Previously ...
"Aku rasa kita membutuhkan bantuan orang lain." sahut Taehyung tiba-tiba.
"Siapa hyung?" tanya Jungkook. Taehyung tersenyum penuh arti dan menatap Seokjin, Hoseok, dan Jungkook yakin.
"Yoongi hyung!"
"MWO?!" pekik Seokjin dan Jungkook bersamaan setelah mendengar penuturan yakin dari Taehyung. Oh-ayolah, apa Taehyung sudah gila? Sudah cukup mereka berdua terpaksa menceritakan semuanya kepada Taehyung dan Hoseok. Dan, sekarang? Meminta bantuan pada Yoongi? Yang notabene adalah orang yang sangat sensitif tentang segala hal yang menyangkut Park Jimin, dan sekarang? Dengan mudahnya Taehyung mengusulkan Yoongi untuk ikut andil dalam rencana mereka kali ini. Entahlah, apa yang akan terjadi pada Seokjin dan Jungkook karena dibandingkan menjelaskan semuanya pada Taehyung dan Hoseok yang langsung mudah mengerti, sementara Yoongi? Es berjalan yang menjelma sebagai pemuda tampan dengan segala racun disetiap tutur katanya, membuat dua pemuda cantik dan manis yang duduk saling berhadapan itu hanya bisa bergidik ngeri membayangkan ada kemungkinan bahwa hari ini adalah hari terakhir mereka di dunia. Oh, kenapa harus Min Yoongi?
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...
"Kenapa harus Yoongi hyung?" tanya Jungkook menolak secara halus diikuti anggukan dari Seokjin yang kali ini sependapat dengan Jungkook.
"wae wae wae? Kenapa kalian tampak tidak setuju?" tanya Taehyung tak mengerti.
"Bukan lagi tampak, Taehyungie. Tapi, kami memang tidak setuju." jelas Seokjin.
"ya, tapi kenapa?" tanya Taehyung membutuhkan alasan jelas.
"ya~ karena... Yoongi itu—"
"wae?" tanya Taehyung saat Seokjin tak melanjutkan ucapannya. Seokjin menghela nafas.
"Karena dia itu menyeramkan."
"mwo?!" pekik Taehyung tak percaya sementara Hoseok yang terkikik geli dan Jungkook yang mengangguk menyetujui pernyataan Seokjin.
"hm, Yoongi hyung itu menyeramkan!" imbuh Jungkook membuat Hoseok tertawa semakin keras dan Taehyung yang lama-lama juga ikut terbawa suasana. Dan akhirnya kedua pemuda tampan ini tertawa kompak yang menghasilkan kerutan bingung di dahi Seokjin maupun Jungkook.
"yak! Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Seokjin kesal.
"Habisnya, kalian itu lucu sekali." ujar Hoseok di sela-sela tawanya.
"Kami tidak sedang melawak, hyungnim!" decak Jungkook yang melihat Hoseok dan Taehyung tak juga menghentikan tawa membahana mereka.
"yayaya, kami mengerti! Tapi, sungguh—alasan kalian itu lucu sekali. Sejak kapan kalian takut pada Yoongi hyung?" tanya Taehyung.
"Sejak—kau sejak kapan Kookie?" Seokjin malah bertanya pada Jungkook. Jungkook tampak mengingat.
"Kalau aku—sejak pertama kali dia datang dan berseteru dengan Jimin hyung di lapangan futsal. Dia tampan sih, tapi sorot matanya itu menyeramkan. Kalau kau hyung?" tanya Jungkook yang membuat Taehyung dan Hoseok mengangkat sebelah alisnya bingung. Kenapa mereka berdua malah merundingkan perihal 'kapan takut pada Min Yoongi?'.
"Aku—sejak dia marah setelah pertemuan di lantai sembilan malam itu. Saat hari festival kedua. Aku baru sadar, dia benar-benar orang yang dingin dan tak berperasaan." Jungkook mengangguk setuju.
"yak! Kenapa kalian malah membahas hal yang sama sekali tidak penting? Aku akan menghubungi Yoongi hyung, entah kalian setuju atau tidak!" sela Taehyung.
"Tapi, kenapa harus Yoongi? Apa tidak ada orang lain yang bisa kita andalkan? Yang lebih berperasaan?" tanya Seokjin kembali ke topik awal dengan gagasannya yang menolak ide Taehyung untuk meminta bantuan pada Yoongi. Taehyung menggeleng, tanda penolakan.
"Satu-satunya orang yang tepat adalah Yoongi hyung." balas Taehyung.
"Tapi, apa yang harus kita katakan pada Yoongi hyung jika dia meminta penjelasan pada kita tentang kenapa kita melakukan semua ini?" tanya Jungkook.
"ya, katakan saja padanya apa yang sebenarnya terjadi." jawab Taehyung ringan tanpa beban.
"Tapi—"
"Percaya padaku, Yoongi hyung itu tidak semenakutkan seperti yang terlihat!" Taehyung memotong ucapan Jungkook yang masih terlihat ragu. Jungkook maupun Seokjin menarik nafas dan akhirnya mengangguk menyetujui meskipun dengan setengah hati.
"Baiklah, hubungi saja Min Yoongi!" balas Seokjin akhirnya yang membuat Taehyung maupun Hoseok menarik senyum puas yang mereka tunjukan pada Seokjin dan Jungkook.
"hyung, hubungi Yoongi hyung!" pinta Taehyung yang langsung diangguki oleh Hoseok. Dan tak perlu menunggu waktu lama Hoseok segera menghubungi Yoongi sementara Taehyung, Jungkook, dan Seokjin hanya diam menyimak.
"Yoongi hyung, akan datang dalam 20 menit." ujar Hoseok memberitahu setelah ia memutuskan sambungannya dengan Yoongi di seberang sana.
.
.
.
.
.
Dokter Jung mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Sudah selama 15 menit lamanya ia hanya terdiam dan memandang Jimin tak berkedip. Mungkin terlalu shock karena penuturan Jimin yang terlalu gamblang bagi dokter senior itu.
"k-kau menyebut siapa?" tanya dokter Jung akhirnya. Jimin tersenyum sekilas.
"Nam Goong Won, samchon." ulang Jimin, menyebut nama terkenal di tempat kelahirannya dengan nada kelewat tenang seolah ia baru saja menyebut nama teman sekelasnya. Tak ada rasa gentar, bahkan takut sekalipun. Berbeda dengan dokter Jung yang semakin menunjukkan wajah tegangnya dihadapan Jimin.
"samchon—"
"Itu tidak mungkin Jiminie." dan Jimin hanya bisa tersenyum kecil ketika mendengar ternyata ayah dari Jung Hoseok ini tak semudah Hyukjae untuk percaya padanya. Jimin menarik nafas sebentar dan memandang dokter Jung teduh.
"Itu memang tidak mungkin jika kita melihat dari sisi pandang bagaimana kita sebagai orang luar yang hanya pernah mendengar tentang segala biografinya dan tak mengenalnya secara langsung. Tapi, dia—samchon kau pasti ingat jika orang itu juga pernah menjadi atasan ayahku. Apa kau tahu apa isi bukti yang ayahku dapatkan tentang pembunuhan dan segala hal buruk yang kita semua alami selama ini? Selama sekian tahun yang lalu? Apakah samchon juga tahu siapa pelakunya?" tanya Jimin tenang. Dokter Jung berfikir sejenak.
"Mungkin samchon tidak mempercayaiku saat ini apalagi posisi samchon yang notabene adalah pihak netral diantara semua orang, lalu bagaimana dengan para paman yang lain? Apa yang harus aku katakan agar mereka mempercayaiku? Bahkan, mungkin saja kakekku sendiri, jika aku mengatakan semuanya beliau juga akan bersikap sama ragunya dengan samchon." lanjut Jimin.
"Aku bukannya tidak mempercayaimu Jiminie, tapi jika benar beliau orangnya—kau tahu maksudku bukan?" tanya dokter Jung tak berani melanjutkan ucapannya sendiri setelah membayangkan kemungkinan buruk yang akan menjadi kenyataan bagi mereka. Jimin mengangguk, tanpa dijelaskan secara rinci ia sudah cukup paham apa yang dokter Jung risaukan.
"nde, aku paham maksud samchon. Tapi, aku tidak bisa diam saja. Karenanya, aku kehilangan kedua orang tuaku, aku kehilangan semuanya. Bahkan, aku kehilangan diriku sendiri." Jimin menunduk yang hal itu membuat dokter Jung menatap iba pada putra dari mendiang kedua sahabatnya.
"Jiminie—apa yang bisa aku bantu? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya dokter Jung. Jimin mendongak dan menatap dokter Jung dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
"samchon, bersedia membantuku?" tanya Jimin semangat. Dokter Jung mengulas senyum dan mengangguk ringan.
"Tentu saja, entah siapa orang yang akan kita hadapi. Samchon berjanji padamu untuk tidak membiarkanmu sendiri dalam keadaan apapun. Tidak lagi." Jimin berhambur memeluk ayah Jung Hoseok itu yang spontan dibalas pelukan hangat oleh pria yang satu tahun lebih tua dari mendiang ayahnya.
"Terima kasih, samchon. Terima kasih." haru Jimin sampai meneteskan kedua air matanya karena sekarang ia tidak hanya berterima kasih karena keberadaan dokter Jung yang bersedia untuk membantunya tapi karena saat ini Jimin tengah menumpahkan seluruh rasa rindunya pada sang ayah melalui dokter Jung yang mana dengan senang hati memberikan pelukan hangat layaknya seorang ayah padanya.
.
.
.
.
.
Kling~
Taehyung, Hoseok, Jungkook, dan Seokjin menoleh kompak kearah pintu cafe yang baru saja terbuka dan muncullah sosok pemuda tampan berwajah datar yang kedatangannya sudah mereka tunggu sejak 20 menit yang lalu.
"hyung!" seru Taehyung melambaikan tangannya pada Yoongi yang tampak mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan orang-orang yang memintanya untuk datang. Dan tanpa membalas lambaian Taehyung, Yoongi dengan wajah malas seperti biasa berjalan mendekati meja dimana keempat sahabat kecilnya berada.
"Kau ingin pesan sesuatu, hyung?" tanya Hoseok setelah Yoongi menarik kursi di samping Taehyung. Yoongi diam sejenak.
"Pesankan americano untukku." pintanya yang langsung disetujui Hoseok yang melesat pergi menuju pantry pemesanan untuk memesan minuman favorit hyung-nya.
"Jadi—ada apa?" tanya Yoongi tanpa berbasa-basi. Yoongi menatap Taehyung selidik, kemudian kedua mata sipitnya bergulir kearah Jungkook dan Seokjin yang memasang wajah tegang entah karena apa.
"Kalian ada masalah?" tanya Yoongi pada Jungkook dan Seokjin yang dibalas diam kompak oleh keduanya.
"Jadi, begini hyung—" Taehyung yang akhirnya membuka suara membuat Yoongi mengalihkan pandangannya pada pemuda tampan yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. "Kami membutuhkan bantuanmu."
"Bantuan apa?" tanya Yoongi.
"Untuk masuk ke BIN, hyung." jawab Taehyung singkat. Yoongi mengeryitkan keningnya agak terkejut dan ia baru menyadari jika di seberang cafe ini terletak kantor Badan Intelijen Negara Korea Selatan, membuat berbagai pertanyaan berputar teratur di otak rumit Yoongi.
"Tapi, untuk apa? Kenapa kalian tidak masuk langsung saja? Bukankah ayahnya Jungkook bekerja disana? Jadi, untuk apa membutuhkan bantuanku?" tanya Yoongi tak mengerti.
"Karena kami ingin mencuri dokumen, hyung." sahut Hoseok seraya meletakkan americano di depan Yoongi.
"Dokumen?" Hoseok dan Taehyung mengangguk sementara Jungkook dan Seokjin semakin menunjukkan wajah tegang mereka yang semakin terlihat jelas.
"hm, dokumen lain yang ditulis ayah Jimin tentang informasi yang mungkin berkaitan dengan semua hal yang terjadi selama ini, tentang kecelakaan yang menimpa keluarga Jimin, atau tentang beberapa hal yang masih disembunyikan oleh para appa dari kita semua." terang Taehyung.
"Lalu?"
"hyung, akan membutuhkan waktu satu minggu jika kau menyuruhku untuk menjelaskan semuanya." sarkas Taehyung kesal. Yoongi terkekeh yang membuat keempat pemuda itu menatap tak mengerti kearah sosok yang sebenarnya mereka segani diam-diam.
"arraseo arraseo, aku mengerti. Jadi, dengan kata lain apa sekarang kalian sudah mendapatkan dokumen lain yang mengharuskan kalian juga untuk mengambil dokumen yang berkaitan dengan dokumen yang sudah kalian dapatkan?"
"binggo!" pekik Taehyung girang.
"Tapi, kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa sesuatu terjadi?" dan pertanyaan yang membuat Jungkook dan Seokjin sedari tadi memasang wajah tegang akhirnya keluar dari bibir Yoongi yang membuat wajah kedua pemuda cantik itu semakin memucat hanya karena membayangkan berbagai reaksi yang akan Yoongi berikan setelah mendengar apa yang akan dijawab Taehyung sebentar lagi.
"Jimin sudah ingat semuanya, hyung." lirih Taehyung akhirnya. Jungkook, Seokjin, bahkan Hoseok hanya diam dan memperhatikan mimik wajah Yoongi yang belum berubah, tak ada raut terkejut, senang, marah atau sebagainya. Yang ada hanya raut diam yang sulit mereka artikan apa maksud dari ekspresi yang Yoongi tunjukan saat ini.
Yoongi menarik nafas dan tersenyum tipis.
"Aku sudah tahu." keempat pemuda itu membulatkan kedua matanya kala tiga kata itu keluar begitu saja dari bibir Yoongi.
"Kau sudah tahu, hyung?" tanya Jungkook akhirnya membuka suara setelah hanya bungkam sejak kedatangan Yoongi. Yoongi mengedikkan bahunya kecil.
"ya, aku sudah tahu." ulang Yoongi tegas.
"Darimana kau tahu, hyung?" tanya Jungkook penasaran.
"Tak penting aku tahu darimana, yang jelas ayo cepat kita selesaikan rencana kalian dan dapatkan dokumen itu segera." balas Yoongi mencoba mengabaikan tatapan curiga dari keempat sahabat kecilnya.
.
.
.
.
.
"Untuk masuk ke ruang kontrol yang ada di atap gedung aku rasa hanya perlu membutuhkan dua orang untuk menyusup kesana. Tapi, sebelum itu kita juga harus merusak system yang ada di basement bawah gedung, aku yakin disana ada ruang yang terhubung dengan ruang kontrol. Dan setelah kita merusaknya, aku akan menghubungi Hyunwoo hyung untuk membawa dua orang itu ke atap gedung tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan setelah dua orang sudah sampai di ruang kontrol tiga sisanya lakukan tugas kalian sesuai rencana sebelumnya." terang Yoongi setelah Taehyung menjelaskan panjang lebar rencana awal mereka.
"Jadi, siapa yang akan ke ruang kontrol itu?" tanya Hoseok. Yoongi diam sejenak, kemudian ia mengulas senyum miring yang membuat keempat pemuda itu was-was melihatnya.
"Taehyungie dan Jungkookie."
"mwo?!" pekik Jungkook dan Taehyung kompak setelah dengan mudahnya Yoongi menyebut nama mereka berdua.
"k-kenapa kami?" tanya Jungkook.
"Kau satu-satunya yang pernah masuk ke kantor ayahmu, jadi aku rasa kau pasti sudah cukup tahu seluk beluk setiap ruang di dalamnya. Dan, untuk Taehyungie—kau sudah tahu kan apa yang harus kau lakukan saat berada disana?" tanya Yoongi. Taehyung mengangguk paham.
