Jimin menghela nafas dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung. Jimin menggigit bibir bawahnya dan ikut menatap intens pada satu pria yang masih juga ditatap oleh Jimin kecil.

'Orang itu adalah orang yang menjadi penyebab semua ini terjadi.'

Jimin membulatkan kedua matanya ketika ia mendengar suaranya sendiri di dalam otaknya. Ia bisa ingat semuanya, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya begitu saja. Ia merasa ada sesuatu yang janggal, itulah sebabnya ia tidak bisa begitu saja menyuarakan semua yang ia ingat karena bagaimana pun juga ia masih sedikit ragu dengan 'ingatan baru' yang baru saja berhasil masuk dalam memori otaknya.

"Adik?" gumam Jimin saat ia mendengar suara pria itu yang menyebutkan kata 'adik' dengan tegas pada pria yang tengah berduka yang Jimin ketahui adalah si pemilik rumah serta ayah dari temannya yang berlesung pipit, Kim Namjoon.

"Jadi, Namjoon hyung adalah keponakan dari pria itu?" Jimin mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Seharusnya ia tidak perlu terkejut karena ia sudah mengetahui kenyataan ini sejak kecil. Jimin kembali menunduk untuk memastikan jika Jimin kecil masih berada di sampingnya, tapi sayang Jimin kecil sudah melesat pergi entah sejak kapan.

"ARGH!" Jimin mengerang seraya memegang kepalanya yang berdenyut nyeri secara tiba-tiba. Ia meremat rambutnya kasar dan terus mengerang tanpa henti.

BRUK!

Jimin terduduk, masih dengan tangannya yang meremat rambutnya bersamaan dengan perlahan pandangannya yang mengabur dan semua yang ada di sekitarnya berubah menjadi gelap. Dan sebelum pandangnya mengabur ada seseorang yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Seseorang yang sebenarnya selalu berada di dekatnya sejak lama dan selalu menjaganya dan orang pertama yang ia percayai. Seseorang yang sebelumnya tidak mengaku bagaimana beliau bisa mengenal kedua orang tuanya dan dengan cakap menceritakan semua masa kecilnya seolah seperti menceritakan dongeng malam padanya. Dan, kini ia sudah tahu jawabannya darimana beliau mengetahui semua bahkan hal kecil tentang dirinya sekalipun. Karena beliau adalah—

"Haraboji"

.

.

.

"Dokter, pasien mengalami kejang dan sesak nafas!" seru perawat yang membantu dokter Lee Kikwang untuk menangani Park Jimin sementara dokter Kim Heechul yang menangani Min Yoongi.

"Cepat siapkan oksigen!" titah dokter Lee yang diangguki oleh sang perawat. Perawat itu keluar dari tenda dengan tergesa yang membuat beberapa orang yang menunggu cemas semakin cemas dengan gerakan perawat yang tampak kelelahan dan keringatan.

"Ada apa? Apa yang terjadi? Mereka baik-baik saja 'kan?" tanya Seokjin yang juga menunggu di depan tenda terlihat cemas bukan main terlebih ketika dokter Lee yang tiba-tiba saja berteriak frustasi untuk mengatakan—

"Cepat hubungi ambulance!" seru dokter Lee yang hal itu pasti menandakan bahwa keadaan keduanya atau salah satu dari mereka tidak baik-baik saja.

.

.

.

.

.

"Karena kejadian hari ini, tidak ada pilihan lain dari pihak sekolah selain memutuskan untuk kalian semua kembali ke asrama." tutur guru Kim setelah dua ambulance datang dan membawa Jimin dan Yoongi ke rumah sakit di Jeongseon. Guru Kim menatap para siswanya yang terlihat masih shock dan tidak tahu harus merespon bagaimana. "Sekarang cepatlah berkemas dan untuk Yoon Doojoon, Kim Seokjin, Jeon Jungkook, Jung Hoseok, Kim Namjoon dan Kim Taehyung tetap berada disini! Sisanya, kalian bisa kembali ke tenda." lanjut guru Kim tanpa mendapat jawaban dari para siswanya tapi satu persatu para siswanya pergi ke tenda masing-masing menyisakan Doojoon, Seokjin, Jungkook, Hoseok, Namjoon, dan Taehyung. Guru Kim menatap Doojoon yang masih terlihat cemas yang sangat kentara di wajah tampannya.

"Doojoon-ssi, aku harap perjalanan pulang nanti kau bisa mengontrol semua siswa dan pastikan semuanya baik-baik saja!" guru Kim menekan kata baik-baik saja yang hanya dibalas anggukan oleh Doojoon. "Hubungi anggota dewan siswa yang lain, jangan sampai ada yang lalai apalagi terluka. Kau mengerti?"

"nde, ssaem!" jawab Doojoon tegas.

"Pergilah!" titah guru Kim yang membuat Doojoon membungkukkan badannya pamit dan pergi dari hadapan guru kesiswaan yang terlihat murka itu.

Sepergian Doojoon, guru Kim beralih menatap Taehyung dan Namjoon yang kebetulan berdiri bersisihan.

"Aku sudah menghubungi ayahnya Min Yoongi, beliau akan memindahkan Yoongi ke Seoul setelah keadaan Yoongi benar-benar sudah dipastikan. Dan, aku mengijinkan kalian berdua untuk mengunjunginya di Jeongseon Hospital sampai ayahnya atau orang kepercayaannya benar-benar datang." ujar guru Kim memberitahu.

"ssaem, bolehkah kami mengetahui bagaimana keadaan terakhir mereka?" tanya Taehyung masih menyiratkan raut cemas. Guru Kim menarik nafas.

"Aku rasa Min Yoongi sudah baik-baik saja, pendarahannya sudah berhenti. Tapi, Park Jimin—aku tidak tahu pastinya bagaimana keadaannya. Dokter Lee belum sempat mengatakannya pada kami karena beliau sudah panik dengan keadaan Jimin yang semakin drop." jawabnya yang lagi hanya dibalas diam oleh kelima orang itu. "Dan kalian bertiga—" guru Kim beralih pada Seokjin, Hoseok, dan Jungkook.

"Pihak sekolah tidak tahu harus menghubungi siapa untuk memberitahukan keadaan Jimin, kalian sebagai roomate-nya, apa ada seseorang yang kiranya harus mengetahui setiap keadaan Jimin selain ibu pantinya? Walinya mungkin?" kelimanya terdiam, namun kini saling berpandangan.

