Previously ...
"Orang yang membunuh ibumu—" Seonwoong membuka suaranya. "—adalah orang yang sama—" suaranya tercekat tak sanggup untuk melanjutkan jawaban yang Yoongi inginkan. "—orang yang sama dengan orang yang menjadi penyebab Jimin kehilangan kedua orang tuanya."
Tubuh Yoongi melemas. Ia terdiam kaku. Kedua matanya kosong. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sebenarnya siapa orang keji itu? Siapa bajingan itu? Siapa iblis yang membuatnya kehilangan ibunya dan membuat orang terkasihnya kehilangan kedua orang tuanya hingga calon adiknya.
Yoongi menarik nafas dan menenangkan diri, ia menatap ayahnya penuh amarah. Amarah yang membuat ayah Yoongi was-was melihat anaknya yang berapi-api.
"Katakan semuanya padaku, pa. Katakan semua yang sudah kau sembunyikan dariku. Semuanya. Tidak hanya tentang keluarga kita, Jimin bahkan semua yang telah appa sembunyikan bersama para appa dari kita semua!" pinta Yoongi tak terima pengelakan dari Seonwoong, yang hal itu membuat pria paruh baya itu hanya menarik nafas dan tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan anaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, sebenarnya ibu Jungkook juga dibunuh oleh orang yang sama?" tanya Yoongi tak percaya setelah ayahnya benar-benar menceritakan semuanya padanya. Seonwoong mengangguk lemah.
"Kami kehilangan orang yang kami sayangi secara beruntun. Waktu itu, aku, Seungwon hyung dan Wonjoong belum memutuskan untuk menghubungi mereka. Sebelum pertemuan di restoran itu, sebenarnya kami semua sudah bertemu di tempat kerja, tapi kami harus membatasi setiap pertemuan kami diam-diam karena banyak mata yang mengawasi. Itulah kenapa kami memutuskan untuk tidak salahnya berkumpul di luar jam kerja."
"Apakah Jungkook tahu jika ibunya dibunuh?" Seonwoong menggeleng.
"Ibunya dibunuh tragis di rumah sakit tepat setelah melahirkan Jungkook." Yoongi menggeleng tak percaya.
"Bagaimana bisa? Siapa orang bejat itu? Jika appa mengatakan bahwa bajingan itu adalah orang yang sama, bukankah appa mengetahui siapa pelakunya?" Seonwoong menarik nafas lelah.
"Masalahnya kami semua hanya mengetahui tiga orang yang menjadi penyebab kecelakaan maut yang menewaskan Seojoon dan Jiwon. Mereka sendiri saja suruhan, tapi meskipun sudah dipenjara sekalipun tiga orang itu tetap saja tutup mulut dan terus memancing emosi semua orang ketika kami mencoba menggali informasi dari mereka. Mereka benar-benar sangat setia. Sampai sekarang aku dan yang lainnya masih mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini."
"Lalu, darimana appa tahu jika semua kesialan ini berasal dari orang yang sama jika appa sendiri tidak mengetahui siapa pelakunya?"
"Kau benar! Tapi, hanya satu orang yang tahu siapa pelakunya." jawab Seonwoong serius. "Park Seojoon. Ayah Jimin adalah orang yang satu-satunya sudah menemukan bukti dari semua pembunuhan ini mulai dari motif hingga penyebabnya. Tapi na'as, sebelum ia mengatakan semuanya pada kami—orang itu lebih cepat bergerak dan membunuh keluarga Jimin dengan tak kalah keji." Yoongi mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi, dimana bukti itu?" Seonwoong hanya menggeleng tak tahu harus merangkai kata apa lagi untuk menjawab pertanyaan dari Yoongi yang ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. "Tapi, bagaimana dengan fitnah yang diterima Seojoon ahjussi kala itu? Kenapa kalian tidak mempercayainya?"
"Itu hanya alibi. Ada seseorang yang memfitnah Seojoon untuk menutupi kesalahannya sendiri. Jika kami terang-terangan membantu Seojoon, yang ada Seojoon sendiri yang akan kesulitan. Bekerja di politik harus memutar otak dan melakukan yang sebaliknya jika ingin kebenaran yang menang. Tapi, sampai sekarang kita masih tidak mendapat apa-apa. bajingan itu benar-benar pintar, cerdik dan licik!"
"Jadi, berita itu para appa gunakan sebagai bagian dari rencana? Itukah sebabnya kalian hanya diam saja?" Seonwoong mengangguk.
"Kita diam dari luar tapi kita bekerja di dalam. Awalnya kami tidak terima dengan berita yang sama sekali tidak Seojoon lakukan, awalnya kami akan menyangkal dan memberikan bukti pada publik dan pemerintah bahwa Seojoon tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi, tiba-tiba saja Seojoon mengatakan ini adalah peluang bagi kita untuk mengumpulkan bukti dan menangkap dalang dari semua kerusuhan ini. Seojoon sudah menduga, jika dirinya difitnah kami pasti akan berusaha untuk mengembalikan nama baik Seojoon. Dan, Seojoon mengatakan bagaimana jika kita melakukan sebaliknya? Pura-pura saja kami tidak tahu. Dan ketika semua orang terfokus pada kasus Seojoon bukankah kita justru memiliki peluang yang besar?" Yoongi mengangguk paham.
"Tapi, kenapa Jimin selalu berteriak jika bertemu dengan para appa?" tanya Yoongi teringat masa kecilnya. Seonwoong berfikir sejenak. "Apa karena Jimin mendengar tentang masalah ayahnya dari berita itu? Dan melihat orang-orang yang sudah ia anggap sebagai pamannya, orang terdekat ayahnya tidak mempercayainya?" tebak Yoongi yang justru dibalas gelengan dari Seonwoong.
"Aku rasa bukan itu masalahnya. Aku rasa Jimin kecil mengetahui sesuatu yang tidak orang dewasa ketahui, dan aku—tidak! Kami semua memiliki firasat jika bukti yang kami semua cari berada di tangan Jimin. Aku tidak tahu apa yang bocah itu ketahui tapi, ketika Seojoon ataupun Jiwon bertanya, Jimin kecil tidak pernah menjawab."
Keheningan menyelimuti keduanya. Yoongi yang menunduk dan memikirkan segala kenyataan mengerikan yang baru saja ia ketahui, dan ayahnya yang seolah baru teringat sesuatu dan memanggil nama Yoongi yang membuat anaknya terkejut.
"Yoongi-ya!" Yoongi hanya berdehem.
"Kau tahu, kenapa kami selalu memastikan keadaan Jimin?" tanya Seonwoong. Yoongi menggeleng samar. "Jimin adalah sasaran mereka, selain ia memiliki bukti, ada kemungkinan jika Jimin bisa menjadi saksi. Itupun, jika Jimin sudah mengingat semuanya. Dan, kau tahu apa artinya jika Jimin sudah ingat semuanya?" Yoongi mengeryitkan keningnya, jantungnya berdetak cepat karena ayahnya mengatakan hal yang lebih mengerikan lagi yang mampu menghancurkan Yoongi detik itu juga. "Dia tidak hanya akan membongkar semuanya, tapi cepat atau lambat, Jimin pasti dalam bahaya!" Yoongi mengepalkan kedua tangannya, ia menggertakkan giginya tanpa sadar. Ia berjanji pada dirinya sendiri apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan Jimin-nya. Tidak lagi!
.
.
.
.
.
.
.
Jemari mungil itu bergerak perlahan. Kelopak matanya yang mulai tergerak membuka namun rasanya sulit untuk terbuka secara langsung. Namun, ia memaksa ketika ia merasakan cahaya lampu di balik kelopak mata indahnya. Perlahan, sepasang mata indah itu terbuka. Mulai menyesuaikan diri dengan langit-langit dinding yang berwarna peach yang begitu lembut dan enak dipandang mata.
"Kau sudah sadar, nak?" sapa suara serak yang membuat si pemuda manis yang baru saja sadar dari komanya menoleh dan mendapati seorang pria tua yang duduk di samping ranjangnya.
"Tunggu sebentar, dokter Kim sedang perjalanan kemari." ujarnya senang bukan main.
Jimin, pemuda manis yang akhirnya membuka mata itu hanya terdiam. Ia masih menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang menerangi kamar inapnya. Tenggorokannya yang kering dan tubuhnya yang lemas. Sejenak, Jimin juga mencoba untuk mengingat hal terakhir apa yang ia lakukan sampai ia terbaring di rumah sakit ini.
Cklek!
Seorang dokter senior bername tag Jeany Kim, dokter cantik yang berwajah kebarat-baratan masuk ke kamar inap Jimin dan menyempatkan untuk menyapa pria tua yang hanya membalasnya dengan senyum singkat.
Dokter Kim bersama asistennya dengan cekatan memeriksa kedua bola mata Jimin beserta jantung dan organ lainnya dengan cermat.
"Bagaimana?" tanya pria tua setelah dokter Kim melepas stetoskop-nya dan mengalungkannya pada leher jenjangnya.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan tuan Park. Park Jimin sudah sangat membaik. Operasinya berjalan dengan lancar. Mungkin, Jimin hanya membutuhkan penyesuain sebentar. Selebihnya, semua organ tubuhnya sudah kembali normal."
"syukurlah! Bagaimana dengan lukanya?"
"Tak ada yang serius. Lukanya akan segera mengering." pria tua yang dipanggil tuan Park itu mendesah lega.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit dokter Kim sopan. Tuan Park mengangguk dan mempersilahkan dokter cantik itu pergi setelah memastikan Jimin baik-baik saja.
"Kau butuh sesuatu, nak?" mungkin benar apa yang dikatakan dokter Kim. Jimin masih menyesuaikan. Karena, ketika tuan Park bertanya, Jimin masih saja diam dan tak merespon sama sekali.
Jimin menoleh pada pria tua yang duduk di samping ranjangnya. Menatapnya lamat tanpa berkedip. Seolah jika ia berkedip sekalipun, sosok yang sedang mengelus wajah manisya ini langsung hilang dalam sekejap.
