Previously...

"hyung!" panggil Jimin penuh tekad sebelum akhirnya mengatakan hal yang membuat Namjoon semakin merasa bersalah berkali-kali lipat. "Ayo, kita selamatkan ibumu!"

.

.

.

.

.

.

.

.

– One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa?" tanya Namjoon tak mengerti. Ditatapnya Jimin sendu sementara Jimin hanya tersenyum amat manis pada Namjoon.

"Apanya yang kenapa, hyung?" Jimin balik bertanya. Namjoon menatap Jimin lamat.

"Kenapa kau mau membantuku?" Namjoon bertanya lebih jelas. Jimin tersenyum kecil.

"Lalu, bagaimana? Apa kau punya pilihan lain?" Namjoon mengeryitkan keningnya tak mengerti.

"Apa maksudmu?" Jimin menarik nafas.

"Sampai kapan kau akan terus menerus diperbudak pamanmu, hyung? Apa kau akan membiarkan ibumu ditahan di dalam sana lebih lama lagi? Entah sudah berapa lama kau menyembunyikan semua ini dari ayahmu, dari semua orang. Apa kau ingin ibumu sampai membusuk di dalam sana!"

"PARK JIMIN!" seru Namjoon merasa ucapan Jimin terlalu kasar.

"Kau beruntung masih memiliki orang tua lengkap. Meskipun mereka terpisah, tapi tidakkah kau mengerti bagaimana perasaan ayahmu? Ibumu? Mereka pasti merindukan satu sama lain."

"Park Jimin, kau tidak mengerti!" Namjoon mengusap wajahnya kasar. Kedua tangannya mengepal diatas pahanya dan wajahnya yang mengeras menatap Jimin tajam. "Aku juga ingin membebaskan ibuku dari bajingan itu! Sangat ingin. Tapi, aku juga harus memikirkan bagaimana resikonya nanti, untuk ibuku terutama. Apa kau tahu? Kenapa aku tidak kunjung membawa ibuku keluar dari sana?" tanya Namjoon, deru nafasnya memburu.

"Karena ibuku sempat mengalami gangguan mental."

"Mwo?!" pekik Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Pertama kali aku bertemu dengannya. Dia tidak mengenaliku dan mereka terus menyiksanya jika aku tidak mau menuruti permintaan mereka!" lanjut Namjoon, suaranya tercekat. "Katakan padaku, Jiminie—apa yang lebih buruk dari seorang anak yang melihat ibunya disiksa di depan matamu sampai ibumu mengalami gangguan mental dan trauma fisik selama bertahun-tahun? Apa yang harus aku lakukan?" Jimin terdiam memandang Namjoon iba. "Mereka itu iblis, kejam, biadab, dan kumpulan bajingan tak berprikemanusiaan. Bisa kau bayangkan bagaimana posisiku saat itu? Aku sendiri, aku tidak mungkin mengatakannya pada ayahku atau siapapun! Karena ibuku taruhannya!"

"Maka dari itu, hyung. Sudah saatnya kita menyelamatkan ibumu." tutur Jimin yakin. "Jika ibumu sudah selamat, untuk menghancurkan bajingan itu akan lebih mudah!"

"Tapi—" Namjoon berujar ragu. Tentu saja dengan senang hati, ia akan menerima tawaran Jimin yang menawarkan diri untuk membantu membebaskan ibunya. Tapi, jauh dari semua itu ia juga memikirkan posisi Jimin jikalau mereka semua tahu tentang bocah yang diam-diam selalu diintai dimanapun ia berada. Dan, rasanya tanpa menjabarkannya pun sudah pasti, bunuh diri namanya jika membawa Jimin masuk ke dalam kandang mereka. Itu sama saja melemparkan nyawa Jimin sia-sia. Dan mereka akan dengan senang hati menangkap nyawa Jimin yang selalu mereka incar sejak dulu.

"Ada apa, hyung?" tanya Jimin yang melihat wajah gusar Namjoon setelah tak melanjutkan ucapannya cukup lama.

"Apa kau yakin?" tanya Namjoon akhirnya. Jimin memgangguk cepat. "Kau tahu bukan? Dibandingkan aku—mereka lebih menginginkanmu?" lanjut Namjoon hati-hati. Jimin tersenyum canggung.

"Aku masih tidak tahu apa yang mereka inginkan dariku!" bohong Jimin. "Tapi, untuk menyelamatkan ibumu. Tentu saja dengan senang hati aku akan membantu. Jangan pedulikan gertakan mereka tentangku, aku hanyalah bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Lagi pula, jika mereka menginginkan nyawaku untuk menukarnya dengan ibumu—aku bersedia melakukannya dengan senang hati." Namjoon tertegun, bodohnya ia pernah berniat untuk membunuh sosok yang memiliki hati semurni malaikat ini. Kedua mata Namjoon berkaca, lidahnya kelu tak mampu lagi mengatakan balasan ataupun sanggahan pada tuturan tulus yang baru saja Jimin lontarkan padanya.

"Aku adalah pria jahat. Tapi, kenapa Tuhan mengirimkan malaikat sepertimu kepadaku?" haru Namjoon. Jimin mengerjapkan kedua matanya tak mengerti.

"Hyung, kau ini bicara apa? Aku ini Park Jimin bukan malaikat! Eoh, apa kau bisa melihat malaikat?" tanya Jimin polos yang membuat Namjoon terkekeh gemas.

"Kau—kau adalah malaikatku, Jiminie!" tutur Namjoon dalam hati terus mengucapkan terima kasih tanpa henti pada sosok manis di depannya.

.

.

.

.

.

Tik tok tik tok tik tok~

Malam sudah semakin larut, detik demi detik waktu juga terus berjalan. Tapi, tak menjadi alasan bagi Taehyung masih terjaga di jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Taehyung duduk temenung di salah satu kursi meja makan, menatap kaleng cola yang ia letakkan di depannya dalam kegelapan. Sesekali, ia juga mengetuk-etuk jari telunjuknya diatas meja makan yang terbuat dari keramik itu.

"Tak bisa tidur, hm?" sapa Yoongi membuyarkan lamunan Taehyung. Taehyung pun menoleh hanya sekedar untuk melihat sang hyung yang mengambil sebotol air mineral di lemari pendingin dan melangkah menuju kursi di seberang Taehyung.

"Ada apa? Ada masalah?" tebak Yoongi yang tahu betul kebiasaan lama Taehyung yang selalu terjaga sampai dini hari jika ada suatu hal yang amat mengganggu pikirannya.

Taehyung diam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan Yoongi. Sementara Yoongi, dengan sabar tetap menunggu sampai yang lebih muda bersuara.

"Eoh, ada banyak hal yang kupikirkan." tutur Taehyung akhirnya.

"Tentang?" tanya Yoongi.

"Namjoon hyung!" jawab Taehyung jujur. Yoongi menatapnya penuh selidik. "Ayahku memintaku untuk mengawasi Namjoon hyung."

"Kenapa?" tanya Yoongi tak paham.

"Namanya—terdaftar di salah satu buronan mafia." Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Hey man~ itu tidak mungkin!" Yoongi mencoba untuk menangkis ucapan Taehyung.

"Apa kau tahu? Namjoon hyung, pernah menghack seisi data di RC?" Yoongi mengangkat sebelah alisnya tertarik.

"Benarkah? Dia terlalu muda untuk melakukan semua itu. Tapi, apakah ayahnya tahu?"

"Ayahku, mencoba untuk menyembunyikannya dari Seungwon samchon, untuk sementara!"

"Lalu, tahu darimana ayahmu?"

"Hey man~ apa kau lupa ayahku adalah Perdana Menteri ternama di Korea Selatan?" bangga Taehyung penuh kesombongan. Yoongi hanya memutar kedua bola matanya malas.

"Lalu?"

"Dia tahu saat ada sebuah kelompok mafia yang masuk ke Incheon secara illegal, mereka datang dengan berbondong dan banyak mafia yang tertangkap. Dari situlah, dia tahu semuanya! Karena, mafia yang tertangkap itu adalah satu kelompok organisasi!"

Yoongi terdiam sejenak.

"Apa kau tahu tentang Park Chanyeol?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya terkejut.

"Waeyo?"

"Aku pernah melihat Namjoon tampak akrab dengan Park Chanyeol."

"Benarkah?" Taehyung tampak terkejut.

"Dan, aku lebih terkejut ketika mendengar pembicaraan mereka!" lanjut Yoongi, kedua matanya menyiratkan kecemasan berlebih.

"Apa yang kau dengar hyung?"

"Bisa kau bayangkan orang yang sudah kita anggap sebagai keluarga kita sendiri dan orang lain yang sudah dianggap oleh orang yang kita sayang sebagai kakaknya sendiri, bekerjasama untuk membunuh seseorang?" Taehyung mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Kata yang Yoongi lontarkan terlalu berbelit untuk ia cerna dengan cepat.

"Apa maksudmu, hyung?" tanya Taehyung bingung. Yoongi menghela nafas.

"Namjoon dan Chanyeol berencana untuk membunuh Park Jimin!"

"MWO?!"

.

.

.

.

.

"Bagaimana rasanya?" tanya Namjoon pada Jimin. Kini, keduanya tengah berjalan beriringan di dini hari. Jimin yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya setelah menaikkan tudung jaketnya sementara, Namjoon yang mengenakan mantel hitamnya hanya memasukkan tangan kirinya ke dalam saku mantelnya.

"Apanya?" Jimin balik bertanya.

"Setelah ingat semuanya." jawab Namjoon. Jimin menengadahkan kepalanya, menatap langit yang tak begitu segelap sebelumnya.

"Sakit tentu saja." balas Jimin akhirnya. Namjoon melirik kearah Jimin sekilas dan tersenyum simpul.

"Sakit mana, dari efek amnesiamu dengan semua kenyataan ini?" Jimin terkekeh sejenak.

"Keduanya tak sesakit saat aku kehilangan kedua orang tuaku. Saat kecelakaan itu!" jawab Jimin jujur. Jimin menundukkan kepalanya, menatap setiap tapak kakinya yang berjalan beriringan dengan Namjoon. "Saat aku mengingatnya, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit. Kau tahu seperti apa, hyung?" tanya Jimin sedikit mengalihkan pandangannya pada Namjoon, namun kemudian langsung menatap lurus ke depan.

"Seperti kau baru saja tidur dan mengalami mimpi buruk tapi saat bangun kau tidak bisa menemukan siapapun. Sendiri. Sejujurnya, aku selalu ketakutan setiap malam. Aku takut menghadapi mimpi buruk itu sendirian."

