Previously...
"Dia pergi lagi, pa. Jimin pergi lagi. Dia pergi lagi setelah aku menemukannya. Dia pergi, pa. Dia pergi!" isak Yoongi memilukan yang membuat semua orang, khususnya Namjoon, Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook yang hanya bisa menundukkan kepala mereka dan menyembunyikan air mata mereka.
Taehyung melirik kearah Jungkook yang bahunya terlihat bergetar, membuatnya berjalan mendekati sosok yang berhasil mencuri perhatiannya entah sejak kapan.
Grep!
Taehyung memeluk Jungkook seraya mengelus punggungnya berulang kali. Tak banyak yang bisa mereka katakan karena mereka juga merasakan kehilangan yang sama besar. Jadi, jika Taehyung hanya diam tanpa mengucapkan kata-kata penenangnya itu sudah cukup bagi Jungkook karena sudah ada yang bersedia untuk menjadi sandarannya.
Dan pagi itu untuk yang kedua kalinya mereka kehilangan sosok yang sama. Sosok yang selama ini diam-diam mereka jaga. Malaikat yang menjelma sebagai pemuda manis yang kehadirannya begitu berarti bagi mereka. Sosok yang baru saja mereka rengkuh dan sambut dengan kedua tangan, karena seolah baru saja terlahir kembali meskipun belum sempat berkumpul dengan mereka, tapi sekarang—sosok itu sudah tidak ada lagi. Sosok itu sudah pergi tanpa memberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan 'Selamat tinggal'.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju rumah kakeknya, yang dilakukan Jimin hanya menatap keluar jendela tanpa mengatakan sepatah kata pun. Seumur hidupnya, baru kali ini Jimin merasakan ruang kosong dalam hatinya. Ruang kosong dalam artian benar-benar kosong dan hampa. Bahkan, ia tak menyadari jika Benz yang dikendarai Hyukjae sudah sampai di rumah mewah sang kakek.
Blam!
Jimin berjengit kaget saat pintu mobil ditutup keras oleh sang kakek dan meninggalkan Jimin dalam mobil itu seorang diri. Jimin menggigit bibir bawahnya cemas, ia mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Jimin menundukkan kepalanya dan tanpa membuang waktu lagi ia segera membuka pintu mobil serta berlari untuk menyusul kakek Park yang sedang berjalan masuk bersama Hyukjae.
"Haraboji~" panggil Jimin membuat kakek Park menghentikan langkahnya tapi tak membalikkan badannya untuk menatap Jimin yang berdiri di belakangnya, justru kakek Park menoleh ke arah Hyukjae dengan tatapan dinginnya.
"Suruh anak ini masuk kamar dan kalau perlu kunci pintu kamarnya!" titah kakek Park dan berlalu begitu saja.
"Haraboji—" Jimin berniat untuk mengejar sang kakek tapi pergerakan Hyukjae lebih cepat untuk menahannya.
"Biarkan kakekmu istirahat. Dan masuklah ke kamarmu. Aku tahu, kau lelah." titah Hyukjae suaranya datar dan tak seramah biasanya
"Tapi, hyung—"
"Park Jimin, aku mohon jangan memperkeruh keadaan! Masuk kamarmu dan bersihkan dirimu!" titah Hyukjae yang kali ini sedikit meninggikan suaranya. Jimin menatap Hyukjae dengan kedua matanya yang berkaca. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan.
"Maafkan aku, hyung." sesal Jimin berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dan, Hyukjae yakin saat Jimin menaiki tangga ia melihat tuan mudanya itu, menyeka air mata yang turun ke pipi cubby-nya. Hyukjae menghela nafas kemudian tersenyum kecut.
'Istirahatlah, Jiminie... Aku tahu, kau pasti lelah. Istirahatlah, sampai hatimu cukup membaik '.
.
.
.
.
.
BRAK!
Hampir semua orang yang ada di ruang tamu kediaman Yoongi, Namjoon dan Taehyung itu memejamkan kedua mata mereka ketika meyaksikan bagaimana amukan Seungwon, ayah Namjoon kepada anaknya semakin menjadi. Semakin menjadi, dan semakin mengerikan kala Namjoon dengan terus terang menceritakan semuanya pada ayahnya di depan semua orang. Mulai dari bagaimana ia bertemu dengan ibunya, apa yang dia lakukan di belakang mereka hingga pamannya yang tak lain adalah kakak ibunya, adalah dalang di balik semua kekacauan yang menimpa mereka selama ini. Iblis yang selama ini mereka cari dan dengan lihainya bersembunyi dari mereka yang padahal orang itu berada sangat dekat dengan mereka.
Bahkan, sebenarnya tak hanya Seungwon yang terlihat murka hampir semua para appa memandang Namjoon tak menyangka, sementara Yoona (ibu Seokjin) dan Jihyo (ibu Hoseok) menatap iba kearah putra semata wayang Seungwon dan Siyeon (ibu Namjoon) itu. Berbeda dengan para orang tua, berbeda pula dengan sahabat Namjoon yang juga berada di ruang itu dan mendengar dengan jelas bagaimana hidup mengerikan yang Namjoon jalani selama lebih dari tiga tahun ini. Dan diantara Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook hanya Seokjin yang menatap iba kearah Namjoon, sisanya hanya ada kemarahan di balik mata mereka.
Ah, apa ada yang kurang? Yap, tentu saja. Ketidak-adaannya Yoongi di ruang itu sedikit tidaknya membuat beberapa orang mendesah lega karena mereka tahu betul jika ada Yoongi disana ada kemungkinan wajah tampan Namjoon sudah penuh lebam saat ini.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku tentang hal sepenting ini dan menyembunyikannya selama bertahun-tahun dariku?!" seru Seungwon tak bisa lagi mengontrol emosinya pada Namjoon. Namjoon mencoba untuk tenang dan tak terpancing emosi karena terus disalahkan sedari tadi.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya, pa. Aku—"
"CUKUP!" sela Seungwon murka. "Aku sudah muak mendengar penjelasanmu! Dan, sungguh! Kau tak ayal sama saja dengan kriminal saat ini. Apa aku membesarkanmu untuk menjadi buronan?! Jika ibumu masih hidup kau bisa katakan padaku dan kita bisa menyelamatkannya bersama-sama. Bukan seperti jalan yang kau pilih!" Namjoon memejamkan kedua matanya, menikmati segala kemurkaan sang ayah tanpa memberikan kesempatan Namjoon bicara dan menjelaskan semuanya dengan lebih detail.
"Dan, apa yang kau lakukan semalam?! Kau berniat membuat Jimin terbunuh? Membawanya bersamamu kesana unt—"
"CUKUP PA! CUKUP!" seru Namjoon menghentikan segala seruan ayahnya. Dan dalam sekejap ruang tamu itu mendadak hening.
"Aku akui, aku memang salah. Aku sadar, apa yang aku lakukan selama ini memang salah. Tapi, sungguh aku tidak pernah sedikitpun memiliki niatan untuk menyakiti Park Jimin!" balas Namjoon tak sabar. "Dan, katakan padaku pa!" Namjoon memberanikan diri menatap sang ayah yang berdiri di depannya sementara yang lain hanya diam menonton.
"Apa yang bisa kulakukan ketika aku bertemu dengan ibuku setelah kita semua tahu bahwa beliau meninggal, tapi kala itu dia tidak mengenaliku sebagai anaknya?" suara Namjoon tercekat, kedua matanya sudah berkaca tapi ia menahannya untuk tidak menangis. "Mereka menyiksa ibuku di depan mataku. Mereka memukul wanita rapuh itu tanpa henti sementara aku di depannya tak bisa berbuat apa-apa. Apa kau tahu pa, apa yang sudah eomma alami selama ini? Dia mengalami gangguan mental dan trauma fisik. Tubuhnya membiru penuh darah hampir setiap hari dan yang kulakukan hanya bisa menangis dan menuruti perintah mereka. Apa appa pikir, aku tidak merasa tertekan? Apa appa pikir, aku bersenang-senang selama ini? Apa appa pikir aku juga tidak disiksa? Batin dan fisikku mereka siksa setiap hari jika aku melakukan kesalahan atau bahkan berniat untuk membela eomma. Apa appa pikir aku tidak merasa ketakutan setiap harinya? Saat berhadapan dengan mereka? Dan, apa appa pikir aku tidak merasa berdosa pada appa? Pada semua orang? Jadi, katakan padaku bagaimana aku akan mengadu padamu jika nyawa eomma yang menjadi taruhannya? Tidak masalah jika mereka membunuhku, tapi eomma—wanita cantik itu sudah menderita sejak lama. Apa appa tega? Membiarkan eomma tersiksa? Jadi, ketika Jimin tiba-tiba muncul malam itu, mendatangiku dan mengatakan semuanya padaku, menenangkanku, menghiburku, dan memberiku keberanian. Disaat itulah aku semakin merasa bahwa aku tidak pantas untuk mendapatkan semua itu setelah mereka memintaku dan Chanyeol untuk membunuhnya. Tapi, sungguh aku tidak pernah berniat untuk membunuh Jimin. Aku juga ingin melindunginya pa~"
Grep!
Seungwon menarik tangan Namjoon dan membawa tubuh besar putra semata wayangnya ke dalam pelukan hangatnya. Seungwon menangis hebat, bahkan wajah orang-orang yang semula menatap penuh amarah pada Namjoon kini terganti dengan wajah sendu seolah mereka juga ikut merasakan apa yang selama ini Namjoon rasakan seorang diri.
"Maafkan aku, pa... Maafkan aku~" isak Namjoon membalas pelukan hangat Seungwon sementara Seungwon menggeleng dengan kedua matanya yang banjir air mata.
"Tidak, nak. Tidak! Kau tidak salah. Aku yang salah. Aku tidak bisa melindungimu dan ibumu. Dan, teganya aku justru menyalahkanmu. Maafkan aku, nak. Maafkan aku~"
Tidak ada diantara mereka yang tidak terharu melihat bagaimana Seungwon yang begitu menyesal pada anaknya dan juga istrinya, yang dikiranya sudah meninggal selama ini. Semua pasang mata mereka berkaca, termasuk Yoongi yang baru saja muncul dari pintu utama dan mendengar semua keluh-kesah Namjoon, membuat sebersit rasa bersalah di hati Yoongi karena bukannya ia membantu sahabat kecilnya, justru ia malah mengumpatinya.
Yoongi menarik nafas. Hatinya kacau hari ini. Dan melihat semua orang berkumpul di depan matanya, di rumah yang ia tinggali membuat ia tak ingin bertemu dengan mereka semua yang pasti akan bertanya tentang 'bagaimana kabar hatinya'. Dan, Yoongi sedang tidak ingin bicara pada siapapun untuk hari ini khususnya.
Yoongi berbalik badan bersamaan dengan Jungkook yang tak sengaja menoleh kearahnya dan melihat salah satu hyung-nya yang keluar dari rumahnya sendiri.
"Yoongi hyung," gumam Jungkook lirih mematai kemana Yoongi pergi sampai seluruh orang yang ada di rumah itu mendengar suara mobil yang baru dilajukan, refleks membuat semua orang menoleh kearah luar melalui jendela yang ada di ruang tamu. Dan dapat mereka lihat, mobil Yoongi yang meninggalkan pekarangan rumah mewahnya.
"Yoongi hyung pergi," lirih Jungkook cemas.
"Aku akan mengejarnya." tekad Taehyung yang juga merasa khawatir jika sesuatu yang tidak mereka ingin terjadi pada Yoongi.
"Tidak perlu!" sela Seonwoong cepat membuat langkah Taehyung terhenti. "Biarkan saja dia." lanjut Seonwoong datar.
"Tapi, samchon—"
"Yoongi butuh waktu sendiri." potong ayah Yoongi yang membuat Taehyung mau tidak mau menurut pada Seonwoong untuk tidak menyusul hyungnya yang pasti sedang kacau.
.
.
.
.
.
Yoongi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak peduli jalan Seoul yang begitu padat karena saat ini suasana hatinya sedang kacau, ia ingin melampiaskan rasa sesak di dadanya yang tak kunjung menghilang. Bahkan, ketika di rumah tadi ia masih mencoba menahan air matanya untuk keluar tapi tidak sekarang. Ia membiarkan bulir air matanya turun melewati pipi tirusnya meskipun berkali-kali pula ia mengusapnya dengan kasar.
Yoongi sadar, dan cukup tahu mungkin ia terlalu bersikap berlebihan jika sudah terlanjur peduli. Terlebih itu pada orang yang sudah berhasil menggenggam seluruh hatinya, membuatnya gila sepanjang waktu hanya karena hal-hal kecil yang dilakukan lelaki mungilnya yang mungkin mulai sekarang tidak bisa ia lihat senyumnya lagi.
Yoongi memukul setir kemudinya keras kala memori otaknya mengingat pertengkaran dirinya dan Jimin pagi tadi. Bagaimana dia sudah salah mengambil sikap, membentak pemuda manisnya, dan sekarang? Ia kehilangan Jimin-nya dalam sekajap.