Bibir Jimin mulai bergerak perlahan. Hal itu membuat tuan Park mendekatkan dirinya pada Jimin untuk mendengar gerakan bibir Jimin tanpa mengeluarkan suara.
"a-a-ir~" lirih Jimin sangat pelan. Tuan Park tersenyum dan mengambil segelas air di atas nakas di dekat ranjang Jimin.
"Minumlah, nak." ujar tuan Park mengarahkan sebuah sedotan pada bibir Jimin dan Jimin meminum air dari dalam gelas dengan perlahan sampai gelas itu kosong. "Kau ingin makan sesuatu?" Jimin menggeleng, ia berdehem sebentar. Ia tersenyum manis, mendengar dehemannya terdengar normal seperti biasa.
"haraboji~" panggil Jimin dengan kedua matanya berbinar. Tuan Park yang mendapat panggilan penuh sayang dari cucunya pun tersenyum haru.
"Kau sudah mengingatku, hm?" Jimin mengangguk. "Ada banyak hal yang harus kita bicarakan tapi, kau harus pulih terlebih dulu. Mengerti, Seojoon kecil?" Jimin tersenyum kecil dan mengangguk menurut.
"nde haraboji!" balasnya tanpa melepaskan pandangannya dari sang kakek yang kini tengah menepuk-nepuk pundaknya sayang.
.
.
.
.
.
"Benarkah, hyung? Ibumu dan ibunya Jungkook juga dibunuh oleh orang yang sama, yang menjadi penyebab kecelakaannya keluarga Jimin?" tanya Taehyung menatap Yoongi tak percaya. Yoongi mengangguk kecil, Taehyung dan Hoseok yang kebetulan sedang mengunjunginya dan kini keduanya berada di kamar Yoongi. Taehyung yang dengan acuh tiduran di ranjang Yoongi, Hoseok yang duduk di sofa dengan kedua matanya yang fokus pada televisi yang sudah menyala ketika ia datang, sementara Yoongi yang tengah mengambil tiga kaleng cola di lemari pendingin yang ada di kamarnya.
Yoongi berjalan mendekati Hoseok, melempar satu kaleng kearah Hoseok yang langsung Hoseok tangkap dengan cekatan. Begitu pula dengan Taehyung.
"Ayahku sudah menceritakan semuanya padaku kemarin. Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Aku tidak menyangka jika sebenarnya masalah ini tidak hanya berkaitan dengan Jimin." tutur Yoongi.
"Apakah mungkin, jika aku bertanya pada ayahku. Ceritanya juga akan berbeda?" tanya Hoseok.
"Mungkin tidak berbeda, tapi justru kita akan mendapat tambahan informasi." jawab Yoongi.
"Jadi, apa diantara semua orang, Jimin-lah yang paling mengetahui secara detail?" tebak Taehyung. Yoongi diam sejenak.
"ya, jika dia sudah ingat semuanya."
"Itukah kenapa orang jahat itu mengincar Jiminie?" tanya Hoseok. Yoongi mengangguk.
"Karena Jimin punya buktinya?" lanjut Taehyung. "Tapi, jika Jiminie punya buktinya dan dia sudah ingat semuanya. Bukankah itu sudah terlambat?"
"Maksudmu?" tanya Hoseok. Yoongi diam mendengar.
"Begini, hyungnim!" sahut Taehyung, ia beranjak dari ranjang Yoongi dan berjalan mendekati kedua hyung-nya yang sudah duduk di sofa. "Misalnya, Jimin sekarang ini sudah ingat semua. Tapi, soal bukti itu bisa saja Jimin juga tidak tahu karena ayahnya yang menyimpannya dan bukankah bukti itu sudah hilang selama delapan tahun? Jika Jimin ingat, kemungkinan kecil untuknya memiliki bukti itu, karena kau sendiri tahu 'kan hyung, selama delapan tahun Jimin sama sekali tidak mengetahui apapun tentang masa lalunya? Bahkan, ia sendiri lupa bagaimana wajah kedua orang tuanya. Lagi pula, bukankah kata ayahmu yang memiliki bukti itu Seojoon ahjussi? Sementara, kecelakaan itu saja tidak mereka duga akan terjadi. Jadi, menurutmu apa masuk akal jika Jimin masih memiliki buktinya?" Yoongi dan Hoseok terdiam dengan penjelasan Taehyung yang cukup logis.
"Itu benar, Seojoon samchon yang memiliki buktinya. Dan, bukankah akan berbahaya jika Seojoon samchon ternyata memberikan bukti itu pada Jimin yang masih terlalu kecil? Dan aku yakin, Seojoon samchon tidak melakukan sesuatu yang membuat Jimin dalam bahaya apalagi jika itu benar, rasanya tidak mungkin karena jika Seojoon samchon memberikan bukti itu pada Jimin, ia seolah seperti cenayang yang tahu jika keluarganya akan dilanda musibah dan hanya Jimin yang bertahan. Itu.. terdengar cukup aneh untukku." tutur Hoseok.
"Kalau begitu, apa mungkin ada yang Seojoon ahjussi percayai selain para appa?" tanya Yoongi.
"Jika ada, apa mungkin jika dua orang yang menjaga kamar inap Jimin sekarang ini adalah orang lain yang mungkin—"
"Benar!" potong Taehyung menatap Hoseok antusias. "Apa mungkin, Jimin masih memiliki keluarga?" lanjut Taehyung. "Kau sudah mengenalnya sejak kecil 'kan, hyung? Kau pasti tahu sesuatu yang terlewatkan." Hoseok tampak mengingat dan Yoongi yang menatap Hoseok penuh harap.
"Aku tidak ingat, setahuku Seojoon samchon maupun Jiwon imo adalah anak tunggal di keluarganya."
"Bagaimana dengan kakek-neneknya?" tanya Yoongi penasaran.
"BENAR!" pekik Hoseok tiba-tiba yang membuat Yoongi dan Taehyung terlonjak karena terkejut dengan seruan heboh dari Hoseok.
"aish, hyung! Tak perlu berteriak!" geram Taehyung seraya menggosok telinganya yang pekak.
"Kedua orang tua Jiwon imo sudah meninggal sebelum Jiminie lahir dan jika tidak salah ingat, ibunya Seojoon samchon juga sudah meninggal ketika Seojoon samchon berada di bangku sekolah menengah atas dan ayahnya Seojoon samchon sudah lama berada London bahkan sejak kami kecil aku belum pernah bertemu dengan kakek Jimin itu, jadi aku tidak tahu beliau masih hidup atau sudah meninggal."
"Jadi, Jimin masih memiliki kakek?" tanya Yoongi.
"Entahlah, hyung. Sejak dulu, kami juga jarang bertemu dengan kakeknya. Jadi, aku tidak tahu pasti." jawab Hoseok.
"Aku rasa kita harus mencari tahu." tutur Yoongi.
"Itu benar, hyung. Dan hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu siapa orang yang menyuruh untuk menjaga kamar inap Jiminie dan melarang kita semua untuk mengunjunginya." setuju Taehyung.
"Bagaimana jika itu benar kakeknya?" tanya Hoseok.
"Bukankah itu bagus? Setidaknya, Jimin masih memiliki keluarga," balas Yoongi. Hoseok berfikir sejenak seolah ada sesuatu yang ia lupakan dan sialnya tidak bisa ia ingat sama sekali.
"ah~ hyung, aku ingat. Ada hal penting yang harus kalian ketahui," tutur Taehyung tiba-tiba.
"wae, wae, wae, ada apa?" tanya Hoseok tiba-tiba. Taehyung menatap Yoongi dan Hoseok serius. Wajah yang jarang sekali mereka lihat dari seorang Taehyung yang tak pernah sekalipun bersikap serius pada hal apapun.
"Kalian tahu, siapa yang membuat Jiminie marah dan mengetahui semuanya? Tentang bahwa kita mengetahui masa lalunya dan kita adalah teman masa kecilnya?" tanya Taehyung. Hoseok menggeleng dan Yoongi hanya diam saja. "Kalian akan terkejut,"
"Siapa siapa?" tanya Hoseok tak sabar.
"Bae Joohyun!"
"MWO?!" pekik Hoseok tak bisa lagi mengontrol suaranya yang memenuhi kamar Yoongi.
"Kau tidak bercanda 'kan?" tanya Yoongi. Taehyung menggeleng tegas.
"aniyo, dan kalian tahu apa yang lebih mencengangkan lagi?" tanya Taehyung yang membuat kedua hyung-nya berdebar entah karena apa. "Bae Joohyun mengatakan semua itu pada Jiminie atas suruhan Park Chanyeol!" Taehyung kira kedua hyung-nya akan kembali memekik heboh, Hoseok terutama. Tapi, yang ia dapat hanyalah wajah tanpa ekspresi dari Hoseok maupun Yoongi.
"wae wae wae? Kenapa kalian diam saja?" tanya Taehyung tak mengerti.
"Kau tahu dari siapa?" tanya Yoongi.
"Kang Seulgi, hyung!"
"Siapa?" ulang Yoongi.
"Kang Seulgi, sepupu Bae Joohyun. Dia mengatakannya padaku karena menurutnya, Bae Joohyun sudah kelewat batas pada Jimin."
"Tunggu tunggu!" sela Yoongi. Taehyung mengerjapkan kedua matanya dan menatap Yoongi yang sedang memperlihatkan kerutan di dahinya.
"Kau bilang, Bae Joohyun yang mengatakan semuanya pada Jiminie karena permintaan Park Chanyeol?" Taehyung mengangguk. "Jadi, apa itu artinya Park Chanyeol juga mengetahui tentang keadaan Jimin?"
"Apa jangan-jangan kakak angkat Park Chanyeol adalah benar salah satu dari mereka?!" tebak Hoseok mulai heboh. Yoongi berdecak dan mengacak rambutnya frustasi.
"oh Tuhan~ aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi sekarang ini. Siapa Park Chanyeol itu sebenarnya? Dan, darimana Joohyun bisa tahu?" tanya Yoongi.