"Rasanya wajar jika kau merasakan hal semenyakitkan itu!"

"Huh?" Jimin mengerjapkan kedua matanya lucu. Namjoon tersenyum tampan.

"Karena, ada banyak anak diluar sana yang mengalami mimpi buruk dan orang tua mereka selalu datang untuk menenangkan bahkan meskipun begitu, masih ada juga diantara mereka yang masih merasa ketakutan. Jadi, wajar rasanya jika kau merasakan semua itu!" Jimin mengangguk menyetujui.

"Hm, omong-omong bagaimana hubunganmu dengan Seokjin hyung? Ada perkembangan?" tanya Jimin tiba-tiba yang membuat Namjoon menghentikan langkahnya seketika begitu pula dengan Jimin.

"Ada apa dengan Seokjin?" tanya Namjoon berusaha untuk menutupi kegugupannya. Jimin terkekeh.

"Pembohong yang buruk!" remeh Jimin.

"Ani~ siapa yang—"

"Yah, aku tahu kalian berdua itu sama-sama tidak peka! Payah!" cibir Jimin yang menbuat Namjoon menatap pemuda manis itu kesal.

"Yak! Darimana kau berucap sepedas itu?! Bagaimanapun, aku ini lebih tua darimu. Seperti Yoongi hyung saja!" gumam Namjoon tanpa sadar. Jimin terdiam, ia menarik nafas dan kembali menatap langit.

"Yoongi hyung, sedang apa ya?" tanya Jimin lirih. Namjoon yang melihatnya pun hanya tersenyum simpul.

"Kau merindukannya?" Jimin mengalihkan pandangannya pada Namjoon dan mengangguk kecil. "Aku yakin, dia juga merindukanmu!"

"Benarkah?" tanya Jimin agak ragu.

"Apa hubungan kalian agak merenggang?" Jimin mengedikkan bahunya.

"Sepertinya."

"Apa Yoongi hyung sudah tahu jika kau sudah ingat semuanya?" Jimin mengangguk kecil. "Aku tebak, dia pasti sangat cemas!"

"Yap! 100 untukmu, hyung!" balas Jimin sekenanya.

"Apa kau mencintai Yoongi hyung?"

Deg!

Jimin termenung dengan pertanyaan yang selalu ia pertanyakan di dalam hatinya selama ini.

"Cinta ya—" gumam Jimin tak tahu harus menjawab apa. "Jika kau Yoongi hyung, aku akan menjawabnya dengan senang hati."

"Sayang sekali, sepertinya aku membuatmu kecewa." Jimin tertawa lantang.

"Kalau begitu bagaimana dengan Seokjin hyung? Apa kau mencintainya, hyung?" balas Jimin, Namjoon tersenyum simpul.

"Jika kau Seokjin hyung, aku akan menjawabnya dengan senang hati." Namjoon menggunakan kalimat yang sama dengan Jimin yang hal itu membuat Jimin hanya terkekeh mendengarnya.

"Dasar tidak kreatif!" cibir Jimin yang tak Namjoon balas dan selanjutnya hanya ada keheningan diantara mereka berdua.

"Jimin!" panggil Namjoon setelah sekitar 10 menit dilalui diam oleh keduanya.

"Nde?" sahut Jimin cepat.

"Kapan kita akan menyelamatkan ibuku?" tanya Namjoon. Jimin terdiam sejenak sebelum kembali menghentikan langkahnya dan menatap Namjoon yakin.

"Besok hyung!" jawab Jimin penuh keyakinan yang membuat Namjoon membulatkan kedua matanya tak percaya. "Besok malam, kita membebaskan ibumu!" Namjoon mengerjapkan kedua matanya terkejut, mencerna kata per kata dari jawaban yang Jimin berikan atas pertanyaannya. Apa dia sudah gila? Besok malam?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam selanjutnya datang dengan cepat. Dan pada saat itulah, Namjoon tanpa henti merutuki Jimin yang dengan seenaknya memutuskan tanpa merencanakannya dengan matang terlebih dahulu. Oh, ayolah—apa dia pikir dia dan Namjoon hendak piknik? Apa perjalanan malam ini untuk bersenang-senang? Namjoon benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda manis yang kini tengah tersenyum manis di sampingnya.

"Kau tahu, ini terlalu cepat!" dan percayalah kalimat itu sudah Jimin dengar sejak semalam. Jimin berdecak dan menatap Namjoon dingin, Namjoon yang ditatap demikian pun entah kenapa membuat bulu kuduknya meremang.

"Cepat? Kau itu yang terlalu lama! Dasar, anak durhaka!" cibir Jimin benar-benar kesal.

"Aku tidak masalah jika kau punya rencana! Kau pikir mudah masuk kesana? Apa kau akan mengetuk pintu rumah mereka tok tok tok! Permisi, aku ingin menyelamatkan ibunya Namjoon hyung, bolehkah aku masuk?" parodi Namjoon yang mau tak mau membuat Jimin sedikit tertawa.

"Dengar Kim Namjoon-ssi!" ujar Jimin penuh penekanan. "Jika aku sendiri, aku tidak mungkin akan senekat ini. Lagi pula, aku juga tidak tahu dimana ibumu berada!" Namjoon membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Tapi, kau tahu!" lanjut Jimin menyakinkan. "Kau tahu dimana ibumu, dan aku yakin kau juga tahu bagaimana cara kita masuk tanpa harus diketahui oleh siapapun!"

"Jadi, kau memintaku untuk merencanakan semuanya?" Namjoon menatap Jimin tak percaya.

"Aku mengandalkan si peringkat satu semester ini!" yakin Jimin kemudian berjalan mendahului Namjoon.

"Yak! Yak! Yak! Ck! Aish! Dasar bocah!" geram Namjoon berlari menyusul langkah Jimin besar-besar.

Namjoon menahan tangan Jimin untuk berhenti berjalan. Jimin pun menurut sementara Namjoon menyetop taksi yang kebetulan datang kearah mereka. Namjoon membuka pintu belakang mobil dan masuk terlebih dahulu, diikuti Jimin yang langsung masuk dengan cepat.

"Hm, pakailah!" Namjoon menyerahkan sebuah masker hitam pada Jimin. Sementara, Jimin hanya mengerjapkan kedua matanya bingung. Namjoon menghela nafas ia kemudian memakaikan masker itu pada Jimin tak lupa juga menaikan tudung jaket si pemuda manis.

"Apapun yang terjadi jangan turunkan tudung jaketmu dan jangan lepas maskermu!" titah Namjoon, Jimin hanya mengangguk patuh. "Aku menjagamu, jadi jangan jauh-jauh dariku. Mengerti?" Jimin mengangguk lagi dan membiarkan Namjoon bicara pada sopir taksi kemana tujuan mereka.

Selama hampir 45 menit perjalanan, Namjoon dan Jimin akhirnya turun di depan sebuah toko serba guna yang sudah tutup mengingat jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

"Kita jalan sebentar, bisa bahaya jika ada yang melihat kita!" Jimin hanya mengangguk, ia memperlambat langkahya. Namjoon yang menyadari hal itu pun sontak menoleh dan berniat bertanya sebelum suara Jimin mendahuluinya.

"Ada berapa penjaga di depan?" tanya Jimin. Namjoon tampak mengingat.

"Enam di depan gerbang."

"Belakang?"

"Empat jika tidak salah."

"Bagaimana di dalamnya?"

"Di halaman ada banyak penjaga, mungkin mencapai 20-an. Di depan pintu rumah utama juga ada empat."

"Bagaimana dengan letak dimana ibumu berada? Apa juga dijaga?"

"Dulu. Tapi, sekarang sudah tidak."

"Dimana letak persisnya?"

"Di pusat rumah!" Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Rumah itu, bentuknya berbeda dari kebanyakan rumah biasa. Bentuknya persegi dengan pusatnya yang kosong dan hanya ada tiga rumah kecil di dalamnya."

"Jadi, dari tiga rumah kecil itu salah satunya dihuni oleh ibumu?" Namjoon memgangguk. "Bagaimana keadaan di belakang?"

"Tak seramai di depan. Tapi—"

"Waeyo?"

"Disitulah, keluar masuk mafia yang bekerja bersamanya." Jimin mengangguk paham.

"Dimana biasanya kau masuk, hyung?"

"Aku biasa masuk dari pintu depan."

"Selain itu, apa disisi rumahnya ada pintu yang minim dikunjungi."

"Tidak! Bahkan, rumah itu tidak memiliki pintu darurat!"

"Baiklah, kalau begitu—kita lewat pintu depan!"

"Apa kau gila? Penjaganya lebih banyak daripada pintu belakang!"

"Tapi, penjaganya akan lebih ketat di belakang!"

"Maksudmu?" tanya Namjoon tak mengerti.

"Seperti yang kau katakan, hyung. Pintu belakang digunakan untuk keluar masuk orang-orang yang bekerja dengannya. Bukankah itu artinya keketatannya akan berkali lipat daripada di depan meskipun pintu depan dijaga banyak orang sekalipun." Namjoon mengangguk membenarkan.

"Tapi, bagaimana cara kita masuk?" tanya Namjoon. Jimin mengangkat sebelah alisnya.

"Kau tanya padaku? Mana aku tahu!"

"Aish, jinjja! Bocah ini!" Jimin menunjukkan cengirannya.

"He he... Kau yang biasa masuk kesana, seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan hyung."

Namjoon berfikir sejenak, dan berjalan mendahului Jimin. Jimin pun turut mengekor. Hanya ada keheningan diantara mereka sampai akhirnya langkah keduanya terhenti saat melihat bangunan besar yang dijaga ketat tak jauh dari pandangan mereka.

"Apa mereka tidak akan tidur semalaman?" tanya Jimin konyol. Namjoon terkekeh sejenak.

"Apa kau pernah melihat bodyguard yang tidur berjamaah?" Jimin tertawa kecil sampai kedua matanya tinggal segaris, sangat manis bahkan Namjoon yang melihatnya pun ikut tersenyum karena melihat eye smile Jimin yang sangat menggemaskan.

"Bagaimana jika kau lewat tembok samping?" tanya Namjoon.

"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri. Namjoon menganngguk. "Lalu, bagaimana denganmu, hyung?"

"Aku akan lewat pintu depan."

"Sendiri?" Namjoon mengangguk.

"Tapi, bagaimana jika mereka curiga?"

"Percayalah, justru di jam-jam seperti ini aku datang menemui mereka. Karena, kau tahu bagaimanapun juga aku masih seorang pelajar 'kan?" Jimin mengangguk paham. "Kalau begitu, ikuti aku sekarang!" ajak Namjoon berjalan mendahului Jimin menuju sisi rumah yang ditembok sekitar lima meter.