Yoongi berharap ini mimpi. Tak apa jika ini mimpi buruk. Asalkan ini bukan kenyataan. Karena, ia tak sanggup harus mengalami hari-hari pahit mulai sekarang tanpa Jimin-nya lagi. Ia tak mau harus merasakan kerinduan yang nantinya hanya akan membuat ia semakin mencintai Jimin semakin dalam. Katakan ia egois, tapi ia tidak mau membuat hatinya terluka. Karena dibandingkan luka fisik atau penyakit dalam sekalipun, sakit hati adalah penyakit terparah yang tak bisa disembuhkan oleh siapapun.
Ckiit!
Yoongi menghentikan mobilnya tepat di seberang rumah kakek Park. Awalnya, ia tidak berniat untuk datang kesana tapi entah kenapa nalurinya keluar begitu saja. Yoongi memandangi rumah bertingkat dua itu. Memandangi keseluruhannya sampai kedua matanya berhenti pada balkon lantai dua. Yoongi tersenyum sendu. Senyuman yang diiringi air mata penuh penyesalan. Penyesalan yang tak bisa ia tangani sendiri.
"Kenapa semua orang suka sekali mempermainkan kita, Jimin?" gumam Yoongi terisak. "Kenapa hanya untuk bersamamu saja rasanya sulit sekali?" Yoongi menggenggam setir kemudinya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bahkan, aku belum sempat menyatakan perasaanku dengan benar padamu. Bahkan, aku belum menghabiskan banyak waktu bersamamu. Bahkan, aku belum sempat membuktikan kesungguhanku padamu. Bahkan, untuk melindungimu saja aku sudah gagal. Tapi—tapi kenapa? Kenapa kau harus pergi? Bagaimana denganku? Bagaimana denganku, Jiminie?"
Dug!
Yoongi membenturkan kepalanya pada setir kemudinya. Ia memejamkan kedua matanya membiarkan suara kakek Park terus berseru dalam kepalanya secara berulang. Mengulang kalimat yang sama. Kalimat yang langsung mampu menghancurkan seorang Min Yoongi detik itu juga. Kalimat yang dalam sekejap mematahkan kearoganan seorang Min Yoongi yang tanpa berfikir panjang untuk berlutut di hadapan semua orang.
Demi Jimin-nya. Demi teman kecilnya. Demi seseorang yang selalu ingin ia jaga sejak kecil. Demi seseorang yang ingin ia jaga kebahagiaannya. Demi seseorang yang baru saja ia temukan dan demi seseorang yang baru saja kembali ke pelukannya. Tapi, sekarang? Seseorang itu sudah tidak ada lagi. Seseorang itu sudah pergi bersama dengan separuh jiwa Yoongi yang hilang dan bahkan Yoongi sendiri tak bisa menemukan separuh jiwanya yang kosong karena sudah dimiliki oleh Jimin-nya.
"Apa tidak ada harapan lagi untukku?" Yoongi bergumam lelah dan membiarkan rasa kantuk menguasainya.
.
.
.
.
.
Jimin mendengar suara pintu dikunci dari luar kamarnya, membuat ia seketika menghela nafas. Kakeknya tak main-main untuk marah padanya. Jimin melepas jaketnya dan meletakkannya di atas ranjangnya. Kemudian ia berjalan menuju balkon kamarnya untuk menenangkan diri.
Jimin menengadahkan kepalanya menatap detik-detik akhir musim panas yang terlihat sangat indah. Karena, matahari akan bersinar berwarna jingga. Apalagi, di sore hari seperti ini membuat Jimin semakin betah untuk menatap langit cerah hari ini. Setidaknya, cuacanya sedikit membuatnya tenang.
Jimin menghembuskan nafasnya keras-keras. Pikirannya penuh dengan kejadian tadi pagi. Jujur, ia tidak menyesal sama sekali. Ada sebersit rasa lega terutama karena ibu Namjoon yang sudah aman dan mungkin, sebentar lagi akan berkumpul bersama kelurganya. Tapi, Jimin juga tidak bisa berbohong ketika di balik rasa lega ada perasaan hampa yang ia rasakan. Dan ia tahu betul, apa penyebab dari rasa hampa di hatinya saat ini.
Jimin memejamkan kedua matanya. Membiarkan bayangan wajah tampan seseorang yang berhasil membuatnya nyaman berada dalam bayangannya. Dan, Jimin menikmati gambaran wajah tampan yang selalu menyiratkan aura dingin kepada siapapun. Namun, tak lama kemudian Jimin membuka kedua matanya dan entah sengaja atau tidak pandangannya turun ke bawah tepat pada sebuah mobil yang terparkir di seberang rumah kakeknya.
Mobil familiar yang entah kenapa membuat hatinya berdesir. Jimin menggigit bibir bawahnya dan tanpa sadar kedua matanya berlinang. Dan setelahnya, tanpa bisa ia bendung lagi Jimin terisak hebat.
"Yoongi hyung~" isak Jimin menundukkan kepalanya.
Rasanya hancur melihat seseorang yang berarti bagimu berada di dekatmu tapi tak bisa kau temui. Rasanya hancur saat melihat orang yang ingin kau temui tapi berada di depanmu dan kau tidak bisa berbuat apa-apa. Dan rasanya lebih hancur, ketika kau akan pergi jauh tapi tak sempat mengucapkan salam perpisahan.
Dan sore itu, Yoongi maupun Jimin mereka habiskan untuk saling merenungi hati mereka masing-masing. Saling menangisi seraya menyebut nama satu sama lain. Hanya tangisan yang ada di sore itu, tangisan yang akan menjadi awal untuk hubungan mereka berdua.
.
.
.
.
.
Ckiit!
Yoongi menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Taehyung. Melihat berjajar-jajar mobil di halaman rumahnya, ia yakin semua orang pasti memutuskan untuk menginap di rumah mewah yang dibangun ayahnya, Namjoon dan Taehyung.
Yoongi menarik nafas. Setelah tak sadar ia tertidur di dalam mobilnya yang masih terparkir di seberang rumah kakek Park selama hampir tiga jam. Membuat Yoongi bergegas pulang kala melihat jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 8.45 malam.
Yoongi membuka pintu mobilnya tapi tak berniat untuk masuk ke rumahnya. Ia belum siap bertemu dengan semua orang yang pasti akan menanyakan keadaannya yang tidak baik-baik saja. Yoongi mengedarkan pandangannya pada sekitarnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk menuju ke rumah kecil dimana dikhususkan untuk meletakkan barang-barang milik mendiang ibunya.
Yoongi tersenyum kecil, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket hitamnya dan melangkah tak sabar menuju rumah mungil itu.
Kriet~
Setelah sampai, Yoongi membuka pintu rumah itu yang memang tak pernah dikunci. Tanpa ragu, Yoongi memasuki rumah mungil yang berisi barang-barang kesayangan ibunya yang sengaja dimuseumkan oleh sang ayah. Yoongi mengitari setiap sudut rumah itu, berharap jikalau keberadaannya di tempat itu bisa sedikit mengurangi rasa kosong yang sedang ia rasakan.
"Kau sudah pulang?" Yoongi menoleh tapi tak berniat untuk menjawab sapaan sang ayah yang masuk ke rumah mungil itu dengan mengenakan pakaian santainya. Yoongi mengacuhkan sang ayah, sementara Seonwoong berjalan mendekati putra tampannya yang terlihat sekali sedang gelisah.
"Appa tahu, bagaimana perasaanmu sekarang ini." lanjut Seonwoong tapi tak langsung mendapat balasan dari Yoongi.
"Tidak, appa tidak mengerti." balas Yoongi kemudian, setelah sebelumnya ia hanya diam dan mengacuhkan sang ayah. Seonwoong tersenyum sendu. Ia merasa gagal mejadi seorang ayah dan ia yakin, mendiang istrinya pasti akan kecewa padanya.
"Appa tahu, appa—bukan appa yang baik untukmu. Appa tidak seperti Wonjoong yang humoris yang selalu menghibur anaknya. Appa tidak seperti Seungwon hyung yang selalu hangat pada anaknya. Appa tidak seperti Seungho yang selalu ada untuk Jungkook. Appa juga tidak seperti Chilhyun yang selalu bersikap lembut pada anaknya atau bahkan Jaeduck yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya. Bahkan, jangankan melakukan semua itu, appa cukup sadar jika appa bukan ayah yang baik untukmu. Appa tidak pernah menghabiskan banyak waktu untukmu selama ini"
Yoongi menundukkan kepalanya. Wajahnya datar tak berekspresi sama sekali. Namun sedetik kemudian ia mendongak untuk menatap wajah lelah sang ayah.
"Appa tak perlu menjadi orang lain untuk menyenangkanku. Aku cukup bersyukur memiliki appa sebagai appa" Yoongi berusaha untuk tersenyum. "Kita hanya perlu memahami satu sama lain, pa. Dan, jangan pernah berfikir aku kecewa memiliki appa sepertimu. Seharusnya, aku yang meminta maaf pada appa karena aku selalu bersikap kasar dan tak pernah membuat appa bangga."
"Kau selalu membuatku bangga, nak." Yoongi mengangkat sebelah alisnya, tampak terkejut.
"Benarkah?" Seonwoong mengangguk. Yoongi tersenyum kecil, dan Seonwoong tahu jika senyum singkat itu hanyalah sebuah paksaan membuat Seonwoong menarik nafas dan berniat untuk sedikit memberikan ketenangan pada anaknya.
"Yoongi-ya..." Yoongi menelengkan kepalanya dan menatap sang ayah datar. Tak menyahut dan hanya menjawab lewat kedua sorot matanya yang menyipit.
"Aku tahu ini sulit untukmu."
"Maksud appa?" Yoongi mencoba untuk tak mengerti meskipun ia paham apa maksud kalimat yang dilontarkan ayahnya barusan. Seonwoong menarik nafas dan menatap Yoongi teduh.
"Sosok seperti Jimin itu memang pantas untuk diperjuangkan." Dan seketika warna muka Yoongi berubah kala nama Jimin disebut oleh sang ayah.
"Appa, aku—"
"Yoongi-ya." potong Seonwoong tegas. "Aku tahu kau sedang terluka saat ini. Tapi, jangan terlalu lama terpuruk dalam hal itu." Yoongi menunduk.
"Lalu, aku harus bagaimana pa? Jimin akan pergi meninggalkanku. Aku akan kehilangan dia lagi." murung Yoongi. Seonwoong tersenyum kecil, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus surai Yoongi lembut.
"Dia pergi, tapi tidak selamanya 'kan?"
"Huh?" Yoongi mengerjapkan kedua matanya tak mengerti membuat Seonwoong terkekeh melihat wajah konyol anaknya.
"Mungkin keputusan kakeknya tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tapi, aku akan memastikan kepadamu akan mengembalikan Jimin kepadamu, apapun yang terjadi." janji sang ayah yang membuat Yoongi menatap Seonwoong berkaca.
"Appa, tidak bercanda 'kan?"
"Tentu saja tidak, nak. Aku akan melakukan apapun jika itu untuk kebahagiaanmu. Karena kau tahu? Kebahagiaanmu adalah hal mutlak untukku sampai kapanpun. Jadi, akan kupastikan jika kelak hanya Park Jimin yang bisa menjadi menantuku." Yoongi membulatkan keua matanya tak percaya. Mendadak ia menjadi gugup saat dengan gamblangnya sang ayah akan menjadikan Jimin sebagai istrinya secara tidak langsung.
"Tapi, appa. Kami berkencan saja belum." Seonwoong mengeryitkan keningnya dan menatap Yoongi tajam.
"Apa kau lupa dengan perjanjian ketika kau kembali ke Seoul? Perjanjian itu masih berlaku omong-omong." Yoongi tertawa kecut.
"Ayolah, appa~ aku bahkan sudah lupa dengan isi perjanjiannya." balas Yoongi yang direspon tawa lantang dari Seonwoong. Dan, ini adalah kali pertama Yoongi melihat sosok ayah yang hangat di balik sikap dingin ayahnya selama ini membuat ruang kosong Yoongi sedikit terisi dengan keberadaan sang ayah.
"Tapi, sebelum kau mendapatkan Park Jimin aku sarankan kau harus meluluhkan hati kakeknya terlebih dahulu."
"Itu yang sedang kupikirkan pa, bagaimana caranya agar haraboji mengurungkan niatnya untuk membawa Jimin pergi."
"Aku rasa jika kau berfikir begitu, aku yakin semuanya pasti akan sia-sia." Yoongi mengangguk paham. "Tapi, ada satu hal yang bisa kau lakukan yang kuyakin pasti bisa langsung mengambil hati kakek Jimin."
"Bagaimana caranya?" tanya Yoongi antusias.
"Jadilah pria sejati."
"Huh?" Yoongi mengerjapkan matanya tak mengerti.
"Jadilah pria sejati untuk memenangkan satu-satunya wali Jimin. Dengan begitu, akan lebih mudah untukmu mendapatkan Jimin kembali bahkan tak ada seorang pun yang akan membuatnya pergi termasuk kakeknya. Dengan begitu tidak ada lagi orang yang akan meragukanmu." Yoongi terdiam mencerna semua nasehat sang ayah. "Kau masih seorang pelajar, nak. Kau masih sangat muda. Masih banyak yang harus kau capai untuk mendapatkan Jimin. Entah itu berapa tahun lamanya, yang pasti kau harus menjadi pria sejati untuk membahagiakannya." Yoongi tersenyum dan memeluk sang ayah erat.
