Disclaimer: Masashi Kishimoto Ichi Ishibumi and others
Another Power
Warning: MasterTypo, Gaje, Kata berulang, kata tidak baku, etc
.
.
.
.
.
.
"Setelah semua yang telah aku lakukan, hanya sampai disini saja kah?" Seonggok tubuh manusia yang tengah terlentang di tengah-tengah sebuah kawah berukuran raksasa, keadaan di sekitar manusia itu nampak kacau. Baik dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.
"Khe, makhluk ini ternyata bukan isapan jempol belaka. Bahkan dengan mode Crimson pun masih belum dapat membuatnya hanya untuk kelelahan sedikit saja." Di atas manusia itu- seorang remaja dengan rambut pirang, nampak seekor makhluk dengan sayap dan juga ekor yang tengah terbang. Naga hitam dengan dua tanduk mencuat ke depan di kepala makhluk itu. Makhluk dengan empat kaki dan sepasang sayap hitam besar itu terlihat tengah menatap sang remaja, dengan beberapa kilatan petir hitam di sekeliling tubuhnya.
"Maa... Meskipun aku tidak memiliki tujuan hidup, tapi setidaknya mati dalam usia remaja bukanlah salah satu pilihan tepat. Dan aku yakin ibu dan ayah akan langsung menceramahiku nanti." Si remaja terlihat tengah berusaha berdiri, dengan pakaian yang sudah tidak lagi memiliki atasan dan beberapa bagian tubuh yang terlumuri oleh darahnya sendiri.
"Jadi, sampai aku memiliki sebuah tujuan untuk hidup dan mendapatkan apa yang seharusnya aku lindungi. Maka tidak akan pernah ada dalam diriku kata menyerah." Sebuah energi gila-gilaan tiba-tiba keluar dari tubuh si remaja. Hingga kemudian remaja dengan rambut pirang itu mendongkak, menatap makhluk di atasnya dengan iris mata hitam dengan pupil merah vertikal.
"Majulah! Wahai makhluk agung pemegang kunci kekuatan terakhir!" Makhluk- Naga yang saat ini tengah terbang, menatap si remaja. Nampak sudut bibir makhluk itu terangkat, menampakkan sebuah seringai yang ditujukan pada remaja yang berada di bawahnya. Sayap yang senantiasa membentang di udara itu nampak mengepak, seolah-olah menjawab deklarasi yang dilontarkan oleh remaja pirang itu.
Kemudian, tanpa aba-aba keduanya melesat secara bersamaan. Meninggalkan kilatan cahaya pada lintasannya masing-masing, hingga akhirnya. Sebuah cahaya yang begitu terang tercipta, hasil dari benturan mereka berdua. Menciptakan sebuah hembusan angin kuat yang menghempaskan material-material disekitar tempat kedua makhluk berbeda jenis itu bertarung.
.
.
.
.
.
Saat ini akademi sedang melakukan persiapan untuk acara tahunan yang akan diselenggarakan, dan ada beberapa perubahan pada acara kali ini, dimana para masyarakat umum juga dapat menyaksikannya secara langsung.
Juga, sistem pertandingan yang diselenggarakan ikut dirubah. Dimana setiap kelas hanya akan mengirimkan paling banyak lima orang sebagai perwakilan, dan pertandingan juga akan dilakukan secara angkatan. Lalu akhirnya pemenang dari setiap angkatan akan dipertandingkan kembali dalam sebuah battle royal.
Yah, pada akhirnya setiap orang akan bertanding secara individu saat final. Mungkin terdengar tidak menguntungkan untuk kelas satu, tapi mau bagaimana lagi Ini diperlukan untuk kepuasan penonton.
Dan, yap. Selain untuk menyeleksi para siswa yang nantinya akan dikirim dalam sebuah pertarungan semua ras. Acara kali ini juga diselenggarakan untuk hiburan, terdengar tidak masuk akal? Tentu ada alasan untuk ini, sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang telah memberikan kontribusi besar pada kerajaan. Maka raja mengubah kebijakan untuk acara ini.
Tidak hanya itu, yang membedakan acara tahun ini dengan acara tahun-tahun lalu adalah, raja beserta keluarga dan para bangsawan dari beberapa daerah di kerajaan yang turut akan menyaksikan secara langsung. Oleh karena itu juga, pengamanan yang dilakukan pun ikut meningkat.
Para bangsawan yang membawa masing-masing orang kepercayaan mereka, dan ikut mengirimkan orang-orangnya untuk meningkatkan keamanan dalam acara kali ini. Tidak lupa sang raja yang juga mengerahkan hampir setengah dari pasukan kerajaan.
Tentu saja, akademi juga berpartisipasi dalam hal ini. Para staf kebersihan yang ternyata bertugas sebagai pelindung, yang akan melakukan tugas tersebut.
Dan disinilah mereka, berada di sebuah ruangan yang seharusnya digunakan untuk makan.
Berdiskusi, membahas hal-hal yang berkaitan dengan tugas mereka. Dengan seorang pria berambut putih yang tengah memimpin pembahasan.
"Sebagaimana yang dikatakan oleh kepala sekolah kemarin lusa, kita akan berjaga di beberapa tempat secara berpasangan. Kepala sekolah juga telah membagikan tugas yang akan kita kerjakan." Kepala staf nampak tengah mengintruksikan kepada anggota stafnya, dengan tangan kanan yang menggenggam sebuah kertas.
"Khusus untuk Naruto, kau dan Yuri Alpha akan menjadi pengawal raja."
