Previously ...
"Bolehkah—aku menginginkan satu hal darimu? Sebagai pesan terakhir?" pintanya tulus. Jimin mendecih, ia melengos enggan menatap wajah salah satu bajingan dari pembunuh kedua orang tuanya. "Bisakah sedikit saja, kau mengenang kenanganmu di Busan? Sedikit saja kau sisakan tempat untukku. Sedikit saja, kau beri tanda jika aku juga pernah hadir dalam hidupmu. Sebagai sosok kakak. Bukan pembunuh." pinta Jiyoung yang kemudian pergi meninggalkan Jimin seorang diri tanpa menunggu balasan dari pemuda manis itu.
Jimin menunduk. Memejamkan kedua matanya erat-erat hingga tanpa sadar kedua matanya meneteskan liquid bening yang mengalir pelan membasahi pipi kedua cubby-nya. Bukan. Ia menangis bukan karena permintaan Jiyoung tapi karena seolah hari ini adalah hari terakhirnya di dunia. Jimin menggigit bibir bawahnya. Bertekad dalam hati.
'Kau—kau sendiri yang akan merasakan ini adalah hari terakhirmu, Kwon Jiyoung. Kau dan semua iblis yang ada disini! Bukan aku!'
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Seungwon menatap Namjoon tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari putra semata wayangnya. Begitu pula dengan para orang tua yang sama sekali tidak menyangka dengan kedatangan seorang yang pernah menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan Jimin mereka.
"Kau—mempercayainya?" tanya Wonjoong berjalan mendekati Namjoon tapi tatapannya jatuh pada Chanyeol yang menunduk sendu.
"Aku juga tidak ingin percaya padanya, samchon." jawab Namjoon tegas.
"Jika begitu, kenapa kau membawanya kemari?!" tanya Wonjoong tak habis pikir.
"Karena hanya dialah satu-satunya yang tahu dimana Nam Goong Won membawa Jiminie." jawab Namjoon tenang.
"Dan, kau percaya pada kacung Nam Goong Won jika dia akan memberitahumu?" geram Seungwon. Namjoon menarik nafas.
"Aku percaya karena—"
"Namjoon!" sela Yoongi yang membuat semua orang menoleh kearahnya. Wajahnya mengeras dan Namjoon paham jika Yoongi tak ingin mendengar alasan yang akan dituturkan Namjoon untuk yang kedua kalinya.
Yoongi berjalan mendekati Chanyeol melewati para orang tua dan mengabaikan semua pasang mata di rumah itu. Yoongi menatap Chanyeol kelewat tajam. Tatapan penuh kebencian yang membuat seisi rumah bergidik ngeri melihatnya, karena merasa tatapan Yoongi mungkin bisa membunuh siapapun detik ini juga.
"Kau—" jeda Yoongi sejenak tanpa melepas pandangannya dari Chanyeol. "—ikut aku!" titah Yoongi tak ingin penolakan.
Yoongi keluar dari rumahnya diikuti Chanyeol yang memang mau tak mau harus menuruti kemauan Yoongi jika ia benar-benar ingin menyelamatkan sosok yang amat dicintai sejak pandangan pertama.
Yoongi tahu, Chanyeol berjalan di belakangnya. Maka dari itu, Yoongi memutuskan untuk menghentikan langkahnya tepat di depan mobilnya yang masih terparkir di halaman rumahnya. Yoongi berbalik badan seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.
"Sekarang hanya ada kita berdua. Katakan yang sejujurnya apa tujuanmu mencariku dan Namjoon." tanya Yoongi datar. Chanyeol tak langsung menjawab. Ia menarik nafas, diberanikan dirinya untuk menatap Yoongi yang kentara sekali sangat membencinya.
"Apa kau akan membunuhku jika aku mengatakan jujur?" balas Chanyeol. Yoongi menggeram.
"Aku benar-benar akan membunuhmu jika bajingan itu sampai menyentuh Jimin dan membuat goresan di tubuhnya sekecil apapun!" Chanyeol tersenyum miring. Melihat reaksi Yoongi saat ini, membuatnya semakin yakin jika keputusannya mendatangi Yoongi dan Namjoon adalah keputusan yang tepat.
"Kau tahu, kenapa mereka mengincar Jimin? Yang padahal, orang yang seharusnya menjadi incaran mereka tepat berdiri di depanku?" Yoongi membulatkan kedua matanya terkejut. Fakta baru apa lagi ini?
"Apa maksudmu?"
"Dari awal, bukan Jimin yang menjadi incaran mereka, Min Yoongi. Tapi, kau dan Jeon Jungkook."
Deg!
Tubuh Yoongi melemas. Ia mundur selangkah membuat tubuhnya tak sengaja menabrak bemper depan mobilnya. Ia menatap Chanyeol tak percaya.
"Tidak mungkin~" gumam Yoongi tak ingin mempercayai fakta baru yang ternyata akan selalu berkaitan dengan dirinya. Yoongi mengepalkan kedua tangannya, dengan gerakan cepat ia mendekati Chanyeol dan mencekeram kerah baju pemuda tampan itu.
"Jika aku—kenapa mereka mengincar Jimin?" Chanyeol mencoba untuk bertahan dengan cekikan Yoongi. Warna mukanya memerah tapi ia memutuskan tetap untuk bicara dan mengatakan hal yang sebenarnya yang tidak diketahui banyak orang, termasuk Namjoon sekalipun.
"Karena mendapatkanmu atau Jeon Jungkook, tidak akan menguntungkan mereka."
"Mwo?!" Yoongi membulat terkejut.
"Lepaskan aku—uhuk! Jika kau ingin mendengar hal yang lebih mengerikan lagi!" Chanyeol mencekeram kedua tangan Yoongi dan melepas tangan itu paksa dari lehernya. Yoongi menurut dan membiarkan Chanyeol terbatuk seraya menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Apa yang mereka dapatkan jika mereka mendapatkan Park Jimin? Dibandingkan aku atau Jungkook?" Chanyeol menegakkan tubuhnya.
"Mendapatkanmu atau Jeon Jungkook sama saja dengan kematian. Itu artinya, nasib kalian berdua sama dengan kakak beradik yang sudah Nam Goong Won bunuh sebelumnya. Dengan kata lain, Nam Goong Won tidak akan mendapat apa-apa selain kasus pembunuhannya yang semakin bertambah. Tapi, jika ia mendapatkan Jimin—" Chanyeol menjeda sejenak. "—dia akan mendapat kematian yang dibuntuti oleh keuntungan besar."
"Tapi—kenapa? Apa yang mereka dapatkan dari Jimin? Bukankah Jimin tidak ada kaitannya dengan semua ini?"
"Kau benar!" balas Chanyeol berusaha untuk tenang. "Jimin tidak ada kaitannya sama sekali dengan semua hal yang berkaitan dengan Nam Goong Won." jawab Chanyeol dan Yoongi menunggu kelanjutannya tak sabar.
"Tapi—" Chanyeol menggantung ucapannya. "—ada satu hal yang tak sengaja Jimin lakukan yang membuat target Nam Goong Won berpindah kepada Jimin."
"Katakan!" pinta Yoongi tergesa. Chanyeol menatap Yoongi sendu sebelum akhirnya mengatakan jawaban dari pertanyakaan yang ditanyakan oleh semua orang selama ini.
"Saat upacara pemakaman ibu Namjoon. Saat itulah semuanya berubah." lanjut Chanyeol tenang meskipun kedua matanya menyiratkan rasa ketakutan yang mungkin tak bisa dijabarkan oleh Yoongi sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi berjalan lemas memasuki rumah mewahnya. Wajahnya yang pucat semakin memucat setelah pembicaraan Chanyeol yang sedikit menyesakkan untuknya. Belum lagi, suara-suara Chanyeol terus terdengar tanpa henti di kedua gendang telinganya meskipun si pemilik suara sudah pulang 30 menit yang lalu.
"Kematian palsu Kim Siyeon memang direncanakan oleh Nam Goong Won untuk menyelamatkan adiknya dari kehancuran yang akan ia buat kepada suaminya dan seluruh rekan-rekannya. Sebenarnya, pernikahan mereka tidak pernah disetujui oleh Nam Goong Won selaku wali sah Kim Siyeon. Itu karena, Kim Seungwon memiliki hubungan jauh dengan ibu mendiang ibumu, Min Jisang. Singkatnya, kakeknya Min Jisang dengan kakeknya Kim Seungwon adalah kakak beradik seayah, beda ibu.
Itulah sebabnya, Nam Goong Won tidak menyetujui pernikahan mereka. Terlebih setelah ia juga tahu jika Kim Seungwon bersahabat dekat dengan Min Seonwoong yang mana adalah suami dari kakak kandung orang yang tumbuh besar bersamanya dan sangat ia cintai. Bahkan, ia semakin membenci Seungwon ketika tak sengaja Siyeon mengenalkan Jieun padanya, lalu, kemudian Seungwon mengenalkan Jieun pada Seonwoong dan Jisang. Dan, itulah pertama kalinya mereka bertemu tanpa tahu jika Jieun adalah adik yang selama ini Jisang cari. Dan kau tahu, apa yang membuat Nam Goong Won lebih murka?
Yaitu, dengan seenaknya Seonwoong mengenalkan Jieun pada Seungho yang mana adalah teman sekelasnya. Seungho menyukai Jieun pada pandangan pertama. Tak jarang, ia juga melakukan pendekatan pada Jieun dengan bantuan Siyeon, dan kedua teman perempuannya yang tak lain adalah Kim Yoona dan Jung Jihyo. Jadi, kau tahu? Tanpa kau ketahui kalian memiliki hubungan saudara satu sama lain. Termasuk Park Seojoon. Sebenarnya, Park Seojoon adalah adik tingkat dari Kim Seungwon, Min Seonwoong, Kim Wonjoong serta ia bertetangga dengan Kim Chilhyun, Jeon Seungho dan Jung Jaeduck yang tak lain juga adalah kakak tingkatnya. Sementara ibu Jimin, ia hanya mengenal dokter Jung, karena mereka menempuh pendidikan kuliah di tempat yang sama."
"Ya, aku paham tentang hubungan ini. Tapi, yang tidak aku pahami—apa tujuan Nam Goong Won mengincar Park Jimin?"
Yoongi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu utama rumah mewahnya. Mematai pintu itu nyalang sampai tanpa sadar, ia terisak. Air matanya turun begitu saja bersamaan suara Chanyeol yang seolah mengingatkan padanya jika ia hanyalah pria bodoh yang tidak tahu apa-apa.
"Yang Nam Goong Won inginkan dari Jimin, adalah hal yang lebih mengerikan dari apa yang pernah kau bayangkan sebelumnya."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tahu, Jimin bisa menghancurkan akses rahasia yang bahkan hanya diketahui oleh presiden sekalipun?"
"A-apa?"
"Itu hanya contoh kecil. Tapi, bukan informasi presiden yang Nam Goong Won inginkan. Kau tahu, apa yang iblis itu inginkan?—
—dia menginginkan Jimin menarik semua saham milik kakeknya, Kim Chilhyun, Jeon Seungho, Jung Jaeduck, Kim Seungwon, Min Seonwoong, dan Kim Wonjoong. Memindah-tangankan segala kepemilikan perusahaan yang mereka semua miliki dan merubahnya dengan atas nama Nam Goong Won. Itu adalah pekerjaan mudah bagi Jimin. Dan, kau tahu kenapa Nam Goong Won terus-menerus memaksa dan mengejar Jimin dan bahkan ia sama sekali tak mencemaskan bukti yang Seojoon kumpulkan sejak dulu?
Itu karena—dia akan menang banyak jika dia mendapatkan Jimin dan Jimin bersedia untuk melakukan kemauan Nam Goong Won yang setelah itu, dia pasti mengutus salah satu dari kami untuk menyingkarkan Park Jimin segera. Dan, dalam sekali tepukan itu—kalian akan kembali merasakan hancur untuk kesekian kali.
Ingat Min Yoongi. Tujuan Nam Goong Won sebenarnya, bukanlah untuk menghancurkan Park Jimin, tapi menghancurkan semua orang termasuk Jimin sendiri. Bisa dibilang dia meneruskan dendam ayahnya."
"Dendam?"