"nde, hyung. Serahkan semuanya padaku."
"arra, kalau begitu aku rasa kita bertiga juga harus pergi sekarang. Kook, kau bawa ponselmu?" tanya Yoongi. Jungkook hanya mengangguk. "Tetap standby, Hoseok nanti yang akan menghubungimu"
"nde, hyung."
"kajja, kita pergi sekarang!" ajak Yoongi berjalan lebih dulu menyeberangi jalan raya diikuti Hoseok dan Seokjin yang sebelumnya sempat mengerling pada Taehyung dan Jungkook.
Jungkook menatap kepergian ketiga hyung-nya, sementara Taehyung memandangi Jungkook dengan tatapan yang sulit diartikan. Ditinggal berdua dengan Jungkook seperti ini membuat Taehyung teringat dengan penuturan Yoongi yang mengatakan bahwa Jungkook juga kehilangan ibunya, membuat entah kenapa ada sebersit rasa marah pada si bejat yang sampai sekarang masih bersembunyi entah dimana.
"Kookie-ya~" panggil Taehyung yang membuat Jungkook langsung menoleh dan menatap Taehyung polos.
"nde hyung?" sahut Jungkook. Taehyung tersenyum kecil.
"Berjanjilah padaku, entah apa yang akan terjadi nanti. Entah kebenaran macam apa yang akan kita ketahui sebentar lagi, jangan memutuskan sesuatu secara sepihak. Tetaplah berada di jangkauanku, jangkauan kami semua. Kau mengerti?" Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak paham.
"Memangnya kenapa, hyung? Kau bicara seolah bahwa kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. Apa ada sesuatu yang sudah kau ketahui tapi tidak bisa kau katakan padaku? Pada kami?" tanya Jungkook. Taehyung terhenyak.
"Entah ada yang ku ketahui atau tidak, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Jungkook tersenyum penuh arti dan mengangguk mengerti jika ada sesuatu yang tak bisa Taehyung katakan dengan mudah padanya.
"Aku akan baik jika berada di dekatmu, hyung. Kau bisa pastikan itu!" Taehyung mengangguk asal dan tersenyum kecil.
"Aku memang harus memastikan itu!"
Disisi, Taehyung dan Jungkook yang menunggu kabar dari Yoongi, Hoseok, dan Seokjin, maka disinilah ketiga orang yang kini sudah memasuki area basement dengan aman dan berjalan menuju bagian belakang basement.
"Kita harus menghindari cctv, bisa gawat jika mereka melihat anak SMA seperti kita berkeliaran di gedung ini," gumam Seokjin yang diangguki Hoseok sementara Yoongi masih berjalan memimpin.
"oh, aku rasa itu ruang kontrol di basement." ujar Yoongi saat ia melihat pintu tertutup yang tergembok.
"Bagaimana kita bisa masuk?" tanya Hoseok.
"Serahkan saja padaku." balas Yoongi yakin, ia merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah kawat yang sebelumnya memang sengaja ia siapkan untuk berjaga-jaga.
Yoongi memasukkan ujung kawat yang ia bawa ke dalam lubang kunci gembok, memutar-mutar kawat itu berulang kali sementara Hoseok dan Seokjin hanya diam penonton.
Klik!
"woah~daebak! Kau seperti sudah biasa membuka pint yang terkunci, hyung!" gumam Hoseok kagum. Yoongi tersenyum kecil.
"Sejak tinggal di London, ada banyak hal baru yang kupelajari, termasuk membuka gembok semacam ini," jawab Yoongi melepas gembok dari pengaitnya dan melemparnya asal. Kemudian, ketiganya pun segera memasuki sebuah ruang yang berisi banyak kabel-kabel yang saling teruntai.
"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Seokjin yang sama sekali tak tahu apa yang harus ia lakukan. Yoongi berfikir sejenak, mengamati kabel-kabel berbagai warna hingga berbagai ukuran di depannya, mempelajari sesaat apa guna masing-masing dari kabel-kabel di depannya hingga tangannya meraih sebuah kabel berwarna kuning berdiameter kecil. Kedua bola mata Yoongi mengikuti lilitan kabel kuning yang menjuntai rumit karena jika dilihat-lihat kabel-kabel itu di dominasi oleh kabel serupa.
"Hanya satu yang perlu kita lakukan." gumam Yoongi setelah mengetahui langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tangan Yoongi meraih sebuah kabel kuning yang sudah ia tetapkan menjadi sasarannya. Dan seolah apa yang terjadi hari ini sudah ia rencanakan sebelumnya, Yoongi meraih sebuah silet yang ternyata ia bawa di dalam sakunya entah untuk apa yang hal itu membuat kerutan di dahi Hoseok dan Seokjin karena tak menyangka jika Yoongi sudah menyiapkan segala sesuatunya dalam waktu singkat. Dengan lihai, Yoongi memotong kabel kuning itu dan langsung menoleh kearah Hoseok.
"Selesai. Hubungi Jungkook dan katakan padanya untuk masuk setelah Hyunwoo hyung datang menghampiri mereka dan kalian tenang saja, Taehyung sudah tahu rencanaku kali ini." tutur Yoongi yang diangguki oleh Hoseok dan segera menghubungi Jungkook tanpa banyak bertanya.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Seokjin masih tak mengerti. Yoongi tersenyum samar.
"Kau tahu kabel yang berwarna kuning ini, hyung?" tanya Yoongi, Seokjin hanya mengangguk. "Kabel ini adalah salah satu kabel lift yang dikontrol dari ruang kontrol dari lantai basement hingga atap gedung. Jika salah satu dari kabel ini kita potong, akan sangat berpengaruh dengan system lainnya." Seokjin mengangguk paham.
"Lalu, darimana kau mendapatkan benda itu?" tanya Seokjin menunjuk dengan dagunya kearah silet yang masih berada di tangan Yoongi. Yoongi tersenyum miring.
"just simple. Ini benda yang selalu ku bawa." Seokjin membulatkan kedua matanya horor, ia menelan ludahnya susah dan menatap sosok yang tak tertebak di depannya takut-takut.
.
.
.
.
.
Jimin menghembuskan nafasnya perlahan. Kedua tangannya yang berada di dalam saku hoodie-nya mengepal dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya, pertanda betapa gugupnya saat ini. Jimin menggigit bibir bawahnya. Kedua matanya tertuju pada bangunan bertingkat dua yang tak berpenghuni dan tak terawat di depannya. Jantungnya berdebar secara tak beraturan. Dan, sekali lagi Jimin kembali menghembuskan nafasnya untuk menenangkan diri.
Setelah cukup tenang, Jimin akhirnya memutuskan untuk membuka pagar hitam yang sudah berkarat. Jimin mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman kecil yang dulunya ia ingat terdapat banyak berbagai macam bunga yang ditanam ibunya, dan sekarang hanya terlihat tanaman liar yang menjadi penghias halaman rumahnya.
Jimin tersenyum kecil ketika kedua matanya menangkap sebuah ayunan yang masih utuh yang juga berada di halaman rumahnya. Dan entah naluri darimana, Jimin berjalan mendekati ayunan itu, memegang tiangnya dan membiarkan sejumput memori masa kecilnya masuk ke dalam ingatannya begitu saja.
"Appa, lebih tinggi! Aku ingin terbang!" seru Jimin kecil saat sang ayah turut dengan semangat mendorong ayunan yang berada di halaman rumah mereka.
"Oppa, jangan tinggi-tinggi Jiminie bisa jatuh nanti." sahut sang ibu yang berada tak jauh di bangku halaman rumah mereka dan menyaksikan bagaimana interaksi ayah dan anak yang selalu kompak setiap saat.
"Ani, eomma. Ada hero-ku disini jadi Chim baik-baik saja!" balas Jimin kecil yakin yang hal itu membuat sang ayah tertawa gemas.
"Eoh, kau dengar sayang. Hero Chim ada disini, dan selalu disini jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan!" sambung sang ayah yang membuat Jimin kecil mengangkat satu jempolnya ke udara dan berseru dengan semangat untuk mengatakan, "Appa jjang!"
Jimin memejamkan kedua matanya, tanpa bisa ia cegah air matanya keluar begitu saja. Tak lama, Jimin kembali membuka kedua matanya dan mendongak, menatap bangunan dimana begitu banyak kenangan ia bersama kedua orang tuanya membuat rasa sesak menyerang hatinya. Jimin menarik nafas, menenangkan diri sebelum memutuskan untuk melangkah memasuki pintu rumahnya.
Kriet~
Sebenarnya Jimin tak perlu heran kenapa pintu rumahnya tak terkunci terlebih melihat bagaimana berantakannya isi rumah yang sudah delapan tahun ditinggalkan. Jimin melangkahkan kakinya memasuki lebih dalam ke rumah yang dulu berisi penuh kehangatan tapi sekarang hanya ada sunyi, gelap, dan keadaan isi rumah yang terlihat kacau sepeti kapal pecah. Entah apa yang terjadi pasca kecelakaan yang menimpa keluarganya, tapi ia yakin sepeninggal kedua orang tuanya ada yang sempat berkunjung ke rumahnya dan memporak-porandakan isinya.
Jimin menghentikan langkahnya tepat sepasang matanya menemukan figura keluarganya pecah berkeping di lantai di dekat tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Jimin menunduk, tak berniat untuk mengambil figura yang penuh dengan debu dan hanya ingin memandangi wajah kedua orang tuanya.
"Aku pulang, eomma, appa... aku pulang~" lirih Jimin, ia berbalik badan untuk menghampiri ruangan lain yang berada di lantai dasar.
Cklek!
Jimin membuka pintu berwarna putih yang tertutup rapat. Awalnya, ia kira mungkin kamar yang tak lain adalah milik kedua orang tuanya tak separah keadaan di ruang tamu hingga dapur tapi justru sebaliknya, keadaan kamar kedua orang tuanya lebih parah dari yang ia bayangkan. Ranjang yang sudah koyak, lemari-lemari yang pintunya terbuka dengan pakaian-pakaian yang berhambur ke lantai dan pecahan kaca pada meja rias milik ibunya.
Jimin memandangi pantulan dirinya pada cermin meja rias yang bagiannya sudah hilang entah karena ulah siapa. Jimin hanya berdiri diam, memandangi wajah manisnya begitu intens tanpa berkedip sama sekali.
"Aku tahu, mungkin sekarang ini kalian sedang berdiri di sampingku" gumam Jimin yakin. "Apa kalian senang, aku pulang?" tanya Jimin tepatnya pada dirinya sendiri. "Maaf aku baru berkunjung, aku tidak tahu jika rumah kita sekacau ini."
Lagi-lagi, Jimin menghembuskan nafas beratnya. Ia berbalik badan dan berpindah tujuan ke kamar kesayangannya yang berada di lantai atas. Dan tak jauh berbeda dengan lantai dasar, lantai dua sama berantakannya dengan lantai bawah, membuat Jimin bertanya-tanya siapa yang melakukan semua ini.
Sesampai di depan pintu kamarnya, Jimin membuka pintu kamarnya. Kali ini, ia tidak perlu heran jika mendapati kamarnya yang sama kacaunya dengan kamar kedua orang tuanya. Jimin mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar berdinding biru, warna kesukaannya. Ia berjalan mendekati meja belajarnya lalu tangannya meraih sebuah miniatur teleskop. Jimin tersenyum kecil, melihat benda kesayangannya masih terlihat baik-baik saja meskipun ada banyak barang berharga yang hancur di seluruh area rumahnya.
Jimin menatap teliti pada miniatur itu, dan agak mengeryit kala ia melihat bagian bawah miniatur yang terlihat seperti baru saja dibongkar karena terdapat sambungan logam yang warnanya samar-samar agak berbeda dengan warna miniatur yang berwarna perak. Jimin mencoba untuk membuka sambungan logam dan alangkah terkejutnya ia karena dengan mudahnya ia melepas patahan logam itu tanpa kesulitan akan apapun.
Jimin mengangkat sebelah alisnya takjub saat ia melihat sebuah chip yang terselip di tengah-tengah badan dalam miniatur miliknya.
"i-ini..."
"Jimin?"
Jimin sontak menoleh ketika ia mendengar suara ramah memanggil namanya. Jimin mengerjapkan kedua matanya lucu setelah mengetahui siapa orang yang memanggil namanya dengan akrab.
"bi-bibi Yoon?" balas Jimin ragu. Wanita tua yang mengenakan syal rajut berwarna merah menyala, tersenyum ramah kearah Jimin. Merasa lega, setelah delapan tahun akhirnya ia bisa bertemu dengan tuan mudanya dalam keadaan sehat terlebih di rumahnya sendiri.
.
.
.
.
.
"Kau yakin hyung, kita tidak akan ketahuan?" tanya Taehyung menatap Hyunwoo ragu. Hyunwoo berdecak.
"Percaya padaku, kalian akan masuk dengan aman tanpa dicurigai oleh siapapun." jawab Hyunwoo yakin.
"Tapi, bagaimana dengan Jungkook? k-kau bercanda 'kan?" Hyunwoo tersenyum kecil.
"Kau tahu bukan, Jeon Jungkook adalah putra tunggal Jeon Seungho, yang mana adalah ketua BIN, jadi kemungkinan besar orang-orang yang bekerja di dalam sana pasti akan mengenal Jungkook meskipun Jungkook tidak mengenal mereka. Akan sangat penting bagi Jungkook agar ia tidak ketahuan, dan kau disini bertugas untuk menjaganya." Taehyung menghela nafas.
"Tapi, hyung aku tidak yakin Jungkook bersedia melakukannya. Apalagi untuk—"
BLAM!
"hyung!" panggil Jungkook setelah keluar dari mobil Hyunwoo dengan penampilan yang membuat kedua pria tampan yang tengah berargumen hanya mengerjapkan kedua matanya pangling. Pasalnya, transformasi Jungkook kali ini benar-benar terlihat cantik dan menawan. Bagaimana rambut panjang hitamnya yang dikuncir kuda, wajahnya yang dipoles make up tipis yang membuat kesan manis dan cantik secara bersamaan di wajah Jungkook. Dan, untuk Taehyung sendiri ia benar-benar tidak mengenali sosok wanita cantik yang sedang berdiri di depannya yang mengenakan setelan kerja kantoran yang begitu pas membungkus lekuk tubuh seorang Jeon Jungkook.
"cantik." gumam Taehyung tanpa sadar yang membuat Hyunwoo seketika menoleh kearah Taehyung dan terkekeh kecil menyadari wajah terpana Taehyung yang terlihat bodoh.
"hyung, apakah harus aku mengenakan pakaian seperti ini? Dan berubah menjadi wanita?" Jungkook mempoutkan bibirnya kesal.
"Tentu saja, Kookie-ya.. akan bahaya jika orang-orang kantor mengenalimu. Kita semua bisa mendapat masalah."
"Tapi—"
"Sudah, percaya pada hyung. Semuanya akan baik-baik saja, okay?" potong Taehyung menenangkan Jungkook. Hyunwoo yang melihat Taehyung berubah sikap tak seperti sebelumnya pada Jungkook hanya bisa menggelengkan kepalanya. Terlalu jelas untuknya, meskipun tanpa Taehyung beritahu sekalipun jika sepertinya tuan muda dari rekannya ini tengah tertarik pada teman kecilnya.
"hm, itu benar Jungkook-ssi. Kau tidak perlu cemas, aku ikut memantau kalian. Dan ini—id card kalian untuk masuk." Hyunwoo menyerahkan dua id card tanda pengenal kepada Taehyung dan Jungkook yang langsung diterima oleh kedua pemuda yang sebentar lagi akan melakukan penyamaran.