Hening untuk sesaat, yah itu wajar saja. Mereka masih dapat mengerti untuk seorang Yuri Alpha ditunjuk dalam tugas ini. Tapi yang menjadi masalah adalah satu orang lagi. Sebagai anggota yang baru saja masuk beberapa hari ini sudah mendapat tugas yang... Katakanlah berat, apalagi dengan kekuatannya yang masih samar, lebih tepatnya diragukan. Tentu saja itu membuat semua orang yang berada di ruangan itu bingung.
Semua, kecuali orang yang bersangkutan. Bohong jika pemuda dengan mata biru itu tidak mengetahui kenapa dirinya dipilih untuk tugas ini. Yah, secara garis besar ia sudah tahu alasan kenapa harus dirinya.
'Heh, pembuktian kah? Tidak ku sangka kepala sekolah senekat itu hanya untuk membuktikannya.'
Tak Tak
Dengan memukul-mukul meja dengan pelan, kepala staf menginstruksikan bawahannya untuk kembali fokus pada dirinya.
"Hanya itu saja yang ingin aku beritahukan, untuk sekarang kalian bisa kembali pada pekerjaan masing-masing."
SRET
Secara serempak seluruh anggota staf berdiri dari kursinya, kemudian berlalu dari ruangan.
.
.
.
Berjalan-jalan sebentar di area taman akademi, dimana beberapa hari yang lalu dirinya sempat berinteraksi dengan seorang gadis dengan rambut merah.
Pemuda dengan ciri identik, yaitu tiga pasang whisker di kedua bagian pipinya itu berhenti, kemudian duduk di sebuah kursi yang telah disediakan. Yah, dirinya telah selesai melakukan pekerjaan, dan juga waktu makan malam masihlah lama. Jadi tidak ada salahnya untuk beristirahat sejenak.
Wajahnya kemudian mendongkak, iris shapirenya menatap ke arah birunya langit yang memiliki warna serupa. Pikirannya kalut, mengingat kejadian saat dirinya tengah berada di hutan. Jika pendengaran dan hipotesisnya benar, maka akan terjadi penyerangan saat acara berlangsung nanti.
'Yang aku bingung adalah, kenapa mereka berniat menyerang saat para bangsawan datang, membantaian? Tapi aku yakin para bangsawan juga tidak akan sebodoh itu membiarkan diri mereka tanpa perlindungan sama sekali, ditambah pengamanan yang semakin diperketat.'
'Ck, dipikir berapakalipun ini semua masih tidak masuk akal. Kecuali ada suatu keadan atau sebuah benda yang membuat mereka berani melakukan penyerangan tepat saat dimana akademi berada dalam kondisi teramannya.'
Saat pemuda dengan rambut pirang itu tengah sibuk dalam pikirannya, seorang gadis yang sangat identik dengan ciri-ciri orang yang dia tabrak beberapa hari lalu tengah duduk disampingnya sambil terus memandang wajah pemuda itu.
Merasa kesal karena dirinya tidak mendapat respon apapun, Akhirnya si gadis memutuskan untuk menepuk bahu pemuda di sampingnya.
Yah, usaha itu berhasil, dirinya mendapat respon dari orang di sampingnya itu.
"Ah. Aku kira siapa, ternyata anda." Pandangannya lalu menangkap seorang gadis dengan surai merah panjang tengah menatapnya dengan senyuman.
"Ada keperluan apa seorang putri dari bangsawan Uzumaki mendatangi petugas kebersihan ini?" Dengan tingkah sopan layaknya seorang pelayan, Naruto bertanya pada gadis yang kini malah tertawa ringan melihat tingkahnya.
"Ara ara, tidak perlu seformal itu. Kau bisa memanggilku Sara." Dengan anggun, gadis itu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Naruto.
"Hahaha, saya rasa itu tidak bisa. Tidak sopan rasanya memanggil putri bangsawan terkenal dengan nama depannya, apalagi kita hanya pernah bertemu satu kali. Oh, ini kali kedua kita bertemu." Ucap Naruto, yah dirinya juga merasa tidak enak jika harus memanggil orang yang baru saja bertemu dengan nama depannya. Ah, pengecualian untuk Syr.
"Ara, seperti dugaanku kau sungguh menarik... Naruto. Boleh aku panggil seperti itu?"
"Tentu saja, dan terimakasih atas pujiannya." Dengan senyum ramah, Naruto membalas perkataan si gadis.
"Jadi, Hime-sama. Apakah ada suatu keperluan hingga anda mendatangiku?" Kembali pada pertanyaan awalnya, walaupun hanya sekedar basa-basi.
Gadis itu kemudian menatap ke arah langit, melakukan hal serupa dengan Naruto saat dirinya melihat pemuda itu di taman ini.
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya merasa kau begitu menarik. Saat semua orang seumuran kita bersikeras untuk bersekolah disini, tapi kau malah menutuskan untuk bekerja." Naruto menatap lawan bicaranya, mata gadis itu terpejam. Menikmati terpaan angin yang membuat surai merah terangnya menari. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini Naruto tengah terpesona oleh sosok gadis disampingnya ini.
"Yah, seperti yang anda tahu. Saya tidak memiliki apa itu energi sihir, meskipun saya dapat masuk divisi knight. Akan menimbulkan banyak pertentangan kepada kepala sekolah untuk itu, mengingat saya bukanlah seorang bangsawan. Walaupun yah... Tidak dapat dipungkiri saya juga ingin melakukan kegiatan yang sama dengan orang-orang seumuran saya."
