Kebahagiaan mu
By: Miftha Zoldyck
.
.
.
Disclaimer:Naruto milik masashi Khisimoto
Rate T
Genre: Hurt/comfort,Romance
Pair : naruhina
Warning : Typo,OOC,dan banyak kesalahan lainnya
Gomenesai minna-san, maaf karena Miftha-san baru sempat mengupdate chapret ini. Miftha harap kalian semua mau memaafkan kesalahan Miftha itu.
.
.
.
.
Hinata telah mendapatkan buku yang di inginkannya,setelah membayar buku itu dia dan Naruto kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju taman bermain. Selama di perjalan menuju taman bermain,Hinata berusaha menetralkan detak jantungnya. Entah kenapa semenjak Naruto menolongnya yang hampir terjatuh membuat jantung Hinata berdetak dua kali lebih cepat dari biasa.
Naruto memandang Hinata yang tampak gelisah tapi karena masih dalam keadaan gugup setelah menolong Hinata tadi membuat jantungnya berdetak tidak normal yang membuat dia mengurungkan niatnya untuk mangajak Hinata berbicara. Walaupun Naruto sangat tidak menyukai keadaan hening,Naruto tetap berusaha untuk diam karena masih gugup.
Setelah sekian lama mereka terdiam,akhirnya Hinata memulai percakapan walaupun masih gugup "A-ano Naruto-kun,tadi Hana-chan meminta ku untuk mengatakan padamu kalau dia menginginkan boneka,"suara Hinata berhasil membuat Naruto melirik ke arahnya dengan salah satu alis terangkat. "Tidak perlu gugup untuk mengatakan itu,"balas Naruto santai kemudian kembali memperhatikan jalan.
'Siapa bilang kalau aku gugup karena itu,tidak tahukah dia kalau aku gugup karena...'Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Katakan pada Hana-chan kalau aku akan membelikan boneka yang besar untuknya"kata Naruto sembari mengeluarkan cengiran andalannya. Melihat itu, Hinata jug ikut tersenyum. Entah mengapa saat melihat senyuman lebar Naruto, perasaan gugup tedi hilang entah kemana.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit bagi mareka sampai di taman bermain tujuan awal mereka tadi. Naruto melirik ke arah Hinata yang tak henti-hentinya tersenyum. Seakan tersihir oleh senyuman Hinata, Narutopun ikut tersenyum melihat itu. Hal pertama yang diketahuinya tentang Hinata, yaitu jika Hinata ternyata sangat menyukai taman bermain.
Karena merasa diperhatikan, Hinata melihat ke arah Naruto dan terkesiap saat melihat Naruto yang juga tengah melihat ke arahnya lengkap dengan senyuman lebar yang selalu menghiasi wajah tannya. Mata bertemu mata, menimbulkan detakan tak karuan di dada sebelah kiri. Menghipnotis dua insan yang mencoba menenangkan detakan yang memanaskan tubuh mereka.
Dorongan kasar karena tubrukan dari seseorang mengharuskan Hinata terdorong ke depan, sehingga wajahnya harus menubruk dada bidang milik Naruto dan otomatis saja Naruto langsung memegang pinggang Hinata untuk menjaga keseimbangan agar mereka tidak terjatuh.
"Go-gomen Namikaze-san." Kata Hinata dan langsung berdiri tegak seperti semula. Wajah merteka sama-sama bisa dikatakan seperi makanan kesukaan Sasuke. Setelah berdehem sekali Naruto berkata pada Hinata, "tidak apa. Hmm, apa ada yang ingin kau naiki dari salah satu wahana yang ada di sini?"
"Entahlah, aku belum memutuskan akan menaiki apa. Apa Namikase-san ingin menaiki sesuatu?" Tanya Hinata setelah menjawab pertanyaan Naruto tadi. Bukannya menjawab, Naruto malah mengerutkan keningnya merasa ada yang janggal pada panggilan Hinata padanya. "Hinata-chan, kurasa akan lebih baik jika kau memanggilku tidak dengan margaku. Itu sedikit janggal saatr orang lain mendengarnya, ingat! Kau itu akan menjadi tunanganku." Hinata hanya menganggukkan kepalanya tidak ingin membantah karena apa yang dikatakan Naruto memanglah benar.
