Previously ...

Yoongi menundukkan kepalanya bosan. Beruntung, ia benar-benar sedang membutuhkan bantuan Hoseok dan Taehyung sehingga ia tak merasa kesal karena telah dibuat menunggu terlalu lama, entah apa yang dilakukan dua bocah itu. Namun, tak berapa lama kemudian Yoongi mengeyitkan keningnya dalam ketika ia melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Yoongi mendongak dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat pemuda manis yang tengah ia cari keberadaannya berdiri di depannya dengan senyuman manis di bibir tebalnya membuat hati Yoongi menghangat. Tanpa sadar, Yoongi juga menarik ujung bibirnya membentuk senyum penuh kerinduan, ingin rasanya ia berlari dan memeluk erat pemuda manis yang membuat setiap harinya gusar karena terlalu banyak memikirkannya. Tapi, entah kenapa tubuh Yoongi kaku hanya untuk sekedar melangkah mendekat, sehingga ia hanya bisa bergumam untuk melirihkan—

"Park Jimin?" yang dibalas senyuman yang benar-benar Yoongi rindukan.

"hi hyung." balas pemuda manis yang suaranya bagaikan alunan melodi yang begitu indah di telinga Jimin. Yoongi tidak tahu ini mimpi, nyata atau hanya halusinasinya, yang pasti ia tidak ingin jauh lagi dari Park Jimin-nya. Tidak sekarang ataupun nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi terpaku menatap sosok pemuda manis yang berdiri di depannya tak berkedip. Meneliti penampilannya dari ujung kaki hingga ujung beanie biru yang ia kenakan. Hoodie kuningnya yang melekat ditubuhnya menambah kesan manis dan cantik di mata Yoongi secara bersamaan. Kaos lengan panjang berwarna putih tulang dapat Yoongi lihat dibalik hoodie kuning yang dikenakannya serta celana jeans berwarna putih. Yoongi menarik ujung bibirnya membentuk senyuman guna membalas senyum manis yang orang terkasihnya lontarkan. Dengan langkah tak sabar, Yoongi segera mendekat kearah pemuda manis yang memang adalah Park Jimin. Menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukan hangatnya.

"astaga~ aku tidak mau bangun jika ini hanya mimpi." gumam Yoongi seraya tanpa henti mengecupi pucuk kepala Jimin yang tertutup beanie. Jimin terkekeh dalam pelukan Yoongi dengan tangannya yang melingkar sempurna dipinggang hyung kesayangannya.

"hm, tidak seharusnya kau bangun jika ini mimpi." balas Jimin, Yoongi melepas pelukannya dan menangkup wajah Jimin dengan kedua tangan besarnya membuat kedua mata mereka saling bertemu.

"Kau tahu, kau hampir membuatku gila karena terus memikirkanmu setiap hari." Jimin terkekeh.

"Kenapa kau harus memikirkanku setiap hari?" tanya Jimin, Yoongi tampak salah tingkah.

"a-ani, aku—aku takut terjadi sesuatu padamu karena aku gagal melindungimu." alasan Yoongi yang membuat Jimin mengulum senyum manis.

"Kau sudah melindungiku, sunbaenim. Lebih dari apapun, kau sudah melindungiku." balas Jimin ketika ia melihat sorot rasa bersalah dari kedua mata Yoongi. Yoongi terdiam sejenak dan hanya memandangi wajah manis Jimin tanpa rasa bosan sedikitpun.

"Aku senang bisa melihatmu lagi, dan aku mohon padamu. Jangan seperti ini lagi. Jangan hilang tanpa kabar terlebih ketika terakhir kali aku melihatmu yang tak berdaya karena kelalaianku." Jimin menggeleng.

"Itu bukan salahmu, sunbaenim. Itu kecelakaan." Jimin mencoba untuk menenangkan.

"Lalu, kau kemana saja selama ini?" tanya Yoongi nada suaranya menyiratkan kecemasan.

"Apa kau free hari ini?" Jimin menjawab dengan pertanyaan. Yoongi tampak berfikir sejenak.

"Awalnya aku akan pergi bersama Hoseok dan Taehyungie untuk mencarimu. Tapi, sepertinya tidak jadi—karena kau sudah ada di depanku." Jimin tersenyum senang.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita jalan keluar seperti dulu?" tawar Jimin. Yoongi dengan senang hati mengangguk mengiyakan.

"Tentu saja."

"Tapi, biarkan mobilmu disini. Kita jalan kaki saja seperti malam itu?"

"Apapun untukmu, sayang~" Jimin merona dan memukul dada Yoongi pelan.

"sunbaenim!" gumam Jimin malu bukan main.

"oya, tapi ada satu syaratnya." Jimin membulatkan kedua matanya lucu yang membuat Yoongi terkekeh gemas.

"Apa syaratnya?"

"Berhenti memanggilku 'sunbaenim'. Entah di sekolah, saat keluar, dimanapun kau harus memanggilku 'hyung'." Jimin mengangguk seraya memperlihatkan senyum termanisnya.

"Tentu saja, hyung. Dengan senang hati."

"Kalau begitu, kajja. Kita pergi sekarang!" Yoongi menggandeng tangan Jimin yang dibalas Jimin dengan senang hati.

"Tapi, bagaimana dengan Hobi hyung dan Taetae?" Yoongi menghentikan langkahnya dan menatap Jimin terkejut. Sementara Jimin merutuki kebodohannya dalam hati. Oh, dia keceplosan di waktu yang tidak tepat.

"Hobi hyung? Taetae? Kenapa kau—"

"hy-hyung... aku—" potong Jimin gelagapan. "Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, hyung. Tapi, bukan disini tempatnya." lanjut Jimin berusaha untuk tenang. Yoongi mengangkat sebelah alisnya, ia menautkan tangannya pada genggaman Jimin dan tersenyum maklum.

"Apapun yang ingin kau katakan padaku. Aku siap mendengarnya." Jimin menarik nafas, tepatnya menenangkan diri saat ia membayangkan bagaimana reaksi Yoongi nanti ketika Jimin mengatakan bahwa ia sudah mengingat semuanya.

.

.

.

.

.

Sebenarnya, sudah rencana awal Jimin ingin mengajak Yoongi untuk mengunjungi taman yang pernah mereka berdua datangi. Taman dimana menjadi kenangan masa kecil yang sempat mereka habiskan bersama.

Setelah sampai di taman yang selalu sepi pengunjung karena sudah lama tak terawat, Jimin langsung menuju ke sebuah ayunan usang yang selalu berderit bersama semilir angin. Jimin duduk di salah satu ayunan itu, begitu pula dengan Yoongi yang memutuskan untuk duduk di samping ayunan Jimin.

"Sayang sekali ya hyung, taman ini tidak ada yang merawatnya." racau Jimin yang membuat Yoongi mengedarkan pandangannya ke area taman.

"hm, sayang sekali." balas Yoongi sekenanya.

Dan entah kenapa, suasana menjadi canggung diantara mereka. Jimin yang masih memilih diam dan Yoongi yang masih memilih untuk memandangi Jimin tak berkedip. Takut jika ia menyempatkan untuk sekali berkedip saja, sosok manis di sampingnya sudah menghilang secepat kedipan mata.

"hyung," akhirnya Jimin bersuara dan menoleh kearah Yoongi. "Apa kau membenci ayahmu?" tanya Jimin. Yoongi terdiam sejenak.

"Aku tidak pernah membencinya. Tapi, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa akur dengannya." Jimin terkekeh.

"Tapi, ayahmu itu sangat baik hyung. yah, meskipun beliau masih memiliki hutang padaku." Yoongi mengeryitkan keningnya tak percaya.

"Hutang? Ayahku berhutang padamu?" Jimin mengangguk.

"nde, ayahmu berjanji untuk makan bersamaku, tapi sampai sekarang?" Yoongi menggelengkan kepalanya dan tertawa lepas.

"orang tua itu masih saja ingkar janji."

"Jadi, apa pernah ayahmu mengingkari janjinya padamu?"

"Sering. Bahkan, satu pun dari janjinya tidak ada yang ia tepati."

"Kenapa bisa begitu?" Yoongi mengedikkan bahunya sebagai jawaban.

"Kadang aku merasa iri pada Namjoon dan Taehyung. Ayah mereka selalu ada setiap saat. Bahkan, tak jarang ayah mereka bisa berperan menjadi seorang ibu. Aku selalu merasa kesepian setiap hari, apalagi aku hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama ayahku." Jimin mengulum senyum, ia ikut merasakan apa yang Yoongi rasakan. Terlebih, ia juga merasakan lebih dari itu. Ia hidup sendiri selama delapan tahun. Melakukan semuanya sendiri. Jimin menunduk sebentar, sebenarnya menanyakan tentang ayah Yoongi hanyalah pengalihan sementara sebelum ia membicarakan topik yang sebenarnya. Jimin menarik nafas, ia mengangkat wajahnya dan menatap Yoongi yakin.

"hyung, bukankah kau pernah memintaku untuk percaya padamu?" tanya Jimin tiba-tiba. Yoongi hanya diam dan mendengar apa yang akan Jimin katakan padanya. "Dari awal... sebenarnya aku sudah mempercayaimu, hyung."

"Benarkah?" Jimin mengangguk kecil.

"Dibandingkan dengan siapapun aku lebih percaya padamu." Yoongi tidak tahu ia harus senang atau sebaliknya. Yang bisa ia lakukan, hanya mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Dia tidak salah dengarkan?

"Kau sedang tidak bercanda 'kan?" Jimin tertawa kecil.

"Untuk apa aku bercanda, hyung?" balas Jimin.

"Kau serius?" Jimin mengangguk.

"Tentu saja." Yoongi tersenyum senang membuat Jimin ikut tersenyum melihat betapa tampannya pangeran kecilnya saat sedang tersenyum.

"Maka dari itu, hyung—dengarkan apa yang akan aku katakan baik-baik. Aku tidak akan mengulanginya dua kali." pinta Jimin serius. Yoongi menelan salivanya susah, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat padahal Jimin belum mengatakan apapun padanya.

"hyung—" satu kata keluar dari belah bibir Jimin dan Yoongi mendengarnya dengan was-was. Jimin menggigit bibir bawahnya dan menatap Yoongi intens. "—aku..." satu kata selanjutnya benar-benar membuat Yoongi gugup tanpa alasan. Kenapa rasanya waktu berputar lebih lambat?

"—aku sudah ingat semuanya."

Deg!

Yoongi mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, menatap Jimin masih dengan tanda tanya besar yang tergambar di kedua sorot matanya. Bibirnya yang tiba-tiba kelu bahkan Yoongi juga tak bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.

"k-kau—" Jimin tersenyum seraya mengangguk kecil. Kedua mata Yoongi berkaca dan segera ia bangkit dari duduknya menarik tangan Jimin untuk berdiri berhadapan dengannya.

"Aku sudah ingat semuanya, hyung. Kau, Kookie, Jinnie hyung, Hobi hyung, Joonie hyung, dan Taetae—aku sudah ingat semuanya."

"Kau benar-benar sudah ingat semuanya?" Jimin mengangguk lagi.