"Ya! Apa kau tahu, ayahnya di deportasi hampir di seluruh negara maju di Asia dan di buang di kota terpencil selama tujuh tahun. Setelah kembali ke Seoul, ayahnya justru mendapatkan hukuman mati. Kau pasti sudah bisa menebak siapa yang memberi hukuman itu."
"Para appa? Tapi, apa kesalahannya?"
"Karena membunuh kedua orang tua Jisang dan Jieun dan merampas harta mereka serta menculik Jieun dengan sengaja—
—dan..., apa kau tahu siapa sebenarnya kakek dan nenekmu?"
"Pembisnis?"
"Kutebak, ibunya Namjoon yang menceritakannya, huh?—
—ya, mereka memang pembisnis. Tapi, bisnis mereka hanya untuk sampingan. Yang sebenarnya adalah nenekmu seorang doktor dan kakekmu, seorang wakil presiden."
Cklek!
Yoongi membuka pintu utamanya. Ia melangkah ragu memasuki rumah mewahnya. Rasa sesak menyelubungi dada Yoongi. Bahkan, jika ia tidak ingat tempat atau tidak ingin membuat keluarganya cemas—ia mungkin sudah menjatuhkan dirinya di depan teras rumah tadi.
"Tapi—darimana kau tahu?"
"Kau tahu bukan, aku hanyalah anak angkat? Nam Goong Won lebih mempercayaiku dibandingkan Namjoon, yong notabene adalah keponakannya lebih dari apapun. Selain itu, fakta bahwa aku adalah adik angkat Choi Seunghyun, membuat kepercayaannya berangsur lebih besar kepadaku."
"Kenapa kau memberitahu semua ini padaku?"
"Aku tahu bagaimana rasanya menyesal, sakit dan ditinggalkan. Aku pernah merasakannya. Tapi, jika kau terlambat untuk menyelamatkan Jimin kali ini, kehancuran tidak hanya kau rasakan tapi seluruh orang yang ada di dalam rumah itu. Bisa dikatakan, jika Jimin mati, kau pun mati dan jika Jimin hidup kau pun tetap hidup. Pilihan ada padamu, Min Yoongi. Jika kau tetap tidak mempercayaiku, aku akan menyelamatkan Jimin seorang diri."
"Baiklah...,"
"Huh?"
"Katakan, jam berapa mereka menyuruhmu membunuh Jimin."
"Pukul 5 sore."
"Lakukan, apapun yang iblis itu minta. Jika dia memintamu untuk membunuh Jimin, maka lakukanlah!"
"Kau gila?!"
"Hanya turuti perkataanku, maka kau akan selamat!"
"Yoongi?" Seokjin yang pertama kali mneyadari keberadaan Yoongi di ruang tamu yang membuat seisi rumah menoleh bersamaan dengan Namjoon yang berjalan mendekati sang hyung yang tampak memucat.
"Dimana Chan—" ucapan Namjoon terpotong ketika Yoongi kembali melanjutkan langkahnya dan menuju ke tempat Jungkook berdiri.
"Hyu—"
Grep!
Semua orang membulat, tak mengerti kenapa Yoongi terlihat kacau dan kenapa Yoongi tiba-tiba datang dan langsung memeluk Jungkook. Terlebih untuk pertama kalinya mereka semua melihat air mata Yoongi. Isakan Yoongi yang terdengar amat sangat memilukan.
"Hyung, ada apa denganmu?" tanya Jungkook dengan bingung ia membalas pelukan Yoongi dan mengelus punggung sang hyung untuk membuatnya sedikit tenang.
Tapi, Yoongi tetap tak menjawab. Ia hanya menangis di bahu Jungkook tanpa mengatakan apa-apa.
"Kau akan baik-baik saja, Kook. Kau akan baik-baik saja. Aku janji, aku menjagamu, kami menjagamu~" racau Yoongi yang membuat Jungkook semakin mengeryit tak mengerti. Dilepasnya paksa pelukan Yoongi dan ditatapnya wajah tegas sang hyung, yang tak lagi mengeluarkan air mata.
"Hyung, apa yang kau bicarakan?!" tanya Jungkook. Yoongi menengadah, menetralkan nafasnya dan menenangkan diri sebelum akhirnya mengatakan,
"kau—aku, yang seharusnya berada di posisi Jimin sekarang." kedua mata Jungkook membola sempurna.
"Apa hyung?" tapi Taehyung yang memekik pertama kali. Yoongi mengusap wajahnya kasar.
"Chanyeol sudah mengatakan semuanya padaku. Semuanya. Termasuk alasan kenapa mereka mengincar Jimin melebihi bukti itu." jawab Yoongi.
"Apa alasannya?" tanya Seokjin. Yoongi terdiam sejenak.
"Kita." jawab Yoongi kemudian. "Kita adalah alasan kenapa mereka mengincar Jimin."
.
.
.
"Woah~bolehkah aku membunuh iblis yang bernama Nam Goong Won sekarang?" geram Hyukjae setelah mendengar seluruh fakta sebenarnya dari Yoongi yang juga mengetahuinya dari Chanyeol.
"Tahan dirimu, Hyukjae-ya... Kita tidak boleh gegabah mengingat Jimin ada bersama mereka." tutur Donghae. Hyukjae menarik nafas.
"Jadi, apa kau akan menemui Chanyeol besok?" tanya Seonwoong pada putranya.
"Nde." jawab Yoongi singkat.
"Aku ikut!" seru Jungkook kemudian.
"Tidak. Kau tetap disini." tolak Taehyung. Jungkook merengut.
"Ani, Jungkook harus ikut." sambung Yoongi tiba-tiba.
"Mwo?!" pekik hampir seluruh orang yang ada di rumah itu.
"Yak! Yoongi-ya, kau ini bicara apa? Beberapa menit yang lalu kau berniat akan menjaga Jungkook, tapi sekarang?" tanya Seokjin tak habis pikir dengan jalan pikiran Yoongi.
"Ya, kau benar hyung. Tapi, membiarkan Jungkook disini bukanlah keputusan yang tepat." ujar Yoongi.
"Maksud hyung?" tanya Taehyung masih tak mengerti.
"Dengar! Aku sudah merencanakan semuanya dengan Chanyeol. Terutama untukku dan Jungkook. Percaya padaku, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Jungkook jika Jungkook berada dijangkauanku, jangkauan kita. Tapi, jika dia berada disini—itu hanya akan seperti memberikan umpan kepada mereka untuk menyakiti Jungkookie." jelas Yoongi.
"Jadi, apa rencanamu dan kacung itu?" tanya Seungwon membuat para anak muda disana tertawa kecil mendengar nada tak suka berisi kebencian dari ayah Namjoon.
Yoongi menarik sudut bibirnya dan menatap seluruh penghuni rumah satu persatu. Ia sudah mempertimbangkan semuanya baik-baik dan ia yakin, ia tidak akan gagal untuk menyelamatkan Jimin-nya.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung menutup pintu kamarnya. Ia berjalan seraya mengacak surainya yang tak gatal, sesekali ia juga menguap dengan kedua matanya yang masih setengah terbuka. Entah apa yang membuatnya terbangun di dini hari seperti ini.
Taehyung menghentikan langkahnya mendadak ketika ia hendak memasuki area rumah utama namun kedua matanya menangkap siluet familiar yang tengah duduk di ayunan seorang diri. Seketika, kesadaran Taehyung pulih sepenuhnya. Taehyung menarik nafas dan memutuskan untuk berjalan mendekati sosok yang entah sejak kapan berhasil menarik perhatiannya.
"Kenapa belum tidur?" Taehyung bisa melihat Jungkook —sosok familiar— itu berjengit ketika Taehyung datang dan menyapanya.
"Tae hyung..." gumamnya tanpa arti. Taehyung duduk di samping ayunan kosong yang Jungkook duduki.
"Apa yang kau pikirkan, hm?" tanya Taehyung tangannya terulur untuk mengelus surai Jungkook.
Jungkook menoleh dan menatap wajah tampan Taehyung lamat-lamat.
"Hyung, bukankah aku anak pembawa sial?" Taehyung merengut tak suka.
"Hey... Apa yang kau bicarakan?" Jungkook menunduk menatap kedua kakinya sendu.
"Aku sudah merepotkan banyak orang sejak kecil."
"Kookie-ya~" Jungkook menoleh dan kembali menatap Taehyung yang menatapnya lembut.
"Hyung—"
"Kau ingin menangis?" potong Taehyung yang melihat Jungkook menggigit bibir bawahnya dan kembali menunduk. Bahunya bergetar, tapi Taehyung tak mendengar isakan yang keluar dari bibir yang lebih muda.
Taehyung memejamkan kedua matanya sejenak. Tak berapa lama ia bangkit dan beralih berdiri di depan Jungkook. Sejenak, ia tak melakukan apa-apa namun kemudian tangannya terulur menggapai kepala Jungkook dan menyembunyikannya di perutnya yang berotot.
Taehyung mengelus surai Jungkook tanpa henti bersamaan dengan lambat-laun suara isakan Jungkook yang keluar terdengar cukup memilukan. Taehyung mendongak, tak tega mendengar isakan penuh luka yang keluar dari orang yang sudah menjadi pemilik hatinya tanpa ia sadari. Tapi, ia juga manusia yang akan turut menangis melihat orang disayanginya—tidak, mungkin dicintainya menangis pilu seperti ini.
"Kookie-ya..." setelah membiarkan Jungkook menangis selama hampir 20 menit, Taehyung memutuskan untuk berjongkok dan menangkup wajah Jungkook dengan kedua tangan besarnya. Diusapnya jejak-jejak air mata Jungkook dengan kedua ibu jarinya.
"Dengar! Aku tidak suka mendengarmu mengatakan kau anak pembawa sial. Aku membencinya, kau dengar?!" pinta Taehyung tak ingin dibantah dan Jungkook hanya mengangguk menurut. "Dan lagi—jangan beranggapan ini semua terjadi karenamu, kau, Yoongi hyung hingga Jimin sekalipun adalah korban. Dan kami, tidak akan membiarkan kalian terluka apapun yang terjadi. Mengerti?!"
"T-tapi hyung—"
"Jeon Jungkook!" panggil Taehyung tegas. Ditatapnya kedua manik Jungkook yang masih penuh air mata. "Kau tahu? Aku mengkhawatirkanmu lebih dari diriku sendiri. Jadi, bisakah kau mempercayaiku?"
"Hyung—" Taehyung menggeleng tak ingin mendengar sanggahan apapun dari Jungkook.
"Berhenti bersikap seperti ini. Kau menyakitiku, Jungkookie." parau Taehyung dengan kedua matanya berkaca.
"Mianhae, hyung. Jeongmall mianhae~" Jungkook hampir terisak membuat Taehyung dengan sigap menarik tubuh Jungkook ke dalam dekapan hangatnya.
Taehyung mengelus punggung Jungkook penuh kasih mencoba menenangkan sosok yang lebih muda meskipun kedua matanya juga penuh air mata. Dan, tanpa keduanya sadari ada dua pasang mata yang melihat bagaimana sikap Taehyung saat menangkan Jungkook. Yang satu berada di lantai dua di rumah utama yang tak lain adalah ayah Taehyung, Kim Wonjoong.
Wonjoong menghela nafas dan menatap kedua pemuda di bawah sana dengan nanar. Sungguh, ia tidak menyangka sosok putranya yang nakal dan selalu bersikap konyol bisa berubah menjadi sosok yang dewasa. Sosok dewasa untuk orang yang tentu saja spesial baginya. Namun, dibalik semua itu, ia tahu putranya lebih menderita dari sosok yang dipeluknya, yang sedang berusaha ia tenangkan.
Sementara, sepasang mata yang lain berada tak jauh di belakang Taehyung dan Jungkook. Melihat kedua orang yang sedang saling menguatkan membuatnya teringat akan sosok mungil yang nyawanya sedang dalam bahaya saat ini. Ya, dialah Min Yoongi. Yoongi tersenyum kecil dengan kedua matanya yang senantiasa menatapi kedua adiknya.
'Aku berjanji. Aku tidak akan membiarkan kalian terluka apapun yang terjadi. Dan, kali ini—percayalah pada hyung, Tae, Kook... Percayalah, jika kalian akan baik-baik saja.'
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Wajah pucat, bibir kering, lingkar hitam pada kedua matanya serta tubuhnya yang terasa keram karena sudah lebih dari dua puluh empat jam kedua tangan dan kakinya terikat pada kursi yang ia duduki. Belum lagi, perutnya yang kosong karena belum mendapat asupan apapun sejak kemarin membuat keadaan Park Jimin semakin terlihat menyedihkan.