"Lee Ae Rin?" gumam Jungkook membaca id card ditangannya. "Siapa nama id card-mu, hyung?" tanya Jungkook beralih pada Taehyung yang memasukkan kartu tanda pengenalnya ke dalam saku seragam kerjanya yang berwarna orange.
"Kang Young Pal. Jadi, nona Lee kau siap untuk masuk?" tawar Taehyung. Jungkook terkekeh manis dan mengangguk semangat.
"nde, Young Pal-ssi dan ingat—aku adalah atasanmu!" balas Jungkook.
"aigoo aigoo, apa kalian menonton drama di RC? Kenapa pandai sekali berakting?" heran Hyunwoo menyela latihan dadakan mereka. Jungkook tersenyum cantik sementara Taehyung hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Percayalah, hyung. Jikalaupun aku menjadi aktor, aku akan menjadi yang tertampan dan paling berbakat dibandingkan aktor lainnya." sahut Taehyung percaya diri yang membuat gelak tawa terdengar dari Hyunwoo dan Jungkook.
"Sudah, cepat masuk dan hubungi Yoongi setelah kalian berhasil berada di ruang kontrol."
"nde hyung. Terima kasih atas bantuanmu, kami masuk dulu. Kajja, Kookie-ya!" ajak Taehyung yang tanpa sadar menarik tangan Jungkook dan menyebrang jalan menuju kantor BIN meninggalkan Hyunwoo yang masih mematai mereka dari tempatnya berdiri. Hyunwoo menarik nafas dan memandangi gedung besar yang berdiri di seberangnya dengan tatapan cemas yang sebenarnya ia sembunyikan sejak Yoongi menghubunginya dan menceritakan maksudnya sejak awal.
"Good luck guys!" gumam Hyunwoo sebelum memutuskan untuk memasuki mobilnya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
.
"Bibi masih tinggal disini?" tanya Jimin pada wanita tua yang dulunya merupakan salah satu pekerja di rumahnya sebagai pengasuhnya. Bibi Yoon, yang baru saja masuk ke kamar Jimin dan kini duduk di ranjang bersama Jimin saling berhadapan dengan tangan Jimin yang masih setia memegang miniatur teleskop, benda kecil kesayangannya.
"Tidak nak. Secara kebetulan, bibi tinggal di rumah di dekat rumahmu ini."
"Benarkah?" Jimin membulatkan kedua matanya senang. Bibi Yoon tersenyum hangat dan mengangkat tangannya untuk mengelus wajah manis Jimin yang tumbuh dengan sempurna seiring dengan berjalannya waktu.
"Kau tumbuh dengan baik, nak. Apa kau mengalami kesulitan selama ini?" tanya bibi Yoon cemas. Jimin menggeleng.
"Aku baik, bi. Maaf baru datang sekarang. Tapi, apa yang terjadi pada rumahku? Kenapa semuanya kacau seperti ini?" tanya Jimin akhirnya mengutarakan rasa penasarannya sejak ia menginjakkan di rumahnya tadi. Bibi Yoon menunduk sebentar, sebelum akhirnya mendongak dan menatap wajah Jimin dengan kedua matanya yang berkaca.
"Berselang seminggu setelah kecelakaan itu, seluruh pekerja di rumah ini sama halnya mengalami mimpi buruk." Bibi Yoon mulai membuka cerita yang sudah ia alami dan menjadi kenangannya hingga kini. "Kami kedatangan tamu tak diundang, tamu-tamu mengerikan yang dengan seenaknya menggeledah rumah ini disaat para pemiliknya sudah tidak ada. Mereka datang dalam jumlah banyak. Sangat banyak. Bahkan, tak segan-segan jika ada pekerja yang melawan, mereka langsung menyiksa kami karena berani menghalangi jalan mereka." Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Tapi, mereka siapa bi?" tanya Jimin cemas. Bibi Yoon menggeleng.
"Tidak ada satupun dari kami yang tahu karena mereka semua menggunakan topeng untuk menutupi wajah mereka saat datang."
"Apa yang mereka cari bi?" bibi Yoon tampak mengingat.
"Bibi tidak tahu, Jiminie. Tapi, yang bibi ingat ada satu orang yang terus berseru mengatakan tentang 'bukti'." Jimin mengeryitkan keningnya. Tanpa sadar, tangannya mencekeram miniatur yang berada di tangannya dengan erat.
"Jadi, mereka datang untuk mencari bukti?" gumam Jimin. "Itu pasti bukti yang dicari orang-orang selama ini." ujar Jimin pada dirinya sendiri. "Apa mereka mendapatkannya?"
"Tidak. Dan itu membuat mereka marah hingga tak segan-segan membunuh paman Lee di depan kami semua."
"MWO?!" pekik Jimin terkejut bukan main. "Mereka membunuh paman Lee?" lanjut Jimin, jantungnya berdebar tak kalah cepat dari biasanya.
"nde." balas bibi Yoon lemah. "Bahkan, ada beberapa pelayan juga yang mengalami cidera parah." Jimin menunduk, tak kuasa mendengar hal mengerikan yang dialami orang-orang yang sangat menjaganya sejak kecil. Hal itu membuat Jimin secara spontan terisak di depan bibi Yoon.
"Jiminie~" panggil bibi Yoon mengelus surai Jimin lembut. Jimin mendongak dan berhambur ke pelukan bibi Yoon.
"Bibi, maafkan aku—" racau Jimin meskipun ia tahu, semua itu sepenuhnya sama sekali bukan kesalahannya.
"Tidak nak, tidak. Kau juga korban. Kami semua juga sangat mengetahui apa yang kau alami selama delapan tahun ini." Jimin masih terisak dan bibi Yoon dengan lembut menenangkan tuan mudanya.
Dibalik pelukan sang bibi, Jimin membuka tangan kanannya yang menggenggam erat miniatur kesayangannya. Menatap miniatur itu cukup lama, sebelum ingatan kecilnya memutar ketika percakapan konyol dengan sang ayah muncul begitu saja di memori otaknya.
"Jagoan appa, apa yang sedang kau lakukan?" tanya sang ayah memasuki kamar Jimin kecil, sementara si pemilik kamar sedang sibuk dengan teleskop yang merupakan hadiah ulang tahunnya tahun lalu.
"Appa, jangan ganggu aku." Ujar Jimin tanpa mengalihkan pandangannya dari lubang teleskop. Sang ayah hanya menggelengkan kepalanya, terlalu hafal dengan kebiasaan jagoan kecilnya yang tak bisa menduakan barang kesukaannya.
"Waeyo?" tanya sang ayah duduk di ranjang putra kecilnya.
"Nanti bintangnya marah karena perhatian Chim terbagi." sang ayah mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum gemas mendengar penuturan polos dari putranya.
"Eh? Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Bintang tidak suka jika tidak diperhatikan sepenuhnya. Nantinya, mereka akan lari dan pergi." Seojoon pun terkekeh kecil.
"Bisa begitu?"
"Tentu saja appa! Jadi, jangan ganggu Chim untuk malam ini." seru Jimin kecil, tapi bukan Seojoon namanya jika tidak mengganggu kesenangan putranya sementara dirinya ada disini dan sama sekali tidak Jimin toleh keberadaannya sejak ia masuk ke kamar Jimin kecil yang bernuansa warna biru.
"yah~ appa sedih karena Chim tak memperhatikan appa lagi." sang ayah merajuk dan memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Jimin kecil yang hafal betul dengan kebiasaan ayahnya yang satu ini pun hanya mendengus dan mengabaikan teleskopnya sejenak.
"Appa~" panggil Jimin kecil tanpa berjalan mendekati sang ayah akan tetapi hanya menatap sang ayah kesal. Seojoon yang melihatnya pun hanya terkekeh, ia beranjak dari duduknya dan mendekati Jimin kecil yang sedang berada di balkon kamarnya yang berada di lantai dua.
"Baiklah, baiklah. Appa tidak akan merajuk dan tidak akan mengganggumu. Tapi, bolehkan appa bertanya?" tanya sang ayah. Jimin kecil mengangguk senang. "Kenapa Chim sangat menyukai bintang?"
"Karena, bintang itu sangat indah pa. Mereka selalu bersinar dan aku ingin semua orang yang berada di dekatku seperti bintang itu."
"Tapi, bintang hanya muncul pada malam hari. Apa itu tidak membuatmu sedih jika semua orang menjadi seperti bintang?" Jimin kecil tersenyum manis hingga menunjukkan eye smile yang mana paling disukai oleh semua orang yang mengenalnya.
"Apa appa lupa, matahari juga adalah bintang? Bintang terpenting di dunia. Seperti appa dan eomma yang terpenting bagiku!" Seojoon tersenyum bangga.
"Aigoo~ anak appa pintar sekali. Jadi, katakan kalau begitu kau pilih appa atau teleskop?" Jimin kecil tersenyum jahil.
"Untuk malam ini, aku pilih teleskop." Seojoon mengerutkan keningnya tak suka.
"Waeyo?"
"Karena malam ini aku ingin melihat lebih banyak bintang lewat teleskop."
"Lalu, bagaimana dengan appa?" tanya Seojoon kembali dengan nada merajuk yang hal itu membuat Jimin tertawa kecil.
"Apa appa lupa jika appa juga adalah bintang Chim? Jadi, Chim akan melihat appa dari teleskop ini malam ini." Seojoon tersenyum gemas dan mengacak surai Jimin kecil lembut.
"Bagaimana jika kita carikan bintang untuk eomma? Eomma pasti senang."
"Ah-ya, apalagi sebentar lagi eomma ulang tahun. Appa, bukankah kita harus mencarikan eomma hadiah? Chim mau memberikan eomma hadiah!" rengek Jimin semangat ketika teringat beberapa hari lagi ulang tahun sang ibu. Seojoon yang melihat bagaimana semangat Jimin untuk memberikan hadiah kepada sang ibu pun tersenyum bahagia dan berdoa dalam hati semoga keluarganya tetap seperti ini dalam waktu yang lama.
Jimin mengeratkan pelukannya pada bibi Yoon. Ia menggigit bibir bawahnya dengan tangan kanannya yang menggenggam erat miniatur yang berada di tangannya.
'Appa, aku berjanji padamu. Apapun yang terjadi nanti, aku akan mengembalikan semuanya seperti semula. Entah apa yang akan aku hadapi, aku siap untuk menerima semua konsekuensinya!'
.
.
.
.
.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis pada Taehyung dan Jungkook yang sudah berada di lobby kantor ayah Jungkook. Taehyung dan Jungkook saling melirik satu sama lain. Dan, tak lama Taehyung mengeluarkan id card-nya dan menunjukkannya pada petugas resepsionis itu.
"Perkenalkan, saya Kang Young Pal. Kami dari perusahaan Hitaichi Lift and Eskalator, kami mendapat laporan jika lift disini sedang mengalami kerusakan." terang Taehyung.
"ah-nde. Itu benar tuan. Apa anda teknisinya?" tanyanya. Taehyung mengangguk. "Dan, anda nona?" resepsionis itu beralih pada Jungkook. Jungkook mengerjapkan kedua matanya gugup dan mengeluarkan id card-nya.
"Saya Lee Ae Rin, manajer HRD. Perusahaan kami sedang mengadakan pengamatan kinerja pegawai. Dan, keberadaan saya disini adalah untuk menilai kinerja tuan Kang Young Pal serta memeriksa lift yang kantor anda dapatkan dari perusahaan kami. Kami menyesal atas kerusakan ini." sesal Jungkook yang membuat Taehyung tersenyum lega melihat bagaimana Jungkook yang begitu piawai mendalami perannya. "Dan, ini surat ijin dari perusahaan kami." lanjut Jungkook memberikan sebuah berkas pada sang resepsionis. Resepsionis itu membuka berkas yang diberikan Jungkook dan membacanya sekilas.
"Baiklah. Dan, silahkan langsung saja masuk ke ruang kontrol yang berada di lantai paling atas. Petugas kami sudah berada di sana."
"ah-nde, kamsahamnida!" balas Jungkook girang karena penyamarannya dan Taehyung berjalan dengan lancar. Dengan segera keduanya pun berjalan menuju tangga darurat.
"Apa kita harus menaiki tangga sampai ke atap gedung?" tanya Jungkook setelah memastikan tidak ada orang disekitar mereka.
"Tentu saja nona Lee, apa kau lupa kita disini untuk memperbaiki liftnya?"
"Tambah merusaknya, iya!" desis Jungkook kesal. "ah~ heels ini benar-benar menyebalkan!" dengus Jungkook menghentikan langkahnya di anak tangga yang menuju ke lantai dua sementara mereka berdua masih harus melewati banyak tangga hingga ke atap gedung.
"Perlu aku gendong?" tawar Taehyung. Jungkook menghela nafas kasar.
"ya, dan orang-orang akan bertanya nantinya! Dan, kenapa kau, Yoongi dan Hyunwoo hyung bisa mendapat ide seperti ini? Kenapa kalian tidak membuatku menjadi teknisi sepertimu saja?!" tanya Jungkook kesal bukan main. Taehyung terkekeh.
"ssst~ jika kau menjadi sepertiku, saat kita menginjakkan kaki di halaman kantor ini—saat itu pula ayahmu akan datang dan menyambutmu. Kau mengerti maksudku 'kan?" tanya Taehyung. Jungkook berfikir sejenak, dan kemudian berdecak kesal.
"arra-arra, dengan kata lain yang paling aman memang aku harus berubah gender."
"Hanya hari ini. Lagi pula, kau terlihat sangat cantik dengan setelan kerja seperti itu. Jika Yoongi, Seokjin, dan Hobi hyung melihatmu aku yakin mereka tidak akan mengenalimu sebagai Jeon Jungkook!" Jungkook hanya bisa berdecak karena penuturan Taehyung yang entah memuji atau mengejeknya.
"Jangan mengejek, hyung!" sebal Jungkook yang lagi-lagi hanya dibalas tawa lantang dari Taehyung.
"Aku tidak! Tapi, kau benar-benar cantik!" Jungkook menunduk, menolak bertatapan dengan Taehyung yang masih saja menatapnya. Dan dengan wajah yang penuh rona merah, Jungkook mempercepat langkah kakinya menaiki tangga meninggalkan Taehyung yang semakin terkekeh gemas dengan tingkah Jungkook yang malu-malu seperti itu.
"aigoo~ darimana datangnya anak semanis dia..." gumam Taehyung gemas bukan main dan dengan cepat ia berjalan menyusul Jungkook dan dengan jahilnya ia langsung mengangkat tubuh Jungkook dan menggendongnya bridal.
"HYUNG!" pekik Jungkook terkejut bukan main dan secara refleks ia melingkarkan tangannya pada leher Taehyung untuk pegangan.
"ssst~ jangan teriak. Orang-orang akan tahu!"
"Turunkan aku!" pinta Jungkook. Taehyung menggeleng dan melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga menuju atap gedung.
"aniyo! Sudah diam saja, aku tahu kau kesakitan berjalan dengan high-heels itu."
"Tapi, nanti kau lelah." tutur Jungkook polos. Taehyung tersenyum tampan.
"Akan lebih baik jika aku yang lelah daripada kau yang kesakitan. Lagi pula, kau tahu jalanmu sangat lambat dengan sepatu itu!"
Bugh!
Jungkook memukul dada Taehyung lumayan keras yang membuat Taehyung mengaduh dan berpura-pura kesakitan meskipun sebenarnya pukulan Jungkook tidak berasa apa-apa.
"Jangan salahkan aku!" desis Jungkook menatap Taehyung tajam.
"arra-arra. Baiklah tuan putri, kau cukup pegangan yang erat. Mengerti?" Taehyung mengingatkan sebelum akhirnya melesat naik menaiki tangga dengan Jungkook yang berada di gendongannya.