"k -kami tidak tahu, ssaem. Tapi, bolehkah jika kami saja yang menjaga Park Jimin?" tawar Seokjin yang diangguki oleh Jungkook dan Hoseok.

"nde ssaem, kebetulan juga ayahku seorang dokter di Seoul Hospital. Ayahku bisa menjadi wali Jimin untuk sementara," lanjut Hoseok. Guru Kim berfikir sejenak.

"Baiklah, tapi aku harus berbicara dengan ayahmu terlebih dahulu dan kalian berlima—kalian bisa bersiap untuk pergi ke rumah sakit."

"nde ssaem, kamsahamnida!" balas Seokjin senang bukan main, guru Kim mengangguk dan ia berjalan memasuki tenda yang yang digunakan oleh para guru-guru yang ikut kemah musim panas di Jeongseon.

"Kalau begitu, kalian cepatlah berkemas dan kita harus segera ke rumah sakit!" titah Seokjin tak sabar, ia dan Jungkook melesat ke tenda terlebih dahulu disusul Hoseok kemudian Taehyung yang juga sama tak sabarnya dengan Seokjin dan Jungkook. Sementara Namjoon? Wajahnya terlihat gusar, tapi ada hal lain yang tak bisa diutarakan begitu saja karena Namjoon begitu pintar memasang berbagai ekspresi yang membuat orang-orang tak akan curiga padanya.

Diam-diam, Namjoon berjalan mendekati tenda Yoongi. Bukan, bukan untuk mengambil barang-barang hyung-nya melainkan untuk menyeret orang yang ia cari yang kebetulan berada di luar tenda. Hal itu membuatnya menyeringai menyeramkan karena ia tak perlu menarik perhatian orang lain karena mangsa sudah ada di depan mata.

BUGH!

Dengan segala amarah dan jiwa iblisnya, Namjoon melayangkan bogem mentahnya di wajah tampan Chanyeol yang membuat Chanyeol seketika langsung tersungkur setelah ia cukup terkejut saat Namjoon yang tiba-tiba menariknya menjauh dari perkemahan.

"Apa yang kau lakukan bodoh?!" seru Chanyeol menahan diri untuk tidak membalas Namjoon yang kini tengah mencekeram kerah bajunya yang membuat Chanyeol sedikit tercekik.

"Kenapa kau tidak bilang jika kakak angkatmu dan teman-temannya berada disini?!" geram Namjoon.

"huh?!" Chanyeol memekik terkejut dengan penuturan Namjoon yang benar-benar diluar dugaannya.

"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol tak mengerti. "Aku tidak tahu jika mereka berada disini!"

"bullshit! Kau tidak bisa membodohiku!"

"Sungguh aku tidak tahu, jika mereka berada disini. Awalnya aku hanya meminta Joohyun untuk menakuti Jimin bukan untuk melukainya. Bagaimanapun juga, aku tidak tega untuk melakukan hal itu apalagi sampai membuatnya sekarat seperti ini!" seru Chanyeol tak terima. Namjoon mengerang frustasi dan Chanyeol menatap Namjoon heran. "Tapi, darimana kau tahu mereka berada disini?" Namjoon berdecak.

"Semalam aku menemani Seokjin berpatroli dan aku melihat ada yang membuntuti Doojoon dan Yoongi yang sepertinya mereka tahu rencana yang kau buat dengan Joohyun. Jujur saja, malam itu sangat gelap aku tidak begitu tahu siapa orang yang membuntuti mereka berdua. Tapi, ketika Doojoon dan Yoongi kembali ke perkemahan—orang itu berjalan berlawanan arah dan dari caranya berjalan serta dari postur tubuhnya aku tidak perlu melihat wajahnya untuk mengetahui siapa bajingan itu." jawab Namjoon. "Mereka tahu apa kegiatan hari ini. Itu artinya ada kemungkinan orang dalam yang memberitahu pada mereka." Chanyeol mengangguk setuju.

"Aku akan kena masalah setelah ini!" desah Chanyeol lelah.

"Aku sudah katakan padamu sebelumnya, jangan percaya pada kata-kata kakak angkatmu dia tidak akan berbaik hati menuruti apa yang kau inginkan. Dan kau hanya anak angkat jika kau lupa!"

"F*ck you!" umpat Chanyeol kesal ketika Namjoon mengingatkan tempat yang sebenarnya. Namjoon tertawa mengejek.

"Sudahlah, aku kira kau tahu jika mereka berada disini." Namjoon berjalan meninggalkan Chanyeol yang hanya terdiam di tempatnya.

"Apa kau akan ke rumah sakit?"

Tap!

Namjoon menghentikan langkahnya dan berbalik badan.

"ya, aku tebak Hyunwoo hyung yang akan datang untuk mengurus Yoongi hyung. Jadi aku dan Taehyung juga harus ada disana untuk memastikan keadaannya,"

"Bagaimana dengan Jimin?" tanya Chanyeol, wajahnya yang lebam berubah menjadi sendu dan penuh kekhawatiran.

"Sepertinya dia lebih parah dari Yoongi hyung, dia membiarkan dirinya terus mengalami pendarahan dan membawa Yoongi hyung yang pingsan setelah ia menghambatkan pendarahan dengan kemejanya. Kau tahu apa artinya?" Namjoon menatap Chanyeol dengan tatapan penuh kemenangan. "Jiminie, masih tetap Jiminie yang dulu—yang tidak ingin pangeran kecilnya, terluka di depan matanya!" remeh Namjoon yang untuk pertama kalinya tak dibalas geraman marah dari Chanyeol jika ia selalu mengatakan bahwa Jimin bukanlah miliknya atau ia tak akan membiarkan jika Jimin jatuh ke pelukan Chanyeol.

"Kau benar!" tutur Chanyeol yang tentu saja mengejutkan Namjoon. "Jimin hanya menganggapku sebagai kakaknya. Dan dibandingkan dengan Min Yoongi, aku tak pantas untuk disandingkan dengannya. Aku hanya seseorang yang brengsek, yang mungkin akan membiarkannya mati di tangan mereka. Aku cukup tahu diri Namjoon-ssi!" Namjoon tersenyum kecil. Chanyeol mengedikkan bahunya acuh. "yah~ tapi aku cukup senang. Aku tidak menjadi orang brengsek sendirian!"

"F*uck you!" umpat Namjoon membalas Chanyeol yang kini tertawa lantang.