Cklek!
Bahkan, saking tak berdayanya Jimin sampai tak mengindahkan suara pintu terbuka serta derapan banyak langkah kaki yang tak perlu ia tebak langkah kaki siapa saja.
"Lihatlah, Park Jimin yang selalu bersikap heroik dan sok pintar sekarang hanya duduk tak berdaya dihadapan kita." seru tuan Nam yang sudah berdiri tepat di depan Jimin duduk. Ia berseru diiringi tawa penuh ejekan dari para anak buahnya yang mereka tujukan pada Jimin.
Tuan Nam berjalan mendekati Jimin, meraih dagu pemuda manis itu untuk menatap wajah pucatnya.
"Kau butuh sesuatu Jiminie?" tanya tuan Nam dengan nada mengejek. "Apa kau lapar Jimin sayang?" tanyanya lagi tapi tak direspon oleh Jimin yang tampaknya tak sadarkan diri.
"Brengsek! Bangunkan dia!" geram tuan Nam yang membuat seorang bawahannya langsung membawa seember air dan—
Byur~
—menyiramkannya dengan tidak berprikemanusiaan kearah kepala Jimin.
Tuan Nam meraih dagu Jimin dan mencekeramnya kasar. Membuat kedua matanya bertemu dengan kedua mata Jimin yang sudah sepenuhnya terbuka.
"Apa tidurmu nyenyak, hm?" tanya tuan Nam tersenyum miring. Jimin terkekeh kecil.
"Sangat nyenyak sampai membuatku tak ingin bangun lagi." tuan Nam menghempaskan kepala Jimin membuat kepala lelaki mungil itu terantuk punggung kursi.
"Ada waktunya nanti kau tidur nyenyak dan tak akan bangun lagi. Dan aku akan memastikan itu." tuan Nam menyeringai. "Jadi—" jedanya sejenak. "—bagaimana keputusanmu Jiminie? Menuruti kemauanku atau mati sia-sia detik ini juga." Jimin tergelak gila.
"Apa bedanya? Aku menuruti kemauanmu atau tidak—bukankah itu sama saja untukku? Kecuali... Jika kau memberikan penawaran yang lain." tantang Jimin. Tuan Nam menatap Jimin intens. Pemuda manis di depannya ini benar-benar menarik.
"Bagaimana jika begini—" tuan Nam memulai negosiasinya. "Kau turuti kemauan keduaku tapi minus kakekmu. Bahkan, jika perlu aku akan membiarkanmu pergi meninggalkan Seoul selama-lamanya." Jimin diam sejenak, memutar otak jeniusnya untuk menerka apalagi kiranya rencana iblis yang berdiri di depannya. Sementara, tuan Nam yang melihat Jimin tampak menimbang perkataannya, diam-diam tersenyum menang dan merasa bahwa Jimin telah masuk ke dalam perangkapnya.
"Bagaimana Jiminie?" tanya tuan Nam menuntut. "Bukankah kakekmu adalah satu-satunya yang kau miliki saat ini? Apa kau juga mau jika aku membuat kau kehilangan tetua itu?" Jimin menggeram.
"Jika kau berani menyentuh kakekku kupastikan tanganku sendiri yang akan memenggal kepalamu, Nam Goong Won!" desis Jimin tertahan.
"Wow~ kau membuatku takut Jiminie..." remeh tuan Nam.
"Jadi, apa pil—"
"Baiklah." sela Jimin tiba-tiba. Tuan Nam menyeringai tanpa tahu kelanjutan ucapan Jimin. Jimin mendongak dan menatap wajah sang iblis penuh keyakinan untuk mengatakan, "Bunuh aku sekarang juga!" yang mana pilihan Jimin membuat semua mata membulat tak menyangka jika Jimin tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Kau benar-benar ingin menjemput ajalmu rupanya." Jimin tertawa sarkas, kemudian ia tersenyum manis dengan kedua matanya yang menatap tajam kearah tuan Nam.
"Ya! Kalau begitu, tunggu apa lagi?! Bunuh aku sekarang dan semuanya akan selesai." pinta Jimin. Tuan Nam mengepalkan kedua tangannya.
"Panggil Park Chanyeol sekarang!" titah tuan Nam pada salah satu tangan kanannya. Dan Choi Seunghyun yang pertama bergerak menjalankan perintah sang bos.
Tak lama Seunghyun pergi, ia kembali bersama Chanyeol yang hanya memasang wajah datar membuat Jimin bertanya-tanya ada apa dengan ekspresi Chanyeol saat ini.
Seunghyun bergabung dengan kedua rekannya dan membiarkan Chanyeol menghadap tuan Nam seorang diri.
"Do it!" bisik tuan Nam tepat ketika Chanyeol berdiri di belakangnya. Tuan Nam berbalik mengakibatkan Chanyeol berhadapan langsung dengan Jimin. Sementara, Jimin mendecih masih tak percaya jika ia telah dikhianati selama ini oleh sosok yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Jimin—"
"Jangan pernah menyebut namaku!" potong Jimin enggan menatap pria tampan itu. Chanyeol tersenyum kecut.
"Maafkan aku~" Jimin terkekeh, ia mendongak dan menatap Chanyeol kelewat tajam.
"Kau menyesal? Menyesal saat aku mengetahui semuanya? Woah, hyung~ seharusnya aku yang menyesal. Menyesal karena telah mengenalmu dan menganggapmu sebagai kakakku."
"Kalau begitu, bisakah kau berhenti menganggapku sebagai kakakmu?!" tanya Chanyeol tanpa sadar meninggikan suaranya. Chanyeol berjalan mendekati tempat Jimin duduk terikat. Ia menunduk dan mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Jimin.
"Kau harus menerima permintaannya." bisik Chanyeol. Jimin membulat tak percaya. Bahkan Chanyeol juga memohon padanya?
"Aku sudah tidak memiliki harapan hidup. Bunuh aku sekarang!" seru Jimin. Chanyeol menarik nafas. Akan sulit untuk menyakinkan Jimin untuk mengikuti permainannya.
"Lakukan sekarang Park Chanyeol!" interuksi tuan Nam bersamaan dengan Chanyeol yang mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celana yang ia kenakan.
"Lakukan seperti apa kataku, jika kau tidak ingin menyesal." bisik Chanyeol menjauhkan tubuhnya dari Jimin dan hendak akan menghunuskan pisau kesayangannya tepat kearah perut Jimin sebelum,
"PARK CHANYEOL!" suara familiar yang berseru masuk di kedua telinga Jimin. Jimin mendongak dan menoleh ke asal suara yang tak lain berasal dari pintu masuk gudang. Seisi gudang menoleh dan Jimin membulatkan kedua matanya kala melihat tiga orang yang tak pernah ia harap datang ke tempat mengerikan seperti ini.
Bersamaan dengan itu, tatapan Jimin terpaku pada sosok tampan yang juga tengah menatapnya sendu. Mengalirkan duka serta rasa sakit kala melihat keadaan pujaan hatinya yang terikat tak berdaya serta dalam kondisi menyedihkan seperti saat ini.
"Woah~ lihatlah siapa yang datang..." sambut tuan Nam tersenyum senang dan berniat untuk menyambut tiga tamu tak diundang. "Kau kedatangan pahlawanmu Jiminie..." jantung Jimin berdetak kencang terutama saat fokus tuan Nam yang mengarah pada sosok termuda diantara mereka. Ya, ketiga orang itu adalah Min Yoongi, Jeon Jungkook, dan Kim Namjoon tentu saja.
"Dan, aku tidak menyangka ditemui oleh anak yang lahir dari rahim Jieun-ie..." tuan Nam berjalan mendekati tempat ketiga tamu tak diundangnya berdiri, niat awalnya ingin mendekati Jeon Jungkook tapi keponakan kesayangannya dengan segera menghalangi langkahnya.
"Jangan pernah mendekatinya, samchon!" titah Namjoon dingin. Tuan Nam tertawa mengejek.
"Jangan halangi aku Kim Namjoon! Seharusnya, kau berdiri di belakangku, bukan di depanku." Namjoon mendecih.
"Aku sudah berdiri di posisi yang tepat tuan Nam Goong Won!" tuan Nam mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
"Ingat dimana posisimu yang sebenarnya Kim Namjoon, kau hanyalah anak terbuang oleh ayahmu yang kemudian aku pungut!"
"Jangan mengada-ada tuan Nam yang terhormat!" sela Yoongi membuat tuan Nam mengalihkan pandangannya pada Yoongi. "Kau-lah tua bangka yang terbuang dan patut di kasihani." tuan Nam menggeram penuh amarah namun sedetik kemudian ia menyeringai. Pria paruh baya itu berjalan dan berdiri tepat dihadapan Yoongi.
"Bagaimana rasanya jika pujaan hatimu terbunuh di depan matamu?" tanya tuan Nam berniat memancing. Yoongi melirik kearah Jimin yang tengah memasang wajah khawatirnya yang sangat kentara.
"Menegangkan tentu saja." dan jawaban kelewat santai dari Yoongi tentu saja mengakibatkan kerutan heran di dahi masing-masing orang. "Setidaknya aku tidak sepertimu, yang membunuh orang yang kau cintai dengan tanganmu sendiri."
"Kau sama menjengkelkannya dengan ibumu!" sinis tuan Nam. Yoongi tergelak, ia mengambil selangkah mendekati tuan Nam dengan tatapan menantang.
"Urusanmu denganku Nam Goong Won. Bukan dengan Park Jimin!" tutur Yoongi yang membuat Jimin membulatkan kedua matanya dan tahu betul apa yang akan terjadi setelah ini.
"Ya, memang seperti itu. Urusanku memang padamu tapi juga padanya." tuan Nam menunjuk Yoongi dan Jungkook bergantian. "Jadi, karena kalian sudah datang kemari dengan cuma-cuma—katakan padaku siapa yang akan menukarkan diri kalian dengan Park Jimin dan menyusul ibu kalian?" tawar tuan Nam membuat Jimin menggeleng keras.
"Tukar aku dengan Jimin hyung sekarang." pinta Jungkook yang tiba-tiba bersuara. Tuan Nam menyeringai ia berjalan mendekati Jungkook tanpa halangan siapapun, ia hendak membalas ucapan Jungkook sebelum—
"TIDAK!" suara Jimin yang membuat seluruh orang di gudang kembali mengalihkan atensi mereka padanya. Wajah Jimin yang pucat semakin memucat, tubuhnya bergetar hebat melihat ketiga orang yang ia lindungi selama ini secara cuma-cuma mengantar nyawa mereka kemari.
"Jangan sentuh mereka Nam Goong Won!" seru Jimin menggeram marah. Tuan Nam berbalik membelakangi Jungkook dan menatap Jimin tanpa minat.
"Terlambat Park Jimin. Kau sudah memutuskannya dari awal, bukan?" tanya tuan Nam merasa menang.
"Tidak tidak tidak!" tolak Jimin cepat. "Kau sudah tidak memiliki urusan dengan Yoongi hyung, Jungkook bahkan Namjoon hyung. Kau hanya memiliki urusan denganku sekarang. Jadi, aku mohon~ biarkan mereka pergi." mohon Jimin melas yang membuat Yoongi, Namjoon, Jungkook bahkan Chanyeol tak terima melihat Jimin sampai memohon pada sang iblis.
"Membiarkan mereka pergi? Mereka yang mengantarkan diri mereka kemari jadi untuk apa aku repot-repot menyuruh mereka pergi jika targetku datang sendiri?" Jimin mulai meronta dalam ikatannya. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada ketiga sahabat kecilnya terlebih kala tuan Nam kembali berjalan mendekati Jungkook. Jimin menatap Chanyeol sejenak, bisikan Chanyeol beberapa saat lalu kembali masuk ke dalam ingatannya. Membuatnya juga berfikir jika Chanyeol mengetahui kedatangan Yoongi, Jungkook dan Namjoon ke gudang tua ini. Jimin menunduk, memejamkan kedua matanya ia tidak bisa berfikir terlalu lama. Jimin menarik nafas dan bersiap untuk menyerukan,
"BAIKLAH!" seru Jimin tiba-tiba. "Aku akan menuruti semua keinginanmu tapi aku mohon—jangan sakiti mereka!" putus Jimin akhirnya yang membuat tuan Nam menyeringai mengerikan sementara ada beberapa dari mereka yang menarik nafas lega dengan keputusan Jimin itu.