"Aku paham appa. Aku harus menjadi pria mapan, dewasa dan membanggakan semua orang. Dengan begitu aku yakin, haraboji pasti akan merestuiku dengan Jiminie." Seonwoong tersenyum lega dan mengelus punggung putra semata wayangnya.
"Tapi, sebelum itu ada hal pertama yang perlu kau lakukan untuk menjadi seorang pria sejati." Yoongi melepas pelukan sang ayah dan menatap ayahnya dalam. Menunggu hal pertama apa yang harus ia lakukan untuk menjadi seorang pria sejati untuk Jimin-nya. Hal pertama yang membuat Yoongi harus kembali merasakan relung kosong yang semula memenuhi hatinya saat sang ayah dengan sendu mengatakan, "Relakan Jimin pergi untuk saat ini."
Dan lagi, setelah tawa yang ia lewatkan bersama sang ayah beberapa waktu lalu kini kembali terganti dengan wajah penuh luka dan air mata. Dan, bagi Seonwoong yang menyaksikan kehancuran anaknya di depan matanya hanya bisa menarik putra tampannya ke dalam pelukan hangatnya seraya tanpa henti mengelus punggung rapuh itu.
.
.
.
.
.
Tok!! Tok!! Tok!!
Namjoon mendengar pintu kamarnya diketuk. Tapi, tak membuatnya berniat untuk membukakan pintu kamarnya atau sekedar menyerukan sesuatu. Namjoon yang tengah duduk di tepi ranjangnya dengan keadaan kamarnya yang gelap gulita.
Cklek!
Bahkan ketika pintunya terbuka tak membuat Namjoon menoleh sedikit pun kearah pintu untuk mengetahui siapa yang berani memasuki areanya.
"Namjoon..." sebuah suara lembut terasa menggema di kamar gelap Namjoon. Dan bagi Namjoon sendiri, ia tahu betul siapa pemilik suara indah itu. "Bolehkan aku masuk?" ijinnya yang hanya dibalas anggukan kecil dari Namjoon yang masih tetap diposisinya yang membelakangi si pemuda cantik, Kim Seokjin.
Seokjin melangkah seraya membawa sebuah baskom sedang berisi washlap dan es batu yang akan ia gunakan untuk mengobati lebam Namjoon akibat ulah Yoongi tadi pagi. Seokjin memberanikan diri untuk duduk di samping Namjoon yang masih terdiam dengan kepala tertunduk.
"Namjoonie~" panggil Seokjin lembut seraya mengelus lembut bahu Namjoon mencoba untuk memberikan ketenangan pada pria tampan di sampingnya.
"Kenapa kau disini, hyung?" balas Namjoon akhirnya mengeluarkan suaranya meskipun tak menoleh kearah Seokjin sedikitpun. Tetap di posisinya dan tetap menunduk.
Seokjin tersenyum kecil, ia memberanikan diri mengangkat wajah Namjoon sampai kedua mata mereka bertemu. Seokjin tahu, kamar Namjoon memang gelap. Tapi, pancaran sinar lampu dari luar membuat kedua pria yang memiliki perasaan yang sama satu sama lain bisa melihat kedua mata mereka yang saling bertatapan dalam
Seokjin mendekatkan wajahnya kearah Namjoon dan mengecup pelan bibir pemuda tampan yang sedikit membiru itu. Setelahnya Seokjin menunduk sementara Namjoon dibuat diam dengan kecupan singkat yang Seokjin berikan padanya. Kecupan yang terasa sedikit menenangkannya.
Seokjin memperas washlap yang sudah ia campur dengan es batu di dalam baskom yang ia bawa. Dan dengan telaten, ia mengobati lebam di sudut bibir Namjoon sementara Namjoon menikmati wajah cantik Seokjin yang memang sedang ia rindukan.
"Apa kau tidak membenciku?" Namjoon berujar. Tanpa menatap kedua mata Namjoon, Seokjim membalas,
"Aku membencimu? Itu artinya, aku membenci diriku sendiri." raut wajah Seokjin berubah sendu. Ia menjauhkan tangannya dari wajah Namjoon, kemudian menunduk.
"Hyung~"
"Kau tahu, aku cemburu pada Jimin. Aku tahu aku bodoh, konyol dan kekanakan. Tapi, sungguh aku sangat cemburu pada Park Jimin." Namjoon terkekeh kecil.
"Kenapa kau harus cemburu pada adikmu sendiri? Lagi pula Jimin milik Yoongi hyung, jika kau lupa." Seokjin tersenyum kecil.
"Aku cemburu bukan dalam artian itu."
"Huh?" Namjoon menatap Seokjin tak paham.
"Aku cemburu karena Jimin bisa menemanimu saat kau membutuhkan bantuan seseorang. Saat kau mengalami kesulitan. Aku cemburu karena Jimin bisa menolongmu. Aku cemburu karena Jimin memiliki keberanian yang besar." lirih Seokjin. "Tapi, jika boleh jujur ada rasa ketakutan yang lebih besar dari rasa cemburu itu. Aku takut—terjadi sesuatu pada Jimin." Namjoon mengangkat sebelah alisnya karena kalimat terakhir yang Seokjin gunakan tidak merujuk pada kepergian Jimin.
"Apa maksudmu hyung?" Seokjin terisak dan dengan inisiatifnya sendiri, Namjoon menarik Seokjin ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepalanya berulang hanya agar tangisan pujaan hatinya mereda.
"Tidakkah menurutmu, akan lebih baik jika Jimin pergi daripadi terjadi sesuatu yang buruk padanya?" Seokjin mengangkat wajahnya dan menatap wajah Namjoon yang sedang menunduk menatapnya. Dan, jika dipikir-pikir apa yang dikatakan Seokjin ada benarnya. Lebih baik merelakan Jimin pergi dibandingkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada pemuda manis itu.
"Aku tahu, keputusan Park haraboji tidak bisa diterima begitu saja oleh semua orang. Terutama Yoongi. Tapi, kita juga tidak boleh egois jika itu menyangkut tentang keselamatan Jiminie. Ini demi Jiminie dan demi kebaikan kita semua." tutur Seokjin kemudian.
Namjoon terdiam sejenak, ia menarik nafas dan tak mampu membalas setiap tuturan Seokjin karena bagi ia sendiri, untuk saat ini dia tidak memiliki kata yang pantas untuk membalas ucapan masuk akal dari Seokjin.
"Hyung, apa secara tidak langsung kau meminta kami semua untuk merelakan kepergian Jimin?" tanya Namjoon akhirnya. Seokjin menarik nafas.
"Itu demi kebaikan kita semua." balas Seokjin tercekat.
.
.
.
.
.
Brak!
Yoongi meletakkan botol soju di atas meja yang ada di ruang bawah tanah rumahnya dengan kasar. Ruang bawah dimana tempat penyimpanan berbagai minuman yang sedang difermentasikan, entah itu anggur, soju, sampanye hingga botol-botol minuman mahal dan ternama tertata di setiap sudut rak ruangan sesuai dengan jenis, nama dan tahun pembuatan minuman.
Yoongi mendesis merasakan air soju mengalir melewati kerongkongannya. Menyegarkannya serta membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Menyedihkan, karena minuman ini membuat Yoongi teringat pada Jiminnya. Dimana lelaki manisnya mengajaknya minum untuk pertama kalinya. Yoongi tersenyum kecil, membiarkan kenangan tinggal kenangan itu terbayang-terbayang di otaknya tanpa sedikitpun berniat untuk mengenyahkannya.
Sret!
Seketika, Yoongi mengangkat wajahnya kala botol sojunya ditarik oleh seseorang yang kini duduk di depannya. Seseorang berwajah tampan dengan sudut bibirnya yang membiru. Itu ulah Yoongi tadi pagi, omong-omong. Yoongi tersenyum kecil. Membiarkan penghuni rumahnya yang lain meminum soju miliknya.
"Bagaimana pukulanku? Apa sakit?" suaranya tak sedingin atau sekasar saat berbicara dengan Namjoon—lelaki yang duduk di depan Yoongi—seperti tadi pagi.
Namjoon mengedikkan bahunya acuh.
"Lain kali, jika ingin memukulkan jangan di wajah. Lihat! Wajah tampanku jadi ternoda." sinis Namjoon yang direspon kekehan dari Yoongi.
"Mau ku ulangi?" tawar Yoongi. Namjoon merengut.
"Yak, hyung! Pukulanmu itu tak sesakit kata-katamu." tutur Namjoon yang membuat warna muka Yoongi berubah datar dan penuh penyesalan dari kedua sorot matanya. Membuat Namjoon menjadi tak enak hati. "Hyung, aku tidak bermaksud begitu... Maksudku—"
"Mianhae!" sela Yoongi cepat. Namjoon mengerjapkan kedua matanya bingung. Yoongi tersenyum lirih. "Maafkan aku, sudah berbuat kasar padamu tanpa tahu apa yang sebenarnya kau alami selama ini. Tanpa tahu, hal mengerikan apa yang kau alami seorang diri."
"Hyung~" panggil Namjoon lembut. "Tak perlu meminta maaf. Itu hal wajar jika kau bereaksi seperti itu. Aku membahayakan nyawa Jimin terlebih aku juga sudah membohongimu. Membohongi semua orang."
"Tapi, apa yang dikatakan Jimin itu benar. Aku pasti akan melakukan hal yang sama jika ibuku yang dalam bahaya." Namjoon tersenyum sendu.
"Hyung, tak perlu menyesali apapun yang sudah terjadi. Kau tak perlu merasa bersalah. Lagi pula, salahku sendiri memilih jalan yang salah." sadar Namjoon. Yoongi tersenyum kecil. Ia mengambil botol sojunya dan kembali menuangkannya kedalam gelasnya.
"Hyung, kau tahu?" tanya Namjoon setelah mematai gerak-gerik Yoongi. Yoongi hanya berdehem sampai Namjoon kembali membuka suara. "Tengah malam itu, ketika aku dan Jimin sedikit bicara satu sama lain dan membahas segala hal. Kau tahu? Apa yang paling banyak ia bicarakan?"
"Apa?" tanya Yoongi ingin tahu.
"Dia selalu membicarakanmu hyung." jawab Namjoon. Yoongi tersenyum tulus sedikit terenyuh dengan penuturan Namjoon terlebih saat lelaki yang lebih muda darinya itu mengatakan, "Dan dia juga bilang, bahwa dia merindukanmu." lanjut Namjoon yang membuat Yoongi tak bisa untuk menyembunyikan raut bahagianya.
"Dan, kau tahu? Kau harus berterima kasih padaku karena aku telah menanyakan sesuatu padanya." Yoongi mengangkat sebelah alisnya dan menatap Namjoon penasaran.
"Apa yang kau tanyakan?"
"Tentang perasaannya padamu." jawab Namjoon membuat Yoongi semakin antusias.
"Lalu-lalu? Dia menjawab apa?" tanya Yoongi cepat. Namjoon tersenyum kecil.
"Katanya—" Namjoon menjeda ucapannya sejenak. "—dia..." satu persatu kata yang keluar dari mulut Namjoon terasa sangat lambat untuk Yoongi dengar. Tapi, Yoongi berusaha untuk bersabar sampai akhirnya Namjoon mengatakan, "Dia tidak menjawabnya karena yang bertanya itu bukan dirimu." Yoongi mendesah kecewa namun tak lama kemudian kedua matanya berbinar.
"Jadi, dengan kata lain apa jika aku yang bertanya atau mengutarakan perasaanku padanya, apa Jimin akan menjawabnya?" Namjoon mengangguk-angguk.
"Ya aku rasa. Dan, hyung kau punya waktu sampai minggu depan untuk mengungkapkannya. Setidaknya, Jimin tahu bagaimana perasaanmu padanya sebelum ia pergi." tutur Namjoon tanpa menyadari lagi-lagi raut wajah Yoongi yang berubah sendu. Namjoon yang melihat perubahan wajah hyung-nya pun hanya bisa menatapnya bersalah.
"Maaf, hyung. Aku tidak bermaksud untuk—"
"Kau benar!" sela Yoongi cepat dan menatap Namjoon yakin. "Aku harus mengutarakan perasaanku sebelum Jimin pergi." lanjut Yoongi penuh tekad hal itu membuat Namjoon mengangkat sebelah alisnya bingung
"Hyung, kau baik? Jimin akan pergi dan kau—"
"Kau tahu, awal untuk menjadi seorang pria sejati adalah mendukung masa depanmu. Termasuk merelakannya pergi, meskipun dengan berat hati." Namjoon membulatkan kedua matanya terkejut.
"Hyung, kau sungguh-sungguh?" Yoongi tertawa kecil.
"Jika tidak. Bagaimana jika begini? Aku akan kembali ke London dan menyusul Jiminie. Aku yakin kita berdua akan bahagia disana."
"ANDWAE!" ini, bukan Namjoon yang berteriak. Melainkan Taehyung yang entah muncul darimana dan duduk di samping Namjoon serta menatap Yoongi penuh keintimidasian yang dibuat-buat.
"Sudah cukup Jimin yang pergi. Kenapa kau juga malah pergi?" tanya Taehyung merengut tak suka.
"Sejak kapan kau ada disini?" Yoongi bertanya tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Taehyung sebelumnya. Taehyung mencebikkan bibirnya, membuat Yoongi dan Namjoon yakin sebentar lagi Taehyung pasti akan merengek.