"Ini terlalu tinggi, hyung. Bagaimana bisa aku memanjat masuk?" tanya Jimin.

"Aku yakin, kau pasti bisa menanganinya." yakin Namjoon. Ia sesekali mendongak untuk menatap atap rumah yang terlihat dan mengingat dimana letak yang tepat untuk Jimin masuk tanpa diketahui orang-orang.

"Apa dirumah itu juga ada cctv?" Namjoon mengangguk. "Jadi, apa kemungkinan besar kita juga bisa tertangkap?" pertanyaan Jimin kali ini sontak membuat Namjoon menghentikan langkahnya.

"Yang pasti, aku tidak akan membiarkanmu tertangkap." Jimin tersenyum manis.

"Aku juga tidak akan membiarkan diriku tertangkap. Nanti, aku akan beraksi keren di dalam sana. Jadi, harap antisipasinya ya, hyungnim~" goda Jimin. Namjoon terkekeh, merasa lega karena sedari mereka berangkat Jimin tak terlihat gugup sekalipun.

"Kenapa kau tidak merasa takut?" tanya Namjoon penasaran.

"Untuk apa takut? Aku tidak sendiri 'kan?" balas Jimin. Namjoon mengangguk membenarkan seraya membenarkan beanie hitam yang Jimin kenakan dengan benar yang ditutup Jimin dengan tudung jaket yang ia kenakan.

"Tunggu disini sebentar!" titah Namjoon setelah menyempatkan menepuk-nepuk kepala Jimin sayang. Jimin diam ditempatnya mematai apa yang akan Namjoon lakukan. Namjoon memasuki sebuah pekarangan rumah kosong di samping rumah yang akan Jimin dan Namjoon masuki. Tak lama kemudian, Namjoon kembali dengan membawa sebuah tali tambang terikat dan langsung menyerahkannya pada Jimin.

"Masuklah pakai ini! Kau lempar ke dalam saat aku melempar batu kemari, okay? Aku akan menahannya dari dalam!" Jimin mengangguk setelah Namjoon mengambil beberapa batu dan memasukkannya ke dakam saku mantelnya. "Tetap disini. Jangan kemana-mana, dan jangan berisik!" Jimin memutar kedua bola matanya malas.

"Ayolah, hyung. Aku bukan anak kecil! Cepat masuk!" Jimin mendorong tubuh Namjoon agar segera pergi dari hadapannya.

.

.

.

.

.

Jimin menunggu gusar di tempat Namjoon meninggalkannya. Terhitung, sudah setengah jam ia menunggu tapi tak ada tanda-tanda lemparan batu atau semacam kode dari Namjoon. Membuatnya, menggigit bibir bawah cemas hanya karena membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Namjoon.

Jimin menghembuskan nafasnya perlahan. Menautkan kedua tangannya yang berkeringat dingin. Ia benar-benar tak bisa sabar menunggu. Jika seperti ini, bisa-bisa ia nekat untuk masuk ke dalam sana. Entah bagaimanapun caranya.

Tuk!

"Aww!!" ringis Jimin ketika sebuah kerikil tepat mengenai kepalanya.

"Ssst~ Jiminie, jangan teriak!" bisik Namjoon memelankan suaranya di balik dinding yang menghalangi mereka berdua.

"Namjoon hyung?" balas Jimin merapatkan tubuhnya ke dinding.

"Cepat lempar talinya!" titah Namjoon tak sabar.

Tanpa banyak bicara, Jimin pun segera melempar tali yang sedari tadi ia letakkan di dekat kakinya.

"Naiklah, Jiminie! Aku menahannya dari sini!" lanjut Namjoon. Jimin menurut dan memanjat dinding dengan bantuan tali tambang itu sampai ia benar-benar berada di atas tembok.

"Lompatlah!"

"Mwo?!" Jimin membulatkan kedua matanya saat dengan seenaknya Namjoon menyuruhnya untuk melompa dari ketinggian lima meter. Sungguh, ini benar-benar tinggi.

"Cepat! Sebelum ada yang melihatmu!" titah Namjoon. Jimin menggigit bibir bawahnya gugup. "Lompat—dan aku akan menangkapmu! Percaya padaku, Jiminie!" Jimin menghembuskan nafasnya perlahan, menenangkan diri. Kemudian, ia memejamkan kedua matanya menyakinkan dirinya untuk terjun dan percaya pada Namjoon yang akan menangkapnya dengan tepat di bawah sana. Jimin menghitung mundur dalam hati, hitungan terakhir masih dengan kedua matanya yang terpejam ia langsung melompat dan—

Hap!

Namjoon berhasil menangkap tubuhnya dengan tepat.

"Kenapa kau ringan sekali?" tanya Namjoon. Jimin membuka kedua matanya dan seketika, ia langsung memukul bahu Namjoon keras.

"Jahat! Bagaimana jika kau tidak bisa menangkapku?" kesal Jimin beranjak turun dari gendongan Namjoon.

"Hey, tenanglah. Kau sudah selamat. Aku 'kan sudah bilang, cukup percaya padaku. Kau akan baik-baik saja!" Namjoon berujar menenangkan sementara Jimin menetralkan nafasnya yang terengah.

"Sudah tenang?" tanya Namjoon. Jimin mengangguk.

"Itu tinggi sekali!" balas Jimin kembali menatap tembok yang baru saja ia lewati. Namjoon terkekeh.

"Maaf sudah membuatmu takut!" sesalnya.

"Dan, kenapa kau lama sekali hyung? Aku hampir mati menunggumu disana!"

"Kau pikir masuk ke rumah ini tidak ada prosesnya?" tanya Namjoon. "Tidak semudah masuk rumahmu sendiri!" Jimin mengangguk paham.

"Lalu, bagaimana sekarang hyung? Bagaimana cara kita masuk untuk menemui ibumu?" tanya Jimin serius. Namjoon berfikir sejenak. Tepatnya, mengingat-ingat daerah mana yang bisa ia lewati tanpa diketahui orang-orang rumah. Karena, bagaimanapun juga keberadaan Jimin disini akan menjadi kegemparan dari seluruh penjuru rumah mewah ini.

"Follow me!" ajak Namjoon menarik tangan Jimin agar tetap berada di jangkauannya. Jimin menurut dan mencoba untuk mengimbangi langkah terburu Namjoon.

Namjoon membawa Jimin ke sisi rumah yang cahayanya tidak seterang halaman depan atau belakang, tapi cukup untuk menerangi langkah mereka. Namjoon menghentikan langkahnya sejenak, menengok kesana kemari untuk memastikan keadaan. Setelah yakin, tidak ada siapapun kecuali ia dan Jimin, Namjoon segera membawa Jimin ke jendela panjang yang letaknya tak jauh dari mereka berdiri.

Tetap dengan tangan Jimin yang berada digenggamannya, Namjoon mencokel sisi jendela itu dengan pisau lipat yang selalu ia bawa. Selanjutnya, setelah berhasil terbuka sedikit demi sedikit, Namjoon mengangkat jendela itu tinggi-tinggi dan langsung masuk melalui jendela yang berhasil ia buka.

"Masuklah!" Namjoon menarik tangan Jimin agar Jimin lebih mudah masuk.

Jimin menghela nafas lega dan segera mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah yang menurutnya bentuk dekorasinya sedikit unik dibandingkan dengan rumah-rumah pada umumnya.

"Kau baik?" tanya Namjoon memastikan karena ia merasakan tangan Jimin yang berada digenggamannya terasa dingin. Jimin mengangguk cepat meskipun sebenarnya ia tidak baik sejak melompati pagar dinding tadi.

"Ayo kita cepat temui ibumu, hyung!" ajak Jimin tak sabar karena entah kenapa perasaan buruknya kini lebih mendominasi dibandingkan saat berangkat ke rumah ini.

Namjoon mengangguk, ia mengeratkan genggamanannya pada Jimin. Namjoon berjalan memimpin memasuki rumah yang minim penerangan apalagi jendela yang baru mereka masuki tertembus ke ruang tengah. Namjoon terus waspada jikalau ada orang yang tiba-tiba saja muncul dan mengetahui keberadaannya, keberadaan Jimin terutama.

Tap!

Tiba-tiba saja, Namjoon menghentikan langkahnya. Hal itu, membuat Jimin merasa gugup bukan main. Bagaimana jika mereka tertangkap? Bagaimana jika para penjaga tahu jika ada penyusup saat ini? Atau, bagaimana jika orang itu mengetahui keberadaannya di rumahnya? Atau—

Set!

"Hmmmp~" Jimin mengerjapkan kedua matanya saat Namjoon membawanya ke belakang lemari besar yang ada di ruang tengah, memojokkannya dan membekap mulutnya dengan sekali gerakan.

"Ssst!" Namjoon berdesis pelan, mengisyaratkan agar Jimin diam. Jimin membungkam bibirnya rapat-rapat, jantungnya berpacu begitu cepat serta keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

Namjoon melongokkan kepalanya sedikit, mematai dua sosok yang ia dengar tapak kakinya mendekati ruang tengah. Ia sama gugupnya dengan Jimin, tapi bedanya ia takut jika seisi rumah menyadari keberadaan Jimin, dimana sosok yang menjadi incaran nomor satu mereka selama delapan tahun ini.

Sekitar dua menit dalam posisi tersebut, penantian yang cukup lama bagi keduanya karena mewanti jika saja dua orang yang tadinya berjalan mendekati mereka, berhasil menangkap basah Namjoon dan Jimin, dan itu artinya bukan misi penyelamatan melainkan misi penyerahan diri namanya.

Namjoon menurunkan tangannya dari mulut Jimin yang langsung membuat Jimin menghirup nafas sebanyak-banyaknya.

"Sudah aman?" tanya Jimin. Namjoon mengangguk. Mendesah lega karena kedua orang sudah pergi menuju pintu utama.

"Kajja!" ajak Namjoon menarik tangan Jimin.

Kali ini, langkah kaki Namjoon lebih cepat dari sebelumnya. Setidaknya, ia harus mengambil kesempatan dari keadaan gelap dan sepi di dalam rumah unik ini.

Namjoon dan Jimin sama terengahnya setelah mereka berhasil melewati ruang utama dan kini keduanya sudah berada di pusat rumah, dimana tiga rumah kecil yang Namjoon maksud sebelumnya berada.

"Dimana yang dihuni ibumu, hyung?" tanya Jimin tak sabar.

"Rumah yang paling belakang!" jawab Namjoon seraya menarik tangan Jimin untuk bergerak cepat menuju rumah yang ditinggali ibunya selama hampir sembilan tahun lamanya.

