Previously...

BUGH!

Jimin memegang tengkuknya yang baru saja dipukul. Ia berbalik dan menatap seorang yang pernah mengaku sebagai hyung terdekatnya tengah menyeringai bak iblis kearahnya.

"Kita bertemu lagi Jiminie~" sapanya yang tanpa segan untuk kedua kalinya memukul tengkuk Jimin hingga pemuda manis itu jatuh pingsan di bawah kakinya.

Pria yang mengenakan pakaian pasien itu berjongkok menatap wajah manis Jimin dan membelainya lembut.

"Aku sudah katakan padamu sebelumnya untuk mempercayaiku, bukan? Tapi, kau—sama sekali tak mendengarku Park Jimin. Jadi, jangan salahkan aku jika kali ini kau tak seberuntung delapan tahun yang lalu, Jimin kecil..." gumamnya penuh seringai kejam yang terpatri di wajah tampannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

– One On The Way –

.

.

.

.

.

.

.

.

Pelaku yang baru saja memukul tengkuk Jimin itu menegakkan tubuhnya seraya melepas perban yang sengaja ia belit di wajahnya sebagai bentuk penyamaran. Pria itu membuang perbannya asal dan menatap partner yang ditugaskan untuk menemaninya.

"Kau bawa dia!" titahnya yang diangguki oleh pria yang mengenakan setelan cleaning servis untuk menyamar.

Pria yang menjadi salah satu tangan kanan Nam Goong Won, Kwon Jiyoung. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar mandi. Ia tidak bodoh menyadari bahwa bunuh diri namanya jika ia membawa Jimin yang dalam keadaan pingsan melalui pintu masuk kamar mandi. Bisa-bisa penyamarannya terbongkar dan semuanya berakhir sia-sia.

"Kau bawa troli kebersihan?" tanya Jiyoung pada pria yang sudah membopong tubuh Jimin bak karung beras.

"Ada diluar Jiyoung-ssi." Jiyoung menyeringai.

"Berikan Jimin padaku dan bawa trolimu kemari."

"Tapi, bagaimana jika mereka curiga?"

"Tidak akan!" yakin Jiyoung. "Untuk ukuran pro seperti kita, menyamar adalah suatu keahlian mudah. Aku akan masuk bilik yang ada di pojok bersamanya. Jika mereka menanyakan sesuatu padamu. Katakan saja apapun yang menurutmu terdengar masuk akal, paham?" lanjut Jiyoung. Pria itu mengangguk. "Ingat! Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun kali ini!"

Pria itu membungkukkan badannya dihadapan Jiyoung sopan sebelum akhirnya keluar untuk melancarkan rencana selanjutnya. Sepergian partnernya, Jiyoung membawa tubuh Jimin ke dalam bilik yang letaknya paling pojok dan mendudukkan tubuh pemuda manis itu pada closet yang tertutup.

Jiyoung menatap wajah manis Jimin tak berkedip. Pandangannya berubah nanar dan entah kenapa sorot matanya dipenuhi rasa bersalah, tak setajam seperti sebelumnya. Jiyoung berjongkok dihadapan Jimin dan meraih tangan mungil yang dulu sering ia genggam dan ia jaga.

"Maafkan aku, Jiminie~" Jiyoung menunduk dan tanpa sadar kedua matanya meneteskan air mata. Jiyoung terisak seraya menggenggam kedua tangan mungil Jimin erat dan sesekali menciumi punggung tangan itu.

"Andaikan—" Jiyoung menjeda sejenak. "—andaikan kau tak bertemu dengan mereka. Andaikan kau dan keluargamu tidak pindah ke Seoul dan tetap di Busan. Kau tak akan mengalami hal semerikan ini, Jiminie. Tapi, semuanya sudah terlambat. Kau harus menanggung apa yang tidak ada kaitannya denganmu bahkan keluargamu." Jiyoung mendongak menatap wajah damai Jimin dengan tangannya yang terulur untuk mengelus pipi cubby itu.

"Dan, maaf—jika aku tidak bisa melindungimu lagi. Tapi, ini adalah satu-satunya jalan agar kau tak lagi menanggung semuanya. Agar kau terbebas dari semua beban yang tak seharusnya kau tanggung. Agar kau—bisa berkumpul dengan keluargamu disana. Maafkan aku, Jiminie... Maafkan aku," sesal Jiyoung mengambil kesempatan terakhir untuk merengkuh 'tuan mudanya' yang juga merangkap sebagai satu-satunya teman yang ia miliki di masa lalu, teman lama ... yang sudah pergi karena memilih orang lain dan mungkin akan pergi lagi tanpa memberikan kesempatan untuk sedikit mengenang masa lalu mereka sebelum memiliki kehidupan baru di Seoul.

.

.

.

.

.

"Menurut informasi yang ditulis Seojoon ahjussi disini, korban-korban mantan Perdana Menteri Nam Goong Won, sebenarnya saling memiliki hubungan satu sama lain." tutur Taehyung pada kelima temannya yang duduk melingkar di depan, serta samping kanan-kirinya di meja yang ada di ruang bawah tanah tempat penyimpanan minuman beralkohol.

Saat ini, kelimanya tengah memecahkan kode informasi yang ditulis ayah Jimin yang mereka dapat dari ruang kerja ayah Jungkook dan Seokjin beberapa waktu lalu..

"Jadi, apa dengan kata lain ibuku dan ibunya Yoongi hyung juga memiliki hubungan satu sama lain?" tanya Jungkook yang diangguki oleh Taehyung.

"Sepertinya begitu. Tapi, di berkas ini tidak ada keterangan apa hubungan mereka." jawab Taehyung.

"Mungkin ada di berkas lain." sahut Hoseok. Taehyung mengangguk membenarkan.

"Apa isi informasinya hanya itu?" tanya Seokjin.

"Hyung, membaca informasi dengan penuh kode setengah-setengah seperti ini itu tidak mudah. Kenapa kita tidak tanya pada para appa saja? Mereka pasti tahu 'kan?" usul Taehyung.

"Ya, kita bisa tanya pada Jaeduck samchon." sahut Jungkook menyetujui.

"Tunggu!" sela Yoongi akhirnya angkat bicara setelah sedari tadi hanya diam menyimak. Yoongi menatap Namjoon yang duduk tepat di seberangnya dengan pandangan selidik membuat empat lainnya turut memandanya dan Namjoon penuh tanya.

"Kau—" jeda Yoongi sejenak. "—apa kau tidak tahu apa-apa tentang kasus Nam Goong Won sebelumnya?" tanya Yoongi. Namjoon tampak berfikir sejenak.

"Aku tidak tahu fakta apa-apa selain mereka mengincar Park Jimin." jawab Namjoon. "Dan dibandingkan mengingat kejahatan masa lalu mereka, aku rasa mereka lebih tertarik untuk mengintai dan mematai perkembangan Jimin setiap saat."

"Setiap saat?" pekik Seokjin tak percaya. Namjoon mengangguk.

"Setiap saat." ulang Namjoon yakin.

"Woah~ sebenarnya apa yang mereka incar dari Jiminie?" heran Hoseok.

"Bukti tentu saja." jawab Namjoon tenang. "Mereka banyak melakukan transaksi illegal dan itu tidak hanya di Korea, tapi di beberapa negara besar di Asia. Bisa kalian bayangkan berapa kekayaan yang Nam Goong Won dapat dari pekerjaan gelapnya ini? Bahkan, mungkin melebihi gajinya sebagai Perdana Menteri dulu. Dan, jika kalian pernah masuk ke rumahnya, aku yakin kalian akan mengira bahwa rumahnya adalah rumah presiden kita. Itu baru satu kasus, bagaimana dengan kasus lain?"

"Kenapa kau terdengar seperti tampak mengaguminya?" tanya Yoongi. Namjoon terkekeh.

"Aku hanya bicara fakta. Lagi pula, untuk apa mengagumi hasil haram yang hanya bisa dinikmati sesaat?" balas Namjoon bangga.

"Woah~ kau terdengar seperti orang tua yang sudah merasakan bagaimana peliknya hidup." decak Hoseok yang diangguki oleh Taehyung dan Jungkook sementara Seokjin yang hanya menatap Namjoon dengan senyum cantiknya.

"Hm, omong-omong—"

"NAMJOON!" seru asisten pribadi Namjoon, Park Sehyuk yang tiba-tiba saja datang dengan wajah sumringah yang membuat keenam tuan muda itu mengalihkan pandangannya pada Sehyuk.

"Ada apa hyung?" tanya Namjoon menyahut cepat.

"Ayahmu..." jeda Sehyuk tersenyum senang.

"Ada apa dengan appa?" tanya Namjoon cemas.

"Ayahmu membawa ibumu kembali."

"Mwo?" Namjoon membulatkan kedua matanya terkejut sementara Seokjin, Yoongi, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook ikut tersenyum bahagia mendengar kabar baik ini.

Namjoon mengerjapkan kedua matanya dan senyum bahagia terukir di wajah tampannya. Kemudian, tanpa membuang waktu ia segera melesat berlari keluar dari ruang penyimpanan minuman alkohol, diikuti kelima teman kecilnya serta Sehyuk yang juga turut mengekor.

Sampai di ruang tengah, Namjoon menghentikan langkahnya melihat bagaimana ibunya yang tengah dipeluk penuh haru dan disambut oleh para orang tua teman-teman kecilnya.

"Namjoonie~" panggil Seokjin lembut. Namjoon menoleh. "Temui ibumu," lanjut Seokjin. Namjoon menatap Seokjin bimbang dan Seokjin tersenyum menguatkan.

"Nak~" sampai suara lembut yang tak lain adalah ibu Namjoon, Kim Siyeon membuat Namjoon menoleh dan tak membuang waktu untuk memeluk ibunya yang akhirnya terbebas dari kungkungan iblis yang menyekapnya selama ini.

"Eomma..." lirih Namjoon memeluk ibunya erat. Siyeon mengelus punggung putranya yang selama ini sudah banyak menderita karena dirinya.

"Eomma pulang, nak. Eomma pulang..." balas Siyeon lembut yang hal itu membuat seluruh pasang mata yang melihat interaksi ibu dan anak itu, penuh berlinang air mata haru dengan kembalinya sosok yang mereka kira sudah tiada.

.

.

.

.

.

Dengan perlahan, dan setelah mengikat kedua tangan Jimin di belakang punggungnya serta membekap mulut Jimin menggunakan kaos pendek yang Jiyoung kenakan di dalam setelan pasien yang ia pakai, Jiyoung dan bawahannya memasukkan tubuh Jimin ke dalam tong sampah kosong yang ada di troli kebersihan dan menutup penutupnya rapat, setelah sebelumnya dengan mudah partner Jiyoung membawa masuk trolinya tanpa membuat curiga sedikitpun dari orang-orang diluar sana.

"Dengar! Aku akan sedikit membuat wajahmu babak belur dan berteriaklah sekencang mungkin sampai orang-orang di depan masuk kemari. Aku akan memecah kaca di ventilasi itu dan keluar dari sana, sementara kau—berpura-puralah pingsan dan keluar setelah semua orang mengejarku. Paham?" terang Jiyoung. Pria itu mengangguk dan bersiap memyerahkan diri untuk dipukuli secara suka rela oleh Jiyoung.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

"Argh~" pria itu meringis mencoba untuk melawan Jiyoung akan tetapi Jiyoung justru terus memukulinya secara brutal.

"Ji—"

Brak!

Praaaang!

Jiyoung membanting tubuh bawahnnya ke arah kaca wastafel membuat kaca itu pecah dan pria itu terkulai lemas di lantai.

"TOLONG~" seru sang pria bersamaan dengan Jiyoung yang segera memanjat bilik kamar mandi menuju ventilasi toilet dan—

Praang!

—memukul kaca ventilasi dengan kepalan tangannya.

"Hey!"

Jiyoung yang sudah siap untuk melompat keluar pun segera menoleh ketika Hyukjae dan keempat bodyguardnya memasuki toilet dan menggeram kesal melihat sosok yang mengenakan setelan pasien itu ternyata adalah Kwon Jiyoung. Jiyoung menyeringai dan melompat begitu saja.