Sara membuka matanya, menampilkan manik violet yang tengah memandang langit berwarna biru cerah, mengingatkannya pada manik orang yang saat ini tengah berada di sampingnya. Entah kenapa ia merasa semakin tertarik dengan lawan bicaranya ini, tidak seperti kebanyakan orang yang akan berusaha untuk mendapatkan banyak perhatian darinya. Pemuda di sampingnya justru bertingkah secara normal, memperlakukannya seperti yang dia harapkan, seperti gadis biasa pada umumnya. Meskipun cara bicara pemuda itu terdengar formal, namun ditelinga nya itu berbeda sekali dengan orang-orang yang biasa berbicara dengannya.
Dan entah mengapa dia justru merasa nyaman dengan itu, mungkin terdengar naif menginat ini kedua kalinya mereka berinteraksi. Tapi tidak tahu kenapa, ada dorongan dari dalam dirinya yang mengatakan untuk lebih mengenal pemuda berambut pirang ini.
Untuk beberapa alasan, hening diantara mereka. Bukan karena suasana yang canggung, tapi mereka saat ini tengah menikmati momen masing-masing. Semilir angin yang berhembus lembut, menerpa beberapa tumbuhan hingga menghasilkan bunyi tersendiri. Menerbangkan beberapa daun, hingga menciptakan atmosfir kenyamanan khusus untuk mereka berdua. Dan tanpa alasan yang jelas, kedua remaja itu tersenyum dengan menawannya. Menikmati rasa nyaman yang merasuk ke dalam tubuh, membiarkan perasaan itu larut berputar-putar hanya untuk memberikan waktu lebih lama.
Kemudian, kepala mereka saling bertautan. Tidak ada yang memulai, mereka hanya mengikuti apa yang saat ini mereka rasakan. Mungkin terlihat layaknya sepasang kekasih oleh orang lain, tapi percayalah. Tidak ada barang sedikitpun niatan dalam diri mereka, saat ini perasaan kedua remaja itu murni hanya untuk menikmati suasana ini. Menghilangkan beban dipikiran masing-masing dan sebisa mungkin membuat mereka nyaman. Dan tanpa mereka sadari, keduanya terlelap. Memasuki alam mimpi masing-masing.
.
.
.
Langit yang semula berwarna biru cerah dengan gumpalan putih menghiasinya, sekarang berubah berwarna hitam pekat menutupi sebagian permukaan bumi. Tugas Matahari juga telah digantikan oleh ratu malam yang ditemani gemerlapnya cahaya bintang yang ikut menghiasi langit.
Yah, pemuda dengan rambut pirang itu terlelap di taman bersamaan dengan lawan bicaranya, saat terbangun hari sudah menjelang gelap. Artinya mereka tertidur selama tiga jam, dan untung saja taman tempat mereka pertama kali bertemu itu merupakan tempat yang jarang dikunjungi orang-orang di akademi.
Di dalam kamar, Naruto saat ini tengah mengenakan pakaian serba hitam. Dengan kepala yang dibiarkan tidak tertutupi, dan tangan yang tengah menggenggam penutup mulut.
Menghela nafas sejenak, kemudian kepalanya mendongak, menatap ke atas langit malam dengan pikiran campur aduk.
"Hanya tersisa beberapa hari lagi, dan juga aku belum memberitahu mereka apa-apa perihal ini. Ditambah aku tidak tahu apa motif mereka dan siapa saja yang terlibat didalamnya. Jadi setidaknya, menyiapkan beberapa perangkap untuk menghalau pergerakan mereka saat terjadi penyerangan kurasa tidaklah terlalu buruk."
Setelah mengenakan sebuah benda yang sedari tadi dia genggam pada area sekitar mukut dan hidungnya, Naruto keluar dari kamarnya melalui jendela. Mempersiapkan beberapa hal sebelum terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Itulah yang saat ini dilakukan oleh pemuda berambut pirang itu.
Dirinya tidak akan kebingungan harus memasang perangkap dimana, sebelum makan malam tadi. Ia sempat melihat peta akademi, dengan mengingat lokasi yang dia asumsikan sebagai tempat diskusi. Jadi tidak perlu memasang perangkap di seluruh sisi akademi, hanya perlu dibeberapa titik yang dia perkiraan akan menjadi jalur penyerangan.
Setelah beberapa saat, Naruto kembali ke kamarnya, dengan pakaian yang terlihat kotor oleh tanah dan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Hah, tidak aku sangka akan selama ini. Pukul empat pagi, kurasa membersihkan tubuh sebelum mulai bekerja tidak buruk."
Dengan cekatan Naruto mengganti pakaiannya, akan merepotkan jika orang lain mengetahui apa yang dia lakukan. Dan juga soal penyeragan yang dia dengar, mungkin Naruto akan memberitahu yang lainnya hari ini.
Tidur? Untuk apa? Naruto sudah melakukannya kemarin sore, akan menimbulkan banyak kecurigaan jika dirinya tidur sekarang.
Berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Pandangannya memperhatikan sekitar, melihat-lihat jika saja ada orang lain. Yah, meskipun tidak ada yang perlu dia khawatirkan.
.
.
.
"Tunggu, aku tidak salah dengar? Menemui raja?" Pagi ini seperti biasa, semua anggota staf kebersihan tengah berkumpul di ruang kesayangan mereka. Dengan kepala akademi yang juga ikut dalam sarapan pagi, dan sebuah pengumuman darinya.
"Benar, raja mengatakan dirinya ingin melihat pengawal yang ditugaskan oleh akademi. Maka dari itu, kau akan berangkat ke kerajaan sekarang dan tinggal di sana selama beberapa hari." Dengan santai Azazel mengatakan itu, sambil tangannya menggoyang-goyangkan gelas berisi air teh hijau hangat.