"Kata Seulgi, Bae Joohyun mendengar pembicaraan kita ketika kita berada di ruang rehat gedung asrama." jawab Taehyung.
"okay, itu terdengar masuk akal. Dan sekarang, darimana Park Chanyeol tahu jika Joohyun mendengar pembicaraan kita? Dia itu siswa baru, man~" dan okay, Taehyung baru saja menyadari jika Yoongi hyung-nya ternyata lebih realistis daripada dirinya.
"mian, hyung. Aku tidak tanya." cengir Taehyung tanpa merasa bersalah.
"aigoo, kenapa kau mendapat informasi yang setengah-setengah?!" tanya Yoongi kesal.
"aish, hyung sudah untung Seulgi mau menceritakannya pada Taehyung secara cuma-cuma." Hoseok menengahi.
"Ya, untung saja!" desis Yoongi masih kesal. Taehyung melirik kearah Hoseok yang dibalas Hoseok dengan mengendikkan bahunya tak peduli pada Taehyung karena Yoongi yang merasa kesal setelah informasi yang Taehyung berikan. Taehyung menarik nafas pasrah. toh, sedingin-dinginnya Yoongi, pemuda tampan itu tidak akan berlama-lama merasa kesal padanya. Taehyung yakin itu.
.
.
.
.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, kondisi Jimin lambat laun semakin membaik. Wajahnya yang tak lagi pucat meskipun kepalanya yang membotak karena efek dari operasi yang ia jalani. Tapi, setidaknya keadaan Jimin tak semenyakitkan sebelumnya.
Hari ini adalah hari ke-9 sejak Jimin siuman dari komanya. Pintu kamar inapnya yang masih dijaga oleh dua pria berbadan besar membuat Jimin awalnya merengek dan mengatakan bahwa itu terlalu berlebihan pada sosok pria tua yang sudah ia ingat. Sosok yang ternyata adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah ia kehilangan kedua orang tuanya serta calon adiknya. Sosok yang ternyata berada di dekatnya dan selalu menjaganya selama ini. Sosok yang bahkan rela untuk melakukan apapun hanya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja dalam keadaan apapun. Sosok yang tak lain adalah ayah dari ayahnya, dengan kata lain adalah sosok yang ia panggil dengan sebutan 'haraboji'.
Ya, Jimin benar-benar tak menyangka setelah ia ingat semuanya, benar-benar ingat semuanya. Dan baru menyadari jika seseorang yang selalu ia panggil dengan sebutan 'Sundae haraboji' adalah kakek kandungnya, membuat Jimin diam-diam mengulum senyum ketika mengingat bagaimana kakeknya yang begitu berjuang untuk berada di dekatnya tanpa membuat siapapun orang curiga. Bahkan, rela untuk meninggalkan kehidupan terlampau mewah dan sempurna demi cucu satu-satunya.
Cklek!
Jimin yang sedang bersandar pada ranjang tidurnya menoleh kearah pintu terbuka dan mendapati salah satu orang kepercayaan kakeknya yang juga ia ingat siapa namanya dengan jelas. Seseorang yang lebih tua tujuh tahun diatasnya, pria tampan dengan wajah penuh senyum, Lee Hyukjae berjalan mendekati ranjang Jimin.
"oh, hi hyung.. aku baru saja memikirkanmu." sapa Jimin dengan eye smile yang terlihat sangat menggemaskan untuk Hyukjae.
"Benarkah?" tanya Hyukjae duduk di kursi di samping ranjang Jimin seraya tangannya yang terulur untuk mengusak kepala Jimin yang sudah tidak ada rambutnya. "Ada apa kau mencariku, tuan muda?" Jimin mempotkan bibirnya kesal.
"ah~ hyung, aku harus mengatakan berapa kali, jangan memanggilku 'tuan muda'!" kesal Jimin yang justru dibalas kekehan oleh Hyukjae, oh betapa rindunya ia dengan rengekan bocah ini?
"arra arra.. kau butuh sesuatu?" Jimin mengangguk.
"Aku butuh obat penumbuh rambut."
"mwo?!" Hyukjae mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Ia tidak salah dengarkan? Jimin tertawa kecil.
"ayolah hyung, carikan aku obat penumbuh rambut yang paling cepat dan ampuh. Tidak mungkin 'kan jika aku nanti keluar dari rumah sakit dengan kepalaku yang sudah botak ini?" tutur Jimin merajuk. Hyukjae terkekeh.
"arra arra, aku akan carikan obat penumbuh rambut yang paling mujarab di seluruh dunia!" balas Hyukjae yang membuat Jimin bertepuk senang.
"Kau memang yang terbaik, hyung!" Jimin mengacungkan kedua jempolnya dihadapan Hyukjae. "oh hyung, bagaimana?" tanya Jimin setelah hanya ada keheningan diantara mereka. Hyukjae mengeryitkan keningnya tak mengerti.
"Apanya yang bagaimana?" jawabnya dengan pertanyaan. Jimin memutar kedua bola matanya jengah dan mendekatkan dirinya pada Hyukjae.
"Keadaan Yoongi hyung." bisiknya. Hyukjae terkekeh.
"Apa kakekmu masih tidak mengatakannya?" Jimin mengangguk, mempoutkan bibirnya bermaksud merajuk.
"Aku tanya pada perawat yang kemari, katanya Yoongi hyung sudah pulang 10 hari yang lalu." jawab Jimin. Hyukjae terdiam sejenak. "hyung, kau tahu sesuatu 'kan? Aku tidak boleh keluar karena dua raksasa itu," adu Jimin kesal yang justru dibalas tawa lantang dari Hyukjae. "yak, hyung! Kenapa kau menertawaiku?"
"Begini, Chimchimie—apa kau tahu ketika kau koma Yoongi hyungmu, sempat mengunjungimu dua kali?" Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
"jinjjayo?" Hyukjae mengangguk.
"Diantara semua orang, tuan besar Park hanya mengijinkan Yoongi untuk mengunjungimu."
"daebak! Kenapa aku tidak siuman saja ketika dia berada disini?"
"Kau siuman sehari setelah dia berada disini. Itu hari kepulangannya dari rumah sakit." Jimin mengangguk paham.
"Tapi, kenapa haraboji hanya mengijinkan Yoongi hyung untuk menjengukku?" tanya Jimin tak mengerti. Hyukjae tersenyum penuh arti.
"Tentu saja dia harus mengijinkan calon suami cucunya untuk berkunjung."
"Hyung~" kedua pipi Jimin memerah mendengar godaan Hyukjae.
"aigoo~ kau benar-benar menggemaskan!" Hyukjae mencubit pipi Jimin gemas sementara Jimin hanya mempoutkan bibirnya kesal. "Jadi, katakan padaku apa kau ingin menemuimu Yoongi-mu?"
"Bolehkah?" Jimin tampak terkejut.
"Kenapa tidak?"
"Tapi, aku belum membicarakan apapun kepada haraboji." Hyukjae tampak berfikir kemudian ia tersenyum tampan.
"Kenapa kau tidak mengirim surat atau sesuatu untuknya. Aku yakin, dia juga mencemaskanmu." Jimin tersenyum senang.
"Apa haraboji mengijinkannya?"
"Tentu saja, aku bisa memastikannya."
"Terima kasih, hyungnim. Kau memang yang terbaik!"
.
.
.
.
.
Jika Jimin yang sudah mulai membiasakan diri dengan segala hal tentang keluarganya yang sudah kembali, maka berbeda dengan Seokjin dan Jungkook yang kini tengah berada di sebuah kedai kumuh yang terletak di belakang hotel bintang lima. Kedai yang tak begitu ramai tapi entahlah apa yang membuat dua orang ini mengunjungi kedai yang tak layak kunjung itu.
"Apa kau yakin, dia akan datang , hyung?" tanya Jungkook menatap Seokjin di depannya ragu.
"Tenang saja, sebentar lagi dia juga akan datang." balasnya yakin.
"Lagi pula, bagaimana bisa kau mengenal orang seperti itu?" tanya Jungkook heran. "Aku tidak pernah melihatmu keluar sekolah."
"Apa kau pikir hanya anak nakal sepertimu yang bisa berkeliaran?" cibir Seokjin, Jungkook hanya terkekeh.
"ani—aku hanya heran saja." balas Jungkook kembali bersikap acuh seperti biasa. Karena rasa bosan, Jungkook mengedarkan pandangannya pada kedai yang sempat membuatnya jijik ketika ia dan Seokjin pertama kali masuk ke kedai tempat dimana ia dan Seokjin harus bertemu dengan seseorang yang masih mereka tunggu kedatangannya.
Jungkook segera mengalihkan pandangannya ketika ia memandang berkeliling kedai ini, hampir seluruh pasang mata pengunjung kedai menatap kearahnya dan Seokjin secara terang-terangan seolah ia dan Seokjin adalah dua orang manusia paling berdosa di dunia. Sungguh, tatapan mereka benar-benar membuat Jungkook merasa tidak nyaman sama sekali. Lagi pula, ia heran darimana Seokjin bisa mengetahui tempat menjijikkan seperti ini?
"oh, dia datang."
Dalam hati, Jungkook mendesah lega mendengar gumaman Seokjin tepat pintu kedai yang terbuat dari kayu terbuka. Ia ingin cepat menyelesaikan urusannya dan segera keluar dari kedai yang membuat Jungkook ingin memuntahkan semua isi sarapannya detik ini juga.
Sret!
"mianhae, apa kalian menunggu lama?"
Jungkook hampir saja hendak mncibir tapi sudah didahului oleh Seokjin yang menggeleng tak lupa dengan senyum cantiknya membuat Jungkook hanya bisa menghela nafas pasrah.
"ani, kami juga baru datang." kedua mata Jungkook membulat horor. Baru? Apa Seokjin hyung-nya ini bercanda? Mereka berdua sudah datang dan menunggu selama tiga puluh menit dari jam janjinya, dan Seokjin dengan polosnya mengatakan 'baru'?