"Sial! Kejar dia!" seru Hyukjae setelah satu dari keempat bodyguardnya memeriksa setiap bilik toilet dan tak menemukan tuan muda mereka.

Hyukjae beserta keempat pria berbadan besar itu keluar dan mengabaikan petugas cleaning servis yang mereka kira sudah tidak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

Seluruh orang di ruang tamu —kecuali dokter Jung yang memiliki jam kerja di rumah sakit— itu terdiam setelah mendengar penuturan Siyeon yang sebenarnya, tentang apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya, Nam Goong Won selama ini. Dan, diantara semua orang yang disana, ada empat orang yang memasang wajah tegang karena kenyataan yang baru saja mereka ketahui.

"Jadi—" Jungkook berujar lirih. "—ibuku adalah adik kandung dari ibunya Yoongi hyung?" Jungkook menoleh kearah ayahnya yang juga terlihat sama shocknya dengannya. "Apa... appa juga tahu?" Seungho menggeleng samar.

"Bahkan, sebenarnya Jieun tidak tahu jika ia memiliki kakak." Siyeon yang menjawab. "Jieun diculik sejak bayi oleh anak buah ayahku. Kedua orang tua Jisang dan Jieun adalah rival ayahku untuk bisnis mereka. Sejak kehilangan Jieun, keluarga mereka benar-benar menjadi hancur, karena memang itulah tujuan ayahku menculik Jieun dari kedua orang tuanya."

"Tapi, apa keluarga Jieun tahu jika ayahmu-lah yang menculik putri mereka?" tanya Chilhyun. Siyeon menggeleng.

"Tidak ada yang tahu, bahkan aku sendiri juga tidak tahu. Tapi, hanya kakakku yang tahu siapa Jieun sebenarnya. Kakakku menaruh hati pada Jieun sejak mereka kecil—"

"Ah, aku paham sekarang!" pekik Taehyung yang membuat suasana tegang menjadi buyar karena kegirangan Taehyung tanpa sebab.

"Imo... Jadi, pada dasarnya ini semua tentang dendam lama dan cinta yang tak terbalas?" tebak Taehyung mengabaikan tatapan kejut hampir dari semua orang yang masih memasang wajah tegang. Karena, sungguh diantara mereka semua hanya Taehyung yang satu-satunya memasang wajah bak detektif conan —jika diibaratkan dalam anime—

"Y-ya... Bisa dibilang begitu. Tapi, aku kasihan pada Jieun, dia baru mengetahui bahwa Jisang adalah kakaknya tepat setelah Jisang meninggal meskipun mereka berdua sempat bertemu beberapa kali. Bahkan, dia juga tak diberi kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang meninggal sebelum Jisang. Aku merasa sangat bersalah pada Jieun. Tapi, aku lega setidaknya Jieun bertemu dengan pria yang tepat," Siyeon menatap Seungho dan Jungkook bergantian. "Kau benar-benar mirip Jieun, Jungkookie..." Jungkook tersenyum kecil. Ia pernah melihat foto mendiang ibunya di dompet sang ayah. Ibunya adalah sosok wanita yang sangat anggun dan cantik.

"Lalu, apa hubungannya dengan Jimin?" tanya Yoongi tak bisa menahan diri lagi.

"Mengenai Jimin—" jeda Siyeon sejenak. "Sebenarnya, entah itu Seojoon atau bahkan Jimin sendiri. Mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan kakakku. Berbeda dengan Seungwon oppa, Jisang dan Jieun bahkan Wonjoongie, Yoona eonni dan Jihyo eonni serta kalian semua—yang sudah mengenal keluargaku sejak dulu, Seojoon, Jiwon serta Jimin sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka. Bukankah kalian ingat sebelum kecelakaan itu, terhitung baru tiga tahun Seojoon dan keluarganya baru pindah dari Busan? Mereka tidak tahu apa-apa pada mulanya, aku sangat merasa bersalah kepada mereka yang malah menjadi korban dari masalah yang tidak seharusnya mereka hadapi." Namjoon yang melihat ibunya murung, dengan naluri seorang anak ia merangkul bahu sang ibu dan mengelusnya menenangkan.

"Jika begitu—tapi, kenapa mereka terus mengejar Jimin sampai sekarang?" sambung Seokjin.

"Itulah yang sedang kami cari tahu." sahut Chilhyun. "Kami menduga ini ada kaitannya dengan Seojoon, tapi setelah kami membaca keseluruhan isi dari berkas yang ditulis Seojoon membuat kami juga mengetahui bahwa apa yang mereka incar dari Jimin, juga sama sekali tidak ada kaitannya dengan Seojoon."

"Jadi, appa sudah tahu isi dari seluruh berkas itu?" tanya Seokjin. Chilhyun tersenyum kecil dan mengangguk.

"Ya, maka dari itu kami membiarkan kalian mencuri dokumen itu—karena kami, sudah memecahkannya." balas Seungho yang membuat Seokjin, Hoseok, Taehyung dan Jungkook tergelak sementara Yoongi dan Namjoon terkekeh mengejek.

"Appa tahu?" tanya Jungkook tak percaya.

"Yah, ku akui aku tidak menyangka jika kekacauan yang ada di BIN waktu lalu adalah ulah dari putraku sendiri." sindir Seungho.

"Itu ide Yoongi hyung, appa!" tuduh Jungkook polos. Yoongi membulat kesal.

"Yak! Kau meminta bantuan padaku kenapa aku yang disalahkan?!" seru Yoongi tak terima.

"Kalau begitu itu semua ide Tae hyung!" seru Jungkook yang membuat Taehyung mengerjapkan kedua matanya terkejut.

"Yak! Jika kau tak aku ikuti ke kamar Kim Ahn sunbaenim, kau dan Seokjin hyung yang dalan bahaya. Dasar nekat!" desis Taehyung kesal yang membuat para orang tua terkekeh melihatnya.

"Tapi, harus ku akui... Rencana kalian untuk mengecoh seluruh karyawan BIN benar-benar sangat menganggumkan." puji Seungho kemudian.

"Tentu saja. Itu ideku, ahjussi." Jungkook, Taehyung, Hoseok, Seokjin bahkan Namjoon tergelak kala Yoongi dengan percaya diri mengakui bahwa semua itu adalah rencananya padahal sebelumnya ia menolak mentah-mentah.

"Lalu, apa isi keseluruhan dari berkas itu?" tanya Hoseok kembali ke topik utama. Para appa terdiam, sesekali mereka juga saling menoleh satu sama lain.

"Berkas yang ditulis Seojoon sebenarnya sama sekali tidak menyebutkan nama Nam Goong Won. Berkas itu hanya berisi kaitan para korban mantan Perdana Menteri Nam serta motif pembunuhan dibalik semua kejadian itu." jawab Wonjoong akhirnya.

"Hanya itu?" tanya Taehyung. Sang ayah mengangguk. "Jika hanya itu, kenapa Seojoon ahjussi membuat berkasnya harus serumit itu?"

"Hey~ dia harus mempertimbangkan keluarganya jika kau lupa." sahut Seonwoong akhirnya angkat bicara setelah hanya diam. "Isi berkasnya tidak main-main dibandingkan kasus Nam Goong Won yang lain seperti penggelapan dana pemerintah sampai bisnis illegalnya. Dalam hukum, melenyapkan nyawa manusia adalah tindakan terkeji yang tak bisa diampuni meskipun dihukum dengan hukuman mati sekalipun. Apalagi, tidak hanya satu nyawa yang ia layangkan. Nam Goong Won sudah merencanakan pembunuhan pada lima orang."

"Lima orang?!" pekik Seokjin, Namjoon, Hoseok, Taehyung dan Jungkook terkejut.

"Ya, lima orang." ulang Seungwon menegaskan. "Jisang, Jieun, Seojoon, Jiwon dan calon adik Jimin. Meskipun janin itu belum lahir, tapi dia sudah bernyawa."

"Bukankah Jimin juga korban?" sahut Yoongi. "Dia juga berada di kecelakaan itu dan nyaris meninggal. Tapi, Tuhan berkehendak lain dan menggantikannya dengan memorinya yang mati."

"Kau benar. Dan, Jimin adalah kunci dari semua ini." sahut Seungho setuju.

"Tapi, mengenai itu appa—bagaimana dengan Park haraboji?" tanya Jungkook kemudian.

"Sebenarnya, kami sudah berencana untuk bicara pribadi dengan beliau. Tapi, tampaknya beliau juga mendapatkan banyak gertakan dari mereka dan terlebih aku yakin tuan Park pasti mengetahui dengan benar jika putra dan cucunya tak memiliki kaitan sama sekali dengan semua ini." jawab Wonjoong.

"Jadi, itulah sebabnya Park haraboji berniat membawa Jimin pergi?" tanya Seokjin yang diangguki oleh mereka semua.

"Tapi—"

Drrt...

Ucapan Namjoon terhenti kala semua pasang mata mengarah pada Hoseok karena ponsel pemuda itu yang bergetar di waktu yang tidak tepat. Hoseok nyengir, merasa bersalah. Ia mengeluarkan ponselnya yang berbunyi dari saku celananya.

"Maaf... Appa menelpon, aku ke belakang dulu, nde..." pamit Hoseok tak enak hati. Hoseok menoleh kearah sang ibu seolah meminta ijin. Jihyo tersenyum dan mengangguk mengijinkan Hoseok untuk undur diri ke dapur.

"Nde appa?" balas Hoseok setelah menggeser ikon telepon pada layar persegi empat itu.

"Appa, ada apa? Kenapa kau terdengar panik?" tanya Hoseok cemas mengabaikan beberapa orang yang tampak ingin tahu percakapan antara ayah dan anak itu.

"MWO?!" seru Hoseok suaranya menggelegar sampai keseisi rumah. Jihyo yang mendengar ada yang tak beres dari anaknya pun segera bangkit untuk memastikan bahwa suaminya baik-baik saja diseberang sana.

Hoseok menatap sang ibu cemas saat Jihyo menatapnya penuh tanya.

"B-baik appa... Aku dan yang lain akan kesana sekarang!" Hoseok menutup sambungannya sepihak. Ditatapnya sang ibu gusar.

"Ada apa, nak? Ayahmu baik-baik saja 'kan?" tanya Jihyo. Hoseok mengangguk cepat.

"Appa... Appa baik-baik saja. Tapi—" Hoseok menjeda ucapannya sejenak. Nafasnya memburu terlebih saat ini semua pasang mata menatapnya ingin tahu.

"Tapi, kenapa nak?" tanya Jihyo tak sabar. Hoseok kembali menatap Jihyo dengan tatapan menyesalnya untuk mengatakan,

"Jimin—" lirihnya yang masih bisa terdengar oleh seluruh orang yang ada disana. "—Jimin diculik eomma..."

.

.

.

.

.

BYUR~

Kepala Jimin menengadah kala ia merasakan lemparan air yang begitu menyakitkan mengenai wajah manisnya, membuatnya tersadar secara paksa. Jimin menunduk, membiarkan tetesan-tetesan air itu mengalir membasahi baju yang ia kenakan. Detik berikutnya, Jimin baru sadar sepenuhnya jika kedua kakinya diikat di kaki kursi yang ia duduki dan kedua tangannya yang juga diikat menjadi satu di balik punggungnya.

"Well well well..." Jimin mendongak dan seketika sepasang matanya bertemu pandang dengan pria paruh baya yang kini tengah menatapnya remeh, Nam Goong Won. Jimin mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, sial! Ia dijaga puluhan orang yang berada di setiap sudut gudang yang gelap dan mengelilinginya ketat, termasuk ketiga tangan kanan kepercayaan Nam Goong Won, Jung Yunho, Choi Seunghyun, dan Kwon Jiyoung.