Tuan Nam berbalik badan dan berjalan kearah tempat dimana Jimin masih duduk terikat.
"Katakan sekali lagi, Jiminie..." pinta tuan Nam setelah ia tepat berada dihadapan Jimin. Dan sungguh, jika Yoongi tak mengingat bahwa ia sudah menyusun rencana matang-matang dan tak ingin lebih membahayakan Jimin, mungkin kepala Nam Goong Won sudah Yoongi pisahkan dari tubuhnya sejak tadi.
"Aku—" jeda Jimin sejenak. "—aku akan melakukannya." tuan Nam menyeringai.
"Anak baik." puji tuan Nam ia mengerling ke arah Jiyoung. Jiyoung mengangguk, ia berlalu untuk mengambilkan sesuatu yang berada di atas meja tak jauh dari posisinya semula. Akan tetapi, kenapa sesuatu itu tidak ada pada tempatnya?
"Mencari ini, huh?" tanya sebuah suara dari kegelapan yang membuat seluruh orang kembali menoleh keasal suara. Sesosok pemuda tampan yang berjalan masuk gudang dari arah sudut yang minim penerangan. Dan, untuk Jimin sendiri melihat siapa yang muncul membulatkan matanya tak percaya.
"Taehyung?" gumam Jimin tak percaya bersamaan dengan Chanyeol yang tiba-tiba kembali berjalan mendekati Jimin disaat orang-orang sedang fokus pada Taehyung dan Jiyoung.
Chanyeol merendahkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu di telinga Jimin.
"Semua temanmu, serta ayah dan asisten mereka berada disini, jadi jangan berbuat apa-apa dan ikuti permainan mereka." Jimin mengeryit dalam. Ia melirik sekilas kearah Chanyeol, tak mengerti pemuda tampan itu sebenarnya berada di pihak siapa.
"Well~ tak perlu heran jika melihat kami semua berada disini." sebuah suara terdengar dari sudut yang berlawanan dengan Taehyung. Membuat semua orang kembali menoleh dan mendapati asisten pribadi Jimin, Lee Hyukjae. Dan bersamaan dengan itu, baru mereka sadari jika di gudang itu sudah dipenuhi oleh Seokjin, Hoseok, Minseok, Taekwoon, Donghae, Joonmyeon, Sehyuk, dan Hyunwoo.
"Mereka benar-benar disini?" gumam Jimin lebih pada berbicara dengan dirinya sendiri. Ini semua benar-benar diluar dugaannya melihat semua orang terkasihnya berada di tempat yang sama dengannya.
"Sial! Siapa yang berani mengkhianatiku!" geram tuan Nam penuh murka. Ia berbalik menghadap Jimin menatapnya kelewat tajam membuat Jimin tergelak. "Inikah permainanmu?!" Jimin memgeryit tak mengerti.
"Brengsek! Aku juga tidak tahu mereka semua berada disini!" balas Jimin yang membuat hampir semua orang mengeryit lucu dengan tuturan Jimin yang berani.
Tuan Nam mengangkat sudut bibirnya membentuk seringaian saat melihat Chanyeol sudah berdiri di belakang Jimin.
"Baiklah, kalian datang mungkin untuk menyalamatkan bedebah kecil ini dan juga menangkapku. Tapi, maaf jika kalian datang justru untuk menyaksikan proses kematian si kecil ini." lanjut tuan Nam berjalan mendekati Jimin. "Lagipula bukankah kalian sudah kalah jumlah? Oh, aku tahu—kalian pasti ingin mengantri. Jadi, tenang saja kalian pasti akan mendapat gilirannya."
"Hell... Kalah jumlah? Kau yang kalah jumlah tua bangka!" seru Namjoon buka suara. Dengan beraninya, Namjoon berjalan mendekati sang paman dan tersenyum miring. "Tidakkah kau menyadari apa yang berubah di gudang ini?" tanya Namjoon menyeringai tampan membuat tuan Nam mau tidak mau mengedarkan pandangannya ke sekeliling gudang. Dan saat itulah, ia baru menyadari jika di gudang itu bukan berisi anak buahnya dan saat ini hanya ada dirinya bersama dengan Yunho, Seunghyun, Jiyoung dan juga Chanyeol.
"Cerdas. Benar-benar cerdas. Kuakui, kau membuatku terkesan saat ini Kim Namjoon." puji tuan Nam yang melihat tak ada celah untuknya selamat. Tapi, bukan Nam Goong Won namanya jika tak memikirkan rencana cadangan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tuan Nam melirik sekilas kearah Chanyeol mengisyaratkan sesuatu. Chanyeol yang melihatnya pun hanya mengangguk kecil.
"Tapi, baiklah aku akan menyerahkan diriku pada kalian tanpa perlawanan." lanjut tuan Nam yang membuat semua orang membulatkan kedua mata mereka terkejut. Apa lagi yang direncanakan iblis ini?
Tiba-tiba saja tuan Nam mengangkat kedua tangannya ke udara, begitu pula dengan Yunho, Seunghyun, dan Jiyoung sebagai tanda menyerah.
"Tunggu apalagi tangkap aku sekarang!" pinta tuan Nam bersamaan dengan Chanyeol yang melepas ikatan Jimin dengan pisau lipatnya dan menarik tubuh Jimin kasar ke dalam kungkungannya. Ia menahan leher Jimin dengan lengan kekarnya. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu membuat Jimin terkejut dan nyaris terjatuh karena merasakan kedua kakinya yang keram dan lemas. Hal itu sontak membuat hampir seluruh orang memekik memanggil namanya.
"Jadi, bagaimana? Mau menangkapku atau membiarkan Jimin mati?" tanya tuan Nam merasa menang melihat sikap tangkas Chanyeol untuk menawan Jimin saat ini.
"Tentu saja tetap akan menangkapmu tuan Nam." Sehyuk yang berseru. "Tujuan kami hanya untuk menangkapmu."
"Pilihan yang salah kalau begitu." balas tuan Nam, ia berbalik dan pandangannya bertemu tatap dengan Chanyeol. Chanyeol terdiam masih tak melakukan apapun sesuai dengan isyarat dari bosnya itu.
"Lakukan!" titah tuan Nam, Chanyeol masih bergeming.
"Maaf tuan Nam, tapi aku bukan kau yang berani membunuh orang yang kau cintai dengan tanganmu sendiri." tuan Nam beserta ketiga tangan kanannya menatap Chanyeol tak percaya. Begitu juga dengan Jimin yang terkejut bukan main dengan pernyataan Chanyeol.
"Chanyeol, apa yang kau lakukan?!" seru Seunghyun penuh amarah pada adik angkatnya itu.
"Maaf hyung, tapi kali ini—aku ingin melakukan hal yang benar." jawab Chanyeol tenang.
"Sial, jadi kau yang mengkhianatiku?!" geram tuan Nam murka. Chanyeol tersenyum kecil.
"Aku hanya membuat pilihan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama untuk yang kesekian kalinya." jawab Chanyeol yang tentu saja menyiratkan sindiran untuk orang tertentu.
"Brengsek berani sekali kau—"
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Baru sekali melangkah mendekati Chanyeol, tuan Nam sudah dihadapi dengan banyak todongan pistol kearahnya. Bersamaan dengan itu, tanpa semua orang sadari ada seorang yang diam-diam mengambil langkah mundur. Bukan. Bukan untuk melarikan diri melainkan untuk melakukan sesuatu yang diluar dugaan semua orang.
"Kau senang, Park Jimin?" tanya tuan Nam yang kali ini menatap pasrah kearah Jimin. Tak ada seringai keji lagi diwajahnya. Jimin terdiam dan membalas menatap wajah tua itu.
"Tidak ada yang perlu aku senangi untuk saat ini, tuan Nam." jawab Jimin lirih. "Tidak ada yang senang dengan situasi yang terjadi saat ini." lanjut Jimin sendu.
Seketika, atmosfir di gudang itu berubah menjadi kesunyian. Tak ada yang bergerak di tempat mereka. Terutama Jimin yang melihat siluet seseorang yang bersejajar lurus dengannya di sudut ruangan. Orang yang sama, yang menjadi pelaku pembunuh kedua orang tuanya. Kedua mata mereka bertemu, hal itu membuat Jung Yunho —sosok yang diam-diam mengambil langkah mundur— menjadi teringat dengan sosok bocah kecil yang berada di pelukan ayahnya. Ya, dan sosok kecil itu adalah Park Jimin.
Jimin tetap tenang meskipun di seberang sana, Yunho sudah mengokang senjatanya tepat kearah Jimin. Jimin memejamkan kedua matanya seolah pasrah jika Yunho memang berniat untuk menembakkan dirinya di tengah ketegangan seperti ini. Jimin rela jika itu memang bisa menghentikan semua kekacauan ini. Namun, yang tidak Jimin ketahui adalah ada seorang yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi antara Yunho dan Jimin. Hal itu membuatnya berlari cepat kearah Jimin dan memeluk Jimin erat bersamaan dengan—
DOOR!
Jimin membulatkan kedua matanya ketika ia merasakan pelukan erat dan penuh ketakutan ia dapat bersamaan dengan suara tembakan yang dilayangkan. Jantung Jimin berdetak kencang kala ia mengetahui jika orang yang memeluknya adalah,
"Jungkook?" gumam Jimin cemas bukan main. Jungkook melepas pelukannya pada Jimin dan menatap Jimin penuh teka-teki membuat Jimin semakin mengeryit khawatir. "Jung—" Jungkook berbalik badan dan saat itulah Jimin mengetahui jika Jungkook tak terluka sedikitpun.
Kedua mata Jungkook bergulir kesana-kemari menatap satu persatu orang di sekelilingnya sampai kedua matanya menangkap tepat pada sosok yang tak jauh berada di depannya. Tersenyum amat tampan kearahnya.
"Andwae~" gumam Jungkook kala pikirannya mulai membayangkan hal yang tidak ia inginkan sebelum,
BRUK!
"TAEHYUNG!" seruan Seokjin dan Joonmyeon menyadarkan Jungkook jika orang yang melindunginya dari tembakan benar adalah Taehyung. Dada Jungkook kembang-kempis saat ia berlari kearah Taehyung dengan gontai dan memangku kepalanya.
"Hyung, tetap buka matamu..." isak Jungkook kacau. Taehyung tersenyum lemah.
"Aku sudah bilang 'kan, aku akan melindungimu dengan nyawaku."
"Hyung, jangan meracau." Taehyung menggeleng kecil.
"Aku—ingin mengatakan sesuatu padamu... Tapi, kau harus mendengarnya setelah aku sembuh dan membuka mata."
"Andwae andwae andwae... Jangan tutup matamu! Jangan!"
"Kookieya—"
"Hyung..."
"Aku—"
"Tae hyung!" Jungkook memeluk kepala Taehyung bersamaan dengan para polisi dan para appa yang berdatangan dan langsung mengamankan Nam Goong Won, Jung Yunho, Choi Seunghyun, Kwon Jiyoung dan Park Chanyeol. Saat tiga orang polisi mendekati Chanyeol dan Jimin, Chanyeol pun langsung melepas Jimin dan menyerahkan kedua tangannya untuk di borgol.
"Tuan muda Park, apa anda—" belum sempat salah satu polisi itu bertanya lebih lanjut tapi sudah dikejutkan dengan—
Bruk!
—Jimin yang jatuh pingsan diatas lantai gudang yang dingin.
.
.
.
.
.
Yoongi menautkan jemari besarnya pada jemari mungil Jimin, sesekali ia mengecupi punggung tangan itu, sementara si pemiliknya sudah tak sadarkan diri selama hampir enam jam. Saat ini, ia tengah berada di kamar inap Jimin di Seoul Hospital seorang diri. Ya, seorang diri mengingat kondisi Taehyung yang tak kalah mengkhawatirkan membuat semua orang memutuskan untuk berada disana, menemani Taehyung dan memberinya sedikit kekuatan.
Yoongi menenggelamkan kepalanya pada punggung tangan Jimin. Bayangan bagaimana Jimin nyaris tertembak namun kemudian dilindungi cepat oleh Jungkook akan tetapi dengan sigap Taehyung menghalau peluru itu yang justru mengenai punggungnya. Yoongi merasa gagal melindungi sahabat kecilnya bahkan pujaan hatinya, ia merasa tidak becus dan justru hanya bisa memperburuk keadaan.