"Syukurlah kalau begitu. Aku hampir kerepotan saat keluar tadi." ujar pria yang merupakan kenalan Seokjin. Kesan pertama ketika Seokjin mengenalkan pria itu pada Jungkook adalah, pria ini pasti preman. Dan benar dugaannya pria ini adalah mantan preman. Mantan atau tidak itu sama saja untuk Jungkook. Kulitnya yang tan, rambut yang dicat warna-warni mencolok, dan setiap mereka bertemu pria itu selalu memakai baju robek-robek yang bermerk gucci yang Jungkook tahu, itu adalah barang-barang palsu.
"Bagaimana bisa?" tanya Seokjin. Jungkook hanya bisa mendengar interaksi Seokjin dengan pria berandal itu dalam diam, karena sesungguhnya Jungkook tak pernah menyetujui ataupun suka dengan ide Seokjin yang menyuruh pria yang duduk di depannya ini untuk melakukan sesuatu yang sangat amat penting. Jadi, jujur saja Jungkook agak ragu dan tidak begitu percaya pada pria ini.
"hm, aku hampir saja ketahuan oleh Pak Perdana Menteri." adunya dengan nafas terengah. Seokjin dan Jungkook saling berpandangan dengan dahi masing-masing yang mengeryit bingung.
"Pak Perdana Menteri?" tanya Seokjin memastikan pendengarannya. Pria yang Jungkook lupa namanya itu mengangguk.
"Perdana Menteri Kim yang—"
"Kim Wonjoong?" potong Jungkook.
"nde, beliau!" serunya antusias.
"Untuk apa ayahnya Tae berada di kantor ayahku?" gumam Seokjin tak mengerti. "Apa kau tahu? Apa yang Perdana Menteri Kim lakukan disana?" tanyanya beralih pada pria itu. Pria itu tampak mengingat.
"Entahlah, aku tidak yakin, hanya saja. Mereka bicara diruangan tertutup seolah takut jika ada yang mendengar. Jadi, aku tidak begitu mendengar dengan jelas karena fokusku untuk melarikan diri." Seokjin mengangguk paham.
"Jadi, bagaimana? Kau sudah mendapatkannya?" tanya Seokjin tak sabar. Pria itu mengangguk antusias, ia membuka jaket hitamnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat.
"Ayahmu menyimpannya di brangkas."
"Di brangkas? Bagaimana kau bisa membukanya?" tanya Jungkook takjub. Lelaki itu nyengir dan menunjukkan senyum kotaknya.
"Aku bisa membuka jenis brangkas apapun."
"daebak!"
"Itulah sebabnya aku meminta tolong padanya."
"Tapi, bagaimana jika CCTV di ruang kerja ayahmu merekamku? Aku bisa masuk penjara lagi." Seokjin menggeleng.
"Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya. Kau tak perlu cemas, dan ini bayaranmu." Seokjin mengeluarkan amplop tebal yang berisi banyak lembar won dihadapan pria itu.
"Terima kasih, Seokjina. Jika butuh bantuan lagi, hubungi aku. Aku akan siap membantu." Seokjin mengangguk.
"nde, terima kasih kembali."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa!" pamit pria itu dan melesat pergi begitu saja.
"kajja, kita pergi dan bicarakan ini di tempat aman!" ajak Seokjin. Jungkook pun segera bergegas cepat untuk keluar dari kedai dan mengekori sang hyung yang entah akan mengajaknya kemana.
"Kira-kira apa yang ayahnya Tae lakukan di kantor ayahku?" pikir Seokjin lagi. Jungkook hanya mengedikkan bahunya tak tahu, bahkan ia juga tak tahu benda apa yang diberikan pria itu pada Seokjin.
"Aku tidak percaya para appa, menyembunyikan banyak hal dari kita." balas Jungkook.
"hm, kita juga bisa menyembunyikan banyak hal dari mereka."
"Maksud hyung?" Jungkook menghentikan langkahnya yang sudah berada di pinggir trotoar begitu pula dengan Seokjin yang kini menatap Jungkook serius.
"Informasi dibayar informasi. Jika mereka tidak mau bicara, jadi jangan salahkan kita jika kita mencari tahu. Lagi pula apa yang begitu gawatnya sampai mereka selalu membatasi semua orang seperti ini? Bahkan, juga pada kita. Bukankah semakin lama ini semakin berlebihan?" Jungkook mengangguk setuju.
"Tapi, bagaimana jika dengan menyembunyikannya dari kita adalah hal terbaik untuk kita?" tanya Jungkook. Seokjin diam sejenak.
"Tapi, kita bukan anak kecil lagi Jungkook-ah. Mereka tidak mengatakannya pada kita, itu berarti tidak menganggap kita selama ini. Mereka tidak mempercayai kita karena kita hanyalah anak kecil di mata mereka." Jungkook terdiam.
"Apakah termasuk appa?" dan seketika Seokjin merasa menyesal ketika melihat sorot mata penuh kekecewaan di kedua mata Jungkook.
"Jungkook-ah—"
"Aku juga berpikiran sepertimu, hyung. Sampai kapan mereka akan menyembunyikan semua ini? Tapi, aku mencoba untuk berpikiran positif karena ayahku. Aku hanya memilikinya, jadi aku yakin apapun yang juga ayahku sembunyikan dariku, aku yakin itu yang terbaik untukku." Seokjin mengulum senyum dan menarik Jungkook ke dalam pelukannya.
"nde, kau benar. Apapun yang para orang tua lakukan pada kita, apapun yang mereka sembunyikan dari kita, kita harus yakin bahwa semua itu pasti untuk kebaikan kita." Seokjin mengelus surai Jungkook lembut dan Jungkook menyamankan dekapan Seokjin padanya. Untuk sekarang, Jungkook benar-benar membutuhkan sandaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" seru Yoongi mempersilahkan pada orang yang mengetuk pintu kamarnya.
Cklek!
Pintu itu terbuka dan muncullah kepala pelayan, paman Lee, memasuki kamar Yoongi. Yoongi yang sedang bermain games di komputernya menoleh ketika paman Lee berjalan menghampirinya dengan sopan.
"Maaf, mengganggu anda tuan muda." paman Lee menunduk dan Yoongi hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Tidak apa, paman. Ada apa?" tanya Yoongi mengabaikan layar komputernya sejenak.
"nde, tuan muda. Ada surat untuk anda." Yoongi mengeryit bingung dan berjalan mendekati paman Lee.
"Surat?" paman Lee mengangguk dan menyerahkan sebuah amplop putih pada Yoongi.
"Dari siapa?" tanya Yoongi setelah menerima surat yang paman Lee berikan padanya.
"Kami tidak tahu tuan muda. Seorang pria tampan dan berjas biru datang kemari dan menitipkan surat ini untuk tuan muda." Yoongi hanya mengangguk asal.
"nde, terima kasih paman."
"Baik tuan muda. Kalau begitu, saya pamit." paman Lee undur diri yang hanya dibalas deheman dari Yoongi.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Yoongi membolak-balikkan sampul amplop yang sama sekali tak ada nama pengirimnya. Ia duduk di sofa hitamnya dan membuka amplop itu tanpa merasa curiga sedikitpun.
Untuk, Min Yoongi sunbaenim...
Sunbaenim, annyeong. Bagaimana kabarmu, kau baik? Aku harap kau baik setelah kejadian di hutan itu. Maaf, jika aku tidak bisa mengunjungimu ketika kau sakit, tapi aku harap kau tetap baik sampai kapanpun. Dan, mengenai itu aku tahu kau pasti mencemaskanku, terima kasih sudah menyempatkan untuk mengunjungiku ketika koma. Aku sangat menyesal tidak bangun lebih cepat karena aku juga ingin memastikan keadaanmu. Tapi, kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Aku sudah membaik, dan aku harap—kita bisa bertemu dalam waktu dekat.
Park Jimin.
Yoongi mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Ia membaca surat singkat itu berulang kali hanya untuk memastikan jika yang mengirim surat itu padanya adalah Park Jimin yang sama. Park Jimin yang sudah memporak-porandakan hatinya yang membuat jantungnya sering berdebar jika ia berada di dekat pemuda manis itu.
Yoongi diam sejenak. Lebih tepatnya menenangkan jantungnya yang kini tengah berdebar tak karuan membuat Yoongi tak bisa berfikir jernih. Namun, sedetik kemudian dengan kecepatan kilat ia menyambar jaket hitam-merahnya dan segera berlari keluar kamar.
"Selamat pagi tu—"
Para maid yang berpapasan dengan Yoongi dibuat terkejut ketika tuan mudanya berlari mengabaikannya menuju teras rumah membuat para maid menatap penuh tanya kearah tuan muda mereka yang tampaknya hendak pergi entah kemana.
Yoongi mengedarkan pandangannya di area luar rumah hingga kedua matanya melihat pintu garasi dimana ada tiga mobil yang tak pernah tersentuh sekalipun. Yoongi tersenyum tipis, ada gejolak senang dihatinya karena setelah sekian lama, akhirnya ia bisa menyentuh si silver yang sudah lama tidak ia sentuh.
"Tuan muda, apa yang anda lakukan disini?" tanya seorang pelayan yang tampaknya bertugas untuk merawat mobil miliknya, Namjoon, dan Taehyung.
"Aku mau keluar. Bisa kau berikan kunci mobilku?" pinta Yoongi tak ingin dibantah.
"Tapi, tuan muda—"
"Kau mau kupecat?!" ancam Yoongi menyeramkan.
"Tapi, tuan besar Min tidak mengijinkan anda keluar." Yoongi berdecak kesal.
"Kau tahu, aku bisa lebih menyeramkan dari ayahku. Jadi, aku sarankan padamu akan lebih baik untuk menuruti kataku atau kau tidak hanya berakhir dengan keluar dari pekerjaanmu sekarang tapi selamanya dan membuatmu tidak akan bisa menghidupi keluargamu!" ancam Yoongi yang tampaknya berhasil membuat si pelayan was-was takut.
