Gacha

Naruto Mashasi Kisimoto

.

.

Hidup ini adalah bilangan biner, 0 dan 1, bergerak atau diam, hidup atau mati. Namun, banyak orang yang menyangkalnya, mengatakan seolah hidup ini adalah qubit dari bilangan 10, yang nilainya bisa berubah dan sangat kompleks. Bagi penganut sistem monarki, rakyat jelata hanyalah rakyat jelata, dan bangsawan adalah bangsawan. Hidup itu memang tak seindah cerita isekai situs ffn.

Sepertinya aku sudah terlalu OP dalam game ini. Aku mendapatkan skill yang tidak aku dapatkan di karakter sebelumnya, status change. Memang sih tidak akan kugunakan terlalu sering, tapi cukup berguna jika ingin mengubah poin kemampuanku menjadi strenght ketika berhadapan dengan assasin, atau menjadi agility jika ingin kabur.

"Selamat datang tuan, apakah anda ingin mengambil misi?" yap ini adalah guild, bukan, disini bukan tempat khusus, ini adalah tempat umum untuk mengambil misi atau sekedar pesta para pemain. Yang khusus adalah klub, dan aku tidak akan pernah masuk klub manapun. Hidup pemain solo! Ulululu!

"Yap, aku ingin mengambil misi ini." Aku langsung menyodorkan lembaran yang barusan aku ambil dipapan pengumuman. Tidak terlalu susah sih, hanya membunuh 3 naga tanah, yap, mereka menggali, bukan terbang.

"Baiklah tuan, misi berdurasi 24 jam. Jika tidak berhasil menjalankan misi, anda akan didenda sebesar 50 diamond. Apakah ingin melanjutkan?"

"Tentu saja, hanya itu satu-satunya misi rank S yang tersisa."

"Baiklah tuan, penghitungan dimulai dari sekarang. Ganbatte!"

.

.

"Bom api!" ah kasihannya daku, padahal sudah 2 minggu bermain, tapi hanya inilah skill aktif yang tidak ampas.

Boom!

Groaarr!

Tepat tembakan tadi mengenai tangan salah satu naga tanah. Dengan daerah gurun pasir sebagai tempat hidupnya, akan susah jika tidak melukai tangannya terlebih dahulu. Sekedar informasi, naga tanah akan langsung mati jika tidak mempunyai tangan.

"Cih nampaknya ledakan tadi membuat yang lain tertarik. Aku harus cepat menyelesaikan ini."

Dengan cepat aku berlari kearah naga yang sedang meraung kesakitan tersebut, tersisa beberapa meter didepannya, aku langsung terangkat karena tiba-tiba ada naga tanah yang menerjangku dari bawah, kemampuan utama naga tanah, menggali tentu saja.

Karena tepat didepan mulutnya, dan pastinya dia akan mengunyahku, aku tak tinggal diam. Langsung saja ku cast skill bom api milikku. Oh sialan! Aku lupa jika castingnya membutuhkan waktu 3,7 detik, fak!

Aku langsung saja mencoba loncat dari moncong besarnya, namun saat akan menyentuh tanah, tangannya menggenggam tubuhku.

"Kesempatan!" langsung kuarahkan ujung tongkat sihirku kearah lehernya.

Boom!

Sukses itu membuatnya sekarat, tinggal menunggu waktu saja sampai dia mati. Berarti hanya tinggal membunuh satu naga lagi dan tugasku akan selesai.

Tiba-tiba tanah disekitarku bergetar, nafasku menjadi sesak; rasanya seperti sebuah energi tak terhingga berjalan melewati tubuhku, menakutkan. Kawanan monster tanah menjadi lebih defensif, seakan takut akan sesuatu. Semuanya mulai menggali tanah, menuju sarang mereka.

Aku tentu saja tak bisa membiarkan hal itu terjadi, dengan cepat aku mengganti beberapa poin ku menjadi agility agar bisa menyingkat jarak dengan cepat, tak lupa kusiapkan bom api sebagai jurus pamungkas. Tak sampai 2 detik aku sudah ada didepan salah satu naga yang setengah badannya sudah memasuki lubang, tak mau terlalu lama berfikir, aku langsung mengarahkan tongkat ku ke lubang itu. Momentum dimana aku mengarahkan tongkat dan casting selesai sangat tepat, aku memang hebat, terimakasih.

.

.

"Terimakasih sudah menjalankan misi, reward akan segera ditransfer ke akun anda, harap sabar menunggu. Terimakasih" mbak ini langsung membungkukkan badan setelah selesai berkata, pertanda penghormatan.

"Ah iya, sama-sama." namun saat ingin berjalan meninggalkan guild, aku seketika teringat sesuatu, daripada penasaran mendingan tanya saja. "Mbak, tadi saat menjalankan misi, aku merasakan ada energi yang melintas. Itu memang monster baru atau apa?" nampaknya dia kebingungan menjawab pertanyaan ku.

"Maaf tuan, tapi aku tidak pernah mendengar ada pemain lain membicarakan hal tersebut; juga aku tidak memiliki akses terhadap database. Jadi mohon maaf." dia membungkukkan badan, namun kali ini bukan sebagai penghormatan, namun permintaan maaf.

"Iya, maafkan aku juga yang sudah bertanya hal ini. Nanti kalau ada info lebih lanjut tolong kabari ya!" agak kecewa juga sih karena tidak bisa tau itu apa. Huft rasa penasaranku tidak terjawab, sayang sekali.

Tubuhku mendadak menjadi kaku, perasaan yang sama terulang kembali. Namun, pemain lain nampak tenang-tenang saja. Aku terjatuh karena tak kuat menahan rasa sakitnya, dan akhirnya log out paksa.

Bersambung


Pesan penulis :

Bagaimana kabar kalian? Pas melihat file di laptop tadi gak sengaja menemukan cerita ini dan akhirnya langsung dilanjutkan. Maaf karena pendek, saya sudah melupakan apa yang ingin saya tulis di cerita ini. Harap berikan komentar, cacian, ataupun makian. Sekian dan terimakasih. Zanan log out.