"nde. Aku sudah kembali hyung." ulang Jimin menyakinkan Yoongi. Awalnya, Yoongi tampak tersenyum bahagia namun tak lama senyumannya luntur ketika ia mengingat percakapannya dengan sang ayah yang setelah mengatakan semua kebenarannya pada Yoongi tempo hari. Jimin yang melihat ekspresi Yoongi, yang tampak gusar pun hanya bisa menggigit bibirnya. Karena, bagaimanapun juga ia tidak tahu bagaimana persepsi Yoongi setelah ingatannya sudah kembali.

"hyung." panggil Jimin takut-takut. Kedua manik hitam Yoongi bergulir cemas, menghindari kontak mata dengan Jimin.

"Aku tidak tahu harusnya senang atau sedih. Aku senang kau sudah mengingatku tapi jauh dari itu, aku—aku sangat mencemaskanmu."

"hyung, aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Aku ada disini, bersamamu. Kau bisa memastikannya sendiri. Lagi pula, entah sekarang, nanti atau kapanpun aku pasti akan ingat semuanya." Jimin mencoba mematahkan rasa cemas Yoongi yang begitu ketara tergambar di wajah tampannya.

"Apa itu artinya kau juga ingat siapa orang yang—" Yoongi tak mampu melanjutkan ucapannya, ia hanya menatap Jimin dengan rasa sesak di dadanya. Jimin tersenyum samar.

"nde, aku ingat dengan jelas siapa orangnya!" jawab Jimin penuh penekanan. Yoongi meraih kedua tangan Jimin dan menggenggamnya di dalam tangan besarnya.

"Aku mohon, setelah ini jangan sembunyikan apapun dariku. Berjanjilah, untuk tetap berada di jangkauanku. Berjanjilah, kau baik-baik saja dalam keadaan apapun. Aku mohon~" Jimin hanya bisa tersenyum senang ketika melihat pancaran penuh kekhawatiran di balik mata tajam Yoongi, membuatnya berhambur ke dalam pelukan Yoongi berniat untuk menenangkan pangeran kecilnya.

"hyung, aku baik. Aku janji akan baik-baik saja."

.

.

.

.

.

Seokjin mengangkat wajahnya dari berkas-berkas yang baru saja ia baca, yang ia dapat dari pria kenalannya beberapa hari yang lalu, ekspresinya tak terbaca antara shock, senang, atau terkejut. Sementara, Jungkook yang duduk di depan Seokjin juga melakukan hal yang sama dengan hyung-nya, hanya saja ekspresinya lebih tenang setelah membaca setengah berkas yang diberikan Seokjin padanya.

"Aku tidak tahu, harus bicara apa." gumam Seokjin bimbang.

Jungkook menghela nafas, kini ia dan Seokjin berada di perpustakaan kota yang tentu saja sedang sepi pengunjung mengingat libur musim panas masih berlangsung, jadi orang mana yang akan menghabiskan waktu libur di perpustakaan? Maka dari itu, Seokjin pun memutuskan untuk mengajak Jungkook ke perpustakaan kota dibandingkan ke cafe untuk meneliti sekaligus mempelajari berkas yang disimpan ayahnya dengan sangat rapi. Bahkan, entah sejak kapan kedua pemuda cantik dan manis ini berubah haluan menjadi 'detektif' dadakan.

"Isi berkas ini terlalu banyak kode untuk dipahami. Apa cara kerja seorang pengacara memang seperti itu?" tanya Jungkook. Seokjin mengetukkan jarinya di atas meja, berfikir keras.

"Aku rasa tidak, kode ini bukan ayahku yang buat."

"Lalu, siapa hyung? Semua berkas tentang Seojoon samchon ini hampir seluruhnya berisi kode-kode rahasia. Ayahmu pasti mengetahui apa maksud dari kode ini." tebak Jungkook antusias. Seokjin menggeleng tak yakin.

"nde, kau benar. Ayahku adalah pengacara tersohor di seluruh Korea Selatan. Aneh rasanya kalau dia tidak mengetahui hal ini. Tapi, apa maksud dari kode ini?" Jungkook terdiam, memandangi tulisan-tulisan aneh yang tertera di kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

"Apa mungkin, ini pesan rahasia dari Seojoon samchon kepada ayahmu?" tebak Jungkook. "Jika dilihat-lihat, ini tidak seperti berkas kasus seseorang. Ini tampak menyerupai surat atau sejenisnya."

"Aku juga berfikir seperti itu, Jungkook-ah. Tapi—apa para appa juga mengetahuinya?"

"—atau ayahmu justru menyimpannya untuk dirinya sendiri?" Seokjin menggeram tertahan. Ini hari libur, kenapa ia seperti sedang dihadapi ujian kelulusan saja?

"argh! Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus meminta bantuan seseorang." saran Jungkook.

"Siapa?"

"Seseorang yang berpengetahuan luas dan yang pastinya tidak dikenal para appa." Seokjin berfikir keras begitu pula dengan Jungkook. Kemudian, seulas senyum muncul di bibir Seokjin.

"Aku rasa, aku tahu siapa orangnya." dan hal itu membuat Jungkook bergidik tanpa alasan, karena mengingat terakhir kali Seokjin berujar sama membuatnya dipertemukan dengan si preman dan berakhir membuat janji di kedai menjijikkan. Dan untuk kali ini, jelas rasanya jika Jungkook merasakan hal yang sama. hyung-nya ini benar-benar orang yang tak tertebak apalagi mengenai kenalannya yang jauh dari kata 'baik'.

.

.

.

.

.

Uhuk!

Taehyung terbatuk dan menatap asisten pribadinya, Kim Joonmyeon tak percaya. Kedua matanya mengerjap lucu ditambah wajah blank yang ia ekspresikan setiap ia merasa tidak paham dengan apa yang baru saja Joonmyeon beritahukan padanya.

Taehyung menyeruput americano yang ia pesan di cafe depan RC untuk menenangkan diri sementara Joonmyeon dengan sabar menunggu jikalau tuan muda-nya ingin menanyakan sesuatu padanya.

Taehyung kembali terbatuk yang hal itu membuat Joonmyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya akibat tingkah Taehyung yang masih tak berubah jika sedang shock.

"Itu tidak mungkin, hyung. Dan—kenapa harus aku?" tanya Taehyung akhirnya membuka suara setelah sebelumnya hanya menjadi pendengar.

"Karena ayahmu yang memintanya."

"Aku tidak mau! Aku masih kelas dua, aku tidak mau ikut campur urusan orang tua." Joonmyeon menarik nafas.

"Aku tidak memintamu untuk ikut campur, aku hanya meminta bantuan padamu. Bukan aku, tepatnya ayahmu."

"ya! Tapi, kenapa harus aku?!" tanya Taehyung tak habis pikir. "Kau tahu hyung, semua orang sedang sibuk mencari tahu tentang kebenaran ini—"

"Dan kau hanya akan diam dan duduk disini saja?"

"Tentu saja, kau mengharapkan apa dariku?" Joonmyeon tertawa dan Taehyung kembali menyeruput americano-nya.

"Sampai kapan kau hanya akan menonton, Tae?" tanya Joonmyeon, Taehyung mengedikkan bahunya tak peduli.

"Aneh rasanya mendengar appa memintaku untuk membantunya setelah sebelumnya ia hanya menyembunyikan semuanya dariku."

"Jadi, bagaimana? Kau bersedia?" Taehyung berfikir sejenak.

"arra, tentu saja aku akan membantu appa." Joonmyeon tersenyum puas.

"Dan ingat, jangan sampai ada yang mengetahui hal ini. Siapapun! Dan lakukan dengan semulus mungkin." Taehyung menarik nafas.

"hm, aku paham. toh, ini bukan pertama kalinya aku melakukan pekerjaan semacam ini."

"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada pekerjaan lain yang harus aku urus." pamit Joonmyeon yang hanya diangguki oleh Taehyung. Karena Taehyung terlalu larut untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membantu ayahnya mendapatkan 'sesuatu' yang ayahnya inginkan.

Setelah, 30 menit kepergian Joonmyeon tapi Taehyung tetap memutuskan untuk berada di cafe itu bahkan sudah empat americano yang ia pesan karena terlalu fokus akan 'tugas' yang diberikan sang ayah padanya.

"aish, appa selalu saja seperti ini!" gumam Taehyung kesal, ia beranjak dari duduknya setelah meletakkan beberapa lembar won diatas meja dan keluar dari cafe itu.

Taehyung berjalan dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya, hendak menyebrang menuju RC. Taehyung menghela nafas berat, agak lama ia menunggu jalan sampai sepi hingga tak sengaja kedua matanya menangkap dua sosok yang sangat familiar baginya, dua sosok yang sejak kemah musim panas jarang ia temui karena kesibukan mereka yang tidak ia ketahui apa itu.

Tanpa berfikir panjang, Taehyung segera menyebrang jalan dengan tergesa, untung saja jalan raya sudah mulai sepi membuat Taehyung memilih untuk berlari dan membuntuti kedua orang yang tampaknya memasuki RC dengan gelagat yang mencurigakan.

Taehyung masih berjalan mengikuti kedua orang yang tak lain adalah Seokjin dan Jungkook. Mengikuti kedua orang itu yang berjalan menuju gedung asrama. Sebenarnya, tidak ada yang aneh jika hanya dilihat sekilas. Tapi, bagi Taehyung yang sangat mengenal gerak-gerik kedua teman masa kecilnya jika sedang menyembunyikan sesuatu benar-benar terlihat sangat jelas meskipun Taehyung hanya melihatnya sebentar.

Taehyung menghentikan langkahnya ketika kedua orang itu berdiri menunggu di depan lift yang membuat Taehyung mengumpat dalam hati karena tidak mungkin ia mengikuti mereka jika mereka berdua sudah masuk lift. Maka disinilah, Taehyung hanya menunggu dari kejauhan sampai kedua orang itu benar-benar sudah memasuki lift yang ada di gedung asrama.

Taehyung berjalan mendekati lift dan menatap teliti pada angka yang tertera pada layar diatas pintu lift dimana menunjukkan letak lantai yang sudah dilewati. Namun, seketika Taehyung mengeryitkan keningnya saat melihat angka lift berhenti lama di lantai empat, lantai yang bukan merupakan letak dimana kamar mereka berada.

Dan kemudian, Taehyung berinisiatif untuk menaiki tangga menuju lantai empat dibandingkan menunggu pintu lift sampai di lantai dasar. Taehyung terengah, setelah ia sampai di lantai empat ia membungkukkan badannya sebentar untuk menetralkan nafasnya. Tak lama, Taehyung kembali melangkah menuju koridor lantai empat yang tampak sepi.

Taehyung melangkah perlahan, menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Seokjin dan Jungkook yang ia yakin berada di lantai empat entah untuk mengunjungi siapa.

"Ayolah, bantu kami."

Taehyung menghentikan langkahnya tepat berada di depan kamar bernomor 413 yang pintunya kebetulan sedikit terbuka. Taehyung mencoba mengintip dan benar dugaannya dua orang yang ia cari, berada di kamar yang sepertinya milik seniornya yang satu kelas dengan Namjoon.

"Tidak, aku tidak bisa."

"Wae? Ini tidak gratis, kami akan membayarmu."

"Bukan masalah itu Seokjin-ssi. Tapi, kode-kode ini bukan kode sembarangan."

"Maksudmu?"