"Aku ucapkan selamat datang kepadamu Park Jimin-ssi..." sapa Nam Goong Won seraya berjalan mendekati tempat di mana mereka mengikat Jimin. "Senang rasanya melihatmu berada tepat di depanku seperti ini. Kau tahu, aku benar-benar sangat menantikan momen-momen seperti ini, Jimin-ssi."

Jimin hanya mendesis dan menatap Nam Goong Won tajam.

"Jika kau menanyakan keberadaan bukti itu. Kau bertanya pada orang yang salah tuan Nam!" Nam Goong Won tertawa.

"Hey~ kau salah paham rupanya..." ujarnya dengan nada mengejek. "Aku memang mengincar bukti itu—tapi bukan darimu." Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Pasalnya, ia tahu betul bukti asli yang diincar semua orang berada di tangannya.

"Asal kau tahu saja, aku sudah mengincar bukti itu sejak lama dari Seojoon, jadi bukan hal mengejutkan untukku jika isi bukti itu tersebar ke media saat ini. Terlebih itu—adalah ulahmu." Jimin membulatkan kedua matanya terkejut. Apa ini? Kenapa rencananya tak membuahkan hasil sama sekali? "Kau seharusnya tahu, Park Jimin—jika orang sepertiku tak mudah dihancurkan." Jimin mendecih.

"Ya, seharusnya aku tahu dari awal." balas Jimin akhirnya dengan berani ditatapnya sosok iblis yang sangat disegani oleh seantero Korea Selatan. "Seharusnya, aku tahu jika iblis sepertimu tidak pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang kau incar. Dan sekarang, katakan! Apa yang kau inginkan dariku? Kematianku? Kalau begitu lakukan sekarang!" tantang Jimin yang justru dibalas tawa keras dari tuan Nam.

"Kematianmu? Ya, aku memang menginginkan kematianmu—tapi tidak sekarang." tuan Nam berjalan mengitari Jimin sementara Jimin melengos tak berniat sedikitpun untuk menatap wajah iblis yang menjadi penyebab kecelakaan kedua orang tuanya.

"Kau tahu?" tuan Nam berbisik tepat di telinga Jimin. "Dari awal, kau bukanlah anak yang kuincar. Bahkan, juga bukan ayahmu." Jimin mendengar saksama. "Apa kau mau tahu, siapa orang yang seharusnya berada disini? Dua orang tepatnya. Tapi, aku rasa mendapatkanmu adalah hadiah setimpal dari pada dua orang itu." Jimin mendecih.

"Jeon Jungkook dan Min Yoongi, huh?" tebak Jimin yang membuat tuan Nam membulat terkejut. Bahkan, tak hanya tuan Nam, ketiga tangan kanannya pun sama terkejutnya dengan sang bos. "Jangan terlalu terkejut, aku terlalu pintar untuk bisa menebak!" lanjut Jimin meremeh.

"Kau pengecut Nam Goong Won!" ejek Jimin melepas segala rasa marahnya kemudian. "Seharusnya, kau membunuh anak perempuan yang diculik oleh ayahmu bukan malah mencintainya!" tutur Jimin yang membuat raut wajah tuan Nam mengeras. "Tapi, kau lebih pengecut karena berani membunuh orang yang kau cintai!"

Plak!

Hampir semua orang yang ada disana terkejut, Jiyoung terutama. Kala, tuan Nam memukul wajah Jimin membuat bekas merah di pipi pemuda manis itu. Bahkan, secara refleks Jiyoung hendak berjalan mendekat tapi segera dicegah oleh Yunho yang menggeleng samar padanya. Jiyoung menarik nafas dan terpaksa mengurungkan niat awalnya.

"Diam kau bocah tengik!!" Jimin tertawa kesetanan.

"Kau menyuruhku diam sementara kau akan terus mengoceh... Ha ha ha~ kali ini diam dan dengarkan aku, bajingan!" seru Jimin tak terkontrol. Kedua mata tuan Nam berkilat penuh amarah, kedua tangannya mengepal. Jika ia tak terkendali mungkin ia akan membunuh bocah yang memiliki tingkat keberanian yang amat tinggi.

"Kau melimpahkan semua kesalahanmu pada ayahku. Kau memalsukan semua dokumen yang berhubungan dengan penggelapan dana pemerintah dan menggantinya dengan nama ayahku. Kau membuat nama ayahku tercoreng dan menjadi buruk di mata semua orang! Padahal—padahal itu semua ulahmu bajingan!!!!" lanjut Jimin murka. "Kau bahkan tahu dengan betul jika keluargaku tidak ada kaitannya denganmu dan mereka. Tapi, kenapa dengan mudahnya kau membalikkan semua keadaan dan melimpahkan semua kelakuan bejatmu kepada ayahku? Ha ha... Apa kau pikir aku bodoh, karena tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kau mengincarku? Bukan malah Jungkook ataupun Yoongi hyung? Yang mana, adalah anak dari kakak-beradik yang sudah kau bunuh?!" Jimin tersenyum penuh kemenangan sementara tuan Nam menatap Jimin tak percaya. Ia tak menyangka akan berhadapan dengan bocah cerdik yang tak mudah ditaklukan seperti Jimin ini.

"Bahkan, aku tahu kau mengintaiku lewat beberapa siswa di RC." kali ini, tak hanya tuan Nam yang dibuat terkejut tapi Yunho, Jiyoung dan Seunghyun juga sama kagetnya kala pandangan mereka bertemu tatap dengan Jimin.

"Woah~ Jimin-ssi, seharusnya aku tak perlu terkejut jika kau akan dengan mudah membaca situasi di sekitarmu." Jimin tertawa lantang atas pujian tuan Nam padanya.

"Merasalah tersanjung padaku, tuan Nam." balas Jimin. "Hm, aku rasa memang bukan rahasia lagi jika bukti itu memang berada di tanganku, aku yakin kau pasti sudah menebaknya. Tapi, katakan padaku—apa yang kau inginkan dariku?" tuan Nam menyeringai sementara Jimin yang menatapnya tajam.

"Kau tahu jawabannya Park Jimin..." balas tuan Nam bersamaan dengan pintu gudang terbuka dan menampilkan sosok yang Jimin anggap sebagai kakaknya masuk dengan raut tak terbaca. Keduanya saling berpandangan, dimana yang satu memandangnya kecewa dan yang satu memandangnya penuh rasa bersalah.

Jimin memutus kontak mata dengan pemuda tampan yang baru saja masuk bergabung, ia kembali mengalihkan pandangannya pada tuan Nam yang seperti sedang menunggunya bicara.

"Dan kau—tahu jawabanku tuan Nam." tutur Jimin yang membuat tuan Nam menggeram marah.

"PARK CHANYEOL!" serunya pada sosok yang baru saja datang. Chanyeol dengan langkah kakunya berjalan mendekati posisi dimana Jimin dan tuan Nam berada. "Kau—orang pertama yang harus memberi pelajaran pada bocah tengik ini." Jimin melengos, menolak bertatapan dengan Chanyeol yang memandanginya sendu. Ia tahu dari awal, sejak kedatangan Chanyeol ke panti asuhan bersama kakak angkatnya, Choi Seunghyun. Dan, jangan katakan Jimin bodoh ketika ia tak mendengar pembicaraan mereka tentang dirinya ketika ia beranjak ke dapur menyusul ibu panti. Pembicaraan mengenai rencana Seunghyun padanya hingga perasaan Chanyeol kepadanya. Tapi, sekali lagi—sakit rasanya setiap kali Jimin mengingat ia telah dikhianati oleh sosok yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BRAK!

Dokter Jung serta Hyukjae terkejut saat pintu ruang kerja dokter Jung dibuka paksa karena ulah Yoongi yang tampak terengah namun wajahnya menunjukkan raut takut dan cemas secara bersamaan.

"Yoongi, bisakah kau—"

"Hyung, katakan padaku jika Jimin sekarang ini ada di rumah." sela Yoongi bersamaan dengan kedatangan Taehyung, Namjoon, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook. "Hyung, katakan padaku jika Jimin baik-baik saja!" seru Yoongi tak sabar dengan bungkamnya Hyukjae terlebih pria tampan itu hanya menunduk menyesal. "Hyung, kenapa kau diam saja?!" Yoongi mencekeram kerah baju Hyukjae yang hal itu membuat Seokjin segera turun tangan.

"Yoongi, kendalikan emosimu!" seru Seokjin menghempaskan tangan Yoongi. "Bukan kau saja yang mencemaskan Jimin. Kami semua juga mencemaskan Jiminie..." lanjut Seokjin. Yoongi memejamkan kedua matanya, ditatapnya Seokjin dan Hyukjae bergantian.

"Maafkan aku, hyung." sesal Yoongi. Hyukjae menggeleng.

"Aku yang seharusnya meminta maaf, aku sudah lalai menjaga Jiminie..." balas Hyukjae tertunduk lesu.

"Hyung~" lirih Jungkook tak tega.

"Aku tak hanya membuat Jimin dalam bahaya, aku juga bahkan membuat tuan besar Park jatuh sakit. Aku memang payah!"

"Hyung~" kali ini Seokjin yang memanggil Hyukjae.

"Jangan menyalahkanmu, ini kecelakaan. Kami janji, kami akan menemukan Jimin bagaimana pun caranya. Kau tak perlu cemas, hm?" Taehyung berucap menenangkan yang tampaknya hanya berefek sedikit untuk Hyukjae.

"Bagaimana kronologinya?" tanya Hoseok yang tanpa semua orang sadari sudah duduk di samping sang ayah.

"Kami baru menunggu rekaman cctv dari tempat pria itu kabur dari kamar mandi." jawab dokter Jung.

"Kamar mandi?" pekik Taehyung keterkejutannya mewakili kelima sahabatnya.

"Nde, aku bahkan tidak menyangka jika dia menyamar menjadi pasien." jawab Hyukjae. "Sial, mereka benar-benar cerdik! Kita tidak akan tahu bagaimana kronologi kejadiannya karena mereka menculik Jimin di kamar mandi." geram Hyukjae mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

"Tapi, lewat mana mereka membawa Jimin?" tanya Seokjin cemas. Hyukjae menghela nafas berat, hendak menjawab pertanyaan Seokjin sebelum—

BRAK!

—suara pintu yang untuk kedua kalinya dibuka secara paksa dengan tergesa dan pelakunya adalah,

"Minseok hyung?" pekik Hoseok terkejut melihat asisten pribadinya yang setahunya sedang menyelesaikan S3-nya di China tiba-tiba muncul dihadapannya. "Kapan kau—"

"Woah~ kalian tahu? Kalian sedang dikelabuhi!" potong pria yang bernama lengkap Kim Minseok berjalan memasuki ruang kerja dokter Jung yang sebelumnya lebih dulu menyempatkan untuk menyapa si pemilik ruangan.

"Oh-hai... Senang bertemu dengan kalian." sapa Minseok ramah pada keenam tuan mudanya yang menatapnya heran. Mengabaikan tatapan mereka berenam, Minseok memgambil tempat duduk di samping Hyukjae yang kosong. Dengan cekatannya, ia mengeluarkan tablet dari tas yang ia bawa dan meletakkannya diatas meja.

"Kau sudah salah dari awal." tutur Minseok tiba-tiba yang kali ini menatap serius pada Hyukjae.

"Aku tahu—"

"Bukan itu maksudku!" sela Minseok cepat. "Kau salah karena kau mengejar Kwon Jiyoung."

"Siapa?" sahut Taehyung. Minseok memutar kedua bola matanya dan menatap Taehyung selidik.

"Kau—putra Perdana Menteri Kim?" tanya Minseok. Taehyung tergelak dan mengangguk kaku apalagi saat wajah sumringah Minseok terpatri jelas diwajahnya serta tangannya yang tiba-tiba terulur dihadapan Taehyung.

"Perkenalkan aku Kim Minseok, salah satu asisten pribadi maniak kuda yang suka nge-dance..."

"Hyung!" seru Hoseok kesal bukan main sementara Seokjin, Taehyung, dan Jungkook terkikik sebentar.

"Kau tahu, aku fans berat ayahmu."