Tak lama kemudian, akhirnya Taehyung dan Jungkook sampai di atap gedung dimana ruang kontrol kantor BIN berada. Taehyung menurunkan Jungkook dari gendongannya dan Jungkook dengan segera merapikan penampilannya seperti semula.
"Ayo, hyung!" ajak Jungkook berjalan mendahului Taehyung yang terengah dan tengah menetralkan nafasnya sejenak.
"Permisi," sapa Jungkook setelah ia dan Taehyung berada di depan pintu ruang kontrol yang terdapat seorang pegawai yang sedang berjaga di dalamnya.
"ah-apa kalian dari perusahaan Haitachi?" tanya pegawai itu. Jungkook mengangguk.
"nde, perkenalkan saya Lee Ae Rin!" Jungkook mengulurkan tangannya yang disambut pegawai itu dengan senang hati. "Dan, ini salah satu teknisi kami, Kang Young Pal." Jungkook memperkenalkan Taehyung setelah melepas tautan tangannya dengan pegawai itu. Taehyung menunduk sopan, memberi salam yang dibalas senyum ramah dari pegawai itu.
"Silahkan masuk!" pegawai itu mempersilahkan.
"Jadi, apa masalahnya?" tanya Taehyung mengambil alih setelah ia dan Jungkook masuk ke dalam ruang kontrol.
"Kami tidak tahu, tadi pagi tidak ada masalah dengan liftnya. Tapi, sekitar 1 jam yang lalu ada karyawan yang melapor bahwa lampu lift mati dan pintunya tidak mau terbuka." jawab pegawai itu mulai menjelaskan permasalahannya.
"Apa ada orang di dalam lift?"
"Kebetulan tidak ada."
"Syukurlah, kalau begitu kami akan mencoba untuk memeriksanya."
"nde, semua system di kantor ini di kontrol dari ruangan ini. Dan, mungkin kau bisa mengetahuinya dari sini. Apa kalian ingin minum sesuatu?" tawar pegawai itu ramah.
"nde, berikan kami teh hangat dan kopi jika tidak merepotkan." jawab Jungkook.
"Tentu saja, nona Lee. Apa tidak apa aku tinggalkan sebentar?"
"oh tentu saja!" balas Jungkook tak kalah ramah dan membiarkan pegawai itu pergi begitu saja. Jungkook mematai pegawai yang sepertinya hendak pergi ke lantai bawah. Setelah memastikan bahwa pegawai itu sudah pergi dari tempat kerjanya dengan cekatan Jungkook meraih ponselnya sementara Taehyung langsung mengambil alih ke bilik yang ada di ruang kontrol, bilik yang merupakan tempat pemantauan cctv di seluruh gedung BIN.
"Hobi hyung!" seru Jungkook setelah nada sambung di seberang sana terganti dengan suara si pemilik nomor yang sengaja ia hubungi.
"Kookie-ya, bagaimana?" tanya Hoseok, orang yang Jungkook hubungi.
"Kami sudah berada di ruang kontrol!"
"Bicaralah pada Yoongi hyung!" sela Hoseok yang tampaknya memberikan ponselnya pada Yoongi dan Jungkook yang berjalan mendekati taehyung seraya menunggu.
"Jungkookie?"
"hyung, kami sudah di ruang kontrol. Apa selanjutnya?" tanya Jungkook antusias.
"Apa Taehyung juga mendengar?"
"nde,"
"Baiklah, dengarkan aku. Aku, Seokjin hyung, dan Hosiki akan membuat keributan dari basement sesuai dengan rencana awal. Karena lift rusak, otomatis nantinya orang-orang akan keluar lewat tangga darurat. Tugas kalian berdua adalah memantau cctv sampai kami keluar dari ruang kerja ayahmu. Setelah kami keluar dan mendapatkan dokumennya, kalian hapus semua video yang tertangkap cctv hari ini, kemudian kalian matikan semua systemnya. Baru setelah itu, kalian keluar dan kami menunggu di tempat yang sudah kita sepakati sebelumnya. Mengerti?"
"nde hyung. Berhari-hatilah, dan ruang kerja ayahku berada di lantai tujuh!"
"Okay! Dan, pastikan—ponselmu tetap standy dengan ponsel Hoseok. Ini adalah satu-satunya cara kita untuk berkomunikasi!"
"nde hyung. Kau tenang saja!"
"arra, aku tutup sambungannya!" Yoongi memutus sambungan secara sepihak dan Jungkook menggenggam ponselnya cemas.
"Aku berharap semuanya berjalan dengan lancar!" gumam Taehyung yang kali ini tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"nado hyung!" balas Jungkook yang kedua matanya menatap objek yang sama dengan yang Taehyung tatap, yaitu pada salah satu layar monitor yang menampilkan keadaan basement dimana ketiga hyung mereka berada.
.
.
.
.
.
"Pastikan ponselmu tetap berada di genggamanmu setelah ini!" ujar Yoongi seraya menyerahkan ponsel Hoseok pada pemiliknya. Hoseok mengangguk tenang.
"Apa ini saatnya?" tanya Seokjin. Yoongi mengangguk.
"hm, tentu saja hyung." balas Yoongi menyakinkan. Seokjin menarik nafas, ia menoleh kesana kemari untuk memastikan keadaan. Tangan Seokjin merogoh saku celananya seraya berjalan mendekati dinding basement yang terdapat alat penyaring asap untuk mendeteksi adanya kebakaran. Seokjin mengeluarkan tangannya yang menggenggam pemantik api dan menghidupkan pemantiknya pada sebuah kertas yang tanpa siapapun sadari sudah berada digenggamannya sejak tadi. Setelah kertas itu terbakar, Seokjin mengarahkan kertas itu kearah alat penyaring asap.
KRING!!!
Dan setelah alarm berbunyi, Seokjin pun segera membuang kertas yang akan membakar tangannya jika tidak segera ia buang.
"kajja, kita pergi sekarang!" ajak Seokjin merasa cemas karena semakin lama bunyi alarm terdengar semakin nyaring dan memekakkan telinga.
"Tunggu sebentar!" tahan Yoongi, ia berbalik badan dan berjalan mendekati sebuah kotak merah yang tertutup kaca yang tertempel pada dinding basement yang letaknya tak jauh dari alat penyaring asap.
PRANG!
Yoongi memecah kaca kotak itu dengan kepalan tangannya dan langsung menekan tombol yang dilindungi kaca tebal. Alhasil, tidak hanya terdengar bunyi alarm tanda kebakaran tapi juga air yang keluar dari pipa-pipa kecil yang dipasang di langit-langit dinding langsung menyembur deras.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Seokjin.
"Dengan begini mereka akan mengira jika sedang terjadi kebakaran besar. Jika hanya alarm saja, kita tidak tahu alarm itu berbunyi sampai kapan dan semua orang akan tahu jika sebenarnya tidak terjadi apa-apa!" jelas Yoongi. Seokjin dan Hoseok mengangguk paham.
"Kalau begitu, kita pergi sekarang hyung. Orang-orang sudah mulai berbondong keluar!" Hoseok mengingatkan dan segera ia serta kedua hyung-nya melesat memasuki kantor BIN meskipun sesekali saat mereka masuk, mereka sampai bertabrakan dengan para pekerja yang tergesa keluar untuk melindungi diri mereka masing-masing.
Sret!
Hoseok menarik tangan Seokjin dan Yoongi yang berlari di depannya dengan tiba-tiba saat mereka sudah berada di lantai tiga, dan bersembunyi di balik tembok.
"Ada apa?" tanya Seokjin terkejut.
"Ada Seungho samchon!" ujar Hoseok memberitahu.
"huh?" pekik Seokjin mengalihkan pandangannya kearah mata Hoseok memandang begitu pula dengan Yoongi. Dan dapat mereka lihat, ayah Jungkook yang keluar dengan tergesa menuruni tangga dengan banyak pengawal yang melindunginya.
"Aku merasa bersalah karena sudah membuat kantornya kacau seperti ini." sesal Seokjin yang dibalas kekehan dari Yoongi.
"oh-ayolah, ini mengasikkan. Kau tak perlu merasa bersalah, hyung!" balas Yoongi.
"Mengasikkan kepalamu! Kau membuat banyak orang merasa nyawa mereka akan merenggang detik ini juga!" sarkas Seokjin.
"Bukan aku, hyung. Tepatnya kita berlima!" Yoongi mengoreksi.
"aish, kenapa kalian malah berdebat. Kajja, kita pergi sebelum ada orang yang menyadari keberadaan kita!" ajak Hoseok, ia berlari mendahului kedua hyungnya menuju lantai tujuh, dimana ruang kerja ayah Jungkook berada.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya ketiganya sampai di lantai tujuh meskipun baju mereka yang cukup basah karena turut terkena guyuran air yang masih keluar dari langit-langit dinding. Ketiganya, menetralkan nafas mereka sejenak saat sudah berada di depan pintu ruang kerja ayah Jungkook.
"oh, ini melelahkan" gumam Seokjin terengah karena berlari dengan kekuatan maksimalnya dari lantai tiga hingga lantai tujuh. Sementara, Seokjin yang masih bersandar pada dinding koridor dan Yoongi yang sudah berjongkok dengan nyamannya, sementara Hoseok berinisiatif untuk membuka pintu ruang kerja ayah Jungkook agar pekerjaan mereka hari ini cepat selesai.
"Terkunci?!" kesal Hoseok memaksa pintu itu untuk terbuka berulang kali. Yoongi berdecak dan Seokjin masih sibuk menetralkan nafasnya. "Kau bisa membukanya 'kan hyung?" tanya Hoseok pada Yoongi.
"Kau tidak lihat pintu itu menggunakan id card? Mana bisa aku membobolnya dengan kawat!" sarkas Yoongi ikut kesal.
"Serahkan padaku!" sela Seokjin menengahi, ia berjalan mendekati pintu dan tangannya mengeluarkan sebuah benda yang mirip kartu tanda pengenal dari saku celananya.
Klik!
Dan, dengan mudah pintu itu langsung terbuka saat Seokjin menempelkan kartu entah apa yang ia bawa pada alat yang berada di samping kenop pintu.
"Apa itu?" tanya Hoseok, setelah ia ikut masuk mengekori Seokjin dan Yoongi yang menjadi orang terakhir yang masuk ke ruang kerja ayah Jungkook.
"Aku mendapatkannya dari Taekwoon hyung, dia bilang kartu ini bisa membuka pintu apapun yang menggunakan akses tanda pengenal seperti pintu itu. Aku juga menggunakannya saat menyuruh orang untuk memasuki ruang kerja ayahku." Hoseok mengangguk paham.
"ah-begitu~"
"Siapa Taekwoon hyung?" tanya Yoongi.
"Asisten pribadiku, seperti Hyunwoo hyung, asistenmu. Aku, Hoseok, dan Jungkook juga punya asisten pribadi sepertimu." Yoongi hanya mengangguk bersamaan dengan ponsel Hoseok yang berbunyi.
"Dari Jungkook!" Hoseok memberitahu dan segera mengangkat panggilan dari Jungkook.
"hyung, kalian tidak apa?" tanya Jungkook terdengar cemas.
"Kami baik, Kook-ah!"
"Syukurlah, kalian membuat kekacauan yang tidak setengah-setengah."
"oh-ayolah, tidak seru jika hanya setengah-setengah!" sahut Yoongi yang juga mendengar penuturan Jungkook.
"hm, aku mengerti hyung. Oya, aku mau mengingatkan—jika ruangannya masih sama seperti dulu, ada brangkas di bawah meja kerja ayahku." Jungkook memberitahu.
"Apa kau tahu password-nya?" tanya Yoongi. Jungkook tampak mengingat.
"Jika, tidak diubah mungkin tanggal lahirku. Coba saja."
"Jika berubah?" tanya Hoseok.
"Hancurkan saja brangkasnya!" Taehyung yang menyahut dengan nada kesal yang membuat Yoongi, Seokjin, Hoseok bahkan Jungkook terkekeh mendengarnya.
"Yak yak yak! Kenapa tertawa? Aku serius?!" seru Taehyung kesal karena ditertawakan.
"Habisnya, kau lucu sih hyung!" Jungkook yang berujar membuat Yoongi, Seokjin dan Hoseok hanya bisa menggelengkan kepala mereka gemas.
"EKHM!" Seokjin sengaja berdehem dengan keras untuk mengalihkan atensi kedua adiknya di seberang sana.
"he he.. mian hyung.." cengir Taehyung dari seberang.
"Baiklah, kalau begitu kami tutup sambungannya. Kami akan menghubungi kalian setelah semua selesai!" sela Yoongi menengahi.
"Nde, hyung. Kami tunggu!" balas Taehyung yang setelah memutuskan sambungan ponsel Jungkook dan Hoseok sepihak.
Yoongi mengedarkan pandangannya pada sekeliling ruang kerja ayah Jungkook yang terlampau luas, sementara Seokjin dan Hoseok yang mulai bekerja untuk mencari dokumen yang sama dengan dokumen yang Seokjin dan Jungkook dapatkan di ruang kerja ayah Seokjin.
"oh, hyung! Brangkasnya masih berada di sini!" pekik Hoseok yang berada di bawah meja kerja ayah Jungkook. Hal itu membuat Seokjin dan Yoongi langsung berjalan mendekati Hoseok yang tampak kesulitan memindahkan ubin lantai dari tempatnya. Sontak, Yoongi dan Seokjin pun membantu Hoseok untuk memindahkan ubin lantai yang lumayan berat dan dapat mereka lihat sebuah brangkas yang ukurannya cukup besar berada di bawah meja kerja ayah Jungkook, persis seperti apa yang Jungkook beritahukan padanya.
"Bagaimana jika dokumen itu tidak ada disini?" tanya Hoseok mulai ragu.
"Dokumen yang menyangkut ayah Jimin pasti termasuk dokumen penting, jadi aku yakin mereka semua pasti tidak menyimpan dokumen itu di sembarang tempat." jawab Seokjin yakin seraya menekan angka kelahiran Jungkook untuk membuka password brangkas itu.
Klik!
Seokjin mengerjapkan kedua matanya sementara Yoongi dan Hoseok membulatkan kedua mata mereka terkejut, tak menyangka jika mereka dapat membuka brangkas itu dengan semudah ini.
"daebak! Aku benar-benar terkejut." seru Hoseok bersamaan dengan Seokjin yang membuka pintu brangkas dan dapat mereka lihat begitu banyaknya dokumen-dokumen penting di dalamnya.
Seokjin dengan terburu memilah-milah dokumen yang berada di dalam brangkas sampai tangannya sampai berada di dokumen dengan map berwarna cokelat kayu, dua paling bawah. Seokjin menarik dokumen itu keluar dan membukanya dengan tergesa.
"Itu dokumennya?" tanya Yoongi. Seokjin tersenyum sumringah.
"nde, ini dokumennya. Ternyata benar, beberapa dari para appa memiliki dokumen yang serupa dengan yang dimiliki ayahku!" pekik Seokjin senang.
"Syukurlah, kalau begitu. Kajja, kita keluar sekarang. Hobi-ya, jangan lupa beritahu Jungkook kita sudah mendapatkan dokumennya dan suruh mereka untuk pergi setelah menghapus rekaman cctv hari ini." Hoseok mengangguk dan segera mendial nomor Jungkook untuk mengabari bahwa semuanya sudah selesai.
"HYUNG!" seru Jungkook semangat.
"oh, kami sudah mendapatkan dokumennya. Cepat kalian keluar setelah hapus semua cctv-nya. Kami tunggu diluar."
"Okay, hyung! Kami akan segera menyusul!" Jungkook memutuskan sambungannya secara sepihak.
"kajja, kita keluar sekarang!" ajak Seokjin dengan perasaan lega luar biasa. Yoongi mengangguk dan Hoseok tersenyum senang.