"Kode ini hanya diketahui oleh orang yang pernah berkecimpung di militer atau sempat mendapat pendidikan dari dunia kemiliteran. Meskipun, aku bisa mencari tahu dengan memindahkan kode ini ke komputer dan meng-hacknya tapi kode ini bukan kode sembarangan yang akan menunjukkan informasi yang kau inginkan. Justru sebaliknya, kode ini akan muncul dengan kode yang lebih rumit dan membuatmu lebih sulit berkali lipat untuk mencari tahu informasi yang ada di dalamnya. Karena, secara otomatis orang yang membuat kode ini memberikan kode pengaman untuk mengamankan informasi di dalamnya."

Taehyung bisa melihat Seokjin dan Jungkook yang tak berkutik bahkan tak mengatakan apapun pada senior itu. Namun, sedetik kemudian Taehyung berfikir sejenak terkait dengan hal yang baru saja ia dengar.

'Kode? Kode apa yang ingin mereka pecahkan?'

"Baiklah, jika begitu. Kami tidak akan memaksa. Kalau begitu kami pergi."

Karena, terlalu kalut dengan pikirannya sendiri sampai-sampai Taehyung tak mendengar jika Seokjin yang sudah berpamitan dan hendak keluar bersama Jungkook. Bahkan, tanpa ia sadari pintu kamar bernomor 413 itu sudah terbuka yang menghasilkan ekspresi terkejut dari Seokjin maupun Jungkook dengan keberadaan Taehyung yang hanya membalas tatapan terkejut mereka dengan cengiran khasnya.

"t-Taehyung~" gumam Seokjin. Taehyung tersenyum makin lebar.

"oh, hi hyung, hi Kookie..." balas Taehyung tak merasa gugup sekalipun karena baru saja kepergok menguping bahkan membuntuti mereka.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Seokjin berusaha menyembunyikan berkas di balik punggungnya yang hal itu membuat Taehyung memincingkan matanya melihat benda mencolok yang bersembunyi di balik punggung hyung-nya itu.

"Jadi, kalian melakukan sesuatu di belakang kami?" tanya Taehyung.

"ani, bukan begitu hyung—"

"Sudahlah!" potong Taehyung dengan sigap merebut berkas yang ada di tangan Seokjin.

"KIM TAEHYUNG!" seru Seokjin gelagapan karena berkas penting itu sudah berpindah tangan.

Taehyung membuka berkas itu dan membacanya teliti. Keningnya berkerut, kedua matanya membulat terkejut. Kemudian, ia menatap Seokjin dan Jungkook serius, terkesan bagi mereka berdua bukan tipikal Taehyung sekali.

"Darimana kalian mendapatkan ini?" tanya Taehyung suaranya tak serendah biasanya.

"Kami—"

"Ikut aku!" potong Taehyung berjalan mendahului mereka menuju lift. Seokjin dan Jungkook saling berpandangan, keduanya menarik nafas bersamaan dan dengan terpaksa mengikuti Taehyung yang tampaknya akan dengan mudah membaca rencana yang sudah mereka susun jauh-jauh hari.

.

.

.

.

.

"Jadi, Sundae haraboji adalah kakek kandungmu?" tanya Yoongi tak percaya. Kini ia dan Jimin sedang berada di kedai es krim dekat taman. Jimin yang masih asik menyantap es krim ketiganya yang ia pesan sementara Yoongi yang sesekali terkekeh melihat bagaimana Jimin-nya yang berubah menjadi montser es krim dalam sekejap, bahkan Yoongi juga dengan senang hati menghapus lelehan es krim yang berceceran di sekitar bibir Jimin.

Jimin mengangguk cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yoongi sejenak, memberikan perhatian sebentar kepada Yoongi hyung-nya yang sedari tadi hanya sibuk memperhatikannya.

"hm, pantas saja aku merasa nyaman bersamanya. Aku benar-benar tidak menyangka jika selama ini kakekku rela menyamar hanya agar bisa dekat denganku." tutur Jimin seraya memamerkan senyum termanisnya.

"Tapi, kenapa kakekmu hanya mengijinkanku untuk menemuimu? Dan tidak dengan yang lain?" Jimin menghentikan menyendok es krimnya ke dalam mulutnya dan ikut berfikir apa kiranya jawaban dari pertanyaan Yoongi.

"Aku juga tidak tahu, hyung. Setiap aku bertanya, haraboji selalu menghindar." jawab Jimin jujur. Yoongi terdiam sejenak sementara Jimin kembali memakan sisa es krimnya. Rasa cemas mulai ia rasakan apalagi setelah ia mengetahui bahwa Jimin sudah mengingat semuanya. Ingin rasanya ia menanyakan sesuatu, tapi rasanya ini terlalu cepat dan kurang pantas untuk ditanyakan di situasi seperti ini. Tapi juga terlalu lama jika Yoongi harus menunggu lebih lama lagi. Jadi, apa yang harus ia lakukan?

"hyung," panggil Jimin setelah hanya ada keheningan diantara mereka, tepatnya setelah Jimin menghabiskan es krim terakhirnya. Yoongi mengdongak dan menatap Jimin lembut. Jimin mengulum bibirnya, jujur saja ia tidak siap membicarakan hal sensitif untuk pertama kalinya terlebih itu kepada Yoongi. Tapi, ia tidak bisa terus diam. Bukan ini yang ia inginkan. Jadi, Jimin menarik nafas, menenangkan diri sebelum mengatakan sesuatu yang mengganggu pikiran Yoongis sejak tadi.

"Ada apa Jimin?" tanya Yoongi akhirnya. Jimin tersenyum sendu.

"Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya padamu. Aku tahu, ini mungkin terlalu cepat untuk kita bicarakan, tapi aku tidak bisa hanya diam dan menyimpan semua ini sendiri."

Baiklah, Yoongi rasa ia tahu kemana arah pembicaraan Jimin kali ini. Tapi, pertanyaannya adalah apa dia siap mendengar semuanya? Mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar rahasia yang selama ini pemuda manisnya simpan seorang diri bahkan termasuk dari kedua orang tuanya?

"hyung," Jimin kembali berucap. Yoongi hanya berdehem dan menatap Jimin lamat. Menunggu dengan sabar apa yang ingin Jimin katakan padanya.

"Kau tahu kan, apa yang terjadi pada keluargaku?" tanya Jimin. Yoongi tak merespon dan hanya tetap memandangi wajah manis Jimin dengan pandangan yang sulit Jimin artikan. "Aku tidak bisa diam saja, hyung—"

"ani!" potong Yoongi cepat. Kedua sorot mata sipitnya sudah bergulir cemas, bahkan Jimin juga melihat kedua mata yang selalu menatapnya teduh kini tengah berkaca untuk menahan tangis.

"Bisakah kau melupakan semuanya?" Jimin terhenyak, tak menyangka jika respon Yoongi sama seperti kakeknya.

"Bagaimana bisa aku melupakan semuanya begitu saja? Aku kehilangan kedua orang tuaku. Aku kehilangan ingatanku. Aku kehilangan semuanya bahkan aku juga kehilangan kehidupanku. Tidakkah kau mengerti bagaimana perasaanku, hyung? Orang itu, bajingan itu dengan bebasnya berkeliaran di luar sana tanpa merasa bersalah sementara aku? Aku tersiksa selama delapan tahun, hyung!" seru Jimin. Yoongi terdiam, menatap sendu kearah pemuda manis itu. Ingin sekali ia menggantikan segala penderitaan yang Jimin rasakan selama ini. Ingin sekali ia bertukar posisi dengan Jimin dan mengakhiri semua penderitaan Jimin-nya. Tapi, apa? Apa yang bisa ia lakukan?

"Jimin-ah, dengarkan aku!" Yoongi meminta perhatian. "Aku tahu semua ini sulit untukmu. Tapi, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Jika kau terus mengingatnya, kau akan dalam bahaya. Aku mohon Jiminie, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Kau tahu betul, jika kau adalah umpan empuk bagi mereka." Jimin menggeleng.

"Kau tidak mengerti, hyung."

"Apa yang tidak aku mengerti?! Aku sudah tahu semuanya. Ayahku sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi, aku tahu dengan benar resiko apa yang akan terjadi padamu. Dan, aku tidak mau itu semua terjadi padamu. Aku mohon, Jiminie—lupakan!"

"Aku tidak bisa, hyung!" tolak Jimin kekeuh. "Aku tidak bisa melupakannya begitu saja!"

"Jimin—"

"Jika kau tidak ingin resiko itu menjadi nyata untukku, tidakkah kau hanya mendukungku saja?"

"Park Jimin, kau sudah gila?!" Yoongi menatap Jimin tak percaya. Jimin memejamkan kedua matanya dan membalas tatapan Yoongi memohon. "Orang yang sedang kita bicarakan bukanlah orang sembarangan. Bahkan, para appa saja masih belum mengetahui siapa bajingan itu!"

"ya, mereka tidak tahu tapi aku tahu!"

"Itu sebabnya aku memintamu untuk melupakan semuanya! Dengar, jika mereka tahu ingatanmu sudah kembali. Aku tidak mau mereka menyentuhmu, aku tidak mau kehilanganmu. Jiminie, aku mencintaimu!" jantung Jimin berdetak cepat mendengar pernyataan cinta Yoongi yang tiba-tiba dan di waktu yang tidak tepat.

"hy-hyung—"

"Jimin-ah, kau adalah segalanya bagiku. Aku akan gila jika terjadi sesuatu padamu. Jadi, aku mohon jangan melakukan hal gila yang membuatku ingin membunuh semua orang." Jimin menarik nafas, menenangkan debaran jantungnya yang tidak mau kunjung berhenti.

"hyung, ini bukan hanya tentang diriku." ujar Jimin mulai tenang. "Bukan tentang keluargaku. Tapi, juga tentang dirimu, Jungkookie bahkan yang lainnya. Aku bukan orang egois yang ingin melakukannya hanya untuk kepentinganku sendiri. Tidak hanya aku sendiri yang menderita disini. Tidak hanya kau. Semua orang, keluargamu, keluarga Jin hyung, Jungkookie, Hobi hyung, Taehyungie, bahkan Namjoon hyung. Aku mohon, hyung. Jangan bersikap seperti ini. Pikirkan mereka, pikirkan dirimu, keluargamu, keluarga mereka. Bukan hanya aku korban disini. Kau juga korban. Mereka juga korban. Pikirkan hyung, berapa banyak nyawa orang yang mereka sayang direnggut dengan keji. Apa kau akan membiarkannya? Sementara, mungkin saat ini mereka sedang tertawa karena penderitaan kita. Pikirkan ibumu, hyung!"

Tes!

Yoongi mengalihkan pandangannya dari Jimin, menyembunyikan liquid bening yang meluncur begitu saja dari ekor matanya. Jimin menunduk, hatinya tercabik melihat Yoongi yang bahkan enggan melihatnya dengan wajah penuh air mata. Melihat hal itu, entah kenapa Jimin ingin sekali memeluk dan menenangkan pangeran kecilnya dan membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja.