Naruto masih menunggu, menunggu agar Hinata memanggil namanya dengan nama kecil milinya. Namun, hal itu hanya sia-sia karena Hinata tak kunjung memanggilnya. Dengan perasaan sedikit gemas, Naruto menekan pipi chubby mlik Hinata hingga membuat bibir gadis itu terbentuk seperti bibir ikan. "Ayo, panggil aku dengan nama kecilku." Naruto menatap Hinata dengan senyuman tipis milinya.
Hinata terdiam, terpana melihat senyuman tipis Naruto, tidak biasanya Naruto tersenyum seperti itu. "Naruto-kun," pangginya dengan embel-embel 'kun' yang membuat Naruto tersenyum cerah.
'Matahari,' batin Hinata saat itu juga.
.
.
.
.
.
.
"Hei, bukankah itu Naruto dan Hinata." Kata seorang gadis pada temannya. "Benar, tapi bukankah itu gadis Hyuga." Jawab temannya itu.
"Kyaaaa, aku tidak menyangka mereka akan bertatapan sedekat itu di tengah keramaian. Seperti satu sekolah harus mengetahui ini." Tiba-tiba teman mereka yang lain mulai mengambil foto-foto Naruto dan Hinata.
Naruto dan Hinata hanya berjalan tanpa suara, tapi hanya satu yang merteka lakukan tanpa sadar yaitu saling menggenggam. Sudah lebih dari setengah jam mereka hanya berjalan tanpa melakukan suatu permain. "Naruto-kun, sepertinya kita bisa kembali sekarang. Lagipula hari sudah mulai sore dan kita sedari tadi tidak melakukan sesuatu, jadi.."
Naruto menganggukkan kepalanya tanda mengerti tapi sebelum itu dia menarik tangan Hinat menuju bianglala. Hinata mengerutkan keningnya melihat Naruto. "Hinata-chan, kurasa senelum pulang lebih baik kita menaiki ini. Jadi, maukah kau menaikinya?" Tanya Naruto.
"Sepertinya aku memang tidak memiliki pilihan lagi karena kau telah membawaku kemari." Senyuman langsung menghiasi wajah Naruto, tangannya mulai menarik tangan mungil milik Hinata.
Sunset adalah hal pertama yang dilihat oleh Naruto danm Hinata pada saat putaran terakhir mereka di bianglala tersebut. Mata berbeda warna itu memancarkan kebahagiaan yang tidak pernah mereka sangkakan akan terjadi. Hening, itulah yang bisa digambarkan pada keadaan mereka saat ini. "Terima kasih untuk hari ini." Dua suara itu saling mengatakan hal yang sama yang menimbulakan senyuman dikedua wajah itu. Lagi, mereka melakukan hala yang sama.
.
.
.
.
.
"Tidakku sangka kau akan pergi berkencan dengan calon tunanganmu itu Naruto,"
" Apa kau sangat menikmatinya?"
" Aku sangat iri padamu Naruto."
Berbagai perkataan meluncur dari beberapa orang yang hanya ditujukan pada Naruto. Naruto hanya tersenyum canggung, merasa aneh karena perihal kencannya dengan Hinata tersebebar ke seluruh penjuru sekolah. 'Sial, siapa yang menyebarkannya. Arghh... aku sangat malu. Kenapa kejadian ketika aku memegang pipi Hinata harus tertempel di mading.' Keluh Naruto di hatinya.
Langkahnya terhenti saat melihat Hinata tengah berjalan ke arahnyagadis itu hanya memasang wajah datar seperti biasa. Tidak lagi ada senyuman seperti kemarin di wajanya, datar, datar, dan datar. Dan gadis itu hanya berjalan melewatinya setelah menyapa dengan sebuah senyuman tipis menghilangkan wajah datarnya.
Hanya padanya gadis itu tersenyum, mengingat itu Naruto merasa perasaan senang yang sangat disukainya. Tanpa hentinya dia trerus tersenyum, menjawab semua pertanyaan perihal kencannya dengan wajah berseri-seri. Tidak memedulikan jika semua teman-temannya terus memeojokkannya dengan suatu gombalan.
'Jika aku tahu rasanya akan sebahagia ini, kupastikan aku akan meminta padamu Tuhan agar dia datang dari dulu-dulu. Inikah cinta? Inikah yang dimaksudkan orang-orang tentang cinta yang sesungguhnya itu. Terima kasih Tuhan karena telah memberikannya padaku.'
.
.
.
.
.
Tbc...
RnR
Salam
MIftha