"Maaf, aku tidak salah dengar. 'kau'? Bukankah seharusnya Yuri-san juga ikut?" Ok, tadi dirinya mendapat kabar untuk datang ke kerajaan. Kemudian tidak lama setelah itu, kepala akademi mengatakan bahwa dirinya yang akan kesana.
"Yap, seperti yang kau dengar. Hanya dirimu, aku tidak bisa membiarkan orang lain tahu bahwa tugas sebenarnya staf kebersihan akademi ternyata adalah keamanan. Lagipula jika itu dirimu, kau masihlah anggota baru, tidak banyak yang mengenalmu. Dan tenang saja, Yuri Alpha akan tetap mengawal raja. Tapi seperti yang lainnya, dari balik layar." Dan klarifikasi dari kepala sekolah barusan berhasil membuat tubuhnya menegang.
Ayolah, bertemu raja? Yang benar saja, baginya yang baru saja keluar dari 'gua' bertemu dengan pemimpin kerajaan merupakan sesuatu hal yang sama sekali tidak dia duga. Yang perlu dia pertanyakan adalah, bagaimana dirinya harua bersikap?! Tidak seperti dengan Sara, dimana Naruto dapat berbicara dengan leluasa. Salah sedikit saja, dalam bicara. Mungkin saat kembali nanti hanya nama tanpa raga.
"Ah aku baru ingat!"
Semua orang yang ada disana kemudian mengalihkan pandangannya pada Naruto, karena dirinya akan tinggal di kerajaan sampai acara berlangsung. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan tentang penyerangan yang akan dilalukan.
"Ada apa, Naruto-kun?" Dengan suara lembutnya, Syr bertanya pada Naruto.
"Bagaimana menjelaskannya ya... Intinya begini, akademi akan diserang saat acara tahunan nanti berlangsung." Semua yang ada disana memasang wajah bingung.
"Hahahahaha, apa yang kau katakan Naruto-kun. Mana ada orang yang berani menyerang akademi nanti, apalagi keamanan akademi akan berada dalam tingkat tertingginya." Semua memandang lucu Naruto, siapa yang akan percaya pada pemuda itu disaat seperti ini. Apalagi Naruto yang mereka kenal adalah orang yang selalu bercanda.
"Naruto, jelaskan!" Kembali, semua orang disana memandang Azazel yang memasang wajah serius. Begitupun dengan Sebas yang duduk di samping kepala sekolah.
"Begini, aku juga tidak mengerti kenapa mereka menyerang akademi, saat akademi nanti berada dalam tingkat keamanan paling tinggi. Kecuali ada suatu situasi atau sebuah benda yang membuat mereka berani melakukannya." Naruto menjelaskan dengan raut wajah kebingungan.
"Jika memang begitu, bagaimana kau bisa tahu akan ada penyerangan pada saat acara tahunan nanti?" Dan pertanyaan dari Sebas Tian tersebut mewakili apa yang ada di benak semua orang yang berada di sana.
"Beberapa hari yang lalu, aku merasakan banyak energi sihir saat berjalan-jalan di hutan. Tepatnya tiga kilometer ke arah barat dari akademi, aku mendengar beberapa orang berdiskusi tentang penyerangan yang akan mereka lakukan."
"Tunggu. Kau bisa merasakan energi sihir?" Sekali lagi mereka memandang bingung pemuda itu, bagaimana bisa remaja yang tidak memiliki energi sihir di tubunnya dapat merasakan pancaran energi sihir orang lain.
"Maaf, aku koreksi. Bukan energi sihir, lebih tepatnya aura sihir." Pemuda itu kemudian menatap orang-orang disana dengan iris mata yang telah berubah menjadi vertikal dan pupil yang menjadi biru gelap.
"Jika apa yang kau katakan benar, kenapa baru sekarang kau mengatakannya?" Azazel bertanya Naruto dengan nada datar, meminta pada si pemuda alasannya mengatakan itu sekarang.
"Jika aku mengatakannya jauh-jauh hari, maka acara ini akan dibatalkan. Dan jika acara ini dibatalkan, mereka yang berniat menyerang akan melarikan diri bahkan, mungkin mereka akan menyerang dilain waktu. Jadi menurutku, lebih baik kita biarkan mereka menyerang kemudian tangkap. Memang terdengar beresiko, tapi ini lebih baik daripada mencari mereka nanti yang pasti tidak akan mudah. Dan aku yakin kelompok itu juga memiliki anggota yang bertugas mengumpulkan informasi atau, bisa saja orang dalam juga bergabung dengan mereka..."
Naruto menghentikan pernyataan sebentar, menunggu reaksi dari orang-orang. Dan hanya diam yang dia dapatkan, lalu pandangannya mengarah pada sang kepala sekolah. Setelah mendapat persetujuan, dirinya kemudian melanjutkan perkataannya.
"Apalagi, mungkin para bangsawan dan masyarakat akan kecewa. Mengingat kerajaan tidak mungkin membeberkan alasan sebenarnya acara tahunan ini dibatalkan." Manik matanya kembali seperti semula, menghela nafas lelah. Ia kemudian menyenderkan punggungnya pada kursi di belakang.
Sedangkan untuk kepala akademi, pria dengan poni berwarna pirang itu tersenyum kecil mendengar penjelasan dari karyawan yang baru bekerja beberapa hari itu.
"Jadi Naruto, apa saja yang telah kau lakukan untuk mengantisipasi hal ini?" Tentu Azazel tahu Naruto telah mempersiapkan sesuatu untuk mengantisipasi ini, itu semua terlihat jelas dari kantung tidur yang terbentuk di bawah matanya. Walaupun tidak terlalu jelas.