"hyung, aku rasa aku tidak bisa berlama lagi disini. Hyukjae hyung pasti sudah menungguku. Dan, mungkin beberapa hari ke depan kita tidak bisa bertemu. Haraboji sangat membatasiku, kau tahu beliau juga mengatakan hal yang sama setelah aku mengatakan hal ini padanya. Tapi, aku mohon hyung—aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa sendiri dan aku tidak bisa diam saja. Sampai jumpa, hyung. Aku pasti akan merindukanmu." Jimin bangkit dari duduknya sementara Yoongi masih tak merespon apa-apa. Jimin berdiam diri sejenak, mematai Yoongi yang masih setia mengalihkan pandangannya dari Jimin membuat kedua mata Jimin berkaca.

"Jaga dirimu, hyung!" pamit Jimin melangkah pergi meninggalkan meja dimana ia dan Yoongi sempat habiskan waktu bersama.

Jimin menggigit bibir bawahnya ada rasa sesak ketika ia berharap Yoongi yang menyusulnya atau hanya sekedar membalas salam perpisahannya. Tapi, tampaknya harapan tetaplah harapan bahkan saat Jimin sudah membuka pintu kedai es krim ia tak merasakan tanda-tanda pencegahan dari Yoongi sedikitpun, hal itu membuatnya mendesah kecewa. Ia tahu, Yoongi mencemaskannya. Tapi, lebih dari apapun ia juga mencemaskan Yoongi-nya. Bahkan, tanpa Yoongi tahu rasa cemas Jimin lebih besar dari rasa cemas Yoongi padanya. Atau justru memang sebaliknya?

Set!

Jimin hampir terlonjak ketika ia sudah berada di depan kedai es krim dan mendapati tangan besar seseorang yang menahan pergelangan tangannya dari belakang. Tangan ini, Jimin bisa mengetahui siapa pemilik tangan ini, namun sekali lagi Jimin tidak ingin terlalu berharap. Hingga akhirnya, ia merasa tangannya ditarik oleh seseorang yang membuat Jimin memutar badan dan tanpa dugaannya ada sesuatu yang bertekstur kenyal menabrak bibirnya.

Jimin memejamkan kedua matanya setelah ia mengetahui bahwa tangan yang menahan tangannya bukanlah harapannya semata, tapi memang kenyataan terlebih ia tidak menyangka jika si pemilik tangan—Min Yoongi, akan menciumnya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Tangan lain Yoongi merambat ke belakang tengkuk Jimin, memperdalam ciuman mereka. Awalnya, Jimin hanya memilih diam tapi ketika ia merasakan cairan asin di sela-sela ciumannya dengan Yoongi hal itu membuatnya dengan berani untuk membalas lumatan-lumatan lembut yang bibir Yoongi berikan pada bibirnya.

Jimin rasa, Yoongi membutuhkan penenang. Maka disinilah ia, menjadi penenang baru sekaligus candu untuk Yoongi hanya karena ciuman mereka yang penuh cinta dan begitu memabukkan hingga menjadikan mereka lupa tempat dimana latar yang mereka gunakan sebagai saksi atas ciuman kedua mereka.

Jimin memberanikan diri mengalungkan kedua tangannya ke leher Yoongi. Membalas setiap lumatan lembut yang entah sepertinya berhasil menjadi penenang Yoongi. Setelah menghabiskan waktu lebih dari lima menit untuk berciuman, Jimin akhirnya melepas tautan bibir mereka. Dengan lembut, tangannya terulur untuk menghapus air mata Yoongi bahkan dengan senang hati ia sedikit berjinjit untuk mengecup kedua mata Yoongi dan beralih mengecup sebentar bibir pemuda tampan itu.

"Jangan mencemaskanku jika aku berada di dekatmu, hyung. Kau tahu, aku sangat membutuhkanmu. Selalu, seperti itu. Tidak hanya dulu, sekarang, bahkan mungkin sampai waktu yang cukup lama. Dan, aku juga akan selalu berada disisimu, dalam keadaan apapun. Jadi, jangan pernah mencoba untuk menyembunyikan kesedihanmu dariku. Aku tidak bisa melihatmu seperti itu. Kesedihanmu adalah kesedihanku. Dan, sekarang aku hanya ingin kau menjadi orang pertama yang tahu jika aku benar-benar sudah kembali." Yoongi tersenyum tampan menggenggam kedua tangan Jimin dan mengecup kening pemuda manis itu lembut.

"Beri aku waktu, aku belum begitu siap hanya karena memikirkan segala resiko dari semua ini. Tapi, aku mohon padamu, berjanjilah jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuanku. Jangan melakukan sesuatu yang membuatku harus berbuat nekat dan gila karena kau terluka, Berjanjilah padaku, sayang. Berjanjilah, kau akan tetap diam untuk sekarang ini." Jimin merona malu ketika Yoongi memanggilnya penuh kasih dan dengan senang hati ia mengangguk.

"Aku berjanji padamu, hyung. Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu." Yoongi tersenyum lega, ia menarik tubuh Jimin ke dalam dekapannya yang tentu saja akan Jimin balas dengan senang hati.

.

.

.

.

.

Cklek!

Seokjin dan Jungkook segera menoleh kearah pintu kamar Yoongi, Namjoon, dan Taehyung yang terbuka tiba-tiba. Keduanya menelan ludah gugup setelah melihat siapa tamu yang tak diundang masuk ke kamar Taehyung, sementara salah satu pemilik kamar yang sedang sibuk dengan berkas yang didapat oleh Seokjin dan Jungkook entah darimana asalnya.

"oh, kalian disini?" sapa si tamu tak diundang yang membuat Taehyung menoleh sejenak.

"Ada apa, hyung?" tanya Taehyung. Jung Hoseok, si tamu tak diundang berjalan mendekati ketiga temannya yang kebetulan sedang berkumpul.

"Kau lupa kita punya janji pada Yoongi hyung?" Hoseok memberitahu, seketika Taehyung menepuk jidatnya.

"Maaf, hyung. Aku lupa, Joonmyeon hyung datang kemari jadi aku harus menemuinya. Apa Yoongi hyung marah? Dia masih disini?"

"Bukan masalah marah, mobilnya ada tapi manusianya tidak ada. Aku tanya ke semua orang yang disana mereka bilang tidak melihat Yoongi hyung sejak tadi. Yasudahlah, mungkin dia ada urusan." Taehyung hanya mengangguk, kemudian Hoseok mengalihkan pandangannya kearah Seokjin dan Jungkook yang tampak duduk gelisah. "Urusan kalian sudah selesai?" tanya Hoseok yang membuat kedua pemuda cantik dan manis itu tergelak.

"Apa kau bilang?" Seokjin balik bertanya. Hoseok mendengus.

"Aku tanya, apa urusan kalian sudah selesai?" ulang Hoseok, nada suaranya terdengar sarkas tak seperti biasanya.

"ani—"

"Belum hyung!" potong Taehyung. Kini, ia berjalan mendekati Seokjin dan Jungkook yang sedang duduk di kursi meja makan yang ada di kamarnya sementara Hoseok yang sedari tadi berdiri di dekat meja belajar Taehyung ikut mendekati mereka dan duduk di samping Taehyung.

"Jadi, urusan apa yang kalian sembunyikan dari kami?" tanya Hoseok mematai Seokjin dan Jungkook bergantian.

Seokjin dan Jungkook menarik nafas bersamaan dan menatap Taehyung dan Hoseok lesu.

"Tunggu, sebelum kalian menjawab. Aku ingin bertanya—apa kalian benar-benar tidak memahami isi dari berkas ini?" tanya Taehyung mendahului.

"Tentu saja tidak, jika kami tahu kenapa kami harus meminta tolong pada Kim Ahn dan berakhir dengan terpergok olehmu!" balas Seokjin.

"Dan darimana kalian mendapatkannya?" tanya Taehyung kemudian.

"Di brangkas ruang kerja ayahnya Seokjin hyung." Jungkook yang menjawab.

"daebak! Bagaimana kalian bisa mendapatkannya?" tanya Hoseok yang tanpa Taehyung sadari beberapa lembar kertas sudah berpindah ke tangannya.

"Menyuruh seseorang" jawab Seokjin mengalah untuk mengatakan jujur pada kedua teman kecilnya. Taehyung tampak menarik nafas, ia melirik kearah Hoseok yang tampaknya sedang ikut memahami isi dari kertas yang berisi tulisan-tulisan aneh.

"Kalian tahu, apa isi dari berkas ini?" tanya Taehyung. Keduanya menggeleng kompak.

"Kau bisa membacanya?" Taehyung mengangguk kecil.

"Jika Yoongi hyung membacanya, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang."

"Maksudmu?" tanya Seokjin tak mengerti.

"Secara kebetulan aku, Yoongi hyung, dan Namjoon hyung pernah di masukkan ke dalam sekolah kemiliteran tapi aku hanya sekolah selama dua tahun disana, sedangkan Yoongi hyung tiga tahun dan Namjoon hyung hanya satu tahun."

"Lalu, apa hubungannya dengan ini?" tanya Seokjin.

"Kau dengar kan apa yang dikatakan Kim Ahn-ssi tadi? Ini kode kemiliteran, bukan kode sembarangan. Tentu saja aku mengerti." balas Taehyung.

"Lalu, kenapa dengan Yoongi hyung?" tanya Jungkook.

"Kode ini ditulis oleh ayahnya Jimin!" sahut Hoseok ikut menimpali pembicaraan mereka bertiga sebelum Taehyung yang hendak menjawab pertanyaan Jungkook.

"Kau juga bisa membacanya?" tanya Seokjin. Hoseok tersenyum kemudian dengan polosnya menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa membacanya. Ini seperti tulisan alien." ujar Hoseok. Seokjin berdecak kesal.

"Jadi, apa isinya hyung?" tanya Jungkook penasaran. Taehyung tampak terdiam.

"Tae, beritahu kami." pinta Seokjin. Taehyung tersenyum tampan.

"Tentu saja aku akan memberitahu kalian, tapi kalian harus memberitahu kami apa yang kalian sembunyikan dari kami terlebih dahulu. Semuanya. Tanpa tertinggal satu kata pun." pinta Taehyung diikuti anggukan dari Hoseok. Seokjin dan Jungkook saling berpandangan hingga Seokjin yang menarik nafas setelah mendapat sinyal 'kau saja yang menceritakannya hyung' dari Jungkook.

"Baiklah, kami akan katakan pada kalian." ujar Seokjin akhirnya. "Sebenarnya, kami sedang mencari berkas yang berkaitan dengan Seojoon samchon. Dan kami memulainya dari ayahku. Ayahku seorang pengacara, aku yakin ada sesuatu yang berkaitan dengan Seojoon samchon di ruang kerjanya. Aku sudah mencarinya di ruang kerja di rumah kami, tapi tidak ada sesuatu yang bisa aku temukan jadi aku menyuruh seseorang untuk menyusup ke kantornya setelah aku melihat struktur ruang kerjanya dari cctv keamanan."

"Tapi, kenapa kalian melakukan semua itu?" tanya Hoseok. Seokjin melirik kearah Jungkook seolah meminta persetujuan. Setelah Jungkook mengangguk, Seokjin lagi-lagi menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Hoseok dan menjelaskan lebih jauh lagi.

"Ingatan Jimin sudah kembali."

"MWO?!" pekik Hoseok dan Taehyung dengan kedua mata mereka melebar sempurna.

"Sejak kapan?" tanya Taehyung.

"Kenapa kalian tidak memberitahu kami?" sambung Hoseok.