"Jika Jimin sudah dipindahkan di Seoul Hospital, kabari aku. Sebisaku, aku akan melakukan apapun agar mereka tidak mencoba untuk mendekati Jimin di rumah sakit manapun ia berada." Namjoon mengangguk.

"arraseo. Aku juga harus melakukannya untuk menebus kesalahanku kemarin karena telah mengambil obatnya. Aku pergi!" akhirnya Namjoon benar-benar pergi meninggalkan Chanyeol yang tanpa siapapun ketahui meneteskan air matanya dalam diam. Air mata penuh penyesalan ketika ia ingat dengan jelas bagaimana keadaannya yang mengenaskan saat kembali dari hutan, dan karena itulah ada sebersit rasa jika apa yang ia lakukan selama ini tidak sepantasnya ia lakukan kepada pemuda manis yang mungkin sekarang ini tengah berjuang untuk hidup.

.

.

.

.

.

Tap!

Tap!

Tap!

Langkah-langkah kaki tergesa itu memenuhi seluruh koridor rumah sakit kecil di Jeongseon. Lima orang pemuda yang baru saja tiba di rumah sakit itu dengan raut wajah cemas yang masih saja terpatri di wajah mereka hingga mereka kini benar-benar berada di depan pintu UGD yang masih tertutup rapat.

Seokjin dan Jungkook memilih untuk duduk di kursi tunggu di depan UGD sementara, Hoseok, Namjoon, dan Taehyung masih berdiri dengan pandangan berharap bahwa pintu itu segera terbuka dan memberikan kabar baik tentang kondisi keduanya.

"Bagaimana keadaan Yoongi?" tanya sebuah suara yang membuat kelima mengalihkan pandangan mereka pada sosok yang merangkap sebagai asisten pribadi Yoongi, Son Hyunwoo.

Hyunwoo berjalan mnedekati Taehyung yang kebetulan jaraknya yang paling dekat dengannya. Kedua matanya yang nanar, wajahnya yang berkeringat dan nafasnya yang tersengal.

"Taehyungie, katakan bahwa Yoongi baik-baik saja. Apa yang—"

"Tenanglah hyung. Yoongi hyung, baik-baik saja!" tutur Taehyung dan memeluk Hyunwoo yang sudah menangis pilu. Taehyung mengelus punggung Hyunwoo menenangkan meskipun ia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang ia katakan, tapi ia yakin hyung-nya kuat dan pasti baik-baik saja.

Klik!

Hyunwoo melepas diri dari pelukan Taehyung saat ia mendengar suara pintu UGD terbuka dan muncullah dokter bername tag Joo Injung.

"Keluarga Min Yoongi?" tanya dokter Joo membuat Hyunwoo langsung maju dan berjalan mendekati dokter itu.

"nde nde, saya keluarga Min Yoongi. Bagaimana keadaannya?" tanya Hyunwoo tak sabar.

"Yoongi-ssi, berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang ini dia baik-baik, luka-luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya untung saja tidak sampai mengenai organ vitalnya." jawab dokter Joo.

"Kapan dia bisa sadar dokter?" tanya Hyunwoo agaknya ia bernafas lega jika anak majikan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri tidak mengalami luka serius.

"Dalam waktu kurun 24 jam, Yoongi-ssi pasti siuman. Kami akan memindahkan Yoongi pada ruang rawat. Permisi!" pamit dokter Joo sebelum suara 'tunggu' dilontarkan oleh Seokjin secara tiba-tiba. Seokjin yang memang sudah berdiri sedari tadi berjalan mendekati dokter Joo.

"Bagaimana dengan keadaan Park Jimin?" tanya Seokjin. Dokter Joo memiringkan kepalanya, berfikir sejenak. "Pemuda yang datang bersama Min Yoongi."

"Dokter Han masih menanganinya. Mungkin sebentar lagi, operasinya akan selesai."

"Operasi?" pekik kelima orang kecuali Hyunwoo. Dokter Joo mengangguk.

"Jika ingin mengetahui keadaannya lebih lanjut, sekitar 30 menit lagi operasi akan selesai, anda bisa bertanya pada dokter Han."

"nde kamsahamnida." balas Seokjin, dokter Joo mengulas senyum ia menundukkan kepalanya pamit dan segera bergegas meninggalkan keenam orang itu.

"hyung, dimana Seonwoong samchon?" tanya Taehyung pada Hyunwoo yang sudah duduk di ruang tunggu.

"Tuan Min mengurus kepindahan Yoongi ke Seoul Hospital, ada kemungkinan mungkin beliau akan membawanya malam ini."

"Malam ini? Bukankah terlalu cepat?" tanya Taehyung. Hyunwoo mengangguk.

"Kau tahu sendiri bagaimana ayahnya 'kan?" jawab Hyunwoo singkat yang tentu saja membuat Taehyung mengangguk dan terlalu hafal bagaimana sifat ayah dari hyung-nya.

Waktu untuk menunggu sampai 30 menit dilalui dalam keheningan. Jungkook dan Seokjin yang duduk termangu di tempat mereka, Hoseok yang berjalan mondar-mandir kesana kemari, Namjoon dan Taehyung yang menyandarkan tubuh mereka di dinding dengan pandangan intens kearah pintu UGD yang tak kunjung terbuka.

Klik!

Keenam orang langsung mendekati pintu saat mendengar bunyi pintu terbuka dan muncullah seorang dokter paruh baya yang bername tag Han Yonsu.

"Keluarga Park Jimin?" tanyanya tegas, dokter Han menatap keenam orang di depannya satu persatu, dan baru ia sadari orang-orang di depannya tampaknya berumur tak jauh dari pasien yang baru saja ia tangani. "Kalian bukan keluarganya?"

"Kami—teman-temannya," Hoseok yang menjawab. Dokter Han hanya mengangguk kecil.

"Kalau begitu, dimana keluarganya?" tanya dokter Han cepat.

"Dia—kedua orang tuanya sudah meninggal dan—"

"Walinya?" dokter Han memotong ucapan Seokjin. Seokjin menggigit bibir bawahnya gugup. "Sayang sekali, aku tidak bisa memberitahukan kondisinya pada orang lain."

"tap-tapi kami—"

"Dokter, baiklah. Kami memang bukan keluarganya tapi, bisakah anda memberitahu kondisinya sekarang?" potong Namjoon ingin tahu. Dokter Han tampak menimang, kemudian ada senyum prihatin yang terpatri di bibirnya.