Bahu Yoongi bergetar. Ia terisak tanpa suara. Air matanya mulai mengalir membasahi punggung tangan Jimin tanpa tahu jika si pemilik tangan sudah membuka kedua matanya lima menit yang lalu.
Jimin menarik nafas. Tangannya yang terinfus terangkat untuk mengelus surai Yoongi lembut. Yoongi yang merasakan usapan pada kepalanya pun seketika mendongak dan alangkah bahagianya ia kala menangkap kedua mata indah Jimin menatapnya teduh.
Jimin tersenyum manis. Dan Yoongi akui, senyuman Jimin tetap manis dan cantik meskipun wajahnya memucat. Tangan Jimin yang semula mengelus surai Yoongi berpindah untuk menghapus air mata sosok yang lebih tua.
"Uljima..." lirih Jimin serak. Yoongi terkekeh kecil.
"Kenapa lama sekali bangunnya?" tanya Yoongi menggenggam erat tangan Jimin yang dibalas serupa oleh pemuda manis itu.
"Mianhae, hyung... Lagi-lagi aku membuatmu cemas." sesal Jimin.
"Selalu." jawab Yoongi jujur. "Kau tahu, kau membuatku hampir menjadi psychopath." Jimin terkekeh.
"Psychopath tampan."
"Yak!" seru Yoongi. Jimin tersenyum manis.
"Hyung, peluk aku." pintanya manja. Yoongi terkekeh gemas dan memeluk tubuh Jimin penuh kehati-hatian. "Hyung, aku takut~" lirih Jimin memeluk Yoongi erat. Yoongi mengelus punggung Jimin lembut.
"Tak ada yang perlu kau takutkan. Aku sudah ada disini." tutur Yoongi menenangkan. Jimin melepas pelukan Yoongi dan menatap pemuda tampan itu cemas.
"Tapi hyung, bagaimana keadaan—" Jimin menggantungkan ucapannya membuat Yoongi tersenyum sendu.
"Kau tunggulah disini, aku akan memanggil dokter, hm?." Jimin menurut dan membiarkan Yoongi memanggilkan dokter untuknya.
Yoongi keluar dari kamar inap Jimin dan berjalan menuju kamar inap yang berada di sampingnya.
Cklek!
Yoongi membuka pintu kamar inap yang tak lain adalah kamar dimana Taehyung dirawat.
"Jimin sudah sadar." baru selangkah Yoongi masuk, tapi ia sudah disambut dengan pernyataan akan sarat kecemasan dari Hyukjae.
Hm, tak perlu heran jika Hyukjae berada di kamar inap Taehyung dibandingkan kamar inap Jimin terlebih kala ia menyerukan pernyataan bukan pertanyaan, itu karena sebenarnya kamar inap Jimin sudah dipasangi alat penyadap yang berada di bawah ranjang pemuda manis yang mereka salurkan ke kamar inap Taehyung karena secara sengaja memang tidak hanya Hyukjae yang berada disana, seluruh keempat tuan muda, para orang tua, serta para asisten masing-masing hingga kakek Jimin sendiri berada di kamar inap Taehyung untuk menemani si korban penembakan yang sudah siuman sejak dua jam yang lalu. Ya, agaknya Yoongi mendesah lega mengetahui bahwa peluru yang mengenai Taehyung tidak berakibat fatal pada anggota tubuhnya entah dalam ataupun luar.
"Nde, Jimin sudah sadar." jawab Yoongi sekenanya. "Tapi, apa tidak apa jika kita melakukan semua ini?" tanya Yoongi ragu.
"Yoongi-ya, kita tidak memiliki pilihan lain. Jimin tidak akan mungkin mengatakan yang sejujurnya pada kita. Ya, mungkin dia akan menjawabnya jika kita bertanya tapi dia begitu cerdas untuk memanipulasi semua jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan. Nam Goong Won saja bisa terkecoh olehnya apalagi kita?" tutur Seungwon membuat Yoongi tak memiliki pilihan lain. Yoongi menarik nafas lelah.
"Tapi, apa nantinya tidak akan berdampak untuk psikis Jimin?"
"Tentu tidak, Yoongi-ya!" Yoongi menoleh kala mendengar suara familiar dari arah pintu kamar inap Taehyung dan menampilkan sosok pria tampan yang mengenakan setelan putih khas seorang dokter.
"Siwon hyung?" sapa Yoongi heran. Pria tampan itu tersenyum kecil dan berjalan menghampiri saudara sepupunya yang merangkap sebagai seorang psikiater handal di London.
"Bagaimana kabarmu? Kau melupakanku setelah bertemu dengan pujaan hatimu, huh? Padahal, di London saja aku yang selalu mengurusmu melebihi ayahmu sendiri." sindir Siwon yang membuat Seonwoong berdecak mendengar penuturan putra dari kakak kandungnya.
"Hyung, jangan membahas hal yang tidak penting sekarang." tolak Yoongi. "Dan, katakan kenapa kau yakin jika rencana ini tidak akan mengganggu psikis Jimin?"
"Jangan lupakan jika Jimin memiliki mental yang kuat, Min Yoongi." tutur Siwon yakin. "Selama pengalamanku, dia adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan emosi dalam dirinya meskipun ia di berada dalam alam bawah sadar sekalipun. Aku sudah memeriksanya sebelum dia siuman saat kau berada disini. Jimin tidak akan terpengaruh karena ia tidak akan membiarkan akal sehatnya terkontaminasi dengan hal-hal seperti itu. Bayangkan saja, orang tersohor seperti mantan perdana menteri Nam Goong Won bisa kalah telak dengan bocah macam Park Jimin? Bahkan, tidak hanya Nam Goong Won, kalian semua yang ada disini—sudah berapa kali Jimin membodohi kalian? Sudah berapa kali ia menutup rapat dan merahasiakan semua ini dari kalian? Gertakan semacam ini, hanya akan memberikan efek sedikit kepada Jimin. Itu pun jika ia terpancing dengan ucapanmu. Jimin tidak akan terpengaruh pada tekanan tapi dia akan terpengaruh ketika ia sadar betul jika apa yang ia lakukan selama ini adalah salah. Jadi, terutama untukmu Yoongi-ya, kami semua sangat berharap padamu karena ini juga menyangkut tentang dirimu. Tidakkah kau ingin, Jimin lebih membuka diri? Tidakkah kau ingin mengetahui apa yang selama ini Jimin ketahui? Atau tidakkah kau ingin, Jimin tidak membebankan semua ini pada dirinya sendiri?" jelas Siwon panjang lebar.
"Apa yang dikatakan Siwon itu benar, Yoongi-ya. Jimin adalah satu-satunya saksi sekaligus bukti terkuat untuk menjatuhkan Nam Goong Won dan menghentikan semua kebusukannya." Sambung Seungho yang membuat Yoongi berfikir sejenak.
"Baiklah, aku akan mencobanya." putus Yoongi yang akhirnya berbalik untuk pergi meninggalkan kamar inap Taehyung diikuti Siwon yang turut membuntuti.
Yoongi membuka pintu kamar inap Jimin dengan Siwon yang masih berada di belakangnya. Kedua pria tampan itu berjalan mendekati ranjang Jimin.
"Kau sudah sadar Jimin-ssi?" sapa Siwon ramah. Jimin mengeryit merasa familiar dengan wajah dokter itu. "Apa yang kau rasakan? Apa ada beberapa bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Siwon seraya memeriksa tubuh Jimin dengan stetoskopnya. Jimin melirik sekilas ke arah name tag sang dokter, tertera tulisan 'Si Won Choi' disana. Kemudian, ia mengeryit kala tak hanya wajah yang familiar tapi juga nama sang dokter.
"Tidak dokter Choi, aku sudah sedikit membaik." jawab Jimin dengan otaknya yang sudah mulai berfikir keras untuk mengingat apakah ia mengenal dokter di depannya atau tidak.
"Baiklah jika kau tidak memang memiliki keluhan. Tapi, kau tetap akan melakukan ct-scan lusa depan." Jimin tampak terkejut, ia menatap Siwon yang baru saja selesai memeriksa tubuhnya.
"Tapi, aku baik-baik saja." tolak Jimin.
"Jimin~" himbau Yoongi tak ingin menerima penolakan dari pemuda manis-nya. Jimin mengerucutkan bibirnya sebal membuat Siwon terkekeh melihatnya. "Wajah, kaki dan tanganmu memar dan kau bilang itu baik-baik saja?!" seru Yoongi. Jimin menunduk, sebal rasanya melihat Yoongi yang memarahinya. "Bagaimana jika memar-memar itu berdampak buruk pada organ vitalmu? Apa kau tahu?!"
"Aish~ anak ini benar-benar." desis Yoongi kesabarannya sudah melampaui batas dengan sikap Jimin yang selalu berbuat seenakya tanpa melakukan pertimbangan dulu pada orang lain. "Maaf dokter Choi, tapi aku akan memastikan jika Jimin akan melakukan ct scan lusa depan."
"Woah~ Yoongi hyung benar-benar posesif." komentar Hoseok yang mendengar dengan jelas segala percakapan ketiga manusia yang berada di kamar sebelah.
"Hm, kau memang harus memastikannya Yoongi-ya karena jika tidak Park haraboji akan menuntut rumah sakit ini." Jimin membulatkan kedua matanya terkejut. Ia mendongak dan menatap Siwon selidik seolah jika ada sesuatu yang ia lewatkan dari dokter tampan di depannya.
"Ada apa Jimin-ssi?" tanya Siwon yang menyebut nama Jimin dengan nada ejekan. Hal itu, membuat Yoongi terkekeh melihat kedua orang beda generasi di depannya.
"Yak! Berhenti memanggilku dengan sebutan 'Jimin-ssi'!" sarkas Jimin jengah. Siwon dan Yoongi tertawa gemas.
"Tampaknya, Jimin sudah ingat." tutur Sehyuk yang diangguki oleh Donghae dan Joonmyeon yang duduk di samping kanan-kirinya.
"Sifat aslinya sudah muncul, hyung." bisik Yoongi. Siwon mengangguk membenarkan.
"Dasar anak nakal!" gemas Siwon seraya mengusak rambut Jimin.
"Aish—yak!"
"Bisakah kau mengurangi kebiasaan mengumpatmu tuan muda?" ejek Siwon. Jimin menggeram.
"Sudah, sana pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!" usir Jimin. Siwon terperangah.
"Yak! Park Jimin sopan sedikit pada calon kakak iparmu." desis Siwon kesal bukan main. Jimin mencibir.
"Kau saudara jauh dari Yoongi hyung. Lagi pula—" Jimin menjeda ucapannya sejenak entah kenapa wajahnya memanas dan kedua pipinya yang merah merona sampai ke telinganya.
"Lagi pula kenapa Jiminie?" goda Yoongi. Jimin berdecak.
"Sudah pergi sana!" Jimin enggan melanjutkan ucapannya dan justru mendorong tubuh Siwon agar keluar dari kamar inapnya. Yoongi menggeleng gemas.
"Aigoo~ aku yakin, Jimin pasti sedang merona sekarang." ujar Seokjin yang berdiri di belakang kursi di samping ranjang Taehyung dimana Jungkook duduk.
"Dan, aku juga yakin—Yoongi pasti sedang berpuas diri memandangi rona merah di wajah Jimin." sahut Taehyung yang diangguki oleh Jungkook.
"Kau ingin menjenguk Taehyung?" tanya Yoongi setelah Siwon benar-benar keluar meninggalkan mereka berdua.
Pertanyaan Yoongi ini pun sontak membuat seluruh orang yang berada di kamar inap Taehyung terdiam dan mendengar was-was apa jawaban yang akan Jimin keluarkan.
"Apa semua orang ada disana?" tanya Jimin takut. Yoongi menarik nafas.
"Ya, termasuk kakekmu." hal itu membuat Jimin menggigit bibir bawahnya cemas. "Jimin..."
"Apa Taehyung baik-baik saja?" Jimin tak mengindahkan panggilan Yoongi. Ia hanya menatap kedua mata Yoongi dengan tatapan melas bak puppy yang ditinggalkan majikannya. "Kenapa hyungie disini. Seharusnya, hyungie menemani Taehyung. Bagaimana jika Taehyungie membutuhkan hyungie?"