"Kami tidak tahu pasti, kapan ingatan Jimin hyung kembali. Dia memberitahuku ketika Tae hyung terluka di hutan waktu itu." Jungkook yang menjawab.

"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Taehyung.

"Awalnya dia bertanya dimana barangnya yang berisi figura keluarganya, aku mengatakan padanya jika Yoongi hyung yang menyimpan. Dan selanjutnya dia mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang dulu ia anggap sebagai adik kecilnya. Dia menyuruhku untuk tidak mempercayai siapapun dan dia juga mengatakan bahwa dia bukan Jimin yang dulu. Aku melihat dari kedua matanya, penuh emosi dan dendam. Aku merasa asing ketika bertatapan dengannya." jelas Jungkook.

"Jadi, itu kenapa kalian melakukan semua ini?" Jungkook mengangguk dan Seokjin hanya terdiam mendengar penuturan Hoseok.

"Kami harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita tidak mungkin diam saja 'kan?" tanya Jungkook. Ketiga hyung-nya itu hanya terdiam.

"Jadi, apa isi berkas itu?" tanya Jungkook setelah hanya ada keheningan diantara keempatnya. Taehyung menghela nafas, tatapannya berubah prihatin yang tak mereka ketahui apa sebabnya.

"ya, tulisan yang ada di semua kertas-kertas ini ditulis oleh ayahnya Jimin. Kode ini adalah kode lanjutan." ujar Taehyung memberitahu.

"Maksudmu?" tanya Seokjin tak mengerti.

"Siapapun tidak akan bisa membacanya jika tidak ada kode sensor dari berkas ini."

"Maksudnya? Jangan berbelit Tae." sergah Seokjin tak sabar.

"Ini adalah cara kuno untuk menjaga informasi yang bersifat sangat penting dan rahasia, sebenarnya. Dan ini adalah salah satu cara dari puluhan cara yang dipilih oleh ayah Jimin untk mengamankan informasi yang ia punya dari orang yang tidak berhak. Jika tidak salah tebak, ayah Jimin membuat bentuk tulisan yang sejenis sampai sekitar 4 atau 5 berkas yang bertahap, sekilas isinya terlihat sama tapi sebenarnya isi dari setiap tulisan itu berisi informasi yang berbeda. Kode-kode ini bertujuan untuk mengamankan isi dari informasi ini dari orang yang tidak berhak mengetahuinya. Dan dari bentuk tulisannya, berkas ini berada di tahap ketiga. Kita tidak bisa mengetahui apa isi dari berkas ini sebelum mendapatkan berkas pertama dan kedua."

"Jadi, berkas sebelumnya adalah kunci untuk mengetahui informasi dari berkas terakhir?" Taehyung mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Seokjin.

"Jika dilihat dari bentuknya, berkas pertama merupakan kode pengantar. Banyak orang yang mengabaikan berkas pertama dan akan fokus untuk mencari berkas kedua yang berisi kunci dari kode yang disensor di berkas ketiga. Berkas ketiga sendiri berisi lanjutan dari berkas keempat."

"Keempat?" pekik Seokjin, Hoseok, dan Jungkook kompak. Taehyung mengangguk.

"hm, berkas keempat berisi informasi terdahulu dibandingkan berkas ketiga. Bisa dikatakan berkas ketiga adalah hasil akhir dari informasinya. Jika tidak teliti, orang jahat yang memiliki ratusan otak jenius sekalipun tidak akan memahami urutannya apalagi jika sampai melewatkan satu kode saja dari setiap kertas yang ada di setiap berkasnya."

"Lalu, apa isi dari kode pengantar?" tanya Jungkook. Taehyung tersenyum tampan.

"Kode pengantar sebenarnya adalah yang paling penting dari informasi yang sedang diamankan dibandingkan dari ketiga berkas lainnya. Kode pengantar berisi kode rahasia dimana berisi pokok informasi yang diamankan oleh pembuat kode. Sekaligus, kode yang sangat sulit dipecahkan dibandingkan kode yang lain. Bahkan, meskipun seseorang sudah memecahkan berkas ketiga dan keempat dengan bantuan berkas kedua, semua itu pasti terasa mengambang jika belum mengetahui apa isi dari berkas pertama."

"daebak. Jadi, apa itu artinya ada berkas lain selain berkas ini?" tebak Seokjin. Taehyung mengangguk.

"nde, itu artinya ada berkas lain yang mungkin disembunyikan oleh beberapa orang atau satu orang sekaligus. Dan kita harus mendapatkannya jika ingin mengetahui apa informasi yang ditulis ayah Jimin sehingga memilih mengamankannya dengan kode kuno seperti ini." lanjut Taehyung.

"wah, aku tidak menyangka peringkat nyaris terakhir sepertimu mengetahui hal khusus yang hampir tidak diketahui oleh orang awam." Taehyung tertawa keras atas pernyataan polos yang dilontarkan oleh Hoseok.

"Jangan membahas hal itu hyung. Semester depan, aku akan menggeser Park Jimin dari tahtanya."

"Itu hal mustahil Taehyung-ssi!" sinis Seokjin yang setelahnya mereka isi dengan tawa dan candaan bersama meskipun sesekali mereka selingi dengan pembicaraan serius.

.

.

.

.

.

Jimin duduk termenung di samping bangku kemudi mobil yang sedang dilajukan oleh Hyukjae. Pikirannya penuh memikirkan banyak hal membuat Hyukjae yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik Jimin, menatap cemas kearah tuan mudanya itu.

"Jiminie, apa terjadi sesuatu tadi?" tanya Hyukjae akhirnya membuka suaranya. Jimin menoleh cepat, dan tersenyum tipis.

"Tidak sesuatu yang besar sih, hyung. Tapi, aku hanya heran—kenapa respon Yoongi hyung bisa sama dengan haraboji?"

"Maksudmu?"

"Aku sudah mengatakan semuanya pada Yoongi hyung. Kata-katanya memang berbeda tapi bermakna sama dengan haraboji." jawab Jimin.

"Jimin, kau tahu benar jika sebenarnya apa yang entah kau rencanakan itu salah. Kau membahayakan dirimu atau bahkan kau juga bisa membahayakan orang-orang yang ada disekitarmu."

"YA! Aku paham, hyung! Aku tahu apa maksudmu, haraboji dan juga Yoongi hyung. Aku juga tahu konsekuensinya. Aku tahu resikonya. Kalian semua memang benar. Tapi, aku tidak bisa egois, hyung. Bukan hanya hidupku yang dipertaruhkan disini. Hidup mereka, mereka semua menderita tanpa diri mereka sadari. Dan, hyung kau tahu dengan benar jika aku hanya diam saja dan menyimpan semua ini sampai aku mati sekalipun. Orang itu—bajingan itu tidak akan berhenti jika aku tidak bertindak!"

"Baiklah, aku mengerti!" sela Hyukjae ikut meninggikan suaranya tanpa sadar. "Kalau begitu katakan padaku. Siapa bajingan itu, hingga membuatmu bertekad seperti ini. Siapa, orang yang bahkan sampai sekarang begitu lihainya menyembunyikan dirinya dari orang-orang tersohor di negeri ini. Katakan padaku, agar aku bisa menjagamu, mendukungmu bahkan ikut andil dalam rencanamu!" Jimin terdiam sejenak. Ia tak pernah berfikir sebelumnya untuk menyebut seseorang yang amat sangat ingin ia musnahkan di dunia ini.

"Jangan terkejut jika aku mengatakannya apalagi berubah sampai tidak mempercayaiku. Aku sudah membayangkan bagaimana responmu ketika aku menyebut nama bajingan itu, dan aku yakin sampai hampir 100% bagaimana responmu nanti, hyung."

"Katakan, aku siap mendengarnya." kedua mata Jimin berkilat penuh amarah. Jalanan yang mereka lewati tampak sepi mungkin karena memang sudah memasuki jam makan malam. Tanpa sadar, Jimin mengepalkan kedua tangannya diatas paha.

"Nam Goong Won!"

Ckiit!

Jimin menyeringai. Dugaannya benar atas reaksi Hyukjae setelah mendengar ia menyebut nama orang yang paling disegani di tanah kelahirannya. Bahkan ia sampai tak menyangka saking terkejutnya, Hyukjae sampai menghentikan mobilnya tiba-tiba.

"Kau gila? Itu tidak mungkin!" Jimin tertawa keras dan menatap Hyukjae menantang. Dan, sungguh ini kali pertama Hyukjae melihat Jimin seperti pembunuh bayaran. Benar-benar terlihat sangat menakutkan.

"ya! Orang sepertimu, seperti mereka yang bekerja di tanah kepolitikan. Ketika aku menyebut namanya aku pastikan, seluruh warga di negeri ini pasti akan memenjarakanku bahkan sampai mengajukan hukuman mati untukku!" sarkas Jimin. "Kau bisa bayangkan bagaimana jika ayahku yang mengatakannya, meskipun ia memiliki bukti sekalipun waktu itu? Apalagi posisi ayahku tepat sebagai bawahannya. Nam Goong Won pasti akan dengan mudah memutar balikkan fakta hanya dengan mulutnya yang berbisa itu, dan BOOOM! Semua orang akan dengan mudah langsung mempercayainya. Begitu pula denganmu!"

Hyukjae masih terdiam. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai segala penuturan Jimin padanya. Tapi, ia juga yakin Jimin tidak mungkin berbohong.

"Jika benar Nam Goong Won orangnya, itu artinya kita berurusan dengan orang yang berbahaya." Jimin mengangguk menyetujui.

"nde, itulah kenapa haraboji dan Kang ahjussi selalu berhati-hati jika membicarakan tentang mereka." Hyukjae membulatkan kedua matanya terkejut.

"Kakekmu sudah tahu siapa pelakunya?"

"nde, aku rasa haraboji mengetahuinya. Aku tak sengaja pernah mendengar haraboji bicara pada Kang ahjussi tentang gertakan yang mengatas namakanku, istri Seungwon ahjussi, dan bisnis haraboji di Seoul." Hyukjae menggeleng tak yakin.

"Aku rasa kau salah mengerti."

"nde?"

"Jika masalah itu, bukan Nam Goong Won yang kakekmu maksud." Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.

"Apa maksudmu, hyung?"

"Itu gertakan yang dibuat oleh Jung Yunho, salah satu pelaku dari kecelakaan kedua orang tuamu yang masih mengincar nyawamu hingga sekarang." Jimin bergumam tak percaya. "Sulit dipercaya, jika pelakunya adalah Nam Goong Won, Jiminie~ meskipun aku percaya padamu. Tapi, berurusan dengannya atau membuat masalah padanya apalagi sampai mencorengkan nama baiknya, itu sama saja membuang nyawamu dengan percuma."

"Tapi, aku bicara fakta, hyung! Aku tahu, waktu itu aku hanya seorang bocah. Tapi, aku memiliki intuisi yang cukup tajam ketika orang itu datang ke rumahku untuk mengancam ayahku. Bahkan tidak hanya itu, aku juga berkali-kali mendengar segala pembicaraan dan interaksinya kepada para paman." Hyukjae berfikir sejenak.