"Hyung~ kau tega meninggalkan kami? Sudah cukup Jimin yang pergi! Jangan menambah masalah!" desis Taehyung membalas Yoongi dengan tak menjawab pertanyaan Yoongi sebelumnya.
"Yak! Dasar bocah, tidur sana!" usir Yoongi menonyor kepala Taehyung yang terus maju mendekati wajahnya.
"Hm, tidur sana! Kau bocah, belum legal di tempat ini!" Namjoon ikut berujar seraya mendorong bahu Taehyung agar bocah unik itu segera pergi.
"Apa jika berada disini, aku harus minum? Hey~ jangan meremehkanku, man... Aku cukup kuat hanya untuk minum segelas soju. Dan juga, aku bukan bocah! Aku sudah legal jika kalian lupa!" seru Taehyung kesal ia menyaut gelas kecil Yoongi dan menuangkan soju ke dalamnya. Meminumnya sekali tegak setelah mengatakan, "Lagi pula hyung—" jeda Taehyung sejenak seraya menatap kearah Yoongi intens.
"Jika kau pergi. Kami juga akan pergi!"
"ITU BENAR!"
"Astaga~" Namjoon berjengit kaget kala seruan Hoseok serta munculnya Seokjin dan Jungkook di belakang pemuda yang selalu tersenyum cerah itu. Sementara, Yoongi yang melihat ketiga temannya yang lain hanya memutar kedua bola matanya jengah.
Hoseok memilih untuk duduk di samping kanan Namjoon, mengingat Taehyung disisi kirinya sementara Seokjin dan Jungkook duduk di samping kanan-kiri Yoongi.
"Sejak kapan kalian ada disini?" tanya Yoongi datar.
"Sejak kapan Tae?" Seokjin memasang pose tampak mengingat kearah Taehyung.
"Sejak—kau berniat untuk pergi dan menyusul Jimin?" balas Seokjin kini menoleh kearah Yoongi kemudian disusul seruan Jungkook yang mengatakan,
"Atau sejak—Jimin hyung, yang merindukanmu hyung?" sahut Jungkook.
"Ah, atau—sejak kau menawarkan diri untuk memukul Namjoon?" tutur Hoseok ikut nimbrung diiringi tawa menggelegar dari Taehyung.
Namjoon menghela nafas dan Yoongi berdecak.
"Bilang saja, jika kalian sudah menguping sejak tadi." sarkas Namjoon.
"Eyy~ kita tidak berniat menguping. Bagaimanapun juga kita ingin menghibur uri Yoongi yang sedang gundah." balas Seokjin yang mau tak mau dibalas kekehan dari Namjoon, Hoseok, Taehyung dan Jungkook.
"Jadi, apa benar kau akan merelakan kepergian Jiminie hyung, hyung?" tanya Jungkook pada Yoongi. Yoongi mengangkat bahunya acuh.
"Setidaknya aku harus terlihat gentle dan keren di matanya 'kan?"
"Hah?" pekik kelimanya yang mau tak mau membuat Yoongi tersenyum kecil melihat ekspresi konyol dari kelima sahabat kecilnya. Agaknya, ia bersyukur Tuhan telah mengirimkan sahabat-sahabat yang akan selalu menemaninya disaat ia merasa kosong dan kesepian seperti saat ini.
"Sebenarnya, hyung. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan pada kalian." sela Hoseok membuat Taehyung memekik heboh.
"Itu hyung maksudku! Kami tidak berniat menguping karena Hobi hyung ingin menyampaikan sesuatu pada kita semua tapi dia tidak mau mengatakan itu apa jika tidak bertemu denganmu dulu. Makanya, kami berempat mencarimu dan tadaa~ ternyata kau disini dengan Namjoon hyung." jelas Taehyung seraya menoleh kearah Namjoon dan berbisik tidak pelan di telinganya. "Saat kau datang, kau tidak dipukul lagi 'kan hyung?"
Pletak!
"Yak!" Taehyung membulatkan kedua matanya horor saat Namjoon dengan tidak berprikemanusiaannya menggeplak kepala Taehyung.
"Kau yang ingin kupukul!" desis Namjoon.
"Hyung, kau tak boleh memukul Taehyung hyung." sela Jungkook terlihat cemas yang hal itu membuat kelima hyungnya menatap Jungkook tak mengerti kecuali Taehyung yang menatap Jungkook dengan senyum cerah di wajahnya karena mengira bahwa Jungkook akan membelanya, sampai si gigi kelinci itu membuka suaranya untuk mengatakan, "Nanti jika kau memukulnya bisa-bisa peringkat Taehyung hyung, bisa benar-benar menjadi yang terakhir."
"YAK! JEON JUNGKOOK!" seru Taehyung kala kelima sahabatnya menertawakannya keras termasuk Yoongi yang akhirnya bisa tertawa lepas seperti saat ini. Taehyung tersenyum tampan dan menatap Jungkook yang masih tertawa karena leluconnya sendiri. Taehyung rela jika ia dijadikan bahan lelucon agar membuat hyungnya merasa terhibur dan tidak sendirian. Karena, itulah tujuan mereka berkumpul menemani Yoongi di ruangan ini.
"Sudah-sudah! Jadi, katakan apa hal sesuatu itu?" Seokjin melerai dan menatap Hoseok selidik. Hoseok mengulas senyum. Senyuman yang amat lebar yang membuat kelima sahabatnya semakin mengeryit bingung karenanya.
"Kalian penasaran ya?" tanya Hoseok penuh teka-teki.
"Jung Hoseok~" desis Yoongi jengah. Hoseok terkikik geli.
"Arra-arra, aku hanya bercanda. Baiklah, kalian siap mendengarnya?" tanya Hoseok basa-basi.
"Jung Hoseok~" kini, Namjoon yang mendesis.
"Sabar sebentar, kalian akan segera tahu." lanjut Hoseok mengabaikan desisan kelimanya.
"Jung Hoseok~" kali ini, Seokjin yang menatap Hoseok penuh peringatan. Hoseok terkekeh.
"Baiklah-baiklah. Sebenarnya—" Hoseok menjeda ucapannya sampai ada satu tidak, dua orang yang mengucap namanya bersamaan.
"Jung Hoseok~" desis dua orang itu yang membuat wajah Hoseok berubah. Ia bangkit dari duduknya dan—
Plak!
Plak!
Memukul kepala Taehyung dan Jungkook pelan karena dengan kurang ajarnya menyebut namanya tanpa memanggilnya dengan embel-embel 'hyung'.
"Dasar bocah!" Hoseok menggeram kesal sampai Yoongi kembali menatap tajam dan penuh peringatan.
"Jung Hoseok!" Hoseok mencibir menyebut namanya sendiri yang membuat kelima sahabatnya menggeleng malas.
"Jika tidak ada yang penting, aku pergi!" ancam Yoongi hendak beranjak namun langsung Hoseok cegah dengan cepat.
"Hey hey.. Hyung, kalian tidak akan rugi jika mendengarku kali ini. Justru sebaliknya, kalian akan menyesal jika pergi sekarang." himbau Hoseok. Yoongi berdecak dan kembali duduk di tempatnya.
"Kalau begitu, cepat katakan!" pinta Yoongi tak sabar. Hoseok kembali mengulas senyum tampan.
"Setelah makan malam tadi, ayahku mendapat e-mail." ujar Hoseok yang membuat kelimanya menatap Hoseok tak percaya.
"Lalu, apa hubungannya dengan kami?" tanya Taehyung masuk akal. Hoseok menghela nafas.
"Ayolah, jangan bertele-tele hyung~" gumam Jungkook penasaran.
"Kalian tidak tanya e-mail itu dari siapa?" tanya Hoseok kemudian.
"Jung Hoseok~" desis Seokjin tak sabar. Hoseok tersenyum simpul. "Kami akan benar-benar pergi jika kau tidak kunjung mengatakan semua maksudmu." ancam Seokjin. Hoseok mengedikkan bahunya acuh.
"Pergilah! Jika kalian tidak ingin tahu. Padahal, e-mail itu dari Jiminie." gumam Hoseok melipat tangannya di depan dada seraya menatap kelima sahabatnya yang terlihat diam, tak merespon atau bahkan tak berekspresi sedikitpun. Kelimanya, terutama Min Yoongi.
"Kau menyebut siapa hyung?" akhirnya Jungkook bertanya setelah selama hampir 10 menit Hoseok menunggu salah satu dari kelima sahabatnya membuka suara.
"Jimin. Park Jimin. Jiminie." jawab Hoseok berulang dan menatap kelimanya antusias.
"Kau sedang tidak berbohong 'kan?" tuduh Seokjin curiga. Hoseok menghela nafas.
"Tidak, hyung."
"Kau sedang tidak bercanda 'kan?" tanya Namjoon. Hoseok menghela nafas untuk kedua kalinya.
"Tentu saja tidak! Lihat wajahku, apa terlihat seperti sedang bercanda?" Hoseok menunjuk wajahnya sendiri.
"Kau sedang tidak berusaha menyenangkan Yoongi hyung, 'kan?"
Plak!
Yoongi menggeplak kepala Taehyung tak berperasaan. Taehyung mengelus kepalanya seraya mencibir kearah Yoongi yang tentu saja diabaikan oleh pemuda pucat itu.
"Ayolah, hentikan keraguan kalian yang tak berguna itu. Ayo, baca isi e-mailnya. Asal kalian tahu, aku juga belum membacanya karena aku ingin membacanya bersama kalian. Bukankah aku orang yang baik? Dan kalian malah menuduhku?" cibir Hoseok.
"Mianhae~ bagaimana pun juga kami 'kan tidak percaya jika Jiminie akan mengirim e-mail pada ayahmu." balas Seokjin.
"Tapi, apa e-mail itu ditujukan untuk kita, hyung?" tanya Jungkook kemudian.
"Kata ayahku untuk kita berenam. Tapi, kita akan tahu setelah membaca isinya." ujar Hoseok, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dengan lihai jari-jari tangannya menari diatas layar benda persegi empat itu. "Dengarkan baik-baik, arraseo?" bak tengah menghadapi ujian dengan soal yang dibacakan sang guru kelimanya menatap Hoseok intens dan menunggu kata perkata yang Hoseok keluarkan dengan saksama.
"Untuk, Seokjin hyung, Jungkookie, Hobi hyung, Taehyungie, Namjoon hyung dan Yoongi hyung—"
"Tunggu!" sela Yoongi menghentikan Hoseok dan Hoseok hanya menatapnya penuh tanya. "Kenapa namaku disebut terakhir?"
"Memang begitu yang tertulis disini." Hoseok menunjuk layar ponselnya. Yoongi mencebikkan bibirnya tak suka.
"Sepertinya Jimin menulis nama kita sesuai dengan urutan orang yang pertama akrab dengannya." tutur Seokjin yang dibalas anggukan dari Jungkook.
"Lalu, kenapa aku di nomor tiga? Bukankah kedudukanku dan Jungkook sama?" protes Hoseok.
"Eyy~ hyungnim, tentu saja berbeda namaku di nomor dua karena Jiminie hyung menganggapku seperti adiknya sendiri." Jungkook berujar bangga.
"Lalu, kenapa aku yang terakhir?" Yoongi masih tak terima.
"Jika ini surat cinta mungkin namamu yang pertama, Min Yoongi." balas Seokjin.
"Huh?" Yoongi mengerjapkan kedua matanya bingung yang mana membuat kelima sahabatnya terkekeh melihat wajah Yoongi yang berekspresi lucu.
"Sudah, hyung. Ayo, lanjutkan saja!" lerai Taehyung tak sabar. Hoseok mengangguk dan siap untuk melanjutkan membaca e-mail dari Jimin pada kelima sahabatnya.
"Hyungdeul, Taetae, Kookie.. Annyeong?
Bagaimana kabar kalian? Baik? Aku harap, kalian tetap baik-baik saja. Maaf, sudah membuat kalian cemas sebelumnya. Sungguh, aku tidak bermaksud membuat kalian semua khawatir. Tapi, kalian tenang saja. Aku sudah baik-baik saja sekarang.
Aku tidak tahu, surat ini harus berisi ucapan 'apa kabar', permintaan maaf, atau justru salam perpisahan. Maafkan aku, jika lagi-lagi aku membebani kalian selama ini. Jika lagi-lagi aku menorehkan luka pada kalian meskipun aku sudah ingat semuanya. Jika diberi pilihan, aku juga ingin tetap tinggal. Tapi, aku juga tidak bisa mengikari janjiku pada haraboji. Aku tidak ingin membuat orang-orang kecewa lebih banyak lagi, terlebih mengingat sikap burukku sebelumnya pada kalian.
Jika boleh mengatakan jujur. Aku juga ingin, seperti masa kanak dulu. Saat kita bermain bersama. Mungkin, pada awalnya aku hanya memiliki Jin hyung, Hobi hyung dan Kookie tapi kemudian teman kecilku bertambah dengan adanya Yoongi hyung, Namjoon hyung dan Taetae. Dan itu, adalah hal membahagiakan untukku memiliki kalian berenam. Rasanya, aku benar-benar ingin mengulang masa kecil kita, bermain bola di taman, bermain ayunan, bermain pasir, bermain petak umpet, melihat bintang, pesta piyama, hingga merayakan natal bersama keluarga.