"ba-baik tuan muda. Saya akan mengeluarkan mobil anda." Yoongi menggeleng.
"ani ani ani! Berikan saja kuncinya dan buka pintu garasinya!" titah Yoongi yang tentu saja langsung dikerjakan oleh pelayan itu untuk mengambil kunci mobil Yoongi yang diletakkan dilemari khusus bersama dengan kunci mobil milik Namjoon dan Taehyung.
Setelah, menerima kunci mobilnya tanpa membuang waktu lagi Yoongi segera masuk ke si silver BMW-nya.
"hello baby, you miss me?" sapa Yoongi pada mobilnya, ia memanaskan mesin mobilnya sebentar sebelum menginjak pedal gas untuk mengeluarkan si silver dari kandangnya.
"Hati-hati tuan muda!" Yoongi mengabaikan seruan sang pelayan dan hanya fokus untuk mengemudi si silver secepat mungkin menuju Seoul Hospital.
Mobil mewah itu melaju di tengah-tengah padatnya jalan Seoul. Yoongi yang tak sabar untuk segera sampai ke tempat tujuannya mengetuk-etuk jarinya di stir kemudi setiap kali mobilnya berhenti karena lampu lalu lintas. Hingga akhirnya hampir sekitar 30 menit perjalanan, mobil Yoongi sudah terparkir apik di halaman parkir rumah sakit yang pernah ia singgahi sebelumnya.
Yoongi berlari menuju bangsal VVIP dimana Jimin dirawat, dengan kecepatan penuh semangat Yoongi akhirnya sampai di depan pintu kamar inap Jimin. Namun, anehnya tak ada lagi dua pria yang berjaga di depan pintu kamar inap itu. Dengan ragu, Yoongi pun membuka pintu kamar inap Jimin dan mendapati kamar itu kosong tanpa ada siapapun.
Yoongi mengeryitkan keningnya dan berjalan masuk menuju kamar senyap itu. Mencari di setiap ujung ruangan sampai kamar mandi tapi tak juga menemukan siapapun. Selanjutnya, ia keluar dari kamar itu dan berlari menuju meja resepsion di depan koridor bangsal VVIP.
"Permisi~" sapanya sopan pada perawat yang berjaga.
"nde, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya perawat itu ramah. Yoongi mengangguk.
"Aku ingin bertanya, pasien atas nama Park Jimin di kamar nomor 1009 apa sudah pulang?" tanya Yoongi harap-harap cemas. Perawat itu tersenyum.
"ah~ Park Jimin? Pasien dari dokter Jeany Kim?" tanyanya dan hanya diangguki Yoongi asal. "Park Jimin sudah pulang dua hari yang lalu."
"Dua hari?" perawat itu mengangguk. Yoongi terdiam sejenak sebelum ia kembali menanyakan hal yang mengganggunya sejak ia pulang dari rumah sakit 17 hari yang lalu.
"hm, soal itu bolehkan aku bertanya kapan Park Jimin siuman?" tanya Yoongi berharap jika perawat itu bersedia menjawab pertanyaan.
"Jika tidak salah ingat, sekitar dua minggu yang lalu." Yoongi membulatkan kedua matanya terkejut.
'Dua minggu? Jadi, satu hari setelah aku pulang, Jimin sudah siuman?'
"Tuan?" panggil sang perawat melihat Yoongi yang hanya melamun.
"Tuan?" panggilnya lagi yang masih tidak juga direspon Yoongi.
"TUAN?!" seru sang perawat mengejutkan lamunan Yoongi.
"nde nde nde.." buyar Yoongi gelagapan.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi tuan?"
"ani ani!" Yoongi menggeleng cepat. "Terima kasih atas informasinya." lanjut Yoongi sebelum melesat pergi dengan segala pikiran berkecamuk di otaknya.
'Jimin sudah pulang? Apa mungkin, Jimin sudah berada di RC?'
.
.
.
.
.
Jimin berdiri bersandar di balkon kamarnya untuk menghirup udara segar di pagi menjelang siang. Menikmati lingkungan rumah kakeknya yang begitu indah, nyaman dan asri, jauh dari keramaian ibukota meskipun masih berada di kawasan Seoul.
"Jimin?" panggil suara serak yang membuat Jimin langsung menoleh dan mendapati sang kakek yang berjalan menghampirinya. Dengan senang hati, Jimin memeluk sang kakek yang sudah berdiri di depannya.
"haraboji~" balas Jimin manja. Sang kakek terkekeh dan mengelus kepala Jimin yang masih belum tumbuh rambut meskipun Hyukjae sudah membelikan obat penumbuh rambut yang harganya tak main-main.
"aigoo~ betapa rindunya aku pada cucuku yang manja ini, hm?" Jimin terkekeh ia melepas pelukan sang kakek dan menatap kakeknya dengan kedua mata penuh binaran.
"Suruh siapa kakek tidak menemuiku lebih cepat." sang kakek tertawa dan membawa Jimin ke pinggir balkon.
"Aku sudah menemuimu sejak hari pertamamu berada di panti asuhan, nak."
"jeongmallyo?" tanya Jimin ragu. Sang kakek mengangguk.
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu seorang diri setelah kau kehilangan kedua orang tuamu?" balas kakek Park seraya mengelus pipi Jimin lembut. Jimin tersenyum sendu.
"Sejak itu, aku sama sekali belum pernah mengunjungi makam appa dan eomma."
"Kau mau kesana? Besok pagi haraboji akan mengantarmu." Jimin mengangguk senang.
"Tentu saja, haraboji. Aku sangat sangat merindukan mereka." jawab Jimin antusias. "hm, haraboji bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Jimin tiba-tiba.
"Tentu saja, nak. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan." Jimin terdiam sejenak menatap sang kakek ragu.
"haraboji..." panggil Jimin kemudian, sang kakek hanya berdehem dan menunggu sabar pertanyaan Jimin yang belum dilontarkan oleh cucunya.
"Kenapa haraboji hanya mengijinkan Yoongi hyung yang menemuiku?" tanya Jimin akhirnya. Sang kakek tersenyum penuh arti yang membuat Jimin semakin tak mengerti apa maksud dari senyuman itu.
"Bukankah karena kau menyukainya?"
"nde?" Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
"Aku sangat ingat, ketika kau kecil dulu. Saat kau berlibur ke rumah haraboji yang kau ceritakan hanya Yoongi, Yoongi, dan Yoongi." kedua pipi Jimin memerah, ia tidak menyangka kakeknya mengingat kebiasaannya sejak kecil yang begitu mengagumi Yoongi hyung-nya.
"haraboji~" gumam Jimin malu. Sang kakek terkekeh, rasanya begitu menggemaskan melihat wajah cucunya yang merona membuatnya benar-benar merasa bahwa cucunya memang sudah kembali.
"Apa Yoongi sudah tahu, jika kau sudah ingat semuanya?" tanya kakek Park. Jimin menggeleng.
"Aku belum mengatakan apa-apa pada Yoongi hyung."
"Apa itu artinya juga tidak ada yang tahu?" Jimin tak langsung menjawab membuat kerutan di dahi kakek Park semakin dalam. "wae? Ada yang sudah tahu?" Jimin mengangguk pelan.
"Aku mengatakannya pada Jungkookie, haraboji."
"wae? Kenapa kau mengatakan pada Jungkook?" Jimin menarik nafas berat sebelum menjawab pertanyaan dari kakek Park.
"Aku memang sengaja melakukannya, haraboji. Dibandingkan dengan diriku, Jungkook hidup dengan penuh kebohongan. Dan, jika dia tahu aku sudah ingat semuanya dan sedikit menggertaknya aku yakin, Jungkook tidak akan diam saja. Haraboji tahu betul, anak itu mudah dihasut oleh siapapun, apalagi mereka juga mengenal siapa Jeon Jungkook. Aku tidak mau mereka menyelakai Jungkookie." kakek Park mengangguk paham.
"Tapi, bagaimanapun juga selain Jungkook, kau juga harus memberitahu Yoongi." Jimin memincingkan mata menatap sang kakek curiga.
"Kenapa aku merasa haraboji sangat menyukai Yoongi hyung?" kakek Park tertawa keras.
"wae? Kau cemburu?"
"ani! Tidak mungkin aku cemburu pada haraboji. Hanya saja, haraboji begitu memperhatikan Yoongi hyung."
"Tentu saja aku harus memperhatikannya, bagaimanapun juga dia adalah calon suami cucuku."
"HARABOJI!" seru Jimin malu bukan main dan kakek Park hanya tertawa puas karena berhasil membuat cucu kesayangannya memerah.
"Istirahatlah, jangan terlalu banyak pikiran. haraboji, tidak mau kau sakit lagi." Jimin mengangguk menurut dan membiarkan kakeknya melangkah meninggalkannya.
"HARABOJI!" panggil Jimin tiba-tiba yang membuat sang kakek yang sudah hendak membuka pintu kamar Jimin urung ketika langkah kaki Jimin berlari mendekatinya.
"Ada apa, hm?" tanya kakek Park heran melihat wajah bingung Jimin.
"Apa boleh jika aku menemui para ayah mereka?" tanya Jimin takut-takut. Kakek Park terdiam dan hanya memandang Jimin intens, ekspresi wajahnya berbeda dengan sebelumnya.
"Kau sudah merencanakan sesuatu, hm?" tebak kakek Park, Jimin gelagapan.
"Tidak, haraboji. Aku tidak—" Jimin menghentikan ucapannya saat tangan kakeknya terulur dan mengelus kepalanya dengan sayang.
"Kau tahu, kau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Selama delapan tahun, aku rela menjadi orang lain agar tidak membuatmu celaka karena kau tahu? Keberadaanku, terlalu mencolok di Seoul." Jimin hanya diam dan menatap kedua mata sang kakek. "Setiap hari, sejak kecelakaan itu aku tidak bisa hidup dengan baik terlebih setelah aku tahu mereka tidak akan berhenti jika kau masih hidup dan berada di jangkauan mereka atau bahkan jangkauanku sekalipun. Aku sudah semakin tua, tapi anak dan menantuku sudah lebih dulu meninggalkanku dan aku hanya memiliki cucu kesayanganku. Jiminie, aku akan menyalahkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu. Jadi, bisakah haraboji meminta tolong padamu?" pinta kakek Park yang entah kenapa membuat Jimin was-was mendengarnya.