"Maafkan, aku—dia koma." jawab dokter Han singkat. "Aku mohon hubungi wali Park Jimin, ada suatu hal penting yang harus aku bicarakan padanya." pinta dokter Han sebelum pergi meninggalkan keenamnya begitu saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah tiga hari sejak kejadian yang terjadi saat perkemahan hari kedua, Min Yoongi sendiri sudah siuman tepat tengah malam ia dipindahkan ke Seoul Hospital. Dan selama itu pula Yoongi masih tidak mengetahui bagaimana keadaan Park Jimin meskipun Park Jimin juga sudah dipindah di Seoul Hospital satu hari kemudian. Sebenarnya, tidak hanya dirinya yang tidak mengetahui keadaan Park Jimin, kelima temannya yang bergilir menjaganya bahkan orang tua mereka semua tak ada yang mengetahui bagaimana keadaan pemuda manis itu, meskipun mereka juga tahu dimana ruang Jimin dirawat dan beberapa kali pula mereka mencoba untuk berkunjung.

Dan tahukah apa yang membuat mereka semua sampai terheran-heran bahkan sampai mengerang frustasi hanya untuk memastikan bahwa keadaan Park Jimin baik-baik saja? Karena ketika mereka semua mencoba untuk berkunjung ke kamar Jimin, ada dua bodyguard berbadan kekar yang selalu stay di depan pintu ruang inap Jimin membuat mereka tidak bisa leluasa untuk menemui Jimin, membuat mereka bertanya-tanya siapa orang yang mengirim dua orang berbadan besar itu? Karena ketika mereka bertanya pada orang tua mereka saat menjenguk Yoongi, jawaban mereka semua sama dengan mengatakan bahwa mereka juga tidak tahu siapa orang yang menjaga ketat ruang inap Jimin meskipun sudah mencari tahu. Termasuk ayah Hoseok yang notabene adalah dokter di Seoul Hospital, yang juga entah kenapa sejak dipindahkannya Jimin selalu menghindar jika anaknya terus mengejar pertanyaan yang sama setiap hari. yap, mungkin ayah Hoseok adalah satu-satunya harapan mereka untuk mencari tahu untuk memastikan bahwa keadaan Jimin baik-baik saja.

Seperti saat ini misalnya, Hoseok yang masih mengejar ayahnya di jam istirahat sementara ayahnya yang berusaha keras untuk menghindar dan berakhir mereka berdua yang berada di ruang kerja dokter Jung.

"appa~" panggil Hoseok frustasi. Dokter Jung berdecak dan menatap anak semata wayangnya garang.

"Kau kemari untuk menggangguku atau untuk menjenguk Yoongi?" tanya sang ayah jengah. Hoseok mempoutkan bibirnya kesal.

"Aku kemari untuk menjenguk Jiminie!" jawab Hoseok tegas. "Aku tahu appa menyembunyikan sesuatu dari kami semua tentang Park Jimin, ayolah appa... kami semua mencemaskan Jiminie," dokter Jung menarik nafas dan menatap anaknya dengan pandangan tak terbaca.

"Jimin sudah membaik. Sudah, pergi sana!" usir sang ayah.

"appa mengatakan itu hanya untuk menyenangkanku 'kan?" dokter Jung menggeleng.

"Tidak sungguh, aku tidak berbohong. Dokter Kim sendiri yang mengatakan padaku, Jiminie sudah semakin membaik. Ia sudah melewati masa kritisnya, kita tinggal menunggu dia siuman."

"Tapi, apa yang terjadi padanya appa? Kenapa sebelumnya ia harus dioperasi?" tanya Hoseok ingin tahu.

"Keluarlah, appa masih harus bekerja."

"aniyo!" tolak Hoseok keras. "appa bahkan tidak hanya menghindariku tapi juga menghindari para appa dan juga jarang menjenguk Yoongi hyung. Pasti, ada yang appa sembunyikan dari kami 'kan?" dokter Jung mendesah frustasi. "Sebenarnya apa yang terjadi pada Park Jimin, appa?!"

"Jung Hoseok! Kau sudah melampaui batasmu, keluar dari ruanganku sekarang!" seru sang ayah mulai kesal. Hoseok menatap ayahnya tak percaya, pasalnya ini adalah kali pertama ayahnya memarahinya hingga meninggikan suaranya seperti saat ini.

"Jika appa, tidak ingin memberitahuku—baiklah! Aku akan mencari tahu sendiri!" ancam Hoseok keluar dengan penuh rasa amarah pada sang ayah. Dokter Jung menarik nafas dan mendesah lega, agaknya meskipun Hoseok marah padanya tapi ia tetap tidak mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan kepada anaknya. Tentang kondisi Jimin atau tentang siapa orang yang mengirim dua orang untuk menjaga ruang inap pemuda manis yang belum juga membuka mata hingga saat ini.

.

.

.

.

.

Cklek!

Hoseok membuka pintu kamar inap Yoongi dengan raut wajah kesal, membuat kerutan bingung di dahi Jungkook, Seokjin, Taehyung, Namjoon serta Yoongi.

"Ada apa denganmu?" tanya Namjoon. Hoseok berdecak kesal dan menjatuhkan dirinya di sofa dan duduk di samping Jungkook.

"Ayahku masih tidak mau mengatakannya!" jawab Hoseok yang dibalas helaan nafas dari mereka semua. "Aku yakin, ada yang disembunyikan oleh ayahku. Ayahku mengetahui sesuatu tentang Jiminie dan ia sepertinya berjanji pada seseorang untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun."

Hening, tak ada yang berbicara sampai suara Yoongi yang akhirnya memecah keheningan untuk bertanya, "Apa kalian pernah ada yang mencoba untuk memaksa masuk?" tanyanya.

"Tentu saja hyung, waktu itu aku dan Jungkook yang berkunjung. Aku memaksa masuk dan hasilnya dua raksasa itu langsung memukulku!" adu Taehyung. Yoongi mengangguk paham.

"Kalian semua sudah menemuinya?" tanya Yoongi.

"Bukan hanya kami hyung, orang tua kami juga ikut menjenguk termasuk ayahmu tapi satu pun dari kami tidak ada yang diijinkan."

"Aku belum!" ujar Yoongi setelah penjelasan Jungkook selesai. Kelima orang itu menatap wajah Yoongi yang terlihat kosong dan penuh kecemasan, wajah yang selalu Yoongi pasang setelah ia siuman dan hanya satu pertanyaan yang ia lontarkan setelah ia sadar, 'Apa Jiminie baik-baik saja?' tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa memberikan jawaban pada Yoongi selain mengatakan bahwa Jimin sedang koma.