"Dan, pikirkan hyung! Kau mengetahui jika dia orang yang berbahaya—orang yang sangat disegani di seluruh penjuru Korea dan mungkin, orang yang sangat dipuja oleh semua orang. Dan, apakah masuk akal jika selama delapan tahun lamanya semua orang sampai sekarang masih tidak mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya? Kau tahu dengan benar bagaimana koneksinya yang begitu ketat dan sangat dibatasi oleh orang awam khususnya, bukan orang sembarangan yang berurusan dengannya. Dan, pikirkan logikanya hyung, dia bukan manusia sempurna yang layak dipuja dan dipuji, dia hanyalah bajingan brengsek yang memakai topeng untuk menutupi kemaksiatannya dengan segala kehormatan, kekayaan, serta kekuasaannya!"

"Rasanya masuk akal, jika selama delapan tahun orang-orang seperti sahabat ayahmu bahkan kakekmu tidak mengetahui siapa pelaku sebenarnya." Jimin menarik nafas, menyamankan tubuhnya pada sandaran kursi mobil setelah penjelasan panjang lebarnya kepada Hyukjae, menjelaskan segala hal hanya untuk menyakinkan Hyukjae agar mempercayainya.

"Itulah kenapa setelah ingatanku kembali aku sangat frustasi, hyung. Sekarang, baru kau yang mengetahuinya dan reaksimu sesuai dengan dugaanku. Jadi, bagaimana dengan orang-orang yang pantas untuk mengetahui semua ini? Kau bisa bayangkan, aku harus gunakan seribu kali cara untuk menyakinkan mereka!" ujar Jimin. Hyukjae mengangguk paham.

"Apa, Nam Goong Won pernah menemuimu ketika kau hilang ingatan?" Jimin mengangguk.

"Dia pernah mendatangi RC, saat festival hari pertama. Dan, hari kedua aku ingat Jung Yunho juga datang dan menampakkan dirinya di depan mataku."

"jinjja?" Hyukjae terkejut bukan main. Jimin mengangguk tegas. "Jiminie, kau tahu? Kakekmu akan semakin cemas jika beliau mengetahui siapa dalang di balik semua ini." Jimin menghela nafas berat.

"arrayo, aku tahu hyung. Haraboji akan semakin ketakutan jika mendengarnya."

.

.

.

.

.

BUAGH!

DUG!

BUAGH!

"argh~ a-aku.. aku mohon—hen-ti-kan," pinta seorang pria tua yang sudah babak belur dan merintih kesakitan akibat setiap pukulan yang ia terima. Pria tua itu merangkak mendekati kaki salah satu orang yang mendatanginya yang merupakan si penyuruh dari rasa remuk redam yang diberikan kepadanya.

"a-aku mohon—"

BUGH!

Pria berparas tampan dan berahang tegas itu dengan kejinya menendang pria tua yang sudah berani memeluk kakinya. Kemudian, ia berjalan mendekati si pria tua itu dan mencekik lehernya tanpa rasa iba sedikitpun.

"Kami sudah memperingatkan sebelumnya padamu, tua bangka—untuk tidak bermain-main dengan kami. Tapi, kau malah mengabaikannya dan memilih untuk menemui ajalmu lebih cepat!"

'tidaktidak! a-aku mohon, ampuni aku—uhuk!" pria tua itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya yang membuat si pria tampan, menarik senyum membentuk seringai kejam.

"Ringkus dia kalau perlu sampai darahnya mengering dan menyatu dengan tanah!" titah pria tampan pada anak buahnya yang dengan kejinya menyeret kaki si pria tua menjauh dari kakinya.

"Kim Namjoon!" panggil pria itu setelah para anak buahnya menyeret jauh korbannya hari ini.

"hm." dehem Namjoon yang memang berada di tempat kejadian. Namjoon yang sedari tadi hanya sibuk menonton, berjalan malas mendekati iblis yang menjelma menjadi pria tampan—begitu menurut Namjoon menyebut sosok yang kelewat kejam untuk dikatakan sebagai manusia.

"Cukup untuk hari ini, aku membiarkanmu untuk tidak mengotori tanganmu lagi. Dan, untuk besok malam—jangan lupa kerjakan pekerjaanmu dengan benar!" pria tampan yang biasa dipanggil Yunho itu menepuk pundak Namjoon dan berlalu pergi begitu saja.

Namjoon mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah sepergian iblis yang mengendalikan dirinya sepenuhnya, dan bodohnya ia tetap bersedia untuk menuruti segala perintah yang pria itu inginkan darinya.

Namjoon menarik nafas, menenangkan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah tua yang sudah tak layak huni. Namjoon menaikkan tudung jaket yang ia kenakan dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Kepalanya tertunduk dengan langkah kakinya yang berjalan menelusuri trotoar. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak tekanan untuk memikirkan banyak hal yang masih belum ia selesaikan.

Namjoon membuang nafas berat bersamaan dengan langkahnya yang terhenti. Namjoon mendongakkan kepalanya menatap langit-langit gelap tanpa bintang yang hanya ada cahaya bulan yang tertutup awan hitam, membuat Namjoon bertanya-tanya apa ada hujan di musim panas? Atau hanya alam yang sedang menertawakan kebodohannya?

"Nak, tak perlu kau berbuat sejauh ini. Jangan pikirkan aku, ayahmu akan kecewa jika mengetahui semuanya."

Kedua mata Namjoon berkaca, ia bukan orang jahat. Tapi, kenapa takdir menutunnya untuk menjadi orang jahat? Namjoon kembali menunduk, mengeluarkan kedua tangannya dari sakunya dan menatap tangan besarnya yang terasa pucat dan dingin karena hawa angin malam.

Tes!

Namjoon terisak dalam diam. Pria sejati tak akan menangis, begitu prinsip seorang lelaki yang seharusnya. Tapi, ia lebih memilih untuk menjadi pria brengsek yang menangis hanya karena mengingat fakta bahwa dengan kedua tangannya ia pernah melenyapkan nyawa seseorang.

"Namjoonie?"

Namjoon segera menghapus air matanya saat ia melihat sepasang converse merah berdiri di depannya. Namjoon mengangkat wajahnya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok Kim Seokjin berdiri di depannya dengan kedua matanya yang berbinar lucu, membuat Namjoon mengulas senyum kecil sebelum ia ingat apa kiranya yang Seokjin lakukan di luar dan berkeliaran di tengah malam seperti ini?

"Apa yang kau lakukan disini, hyung?" tanya Namjoon tak berniat untuk mendekati Seokjin.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Sudah lama tidak melihatmu sejak kemah musih panas, jadi apa yang kau lakukan disini?" Seokjin balik bertanya seraya berjalan mendekati pemuda tampan yang entah sejak kapan selalu bisa membuat jantungnya berdebar tak wajar.

"Aku—"

"Apa kau butuh minum?" tawar Seokjin. Namjoon mengangkat sebelah alisnya. "Aku rasa kau butuh penenang." Namjoon menghela nafas dan mengedikkan bahunya.

"Baiklah, temani aku kalau begitu." Seokjin tersenyum cantik.

"Dengan senang hati, Namjoon-ssi!" balas Seokjin dan tanpa canggung menarik tangan Namjoon untuk menyebrang jalan dan berjalan menuju minimarket 24 jam yang kebetulan berada di seberang jalan tempat mereka berdiri.

"Kau ingin minum soju?" tanya Seokjin setelah ia dan Namjoon sampai tepat di depan minimarket yang sepi pengunjung.

"ani—aku sedang tidak ingin mabuk." Seokjin mengangguk paham.

"Kau mau makan ramen?" tawar Seokjin. "Ramen dan cola, aku rasa cocok dimakan tengah malam seperti ini. Bagaimana?"

"hm, ide yang bagus. Kebetulan aku sedang lapar."

"Kau mau tambah nasi juga?" Namjoon berfikir sejenak.

"ani, aku sedang tidak ingin makan nasi. Aku memilih ramen ukuran jumbo saja."

"arraseo, kau tunggu disini—aku akan belikan untukmu!" Namjoon tersenyum gemas ketika Seokjin dengan semangatnya memasuki minimarket dan membelikan sesuatu yang mampu mengisi perut kosongnya.

Sembari menunggu Seokjin, Namjoon memilih untuk duduk di salah satu kursi kosong yang disediakan di depan minimarket. Saat sedang sendiri seperti ini, pikirannya kembali kalut pada takdir yang senang sekali mempermainkan hidupnya. Namjoon diam melamun, membayangkan segala hal kemungkinan akibat buruk dari ulah brengsek yang sudah lama ia lakukan selama ini. Dan, apapun yang terjadi ia harus menerima semua konsekuensinya termasuk kebencian dan kekecewaan sang ayah.

Namjoon tersenyum miris. Ia merasa hidupnya tak lama lagi. Tak lama lagi, semua orang akan mengetahui semua tentang dirinya. Dan tak lama lagi, bayang-bayang yang selalu menghantuinya berubah menjadi kenyataan. Ingin Namjoon memilih untuk mengakhiri hidupnya atau memilih untuk meninggalkan kota ini dan pergi jauh dari semua orang yang mengenalnya. Namun, setelah itu apa? Apa semuanya akan selesai begitu saja setelah ia pergi atau mati? Bagaimana dengan ibunya? Sekali saja, ia melakukan kesalahan kecil—nyawa ibunya yang sudah ia jaga selama ini akan melayang bagai selembar tissue habis pakai.

Sret!

Namjoon segera tersadar, saat kursi di depannya ditarik oleh Seokjin yang sudah meletakkan dua cup ramen berbeda ukuran. Setelah meletakkan dua cup ramen itu, tangan terampil Seokjin merogoh dua saku mantelnya untuk mengambil dua cola dingin di masing-masing tangannya.

"jja, makanlah. Aku tahu kau lapar!" ujar Seokjin. Namjoon tersenyum tampan melihat bagaimana Seokjin yang meniup-niup ramen miliknya yang sudah ia sumpit.

"omong-omong, kemana saja kau selama ini?" tanya Seokjin memecah keheningan, karena tampaknya Namjoon sedang dalam mood yang buruk dan berniat mungkin saja ia bisa sedikit menghibur pemuda tampan itu.

"Hanya mengurus sesuatu yang harus diurus." Seokjin mengangguk paham. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan tengah malam begini, hyung?"

"oh, aku punya kebiasaan terbangun tengah malam dan jalan-jalan keluar karena tidak bisa tidur lagi. Biasanya aku habiskan untuk jalan-jalan di sekitar RC, tapi entah kenapa aku merasa bosan dan memutuskan untuk jalan-jalan keluar dan tak sengaja bertemu denganmu." Namjoon menyeruput ramennya seraya mendengar jawaban Seokjin.

"ah-ya, apa kau sudah menjenguk Yoongi?" tanya Seokjin membuka topik pembicaraan.

"Aku belum sempat." Seokjin hanya mengangguk asal. "Apa dia sudah membaik?"

"ya begitulah, Hobi dan Taehyung sering mengunjunginya. Kata mereka, dia sudah lebih baik daripada sebelumnya."

Setelahnya, hanya ada keheningan diantara mereka meskipun cup ramen milik masing-masing sudah kosong bahkan kaleng cola yang Seokjin beli juga sudah habis. Tak ada yang berniat membuka suara, yang mereka lakukan hanya menikmati udara malam yang entah kenapa terasa begitu sejuk bagi keduanya.