Bahkan, saat aku amnesia kalian tetap menjagaku dengan cara kalian. Kalian selalu melindungiku. Dan aku sadar, aku tidak bisa apa-apa tanpa kalian. Segala pertengkaran kecil, kesalahpahaman hingga waktu luang yang kita habiskan di RC. Aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih karena kalian hadir dalam hidupku. Aku benar-benar sangat beruntung bisa bertemu kalian. Dan aku berharap, kita bisa bersama lagi di waktu selanjutnya.
Park Jimin..."
"Itu—terdengar seperti salam perpisahan." lirih Taehyung setelah Hoseok selesai membaca surat dari Jimin, diikuti anggukan dari Jungkook yang tengah menyeka air matanya yang keluar begitu saja.
"Secara tidak langsung, Jimin sedang berpamitan pada kita." balas Seokjin mengusap wajahnya kasar.
"Kau baik hyung?" tanya Namjoon melihat Yoongi yang tak bereaksi apapun. Yoongi menarik nafas dan tersenyum kecil.
"Hm, aku sedikit lebih baik setelah mendengar surat darinya. Kalian tak perlu cemas." Yoongi berusaha untuk tersenyum meskipun sorot matanya menyiratkan sebuah luka mendalam yang tak bisa ia bagi pada siapapun. Yoongi menarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan. "Aku masuk dulu, jangan terlalu lama disini." pamit Yoongi beranjak dari duduknya. Ia berjalan meninggalkan kelima sahabatnya yang hanya bisa memandangi punggung rapuh yang berjalan semakin menjauh dari mereka.
"Yoongi hyung, akan baik-baik saja 'kan?" tanya Jungkook cemas.
"Tenang saja, Kookie-ya. Yoongi pasti baik-baik saja." balas Seokjin menggeser duduknya untuk menarik Jungkook ke dalam pelukannya serta menenangkan adik kecil mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini adalah hari ketiga, Jimin dikurung di kamarnya. Hari ketiga ia tidak bicara dengan kakeknya bahkan Hyukjae sekalipun. Hari ketiga ia menghabiskan makanannya tiga kali sehari di kamarnya tepat waktu karena kepala pelayan mengantar makanan langsung ke kamar Jimin. Dan, yang paling penting dari semua itu adalah ini hari ketiga Jimin bisa memandangi sosok yang ia rindukan yang selalu datang setiap saat di depan rumahnya dengan berani. Tak peduli, saat berkali-kali para pengawal kakek Park mengusirnya dan melarangnya untuk berada disana, tapi lelaki yang bernama lengkap Min Yoongi ini tetap kukuh pada pendiriannya, membuat semua orang dirumah dibuat pusing dengan kedatangan Yoongi yang selalu menimbulkan kerincuhan karena ingin bertemu dengan Jimin. Tapi, untuk Jimin sendiri kedatangan Yoongi dan melihat wajah pemuda tampan itu membuat sebersit rasa hangat dihatinya kala melihat bagaimana perjuangan Yoongi yang juga berhadapan dengan kakeknya yang tak kalah tegas dari ayahnya.
Seperti saat ini, yang untuk kesekian kalinya. Kakek Park yang akan berangkat ke kantornya pagi-pagi bersama orang-orang kepercayaannya—kecuali, Hyukjae karena Hyukjae harus tetap menjaga Jimin—ia harus dihadapkan dengan sosok Yoongi yang sudah bertengger di badan mobil mewahnya. Kakek Park berdecak, ia sudah terlalu tua untuk meladeni urusan anak muda.
Kakek Park berjalan mendekati Yoongi, keluar gerbang dari rumahnya sementara Yoongi yang melihat satu-satunya wali Jimin berjalan mendekat seketika membungkukkan badannya formal.
"Selamat pagi, haraboji." sapa Yoongi ramah. Tak memperdulikan image keren, swag dan segala macam yang melekat pada dirinya selama ini, ia rela mengenyahkan semua itu hanya untuk mengambil hati kakek Park agar mengijinkannya untuk bertemu dengan Jimin.
"Apa kau sudah bosan hidup?" tanya kakek Park dingin sementara Yoongi hanya memasang wajah melasnya.
"Haraboji, aku mohon~ sekali ini saja ijinkan aku—"
"Ikutlah!"
"Huh?" Yoongi terkejut saat kakek Park memotong rengekannya dan mengajaknya tanpa basa-basi.
"Jika kau tidak mau, kau bisa pergi." usir kakek Park.
"Tidak, haraboji. Aku akan ikut." Yoongi menahan kakek Park cepat. Kakek Park mengangguk dan mengisyaratkan pada pengawalnya untuk mengeluarkan mobilnya.
"Ikuti mobilku. Kita bicara diluar!" titah kakek Park tegas yang tak dibalas apa-apa oleh Yoongi namun dibalas dengan tindakan. Yoongi memasuki mobilnya, menyalakan mesinnya dan melaju di belakang mobil kakek Park.
Sepergian kedua mobil itu, tanpa siapapun sadari si penghuni rumah yang lain yang tengah mendapat hukuman saat ini. Tampaknya, telah mematai interaksi kakek Park dan Yoongi sedari tadi, membuatnya mengkerutkan keningnya dan berfikir keras.
'Haraboji, membawa Yoongi hyung kemana?' gumamnya ingin tahu tapi ia sadar keingintahuannya tidak akan dijawab oleh siapapun.
.
.
.
.
.
Kakek Park membawa Yoongi ke sebuah restoran bernuansa Eropa yang tak jauh dari perusahaan miliknya. Kini, kedua pria berbeda generasi itu duduk saling berhadapan. Hanya berdua.
"Aku dengar, ayahmu memiliki perusahaan otomotif."
"Nde?" tanya Yoongi terkejut kala kakek Park membuka suaranya dan itu malah perihal tentang perusahaan ayahnya. Sesuatu yang tidak pernah ia tahu sedikitpun.
"Kenapa tampak terkejut? Bukankah aku benar?" Yoongi mengangguk.
"Aku hanya tidak menyangka haraboji membuka percakapan dengan membahas perusahaan appa." kakek Park mengangguk maklum.
"Jadi—" jedanya. "Kau akan mengambil jurusan apa setelah lulus nanti? Bukankah, kau tinggal satu semester di RC?"
"Nde." jawab Yoongi tegas.
"Jadi, apa rencanamu?" sejujurnya, Yoongi tidak pernah menyangka jika kakek Park akan menanyakan tentang masa depan. Yang bahkan, belum ditanyakan oleh ayahnya sendiri. Ia kira, ajakan kakek Park pagi ini untuk membahas tentang Jimin, bukan dirinya.
"Sebenarnya, aku belum memiliki gambaran yang jelas tentang itu haraboji. Jadi, maaf jika aku tidak bisa menjawabnya." jujur Yoongi yang membuat kakek Park mengangkat sebelah alisnya dan menatap Yoongi tak terbaca. Hal itu, membuat Yoongi cemas karena ia yakin kakek Park pasti akan mengecap dirinya sebagai pria yang buruk dan bukan pria sejati. Pupus sudah harapannya untuk mengambil hati kakek kandung Jimin.
"Tapi, jika kau diberi tawaran oleh ayahmu untuk meneruskan perusahaannya kelak. Apa kau bersedia?" Yoongi mengerjapkan kedua matanya sekali. Ia bahkan tak pernah memikirkan tentang meneruskan perusahaan ayahnya. "Atau kau memiliki jalan lain?"
"Sebenarnya, aku tidak tertarik di bidang bisnis haraboji. Aku selalu mangkir dalam pelajaran bisnis entah dari sekolah atau pun dari appa." jawab Yoongi jujur. Ia tidak peduli bagaimana pandangan kakek Park atas kejujurannya. Tapi, memurut prinsipnya tidak ada gunanya berucap bohong yang padahal bertolak belakang dengan kenyataan. Itu sama saja, kau hidup dengan menggunakan topeng.
"Lalu, apa yang kau suka?"
"Aku suka musik sejak kecil. Tapi, appa sedikit tidak mendukungku."
"Apa kau ingin menjadi musik sebagai cita-citamu?" tanya kakek Park bak mewawancari pegawainya dengan pertanyaan menjebak.
"Aku rasa, musik hanya seperti hobi bagiku, haraboji." jawab Yoongi yakin.
"Kalai begitu, apa rencanamu di masa depan. Kau tidak suka bisnis. Kau hanya suka musik. Tapi, musik itu sendiri hanya menjadi hobimu. Tidakkah kau tahu? Hidup bersama hobi itu masih belum cukup." Yoongi tersenyum kecil.
"Kalau begitu, bagaimana jika begini haraboji? Kita merencanakan sesuatu saat ini untuk masa depan kita. Kita juga sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Tapi, apakah semua itu cukup untuk bekal masa depan kita nanti? Kita tidak tahu, jika kapan saja rencana bisa saja menjadi wacana. Jadi, lebih baik kita melakukan semuanya bersamaan seraya memikirkan apa yang memang pantas untuk di kehidupan selanjutnya. Tidak ada dari kita yang tahu tentang masa depan kita haraboji. Bahkan, dari rencana yang sudah tersusun sekalipun bisa mengalami perubahan karena ulah kecil yang tidak kita sadari." kakek Park menatap Yoongi lamat. Sementara Yoongi hanya berusaha untuk meruntuhkan dinding yang kakek Park buat untuknya. Namun, tak lama kemudian kakek Park tersenyum hangat.
"Aku dengar, kau pernah tinggal di London." kakek Park berujar mengalihkan pembicaraan.
"Nde." jawab Yoongi tanpa ragu. "Tiga tahun, aku disana haraboji."
"Cukup lama, huh?"
"Jadi, apa haraboji sudah selesai mengetesku?" tanya Yoongi tersenyum sekilas yang membuat kakek Park tertawa lepas.
"Apa memang semua remaja masa kini, sangat cakap pada setiap situasi?"
"Percayalah, haraboji tidak semua orang seperti itu. Termasuk aku." kakek Park mengangguk paham.
"Kau—mau menunggu Jimin 'kan?"
"Nde?" sahut Yoongi bereaksi cepat kala kakek Park menyebut nama Jimin sejak pertemuan mereka pagi ini.
"Kau bersedia, menunggu Jimin sampai kapanpun?" ulang kakek Park lebih detail. Yoongi mengangguk mantap.
"Aku bersedia menunggu Jimin sampai kapanpun, haraboji."
"Kau tidak akan berpaling darinya?"
"Aku tidak akan bisa berpaling darinya. Aku sudah mencintainya sejak kita berdua masih kanak." kakek Park tersenyum tenang.
"Kalau begitu, tidak ada yang perlu ku khawatirkan lagi. Dan juga, katakan pada temanmu yang lain. Aku akan membawa Jimin untuk berpamitan secara resmi ke RC, satu hari sebelum keberangkatannya ke London." Yoongi membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Haraboji, tidak bercanda 'kan?" tanya Yoongi memastikan. Kakek Park tersenyum dan menggeleng.
"Tentu, aku akan membiarkan Jimin satu hari penuh berada disana." Yoongi bersorak girang sampai secara refleks berhambur dan memeluk kakek Park bahagia.
"Terima kasih, haraboji. Terima kasih. Aku mencintaimu." kakek Park terkekeh dan membalas pelukan hangat Yoongi kepadanya.
.
.
.
.
.
Sore, dihari ketiga dikurung di kamarnya tidak ada yang berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Tubuh mungil si pemilik kamar tengah bergelung resah diatas kasurnya memikirkan hal yang seharusnya tidak boleh ia pikirkan. Tapi, bagaimana tidak ia pikirkan jika pikiran-pikiran itu masuk begitu saja dan terus menghantuinya?
Jimin menerlentangkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar diatasnya. Ia mendesah lelah kala hati, pikiran bahkan jiwanya tak bisa kompak seperti ini. Dimana, hatinya yang mencoba untuk mengenyahkan segala yang ada di pikirannya sementara jiwanya yang saat ini berada di pihak tengah, dilema antara mengikuti kata hati atau pikirannya.
Jimin melirik kearah laptop putihnya yang berada di atas meja belajarnya. Berfikir sejenak. Jika dipikir-pikir memang benar apa kata pikirannya, dimana seharusnya ia tak menyimpan bukti itu terlalu lama. Toh, bukankah bukti itu bisa menyelesaikan semua nasalah yang tengah dihadapi orang terdekatnya selama ini? Tapi, masalahnya sekarang adalah tidak ada satupun yang tahu jika bukti itu berada di tangan Jimin saat ini.
Jimin bangkit dari kegiatan terlentangnya yang membuang waktu. Dengan tak sabar, ia berjalan menuju meja belajarnya dan menghidupkan laptopnya dengan perasaan dilema yang sangat besar. Jimin mengetuk-etukkan jarinya diatas meja tak sabar, menunggu laptopnya sampai benar-benar menyala.
Jari-jari Jimin menari lihai diatas keyboard laptopnya setelah benda putih bermerk apel digigit itu berhasil menyala. Sesekali, Jimin menarik nafas menenangkan diri. Ia tidak yakin jika apa yang akan ia lakukan ini benar atau justru akan menimbulkan kegemparan yang lebih hebat nantinya.