"Aku tidak terkejut anda menyadarinya. Untuk beberapa hal, aku telah memasang jebakan setidaknya cukup untuk memperlambat atau mungkin mengurangi jumlah mereka jika saja penyerangan itu benar-benar dilakukan."
Kemudian Naruto mengeluarkan sebuah peta yang dari awal dia bawa, membukanya lalu menunjukkan beberapa titik yang telah Naruto tandai.
"Untuk tanda berwarna merah, itu adalah lokasi dimana jebakan terpasang. Dan yang berwarna hitam, aku ingin kalian berjaga di daerah yang sudah ku tandai itu. Bukan tanpa alasan, itu adalah tempat-tempat yang jarang sekali dikunjungi menurutku selama bekerja disini, dan aku yakin mereka akan menyerang lewat sana."
"Terakhir, aku meminta kepada anda untuk tidak mengubah lokasi penjagaan ataupun menambah jumlah penjaga agar musuh tidak curiga. Dan mengingat tugas kita bergerak dibalik layar, kecuali aku. Kurasa tidak masalah jika anda dapat mengikuti saran dari ku ini."
Kendati tatapan aneh atau tatapan negatif lainnya, yang ia dapat justru malah sebaliknya. Tatapan bersahabat dengan senyum di wajah masing-masing dari merekalah yang Naruto dapat.
"Hahahaha, aku tidak percaya kau memikirkannya sejauh itu. Kurasa keputusan untuk menjadikanmu pengawal raja merupakan pilihan yang benar." Ucapan dari Azazel adalah respon pertama yang dia dapat.
"Hm, kau memang tepat untuk tugas itu."
"Naruto-kun kakkoi..."
"Keputusan yang bijak, Naruto."
"Aku rasa kau memang benar-benar hebat, Naruto."
"Nekoruto, kau yang terbaik."
Kira-kira seperti itulah tanggapan yang dia terima dari orang-orang disekitarnya, dan itu semua sukses membuat air matanya mengalir. Tentu itu disaksikan oleh semua orang, dan tanpa membuang kesempatan. Mereka semua berhasil menggoda Naruto.
"Oh Neko-kun, kenapa tempat ini kau tandai dengan begitu tebal?" Seorang gadis dengan surai pirang dan manik mata berwarna biru itu bertanya dengan nada datarnya.
"Bukan apa-apa Ryuu-san, aku hanya terlalu bersemangat." Tidak tahu mengapa, tapi cara menjawab Naruto terdengar gugup. Meskipun berhasil dia tutupi.
"Ara, jadi bukan karena tempat itu adalah tempat pertamamu bertemu dengan putri bangsawan Uzumaki?" Dan telak, pertanyaan dari Yuri Alpha berhasil membuat wajah sang tokoh utama memerah sepenuhnya.
"Apalagi tadi aku sempat melihat kalian bermesraan di taman itu, bahkan sampai tertidur dengan kepala saling bertautan." Sekali lagi, kali ini kepalanya berhasil mengeluarkan ilusi asap. Dan orang-orang disekitarnya kembali menunjukkan seringai di wajah mereka, kemudian mereka semua kembali menggoa Naruto setelah mendapatkan 'amunisi' tambahan.
.
.
.
Di sinilah dirinya, berada di sebuah ruangan yang luar biasa luas. Dengan beberapa tiang yang memiliki ornamen khas dan dinding-dinding yang dihiasi oleh beberapa lukisan juga corak tersendiri yang enak dipandang mata.
Di hadapan pemuda dengan tiga pasang whisker itu, duduk seorang pria dengan warna rambut dan iris mata serupa dengannya. Wajah pria di hadapannya terlihat tegas dan dewasa, meskipun Naruto tahu umurnya sudah melebihi empat puluh tahun.
Ya, saat ini Naruto berada tepat di ruang singgasana kerajaan. Di depannya adalah kepala kerajaan Britania, Arthur Pendragon. Di samping singgasana raja, terdapat kursi yang berukuran lebih kecil namun tidak dapat dipungkiri tidak kalah mewahnya.
Di kursi itu duduk seorang perempuan yang terlewat cantik dengan surai onyx panjang dan manik mata sebiru lautan. Ok, itu berhasil membuat Naruto tersipu untuk beberapa saat.
Tiga meter di hadapan raja, berdiri lima orang pengawal kepercayaan raja. Orang-orang kepercayaan raja, para ksatria Round Of Table.
Sang Knight of Owner, sir Lancelot. Knight of Theacery atau sering dipanggil sebagai Putra mahkota, pangeran Mordred. Holy Sword of The Sun, sir Gawain. The Shining Airgetlam, sir Bedivere. Sang Drustanus, sir Tristan.
Kelima orang dari kelompok yang bertugas melindungi raja, Round of Table. Mekera berlima terlihat memakai armornya masing-masing, yang entah mengapa membuat tubuh Naruto menegang untuk beberapa alasan.
'Ok, raja sendiri mendapat perlindungan mutlak dari para anggota Round of Table yang aku tahu kekuatannya sangatlah gila. Jadi, kenapa masih meminta pada bantuan pada akademi?'
Tanpa Naruto sadari, salah satu pengawal raja berjalan ke arahnya yang masih memberikan hormat. Suara dari armor yang bergesekan dengan lantai istana membuyarkan lamunan Naruto. Pandangannya kemudian menangkap seorang ksatria dengan surai ungu yang berada tepat dua meter di depannya.
"Jadi, ini yang dikirim oleh akademi? Seorang bocah tanpa energi sihir?" Naruto memanda sir Lancelot dengan wajah bingung, yang tadi itu sebuah penghinaan?