"kajja, hyung!" balasnya tak kalah semangat dari Seokjin.
.
.
.
.
.
Dengan keadaan pakaian yang basah kuyup, dengan sabar Yoongi, Seokjin, dan Hoseok menunggu kedatangan Taehyung dan Jungkook setelah mereka berhasil keluar sekitar 15 menit yang lalu. Yoongi yang bersandar di kap mobilnya dengan Hoseok yang turut berdiri di sampingnya sementara Seokjin yang sedari tadi berjalan kesana-kemari di depan mereka dengan kedua matanya yang mengarah pada pintu masuk kantor BIN.
"Kenapa mereka lama sekali?" tanya Seokjin cemas.
"oh-ayolah, hyung. Tunggu saja sebentar lagi. Kau tahu kan bagaimana jauhnya jarak dari atap gedung hingga lobby, apalagi mereka juga menggunakan tangga darurat jika kau lupa!" balas Hoseok. Seokjin mendengus dan tak berniat untuk membalas ucapan Hoseok padanya.
Selanjutnya, hanya ada keheningan diantara mereka sampai akhirnya kedua mata Yoongi yang menangkap dokumen yang masih berada di tangan Seokjin yang sebenarnya cukup menarik perhatianya sejak tadi.
"emm.. hyung, boleh ku pinjam dokumen itu?" pinta Yoongi, Seokjin menoleh dan langsung memberikan dokumen yang ia bawa kepada Yoongi.
Yoongi meniliti sampul dokumen yang tak terdapat tulisan apapun membuat rasa penasarannya semakin tinggi. Ia pun membuka dokumen itu, dan membacanya dalam diam. Bahkan, sesekali Yoongi mengerutkan keningnya atau membulatkan kedua matanya membuat Hoseok yang duduk di samping Yoongi hanya bisa mengangkat sebelah alisnya tak mengerti dengan ekspresi yang Yoongi tunjukkan.
"hyung?!" panggil Hoseok saat melihat wajah Yoongi yang semakin mengeras tanpa sebab.
"Sial!" umpat Yoongi bersamaan dengan kedatangannya Taehyung bersama seorang wanita yang menenteng heels-nya berjalan di belakangnya menghampiri mereka.
"Ada apa, hyung?" tanya Taehyung yang kedatangannya baru ketiganya sadari.
"yaampun, Tae kau darimana saja kami—siapa kau?" tanya Seokjin langsung memotong ucapannya sendiri ketika melihat wanita cantik berdiri di samping Taehyung tanpa alas kaki. Wanita itu mendengus kesal dan Taehyung tertawa kecil.
"Perkenalkan, hyungnim. Ini Lee Ae Rin, dia—"
"HYUNG!" sela Jungkook benar-benar kesal yang membuat Seokjin dan Hoseok mengerjapkan kedua matanya terkejut dan mematai wanita cantik di depan mereka dari ujung kaki sampai kepalanya.
"Kookie?" gumam Hoseok.
"eoh, ini aku!" balas Jungkook mempoutkan bibirnya sebal.
"daebak! Aku benar-benar tidak mengenalimu!" puji Hoseok heboh.
"hm, ini berkat Hyunwoo hyung. Tapi, hyung ada apa? Kenapa kau terlihat marah?" tanya Taehyung yang kali ini beralih pada Yoongi yang terlihat muram.
"Cepat masuk mobil! Ada banyak hal yang harus kita bicarakan!" titah Yoongi mendahului mereka memasuki mobilnya masih dengan dokumen yang mereka dapatkan berada di tangannya. Seokjin, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook pun saling berpandangan namun kemudian mereka hanya bisa mengedikkan bahunya tak tahu dan selanjutnya mereka berempat langsung memasuki mobil Yoongi tanpa ada pembicaraan berarti diantara mereka.
.
.
.
.
.
Jimin duduk termenung diatas ranjang kamarnya yang berada di rumah kakeknya. Ia sudah pulang ke rumah kakeknya sekitar satu jam yang lalu dan sejak itu pula ia hanya menghabiskan waktu di dalam kamarnya dengan duduk diam dengan tangannya yang masih menggenggam miniatur teleskop. oh, juga jangan lupa keadaan kamarnya yang gelap gulita padahal langit sudah menggelap.
Jimin memainkan miniatur kesayangannya sejak kecil di tangan kanannya. Pikirannya berkecamuk, memikirkan banyak hal terutama setelah ia mendengar semua cerita mengerikan yang bibi Yoon alami delapan tahun yang lalu. Jimin menundukkan kepalanya, kembali mematai miniatur itu dengan tatapan ragu.
"Apa chip ini berisi bukti yang orang-orang cari selama ini?" tanya Jimin entah pada siapa. Jimin menarik nafas, ia membuka bagian bawah miniatur untuk mengambil chip yang ia ingin tahu apa isi dari chip yang tampaknya sengaja disimpan ayahnya di dalam benda kesayangannya.
Jimin beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja belajarnya. Ia membuka laptopnya dan menyalakannya. Setelah menunggu beberapa detik menyala, Jimin pun segera menyambungkan chip itu ke dalam laptopnya. Jimin mengetukkan jarinya diatas meja, menunggu dengan tak sabar sampai layar monitor laptopnya menampilkan tulisan loading access dengan angka yang mulai menunjukkan dari angka 1%.
Lama Jimin menunggu, sampai akses masuk chip itu ke dalam laptopnya memenuhi 100% dengan otomatis layar laptopnya langsung berganti penuh hitam dan sebuah tulisan di bagian center layar ada kotak bertulis "Login" yang berisi kata "Username" dan "Password" di dalamnya.
Jimin mendengus, mencoba untuk memutar otaknya kali ini. Dengan ragu ia mulai mengetik di kolom username, nama ayahnya sementara ia mengetik angka kelahiran ayahnya pada kolom password. Jimin menekan enter tanpa berfikir panjang, dan seharusnya ia tahu jika percobaan pertamanya akan menghasilkan tulisan 'Sorry your username and password don't match, please try again!', membuat Jimin harus kembali memutar otaknya lebih keras.
Percobaan keduanya, Jimin mencoba menggunakan nama ibunya dan tanggal lahir ibunya tapi berakhir dengan tulisan yang sama dengan percobaan pertama. Percobaan selanjutnya, Jimin mencoba menggunakan nama ayahnya dan tanggal pernikahan kedua orang tuanya, tapi sama seperti sebelumnya layar laptopnya masih tetap menunjukkan tulisan yang sama.
Jimin mengepalkan kedua tangannya kesal. Sesekali ia meremat rambutnya, mengusap wajahnya setelah berbagai nama dan angka yang berbeda ia masukkan ke kotak login. Tapi, tetap berakhir dengan tulisan yang membuat Jimin hampir membanting laptopnya karena saking kesalnya. Sudah hampir semua nama, termasuk juga namanya tapi tak ada satupun yang cocok.
Lagi, Jimin mengetuk-etuk jarinya diatas meja dengan kedua matanya yang menatap jengah pada layar laptopnya. Jimin mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang ia lewatkan dari sosok ayahnya. Tak lama kemudian, dengan ragu jari lentiknya kembali menekan huruf pada keyboard laptopnya hingga di kolom username terpampang kata 'teleskop', konyol memang—tapi, apa salahnya untuk mencoba. Dan untuk kolom password kali ini dengan percaya diri Jimin menekan angka kelahirannya. Menurutnya, sesuatu yang berhubungan dengan teleskop dengan kata lain juga berhubungan dengannya.
Klik!
Jimin menekan tombol enter agak keras kali ini. Ia menunggu sesaat dan seketika ia membulatkan kedua matanya saat tulisan di layar laptopnya berubah menjadi tulisan 'Login Success', membuat Jimin hampir memekik girang.
Selanjutnya, Jimin membiarkan laptonya yang bekerja untuk mengumpulkan entah data apa yang ada di dalam dokumen itu. Dengan agak tak sabar, dan rasa penasaran yang memuncak Jimin mematai layar laptopnya yang baru menunjukkan proses meloading.
"huft! Kenapa lama sekali?!" dengus Jimin. Ia memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan keluar kamar hanya untuk sekedar mengambil minuman dingin.
Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya—rumah kakek Jimin terasa sepi karena sang kakek masih berada di Jeju entah sampai kapan. Bahkan, karena ketidak-beradaan sang kakek membuat Jimin menolak setiap ajakan makan malam dari kepala pelayan dan lebih memilih untuk memintanya membawakan makan malam Jimin ke kamarnya.
"tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala pelayan Kim saat Jimin sampai di dapur.
"ah, tidak paman. Aku hanya haus. Terima kasih." balas Jimin dengan eye smile-nya.
"Baiklah, tuan muda—jika perlu sesuatu tak perlu sungkan untuk memanggil kami." Jimin mengangguk, ia berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil dua susu pisang.
"hm, paman. Bolehkah, aku tanya sesuatu?" tanya Jimin setelah menutup pintu lemari pendingin dan kembali menghampiri kepala pelayan Kim.
"Tentu saja, tuan muda."
"Sudah berapa lama paman bekerja bersama haraboji?" tanya Jimin ingin tahu.
"Cukup lama tuan muda."
"Apa sebelum ayahku menikah dengan ibuku?" kepala pelayan Kim tampak mengangguk.
"Bahkan, sebelum nyonya besar Park meninggal dunia." Jimin mengangguk paham.
"oya, dimana Hyukjae hyung? Aku tidak melihatnya sejak pulang tadi?" tanya Jimin mengalihkan pembicaraan.
"Anda tidak tahu?" Jimin mengeryitkan keningnya tak mengerti dan menggeleng bingung. "Lee Hyukjae-ssi pergi ke Busan setelah mengantar anda pergi." Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
"Kenapa Hyukjae hyung tidak memberitahuku?"
"Tenang saja, tuan muda. Dia akan kembali besok pagi."
"ah-begitu. Memangnya ada perlu apa? Kenapa mendadak sekali?" tanya Jimin penasaran.
"Maaf tuan muda, jika menyangkut perusahaan saya kurang begitu tahu." Jimin mengangkat sebelah alisnya dan baru paham jika Hyukjae hyung-nya adalah salah satu asisten pribadinya yang juga bekerja di perusahaan kakeknya.
"Terima kasih paman. Kalau begitu, aku masuk ke kamar dulu. Selamat malam!" pamit Jimin yang dibalas sapaan 'selamat malam, tuan muda' dari kepala pelayan Kim.
Jimin menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia menutup pintunya perlahan dan dengan langkah cepat segera mendekati meja belajarnya. Jimin membuka penutup susu pisang yang ia bawa dari lemari pendingin dan menghidupkan laptopnya yang tampaknya dalam keadaan sleep secara otomatis. Jimin meminum susu pisangnya dengan kedua matanya yang bergulir menatap layar laptop yang sudah sepenuhnya menunjukkan isi dari chip milik ayahnya.
Bruuush~
Uhuk!
Jimin tersedak minumannya sendiri saat ia melihat nama-nama folder yang ada di dalam chip itu. Ia meletakkan susunya di samping laptopnya dan kali ini seluruh perhatiannya terfokus pada laptop putih di depannya.
Terhitung ada lima folder dengan nama berbeda. Bahkan, hanya dengan membaca dari setiap nama folder itu sudah membuat Jimin berdigik ngeri. Tapi, diantara lima folder itu ada satu folder yang menarik perhatian Jimin dimana folder itu dinamakan dengan folder "XXX". Dan, untuk memulai investigasinya pada chip yang tak sengaja ia temukan, Jimin memutuskan untuk memulai dari folder yang diberi nama aneh dibandingkan dengan folder empat lainnya.
Jimin meng-klik folder itu dua kali dan seketika itu ia dihadapkan dengan beberapa dokumen dengan nama familiar di dalamnya. Jimin mengerutkan keningnya dan menscrooll isi folder XXX sampai bawah dan menemukan dokumen yang bernama "X-Motive".
"Motif?" gumam Jimin dan memutuskan untuk meng-klik dokumen itu. Jimin menunggu beberapa saat dan langsung membaca isi dokumen dengan saksama. Setelah membaca sampai akhir, jantungnya berdebar secara tak wajar. Kedua tangannya berkeringat dingin, dan tubuhnya yang bergetar. Ini baru satu fakta yang ia ketahui belum seluruhnya. Dan, baru satu fakta saja sudah membuat Jimin bungkam bagaimana dengan fakta-fakta lainnya?
Jimin merasa tubuhnya melemas. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kedua matanya menatap intens pada beberapa foto yang berada di dalam dokumen yang ia buka.
'Aku tidak tahu, bagaimana reaksi mereka setelah mengetahui semua ini. Tapi, aku juga tidak bisa jika harus menyembunyikan ini semua berlama-lama.' gumam Jimin dan berniat untuk kembali berkutat pada isi chip serta mempersiapkan diri jikalau ia menemukan fakta lain yang pasti akan lebih mengejutkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-
Dentingan suara antara sendok-garpu dan piring saling beradu di pagi cerah di kediaman yang sebenarnya dihuni oleh tiga tuan muda. Tapi, khusus pagi ini untuk pertama kalinya dua dari tiga si pemilik rumah memutuskan menginap bahkan juga membawa tiga teman kecil mereka.
"Jadi, sudah berapa dokumen yang kalian dapatkan?" tanya Yoongi memecah keheningan yang membuat sontak empat alat makan langsung mengambang di atas piring. Yoongi menatap keempat temannya menyelidik sementara, keempatnya menatap Yoongi gugup. "Kalian tidak berniat untuk menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?" lanjut Yoongi.
"Tentu saja tidak, hyung!" Taehyung yang menjawab.
"Jadi, katakan! Berapa dokumen serupa yang sudah kalian dapatkan?" ulang Yoongi.
"Baru satu, hyung. Dan itu, berkas ketiga." Yoongi mengangguk mengerti atas jawaban dari Taehyung. "Bagaimana dengan dokumen yang kemarin?"
"Itu berkas kedua. Isinya hanya kode untuk mencocokkan berkas selanjutnya." jawab Yoongi melanjutkan acara makannya dengan acuh. Jungkook dan Seokjin yang duduk bersebelahan saling berpandangan sebelum kedua mata mereka masing-masing bertemu pandang dengan kedua mata Taehyung dan Hoseok yang duduk berhadapan dengan mereka.
"hm, hyung—bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Jungkook takut-takut. Yoongi hanya berdehem. Jungkook menggigit bibir bawahnya gugup sementara Seokjin, Hoseok, dan Taehyung menyemangatinya dengan tatapan mereka masing-masing.
"Darimana kau tahu, jika Jimin hyung sudah ingat semuanya?" pertanyaan Jungkook sontak membuat Yoongi menghentikan aktifitas makannya namun tak berniat untuk menatap si penanya. Yoongi masih terdiam sementara keempat temannya masih sabar menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
'Tidak mungkin, 'kan aku mengatakan jika Jimin yang mengatakan sendiri padaku?'
"Kalau begitu, katakan padaku juga—darimana kau tahu jika Jimin sudah ingat semuanya?" tanya Yoongi membalik pertanyaan pada Jungkook. Jungkook menghela nafas, ia tahu hyung-nya ini sedang menghindari pertanyaannya.
"Jimin hyung sendiri yang mengatakannya padaku." jawab Jungkook. Yoongi mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jungkook agak terkejut.
"Jimin yang mengatakan semuanya padamu?" Jungkook mengangguk kecil. "Kapan?"
"Saat musim panas kemarin. Saat Tae hyung terluka, dan kau meninggalkanku berdua dengan Jimin hyung. Saat Jimin hyung memberikan jaketnya padaku."
"Itulah sebabnya wajahmu memucat waktu itu?" Jungkook mengangguk membenarkan.