"Aku membutuhkannya? Apa Jimin bercanda? Justru, aku akan ditelantarkan Yoongi hyung jika dia berada disini." komen Taehyung yang membuat Seonwoong langsung menatap putra semata wayang Wonjoong itu tajam. Taehyung menunjukkan cengirannya tanda damai pada sang paman, karena sungguh Seonwoong itu sama mengerikannya dengan Yoongi jika sedang marah.
"Jimin." sela Yoongi tegas. Jimin menunduk diam.
"Pergilah, hyung." usir Jimin yang membuat Yoongi mengeryit tak menyangka.
"Hey—"
"Pergilah!" potong Jimin lagi. "Aku sudah baik."
"Ya! Terus saja usir aku dari hidupmu!" kesal Yoongi tak tahan. "Terus saja bersikap kau hidup sebatang kara! Kau tahu, sikapmu ini membuat semua orang semakin canggung padamu termasuk kakekmu!"
"Lalu, aku harus bagaimana hyung? Kau mengharapkan apa dariku?" Jimin mendongak dan menatap Yoongi dengan kedua matanya berkaca. "Aku mengalami banyak kehilangan di dalam hidupku. Keluargaku. Ingatanku. Semuanya. Apa kau pikir semuanya bisa memulih seperti sediakala meskipun aku sudah ingat semuanya?"
Dan, penuturan Jimin kali ini membuat seluruh orang di kamar sebelah merasakan sebersit rasa bersalah karena seolah membuka luka lama yang Jimin rasakan selama ini.
"Apa kita tidak terlalu keterlaluan padanya?" tanya dokter Jung yang juga berada disana.
"Tidak. Akan lebih baik, jika Jimin mengutarakan semua isi hatinya." kakek Park bersuara setelah sedari tadi hanya diam menyimak, membuat semuanya hanya bisa menurut dan mendengar situasi yang mulai menegang diantara Jimin dan Yoongi di kamar sebelah.
"Kau benar. Semuanya memang tak akan bisa kembali seperti semula. Termasuk kita. Jadi, bukankah sia-sia jika aku tidak—jangan pikirkan aku, jika kita semua mengharapkan sesuatu darimu? Bahkan, rasanya pengorbanan Taehyung hanya sia-sia saja jika melihatmu terus bersikap seperti ini."
"Hyung, hentikan."
"Hentikan?! Kau yang hentikan Park Jimin! Ada berapa banyak hal yang kau sembunyikan dari kita semua? Dariku dan Jungkook? Apa kau pikir dengan menyembunyikan semua fakta ini adalah keputusan yang benar? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan Jungkook ketika mengetahui yang sebenarnya dari orang lain?!"
"BERHENTI MENYALAHKANKU HYUNG!"
"Kalau begitu BERHENTI BERSIKAP SEOLAH SEMUANYA BAIK-BAIK SAJA! BERHENTI MELAKUKAN SEMUANYA SENDIRI!" seru Yoongi tak terkontrol. "Aku marah ketika kau menolong Namjoon tanpa mengatakan apapun pada kami. Aku marah karena kau tak pernah menganggapku."
"Bukan begitu maksudku hyung—"
"Lalu apa?! Kau ingin aku mengetahui semuanya dari orang lain bukan? Terlihat begitu buruk dimata semua orang karena tidak tahu apa-apa? Ini menyangkut tentang masa lalu keluargaku, Park Jimin. Kau mengetahuinya sejak awal tapi kau diam saja?!" Jimin menunduk mengepalkan kedua tangannya. "Apa kau memang tidak pernah menganggapku? Membiarkan aku mengetahuinya dari Park Chanyeol dan membuatnya seolah seperti pahlawanmu?" Jimin membulat terkejut. Ia menggeleng cemas.
"Tidak, hyung. Sungguh, bahkan aku baru tahu jika Chanyeol hyung—"
"Sudahlah, Jimin. Maafkan, aku. Seharusnya aku bisa menahan emosiku." Yoongi berbalik tapi dengan cepat Jimin menahan tangannya.
"Tidak hyung, kau salah paham bukan seperti itu ceritanya."
"Lalu bagaimana ceritanya? Apa jika Chanyeol tidak datang menemuiku dan mengatakan semuanya, apa kau tetap akan menyimpan semua fakta ini sampai kau mati?"
"Tidakkah Yoongi cukup keterlaluan?" tanya Seokjin mulai cemas.
"Tidak, aku yakin—Yoongi hyung bisa mengatasi semuanya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan atau tidak." balas Namjoon yang berdiri di seberang Jungkook dan Seokjin.
Yoongi melihat Jimin yang masih menunduk diam namun tangan Jimin masih berada di pergelangan tangannya, masih menahannya.
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa tak ada yang bersuara?" tanya Hyukjae cemas begitu pula para tuan muda dan orang tua.
Yoongi melepas tangan Jimin perlahan namun entah kenapa Jimin tetap kekeuh menahan tangan Yoongi meskipun ia masih mempertahankan kebungkamannya dihadapan pemuda tampan itu.
"Jangan menahanku jika kau tidak ingin bicara apa-apa." tegas Yoongi. Jimin menggeleng cepat. Ia memejamkan kedua matanya sejenak dan menatap Yoongi teduh. Ia menarik nafas dan dengan perlahan melepas pergelangan tangan Yoongi yang tertahan tangannya. Bersamaan dengan itu, tangan kanan Jimin merambat di bawah ranjangnya. Yoongi yang melihat itu membulat terkejut kala mengetahui bahwa Jimin mengetahui keberadaan alat penyadap itu.
Jimin menatap alat penyadap yang ia lepas yang kini sudah berada di tangannya.
"aku—" Jimin bersuara seraya menggigit bibir bawahnya, menenangkan diri.
Yoongi masih bergeming di tempatnya. Tak berniat sedikitpun untuk mendekati Jimin ataupun hanya untuk sekedar bertanya tentang bagaimana Jimin bisa mengetahui tentang keberadaan alat penyadap itu.
Jimin menarik nafas, dikembalikanya alat penyadap itu ke tangan Yoongi. Yoongi menerimanya tanpa banyak bicara, meskipun tatapannya tak lepas dari sosok manis di depannya. Jimin menatap Yoongi lamat.
"—jika," Jimin menjeda ucapannya sejenak. Membuat seluruh orang di kamar sebelah dan Yoongi sendiri mendengar was-was apa yang ingin Jimin sampaikan.
"—jika aku mengatakan semuanya, apakah kalian akan mempercayaiku?" tanya Jimin meragu.
"Kau tahu, lebih dari siapapun, aku dan semua orang akan mempercayaimu meskipun apa yang kau katakan adalah kebohongan. Tapi, aku mohon padamu Jiminie—sekali ini saja, bersikaplah setega mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya. Semuanya. Jangan lagi menyimpan lebih banyak dari kami seorang diri. Kau tahu, itu tidak hanya menyakiti dirimu, tapi semua orang terutama aku dan Jungkook." jawab Yoongi agaknya sedikit membuat Jimin tenang.
"Aku rasa Chanyeol hyung sudah memberitahu tentang apa yang Nam Goong Won incar dariku, bukan?" Yoongi hanya terdiam, tak mengangguk pun tak menggeleng. Jimin menarik nafasnya, ditatapnya Yoongi penuh kasih. "Tapi, apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Nam Goong Won sebelumnya? Yang membuatnya tak lagi tertarik mengincarmu dan Jungkookie?" suara Jimin tercekat, sungguh sebenarnya ia tak kuasa mengatakan yang sebenarnya kepada Yoongi. Membuat Yoongi yang melihatnya pun tak tega harus melihat sorot luka di kedua mata Jimin.
"Jiminie, maafkan aku jika ini menyakitimu. Tak perlu kau teruskan jika kau tak bisa." Jimin menggeleng.
"Tidak hyung. Kau benar. Tidak selamanya aku menyimpan semua ini sendiri. Justru, jika aku bersikap seperti ini, pasti akan semakin banyak orang yang terluka." sadar Jimin. "Maafkan aku, sudah menimbulkan banyak masalah selama ini." Yoongi tersenyum tampan, ia berjalan mendekat Jimin untuk mengelus surai sosok yang lebih muda.
"Bukan Jimin namanya jika tidak menimbulkan masalah." Jimin mempoutkan bibirnya kesal.
"Oh sungguh, bolehkah aku kesana dan mengganggu kedua sejoli itu? Telingaku gatal mendengar semua ini, sebentar-sebentar mereka bertengkar, lalu sebentar-sebentar mendadak menjadi cessy seperti ini…" kesal Hoseok yang dibalas kekehan dari mereka semua.
"Setuju, hyung. Kakiku juga ingin lari dan menemui mereka." sahut Taehyung bersamaan dengan bonus cubitan di lengannya dari Jungkook. Taehyung mengaduh, tapi bukannya memasang wajah kesakitan, ia justru memasang wajah dengan cengiran khasnya.
"Jadi, kau sudah siap untuk mengatakan semuanya?" tanya Yoongi setelah dirasanya Jimin cukup tenang. Jimin diam sejenak, ditatapnya Yoongi seolah tengah meminta sedikit kekuatan dari pemuda tampan itu. Sedikit kekuatan untuk kembali mengingat hal buruk yang ingin ia lupakan semasa hidupnya.
.
.
.
"Nyonya Kim—meninggal dunia."
.
.
Empat kata pemberitahuan itu sukses membuat ketujuh tuan muda yang sedang menikmati waktu bermain mereka di taman termangu di tempat. Mencerna apa yang baru saja dikatakan salah satu orang kepercayaan Namjoon, sampai Namjoon sendiri tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
"Candaan paman itu tidak lucu, jangan membuat lelucon seperti Taehyung atau Hoseok. Ini, bukan hari ulang tahunku, paman." Namjoon mencoba untuk tertawa meskipun tawanya terdengar tak bermakna sama sekali.
"Maafkan saya, tuan muda." sesal sang paman. Namjoon memundurkan langkah kecilnya tak percaya, ia menggeleng—berusaha menampik segala hal yang baru saja ia dengar dengan kedua telinganya. Tidak, tidak mungkin ibunya meninggalkannya secepat ini. Dia pasti sedang bermimpi. Ya, Namjoon pasti sedang bermimpi buruk. Ia pasti akan segera bangun ketika ibunya membangunkannya. Ya, ini semua pasti hanya mimpi. Tapi, kenapa ia tak kunjung bangun? Kenapa ia tetap berdiri di taman ini? Kenapa ia—
"Tidak!" gumam Namjoon menggeleng dan tak mampu lagi untuk menahan air matanya yang sudah terbendung sedari tadi.
Bruk!
Namjoon ambruk dari berdirinya yang membuat keenam sahabatnya langsung mendekapnya dan terisak bersama.
"Andwae~ eomma…" isak Namjoon histeris.
"Tenangkan dirimu, Namjoonie… kami disini, kau tidak sendiri~" lirih bocah cantik yang tak lain adalah Kim Seokjin kecil, ia mengelus punggung Namjoon lembut bersamaan dengan kelima sahabatnya yang lain yang masih turut merangkul Namjoon memberikan bocah tampan itu kekuatan.
.
.
.
Blam!
Jimin kecil menutup pintu mobil yang dikendarai sang ayah. Wajahnya sendu kala melihat suasana rumah mewah penuh duka di depannya. Jimin mendongak saat jemari mungilnya digenggam tangan besar sang ayah.
"Appa…" panggil Jimin sedih. Seojoon tersenyum kecil, ia berjongkok untuk menyamai tinggi sang pangeran kecilnya.
"Ada apa, hm?" tanya Seojoon mengelus surai putranya yang tampak bersedih.
"Apa Namjoonie hyung, akan baik-baik saja?" tanya Jimin cemas. Seojoon tersenyum kecil.
"Namjoonie hyung akan baik-baik saja jika ada kau, Jin hyung, Kookie, Hobi hyung, Yoongi hyung, dan Taetae. Jadi, maukah kau menemani Namjoonie hyung sampai dia baik-baik saja? Tidak bersedih lagi?" Jimin mengangguk lucu.
"Aku tidak mau Namjoonie hyung bersedih. Aku mau menemaninya, appa."