"Kau tahu, aku sangat menyukai udara malam." Seokjin membuka suara, Namjoon hanya diam mendengar. "Rasanya menenangkan dan cukup menjadi obat penghilang stres." Seokjin menoleh kearah Namjoon, meneliti tiap inch wajah tampan yang entah alasan apa sangat ia rindukan karena sudah cukup lama tidak saling berpapasan.

"Kau—punya masalah?" tanpa sadar Seokjin menanyakan hal paling sensitif untuk Namjoon. Namjoon menghela nafas berat, ia menoleh kearah Seokjin dan membalas tatapan Seokjin yang membuat hatinya berdesir seketika.

"nde!" jawab Namjoon jujur. Seokjin mengangguk mengerti.

"Masalah yang hanya bisa kau hadapi sendiri?" tebak Seokjin. Namjoon mengangguk kecil dan kembali menggumamkan 'nde!' sebagai jawaban.

"hyung, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Tentu saja."

"Aku pernah mendengar ketika Sandeul menyatakan cinta padamu dan kau mengatakan kau sudah dijodohkan, apa itu benar?" Seokjin tersenyum lebar, amat lebar dan itu terlihat sangat cantik bagi Namjoon.

"Itu adalah penolakan secara halus. Aku tidak memiliki perasaan dengannya dan aku juga tidak ingin menyakitinya."

"Tapi, kenapa kau beralasan seperti itu?"

"Karena aku tidak mau dia berusaha untuk mencuri hatiku. Aku sudah menetapkan hati ini untuk dimiliki orang lain."

"Jadi, kau sudah menyukai orang lain?" Seokjin mengangguk yakin.

"nde,"

"Dia akan menjadi seseorang yang beruntung."

"hm, kau benar. Tapi, aku merasa—aku tidak bisa memberikan hati ini padanya meskipun hati ini miliknya."

"waeyo? Apa dia tidak ada disini?" Seokjin menatap Namjoon teduh. Tatapan yang membuat jantung Namjoon semakin berdebar gila dan Namjoon akui ia menyukai sensasi debaran ini.

"ani. Justru sebaliknya, dia begitu dekat denganku. Tapi, aku merasa dia sangat sulit untuk kugapai. Aku sama sekali tidak mengerti apapun tentang dirinya. Aku hanya merasa, jantungku berdebar hanya ketika aku dekat dengannya."

"Kenapa kau tidak mencoba untuk mengatakannya?" Seokjin tersenyum tipis dan menggeleng.

"Menyatakan perasaanku padanya? Aku rasa tidak untuk sekarang, ada hal penting yang harus aku lakukan dibandingkan menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak ingin sakit hati lebih dini. Lagi pula, aku sudah cukup senang ketika dia berada di dekatku."

"Boleh ku tahu, siapa orang beruntung itu?" tanya Namjoon. Seokjin terdiam dan hanya memandang Namjoon dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun kemudian, ia menarik nafas dan menggeleng pelan.

'Tidak, karena kau adalah orangnya!'

.

.

.

.

.

.

.

.

One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

"Pagi Jiminie~" sapa Hyukjae saat Jimin melangkah turun tangga dan berjalan menuju meja makan.

"oh-hi hyung, dimana haraboji?" tanya Jimin duduk di kursi biasanya sementara salah satu maid mulai menyiapkan sarapan paginya.

"Kakekmu ada rapat penting di Jeju hari ini, jadi beliau sudah berangkat pagi-pagi buta." Jimin hanya mengangguk asal dan mulai menyantap sarapan paginya.

"Apa haraboji mengijinkanku pergi keluar?" tanya Jimin.

"Jika kau mau maka ya, dengan syarat aku ikut bersamamu." jawab Hyukjae. "Apa kau ingin pergi keluar hari ini?" Jimin menghentikan acara makannya sejenak, kedua matanya bergulir kesana kemari.

"hyung, aku ingin bicara berdua denganmu!" Hyukjae mengangguk paham dan mengisyaratkan pada para maid untuk meninggalkan mereka berdua di ruang makan. Jimin menarik kursi kosong di sampingnya untuk diduduki oleh Hyukjae.

"Bagaimana, hyung?" tanya Jimin antusias.

"Aku sudah mendapat jadwalnya. Tiga hari lagi, Perdana Menteri Kim Wonjoong mengadakan pertemuan rahasia dengan Ketua Badan Intelijen Negara, Jeon Seungho, Pengacara Kim Chilhyun, Jaksa Kim Seungwon, dan detektif Min Seonwoong di Weizh Grand Hall lantai 26." Jimin mengangguk paham, seulas senyum tercetak di bibir manisnya.

"Baiklah, kalau begitu hari ini aku akan menemui Jaeduck samchon."

"mwo?!" pekik Hyukjae tak mengerti sama sekali dengan jalan pikir tuan mudanya ini. "Siapapun yang mendapat informasi dariku semacam ini pasti akan bertanya tentang apa yang akan mereka lakukan dengan pertemuan itu? Bukan malah ingin bertemu dengan orang lain." Jimin berdecak.

"hyungnim, dengar! Tujuanku bukan untuk ingin tahu apa yang ingin mereka rapatkan bersama. Aku hanya ingin menemui mereka. Tiga hari lagi mereka bertemu, baiklah aku akan menemui mereka pada hari itu."

"Sebenarnya, apa rencanamu?"

"Rencanaku hari ini adalah menemui Jaeduck samchon."

"Bukan itu." desis Hyukjae tertahan. "Semua rencanamu!" geram Hyukjae tak puas dengan jawaban ringan yang Jimin berikan padanya.

"aish, hyung! Aku tidak bisa memberitahumu!"

"waeyo?"

"Nanti rencanaku bisa gagal!"

"Bagaimana bisa? Aku justru ingin membantumu!"

"Justru itu!" Jimin memekik heboh. "Biasanya jika aku menyusun rencana. Dan rencana yang sudah kususun kuberitahu pada orang lain, biasanya akan berakhir kacau. Ini bukan pertama kalinya aku menyusun rencana. Jadi, aku hanya akan mengatakan apa yang aku butuhkan padamu, kau mengerti hyungnim?" Hyukjae menghela nafas berat.

"Ini pertama kalinya ada seseorang yang tidak mudah ditebak sepertimu. Kau sangat berbeda dengan kakekmu tapi jalan pikiranmu sama persis dengan ayahmu." Hyukjae bergumam kagum.

"Tentu saja, aku anak appa. Sedikit lebih banyak, aku pasti akan mirip dengannya."

"ya, dan sedikit lebih banyak rencana yang ayahmu susun selalu beresiko fatal meskipun membuahkan hasil."

"Semuanya pasti ada resikonya, hyung. Resiko besar ataupun kecil, tergantung bagaimana cara kita merapihkan rencana kita dari musuh kita. Semuanya akan baik-baik saja percaya padaku." Hyukjae menggeleng heran.

"Aku mulai meragukanmu."

"eyy~ lihat saja nanti. Rencanaku ini juga akan meminimalisir korban jiwa."

"yak, kau pikir ini bencana alam?!" Jimin terkekeh puas.

"Percaya padaku, hyung. Aku sudah menyusun semuanya dengan rapih di luar kepala, kau dan yang lainnya hanya perlu mengumpulkan apa yang sedang aku perlukan untuk memperkuat rencanaku."

"yang lainnya?" Jimin mengangguk.

"nde, tentu saja. Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku juga tidak mau berjuang sendiri. Ayolah, aku bukan batman, superman, atau bahkan spiderman—aku butuh banyak orang untuk andil."

"Baiklah, apapun yang kau mau tuan muda. Aku akan selalu berada di sampingmu." Jimin tersenyum lebar.

"gomapta, hyungnim!"

.

.

.

.

.

Blam!

Jimin keluar dari mobil mewah Hyukjae saat mobil itu berhenti tepat di depan Seoul Hospital.

"Jiminie!" panggil Hyukjae membuat Jimin membungkuk untuk menyahut sebentar panggilan Hyukjae.

"Ada apa, hyung?" tanya Jimin.

"Kau pulang jam berapa, perlu ku jemput?" Jimin berfikir sejenak.

"Aku rasa tidak, hyung. Aku juga ingin mengurus sesuatu yang lain." Hyukjae memicing curiga.

"Kau tidak berencana untuk melakukan hal yang tidak-tidak 'kan?" Jimin tertawa keras.

"ani~ aku belum menyiapkan apa-apa. Aku tidak mau gegabah, hyung. Kau tenang saja, aku tidak akan bertindak ceroboh!" Hyukjae mengangguk percaya.

"arra, arra. Dan ingat, hubungi aku dimanapun kau berada." Jimin tersenyum manis.

"Tentu saja, aku masuk ya hyung?" pamit Jimin sebelum meninggalkan Hyukjae dan memasuki lobby Seoul Hospital.

Jimin menoleh kesana kemari, berharap mungkin saja orang yang ingin dia temui berada di sekitarnya. Tapi, sepertinya tidak. Hal itu membuat Jimin berinisiatif untuk bertanya pada salah satu perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.

"Permisi..."

"nde, ada yang bisa saya bantu?"

"Apa dokter Jung ada praktek hari ini?" tanya Jimin. Perawat itu tampak mengingat.

"Dokter Jung?" tanyanya.

"Maksudku, dokter Jung Jaeduck, dokter spesialis bedah."

"ah-nde, jika tidak salah ingat beliau hanya ada operasi nanti siang. Aku rasa, sekarang beliau ada di ruangannya. Apa anda sudah membuat janji dengan beliau?" Jimin menggeleng.

"Aku salah satu pasiennya sekaligus keponakannya." aku Jimin. Perawat itu mengangguk mengerti.

"Jika anda anggota keluarganya, anda bisa langsung datang ke ruangannya."

"ah-nde, kamsahamnida!" Jimin berujar yang setelahnya dibalas senyuman ramah dari si perawat yang kemudian segera berlalu dari hadapan Jimin.

Jimin melangkah menuju ruang dokter Jung yang sudah ia ketahui dimana letaknya. Sesampainya di depan pintu ruang kerja dokter Jung, Jimin mengetuk pintu hingga suara 'masuk' tersahut dari dalam.

Cklek!

"Jimin?" dokter Jung menyapa Jimin seraya berjalan mendekati pemuda manis untuk menyambut sosok yang tak ia sangka akan datang ke ruangannya. Jimin tersenyum, membungkukkan badannya untuk memberi salam bersamaan dengan dokter Jung yang tiba-tiba menarik tangannya dan memeluknya hangat.

"Bagaimana kabarmu, kau sudah baik?" tanya dokter Jung melepas pelukannya pada Jimin dan menuntun anak dari sahabatnya untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.

"nde, aku sudah sangat membaik dan tinggal menunggu rambutku tumbuh, dokter Jung—"

"samchon! Kau selalu memanggilku 'samchon' sejak dulu. Aku sudah tahu dari kakekmu jika kau sudah ingat semuanya." potong dokter Jung, Jimin mengulum senyum.

"nde, samchon. Oh, apa haraboji sering menemui samchon?" dokter Jung mengangguk.

"hm, baru dua hari yang lalu kakekmu kemari."

"Apa haraboji baik-baik saja."