Tuk!
Jimin menghentikan gerakan sepuluh jarinya setelah ia menekan tombol 'enter'. Jimin menatap layar laptopnya dalam-dalam. Rasa cemas bercampur gusar ia rasakan saat ini. Jimin mengepalkan kedua tangannya diatas keyboard seraya memejamkan kedua matanya. Bunuh diri namanya, jika ia berniat mengirimkan bukti copy-an itu ke Badan Intelijen Negara. Bahkan, ia bisa mati detik itu juga kala merencanakan untuk juga mengirim bukti ke salah satu perusahaan stasiun televisi.
Jangan tanyakan kenapa Jimin berniat untuk melakukan hal berbahaya dibandingkan menyelamatkan ibu Namjoon tempo hari. Karena, dibalik rencananya ada alasan yang tepat dari semua itu. Pertama, ketua BIN adalah ayah dari Jeon Jungkook serta salah satu perusahaan televisi yang akan ia kirimi terdapat lebih dari setengah sahamnya milik ayah Seokjin. Maka dari itu, ia berani untuk melakukan hal bunuh diri seperti ini. Kedua, sebenarnya ada maksud tersembunyi dari Jimin mengirim e-mail kepada dokter Jung yang ia tujukan kepada keenam sahabatnya. Karena, entah kenapa sejak malam penuh kenekatan itu, mendadak perasaan Jimin tidak bisa tenang dan ia merasa akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi padanya. Jimin sangat mengenal dirinya sendiri dan ia sangat tahu perasaan yang sedang ia rasakan beberapa hari ini adalah perasaan yang akan membawanya ke sebuah bencana yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Maka dari itu, Jimin mengirim pesan tersembunyi yang semoga saja dipahami oleh keenam temannya.
Jimin menyatukan kedua tangannya dan memposisikannya tegak dengan dahinya. Jimin memejamkan kedua matanya. Menjernihkan pikiranya sejenak. Dan disaat itulah, bayang-bayang kedua orang tuanya muncul begitu saja. Tanpa sadar, Jimin mengeratkan satuan tangannya kala bayangan kedua orang tuanya berubah menjadi kecelakaan mengerikan yang menewaskan mereka.
"Appa... Eomma... Aku tidak akan membiarkan mereka lolos kali ini. Aku janji akan membuat iblis itu menerima balasannya meskipun harus mempertaruhkan nyawaku sekalipun!" tekad Jimin yang juga menyakinkan hatinya agar sejalan dengan pikirannya, bahwa yang ia lakukan demi kebaikan semua orang.
.
.
.
.
.
Cklek!
Jimin menoleh kala mendengar pintu kamarnya terbuka dan muncullah sang kakek yang akhirnya menemuinya setelah mendiamkannya selama tiga hari.
"Haraboji~" Jimin tersenyum hangat melihat kakek Park berjalan mendekatinya yang tengah menikmati suasana senja di detik-detik musim panas akan berakhir.
Jimin berhambur memeluk sang kakek yang tentu saja akan direspon kakek Park dengan senang hati.
"Haraboji, jeongmall mianhae~ aku tahu, aku salah tapi aku mohon. Jangan diamkan aku seperti ini." rengek Jimin membuat sang kakek terkekeh.
"Hey, Jiminie... Sebenarnya haraboji tidak pernah marah padamu." Jimin mengerjapkan kedua matanya lucu.
"Benarkah haraboji?" kakek Park mengangguk seraya mengelus pipi Jimin lembut.
"Haraboji hanya tidak ingin kehilanganmu, nak. Kau adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki." Jimin tersenyum manis.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan haraboji. Aku janji." balas Jimin. Kakek Park terkekeh.
"Dan, maafkan haraboji jika harus membawamu pergi darisini." Jimin menggeleng.
"Tidak haraboji. Ini semua, juga demi kebaikan kita semua." balas Jimin bijak. Kakek Park mendesah lega.
"Ehm.. Haraboji?" panggil Jimin ragu.
"Ada apa, hm? Kau ingin menanyakan sesuatu?" Jimin mengangguk polos.
"Apa yang—haraboji katakan pada Yoongi hyung tadi pagi?" tanya Jimin ragu. Kakek Park memincingkan matanya menatap Jimin dengan pandangan tak terbaca.
"Kau tahu, hm?"
"Ani~ aku tak sengaja tadi pagi melihat haraboji menghampiri Yoongi hyung. Haraboji, tidak bicara aneh-aneh padanya 'kan?" tanya Jimin penuh kehati-hatian sementara kakek Park tersenyum menggoda.
"Aneh-aneh seperti apa?" kakek Park balik bertanya dan Jimin hanya mengulum bibirnya. "Apa seperti, kau yang merindukannya."
"Haraboji~" pekik Jimin tanpa sadar merona hal itu membuat kakek Park semakin gencar untuk menggoda cucu kesayangannya yang amat menggemaskan.
"Arra-arra... Haraboji hanya mengatakan padanya untuk mencari calon istri yang lain. Yang lebih cantik, pintar dan seksi mungkin? Lagi pula, sayangkan pemuda setampan Yoongi jatuh cinta padamu?"
"HARABOJI~" pekik Jimin benar-benar kesal sementara kakek Park justru tertawa puas melihat cucu kesayangannya yang mencebikkan bibirnya lucu.
"Eoh, apakah sekarang giliran Seojoon kecil yang marah pada haraboji?" Jimin mendengus.
"Aku tidak marah, haraboji. Aku hanya gemas gemas gemas," geram Jimin yang lagi-lagi seluruh sifat dan sikapnya selalu dapat menghibur kakek tua ini. Kakek Park merangkul Jimin dan mengusap bahu cucunya lembut.
"Haraboji senang, kau tidak menyimpan kemarahan karena keputusan ini."
"Haraboji~ ini sudah kesepakatan kita bersama."
"Terima kasih Jiminie, kau mau memahami pria tua ini." Jimin tersenyum lembut.
"Dan pria tua inilah, satu-satunya keluarga yang ku punya." balas Jimin seraya memeluk sang kakek.
"Omong-omong, besok adalah terakhir kau check up di rumah sakit. Bersiaplah besok pagi, hm?" Jimin mendongakkan kepalanya.
"Aku akan keluar?"
"Hanya ke rumah sakit, nak." balas kakek Park tegas membuat binar di kedua mata Jimin sirna seketika. "Kau akan pegi bersama Hyukjae besok pagi. Dan ingat, setelah selesai check up—langsung pulang. Mengerti?" Jimin mengangguk paham dan kembali memeluk sang kakek erat. Jimin menenggelamkan wajahnya di dada sang kakek. Diam-diam ia tengah meminta sandaran serta gumamam maaf tanpa henti karena untuk yang kesekian kalinya, Jimin kembali melanggar janjinya dengan sang kakek.
'Maafkan aku, haraboji...'
.
.
.
.
.
Tok!! Tok!! Tok!!
"Masuk!" sahut dari dalam salah satu ruangan di kantor Badan Intelijen Negara, yang dihuni oleh ketuanya.
"Maaf, saya mengganggu anda ketua Jeon. " sapa sekretaris ketua BIN, Kang Jason.
"Tidak apa sekretaris Kang, ada apa?" balas ketua BIN, Jeon Seungho tanpa menolehkan pandangannya kearah sang sekretaris dan tetap terfokus pada berkas yang ada di mejanya.
"Ada e-mail masuk yang ditujukan untuk anda, ketua Jeon." Seungho mengangkat sebelah alisnya dan menatap sekretaris Kang penuh tanya.
"E-mail?"
"Nde. E-mail itu dikirim ke alamat e-mail pos 1-G." jawab sekretaris Kang yang membuat Seungho lebih terkejut. Pasalnya, alamat e-mail pos 1-G jarang mendapat kiriman e-mail masuk karena tak banyak orang yang tahu tentang alamat e-mail itu kecuali orang-orang tertentu.
"Apa isinya?"
"Kami tidak berani membukanya."
"Waeyo?"
"Pada subject, tertulis nama mendiang Menteri Park Seojoon." Seungho membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Tunjukan padaku sekarang!" titah Seungho membuat sekretaris Kang yang sudah membawa tabletnya dan menampilkan kiriman e-mail yang dimaksud pada layarnya, langsung menyerahkan benda berlayar 10inch kepada atasannya itu.
Seungho menerima tablet sekretarisnya dan tanpa berbasa-basi ia mengklik sebuah folder yang tertulis Park Seojoon. Namun, sayangnya ketika ia mengklik folder itu ada kalimat perintah untuk menulis password pembuka folder.
"Apa kau tahu, passwordnya?" tanya Seungho. Sekretaris Kang berfikir sejenak.
"43 713." Seungho mencoba dan entah tahu darimana tapi angka yang disebutkan sekretaris Kang benar adanya.
"Darimana kau tahu?" tanya Seungho ketika layar tablet tengah meloading folder yang baru saja ia klik buka.
"Kode seri dari nama subjectnya, ketua. Masing-masing e-mail yang masuk ke pos 1-G akan secara otomatis terkunci dan hanya si pengelola e-mail yang mengetahuinya." Seungho menatap sekretaris Kang ragu, kemudian ia mengangguk paham.
"Tapi—" belum sempat Seungho melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja layar tablet berubah. Kata 'loading' sebelumnya sudah hilang digantikan dengan layar putih kosong yang belum memunculkan apa-apa. Namun, dalam hitungan detik isi dari folder itu masuk secara beruntun membuat Seungho dibuat takjub melihatnya.
Seungho memperhatikan setiap dokumen random yang tampaknya sengaja diacak dan tidak difolderkan dengan rapi. Membuat Seungho mau tidak mau membuka dokumen itu satu persatu. Tapi, ajaibnya ketika ia meng-klik dokumen pertama yang posisinya paling atas kiri secara otomatis semua dokumen yang ada di folder atas nama Park Seojoon terbuka. Keseluruhannya. Membuat Seungho menyakini jika orang yang mengirim folder ini pasti sudah memprogram semua dokumen agar saling terhubung secara otomatis terlebih dahulu.
Seungho men-scrool lembar per lembar di setiap dokumen yang ia baca. Ia membulatkan kedua matanya tak percaya. Tubuhnya melemas, keringat dingin mengucur dan wajah tampannya yang menegang kali setiap kata yang ia baca mengandung kata mengerikan yang bahkan mungkin bisa saja membunuhnya detik itu juga. Tapi, pertanyaan yang terlintas dipikirannya saat ini adalah 'Siapa yang mengirim bukti yang selama ini semua orang cari dengan selengkap ini kepadanya secara cuma-cuma?'
Seluruh tubuh Seungho bergetar, kedua matanya bergulir kesana-kemari. Ini terlalu banyak untuk ia ketahui semua faktanya. Bahkan, entah kenapa ini terlalu cepat untuk ia ketahui seorang diri.
"Ketua Jeon?" panggil sekretaris Kang yang melihat atasannya tampak kurang sehat. "Apa anda baik-baik saja?" Seungho mengangguk cepat.
"Katakan—" jedanya sejenak. "—siapa yang mengirim e-mail ini?" tanya Seungho mengingat ia belum sempat membaca di awal siapa pengirim e-mail ini.
"Nama id-nya adalah pjm." jawab sekretaris Kang. "Tapi di profil usernamenya, tertulis lengkap dengan nama Park Jimin."
Dan wajah Seungho semakin memucat setelah mendengar jika e-mail yang dikirim ke BIN berasal dari putra sulung mendiang sahabatnya. Dan itu artinya, bukti asli itu berada di tangan Jimin serta dengan kata lain, nyawa Jimin sedang dalam bahaya.
.
.
.
.
.
Blam!
Jungkook menutup pintu kamarnya seraya mengacak surainya kasar. Ini sudah lewat tengah malam bahkan hampir menjelang pagi, tapi sampai waktu itu juga Jungkook belum memejamkan kedua matanya meskipun kantuk berat sedang ia rasakan. Jungkook menguap sesekali dengan kedua matanya yang menscrool layar ponselnya secara teratur. Ia berjalan khas orang mabuk menuju dapur di rumah Yoongi, Namjoon dan Taehyung yang masih ia singgahi bersama yang lainnya.
Jungkook membuka lemari pendingin mengambil sebotol air mineral dan menegaknya rakus seraya berjalan menuju salah satu kursi meja makan. Jungkook masih menegak minumannya dengan kedua matanya yang masih terfokus pada layar ponselnya yang menunjukkan mesin pencarian berwarna hijau.
Uhuk!
Jungkook tersedak. Ia meletakkan botol mineralnya dan memegang ponselnya dengan kedua tangannya. Mendekatkan layar ponselnya ke arah matanya meskipun ia tahu itu tidak baik untuk kesehatan. Jungkook mengucek sebelah matanya berulang kali. Barang kali tulisan yang baru saja ia baca adalah bayangannya semata. Tapi, nihil. Tulisan itu nyata bahkan setelah Jungkook memperbesar ukuran font-nya dan terus membaca deretan kalimat-kalimat itu berulang kali.