"Tapi, hyung kau belum pulih seutuhnya." balas Taehyung. Yoongi tersenyum tipis.

"Sudah sembuh atau belum, itu tidak berpengaruh untukku jika aku sama saja tidak tenang sebelum melihat keadaan Jiminie. toh, aku bisa menggunakan kursi roda. Aku akan mengkonsultasikannya pada dokter Lee. hm, dimana Hyunwoo hyung? Dia selalu tidak ada saat aku butuhkan." entah sedang mengigau atau tidak tapi racauan Yoongi itu membuat kelima temannya mendesah khawatir. Yoongi memang sudah siuman, tapi dipikirannya selalu Park Jimin yang ada, bahkan ketika ayahnya datang berkunjung, ia turut meminta ayahnya untuk mencari tahu bagaimana keadaan Jimin-nya.

"Aku akan mencari Hyunwoo hyung." Namjoon berdiri dari duduknya dan langsung melesat pergi begitu melihat jawaban anggukan dari Yoongi.

Dan tak sampai 10 menit menunggu, Namjoon sudah datang membawa Hyunwoo yang ternyata sedang berada di cafetaria.

"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Hyunwoo cemas. Yoongi mengangguk jujur.

"Bisakah hyung menanyakan pada dokter Lee apakah aku boleh keluar?"

"huh?!" pekik Hyunwoo terkejut. "Kau mau kemana?"

"Menemui Park Jimin!" jawab Yoongi tegas.

"Tapi—"

"hyung, aku mohon!" pinta Yoongi melas. Hyunwoo menghela nafas.

"Baiklah, aku akan bicara pada dokter Lee. Tapi jika dokter Lee menolak, kau harus menurut mengerti?" Yoongi terpaksa mengangguk.

"Tapi, jangan berbohong padaku, hyung!"

"arra arra! Aku segera kembali," Hyunwoo keluar dari kamar Yoongi dan Yoongi menunggu kedatangan Hyunwoo dengan tak sabar.

"Kenapa dia belum juga kembali?" decak Yoongi terus menatapi pintu ruang inapnya.

"Sabarlah hyung, Hyunwoo hyung baru pergi satu menit yang lalu." tutur Namjoon. Yoongi berdecak kesal.

"Menurut kalian, siapa yang menyuruh dua bodyguard itu?" tanya Seokjin memecah keheningan.

"Entahlah hyung, hanya pihak rumah sakit yang tahu. Tapi, ini sungguh tidak masuk akal baru saja aku bertanya pada ayahku, ayahku malah memarahiku!" jawab Hoseok masih kesal dengan pertengkaran dirinya dan sang ayah.

"Jaeduck samchon memarahimu hyung?" tanya Jungkook tak percaya begitu pula dengan Seokjin.

"Ini pertama kalinya aku mendengar seorang Jung Hoseok kesal pada ayahnya." lanjut Seokjin.

"Memangnya apa yang kau dan ayahmu katakan?" tanya Namjoon.

"Aku hanya bertanya bagaimana keadaan Jiminie, itu saja. Tapi, responnya sangat berlebihan. Aku sangat kenal ayahku, wajahnya terlihat gusar, aku yakin ada yang ayahku sembunyikan dari kita semua bahkan ayahku juga menghindari para appa 'kan?" terang Hoseok.

"Aku harap Jiminie baik-baik saja," lanjut Taehyung menengahi suasana mencekam di ruang inap Yoongi. "hyung, kau baik-baik saja?" tanya Taehyung melihat Yoongi yang untuk kesekian kali memasang wajah pucatnya.

"Aku baik." jawab Yoongi singkat, tanpa minat. "Andai saja, aku lebih kuat untuk melindunginya ini semua pasti tidak akan terjadi," sesal Yoongi.

"hyung, ini bukan sepenuhnya salahmu. Ini kecelakaan," Jungkook mencoba untuk menenangkan. Yoongi menarik nafas lelah dan memandang langit-langit diatasnya.

"Tapi—"

Cklek!

Keenam orang itu menoleh setelah mendengar pintu kamar inap Yoongi terbuka dan muncullah sebuah kursi roda kosong yang didorong oleh Hyunwoo. Yoongi mengulas senyum senang.

"Kau senang?" tanya Hyunwoo setelah masuk dan berdiri disisi ranjang Yoongi. Yoongi mengangguk antusias. "Kau boleh keluar, tapi ingat jangan sampai perbanmu terbuka dan mengalami pendarahan, mengerti?" Yoongi mengangguk, ia bangkit dari tempat tidurnya dibantu oleh Namjoon dan Hyunwoo yang kebetulan berada di samping kanan-kirinya. Keduanya membantu Yoongi perlahan untuk duduk di kursi roda yang Hyunwoo bawa.

"Kau—"

"Aku mau sendiri hyung." potong Yoongi, ia menatap Hyunwoo dan kelima temannya. "Aku ingin mengunjunginya sendirian."

"Tapi, kau—"

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, hyung. Percayalah, aku juga harus cepat sembuh untuk menjaganya. Aku benar-benar sangat ingin bertemu dengannya." lirih Yoongi.

"Kau tahu, walaupun aku mempercayaimu tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri." balas Hyunwoo. Yoongi menatap Hyunwoo memohon.

"Kali ini saja, hyung—aku mohon, percayalah padaku. Jika mereka masih tidak mengijinkanku, aku akan langsung pergi."

"Tapi, bagaimana jika mereka melukaimu, hyung?" tanya Taehyung. Yoongi tersenyum kecil.

"Mereka bukan orang bodoh yang akan melukai orang sakit. Percayalah padaku." kekeuh Yoongi menyakinkan.

"Aku akan membiarkanmu kesana sendiri, tapi aku akan tetap berada di belakangmu." Yoongi tertawa kecil.

"Baiklah, jaga jarak aman dariku, hyung. Kau hanya memastikan." Hyunwoo mengangguk setuju.

"okay, aku hanya memastikan kau baik-baik saja."

.

.

.

.

.

Yoongi menggerakkan kursi roda yang ia duduki melewati lorong sepi di bangsal VVIP yang berada di satu lantai diatas kamar inapnya. Beberapa bagian tubuhnya yang diperban, wajahnya yang memucat dan detak jantungnya yang berdebar cepat karena terlalu mencemaskan keadaan Jimin yang entah membaik atau justru memburuk. Perlahan, roda-roda yang membawa Yoongi sampai di depan kamar yang memang benar masih dijaga oleh dua orang pria berbadan besar di depan pintu.