"ya, tentu saja. Apa orang yang menemuiku harus orang yang sakit." Jimin terkekeh.

"Kakekmu kemari hanya membicarakan beberapa hal tentang ayahmu."

"Apa yang haraboji bicarakan?"

"Kau sudah bisa menduganya 'kan?"

"Apa haraboji juga mencari dimana bukti itu?"

"Sepertinya begitu. Tapi, ada apa? Apa yang membawamu sampai kemari?"

"Aku membutuhkan bantuan, samchon." pinta Jimin jujur.

"Katakan!"

"Tiga hari lagi, paman-paman yang lain akan mengadakan pertemuan rahasia entah untuk membahas apa—"

"Kau berniat untuk mendatangi mereka?" tebak dokter Jung memotong ucapan Jimin.

"nde!" jawab Jimin cepat. "Aku berencana untuk mengatakan pada mereka jika ingatanku sudah kembali." dokter Jung mendengar dengan cermat. "Aku yakin, mereka pasti masih mencari dimana bukti itu dan siapa pelaku yang sebenarnya."

"Tapi, tunggu Jimin!" sela dokter Jung cepat. "Bukankah, kau sudah mengetahui siapa pelaku sebenarnya?" Jimin mengangguk.

"nde, tapi tidak ada gunanya jika menunjuk orang tanpa bukti yang sudah appa kumpulkan mengingat jika orang itu bukanlah orang sembarang."

"Jadi, siapa orangnya?" Jimin menggigit bibir bawahnya cemas ketika ia merasakan perasaan yang sama ketika ia dihadapi dengan pertanyaan yang sama tentang siapa orang jahat yang dengan lihainya bersembunyi dan tidak diketahui oleh siapapun hingga sekarang.

"Apa samchon akan mempercayaiku?"

"Tentu saja, nak. Bahkan, aku akan membantumu jika kau membutuhkan bantuanku." Jimin menarik nafas, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Jimin?" panggil dokter Jung yang melihat Jimin tak kunjung membuka suaranya. "samchon ada disini, kau tak perlu cemas." Jimin mengangguk percaya.

"nde, aku akan memberitahu samchon tapi aku mohon~ tetap berpura-pura tidak mengetahui apa-apa mengingat bagaimana besarnya pengaruh orang itu di kota ini bahkan rumah sakit ini juga termasuk berada di bawah kekuasaannya." dokter Jung mengeryitkan keningnya penasaran dengan siapa orang yang dimaksud Jimin.

Jimin menatap ayah Jung Hoseok itu lamat, mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sebelum menyebut sebuah nama yang mendapat respon setidaknya hampir sama dengan respon Hyukjae kemarin setelah ia menyebutkan nama yang akan menjadi masalah besar bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

.

.

.

.

.

"Jadi, apa hari ini kita akan menjadi pencuri lagi?" sarkas Jungkook menatap ketiga hyung-nya kesal.

"lagi? Perlu kuingatkan Jeon Jungkook, kemarin kau hanya tinggal menunggu hasilnya." ujar Seokjin yang membuat Jungkook menghela nafas berat.

"hyung, apa sebaiknya kita meminta tolong pada kenalanmu saja? Itu lebih efektif!" ide Jungkook yang dibalas gelengan kompak dari Seokjin, Hoseok, bahkan Taehyung. Jungkook menghentikan langkahnya memblokade jalan ketiga hyung-nya yang kini berada di pinggir jalan trotoar di kawasan kantor Badan Intelijen Negara Korea Selatan, dimana ayah Jungkook bekerja.

"Jeon Jungkook, kau membuang waktu kami!" seru Seokjin yang dibalas ekspresi melas dari Jungkook yang masih mencoba untuk membujuk ketiga hyung-nya untuk tidak melakukan hal nekat.

"ayolah hyung, aku tidak mau mati di tangan ayahku. Aku mohon, aku tidak bisa ikut rencana gila kalian kali ini." pinta Jungkook memohon. Ketiganya menghela nafas, mereka tahu dengan benar sifat dan sikap Jungkook masih sangat kekanakan terlebih Jungkook yang selalu mendapat perlakuan manja dari semua orang termasuk ketiga orang di depannya.

"Kecuali—jika kalian mengijinkanku untuk memimpin rencana kali ini."

"MWO?!" pekik Seokjin, Hoseok, dan Taehyung bersamaan. Jungkook tersenyum penuh arti, tidak ada lagi mimik melas di wajah manisnya.

"ayolah~ aku mohon hyungnim. Percayakan padaku, kali ini saja~" Jungkook mengedipkan kedua matanya bermaksud membujuk yang tampaknya hanya terpengaruh untuk Taehyung karena Taehyung yang sudah tersenyum tampan dan mengangguk dengan konyolnya.

"Tidak! Kau masih bocah!" kali ini penolakan muncul dari Hoseok. Jungkook mempoutkan bibirnya kesal.

"hyung, setidaknya dengarkan aku dulu. Setelah itu, kalian baru memutuskan," mohon Jungkook.

"tidaktidaktidak! Kita tetap pada rencana awal!" sergah Seokjin. Jungkook berdecak kesal.

"Aku rasa tidak ada salahnya untuk mendengarkan Jungkook kali ini, hyung." ujar Taehyung yang membuat kedua mata Jungkook berbinar senang sementara Seokjin dan Hoseok menatap Taehyung tak percaya. Sejak kapan Kim Taehyung berpihak pada Jeon Jungkook?

"Dengarkan apa kata Tae hyung, hyung. Dengarkan dulu rencanaku, aku jamin kalian pasti tidak akan menyesal." pinta Jungkook. Seokjin dan Hoseok berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.

"arraseo, jadi apa rencanamu?" tanya Seokjin. Jungkook tersenyum penuh arti. Akhirnya, apa yang diharapkannya benar-benar terwujud.

"Tapi, tidak disini hyung. Bagaimana jika kita membicarakannya di cafe itu?" tawar Jungkook seraya menunjuk cafe yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"call! Kebetulan, aku juga sedang haus. Kajja, Kook-ah!" ajak Taehyung yang tanpa sadar menggandeng tangan Jungkook dan menariknya duluan menuju cafe yang Jungkook maksud, meninggalkan Seokjin dan Hoseok yang menatap kedua teman kecil mereka curiga.

"Kenapa aku merasa seperti Taehyung sedang menarik perhatian Jungkook?" gumam Hoseok. Seokjin mengangguk setuju.

"hm, aku rasa kita juga harus mengawasi mereka berdua!" balas Seokjin yang kemudian menyusul langkah Taehyung dan Jungkook diikuti Hoseok yang mengekor di belakangnya.

Setelah, memilih meja yang tepat untuk berdiskusi, sekaligus memesan sesuatu yang bisa menjadi penambah energi mereka. Maka disinilah, Jungkook yang duduk di sebelah Taehyung sementara Hoseok dan Seokjin yang duduk di depan mereka berdua.

"Jadi, apa rencanamu?" tanya Seokjin tanpa basa-basi. Jungkook tersenyum menunjukkan dua gigi kelincinya yang menggemaskan.

"Singkat saja, hyung. Intinya, jangan aku yang menemui ayahku." ketiga pemuda yang lebih tua dari Jungkook itu, mengeryitkan keningnya bersamaan.

"Hanya itu?" Jungkook mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Hoseok. "Tapi, kenapa?" lanjutnya.

"Ayahku akan mudah curiga jika aku yang jarang berkunjung ke kantornya tiba-tiba datang menemuinya di jam kerja seperti ini." terang Jungkook masuk akal. "Tapi, aku punya cara lain untuk membawa kalian ke ruang kerja ayahku secara langsung."

"Benarkah?" tanya Taehyung memastikan, Jungkook mengangguk yakin.

"hm, tapi kita harus membuat sedikit kericuhan di dalam sana mengingat ruang kerja ayahku yang pasti di jaga ketat karena jabatannya sebagai ketua. Akan sulit bagi kita untuk masuk dan mencari berkasnya yang entah ada disana atau tidak." lanjut Jungkook. Pandangannya mengarah pada gedung besar yang berada di seberang cafe.

"Bagaimana caranya?" tanya Hoseok.

"Jika kita membuat kericuhan setidaknya kita harus mengetahui bagaimana keadaan di dalam." tutur Taehyung. Jungkook mengangguk paham.

"Maka dari itu, hyung. Kita tetap gunakan rencana awal saat berada di dalam ruang kerja ayahku tapi kita juga harus berusaha agar tidak satupun dari mereka mengetahui keberadaan kita disana." jawab Jungkook. "Dan, kita bisa mulai dari atap gedung kantor." lanjut Jungkook. "Aku ingat dengan betul, disanalah ruang kontrolnya. Kita bisa membuat kericuhan dari sana."

"okay, aku setuju!" balas Seokjin mantap. "Dan sekarang, pertanyaannya adalah bagaimana cara kita masuk ke ruang kontrol yang berada di atap gedung tanpa membuat orang-orang menyadari keberadaan kita?" tanya Seokjin yang menghasilkan keheningan diantara mereka.

"Aku rasa kita membutuhkan bantuan orang lain." sahut Taehyung tiba-tiba.

"Siapa hyung?" tanya Jungkook. Taehyung tersenyum penuh arti dan menatap Seokjin, Hoseok, dan Jungkook yakin.

"Yoongi hyung!"

"MWO?!" pekik Seokjin dan Jungkook bersamaan setelah mendengar penuturan yakin dari Taehyung. Oh-ayolah, apa Taehyung sudah gila? Sudah cukup mereka berdua terpaksa menceritakan semuanya kepada Taehyung dan Hoseok. Dan, sekarang? Meminta bantuan pada Yoongi? Yang notabene adalah orang yang sangat sensitif tentang segala hal yang menyangkut Park Jimin, dan sekarang? Dengan mudahnya Taehyung mengusulkan Yoongi untuk ikut andil dalam rencana mereka kali ini. Entahlah, apa yang akan terjadi pada Seokjin dan Jungkook karena dibandingkan menjelaskan semuanya pada Taehyung dan Hoseok yang langsung mudah mengerti, sementara Yoongi? Es berjalan yang menjelma sebagai pemuda tampan dengan segala racun disetiap tutur katanya, membuat dua pemuda cantik dan manis yang duduk saling berhadapan itu hanya bisa bergidik ngeri membayangkan ada kemungkinan bahwa hari ini adalah hari terakhir mereka di dunia. Oh, kenapa harus Min Yoongi?

TBC


Aloha...

(-) I'm back today... ada yang nungguin kah ff ini? Maaf ya, baru update. Semoga chapter ini tidak mengecewakan para reader-nim sekalian ;)

(-) Ada kemungkinan mungkin ff ini end di chap 25, bisa kurang bisa lebih. Sebenernya, aku ngelanjutin juga tergantung sama mood ini mumpung kapal agi banyak berlayar YoonMin, VKook, sama NamJin-nya (Kalau NamJin udah dari dulu kayanya)

(-) Dan, waaah.. siapa yang inget ini hari apa? Hari first win-nya Bangtan 'I Need You', udah tiga tahun ya lamanya. Dan, always suport bangtan untuk ke depannya yang apalagi udah tinggal d-13 buat comeback, hayo hayo siapa yang udah pada enggak sabar...

(-) So, see you in next chapter...

Kamsahamnida,