"Jadi, kau mau masuk dan bergabung bersama yang lain?" Jimin mengangguk lagi. "Kalau begitu, kajja! Kita masuk sekarang!" Seojoon berdiri dan menggandeng Jimin untuk masuk ke rumah Namjoon yang halamannya sudah penuh dengan rangkaian bunga serta tulisan yang berisi ucapan 'turut berduka cita'.
Setelah masuk ke dalam rumah mewah Namjoon, Jimin mengedarkan pandangannya ke sisi rumah. Mencari keberadaan keenam sahabat kecilnya, terutama Namjoon tentu saja. Tapi, kedua mata sipitnya tak menemukan keberadaan kelima temannya atau Namjoon sendiri.
"Appa, dimana yang lain?" tanya Jimin setelah tak mendapati Namjoon ataupun yang lain berada di rumah duka itu. Seojoon tersenyum kecil dan mengelus surai putranya lembut.
"Bagaimana jika kita menunggu di ruang tengah saja?" tawar Seojoon. Jimin mengangguk menurut kala sang ayah membawanya untuk duduk di ruang tengah yang kebetulan sedang kosong tak ada siapapun. "Kau haus nak?" tanya Seojoon. Jimin menggeleng.
"Appa, aku mencemaskan Namjoonie hyung." tutur Jimin. Seojoon mengangguk paham.
"Tunggulah disini sebentar, appa akan mencari Seongwon ahjussi, arra? Jangan kemana-mana, hm?" Jimin lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan membiarkan Seojoon beranjak meninggalkannya.
Setelah sekitar lima menit kepergian Seojoon entah kenapa Jimin merasa kesepian. Mungkin, karena suasana duka yang ada di rumah mewah itu. Jimin mengedarkan pandangannya pada sekeliling rumah sang hyung, ia menarik nafas saat dirasa tak menemukan seorang pun sahabat-sahabatnya. Jimin mencebikkan bibirnya bosan, ingin ia menyusul ayahnya atau mencari keberadaan sahabat yang lain tapi kembali lagi pada pesan ayahnya sebelum pergi meninggalkannya, yang mengatakan untuk tetap diam ditempatnya duduk.
Jimin termangu kala pandangannya menangkap siluet dua orang yang salah satunya adalah si tuan rumah. Keduanya berjalan menjauhi para tamu dan menuju ke taman belakang. Jimin berfikir sejenak sebelum memutuskan untuk membuntuti kedua orang itu diam-diam. Jimin bersembunyi di balik tanaman pagar yang ada ditaman belakang. Bocah kecil itu mengedarkan pandangannya sejenak untuk memastikan keadaan sebelum kedua telinganya mendengar setiap ucapan yang kedua orang dewasa itu lontarkan.
"Aku tidak menyangka menghadiri pemakaman adikku sendiri." ujar pria yang Jimin yakini lebih tua dari ayah Namjoon. Jimin menatap wajah pria yang sedagn berbincang serius dengan Seungwon.
'Aku seperti pernah melihat wajahnya' Jimin membatin.
"Maafkan aku, hyung. Aku sudah gagal menjaga Siyeon."
"Aku sudah menduga dari awal jika kau tidak pantas untuk adikku!"
Jimin membulatkan kedua matanya terkejut.
'Jadi, pria itu adalah kakaknya Siyeon ahjumma? Tapi, kenapa dia tampak tidak menyukai Seungwon ahjussi?'
"Maafkan aku, hyung. Aku benar-benar kacau sekarang ini. Kau boleh menyalahkan semua yang terjadi kepadaku."
"Tentu saja, kau memang pantas mendapatkannya!" sarkas pria tua itu yang kemudian meninggalkan Seungwon yang sedang dalam keadaan hancur.
Jimin yang melihat pria tua itu melangkah pergi, entah inisiatif darimana ia memutuskan untuk membuntutinya.
'Aku yakin, aku pernah melihatnya'
Hingga, langkah Jimin terhenti kala pria itu keluar dari rumah Namjoon dan berjalan menuju garasi mobil yang tampak sepi, karena mobil-mobil pelayat kebanyakan diparkirkan di halaman rumah sementara garasi mobil hanya berisi mobil-mobil si pemilik rumah.
Jimin mengintip sedikit dari balik pintu garasi mobil. Ia menajamkan kedua telinganya lagi tepat ketika pria tua itu sedang berbicara dengan dua pria berbadan besar dengan setelan hitam formal.
"Dengar! Selesaikan pekerjaan kalian, aku tidak ingin ada satu kesalahan pun kali ini, mengerti?!" titahnya yang dibalas bungkukan sopan dari kedua pria itu, yang kemudian berlalu dari hadapan pria tua yang cukup familiar bagi Jimin namun sayang tak bisa ia ingat sampai sekarang.
Sepergian kedua pria besar, Jimin melihat pria itu mengeluarkan ponselnya dan tampak menjawab panggilan dari seberang.
"Bagaimana?" adalah kata pertama yang Jimin dengar dari pria itu.
"Aku sudah repot-repot membuat kabar tentang kematian adikku, dan dengan kacaunya keadaan sekarang, aku yakin tidak ada yang akan membela Seojoon nantinya." Jimin membulatkan matanya mendengar nama sang ayah disebut oleh pria tua itu.
'Omo! Aku ingat sekarang. Dia pria yang pernah datang ke rumah.'
"Hm, lakukan dengan cara lama. Lakukan persis seperti apa yang sudah ayahku lakukan pada wakil presiden Lee."
Tubuh Jimin gemetar. Apa yang dikatakan pria itu? Wakil presiden? Seketika, tubuh Jimin terasa dingin dan menggigil, ia memundurkan langkahnya gemetar. Namun, tampaknya keberuntungan sedang tak berpihak padanya.
Prang!
Jimin menggigit bibir bawahnya takut kala tak sengaja menjatuhkan vas bunga yang tak ia sadari berada di belakang tubuhnya. Hal itu membuat pria paruh baya itu segera memasukkan ponselnya dan berjalan cepat menuju sumber suara.
Pria paruh baya itu menyeringai mendapati Jimin yang tampak gemetar ketakutan serta dengan kedua matanya yang berkaca menahan tangis.
"Well~ kutebak, apa kau sudah mendengar semuanya, bocah manis?" tanyanya remeh. Jimin mengepalkan kedua tangannya yang berkeringat dingin.
"Kau jahat!" seru Jimin memberanikan diri. "Jangan ganggu ayahku."
"Ah~ jadi, apa kau putra sulung Seojoon?" tanya pria itu da berjongkok di depan Jimin. "Kau tahu, nak. Menguping pembicaraan orang tua adalah tindakan yang tidak sopan. Apalagi, ini sudah yang kedua kalinya," ujarnya bersamaan dengan air mata Jimin yang sudah keluar dari ekor matanya dengan deras. "Jangan menangis—" pria itu menghapus air mata Jimin dengan tangan besarnya. "—untuk sekarang kau tak boleh menangis, karena air matamu… harus kau simpan untuk masa depanmu"
.
.
.
Jimin menatap Yoongi lamat sementara yang ditatap masing memasang wajah shocknya. Tak hanya Yoongi, semua orang yang berada di kamar Taehyung juga saling terdiam tak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Nam Goong Won selalu tahu, saat aku mendengar semua pembicaraannya entah dengan ayahku atau orang lain. Dan, itu adalah mimpi buruk yang paling mengerikan yang pernah aku alami." ujar Jimin. Yoongi menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Wakil presiden Lee, adalah mendiang kakekmu, hyung. Kakekmu dan Jungkook." ulang Jimin lebih jelas. Yoongi memijat pelipisnya pening.
"Tapi, darimana kau tahu?" tanya Yoongi. Jimin tersenyum kecil.
"Apa kau tahu, jika ayahku membuat dokumen yang berisi penuh kode?" tanya Jimin. Yoongi mengeryitkan keningnya.
"Ya, dan isi dari dokumen itu hanya tentang kaitan para korban serta motif pembunuhan dibalik semua kejadian itu. Bukankah begitu?" Jimin terdiam sejenak.
"Hyung, apa Chanyeol hyung mengatakan sesuatu tentang kenapa Nam Goong Won mengincarku?" tanya Jimin. Yoongi mengangguk kecil.
"Hm, bajingan itu memintamu untuk mengalih atas namakan semua perusahaan para appa bahkan kakekmu menjadi namanya." Jimin memejamkan kedua matanya mendengar jawaban Yoongi. Ia menarik nafas dan menatap Yoongi dengan mata berkaca.
"Ya, itu memang benar. Dan salah satunya." jawab Jimin dengan nada bergetar.
"Salah satu?" Jimin mengangguk. Ia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Yang sebenarnya adalah—" Jimin menjeda ucapannya sejenak. "—berkas yang ayahku tulis terdapat enam dokumen dan lima dari enam dokumen itu sudah berada di tangan para appa, tapi yang satu—" Jimin menghentikan ucapannya membuat Yoongi dan semua orang di kamar sebelah kembali mendengar dengan was-was. "—yang satu berada di panti asuhan tempat aku dibesarkan."
"Dan, satu dokumen itu adalah kunci dari penjelasan yang ada di lima dokumen itu. Satu dokumen itu menyebutkan pelaku dan korban berisi buktinya. Dan sebenarnya, dokumen itu adalah dokumen yang ditujukan untuk kasus wakil presiden Lee." lanjut Jimin menarik nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan penjelasannya.
"Apa kau menemukan chip yang ada di kamarku?" Yoongi mengangguk. "Chip itu berisi korban selain wakil presiden Lee termasuk ibumu dan ibunya Jungkook, serta kejahatan lain yang Nam Goong Won lakukan."
Yoongi bergumam tak percaya.
"Jadi katakan, apa yang sebenarnya ia inginkan darimu? Apa dia ingin dokumen itu?" Jimin menggeleng membuat Yoongi menarik nafas frustasi terlebih ia melihat Jimin yang mulai terisak tanpa sebab.
"d-dia…" Jimin merasa sesak kala hendak mengatakan semuanya pada Yoongi, terlebih juga ia yakin jika para orang tua dan termasuk kakeknya mendengar semua kejujurannya kali ini. Jimin mendongak dan menatap Yoongi yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"—dia memintaku untuk memalsukan dokumen itu dan merubah nama tersangkanya menjadi ayahku."
"MWO?!" tidak hanya Yoongi yang memekik tapi juga hampir seluruh orang di kamar Taehyung membulatkan kedua mata mereka tak percaya. Terutama kakek Park yang mengepalkan kedua tangannya serta menggeram penuh amarah.
Yoongi mendekati Jimin yang menundukkan kepalanya dengan kedua bahunya bergetar. Yoongi menarik nafas meraih tubuh Jimin dan memeluk pemuda manis yang selama ini sudah banyak mengalami bagaimana ancaman dan kerasnya selama delapan belas tahun ia hidup.
"Sebenarnya, aku takut hyung—hiks!" isak Jimin semakin menjadi. "—aku takut jika aku tidak menuruti kemauan mereka dan berhenti mengejarku—aku takut, mereka akan menyakiti kakekku dan kalian semua. Aku tidak bisa kehilangan lagi, sudah cukup menyakitkan aku kehilangan ayah, ibu dan calon adikku~" racau Jimin semakin menjadi dan Yoongi hanya diam dan mengelus punggung yang sebenarnya rapuh itu.
Cklek!
"Jimin-ah…" pintu kamar Jimin terbuka dan masuklah kakek Park yang berjalan mendekati ranjang dimana tempat cucunya berada. Jimin melepas pelukan Yoongi, masih dengan sesenggukan ditatapnya sang kakek yang menatapnya sendu.
"Haraboji~" lirih Jimin. "mianhae… aku selalu membuatmu khawatir," kakek Park tersenyum kecil dan,
Tak!
Yoongi terkejut begitu juga dengan Jimin yang tiba-tiba saja mendapat jitakan super di kepala dari sang kakek.
"Haraboji, kenapa kau memukulku?" tanya Jimin tak terima.
"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya kau mengatakan semuanya begitu saja kepada Yoongi daripada pada kakekmu sendiri." Yoongi terkekeh dan Jimin tersenyum malu.
"Haraboji, jangan membuatku malu." bisik Jimin pada sang kakek yang meskipun masih bisa di dengar Yoongi.
"Kau memang pantas untuk dipermalukan."
"Haraboji~"
"Berhenti merajuk anak nakal!" seru kakek Park membuat Jimin mencebikkan bibirnya kesal.