"Siapa anda?" tanya salah satu dari dua pria itu ketika melihat Yoongi menghentikan kursi rodanya tepat di depan mereka.

"Aku Min Yoongi, bisakah aku bertemu dengan Park Jimin?" jawab Yoongi entah kenapa suaranya tercekat terlalu takut antara mereka menolak dan menyuruhnya untuk pergi atau bahkan jika ada keajaiban, mereka memberikan ijin padanya untuk menemui Jimin-nya.

"Siapa?" ulang pria lain. Yoongi menelan salivanya susah.

"Namaku Min Yoongi." jawab Yoongi lagi.

"Tunggu sebentar!" ujarnya yang kemudian berbicara melalui sebuah handsfree yang terpasang di telinganya.

"Kau boleh masuk!" Yoongi membulatkan kedua matanya terkejut. Apakah dia sedang bermimpi? Atau berhalusinasi? Siapa yang pria itu ajak bicara sehingga memberikan ijin pada Yoongi untuk masuk menemui Jimin begitu saja?

"Benarkah?" tanya Yoongi memastikan. Kedua pria itu mengangguk.

"nde, tapi anda harus berjanji setelah melihat keadaan tuan muda Park, jangan beritahukan pada siapapun dengan kondisinya sekarang ini."

'tuan muda Park? Kenapa mereka memanggil Jimin dengan tuan muda Park?'

"nde, aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun bagaimana kondisinya. Terima kasih. Terima kasih sudah mengijinkanku!" haru Yoongi, kedua pria itu menyingkir dan membukakan pintu kamar inap Jimin untuk Yoongi.

Yoongi menjalankan kursi rodanya perlahan, jantungnya berdetak semakin cepat ketika ia berhasil melewati pintu yang kini sudah ditutup. Kedua mata Yoongi tak berkedip saat pemandangan pertama yang ia lihat adalah pemuda manis-nya yang memejamkan kedua matanya dengan damai tepat di depannya. Dengan ragu, dan tanpa membuat suara Yoongi mendekati ranjang Jimin.

Tes!

Air mata Yoongi keluar begitu saja ketika ia melihat berbagai alat medis menempel di tubuh Jimin-nya. Tangan Yoongi terulur untuk meraih tangan kiri Jimin yang terasa dingin dan mungil di dalam tangan besarnya.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tak juga membuka matamu? Aku sudah bilang padamu untuk lari, apa kau bodoh, ha?!" amuk Yoongi penuh isakan.

"Cepat buka matamu. Aku merindukanmu Jiminie. Aku mohon, jangan seperti ini. Jangan menyiksaku terlalu lama, sayang~" lirih Yoongi ia menyandarkan kepalanya pada tangan Jimin, memeluk tangan mungil itu dengan air mata yang mengalir tanpa henti.

"Aku mencintaimu, cepat buka matamu. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini!" racau Yoongi terus mengulang kata-kata yang sama sampai ia tak sadar jika ia tertidur di kamar Jimin selama hampir tiga jam dengan tangannya yang menggenggam erat tangan mungil Jimin-nya.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Lima hari sudah berlalu sejak kunjungan Yoongi pertama kali ke kamar inap Jimin, kunjungan pertama sekaligus terakhir kalinya. Karena, ketika keesokan harinya Yoongi kembali, kedua pria besar itu tak lagi mengijinkan Yoongi untuk menjenguk. Dan, selama itu pula Yoongi tetap hanya bungkam ketika kelima temannya bahkan para orang tua yang menjenguknya bertanya bagaimana keadaan Jimin. Yoongi hanya diam, bahkan ia tak merespon sama sekali sampai hari ini adalah hari kepulangannya.

Yoongi duduk terdiam seperti biasa diatas ranjangnya. Kepalanya tertunduk dan membiarkan Hyunwoo mengemasi pakaiannya. Saat ini hanya Hyunwoo yang ada di kamar inapnya untuk menjemputnya pulang ke rumah. Ya, ayahnya sudah memutuskan untuk membawa Yoongi pulang ke rumah yang dibuat para appa-nya untuk ia tinggali bersama Namjoon dan Taehyung, sampai libur musim panas selesai. Rumah yang dibangun selama tiga tahun kepergiannya.

"hyung, bisa kau beri aku waktu 15 menit untuk keluar?" ijin Yoongi. Hyunwoo menoleh.

"Kau mau kemana?" tanyanya. Yoongi tak langsung menjawab.

"aku—ingin mencoba peruntunganku." jawab Yoongi. Hyunwoo mengangguk paham dengan maksud permintaan Yoongi.

"Perlu kutemani?" Yoongi menggeleng lemah.

"Tidak perlu. Kau tunggu saja di lobby, aku tidak lama." balas Yoongi. Hyunwoo hanya mengangguk menurut, karena dibantah pun Yoongi pasti akan tetap memaksa untuk pergi sendiri.

"Baiklah, aku tunggu 15 menit di lobby. Jika kau tidak datang sampai menit ke-16, aku benar-benar aku menyusulmu!" Yoongi mengangguk kecil dan turun dari ranjangnya.

"Aku mengerti, hyung! Aku pergi!" pamit Yoongi, ia memasukkan kedua tangannya pada saku jaketnya dan berjalan keluar dari kamar inapnya.

Langkah demi langkah, Yoongi lalui menuju kamar inap Jimin sebelum ia pulang. Karena entah kenapa firasatnya mengatakan jika ia tidak menemui Jimin hari ini, ada kemungkinan hari esok dan seterusnya ia tidak bisa melihat pemuda manis itu. Maka, disinilah Yoongi berdiri di depan dua bodyguard yang seperti robot yang tak pernah pergi dari depan pintu kamar Jimin.

"Maaf, ada perlu apa anda kemari?" tanya salah satu pria besar itu yang hafal betul siapa pemuda tampan yang lagi-lagi datang untuk menemui tuan mudanya. Yoongi menarik nafas.

"Bisakah, aku bertemu dengan Jimin? Berapapun waktu yang kalian berikan, bahkan satu menit sekalipun, aku mohon—ijinkan aku untuk menjenguknya sebentar saja~" pinta Yoongi melas. Kedua pria itu saling berpandangan dan salah satu dari mereka mengangguk memberi sinyal untuk menghubungi seseorang lewat handsfree yang terpasang di telinganya.