"Dia mananyakan tentang benda-benda yang aku berikan padamu. Tapi, aku merasa asing ketika dia mengatakan semua itu. Aku seperti tidak mengenali Jimin hyung."
"Maksudmu?"
"Dia menyuruhku untuk tidak mempercayai siapapun bahkan juga sedikit mengancamku. Katanya, untuk tidak mencari tahu apapun tentang masa lalu kita semua. Dia mengatakan itu akan membuatku terluka. Tidak hanya itu, dia juga mengatakan jika semua ini juga berkaitan tidak hanya pada keluarganya tapi juga dengan keluarga kita semua. Aku melihat kebencian di kedua matanya. Jimin hyung benar-benar terlihat sangat menakutkan waktu itu." terang Jungkook yang membuat keempat hyungnya hanya terdiam, Yoongi terutama. Ia tidak tahu, jika sebelum Jimin menemuinya dan mengatakan semuanya, Jimin sudah mengatakan lebih dulu pada Jungkook. Tapi, pertanyaannya adalah kenapa cara Jimin mengatakan semuanya padanya dan pada Jungkook, sangat berbeda jauh?
"Jadi, darimana kau tahu semuanya, hyung?" Jungkook kembali pada topik awal. Yoongi terdiam sejenak. Wajahnya datar, yang membuat keempatnya kesulitan untuk membaca ekspresi Yoongi.
"Siapa lagi, jika bukan dari Jimin." Yoongi akhirnya menjawab jujur.
"Dari Jimin?" pekik Seokjin dan Hoseok bersamaan sementara Taehyung dan Jungkook hanya membulatkan kedua mata mereka tak percaya.
Yoongi mengangguk kecil.
"ya, Jimin yang memberitahuku." ulang Yoongi.
"Tapi, kapan dia mengatakannya padamu?" tanya Seokjin.
"Beberapa hari yang lalu. Jimin menemuiku saat aku menunggu Tae dan Hobi di halaman RC." jawab Yoongi.
"Itukah sebabnya kita tidak menemukanmu dan hanya ada mobilmu hari itu?" Yoongi mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Hoseok.
"Sebenarnya, saat di rumah sakit aku sempat mengunjungi Jimin dua kali."
"MWO?!" seru Seokjin, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook kompak.
"Orang yang mengirim dua bodyguard itu adalah kakek Jimin dari ayahnya."
"jinjja?" lanjut keempatnya kompak. Yoongi hanya mengangguk kecil.
"Jadi, Jimin sekarang ini tinggal bersama kakeknya?" tanya Seokjin.
"ya, aku rasa!" jawab Yoongi datar.
"Tapi, kenapa dia tiba-tiba menemuimu, hyung?" tanya Taehyung.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku terlalu shock dan bahagia hari itu. Melihatnya berdiri di depanku itu sudah cukup membuatku senang." Yoongi menoleh kearah Jungkook yang sedari tadi memang hanya diam. "Jungkook-ah!" panggilnya, Jungkook menoleh kearah Yoongi dan menatap sang hyung yang tengah menatapnya sendu.
"Jimin benar. Semua kenyataan itu akan melukaimu jika kau mencari tahu." Ujar Yoongi yang membuat Hoseok dan Taehyung turut memandang Jungkook iba.
"Apa maksudmu, hyung?" tanya Jungkook semakin tak mengerti terlebih ia juga menyadari tak hanya Yoongi, bahkan Hoseok dan Taehyung turut menatapnya iba. "Apa kalian mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?" lanjut Jungkook berharap.
"Maafkan kami Jungkook-ah~" sesal Yoongi. Jungkook menggigit bibir bawahnya, percaya jika ada sesuatu yang hyung-nya sembunyikan darinya.
"hyung—" gumam Jungkook menatap Yoongi memohon sementara Yoongi hanya bisa memberikan tatapan memohon maaf pada Jungkook karena mungkin saja, sebentar lagi apa yang akan Yoongi katakan ada kemungkinan besar dapat melukai perasaan adik kecil mereka.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi, tuan muda!" sapa kepala pelayan Kim pada Jimin yang baru saja menuruni tangga masih dengan menggunakan piyama anak anjingnya yang berwarna kuning-putih. Jimin tersenyum manis dan berjalan menghampiri kepala pelayan Kim yang menyapanya dengan ramah.
"Pagi paman." balas Jimin.
"Apa tidur anda nyenyak, tuan muda?" tanya kepala pelayan Kim. Jimin tersenyum kecil dan mengangguk.
"ya, cukup nyenyak paman."
"Silahkan duduk, tuan muda. Kami sudah menyiapkan sarapan untuk anda." ujar kepala pelayan Kim mengantar Jimin menuju ruang makan sebelum kedua mata Jimin menangkap sosok yang keberadaannya semalam ia tanyakan muncul dari pintu utama.
"Hyukjae hyung?!" panggil Jimin berjalan mendekati Hyukjae sementara kepala pelayan Kim dengan sopan menyapa Hyukjae yang baru datang.
"hi, Jiminie apa kau merindukanku?" goda Hyukjae memeluk Jimin sekilas.
"Bagaimana? Semuanya baik?" tanya Jimin yang membuat Hyukjae mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Apanya yang bagaimana?" Hyukjae balik bertanya.
"Perusahaan kakek." jawab Jimin yang membuat Hyukjae membulatkan kedua matanya terkejut.
"Siapa yang memberitahumu?" Jimin mengedikkan bahunya.
"Tidak ada. Paman Kim hanya mengatakan bahwa beliau tidak tahu sebab kepergianmu jika itu menyangkut tentang perusahaan. Jadi, biar kutebak kau mendadak pergi ke Busan bukan karena alasan 'kan, hyung? Pasti sesuatu sedang terjadi. Bahkan, sejak haraboji di Jeju saja, Haraboji belum juga menghubungiku!" Jimin mempoutkan bibirnya kesal. Dengan lembut Hyukjae merangkul tubuh mungil Jimin dan menuntunnya menuju ruang makan dimana para maid langsung membungkukkan badan mereka ketika sang tuan muda dan salah satu orang kepercayaan majikan mereka datang untuk menikmati sarapan mereka.
"Tidak heran jika kau peringkat satu di angkatanmu."
"HYUNG!" pekik Jimin kesal karena sempat-sempatnya Hyukjae membahas sesuatu yang sama sekali bukan jawabannya. Hyukjae terkekeh.
"arra-arra! Memang ada masalah di perusahaan, tapi kau tenang saja. Semuanya masih terkendala, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan, mengenai kakekmu—beliau tidak sendiri di jeju, ada paman Kang, Jongdae, Park Sejin, dan banyak lagi yang menjaga kakekmu." Jimin mendengus.
"Syukurlah kalau begitu."
"Percayalah, kakekmu pasti juga merindukanmu melebihi dirimu sendiri." Jimin mengangguk percaya.
"Tapi, hyung—kekacauan di perusahaan tidak ada hubungannya dengan—kau tahu siapa maksudku 'kan?" tanya Jimin pelan. Hyukjae tampak terdiam.
"Entahlah, semuanya terasa samar. Kau benar, jika memang benar dia orangnya—memang pantaslah karena secara tidak langsung dia hidup sebagai bunglon! Dia berada di dekat kita tapi kita tidak tahu karena dengan mudahnya dia menyesuaikan diri dan mengambil alih semuanya seolah bahwa dia adalah pahlawan." sarkas Hyukjae tampak kesal, hal itu membuat Jimin menebak bahwa keadaan perusahaan kakeknya pasti lebih buruk dari yang ia bayangkan.
"oya, Jiminie—"
"nde?"
"Apa kau akan pergi hari ini?" Jimin tersenyum dan menggeleng.
"Aku berencana untuk di rumah saja sampai lusa. Kau tahu, hyung efek samping dari operasi itu baru berdampak akhir-akhir ini."
"Tapi, kau baik-baik saja 'kan? Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Hyukjae cemas. Jimin menggeleng cepat.
"ani ani ani. Kemarin 'kan aku baru dari rumah sakit, jika kau lupa. Aku hanya membutuhkan istirahat." tutur Jimin.
"Benar kau tidak apa?" Jimin tersenyum menyakinkan.
"Kau tak perlu cemas, hyung." balas Jimin. "Dan, juga—aku rasa haraboji lebih membutuhkanmu daripada aku."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di perusahaan, tapi aku yakin itu bukan masalah kecil. Kau tahu 'kan hyung—haraboji adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki?" tanya Jimin. Hyukjae menarik nafas dan tersenyum tampan.
"Kau tidak apa sendiri disini?"
"Aku tidak sendiri, hyung. Ada paman Kim dan puluhan pelayan disini. Dan, jika aku ingin pergi aku cukup meminta paman Lee untuk mengantarku."
"arraseo. Tapi, ingat jangan berbuat macam-macam selama aku pergi. Aku tetap memataimu." Jimin tertawa keras.
"Tenang saja, hyungnim. Aku akan selalu mengabarimu."
"Janji?" Jimin mengangguk. "Katakan 'janji' lebih dulu." Jimin menarik nafas.
"Jan-ji!" ucap Jimin penuh penekanan.
"Baiklah, kupegang janjimu. Tapi, jika terjadi sesuatu padamu entah karenamu atau karena siapapun. Aku pastikan, kakekmu akan mengirimmu ke London—hari itu juga!" ancam Hyukjae menyeramkan yang membuat Jimin menelan ludahnya susah. Baiklah, ia tahu konsekuensi dari semua rencana yang sudah ia rencanakan masak-masak salah satunya adalah pergi ke London dan meninggalkan kehidupannya di Seoul.
.
.
.
.
.
Yoongi, Seokjin, Hoseok, dan Taehyung menatap Jungkook yang hanya diam tak bereaksi. Keempatnya menatap Jungkook cemas, sementara yang ditatap hanya memandang kosong di depannya dengan ucapan Yoongi yang terus teringang di otaknya secara berulang.
"Ibumu adalah salah satu korban dari semua ini. Maaf, jika aku harus mengatakan semua ini. Jungkook-ah—tapi, akan lebih baik jika kau mengetahui semua ini dari kami atau dari ayahmu dibandingkan dari orang yang salah."
"Apa maksudmu, hyung?"
"Ibumu—dibunuh tepat hari kelahiranmu di rumah sakit."
Jungkook mengedipkan kedua matanya sekali. Bibirnya tetap bungkam, bahkan ia menolak untuk bertatapan dengan keempat hyungnya sekarang ini.
Sret!
Jungkook berdiri dari duduknya masih dengan kedua matanya yang menatap kosong.
"aku—ingin sendiri, hyung." tuturnya lirih dan pergi dari hadapan keempat hyungnya menuju kamar tamu yang disediakan di kediaman Yoongi, Namjoon, dan Taehyung.
"Jung—"
"Biarkan dia sendiri!" Yoongi menahan tangan Taehyung yang hendak mengejar Jungkook.
"Tapi, hyung—"
"Kenapa kau mengatakan ini semua padanya?" tanya Seokjin sama terkejutnya dengan Jungkook.
"Maafkan aku, hyung—aku tidak ingin ada yang mempengaruhi Jungkook yang tidak tahu apa-apa." sesal Yoongi. "Dia akan lebih kecewa pada kita jika kita tidak mengatakannya lebih awal!"
"Dan, apa kalian berdua sudah tahu?" tanya Seokjin pada Taehyung dan Hoseok.
"Selain fakta bahwa ibu Jungkook dibunuh di rumah sakit tepat kelahiran Jungkook, kami berdua sudah tahu jika ibunya Yoongi hyung dan Jungkook dibunuh oleh orang yang sama yang menyebabkan kecelakaan kedua orang tua Jimin." jawab Hoseok yang kali ini menambah keterkejutan Seokjin yang langsung menatap Yoongi tak percaya.
"b-benarkah?" tanya Seokjin. Yoongi hanya tersenyum paksa.
"Aku ke kamar dulu." pamit Yoongi ikut pergi meninggalkan Seokjin, Hoseok, dan Taehyung di ruang makan.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Hoseok khawatir.
"Aku harap mereka baik-baik saja." harap Taehyung kemudian.
"Tapi, ada berapa banyak lagi fakta mengerikan yang mereka sembunyikan dari kita?" tanya Seokjin dengan kedua mata sendunya.
"Entahlah, berapa banyak fakta lagi yang tidak kita ketahui—aku hanya berharap kita semua tetap dalam keadaan baik dan jauh dari kata masalah." lanjut Taehyung yang hanya diangguki oleh Seokjin maupun Hoseok.
"oya, hyung—apa kalian akan ke RC?" tanya Taehyung kemudian.
"waeyo?" balas Hoseok. Taehyung hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Ada beberapa hal yang harus aku urus. Kalian mau ikut atau disini saja?" tawar Taehyung.
"Aku disini saja, kau tahu—aku masih penasaran dengan isi dokumen itu." jawab Seokjin.
"nado!" sahut Hoseok semangat. Taehyung mengangguk paham.
"arra, aku akan pergi sendiri kalau begitu. Kalian ingin titip sesuatu?" Seokjin dan Hoseok menggeleng kompak.
"nope!" jawab keduanya kompak.
"Tapi, ada perlu apa kau ke RC?" tanya Hoseok. Taehyung hanya menunjukkan cengiran khasnya.
"Bukan sesuatu yang penting," jawab Taehyung acuh dan berusaha agar kedua hyungnya tidak merasa curiga padanya.
.
.
.
.
.
Jungkook duduk termenung dengan tangannya yang memeluk kedua kakinya. Pandangannya kosong menatap kearah air mancur yang berada di taman belakang rumah ketiga hyungnya. Sudah hampir tiga jam ia duduk melamun di bawah pohon maple tanpa melakukan apapun. Bahkan, saking fokusnya ia sampai tak menyadari keberadaan Yoongi yang berdiri tak jauh di belakangnya mematainya dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Terlalu mengasihani diri sendiri tidak akan membuatmu kembali pada masa lalu!" seru Yoongi akhirnya membuka suara setelah 30 menit ia datang dan hanya diam mematai gerak-gerik Jungkook yang sama sekali tak bergerak sedikitpun.
Jungkook sedikit mendongak dan mendapati Yoongi yang berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya dengan pose yang sama sepertinya.
"Aku tidak sedang mengasihani diri sendiri!" sarkas Jungkook.
"Kau marah padaku?" tanya Yoongi.
"ani!" jawab Jungkook tetap memandang lurus ke depannya meskipun menurut Yoongi tidak ada hal menarik sama sekali. "Aku hanya marah pada takdir yang mempermainkan kita semua!"
"Kau tak perlu marah pada takdir!" ujar Yoongi yang membuat Jungkook menoleh kearahnya. "Bukan takdir yang salah. Jadi, jangan salahkan apa yang tidak patut untuk disalahkan. Termasuk ayahmu."
"Bagaimana kau tahu, jika aku sedang menyalahkan ayahku?"
"Karena aku juga pernah berada di posisimu." mimik wajah Jungkook melunak, tak sedatar sebelumnya.
"Maksudmu?"
"Aku juga kehilangan ibuku saat aku bayi dan aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu bersamaan dengan fakta tentang dirimu." kedua mata Jungkook membulat tak percaya.
"Maafkan aku, hyung~"
"Tidak! Kau tidak tahu, kau tidak pantas untuk meminta maaf. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah, mencobalah untuk mengerti bagaimana posisi ayahmu. Jangan marah padanya atau bahkan membencinya karena tidak mengatakan hal ini padamu lebih awal. Kau tahu? Setiap rahasia yang disembunyikan pasti ada alasan di baliknya."
"nde, kau benar hyung. Tapi, kenapa ayahku tidak mengatakan apapun padaku? Tidak sedikitpun, tentang ibuku?"