"Apa haraboji tidak ingin memelukku?" tawar Jimin. Kakek Park terkekeh dan menarik cucu manisnya ke dalam pelukannya.
"Maafkan, haraboji nak~" Jimin menggeleng dalam pelukan sang kakek.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, karena tidak mengatakan semuanya dari awal." balas Jimin. Kakek Park melepas pelukan Jimin dan menatap wajah manis sang cucu yang masih memucat.
"Berjanjilah, mulai sekarang kau tidak akan menyembunyikan apapun dariku, dari semuanya." pinta kakek Park yang diangguki tegas oleh Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
.
– One On The Way –
.
.
.
.
.
.
.
.
Breaking News!
Terungkap tersangka sebenarnya dibalik kecelakaan maut yang menimpa keluarga mendiang Menteri Park Seojoon, delapan tahun yang lalu. Kecelakaan yang dilakukan oleh mantan tiga narapidana yang baru bebas beberapa bulan yang lalu atas perintah mantan Perdana Menteri Nam Goong Won. Motif dari pembunuhan terencana ini adalah dikarenakan mendiang Menteri Park memiliki bukti serta mengetahui segala kejahatan mantan Perdana Menteri Nam selama masa jabatannya. Pihak berwajib sendiri, sudah mendapatkan semua bukti yang membenarkan segala kejahatan mantan Perdana Menteri Nam yang sudah disembunyikan selama bertahun-tahun lamanya. Situasi terkini, mantan Perdana Menteri Nam sedang menjalani penyelidikan lebih lanjut. Hasil penyelidikan—
Pip!
"Kenapa dimatikan?" tanya Taehyung pada Jimin yang pada saat itu mendapat giliran menjaganya setelah satu minggu berada di kamar inap rumah sakit. Jimin sendiri sudah keluar dari kamarnya empat hari yang lalu. Sementara yang lain, seperti Yoongi, Namjoon, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook sudah mulai aktivitas sekolah mereka dua hari yang lalu.
"Aku sudah bosan mendengar namanya," Taehyung terkekeh. Sebenarnya, keadaan sudah mulai membaik sejak kemarin. Salahkan, ayahnya yang terlalu posesif padanya yang masih kekeuh meminta pihak rumah sakit untuk menahan putra semata wayangnya sebelum bekas luka tembak di punggung Taehyung sudah benar-benar mengering.
"Percaya padaku, kau akan merindukan nama itu setelah ini."
Tak!
Jimin menjitak kepala Taehyung tak berperasaan.
"Jangan meledekku terus!" sarkas Jimin kesal dan berbalik menuju sofa yang ada di kamar inap yang justru menyerupai kamar di hotel berbintang lima.
"Oya, Jim—" panggil Taehyung menggantungkan ucapannya. Jimin yang sedang mengotak-atik ponselnya menoleh sekilas kearah Taehyung.
"Ada apa?" balasnya.
"Apa kau jadi pergi ke London?" tanya Taehyung. Jimin menghela nafas.
"Entahlah. Haraboji, tidak mengatakan apa-apa padaku."
"Hyukjae hyung?" tanya Taehyung berharap. Jimin hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Karena ada kejadian ini, ada kemungkinan keberangkatanku diundur."
"Jadi, kau benar-benar akan pergi?" tanya Taehyung terlihat menyayangkan.
"Kau tahu, Tae. Aku juga tidak ingin pergi. Tapi, aku juga tidak bisa menolak permintaan kakekku." Taehyung menghembuskan nafas dan mencebikkan bibirnya. "Sudahlah, tak perlu kau pikirkan masalah itu. Yang terpenting kau harus cepat sembuh dan keluar dari kamar ini. Apa kau tidak bosan berada disini terus?" tanya Jimin mengalihkan pembicaraan. Taehyung tersenyum sekilas.
"Aku juga ingin cepat-cepat keluar dari tempat berbau obat ini." Jimin tertawa kecil bersamaan dengan pintu kamar inap Taehyung yang terbuka.
"Kau sudah datang, hyung?" sapa Taehyung melihat Joonmyeon yang datang bersama dengan Hyukjae.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Joonmyeon. Taehyung menunjukkan cengiran khasnya.
"Sudah saaaaaangat baik, hyung. Jadi, apa aku sudah boleh pulang?"
"Tunggu ayahmu kalau begitu." Taehyung mencebikkan bibir kesal, ia melirik kearah Hyukjae yang tampaknya menunggu sesuatu dari Jimin.
"Kau akan pulang, Jim?" tanya Taehyung. Jimin bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat Taehyung.
"Hm, sepertinya ada yang ingin haraboji bicarakan padaku." Taehyung mengangguk paham.
"Nanti malam kau akan kemarikan?" tanya Taehyung. Jimin tersenyum manis.
"Aku tidak akan kemari jika kau sudah pulang."
"Huh?" Taehyung mengerjapkan kedua matanya tak mengerti.
"Kalau begitu, aku pamit dulu, Tae! Cepat sembuh, hm?" pamit Jimin. "Sampai jumpa, hyung." lanjut Jimin juga berpamitan pada Joonmyeon yang hanya membungkuk segan.
"Aku pulang dulu." pamit Hyukjae pada Joonmyeon sebelum beralih pada Taehyung. "Cepat sembuh, Tae."
"Terima kasih, hyung."
.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau bilang, hyung?!" pekik Jimin tak percaya. "Aku batal memberikan kesaksian? Tapi, kenapa?" tanya Jimin tak mengerti setelah Hyukjae mengatakan hasil penyelidikan atas kasus Nam Goong Won pada Jimin. Hyukjae yang sedang fokus menyetir, melirik Jimin sesekali.
"Kakekmu tidak ingin kau terlibat lagi." Jimin menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Jadi, kapan aku pergi?" tanya Jimin lirih. Hyukjae tertawa kecil tahu betul maksud dari pertanyaan Jimin.
"Jika masalah itu, tanyakan saja pada kakekmu. Lagi pula, tidak hanya kakekmu yang tidak ingin kau memberikan kesaksian semua pamanmu juga menolak keputusan itu." Jimin menghela nafas.
"Padahal aku ingin sekali melihat wajahnya yang sudah kalah." geram Jimin. "ehm… hyung," panggil Jimin menoleh kearah Hyukjae. "Apa haraboji ada di rumah saat ini?" tanyanya. Hyukjae mengangguk.
"hm, dan beliau ingin bicara hal yang penting padamu." Hyukjae menghentikan mobilnya yang sudah sampai tepat di depan teras rumah kakek Park yang dijaga lusinan bodyguard. "Temui kakekmu di ruang santai, beliau menunggumu sekarang." Jimin mengangguk. Ia membuka pintu mobil Hyukjae dan berjalan masuk ke dalam rumah sang kakek mengabaikan para bodyguard yang membungkuk menyapanya.
"Aku pulang~" seru Jimin yang langsung disambut oleh paman Kim.
"Selamat datang tuan muda." Jimin menarik nafas, lelah sudah ia meminta paman Kim untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel 'tuan muda'.
"haraboji di dalam?" tanya Jimin. Paman Kim mengangguk sopan.
"Tuan besar, sudah menunggu anda di ruang santai, tuan muda." Jimin mengangguk paham dan tersenyum manis.
"Terima kasih, paman." balas Jimin yang kemudiaan berjalan menuju ruang santai.
"Haraboji~" panggil Jimin ketika ia sampai di ruang santai dan mendapati sang kakek yang tengah membaca Koran ditemani secangkir teh gingseng.
"Kau sudah pulang." Jimin hanya mengangguk. "Duduklah." titah sang kakek seraya melipat korannya dan meletakkannya di nakas di samping tempatnya duduk. Jimin duduk di depan sang kakek dengan wajah yang tak bersemangat sama sekali.
"Aku tebak, Hyukjae sudah mengatakan semuanya padamu?" Jimin mendengus dan menatap kakeknya melas.
"Kenapa haraboji melarangku untuk memberikan kesaksian?" tanya Jimin masih tak terima. Kakek Park tersenyum kecil melihat obsesi Jimin atas seseorang yang bernama Nam Goong Won belum juga menghilang sampai sekarang.
"Itu sudah menjadi kesepatakan semua orang." jawab kakek Park. "Lagi pula, kau harus fokus pada pendidikanmu, bukan yang lain. Apa kau lupa, jika musim ini sudah masuk pada semester baru?" Jimin semakin menekuk wajahnya.
"Jadi, kapan kita akan pergi?" tanya Jimin tanpa minat. Kakek Park tersenyum kecil. Merasa gemas pada cucu satu-satunya. Bagaimana tidak? Dia bertanya tentang keputusannya beberapa waktu lalu seolah menyetujui padahal jelas-jelas mimik wajahnya menunjukkan sebaliknya.
"Pergi kemana?" goda kakek Park. Jimin menatap kakeknya tak percaya.
"haraboji~" pekiknya kesal. Kakek Park terkekeh.
"Kau akan pergi besok pagi."
"Mworago?" pekik Jimin terkejut bukan main. "Kenapa mendadak sekali. Aku belum berpamitan pada semua orang." Kakek Park tertawa keras.
"Kau mau berpamitan pada siapa? Jika besok kau harus mulai masuk di RC."
"Eh?" Jimin mengerjapkan kedua matanya tak percaya. "Maksud—haraboji?" tanya Jimin hati-hati. Kakek Park tersenyum bijak.
"kau—" jeda kakek Park sejenak. "—kau tidak akan kemana-mana. Kau akan tetap disini dan tetap sekolah di RC." kedua mata Jimin berbinar.
"Benarkah?! Haraboji, tidak sedang membohongiku 'kan?" pekiknya tertahan.
"Tentu saja tidak, nak." Jimin bersorak senang yang membuat kakek Park serta seluruh pekerja di rumah tersenyum melihat bagaimana menggemaskannya tuan muda mereka.
"daebak! Aku akan kembali di RC. Woah~ daebak! Daebak! Daebak!" girang Jimin senang bukan main.
"Kau senang?" tanya kakek Park. Jimin pun segera berlari dan menghambur memeluk satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Tentu saja, haraboji." balas Jimin bersemangat. "Terima kasih untuk semuanya," lirih Jimin dengan suara rendah yang masih di dengar oleh kakek Park. Kakek Park menarik nafas dan mengelus punggung cucu semata wayangnya.
.
.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
.
Spoiler for the next stories One On The Way part 2 …
.
.
.
.
.
.
.
. . .
"Kenapa RC tidak bisa melepas perusuhnya?"
. . .
"Kau tidak lupakan, jika kau memiliki hutang padaku, hyungnim?"
"Apa?"
. . .
"Aku membencimu, Jeon Jungkook!"
. . .
"Kekasih? Sejak kapan? Apa kau menyukaiku?"
. . .
"Mwo?! Appa menjodohkanku dengan siapa?!"
. . .
"Aku menyukainya, mencintainya sangat-sangat menyayanginya. Tapi,… dia sama sekali tidak menyukaiku dan hanya menganggapku sebagai teman kecilnya."
. . .
"Hah~ kenapa aku bisa jatuh cinta pada bocah sepertinya?"
. . .
"SUNGGUH! Aku melihatnya berselingkuh!"
. . .
.
.
.
.
.
.
.
Wiiih~
Apa kabar yeorobun? Masih ada yang nungguin ini kah? Hehe, maap saya udah lama enggak update, udah sebulan lebih yah? Maklum, lagi bener-bener sibuknya, mohon maafkan ya, kkkk…
Dan, gimana nih sama last chap-nya? Kebiasaan ya, kalau lama ilang terus kaya begini, hehe (update, terus tiba-tiba end). Abis tadinya mau aku tambah satu/dua chapter lagi trus bener-bener end, tapi aku pikir-pikir moment YoonMin, VKook, sama NamJin pasti masih kurang dan pasti pada kurang puas kan, hehe. Jadi, gitu deh rencananya mau nulis lanjutan OOTW tapi khusus buat otp kita tersayang, eaaaa. Khusus fokus ke YoonMin, VKook, sama NamJin (YoonMin terutama ya, hehe-tapi, aku usahain semuanya adil, makmur, dan sentosa). Jadi, adakah yang masih berminat baca? Itung-itung ngrefresh setelah masalah berliku di ff ini, kkkk…
For next update One On The Way part 2 : Kamis, 30/8-18
See you soon-
and
Kamsahamnida,.