Setelah sampai di depan rumah kecil yang dihuni ibunya, Namjoon merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan kunci rumah itu. Membukanya dengan tergesa seraya langsung menarik Jimin untuk masuk. Namjoon menutup pintu itu rapat-rapat. Menyandarkan tubuhnya pada daun pintu dan menarik nafas dalam-dalam.

"Sungguh, ini pertama kalinya aku merasa sangat ketakutan!" ujar Namjoon terengah. Jimin membungkukkan badannya, ikut serta menetralkan nafasnya.

"Maaf hyung, jika aku membuatmu merasa terancam!" sesal Jimin menegakkan tubuhnya membuat Namjoon merasa bersalah karena ucapan Jimin padanya.

"Hey, seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau membuat keberanianku meningkat. Aku berhutang nyawa padamu!"

"Hyung—"

"Namjoonie?" kedua pemuda berbeda umur itu menoleh ketika mendengar suara lembut menyapa anak semata wayangnya seraya berdiri rapuh menatap kedua pemuda itu bergantian.

"Eomma!" panggil Namjoon berlari menghampiri ibunya dan memeluk ibunya erat.

"Anakku~" gumam sang ibu. Jimin yang melihat interaksi ibu dan anak itu pun hanya bisa tersenyum haru.

"Ada apa nak? Dan, siapa dia?" merasa keberadaannya dipertanyakan membuat Jimin melepas maskernya tapi tetap membiarkan tudung jaketnya menutupi kepalanya. Jimin membungkukkan badannya sopan.

"Annyeongasseo, eommonim." sapa Jimin. "Bolehkah, aku memanggil anda eommonim?" tanya Jimin meminta ijin. Wanita cantik yang mungkin seumuran dengan ibunya itu pun berjalan mendekati Jimin, mengulurkan tangan rapuhnya untuk mengelus wajah manis Jimin yang nyaris tanpa cacat.

"Jiminie? Park Jimin?" Jimin tersenyum manis. "Apakah ini benar dirimu?" tanyanya ragu. Jimin mengelus tangan ibu Namjoon lembut sebagai jawaban. Kedua mata wanita itu berkaca dan tanpa ragu membawa Jimin ke dalam pelukan hangatnya.

"Maafkan aku, nak! Maaf!" isaknya yang membuat Jimin membalas pelukan sang ibu seraya mengelus punggung wanita cantik itu berulang.

"Kenapa eommonim meminta maaf? Justru, kami yang meminta maaf karena tidak datang lebih cepat." ibu Namjoon menggeleng dalam pelukan Jimin. "Eommonim, dengarkan aku!" Jimin melepas pelukannya pada ibu Namjoon dan menatapnya teduh.

"Kami berdua akan membawamu pergi dari sini. Jadi, kuatkan dirimu sebentar, hm?" kedua mata wanita cantik itu berbinar senang.

"Benarkah?" tanyanya yang kali ini mengalihkan pandangannya kearah Namjoon. Namjoon tersenyum tampan, ia mengangguk dan berjalan mendekati ibunya dan Jimin.

"Aku sudah berjanji pada eomma sebelumnya, jika aku akan membawamu keluar. Dan, ini adalah waktu yang tepat!" jawab Namjoon menatap sang ibu yakin. Digenggamnya tangan sang ibu dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan melepas tangan sang ibu apapun yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan membiarkan ibunya sendirian.

"Hyung, kita tidak bisa membuang waktu lagi. Bagaimana cara kita keluar?" tanya Jimin kembali merasa gusar.

"Kita keluar dari pintu belakang. Tak jauh dari sini." jawab Namjoon yakin.

"Tapi, bagaimana kita melewati para penjaga itu?" tanya Jimin. Namjoon berfikir sejenak.

"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kau tenang saja, malam ini kita bertiga akan keluar dengan selamat, kau dan eomma terutama!" tekad Namjoon. Jimin mengangguk percaya.

"Eomma apa kau siap?" tanya Namjoon menatap sang ibu lembut.

"Nde. Aku akan selalu siap jika ada jagoan kecilku!" Namjoon tersenyum lega begitu pula dengan Jimin.

"Eommonim tenang saja, aku dan Namjoon hyung, akan menjaga eommonim!" sahut Jimin. Ibu Namjoon mengangguk percaya.

Namjoon membuka pintu rumah kecil yang sempat dihuni ibunya dengan gerakan pelan. Ia melongokkan kepalanya terlebih dahulu, memastikan keadaan jika tidak ada para penjaga di sekitarnya. Setelah memastikan keadaan aman, Namjoon langsung melangkah keluar dengan ibunya yang berada digenggamannya dan Jimin yang mengekor di belakang ibu dan anak itu.

"Bagaimana hyung?" tanya Jimin ketika mereka bertiga berhasil keluar dari rumah kecil itu. Namjoon kembali memastikan keadaan.

"Sepi, ayo kita cepat keluar!" ajak Namjoon terburu. Ia menggenggam tangan ibunya erat dan Jimin yang berjalan di samping kanan ibu Namjoon, memegang bahu wanita cantik itu.

Akan tetapi, saat mereka sudah hampir mencapai koridor menuju pintu belakang tiba-tiba saja—

Klik!

Klik!

—lampu yang awalnya padam di bagian belakang rumah kini dihidupkan secara tiba-tiba. Hal itu membuat Namjoon dan ibunya serta Jimin menghentikan langkah mereka. Ketiganya terkejut bukan main saat melihat pemandangan mengerikan di depan mereka. Dimana, si pemilik rumah bersama ketiga tangan kanannya serta puluhan bodyguard rumahnya berdiri bak pagar dinding yang baru saja Jimin lompati beberapa waktu yang lalu.

Dan bolehkah, Namjoon mengumpat detik itu juga? Karena demi apapun! Jimin lupa mengenakan kembali masker hitamnya.

"Well well well! Lihatlah siapa yang datang!" seru si pemilik rumah yang tak lain adalah Nam Goong Won, menatap satu objek yang lebih menarik perhatiannya dibandingkan keponakannya yang jelas-jelas tengah membangkang di depan matanya. Seluruh anak buah Nam Goong Won beserta ketiga tangan kanannya, Yunho, Jiyoung dan Seunghyun semuanya menatap penuh seringai kejam kearah Jimin membuat Namjoon yang berdiri disisi kiri ibunya dibuat cemas bukan main karena saat ini bisa saja nyawa Jimin melayang di depan matanya. Dan jika semua itu terjadi, sepenuhnya adalah kesalahannya.

Berbeda dengan orang-orang yang rata-rata mengenakan pakaian hitam dimana mereka menatap Jimin penuh seringai ketertarikan, atau Namjoon dan ibunya sendiri yang menatap cemas kearah Jimin. Sementara yang menjadi objek utama saat ini hanya menghela nafas lelah. Jimin melepas tangannya dari bahu ibu Namjoon dan dengan acuh memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan.

"Woah~ dan lihatlah aku tidak menyangka akan bertemu dengan pembunuh kedua orang tuaku setelah delapan tahun lamanya. Oh, tidak! Sebenarnya ini terlalu cepat untukku!" remeh Jimin berani, Namjoon yang mendengarnya pun mengalihkan pandangannya pada Jimin tak percaya. Sementara, orang-orang di depan Jimin memandang Jimin terkejut.

"Waeyo? Terkejut? Karena aku sudah ingat semuanya?" tanya Jimin. "Hm, untuk ukuran yang selalu mengintaiku kau orang yang cukup lambat tuan Nam Goong Won!" lanjut Jimin.

"Bocah sialan! Tangkap dia!" titah tuan Nam. Jimin yang mendengarnya hanya mengangkat sebelah alisnya santai mengabaikan kepanikan dari Namjoon dan ibunya. Jimin menyeringai, kedua tangannya yang berada di dalam saku jaketnya, tepatnya kedua tangannya yang tengah menggenggam sebuah benda berukuran sama dengan bola pingpong. Jimin menarik sumbu dari masing-masing bola itu dan dalam sekejap ia langsung melemparnya kearah sekumpulan orang di depannya yang hendak menangkapnya.

"Gendong ibumu, hyung!" seru Jimin tepat saat bom asap yang ia buat sendiri memenuhi ruangan dan membutakan penglihatan orang-orang untuk sementara, mengingat begitu tebalnya dua bom asap yang baru saja Jimin lempar kearah para penghuni rumah unik ini.

.

.

.

.

.

"Sudah kubilang 'kan hyung, aku akan menunjukkan aksi heroik yang keren padamu." seru Jimin semangat setelah ia bersama Namjoon dan ibunya berhasil dari rumah yang bernuansa bagai neraka.

Namjoon yang mendengarnya hanya terdiam dan menyamankan ibunya yang berada di punggungnya, tertidur lelap.

"Jimin~" panggil Namjoon suaranya menyerupai bisikan. Jimin menoleh dan kedua matanya menangkap wajah damai ibu Namjoon di balik punggung kokoh pemuda tampan itu.

"Ibumu tidur, hyung?" Jimin membalas dengan suara bisikan. Namjoon hanya mengangguk kecil. "Pasti ibumu, sudah melewati banyak hal." gumam Jimin sedih. "Oya, hyung? Kita akan kemana? Apa kau akan langsung membawa ibumu pulang?"

"Itu tidak mungkin, Jiminie. Ayahku masih tidak tahu apapun." jawab Namjoon. Jimin berfikir sejenak.

"Jimin~" panggil Namjoon lagi. Jimin menoleh namun kali ini menangkap wajah Namjoon yang terlihat menegang.

"Kenapa kau masih bisa bersikap santai setelah apa yang terjadi tadi?" tanya Namjoon tak habis pikir. Jimin menengadahkan kepalanya, menatap langit Seoul yang berangsur biru tak segelap sebelumnya. Membuat Jimin tersadar jika malam sudah berganti pagi. Jimin memghentikan lamgkahnya, berbalik badan tanpa berniat untuk membalas pertanyaan Namjoon. Tak lama kemudian, sebuah taksi muncul dan Jimin langsung bergerak menyetop taksi tersebut. Jimin membuka pintu belakang taksi dan tersenyum kearah Namjoon.

"Cepat masuk, hyung. Ibumu kedinginan. Tidak mungkin 'kan, kita terus berjalan? Bagaimana jika mereka berhasil mengejar kita dan menangkap kita?" tutur Jimin dengan mimik lucu yang membuat Namjoon tertawa kecil.