"Hah?" Taehyung membulatkan kedua matanya tak percaya sementara dokter Jung dan Hoseok menggeleng maklum dengan sikap Minseok yang memiliki kadar keramahan yang melebihi batas umum.

"Sudah lupakan!" Minseok menutup omong kosongnya sendiri dan kembali memasang wajah serius.

"Apa maksudmu?" tanya Hyukjae setelah dirasa Minseok sudah kembali pada kewarasannya. Minseok menatap Hyukjae lamat.

"Karena bukan Jiyoung yang membawa Jimin pergi." Hyukjae mengeryitkan keningnya sementara yang lain hanya menyimak. "Lihatlah!" lanjut Minseok mengotak-atik tablet yang tadi ia letakkan diatas meja.

Tak membutuhkan waktu lama, layar tablet Minseok menampilkan sebuah putaran video yang merupakan rekaman cctv yang sepertinya ada di lokasi belakang rumah sakit.

"Jiyoung keluar sendiri tanpa membawa siapapun." ujar Minseok sementara semua pasang mata terfokus pada hal yang sama yang terletak di atas meja.

Dapat mereka lihat, seorang pria tampan yang mengenakan setelan pasien berjalan di balik tembok tinggi Seoul Hospital hingga langkahnya tepat menuju sebuah mobil yang tampaknya sengaja di parkirkan di belakang gedung rumah sakit.

"Mereka sudah merencanakan semuanya dari awal dengan matang." lanjut Minseok. "Mereka tahu, jika hari ini adalah jadwal check up Jimin yang terakhir sebelum pergi. Dan tentu saja—mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Jadi, siapa yang membawa Jimin pergi?" tanya Hoseok. Minseok menatap Hyukjae lamat.

"Seseorang yang seharusnya tidak kau abaikan." jawab Minseok tanpa pandangannya terlepas dari Hyukjae yang tampaknya paham akan maksud ucapan Minseok.

.

.

.

.

.

Langit sudah semakin gelap. Menandakan pagi sudah berganti malam. Waktu terus berjalan sesuai dengan putaran bumi pada porosnya. Tapi, tak membuat kota besar yang menjadi ibukota Korea Selatan itu mendapatkan istirahatnya. Justru, sebaliknya Seoul semakin padat sampai tak mengenal lelah dan waktu. Termasuk—orang-orang yang sedang sibuk sejak pagi mencari keberadaan sosok yang amat sangat mereka cemaskan.

"Sial!" umpat Joonmyeon yang membuat Taehyung dan Seokjin yang berada di ruang kerja Wonjoong serta Taekwoon, asisten Seokjin yang juga berada disana untuk mengambil dokumen yang berkaitan dengan Nam Goong Won, mengingat ruang kerja ayah Taehyung adalah bekas ruang kerja Nam Goong Won sebelumnya.

Sementara yang lainnya, seperti Jungkook, Hoseok dan beberapa asisten mereka yang turut menemani, kedapatan tugas untuk datang ke kediaman kakek Park untuk mencari bukti yang mereka yakini berada di tangan Jimin. Dan, yang terakhir Yoongi dan Namjoon yang memutuskan untuk pergi ke ke seuatu tempat berdua untuk melakukan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Ada apa, hyung?" tanya Taehyung berjalan mendekati Joonmyeon yang terlihat kesal setelah menerima telpon yang tak lain berasal dari Wonjoong, ayahnya.

"Nam Goong Won dan seluruh anak buahnya sudah meninggalkan rumah utamanya. Bahkan, di rumah-rumah yang diyakini adalah milik Nam Goong Won pun turut kosong. Saat ini, iblis itu tak bisa dilacak sama sekali!" jelas Joonmyeon gusar. Ah, satu lagi yang terlupa. Keberadaan para appa yang sedang melacak segala gerak-gerik Nam Goong Won dan anak buahnya. Khusus untuk itu, para appa bertekad untuk tidak akan kecolongan untuk yang kesekian kalinya.

"Sebenarnya, dia itu manusia macam apa?!" geram Seokjin tak habis pikir.

"Seharusnya kita sudah menduganya, Nam Goong Won bukanlah orang sembarangan. Bahkan, dia lebih berbahaya dari orang nomor satu di Korea. Dia tak hanya pintar atau cerdik. Tapi, dia juga licik, kejam dan tak dapat ditandingi. Bayangkan, orang-orang tersohor seperti ayah kalian bisa mudah dikelabuhi olehnya. Apalagi kalian." jelas Taekwoon. Seokjin mengusap wajahnya kasar dan Taehyung menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang kerja ayahnya.

"Lalu, apa keberadaan kita disini sia-sia? Kita sudah menduganya sebelumnya jika kita kemari pasti tidak akan mendapat apa-apa." gumam Taehyung lemas.

"Aku rasa tidak sepenuhnya sia-sia." balas Taekwoon.

"Maksud hyung?" tanya Seokjin tak mengerti.

"Memang mustahil rasanya mencari sesuatu di bekas tempat kerja Nam Goong Won setelah enam tahun masa pensiunnya. Dan, menurut kalian apa yang akan kita dapat dalam kurun waktu selama itu?" jawab Taekwoon. "Kecuali—" lanjutnya sengaja menggantungkan ucapannya sendiri. "—ada tempat yang tidak sengaja diabaikan oleh perdana menteri Kim selama ini."

"Tapi, aku rasa tidak ada yang dilewati ayahku. Karena, jika ada pasti appa sudah memberitahu kita sebelumnya 'kan?" tanya Taehyung.

"Ayahmu meminta kita kemari itu karena mungkin beliau pasti merasa ada sesuatu yang janggal tapi mungkin saja sesuatu itu tidak ia dapatkan ketika beliau mencarinya." balas Seokjin ikut berfikir.

"Kau tahu sesuatu, hyung? Kau sedari tadi diam saja." Taehyung mengalihkan pandangannya pada Joonmyeon yang sedari tadi hanya diam tak merespon.

"Aku hanya sedang mengingat." jawab Joonmyeon ia meneliti satu persatu setiap sudut ruang kerja yang terlampau luas itu. Hingga, tak lama kemudian pandangan Joonmyeon sampai pada lantai ubin yang dipijakinya.

"Kalian percaya hal kecil yang dilewatkan oleh orang awam terkadang justru digunakan sebagai kandang yang sebenarnya untuk orang-orang semacam Nam Goong Won?" tanya Joonmyeon yang selanjutnya kedua matanya beralih pada Taekwoon seolah tengah memberi isyarat. "Hal kecil yang mungkin sudah kita lewati berkali-kali." lanjut Joonmyeon membuat Taehyung maupun Seokjin hanya mengerutkan kening mereka tak mengerti.

"Hal kecil seperti apa hyung? Kita sudah memeriksa setiap sudut ruangan ini seharian penuh." tanya Taehyung masih tak paham.

"Hal kecil yang pasti akan diabaikan oleh kita semua termasuk ayahmu." balas Joonmyeon. Ia berbalik dan berjalan dengan kepala tertunduk menuju meja kerja perdana menteri Kim mengabaikan ketiga pasang mata yang menatap gerak-geriknya.

Joonmyeon berhenti tepat di balik meja kerja ayah Taehyung, masih dengan kepala tertunduk sampai ia memutuskan untuk berjongkok. Membuat tubuhnya menghilang dibalik pintu.

"Hyung, bisa bantu aku?" pinta Joonmyeon menyempatkan untuk menyembulkan kepalanya untuk meminta bantuan pada Taekwoon. Tanpa membalas respon Joonmyeon, Taekwoon berjalan mendekati rekannya membiarkan Taehyung dan Seokjin yang saling berpandangan masih tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh kedua hyung mereka.

Srek~

Taehyung mengangkat sebelah alisnya dan Seokjin memasang tampang takjubnya. Ia yang pertama kali bereaksi untuk mendekati Joonmyeon dan Taekwoon yang kemudian disusul Taehyung tak lama.

"Apa yang—"

"Wow~" pekikan Taehyung memotong pertanyaan Seokjin ketika mereka berdua melihat apa yang sebenarnya dilakukan Taekwoon dan Joonmyeon di bawah meja kerja Wonjoong.

"Bagaimana bisa?" tanya Seokjin takjub.

"Woah, hyung~ kalian benar-benar hebat!" puji Taehyung mengacungkan dua jempolnya yang diangguki Seokjin antusias.

Joonmyeon dan Taekwoon berdiri bersamaan. Keduanya menatap sebuah kotak kayu yang terkubur di bawah ubin yang baru saja mereka buka.

"Darimana kalian bisa tahu jika ada benda asing di bawah ubin ini?" tanya Seokjin masih dalam mode tercengangnya.

"Aku sudah sering keluar-masuk ruangan ini. Aku hafal betul bagaimana seluk-beluk strategisnya. Terutama, bagian-bagian yang sering digunakan tuan Kim. Dan, hampir di setiap sudut ruangan ini sudah dikuasai beliau. Jadi, rasanya aneh jika kita tak menemukan apa-apa disaat tuan Kim merasa ada yang janggal." jawab Joonmyeon. "Dan mengenai ubin ini—jika kalian benar-benar merasakannya, setiap pijakan atau gesekan yang kita lakukan diatas lantai ini akan menimbulkan gerakan yang berbeda dari bawah sana. Terkadang juga terdengar bunyi deritan yang aneh. Kalian tahu sebabnya? Itu karena ada seseorang yang membongkar secara sengaja lantai ini."

"Dan tanpa ditebak pun Nam Goong Won pasti orangnya." sahut Taekwoon yang membuat Seokjin dan Taehyung mengangguk paham bersamaan dengan Joonmyeon yang membungkuk untuk mengambil kotak yang tersimpan rapat di bawah lantai ubin, di bawah meja kerja perdana menteri Kim.

Joonmyeon meletakkan kotak yang memiliki panjang sekitat 78cm dan lebar 56cm, diatas meja kerja ayah Taehyung. Meniup debu bagian atasnya dan menggeram kesal melihat kotak itu dikunci bukan dengan gembok melainkan dengan password.

"Oh shit~" gumam Taekwoon setelah mengetahui rincian kotak kayu itu dengan detail. "Myeon, ini bukan kotak kayu biasa—" jedanya sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang belum sempat terlintas di pikiran Joonmyeon. "—tapi brangkas!"

.

.

.

.

.

"Bagaimana hyung?" tanya Jungkook yang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang Jimin. Saat ini, bersama dengan Hoseok, Lee Donghae (asisten pribadinya), Kim Minseok, serta Hyukjae berada di kamar Jimin untuk mencari bukti yang berada di tangan pemuda manis itu yang entah disimpan dimana.

Setelah menghabiskan waktu selama tiga jam di kamar itu, Jungkook menyerah dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Membiarkan para hyung yang bekerja. Donghae, yang sedang sibuk mengotak-atik laptop Jimin. Minseok dan Hyukjae yang masih sibuk memporak-porandakan isi kamar yang memiliki dinding sewarna biru langit. Sementara Hoseok? Ia justru sibuk mengotak-atik ponselnya dan duduk tenang di sofa yang ada di kamar Jimin.

"Hyung, kau sering masuk ke kamarnya tapi tidak tahu dimana Jiminie hyung menyimpan bukti itu?" tanya Jungkook tanpa beranjak dari tidurannya atau sekedar merubah posisinya untuk menatap Hyukjae yang sedang ia ajak bicara.

"Yak! Jimin saja tidak mengatakan padaku jika buktinya ada bersamanya. Dan baru mengatakannya—oh shit! Kenapa aku baru ingat?!" pekik Hyukjae yang membuat Jungkook bangkit dari leha-lehanya.

"Ada apa hyung? Apa yang baru saja kau ingat?" tanya Jungkook penasaran tapi Hyukjae malah berjalan mendekati Donghae yang masih sibuk dengan laptop Jimin.

"Kau menemukan sesuatu?" tanya Hyukjae. Donghae menggeleng.