"Lupakan semua yang berkaitan tentang masa lalumu, masa kecilmu, semuanya. Itu terlalu berbahaya untukmu, nak. Dan, haraboji mohon jangan pernah ikut campur dalam urusan mereka. Kau sudah kehilangan ayah dan ibumu, bukankah sampai situ saja sudah selesai untuk mereka menghancurkanmu? Jiminie, kau tidak ada sangkut pautnya dengan masalah mereka. Apapun yang kau tahu, semuanya. Itu hanyalah kebetulan semata." Jimin terpaku tak tahu harus merespon apa dengan permintaan sang kakek yang lebih menyerupai perintah untuknya.
"Dan juga, haraboji sudah memutuskan untuk membawamu ke London."
Deg!
Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
"Paman Kang sudah mengurus kepindahanmu dari RC, jadi musim baru selanjutnya kau resmi bukan lagi siswa RC dan kita juga akan secepatnya meninggalkan Seoul." Jimin menggeleng bermaksud menolak. Ini terlalu cepat untuk ia terima.
"haraboji, kenapa haraboji tidak mengatakannya dulu padaku? Ini terlalu mendadak."
"Tidak ada yang mendadak Jiminie. Aku sudah merencanakannya delapan tahun yang lalu. Aku sudah bertekad jika kau sudah ingat semuanya, aku akan membawamu ke London." Jimin menggeleng keras.
"haraboji—"
"Kau punya waktu satu bulan sebelum kita pindah, jadi haraboji harap jangan merencanakan apapun yang membuat haraboji memutuskan untuk tidak mengijinkanmu berhubungan dengan semua teman-temanmu, semuanya bahkan termasuk Min Yoongi!"
Jimin hanya bisa mematung meskipun kakek Park juga sudah meninggalkan kamarnya dan menutup pintunya.
'Kenapa haraboji menjadi sekeras ini padaku?'
Wajah Jimin memucat, ia tidak bisa membayangkan hidupnya yang jauh dari negara kelahirannya. Tidak, ia tidak bisa. Tapi, bagaimana? Ia tidak mungkin melawan keinginan kakeknya.
'Appa, apa yang harus aku lakukan? Tidak, aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu.'
.
.
.
.
.
Blam!
Yoongi membanting pintu mobilnya dan berlari menuju gedung asrama yang jaraknya cukup jauh dari halaman parkir sekolahnya. Ia berlari layaknya kesetanan dan mengabaikan banyak pasang mata para siswa yang tak sengaja berpapasan dengannya.
"Yoongi hyung?" sapa suara familiar ketika Yoongi baru saja masuk ke lobby gedung asrama. Yoongi berbalik badan dan sedikit bersyukur saat yang memanggilnya adalah Jung Hoseok.
"Hobi-ya—"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Kenapa kau tidak bilang jika Jimin sudah pulang?" Hoseok mengeryit tak mengerti.
"Apa maksudmu, hyung?"
"Aku baru saja dari rumah sakit, kata mereka Jimin sudah pulang dua hari yang lalu."
"jinjja?" Hoseok terkejut yang hal itu membuat Yoongi merasa bahwa ia salah telah bertanya pada pemuda yang satu kamar dengan Jimin.
"Kau tidak tahu?" Hoseok menggeleng.
"Jika tahu, aku pasti langsung mengabarimu, hyung." jawab Hoseok. "Tapi, jika Jiminie sudah pulang—dia pulang kemana?"
"Jika aku tahu, aku tidak mungkin mencarinya kesini!" sarkas Yoongi. "hm, dimana yang lain?" tanya Yoongi setelah hanya ada keheningan antara dirinya dan Hoseok. Hoseok mengedikkan bahunya tak tahu.
"Entahlah, hyung. Sejak kau pulang dari rumah sakit, aku jarang melihat yang lain. Jungkook dan Seokjin hyung juga sering keluar. Namjoon apalagi, aku bahkan hampir tak pernah melihatnya. Hanya Taehyung, yang kadang-kadang masih berseliweran di area RC, tapi entahlah akhir-akhir ini aku juga tidak melihatnya."
"Lalu, kau?"
"Aku? Aku sudah cukup sibuk di RC, ada banyak yang harus aku urus. Belum lagi, kau tahu—hubungan ayahku dan aku masih memburuk."
"Bagaimana bisa?" tanya Yoongi tak menyangka. Hoseok mengedikkan bahunya acuh.
"Tiga hari yang lalu jika tidak salah, aku pulang ke rumah untuk menemui ayah dan ibuku sekaligus bertanya pada ayahku tentang kakek Jimin dan kau tahu, hyung? Bagaimana respon ayahku? Ayahku harus banyak banyak belajar untuk menjadi seorang pembohong profesional."
"yak, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau begitu kesal dengan ayahmu."
"Bagaimana aku tidak kesal, hyung? Sikap ayahku semakin terlihat jika ia tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku muak melihatnya."
"aish, positive thinking. Lagi pula, aku rasa ayahmu tidak mau memberitahumu bukan karena kenginannya tapi memang mungkin karena ini bukanlah urusannya." Hoseok mengangguk paham.
"Mungkin benar, hyung. Jika dipikir-pikir memang ayahku terpaksa melakukannya. Lagi pula—Namjoon?"
"huh?" Yoongi mengangkat sebelah alisnya saat Hoseok tiba-tiba saja menyebut nama Namjoon disela-sela ucapannya.
"Bukankah itu, Namjoon? Kenapa ia terlihat mengendap-endap seperti itu?" tanya Hoseok menunjuk kearah belakang Yoongi yang membuat Yoongi berbalik badan dan melihat apa yang juga Hoseok lihat.
"Apa yang dia lakukan?" Yoongi bergumam. Hoseok hanya menggeleng.
"Entahlah, hyung. Akhir-akhir ini gerak-gerik Namjoon juga sedikit mencurigakan."
"Maksudmu?"
"Ia lebih sering keluar tengah malam dan kembali pagi-pagi buta. Bahkan, hampir setiap hari ia pergi entah kemana. Bahkan, pernah sekali hyung, aku bertanya pada Namjoon kemana ia pergi akhir-akhir ini, dan ia malah meneriakiku karena itu bukanlah urusanku. Heol, ada apa dengan semua orang? Kenapa menjadi emosian seperti ini?" Yoongi berfikir sejenak. Selama ia mengenal Namjoon, tidak ada yang tidak Namjoon sembunyikan darinya, terlebih Namjoon juga sosok yang terbuka dan selalu mengatakan apapun masalahnya kepadanya. Jadi, rasanya cukup aneh ketika ia mendengar Hoseok yang pernah bertanya pada Namjoon tapi pemuda itu justru malah memarahinya.
"kajja, kita ikuti dia!" ajak Yoongi bergegas membuat Hoseok gelagapan dan segera menyusul hyung-nya.
Diam-diam, Yoongi dan Hoseok membuntuti Namjoon yang berjalan agak jauh dari mereka menuju ke belakang gedung asrama. Dimana, seingat Yoongi ada sebuah gudang tak terpakai yang jarang sekali dikunjungi oleh siapapun.
Yoongi dan Hoseok menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tembok ketika sampai di ujung gedung yang menutupi keberadaan gudang. Yoongi mengintip sedikit, begitu pula dengan Hoseok yang dikuasai rasa penasaran.
"Park Chanyeol?" gumam Yoongi tak percaya jika Namjoon datang ke gudang hanya untuk menemui seseorang yang amat ia benci keberadaannya karena kedekatannya dengan Jimin.
"Sejak kapan Namjoon dekat dengan Chanyeol?" tanya Hoseok yang juga melihat apa yang Yoongi lihat. Yoongi mengedikkan bahunya dan mengabaikan Hoseok karena fokusnya untuk mendengar urusan apa Namjoon dengan Chanyeol hingga harus menemuinya diam-diam seperti ini.
"Aku tidak bisa melakukan ini lagi!" Yoongi mengangkat sebelah alisnya saat ia melihat wajah frustasi Namjoon sementara Chanyeol yang terlihat menenangkan.
"Tapi, sayangnya kau harus!" dan Yoongi dapat melihat dengan jelas Chanyeol yang kekeuh agar Namjoon melakukan entah apa yang mereka rencanakan.
'Apa yang harus mereka lakukan?' batin Yoongi tak paham kemana arah pembicaraan mereka.
"Brengsek, apa kau pikir aku bodoh, ha?! Kalian semua memanfaatkanku untuk melakukan semua ini sementara kau? Apa yang kau lakukan?!"
"Bodoh! Aku juga tidak diam saja disini. Mereka mengawasi kita jika kau lupa, jadi aku harap kau tidak bertindak yang membuat mereka langsung menyakitinya!"
Yoongi benar-benar tak mengerti apa hubungan Namjoon dan Chanyeol karena ini juga pertama kalinya ia melihat keduanya berinteraksi membuat Yoongi benar-benar tak paham topik apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
"Aku sudah memastikan, mereka sama sekali belum mengetahui dimana keberadaannya sekarang ini."
"Lalu dimana? Dia sudah pulang dua hari yang lalu!"
"Kau juga tahu, Park Chanyeol! Kau juga sering bersama mereka dan aku rasa kau tidak cukup bodoh untuk mengetahui bahwa mereka hanya sedang bersandiwara untuk menggertak kita!"
"Lalu, bagaimana sekarang?! Kita tahu benar jika mereka tidak tahu apa-apa, tapi kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk sekarang ini, yang bisa kita lakukan hanya menuruti kemauan mereka!"
"ARGHH! Sial! Sial! Sial! Siapa yang membawa Jimin pergi sebenarnya!"
Deg!
Yoongi dan Hoseok saling berpandangan setelah mendengar nama Jimin keluar dari bibir Namjoon begitu saja.