"APPA!!!!!" seru Jungkook histeris yang mana teriakan membahanya bak main vocal dengam high note tinggi mampu membangunkan seluruh penghuni rumah yang sedang berada di alam mimpi masing-masing. Bahkan, tidak hanya mereka para pelayan pun ikut terbangun yang membuat rumah mewah itu kembali terang benderang dengan para penghuni dan tamunya yang satu persatu keluar menghampiri tempat suara Jungkook berasal.
"Yaampun~ ada apa Kookie-ya? Kau membangunkan semua orang." tanya Seokjin setelah sepenuhnya sadar. Jungkook menatap semua orang cemas dan dengan langkah cepat ia berjalan mendekati ayahnya yang ia ketahui baru pulang sekitar 2,5 jam yang lalu karena lembur.
"Appa, katakan padaku. Apa berita itu benar?!" tanya Jungkook menuntut mengabaikan tatapan tanya dari semua orang kearahnya.
"Berita? Berita apa?" tanya Seungho tak paham.
"Berita tentang mantan Perdana Menteri Nam Goong Won." jawab Jungkook cepat.
"Apa kau bilang?" sahut Seungwon membuat Jungkook menoleh kearah ayah Namjoon itu.
"Iya, ahjussi beritanya baru rilis tengah malam tadi dan langsung menjadi tranding nomor satu di Naver." jawab Jungkook entah apa yang membuatnya semangat.
"Memangnya, apa isi beritanya Jungkookie?" tanya Wonjoong.
"Woah~ banyak sekali artikel buruk yang menulis tentangnya." sahut Hoseok yang notabene tak pernah lepas dari ponselnya sejak tadi langsung membuka mesin pencari warna hijau ketika Jungkook menyerukan tentang berita dan Naver.
"Salah satunya?" tanya Taehyung penasaran.
"Salah satunya adalah 'Dibalik Kecelakaan Maut Keluarga Menteri Park Seojoon'," Jungkook yang menyahut. "Kemudian ada juga, 'Penggelapan Dana Pemerintah Yang Dilakukan Mantan Perdana Menteri Nam Goong Won Selama 10 Tahun Dalam Tahap Penyelidikan'. benarkah?" Jungkook membulatkan kedua matanya tak percaya. "Dan ini yang paling parah, 'Bisnis Illegal Yang Ditekuni Mantan Perdana Menteri Nam Goong Won Terbongkar',"
"Tapi, tunggu!" sela Seungho masih dalam mode terkejutnya. "Bagaimana bisa semua berita itu terbongkar sebegitu cepatnya? Bahkan, kami baru akan menyeledikinya nanti pagi."
"Kami?" pekik Chilhyun terkejut.
"Nde. Hari ini BIN mendapat e-mail yang berisi copy-an bukti kejahatan Nam Goong Won selama ini. Bahkan, tidak hanya kejahatannya—semua aset yang ia punya ternyata ia dapat dari uang haram." jawab Seungho serius.
"Kau serius?" sahut Wonjoong tak percaya. Seungho mengangguk.
"Maka dari itu, seluruh anggota BIN mulai akan beroperasi untuk mematai gerak-gerik Nam Goong Won pagi nanti, terlebih copy-an bukti itu adalah bukti yang selama ini Seojoonie kumpulkan delapan tahun yang lalu. Bukti yang akan ia tunjukan pada kita." jawab Seungho.
"Tapi, hyung—siapa yang mengirim e-mail bukti itu pada BIN? Siapa yang berani melakukan semua itu? Dan, bukankah itu artinya si pengirim memiliki bukti aslinya?" tanya Jaeduck yang juga merupakan pertanyaan yang ingin diketahui oleh semua orang. Seungho tampak terdiam, tatapannya berubah dari keterkejutan menjadi gusar yang hal itu membuat Jungkook menentuh lengan sang ayah lembut.
"Appa~" lirih Jungkook membuat Seungho tersentak. Seungho menoleh kearah Jungkook dan tersenyum sendu.
"Park Jimin."
"Mwo?" pekikan pertama keluar dari Yoongi ketika ia mendengar nama Jimin disebut oleh ayah Jungkook dengan lirih.
"Apa maksudmu?" tanya Seungwon. Seungho menghela nafas.
"Tadi sore, sekretarisku mendapat e-mail atas nama pjm yang tak lain adalah Park Jimin. Aku tidak tahu darimana Jiminie mendapatkan semua bukti itu." jawab Seungho lebih jelas yang berhasil membuat seluruh penghuni rumah membulatkan kedua mata mereka tak percaya.
"Jadi, apa dengan kata lain—bukti itu berada di tangan Jimin sekarang?" tanya Wonjoong. Seungho mengangguk kecil.
"Aku benar-benar tidak memyangka jika akan ada artikel buruk yang menulis tentang Nam Goong Won secepat ini." lanjut Seungho cemas.
"Kalau begitu, apa Jimin juga yang menyebarkan copy-an bukti itu pada media?" tanya Chilhyun namun tak langsung mendapat jawaban dari siapapun.
"Anak-anak, masuk kamar dan tidurlah. Ini sudah terlalu larut." titah Seungho pada keenam lelaki yang jelas-jelas di wajah mereka tak tergambar rasa kantuk sama sekali.
"Tapi, appa—" tolak Jungkook tapi ketika Seokjin meraih tangannya dan menggeleng membuat Jungkook menarik nafas dan mengikuti kelima hyungnya yang berjalan menuju kamar masing-masing meninggalkan para orang tua yang tampaknya akan membicarakan hal serius sepergian anak-anak mereka.
.
.
.
.
.
Praaang!!!!
Brak!
Pria paruh baya itu membanting semua benda-benda yang ada di ruang kerjanya. Wajahnya penuh kemurkaan sementara para pengawal hingga tangan kanannya yang berada di ruang itu hanya bisa menunduk takut saat sang tuan terlihat ingin melayangkan nyawa mereka dengan keji detik itu juga.
"BRENGSEK! Bagaimana bisa mereka menerbitkan berita seperti itu?! Kenapa semuanya bisa tersebar?!" seru si tuan rumah mengepalkan kedua tangannya diatas meja kerjanya. Kedua matanya berkilat penuh amarah dengan warna mukanya yang sudah memerah.
"Tuan Nam—" panggil tangan kanan pertama, Jung Yunho pada sosok pria paruh baya yang tak lain adalah Nam Goong Won. Yunho memberanikan diri berjalan mendekati tuan Nam, tak memperdulikan jika sang tuan tetap menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Saya rasa, saya tahu siapa dibalik semua ini." bisik Yunho tak lupa dengan seringai keji andalannya.
"Siapa?!" tanya tuan Nam menyeramkan. Yunho semakin melebarkan seringainya kala menyebut,
"Siapa lagi jika bukan Park Jimin?" jawab Yunho yakin. "Hanya dia satu-satunya pengancam kita selama ini. Apalagi, bukankah anda ingat tuan Nam? Kejadian tiga hari lalu, ketika keponakan kesayangan anda datang membebaskan adik anda bersama Park Jimin. Bahkan, dengan bodohnya bocah itu mengatakan jika dia sudah ingat semuanya." tuan Nam berdecak dan menatap Yunho seram.
"Kau yang lebih bodoh darinya, Jung Yunho!" desis tuan Nam. Yunho hanya menunduk, bukan karena takut tapi hanya karena sosok paruh baya di depannya adalah atasannya.
"Dengarkan baik-baik!" seru tuan Nam menatap seluruh pekerjanya garang. "Aku tidak ingin kalian melakukan satu kesalahan sekecil apapun kali ini. Jadi, dengarkan baik-baik—" tuan Nam menjeda ucapannya sejenak.
"Bawa Park Jimin besok pagi ke hadapanku dalam keadaan hidup! Aku tidak peduli bagaimana cara kalian membawa bocah tengik itu! Dan, jika kalian gagal kali ini, bersiaplah—nyawa kalian yang akan jadi taruhannya!" titah tuan Nam penuh peringatan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin mencebikkan bibirnya kesal sementara Hyukjae yang duduk di bangku kemudi di sampingnya hanya menggelengkan kepalanya melihat rajukan si tuan muda yang terlihat menggemaskan baginya.
"Sungguh—kita 'kan hanya ke rumah sakit bukan ke medan perang! Kenapa membawa ratusan pasukan?!" cibir Jimin mengulang kalimat yang sama setelah setengah perjalanan dari rumah kakek Park menuju rumah sakit.
"Itu demi kebaikanmu, Jiminie~" balas Hyukjae akhirnya bersuara setelah membiarkan gerutuan tak penting dari tuan mudanya. Jimin berdecak, melipat kedua tangannya di depan dada. "Dan juga, kakekmu hanya mengirim empat bodyguard omong-omong. Dan itu, bukan angka ratusan jika kau ingat."
"Hyung, jangan mencoba untuk menenangkanku! Itu tidak mempan." seru Jimin kesal. Hyukjae terkekeh. "Aku bukan anak presiden yang harus dijaga ketat hanya untuk ke rumah sakit. Bahkan, anak presiden saja tidak sampai seperti ini."
"Jiminie, apa perlu aku ingatkan apa yang sudah kau lakukan beberapa hari yang lalu hingga membuat kakekmu terpaksa melakukan semua ini?" Jimin menoleh kearah Hyukjae sebentar. Ia menarik nafas berat dan tersenyum kecil kearah Hyukjae yang masih fokus menyetir.
"Maafkan aku, hyung. Sudah membuat semua orang cemas." sesal Jimin tulus.
"Hm, aku bahkan sudah bosan dengan permintaan maafmu." cibir Hyukjae sedikit kesal. Jimin tersenyum simpul namun detik berikutnya ia menatap Hyukjae penuh peringatan.
"Nde~ terus saja bersikap dingin padaku. Kau tahu, hyungnim! Sikapmu itu lebih menyebalkan dari haraboji." Hyukjae menatap Jimin garang. "Bahkan aku rasa disini kau lah yang seperti kakek-kakek."
"Dasar bocah!" desis Hyukjae kesal yang dibalas tawa puas dari Jimin.
"Jangan seperti itu lagi, hyung. Aku tidak suka." Jimin mencebikkan bibirnya lucu. Hyukjae terkekeh.
"Kalau begitu, maafkan aku, hm?" Jimin mengangguk dan tersenyum manis.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, akhirnya mobil yang dikendarai Hyukjae serta mobil yang berisi empat bodyguard untuk mengawal Jimin ke rumah sakit sampai di Seoul Hospital.
"Hyung, bolehkah jika aku menemui Jaeduck samchon?" tanya Jimin ketika ia dan Hyukjae bersama empat pria besar dibelakang mereka berdua memasuki lobby runah sakit. Hyukjae mengangkat sebelah alisnya.
"Untuk apa? Kau tidak merencanakan sesuatu 'kan?" Jimin menghela nafas.
"Tidak, hyungnim. Aku hanya ingin berpamitan secara formal. Jika kau tidak percaya, kau bisa ikut bersamaku." jelas Jimin. Hyukjae mengangguk.
"Baiklah, kau boleh menemuinya setelah kau selesai check up bersama dokter Kim." balas Hyukjae. Jimin bersorak senang.
"Oya, hyung. Jangan terlalu genit dengan dokter Kim, nde? Sangat menyayangkan jika dokter secantik dan sepintar dirinya terjebak dengan seorang kakek-kakek sepertimu." pesan Jimin yang sontak membuat warna muka Hyukjae memerah.
"Yak! Park Jimin!" seru Hyukjae tak memperdulikan jika semua pasang mata di lantai dasar menoleh kearahnya. Dan diantara semua pasang mata itu, ada seseorang yang mengenakan setelan cleaning servis rumah sakit yang menyeringai menakutkan tepatnya kearah sosok pemuda manis yang berjalan menuju tempat lift berada.
.
.
.
.
.
Blam!
Blam!
Blam!
Ada sekitar enam mobil yang terparkir tak diundang di halaman kediaman mantan Perdana Menteri Nam Goong Won. Rumah megah, bak istana yang mungkin jika menyempatkan untuk menghitung dijaga oleh ratusan pengawal setianya.
Pagi-pagi sekali, Jeon Seungho selaku ketua BIN memutuskan untuk datang menemui Nam Goong Won terkait artikel-artikel buruk yang tersebar dini hari tadi. Ia datang bersama para tiga bawahan kepercayaannya serta dua orang detektif handal salah satunya adalah, Min Seonwoong.
"Wow~ lihatlah siapa yang datang berkunjung ke gubuk pensiun tua ini." sambut tuan Nam yang ternyata sudah berdiri menamengi rumahnya bersama para pengawal setianya. Pria paruh baya itu berekspresi penuh senyum jenaka pada Seungho dan Seonwoong yang hanya menatapnya datar tanpa minat. "Sebuah kehormatan seorang ketua BIN, Jeon Seungho dan ketua detektif Min Seonwoong bersedia untuk berkunjung menemuiku."
"Maaf, tuan Nam jika kedatangan kami mengganggu ketenangan anda." balas Seungho basa-basi.
"Oh tidak-tidak. Tidak sama sekali. Aku senang mendapat kunjungan dari 'juniorku'." sindir tuan Nam yang dibalas senyum remeh dari Seonwoong.
"Kalau begitu, saya rasa anda tidak masalah jika kami menghentikan basa-basi ini tuan Nam Goong Won." sahut Seonwoong jengah yang dibalas tawa mengejek dari tuan Nam.