"Tidak ada apa-apa di laptopnya. Jimin benar-benar pintar menyembunyikan berkas yang pernah masuk ke servernya. Bahkan, tidak ada tanda-tanda keterangan kegiatan yang baru saja ia lakukan di laptopnya." jawab Donghae frustasi bersamaan dengan Jungkook yang akhirnya beranjak dari posisinya untuk mendekati Donghae.

"Apa Jimin hyung tidak menyimpan apapun di laptopnya?" tanya Jungkook. Donghae menoleh kearah tuan mudanya sejenak.

"Ada. Dan itu berupa foto dan video tentang masa kecilnya." jawab Donghae. "Dan, katakan—kenapa kau berteriak?" tanya Donghae kali ini mengalihkan pandangannya pada Hyukjae. Hyukjae menepuk dahinya keras.

"Aku baru ingat. Tadi pagi, saat di rumah sakit Jimin mengatakan padaku jika bukti itu ada bersamanya." terang Hyukjae.

"Jika itu, kami semua juga sudah tahu." sarkas Minseok kesal dan Hyukjae hanya menunjukkan cengiran khasnya.

"Tapi, apa kau diberi tahu dimana Jiminie menyembunyikan bukti itu, hyung?" tanya Hoseok. Hyukjae menunjukkan senyum lima jarinya.

"Tidak." jawabnya polos yang membuat keempat orang yang disana mendesis gemas. "Tapi, dia memberitahukan letak persisnya pada kalian!" lanjut Hyukjae antusias menatap Jungkook dan Hoseok bergantian.

"Pada kami?" Jungkook membulatkan kedua matanya tak percaya.

"Ya. Pada kalian. Apa dia mengirim e-mail pada kalian beberapa hari yang lalu?"

"Ya!" sahut Hoseok berdiri dan berjalan mendekati Hyukjae, Jungkook, Donghae serta Minseok yang sudah nimbrung di dekat meja belajar milik Jimin. "Jimin mengirim e-mail lewat ayahku yang ditunjukan untuk kami berenam. Tapi, isinya seperti surat perpisahan dan sama sekali tak menyinggung tentang bukti itu." lanjut Hoseok yakin yang diangguki Jungkook sebagai respon pembenaran.

"Rencananya, setelah check up dengan dokter Kim, Jimin berniat untuk menemui dokter Jung dan menjelaskan maksud dari e-mailnya agar disampaikan pada kalian. Tapi, entah aku harus bersyukur atau tidak. Insting Jimin benar-benar tajam, ia seolah tahu bahwa ia akan dalam bahaya dan mengatakan lebih dulu padaku." jelas Hyukjae berdebar.

"Itu artinya, Jimin sudah mewanti jika ini semua akan terjadi padanya." sambung Minseok.

"Apa dengan kata lain, Jimin yang menyebarkan copy-an bukti itu pada media?" tanya Hoseok.

"Aku rasa begitu." sahut Donghae. "Di penyimpanan internal laptopnya, Jimin sudah menghapus semua kegiatan terakhirnya. Tapi, ketika aku mencoba untuk memasuki server eksternal, ada history tiga e-mail yang tampaknya terakhir Jimin kunjungi." lanjutnya seraya mengotak-atik laptop Jimin sementara empat lainnya mematai dengan intens.

"Lihat, tiga e-mail ini." Donghae menunjuk layar laptop Jimin dengan antusias begitu pula dengan empat lainnya. Kelimanya menahan nafas, tak menyangka Jimin akan berbuat sejauh ini. Ketiga e-mail itu tak lain dan tak bukan adalah e-mail milik dokter Jung, e-mail pos khusus di BIN, serta e-mail sebuah perusahaan stasiun televisi yang mereka ketahui dengan benar adalah salah satu perusahaan yang juga dialihkan pada ayah Seokjin, Kim Chilhyun.

"Jadi, e-mail yang Jimin hyung kirim kepada kami berisi letak dimana bukti itu?" tanya Jungkook yang diangguki oleh Hyukjae sementara Hoseok dan Jungkook tampak mengingat.

"Dia tidak mengatakannya secara gamblang hanya dengan kode yang aku harap, kalian berdua pahami." jawab Hyukjae.

"Hyung, kau masih menyimpan pesannya 'kan?" tanya Jungkook pada Hoseok.

"Tentu saja." balas Hoseok ia segera memainkan ponselnya dan dengan tak sabar membuka e-mail pribadi ayahnya yang sudah ia ketahui nama dan kata sandinya.

Hoseok membaca ulang e-mail yang dikirim Jimin bersama Jungkook yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Keduanya mencermati dengan saksama setiap kata per kata yang Jimin tulis pada mereka, sampai bacaan mereka tiba di paragraf ketiga.

Jika boleh mengatakan jujur. Aku juga ingin, seperti masa kanak dulu. Saat kita bermain bersama. Mungkin, pada awalnya aku hanya memiliki Jin hyung, Hobi hyung dan Kookie tapi kemudian teman kecilku bertambah dengan adanya Yoongi hyung, Namjoon hyung dan Taetae. Dan itu, adalah hal membahagiakan untukku memiliki kalian berenam. Rasanya, aku benar-benar ingin mengulang masa kecil kita, bermain bola di taman, bermain ayunan, bermain pasir, bermain petak umpet, melihat bintang, pesta piyama, hingga merayakan natal bersama keluarga.

Bahkan, saat aku amnesia kalian tetap menjagaku dengan cara kalian. Kalian selalu melindungiku. Dan aku sadar, aku—

"Tunggu, hyung!" sela Jungkook menginterupsi tiba-tiba.

"Ada apa? Kau menemukan sesuatu?" tanya Hoseok cepat.

"Bukankah menurutmu ada yang janggal ketika Jiminie hyung mengingat masa kecil kita?" Jungkook balik bertanya dan Hoseok mengeryitkan keningnya antara lupa-lupa ingat.

"Apa yang—"

"Hyung, dengar!" sela Jungkook menyaut ponsel Hoseok membuat benda persegi itu berpindah ke tangannya. "Aku merasa, diantara semua kenangan yang ditulis Jimin hyung, ada beberapa yang kurasa tidak pernah kulakukan. Aku merasa asing ketika membacanya."

"Coba kau sebutkan!" pinta Hoseok.

"Pertama—" Jungkook menurut dan langsung mengatakan opsi pertama. "—bermain bola di taman."

"Itu benar. Kita memang melakukannya setiap sore." Jungkook mengangguk setuju.

"Kedua—" lanjut Jungkook kemudian. "Bermain ayunan."

"Hanya kau, Jimin dan Seokjin hyung yang suka bermain ayunan." Jungkook mengerut tak suka.

"Kenapa aku, Jimin dan Seokjin hyung terdengar seperti gadis kecil dimatamu?" Hoseok terkekeh begitu pula dengan Hyukjae, Donghae dan Minseok yang sedari tadi hanya diam mendengar. Lucu rasanya melihat ekspresi Jungkook yang sangat menggemaskan itu.

"Hey~ jangan salah paham. Itu fakta. Bahkan, kalian bertiga masih menyukainya sampai sekarang 'kan?"

Plak!

Jungkook memukul lengan atas Hoseok keras.

"Aku adukan pada Seokjin hyung!"

"Aigoo~ uri little bunny marah rupanya." goda Hoseok.

"Kau mau kupukul lagi, hyung?" tawar Jungkook mengangkat tangan kanannya membuat Hoseok berhenti tertawa.

"Tidak-tidak, lanjutkan saja. Apa yang ketiga?" Jungkook mencibir, tapi menurut untuk membacakan kata selanjutnya.

"Bermain pasir."

"Kita melakukannya setiap minggu."

"Bermain petak umpet."

"Kita juga melakukannya."

"Melihat bintang."

"Setiap malam kita melihat bintang."

"Pesta piyama."

"Kita melakukannya setiap akhir pekan."

"Merayakan natal."

"Kita merayakan semuanya bersama. Apa yang tidak?" tanya Hoseok setelah Jungkook selesai mengabsen satu persatu apa yang sudah mereka habiskan semasa kecil.

"Tunggu dulu." sela Hyukjae tiba-tiba yang sedari tadi hanya diam mendengar bersama Donghae dan Minseok.

"Apa dulu kalian sering melihat bintang bersama?"

"Huh?" pekik Jungkook mengerjapkan kedua matanya lucu.

"Tentu saja. Kita—kau bilang apa, hyung?" balas Hoseok yang tampak asing dengan pertanyaan Hyukjae yang baru saja tertangkap pendengarannya.

"Bintang. Tidak mungkin Jimin akan melihat bintang bersama kalian. Ayahnya saja tidak dia ijinkan dan selalu Jimin abaikan, apalagi kalian." sahut Hyukjae benar. "Jika kalian ingat, kalian selalu tidak suka jika Jimin sudah sibuk dengan teleskopnya. Terutama, ketika kalian menginap dirumahnya."

"Itu dia hyung!" seolah ada sebuah bohlam yang keluar dari kepalanya, Jungkook menatap Hoseok dan ketiga lainnya antusias.

"Teleskop adalah benda kesayangan Jimin hyung sejak kecil. Satu-satunya benda yang membuat kita kesal dan ingin memusnahkan benda itu sejak dulu. Kau ingat 'kan?"

"Ya ya ya... Aku ingat sekarang. Lalu, apa maksudnya? Apa secara tidak langsung Jimin mau mengatakan jika bukti itu berada di dalam teleskopnya?" tanya Hoseok.

"Bisa jadi begitu." balas Hyukjae yakin.

"Lalu, apa Jimin hyung punya teleskop hyung?" tanya Jungkook.

"Setahuku tidak ada. Sejak dia pindah kemari aku tidak melihat benda itu dikamarnya." jawab Hyukjae. Mereka berlima terdiam dengan pikiran yang berpusat pada satu objek yang sama.

Donghae yang sedari tadi berkutat pada laptop Jimin memutuskan untuk men-shut down laptop putih bermerk apel digigit itu. Setelah memastikan laptop Jimin benar-benar mati, ia menutup laptopnya bersamaan dengan kedua matanya yang menangkap pada benda yang tepat berada di belakang laptop Jimin. Benda kecil yang berupa miniatur yang menyerupai—teleskop? Donghae mengambil teleskop itu dan membolak-balikkan miniatur itu tak percaya.

"Yak! Yak! Yak! Lihat apa yang tak sengaja ku temukan!" seru Donghae antusias.

"Ini—" ucapan Hoseok terbata melihat benda yang baru saja dipegang Donghae.

"Darimana kau menemukannya hyung?" tanya Jungkook.

"Di meja belajar Jimin." jawab Donghae. Ia membalik miniatur dan melihat bagian bawah yang datar. Donghae mengeryitkan keningnya ketika melihat alasnya yang berbeda warna dan seperti bekas terbuka. Tanpa merasa ragu, Donghae membuka alas itu dan seketika ia membulat terkejut.

"Yaampun~" gumam Donghae lemas dengan tubuhnya yang bergetar.

"Apa? Kau menemukan sesuatu?" tanya Hyukjae. Donghae menatap keempatnya takut sebelum dua jarinya yang bergetar terselip masuk untuk mengambil sebuah benda kecil yang tersimpan rapi di dalam tubuh miniatur teleskop itu.

Keempatnya membulat, sesekali juga mengerjapkan mata mereka beberapa kali kala melihat sebuah chip yang saat ini ditunjukan Donghae pada mereka.

"I-itu—" gugup Hyukjae tak mempercayai jika mereka sudah menemukan bukti yang sudah mereka cari sejak tadi. Dan ia lebih tak mempercayai jika memang benar, bukti itu telah disimpan Jimin sebelumnya tanpa sepengetahuan siapapun.

.

.

.

.

.

"Kau bilang apa?" pekik Doojoon setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Yoongi dan Namjoon yang sedang berada di RC. Dua dari tiga anak si pemilik sekolah itu tiba-tiba datang menemui Doojoon tepat saat langit sudah menunjukkan warna jingganya. Entah apa yang mereka lakukan sebelumnya sampai mereka baru saja menyempatkan diri di waktu senja untuk berkunjung ke RC. Tepatnya, untuk menemui Yoon Doojoon. Kini, ketiganya berada di studio dewan siswa.