"Maaf jika mengecewakan, tapi saya sendiri juga bingung. Kenapa raja masih meminta bantuan pada akademi, sedangkan beliau sendiri mendapat perlindungan dari para ksatria Round of Table?" Naruto yakin, dirinya akan dipenggal. Bahkan tidak ada keraguan dalam dirinya, ok membayangkannya saja sudah membuat tubuh remaja itu bergetar.
"Bocah, apa kau tahu ucapanmu barusan merupakan sebuah penghinaan?" sir Lancelot berjalan mendekat ke arah Naruto sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja.
"Jawab aku bocah!" Dengan gerakan cepat, sir Lancelot menebaskan pedangnya secara horizontal. Dan dengan refleks yang cepat Naruto menggerakkan tubuhnya kebelakang.
'Benar saja kan. Aku akan dipenggal.' Hawa dingin tiba-tiba terasa dari samping kirinya, sebuah lempengan besi terlihat melesat. Kemudian pemuda dengan manik biru itu menundukkan badannya, membiarkan benda tajam itu melewati atas punggungnya.
Pandangannya kemudian menangkap sebuah kaki berlapis armor yang terangkat dengan cepat, karena posisi yang tidak menguntungkan untuk menghindari. Naruto memutuskan menyilang kan tangannya, hanya untuk mencegah kaki berlapis armor itu menghantam wajahnya.
DUAK
Terlempar tiga meter kebelakang, dengan sigap pemuda itu menyeimbangkan tubuhnya. Kedua tangannya berdenyut, efek dari menahan tendangan tadi.
"Hooo... Lumayan juga boca, mungkin orang lain akan merasakan patah tulang." Pandangan pemuda itu berubah datar, ok dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dirinya direndahkan kemudian diserang. Sebuah ujian? Lupakan, saat ini ia hanya fokus untuk sebisa mungkin menghindari pertarungan.
"Ada apa? Bukankah kau ditugaskan sebagai pengawal raja, jika hanya dengan itu saja sudah membuatmu tidak dapat bergerak. Bagaimana bisa kau melindungi raja kami?" Kembali, sir Lancelot menebaskan pedangnya. Dan dengan sigap, Naruto memutar badannya ke belakang.
Menambahkan tenaga pada kedua tangannya, Naruto mendorong tubuhnya untuk bergerak ke udara sebelum sebuah pedang memotong kedua tangannya yang tengah menjadi tumpuan.
Ok, saat ini Naruto tengah kesal. Dirinya diremehkan, dan itu sangat tidak disukainya. Bukankah kekuatan mereka yang seharus ddiraguka? Meminta akademi untuk mengirimkan pengawal padahal mereka sendiri bertugas untuk melindungi raja. Jadi, siapa disini yang tidak mampu?
Lagi, dirinya kembali menghindari tebasan vertikal dengan memutar tubuhnya di udara. Mendarat di lantai istana dengan kedua kaki ditekuk, tatapannya diarahkan pada sir Lancelot yang kembali menggerakkan senjatanya.
Lalu Naruto menggerakkan tangan kanannya, mengubah arah tusukan dari pedang tersebut dengan sedikit menyentuh sisi datar dari pedang itu.
Baik, cukup main-mainnya. Ini tes bukan? Jadi dirinya hanya perlu menyelesaikan ini dengan cepat.
Menggenggam pergelangan tangan kanan dari sir Lancelot yang masih memegang pedangnya.
Mengepalkan tangan kirinya, Naruto menghantamkan tinjunya pada siku kanan sir Lancelot yang berlapis armor. Memang tidak membuat tangan kanan musuhnya sampai patah, tapi cukup untuk membuat sang lawan melepaskan senjatanya.
Melepaskan pegangan pada pergelangan tangan sir Lancelot, dengan cepat tangan Naruto beralih menggenggam pedang musuhnya. Kemudian tanpa membuang waktu, pemuda itu memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derat ke kanan. Membiarkan tangan kanan yang tengah memegang pedang itu mendapat gaya lebih untuk menambah tenaga pada tebasan nya.
Dan sesuai dugaannya, salah satu dari anggota Round of Table itu berhasil menghindari serangannya dengan melompat ke belakang.
Ksatria dengan julukan Knight of Owner itu cukup terkejut, siapa yang sangka ternyata musuhnya dapat menyerang balik seperti itu, bahkan mengambil alih senjatanya.
"Heh, lumayan juga bocah. Setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Pulang lalu menjual senjata itu?" Dengan sinis sir Lancelot masih mengejek pemuda yang menjadi lawannya itu. Sedangkan untuk Naruto, dia menenteng senjata rampasan dari musuhnya itu. Menepuk-nepuk pada bahunya dengan pelan, seolah menantang lawannya. Meskipun begitu, dia harus cepat. Julukan Knight of Owner pasti bukan isapan jempol belaka.
"Hm... Kurasa memberikannya kembali. Padamu!" Melempar senjata yang dipegangnya dengan menambah sedikit 'petir', hingga membuat pedang itu melesat dengan cepat.
Terkejut untuk sesaat, sebelum akhirnya tangan kanan dari sang ksatria bergerak, berniat untuk mengambil kembali senjatanya. Namun, sebelum kelima jarinya berhasil bertautan dengan gagang pedang. Sebuah tendangan berhasil mendarat di wajahnya, membuat sang ksatria itu terhempas dengan cepat kebelakang.
BRAK
Berhenti setelah membentur tiang di belakangnya, ksatria dengan julukan Knight of Owner itu membulatkan matanya tatkala sebuah benda dingin yang berasal dari pedangnya sendiri diacungkan hingga menyentuh kulit lehernya.