Dengan gerakan lembut, Namjoon memindahkan sang ibu tanpa berniat untuk membangunkannya sedikitpun. Jimin tersenyum melihat sikap Namjoon pada ibunya dan saat Namjoon duduk di samping ibunya, Jimin pun langsung memasuki kursi penumpang di samping kemudi.

"Tolong, antar kami ke Road House Myeongdong." pinta Jimin pada sang sopir taksi.

Sang sopir mengangguk, ia menyetel gps serta menghidupkan kalkulasi pembayaran perjalanan.

"Kita kemana?" tanya Namjoon tak mengerti. Jimin menoleh dan tersenyum manis.

"Ke tempat aman untuk ibumu istirahat." jawab Jimin. Namjoon hanya mengangguk tak mempermasalahkan asalkan ibunya sudah baik-baik saja dan terbebas dari para iblis itu.

"Tapi, Jimin—"

"Hyung, jika kau ingin membahas tentang tadi. Jangan sekarang! Lagi pula, apa kau tidak lelah? Kita bisa istirahat beberapa menit!" potong Jimin yang dibalas helaan nafas dari Namjoon.

Setelah menghabiskan 40 menit perjalanan, taksi yang membawa Jimin, Namjoon dan ibunya akhirnya sampai di tempat tujuan. Setelah Namjoon yang memaksakan diri untuk membayar tarif taksi yang tertera pada kalkulasi. Kini, ketiganya berdiri di depan sebuah gedung apartement yang tak Namjoon tahu siapa pemiliknya.

"Ayo, eommonim kita masuk!" Jimin menggandeng ibu Namjoon dan meninggalkan Namjoon ditempatnya seorang diri. Namjoon menghela nafas dan berjalan menyusul keduanya.

"Apa eommonim lelah?" tanya Jimin perhatian. Ibu Namjoon menggeleng lemas.

"Tidak, nak. Tidak sama sekali. Terima kasih, berkatmu aku bisa keluar dari rumah itu." Jimin tersenyum manis.

"Eommonim tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tugasku dan Namjoon hyung." jawab Jimin menuntun ibu Namjoon menuju lift gedung, menunggunya sebentar sampai pintu lift terbuka.

"Sebenarnya, kau membawa ibuku kemana?" tanya Namjoon penasaran.

"Ke apartementku hyung." jawab Jimin ringan yang bersamaan dengan pintu lift terbuka. Namjoon mengekori Jimin dan ibunya masuk lift seraya Jimin yang menekan tombol 13.

"Kau punya apartement?" Namjoon kembali bertanya. Jimin hanya mengangguk.

"Aku menyewa apartement sejak tahun pertamaku di RC. Aku tidak ingin merepotkan ibu panti saat libur musim dingin, jadi aku memutuskan untuk menyewa apartement disini. Lagi pula, harganya juga tidak begitu mahal."

"Tapi, darimana kau mendapat uang?" tanya Namjoon cemas. Jimin tersenyum kecil.

"Kerja tentu saja." jawab Jimin mengerling kearah Namjoon dan merangkul ibu Namjoon penuh kasih. Namjoon tersenyum simpul dan menggeleng heran. Ia benar-benar mengagumi sosok Jimin yang apa adanya dan tak merasa takut pada hidupnya yang penuh kesendirian dan justru terus hidup bagai aliran air yang tak merasa gentar meskipun air itu mengalir melewati jalan yang menakutkan dan tetap menghadapinya tanpa merasa putus asa sedikitpun.

Ting!

Suara pintu lift terbuka, membuyarkan lamunan Namjoon bahkan ia tak sadar jika Jimin sudah berjalan meninggalkannya bersama dengan ibunya.

"Dasar bocah!" gumam Namjoon segera melangkahkan kakinya keluar sebelum pintu lift tertutup.

Jimin menekan password apartementnya. Membiarkan pintunya terbuka karena ia tahu Namjoon masih berada di belakang sana. Dengan lembut, Jimin menuntun ibunya masuk ke apartement minimalisnya.

"Untuk sementara, eommonim bisa tinggal disini." ujar Jimin. Ibu Namjoon menatap Jimin dengan kedua matanya yang berbinar penuh haru. Diraihnya kedua tangan Jimin, dikecupinya bergantian tangan mungil itu.

"Terima kasih, nak. Kau benar-benar anak yang baik. Seojoon dan Jiwonie pasti sangat bangga padamu." Jimin tersenyum lembut merasakan hangatnya tangan ibu Namjoon yang mengelus pipinya penuh kasih sayang.

"Tidak seharusnya, eommonim berterima kasih. Sudah sepantasnya Namjoon hyung, aku bahkan semuanya untuk melindungi eommonim." kedua mata ibu Namjoon berkaca, kemudian ia berhambur memeluk Jimin dan Jimin dengan senang hati membalas pelukan hangat itu. Namjoon yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum haru. Senang rasanya melihat ibunya yang sudah kembali dan senang rasanya melihat Jimin yang memeluk ibunya sepertinya ibunya sendiri.

Jimin mendongakkan kepalanya untuk menatap Namjoon yang berdiri di ambang pintu. Jimin tersenyum bahagia seraya berujar tanpa suara—

"Kupinjam ibumu sebentar."

—yang membuat Namjoon terkekeh dan mengangguk dengan senang hati. Ia tahu, Jimin pasti sedang merindukan ibunya.

"Aku yakin, kau pasti tidak pernah keluar sepagi ini 'kan, hyung?" tebak Jimin. Namjoon menggelengkan kepalanya malas. Kini, kedua pemuda berbeda umur itu tengah berjalan menyusuri trotoar untuk membeli bahan makanan, tapi sebelum itu mereka akan mampir ke RC sebentar untuk mengambil jadwal masuk yang terhitung kurang dua minggu lagi libur musim panas usai.

"Terserah apa pradugamu!" desis Namjoon lelah. Jimin tertawa menang.

"Kau sudah kuberitahu password apartementku, jadi sering-seringlah mengunjungi ibumu. Dan, kapan kau akan mengatakannya pada ayahmu?" tanya Jimin. Namjoon terdiam sejenak.

"Mungkin, sampai ibuku siap. Aku tidak yakin bagaimana reaksi ayahku nanti." Jimin hanya mengangguk paham. Jika begitu ceritanya, itu sudah urusan pribadi kedua orang tua Namjoon sendiri.

"Dan, katakan padaku!" ujar Namjoon menoleh kearah Jimin tajam. "Kenapa kau masih bersantai seelah kejadian semalam? Mereka tahu tentangmu, Jiminie.. Mereka tahu kau sudah ingat semuanya. Itu artinya mereka akan mengincarmu!" seru Namjoon cemas bukan main.

Jimin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya membuat Namjoon benar-benar geram dengan sikap Jimin yang sangat tenang disaat mungkin saja nyawanya berada dalam bahaya hanya dalam hitungan detik.

"Bukankah mereka sudah mengincarku sejak delapan tahun yang lalu?" jawab Jimin akhirnya, Namjoon mengerutkan keningnya tak mengerti. "Tak perlu mencemaskan apa yang belum terjadi, hyung. Cemaskan saja apa yang sekarang. Aku tahu, mereka mungkin berniat untuk membunuhku. Tapi, aku tidak pernah takut pada mereka. Aku tidak mau bersembunyi. Karena, jika aku terus bersembunyi sampai saat itulah mereka tidak akan pernah berhenti untuk mengejarku."

"Tapi, Jimin—"

"Kau tahu hyung, apa ketakutan yang paling besar yang tidak bisa kau taklukan?" tanya Jimin memotong ucapan Namjoon. "Itu adalah ketakutan pada dirimu sendiri. Kau tak bisa mengenali dirimu sendiri dan berakhir memilih jalan yang salah." lanjut Jimin yang entah kenapa ucapannya mengandung sindiran pada Namjoon. Dan, Namjoon tahu betul jika kalimat Jimin itu ditunjukkan untuk dirinya.

Namjoon hanya terdiam dan membiarkan Jimin berjalan mendahuluinya. Ia menundukkan kepalanya menatap kedua kakinya tak berkedip. Dan detik selanjutnya, ia mengangkat kepalanya cepat.

'Gomapta, Jiminie... Gomapta~'

Namjoon bergumam lirih sebelum berlari dan menyusul langkah Jimin yang sudah hampir sampai di tikungan kompleks RC.

"Ah, melihat sekolah tercinta kita aku jadi rindu hukuman." gumam Jimin menatap begitu megah dan besarnya area sekolah meskipun ia belum sampai di gerbang utama yang jaraknya sekitar 100 meter dari langkahnya saat ini. Namjoon yang sudah berjalan disampingnya hanya menggelengkan kepalanya heran.

"Kau rindu sekolah hanya untuk dihukum?" tanya Namjoon. Jimin terkekeh kecil.

"Hyung, masa mudamu akan membosankan jika kau tak pernah merasakan hukuman dari ketua dewan siswa." ucap Jimin bangga.

"Konyol!" desis Namjoon tak percaya.

"Percayalah, sekali kau dihukum—kau akan ketagihan!" Namjoon menatap Jimin horor.

"Hey, mana ada siswa normal yang merasa ketagihan dengan hukuman? Lagi pula, kau itu siswa berprestasi, kenapa kau nakal sekali?"

"Justru itu karena aku siswa berprestasi, aku berani berbuat nakal. Kan kedengarannya keren, si peringkat satu yang bandel. Sekali-kali kau harus mencobanya, hyung." Jimin menaikkan sebelah alisnya konyol sementara Namjoon hanya menghela nafas, ia pikir Jimin itu memiliki sisi dewasa, tapi dibandingkan dewasa tampaknya sisi childishnya lebih mendominasi. Yah, benarlah jika begitu karena bagaimanapun juga Jimin kan lebih muda darinya.

"Lagi pula, menjadi anak nakal itu wajar hyung."

"Wajar katamu?" Jimin mengangguk semangat sampai ia tak sadar jika ia dan Namjoon sudah hampir sampai di gerbang utama RC.

"Terutama anak laki-laki. Anak laki-laki yang nakal itu lumrah," Namjoon menatap Jimin horor. Bocah disampingnya ini benar-benar. Namjoon tersenyum kecil, menatap lurus gerbang RC yang sudah ada di depan matanya. Dan di depan matanya pula, pemandangan yang tak pernah ia harapkan berada disana. Hal itu, sontak membuat Namjoon menghentikan langkahnya ketika ada lima pasang mata yang menatapnya kelewat tajam sementara Jimin masih dengan dunianya yang mengoceh perihal anak laki-laki yang harus bersikap nakal di sekolah.