"Mungkin—bukan karena ayahmu ingin menyembunyikan semuanya darimu. Tapi—itu lebih karena ayahmu masih merasakan sakitnya kehilangan hingga sekarang. Ayahmu hanya mencoba untuk tidak melukai dirinya sendiri dengan membuka luka lama ditambah lagi fakta yang mungkin akan melukaimu."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena, ayahku juga merasakan hal yang sama. Pada awalnya, aku sangat marah—tapi untuk pertama kalinya, aku menyadari ayahku tak setegar kelihatannya. Bisa kau bayangkan, dihadapkan dengan sosok pria yang dingin, tegas, dan menyebalkan tiba-tiba menangis menyedihkan dihadapanmu?" tanya Yoongi seraya tertawa kecil bermaksud untuk menghibur Jungkook yang tampaknya berhasil.
"Aku bisa membayangkannya."
"Jadi, yang perlu kau lakukan adalah—apapun yang terjadi tetaplah percaya pada ayahmu. Karena, lebih dari apapun—apa yang sedang mereka lakukan, hanya semata-mata untuk kebaikan kita." Jungkook mengangguk paham, hatinya lebih tenang daripada sebelumnya.
"hyung, tidakkah menurutmu kita masih beruntung?" tanya Jungkook. Yoongi mengangkat sebelah alisnya tak mengerti dan hanya mendengar apa yang akan Jungkook katakan selanjutnya. "Aku bertanya-tanya bagaimana perasaan Jimin hyung selain ditinggal kedua orang tuanya, tapi keduanya juga meninggal di tempat, di depan kedua matanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya dia jika tidak mengalami amnesia."
"ya, terlebih dia masih memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri." gumam Yoongi, hati dan pikirannya kembali berkecamuk penuh kecemasan hanya karena memikirkan pujaan hatinya. "Kau tahu?" tanya Yoongi, Jungkook masih menoleh menatapnya. "Jimin—tidak pernah membenci kita."
"Benarkah?" Yoongi mengangguk.
"Sebaliknya. Jauh dari itu semua, dia tetap menyayangi kita lebih dari dirinya sendiri." Jungkook tersenyum sendu. Merasa bersalah pada Jimin hyung-nya karena sempat mengira bahwa Jimin sudah berubah setelah mengatakan bahwa ia sudah ingat semuanya.
Selanjutnya, Jungkook dan Yoongi hanya terdiam dengan pikiran mereka yang sama-sama penuh dengan bayang-bayang sosok yang sama, yang entah kenapa mereka merasa takut dan cemas tanpa alasan.
.
.
.
.
.
Blam!
Taehyung menutup pintu mobilnya setelah ia sampai di halaman parkir RC. Taehyung mengedarkan pandangannya kesana-kemari sebelum memutuskan untuk memasuki gedung utama di sekolahnya.
Ia berjalan menuju lift yang ada di gedung utama, menunggu sebentar sampai pintu lift itu terbuka. Tak membutuhkan waktu lama, pintu lift pun terbuka dan Taehyung tanpa membuang waktu segera masuk dan menekan angka 9 dimana lantai yang akan ia datangi.
Ting!
Pintu lift terbuka saat sampai di lantai sembilan. Taehyung melangkahkan kakinya keluar dan berjalan menuju sebuah ruang tertutup yang ia ketahui hampir tidak ada siswa yang berani masuk apalagi menginjakkan kakinya di lantai paling atas di gedung utama. Tapi, tidak dengan Taehyung jika kalian lupa siapa peran Taehyung di RC.
Cklek!
Taehyung membuka pintu ruangan yang satu-satunya ada di lantai sembilan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah masuk, Taehyung menghentikan langkahnya dan langsung berhadapan dengan si pemilik ruangan yang tak lain adalah kepala sekolahnya sendiri.
"Terkejut, Taehyung-ssi?" tanyanya tersenyum miring. Taehyung hanya diam karena rencananya hari ini tak ia duga sudah terbaca oleh kepala sekolahnya.
"Masuklah!" titahnya tapi tak direspon oleh Taehyung. Hal itu, membuat Bang ssaem, kepala sekolah RC bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati salah satu anak dari pemilik sekolah.
"Aku tidak tahu, jika anda tetap bekerja di hari libur ssaem." tutur Taehyung datar dengan kedua matanya yang berkilat menyeramkan.
"Aku dibayar setiap hari, termasuk hari libur. Jadi, tak perlu heran jika aku berada di ruang kerjaku, tuan muda." Taehyung mengerut tak suka dan menghela nafas kesal. Ia berjalan menuju sofa yang ada di ruang kepala sekolahnya dan duduk disana dengan seenaknya diikuti Bang ssaem yang turut duduk di depannya.
"Apa appa, yang meminta samchon disini?" tanya Taehyung yang membuat Bang ssaem terkekeh melihat akhirnya keponakannya, memanggilnya seperti yang seharusnya.
"yap, seperti yang kau duga anak nakal!" cibir Bang ssaem yang selain adalah kepala sekolah RC, dia juga merupakan saudara sepupu dengan ayah Taehyung, Kim Wonjoong.
"Aku tidak habis pikir dengan orang tua itu, kemarin meminta Joonmyeon hyung untuk melakukannya semulus mungkin, dan sekarang?" kesal Taehyung tak mengerti. "Tapi, karena samchon disini apa itu artinya samchon sudah mendapatkan apa yang appa inginkan?" tanya Taehyung kedua matanya berbinar semangat berharap ia tidak perlu membuang tenaga karena sang paman sudah membantu tugas dari sang ayah.
"hm, kau tenang saja aku sudah memberikan apa yang ayahmu inginkan padanya semalam. Jadi, kau tak perlu mencemaskan apapun." Taehyung mengangkat sebelah alisnya terkejut.
"Tidak biasanya appa seperti ini. Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Taehyung cemas.
"Aku tidak tahu detailnya, kenapa kau tidak tanya langsung saja pada ayahmu?" Bang ssaem balik bertanya. "oya, apa kau sudah tahu?"
"Tahu apa, samchon?" tanya Taehyung melihat wajah pamannya yang mengeras entah karena apa.
"Park Jimin akan pindah semester depan ke London."
"MWO?!" pekik Taehyung terkejut bukan main.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua hari setelah janji konyol yang Jimin ucapkan pada Hyukjae sudah berlalu. Dan, kini dengan perasaan gusarnya, Jimin hanya bisa berjalan kesana-kemari menghaluskan lantai kamarnya. Sudah ditetapkan, jika nanti malam ia akan datang ke Weizh Grand Hall untuk menemui para ayah dari kelima teman kecilnya. Semuanya sudah Jimin siapkan, termasuk akses untuk masuk ke hotel mewah itu.
Tapi, yang membuat Jimin gusar disini adalah isi chip yang keseluruhnnya sudah ia ketahui apa isinya. Semuanya. Dan, benar seperti dugaannya, chip itu adalah bukti yang selama ini orang-orang cari. Bukti yang dikumpulkan ayahnya dengan susah payah dan bukti yang membuat banyak orang frustasi karenanya.
Jimin menyatukan kedua tangannya yang banjir keringat dingin. Ia menghembuskan nafas beratnya berkali-kali dengan kedua matanya yang melirik cemas kearah jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima sore, itu artinya masih ada empat jam sebelum ia pergi ke hotel mewah itu, seorang diri. Hm, mengingat Hyukjae yang sampai sekarang masih sibuk ikut mengurus perusahaan kakeknya yang Jimin rasa semakin berlalunya hari semakin buruk. Ingin rasanya, Jimin membantu dan menawarkan diri tapi ia tebak kakeknya pasti akan bersikeras untuk membiarkannya duduk diam di rumah sementara para orang tua sedang uring-uringan di luar sana.
"aish~ kenapa waktu berjalan begitu lambat?!" gumam Jimin tak bisa lagi mengontrol rasa takut, cemas, gusar, dan gugupnya yang menjadi satu. Ia menggigit bibir bawahnya, tak bisa membayangkan apa yang akan ia hadapi malam ini.
Jimin mengeluarkan nafasnya perlahan untuk menenangkan diri. Mencoba untuk mengenyahkan rasa menyesakkan dalam hatinya dan mencoba untuk tenang.
"rilex, Jim ... rilex~" gumam Jimin menetralkan nafasnya yang terengah padahal sedari tadi yang ia lakukan hanya berjalan kesana-kemari di dalam kamarnya.
"Baiklah, apapun yang terjadi malam ini. Cukup hadapi—dan lakukan sesuai dengan rencanamu!" ujar Jimin menyakinkan dirinya sendiri.
Entah kenapa, empat jam kali ini terasa lebih lambat dari biasanya yang harus Jimin lalui penuh kecemasan di dalam kamarnya seorang diri. Bahkan, sepanjang perjalanan menuju Weizh Grand Hall, Jimin tak bisa duduk tenang dengan jantungnya yang berdebar secara berlebihan.
Ckiit!
Mobil yang mengantar Jimin malam itu, akhirnya berhenti di tempat yang Jimin tuju. Jimin memandangi gedung mewah di balik kaca mobilnya sebentar.
"tuan muda, kita sudah sampai!" ingat paman Lee yang menjadi sopir Jimin malam ini. Jimin tersentak dan menoleh kearah paman Lee yang duduk di bangku kemudi.
"nde, terima kasih paman sudah mengantarku. Paman boleh pulang." balas Jimin mulai tenang. "Dan—paman tak perlu menjemputku. Setelah urusanku selesai, aku ingin menemui temanku di RC."
"Tapi, tuan muda—"
"gwenchana, paman. Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Jika terlalu larut, mungkin aku akan menginap di asrama dan pulang nanti pagi. Aku akan menghubungi paman untuk menjemputku di RC."
"ah-begitu. Baiklah, tuan muda jika itu maumu." Jimin tersenyum manis dan mengangguk.
"Terima kasih paman. Hati-hati di jalan, aku pergi!" Jimin membuka pintu mobilnya, ia menunggu mobil paman Lee keluar dari area Weizh Grand Hall sebelum memutuskan untuk masuk dan bertemu dengan kelima sahabat ayahnya tanpa mereka ketahui tentang kedatangannya malam ini.
Jimin mengeratkan mantel biru dongker yang ia kenakan seraya melangkah memasuki lobby hotel. Tanpa bertanya pada resepsionis, Jimin langsung berjalan menuju lift. Tak menunggu waktu lama, pintu lift itu terbuka dan Jimin segera masuk dan menekan angka 26, dimana lantai pertemuan kelima ayah teman kecilnya.
Ting!
Sesampai di lantai 26, Jimin melangkah menuju satu-satunya pintu yang berada di lantai 26 yang sekaligus tengah dijaga empat pria berbadan besar dengan setelan formal berwarna hitam.
"Maaf, anda tidak boleh masuk, di dalam sedang ada rapat rahasia dari para petinggi negara." tahan salah satu pria yang berjaga ketika melihat Jimin berjalan mendekat. Jimin menyunggingkan senyum singkat.
"hm, aku tahu. Tapi, kau atau siapapun tidak berhak melarangku untuk masuk karena aku juga ada pertemuan dengan mereka." balas Jimin berani.
"Maaf, jika tidak keberatan bisa anda tunjukkan id vvip-nya?" tawar pria yang lain. Jimin mendengus. Tangannya yang berada di dalam saku mantelnya mengeluarkan sebuah kartu berwarna perak dihadapan keempat bodyguard itu.
"Aku rasa id vvvip, justru lebih berlaku." tutur Jimin menantang. "Dan, jika kalian kurang percaya—kalian bisa mengecek namaku di daftar tamu yang hadir hari ini. Namaku, Park Jimin. Kalian bisa mengeceknya bahkan aku juga sudah memesan meja di dalam sana, atas namaku." sesuai dengan permintaan Jimin, salah satu bodyguard itu dengan segera mengambil buku tamu untuk mengecek apakah nama Park Jimin turut dalam daftar atau tidak.
"Maafkan, kami tuan. Kami tidak tahu, karena pertemuan sudah dimulai dua jam yang lalu." sesal pria yang dari awal menahan Jimin. Jimin mengedikkan bahunya tak peduli.
"hm, aku tahu. Aku memang sengaja datang terlambat. Sekarang bukakan pintunya dan katakan pada mereka, Park Jimin ingin bertemu!" titah Jimin.
"Baiklah, ikuti saya tuan Park!" ajak bodyguard pertama bersamaan dengan dua bodyguard dekat pintu yang membukakan pintu aula di hotel untuk mereka berdua.
Jimin mengekori pria yang mengantarnya masuk dalam diam, tak berniat untuk banyak bicara atau sekedar berbasa-basi, ia hanya ingin cepat bertemu dengan mereka dan menyelesaikan rencana awalnya malam ini.
Tok!! Tok!! Tok!!
Cklek!
Pria itu membuka pintu lain yang berada di dalam aula yang sepi sementara Jimin mencoba untuk menjaga jarak dari pria yang tadi berjaga di depan dan memutuskan untuk menghentikan langkahnya di luar pintu sebentar. Setidaknya, ia harus menyiapkan diri saat muncul dan menampakkan wajahnya di hadapan mereka nantinya.
"Maaf, jika saya mengganggu tuan." dapat Jimin lihat pria itu yang meminta ijin dengan membungkukkan badannya sopan.
"Tidak apa, lagi pula rapat kami sudah selesai. Ada apa?" Jimin tersenyum kecil ketika mendengar suara yang ia ketahui milik ayah Seokjin, yang menjawab ujaran dari bodyguard itu.
"Ada yang ingin bertemu dengan kalian, tuan."
"Siapa?" kali ini ayah Taehyung yang bertanya, dan sebelum pria itu menyebut namanya refleks kaki Jimin melangkah masuk yang langsung dihadiahi tatapan tak percaya dari kelima orang yang berperan sebagai ayah dari anak mereka.
Jimin tersenyum manis dan membungkukkan badannya di hadapan kelimanya dengan sopan.
"annyeongasseo~" sapa Jimin formal.
"Park Jimin?!!" gumam kelimanya menatap Jimin seolah Jimin adalah hantu yang baru bangkit dari kubur.
"k-kau boleh pergi!" ayah Namjoon, Seungwon—menitah pada pria yang mengantar Jimin untuk keluar dan menutup pintu. Meninggalkan Jimin bersama dengan kelima ayah dari kelima teman kecilnya.
"Saya harap, saya tidak mengganggu pertemuan—paman sekalian," dan penuturan Jimin selanjutnya sontak membuat kelima pria paruh baya itu membulatkan kedua mata mereka tak percaya. Bahkan, tak hanya itu Jimin juga melihat wajah tegang dari masing-masing wajah kelimanya.
"j-Jimin... kau—" Jimin tersenyum manis, amat manis sampai-sampai membuat kelima pria paruh baya itu merasa ada maksud tersembunyi dibalik senyum manis Jimin.
"Saya datang, hanya ingin menyampaikan sesuatu yang seharusnya saya katakan delapan tahun yang lalu." tutur Jimin tegas. Kedua matanya berkilat tenang.
"Kau—sudah ingat semuanya?" tanya ayah Jungkook, Jeon Seungho dengan suara tercekat.
"nde! Saya sudah ingat semuanya!" jawab Jimin yang lagi-lagi direspon dengan diam dan tegang oleh kelima sahabat mendiang ayahnya.
"Saya tidak bermaksud untuk membuat paman sekalian merasa tertekan dengan kedatangan saya, apalagi tanpa sepengetahuan kakek saya."
"Kakek?" tanya ayah Seokjin, Kim Chilhyun. Jimin mengangguk.