"Kurasa, dengan ini aku lulus tes. Bukankah begitu, sir Lancelot?" Tidak menurunkan senjata rampasannya, Naruto masih mengacungkan pedang yang dia genggam pada leher lawannya.
PROK PROK PROK
"Sungguh menarik anak muda. Dan Lancelot, bukankah sudah cukup?" Secara tiba-tiba raja bertepuk tangan, mengapresiasi pertarungan di depannya.
"Siapa yang sangka juga, kau akan menyerang secepat itu. Namamu Naruto? Bisa kau turunkan senjataku?" Menghelas nafas singkat, Naruto lalu menurunkan pedang rampasannya lalu menancapkannya tepat di depan musuh yang dia lawan. Naruto kemudian berjalan, dan berhenti di tempat dimana dia diserang pertama kali.
Sebenarnya orang-orang yang berada disana cukup terkejut dengan aksi remaja di depannya. Apalagi setelah mendengar penuturan pemuda itu yang mengatakan. "Oh, maaf jika kurang sopan Raja. Tapi, saya rasa sir Lancelot harus mendapat perawatan pada bagian leher dan punggungnya." Dengan datarnya.
"Orang-orang yang dipilih oleh Azazel pasti selalu menarik." Raja tersenyum memandang Naruto, sebelum pandangannya bergulir ke kanan. Menyuruh sang putra mahkota untuk membawa Lancelot ke ruang perawatan kerajaan.
Seorang remaja dengan umur kira-kira dua puluh tahun kemudian berjalan ke arah Lancelot, lalu matanya berpapasan dengan orang yang mendapat julukan Knight of Theacery. Keduanya saling pandang sejenak, sebelum akhirnya sang putra mahkota tersenyum kecil dan berlalu melewatinya.
"Naruto, kau tenang sekarang. Tidak akan ada yang menyerangmu secara tiba-tiba lagi." Raja mengakatan itu setelah melihat gesture tubuh Naruto yang masih siaga.
Ya, Naruto masih memasang pose siaga, berjaga-jaga jika saja masih ada yang berniat menyerangnya. Setelah mendengar penuturan dari Raja di depannya, pemuda itu kemudian melunakkan tubuhnya.
"Kalau begitu, apa yang anda diinginkan, yang mulia Raja Britania?" Dengan sikap yang lebih daripada saat dirinya bersama dengan Sara, Naruto bertanya dengan sangat sopan.
"Tidak perlu seformal itu padaku, jika situasi tidak mengharuskan. Kau bisa memanggilku seperti yang lainnya."
"Kalau begitu, Arthur-"
Naruto menghentikan ucapannya saat sebuah anak panah, melesat tepat beberapa milimeter disamping telinga kanannya. Dan pelakunya adalah seorang pria dengan rambut merah panjang yang tengah memegang sebuah busur di tangan kirinya
"Raja, apa yang perlu saya lakukan." Baik, dirinya tidak ingin bertingkah bodoh lagi. Tidak ingin lagi terjadi pertarungan yang tidak perlu.
Dan semua yang ada di sana tersenyum melihat tingkah dari pemuda yang baru saja keluar sebagai pemenang, melawan ksatria dengan julukan Knight of Owner.
"Maa... Ku rasa tidak perlu buru-buru, bagaimana jika kita membicarakannya sambil minum teh?"
"Hah?"
.
.
.
Kembali, saat ini Naruto tengah berada di kamar tamu istana. Yah, dipikir berapa kalipun ini membingungkan untuknya.
Pada awalnya dia datang untuk melakukan tugas sebagai pengawal raja, sebelum akhirnya harus melakukan tes kecil dengan bertarung melawan salah satu anggota Knight of Owner. Setelah itu dia bersama raja dan permaisuri minum teh di taman istana.
"MEMANG AKU INI TAMU NEGARA, HAH!"
Berteriak kesal di kamar yang disediakan untuknya, untung saja kamar ini kedap suara. Jadi suaranya tidak akan terdengar sampai keluar. Dan benar, dirinya diperlakukan layaknya tamu di istana. Padahal pemuda itu sendiri hanyalah pegawai baru dari akademi yang saat ini tengah memperkerjakan nya.
"Entah kenapa aku merasa firasat buruk." Tidak dapat dipungkiri bahwa Naruto juga merasa aneh, atau mungkin memang begini sikap mereka?
Yah, dia tidak peduli.
Saat ini yang ada di keoalanya hanyalah, "Apa yang akan kepala sekolah lakukan?"
Yap, dia sedang memikirkan rencana pencegahan. Memang dirinya tadi sempat memberitahukan kepada para staf dan kepala akademi tentang rencananya, tapi yang menjadi masalah adalah setelah itu. Apakah mereka benar-benar akan mengikuti instruksinya, atau mengubahnya?
"Ck, memikirkannya membuatku semakin pusing." Mengacak-acak rambut pirangnya yang sudah acak-acakan, Naruto lalu menghempaskan tubuhnya pada kasur dibelakangnya.
"Hah... Tou-san, entah kenapa aku merasa akan terlibat sesuatu yang luar biasa besar. Jika kau disini, apa yang akan kau katakan?"
Memandang ke atas kamar yang dia tempati, pandangan dari mata biru itu seolah-olah terbang jauh.
"Jadi, tugasku sebenarnya adalah menjaga putri raja yang menjabat sebagai ketua dewan siswa di akademi. Lalu, untuk apa aku disini?" Naruto mengatakan itu sambil kepalanya mengingat pembicaraan dengan raja saat minum teh tadi.
"Dan aku baru tahu bahwa raja juga putra mahkota memiliki penyakit yang sama."