"Dan anak laki-laki itu—Namjoon hyung?" Jimin menatap heran kala Namjoon menghentikan langkahnya tiba-tiba dengan wajahnya yang mengeras menatap lurus ke depan, membuat Jimin ikut serta mengalihkan pandangannya pada apa yang membuat wajah Namjoon terlihat ketakutan seperti itu.

Deg!

Dan tepat saat itulah, kedua mata sipit Jimin bertemu tatap dengan kedua mata tajam yang saat ini juga tengah menatapnya kelewat tajam. Jimin menelan salivanya susah terlebih ketika sosok yang diam-diam sedang ia rindukan berjalan menghampirinya.

"Yoon-Yoongi hyung?" panggil Jimin terbata.

"Darimana kau?" tanya sosok yang tak lain adalah Min Yoongi. Ditatapnya Jimin dingin sementara di belakang Yoongi, ada Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook yang menatap Namjoon dan Jimin dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Dari rumah." jawab Jimin berbohong dan mencoba untuk menutupi kegugupannya.

"Bohong!" seru Yoongi meninggikan suaranya.

"Darimana kau semalaman dan—dan kenapa kau bisa bersama dengan bajingan ini?!" tanya Yoongi menunjuk Namjoon keji.

"HYUNG!" seru Jimin merasa ucapan Yoongi terlalu kasar. "Dia Namjoon hyung! Sahabat kecilmu, kenapa kau menyebutnya seperti itu?"

"Kau membelanya?!" seru Yoongi emosi.

"Kau tahu apa yang dia lakukan selama ini? Dia dan Chanyeol berniat untuk membunuhmu Park Jimin!" seru Yoongi kalap. Jimin dan Namjoon membulatkan kedua matanya, sementara Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook masih tetap diam menonton. "Apa kau tahu, semalaman suntuk kami mencarimu? Semua orang! Tanpa terkecuali! Dan apa kau tahu, kakekmu mencemaskanmu? Karena kau hilang tanpa kabar dan sekarang? Kau muncul bersama dengan pembunuh ini?!"

"HYUNG!" seru Jimin menatap Yoongi tak kalah tajam. "Jangan menyebut Namjoon hyung sebagai pembunuh jika kau tidak tahu apa-apa!" desis Jimin.

"Jimin sudah!" Namjoon mencoba untuk melerai.

"DIAM HYUNG!" Jimin membentak Namjoon. Kedua tangannya mengepal.

"Kau membelanya, huh?" remeh Yoongi.

"Aku tidak pernah berniat untuk membela siapapun!" balas Jimin penuh penekanan. "Tapi, aku tidak suka mendengar ucapan kasarmu tentang dirinya."

"Jimin—"

"AKU BILANG DIAM HYUNG!" Jimin kembali membentak Namjoon yang masih berusaha keras untuk meredakan api antara Jimin dan Yoongi.

"Ucapan kasar? Aku hanya bicara fakta!"

"Fakta?!" tanya Jimin meninggikan suaranya. "Apa kau tahu, kenapa Namjoon hyung melakukan semua itu? Karena untuk ibunya, hyung!" Yoongi serta Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook membulatkan kedua mata mereka terkejut. "Ibunya masih hidup dan dalam bahaya! Dia sebagai anak hanya berusaha untuk melindungi ibunya bagaimanapun caranya!"

"Tapi, tidak juga dengan membunuhmu!" seru Yoongi emosinya kembali menguasai. Jimin menggertakkan giginya.

"Aku bahkan rela jika dia harus membunuhku agar ia bisa bersama dengan ibunya!" desis Jimin membuat keenam orang di depannya menatapnya tak percaya. Namjoon dan Yoongi terutama.

"PARK JIMIN!" seru Yoongi habis sudah kesabarannya.

"Dengar hyung!" Jimin menyela Yoongi yang akan kembali menyerukan entah apa padanya. "Sekali saja, pikirkan bagaimana jika kau berada di posisinya? Apa yang tidak lebih penting dari ibumu, hyung? Bahkan, jika kau yang berada di posisi Namjoon hyung—tidak hanya nyawaku yang akan kuberikan padamu secara cuma-cuma. Semuanya, yang bisa menukarkan keselamatan ibumu. Apapun itu. Aku rela!" Yoongi terdiam, tepatnya ia hanya menenangkan diri.

"Tapi, tetap saja apa yang dilakukan bajingan ini selama ini, tetap salah!"

"Hyung~" sela Jimin lembut. Jimin menarik nafas dan menjernihkan pikirannya sendiri, ia jadi heran bagaimana ia bisa jatuh hati pada sosok dingin dan tak berperasaan seperti Min Yoongi ini?

"Hyung, aku—"

"Diam!" potong Yoongi kali ini menatap Namjoon tajam. Yoongi bergerak mendekati Namjoon dengan kedua tangannya terkepal dan tanpa semua orang duga—

Bugh!

"HYUNG!" seru Jimin langsung menahan Yoongi yang terlihat kesetanan setelah berhasil memukul wajah Namjoon, hingga pemuda tampan itu tersungkur. Seokjin yang refleks bergerak ingin menolong Namjoon seketika terhenti kala Taehyung tiba-tiba menahan tangannya dan menggeleng.

"Hyung, apa yang kau lakukan?!"

"Dia pantas mendapatkannya!"

"Kau yang tidak pantas melakukan itu!" bentak Jimin berdiri di depan Yoongi, membelakangi Namjoon. "Aku sudah bilang padamu, cobalah untuk mengerti." lanjut Jimin bersamaan dengan Namjoon yang berdiri seraya menyeka darah yang keluar disudut bibirnya.

"Ya, aku bisa mengerti posisinya itu. Tapi, bagaimana selanjutnya? Bagaimana jika dia tetap sebrengsek sebelumnya?" tanya Yoongi yang membuat Jimin menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Hyung, apa kau lupa siapa Namjoon hyung? Kau sudah mengenalnya lebih lama dari kau mengenalku, Jin hyung, Hobi hyung dan Jungkookie. Dan, kau masih tidak mempercayainya? Dan, kau Taehyung? Apa kau juga tidak mempercayainya?" kali ini Jimin meminta pendapat Taehyung tiba-tiba. Taehyung terkesiap, menatap Namjoon, Jimin dan Yoongi bergantian.

"Aku ingin percaya padanya." jawab Taehyung lirih. "Tapi, bagaimanapun juga dia sudah menjadi buronan."

"Mwo?!" Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya, kini ia menoleh kearah Namjoon yang hanya diam menunduk. Terlalu malu untuk menatap keenam temannya, terutama Jimin.

"See? Kau dengar bukan? Dia tak ayal hanya seorang kriminal sekarang!" sarkas Yoongi. Jimin memutar kedua bola matanya jengah dan kembali menatap Yoongi.

"Lalu, jika dia seorang kriminal apa itu juga menjadi alasanmu untuk tetap tidak percaya padanya?" balas Jimin. Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Astaga, Jimin~ kenapa kau sampai segitunya membelanya?" tanya Yoongi tak mengerti.

"Karena apa yang Namjoon hyung lakukan selama ini, itu bukan sepenuhnya keinginannya hyung! Dia melakukannya hanya untuk melindungi ibunya."

"APA?!" Jimin, Yoongi dan Namjoon sontak menoleh keasal suara yang berasal dari belakang mereka sementara Seokjin, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook membulatkan kedua mata mereka terkejut kala melihat para orang tua yang berdiri di depan mereka. Dan, kenapa mereka tidak menyadari jika tak jauh dari mereka ada jajaran mobil yang berhenti?

"Appa~" lirih Namjoon suaranya tercekat saat melihat ayahnya dengan kedua matanya berkaca berjalan mendekat kearah Jimin. Meraih kedua bahu pemuda itu dan mengguncangnya kasar.

"Apa yang baru saja kau katakan, Park Jimin?!" seru Seungwon membuat Jimin memejamkan kedua matanya dan menahan sakit karena rematan dari tangan besar Seungwon yang begitu erat di kedua bahunya.

"Kim Seungwon!" seru Jaeduck, ia berjalan tergesa dan menghempaskan tangan Seungwon kasar.

"Jangan pernah kau coba untuk menyakiti Jiminie!" gertak Jaeduck. "Kau tidak apa, nak?" Jimin mengangguk dan menundukkan kepalanya, menghindari tatapan para orang tua yang hampir seluruhnya menatap kearahnya.

"Kim Namjoon!" panggil Seungwon tegas. Ditatapnya anak semata wayangnya galak. "Katakan padaku, apa maksud ucapan Park Jimin!" titah Seungwon tak ingin dibantah.

"Appa... Sebenarnya—"

Ckiit!

Belum sempat Namjoon menjelaskan semuanya pada ayahnya, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka. Jimin yang mendengar suara mobil berhenti, seketika mendongak dan membulatkan kedua matanya terkejut menyadari bahwa mobil itu adalah mobil kakeknya.

"Haraboji~" gumam Jimin terkejut bukan main.

Pintu kemudi mobil terbuka, menampilkan Hyukjae yang dengan cekatan membuka pintu belakang mobil dan membantu kakek Jimin keluar dari mobilnya. Dan yang membuat Jimin merasa cemas dengan kedatangan kakeknya adalah raut wajah sang kakek yang mengeras serta sorot matanya yang menajam. Bahkan, tidak hanya kakeknya yang berekspresi demikian, Hyukjae yang selalu menatap Jimin lembut, terlihat sorot matanya yang sinis namun menyiratkan kekecewaan di dalamnya.

"Haraboji~" panggil Jimin lirih berjalan gontai mendekati sang kakek yang menatap kecewa padanya.

Plak!

Semua orang membulatkan kedua mata mereka terkejut melihat Jimin yang baru saja mendapat tamparan dari sang kakek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Kau membuatku kecewa, Jiminie!" ujar sang kakek membuat air mata Jimin menetes begitu saja.

"Haraboji aku—"

"Kau berjanji untuk tidak berhubungan dengan mereka lagi! Tapi, apa yang kau lakukan?!" seru kakek Park emosinya sudah berada di puncak. "Aku sudah kehilangan anak dan menantuku karena hal yang sama. Dan, apa kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?!" lanjut kakek Park membuat semua orang disana terdiam. "Aku sudah bulat dengan keputusanku, Park Jimin!" Jimin menatap sang kakek was-was. Jantungnya berpacu cepat, perasaannya berubah buruk padahal sang kakek belum mengatakan apa-apa perihal keputusannya itu.

"Minggu depan—kau harus meninggalkan Seoul dan memulai hidup baru di London!"

DEG!