"nde, ayah dari ayah saya. Park Seo Goon. Jika tidak salah dengar, paman-paman pernah bertemu dengan beliau." kali ini tatapan mata Jimin bertemu pandang dengan ayah Yoongi yang sedari tadi hanya diam dan memasang wajah datar.
Setelahnya, hanya ada keheningan diantara keenamnya. Kelima pria itu yang sedari tadi memandangi Jimin penuh kerinduan sementara Jimin yang mencoba untuk menolak tatapan penuh kasih yang mereka berikan padanya. Karena, jika Jimin membalas tatapan itu Jimin akan merasa lemah dan melupakan semua rencananya. Karena, tatapan itu ia jadi teringat dengan masa kecilnya dan kedekataannya dengan kelima orang di depannya. Tidak, ia harus bisa menahan semua rasa rindunya kali ini dan mengesampingkan egonya demi orang-orang di depannya.
"Sebenarnya, bukan itu maksud kedatangan saya kemari." Jimin kembali berujar dan memulai mengatakan apa maksud dan tujuannya yang sebenarnya.
"Tapi, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada paman, karena sudah mengirim saya ke panti asuhan setelah kecelakaan itu." sarkas Jimin yang kali ini wajah tegang muncul dari Seungho dan Chilhyun. "Tapi, saya tidak bisa untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang terjadi pada kedua orang tua saya." sendu Jimin, kali ini ia berusaha keras untuk menahan air matanya di depan kelima orang yang ia anggap seperti kedua orang tuanya sendiri.
"Jimin—"
"Maka dari itu—" Jimin memotong cepat apa yang akan Seungho katakan padanya. Jimin menghembuskan nafasnya perlahan, menenangkan diri. "—kedatangan saya kemari untuk meminta bantuan pada paman sekalian." lanjut Jimin yang membuat kelima pria paruh baya itu mengangkat sebelah alisnya. "Agak kurang ajar memang, karena kedatangan saya yang tidak diundang dan dengan tiba-tiba tapi langsung meminta bantuan kepada paman-paman. Maafkan, atas kelancangan saya."
"Tidak, nak. Tentu saja tidak. Bantuan apa yang kau butuhkan dari kami?" tanya Seungwon lembut. Jimin tersenyum kecil, dipandanginya ayah dari kelima teman kecilnya satu persatu.
"Bantuan—untuk menangkap pembunuh itu." lirih Jimin kedua matanya berkilat marah. Jimin menarik nafas, dan menghembuskan nafasnya perlahan. "Saya tahu, paman tidak akan mengijinkan saya untuk mengatakan semua ini, sama halnya dengan haraboji. Tapi, apakah perlu saya ingatkan jika kita semua merasakan kehilangan karena orang yang sama?"
"Tapi, Jiminie—siapa orang itu? Selama delapan tahun, kami mencari tapi kami tidak pernah menemukan titik terangnya." ujar Wonjoong.
"Jika saya menjawabnya, apakah ahjussi akan mempercayaiku?" tanya Jimin menatap Wonjoong. "Meskipun saya menyebut nama orang yang mustahil untuk melakukan semua kejahatan ini?" lanjut Jimin penuh teka-teki. "Saya sudah mengatakan semuanya pada Jaeduck samchon, tapi lebih dari itu saya benar-benar meminta tolong pada orang-orang kepercayaan ayah saya." penuturan Jimin kali ini membuat kelima orang itu mencelos sampai akhirnya untuk pertama kalinya sejak kedatangan Jimin, ayah Yoongi, Min Seonwoong menanyakan hal yang sedari tadi mengganggunya, tidak hanya dirinya tapi juga keempat rekannya yang lain.
"Apakah kau membenci kami karena tak sempat menyelamatkan kedua orang tuamu?" tanyanya yang dibalas senyum tulus dari Jimin.
"Yang terpenting, rasa kebencianku tak sama besarnya dengan orang yang membunuh kedua orang tuaku!" jawab Jimin tegas. "Tapi, dibalik itu—rasa sayang dan rinduku akan jauh lebih besar daripada rasa benci." lanjut Jimin seraya tersenyum manis yang membuat kelima pria paruh baya itu menghangat.
Grep!
"Jiminie~" dan Jimin hanya bisa membalas pelukan Seungho yang tampaknya sudah menahan diri sejak kedatangannya untuk memeluk Jimin, putra dari mendiang sahabatnya.
"Maafkan samchon, nak..." bisik Seungho yang dibalas anggukan dari Jimin dan tak lama ia melepas pelukannya dengan ayah Jungkook.
"Tapi, maaf samchon—ini bukan saat untuk bertukar rindu. Ada banyak hal yang harus kita lakukan untuk mengungkap semua ini dan aku sangat mengharapkan bantuan dari paman sekalian."
"hm, kau benar! Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan, dan tanpa kau meminta pun kami semua akan selalu membantumu." Jimin tersenyum lega mendengar penuturan Seungwon.
"kamsahamnida!" balas Jimin tulus. Jimin terdiam sejenak, ada hal lain yang mengganggu pikirannya tapi Jimin rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang bukti itu.
"Tapi, Jiminie—" panggil Chilhyun menggantungkan ucapannya. Jimin menoleh dan menatap ayah Seokjin. "Apakah, Seokjin, Yoongi, dan yang lainnya sudah tahu?" Jimin menggigit bibir bawahnya gugup seharusnya ia tahu jika pertanyaan itu pasti ditanyakan oleh mereka.
"hm, aku—baru mengatakannya pada Yoongi hyung." jawab Jimin malu-malu yang justru membuat kelima pria tampan meskipun sudah berada di usia lanjut tetap terlihat tampan dan gagah.
"yaampun, dasar anak muda." seru Wonjoong menggoda Jimin.
"Paman~" lirih Jimin malu bukan main.
"yak! Sudahlah, jangan menggoda calon menantuku!" dan Jimin lebih merona kala ayah Yoongi dengan jelasnya mengatakan bahwa dirinya adalah calon menantu anaknya.
.
.
.
.
.
Setelah menolak berbagai tawaran dari para pamannya yang mengatakan akan mengantarnya pulang, akhirnya Jimin dengan langkah tenang berjalan di pinggir trotoar dengan pikirannya yang mengingat percakapan personalnya dengan para pamannya, terutama dari Min Seonwoong beberapa waktu yang lalu.
"Kau sudah mengatakan semuanya pada Yoongi?"
"Nde."
"Bagaimana responnya?"
"Tidak begitu bagus, ahjussi. Aku mencoba menjelaskan semuanya tapi—sangat sulit untuknya memastikan bahwa aku memang baik-baik saja. Dia khawatir dengan cara yang berlebihan."
"Aku akan melakukan hal yang sama jika itu menyangkut orang yang kucintai."
"huh?"
"Kau tahu, betapa berbahayanya semua ini? Terutama bagimu, Jiminie. Kami bisa bayangkan betapa berbahayanya orang itu meskipun sampai sekarang kami tidak tahu siapa orang itu sebenarnya."
"Jika aku memberitahu ahjussi sekarang, apa ahjussi akan langsung mempercayaiku?"
"Tentu saja, nak. Kami semua sangat mempercayaimu."
"Bolehkah, ku tahu—atas dasar apa semua paman begitu mempercayaiku?"
"Karena kau adalah putra dari Park Seojoon."
"Jadi, jika aku bukan putra dari Park Seojoon apa ahjussi tidak akan mempercayaiku bahkan jika aku mengatakan hal yang jujur sekalipun?" Min Seonwoong terdiam, terjebak dengan ucapannya sendiri. "Ahjussi... tidak penting aku anak siapa, memiliki apa, atau berasal darimana—yang terpenting adalah bagaimana kalian mempercayai orang yang tepat atau orang yang salah untuk dipercaya."
"Tapi, apa kau tahu dengan jelas siapa pelakunya?"
"Nde, dan tanpa semua orang sadari. Dia berada di dekat kita semua. Sangat dekat, bahkan sampai tak terlihat."
Jimin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya. Angin malam menusuk hingga ke tulang rusuknya. Sesekali ia menghembuskan nafas setiap kali mengingat beberapa percakapan yang membuat kepalanya pecah detik ini juga.
"aish~ bagaimana caraku mengatakan jika bukti yang mereka cari berada di tanganku? Jangankan bukti itu, menyebut nama bajingan itu saja sudah membuatku gusar." kesal Jimin seraya menendang kerikil yang berada di dekat kakinya. "Ck! Bagaimana ini? Sepertinya, aku sudah salah langkah!"
Jimin menghentikan langkahnya tepat saat di seberangnya terdapat sebuah minimarket 24 jam yang sepi pengunjung. Jimin berdecak kesal dan memutuskan untuk menyebrang jalan. Ia berniat untuk membeli sesuatu di minimarket itu, untuk sekedar mendinginkan kepalanya.
Tapi, sebelum ia sampai di area minimarket namun setelah menyebrang jalan. Siluet seseorang mengganggu fokus awalnya. Jimin menajamkan kedua penglihatannya dan tanpa ragu, ia segera membuntuti sosok familiar yang entah apa yang dia lakukan di malam larut, terlebih sosok itu yang berbelok memasuki gang di samping minimarket yang sebelumnya ingin Jimin tuju.
Sret!
Jimin merapatkan tubuhnya ke dinding samping minimarket saat sosok itu dengan kasar menarik kerah seorang pria paruh baya yang ternyata sudah berada di belakang minimarket ini.
"Aku mohon, jangan bunuh aku!" rintih pria paruh baya yang berada di cengkeraman sosok yang Jimin kenal.
"Aku tidak akan membunuhmu jika kau tidak melanggar aturan!" Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya. Membunuh? Ia tidak salah dengar 'kan?
"s-sungguh, itu bukan kemauanku... aku hanya—"
"Jika itu bukan kemauanmu lalu kemauan siapa? Kau tidak mungkin dengan tidak sengaja melakukan semua itu 'kan?"
"Aku mohon maafkan aku~"
"Simpan maafmu untuk dirimu sendiri dan bersiaplah—"
Set!
Pemuda tampan yang sengaja Jimin buntuti sontak menoleh dan menatap terkejut saat melihat sosok Jimin menahan tangannya dan berdiri di sampingnya dengan wajah tenang serta senyum manisnya.
"j-Jimin-ssi?" panggilnya tak percaya.
"Pergilah, kau selamat sekarang!" titah Jimin melepas tangan orang yang dikenalnya dari kerah baju pria asing itu dan membiarkannya lari terbirit-birit untuk kabur.
"a-apa yang—apa yang kau lakukan disini?!" Jimin mengedikkan bahunya tak peduli dan tersenyum singkat.
"Mau menemaniku minum?" tawar Jimin yang hanya direspon diam olehnya. Jimin menarik nafas dan dengan terpaksa ia menarik tangan sosok yang berhasil menggeser posisi Doojoon dari tahta-nya untuk semester ini.
.
.
.
.
.
"Minumlah, hyung!" Jimin memberikan sekaleng cola dihadapan Namjoon—sosok yang tak sengaja ia temui meskipun keberadaannya sedang ia cari diam-diam.
"hyung?!" Namjoon menerima minuman yang dibelikan Jimin untuknya namun ia mengeryit saat mendengar dengan akrabnya Jimin menyebutnya dengan sebutan 'hyung'.
"Kau sudah ingat semuanya?" tanya Namjoon terkejut sementara Jimin hanya mengedikkan bahunya acuh.
"hm, seperti yang kau duga, hyung."
"Benar-benar ingat semuanya?" ulang Namjoon namun kali ini dengan raut cemas di wajah tampannya. Jimin menghela nafas.
"hyung, dengarkan aku!" pinta Jimin serius. Ia menatap Namjoon lamat, mencoba untuk meminta pemahaman dari sosok di depannya. Karena, dibandingkan yang lain ia yakin hanya Namjoon yang satu-satunya mengerti bagaimana posisinya dan percaya pada dirinya. "Kau tahu—kau bukan seorang pembunuh?"
Namjoon mengeraskan wajahnya, tersinggung.
"Tahu apa kau tentang diriku. Syukurlah, jika kau sudah ingat semuanya!" sarkas Namjoon. Jimin tersenyum kecil.
"Tentu saja aku tahu semua tentang dirimu!"
"Aku mohon, Park Jimin! Jangan ikut campur urusanku."
"Aku memang tidak akan ikut campur urusanmu, hyung. Tapi, apakah pantas membunuh seseorang?"
"PARK JIMIN!" geram Namjoon kesal bukan main. "Tutup mulutmu, jika kau tidak tahu apapun!" Jimin terdiam, memandangi Namjoon tak berkedip sedikitpun.
"ya, kau benar hyung aku tidak tahu apapun tentang dirimu sama halnya dengan yang lain bahkan termasuk ayahmu. Bahkan, agak menyakitkan jika mereka mengetahui kau melakukan semua ini di belakang mereka."
"Tidak ada gunanya untuk mengancamku, kau dengar?"
"Karena aku mendengarmu, maka dari itu—kau harus tahu jika kau bukan seorang pembunuh, hyung!"
"Park Jimin, kau sudah kelewat batas." Jimin tersenyum miring, penuh ejekan.
"Kau mengorbankan dirimu sendiri tapi belum tentu apa yang kau korbankan akan dimengerti orang lain."
"Itu bukan urusanmu."
"Tidakkah kau merasa ibumu sudah terlalu lama ditahan oleh mereka?" Namjoon membulatkan kedua matanya tak percaya sementara Jimin hanya menatapnya dengan tatapan tenangnya.
"d-darimana kau tahu?"
"Aku dengar, mereka juga mengancam kakekku."
"Kakek?" Jimin mengangguk singkat.
"Selain membawa namaku, mereka juga membawa nama ibumu."
"Jimin—"
"hyung, tidakkah kau tahu—jika pamanmu itu menyeramkan?"
"hah?!" Namjoon benar-benar tak menduga. Dalam sekejap, ia baru saja bertemu dengan Park Jimin dan dihadapkan dengan fakta yang bahkan ayahnya sendiri tidak tahu tentang dirinya, ibunya hingga pamannya. Tapi, lihatnya sosok manis di depannya ini. Dengan gamblangnya mengatakan semuanya padanya, dengan ekspresi kelewat tenang.
"hyung!" panggil Jimin penuh tekad sebelum akhirnya mengatakan hal yang membuat Namjoon semakin merasa bersalah berkali-kali lipat. "Ayo, kita selamatkan ibumu!"
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(-) Nde, saya tahu kali ini ngaretnya kebangetan, hehe. Maap yak, baru up karena baru pulang dari pulau orang (baru mlesir), eh pulang-pulang ngecekin laptop malah enggak mau hidup, ngambek mungkin karena ditinggal sebulan (tanda-tanda mau masuk rumah sakit ini)—maap ye... Malah curhat, habis gimana lagi *kudu nangis aku :'( banyak dokumen penting apalagi itu koleksi pideo2nya udah hampir nyampe angka seribu, gimana enggak sayang coba :'( :'( :'( huwaaaa maapkaen daku yang malah curhat disini ya teman-teman.
(-) Dan aku mau minta maaf lagi kalau ini banyak typo-nya karena aku ngetik di tablet juga kalau masih berantakan dan semoga puas ya karena ini nyampe 1,5 chapter dari biasanya. Sekalian, hehe (buat minta maaf sama reader yang nungguin ini up). Maap kalau kepanjangan dan malah buat ngantuk :p
(-) Aduh, siapa nih yang enggak sabar nunggu Festa? Enggak kerasa Bangtan udah masuk 5 tahun ye... Udah jadi balita kalau kata Suga tahun lalu udah jadi pegawai tetap di kantor dan kalau sekarang udah naik jabatan:P
(-) Okay sekian dulu ya, see you in next chap (dan mohon doanya semoga laptop aye opnamenya enggak lama-lama, hehe), bye bye
Kamsahanida,