"Jimin diculik. Bukankah itu sudah cukup jelas?" sarkas Yoongi kesal. Doojoon menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Tapi, bagaimana bisa? Maksudku—"

"Dan, salah satu penculiknya itu adalah kakakmu!"

"Hyung~" himbau Namjoon sementara Yoongi berdecak kesal. Namjoon menggeleng mengisyaratkan pada Yoongi untuk tidak menyangkut-pautkan kakak Doojoon sekarang ini.

"Maafkan aku, aku—"

"Bukan kau yang seharusnya minta maaf!" potong Yoongi dingin membuat Namjoon menarik nafas menyerah. Hyungnya yang satu ini benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya jika itu menyangkut tentang Jimin terutama.

"Tapi, bagaimanapun juga—"

"Sudahlah!" lagi-lagi Yoongi memotong ucapan Doojoon seenaknya. "Lagi pula, bukan itu tujuan kami kemari." lanjut Yoongi.

"Katakan!" balas Doojoon tak ingin membuang waktu jika ini menyangkut tentang sosok manis yang berhasil menarik perhatiannya selama ini.

Yoongi menatap Namjoon sejenak seolah memberikan isyarat bahwa dia saja yang menjelaskan apa maksud kedatangannya kepada sosok yang merupakan rivalnya untuk mendapatkan Jimin.

Namjoon menarik nafas dan menatap Doojoon merasa bersalah.

"Berhubung kau keluarga dari Jung Yunho—" Namjoon membuka suara. "—bisakah kau merelakan kakakmu kali ini?"

"Maksudmu?" tanya Doojoon tak paham dengan ucapan penuh basa-basi dari orang yang merupakan rivalnya untuk mendapatkan peringkat satu seangkatan mereka.

"Kami—" jeda Namjoon sejenak. "Kami kembali melaporkan kakakmu pada pihak berwajib." lanjut Namjoon tak enak hati terlebih ia melihat raut Doojoon berubah.

"Kau tahu?" balas Doojoon kemudian. "Sejahat-jahatnya dia. Tapi, dia tetaplah kakakku. Dan aku, benci fakta itu. Aku seperti tidak mengenali siapa dia."

"Aku mengerti perasaanmu. Maafkan kami."

"Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf. Kakakku sudah benar-benar keterlaluan." tolak Doojoon yang membuat Yoongi mengiba melihatnya. Ia tahu, bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga meskipun tak terhitung bagaimana buruknya mereka pada dirimu.

"Kakakmu memang iblis. Tapi, tidak dengan dirimu." sahut Yoongi tiba-tiba. Doojoon dan Namjoon menoleh kearah Yoongi. Ketara sekali di balik mata sipit nan tajamnya, memancarkan kecemasan yang tak bisa digambarkan hanya dengan kata-kata atau ungkapan apapun.

"Yoon—"

"Kau tahu? Aku sedikit bersyukur bisa mengenalmu." Doojoon terkekeh.

"Hanya sedikit?" tanya Doojoon. Yoongi mengedikkan bahunya.

"Ya, hanya sedikit. Mengingat, kau secara terang-terangan mengibarkan bendera peperangan padaku karena—berani sekali kau tertarik pada Jiminku?"

"Jiminmu?" Doojoon mendesis tak suka. "Dia bukan milikmu!" Yoongi mendelik kesal.

"Yak! Asal kau tahu! Jimin sudah menjadi milikku sejak kecil!" seru Yoongi bangkit dari duduknya dan berniat akan memiting kepala si ketua dewan siswa. Sementara Namjoon? Dia hanya menggelengkan kepalanya jengah menyaksikan pertengkaran Yoongi dan Doojoon untuk memperebutkan Jimin. Dan, memang selalu seperti itu.

"Itu dulu, bukan sekarang! Lagi pula, mana mungkin dia menyukai kepiting rebus sepertimu!"

"Mworago?!" Yoongi memekik kesal. "Kau mengataiku apa?"

"Kau, kepiting rebus!"

"Dasar ayam tak berbulu!"

"Mwo?!" pekik Doojoon benar-benar terkejut. Ini adalah kali pertamanya ada orang yang mengatainya seperti itu. "Kau jerapah pendek!"

"Berani sekali kau! Tyranosaurus!"

"Dasar merak buruk rupa!

"Rubah sialan!"

"Musang licik!"

"Kucing belang!"

"Kutu kerbau!"

"Gagak bodoh!"

"Siput pucat!"

"Gajah duduk!"

"Mwo?!" Doojoon benar-benar kesal dan hampir ingin melayangkan bogem mentahnya sebelum suara tawa Namjoon terdengar sangat mengejek dan itu begitu mengganggunya.

"Ha ha ha... Kalian lucu sekali..." Namjoon menghapus air matanya yang keluar karena terhibur dengan opera gratis di depannya. "Seharusnya aku abadikan ini dan kusebarkan ke seluruh penjuru RC. Biar mereka lihat, konyolnya si ketua dewan siswa dan seorang savage Min Yoongi yang paling ditakuti, bertengkar seperti anak gadis."

"Kim Namjoon~" desis Yoongi dan Doojoon bersamaan. Namjoon hanya menunjukkan cengirannya.

"Peace..." gumamnya sebelum berlari menyelamatkan diri dari kejaran dua orang yang terbilang tak pernah akur jika ditempatkan di tempat yang sama dalam waktu yang lama.

.

.

.

.

.

Namjoon berjalan dengan kedua tangannya yang membawa dua kaleng soda. Ia melemparnya satu kearah Yoongi yang berdiri bersandar di kap mobilnya. Pemuda tampan itu menangkap kaleng soda Namjoon dengan tanggap sementara Namjoon beralih berdiri di samping Yoongi seraya membuka pemutup kaleng soda yang ia beli di minimarket 24 jam yang berada di seberang RC. Keduanya sudah tak berada di studio dewan siswa dan memilih untuk menikmati angin malam sebentar di halaman parkir gedung utama sekolah mereka.

"Bagaimana kabar yang lain?" tanya Yoongi menatap kaleng sodanya yang belum ia buka tanpa minat.

"Jungkookie dan Hobi sudah mendapatkan buktinya di kamar Jimin."

"Benarkah?" Yoongi merespon sekenanya yang membuat Namjoon menoleh kearah Yoongi dan menatapnya iba. "Lalu, Tae dan Jin hyung?"

"Mereka menemukan sesuatu yang belum bisa mereka buka sampai sekarang." Yoongi terdiam dan Namjoon masih setia mengamati ekspresi sendu dan menyedihkan di wajah Yoongi.

"Hyung—"

"Berhenti menatapku iba." potong Yoongi tanpa mengalihkan pandangannya kearah Namjoon.

"Dan berhentilah bersikap baik-baik saja!" seru Namjoon yang entah kenapa justru membuat Yoongi tertawa keras. Ya, tertawa. Tapi, tawa yang membuat Namjoon meringis saat mendengarnya. Karena, setelah tawa itu terdengar akan ada isakan setelahnya. Begitulah Min Yoongi. Dia akan tertawa menyedihkan ketika tak bisa menahan apapun yang dirasanya lagi. Namun, kemudian tawa itu diganti dengan isakan hebat yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun termasuk ayahnya sendiri. Dan, diantara semua orang ini adalah kedua kalinya Namjoon melihat sisi lain dari Yoongi. Yoongi si angkuh yang kini menangis karena tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan cintanya.

"Aku baik?" racau Yoongi kacau. "Aku hancur, Namjoon. Aku hancur." Yoongi semakin tak terkontrol terlebih isakannya yang semakin parah. "Saking hancurnya, aku sampai merasakan mati sekarang ini. Kau tahu bagaimana rasanya?" tanya Yoongi menatap kedua mata Namjoon dengan kedua matanya yang sangat terlihat luka yang mendalam yang hanya bisa dirasakannya seorang diri meskipun ia sudah membagi luka itu pada orang lain sekalipun.

"Aku memang sudah mati sejak lama."

"Hyung~" lirih Namjoon tak tega.

"Aku mencoba untuk merelakannya pergi tapi sekarang? Dia bahkan bisa mati kapan saja."

"HYUNG!" seru Namjoon tak ingin ucapan Yoongi menjadi kenyataan.

"Kenapa?!" tanya Yoongi memilukan. "Kenapa ketika untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Kenapa harus seperti ini?" tanya Yoongi tak mengerti. "Apa salah jika aku—"

"Hyung—"

"—kenapa mereka suka sekali mempermainkan? Kenapa Namjoon? Kenapa?!"

"Hyung, tenanglah!"

"Bagaimana aku bisa tenang? Katakan padaku bagaimana aku bisa tenang jika—jika mungkin saja ini adalah hari terakhir Jimin di dunia ini?"

BUGH!

Yoongi tersungkur tak berdaya di atas aspal halaman sekolahnya ketika ia mendapat bogem mentah dari Namjoon. Lagi-lagi Yoongi tertawa tapi kedua matanya menangis membuat Namjoon kembali teriris melihatnya.

"Jimin... Jimin... Jimin... JIMIN!!!!!" racau Yoongi semakin hebat dan Namjoon hanya bisa menatap sendu pada sang hyung yang benar-benar terlihat sangat menyedihkan.

"Hyung, sadarlah. Kau masih memiliki kesempatan untuk bersama Jimin. Ini bukan akhir dari semuanya, hyung. Kau pikir, Jimin akan senang melihatmu putus asa seperti ini? Dia sedang berjuang disana. Maka kau juga harus berjuang. Kali ini, jangan biarkan dia sendiri lagi!" Yoongi menghentikan isakannya. Ia termenung sejenak. Seolah perkataan Namjoon adalah mantra, ia segera bangkit dari posisinya setelah sebelumnya mengusap air matanya dan menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan sialan Namjoon.

"Sialan, kau ingin balas dendam, huh?!" Namjoon terkekeh.

"Kau sudah waras hyung?"

"Bajingan~" desis Yoongi malu bukan main. Oh, apa yang baru saja ia lakukan? Ia baru saja mencoreng image swag-nya. Yoongi membungkuk untuk mengambil kaleng soda yang terjatuh dan membukanya tergesa. Ia meminumnya sekali teguk.

"Jangan katakan pada siapapun tentang apa yang kau lihat barusan, mengerti?!" pinta Yoongi menahan rasa malu akibat ulahnya. Namjoon tertawa kecil namun kemudian ia memasang wajah sayunya.

"Tapi, bisakah aku minta satu hal padamu? Anggap saja sebagai imbalan." Yoongi hanya berdehem, tanda menyanggupi. "Bisakah kau lebih terbuka, hyung? Katakan apa yang kau rasakan. Jangan siksa dirimu sendiri. Aku tidak ingin, hyung-ku merasakan dukanya seorang diri. Berbagilah dengan siapapun, denganku, Jimin, Taehyung, semuanya. Kami akan selalu ada untukmu, hyung." Yoongi tersenyum kecil memukul lengan atas Namjoon pelan.

"Pria sejati akan mengatakan apa yang ia rasakan." Namjoon tertawa keras.

"Pria sejati kok menangis." Yoongi mendelik.

"Kau pikir pria sejati itu bukan manusia? Coba kau yang ada di posisiku dan Jin hyung yang ada di posisinya Jimin. Aku yakin, kau akan melakukan bunuh diri detik ini juga." Namjoon tergelak dan Yoongi menyeringai puas.

"Apa yang kau bicarakan, hyung? Kenapa kau sangkut-pautkan dengan Jin hyung?" tanya Namjoon gugup. Yoongi terkekeh.

"Wae? Kau pikir kami tidak tahu? Oh-ayolah, semua orang juga sudah tahu. Hanya dari tatapan kalian berdua saja kami semua tahu jika kalian saling menaruh hati. Jadi, katakan padaku—kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya?" wajah Namjoon memerah. Semerah tomat karena saking malunya. Shit! Yoongi membalasnya dengan tepat sasaran.