"Dengar, Namjoon-ah! Kau tahu benar, ancaman mereka bisa menjadi kenyataan jika kita tidak menuruti mereka. Setidaknya kita bisa tahu, jika sewaktu-waktu mereka menyakiti Jimin, kita berada disana!"
"Lalu apa?! Kau ingin menyaksikan mereka menyiksa Jimin di depan matamu?"
Tubuh Yoongi bergetar, ia tak menyangka jika hal mengerikan itu keluar langsung dari bibir sahabat dekatnya yang begitu ia percaya.
"Lalu, bagaimana lagi?! Apa kau ingat, apa yang dikatakan Seunghyun hyung kemarin? Jika kita tidak membawa Park Jimin sekarang, mereka akan menyuruh kita berdua yang membunuhnya!"
Yoongi mengepalkan kedua tangannya, sementara Hoseok membulatkan kedua matanya tak percaya. Mereka? Chanyeol dan Namjoon? Tidak mungkin. Ini terasa tidak masuk akal bagi Yoongi maupun Hoseok, pasalnya Namjoon juga sudah mengenal Jimin sejak kecil dan juga sangat menyayangi Jimin mereka. Dan tampaknya begitu pula dengan Chanyeol mengingat bagaimana interaksi Jimin pada Chanyeol yang membuat mereka iri melihatnya. Tapi, setelah mendengar semua ini?
"hyung!" himbau Hoseok menahan Yoongi yang hendak menghampiri Namjoon dan Chanyeol.
"Lepaskan aku Jung Hoseok!"
"ani!"
"Apa kau sudah gila? Mereka—"
"nde, aku juga mendengarnya hyung. Tapi, jika kau menghampiri mereka sekarang. Ada kemungkinan jika kita bertanya, mereka tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada kita dengan mudah. Akan lebih baik, jika kita mencari tahu bahkan jika perlu membuntuti Namjoon atau Chanyeol diam-diam." potong Hoseok. Yoongi berfikir sejenak.
"arraseo, tapi jangan harap setelah mendengar ini semua aku akan bersimpatik pada Kim Namjoon!" sarkas Yoongi sebelum pergi meninggalkan Hoseok seorang diri.
Sepergian Yoongi, Hoseok mengalihkan pandangannya kearah Namjoon yang tampaknya masih berseteru dengan Chanyeol. Kedua matanya yang menyiratkan kekecewaan atas kenyataan yang baru saja ia dengar. Tapi, entah kenapa dibalik kekecewaan itu Hoseok merasa ada yang janggal setiap ia melihat ekspresi Namjoon lebih teliti. Ia merasa ada sorot luka dibalik wajah tajamnya saat berbicara dengan Chanyeol. Hal itu, membuat Hoseok yakin ada setiap alasan dari apa yang tengah Namjoon lakukan saat ini. Hoseok menarik nafas, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini tapi yang jelas ia harus tetap berada di samping Yoongi, bagaimanapun keadaannya.
.
.
.
.
.
"andwae andwae andwae..." Jimin menggelengkan kepalanya, sudah dari tadi ia mondar-mandir di dalam kamarnya memikirkan segala keputusan dadakan dari sang kakek.
"Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu." tekad Jimin. Sebenarnya, sejak ia menyakinkan dirinya setelah semua ingatannya kembali, Jimin bertekad untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Selain itu, bagaimanapun juga ia juga tidak bisa membiarkan pembunuh orang tuanya berkeliaran diluar sana.
"ani ani, aku tidak bisa diam saja. Disini, bukan hanya aku korbannya. Tidak masalah jika haraboji marah dan membawaku ke London, tapi aku tidak bisa membiarkan sahabat-sahabatku kembali mengalami hal mengerikan. Tidak, aku tidak bisa membiarkannya." gumam Jimin.
"Tapi, hal pertama apa yang harus aku lakukan?" tanya Jimin pada dirinya sendiri. Jimin berfikir keras.
"Yoongi hyung!" pekik Jimin girang. "ya, aku harus memberitahu semua ini pada Yoongi hyung. Akan lebih baik, jika dia tahu dariku daripada orang lain." Jimin mengangguk yakin. "okay, bagaimanapun caranya—besok aku akan menemuinya."
Hari itu, Jimin habiskan sampai malam untuk memikirkan segala macam rencana yang akan ia lakukan untuk menangkap pembunuh kedua orang tuanya. Bahkan, ia tak memperdulikan segala resiko atas rencananya yang mungkin siapapun yang akan mendengarnya terkesan nekad dan agak gila.
Tok! Tok! Tok!
"tuan muda~"
Jimin yang baru saja selesai mandi, memutar kedua bola matanya jengah karena sungguh ia masih belum terbiasa dengan segala panggilan terhormat sebagai tuan muda di rumah mewah ini. Sebenarnya bukan karena tidak tapi belum terbiasa selain itu juga, Jimin memang tidak menyukai diperlakukan seperti layaknya pangeran dan itu benar-benar sangat berlebihan untuknya.
"Masuk!" sahut Jimin terpaksa dan seketika pintu itu langsung terbuka dan muncullah seorang maid yang masuk ke kamarnya dengan kepala tertunduk.
"Saatnya makan malam tuan muda." ujarnya memberitahu.
Jimin melirik kearah jam dinding yang ada di kamarnya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. ah, ia lupa jika orang tua biasanya makan malam lebih awal.
"nde, aku akan ke bawah. Sekarang kau bisa pergi!"
"Baik, tuan muda." sang pelayan undur diri setelah membungkukkan badannya pada Jimin.
Tak berapa lama, Jimin memutuskan untuk segera turun untuk menikmati makan malam bersama kakeknya. Tapi, belum sampai ruang makan, Jimin harus menghentikan langkahnya ketika ia melewati ruang kerja kakeknya yang kebetulan satu lantai dengan letak kamarnya yang berada di lantai dua. Suara kakeknya yang terdengar tegas dan penuh kekhawatiran benar-benar mengganggu kedua gendang telinganya saat berbicara dengan salah satu orang kepercayaannya yang lain, yang hampir seumuran dengan ayahnya, paman Kang, Kang Hodong.
"Kau sudah tahu, jika mereka sudah licik dari awal. Aku tidak bisa menjamin jika mereka akan membebaskan istri Seungwon begitu saja. Lagi pula, aku tidak memiliki hubungan dengan mereka."
"Seungwon?" gumam Jimin dan baru ingat jika pemilik nama itu adalah nama dari ayahnya Namjoon.
"Tapi, tuan besar Park bagaimana dengan gertakan mereka?"
"Aku sudah mengatakan pada mereka, aku tidak tahu apapun tentang bukti itu. Seojoon tidak pernah mengatakannya padaku. Dan apa kau memintaku bertanya pada Jimin? Tidak! Itu sama saja menjerumuskan Jimin kepada mereka. Aku lebih baik kehilangan bisnisku di Seoul daripada harus menuruti mereka!"
"Tapi—"
"Sudahlah, tak ada yang perlu dicemaskan. Mereka meminta bukti itu padaku dengan imbalan istri Seungwon, mengancam kegiatan bisnisku di Seoul hingga keselamatan Jimin. Apa mereka pikir aku orang tua bodoh yang akan membiarkan mereka menyentuh cucuku? Aku tidak memiliki hubungan dengan teman-teman Seojoon, jadi untuk apa aku repot-repot ikut campur dan bisnisku—hancur satu di Seoul itu tidak akan membuatku bangkrut. Tapi, aku tidak bisa jika terjadi sesuatu pada cucuku."
"Nde, tuan besar saya mengerti."
"Awasi Park Jimin kalau bisa 24 jam penuh. Dia anak pintar, jadi aku yakin dia pasti tidak akan diam saja setelah ingat semuanya."
Jimin berdiri gusar di depan pintu ruang kerja kakeknya. Kedua tangannya mengepal cemas setelah mendengar jika ada orang lain yang sedang dalam bahaya saat ini. Jimin menggigit bibir bawahnya, pikirannya berkecamuk kesana kemari.
'Istri Seungwon, itu artinya ibunya Namjoon hyung. Dengan kata lain, ibunya Namjoon hyung masih hidup dan berada di tangan mereka?'
Jimin mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Wah, ia tak menyangka selepasnya ia sembuh, ia harus dihadapi banyak masalah seperti ini.
'Maafkan aku haraboji, tapi aku tidak bisa diam saja. Aku tahu, apa yang harus aku lakukan.'
.
.
.
.
.
.
.
Blam!
Blam!
Pagi hari setelah sarapan selesai, Jimin dan kakek Park pergi untuk mengunjungi makam kedua orang tua Jimin seperti apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Mereka tidak pergi hanya berdua, ada banyak bodyguard yang datang bersama mereka serta tiga orang kepercayaan kakek Park, Lee Hyukjae, Kang Hodong, dan Kim Jongdae. Cucu dan kakek itu mengenakan setelan formal hitam yang sama, yang membedakan hanya Jimin yang mengenakan beanie berwarna biru di kepalanya untuk menutupi kepalanya yang belum tumbuh rambut.
Jimin berjalan dalam diam membuntuti sang kakek. Di belakang Jimin ada paman Kang, Hyukjae hyung, dan Jongdae hyung yang tampaknya dibandingkan sebagai asisten pribadi kakek Park, sekarang ini lebih seperti asisten pribadi Jimin.
Kakek Park menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Jimin. Ini adalah kali pertama baginya mengunjungi makam ayah dan ibunya. Jimin memutuskan untuk berdiri bersisihan dengan sang kakek yang berdiri diantara makam kedua orang tuanya. Pusara yang ditumbuhi rumput Jepang dengan tulisan indah yang tertera di batu nisannya, sisi kanan tertulis nama 'Park Seojoon' dan sisi kiri tertulis 'Park Jiwon'.