Satu fakta yang dia ketahui dari keluarga raja, mereka semua aneh. Setidaknya itu yang dia pikirkan tentang mereka setelah melihat tingkah putra mahkota yang hampir saja bersujud di depannya hanya untuk menjaga adiknya.
Dan itupun berlaku untuk raja, meskipun beliau berhasil menutupinya. Oh, jangan lupakan permaisuri yang juga ikut-ikutan dalam kejadian absurd itu. Ya... Walaupun yang dilakukan oleh ratu hanyalah memberikannya sebuah senyuman yang dapat membuat pemuda itu langsung tertunduk.
Satu lagi yang membuatnya bingung, apakah seluruh keluarga kerajaan akan langsung akrab begitu saja denga orang baru, atau karena dia memang memiliki bakat mendekati orang lain?
"Aku rasa tidak buruk memiliki bakat seperti itu. Dan ternyata dibalik sikap mereka yang begitu berwibawa, di dalam ternyata begitu absurd."
Raja memiliki dua anak, pertama adalah putra mahkota, pangeran Mordred Pendragon. Pemuda dengan wajah tampan berumur sekitar dua puluh tahunan dengan rambut pirang pendek dan mata biru kusam.
Sedangkan satu lagi, putri satu-satunya raja. Arthuria Pendragon, seorang gadis dengan tubuh ramping, kulit terlihat lembut, dan mata hijau. Dia memiliki rambut pirang 'bertekstur halus' yang tampak 'seolah ditaburi debu emas.' Wajahnya terlihat begitu anggun yang disaat bersamaan terlihat menawan.
Bagaimana dia tahu?
Ya, katakanlah dirinya sudah SERING berinteraksi dengan sang kepala dewan siswa. Ucapkan terimakasih pada Syr, karena berkat dialah Naruto dapat mengenal bahkan lumayan dekat dengan putri raja.
Walaupun hanya sapaan ringan saat berpapasan, tapi yah... Mereka cukup dekat hingga ada waktu dimana Naruto menemani sang putri menghabiskan bekal makan siangnya.
Dan besok adalah waktu dimana mereka berdua akan bertemu di istana, bahkan dengan orang tua dan kakak sang putri. Entah kenapa tapi pikiran pemuda itu membayangkan dimana dia tengah meminta restu pada raja dan ratu untuk melamar putri kesayangan mereka, dan berakhir dengan dia menggantung di tiang pancung.
"Ok Naruto, itu menyeramkan. Hentikan pikiran negatifmu yang selalu menjadi nyata itu!"
Menggeleng-gelengkan kepalanya, Naruto kembali menatap langit-langit kamar. Sekarang dia berfikir, apakah ia harus menunjukkan kekuatannya? Atau bagaimana?
Dan Naruto sangat yakin, raja atau siapapun yang menyaksikan pertarungan singkatnya tadi pasti menyadarinya. Dimana pemuda dengan surai pirang itu sempat mengeluarkan sedikit kekuatannya.
"Kurasa tergantung situasinya, tapi sebisa mungkin menahannya."
"Lagipula, kenapa aku langsung terlibat hal merepotkan seperti ini."
Kehidupan normal yang dia damba-dambakan mungkin tidak akan pernah terwujud, dan lagi apakah kata normal berlaku di dunia ini? Dunia dimana orang-orang bahkan dapat mengeluarkan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin, dan itu semua dapat dilakukan dengan apa yang mereka sebut energi sihir.
"Ya, energi sihir. Setidaknya hanya itu yang semua orang ketahui."
TBC
Yo yo, minna genki?
Ok, gini. Ada yang review 'kok ceritanya gak asing?', saya gak akan salahkan kalian. Jadi sebelum cerita ini dikira plagiat atau apa akan saya klarifikasi.
Cerita ini memang hampir sama seperti Fanfic karya author Sora dan Shiro yang telah beliau hapus, lalu saya juga sudah minta dan mendapatkan izin pada yang bersangkutan.
Jadi aman
Lalu, untuk awal. Yah, konsepnya hampir sama dengan fic Sora dan Shiro. Hanya sedikit diubah, mungkin buat penyerangan nanti suasananya akan sama seperti ujian chunin, mungkin.
Dan apalagi? Akhir yang terlalu dipaksakan? Memangnya apa yang kalian harapkan, saya hanya author pendatang.
Oh, buat scane di taman. Maa bonus dari saya sebagai fanservice, meskipun itu cukup penting untuk hubungan setiap character. Lalu, kenapa selalu ditulis 'energi sihir' kenapa enggak mana atau yang lainnya?
Etto, untuk itu entah kenapa saya merasa nyaman sendiri. Jadi gak perlu ada perdebaan buat ras lain. Kecuali untuk Naruto, dia dapat penyebutan sendiri.
Kemudian untuk penggambaran character, pertama saya pakai Mordred versi laki-laki. Kalian bisa cari di google dengan keyword Mordred Highschool DXD. Dan yah, Arthur disini adalah versi laki-laki nya juga. Untuk lebih jelasnya kalian bisa cari di google dengan mencantumkan nama character dan tambahkan FGO.
Untuk words, kali ini lumayan banyak tapi tidak tahu kedepannya seperti apa. Intinya bagaimana niat saya buat next chapter, akankah nambah, tetap di 5k atau malah berkurang.
Terakhir, untuk kekuatan Naruto. Yang bisa saya katakan hanyalah, semua yang telah diperlihatkan adalah murni kekuatannya. Bukan karena senjata atau makhluk di dalam dirinya.
Aku rasa sudah semua. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan cantumkan di kolom review.
Arubatorion, Blazing Dark Dragon out...