Tak hanya Jimin yang terdiam dan terkejut dengan keputusan sepihak tuan Park. Semua orang terutama Yoongi yang tak sadar kedua matanya sudah banjir air mata karena membayangkan ia tidak akan bertemu dengan Jimin-nya.

"Andwae~" gumam Yoongi kacau.

"Kita pulang! Cepat masuk mobil!" kakek Park berbalik badan sementara Jimin tetap diam kaku di tempatnya berdiri.

"HARABOJI!" namun, baru saja Hyukjae membukakan pintu mobil untuk tuan besarnya, seruan Yoongi berhasil mengalihkan perhatian Hyukjae dan kakek Park.

Kakek Park berbalik badan dan mendapati Yoongi yang sudah berada di hadapannya, terisak hebat.

"Haraboji, aku mohon jangan bawa Jimin pergi. Aku berjanji akan menjaganya dengan nyawaku. Aku tidak bisa lagi berpisah dengannya. Dia sangat berarti untukku. Aku mohon haraboji... Aku mohon~" isak Yoongi kacau yang membuat Jimin ikut meneteskan air matanya.

"Yoongi hyung~" gumamnya tak menyangka. Dan Namjoon, Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook sendiri ikut serta menatap memohon kearah kakek Park agar tidak membawa Jimin mereka meninggalkan kehidupannya di Seoul. Sementara, untuk ayah Yoongi sendiri, ini adalah kali pertama baginya melihat Yoongi yang begitu tulus mencintai seseorang. Membuatnya, berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadikan Jimin sebagai menantunya apapun yang terjadi.

"Jimin, masuk mobil!" titah kakek Park mencoba tak mengindahkan permohonan Yoongi sampai—

BRUK!

"Yoongi / Yoongi hyung" gumam Jimin serta yang lainnya tak percaya jika Yoongi saat ini tengah berlutut dihadapan kakek Park.

"Aku mohon, jangan membawa Jimin pergi dariku, haraboji. Aku akan melakukan apapun untuk haraboji asalkan—asalkan jangan membawa Jimin pergi." lirih Yoongi menundukkan kepalanya.

"Yoongi hyung~" lirih Jimin menundukkan wajahnya, tak sanggup melihat pujaan hatinya menangis dan terlihat menyedihkan di depannya.

Kakek Park menarik nafas, dengan lembut ia meraih kedua bahu Yoongi dan menyuruhnya untuk berdiri.

"Demgar Yoongi-ya, kau pemuda yang baik. Aku yakin kau pasti mampu menjaga Jimin. Tapi, janji tetaplah janji. Aku sudah memperingatkan hal ini pada Jimin sebelumnya. Lagi pula, mulai semester depan Jimin sudah resmi bukan lagi siswa RC."

"Haraboji—"

"Masuk mobil, Jiminie." Jimin mendongak, kedua matanya menatap Yoongi sendu. "Jimin?" panggil kakek Park lagi.

"Haraboji—" Jimin ingin mengelak tapi kedua mata kakeknya penuh peringatan. Jimin menghembuskan nafasnya dan tersenyum paksa kearah Yoongi.

"Sampai jumpa, hyung!" pamit Jimin hendak berjalan melewati Yoongi sebelum tangan besar Yoongi dengan berani menahan tangannya.

Tes!

Yoongi memejamkan kedua matanya membiarkan air matanya terus menetes. Dengan lembut, ditautkan tangannya dengan tangan Jimin dan dengan senang hati Jimin membalas tautan tangan Yoongi meskipun posisi keduanya saling membelakangi.

"Mianhae—" lirih Yoongi. Jimin menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak berhambur memeluk Yoongi di depan semua orang.

"Saranghae, Jimin-ah~" dan penuturan Yoongi ini membuat Jimin menunduk dan semakin terisak hebat. Yoongi yang mendengarnya pun hanya bisa memejamkan kedua matanya sebelum memutuskan untuk menarik tangan Jimin yang berada di genggamannya dan membawa pemuda mungilnya ke dalam pelukan hangatnya. Dan, perlakuan Yoongi ini semakin membuat tangis Jimin pecah. Ia menggigit bahu Yoongi dan membalas pelukan sosok yang sebentar lagi tak bisa ia temui.

"Jaga dirimu, hm? Aku menunggumu~" bisik Yoongi mengelus kepala Jimin yang tertutup beanie hitam. Jimin berangsur tenang, dengan berat hati ia melepas diri dari pelukan Yoongi seraya menghapus air matanya.

"Sampai jumpa, hyung." pamit Jimin yang kali ini benar-benar melangkah memasuki mobil kakeknya.

Kakek Park menghela nafas dan menatap Yoongi iba. Tapi, ia tetap pada keputusannya meskipun Yoongi baru saja berlutut padanya sekalipun. Kakek Park menyusul Jimin memasuki mobilnya dan Hyukjae langsung menutup pintu belakang penumpang. Hyukjae membungkukkan badannya di depan semua orang untuk berpamitan.

"Kami permisi." pamit Hyukjae formal sebelum memasuki kursi kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan gerbang RC.

Yoongi yang melihat mobil kakek Park semakin menjauh dari pandangannya membuat kedua matanya kembali berkaca. Tubuhnya melemas dan mungkin ia akan ambruk lagi jika saja sang ayah tidak memeluknya cepat-cepat.

"Dia pergi lagi, pa. Jimin pergi lagi. Dia pergi lagi setelah aku menemukannya. Dia pergi, pa. Dia pergi!" isak Yoongi memilukan yang membuat semua orang, khususnya Namjoon, Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook yang hanya bisa menundukkan kepala mereka dan menyembunyikan air mata mereka.

Taehyung melirik kearah Jungkook yang bahunya terlihat bergetar, membuatnya berjalan mendekati sosok yang berhasil mencuri perhatiannya entah sejak kapan.

Grep!

Taehyung memeluk Jungkook seraya mengelus punggungnya berulang kali. Tak banyak yang bisa mereka katakan karena mereka juga merasakan kehilangan yang sama besar. Jadi, jika Taehyung hanya diam tanpa mengucapkan kata-kata penenangnya itu sudah cukup bagi Jungkook karena sudah ada yang bersedia untuk menjadi sandarannya.

Dan pagi itu untuk yang kedua kalinya mereka kehilangan sosok yang sama. Sosok yang selama ini diam-diam mereka jaga. Malaikat yang menjelma sebagai pemuda manis yang kehadirannya begitu berarti bagi mereka. Sosok yang baru saja mereka rengkuh dan sambut dengan kedua tangan, karena seolah baru saja terlahir kembali meskipun belum sempat berkumpul dengan mereka, tapi sekarang—sosok itu sudah tidak ada lagi. Sosok itu sudah pergi tanpa memberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan 'Selamat tinggal'.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Side Story

Taehyung menatap Yoongi tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya mencoba mengelak atas apa yang baru saja Yoongi beritahukan padanya. Namjoon? Orang yang sudah ia anggap sebagai hyung-nya, berniat untuk membunuh seseorang? Seseorang yang selama ini mereka jaga bersama? Dan apa itu? Sejak kapan Namjoon dekat dengan orang yang berhasil menarik perhatian Jimin dari mereka? Dari Yoongi juga terutama.

"Itu tidak mungkin, hyung." Taehyung menahan diri untuk percaya. Yoongi menghela nafas.

"Percaya atau tidak—aku dan Hoseok mendengarnya sendiri dari mulut mereka berdua!" balas Yoongi penuh penekanan.

"Kau dan Hobi hyung?" Yoongi mengangguk.

"Tapi, kenapa Namjoon hyung mau melakukan semua itu?" tanya Taehyung tak habis pikir. "Melayangkan nyawa manusia? Sungguh, hyung! Itu tindakan melebihi kriminal!"

"Jadi, saat ayahmu mengatakan tentang Namjoon padamu, bukankah itu artinya memang ada yang Namjoon sembunyikan dari kita?" tutur Yoongi. Taehyung mengangguk cepat.

"Aku juga merasa begitu, hyung. Karena sejak kita berkumpul lagi, sikap Namjoon hyung agak berbeda dengan Namjoon yang kita kenal dulu. Tapi, aku tidak habis pikir—bagaimana bisa ia mengenal Park Chanyeol?" Yoongi mengedikkan bahunya tak peduli.

"Bagaimana dia bisa mengenal Park Chanyeol itu aku tidak peduli. Tapi, jika mereka benar-benar menyakiti Jimin secara nyata meskipun itu segores kuku sekalipun. Jangan harap aku akan sudi melihat wajahnya, mengenalnya bahkan jika bisa akan kubunuh mereka berdua dengan kedua tanganku sendiri. Namjoon terutama!" tekad Yoongi yang membuat Taehyung ikut serta mengeraskan wajahnya. Karena, sama seperti Yoongi ia tidak akan membiarkan seorang pun termasuk orang yang sudah ia anggap seperti hyung-nya sendiri yang memutuskan untuk berkhianat, berniat untuk menghancurkan Jimin, atau siapapun yang berhubungan dengan mereka satu sama lain.

.

.

.

Pagi itu, dikediaman Yoongi, Namjoon, dan Taehyung terasa hangat dengan sarapan pagi yang dilakukan oleh dua pemilik rumah serta tiga tamu istimewa mereka.

"Aku merasa seperti di rumah sendiri. Tidurku selalu nyenyak daripada di asrama." ujar Jungkook senang membuat para hyung mau tak mau tersenyum melihat bagaimana adik bungsu mereka yang terlihat sangat menggemaskan.

"Hey, rumah ini juga rumah kalian bertiga. Lagi pula, terlalu besar jika rumah ini hanya dihuni tiga orang dan beberapa maid. Dan, kenapa kalian tidak pindah saja kesini? Akan lebih menyenangkan jika saat liburan kita habiskan waktu bersama dan melakukan banyak hal. Itu pasti sangat seru." balas Taehyung.

"Hm, tapi sayang sekali Namjoon dan Jimin tidak ada disini." sahut Seokjin menyayangkan.

"Oya-ya, hyung. Mereka sedang apa ya saat ini?" tanya Jungkook penasaran. "Hyung, kau tidak bertemu dengan Jiminie hyung?" lanjut Jungkook kali ini bertanya pada Yoongi.

"Kenapa aku?" Yoongi balik bertanya.

"Karena dibandingkan kami berempat, oh tambah Namjoon—" ingat Hoseok meralat. "Karena dibandingkan kami berlima, hanya kau yang tampaknya tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan Park Jimin. Kalian 'kan sama-sama kepala batu!"

"Konyol!" gumam Yoongi namun tersenyun senang hanya karena mengingat pemuda manis di seberang sana.