"Hyung, jangan bahas itu." Yoongi tertawa puas. Senang rasanya melihat wajah teman kecilnya yang memerah malu seperti itu.

"Arra-arra... Aku hanya bercanda. Lagi pula—" Yoongi menghentikan ucapannya saat melihat wajah Namjoon yang tiba-tiba mengeras. Yoongi mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Namjoon! Hey... Ada apa denganmu?" tanyanya tapi Namjoon tak kunjung merespon dan tetap menatap pada satu objek yang tampaknya berada di belakang Yoongi. Membuat mau tak mau, Yoongi berbalik badan. Dan—

Deg!

"K-kau..." ucap Yoongi terbata setelah ia melihat apa, tepatnya siapa yang menjadi penyebab bungkamnya Namjoon.

Jantung Yoongi berdetak cepat. Kedua tangannya mengepal erat. Wajahnya semakin memgeras penuh murka. Jika tidak ingat ia masih di area sekolah. Sudah dipastikan, ia akan melenyapkan pemuda yang beraninya berdiri di hadapannya dengan wajah sendu dan bersalahnya yang untuk pertama kalinya ia lihat. Tapi, dibalik itu semua —Yoongi berjanji tidak akan melepas sosok yang dianggap penting untuk orang terkasihnya. Sosok yang dianggap sebagai kakaknya ketika tak ada satupun yang menjaganya dan berada di sampingnya. Termasuk dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

"Mereka belum pulang?" tanya Sehyuk pada Hyunwoo yang hanya merespon dengan gelengan.

"Yoongi hyung dan Namjoon hyung belum juga pulang?" Jungkook tiba-tiba muncul di depan teras rumah milik Yoongi, Namjoon serta Taehyung dimana Sehyuk dan Hyunwoo berada, dan bertanya dengan wajah cemasnya. Sehyuk maupun Hyunwoo menoleh dan tersenyum tampan kearah tuan mudanya itu.

"Kau tak perlu cemas, Kookie-ya. Mereka pasti pulang sebentar lagi." balas Sehyuk. Jungkook mengangguk pasrah.

"Bagaimana jika mereka berdua belum juga pulang setelah para appa pulang?" sahut Taehyung yang ternyata juga datang bersama Jungkook hanya saja keberadaannya tak disadari oleh keduanya.

"Astaga~ jangan muncul tiba-tiba." decak Sehyuk terkejut. Taehyung menunjukkan cengiran khasnya.

"Dan—sebenarnya apa yang mereka lakukan? Mereka menolak membantu appa. Dan sekarang?" gumam Taehyung tak habis pikir. "Mereka tidak melakukan sesuatu yang berbahaya tanpa sepengetahuan kita 'kan?!" tebak Taehyung yang membuat Jungkook, Sehyuk serta Hyunwoo menoleh dan menatap Taehyung horor. Taehyung mengedipkan kedua matanya lucu. Apa dia baru saja salah bicara?

"Jangan berburuk sangka pada mereka. Aku yakin mereka tidak akan gegabah." Jungkook menyahut menenangkan Taehyung sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

"Tapi—"

"Ini buruk~" lirih Sehyuk memotong sanggahan Taehyung ketika sepasang matanya mendapati beberapa mobil yang masuk ke area rumah mewah milik para tuan mudanya. Mobil-mobil yang merupakan milik tuan besar mereka.

"Oh tidak~ para appa sudah pulang!" gumam Jungkook cemas begitu juga dengan Taehyung.

"Lebih baik kalian masuk saja." titah Hyunwoo.

"Tapi, bagaimana dengan—"

"Percayalah, jika kalian masih berada disini mereka akan langsung menanyakan keberadaan yang lain, termasuk Yoongi dan Namjoon." potong Sehyuk. Taehyung mengangguk dan tanpa ragu menarik tangan Jungkook untuk masuk ke rumahnya dengan tergesa membuat tatapan heran muncul dari Seokjin, Hoseok, Hyukjae, Donghae, Joonmyeon, Taekwoon dan Minseok yang berada di ruang tamu.

"Ada apa? Yoongi dan Namjoon sudah pulang?" tanya Seokjin.

"T-tidak hyung, mereka belum pulang. Tapi—" Jungkook menghentikan ucapannya sejenak dan menatap Seokjin cemas. "—appa sudah pulang."

"Mwo?!" pekik Seokjin dan Hoseok bersamaan.

"Aish, bagaimana ini? Situasi sedang tidak baik dan mereka—" Seokjin menjeda ucapannya sejenak. "Bagaimana jika mereka gegabah dan—"

"Siapa yang gegabah?!" Seokjin, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook mematung tegang. Mereka sangat mengenali suara itu. Suara tegas yang memiliki rasa kewibawaan di dalamnya, siapa lagi jika bukan ayah Namjoon? Kim Seungwon.

Sementara keempat tuan muda itu yang masih mematung, maka lima asisten pribadi lainnya langsung membungkukkan badan mereka pada enam tuan besar mereka yang baru saja tiba dengan Sehyuk dan Hyunwoo yang turut mengekor di belakang.

"Jadi—siapa yang bertindak gegabah?" tanya Seungwon membuat mau tak mau Seokjin menjadi orang pertama yang berbalik badan untuk menyambut ayah dan paman-pamannya.

"Tidak, ahjussi hanya salah dengar." balas Seokjin tersenyum kikuk sementara Jungkook menggigit bibir bawahnya cemas. Dengan terpaksa ia berbalik badan diikuti Taehyung dan Hoseok yang kesadarannya juga sudah kembali.

"Nde, ahjussi hanya salah dengar." timpal Jungkook. Seungwon menarik sebelah alisnya ragu. Jangan sebut dia seorang jaksa jika tak menangkap raut cemas dan gugup di wajah keempat anak dari sahabat-sahabatnya. Terlebih ketika dengan pekanya Seonwoong menanyakan perihal,

"Dimana Yoongi dan Namjoon?" tanya Seonwoong yang membuat keempat tuan muda itu menelan ludah mereka gugup. Tidak anak, tidak ayah. Selalu bertanya di waktu yang tidak tepat dan selalu membuat situasi semakin tegang.

"A-anu... Mereka—" Seokjin melirik kearah Taehyung, Taehyung menggeleng samar dan Hoseok tentu saja melengos. Sedangkan Jungkook, ia menggigit bibir bawahnya cemas membuat Seokjin tak sampai hati untuk meminta pertolongan pada adik kecilnya. Namun, kemudian Seokjin melirikkan matanya kearah Hyunwoo yang berada berdampingan dengan Sehyuk. Tatapannya melas yang membuat Hyunwoo seketika tahu apa yang harus ia lakukan sebelum,

"Hyunwoo!" Seonwoong memanggil orang kepercayaannya yang membuat suasana semakin menegang. Hyunwoo menoleh sekilas kearah Sehyuk dan menarik nafas, dengan langkah ragunya ia berjalan mendekati tuan besar Min mengabaikan semua pasang mata yang menatapnya seolah memohon. Ya, memohon untuk tidak mengatakan jujur. Karena, diantara semua asisten pribadi para tuan muda itu hanya Hyunwoo yang satu-satunya berani mengatakan jujur dan menerima segala konsekuensi atas kemarahan tuan Min. Bahkan, tak jarang Hyunwoo harus mendapatkan luka fisik atas kejujurannya membiarkan Yoongi berkeliaran diluar sana. Jangan tanyakan kenapa ia mendapat hukuman ketika ia mengatakan jujur pada satu-satunya keluarga yang Yoongi miliki, karena hukuman itu akan mengingatkannya atas kesalahannya yang membiarkan Yoongi pergi tanpa sepengetahuan sang ayah.

"Nde, tuan Min." sahut Hyunwoo menunduk sopan.

"Dimana Yoongi? Apa dia pergi bersama Namjoon?" tanya Seonwoong dingin meskipun sorot matanya menyiratkan kecemasan.

"Nde." jawab Hyunwoo singkat yang membuat Seokjin, Jungkook, Taehyung, dan Hoseok menunduk sementara sisanya hanya menatap Hyunwoo dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kemana mereka?" tanya Seonwoong lagi. Hyunwoo terdiam sejenak.

"Maafkan saya tuan Min." dan jangan tanyakan Seonwoong jika ia tidak hafal bagaimana sikap dan sifat Hyunwoo yang sebenarnya sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Karena, ketika Hyunwoo sudah mengatakan maaf maka jawabannya adalah,

"Kau tidak tahu?" Hyunwoo tak langsung menjawab, namun dengan berani ia mengangkat wajahnya dan ditatapnya wajah tuan Min dengan raut wajah tak kalah tegasnya untuk mengatakan,

"Yoongi—tidak mengatakan pada saya kemana ia pergi bersama Namjoon, tuan Min." jawab Hyunwoon jujur. "Tapi, ada yang memberitahu saya bahwa petang ini Yoongi dan Namjoon terlihat di RC." lanjut Hyunwoo yang membuat semua orang membulat terkejut terutama Seokjin, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Teman lama. Seorang guru musik di RC, Henry Lau." jawab Hyunwoo yang lagi-lagi mendapat respon kejut dari empat tuan muda mereka.

"Apa yang mereka lakukan di RC? Kenapa harus diam-diam?" tanya Seungwon angkat bicara setelah sedari tadi membiarkan Seonwoong yang menginterogasi Hyunwoo.

"Maaf, saya—"

"Yoongi hyung?" pekikan Jungkook memotong ucapan maaf Hyunwoo sekaligus membuat seluruh orang disana berbalik dan menoleh kearah pintu utama. Melihat sosok yang dicari datang dan tampak seorang diri.

Yoongi masuk lebih dalam ke rumahnya untuk bergabung bersama yang lain. Yoongi menarik nafas dan menatap ayahnya dan Hyunwoo bergantian.

"Bisakah appa tidak memarahi Hyunwoo hyung terus?" tanya Yoongi kesal. Sang ayah berdecak dan Hyunwoo tersenyum kecil. Lega rasanya melihat sang tuan muda sudah kembali dengan keadaan selamat tanpa kurang satu apapun.

"Aku tidak akan memarahinya jika kau tidak berulah." kini Yoongi yang berdecak kesal.

"Aku yang berulah kenapa Hyunwoo hyung dimarahi? Ayolah appa~ aku bukan anak kecil yang harus bermain dengan hyung-ku 24 jam. Bahkan, Sehyuk hyung, Joonmyeon hyung atau bahkan yang lainnya juga tidak seperti itu. Kalian berdua itu sama kakunya, jangan terlalu serius."

"Seperti kau tidak saja, hyung!" timpal Taehyung asal yang membuat Jungkook yang berada di sampingnya, membekap mukutnya seketika. Yoongi melirik kearah Taehyung dan mendesis tertahan.

"Kenapa kau sendiri? Dimana Namjoon?" tanya Seungwon. Yoongi menarik nafas.

"Dia datang." jawab Yoongi datar tanpa mengurangi kesopanannya sedikitpun pada ayah Namjoon itu. Pemberitahuan Yoongi sontak membuat seluruh orang menoleh kearah pintu dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Namjoon datang tak seorang diri melainkan bersama,

"Park Chanyeol-ssi?" gumam Seokjin tak percaya.

"Apa yang kalian berdua lakukan?!" tanya Wonjoong tak mempercayai ulah Yoongi dan Namjoon yang kelewat berani membawa sosok yang mungkin saja tahu dimana keberadaan Jimin.

"Jangan marah dulu, samchon." sahut Namjoon tegas. "Karena percaya atau tidak. Dialah yang akan membawa kita pada Park Jimin." lanjut Namjoon yakin meskipun dihadiahi tatapan tak percaya dari semua orang akibat ucapannya itu. Sementara, Yoongi—ia hanya menghela nafas berat dan tak sudi memandang wajah pemuda yang dianggap sebagai kakak oleh orang tersayangnya lebih lama lagi sebelum ia kembali lepas kontrol persis seperti dua jam yang lalu.

.

.

.

Dua jam yang lalu...