'Eomma.. appa, annyeong. Maaf aku baru datang. Aku tahu, mungkin kalian marah padaku karena aku baru berkunjung. Aku sudah bersama haraboji sekarang. Aku tidak menyangka, jika selama ini haraboji selalu menjagaku. Mungkin semua orang juga turut menjagaku. Eomma, appa—kalian tahu? Aku sekarang sedang dilanda dilema sekarang, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ingin menuruti kata hatiku tapi—aku tidak mau membuat haraboji kecewa. Tapi, apa tidak apa jika aku memilih untuk menuruti kata hatiku saja? Kalian tidak marah 'kan? Aku berjanji ma, pa.. aku akan menjaga diriku baik-baik. Aku akan membantu semua orang untuk menyelesaikan masalah mereka dan meneruskan apa yang sudah appa lakukan sebelumnya. Eomma, appa.. kalian tetap mendukungku kan?'
Jimin menoleh kearah sang kakek yang tampaknya juga sedang mendoakan kedua orang tuanya. Jimin tersenyum sendu.
'Maafkan aku, haraboji. Tapi, aku harus melakukannya.'
Setelah lebih dari satu jam mendoakan kedua orang tua Jimin, akhirnya kakek Park memutuskan untuk pulang setelah ia bertanya pada Jimin sebelumnya.
"haraboji." panggil Jimin, tepat mereka semua sudah berada di depan mobil mewah sang kakek.
"Ada apa?" tanya kakek Park, mengalihkan perhatiannya pada Jimin sepenuhnya.
"Bolehkah aku berkunjung ke RC?" dan sungguh, Jimin bisa melihat kerutan di dahi sang kakek dan sorot mata cemas yang kembali diperlihatkan pada Jimin.
"Bagaimanapun juga, aku masih siswa disana sebelum libur musim panas selesai. Aku harus mengurus sesuatu, haraboji." pinta Jimin melas. Kakek Park menarik nafas.
"arra, aku ijinkan. Tapi tidak sendiri. Hyukjae akan menemanimu!" putus sang kakek, Jimin mengangguk senang.
"nde, terima kasih haraboji. Mungkin, hari ini aku akan menghabiskan waktu disana." kakek Park mengangguk.
"Apa kau akan bertemu dengan Yoongi?" Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
"Aku—ani~ aku hanya ingin—"
"arra arra. Dasar, anak muda!" goda kakek Park, Jimin tersipu malu.
"haraboji~" rengek Jimin malu bukan main.
"arra, pergilah. Tapi ingat, kau harus selalu menghubungi haraboji apa yang sedang kau lakukan."
"siap captain!" Jimin berpose hormat dihadapan sang kakek, ia juga memberikan pelukan hangat sebelum ikut masuk ke mobil Hyukjae dan mengajak Hyukjae untuk berpetualang dengannya hari ini.
.
.
.
.
.
"hyung, kau bawa uang 'kan?" tanya Jimin pada Hyukjae yang sedang fokus mengemudikan Audi-nya.
"waeyo?"
"Aku butuh baju."
"mwo?!" Hyukjae menoleh dengan kedua matanya membulat tak percaya.
"ayolah hyung, aku tidak mungkin muncul dengan pakaian seperti ini. Belikan aku baju..." rengek Jimin. Hyukjae menghela nafas.
"arra, arra. Kita beli baju."
"Tak perlu yang mahal-mahal hyung. Tak perlu yang branded, jika kau melewati toko baju, berhenti saja langsung." Hyukjae tampak terkejut.
"Benar tidak apa?" Jimin mengangguk menyakinkan.
"nde, dan apa kau akan membuntutiku sepanjang hari?" tanya Jimin memastikan perintah kakek Park pada Hyukjae. Hyukjae tampak berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jimin.
"Kau mau aku pergi?"
"ani—bukan begitu hyung. Aku takut kau bosan nanti." Hyukjae terkekeh. "Lagi pula, tidak ada yang tahu 'kan jika aku tinggal bersama haraboji. Mereka pasti bertanya siapa kau, dan apa yang harus aku jawab?" tanya Jimin masuk akal. Hyukjae tersenyum kecil. Ia sangat paham dibalik ucapan Jimin itu.
"arra, arra. Aku hanya akan mengantarmu sampai RC. Tapi, kau harus berjanji selalu menghubungi sepanjang hari." Jimin mengangguk senang.
"nde, hyung. Kau memang yang terbaik."
"Dan—jika kau butuh sesuatu kau bisa meminta bantuan padaku." ujar Hyukjae tiba-tiba yang membuat Jimin mengeryit bingung. Melihat Jimin yang tampak ragu, Hyukjae pun melanjutkan dengan mengatakan, "Setidaknya, ada orang yang tepat yang bisa membantumu dibandingkan kau melakukan semuanya seorang diri."
"Apa maksudmu, hyung?" Hyukjae tersenyum tipis.
"Kau ingin menemui paman-pamanmu, 'kan?" Jimin tergelak. "Aku akan mencari tahu jadwal mereka rapat bersama dan memberitahukannya padamu."
"Kau tidak bercanda 'kan, hyung? Bagaimana dengan haraboji? Haraboji tidak mengijinkanku untuk menemui mereka."
"Percayalah, aku sangat mengenalmu bahkan lebih dari kakekmu sendiri. Kau seperti cerminan ayahmu untuk siapapun yang mengenalnya, tanpa kau mengatakannya padaku sekalipun aku tahu dari balik matamu, gerak-gerikmu kau sudah merencanakan sesuatu. Sama seperti ayahmu, yang selalu bertindak penuh kejutan tanpa orang lain ketahui. Dan dari itulah, aku tidak mau kau mengatasi semuanya sendiri. Setidaknya ada orang dewasa yang membantumu."
"Tapi, bagaimana jika kau mendapat masalah, hyung? Bagaimana jika haraboji marah padamu?" cemas Jimin. Hyukjae hanya tersenyum tampan.
"Percayalah, kakekmu akan lebih murka jika tidak ada diantara kami yang mengawasimu." Jimin berfikir sejenak.
"Sebenarnya, aku sedikit bimbang hyung. Apakah benar, untuk melakukan semua ini. Aku takut, pada akhirnya nanti aku membuat haraboji kecewa."
"Itu memang salah, tapi juga salah jika kita hanya diam saja dan akan lebih salah lagi jika kau melakukan semuanya seorang diri, kau paham maksudku?" Jimin mengangguk.
"Kau benar hyung, akan lebih salah jika aku tidak mengatakan apapun kepada semuanya dan akan lebih salah jika aku hanya diam saja."
Hyukjae menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko baju yang tampaknya sepi pengunjung.
"jja, turunlah—dan pilih baju yang kau inginkan." Jimin mengangguk seraya tersenyum manis.
"arra hyung. Kau yang bayar semuanya."
"Aku yang bayar semuanya." Jimin tertawa senang dan segera keluar dari mobil Hyukjae diikuti Hyukjae yang sama bersemangatnya dengan Jimin.
.
.
.
.
.
Blam!
Yoongi menutup pintu Benz-nya yang sudah terparkir apik di halaman parkir RC. Yoongi mengedarkan pandangannya ke sekeliling gedung sekolahnya yang terlihat sepi. Entah kemana para penghuni sekolah, gedung besar untuk menuntut ilmu itu tampak senyap tanpa penghuni.
Yoongi mengitari mobilnya dan memutuskan untuk duduk di kap mobil mewahnya. Jika saja, ponselnya sedang tidak disita ia pasti menghabiskan waktu menunggu Hoseok dan Taehyung dengan ponsel yang sedang ia rindukan.
Yoongi menarik nafas, menunggu tak sabar pada dua orang yang sudah janjian dengannya hari ini untuk mencari keberadaan Park Jimin. Yoongi berdecak, dan ingin rasanya ia berjalan menuju gedung asrama dan menyeret dua orang yang sudah sangat terlambat datang. Tapi, memang dasarnya Yoongi yang pemalas sehingga ia lebih memilih untuk menunggu di halaman parkir ditemani mobil kesayangannya.
Yoongi menundukkan kepalanya bosan. Beruntung, ia benar-benar sedang membutuhkan bantuan Hoseok dan Taehyung sehingga ia tak begitu kesal karena telah dibuat menunggu terlalu lama, entah apa yang dilakukan dua bocah itu. Namun, tak berapa lama kemudian Yoongi mengeryitkan keningnya dalam ketika ia melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Yoongi mendongak dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat pemuda manis yang tengah ia cari keberadaannya berdiri di depannya dengan senyuman manis di bibir tebalnya membuat hati Yoongi menghangat. Tanpa sadar, Yoongi juga menarik ujung bibirnya membentuk senyum penuh kerinduan, ingin rasanya ia berlari dan memeluk erat pemuda manis yang membuat setiap harinya gusar karena terlalu banyak memikirkannya. Tapi, entah kenapa tubuh Yoongi kaku hanya untuk sekedar melangkah mendekat, sehingga ia hanya bisa bergumam untuk melirihkan—
"Park Jimin?" yang dibalas senyuman yang benar-benar Yoongi rindukan.
"hi hyung." balas pemuda manis yang suaranya bagaikan alunan melodi yang begitu indah di telinga Jimin. Yoongi tidak tahu ini mimpi, nyata atau hanya halusinasinya, yang pasti ia tidak ingin jauh lagi dari Park Jimin-nya. Tidak sekarang ataupun nanti.
TBC
(-) yoyoyo,... I'm up today. Ada yang masih nunggu kah? Ini termasuk fast atau slow atau tengah-tengah ya? Belum satu minggu lhoo... dan aku harap ini lanjutannya enggak ngecewain,...
(-) Oh, maaf ya, kalau di chapter ini aku buat kalian berimajinasi Jimin botak, kkkk. Enggak lama kok, ntar juga rambutnya tumbuh lagi. Botak-botak juga tetep sayang kan? Mochi kesayangan mau diapain juga tetap gemesin, jadi pengen bawa pulang.
(-) woah, aku terharu pas baca review tebakan para reader ada yang bener, emang jjang! Thx juga buat semuanya yang masih mau baca dan menanti ini end, thx everyone and see you in next chapter ...
Kamsahamnida