"Oh lihatlah~ aku melihat buing-buing cinta disini.." goda Taehyung seraya menggerakkan tangannya membentuk love-love menjijikkan. Yoongi berdecak dan memukul kepala Taehyung yang duduk di sampingnya dengan pelan.

"Diam Tae!" titah Yoongi.

"Woo~ kau merona hyung!" pekik Jungkook heboh.

"Jeon Jungkook!!" desis Yoongi malu bukan main disebut Jungkook merona. Oh, ayolah dia bukan seorang gadis.

"Ah, aku harus merekamnya dan menunjukkannya pada Jimin. Ini pasti seru!" semangat Hoseok mengeluarkan ponselnya membuat Yoongi menatap Hoseok horor.

"Yak! Jangan macam-macam!" Yoongi mencoba untuk menghalau dan meraih ponsel Hoseok yang tengah merekamnya.

"Wah~ kau benar-benar merona hyung." gumam Hoseok saat ia melihat layar ponselnya. Hm, bagaimana pipi Yoongi tidak merona? Hoseok menambahkan fitur edit warna merah jambu di kedua pipi Yoongi.

"Jung Ho—".

Kriiiiing~

Suara nyaring telepon rumah menghentikan pertengkaran tak penting mereka. Kelimanya saling menatap sampai Taehyung dengan kurang ajarnya mengatakan,

"Hyung, angkat teleponnya." pinta Taehyung pada Seokjin. Seokjin mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa aku, kau 'kan yang punya rumah." tolak Seokjin malas.

"Hey, apa kau lupa hyung. Rumah ini sudah menjadi milik kita bersama. Cepat angkat teleponnya." balas Taehyung. Seokjin mendengus namun menurut juga untuk mengangkat telepon rumah yang sudah berdering tiga kali.

"Nde yeobosseo?"

Seokjin tersenyum manis setelah tahu siapa orang yang menelpon pagi-pagi seperti ini.

"Ah, nde ini Seokjin, ahjussi. Aku, Hobi dan Kookie sedang menginap disini. Ada Taehyung juga disini." jawab Seokjin yang membuat keempat pemuda yang lain terus mematai Seokjin yang sedang bicara dengan entah siapa.

"Nde, Yoongi juga ada disini. Ahjussi ingin bicara dengan Taehyung atau Yoongi?" tanya Seokjin yang membuat wajah Yoongi dan Taehyung mengeras kala nama mereka disebut.

namun selanjutnya, entah apa yang dikatakan orang diseberang sana sampai-sampai saat ini wajah Seokjin menegang. Seokjin menoleh kearah empat sahabatnya yang membuat mereka dengan spontan berjalan mendekati Seokjin. Karena, saat melihat ekspresi Seokjin dapat mereka simpulkan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

Seokjin menggigit bibir bawahnya sementara gagang telepon masih bertengger di telinga kirinya.

"Bagaimana dengan RC?" tanya Seokjin terdengar cemas.

"Baiklah, kami akan segera kesana!" putus Seokjin meletakkan gagang telepon dengan kasar.

"Ada apa hyung? Siapa yang menelpon?" tanya Taehyung penasaran.

"A-ayahmu yang menelpon, Tae." jawab Seokjin terbata.

"Apa yang—"

"Jimin belum pulang semalaman!" potong Seokjin cemas.

"APA?!" seruan keluar dari mulut Yoongi. "Hyung, katakan jika kau sedang bercanda!" paksa Yoongi.

"Lihat wajahku Min Yoongi! Kau pikir aku sedang bercanda!" balas Seokjin keras. "Wonjoong ahjussi mengetahuinya dari Jaeduck samchon, dan Jaeduck samchon dihubungi oleh kakek Jimin katanya dari semalam Jimin belum pulang. Dan, lebih parahnya lagi kata sopir Jimin dan Hyukjae hyung, semalam Jimin menemui para appa!"

"MWO?!" pekik Yoongi, Taehyung, Hoseok, dan Jungkook.

"Mereka sudah mencarinya di RC bahkan juga melihatnya dari cctv. Tapi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Jimin disana." lanjut Seokjin. "Para appa juga sedang mencarinya sekarang. Jimin baru saja mendapatkan ingatannya. Bagaimana jika dia—"

"Sial!" gusar Yoongi dengan gerakan cepat ia meraih kunci mobil serta jaketnya dan keluar dari rumah mewahnya.

"Ayo, cepat kita pergi hyung!" ajak Jungkook tak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya.

Dan hari itu, mereka habiskan untuk mencari keberadaan Park Jimin sampai larut malam. Dan, tidak ada satu pun dari mereka yang mendapat kabar atau menemukan keberadaan pemuda mungil itu. Sementara yang dicari? Dengan nyamannya tidur di apartement sewaannya yang berada di Road House Myeongdong, dimana tidak ada satu pun orang yang tahu jika sudah selama hampir satu tahun lebih Jimin menyewa apartement itu dengan harga murah. Jangan salahkan Jimin jika dia dengan nyenyaknya bisa tidur seharian sementara diluar sana orang-orang sedang gusar mencarinya karena bagaimana pun juga bukankah dia harus mengisi energi untuk tengah malam nanti?

.

.

.

.

.

"Tuan besar Park!" panggil Jongdae tergesa menemui tuan besarnya yang baru saja selesai dengan sarapan paginya.

"Ada apa?" tanya kakek Park acuh. Karena, sungguh keberadaan cucunya yang satu hari dua malam bagai ditelan bumi menbuat kakek Park ingin melempar seluruh pekerjanya ke antartika atau jika tidak lebih kejam ia ingin menggilas mereka satu persatu dengan buldoser yang ada di proyek pembangunan Hotel di Jeju yang sedang ia urus.

"Ada yang ingin bertemu dengan anda." kakek Park mengangkat sebelah alisnya dan melirik kearah jam tangan emasnya. Sepagi ini?

"Siapa?"

"Saya tuan Park!" seru sebuah suara yang masuk ke kediaman kakek Park tanpa ijin. Kakek Park bangkit dari duduknya untuk menghampiri seseorang yang sudah ia kenali bersama dengan tiga orang yang juga tidak akan ia lupa wajahnya, berdiri membuntuti sosok yang dulu pernah menjadi atasan putranya.

"Nam Goong Won?" sapa kakek Park dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Saya tersanjung, anda masih mengenal saya tuan Park." balas tamu tak diundang menatap kakek Park penuh seringai kejam di wajahnya.

"Ada perlu apa kau kemari?" tanya kakek Park dingin. Nam Goong Won menarik sudut bibirnya.

"Dan saya lebih tersanjung dengan keberanian cucumu!" lanjut tuan Nam membuat kakek Park mengeryitkan keningnya tak mengerti sementara tuan Nam dengan lantang tertawa kesetanan. "Kau ingat mereka bertiga?" tanya tuan Nam menunjuk ketiga tangan kanannya yang kini juga tersenyum kejam kearah si tuan rumah.

"Tentu saja kau harus ingat orang yang menyebabkan kecelakaan anak dan menantumu!" tutur tuan Nam. "Dan kau tahu, siapa yang menyuruh mereka?!" kedua mata kakek Park penuh amarah, dia bukan anak kecil yang tak mengerti dengan teka-teki murahan seperti ini.

"Kau—" desis kakek Park menyeramkan.

"Ya! Aku orangnya, tuan Park! Aku—orang yang kalian semua cari. Tapi, sungguh aku sangat heran, kau dan orang-orang dekat anakmu itu tak secerdik cucumu. Dan, WOW! Malam ini, cucumu membuatku terkesan!" tuan Nam menggelengkan kepalanya diiringi decakan kagum yang terdengar tulus

"Kau tahu? Apa yang dia lakukan?" bisik tuan Nam dengan berani mendekati kakek Park yang tubuhnya sudah menegang kaku tak menyangka cucu kesayangannga akan senekat ini.

"Dia datang ke rumahku yang dijaga puluhan orang dan bisa lolos tanpa cacat sedikitpun. Bukankah, itu suatu yang membanggakan? Aku yakin, Seojoon pasti bangga dengan Park Jimin!" tuan Nam tersenyum bak iblis yang baru keluar dari neraka.

"Ya~ mungkin dia bisa lolos malam ini. Tapi, selanjutnya—aku yang akan menangkapnya dengan tanganku sendiri!" tekad tuan Nam sebelum berbalik badan dan meninggalkan kediaman kakek Park yang terasa mencekam hanya karena kedatangan singkat dari sang iblis dan para pengikutnya.

"T-tuan Park." panggil Hyukjae menghampiri kakek Park takut-takut. Kakek Park hanya berdehem dengan pandangan lurus kearah bekas tempat dimana keempat iblis itu berdiri. "Dokter Jung baru saja mengabari jika Jimin berada di RC."

"Kita kesana sekarang!" titah kakek Park cepat. Hyukjae mengangguk dan segera menyiapkan mobil sebelum kakek Park kembali memanggilnya dengan nada suara yang kelewat dingin yang membuat tubuh Hyukjae meremang. "Carikan tiket ke London minggu depan. Semakin lama disini, akan menjadi malapetaka untuk Jimin." Hyukjae segera mengangguk kaku menuruti sang tuan besar yang saat ini dibandingkan terlihat marah lebih terlihat cemas berlebih.

.

.

.

- FIN -

.

.

.

(-) Aku gregetan sendiri nulisnya. Chapter ini kebanyakan momen Namjoon-Jimin, jarang-jarang kan, kelihat sweet gini. Dan, itu pas bagian YoonMin entah kenapa aku yang nulis sendiri malah baper sendiri /terlalu mendrama, kkkk/ Dan lagi, pas nulis chapter ini feelnya beda. Bagian terakhir (bukan side story) ngerasa kaya mau end. Jadi, keinget Simple, yang endingnya gantung Jimin-nya mati dan ini Jimin-nya pergi, yah meskipun pergi beneran entar (eh.. spoiler :p)

(-) Dan, beuh—aku lagi berduka guys... laptopnya akhirnya berakhir tewas, belum masuk koma, kritis segala macem. Jadi, makasih yang udah doain laptopku kemarin yang bahkan berniat mau jenguk (aku terharu, kalian sayang banget sama laptopku. Tapi, sayang yang disayang malah enggak terselamatkan). Jadi, jikalau aku typonya kebangetan mohon dimaklumi nde... Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Maklum jikalau pas ngedit ada yang kelewat. Dan, aku juga berharap chapter ini bisa menghibur para pembaca semua yang masih nunggu sampe end (tenang aja, chapter depan belum end kok. Jadi, sabar sebentar ya, kkkk)

(-) See you in next chapter...

Kamsahamnida,