"Kau diberi waktu lima menit!" tutur salah satu pria yang sebelumnya sempat berbincang-bincang dengan seseorang lewat handsfree di telinganya. Kedua mata Yoongi berbinar.

"nde, kamsahamnida!" balas Yoongi haru dan salah satu bodyguard itu membukakan pintu kamar inap Jimin untuk Yoongi.

Yoongi memasuki kamar inap Jimin untuk yang kedua kalinya. Ia berjalan kaku mendekati ranjang Jimin. Kedua matanya berkaca saat mengetahui setelah lima hari tak ada perkembangan dari pemuda manis-nya. Masih sama. Seperti terakhir kali ia datang dan tertidur diatas tangan Jimin.

Yoongi duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Jimin dan kembali menggenggam tangan kirinya yang tak terpasang infus. Ia mengecup punggung tangan mungil itu, ingin turut memberi kekuatan agar Jimin-nya cepat membuka matanya. Tangan Yoongi terulur untuk mengelus wajah Jimin yang masih damai dengan mata terpejam.

"Bukankah kau sudah tidur terlalu lama?" tanya Yoongi sendu. "Aku tidak masalah ketika kau bangun nanti kau membenciku bahkan menjauhiku. Tapi tolong—jangan seperti ini. Kau menyiksaku. Aku ketakutan, kau tahu?"

"Kau bisa membenciku sebanyak yang kau mau karena ayahku. Kau bisa melakukan apapun padaku. Memukulku, memakiku, semuanya—kau bisa melakukan semua yang kau inginkan untuk melampiaskan rasa sakitmu bahkan aku tak akan lagi meminta kepercayaan padamu jika kau tak menginginkannya. Hanya saja, aku mohon—buka matamu dan kembalilah. Aku akan menjauh jika itu yang kau mau. Tapi, sungguh aku mohon—jangan tidur terlalu lama, sayang~ aku tidak bisa melihatmu seperti ini..." Yoongi menundukkan kepalanya lama sampai tak sadar jika salah satu dari pria besar itu menghampirinya dan mengisyaratkan bahwa lima menitnya sudah selesai.

Yoongi mendongak, dan mengangguk, ia bangkit dari duduknya tanpa mengatakan apapun dan keluar dari kamar inap Jimin.

"Terima kasih, sudah mengijinkanku untuk menemuinya." tutur Jimin setelah bodyguard yang menjemputnya menutup pintu kamar inap Jimin. "Dan—ucapkan terima kasih dariku pada orang yang kalian hubungi dan sudah mengijinkanku untuk bertemu dengan Jiminie. kamsahamnida!" Yoongi membungkukkan badannya di hadapan dua pria besar itu selama hampir 10 menit. Ingat, Yoongi meminta waktu 15 menit pada Hyunwoo jadi sisanya ia gunakan untuk berterima kasih pada kedua orang yang menjaga Jimin selama 24 jam meskipun ia tidak tahu mereka orang baik atau orang jahat.

Yoongi menegakkan tubuhnya, ia tersenyum tipis dan berbalik badan meninggalkan koridor VVIP yang sepi.

Sepergian Yoongi, kedua bodyguard itu kembali menerima pesan suara dari sang bos yang tak lain adalah orang yang menyuruh kedua pria berbadan besar itu untuk menjaga kamar inap Jimin dan mengontrol semua orang-orang yang ingin masuk.

"Jika setelah hari ini, Min Yoongi datang. Jangan ijinkan dia masuk, apapun yang terjadi. Karena, sesuai dengan apa yang dokter Kim katakan terakhir kali, kondisi Jiminie semakin membaik, dan itu artinya tidak lama lagi, Jiminie membuka matanya. Mengerti?!"

"nde, tuan besar Park!" sahut kedua bodyguard itu kompak.

.

.

.

.

.

Cklek!

Yoongi tak menoleh mendengar pintu kamarnya terbuka dan membiarkan entah langkah kaki siapa masuk ke kamarnya yang dekorasinya penuh dengan dominasi hitam.

"Yoongi-ya!" dan Yoongi semakin bergeming saat mendengar suara tegas ayahnya, Min Seonwoong.

"Kau baik?" tanya Seonwoong suaranya dingin, namun menyiratkan kecemasan dan Yoongi bisa merasakan rasa cemas sang ayah. Yoongi hanya berdehem tak berniat untuk beranjak dari ranjangnnya dan membiarkan ayahnya duduk di samping tempatnya tidur.

"appa tahu, kau mencemaskan Park Jimin. Dan, maafkan appaappa masih tidak bisa berbuat apa-apa untukmu!" Yoongi menarik nafas kesal dan akhirnya memutuskan untuk duduk menatap sang ayah tajam.

"Apakah appa pernah melakukan sesuatu untukku?!" sarkas Yoongi. "Bahkan, hal kecil seperti foto ibuku saja, tak pernah appa berikan padaku. Dan sekarang? Appa mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa untukku?!" lanjut Yoongi menatap ayahnya penuh kebencian. "Aku sudah muak menerima segala dosa yang appa lakukan dimasa lalu, dan apakah aku juga yang harus menanggungnya? Pernahkah appa memikirkan bagaimana perasaanku yang ingin lepas dari semua ini? Apa appa pikir aku tidak turut dihantui atas kesalahan yang bukan kesalahanku? Apakah appa tahu bagaimana setiap hari aku memandang wajah Park Jimin? Aku tidak melakukan apa-apa, tapi karena appa—seseorang yang seharusnya tidak membenciku menjadi membenciku!"

"Maaf appa, nak! Appa tahu, appa tidak pernah bisa mengerti dirimu tapi mengertilah. Apa yang terjadi pada Park Jimin, bukan seperti apa yang kau ketahui sekarang ini." Yoongi menatap ayahnya tak percaya.

"appa mengatakan itu untuk mengelak atau untuk memancingku agar bertanya? Dan kutebak, ketika aku bertanya, appa pasti tidak akan mengatakan yang sebenarnya bukan? Berapa banyak hal yang appa sembunyikan dariku, termasuk tentang ibuku. Kau hanya mengatakan aku sudah tidak memiliki ibu saat aku berusia satu tahun yang bahkan saat itu aku tidak mengerti apapun. Aku bahkan tak ingat bagaimana rupanya." Seonwoong menatap Yoongi penuh luka sama halnya dengan Yoongi yang memperlihatkan bagaimana banyaknya luka yang ia sembunyikan selama ini melalui sorot matanya.