.

.

"Chanyeol?" gumam Namjoon tak mempercayai keberadaan pemuda yang tengah menatap ia dan Yoongi dengan kedua matanya yang berkaca.

Yoongi mengepalkan kedua tangannya, menahan diri untuk tidak melayangkan bogem mentahnya pada pemuda yang tak lain adalah Park Chanyeol itu. Tapi, pemandangan selanjutnya benar-benar membuat ia dan Namjoon terkejut bukan main.

Bruk!

Chanyeol jatuh berlutut dihadapan Yoongi dan Namjoon. Ia tak bisa lagi menahan bendungan air matanya yang siap pecah sedari tadi.

"Maafkan aku~ hiks!" isak Chanyeol memilukan sementara Yoongi dan Namjoon tetap diam mendengar. "Maafkan aku.. Maafkan aku.. Maafkan aku.."

"Bajingan! Berani sekali kau muncul dihadapanku!" geram Yoongi habis kesabaran untuk tidak menghajar pemuda tampan itu. Yoongi berjalan mendekati Chanyeol dan menarik kerah bajunya. Lucunya, Chanyeol sama sekali tak melawan justru semakin menangis hebat.

"Pergi! Sebelum aku bertindak gila!" ancam Yoongi muak tapi Chanyeol justru semakin menunduk dan menangis histeris. Hal itu, membuat Namjoon turun tangan untuk memisahkan Yoongi dan Chanyeol.

Dan selepas tangan Yoongi dari kerah baju Chanyeol. Seketika pula, Chanyeol kembali ambruk berlutut dihadapan mereka membuat Yoongi dan Namjoon saling berpandangan dan yakin bahwa kedatangan Chanyeol pasti berhubungan dengan Jimin.

"Katakan, apa kau tahu dimana Jimin berada?" tanya Namjoon tak sabar. Chanyeol menundukkan kepalanya semakin dalam.

"Aku—aku nyaris menyakitinya. Aku nyaris membuatnya terluka. Tolong—aku mohon, tolong aku. Tolong aku—"

"Yak! Bicara yang jelas!" seru Yoongi kesal. Chanyeol mendongak menatap kedua pria tampan itu bergantian. Detik berikutnya, ia menenangkan diri sebelum mengatakan yang sebenarnya kepada dua orang yang sengaja ia temui.

"Jimin—"

Deg!

Wajah Yoongi dan Namjoon mengeras kala mendengar nama Jimin disebut Chanyeol diawal ucapannya, membuat keduanya menajamkan kedua telinganya namun mendengar was-was.

"—Nam Goong Won berhasil mendapatkannya. Kwon Jiyoung yang membawanya. Kali ini—kali ini Jimin tidak akan bisa lepas dari mereka. Aku mohon pada kalian. Bunuh aku, dan tolong Jimin. Selamatkan dia."

"Apakah kami punya keuntungan dengan membunuhmu jika kau bisa menunjukkan jalan kami untuk menyelamatkan Jimin?" tanya Yoongi dingin. Namjoon turut menyeringai. Paham betul apa maksud Yoongi yang langsung mengambil kesempatan di situasi yang tepat.

"Aku tahu, kau menaruh hati pada Jimin-ku. Aku juga yakin, kau akana melakukan segala cara agar bisa bersamanya. Tapi, untuk saat ini—membunuhmu itu sama saja membunuh Jimin-ku. Jadi, katakan padaku... Apa tujuanmu menemui kami?" Chanyeol tertunduk sejenak sebelum ia mendongak dan kembali menatap Yoongi dan Namjoon yakin.

"Nam Goong Won memintaku untuk membunuhnya besok sore. Dia tahu, aku begitu mencintai Park Jimin melebihi diriku sendiri. Aku memang ingin memilikinya, tapi membunuhnya dengan kedua tanganku adalah hal yang tak ingin kulakukan. Aku lebih memilih untuk merelakannya pada pria manapun dibandingkan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku masih ingin melihatnya bahagia meskipun bukan bersama. Karena kau tahu dengan jelas, Jimin sudah menderita dan mengalami banyak kehilangan sejak kecil. Dan, kali ini aku mohon pada kalian untuk mempercayaiku kali ini." jelas Chanyeol. Ia menoleh kearah Namjoon. "Kita sudah saling mengenal selama dua tahun. Kau tahu benar bagaimana aku jika itu menyangkut tentang Jimin. Aku mohon, Namjoon. Percaya padaku."

Yoongi menoleh kearah Namjoon, membaca garis wajahnya yang tengah meneliti segala ekspresi hingga sorot kedua mata Chanyeol. Mencari tahu apa yang diucapkannya, merupakan kebenaran atau hanya jebakan semata.

"Kenapa kau mengkhianati Nam Goong Won? Lalu, bagaimana dengan kakakmu?" tanya Namjoon kemudian. Chanyeol memghembuskan nafasnya. Ia bangkit dari posisinya dan menatap Namjoon yakin.

"I'm wanna free!" ujarnya tegas yang menyiratkan tekad bulat yang tak pernah Namjoon lihat sebelumnya, tepatnya semenjak ia mengenal Chanyeol selama dua tahun belakang.

.

.

.

.

.

Tap!

Tap!

Tap!

Jimin tetap menundukkan kepalanya meskipun ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Kini, hanya ia seorang diri di gudang yang ia sendiri tak tahu dimana letak persisnya.

Tap!

Sepasang kaki berdiri tepat di depannya duduk terikat. Tapi, tak juga membuat Jimin berniat untuk melihat siapa sosok yang datang dan berdiri dihadapannya.

"Jimin~" sebuah suara antara asing namun juga terasa familiar terdengar di kedua telinga Jimin.

Perlahan, Jimin mengangkat wajahnya dan bertemu tatap dengan lelaki yang menjadi penyebab dirinya terikat seperti ini. Ya, lelaki itu adalah Kwon Jiyoung.

"Ada apa? Mau melanjutkan yang tadi?" tanya Jimin remeh. Jiyoung tersenyum miring.

"Aku rasa, kau memiliki keberuntungan yang sangat besar." kagum Jiyoung yang membuat Jimin memutar kedua bola matanya malas. "Katakan padaku, Park Jimin—" jeda Jiyoung sejenak seraya mendekatkan wajahnya pada wajah manis Jimin. "—apa daya pikatmu sampai membuat seorang Park Chanyeol membantah perintah tuan Nam?" Jimin terkekeh.

"Bukankah, kau juga tertarik padaku?" tanya Jimin menantang. Jiyoung mendecih.

"Tidak ada yang tidak tertarik padamu, Park Jimin. Kau memang sudah mempesona sejak kecil."

"Aku anggap itu pujian kalau begitu." Jiyoung mnejauhkan wajahnya dari wajah manis Jimin dan menatap pemuda manis yang masih duduk terikat itu intens.

"Kau tahu apa yang tuan Nam inginkan darimu?" tanya Jiyoung. Jimin melengos, sebagai penolakan halus atas pembicaraan Jiyoung padanya. "Kenapa kau tidak memberikannya?"

"Itu bukan urusanmu!" desis Jimin tanpa menoleh kearah Jiyoung. "Lagi pula—" Jimin menoleh kearah Jiyoung dan menatap lelaki itu kelewat tajam. "—tidak ada gunanya aku menurut jika 'tuanmu' tetap membunuhku."

"Aku bisa membuatmu tetap hidup jika kau memenuhi permintaannya." Jimin tertawa jenaka.

"Kenapa tampaknya kau begitu peduli padaku? Urusi-urusanmu sendiri, dan jangan memperdulikan orang lain yang sudah melupakanmu." sindir Jimin yang kali ini menatap Jiyoung penuh kebencian sementara Jiyoung menatap Jimin penuh keterkejutan.

"Kau ingat?" Jimin tertawa sarkas.

"Apa perlu kuingatkan? Amnesia tidak akan membuatmu lupa selamanya meskipun kau mengalami amnesia permanen sekalipun. Jadi, tak perlu heran jika aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Terlebih, setelah aku sudah mengingat semuanya." Jiyoung memandang Jimin tak percaya. "Jadi, aku mohon padamu—jangan mencoba untuk membuat kesepakatan denganku karena daripada itu, aku lebih memilih untuk mati!" Jiyoung mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

"Kalau begitu, nikmati hari terakhirmu di dunia ini Park Jimin. Waktu-mu hanya sampai besok sore!" seru Jiyoung memperingati yang dibalas kekehan tak berguna dari Jimin yang menggema keras di setiap sisi gudang tempat Jimin disekap.

"Bukankah lucu? Salah satu pembunuh orang tuaku adalah anak dari orang kepercayaan ayahku? Bahkan, anak itu sudah dianggap oleh mereka sebagai putra sulungnya." sindir Jimin tiba-tiba yang membuat Jiyoung menghentikan langkahnya namun tak berbalik badan. "Tapi, akan lebih lucu lagi jika saat ini dia justru menawarkan kesepakatan denganku." lanjut Jimin. "Jadi, Jiyoung-ssi—katakan padaku, kau ingin aku mati atau hidup?"

Jiyoung mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya mengeras dan memerah. Ia berbalik badan dan menatap Jimin nyalang.

"Aku ingin kau hidup Park Jimin!" seru Jiyoung tertahan. "Itulah sebabnya aku memohon pada Yunho ketika melihat gerak-gerikmu ketika kau berada dipelukan ayahmu saat kecelakaan itu, untuk tidak mengatakan pada tuan Nam jika kau masih hidup setelah mengalami kecelakaan maut." Jimin tertawa kesetanan.

"Kau pikir aku akan merasa tersanjung dengan pengakuanmu? Tidak sama sekali Kwon Jiyoung! KAU PEMBUNUH! Tega sekali kau membunuh ayah dan ibuku dalam sekali waktu. Bahkan, kau tahu? Aku sama sekali tidak percaya jika kau tidak juga menginginkan kematianku. Itu mustahil." Jiyoung mengepalkan kedua tangannya. Ia terjebak dengan ucapannya sendiri terlebih pemuda manis itu yang mengatakan dengan lantang bahwa ia membencinya. Membenci seseorang yang dulunya dianggap sebagai kakaknya sendiri.

"Bolehkah—aku menginginkan satu hal darimu? Sebagai pesan terakhir?" pintanya tulus. Jimin mendecih, ia melengos enggan menatap wajah salah satu bajingan dari pembunuh kedua orang tuanya. "Bisakah sedikit saja, kau mengenang kenanganmu di Busan? Sedikit saja kau sisakan tempat untukku. Sedikit saja, kau beri tanda jika aku juga pernah hadir dalam hidupmu. Sebagai sosok kakak. Bukan pembunuh." pinta Jiyoung yang kemudian pergi meninggalkan Jimin seorang diri tanpa menunggu balasan dari pemuda manis itu.

Jimin menunduk. Memejamkan kedua matanya erat-erat hingga tanpa sadar kedua matanya meneteskan liquid bening yang mengalir pelan membasahi pipi kedua cubby-nya. Bukan. Ia menangis bukan karena permintaan Jiyoung tapi karena seolah hari ini adalah hari terakhirnya di dunia. Jimin menggigit bibir bawahnya. Bertekad dalam hati.

'Kau—kau sendiri yang akan merasakan ini adalah hari terakhirmu, Kwon Jiyoung. Kau dan semua iblis yang ada disini! Bukan aku!'

TBC

.

.

.

.

(-) Maaf sebelumnya, karena ngaretnya lagi-lagi kebangetan. Maklum, lagi nerusin Rogue dulu yang sudah terbengkalai berbulan-bulan (adakah disini yang juga baca Rogue?)

(-) Oke deh, aku enggak mau banyak bicara pasti udah pada ngantuk karena chapter ini, hehe maap ya kalau masih ada typo-nya (udah aku edit padahal) dan maaf kalau enggak serapi biasanya (btw, doain ya semoga tabunganku cepat penuh, hehe... Biar cepet beli laptop daripada servis, kkkk)

(-) So, see you in next chapter...

Kamsahamnida,