"Kau memang tidak pernah berubah detektif Min. Selalu kaku dan tak tahu bagaimana caranya menyapa seorang senior." Seonwoong mendecih.
"Anda bukan lagi senior saya tuan Nam. Apa perlu saya ingatkan, anda sudah purna tugas enam tahun yang lalu. Jadi, nikmati detik-detik masa tua anda selagi anda bisa!" sinis Seonwoong. Tuan Nam menggeram tertahan namun detik berikutnya ia menyeringai dan menatap kedua pejabat penting di depannya remeh.
"Kalian ingin menangkapku sekarang? Mengawasiku 24 jam? Menjadi tahanan rumah? Atau mulai mengintrogasiku detik ini juga?" tanya tuan Nam menantang. "Dengar anak-anak!" ejek tuan Nam. "Artikel busuk itu tidak akan membuatku mendekam di penjara, kau tahu itu dengan jelas. Yah, meskipun kalian sudah memiliki copy-an buktinya." seharusnya Seungho maupun Seonwoong tak perku terkejut dengan sosok iblis yang licik di depan mereka ketika mengatakan bahwa mereka memiliki copy-an bukti dari kejahatan Nam Goong Won yang mana bukan merupakan bukti asli. Akan tetapi, jika si tersangka mengetahui bahwa mereka memiliki copy-an buktinya bukankah itu berarti dia juga mengetahui siapa pemilik bukti aslinya? Secepat itu kah?
"Tak perlu terkejut. Seharusnya, kalian sudah biasa menghadapi orang-orang sepertiku. Bukankah begitu?" tanya tuan Nam menyeringai keji.
"Jadi—" tuan Nam menjeda ucapannya sejenak. "—jangan berharap jika kalian bisa menangkapku dengan mudah sementara bukti itu masih berkeliaran di luar sana." lanjut tuan Nam yang selanjutnya pandangannya beralih pada Min Seonwoong.
"Ah~ detektif Min..." panggil tuan Nam dengan nada penuh ejekan. "Aku dengar putra kesayanganmu jatuh hati pada putra mendiang Menteri Park." lanjut tuan Nam yang membuat Seonwoong mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. "Hm, lagi pula siapa yang tidak akan jatuh hati pada pemuda manis, pintar dan berbakat sepertinya? Bukankah, putra Seojoon sangat sempurna?" tanya tuan Nam yang membuat warna muka Seonwoong dan Seungho berubah memerah. "Ah~ tapi, aku hanya ingin berpesan padamu. Tolong sampaikan putramu, 'untuk menjaga kekasih hatinya dengan baik'. Itu pun, jika anakmu masih mau hidup lebih lama bersamanya."
.
.
.
.
.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Perkembangan Jimin membaik dengan cepat. Efek operasinya pun sudah minim terlihat." jelas dokter Kim setelah membaca dengan detail hasil pemeriksaan milik Jimin.
"Jadi, apa Jimin tidak perlu check up lagi?" tanya Hyukjae. Dokter Kim tersenyum cantik.
"Tidak perlu Hyukjae-ssi. Sesuai dengan apa yang tuan Park katakan sebelumnya, hari ini adalah hari terakhir Jimin melakukan check up di rumah sakit."
"Tapi, saat di London nanti apa Jimin perlu check up juga?" dokter Kim tampak menimbang seraya menatap kearah Jimin yang sedari tadi hanya diam.
"Aku rasa perlu jika tiba-tiba saja Jimin merasakan efek sakit kepalanya. Aku akan menyiapkan berkas medis Jimin agar dokter disana bisa dengan tepat dan teliti untuk memeriksanya." balas dokter Kim. Hyukjae mengangguk paham.
"Terima kasih dokter Kim."
"Itu sudah menjadi tugasku Hyukjae-ssi." ujar dokter Kim seraya tersenyum cantik pada Hyukjae yang seketika terpana dengan dokter yang menangani Jimin selama ini. Jimin yang melihat hyung-nya tersenyum konyol dan menatap kagum pada dokter bernama lengkap Jeany Kim itu seketika menyeringai kala ada sebersit ide jahil muncul di otaknya.
"Hm... Dokter Kim." panggil Jimin membuat dokter blesteran London-Korea itu mengalihkan pandangannya kearah Jimin.
"Ada apa, Jiminie?" tanya dokter Kim. Jimin tersenyum manis.
"Karena ini adalah pertemuan terakhir kita, bolehkah aku memanggilmu noona?" pinta Jimin.
"Nde?" dokter Kim tampak terkejut namun detik berikutnya ia tersenyum cantik. "Tentu saja Jiminie. Kau boleh memanggilku Jee noona. Itu nama kecilku."
"Terima kasih noona." seru Jimin girang. "Hyung dengar, aku punya noona cantik." pamer Jimin pada Hyukjae yang sekarang mencibir iri.
"Siapa tadi yang bilang untuk tidak genit." Jimin terkekeh dan membiarkan Hyukjae bersama rasa kesalnya.
"Oya, noona. Bolehkan, aku bertanya?" ijin Jimin. Dokter Kim mengangguk.
"Tentu saja Jiminie." balas dokter Kim yang sudah selesai menulis resep obat untuk Jimin.
"Apa noona, sudah punya kekasih?" tanya Jimin sesekali melirik kearah Hyukjae untuk melihat bagaimana reaksi hyungnya itu. Hyukjae sontak menoleh kearah dokter Kim dengan tatapan berharap sementara yang ditatap tampak tersenyum malu.
"Sebenarnya aku sudah bertunangan."
"Mwo?!" Hyukjae berseru wajah berharapnya berubah menjadi wajah patah hati detik itu juga sementara Jimin dengan teganya menertawakan tingkah konyol hyungnya yang kelepasan. Hyukjae gelagapan menatap dokter Kim yang tampak terkejut seraya tersenyum malu merutuki kebodohannya.
"Maafkan tingkah hyungku ini noona. Dia sudah sendiri dalam waktu yang lama, jadi mendengar ada yang berpasangan seketika telinganya langsung iritasi." canda Jimin yang membuat dokter Kim terkekeh kecil.
"Park Jimin~" desis Hyukjae. Jimin menahan kekehannya.
"Maafkan aku, kalau begitu."
"Tidak, tidak noona. Aku yang minta maaf." sesal Jimin. Dokter Kim hanya mengulas senyum cantik. "Kalau begitu, kami pamit dulu noona. Kami harus mengunjungi dokter Jung."
"Nde, sampai jumpa Jiminie. Sampai salamku untuk dokter Jung nanti." Jimin mengangguk.
"Oya, noona. Kalau pulang ke London, hubungi aku. Aku ingin jalan-jalan dengan domter cantik. Karena, minggu depan aku sudah berangkat ke sana."
"Dengan senang hati Jiminie. Sampai jumpa disana kalau begitu." Jimin mengangguk dan melambaikan tangannya dengan akrab dan meninggalkan Hyukjae yang masih dengan konyolnya menunjukan wajah patah hatinya di depan dokter Kim yang membuat Jimin tak bisa lagi menahan tawanya lebih lama.
"Yak! Park Jimin!" seru Hyukjae tersadar, ia bangkit dari duduknya setelah menyempatkan diri untuk membungkukkan badannya pada dokter Kim dan segera berlari menyusul tuan mudanya yang memiliki sifat kelewat jahil dan nakal.
"Yak! Dasar bocah, apa-apaan itu tadi. Kau mau membuat aku malu?" tanya Hyukjae setelah berhasil menyusul Jimin yang berjalan bersama keempat bodyguardnya.
"Seharusnya, kau berterima kasih padaku hyungnim. Jika aku tidak bertanya apa kau tahu status dokter Kim?" Hyukjae berdecak sebal.
"Tapi, tidak juga membuatku patah hati secepat ini."
"Eyy~ jika masalah itu... Itu bukan urusanku. Aku 'kan tidak bermaksud membuatmu patah hati."
"Aish, sudahlah. Bersyukurlah jika kau adalah Park Jimin."
"Hm, jika aku bukan Park Jimin—aku juga tidak akan repot-repot mau bertanya."
"Sudah, lupakan! Omong-omong ada perlu apa kau dengan dokter Jung? Aku yakin, kau tidak hanya berniat untuk berpamitan 'kan?" tanya Hyukjae selidik. Jimin hanya menunjukkan cengiran khasnya.
"Hyung, kenapa kau sangat cakap?" heran Jimin. Hyukjae tersenyum bangga.
"Aku tidak mau lengah untuk kesekian kalinya dari bocah kecil sepertimu." Jimin menarik nafas.
"Baiklah-baiklah, aku akan mengatakannya padamu." Jimin berbisik di telinga Hyukjae sementara Hyukjae mengerutkan keningnya serius. Setelah selesai mengatakan apa maksud dan tujuannya menemui dokter Jung, Jimin menjauhkan dirinya dari Hyukjae dan melihat wajah Hyukjae yang berubah mengeras.
"Kenapa mereka?" tanya Hyukjae hati-hati. Jimin mengedikkan bahunya.
"Just code, hyung. Dan aku harap, mereka mengerti. Tapi, sebelum itu bolehkan aku ke kamar mandi terlebih dahulu? Ada panggilan alam yang mendesak." ijin Jimin.
"Yasudah, ayo!" ajak Hyukjae menarik tangan Jimin yang membuat Jimin gelagapan kala tak hanya Hyukjae yang ikut tapi juga empat pria berbadan besar yang turut mengekorinya sejak tadi.
"Hey hey hey... Apa juga harus kalian semua masuk ke kamar mandi bersamaku?" tahan Jimin menatap horor pada kelima orang di depannya.
"Jika untuk keamananmu maka ya. Itu harus." balas Hyukjae tak ingin dibantah. Jimin bergumam tak percaya.
"Tapi, sungguh. Ini kamar mandi hyungnim. Paling tidak, aku hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Cukup tunggu disini, dan aku akan kembali." pinta Jimin.
"10 menit itu bisa menjadi waktu yang membahayakan untukmu." tolak Hyukjae keras.
"Hyung, 10 menit itu sebentar!" Hyukjae menarik nafas.
"Kalau begitu, kami akan tunggu diluar pintu kamar mandi." Jimin mengerut tak suka namun ia tahu, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Okay! Setidaknya itu lebih baik." Jimin menyetujui dan berjalan mendahului kelima orang yang turut menemaninya di rumah sakit hari ini.
Jimin memasuki kamar mandi pria yang jaraknya tak jauh dari tempatnya berdebat dengan Hyukjae beberapa detik yang lalu. Dan seperti kata Hyukjae sebelumnya, bahwa mereka akan menunggu di depan kamar mandi pria dan membiarkan si tuan muda menyelesaikan urusannya, tanpa menyadari jika setelah Jimin masuk ada dua orang pria yang masuk ke kamar mandi dengan setelan berbeda. Yang satu, menggunakan setelan cleaning servis dan yang satu menggunakan setelan yang biasa digunakan oleh pasien yang rawat inap. Tanpa menaruh curiga sedikitpun Hyukjae bersama keempat bodyguardnya tak mengindahkan dua orang yang memang terlihat tidak ada yang aneh dari kedua orang yang baru saja masuk tepat setelah Jimin masuk.
Setelah selesai dengan urusannya, Jimin pun segera keluar dari bilik kamar mandi yang ia gunakan untuk menyelesaikan urusannya sebentar. Jimin berjalan mendekati wastafel untuk mencuci kedua tangannya. Namun, tak lama kemudian gerakan tangan Jimin dibawah kran yang airnya masih menyala terhenti kala ia merasakan gerak-gerik dari seseorang di belakangnya. Jantung Jimin berdetak cepat, ia memberanikan diri untuk menoleh bersamaan dengan—
BUGH!
Jimin memegang tengkuknya yang baru saja dipukul. Ia berbalik dan menatap seorang yang pernah mengaku sebagai hyung terdekatnya tengah menyeringai bak iblis kearahnya.
"Kita bertemu lagi Jiminie~" sapanya yang tanpa segan untuk kedua kalinya memukul tengkuk Jimin hingga pemuda manis itu jatuh pingsan di bawah kakinya.
Pria yang mengenakan pakaian pasien itu berjongkok menatap wajah manis Jimin dan membelainya lembut.
"Aku sudah katakan padamu sebelumnya untuk mempercayaiku, bukan? Tapi, kau—sama sekali tak mendengarku Park Jimin. Jadi, jangan salahkan aku jika kali ini kau tak seberuntung delapan tahun yang lalu, Jimin kecil..." gumamnya penuh seringai kejam yang terpatri di wajah tampannya.
TBC
(-) I'm back... Maaf ya saya ngaret lagi kali ini, hehe. Sebelumnya, selamat berlebaran ya reader sekalian... Maaf lahir bathin jika saya selaku penulis fict ini banyak salahnya, mohon dimaapkeun.
(-) Dan gmn sama chap ini? Semoga puas dan bisa menghibur para reader tercinta. Ini nih, udah detik-detik mau end. Hehe...
(-) Cukup segini deh ya, endak banyak-banyak. Sehat-sehat saja semuanya, liburan masih panjang tapi saya deadline masih aja full /curhat/... So, see you in next chapter guys. (Kapal YoonMin-ku yang berlayar deras mengarungi samudra /plak/ *efek Festa kemarin, kkkk)
Kamsahamnida,