"Kau ingin melihat ibumu?" tawarnya tiba-tiba. Yoongi menatap ayahnya ragu. "Ikutlah, aku akan menunjukkannya!" sang ayah bangkit dari kasur Yoongi. Yoongi berfikir sejenak, namun tak lama kemudian ia dengan rasa penasaran mengikuti sang ayah yang mengajaknya entah kemana.

Yoongi mengikuti sang ayah yang berjalan menuju sebuah rumah kecil yang terletak paling pojok di area rumah besar miliknya, Namjoon dan Taehyung. Yoongi hanya diam dan mengikuti ayahnya yang membukakan pintu itu untuknya.

"Masuklah!" Yoongi menurut. Ia masuk ke rumah kecil itu dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat banyak lukisan di rumah itu, bahkan hal yang membuat Yoongi semakin takjub adalah adanya sebuah grand piano yang berwarna putih di tengah-tengah ruangan. Grand piano yang ditutup sebuah kain putih yang melorot sebagian tapi sangat cantik di mata Yoongi.

"Ibumu, adalah seorang pianis. Hobinya adalah melukis. Semua lukisan ini, adalah karyanya. Dan kebanyakan ia melukis tentang orang-orang yang ada disekitarnya atau lingkungan yang ia suka, ia melukis banyak hal. Ibumu adalah sosok yang penyayang, ramah dan sopan." Yoongi tak merespon apa-apa, ia masih saja menatap kagum pada setiap lukisan yang tampaknya begitu dijaga oleh ayahnya. Lukisan yang sangat indah dan begitu memukau.

"Pasti—ibu adalah wanita yang cantik," gumam Yoongi masih kagum dan tak melihat sang ayah yang menunduk untuk menyembunyikan air matanya dari anak semata wayangnya.

"Sayangnya, dia adalah seorang pria!"

Deg!

Yoongi segera menoleh dan menatap ayahnya yang sudah banjir air mata.

"Kau tentu tahu tentang istilah male-pregnant, kau sudah hidup di luar negeri selama tiga tahun, pasti kau mengetahui hal semacam itu." lanjut Seonwoong. Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya. Seonwoong menarik nafas, menenangkan diri karena telah menceritakan luka lama pada anaknya.

"Kelahiranmu adalah hal membahagiakan untuk kami. Tapi, sayang kebahagiaan itu tidak bertahan lama." Seonwoong menunduk tak melanjutkan ucapannya yang membuat Yoongi tak sabar menunggu cerita sang ayah mengenai ibunya.

"Ketika kau berumur tujuh bulan, kau sempat dititipkan di rumah orang tua Taehyung. Waktu itu, Taehyung belum lahir dan mereka dengan senang hati merawatmu hingga umurmu satu tahun. Dan, setelah tiga bulan bersama keluarga Taehyung, kejadian na'as terjadi pada ibumu. Waktu itu karirku tidak begitu bagus, hutang ayahku dimana-mana dan aku yang harus menanggungnya. Ibuku turut membantu tapi aku tidak tahu ketika suatu malam aku pulang terlambat—dan menemukan ibumu tergeletak di kamar mandi dengan air mengalir dari shower beserta darahnya."

Jantung Yoongi bedetak cepat, melihat kedua mata ayahnya yang terlihat menyedihkan. Dan, ini kali pertama Yoongi melihat ayahnya terlihat menyedihkan selama seumur hidupnya. Ia tak pernah melihat sisi lain dari ayahnya dengan sorot penuh luka di balik kedua mata tajamnya yang ternyata hanya menjadi tameng untuk menutupi lukanya. Dan Yoongi baru menyadari jika ayahnya adalah sosok yang rapuh.

"jadi—ibuku..." Seonwoong mengangguk ketika Yoongi tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya mengetahui bahwa ibunya telah dibunuh. Kedua mata Yoongi bergilir kesana kemari linglung, ia tidak tahu harus merespon seperti apa karena kenyataan ini benar-benar memukulnya secara tak langsung.

"Tapi kenapa? Apa salah ibuku?!" seru Yoongi tak terima menatap ayahnya nanar. "Katakan padaku dan—" Yoongi menjeda ucapannya sejenak, ia menatap ayahnya penuh tuntutan. "Siapa yang melakukan hal keji seperti itu pada ibuku, pa?" tanya Yoongi suaranya merendah.

"appa! Katakan siapa yang melakukannya?!" seru Yoongi meninggikan suaranya tanpa sadar. Seonwoong mengangkat wajahnya dan menatap anak semata wayangnya dengan tatapan memohon maaf.

"Orang yang membunuh ibumu—" Seonwoong membuka suaranya. "—adalah orang yang sama—" suaranya tercekat tak sanggup untuk melanjutkan jawaban yang Yoongi inginkan. "—orang yang sama dengan orang yang menjadi penyebab Jimin kehilangan kedua orang tuanya."

Tubuh Yoongi melemas. Ia terdiam kaku. Kedua matanya kosong. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sebenarnya siapa orang keji itu? Siapa bajingan itu? Siapa iblis yang membuatnya kehilangan ibunya dan membuat orang terkasihnya kehilangan kedua orang tuanya hingga calon adiknya.

Yoongi menarik nafas dan menenangkan diri, ia menatap ayahnya penuh amarah. Amarah yang membuat ayah Yoongi was-was melihat anaknya yang berapi-api.

"Katakan semuanya padaku, pa. Katakan semua yang sudah kau sembunyikan dariku. Semuanya. Tidak hanya tentang keluarga kita, Jimin bahkan semua yang telah appa sembunyikan bersama para appa dari kita semua!" pinta Yoongi tak terima pengelakan dari Seonwoong, yang hal itu membuat pria paruh baya itu hanya menarik nafas dan tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan anaknya.

TBC


(-) yoyoyo.. I'm back.. maap kalau baru update, hehe. Aku harap enggak ada typo-typo bertebaran dan lanjutannya enggak mengecewakan.

(-) hoho.. itu udah tanda-tanda mau kebongkar semua, jadi endingnya enggak lama lagi ya.. entah berapa chapter lagi yang pasti itu enggak lama. Dan aku usahain up secepatnya yang selambat-lambatnya sampai seminggu ya,...

(-) Dan maap saya enggak bermaksud untuk mainan perasaan reader-nim sekalian, hehe .. Love love :* See you in next chapter...

Kamsahamnida,